Anda di halaman 1dari 10

LABORATORIUM FREKUENSI TINGGI

NOMOR PERCOBAAN : 04
JUDUL PERCOBAAN : DISTORTION ANALYZER HP 334A

KELAS / GROUP : TELKOM 5A/KELOMPOK 4


NAMA KELOMPOK : 1. Ade Zaskiatun Nabila (1315030001)
2. Lisa Mulyani (1315030021)
3. Muhammad Hilmi Fuad (1315030108)
4. Mustika Putri (1315030064)
5. Rafika Ardine (1315030113)
6. Ridhwan Khairullah N (1315030075)
7. Rifqi Wahyu Purnomo (1315030015)
8. Shania Elsa Hanifah (1315030079)
9. Verawati Agustina (1315030017)

TANGGAL PERCOBAAN : 12 OKTOBER 2017


TGL. PENYERAHAN LAP. : 19 OKTOBER 2017
NILAI :
DOSEN : SUKMA W
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI TEKNIK TELEKOMUNIKASI
POLITEKNIK NEGERI JAKARTA
2017
DISTORTION ANALYZER HP 334A

I. Tujuan Percobaan
1. Dapat mengoperasikan dan menggunakan peralatan Distortion
Analyzer tipe HP 334A untuk pengukuran nilai Distorsi Harmonik Total
(THD) dan tegangan efektif (RMS Voltmeter).
2. Dapat melakukan analisa distorsi sinyal pada: amplifier, filter dan sinyal
pembawa AM.

II. Landasan Teori


Distortion Analyzer model HP 334A adalah alat ukur Distorsi Harmonik
Total (THD) hingga di bawah 0,1% dari suatu sinyal dengan frekuensi fundamental
antara 5 Hz sampai 600 Hz yang harmoniknya mencapai 3 MHz. HP 334A
mempunyai fasilitas automatik null dan detektor Modulasi Amplitudo (AM
detector) dari frekuensi 550 KHz hingga 65 MHz. HP 334A juga dapat berfungsi
sebagai alat ukur tegangan efektif (RMS Voltmeter) dengan batas frekuensi antara
5 Hz hingga 3 MHz. Batas tegangan yang dapat diukur adalah 300 V hingga 300
V.
Aplikasi
Alat ini banyak digunakan untuk menganalisa distorsi sinyal-nya pada:
- Amplifier
- Filter
- Sinyal pembawa AM
- Dll
Keterangan Panel Depan Dan Belakang
Lihat pada gambar rangkaian.
1. Saklar POWER ON dan lampu indikator ON.
2. Meter penunjuk distorsi dan level tegangan sinyal input.
3. Saklar MODE untuk memilih mode operasi manual atau automatik dari
Wien bridge tuning.
4. Saklar FREQUENCY RANGE untuk memilih frekuensi range yang sesuai
dengan frekuensi fundamental sinyal input.
5. COARSE BALANCE digunakan sebagai pengatur kasar dari sirkuit Wien
Bridge agar seimbang.
6. FINE BALANCE digunakan sebagai pengatur halus sirkuit Wien Bridge agar
seimbang.
7. Pemutar frekuensi untuk menala Wien Bridge ke frekuensi dasar sinyal
input.
8. Saklar HIGH PASS FILTER digunakan pada saat sinyal input di atas 1 kHz
dan peralatan diset pada SET LEVEL dan DISTORTION. Pada saat filter
digunakan (IN), maka frekuensi sinyal input 50 60 Hz akan diredam
sebesar 40 dB.
9. Konektor OUTPUT untuk memonitor keluaran sirkuit meter dengan
osiloskop, RMS Voltmeter atau Wave Analyzer.
10. Frequency Vernier digunakan untuk pemutar halus pemutar frekuensi.
11. Saklar METER RANGE digunakan untuk memilih full scale range dari
meter dalam satuan persen, dB dan Volt rms.
12. Pemilih SENSITIVITY untuk memberikan penurunan level sinyal input
dalam 10 dB/ step dari 0 hingga 50 dB, dalam keadaan saklar FUNCTION
pada posisi SET LEVEL dan DISTORTION.
13. SENSITIVITY VERIER digunakan sebagai pengatur halus dan dalam memilih
sensitivitas alat.
14. Pemutar nol secara mekanik dari meter saat alat off.
15. Saklar FUNCTION digunakan untuk memilih operasi yang diinginkan
terhadap instrumen.
16. Penghubung pendek antara ground circuit dengan ground chasis.
17. Terminal INPUT.
18. Saklar NORM RF DET untuk memilih terminal input dari depan atau dari
belakang melalui konektor RF INPUT.

Keterangan Panel Belakang


19.

Konektor RF INPUT digunakan sebagai terminal input dari sinyal pembawa


AM RF.
20. FUSE sebagai pembatas arus listrik terhadap instrumen.
21. AC power connector provides input connections for ac power.
Perhatian
Sinyal input jangan lebih dari: 330 V di atas 100 Hz
50 V di atas 1 kHz

III. Peralatan dan Bahan


1. Distortion Analyzer tipe HP 334A
2. Function Generator HP 3312A
3. Osiloskop
4. Kabel BNC to BNC 2 buah
5. Kabel BNC to Banana 2 buah
IV. Langkah Kerja
1. MODE MANUAL
a. Nyalakan instrumen.
b. Atur NORM-RFDET SWITCH ke posisi NORM.
c. Putar salkar FUNCTION ke SET LEVEL.
d. Saklar MODE ke posisi manual.
e. Apabila sinyal input lebih besar dari 1 kHz, set saklar HIGH PASS FILTER ke
posisi IN.
f. Putar SENSITIVITY ke posisi MIN dan aturlah VERNIER ke posisi maksimum
berlawanan arah jarum jam.
g. Putar saklar METER RANGE ke SET LEVEL dan aturlah BALANCE COARSE
serta FINE tuning ke posisi tengah.
h. Hubungkan sinyal input dari Function Generator HP 3312A dengan
frekuensi 50, 1000, dan 10000Hz.
i. Putar saklar SENSITIVITY sedemikian sehingga meter menunjuk lebih dari
1/3 skala meter maksimum.
j. Atur SENSITIVITY VERNIER untuk memaksimumkan penunjukkan pada
skala meter bila pengukuran distorsi dalam persen, dan bila diinginkan
distorsi dalam dB atur SENSITIVITY VERNIER sehingga meter penunjuk
pada 0 dB.
k. Atur FREQUENCY DIAL ke frekuensi dasar sinyal input.
l. Putar saklar FUNCTION ke posisi DISTORTION.
m. Aturlah FREQUENCY DIAL VERNIER dan BALANCE COURSE serta FINE
sedemikian sehingga penunjukkan meter minimum. Turunkan saklar
METER RANGE sedemikian sehingga meter penunjuk berada di tengah
skala meter.
n. Ulangi langkah m hingga diperoleh hasil penunjukkan meter yang terkecil.
o. Hasil pembacaan distorsi dalam persen atau dB dapat diukur berdasarkan
penyimpangan penunjuk meter dengan saklar METER RANGE.
Contoh:
Bila penunjuk meter 0,4 dan saklar METER RANGE pada posisi 1% berarti
distorsi adalah 0,4%. Pada kondisi yang sama , bila meter penunjuk -6 dB
dan saklar METER RANGE pada posisi -40 dB, maka hasil pengukuran
adalah -46 dB.
p. Tegangan rms sinyal input dapat langsung diukur dengan cara merubah
saklar FUNCTION ke posisi VOLTMETER dan ubah METER RANGE
sedemikian sehingga penunjukkan terbaca dengan baik.

2. MODE AUTOMATIC
a. Lakukan praktek pengukuran seperti di atas mulai dari langkah a sampai l.
b. Aturlah FREQUENCY DIAL VERNIER dan BALANCE COURSE serta FINE
sedemikian sehingga penunjukkan meter minimum.
c. Pada saat meter menunjukkan 10% dari SET LEVEL, ubah saklar MODE ke
posisi AUTOMATIC.
d. Putar METER RANGE sedemikian hingga jarum penunjuk terlihat di tengah
skala meter.
e. Hasil pembacaan distorsi dalam persen atau dB dapat diukur berdasarkan
penyimpangan penunjuk meter dengan saklar METER RANGE.
Contoh:
Bila meter penunjuk 0,4 dan saklar METER RANGE pada posisi 1% berarti
distorsi adalah 0,4%. Pada kondisi yang sama apabila meter penunjuk
berada pada -6 dB dan saklar METER RANGE pada posisi -40 dB, maka
hasil pengukuran sebenarnya adalah -46 dB.
f. Tegangan sinyal input dapat langsung diukur dengan cara mengubah saklar
FUNCTION ke posisi VOLTMETER. Ubahlah METER RANGE sedemikian
sehingga jarum penunjuk terbaca dengan baik.
V. Hasil percobaan
a. Tabel 1. Distorsi pada Gelombang sinus

Function Generator Distortion Analyzer


Bentuk Distortion Tegangan
Amplitudo Frekuensi
Gelombang % dB (mV) rms Osiloskop
50 Hz 3,2 -27,8 33 33,4
100 Hz 3,2 -27,8 33 33,6
500 Hz 3,2 -27,8 30 33,5
1 Vpp
1 kHz 3,2 -27,5 33 33,5
100 kHz 3,3 -47,2 24,5 34,6
500 kHz 3,2 -47,6 19,5 17,5
50 Hz 2,9 -28,5 24 27
100 Hz 3,2 -27,8 33 33
500 Hz 3,2 -27,8 33 33,1
10 Vpp
1 kHz 3,4 -27 37,5 36
100 kHz 3,6 -26,8 37,5 36
500 kHz 2,8 -28,6 27,75 22

b. Tabel 2. Distorsi pada Gelombang segitiga

Function Generator Distortion Analyzer


Bentuk Distortion Tegangan
Amplitudo Frekuensi
Gelombang % dB (mV) rms Osiloskop
50 Hz 0,26 -49,8 24 29
100 Hz 0,26 -49,8 24 29
500 Hz 0,2 -52 18 23,5
1 Vpp
1 kHz 0,2 -52 18 23,5
100 kHz 0,2 -51,5 19,5 23
500 kHz 0,2 -51,5 19,5 18
50 Hz 2,9 -28,2 28,5 37,2
100 Hz 3,2 -28,2 28,5 32,8
500 Hz 3,2 -28,2 28,5 33,4
10 Vpp
1 kHz 3,4 -28,2 28,5 33
100 kHz 3,6 27,8 30 33
500 kHz 2,8 27,8 30 25

a. Tabel 3. Distorsi pada Gelombang sinus

Function Generator Distortion Analyzer


Bentuk Distortion Tegangan
Amplitudo Frekuensi
Gelombang % dB (mV) rms Osiloskop
1 Vpp 50 Hz 0,65 -42 58,5 57,3
100 Hz 0,65 -42 58,5 56,9
500 Hz 0,6 -42 58,5 56,2
1 kHz 0,65 -42 58,5 56,9
100 kHz 0,65 -42 58,5 54
500 kHz 0,39 -45,4 39 27
50 Hz 4,2 -25,1 40,5 39,2
100 Hz 4,2 -25,1 40,5 39,8
500 Hz 4,2 -25,1 40,5 40
10 Vpp
1 kHz 4,2 -25,1 40,5 40,1
100 kHz 0,39 -45,4 39 38
500 kHz 0,39 -45,4 39 26,2
VI. Analisa
Dari hasil percobaan, dapat dilihat bahwa

VII.Kesimpulan

Lampiran Gambar Hasil Praktikum

Gambar 1. Hasil Distorsi gelombang sinus Gambar 2. Hasil Distorsi gelombang sinus pada

pada frekuensi 500 kHz dengan amplitudo 1 frekuensi 500 kHz dengan amplitudo 10 Vpp

Vpp

Gambar 3. Hasil Distorsi gelombang segitiga Gambar 4. Hasil Distorsi gelombang segitiga
pada frekuensi 500 kHz dengan amplitudo 1 pada frekuensi 500 kHz dengan amplitudo 10
Vpp Vpp
Gambar 5. Hasil Distorsi gelombang kotak Gambar 6. Hasil Distorsi gelombang kotak pada
pada frekuensi 500 kHz dengan amplitudo 1 frekuensi 500 kHz dengan amplitudo 10 Vpp
Vpp