Anda di halaman 1dari 32

ASUHAN KEPERAWATAN PADA GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN

PADA KASUS HEPATITIS

DISUSUN OLEH KELOMPOK 4 :

NAMA :1. NI KOMANG ARI WAHYUNI


2. IWAN ZULHADI
3. RIAN AULILAH
PROGRAM STUDI : DIII KEPERAWATAN

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM NUSA TENGGARA BARAT


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN YARSI MATARAM
PROGRAM STUDI KEPERAWATAN JENJANG DIII
MATARAM
2017
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah yang berjudu Makalah Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem
Pencernaan Pada Hepatitis ini sesuai dengan perencanaan yang telah
ditentukan.

Salawat serta salam tidak lupa kami haturkan atas junjungan nabi besar
kita Muhammad saw yang telah membawa kita dari alam kegelapan menuju alam
terang menderang, semoga kami mengikuti jejak beliau sampai akhir zaman.
Amin.

Tak ada gading yang tak retak dan tak seorang pun yang luput dari
kesalahan dan kelemahan, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya konsuktif guna penyempurnaan makalah berikutnya.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... i

DAFTAR ISI .................................................................................................. ii

BAB 1 : PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ........................................................................... 1

1.2. Tujuan ........................................................................................ 2

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Anatomi Fisiologi Hepar .......................................................... 3


2.2. Pengertian Hepatitis.................................................................. 5
2.3. Etiologi Hepatitis ..................................................................... 5
2.4. Manifestasi Klinis ..................................................................... 8
2.5. Patofisiologi .............................................................................. 8
2.6. Pathway .................................................................................... 12
2.7. Pemeriksaan Penunjang ............................................................ 13
2.8. Penatalaksanaan ....................................................................... 14
2.9. Komplikasi ............................................................................... 14
BAB 3 : ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian ................................................................................. 16


3.2. Diagnosa Keperawatan .............................................................. 20
3.3. Intervensi ................................................................................... 20
3.4. Implementasi ............................................................................. 27
3.5. Evaluasi ..................................................................................... 28
BAB 4 : PENUTUP

4.1 Kesimpulan ................................................................................... 29


DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hepatitis adalah suatu proses peradangan difusi pada jaringan yang


dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-
obatan serta bahan-bahan kimia.Tak dapat dipungkiri, Indonesia termasuk
daerah endemis hepatitis virus B (HVB).Tentu saja hal ini menjadi masalah
besar karena mempunyai dampak morbiditas (kesakitan), mortalitas
(kematian), dan dampak psikososial serta ekonomi. Infeksi HVB pada awal
kehidupan (sebelum usia 1 tahun) akan berisiko menjadi kronis sebesar 90%.
Sedangkan pada usia 2-5 tahun risikonya menurun menjadi 50%, dan bila
terjadi infeksi pada anak usia di atas 5 tahun hanya 5-10% untuk menjadi
kronis.

Hepatitis B pada anak biasanya tanpa gejala atau ringan saja,


walaupun begitu infeksi pada anak mempunyai risiko jadi kronis.Terutama
bila terjadi saat di dalam kandungan. Pada pemeriksaan kadang cuma
ditemukan pembesaran hati.Infeksi hepatitis B kronik pada anak dapat
berlanjut jadi sirosis dan kanker hati pada saat dewasa.Memang, umumnya
infeksi HVB pada anak tak menimbulkan gejala, tapi pada sebagian kecil
kasus dapat menimbulkan hepatitis berat yang bisa menyebabkan kematian.

Mengingat hepatitis mempunyai dampak yang buruk bagi anak maka


diperlukan perhatian khusus dari orang tua pada anak misalnya dalam
pemberian imunisasi pada anak secara tepat waktu dan menjaga kebersihan,
dan pengawasan terhadap pola makan anak.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Menengetahui dan memahami konsep teori dan asuhan keperawatan
pada hepatitis
1.2.2 Tujuan khusus
1. Untuk menjelaskan anatomi fisiologi hepar
2. Untuk menjelaskan pengertian penyakit hepatitis
3. Untuk menjelaskan etiologi hepatitis
4. Untuk menjelaskan manifestasi hepatitis
5. Untuk menjelaskan patofisiologi hepatitis
6. Untuk menjelaskan pathway hepatitis
7. Untuk menjelaskan pemeriksaan penunjang hepatitis
8. Untuk menjelaskan penatalaksanaan hepatitis
9. Untuk menjelaskan komplikasi hepatitis
10. Untuk menjelaskan pengkajian Hepatitis
11. Untuk menjelaskan diagnosa hepatitis
12. Untuk menjelaskan intervensi hepatitis
13. Untuk menjelaskan implementasi hepatitis
14. Untuk menjelaskan evaluasi hepatitis.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Anatomi Fisiologi Hepar

Gambar 2.1: Anatomi hepar


Sumber: http://ainunhairany.blogspot.com/2011/11/mengenal-bahaya-penyakit-
hepatitis.html

Hati adalah organ intestinal terbesar dengan berat antara 1,2-1,8 kg atau
lebih 25% berat badan orang dewasa dan merupakan pusat metabolisme tubuh
dengan fungsi sangat kompleks yang menempati sebagian besar kuadran kanan
atas abdomen. Batas atas hati berada sejajar dengan ruangan interkostal V kanan
dan batas bawah menyerong ke atas dari iga IX kanan ke iga VIII kiri.

Permukaan posterior hati berbentuk cekung dan terdapat celah transversal


sepanjang 5 cm dari sistem porta hepatis. Omentum minor terdapat mulai dari
sistem porta yang mengandung arteri hepatica, vena porta dan duktus koledokus.
Sistem porta terletak di depan vena kava dan dibalik kandung empedu. Permukaan
anterior yang cembung dibagi menjadi 2 lobus oleh adanya perlekatan
ligamentum falsiform yaitu lobus kiri dan lobus kanan yang berukuran kira-kira 2
kali lobus kiri. Hati terbagi 8 segmen dengan fungsi yang berbeda. Pada dasarnya,
garis cantlie yang terdapat mulai dari vena cava sampai kandung empedu telah
membagi hati menjadi 2 lobus fungsional, dan dengan adanya daerah dengan
vaskularisasi relatif sedikit, kadang-kadang dijadikan batas reseksi. Secara
mikroskopis didalam hati manusia terdapat 50.000-100.000 lobuli, setiap lobulus
berbentuk heksagonal yang terdiri atas sel hati berbentuk kubus yang tersusun
radial mengelilingi vena sentralis.

Gambar 2.2: Sirkulasi Hepar


Hati adalah organ terbesar dan terpenting di dalam tubuh. Organ
ini penting untuk sekresi empedu, namun juga memiliki fungsi lain antara
lain :
1. Metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein setelah penyerapan dari
saluran pencernaan.
2. Detoksifikasi atau degradasi zat sisa dan hormon serta obat dan
senyawa asing lainya.
3. Sintesis berbagai macam protein plasma mencakup untuk pembekuan
darah dan untuk mengangkut hormon tiroid, steroid, dan kolesterol.
4. Penyimpanan glikogen, lemak, besi, tembaga, dan banyak vitamin.
5. Pengaktifan vitamin D yang dilaksanakan oleh hati dan ginjal
6. Pengeluaran bakteri dan sel darah merah yang sudah rusak.
7. Ekskresi kolesterol dan bilirubin.

2.2.Pengertian Hepatitis
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat
disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta
bahan-bahan kimia. (Sujono Hadi, 1999). akan sama halnya dengan menurut
Rahadian Sasongko (2009), yang mengatakan bahwa hepatitis ialah
peradangan hati yang akut karena suatu infeksi karena keracunan.
Hepatitis virus merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan
klinis, biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)

2.3.Etiologi Hepatitis

Penyebab Type A Type B Type C Type D Type E Type G

Metode Fekal-oral Parenteral Parenteral Parenteral Fekal- Kontak


transmisi melalui seksual, jarang perinatal, oral dengan
orang lain perinatal seksual, orang memerluka darah
ke orang, n koinfeksi yang
perinatal dengan terinfeksi
type B virus
HGV

Mirip
dengan
virus
hepatitis
c

Keparah- Tak ikterik Parah Menyebar Peningkata Sama


an dan asimto- luas, dapat n insiden dengan
matik berkem-bang kronis dan D
sampai kronis gagal hepar
akut
Sumber Darah, Darah, Terutama Melalui Darah, Melalui
virus feces, saliva, melalui darah darah feces, darah
saliva semen, saliva
sekresi
vagina

Inkubasi(h 15-49 hari, 28-160 15-160 hari 21-140 hari 15-65 15-160
ari) rata-rata 30 hari. Rata- hari hari
Rata-rata 50 Rata- rata
hari. rata 70-80
hari 35 hari Rata-rata Rata-70-
hari
42 hari 80 hari

Homologus homologus Serangn homologus Tidak Tidak


kedua diketahui diketahui
Imunitas
homologus
dapat
menunjukkan
imunitas yang
rendah atau
iinfeksi oleh
agen lain
Dapat Dapat Serupa serupa Serupa Kebanya
terjadi terjad tanpa dengan denngan denngan kan
Tanda dan
dengan atau gejala, HBV,tidak HBv HAV , orang
gejala
tanpa dapat begitu berat sanngat tidak
gejala, sakit timbul dan an ikterik berat memiliki
mirip flu. artralgia, pada gejala
ruam wanita akut.
Fase
yang Sebanyak
praikterik:
hamil. 20 % dari
Sakit penderita
kepala, hepatitis
malaise, C juga
fatigue, menderit
anoreksia, a
febris. hepatitis
ini.
Fase
ikterik:
urine yang
berwarna
gelap,
gejala
ikterus
pada sclera
dan kulit,
nyeri tekan
pada hati.

(brunner&sudart, 2002)

2.4.Manifestasi klinis
1. Fase Pre Ikterik
Keluhan umumnya tidak khas.Keluhan yang disebabkan infeksi virus
berlangsung sekitar 2-7 hari.Nafsu makan menurun (pertama kali timbul),
nausea, vomitus, perut kanan atas (ulu hati) dirasakan sakit. Seluruh badan
pegal-pegal terutama di pinggang, bahu dan malaise, lekas capek terutama
sore hari, suhu badan meningkat sekitar 39oC berlangsung selama 2-5 hari,
pusing, nyeri persendian. Keluhan gatal-gatal mencolok pada hepatitis virus
B.
2. Fase Ikterik
Urine berwarna seperti teh pekat, tinja berwarna pucat, penurunan suhu
badan disertai dengan bradikardi.Ikterus pada kulit dan sklera yang terus
meningkat pada minggu I, kemudian menetap dan baru berkurang setelah
10-14 hari.Kadang-kadang disertai gatal-gatal pasa seluruh badan, rasa lesu
dan lekas capai dirasakan selama 1-2 minggu.
3. Fase Penyembuhan
Dimulai saat menghilangnya tanda-tanda ikterus, rasa mual, rasa sakit di
ulu hati, disusul bertambahnya nafsu makan, rata-rata 14-15 hari setelah
timbulnya masa ikterik. Warna urine tampak normal, penderita mulai
merasa segar kembali, namun lemas dan lekas capai.
2.5.Patofisiologi

Gambar 2.3: Hepatitis

Penyebab dari hepatitis A adalah virus dari hepatitis A. penularan virus ini
melalui fekal, oral dan replikasi virus terjadi dalam hati. Penyakit hepatitis A,
atau yang dikenal juga dengan penyakit kuning ini. cara penularannya adalah
melalui makanan dan minuman yangn tercemar kotoran yang mengandung virus
hepatitis A. HAV ini kemudian diekkresikan lewat empedu.Konsentrasi yang
tertinggi didalam fases, khususnya selama dua minggu sebelum ikterus
muncul.Anak-anak dan orang dewasa dapat diasumsikan noninfeksius atau
minnggu setelah ikterus muncul.Sumber penularan umum adalah dari makanan
atau air yang terkontaminasi.Virus hepatitis A terkonsantrasi dan dapat tumbuh
dekat dengan outletpembuangan limbah pada sayur mentah. Tingakt infeksi lebih
tinggi di daerah dimna transmisi lansung antara fekal oral mungkin terjadi , sepeti
tempat penitipan anak, penjara dan dan lembaga mental.transmisi homoseksual
mungkin antara pria homoseksual.

Infeksi virus hepatitis B ditularkan melalui hematogen dan seksual. HBV


merupakan virus yang merepplekasikan hepaotropik dihati dan menyebabkan
disfungsi sel-sel hati. Hasil dari intraksi ini adalah intraksi rumit host virus yang
mengakibbatkan gelala akut mmaupun simtomatik. Pasien mungki dapat menjadi
kebal kembali terhadap HBV atau justru mengembagkan carier kroni ske sisi
lainya. Kondis patologis yang disebabkan oleh intraksi virus dan system
kekebalan tubuh akan meneyrrang hati dan mengakibatkan cidera sel-sel hati.
Sebagai respon terhadap adanya cidera sel oleh bderbagai antigen virus, individu
membentuk berbaga macam antibody.Respon aktivasi dari limposit untuk
mengenali berbagai HBv dipermukaan hepatosit dan melakukan aktivasi reaksi
imunitas. Suatu gangguan reaksi imunitas( misalnya pelepsan toksin, produksi
antibody atau toleransi relative status imunitas mengakibatkan hepatitis kronisa
dan berahir pada kondisi sirosis hepatic.

Transmisi HCV hampir sama dengan HBV meskipun hepatitis C


mempunyai kemampuan untuk merusak sel-sel hati, 80% dari individu dengan
penyakit ini tidak memiliki gejal spesifik yang berhubungna dengan gangguan
fungsi hati.

Infeksi HDV akut dan kronis melibatkan proses peradangan hati, HDV
dapat bereplekasi secara independenn dalam hepatitis, tetapi membutuhkan
antigen permukaan heoatitis B untuk memeberikan respon propagasi. Virus ini
melkukan koinveksi dengan HDV juga dapat timbul keudian sehingga infeksi
HDV bwrtambah parah.

Infeksi virus hevatitis E ditularkan melalui fekal-oral setelah masuk ke


sirkulasi maka target organ dari virus ini adalah sel-sel hepatosis dan
menyebabkann cidera pada sel-sel hati. Respon cidera ini terjadi pada seluruh sel-
sel hati dan menjadi nekrosis.(arifmuttaqin, komala sari, 2011)
SECARA UMUM

Inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh


infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan-bahan kimia.
Unit fungsional dasar dari hepar disebut lobul dan unit ini unik karena memiliki
suplai darah sendiri. Sering dengan berkembangnya inflamasi pada hepar, pola
normal pada hepar terganggu. Gangguan terhadap suplai darah normal pada sel-
sel hepar ini menyebabkan nekrosis dan kerusakan sel-sel hepar. Setelah lewat
masanya, sel-sel hepar yang menjadi rusak dibuang dari tubuh oleh respon sistem
imun dan digantikan oleh sel-sel hepar baru yang sehat. Oleh karenanya, sebagian
besar klien yang mengalami hepatitis sembuh dengan fungsi hepar normal.

Inflamasi pada hepar karena invasi virus akan menyebabkan peningkatan


suhu badan dan peregangan kapsula hati yang memicu timbulnya perasaan tidak
nyaman pada perut kuadran kanan atas. Hal ini dimanifestasikan dengan adanya
rasa mual dan nyeri di ulu hati.

Timbulnya ikterus karena kerusakan sel parenkim hati. Walaupun jumlah


billirubin yang belum mengalami konjugasi masuk ke dalam hati tetap normal,
tetapi karena adanya kerusakan sel hati dan duktuli empedu intrahepatik, maka
terjadi kesukaran pengangkutan billirubin tersebut didalam hati. Selain itu juga
terjadi kesulitan dalam hal konjugasi. Akibatnya billirubin tidak sempurna
dikeluarkan melalui duktus hepatikus, karena terjadi retensi (akibat kerusakan sel
ekskresi) dan regurgitasi pada duktuli, empedu belum mengalami konjugasi
(bilirubin indirek), maupun bilirubin yang sudah mengalami konjugasi (bilirubin
direk). Jadi ikterus yang timbul disini terutama disebabkan karena kesukaran
dalam pengangkutan, konjugasi dan eksresi bilirubin.

Tinja mengandung sedikit sterkobilin oleh karena itu tinja tampak pucat
(abolis). Karena bilirubin konjugasi larut dalam air, maka bilirubin dapat dieksresi
ke dalam kemih, sehingga menimbulkan bilirubin urine dan kemih berwarna
gelap. Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi dapat disertai peningkatan garam-
garam empedu dalam darah yang akan menimbulkan gatal-gatal pada ikterus.
2.6.Pathway

Pengaruh alkohol, virus hepatitis, toksin

Hipertermi Inflamasi pada hepar Peregangan kapsula hati

Gangguan suplay darah normal pada


Perubahan kenyamanan Hepatomegali
sel-sel hepar
Perasaan tidak nyaman di kuadran
Gangguan metabolisme karbohidrat Kerusakan sel parenkim, sel hati dan
kanan atas
lemak dan protein duktulii empedu intrahepatik

Nyeri Anoreksia
Gglikogenesis Glukoneogenesis
menurun menurun

Perubahan Nutrisi :
Glikogen dalam hepar berkurang
Kurang Dari Kebutuhan
Glikogenolisis menurun

Glukosa dalam darah berkurang

Cepat lelah Keletihan

Kerusakan sel parenkim, sel hati dan


duktuli empedu intrahepatik

Obstruksi Kerusakan konjugasi


Gangguan eksresi Kerusakan sel eksresi
empedu Bilirubin tidak sempura dikeluarkan
Retensi bilirubin melalui duktus hepatikus

Regurgitasi pada duktuli


Bilirubin direk meningkat
empedu intra hepatik
Ikterus
Bilirubin direk
meningkat

Peningkatan garam Ikterus Larut dalam air


empedu dalam darah

Pruritus Perubaha Eksresi ke Billirubinuria dan kemih


kenyamanan dalam kemih berwarna gelap
Sumber; google/imageshepatitis.com

2.7.Pemeriksaan Penujang
1. ASR (SGOT) / ALT (SGPT)
Awalnya meningkat.Dapat meningkat 1-2 minggu sebelum ikterik
kemudian tampak menurun. SGOT/SGPT merupakan enzim enzim intra
seluler yang terutama berada dijantung, hati dan jaringan skelet, terlepas
dari jaringan yang rusak, meningkat pada kerusakan sel hati
2. Darah Lengkap (DL)
SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan
enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
a. Leukopenia: Trombositopenia mungkin ada (splenomegali)
b. Diferensia Darah Lengkap: Leukositosis, monositosis, limfosit,
atipikal dan sel plasma.
c. Alkali phosfatase: Agaknya meningkat (kecuali ada kolestasis berat)
d. Feses; Warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati)
e. Albumin Serum: Menurn, hal ini disebabkan karena sebagian besar
protein serum disintesis oleh hati dan karena itu kadarnya menurun
pada berbagai gangguan hati.
f. Gula Darah: Hiperglikemia transien / hipeglikemia (gangguan fungsi
hati).
g. Anti HAVIgM: Positif pada tipe A
h. HbsAG: Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A)
i. Masa Protrombin: Mungkin memanjang (disfungsi hati), akibat
kerusakan sel hati atau berkurang. Meningkat absorbsi vitamin K yang
penting untuk sintesis protombin.
j. Bilirubin serum: Diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml,
prognosis buruk, mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis
seluler)
k. Biopsi Hati: Menujukkan diagnosis dan luas nekrosis
l. Skan Hati: Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkin
hati.
m. Urinalisa: Peningkatan kadar bilirubin.
2.8.Penatalaksanaan
1. Pengobatan pada hepatitis virus lebih di tekankan pada tindakan
penceghan
2. Rawat jalan, kecuali dengan pasien mual atau anoreksia yang akan
menyebabkan dehidrasi
3. Memperthankan asupan kalori dan cairan yang adekuat
4. Aktifitas fisik yang berlebiha dan berkepanjangan harus dihindari.
5. Pembatan aktifitas sehari-hari tergantung dari derajat kelelahan dan
malaise
6. Pemeberian interferon alfa pada hepatitis C dapat menurunkan resiko
hepatitis kronik
7. Obat-obat tidak penting harus dihentikan.
2.9.Komplikasi
1. Jangan biasakan anak jajanan SEMBARANGAN.
2. Jangan biarkan anak anda menggunakan sikat gigi, sisir, handuk, atau
gunting kuku, bersama-sama dengan orang lain (mencegah hepatitis B dan
C)
3. Untuk mencegah virus hepatitis A, jagalah higene dan sanitasi lingkungan
sekita anak anda dengamn baik.
4. Selain itu, berhati-hatilah dalam memberikan obat untuk anak. bacalah
aturan pakai atau tanyakan pada dokter anak tentang potensi efek samping
obat tersebut.
5. Kerusakan jaringan paremkin hati yang meluas akan menyebabkan sirosis
hepatis, penyakit ini lebih banyak ditemukan pada alkoholik.
6. Kegagalan sel liver untuk regenerasi, dengan kemajuan proses nekrotik
dihasilkan secara hebat, sering membentuk hepatitis yang fatal yang lebih
dikenal dengan hepatitis fulminan.
7. Bentuk nekrosis hepatitis secara besar besaran sangat jarang. Hepatitis
kronik terjadi seperti hepatitis B atau hepatitis C. Infeksi sangat tidak
mungkin pada agent delta hepatitis ( HDV ), dalam klien dengan
penampakan antigen hepatitis B atau HbS Ag mungkin menuju hepatitis
kronik yang akut dan kemunduran klinis.
8. Dalam beberapa kasus hepatitis fulminan dengan kematian mungkin
terjadi.
Pada seseorang dengan hepatitis kronik aktif ( CAH ) kerusakan liver yang
meningkat dan dikarakteristikkan oleh nekrosis hepatitis secara terus
menerus, inflamasi akut dan fibrosis.
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1.Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan dalam proses
keperawatan, untuk itu diperlukan kecermatan dan ketelitian tentang masalah-
masalah klien sehingga dapat memberikan arah terhadap tindakan
keperawatan. Keberhasilan proses keperawatan sangat bergantuang pada tahap
ini. Tahap ini terbagi atas:

Pengumpulan Data

1. Anamnesa
a. Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang
dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan
darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
2. Keluhan utama
Keluhan anak sehingga anak membutuhkan perawatan. Keluhan dapat
berupa nafsu makan menurun, muntah, lemah, sakit kepala, batuk,
sakit perut kanan atas, demam dan kuning
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada riwayat penykit sekarang keluhan pasien pada gejala awal selama
periode prodromal, meliputi nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala, lemah
anoreksia, mual muntah, demam, nyeri perut kanan atas, penurunan nafsu
makan dan gejala dehidrasi. Pada pase ikterik akan akana timbul gejala
seperti ikterrus, malaise, urine gelap, pases berwarna terang, dan pruritus.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat kesehatan masa lalu berkaitan dengan penyakit yang pernah
diderita sebelumnya, kecelakaan yang pernah dialami termasuk keracunan,
NAPZA prosedur operasi dan perawatan rumah sakit serta perkembangan
anak dibanding dengan saudara-saudaranya/ anak-anak yang lainya
5. Riwayat kesehatan keluarga
Berkaitan erat dengan penyakit keturunan, riwayat penyakit menular
khususnya berkaitan dengan penyakit pencernaan.

6. Pengkajian psikososial dan spiritual


Dengan hepatitis vital sering merasa bersalah bahwa mereka membawa
virus untuk orang lain. Injfeksi adanya penyakit hepatitis dapat
menyebabkan kesenjangan sosial, kien akan merasa malu dengan adanya
tindakan isolasi dan perasaan kesehatan yang diberikan oleh pihak rumah
sakit dan akhirnya berkelanjutan di rumah. Adanya ras malu inilah
menyebabkan klien membatasai interaksi sosial dengan lingkungan
sekitar. Klien takut akan penyebarab virus kepada keluarga dan teman.
Anggota keluarga klien setiap takut kontak dengan penyakit dan mereka
akan menjaga jarak dengan klien. Perawat memberi ijin kepada klien
beserta keluarganya untuk saling mengungkapkan perasaannya dan
mengetahui penyebab penyebarannya. Tindakan pencegahan berupa isolasi
membuat klien beserta keluarganya menjadi gelisah

7. Pola fungsi kesehatan


Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat

Pada kasus hepatitis akan timbul rasa mual, rasa sakit diulu hati, rasa lesu
dan lekas capek, . Dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk
membantu penyembuhannya. Selain itu, pengkajian juga meliputi
kebiasaan hidup klien seperti kontak langsung dengan penderita yang
dapat mengganggu kesehatan hati. (Ignatavicius, Donna D,1995).

Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pada klien hepatitis harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan


sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C, vit c, dan lainnya
untuk membantu proses penyembuhan hati. Evaluasi terhadap pola nutrisi
klien bisa membantu menentukan penyebab masalah hat Pola Eliminasi

Untuk kasus campak gangguan pada pola eliminasi, tapi walaupun begitu
perlu juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola
eliminasi alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi,
kepekatannya, warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada
kesulitan atau tidak.

Pola Tidur dan Istirahat

Semua klien hepatitis timbul rasa nyeri, keterbatasan sosialisasi, sehingga


hal ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga,
pengkajian dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan,
kebiasaan tidur. (Doengos. Marilynn E, 2002).

Pola Aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan


klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh
orang lain. Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien
terutama pekerjaan klien. Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko
untuk terjadinya penularan hepatitis dibanding pekerjaan yang lain
(Ignatavicius, Donna D, 1995).

Pola Hubungan dan Peran

Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.


(Ignatavicius, Donna D, 1995).

Pola Persepsi dan Konsep Diri

Dampak yang timbul pada klien hepatitis yaitu timbul pernafasan tidak
efektif, saluran cerna trganggu, konjungtivtis, mudah lelah, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image)
(Ignatavicius, Donna D, 1995).

Pola Sensori dan Kognitif

Pada klien hepatitis daya rabanya meningkat terutama pada bagian ulu hati
yang terkena, sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan. begitu
juga pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul
rasa nyeri akibat hepatitis (Ignatavicius, Donna D, 1995).

Pola Penanggulangan Stress

Pada klien hepatitis timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,.


Mekanisme koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.

Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk klien hepatitis tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah


dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan
karena nyeri dan keterbatasan gerak klien.

Pemeriksaan fisik secara umum.

pemeriksaan fisik yang didapatkan sesuai dengan manifestasi klinis pada


survey umum terlihat sakit ringan sampai lemah. TTV biasanya normal
atau bisa didapatkan perubahan seperti taki kardi

o inspeksi: pase akut ikterus merupakan tanda khas, terutama


apada sclera, pada integument mungkin muncul selam fase
ikterik dan menghilang selama masa penyembuhan, urine
gelap sela kecoklatan seperti kola tau the kental.. Pada masa
kronis pasien terlihat kelelahan (fatigue), asites, edema perifer,
dan didapatkan pedarahan dadri muntah(hematemesis dan
melena.
o Auskultasi: biasanya bising usu normal, tetapi bisa didapatkan
peningkatan peningkatan bisisng usus pada anak-anak dan
penurunan pada orang dewasa.
o Perkusi: nyeri ketuk pada kudran kanan atas.
o Palpasi:nyeri palpasi kuadaran kanan atas mungkin ada.
Hepatospelenomegali beriringan dengan dengan gela ikterus.
3.2.Diagnosa
1. Intoletarsi akitifitas berhubungan dengan lelah, kelemahan fisik umum
respon sekunder dari perubahan metabolism sistemik.
2. Pemenuhan informasi berhubungan dengan ketidakadekuatan informasi
penatalasanaan perawatan adan pengobatan, rencana perawatan rumah
3. Hipertermi berhubungn dengan respon sistemik, pemenuhan cairan tubuh,
perubahan metabolism
4. Ketidakseimangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan intake makanan yang kurang adekuat
5. Resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan
muntah, hipokalemia, penurunan intake cairan dan diaphoresis.
6. nyeri berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami
inflamasi hati dan bendungan vena porta.

3.3.Intervensi

Intoletarsi akitifitas berhubungan dengan lelah, kelemahan fisik umum respon


sekunder dari perubahan metabolism sistemik.
Tujuan: pasien dapat melakukan perawatan diri yang optimal sesuai tingkat
toleransi individu.
Criteria hasil:
1. Kebutuhan sehari-hari pasien dapat terpenuhi
2. Tidak terjanya komplkasi sekunder, seperti peningkatan suhu tubuh dan
diaphoresis
Intervensi Rasional
1. Kaji perubhan pada system saraf 1. Idendifikasi terhadap penurunan
pusat tingkat kesadaran
2. Lakukan tirah baring khususny 2. Menghentikan peradangan sel-sel
pada masa akut sampai terjadi peningkata
3. Berikan linkukan psiologis yang regenersisel hati.
kondusif 3. Linngkungan yang tenang akan
4. Bantu aktifitas sehari-hari menurunkan stimulus psikoligis
eksternel dan pembatasann dan
pembatsan penngujunng akan
membantu meningkatkan kondisi
oksigen ruangan dimna akan
berkurang apabila banyak
pengunjung ruangan
4. Membantu mmemfasilitasi
kebutuhan pasien untuk melakukan
perawatan diri

Pemenuhan informasi berhubungan dengan ketidakadekuatan informasi


penatalasanaan perawatan adan pengobatan, rencana perawatan rumah
Tujuan: terpenuhinya informasi kesehatan
Criteria hasil:
1. Pasien mampu menjelaskan kembali pendidikan kesehatan yang diberikan
2. Pasien termotivasi untuk melaksanakan penjelsan yang telah diberikan
Intervensi Rasional
1. Kaji tingkat pengetahuan pasien 1. Dengan mengetahui tingkat
tentangb kondisi penyakit dan pengetahuan tersebut , perwata
rencana perawatan rumah dapat lebih terarah dala
2. Kaji sumber yang meningkatkan memberikan pendidikan yang
penerimaan informasi dengan pengetahuan pasien secra
3. Beritahu kondisi penykit efisien dan efektif
hepatitis 2. Untuk menurunkan resiko
4. Berikan informasi pada pasien misinterpretasi tentang informasi
yang menjalani perawatan rumah yang diberikan
meliputi: 3. Kebersihan umum ynagg terdiri
Anjurkan untk=uk istirahat atas menjaga jebersihan, mencuci
setelah pulang tangan, minum air yang sudah
Beritahu untuk melkukan dimasak,.
kontol(follow up) 4. Untuk menegtahu perawatan
Anjurkan pada keluarga dirumah:
untuk melakukan Meningkatkan tengaga dan
vaksinasihevatiti kemampuan beraktifitas
Ajarkan pasien untuk Menindaklanjuti studi enzim
meningkatkan asupan cairan hati pada interval
oral bulanansamapi pada tingkat
Beritahu untuk menghindrai normal
obat yang bdrsifat Mencegah terjani hepatitis
hehpatoksik Mencegah dehidrasi
Hindari minuman berarkohol Hindari obbat-obatan dan zat
Beritahu pasien atau yang mengandung
keluarga apabila didapatkan asetaminopen dan parasetamol
perubahan klinik untuk serta pareparat yang
segera memeriksa diri mengandung asetaminopen
Dapat memperberat fungsi hati
Untuk mencegah resiko
kerusakan hati

Hipertermi berhubungn dengan respon sistemik, pemenuhan cairan tubuh,


perubahan metabolism
Tujuan: Penurunan sushu tubuh.
Criteria hasil:
1. Suhu tubuh dalam batas normal
2. Diaporesis berkurang
Intervensi Rasional
1. Kaji pengetahuan pasien tentang 1. Sebagai data dasar untuk
cara dan kelurga tentang cara memberikan intervensi
penurunan suhu tubuh selanjutnya
2. Lakukan tirah baring pada pase 2. Akan menurunkan laju
akut metabolisme yang tinggi pada
3. Atur lingkungan yang kondusif masa akut , dengan emikian
4. Beri kompres denngan air dapat membantu menurunkan
dinngin pada daerah aksila, suhu tubuh
lipatan paha, dan tempral bila 3. Memberikan efektifitas terhadap
terjadi panas proses peneyembuhan.
5. Beri dan anjurkan keluarga untuk 4. Kompres dingin merupan tehik
memakai pakaianyang dapat untuk menurukan suhu tubuh
meneyerap keringat seperti katun dengan meningkatkan efek
6. Lakukan dan anjurkan keluarga konduktifitas
untuk melkaukan masase 5. Dapat meningkatkan efek
7. Kolaborasi dengan dokter dalam evavorasi
pemberian ati perik 6. Unntuk meninngkatkan aliran
darah ke perifer yang akan
meningkatkan efek evaporasi
7. Untuk memblok respon panas
sehingga panas tubuh pasien
dapat menuru denga cepat.

Ketidakseimangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


intake makanan yang kurang adekuat
Tujuan: Pasien akan mempertahankan kebutuha yang adekuat.
Criteria hasil
1. Mebuat pilihn diet untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi
individu
2. Menunjukkan peningkatan BB
Intervensi Rassional
1. Kaji status nutrisi pasien, turgor 1. Untuk menertapkan pilihan
kulit, berat badan, dan derajat intervensi yang tepat
penurunan berat badan,
integritas mukosa oral, 2. Dengan mengetahuo tingkat
kemampuan menelan, riwayat pengetahuan tersebut pearwat
mual atau muntah dan diare dapa lebih terarah dalam
2. Kaji pengetahuan pasien memberikan pendidikan yang
tentang intake nutriisi sesuai dengan pengetahuan
3. Berui diet sesuai kondisi klinis pasien secara efisien dan efektif.
4. Anjurkan makan tiga kali sehari 3. Pada kondisi akut dan hepatitis
denga diet yang disukai pasien, kronis(non sirosis) pemebrian
tetapi tetap menghindari diet tidak ada pembatasan.
predisposisi peningkatan asan 4. Die sering mennguntunngkan
5. Berikan makan berlahan dengan dari pada makanan biasa, maka
lingkunag n yang tenang pasien telah dianjurkan untuk
6. Kolaborasi dengan ahli diet makan apa saja yang disukainya.
uuntuk menetapkan komposi 5. Pasien dapat berkonsentrasi pada
dan jenis diet yang tepat. mekanisme makan tanpa adanya
7. Monitor pekembangan berat distraksi atau ganggan dari luar.
badan 6. Untuk memenuhi peningkatan
kebutuhan energy dan kalori
sehubungan dengan perubahan
metabolic pasien.
7. Penimbangan berat badan
sebagai evaluasi terhadap
intetvensi yang diberikan.

Resiko ketidakseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan muntah,


hipokalemia, penurunan intake cairan dan diaphoresis.
Tujuan: Pasca rehidarasi, intake caitran dan elektrplit optimal
Krteri hasil:
1. Pasien tidak menegluh pusing, TTV dalam batas normal, kesadaran
optimal.
2. Membrane mukosa lembab, turgor kulit normal, CRT kurang dari 3 detik
3. Laboratorium: nilai elektrolit normal, analisa gas darah normal.
4. Penurunna respon muntah
Ntervensi Rasional
1. Identifikasi fakor penyebab, 1. Memberikan tingakt keprahan
awiatan, spesipikasi usia dan dari kondisi ketidakseimbanagn
adanay riwayat penyakit lain cairan dan elektrolit
2. Kolaborasi skofr dehidrasi 2. Menentukan jumlah cairan
3. Lakukan pemasangan IVFD yang akan diberikan sesui
4. Dokumentasi dengan akurat dengan derfajat dehidrasi dari
tentang intake dan output cairan individu.
5. Bantu pasien apabila muntah 3. Pemberian cairan intra vena di
6. Evaluasi kadar elektrolit serum sesuaikan dengan derajat
7. Dokumentasikan perubahan dehidrasi.
klinik dan laorkan dengan tim 4. Sebagai evaluasi penting dari
medis intervensi hidrasi dan
mencegah terjadinya
overhidrasi.
5. Mendekatkan tempat muntah
dan memberikan masase ringan
pada pundak un tuk membantu
menurunkan respon nyeri dan
muntah.
6. Untuk mendeteksi adanya
kondisi hiponatremi dan
hipokalemi sekunder dari
hilangnya elektrolit dari
plasma.
7. Untuk mendapatkan intervensi
selanjutnya dan menurunkan
risiko terjadinya asidosis
metabolik.

nyeri berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati


dan bendungan vena porta.
Tujuan : Diharap nyeri hilang atau teratsi
kriteria hasil: Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri
(tidak meringis kesakitan, menangis intensitas dan lokasinya)
Intervensi Rasional
1. Kolaborasi dengan individu untuk 1. nyeri yang berhubungan dengan
menentukan metode yang dapat hepatitis sangat tidak nyaman, oleh
digunakan untuk intensitas nyeri karena terdapat peregangan secara
2. Tunjukkan pada klien penerimaan kapsula hati, melalui pendekatan
tentang respon klien terhadap kepada individu yang mengalami
nyeri perubahan kenyamanan nyeri
3. Berikan informasi akurat dan diharapkan lebih efektif
Jelaskan penyebab nyeri, mengurangi nyeri.
Tunjukkan berapa lama nyeri akan 2. klienlah yang harus mencoba
berakhir, bila diketahui meyakinkan pemberi pelayanan
4. Bahas dengan dokter penggunaan kesehatan bahwa ia mengalami
analgetik yang tak mengandung nyeri
efek hepatotoksi 3. klien yang disiapkan untuk
mengalami nyeri melalui
penjelasan nyeri yang
sesungguhnya akan dirasakan
(cenderung lebih tenang dibanding
klien yang penjelasan kurang/tidak
terdapat penjelasan)
4. kemungkinan nyeri sudah tak bisa
dibatasi dengan teknik lain

3.4.Implementasi
1. Kaji perubhan pada system saraf pusat
2. Lakukan tirah baring khususny pada masa akut
3. Berikan linkukan psiologis yang kondusif
4. Bantu aktifitas sehari-hari
5. Kaji tingkat pengetahuan pasien tentangb kondisi penyakit dan rencana
perawatan rumah
6. Kaji sumber yang meningkatkan penerimaan informasi
7. Beritahu kondisi penykit hepatitis
8. Berikan informasi pada pasien yang menjalani perawatan rumah meliputi:
a. Anjurkan untuk istirahat setelah pulang
b. Beritahu untuk melkukan kontol(follow up)
c. Anjurkan pada keluarga untuk melakukan vaksinasihevatiti
d. Ajarkan pasien untuk meningkatkan asupan cairan oral
e. Beritahu untuk menghindrai obat yang bdrsifat hehpatoksik
f. Hindari minuman berarkohol
9. Beritahu pasien atau keluarga apabila didapatkan perubahan klinik
untuk segera memeriksa diri
10. Kaji pengetahuan pasien tentang cara dan kelurga tentang cara
penurunan suhu tubuh
11. Lakukan tirah baring pada pase akut
12. Atur lingkungan yang kondusif
13. Beri kompres denngan air dinngin pada daerah aksila, lipatan paha,
dan tempral bila terjadi panas
14. Beri dan anjurkan keluarga untuk memakai pakaianyang dapat
meneyerap keringat seperti katun
15. Lakukan dan anjurkan keluarga untuk melkaukan masase
16. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian ati perik
17. Identifikasi fakor penyebab, awiatan, spesipikasi usia dan adanay
riwayat penyakit lain
18. Kolaborasi skofr dehidrasi
19. Lakukan pemasangan IVFD
20. Dokumentasi dengan akurat tentang intake dan output cairan
21. Dokumentasikan perubahan klinik dan laorkan dengan tim medis
22. Kolaborasi dengan individu untuk menentukan metode yang dapat
digunakan untuk intensitas nyeri
23. Tunjukkan pada klien penerimaan tentang respon klien terhadap
nyeri
24. Berikan informasi akurat dan Jelaskan penyebab nyeri, Tunjukkan
berapa lama nyeri akan berakhir, bila diketahui
25. Bahas dengan dokter penggunaan analgetik yang tak mengandung
efek hepatotoksi.
3.5.Evaluasi
1. Aktivitas pasien dapat optimal sesuai tingkat tolerasi
2. Informasi kesehatan terpenuhi
3. Terjadi penurunan hipertermi
4. Intake nutrisi adekuat
5. Tidak terjadi kertidakseimbangan cairan dan elektrolit
6. Penurunan respon nyeri
7. Penurunan tingkat kecemasan
BAB IV

PENUTUP

4.1.Kesimpulan
Infeksi virus merupakan infeksi sistemik oleh virus dsertai nekrosis
dan inflamasi pada sel-sel hati yang menghasilkan kumpulan perubahan,
biokimia serta seluler yang khas.sampai saat ini sudah teridentifikasi lima tipe
hepatitis yang pasti: hepatitis A, B, C, D, E. Hepatitis A dan E mempunyai
cara penularan yan serupa(jalur fekal oral)sedangkan hepatitis B, C dan D
memiliki banyak karakteristik yang sama.
Insidens hepatitis virus yang terus meningkat semakin menjadi
masalah kesehatan maasyarakat , penyakit tersebut penting karena mudah
ditularkan, memiliki morbiditas yang tinggi dan menyebabkan penderitanya
abse dari sekolah atau bekerja unntuk waktu yang lama.

DAFTAR PUSTAKA
Bruner, sudart, (1997), keperawatan medical bedah, EGC: Jakarta

Hadim Sujono, (1999), Gastroenterologi, EGC: Bandung

Muttaqin, Arif,. Kumala Sari.( 2011). Gangguan Gastrointestinal: Aplikasi


Asuhan Keperawatan Medikal Bedah.Salemba Medika : Jakarta.

Maharani, Sabrina. (2008). Berbagai Ganggua Kesehatan Pada Anak. Kata Hati:
Jakarta.

Smeltzer, Suzanna C.( 1997),Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, salemba


medika. Jakarta

Suratun, Lusianah. (2010). Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem


Gastrointestinal, Trans Info Media : Jakarta.

Sasongko, Rahadyan. (2009). Petunjuk Modern Kesehatan Keluarga. Panji


Pustaka: Jakarta