Anda di halaman 1dari 7

KEMAS 8 (2) (2013) 176-182

Jurnal Kesehatan Masyarakat


http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/kemas

KETERSEDIAAN SARANA SANITASI DASAR, PERSONAL HYGIENE IBU DAN


KEJADIAN DIARE

Lailatul Mafazah

Persatuan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Cabang Kota Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


Sejarah Artikel: Diare merupakan penyakit menular yang penting karena merupakan penyumbang utama ketiga
Diterima September 2012 angka kesakitan dan kematian anak di berbagai negara termasuk Indonesia.Tujuan dari penelitian
Disetujui Oktober 2012 ini untuk mengetahui hubungan antara ketersediaan sarana sanitasi dasar lingkungan dan personal
Dipublikasikan Januari 2013 hygiene ibu dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo Kabupaten
Pemalang tahun 2012. Jenis penelitian ini yaitu explanatory research dengan metode survey dan
rancangan penelitian cross sectional dengan jumlah populasi seluruh balita di wilayah kerja
Keywords:
Puskesmas Purwoharjo pada tahun 2012 yaitu sebanyak 3.789 balita. Sampel berjumlah 95 balita.
Sanitation;
Instrumen yang digunakan adalah check list dan kuesioner. Analisis data dilakukan secara univariat
Mother Personal Hygiene;
dan bivariat (menggunakan uji chi square dengan =0,05). Hasil dari penelitian ini, variabel yang
Diarrhoea;
berhubungan dengan kejadian diare pada balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo Kabupaten
Children under five years
Pemalang adalah ketersediaan sarana air bersih (p=0,001), ketersediaan sarana pembuangan
tinja (p=0,002), ketersediaan sarana tempat pembuangan sampah (p=0,001), ketersediaan sarana
pembuangan air limbah (p=0,001) dan personal hygiene ibu (p=0,001).

AVALAILABILITY OF BASIC SANITATION INFRASTUCTURE,


MOTHER PERSON HYGIENE, AND THE INCIDE OF DIARRHEA

Abstract
Diarrhoea is an important infectious disease because there are assist third main of mortility and mor-
bidity of children in almost country belong Indonesia. Annualy, diarrhoea disease attack 59 million
Indonesian people and 2/3 of them are children under five years old throught 600.000 people was of-
fers. The aim of the study was to find correlations between mothers knowledge grade and availability
of environmental sanitation with diarrhoea cases on children at Puskesmas Purwoharjo District of
Pemalang in 2012. This study was explanatory research, which used survey method and cross sectional
study. The population is all of children at Puskesmas Purwoharjo areas in 2012 there are 3.789. The
sample are 95 of children under 5 years old. The instrument of the study were using check list and
questionnaire. Data were analyzed univariate and bivariate (using chi square test with =0,05). The
conclusion of this study were there variables were correlated with diarrhoea cases of children including
source of clean water (p=0,001), medium of faeces dismissal (p=0,002), rubbish treatment (p=0,001),
waste water disposal (p=0,001), the mothers hygiene grade (p=0,001).

2013 Universitas Negeri Semarang

Alamat korespondensi: ISSN 1858-1196


E-mail: lailatulmafazah@yahoo.com
Lailatul Mafazah / KEMAS 8 (2) (2013) 167-173

Pendahuluan gan jumlah penderita sebanyak 4.204 orang,


jumlah kematian sebanyak 73 orang dengan
Diare merupakan salah satu penyakit CFR sebesar 1,74%. Pada tahun 2012 dengan
menular yang angka kesakitan dan kematian- jumlah penderita sebanyak 5.870 orang.
nya relatif tinggi. Diare adalah berak-berak Penyakit diare masih merupakan per-
lembek sampai cair (mencret), bahkan dapat masalahan serius di Provinsi Jawa Tengah,
berupa cair saja, yang lebih sering dari biasanya terbukti 35 kabupaten/kota sudah pernah ter-
(3 kali atau lebih dalam sehari) yang ditandai jangkit penyakit diare. Pada tahun 2011, jum-
dengan gejala dehidrasi, demam, mual dan lah kasus diare di 35 kabupaten/kota di Jawa
muntah, anorexia, lemah, pucat, keratin ab- Tengah sebanyak 839.555 penderita. Dengan
dominal, mata cekung, membran mukosa ker- cakupan penemuan penyakit diare sebesar
ing, pengeluaran urin menurun, dan lain seba- 48,5%, Data selama lima tahun terakhir men-
gainya (Nazek, 2007; Chang, 2008). Penyakit unjukkan bahwa cakupan penemuan diare
menular ini dipengaruhi oleh beberapa faktor masih di bawah target yang diharapkan yai-
seperti lingkungan, agen penyebab penyakit, tu sebesar 80%, Incidence Rate (IR) sebesar
dan pejamu. Penyakit diare masih menjadi 1,95% dengan Case Fatality Rate (CFR) sebe-
masalah kesehatan masyarakat yang penting sar 0.021%. Pada tahun 2012 cakupan pen-
karena merupakan penyumbang utama ketiga emuan dan penanganan diare sebesar 42,66%
angka kesakitan dan kematian anak di berbagai lebih rendah dibanding tahun 2011 yaitu
negara termasuk Indonesia. Setiap anak men- sebesar 57,9%.
galami episode serangan diare rata-rata 3,3 kali Dalam Profil Kesehatan Kabupaten
setiap tahun. Lebih kurang 80% kematian ter- Pemalang tahun 2012, pada tahun 2010 ter-
jadi pada anak berusia kurang dari dua tahun. catat sebanyak 16.748 kasus dengan IR sebe-
Salah satu langkah dalam pencapaian sar 14,87, dan diare pada balita tercatat 7.308
target MDGs (Goal ke-4) adalah menurunkan kasus. Pada tahun 2011, tercatat sebanyak
kematian anak menjadi 2/3 bagian dari tahun 16.575 kasus, dan pada tahun 2012 tercatat
1990 sampai pada 2015. Berdasarkan Survei sebanyak 14.354 kasus. Pada tahun 2010 di
Kesehatan Rumah Tangga (SKRT), Studi Mor- Puskesmas Purwoharjo memiliki jumlah
talitas dan Riset Kesehatan Dasar dari tahun penderita diare terbanyak yaitu sebanyak
ke tahun diketahui bahwa diare masih menjadi 2.517 kasus, dengan kasus diare pada balita
penyebab utama kematian balita di Indonesia. sebanyak 947 balita.Pada tahun 2011 terdapat
Penyebab utama kematian akibat diare adalah 1.547 kasus, dengan kasus diare pada balita
tata laksana yang kurang tepat baik di rumah sebanyak 951 balita, dan pada tahun 2012
maupun di sarana kesehatan. Untuk menu- terdapat 1.625 kasus, dengan kasus diare pada
runkan kematian karena diare perlu tata lak- balita sebanyak 823 balita. Keadaan kepemi-
sana yang cepat dan tepat. likan sarana sanitasi dasar diketahui bahwa
WHO memperkirakan 4 milyar kasus dari 1.564 KK yang diperiksa, angka kepe-
diare terjadi di dunia pada tahun 2007 dan 2,2 milikan jamban yaitu 52,94%, jamban sehat
juta diantaranya meninggal, sebagian besar 31,50% , kepemilikan persediaan air bersih
anak-anak di bawah umur 5 tahun (Adisas- sebesar 80,60%, persediaan air bersih sehat
mito, 2007: 2). WHO juga menyebutkan pen- 43,86%, angka kepemilikan tempat sampah
yakit infeksi seperti diare (18%), pneumonia 78,67%, dan angka kepemilikan pengelolaan
(14%), dan campak (5%) merupakan beberapa air limbah 75,60% dengan persentase sehat
penyebab kematian anak-anak usia balita di In- sebesar 51,21% (DinKes Kabupaten Pema-
donesia (Solares, 2011). lang, 2013).
Berdasarkan profil kesehatan Indonesia Beberapa faktor yang meningkatkan
tahun 2011, pada tahun 2010 jumlah penderita risiko diare lainnya antara lain kurangnya
diare meningkat menjadi 8.443 kasus dengan air bersih untuk kebersihan perorangan dan
korban yang meninggal sebanyak 209 jiwa, dan kebersihan rumah tangga, air yang tercemar
terjadi KLB di 15 propinsi, sedangkan pada ta- tinja, pembuangan tinja yang tidak benar,
hun 2011 KLB diare terjadi di 11 propinsi den- penyiapan dan penyimpanan makanan yang

177
Lailatul Mafazah / KEMAS 8 (2) (2013) 167-173

tidak layak, khususnya makanan pendamping variabel dari hasil penelitian. Dengan menggu-
ASI. Tindakan pencegahan diare antara lain nakan distribusi frekuensi untuk mengetahui
menjaga kebersihan lingkungan, personal hy- gambaran terhadap karakteristik balita, karak-
giene, pemberian ASI dan gizi secara terus me- teristik responden, variabel personal hygiene
nerus, serta imunisasi (Nelly, 2007; Shah, 2009; ibu, variabel ketersediaan sarana penyediaan
Tattik, 2011). air bersih, ketersediaan sarana pembuangan
Berdasarkan hasil observasi dan wawan- tinja, ketersediaan sarana tempat pembuangan
cara dengan petugas kesehatan Puskesmas Pur- sampah, dan ketersediaan sarana pembuangan
woharjo yang menyebabkan tingginya jumlah air limbah (SPAL).
penderita diare di wilayah kerja Puskesmas Pur- Analisis bivariat dilakukan untuk meng-
woharjo adalah rendahnya ketersediaan sarana etahui apakah ada hubungan antara ketersedi-
sanitasi dasar yang dimiliki masyarakat dan aan sarana sanitasi dasar dengan penyakit di-
kurang baiknya higiene perorangan masyarakat are, dan apakah ada hubungan antara personal
terutama ibu yang mempunyai balita. Hygiene hygiene ibu dengan penyakit diare di wilayah
perorangan dan sarana sanitasi dasar merupa- kerja Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pema-
kan beberapa faktor yang berpengaruh terha- lang dengan menggunakan chi square. Uji chi
dap kejadian penyakit menular seperti diare. square adalah teknik statistik yang digunakan
Penelitian ini bertujuan untuk meng- untuk menguji hipotesis bila dalam populasi
etahui hubungan antara ketersediaan sarana terdiri atas dua atau lebih kelas, data berben-
sanitasi dasar dan personal hygiene ibu den- tuk nominal dan sampelnya besar. Taraf sig-
gan kejadian diare pada balita di wilayah kerja nifikansi yang digunakan adalah 95%, dengan
Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pemalang. nilai kemaknaan 5%. Syarat uji chi square ada-
lah tidak ada sel yang nilai observed nol dan sel
Metode yang expected (E) kurang dari 5 maksimal 20%
dari jumlah sel.Jika syarat uji chi square tidak
Jenis penelitian ini merupakan peneli- terpenuhi, maka dipakai uji alternatifnya, yaitu
tian explanatory research dengan metode sur- untuk tabel 22 adalah fisher, untuk tabel 2k
vey. Rancangan penelitian yang akan diguna- adalah uji Kolmogorov-Smirnov.
kan dalam penelitian ini adalah pendekatan
cross sectional, yaitu suatu penelitian dimana Hasil dan Pembahasan
variabel-variabel yang termasuk faktor risiko
dan variabel-variabel yang termasuk efek diob- Balita dalam penelitian ini adalah bal-
servasi sekaligus pada waktu yang sama. ita yang bertempat tinggal di wilayah kerja
Populasi dalam penelitian ini adalah selu- Puskesmas Purwoharjo sebanyak 95 balita.
ruh balita yang ada di wilayah kerja Puskesmas Rata-rata usia balita adalah 2,5 tahun dengan
Purwoharjo pada tahun 2012 yang berjumlah median usia balita adalah 2 tahun. Usia mini-
3.789 balita. .Pengambilan sampel dilakukan mum balita 1 tahun dan usia maksimum balita
dengan teknik acak secara proporsional menu- 4 tahun, serta nilai Standar Deviasi (S.D) ada-
rut stratifikasi (proportionate stratified random lah 1,070. Jumlah balita dengan jenis kelamin
sampling). Sampel diambil dari setiap desa di laki-laki sebanyak 47 anak (49,47%) sedangkan
wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo yaitu Si- yang berjenis jenis kelamin perempuan sebesar
kayu, Kauman, Purwosari, Tumbal, Lowa, Ge- 48 anak (50,53).
deg, Ambokulon, Sidorejo, Pecangakan, Pur- Responden dalam penelitian ini adalah
woharjo. ibu yang memiliki anak balita yang bertempat
Untuk mementukan besarnya sampel tinggal di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo
minimal dapat dihitung dengan mengguna- yaitu sebanyak 95 responden, dengan rata-rata
kan rumus Stanley Lemeshow dan didapatkan usia responden 30,29. Median usia responden
sebanyak 95 balita. Instrumen yang diguna- 29,00. Usia minimum responden adalah 22
kan dalam penelitian ini adalah kuesioner, ob- tahun dan usia maksimum responden adalah
servasi langsung menggunakan lembar check 43 tahun, serta Standar Deviasi (S.D) adalah
list. Analisis univariat dilakukan terhadap tiap 5,139.

178
Lailatul Mafazah / KEMAS 8 (2) (2013) 167-173

sumber pengotor lainnya. Sarana air bersih da-


Tabel 1. Distribusi Responden Menurut pat menjadi media penular berbagai penyakit
Pendidikan yang dibawa oleh air apabila sarana tersebut
Prosentase tidak sanitier. Sarana air bersih selain kuanti-
No Pendidikan Frekuensi
(%) tasnya, kualitasnya harus memenuhi standar
1. Tamat SD 17 17,89 % yang berlaku, untuk mencegah terjadinya serta
Tamat meluasnya penyakit bawaan air. Akan tetapi,
2. 31 32,63 % air yang sudah bersih seringkali ditampung
SLTP
Tamat di tempat air yang tidak bersih atau mudah
3. 37 38,95 % terkontaminasi, maka air yang telah aman atau
SLTA
sehat akan menjadi berbahaya kembali (Juli
4. Tamat PT 10 10,53 %
Soemirat Slamet, 2002: 111). Salah satu upaya
Jumlah 95 100,0 % memperkecil risiko terkena penyakit diare,
yaitu pengadaan dan peningkatan kebersihan
sarana air bersih sehingga terhindar dari kon-
Pada Tabel 1. diketahui bahwa pendidi-
taminasi agen penyebab penyakit. Selain itu,
kan responden sebagian besar adalah tamat
masyarakat harus memasak air minum terlebih
SLTA yaitu berjumlah 37 orang (38,95%) dan
dahulu untuk mematikan agen penyebab pen-
yang paling sedikit adalah tamat Perguruan
yakit yang terdapat dalam air bersih tersebut
Tinggi (PT) yaitu berjumlah 10 orang (10,53%).
(Madhi, 2010; Stefano, 2011).
Kejadian diare pada balita berjumlah 43 anak
Hasil tabulasi silang ketersediaan sarana
(45,3,4%), sedangkan balita yang tidak diare
pembuangan tinja dengan kejadian diare pada
berjumlah 52 anak (54,7 %).
balita dapat diketahui bahwa diantara 25 re-
Hasil tabulasi silang ketersediaan sarana
sponden yang tidak memiliki sarana pembuan-
air bersih dengan kejadian diare pada balita
gan tinja, terdapat 18 orang (72,0%) yang me-
diketahui bahwa diantara 63 responden yang
miliki balita dengan riwayat diare dan 7 orang
tidak memiliki sarana air bersih, terdapat 36
(28,0%) dengan balita tanpa riwayat diare.
orang (57,14%) yang memiliki balita dengan
Diantara 70 responden yang memiliki sarana
riwayat diare dan 27 orang (42,9%) dengan bal-
pembuangan tinja terdapat 25 orang (35,7%)
ita tanpa riwayat diare. Diantara 32 responden
yang memiliki balita dengan riwayat diare dan
yang memiliki sarana air bersih, terdapat 7
45 orang (64,3%) dengan balita tanpa riwayat
orang (21,9%) yang memiliki balita dengan ri-
diare. Hasil analisis dengan menggunakan uji
wayat diare dan 25 orang (78,1%) dengan bal-
chi square, diperoleh nilai p=0,002<0,05 se-
ita tanpa riwayat diare. Hasil analisis dengan
hingga Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa ada
menggunakan uji chi square, diperoleh nilai
hubungan antara ketersediaan sarana pem-
p=0,001<0,05 sehingga Ho ditolak. Hal ini be-
buangan tinja dengan kejadian diare pada
rarti bahwa ada hubungan antara ketersediaan
balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo
sarana air bersih dengan kejadian diare pada
Kabupaten Pemalang.
balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo
Hal ini dikuatkan atau linear dengan
Kabupaten Pemalang.
penelitian yang menyatakan bahwa ada hubun-
Hal ini sesuai dengan yang dikemu-
gan antara sarana pembuangan tinja dengan
kakan oleh Juli Soemirat Slamet (2002: 95),
kejadian diare pada balita (p value=0,003).
bahwa sumber air minum sering menjadi
Responden yang tidak memiliki jamban akan
sumber pencemar pada penyakit water borne
berpotensi untuk menimbulkan penyakit di-
disease. Oleh karena itu sumber air minum
are, karena sarana jamban yang tidak mudah
harus memenuhi syarat lokalisasi dan kon-
digelontor serta tinja yang tidak ditampung
struksi. Syarat lokalisasi menginginkan agar
dan diolah secara tertutup akan dapat terjang-
sumber air minum terhindar dari pengotoran,
kau oleh vektor penyebab penyakit diare yang
sehingga perlu diperhatikan jarak sumber air
kemudian secara tidak langsung akan mence-
minum dengan jamban, lubang galian sampah,
mari makanan atau minuman. Selain itu, jarak
lubang galian untuk air limbah, dan sumber-
antara lubang penampungan kotoran dengan

179
Lailatul Mafazah / KEMAS 8 (2) (2013) 167-173

sumber air bersih atau sumur yang kurang dari pembuangan air limbah (SPAL) dengan ke-
10 meter, akan menyebabkan kuman penyebab jadian diare pada balita, dapat diketahui bahwa
diare yang berasal dari tinja mencemari sumber diantara 32 responden yang tidak memiliki sa-
air bersih yang digunakan orang untuk keper- rana pembuangan air limbah (SPAL) terdapat
luan sehari-hari. Hal ini juga diperkuat dengan 22 orang (68,75%) yang memiliki balita den-
Kepmenkes RI No. 852/MENKES/SK/IX/2008, gan riwayat diare dan 10 orang (31,25%) den-
yang mengemukakan bahwa jamban sehat ada- gan balita tanpa riwayat diare. Diantara 63 re-
lah fasilitas pembuangan tinja yang efektif un- sponden yang memiliki sarana pembuangan air
tuk memutus mata rantai penularan penyakit. limbah (SPAL), terdapat 21 orang (33,3%) yang
Sebagai upaya yang dapat dilakukan dalam memiliki balita dengan riwayat diare dan 42
usaha pencegahan terhadap penyakit diare, orang (66,7%) dengan balita tanpa riwayat di-
masyarakat dapat mengupayakan pengadaan are. Hasil analisis dengan menggunakan uji chi
jamban umum dengan swadaya masyarakat se- square, diperoleh nilai p=0,001<0,05 sehingga
tempat, sehingga masyarakat tidak perlu Buang Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa ada hubun-
Air Besar (BAB) di sungai lagi. gan antara ketersediaan sarana pembuangan
Hasil tabulasi silang ketersediaan sarana air limbah (SPAL) dengan kejadian diare pada
tempat pembuangan sampah dengan kejadian balita di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo
diare pada balita, dapat diketahui bahwa di- Kabupaten Pemalang.
antara 65 responden yang tidak memiliki sa- Sarana pembuangan air limbah di-
rana tempat pembuangan sampah, terdapat 37 maksudkan agar tidak ada air yang tergenang
orang (56,9%) memiliki balita dengan riwayat di sekitar rumah, sehingga tidak menjadi tem-
diare dan 28 orang (43,08%) dengan balita tan- pat perindukan serangga atau dapat mence-
pa riwayat diare. Diantara 30 responden yang mari lingkungan maupun sumber air. Hal
memiliki sarana tempat pembuangan sampah, ini diperkuat dengan teori oleh Juli Soemirat
terdapat 6 orang (20,0%) yang memiliki balita Slamet (2002: 128), bahwa air limbah domes-
dengan riwayat diare dan 24 orang (80,0%) tik termasuk air bekas mandi, bekas cuci paka-
dengan balita tanpa riwayat diare. Hasil analisis ian, maupun perabot dan bahan makanan, dan
dengan menggunakan uji chi square, diperoleh lain-lain. Air ini mengandung banyak sabun
nilai p=0,001<0,05 sehingga Ho ditolak. Hal ini atau detergen dan mikroorganisme. Selain itu,
berarti bahwa ada hubungan antara ketersedi- ada juga air limbah yang mengandung tinja
aan sarana tempat pembuangan sampah den- dan urin manusia. Upaya yang dapat dilakukan
gan kejadian diare pada balita di wilayah kerja dalam mencegah penularan diare adalah sebai-
Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pemalang. knya dengan membuat SPAL yang tertutup dan
Hal ini sesuai dengan penelitian, yang selalu menjaga sanitasi saluran pembuangan air
menyatakan bahwa ada hubungan antara sa- limbah (SPAL) agar tidak ada genangan air dan
rana tempat sampah dengan kejadian diare menjadi media penularan penyakit diare.
pada balita (p value=0,002). Hasil ini sesuai Berdasarkan Tabel 2, dapat diketahui
dengan teori, bahwa tempat sampah harus me- bahwa dari 12 responden yang memiliki per-
menuhi syarat-syarat kesehatan dengan tujuan sonal hygiene kurang baik terdapat 9 orang
agar tempat sampah tidak menjadi sarang atau (75,0%) yang memiliki balita dengan riwayat
berkembang biaknya serangga ataupun bina- diare dan 3 orang (25,0%) dengan balita tanpa
tang penular penyakit (vector). Upaya yang riwayat diare. Diantara 39 responden yang me-
dapat dilakukan masyarakat agar tempat pem- miliki personal hygiene cukup baik terdapat 23
buangan sampah tidak menjadi sarang vektor orang (58,97%) yang memiliki balita dengan ri-
penyakit adalah dengan menyediakan dan me- wayat diare dan 16 orang (41,02%) dengan bal-
nutup tempat sampah rapat-rapat. Sedangkan ita tanpa riwayat diare. Diantara 44 responden
bagi masyarakat yang membuang sampah di yang memiliki personal hygiene baik terdapat
kebun, disarankan untuk membakar atau men- 11 orang (25,0%) yang memiliki balita dengan
imbun tumpukan sampah dan menutup den- riwayat diare dan 33 orang (75,0%) dengan bal-
gan tanah agar tidak dihinggapi lalat. ita tanpa riwayat diare.
Hasil tabulasi silang ketersediaan sarana Hasil analisis dengan menggunakan uji

180
Lailatul Mafazah / KEMAS 8 (2) (2013) 167-173

Tabel 2. Tabulasi Silang Personal Hygiene Ibu dengan kejadian Diare pada Balita
Kejadian Diare p
Tidak Total %
Diare % % value
diare
Personal Kurang
9 3 3 25,0 12 100
Hygiene Baik
Ibu Cukup Baik 23 58,97 16 41,02 39 100 0,001
Baik 11 25,0 33 75,0 44
Total 43 45,3 52 54,7 95 100

chi square diperoleh nilai p=0,001<0,05 se- kotoran dengan sumber air bersih yang diguna-
hingga Ho ditolak. Hal ini berarti bahwa ada kan untuk keperluan sehari-hari.
hubungan antara hygiene personal ibu dengan
kejadian diare pada balita di wilayah kerja Ucapan Terimakasih
Puskesmas Purwoharjo Kabupaten Pemalang.
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori yang Dalam kesempatan ini penulis mengu-
dikemukakan oleh Depkes RI (2002:61), kebi- capkan terimakasih kepada segenap Ibu-ibu di
asaan yang berhubungan dengan kebersihan wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo, Kepala
perorangan yang penting dalam penularan ku- Puskesmas Purwoharjo beserta staff, serta
man diare adalah mencuci tangan. Mencuci Kepala Penyehatan Lingkungan Puskesmas
tangan dengan sabun, terutama sesudah buang Purwoharjo yang membantu dalam proses pe-
air besar, sesudah membuang tinja anak, sebe- nelitian.
lum menyiapkan makan, mempunyai dampak
dalam diare. Tindakan preventif agar serangan Daftar Pustaka
kuman dapat dihindari sebaiknya harus di-
lakukan, diantaranya dengan membersihkan Chang, Ju Young. 2008. Decreased Diversity of the
tangan dengan sabun sebelum memberikan Fecal Microbiome in Recurrent Clostridium
makan kepada bayi dan anak, menghindari difficile-Associated Diarrhea. J Infect Dis.,
jajanan warung untuk anak dan balita, mema- 197(3): 435-438
DKK Pemalang, 2013, Profil Kesehatan Kabupaten
naskan air yang akan diminum, menghindari
Pemalang Tahun 2012, Pemalang: PemKab
makanan yang sudah basi atau berjamur dan Pemalang Dinas Kesehatan Tahun 2013.
terkontaminasi parasit. Dinkes Prop Jateng, 2013, Profil Kesehatan Propinsi
Jawa Tengah tahun 2012, Semarang: Dinas
Penutup Kesehatan Propinsi Jawa Tengah.
Juli Soemirat Slamet, 2002, Kesehatan Lingkungan,
Berdasarkan hasil analisis data, simpu- Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
lan dari penelitian ini yaitu variabel yang ber- Shah, Nipam. 2009. Global Etiology of Travelers Di-
hubungan dengan kejadian diare pada balita arrhea: Systematic Review from 1973 to the
di wilayah kerja Puskesmas Purwoharjo Ka- Present. Am J Trop Med Hyg, 80(4): 609-614
Solares. 2011. Impact of Rotavirus Vaccination on
bupaten Pemalang adalah ketersediaan sarana
Diarrhea-related Hospitalizations Among
air bersih (p=0,001), sarana pembuangan tinja Children <5 Years of Age in Mexico. Pediat-
(p=0,002), ketersediaan sarana tempat pem- ric Infectious Disease Journal, 30(1): S11-S15
buangan sampah (p=0,001), ketersediaan sa- Stefano, Guandalini. 2011. Probiotics for Prevention
rana pembuangan air limbah (p=0,001) dan and Treatment of Diarrhea. Journal of Clini-
personal hygiene ibu (p=0,001). Sarana jam- cal Gastroenterology, 45(2): S149S153
ban yang tidak memenuhi syarat atau tinja Tattik, K., Eram, T.P. 2011. Kualitas Bakteriologis
yang tidak ditampung dan diolah secara tertu- Air Sumuk Gali. Jurnal Kemas, 7(1):63-72
tup akan menyebabkan vektor penyakit diare Wiku Adisasmito, 2007, Faktor Resiko Diare Pada
mencemari makanan atau minuman. Begitu Bayi dan Balita di Indonesia: Systematic Re-
view Penelitian Akademik Bidang Kesehatan
juga dengan jarak antara lubang penampungan

181
Lailatul Mafazah / KEMAS 8 (2) (2013) 167-173

Masyarakat, Makara Kesehatan, 11(1):1-10 Journal of Pediatric Gastroenterology & Nu-


Madhi, Shabir A. 2010. Effect of Human Rotavirus trition, 44(2): 258264
Vaccine on Severe Diarrhea in African In- Nazek, Al-Gallas. 2007. Etiology of Acute Diarrhea
fants. N Engl J Med, 362: 289-298 in Children and Adults in Tunis, Tunisia,
Nelly, Zavaleta. 2007. Efficacy of Rice-based Oral with Emphasis on Diarrheagenic Escherichia
Rehydration Solution Containing Recom- coli: Prevalence, Phenotyping, and Molecular
binant Human Lactoferrin and Lysozyme Epidemiology. Am J Trop Med Hyg, 77(3):
in Peruvian Children With Acute Diarrhea. 571-582

182