Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan
kepada Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penusun mampu
menyelesaikaan tugas makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah nutrisi ternak.
Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang
penulis hadapi. Namun penulis menyadari bawa kelancaran dalam penyusunan
materi ini tidak kain berkat bantuan, dorongan, dari dosen pengajar dan teman-
teman, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi dapat teratasi.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang
Phitopharmaka dalam Produksi Ternak. Makalah ini disusun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang
datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Allah SWT akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan
menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca khuusnya para mahasiswa
Universitas Padjajaran. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan
dan jauh dari kata sempurna, untuk itu , kepada dosen pembimbing kami meminta
masukannya demi perbaikan pembuatan makalah kami di masa yang akan datang
dan mengharapkan kritik dan saran kepada pembaca.

Sumedang, November 2016

Penyusun

i
DAFTAR ISI

Hal .
Kata Pengantar...........................................................................................................i
Daftar Isi..................................................................................................................ii
BAB I. PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2
1.3. Tujuan .......................................................................................................... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA............................................................................ 3
BAB III. PEMBAHASAN ...................................................................................... 6
3.1. Definisi Phitopharmaka ........................................................................................ 6
3.2. Macam-macam Phitopharmaka ................................................................... 8
3.3. Potensi Phitofarmaka dalam Produksi Ternak ............................... .........10
BAB IV. PENUTUP ............................................................................................. 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 20

ii
I
PENDAHULUAN

1
II
TINJAUAN PUSTAKA

2
III
PEMBAHASAN
3.1 Pengertian Phitopharmaka

3.2 Macam-macam Phitopharmaka


Di Indonesia, baru terdapat lima jenis tanaman yang termasuk ke dalam
kategori fitofarmaka. Menurut data, sejak tahun 2003 Badan Pengawas Obat dan
Makanan sudah ada sekitar sembilan tanaman obat siap menjadi fitofarmaka.
Namun sampai saat baru terdapat lima jenis tanaman yang masuk kategori
fitofarmaka. Hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan bahwa Indonesia
merupakan negara dengan gelar negara kedua terkaya dalam keanekaragaman
hayatinya (Saat ini Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tumbuhan dan 940
spesies di antaranya termasuk tumbuhan berkhasiat).

1. Nodiar (POM FF 031 500 361)

Komposisi:

Attapulgite (bahan kimia, obat untuk diare), 300 mg


Psidii folium ekstrak (daun jambu biji), 50 mg
Curcumae domesticae rhizoma ekstrak (kunyit), 7.5 mg

Khasiat: untuk pengobatan diare non spesifik

Produksi: PT. Kimia Farma

2. Rheumaneer (POM FF 032 300 351)

Komposisi:

Curcumae domesticae rhizoma (temulawak), 95 mg


Zingiberis rhizoma ekstrak (kunyit), 85 mg
Curcumae rhizoma ekstrak, (temulawak) 120 mg
Panduratae rhizoma ekstrak, (temu kunci) 75 mg
Retrofracti fructus ekstrak, (buah cabe jawa), 125 mg

3
Khasiat: pengobatan nyeri sendi ringan

Produksi : PT. Nyonya Meneer

3. Stimuno (POM FF 041 300 411, POM FF 041 600 421)

Komposisi: Phyllanthi herba ekstrak (meniran), 50 mg

Khasiat: Membantu memperbaiki dan meningkatkan daya tahan tubuh (sebagai


imunomodulator)

Produksi: PT. Dexa Medica

4. Tensigard Agromed (POM FF 031 300 031, POM FF 031 300 041)

Komposisi:

Apii Herba ekstrak (seledri), 95 mg


Orthosiphon folium ekstrak (daun kumis kucing), 28mg

Khasiat: Membantu menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita
hipertensi ringan hingga sedang

Produksi: PT. Phapros

5. X-Gra (POM FF 031 300 011, POM FF 031 300 021)

Komposisi:

Ganoderma lucidum (jamur ganoderma), 150 mg


Eurycomae radix (akar pasak bumi), 50 mg
Panacis ginseng radix (akar ginseng), 30 mg
Retrofracti fructus (buah cabe jawa), 2.5 mg
Royal jelly 5 mg

Khasiat: Meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh, membantu meningkatkan


stamina pria, membantu mengatasi disfungsi ereksi dan ejakulasi dini.

Produksi: PT. Phapros

4
Kelima produk fitofarmaka ini merupakan produk Indonesia yang
membanggakan. Melalui berbagai penelitian, prosedur, dan biaya yang tidak sedikit
akhirnya produk ini dapat secara aman dikonsumsi masyarakat sesuai dengan
indikasinya. Dengan berkembangnya fitofarmaka maka akan meningkatkan
kepercayaan konsumen dalam menggunakannya, jelas karena fitofarmaka adalah
grade tertinggi dari produk herbal di Indonesia. Fitofarmaka juga dalam proses
produksinya sudah terstandardisasi dimulai sejak budi daya melalui adanya GAP
(Good Agricultural Practice).

3.3 Potensi Phitopharmaka dalam Produksi Ternak

3.3.1 Potensi Polifenol Isoflavon

Isoflavon merupakan senyawa polifenol yang mempunyai efek seperti


estrogen. Sehingga isoflavon diklasifikasikan sebagai tanaman, senyawa turunan
fitoestrogen dengan aktivitas estrogenik. Kacang-kacangan, khususnya kedelai,
adalah sumber terkaya isoflavon dalam makanan manusia. Dalam kedelai, isoflavon
yang hadir sebagai glikosida (terikat dalam molekul gula). Fermentasi atau
pencernaan kedelai atau produk kedelai menghaslkan hilangnya molekul gula dari
glikosida isoflavon. Glikosida isoflavon kedelai adalah genistin, daidzin, dan
glycitin, sementara aglycones disebut genistein, daidzein, dan glycitein.

Hasil-hasil penelitian di berbagai bidang kesehatan telah membuktikan


bahwa konsumsi produk-produk kedelai berperan penting dalam menurunkan
resiko terkena berbagai penyakit degeneratif. Ternyata, hal tersebut salah satunya
disebabkan adanya zat isoflavon dalam kedelai. Isoflavon merupakan faktor kunci
dalam kedelai sehingga memiliki potensi memerangi penyakit tertentu.

Isoflavon kedelai dapat menurunkan resiko penyakit jantung dengan


membantu menurunkan kadar kolesterol darah. Protein kedelai telah terbukti
mempunyai efek menurunkan kolesterol, yang dipercaya karena adanya isaoflavon
di dalam protein tersebut. Studi epidemologi juga telah membuktikan bahwa
masyarakat yang secara teratur mengkonsumsi makanan dari kedelai, memiliki

5
kasus kanker payudara, kolon dan prostat yang lebih rendah. Isoflavon kedelai juga
terbukti, melalui penelitian in vitro dapat menghambat enzim tirosin kinase, oleh
karena itu dapat menghambat perkembangan sel-sel kanker dan angiogenesis. Hal
ini berarti suatu tumor tidak dapat membuat pembuluh darah baru, sehingga tidak
dapat tumbuh.

Peranan isoflavon dalam membantu menurunkan osteoporosis juga telah


diteliti. Konsumsi protein kedelai dengan isoflavon telah terbukti dapat mencegah
kerapuhan tulang pada tikus yang digunakan sebagai model untuk penelitian
osteoporosis. Studi yang lain menunjukkan hasil yang sama pada saat menggunakan
genistein saja. Ipriflavone, obat yang dimetabolisme menjadi daidzein telah terbukti
dapat menghambat kehilangan kalsium melalui urine pada wanita post monopouse.

Produk kedelai yang mengandung isoflavon dapat membantu pengobatan


simptom monopouse. Pada wanita yang memproduksi sedikit estrogen, isoflavon
(phitoestrogen) dapat menghasilkan cukup aktivitas estrogen untuk mengatasi
simptom akibat monopouse, misalnya hot flashes. Suatu penelitian menunjukkan
bahwa wanita yang mengkonsumsi 48 gram tepung kedelai per hari mengalami
gejala hot flashes 40 % lebih rendah. Dari segi epidemologi, wanita Jepang yang
konsumsi isoflavonnya tinggi jarang dijumpai simptom post monopousal.

Makanan yang terbuat dari kedelai mempunyai jumlah isoflavon yang


bervariasi, tergantung bagaimana mereka diproses. Makanan dari kedelai seperti
tahu, susu kedelai, tepung kedelai dan kedelai utuh mempunyai kandungan
isoflavon berkisar antara 130 380 mg/100 gram. Kecap dan minyak kedelai tidak
mengandung isoflavon. Produk kedelai yang digunakan sebagai bahan tambahan
pangan, seperti isalat dan konsentrat protein kedelai mempunyai kandungan
isoflavon yang bervariasi, tergantung bagaimana proses pengolahannya. Misalnya,
hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan alkohol dalam proses ekstraksi
menghasilkan kadar isoflavon yang rendah.

Polifenol adalah antioksidan kuat, yang akan melindungi tubuh kita dari
kerusakan sel akibat radikal bebas. Dengan demikian akan memberikan manfaat

6
anti penuaan, anti inflamasi, anti kanker, dan antipatogen. Karena begitu banyaknya
manfaat antioksidan bagi kesehatan, maka meningkatkan asupan polifenol bisa
meningkatkan kualitas hidup kita. Polifenol termasuk quercetin, resveratrol,
catechin (keluarga flavonoid), dan butein secara alami terdapat dalam berbagai
makanan, termasuk buah-buahan, sayuran, dan makanan laut. Mengkonsumsi rutin
makanan ini adalah cara terbaik untuk meningkatkan asupan antioksidan polifenol.
Senyawa polifenol ini juga dapat diperoleh melalui sumber suplemen. Namun,
asupan suplemen antioksidan tidak diperlukan, jika makanan Anda sehari-hari
sudah mengandung antioksidan jenis ini.

3.3.2 Potensi Garlic

3.3.1 Potensi garlic

Sejumlah senyawa dapat diekstrak dari bawang putih, antara lain : a) Air,
protein, lemak, karbohidrat, b) Vitamin B1 dan vitamin C, c) Kalsium, fosfor,
magnesium dan kalium. Reynold (1982) juga menambahkan bawang putih
mengandung zat-zat kimia aktif aktif, yaitu :

A. Allicin

Allici merupakan senyawa kimia yang dibentuk ketika allin, yaitu salah
satu komponen kimia bawang putih berupa asam amino yang kaya akan sulfur
(cysteine) kontak dengan enzim allinase ketika bawang putih dirajang atau digerus
(Fulder dkk., 1999). Allinase adalah komponen protein yang ditemukan pada semua
jenis bawang dan dapat ditemui di vakuola tanaman dengan jumlah tertinggi
terletak pada umbi bawang yang masih muda. Penelitian tentang bawang putih yang
dilakukan Garlic Centre, Sussex Selatan, Inggris membuktikan bahwa allicin
mempunyai aktivitas farmakologis, antara lain sebagai antibiotik, antibakteri,
antioksidan, antikanker, antitrombotik, antiradang, anti aging, antikoagulan,
antiviral, antiparasitik, antihipertensi, detoksifikasi logam berat, menurunkan
kolesterol darah serta imunomodulator (Josling, 2007).Bawang putih diduga dapat
mengoptimalkan fungsi metabolisme bahan makanan sehingga dapat meningkatkan

7
efisiensi penggunaan pakan. Komponen bioaktif yang terdapat pada bawang putih
(allicin) mempunyai efek farmakologi yang luas, yaitu kemampuan menghambat
pertumbuhan bakteri Salmonella typhimurium sehingga populasi bakteri tersebut
menurun.

B. Saponin

Saponin berasal dari kata sapo (bahasa latin = sabun) merupakan senyawa
permukaan kuat yang menimbulkan busa jika dikocok dengan air. Pada beberapa
tahun saponin tertentu menjadi penting karena dapat diperoleh dari tumbuhan
dengan hasil yang baik sebagai bahan baku hormon steroid yang digunakan dalam
bidang kesehatan. Kandungan saponin dalam bubuk bawang putih dapat
menyebabkan sel-sel cacing menjadi terhidrolisis. Kandungan saponin dalam
bubuk bawang putih dapat menyebabkan sel-sel cacing menjadi terhidrolisis.
Saponin mudah larut dalam air dan larut dalam eter.

C. Diallyl sulfida

Diallyl sulfida adalah hasil dekomposisi allicin sehingga lebih stabil


daripada allicin. Daya aktifnya tidak menurun dengan cepat dan dapat bertahan
setelah dimasak. Senyawa ini bersifat antelmintika, menurunkan kolestrol,
meningkatkan sistem kekebalan tubuh serta baik untuk sirkulasi darah.

D. Methilaliltrisulfida

Zat yang dapat mencegah terjadinya pengentalan sel darah merah


(antikoagulan) yang mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah, jantung dan
otak. Pelitian aplikasi garlic (bawang putih) terhadap ternak puyuh telah dilakukan,
Andi Mushawwir dkk (2013) telah melaporkan kondisi histologic antara lain villi
ileum, kematian sel (negrosis dan apoptosis), dan plag peyeri.

E. Skordinin

Skordinin berupa senyawa kompleks thioglosida yang berfungsi sebagai


antioksidan, mempercepat pertumbuhan, menyembuhkan penyakit kardiovaskular,
dapat memberi bau yang tidak sedap dan bersifat antiseptik (Soetomo, 1987).

8
F. Allil (Propenyl alanina)

Senyawa yang memberi bau khas pada bawang putih dan berfungsi sebagai
antiseptik dan antioksidan.

9
IV

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat ditarik dari pembahasan diatas ialah :

Phitopharmaka merupakan
Macam-macam Phitopharmaka yang ada di Indonesia diantarannya adalah
Nodiar, Rheumaneer, Stimuno, Tensigard Argomed, dan X-Gra
Potensi Phitopharmaka bagi produksi ternak yaitu bisa menurunkan resiko
terkena penyakit bagi ternak.

10
DAFTAR PUSTAKA

Eroschenko, V.P. 2013. Atlas Histology diFiore : dengan Korelasi Fungsional.


Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta

Ferrer R, Planas JL, Moreto M. 1995. Cell apical surface area in enterocites from
chicken small and large intestine during development. Poult Sci 74:1995-
2002.

Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia.


Nomor: HK.00.05.4.2411. Tentang Ketentuan Pokok Pengelompokan dan
Penandaan Obat Bahan Alami Indonesia. 2004.

Koswara, Sutrisno. 2008. Isoflavon, Senyawa Multi-manfaat dalam Kedelai. IPB :


Bogor

Lampe J.W. Isoflavonoid and Lignan Phytoestrogens as Dietary Biomarkers. J


Nutr. 2003;133 Suppl. 3:956S-964S.

Sarmoko, 2009, Jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan Fitofarmaka, UGM
Press : Yogyakarta

Sukandar, E.Y., 203, Tren dan Paradigma Dunia Farmasi (Industri-Klinik-


Teknologi Kesehatan), Orasi Ilmiah Dies Natalis Institut Teknologi Bandung
ke-45, Bandung.

11
MAKALAH BIOKIMIA NUTRISI
PHITPOPHATMAKA DALAM PRODUKSI TERNAK

Oleh :
Kelas:B
Kel: 6

SYAKIR FATHUL MUBIN 200110150158


MUHAMAD HARITS SUBAGJA 200110150161
DENI MULYADI 200110150167
ALDI YUSUP SETIADI 200110150174
YAYAN KURNIA WINARTI 200110150175
ADELLINE PUTRI U.F. 200110150299

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016