Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH AQIDAH

Ruqyah dan Tamimah

Oleh:

Amelia Hapsari (12512189)

Galuh Zulaikha (12512190)

Tantriani Qurrota (12512191)

UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA


I. PENDAHULUAN

Sebagai kaum muslimin, kita tidak syak lagi bahwa Islam adalah agama yang paling
sempurna dan relefan di setiap tempat dan zaman. Sehingga tidak ada satu hal apapun,
dimanapun, dan kapanpun yang luput dari ajaran-ajaran Islam. Sampai akhirnya kita hidup di
zamanyang sangat kompleks ini, kompleks dengan segala macam problematika. Namun walau
bagaimanapun, kita harus tetap yakin bahwa kita sebagai umat Islam akan tetap selamat jika kita
tetap konsisten dan teguh di atas pedoman kita Al Quran dan As Sunnah dengan pemahaman
Salaful Ummah (generasi pendahulu umat ini).

Antusias masyarakat Islam dewasa ini terhadap ruqyah sebagai alternatif pengobatan,
merupakan satu hal yang patut untuk disyukuri, walhamdulillah. Walaupun motif dan tujuan
mereka dalam memilih ruqyah sebagai terapi pengobatan ini beraneka ragam. Namun paling
tidak, hal itu telah memberikan satu sinyalemen akan kesadaran sebagian umat ini terhadap
tuntunan agamanya. Mungkin tidak sedikit di antara kita, yang tidak mengerti atau tidak
menyadari, bahwa ruqyah adalah salah satu terapi pengobatan syari yang bersumber dari Allah
dan Rasul-Nya, yaitu Al Quran dan As Sunnah, sehingga ruqyah merupakan ibadah, dan
kebenarannya telah dibuktikan oleh generasi pendahulu umat ini.

Amat disayangkan, ketika tidak sedikit pihak yang terlibat dalam praktek ruqyah ini -baik
pasien maupun praktisi ruqyahnya-, kurang memperhatikan etika dan tuntunan syariat dalam
meruqyah. Sehingga mereka terjerumus dalam beberapa kesalahan fatal, atau bahkan kesyirikan.
Iyaadzan billah. Hal semacam ini, sudah semestinya menggugah kesadaran para ulama dan
penuntut ilmu syari untuk menasehati dan meluruskan mereka. Betapa banyak di antara kaum
muslimin yang tertimpa musibah berupa penyakit -karena ketidakmengertian mereka tentang
ajaran agamanya- menempuh berbagai cara demi memperoleh kesembuhan, tanpa
memperhatikan dan mengindahkan kaidah-kaidah pokok agama Islam; apakah cara yang ia
tempuh itu memang boleh ataukah terlarang? Allah Subhanahu wa Taala telah memberikan
beragam jalan bagi manusia untuk memperoleh kesembuhan, namun tidak semua jalan itu bisa
dibenarkan untuk ditempuh dan mendapat legalitas syariat. Allah dan Rasul-Nya
memerintahkan kita untuk menempuh jalan yang diridhaiNya. Sebagaimana Allah Subhanahu
wa Taala berfirman:

Artinya:

Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (QS. Al Balad:10)

Diriwayatkan dalam shoheh Bukhori dan Muslim bahwa Abu Basyir Al Anshori
RadhiAllohu anhu bahwa dia pernah bersama Rasululloh ShallAllohu alaihi wa Sallam dalam
suatu perjalanan, lalu beliau mengutus seorang utusan untuk menyampaikan pesan :

Agar tidak terdapat lagi dileher onta kalung dari tali busur panah atau kalung apapun
harus diputuskan.

Ibnu Masud RadhiAllohuanhu menuturkan : aku telah mendengar Rasululloh


ShallAllohualaihi wasallam bersabda :
.
Sesungguhnya Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah adalah syirik.(HR. Ahmad dan Abu
Dawud)
II. ISI MAKALAH

RUQYAH yaitu : yang disebut juga dengan istilah Ajimat. Ini diperbolehkan apabila
penggunaannya bersih dari hal-hal syirik, karena Rasululloh ShallAllohualaihi wasallam telah
memberikan keringanan dalam hal ruqyah ini untuk mengobati ain atau sengatan kalajengking.
Dalam hadits marfu dari Abdullah bin Ukaim Rasululloh ShallAllohualaihi wa Sallam
bersabda :


Barang siapa yang menggantungkan sesuatu (dengan anggapan bahwa barang tersebut
bermanfaat atau dapat melindungi dirinya), maka Alloh akan menjadikan orang tersebut selalu
bergantung kepadanya.(HR. Ahmad dan At Turmudzi).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ruwaifi RadhiAllohuanhu Rasululloh


ShallAllohualaihi wasallam pernah bersabda kepadanya :



Hai Ruwaifi, semoga engkau berumur panjang, oleh karena itu sampaikanlah kepada
orang-orang bahwa barang siapa yang menggulung jenggotnya, atau memakai kalung dari tali
busur panah, atau bersuci dari buang air dengan kotoran binatang atau tulang, maka
sesungguhnya Muhammad berlepas diri dari orang tersebut.
Waki meriwayatkan bahwa Said bin Zubair RadhiAllohuanhu berkata :
Barang siapa yang memotong tamimah dari seseorang maka tindakannya itu sama
dengan memerdekakan seorang budak.
Dan waki meriwayatkan pula bahwa Ibrahim (An Nakhoi) berkata : Mereka (para
sahabat) membenci segala jenis tamimah, baik dari ayat-ayat Al Quran maupun bukan dari ayat-
ayat Al Quran.
Ruqyah adalah bacaan-bacaan atau mantera-mantera yang dibaca kepada seseorang yang
terkena musibah seperti kesurupan jin atau disengat hewan berbisa atau lainnya.
Ruqyah terbagi menjadi dua: yang dibolehkan dan yang dilarang. Yang pertama adalah
yang terbebas dari unsur syirik dan yang kedua adalah sebaliknya.
Pertama, ruqyah yang terbebas dari syirik adalah ruqyah dengan al-Qur`an atau dengan
Asma` dan Sifat Allah atau dengan doa-doa dari Nabi saw saw. Ruqyah model ini diizinkan
karena Nabi saw melakukannya dan mengizinkan untuk melakukannya.
Imam Muslim meriwayatkan dari Auf bin Mali berkata, Kami meruqyah di zaman
jahiliyah, lalu kami bertanya kepada Rasulullah saw, Bagaimana pendapat engkau tentang hal
itu? Rasulullah saw menjawab, Perlihatkan ruqyah kalian kepadaku, tidak mengapa ruqyah
selama tidak mengandung syirik.
Imam as-Suyuthi berkata, Para ulama sepakat dibolehkannya ruqyah bila mencakup tiga
syarat: pertama, menggunakan kalamullah atau Asma was ShifatNya. Kedua, dengan bahasa
yang dipahami dan tidak mengandung syirik. Ketiga, tidak meyakini bahwa ruqyah
menyembuhkan akan tetapi penyembuh adalah Allah.
Cara ruqyah, ruqyah dibaca kemudian dihembuskan kepada orang yang sakit atau
dibacakan di air lalu air tersebut diminum atau dipakai mandi. Imam Abu Dawud meriwayatkan
dari Tsabit bin Qais bahwa Nabi saw mengambil tanah dari Bathan lalu beliau meletakkannya di
gelas kemudian Nabi saw menambahkan air padanya dan menyiramkannya kepadanya.
Kedua, ruqyah yang tidak bersih dari syirik.
Yaitu ruqyah yang mengandung permohonan pertolongan kepada jin atau setan atau
orang mati, meminta perlindungan kepada mereka, berdoa kepada mereka. Termasuk ruqyah
yang berisi doa kepada para malaikat dan para nabi serta orang-orang shalih. Termasuk ruqayah
dengan bahasa sim sala bim abra kadabra, bahasa yang tidak dipahami arti dan maksudnya.
Ruqayah model begini dilarang karena ia syirik.

TAMIMAH adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak untuk menangkal dan
menolak penyakit ain. Jika yang dikalungkan itu berasal dari ayat-ayat Al Quran, sebagian
ulama terdahulu memberikan keringanan dalam hal ini, dan sebagian yang lain tidak
memperbolehkan dan melarangnya, diantaranya Ibnu Masud RadhiAllohuanhu ([1])
Tamimah adalah jimat, sesuatu yang diselipkan di pinggang atau dikalungkan di leher
dan diyakini mendatangkan manfaat atau menolak bala`.
Tamimah ada dua, dari al-Qur`an dan dari selain al-Qur`an.
Pertama, tamimah dari al-Qur`an
Yaitu dengan menulis ayat-ayat al-Qur`an lalu dikalungkan di leher dengan berharap
kesembuhan dan terhindar dari penyakit.
Ada dua pendapat tentang tamimah al-Qur`an, apakah ia dibolehkan atau tidak?
Pertama, boleh, karena larangan tamimah hanya berlaku untuk tamimah yang menganduk
syirik saja, selainnya tidak.
Kedua, tidak boleh karena dalam masalah ini tidak ada pengkhususan, Nabi saw telah
menyatakan bahwa tamimah termasuk syirik tanpa membedakan.
Dari Ibnu Masud bahwa Nabi saw bersabda, Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan
tiwalah adalah syirik. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad.
Pendapat kedua adalah yang benar dengan alasan:
1. Larangan Nabi saw terhadapnya bersifat umum dan tidak ada
pengkhususan.
2. Sebagai tindakan preventif karena dikhawatirkan akan merembet kepada
tamimah syirik.
3. Menggunakan al-Qur`an sebagai tamimah mengandung perendahan
terhadap al-Qur`an karena al-Qur`an bukan diturunkan untuk itu.

Kedua, tamimah selain al-Qur`an


Misalnya dari tulang atau dari benang tertentu atau berupa batu atau keris atau
semacamnya. Semua ini syirik karena berharap manfaat dan mudharat dari selain Allah yang
tidak mendatangkannya dan tidak bisa menolaknya. Mengandung ketergantungan kepada selain
Allah.

Pertanyaan:
Apa makna hadits: Sesungguhnya ruqyah, tamimah dan tiwalah adalah syirik? (H.R.
Abu Daud, no. 3883, kitab ath-Thibb; dan Ahmad dalam al-Musnad, no. 3604; dishahihkan al-
Albani dalam Shahih al-Jami; no. 1632 dan as-Silsilah as-Shahihah, no.331)
Jawaban:
Hadits ini tidak ada masalah dengan sanadnya, yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu
Daud dari hadits Ibnu Masud. Makna hadits ini, menurut Ahli ilmu, bahwa ruqyah yang berisi
kata-kata yang tidak diketahui maknanya, nama-nama setan, atau serupa itu, dilarang. Tiwalah
adalah sejenis sihir. Mereka menyebutnya sebagai memisahkan dan menghubungkan. Sedang
tamimah adalah suatu yang digantungkan pada anak-anak untuk menangkal ain atau jin.
Adakalanya digantungkan pada orang yang sakit dan orang dewasa, adakalanya digantungkan
pada unta dan sejenisnya. Apa yang digantungkan pada binatang ternak disebut al-Autar. Ini
termasuk termasuk syirik kecil dan hukumnya seperti hukum tamimah. Telah shahih dari
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau mengutus dalam peperangan, seorang
utusan kepada pasukan untuk ,mengatakan pada mereka,
Janganlah ada jimat yang tersisa pada leher unta, kecuali diputus.
(H.R. Al Bukhari dalam al-Jihad wa as-Sair, no.3005; dan Muslim dalam al-Libas wa az-
Zinah, no.2115)
Ini merupakan hujjah atas diharamkannya tamimah seluruhnya, baik merupakan al-
Quran atau selainnya.
Demikian pula ruqyah diharamkan, jika tidak dipahami. Adapun jika ruqyah tersebut
dikenal, yang tidak ada kesyirikan didalamnya dan tidak pula menyelisihi syariat, maka tidak
mengapa. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam meruqyah dan diruqyah. Beliau bersabda,
Tidak mengapa ruqyah, selagi tidak mengandung kesyirikan.
(H.R. Muslim, no.2200. kitab as-Salam, Abu Daud dalam ath-Thibb, no.3886, redaksi ini
dari riwayatnya)
Demikian meruqyah pada air tidak mengapa, yaitu, dibacakan pada air dan diminumkan
pada orang yang sakit atau mengguyurkannya. Karena Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah
melakukan hal itu. Dalam riwayat yang sah dalam Sunan Abi Daud dalam kitab ath-Thibb bahwa
beliau Shallallahu alaihi wa sallam membaca pada air untuk Tsabit bin Qais bin Syammas,
kemudian mengguyurkannya padanya. Para salaf juga melakukannya. Jadi, tidak mengapa.
Majalah al-Buhuts al-Islamiyah, vol 4, hal. 131-172. fatwa ini adalah fatwa Syaikh bin
Baz.
[Fatwa Fatwa Terkini, (Al-Fatawa Asy-Syariyyah Fi Al-Masail Al-Ashriyyah Min
Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram), Darul Haq, ISBN: 979-3407-14-x (jil. 3), hal.313]
Apabila kita bercermin pada hal tersebut, maka sudah jelas bahwa Rasulullah SAW
melarang kita melakukan Ruqyah, Tamimah dan Tiwalah karena itu adalah perbuatan syirik.
Pelaksanaan dari Ruqyah itu sendiri adalah dengan menjampi jampi seseorang yang sakit baik itu
penyakit psikis maupun penyakit fisik. Jampi dan mantera mantera tersebut menggunakan ayat
ayat Al quran atau menggunakan bahasa arab.Sebagaimana yang kita ketahui bahwa pada
Zaman Jahilyah banyak sekali orang mempelajari sihir dan mempraktekkannya, caranya adalah
dengan menggunakan berbagai macam bacaan bacaan atau jampi jampi yang disesuaikan dengan
suku bangsa itu sendiri misalnya orang sunda akan menggunakan bahasa sunda kuno untuk
mantera sihirnya, orang arab akan menggunakan bahasa arab ketika menjampi jampi kan
sihirnya. Untuk mengubah pola semacam begitu, Rasulullah SAW tidak melakukannya secara
frontal atau langsung, tetapi dengan cara yang halus dan perlahan lahan untuk menghindari
perpecahan pada umat islam.
Allah SWT ber Firman dalam QS. Al-Baqarah 102 :
[102] Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan
Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman
tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).
Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat
di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada
seorang pun sebelum mengatakan: Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu
janganlah kamu kafir. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir
itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan mereka itu (ahli
sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin Allah.
Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi manfaat.
Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab Allah)
dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka
menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.
QS. Al-Falaq :
[1] Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh,
[2] dari kejahatan makhluk-Nya,
[3] dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita,
[4] dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul,
[5] dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.
Di dalam ayat tersebut dinyatakan bahwa pengerjaan sihir adalah menggunakan bacaan
bacaan tertentu sebagai ritualnya, dan di ayat selanjutnya sihir banyak pula dilakukan oleh kaum
wanita dengan teknis yang sama yaitu menjampi dan menghembus pada buhul buhul. Biasanya
sihir diikuti dengan berbagai macam syarat, agar manteranya ampuh. Kejahatan yang dilakukan
oleh para tukang sihir sebagaimana dan dilakukan oleh syaitan syaitan, disebut syaitan karena
sifat kejahatannya itu sendiri. Kita ketahui pula bahwa yang namanya syaitan itu adalah sifat,
bisa Jin dan bisa pula Manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. An Nas :
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
[1] Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai)
manusia.
[2] Raja manusia.
[3] Sembahan manusia.
[4] dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi,
[5] yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.
[6] dari (golongan) jin dan manusia. Kita pun bisa menjadi syaitan yang berwujud
manusia apabila melakukan kejahatan kejahatan, malah sering terjadi mungkin kejahatan
manusia jauh lebih jahat dari iblis. Apabila kita melihat dari ayat ayat tersebut diatas, adalah
wajar Rasulullah SAW melarang kita melakukan Ruqyah karena, apa bedanya kita dengan
tukang tukang sihir yang melakukan jampi jampi, hanya jampinya dirubah dengan menggunakan
ayat ayat Al Quran atau dengan bahasa arab. Al Quran bukanlah kumpulan mantera mantera,
tapi adalah petunjuk bagi kaum yang berpikir.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ya Sin 62 :
[62] Sesungguhnya setan itu telah menyesatkan sebahagian besar di antaramu. Maka
apakah kamu tidak memikirkan? Pola penyesatan syaitan amatlah sangat halus, terkadang sorga
menjadi seperti neraka dan neraka seperti sorga, terlihatnya baik padahal belum tentu. Hal seperti
inilah yang harus kita waspadai, karena syaitan itu bisa berkedok apa saja, bahkan bisa berkedok
ulama. Kebanyakan masyarakat kita sangat mudah terpengaruh oleh penampilan, asalkan bahasa
arab fasih, memakai gamis atau baju koko, pasang janggut tanpa kumis, kening hitam, langsung
dipercaya, padahal belum tentu, karena hanya Allah SWT lah yang mengetahui persis bagaimana
sebenarnya dibalik penampilan keren itu. Selaku umat islam yang mau berpikir, sebaiknya
berhati hati, janganlah terpengaruh oleh penjampi penjampi berkedok agama. Apabila kita
melihat dari sejarah, telah dibuktikan bahwa metoda Ruqyah itu sama sekali tidak efektif. Maka
oleh sebab itu seorang Cendekiawan Muslim bernama Ibnu Sina, merancang kedokteran yang
merupakan metoda amat sangat ilmiah, untuk mengobati orang sakit secara nyata dan dapat
dipertanggungjawabkan. Tidak perlu seseorang itu disiksa dengan pukulan pukulan , lalu
dibiarkan menggelepar gelepar, di jampi jampi, tanpa mengerti bahwa sebenarnya orang itu
stress bukan kesurupan, bahkan pernah kejadian orang yang mengalami schizophrenia dikatakan
mengalami bisikan gaib dari Jin, sehingga tambah stress. Ini berbahaya, karena metoda Ruqyah
mengajarkan orang untuk tidak berpikir, dan mengajarkan pula lari kearah mistis. Mungkin
karena menjampi itu lebih mudah daripada berpikir, dan lebih mudah pula daripada menganalisa
secara objektif, dimunculkanlah Ruqyah ini. Mudah sekali, tinggal menghapal beberapa ayat
untuk dijadikan Jampi atau Mantera, rubah penampilan, pasang tarif administrasi, jadilah pe
Ruqyah .
Allah SWT berfirman dalam QS. Al Baqarah 164 :
[164] Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan
siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang
Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan
yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan
kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.
Allah SWT di ayat tersebut jelas sekali menyuruh kita untuk berpikir, dan terdapat
puluhan ayat lagi yang menyuruh kita berpikir, tidak ada satupun ayat di Al Quran menyuruh
kita untuk menjampi jampi. Maka oleh sebab itu, marilah, sebagai umat muslim sejati, sebaiknya
pandai memilah milih, mana yang haq, dan mana yang bathil , karena perbedaannya sangat tipis
sekali. Sejarah menggambarkan Zaman Keemasan Islam yang sangat luar biasa, sebagaimana
terbukti, ilmu pengetahuan banyak sekali dimunculkan dari Dunia Islam, contohnya Al Jabar
atau ilmu hitung, Kimia atau chemistry, bahkan kedokteran yang dikembangkan oleh Ibnu Sina,
tiga contoh itu membuktikan bahwa seharusnya umat Islam harus lebih pandai berpikir dan
menganalisa, bukannya Japa Mantera yang dirubah pakai bahasa Arab. Melihat perkembangan
sekarang, adalah wajar umat Islam semakin mundur, karena dengan semakin berkembangnya
Ruqyah, masyarakat Islam akan semakin jauh dari berpikir, bahkan sering sekali Ruqyah
dijadikan pembenaran untuk kesalahan yang dilakukan, contohnya :
1. Ada seorang suami yang melakukan penyelewengan, tapi sudah bosan dengan
simpanannya, dan kebetulan anak istrinya sudah membongkar penyelewengannya itu, untuk
menghindari perceraian dengan istri tuanya sang suami bilang saja dia melakukan itu tanpa
disadari atau seperti tidak bisa mengontrol diri, otomatis kecurigaan akan mengarah kepada sihir
dalam bentuk guna guna pengasihan, dibawalah sang suami pada seorang pe Ruqyah, ketika di
Ruqyah sang suami pura pura ngamuk seolah olah di tubuhnya ada Jin, toh pe Ruqyah tidak bisa
membedakan, setelah pura pura sembuh karena tadinya tidak apa apa juga, akhirnya selamatlah
perkawinannya karena sang istri memaklumi bahwa suaminya kena pellet, juga anak anaknya
memaklumi, dan sang simpanan bisa di depak jauh jauh.
2. Ada seorang anak muda karena cintanya ditolak akhirnya dia jadi stress, dan
menderita schizophrenia. Penderita gangguan kejiwaan ini akan merasa seperti ada yang
membisiki, dan datanglah pada seorang yang katanya pe Ruqyah. Mendengar keluhan tersebut
sang pe Ruqyah karena tidak bisa membedakan penyakit dari Jin atau gangguan kejiwaan,
langsung muncul vonis bahwa itu diganggu Jin, maka di Ruqyahlah anak muda itu. Berhubung
orang yang mengalami gangguan jiwa seperti ini mudah sekali tersugesti, menggelepar
geleparlah dia sampai lama, dan terdiam setelah kelelahan. Karena sugesti tersebut, anak muda
itu merasa ringan untuk sementara. Tapi keesokan harinya, begitu lagi dan begitu lagi, akhirnya
dibawalah ke RS Jiwa, di terapi selama dua bulan, Alhamdulillah atas Izin Allah SWT anak
muda tersebut sembuh.
3. Ada seorang penderita psikosomatis yang selalu merasa tidak enak badan akibat stress,
selalu mengeluh ini dan itu, setelah di check laboratorium semuanya normal, karena memang
normal, rasa sakit itu muncul dari stress itu sendiri, jadinya segala kerasa. Dia jadi curiga itu
karena guna guna karena dia tidak suka ketika dokter bilang bahwa sakitnya itu karena psikis
atau stress , itu menunjukan bahwa dia lemah dan itu tidak disukainya . Ketika datang pada pe
Ruqyah langsung di vonis terkena sihir berupa guna guna katanya, nah inilah jawaban yang
dikehendakinya. Akhirnya di Ruqyah lah dia, tapi setelah puluhan kali di jampi jampi pakai
bahasa arab tak kunjung sembuh, karena memang tidak ada guna guna, tapi sang pe Ruqyah
bilang Jin nya sangat kuat sekali dan dia kesulitan mengeluarkannya, dan itu memang jawaban
paling aman untuk menutupi ketidakmampuan. Kembalilah dia pada seorang psikiater, setelah
diberi obat, seminggu kemudian badannya membaik, atas Izin Allah SWT.
Inilah tiga contoh dimana sebetulnya Ruqyah itu sama sekali tidak efektif, hanya
memainkan sugesti dan sugesti, juga membuat kita semakin jauh dari berpikir. Janganlah kita
menilai sesuatu berdasarkan angan angan, sebagaimana Firman Allah dalam QS. An Nisa 120
123 :
[120] Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan
kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan
belaka.
[121] Mereka itu tempatnya Jahanam dan mereka tidak memperoleh tempat lari
daripadanya.
[122] Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan saleh, kelak akan Kami
masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya
selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar
perkataannya daripada Allah?
[123] (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak
(pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan
diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula)
penolong baginya selain dari Allah. Ayat di atas menjelaskan bahwa kita harus selalu berpikir
objektif dan tidak berangan angan kosong. Apapun yang datang dari Allah SWT, harus kita kaji
secara mendalam agar kita menjadi umat Islam yang cerdas, kuat secara iman, dan berpikiran
maju.
Jin Tidak Bisa Di Ruqyah
Di dalam Al Quran Al jin ayat 1 dan 2, Allah SWT berfirman :
[1] katakanlah (hai Muhammad) telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan
jin telah mendengarkan (Al Quran) lalu mereka berkata: sesungguhnya kami telah
mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,
[2] (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami berimam, kepadanya
dan kami sekali-kali tidak akan menpersekutukan seorang pun denganTuhan kami, apabila kita
melihat ayat diatas, seharusnya kita mengerti bahwa jin mendengarkan ayat-ayat Al Quran dan
mereka mengaguminnya lalu sebagian dari mereka beriman. Adalah hal yang sangat aneh
apabila jin dibacakan ayat Al Quran malah jadi kepanasan, sedangkan ayat diatas menyatakan
bahwa ketika jin mendengarkan ayatayat Al Quran tidak ada pengaruh ajaib seperti kepanasan
atau mengelepargelepar, dan kita tahu pula Rasulullah SAW langsung membacakannya.
Rasulullah SAW sendiri ketika membacakan Al Quran tidak membuat jin kepanasan,
malahan banyak yang tadinya kafir takjud menjadi jin yang berimam kepada Allah SWT. Jadi
sebetulnya aneh sekali kalau pe-Ruqyah dapat membuat jin kepanasan dengan ayatayat Al
Quran, Rasulullah SAW tidak begitu. Bagi yang mampu berpikir, berpikirlah.

Oleh Al Ustadz Khasrisman


(Disampaikan pada kajian Jumat malam Sabtu bada Maghrib 08 Januari 2009 di Surau
Thariqul Jannah jalan Cokroaminoto Probolinggo)
Dalil ke-1:


:

Dalam hadits yang shahih dari Abu Basyir al-Anshory semoga Allah meridlainya-
bahwasanya ia pernah bersama Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam pada sebagian safar
beliau, kemudian Rasul mengutus utusan (untuk menyampaikan perintah) : Jangan biarkan ada
kalung dari tali busur panah di leher unta, atau kalung (apapun) kecuali diputus/ dipotong
Sumber Periwayatan Hadits
Hadits ini adalah muttafaqun alaih, diriwayatkan oleh alBukhari dan Muslim
Sebab Larangan
Para Ulama menyebutkan 3 sebab larangan tersebut:
1. Keyakinan bahwa dengan mengalungkan tali busur panah di leher unta tersebut bisa
menolak ain. Ini adalah pendapat Imam Malik bin Anas (riwayat Muslim).
Dalilnya adalah hadits Uqbah bin Amir yang marfu riwayat Abu Dawud
2. Tali busur panah yang dikalungkan tersebut menyakitkan bagi unta. Ini adalah
Muhammad bin al-Hasan, Sahabat Abu Hanifah.
3. Sesuatu yang dikalungkan tersebut adalah lonceng. Terdapat larangan mengalungkan
lonceng pada hewan. AlHafidz menyatakan bahwa sepertinya Imam al-Bukhari cenderung pada
pendapat ini sehingga menamakan bab diletakkannya hadits tersebut dengan : Apa yang
dikatakan tentang lonceng dan semisalnya pada leher unta.
(Lihat Penjelasan tentang hal tersebut dalam Kasyful Musykil min Hadiitsi ash-Shahihain
juz 1 halaman 451 karya Ibnul Jauzi, dan Fathul Baari karya al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany
juz 6 halaman 142).
Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad menyatakan bahwa sebab larangan tersebut bisa jadi
mencakup 3 hal itu sekaligus (Syarh Sunan Abi Dawud ).
Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab meletakkan hadits ini dalam bab ini karena
kesesuaian dengan pendapat Imam Malik di atas.
Imam Malik bin Anas menyatakan bahwa sebab larangan tersebut adalah mereka suka
mengalungkan (tali busur panah) di leher unta untuk menolak bahaya ain (bahaya seperti
penyakit atau semisalnya yang disebabkan oleh pandangan mata, pent.)(Penjelasan Imam Malik
tersebut bisa dilihat pada Shahih Muslim juz 11 halaman 33 hadits ke 3951 bab karoohatu
qilaadati watr fii roqobati baiir).
Nabi Muhammad Shollallaahu alaihi wasallam melarang hal tersebut untuk
menghilangkan aqidah-aqidah yang batil dari para Sahabatnya, dan supaya mereka memurnikan
tawakkal dan keyakinannya kepada Allah bahwa tidak ada sesuatupun yang bisa mencegah dan
menghilangkan marabahaya kecuali Allah Subhanaahu Wa Taala.
Sesuatu yang dikalungkan pada hewan bukanlah penghalang dari marabahaya, bukan pula
sesuatu yang Allah jadikan sebab untuk menghilangkan atau mencegah marabahaya.




)17: (

Jika Allah menimpakan suatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang
menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu,
maka Dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu (Q.S al-Anaam:17)

Dalil ke-2:

: :


Dari Ibnu Masud: Aku mendengar Rasulullah shollallaahu alaihi wasallam bersabda:
Sesungguhnya ruqyah, tamimah, dan tiwalah adalah syirik (riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Derajat Hadits
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim.
Shahih, dishahihkan oleh : Ibnu Hibban, al-Hakim menyatakan bahwa sanadnya shahih
berdasarkan syarat al-Bukhari dan Muslim(disepakati oleh adz-Dzahaby), dishahihkan pula oleh
Syaikh al-Albany dalam Silsilah al-Ahaadits as-Shahiihah (1/648)).
Riwayat dari Ibnu Hibban dan al-Hakim adalah shohih, namun riwayat Ahmad dan Abu
Dawud dilemahkan oleh sebagian ulama. Di dalamnya terdapat perawi yang mubham sekaligus
majhul yaitu anak saudara laki-laki Zainab istri Ibnu Masud. Sebagaimana hal itu diisyaratkan
oleh Ibnul Mundzir.

Kisah Terkait Hadits Tersebut


Diriwayatkan oleh al-Hakim kisah sebagai berikut:





: - -


:
:

: - -
: :
: : : :
Dari Zainab istri Abdullah (Ibnu Masud), bahwasanya ia terkena al-humroh (sejenis
penyakit) pada wajahnya. Kemudian masuklah seorang wanita tua ke tempatnya. Kemudian
wanita tua itu meruqyah pada sebuah benang dan diikatkan pada (tangan)nya. Kemudian Ibnu
Masud semoga Allah meridlainya- melihatnya dan bertanya: Apa ini? Kemudian (istrinya)
berkata: Aku minta diruqyah karena terkena al-humroh. Kemudian Ibnu Masud menjulurkan
tangannya dan memotong benang (pada tangan istrinya) tersebut. Kemudian ia berkata:
Sesungguhnya keluarga Abdullah (Ibnu Masud) sangat-sangat tidak butuh dari (yang
mengandung) kesyirikan. Kemudian beliau menyatakan: Rasulullah shollallaahu alaihi
wasallam telah mengkhabarkan kepada kita : Sesungguhnya ruqyah, tamiimah, dan tawliyah
adalah syirik. Kemudian aku (Zainab) berkata: apa tawliyah itu? Beliau berkata: Ia adalah
sesuatu yang membangkitkan (perasaan cinta) laki-laki (diriwayatkan oleh al-Hakim dan beliau
menyatakan bahwa hadits tersebut sanadnya shahih sesuai syarat al-Bukhari dan Muslim, dan
disepakati oleh adz-Dzahaby).
Penjelasan tentang Ruqyah, Tamimah, dan Tiwalah yang Merupakan Kesyirikan
1. Ruqyah
Ruqyah adalah lafadz-lafadz tertentu yang dibacakan kepada orang sakit dengan
keyakinan sebagai penyebab kesembuhan.
Ruqyah tidak seluruhnya merupakan kesyirikan. Dalam sebuah hadits disebutkan:






Dari Auf bin Malik al-Asyjai beliau berkata: Kami dulu biasa meruqyah di masa
Jahiliyyah, maka kami berkata: Wahai Rasulullah,bagaimana pendapat anda tentang hal itu?
Nabi bersabda: Tunjukkan padaku ruqyah-ruqyah kalian. Tidak mengapa ruqyah selama tidak
mengandung kesyirikan (riwayat Muslim).
Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany berkata:


Para Ulama telah sepakat tentang bolehnya ruqyah jika terkumpul 3 syarat: (i) Bacaan
berupa Kalaamullah (AlQuran) atau dengan Nama-namaNya dan Sifat-SifatNya, (ii) dengan
bahasa Arab yang dikenal maknanya, (iii) Berkeyakinan bahwa ruqyah tidak memberikan
pengaruh dengan sendirinya tapi dengan taqdir Allah (Fathul Baari juz 10 halaman 195).
2. Tamimah
Tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan, diikatkan pada tangan, dipakai sebagai sabuk,
diselipkan pada kopyah, atau digantungkan di dekat pintu rumah, pada mobil, atau semisalnya
dengan anggapan bahwa ia adalah sebab dalam mencegah bahaya atau mendatangkan
kemanfaatan. (Disarikan dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam
atTamhiid lisyarhi Kitaabit Tauhid). Dalam bahasa Indonesia banyak disebut dengan jimat.
Jika tamimah yang dikalungkan tersebut berupa AlQuran, terdapat perbedaan pendapat
dari para Sahabat Nabi,
Pendapat pertama : boleh.
Yang berpendapat demikian adalah : Abdullah bin Amr bin al-Ash dan riwayat dari
Aisyah
Pendapat yang memperbolehkan mengalungkan/ memakai sesuatu sebagai semacam
tamimah ini dengan syarat:
1. Berupa ayat-ayat al-Quran
2. Berupa kalimat-kalimat yang ditulis dalam bahasa Arab, bukan ajam (bahasa non
Arab) dan bukan dengan tulisan yang tidak bisa dibaca
3. Berkeyakinan bahwa kesembuhan dari Allah, bukan dari sesuatu yang digantungkan
tersebut.
(Lihat Ianatul Mustafiid bisyarhi Kitaabit Tauhid karya Syaikh Sholih al-Fauzan juz 1
halaman 269).
4. Dipakai bukan untuk mencegah sesuatu yang belum terjadi, tapi sebagai bentuk
pengobatan terhadap hal yang sedang diderita.
Tambahan syarat yang ke-4 ini adalah pendapat dari Aisyah radliyallaahu anha- dan
dikuti oleh Imam Malik.
Sedangkan Aisyah berpendapat bahwa yang termasuk kategori tamimah (yang dilarang
Nabi) adalah yang dipakai untuk mencegah datangnya musibah (bahaya atau penyakit). Jika
dipakai setelah terkena musibah, seperti dipakai oleh orang yang sakit untuk meredakan rasa
sakitnya, karena yang dikalungkan berisi AlQuran (untuk mengharapkan keberkahan), maka
tidak mengapa.
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Aisyah:


Tamimah (yang terlarang ) itu adalah yang dikalungkan sebelum datangnya bala
(musibah), sedangkan yang dikalungkan setelahnya bukanlah tamimah (riwayat al-Hakim dalam
al-Mustadrak dishahihkan olehnya dan disepakati oleh adz-Dzahaby).
Terkait poin syarat yang kedua, bahwa harus berupa kalimat-kalimat / untaian kata-kata
dalam bahasa Arab, sesuatu yang digantungkan tersebut tidak boleh berupa huruf-hurf yang
terpotong (meskipun ia adalah huruf Arab).
Disebutkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqolaany:

Ibnu AbdisSalaam ditanya tentang huruf-huruf yang terpotong, maka ia melarangnya
selama tidak diketahui (maknanya), agar tidak (terjerumus) pada kekufuran (Fathul Baari juz 10
halaman 197).
Pendapat Kedua: Tidak Boleh.
Tidak diperbolehkan menggantungkan sesuatu semisal jimat, baik yang tertulis adalah
AlQuran atau bukan.
Ini adalah pendapat Sahabat Nabi Ibnu Masud, Ibnu Abbas, Hudzaifah Ibnul Yaman,
Uqbah bin Amir, dan Ibnu Ukaim.
Alasan tidak diperbolehkannya perbuatan tersebut:
1. Larangan Nabi dalam hadits tersebut bersifat umum.
2. Sebagai upaya saddun lidzdzariah (menutup pintu untuk mencegah terjadinya hal-hal
lain yang mengarah pada larangan atau kemudharatan yang lebih besar).
Jika pada awalnya hanya diperbolehkan untuk yang berisi ayat-ayat al-Quran, secara
berangsur-angsur manusia akan terseret untuk bermudah-mudahan, sehingga diperbolehkan juga
tulisan-tulisan yang tidak mengandung AlQuran. Selain itu, hal tersebut bisa dijadikan sekedar
kedok untuk menutupi kesyirikan. Kebanyakan tamimah adalah sesuatu yang terbungkus rapat
dan terjahit dengan kuat dan tidak terlihat apa yang ada di dalamnya. Ketika seseorang
menggunakan tamimah yang tidak mengandung AlQuran, dia bisa mengelak dan mengatakan
bahwa di dalamnya adalah AlQuran. Atau, bisa saja, seseorang mengurungkan niatnya untuk
memberikan nasihat kepada seseorang yang memakai tamimah, sekedar karena ia berpikiran:
mungkin tulisan yang ada di dalamnya adalah Al-Quran, padahal sebenarnya bukan (disarikan
dari penjelasan Syaikh Sholih bin Abdil Aziz Aalu Syaikh dalam atTamhiid lisyarhi Kitaabit
Tauhid).
3. Mengalungkan atau menggantungkan sesuatu dari AlQuran mengandung unsur
merendahkan derajat AlQuran dari kadar yang semestinya. AlQuran diturunkan Allah untuk
dibaca, bukan untuk dikalungkan pada sesuatu. Lebih-lebih jika digantungkan pada anak kecil
(sebagaimana yang diriwayatkan dari perbuatan Abdullah bin Amr bin al-Ash), peluang
terhinakannya ayat-ayat al-Quran lebih besar. Sulit menjaga anak kecil untuk tidak mengotori
sesuatu yang dikalungkan tersebut dari air liurnya, kebiasaannya yang bermain-main di tempat
yang basah dan kotor, dan semisalnya.
Pendapat kedua ini adalah pendapat yang rajih (lebih kuat).
4. Tiwalah/ Tawliyah
5. Tiwalah adalah sesuatu yang dipakai untuk semakin menambah perasaan cinta seorang
istri kepada suaminya, dan sebaliknya. Sebagaimana dijelaskan dalam riwayat Ibnu
Hibban dalam Shahihnya. Padahal tiwalah tersebut bukanlah sebab syari maupun qodari.
6. Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin memberikan contoh, tukar cincin sepasang
suami istri yang disertai dengan keyakinan bahwa selama cincin itu masih melekat pada
kedua mempelai, akan mempererat jalinan hubungan keduanya. (Lihat al-Qoulul Mufiid
syarh Kitaabit Tauhid).
7. Syariat dalam Islam sangat menganjurkan hal-hal yang bisa semakin merekatkan
hubungan dan meningkatkan perasaan cinta kasih di antara suami istri, namun hal-hal itu
tidak ditempuh dengan hal-hal yang mengandung unsur kesyirikan, kebidahan, maupun
kemaksiatan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Ruqyah dan tamimah http://eddynur.wordpress.com/2010/07/27/makna-hadits-


%E2%80%9Csesungguhnya-ruqyah-dan-tamimah-adalah-syirik/
Anonim. 2011. Ruqyah dan tamimah. http://syababpetarukan.wordpress.com/2011/02/07/bab-
8-ruqyah-dan-tamimah/
Anonim. 2011. Ruqyah dan tamimah .
http://kuliahsyariah.multiply.com/journal/item/28?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fite
m
Anonim. 2011. Ruqyah dan tamimah jimat.
http://sayyidandiismail.blogspot.com/2011/03/ruqyah-dan-tamimah-jimat.html
Anonim. 2012. Ruqyah dan tamimah. http://www.almanshuroh.or.id/2012/02/kitabut-tauhid-
bab-hal-hal-terkait-ruqyah-dan-tamimah/