Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegiatan pembelajaran merupakan kegiatan yang sistematis dan berurutan.


Oleh sebab itu, kegiatan pembelajaran perlu direncanakan dengan baik. Beberapa
kompetensi yang harus dikuasai Guru Agama Islam pada khususnya adalah
merencanakan dan mendesain pembelajaran. Seorang Guru pendidikan agama
Islam perlu memiliki Kompetensi merencanakan, melaksanakan, dan
mengevaluasi hasil dan proses pembelajaran.

Adapun bentuk kompetensi guru Guru pendidikan agama Islam diantaranya


adalah dituntut untuk banyak berkreasi dan berinovasi dalam segala hal, termasuk
di dalamnya adalah berkreasi dalam hal menentukan strategi, metode, media dan
alat evaluasi dalam proses pembelajaran. Aktivitas belajar mengajar hendaknya
memberikan kesempatan yang baik kepada anak didik untuk memperoleh
informasi, ide, keterampilan, nilai, cara berpikir, sarana untuk mengekspresikan
dirinya, dan cara-cara belajar bagaimana belajar.

Untuk melaksanakan tugas secara profesional, guru agama Islam memerlukan


wawasan yang mantap tentang kemungkinan-kemungkinan strategi belajar
mengajar yang sesuai dengan tujuan belajar pendidikan agama Islam yang telah
dirumuskan, baik tujuan belajar yang dirumuskan secara eksplisit dalam proses
belajar mengajar, maupun hasil ikutan yang didapat dalam proses belajar,
misalnya kemampuan berpikir kritis, kreatif, sikap terbuka setelah anak didik
mengikuti diskusi kecil kelompok kecil dalam proses belajar.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah prosedur pemilihan metode, media dan alat


evaluasi?

2. Bagaimana kalender pendidikan itu?

3. Apa standar isi garis garis besar program pengajaran


(GBPP) itu?

1.3 Tujuan
1. Siswa dapat mengetahui prosedur pemilihan metode, media
dan alat evaluasi.
2. Siswa dapat mengetahui kalender pendidikan.
3. Siswa dapat mengetahui standar isi garis garis besar
program pengajaran (GBPP).

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Prosedur pemilihan metode, media dan alat evaluasi pembelajaran


PAI

A. Metode pembelajaran PAI


1. Pengertian metode pembelajaran PAI

Dalam Kasus Besar Bahasa Indonesia, di jelaskan bahwa : metode adaalah cara
teratur yang di gunakan untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai
dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan
pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang di tentukan.

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk


mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata
dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. (wina senjaya (2008).

2. Macam-macam Metode Pembelajaran PAI

Berikut ini akan dikemukakan beberapa metode pembelajaran yang sekirannya


dapat dipertimbangkan penggunannya dalam pelaksanaan kegiatan belajar
mengajar dalam Pendidikan Agama Islam.

a. Ceramah Bervariasi

Metode ceramah bervariasi adalah suatu cara penyampaian informasi atau


materi pelajaran melalui penuturan secara lisan divariasikan penggunaanya
dengan penyampaian lain, seperti diskusi, tanya jawab, dan tugas.

Ceramah dimulai dengan menjelaskan tujuan yang ingin dicapai, menyiapkan


garis-garis besar yang akan dibicarakan, serta menghubungkan antara materi yang
akan disajikan dengan bahan yang telah disajikan. Ceramah akan berhasil jika
mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari peserta didik. Pada akhir
ceramah perlu dikemukakan kesimpulan, memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk bertanya, dan memberikan tugas kepada peserta didik serta adanya
penilaian akhir.[9]

b. Metode Tanya Jawab

Metode tanya jawab adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dalam
bentuk pertanyaan dari guru yang harus dijawab oleh peserta didik atau
sebaliknya, baik secara lisan maupun tertulis.

Dalam praktiknya, metode tanya jawab ini dimulai dengan mempersiapkan


pertanyaan yang diagkat dari bahan pelajaran yang akan diajarkan, mengajukan
pertanyaan, menilai proses tanya jawab yang berlangsung.[10]

c. Metode Diskusi

Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian pelajaran dimana guru bersama-
sama peserta didik mencari jalan pemecahan atas persoalan yang dihadapi. Inti
dari pengertian diskusi adalah meeting of mind. Para peserta didik dihadapkan
pada suatu masalah, dan yang didiskusikan adalah pemecahannya. Dalam
pemecahan masalah terdapat berbagai alternatif. Dari macam-macam kesimpulan
jawaban yang dikemukakan dalam diskusi perlu dipilih satu jawaban yang lebih
logis dan tepat. Jawaban ini melalui mufakat. Jawaban yang merupakan
pemecahan masalah itu mempunyai argumentasi yang kuat.[11]

d. Metode simulasi atau bermain peran

Kata simulasi berasal dari kata simulate yang artinya pura-pura atau berbuat
seolah-olah, atau perbuatan yang pura-pura saja. Simulasi dapat digunakan untuk
melakukan proses-proses tingkah laku secara imitasi. Adapun Bentuk-bentuk
simulasi adalah sebagai berikut:

1) Peer Teaching

Latihan atau praktek mengajar, yang menjadi peserta didiknyaadalah temannya


sendiri. Tujuannya untuk memperoleh keterampilan dalam mengajar.

2) Sosiodrama

Sosiodrama adalah sandiwara atau dramatisasi tanpa skrip (bahan tertulis), tanpa
latihan terlebih dahulu, dan tanpa menyuruh peserta didik menghapal sesuatu.
3) Psikodrama

Permainan peranan yang dilakukan, dimaksudkan agar individu yang


bersangkutan memperoleh insight atau pemahaman yang lebih baik tentang
dirinya, dapat menemukan self concept. Psikodrama digunakan untuk maksud
terapi. Masalah yang diperankan adalah perihal emosional yang lebih mendalam
yang dialami seseorang.

4) Simulasi game

Simulasi game adalah permainan bersaing untuk mencapai tujuan tertentu dengan
mentaati peraturan-peraturan yang ditetapkan.

5) Role playing

Role playing adalah permainan peranan yang dilakukan untuk mengkreasi


kembali peristiwa-peristiwa sejarah masa lampau, mengkreasi kemungkinan-
kemungkinan masa depan dan mengekspos kejadian-kejadian masa kini.
Permainan ini lebih cocok untuk pelajaran sejarah.[12]

e. Metode pemberian tugas dan resistasi

Metode pemberian tugas dan resistasi adalah suaatu cara penyajian pelajaran
dengan cara guru memberi tugas tertentu kepada peserta didik dalam waktu yang
telah ditentukan dan peserta didik mempertanggungjawabkan tugas yang
dibebankan kepadanya.

Pelaksanaan pengerjaan tugas oleh peserta didik seyogyanya dapat dipantau


sehingga dapat diketahui bahwa tugas tersebut betul-betul dikerjakan oleh peserta
didik sendiri terutama bila tugas itu dilakukan diluar sekolah atau diluar jam tatap
muka.

Pemeriksaan tugas dilakukan sebaik mungkin, artinya tidak ditangguhkan


sampai tugas berikutnya. Jika tugas peserta didik tidak diperiksa sebagai mana
mestinya, anak akan kecewa dan akhirnya tidak akan menghiraukan tugas
berikutnya.[13]

f. Metode Demonstrasi dan Eksperimen

Metode Demontsrasi dan Eksperimen adalah suatu cara penyajian pelajaran


dengan penjelasan lisan disertai perbuatan atau memperlihatkan sesuatu proses
tertentu yang kemudian diikuti atau dicoba oleh peserta didik untuk
melakukannya. Dalam Demonstrasi, guru atau peserta didik melakukan suatu
proses yang disertai penjelasan lisan. Setelah guru atau peserta didik meragakan
suatu demonstrasi tersebut, selanjutnya di eksperimenkan oleh peserta didik yang
lainnya.[14]

g. Metode Kerja Kelompok

Metode Kerja kelompok adalah suatu cara penyajian pelajaran dengan cara
peserta didik mengerjakan sesuatu tugas dalam situasi kelompok dibawah
bimbingan guru.[15]

h. Metode Problem Solving (Pemecahan Masalah)

Metode Problem solving adalah suatu cara penyajain pelajaran dengan cara
peserta didik dihadapkan pada suatu masalah yang harus dipecahakan atau
diselesaikan, baik individual maupun kelompok.

Metode ini baik untuk melatih kesanggupan peserta didik dalam memecahkan
masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupannya. Tak ada manusia yang lepas
dar kesulitan atau masalah dalam hidupnya yang harrus diselesaikan secara
rasional. Oleh sebab itu, sekolah berkewajiban melatih kemampuan memecahkan
masalah melalui situasi belajar-mengajar.

i. Metode Karyawisata/ Widyawisata/Studiwisata

Metode karyawisata/widyawisata/studi wisata adalah suatu cara penyajian


pelajaran dengan membawa para peserta didik langsung kepada objek tertentu
untuk dipelajari, yang terdapat diluar kelas dengan bimbingan guru.

Alasan penggunaan metode ini antara lain adalah karena objek yang akan
dipelajari hanya ada di tempat objek itu berada. Selain dari itu, pengalaman
langsung pada umumnya lebih baik daripada tidak langsung, misalnaya
mengunjungi museum atau situs sejarah akan lebih jeas jika diamati secara
langsung. Dengan metode ini, peserta didik lebih banyak mengetahui bukti-bukti
nyata dari peninggalan peristiwa sejarah yang dilakukan oleh para pejuang pada
masa lampau.[16]

j. Metode Suri Tauladan

Yakni metode mengajar dengan cara memberikan contoh dalam ucapan,


perbuatan, atau tingkah laku yang baik dengan harapan menumbuhkan hasrat bagi
peserta didik untuk meniru atau mengikutinya. Dalam pemberian keteladanan
tersebut dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Yang bersifat langsung
misalnya: pendidik memberikan contoh bagaimana sikap membaca Al-Quran
yang baik, sikap sholat yang benar, dan lain sebagainya. Sedangkan yang bersifat
tidak langsung misalnya: tampilan fisik dan pribadi pendidik dan tenaga lainnya
yang sesuai dengan suasana agamis. Pendidik hendaknya harus memiliki sikap
yang penuh sopan santun, disiplin serta selalu menyambut peserta didiknya ketika
masuk dengan sambutan yang ramah.

k. Metode Kisah Atau Cerita

Merupakan suatu cara mengajar dengan cara meredaksikan kisah untuk


menyampaikan pesan-pesan yang terkandung di dalam materi pembelajaran.[17]

3. Hal-hal yang Harus Dipertimbangkan dalam Memilih Metode


Pembelajaran PAI

Dalam memilih dan menganalisis metode pembelajaran, terdapat hal-hal yang


perlu diperhatikan antara lain:

1. Keadaan murid yang mencakup pertimbangan tentang tingkat


kecerdasan, kematangan, perbedaan individu lainnya.

2. Tujuan yang hendak dicapai, jika tujuannya pembinaan daerah


kognitif maka metode driil kurang tepat digunakan.

3. Situasi yang mencakup hal yang umum seperti situasi kelas, situasi
lingkungan. Bila jumlah murid begitu besar, maka metode diskusi agak
sulit digunakan apalagi bila ruangan yang tersedia kecil. Metode ceramah
harus mempertimbangkan antara lain jangkauan suara guru.

4. Alat-alat yang tersedia akan mempengaruhi pemilihan metode


yang akan digunakan. Bila metode eksperimen yang akan dipakai, maka
alat-alat untuk eksperimen harus tersedia, dipertimbangkan juga jumlah
dan mutu alat itu.

5. Kemampuan pengajar tentu menentukan, mencakup kemampuan


fisik, keahlian.

6. Sifat bahan pengajaran. Ada bahan pelajaran yang lebih baik


disampaikan lewat metode ceramah, ada yang lebih baik dengan metode
driil, dan sebagainya. Demikianlah beberapa pertimbangan dalam
menentukan metode yang akan digunakan dalam proses interaksi belajar
mengajar.[18]
Hal-hal diatas perlu diperhatikan oleh seorang pendidik dalam rangka memilih
dan menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan, karena
kebanyakan pendidik hanya menggunakan satu metode saja yang hal itu akan
membuat peserta didik menjadi bosan dan akan mengabaikan proses
pembelajaran.

B. Prosedur pemilihan media pembelajaran PAI

Media sebagai sarana penyampaian pesan pembelajaran digunakan untuk


meningkatkan kualitas pembelajaran agar lebih efektif dan efesien. Namun
demikian, untuk memilih media secara tepat berdasarkan tujuan pembelajaran
yang akan dicapai haruslah mempertimbangkan karakteristik masing-masing
media tersebut, sehingga tidak terjadi kesalahan dalam pemilihannya.
Alasan pokok pemilihan media dalam pembelajaran adalah didasarkan
pada konsep pembelajaran sebagai suatu sistem yang di dalamnya terdapat suatu
totalitas yang terdiri attas sejumlah komponen yang saling berkaitan untuk
mencapai tujuan. Jika dilihat dari prosedur pengembangan desain pembelajaran,
maka langkah-langkahnya diawali dari perumusan tujuan (khusus dan umum),
dilanjutkan dengan perumusan materi untuk menunjang ketercapaian tujuan,
penentuan strategi pembelajaran dan media yang sesuai dengan karakteristik
siswa, serta penentuan evaluasi yang tepat sesuai dengan tujuan. Mekanisme
tersebut menggambarkan pendekatan sistem dalam pembelajaran di mana media
sebagai bagian dari sistem tersebut tentunya memiliki kedudukan yang penting
pula. Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pemilihan media dalam
pembelajaran harus juga memperhatikan prinsip-prinsip pendekatan sistem
tersebut, sehingga penggunaan media dalam pembelajaran akan memberikan
kebermaknaan dalam belajar (meaningful learning).
Sebelum membicarakan kriteria dalam memilih media, terlebih dahulu
harus dibedakan antara 2 (dua) macam media, yaitu (1) media yang dimanfaatkan
atau media by utilization, artinya media jadi yang biasanya dibuat secara
komersial dan terdapat di pasaran bebas dan tinggal memilih dan
memanfaatkannya. Seperti karton, tape, radio, buku, peta, dan lain sebagainya
yang tersedia di toko-toko buku atau swalayan. Dan (2) media yang dirancang
atau media by design yaitu media yang harus dipersiapkan, dirancang dan
dikembangkan sendiri untuk kepentingan pembelajaran. Hal ini karena medianya
belum ada di pasaran atau karena terbatasnya media yang tersedia.
Pemilihan media dalam proses pembelajaran hendaknya
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
1. Tujuan belajar (objective), yaitu tujuan yang akan dicapai dari penggunaan
media dalam pembelajaran. Apakah tujuan tersebut bersifat kognitif, afektif atau
psikomotorik?, dan pada aspek yang manakah titik beratnya? atau apakah materi
yang diajarkan bersifat informasi verbal, materi untuk menanamkan sikap atau
untuk mengajarkan keterampilan tertentu?.
2. Karakteristik sasaran (Audience), yaitu kelompok atau subjek pembelajaran
(apakah anak-anak, orang dewasa atau masyarakat umum, dan juga apakah
mereka memiliki kelebihan atau kekurangan dari sisi prestasi akademik, social,
ekonomi atau sisi yang lain).
3. Biaya (Cost), yaitu kemampuan finansial yang tersedia. Berapa banyak biaya
yang dibutuhkan untuk pengadaan media tersebut? apakah dana yang ada telah
mencukupi, apakah media yang dikeluarkan seimbang dengan kemungkinan hasil
yang akan dicapai, dan apakah ada media lain yang lebih murah tetapi tujuan tetap
tercapai?.
4. Karakteristik media, yaitu kemampuan masing-masing media. Harus diingat
bahwa jenis media tertentu mungkin lebih cocok untuk mencapai tujuan
pembelajaran tertentu di banding media yang lain.
5. Mutu Teknis, yaitu apakah medianya tergolong masih baik atau kurang dari
segi audionya, visualnya atau dari sisi elektronik lainnya. Jangan paksakan
menggunakan media yang sudah kualitas gambar dan suaranya jelek, hanya
sekedar supaya ada variasi.
6. Kesesuaian di lapangan, yaitu medianya acceptable apa tidak. Kondisi
lapangan perlu dipertimbangkan. Misalnya adat istiadat, budaya, agama, fasilitas
yang ada di lingkungan sekolah, dan lain-lain
7. Ketersediaan dan Kelayakan, yaitu jenis media tersebut apakah tersedia di
lingkungan kita atau sekolah dan layak untuk di pakai atau tidak? Mungkinkah
kita memperolehnya? Kalau ada, apakah sekolah memiliki peralatan untuk
menggunakannya, tenaga yang merawat atau mengoperasikannya? Dan jika tidak
ada dan harus membuat, adakah bahan-bahan, waktu dan tenaganya?
8. Waktu (Time), yaitu penggunaan media tersebut bagaimana dari sisi
penggunaan waktunya, apakah lebih cepat, lamban atau sedang. Sehingga kita
bisa mengestimasi penggunaan media tersebut dari segi ketersediaan waktu.
Pemilihan media dalam pembelajaran menurut Dick and Carey (1978)
harus didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan : (1) Tujuan Prilaku Belajar, (2)
Ketersediaan Sumber Setempat, (3) Ketersediaan Dana, tenaga dan fasilitasnya,
dan (4) Faktor keluesan, kepraktisan dan ketahanan media dalam waktu lama.
Sementara menurut Gerlach and Ely (1980) bahwa pertimbangan pemilihan media
juga didasarkan atas : kualitas teknis media, harga, ketersediaan, dan kemampuan
guru dan siswa. Dan Prof. Ely menegaskan pula bahwa pemilihan media itu
hendaknya memperhatikan Tujuan, Isi (materi), karakteristik siswa, strategi
belajar mengajar, organisasi kelompok belajar, alokasi waktu dan sumber, dan
prosedur penilaian.
Kriteria khusus lainnya yang dapat kita gunakan untuk memilih media
pembelajaran yang tepat dapat mempertimbangkan faktor Acces, Cost,
Technology, Interactivity, Organization, dan Novelty (ACTION). Penjelasan dari
akronim tersebut sebagai berikut:
Acces, artinya media yang diperlukan dapat tersedia, mudah, dan dapat
dimanfaatkan siswa
Cost, artinya media yang akan dipilih atau digunakan, pembiayaannya dapat
dijangkau.
Technology, artinya media yang akan digunakan apakah teknologinya
tersedia dan mudah menggunakannya.
Interactivity, artinya media yang akan dipilih dapat memunculkan
komunikasi dua arah atau interaktivitas. Sehingga siswa akan terlibat (aktif) baik
secara fisik, intelektual dan mental.
Organization, artinya dalam memilih media pembelajaran tersebut, secara
organisatoris mendapatkan dukungan dari pimpinan sekolah (ada unit organisasi
seperti pusat sumber belajar yang mengelola).
Novelty, artinya media yang dipilih tersebut memiliki nilai kebaruan,
sehingga memiliki daya tarik bagi siswa yang belajar.
Media-media yang akan dipilih dalam proses pembelajaran juga harus
memenuhi syarat-syarat visible, intresting, simple, useful, accurate, legitimate,
structure (VISUALS). Penjelasan dari syarat tersebut adalah:
Visible atau mudah dilihat, artinya media yang digunakan harus dapat
memperikan keterbacaan bagi orang lain yang melihatnya;
Interesting atau menarik, yaitu media yang digunakan harus memiliki nilai
kemenarikan. Sehingga yang melihatnya akan tergerak dan terdorong untuk
memperhatikan pesan yang disampaikan melalui media tersebut;
Simple atau sederhana, yaitu media yang digunakan juga harus memiliki nilai
kepraktisan dan kesederhanaan, sehingga tidak berakibat pada in-efesiensi dalam
pembelajaran;
Useful atau bermanfaat, yaitu media yang digunakan dapat bermanfaat dalam
pencapaian tujuan pembelajaran yang diharapkan,
Accurate atau benar, yaitu media yang dipilih benar-benar sesuai dengan
karakteristik materi atau tujuan pembelajaran. Atau dengan kata lain media
tersebut benar-benar valid dalam pembuatan dan penggunaannya dalam
pembelajaran;
Legitimate atau Sah, masuk akal artinya media pembelajaran dirancang dan
digunakan untuk kepentingan pembelajaran oleh orang atau lembaga yang
berwenang (seperti guru);
Structure atau tersetruktur artinya media pembelajaran, baik dalam
pembuatan atau penggunaannya merupakan bagian tak terpisahkan dari materi
yang akan disampaikan melalui media tersebut.
Menurut wilkinson, ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam
memilih media pembelajaran, yakni:
1. Tujuan
Media yang dipilih hendaknya menunjang tujuan pembelajaran yang dirumuskan.
Tujuan yang dirumuskan ini adalah kriteria yang paling cocok, sedangkan tujuan
pembelajaran yang lain merupakan kelengkapan dari kriteria utama.
2. Kegunaan
Jika materi yang akan dipelajari adalah bagian-bagian yang penting dari benda,
maka gambar seperti bagan dan slide dapat digunakan. Apabila yang dipelajarai
adalah aspek-aspek yang menyakut gerak, maka media film atau video akan lebih
tepat. Wilkinson menyatakan bahwa penggunaan bahan-bahan yang bervariasi
menghasilkan dan meningkatkan pencapain akademik.
3. Keadaan siswa
Media akan efektif digunakan apabila tidak tergantung dari beda interindividual
antara siswa. Msialnya kalau siswa tergolong tipe auditif/visual maka siswa yang
tergolong auditif dapat belajar dengan media visual dari siswa yang tergolong
visual dapat juga belajar dengan menggunakan media auditif.
4. Ketersediaan
Walaupun suatu media dinilai sangat tepat untuk mencapai tuuan pembelajaran,
media tersebut tidak dapat digunakan jika tidak tersedia. Menurut wilkinson,
media merupakan alat mengajar dan belajar, peralatan tersebut harus tersedia
ketika dibutuhkan untuk memenuhi keperluan siswa dan guru.
5. Biaya
Biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh dan menggunakan media, hendaknya
benar-benar seimbang dengan hasil-hasil yang akan dicapai.
Dengan kriteria pemilihan media di atas, guru dapat lebih mudah
menggunakan media mana yang lebih tepat untuk membantu mempermudah
tugas-tugasnya sebagai pemelajar. Kehadiran media dalam proses pembelajaran
jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tetapi harus sebaliknya yakni
mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pembelajaran. Sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan baik.
Dalam hubungannya dengan penggunaan media dalam waktu
berlangsungnya pembelajaran setidak-tidaknya digunakan guru dalam situasi
sebagai berikut:
Perhatian siswa terhadap pembelajaran sudah berkurang akibat kebosanan
mendengarkan uraian guru.
Bahan pembelajaran yang dijelaskan guru kurang dipahami siswa. Dalam
situasi ini sangat bijaksana apabila guru menampilkan media untuk memperjelas
pemahaman siswa mengenai bahan pembelajaran.
Terbatasnya sumber pembelajaran. Tidak semua sekolah mempunyai buku
sumber, atau tidak semua bahan pembelajaran ada pada buku sumber. Situasi
seperti itu menuntut guru untuk menyediakan sumber tersebut dalam bentuk
media. Seperti peta, globe, model, diorama, media grafis, dan lain-lain.
Guru tidak bergairah untuk menjelaskan bahan pembelajaran melalui
penuturan kata-kata (verbal) akibat terlalu lelah disebabkan telah mengajar terlalu
lama. Misalnya dengan menampilkan bagan atau grafik dan siswa diminta untuk
menganalisa materi yang ada pada bagan atau grafik tersebut.
Hal yang perlu diperhatikan guru setiap akan memilih media, metode atau
bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembelajaran, yaitu menyangkut (a)
peserta didiknya, (b) tujuan belajarnya, (c) lingkungan belajar, dan (d)
ketersediaan sumber belajarnya.

C. Prosedur Pemilihan Media


Dalam pemilihan media ada beberapa model yang dapat digunakan.
Model-model tersebut di antaranya dengan menggunakan (1) model bagan arus
yaitu dengan cara menggunakan sistem pengguguran dalam keputusan
pemilihannya, (2) model matriks yang menangguhkan keputusan pemilihan
sampai seluruh criteria pemilihannya diidentifikasi dan (3) model checklist yang
juga menangguhkan keputusan sampai semua kriteria terpenuhi.
C.1. Prosedur Pemilihan Media Pemanfaatan
Untuk jenis media pemanfaatan, Erickson dan Curl (1972)
mengembangkan proses pemilihannya dalam bentuk checklist sebagai berikut:
1. Apakah materinya penting dan berguna bagi siswa?
2. Apakah dapat menarik minat siswa untuk belajar?
3. Apakah ada kaitan yang mengena dan langsung dengan tujuan khusus yang
hendak dicapai?
4. Bagaimana format penyajiannya diatur memenuhi sekuensi atau tata urutan
belajar?
5. Apakah materi yang disajikan mutakhir dan otentik?
6. Apakah konsep dan faktanya terjamin kecermatannya?
7. Apakah isi dan presentasinya memenuhi standar selera?
8. Bila tidak, apakah ada keseimbangan controversial?
9. Apakah pandangannya objekif dan tidak mengandung unsure propaganda dan
sebagainya?
10. Apakah memenuhi standar kualitas teknis? (gambar, narasi, efek, warna, dan
sebagainya)
11. Apakah struktur materinya direncanakan dengan baik oleh produsernya?
12. Apakah sudah dimantapkan melalui proses uji coba atau validasi? Oleh siapa,
kondisinya, karakteristik sasarannya, dan sejauhmana hal tersebut berhasil?
Beberapa pertanyaan tersebut, perlu diketahui jawabannya. Sehingga
media yang akan dipilih adalah dalam rangka memenuhi kebutuhan dari
pertanyaan yang diajukan itu. Karena terkadang orang memilih media bukan atas
pertimbangan-pertimbangan akademik melainkan karena kemauannya sendiri.
Sehingga dalam penggunaannya tidak dapat memenuhi tujuan yang ingin dicapai
dalam pembelajaran tersebut.
C.2. Prosedur Pemilihan Media Rancangan
Untuk jenis media rancangan, Anderson (1976) memakai pendekatan
flowchart. Pendekatan pemilihan media yang digunakannya berdasarkan
pandangan bahwa pemilihan media merupakan bagian integral dari
pengembangan pembelajaran. Dalam pemilihan media ini, Anderson
mengemukakan 6 (enam) langkah penentuan media, sebagai berikut:
Langkah Pertama: Menentukan apakah pesan yang disampaikan itu untuk
tujuan pembelajaran atau hanya sekedar informasi atau hiburan. Kalau bukan
untuk pembelajaran, maka diabaikan (STOP)
Langkah Kedua, Menetapkan apakah media itu dirancang untuk keperluan
pembelajaran (instruksional) atau alat bantu mengajar (alat peraga). Jika untuk
alat bantu mengajar saja maka diabaikan juga
Langkah Ketiga, Menentukan apakah dalam usaha mendorong kegiatan
belajar tersebut digunakan strategi afektif, kognitif atau psikomotorik
Langkah Keempat, Menentukan media yang sesuai dari kelompok media
yang cocok untuk strategi yang dipilih dengan mempertimbangkan ketentuan
(criteria) kebijakan, fasilitas yang ada, kemampuan produksi dan biaya
Langkah Kelima, Mereview kembali kelemahan dan kelebihan media yang
dipilih bila perlu mengkaji kembali dengan alternative nomor 4 sebelum mulai
dengan proses selanjutnya
Langkah Keenam, Perencanaan pengembangan produksi media tersebut.

Cara Memilih Media Pembelajaran PAI

Cara memilih media pembelajaran yang sesuai dengan Pendidikan Agama Islam
adalah:

1. Pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.


(dalam hal ini sesuai dengan tujuan Pendidikan Agama Islam).

2. Pemilihan media harus berdasarkan objektivitas, artinya pemilihan


media pembelajaran bukan didasarkan kepada kesenangan guru atau
sekedar selingan atau hiburan.[29]

3. Pemilihan media harus disesuaikan dengan karakteristik siswa

4. Pemilihan media harus sesuai dengan gaya belajar siswa dan


kemampuan guru.

5. Pemilihan media harus sesuai dengan kondisi lingkungan, fasilitas


dan waktu yang tersedia untuk kebutuhan pembelajaran.[30]
Selain pertimbangan-pertimbangan diatas, pemilihan media pembelajaran PAI
sekurang-kurangnya dapat mempertimbangkan beberapa hal juga yakni
kemudahan akses, biaya, tingkat interaktif yang mampu ditimbulkan, dukungan
organisasi, serta tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya dan tingkat biaya
yang diperlukannya.[31]

Interaksi peserta didik dengan media berarti bagaimana peran media pembelajaran
dalam merangsang kegiatan belajar peserta didik. Setiap media pembelajaran PAI
yang direncanakan hendaknya dipilih, ditetapkan dan dikembangkan sehingga
dapat menimbulkan interaksi peserta didik dengan pesan-pesan yang dibawa
media pembelajaran.

C. Prosedur dalam Memilih Alat Evaluasi Pembelajaran PAI

Untuk memilih alat evaluasi, maka harus memenuhi persyaratan atau kreteria
sebagai berikut: (1) Memiliki Validitas, (2). Mempunyai reliabitas, (3).
Objektivitas, (4) Efesiensi, dan (5) kegunaan/kepraktisan.

Valaditas, artinya penilaian harus benar-benar mengukur apa yang hendak di ukur.
Demikian pula suatu tes memiliki suatu valaditas bila tes itu benar-benar
mengukur hal yang hendak di tes.

Reliabilitas, suatu alat evaluasi memiliki reliabilitas, bila menunjukan kecepatan


hasilnya.dengan kata lain, orang yang akan di tes itu akan mendapat skor kembali
dengat alat uji yang sama.

Untuk mengetahui besar kecilnya reliabilitas suatu tes dapat ditempuh berbagai
cara, yakni dengan cara mengulangi kembali tes itu (test-retest.

Objektifitas, suatu alat evaluasi harus benar-benar mengukur apa yang diukur,
tanpa adanya interprestasi yang tidak ada hubungannya dengan alat evaluasi itu.
Guru harus menilai siswa dengan kreteria yang sama bagi setiap pekerjaan tanpa
membeda-bedakan si A dengan si B dan seterusnya.

Objektivitas, dalam penilaian sering diperlukan dalam menggunakan; questioner,


essay test, observation, rating scale, check list dan alat-alat lainya.

Efisiensi, suatu alat evaluasi sedapat mungkin dipergunakan tanpa membuang


waktu dan uang yang banyak. Ini tidak berarti, bahwa evaluasi yang memakan
waktu, usaha dan uang sedikit dianggap alat evaluasi yang baik.hal ini tergantung
pada tujuan penggunaan alat evaluasi dan banyaknya siswa yang dinilai dan
sebagainya.
Suatu alat evaluasi diharapkan dapat digunakan dengan sedikit biaya dan usaha
yang sedikit, dalam waktu yang singkat, dan hasil yang memuaskan. Efisiensi
dapat dicapai dengan cara :

1. Si penilai mampu memilih alat yang tepat untuk tujuan tertentu.

2. Si penilai dapat mempertimbangkan perlu tidaknya menggunakan


beberapa macam alat penilaai.

3. Si penilai hanya memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan


tujuan yang sama.

Keguanaan/kepraktisan. Ciri lain dari evaluasi ialah usefulness (harus berguna).


Untuk memperoleh keterangan tentang siswa, sehingga guru dapat memberikan
bimbinagn sebaik-baiknya bagi para siswanya.[62]

2.1 Kalender pendidikan

Kalaender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan


pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran. Kalender pendidikan
mencakup permulaan tahun ajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran
efektif dan hari libur.

Berisi tentang kalender pendidikan yang digunakan oleh sekolah, yang


disusun berdasarkan kalender pendidikan yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan
setempat, disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah, kebutuhan
peserta didik dan masyarakat, dengan memperhatikan aturan kalender pendidikan
sebagaimana tercantum dalam Standar Isi.
Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran pada
awal tahun pelajaran.
Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk setiap
tahun pelajaran
Waktu pembelajaran efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu,
meliputi jumlah jam pembelajaran untuk setiap mata pelajaran termasuk muatan
lokal, ditambah jumlah jam untuk kegiatan pengembangan diri.
Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran. Waktu libur dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar
semester, libur akhir tahun pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum, dan
hari libur khusus.
Waktu Belajar
Waktu belajar menggunakan sistem semester yang membagi 1 tahun pelajaran
menjadi semester 1 (satu) dan semester 2 (dua).
Berdasarkan Surat Edaran Ditjen Pendidikan Islam Nomor: DJ. II.
1/PP.00/ED/681/2006 tentang Pelaksanaan Kurikulum 2006 bahwa alokasi waktu
pada kalender pendidikan adalah sebagai berikut:

No. Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan


1. Minggu efektif belajar Minimum 29 minggu dan maksimum 39 minggu
Digunakan untuk kegiatan pambelajaran efektif pada setiap satuan pendidikan
2. Jeda tengah semester Maksimum 2 minggu Satu minggu setiap semester
3. Jeda antar semester Maksimum 2 minggu Antara semester I dan II
4. Libur akhir tahun pelajaran Maksimum 3 minggu Digunakan untuk penyiapan
kegiatan administrasi akhir dan awal tahun pelajaran.

A. Cara Menyusun Kalender Pendidikan

1. Melihat kalender pendidikan nasional yang telah dikeluarkan oleh


pemerintah (dalam hal ini KEMENDIKNAS ataupun KEMENAG)
sebagai acuan untuk menentukan kalender pendidikan pada masing-
masing satuan pendidikan.
2. Menentukan minggu efektif, libur tengah semester, libur antar
semester, serta libur akhir tahun dengan acuan jumlah yang telah
ditetapkan.
3. Menyesuaikan kalender dengan keadaan hari-hari libur umum
maupun agama.
4. Menentukan periode efektif pembelajaran dengan
mempertimbangkan hari-hari yang akan tersita untuk kegiatan-kegiatan
pengembangan diri, baik ekstrakulikuler maupun bimbingan dan konseling
terpadu.
5. Menentukan bobot dan alokasi hari-hari pembelajaran efektif
setelah disesuaikan dengan hari efektif fakultatif (misal: hari-hari
pembelajaran di Bulan Ramadhan) serta hari libur fakultatif (misal: libur
awal puasa dan libur hari raya).
6. Merekap kalender pendidikan selama satu tahun penuh, atau dapat
pula ditambah kalender pendidikan per semester dan per bulan dengan rapi
dan telah diteliti oleh tim perumus kalender pendidikan.

Gambar format kalender pendidikan 2014-2015


2.3 standar isi (GBPP) garis garis besar program pengajaran

B. Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)

Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) adalah diskripsi singkat


mengenai mata-mata ajaran yang diprogramkan dalam kurikulum pendidikan.
Deskripsi singkat tersebut memuat ruang lingkup pokok bahasan GBPP adalah
ihtisar keseluruhan program pegajaran yang terdirii atas tujuan kurikuler, tujuan
instruksional umum dan ruanag lingkup bahan pengajaran yang diatur dan disusun
secara berurutan menurut semester dan kelas yang berfungsi sebagai pedoman
bagi para pengawas, kepala sekolah, dan guru dalam rangka melaksanakan
kegiatan belajar mengajar disekolah untuk mencapai tujuana pendidikan

Progaram itu disusun perbidang studi dalam rangka pelaksanaan kurikulum


sekolah. GBPP terdiri atas empat komponen yakni tujuan kurikuler, tujuan
instruksional umum, pokok bahasan dan sub pokok bahasan, tingkat dan semester.
Tujuan kurikuler adalah sebagai berikut:
1) Siswa memiliki pengetahuan dan pengertian yang di perlukan
dalam perhitungan untuk bekerja dan berkomunikasi terutama untuk
pekerjaan analisis, statistik, dan keteknikan.
2) Siswa memahami perhitungan dan cara pemakaian matematika
dalam pekerjaan analisis dan keteknikan.
3) Siswa menyadari arti pentingnya matematika sebagai dasar untuk
perhitungan perencanaan dan analisis serta penerapannya dibidang
keteknikan.

Tujuan instruksional,tujuan ini masih bersifat umum dan telah bertitik tolak
dari perubahan tingkah laku yang diharapkan dalam bidang studi tersebut.tujuan
instruksional umum merupakan penjabaran dari tujuan kulikuler.jadi setiap tujuan
kulikuler diperinci menjadi sejumlah tujuan instruksional umum.mislnya tujuan
kulikuler ke-1. Diperinci menjadi dua macam tujuan instrusional yaitu sebagai
berikut:
4) Siswa memehami dan mengerti dasar-dasar matemaika untuk
perhitungan analisis, statistis dan keteknikan.
5) Siswa memiliki ketrampilan cara menghitung isi, luas, jarak, dan
sudut pekerjaan keteknikan
Pokok bahasan merupakan garis besar isi atau materi pelajaran yang harus
diberikan dalam rangka pencapaikan tujuan kurikuler dan instruksional tertentu.
Sub pokok bahasan merupakan perincian dari setiap pokok bahasan.
Misalkan kita ambil pokok bahasan tentang diferensial dan integral. Pokok
bahasan itu diperinci menjadi jumlah sejumlah sub pokok bahasan sebagai
berikut.
Pengertian diferensial, rumus-rumus hitung diferensial contoh-contoh
pemakaian dan soala-soal. Asas-asas penyusunan program :
1. Setiap program harus berorientasi pada tujuan tertentu.Tujuan itu
titik tolak pada perubahan tingkah laku yang diharapakan terjadi pada diri
siswa setelah mengalami proses pendidikan.
2. Setiap program bersifat fleksibel, pelakasanaan suatu program
disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat setempat dan
kemungkinan terjadinya fsilitas di sekolah
3. Setiap program dilaksanakan secara efisien dan efektif.
4. Setiap program bersifat berkesinamabungan, pada suatu tingkat
merupakan kelamjutan dari program sebelumya dan menjadi landasan bagi
program berikutnya.
5. Isi program disusun berdasarkan pada asas keseimbangan.

Program kulikuler harus pula mempertimbangkan asas pertentangan (kontras).


Bahan-bahan yang disusun hendaknya dimulai dari hal-hal yang bersifat
komplek.dari mata-mata kuliah dan apabila ada kegiatan praktek dijelaskan pula
lingkup kegiatan praktek yang akan dilakukan. GBPP merupakan bagian dari
penyajian kurikulum secara utuh dalam program pendidikan yang meliputi :

1. Tujuan Pendidikan
Tujuan Pendidikan adalah output yang diharapkan oleh suatu jurusan program
studi atau lembaga pendidikan (Seskoad) sesuai dengan visi dan misi yang telah
ditetapkan.

Contoh tujuan pendidikan yang dirumuskan oleh pendidikan akuntansi sebagai


berikut:

Mendidik tenaga-tenaga agar memenuhi persyaratan untuk bekerja sebagai


seorang akuntan professional dengan memiliki pengetahuan yang cukup dalam
bidang yang telah ditetapkan. Dengan memiliki tenaga-tenaga tersebut mampu
menduduki jabatan-jabatan dalam organisasi publik ataupun swasta.

2. Kurikulum

Kurikulum adalah daftar mata-mata kuliah pada program pengajaran yang telah
ditetapkan dalam proses pendidikan yang dikelompokan ke dalam semester ganjil
dan semester genap. Kurikulum tersebut disusun berdasarkan pada tujuan
pendidikan yang telah ditetpakan oleh jurusan atau lembaga pendidikan.
Penempatan mata-mata kuliah persemester pada kurikulum memperhatikan pada
prasyarat mata kuliah yang mendasarinya (prerequisite).

3. GBPP

Garis-Garis Besar Program Pengajaran adalah deskripsi singkat mengenai mata-


mata kuliah yang telah ditetapkan dalam kurikulum.

Penyusunan Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) diperlukan dalam


pelaksanaan proses belajar mengajar. Sebelum melakukan tugas mengajar di
kelas, seorang pengajar/dosen, harus mengetahui atau menyusun terlebih dahulu
Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP), Silabus dan Satuan Acara
Perkuliahan (SAP). Penyusunan GBPP, Silabi dan SAP dapat dilakukan sendiri
oleh dosen pemegang mata kuliah, atau dibuat oleh penyelenggara pendidikan
dengan menunjuk tim sesuai kompetensinya.

GBPP diperlukan untuk digunakan sebagai dasar dalam menyusun Silabi dan
Satuan Acara Perkuliahan (SAP). Tujuan penyusunan GBPP, Silabi dan SAP tidak
saja sebagai prasyarat agar dosen dapat mengajar secara baik dan berkualitas,
lebih dari itu merupakan bentuk akuntabilitas dosen kepada lembaga maupun
siswanya. Manfaat lain GBPP, Silabi dan SAP adalah sebagai sarana kontrak
belajar antara dosen dengan siswa dan sekaligus sebagai pertanggungjawaban
kepada lembaga dan siswa.
Garis-garis Besar Program Pembelajaran, bermanfaat agar suatu pelatihan
mencapai sasaran yang telah ditetapkan
Sebagai pengajar, tentunya kita menginginkan hasil evaluasi, bagaimana cara kita
mengajar, apakah memang mudah dipahami, bagaimana pengaturan waktunya dan
sebagainya. Sedangkan bagi pengelola program pendidikan, perlu juga
mengetahui apakah para pengajar telah melakukan tugasnya sesuai yang
diinginkan. Bagaimana cara kita mengetahuinya, adakah suatu instrumen yang
dapat digunakan untuk menilai hal tersebut?

Pada umumnya, sebelum dilakukan suatu program pendidikan/pelatihan, maka


tim pengajar dikumpulkan lebih dulu, kemudian penyelenggara pendidikan akan
menjelaskan, apa tujuan dari pendidikan ini, siapa para pesertanya, latar belakang
peserta, serta kedalaman dari materi yang akan diajarkan. Sekedar memahami,
atau apakah nantinya harus bisa langsung dipraktekkan dilapangan atau seperti
apa? Dari sini akan muncul diskusi, jika penyelenggara menginginkan kedalaman
materi, yang pesertanya langsung dapat mengaplikasikan dilapangan, diperlukan
kriteria para peserta yang dapat ikut pendidikan. Ketidak sesuaian pemahaman,
akan membuat hasil pendidikan tak sesuai dengan yang diinginkan, apalagi jika
peserta terdiri dari berbagai perusahaan yang tersebar di seluruh Indonesia, yang
selain kendala budaya, juga ketidak seragaman pengetahuan dan kemampuan para
peserta untuk menyerap ilmu yang diberikan.
Salah satu alat untuk memantau, apakah para tim pengajar telah memahami yang
diinginkan pengelola pendidikan, maka pengajar sebelumnya harus menyerahkan
Garis-garis Besar Program Pembelajaran (disingkat GBPP), sekaligus dengan
materi yang akan diberikan. Pengelola program pendidikan akan membaca dan
menilai GBPP, untuk melihat apakah isi materi yang tercantum dalam GBPP telah
sesuai dengan tujuan pendidikan yang akan diadakan.

Apakah GBPP itu?


GBPP atau Garis-garis Besar Program Pembelajaran, merupakan panduan
pelaksanaan pembelajaran, yang menjelaskan apa judul materi pelajaran yang
akan diberikan, apa nama pendidikannya, berapa jumlah sesinya, gambaran
singkat tujuan pembelajaran, serta sub pokok bahasan dan alat atau metode yang
digunakan.
Sebagai contoh:

Lembaga pendidikan XYZ berencana memberikan training dengan materi Credit


Risk Management. Maka Lembaga XYZ tadi akan meminta pengajar profesional,
yang selama ini telah banyak membantunya, untuk membuat ringkasan GBPP,
dengan penjelasan sebagai berikut:
Materi : Credit Risk Management
Nama pendidikan : Branch Manager
Jumlah sesi : 7 sesi (termasuk diskusi)
Diskripsi singkat : Pada pelatihan ini, peserta akan diberikan
pemahaman mengenai credit risk rating, credit evaluation process,
serta frame work credit risk management secara umum
Tujuan instruksional Umum/TIU : Peserta dapat mengidentifikasi
dan menganalisis risiko portofolio, melakukan mitigasi risiko finansial
untuk melindungi sumber-sumber pembayaran kembali dengan
manajemen portfolio pinjaman dan collateral yang baik. Selain itu
peserta diharapkan dapat mengembangkan portfolio yang terkait
dengan pemberian pinjaman.
Pendekatan: Metode pembelajaran yang akan digunakan dalam
pelatihan ini adalah active training method, yaitu dengan memilih
aktivitas-aktivitas pendukung seperti ceramah interaktif, role play,
permainan, alat bantu visual, diskusi, studi kasus, demonstrasi dan
sebagainya.
Soft kompetensi terkait : Berpikir konseptual, strategis, memiliki
dorongan berprestasi, integritas, membina hubungan dengan
konsumen.

Berdasarkan penjelasan tersebut, pengajar diminta untuk mengisi tabel, apa isi
pokok bahasan yang akan diberikan, sub pokok bahasan, durasi yang
diperlukan, metode yang akan digunakan, serta daftar pustaka yang digunakan
sebagai referensi mengajar