Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. W
No.registrasi : 385484
Tanggal lahir : 18 Juli 2017
Umur : 36 hari
Jenis Kelamin : Laki - Laki
Alamat : Sakra Timur
Tanggal MRS : 23 Agustus 2017
Ruangan : Observasi Bangsal Aanak

B. ANAMNESIS
Seorang anak laki-laki, masuk rumah sakit dengan keluhan sesak yang dialami
sejak 1 hari yang lalu, sesak disertai dengan suara 'grok-grok'. Sebelumnya orang tua
pasien menyangkal anaknya tersedak saat diberikan ASI atau susu formula. Pasien
juga disangkal pernah muntah (-) saat atau setelah pemberian ASI, keluhan batuk dan
demam sejak 3 hari yg lalu, batuk disertai dengan darak tapi susah di keluarkan.
Sedangkan demam dirasakan naik turun, terutama demam dirasakan pada malam
hari.
Menurut keterangan ibu pasien, anaknya tidak bisa menghisap ASI dengan
baik sehingga ibu pasien memberikan ASI menggunakan sendok makan dengan
frekuensi pemberian 8-9 x perhari, akan tetapi tidak efektif sehingga orang tua pasien
memerikan ASI atau susu formula menggunakan Botol Susu formula. Orang tua
pasien juga mengeluhkan kurangnya asupan yang bisa di konsumsi anaknya, yaitu 10
cc per hari, bahkan kadang-kadang tidak sampai habis.
Pasien tampak lemah dan pucat sejak 1 minggu. Menurut ibu pasien, anaknya
keliatan makin hari makin kurus dan mengaku bahwa berat badan bayinya tidak naik
bahkan berat badannya makin turun.

Riwayat penyakit dahulu:


a. Pasien pernah dirawat di rumah sakit Soedjono selong 5 hari lalu dengan
keluhan sama yaitu sesak selama 1 hari namum pasien ingin pulang mengurus
BPJS.
b. Riwayat berat badan lahir rendah (+) dengan berat lahir 2400 gram
c. Riwayat asfiksia saat lahir (-), namun menurut keterangan orang tua pasien
bahwa saat lahir anaknya menangis kencang , namun beberapa jam kemudian
anaknya berhenti menangis dan kurang aktif sampai saat ini.

Riwayat penyakit keluarga:


Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan serupa dengan pasien.

Riwayat persalinan:
Anak lahir di polindes secara spontan pervaginam dan persalinan ditolong oleh
bidan, cukup bulan, berat lahir 2400 gram, bayi langsung menangis, +/- 20 menit
setelah itu bayi jarang menangis dan tampak lemas. panjang badan dan lingkar kepala
saat lahir ibu mengaku lupa.
Kesan:Neonatus cukup bulan, sesuai masa kehamilan berat dengan berat badan lahir
rendah.

Riwayat pemberian nutrisi:


ASI diberikan pada usia 0-17 hari dengan frekuensi 8-10x perhari namun tidak
maksimal karena menurut pengakuan ibu bayi malas untuk menghisap ASI. Pada usia
18 hari bayi diberikan susu formula 10 cc per hari dengan menggunakan sendok dan
botol susu formula.

Riwayat imunisasi:
Pasien tidak pernah di bawa ke poli anda dikarenakan pasien sakit saat jadwal
posiandu.
Riwayat sosial ekonomi:
Kedua orang tua pasien bekerja sebagai buruh tani dengan pendapatan bulan di
bawah Rp 1.000.000, dan tidak ada penghasilan tambahan.
C. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Letargi/sakit sedang/Gizi Buruk
Anak tampak lemah, tonus menurun, dan pucat.
Tanda Vital:
Nadi : 110x/menit
Pernapasan : 96x/menit
Suhu : 36,6 C

Pemeriksaan Fisik Umum


KEPALA LEHER
-Kepala: normochepal -Deviasi trakea (-)
-Muka: pucat -Pembesaran KGB (-)
-Rambut : kehitaman, tidak mudah -Pembesaran kelenjar tiroid (-)
dicabut
-Ubun-ubun : belum menutup
-Telinga : othorea (-)
-Mata : cekung (+),
-Konjungtiva: anemis (-)
-Hidung : rinorea (-)
-Lidah : kandidiasis (-)
-Mulut : kandidiasis oral (-)
THORAX JANTUNG
Inspeksi : Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Simetris kanan dan kiri Palpasi : Ictus cordis teraba

Deformitas thoraks (-) Perkusi :

Retraksi (+), pernapasan cuping Batas jantung kiri, linea


hidung (-) midclavicularis sinistra

Palpasi : Batas jantung kanan, linea


parasternalis dekstra
Massa (-)
Auskultasi :
Sela iga kanan dan kiri
Bunyi jantung I dan II murni
Perkusi : reguler
Sonor hemithoraks kanan dan kiri Bising (-)
Auskultasi :

Bunyi pernapasan :
bronchovesikuler

Bunyi tambahan : Rh +/+ Wh -/-

ABDOMEN EKTREMITAS
Inspeksi : Inspeksi

Cembung, mengikuti gerakan Terdapat Bintik Kemerahan (-)


napas
Deformitas (-)
Acites (-)
edema (-) pedis dan manus
Palpasi : akral pucat

Hepar dan lien tidak teraba KPR +/+ normal


APR +/+ normal
Massa Tumor (-)
Reflex patologis (-)
Nyeri tekan (-)

Perkusi : Tymphani (+)

Auskultasi : Peristaltik (+),

GENITAL
Inspeksi
Baggy pants (-)

D. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah Rutin
Darah Rutin 23/08/2017
WBC 6.780/uL
HGB 11.8 g/dL
PLT 267.000/uL
RBC 3.6 x103/uL

2. GDS (23/08/2017)
GDS = 83
3. Foto Thorax (23/08/2017)
INTERPRETASI HASIL
Identitas : Sesuai
Proyeksi : AP
Soft tissue : Tidak terdapat emfisema subkutis
Tulang: Intak, fraktur (-),
Deformitas (-), tidak ada pelebaran sela iga
Trakea : Ditengah
Hilus : Tidak tampak pembesaran hilus pulmo dextra et sinistra
Sudut costofrenikus : Kanan tajam dan kiri tajam
Cor : Site terletak ditengah, size normal, shape normal
Hemidiafragma : Kiri dome shaped, kanan sde
Pulmo : Tampak gambaran radioopak pada lobus superior paru dextra mulai
dari infrahiler hingga pericardiac
Kesan : Pneumonia lobaris

E. Pemeriksaan Antropometri
Umur : 36 hari
Berat badan : 1900 gram
Panjang badan : 46 cm
Lila : 7 cm
LK : 35 cm
LP : 27 cm
Penilaian Status Gizi berdasarkan table WHO sebagai berikut :
1. Berat Badan Terhadap Usia

2. Tinggi badan Terhadap Usia

3. Berat Badan Terhadap Tinggi badan


4. Lingkar Kepala

Interpretasi Hasil Pemeriksaan Status Gizi Berdasarkan Tabel WHO :


1. Tabel Berat badan Terhadap Umur : 42,2 % Status Gizi Buruk (<60%)
2. Tabel Panjang Badan Terhadap Umur : 83,6 % Status Gizi Buruk/Stunting
Berat ( <85%)
3. Tabel Berat Badan Terhadap Panjang badan : 79,1 % Gizi Kurang (70-
80%)
4. Tabel Lingkar Kepala : Microcephali ( Normal Usia 5 minggu adalah 37,5 cm)

F. DIAGNOSIS
- Failure to Thrive
- Pneumonia

G. FOLLOW UP
1. 23/10/2017
Subjective:
Lemas (+) Menysu ASI(-) Minum susu formula (+) Batuk (+) Sesak (+)
Objective:
KU: lemah
K/L : CA (+/+) SI (-/-)
Thoraks: C : S1S2reg, bising (-)
P : BV+/+ Rh+/+Wh-/- retraksi +
Abdomen: supel, BU(+)
Extremitas : Akral Hangat, pucat (+/+)
Assessment:
-Failure to Thrive
-Pneumonia
Planning:
- O2 1-2 lpm
- IVFD D51/4 NS (140cc/24jam)
- Inj Cefotaxim 2x 100mg
- Inj. Dexamethason 3x 0,5mg
- Inj. Ranitidin 2x2mg
per OGT:
- Diet ASI/susu formula 12x10cc
- PCT Drop 3x0,2cc k/p
Nebu ventolin 0,5cc + NS 2,5cc/4 jam

2. 24/08/2017
Subjective:
Demam (-) Batuk (+) Sesak (+) berkurang.
Objective:
KU: lemah
K/L : CA (-/-) SI (-/-)
Thoraks: C : S1S2reg, bising (-)
P : BV+/+ Rh+/+Wh-/- retraksi +
Abdomen: supel, BU(+)
Extremitas : Akral Hangat,
Assessment:
-Failure to Thrive
-Pneumonia

Planning:
- O2 1-2 lpm
- IVFD D51/4 NS (140cc/24jam)
- Inj Cefotaxim 2x 100mg
- Inj. Dexamethason 3x 0,5mg
- Inj. Ranitidin 2x2mg
per OGT:
- Diet ASI/susu formula 12x10cc
- PCT Drop 3x0,2cc k/p
Belajar ASI Peroral
Nebu ventolin 0,5cc + NS 2,5cc/4 jam

3. 25/08/2017
Subjective:
Batuk (+) Sesak (+) Demam (-)
Objective:
KU: lemah
BB=2 kg
K/L : CA (-/-) SI (-/-)
Thoraks: C : S1S2reg, bising (-)
P : BV+/+ Rh+/+Wh-/- retraksi +
Abdomen: supel, BU(+)
Extremitas : Akral Hangat, pucat (+/+)
Assessment:
-Failure to Thrive
-Pneumonia

Planning:

- O2 1-2lpm k/p
- IVFD D51/4 NS (140cc/24jam)
- Inj Cefotaxim 2x 100mg
- Inj. Dexamethason 3x 0,5mg
- Inj. Ranitidin 2x2mg
per OGT:
- Diet ASI/susu formula 12x15cc
- PCT Drop 3x0,2cc k/p
PO: coba diet ASI

Nebu ventolin 0,5cc + NS 2,5cc/4 jam


TINJAUAN PUSTAKA
FAILURE TO THRIVE

A. DEFINISI
Failure to Thrive atau yang sering disebut gagal tumbuh merupakan kondisi
pertumbuhan fisik anak yang kurang atau dampak dari ketidakmampuan
mengelola pertumbuhan (Gahagen, 2006). Definisi lain tentang gagal tumbuh
yang juga sering disebut sebagai Growth Deficiency yaitu interaksi antara
lingkungan dengan kesehatan anak, perkembangan dan prilaku (Irwanto et al.,
2006).
Pengukuran pertumbuhan menggunakan grafik pertumbuhan yang sudah
terstandar, seperti salah satunya yang diterbitkan oleh National Center for Health
Statistics (NCHS). Banyak dari praktisi melakukan pengukuran pertumbuhan
menggunakan pengukuran berat badan berdasarkan umur, dan dikatakan gagal
tumbuh jika didapatkan hasil dibawah persentil lima dari standar grafik
pertumbuhan NCHS atau menyilang pada dua garis persentil utama. Parameter
pertumbuhan lain yang dapat membantu dalam menegakkan diagnosis gagal
tumbuh yaitu dengan pengukuran berat badan berdasarkan tinggi badan dan
tinggi badan berdasar umur (Krugman et al, 2003).
Gagal tumbuh dapat diklasifikasikan berdasarkan sistem serta patofisiologi.
Sementara itu terdapat klasifikasi lain yaitu
a. Non organic (psychosocial) failure to thrive
Pada gagal tumbuh non organik, tidak diketahui kondisi medis yang
menyebabkan gagal tumbuh, namun penyebabnya diantaranya karena
kemiskinan, masalah psikososial di dalam keluarga, kurangnya pengetahuan
tentang nutrisi dan cara pemberian makan anak, penelantaran anak, dan single
parent.
b. Organic failure to thrive
Gagal tumbuh organik diketahui kondisi medis yang menyebabkan
gagal tumbuhnya. Biasanya disebabkan oleh infeksi (HIV, tuberkulosis),
gangguan pada saluran cerna (diare kronik, stenosis pilorus, gastroesofageal
refluks), gangguan saraf (serebral palsy, retardasi mental), gangguan pada
traktus urinarius (infeksi saluran kemih, gagal ginjal kronik), penyakit jantung
bawaan dan kelainan kromosom.
c. Mixed failure to thrive
Gagal tumbuh disebabkan oleh kombinasi antara penyebab organik dan
non organik.
d. Failure to thrive with no spesific etiology
Dilihat dari literatur tentang gagal tumbuh terdapat 12-34% anak gagal
tumbuh tidak memiliki etiologi yang spesifik.

Tabel 1. Etiologi berdasarkan system (Bauchner, 2007)


Psikososial
Diet yang tidak adekuat karena kemiskinan/kekurangan makanan, salah dalam
mempersiapkan makanan
Rendahnya pendidikan orangtua
Masalah hubungan orangtua dan anak
Food refusal
Ruminasi
Masalah kesehatan mental dan kognitif orangtua
Child abuse/neglet, penyimpangan emosional
Neurologi
Serebral palsi
Tumor hipotalamus
Kelainan neuromuscular
Kelainan neurodegenerative
Ginjal
Infeksi saluran kemih
Renal tubular acidosis
Gagal ginjal
Endokrin
Diabetes mellitus
Diabetes incipidus
Hipotiroid/hipertiroid
Defisiensi hormone pertumbuhan
Genetic/metabolic/congenital
Penyakit sel sabit
Penyakit metabolic bawaan
Dysplasia skeletal
Kelainan kromosom
Sindrom multiple congenital anomaly
Gastrointestinal
Stenosis pylorus
GERD
Tracheoesofageal fistula
Malrotasi
Sindrom malabsorpsi
Celiac disease
Intoleran lactose dan protein
Sistik fibrosis
Kolestasis kronik
Inflammatory bowel disease
Short bowel syndrome
Hirschprung disease
Alergi makanan

Jantung
Kelainan jantung bawaan
Gagal jantung
Pulmonary/respiratori
Asma berat
Bronkoekstasi
Gagal nafas
Bronkopulmanari dysplasia
Infeksi
Infeksi kronis
Infeksi parasit
Tuberculosis
HIV
Tabel 2. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan organik dan nonorganik(Alphonsus,
2011)
Nonorganic

Gangguan hubungan ibu dan anak

Pembuatan susu formula yang salah

Gagal menyusui

Intake kurang

Terlambat mengenalkan makanan padat

Intoleransi terhadap makanan baru

Tekanan Psikososial

Organic

IUGR

Kelainan congenital

Alergi susu sapi

Penyakit seliak

HIV

Sistik fibrosis

Penyakit jantung bawaan

GERD

Kelainan metabolic kromosom


Tabel 3. Etiologi gagal tumbuh berdasarkan patofisiologi (Bauchner, 2007)
Asupan kalori yang kurang

Pembuatan formula yang tidak tepat

Kebiasaan makanan yang salah

Gangguan tingkah laku yang mempengaruhi makan

Anak terlantar

Kemiskinan

Terganggunya hubungan orang tua dan anak

Kesulitan makan secara mekanik ( disfungsi oromotor, anomaly congenital,


GERD, kerusakan susunan saraf pusat)

Gangguan penyerapan

Celiac disease, cystic fibrosis

Alergi susu sapi

Defisiensi vitamin atau mineral

Atresia bilier atau penyakit hati

Necrotizing enterocolitis , short gut syndrome

Meningkatnya metabolism

Hipertiroid

Infeksi kronis (HIV,keganasan, penyakit ginjal)

Hipoksemia (penyakit jantung bawaan,

penyakit paru kronik)

Gangguan penggunaan zat gizi

Abnormalitas genetic
Infeksi congenital

Kelainan metabolic

B. EPIDEMIOLOGI
Sembilan puluh lima persen dari kasus gagal tumbuh disebabkan oleh tidak
adekuatnya makanan yang tersedia atau yang dimakan dan hal ini disebabkan
oleh faktor kemiskinan.Sekitar 80% angka kejadian gagal tumbuh biasanya
tampak pada usia kurang dari 18 bulan. Tercatat pada tahun 2008 di Amerika,
gagal tumbuh terjadi pada 5% sampai 10 % anak yang melakukan pengobatan
pada pelayanan kesehatan primer serta 3% sampai 5% pada anak yang melakukan
pengobatan di rumah sakit (Daniel et al., 2008).
Berdasarkan data riskesdas 2007 prevalensi gagal tumbuh di Indonesia
berkisar antara sekitar 20 sampai lebih dari 50 persen per propinsi dan mayoritas
propinsi lebih dari sepertiga dari anak usia 6 sampai 15 tahun terganggu
pertumbuhannya. Di Sumatera Barat, sekitar 40 persen anak usia 6 sampai 15
tahun mengalami gagal tumbuh (Rosso and Arlianti, 2010)
C. ETIOLOGI
Penyebab dasar dari gagal tumbuh adalah defisiensi nutrisi. Sementara
kemiskinan merupakan faktor risiko tunggal terbesar di dunia penyebab gagal
tumbuh (Robert et al., 2005 fail to thrive 2). Etiologi pada anak dapat
dikelompokkan menjadi dua penyebab, yaitu prenatal dan postnatal (Alphonsus,
2011)
1. Penyebab prenatal
Penyebab prenatal gagal tumbuh diantaranya sebagai berikut.
a. Prematuritas dan komplikasinya
b. Paparan uterus terhadap toxic agents seperti alkohol, rokok, obat-obatan
c. Infeksi (Rubella, CMV, HIV, dll)
d. Intra uterine growth retardation (IUGR) karena berbagai penyebab
e. Abnormalitas kromosom (Down syndrome, turner syndrom).
2. Penyebab postnatal
a. Intake kalori yang tidak adekuat
Intake kalori yang tidak adekuat merupakan penyebab gagal tumbuh
pada anak yang paling banyak. Pada anak usia di bawah 8 minggu,
gangguan intake (cara hisapan atau cara menelan yang salah) dan gangguan
menyusui merupakan penyebab terbanyak. Pada anak yang lebih besar,
perubahan pola makan ke makanan padat, ASI yang tidak lagi mencukupi,
konsumsi susu formula, dan orang tua yang menghindari pemberian
makanan tinggi kalori sering menyebabkan anak menderita gagal tumbuh.
Faktor keluarga dapat berkontribusi terhadap intake kalori yang tidak
adekuat pada anak, hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan akan
nutrisi dan masalah keuangan keluarga, yang tidak kalah pentingnya, child
abuse dan penelantaran anak harus dipertimbangkan, karena anak yang
menderita gagal tumbuh berkemungkinan menjadi korban child abuse 4
kali lipat lebih besar dibandingkan anak normal.
b. Absorpsi yang tidak adekuat
Absorpsi kalori yang tidak adekuat mencakup penyakit yang
menyebabkan sering muntah seperti intoleransi makanan, alergi susu sapi
atau malabsorpsi (diare kronis, necrotizing enterocolitis).
c. Peningkatan kebutuhan kalori
Pengeluaran kalori yang berlebihan biasanya muncul pada kondisi
kronis seperti penyakit jantung kongenital, penyakit paru kronis dan
hipertiroidisme.
d. Gangguan penggunaan kalori.
Gangguan penggunaan kalori misalnya seperti pada penyakit diabetes
melitus tipe 1 atau renal tubular asidosis.
D. FAKTOR RISIKO
Faktor predisposisi gagal tumbuh dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4. Faktor predisposisi gagal tumbuh pada anak
Kongenital Kelainan Kromosom (Sindrom Down,
Sindrom Prader-Willi)
Disgenesis Gonad (Sindrom Turner)
Displasia Skletal Akondroplasia
Metabolik In born error of metabolism
Sistem Imun Imunodefisiensi kronik
HIV
TB
Infeksi berulang
ISK kronik (pyelonephritis)
Gastrointestinal Stenosis pylorus
Kelainan anatomi oral atau esophagus
Trauma oral atau esophagus
GERD
Inflamatory Bowel Disease (IBD)
Alergi
Penyakit saluran empedu
Penyakit hepar kronik
Insufisiensi pancreas
Parasite atau infeksi usus kronik
Karies dentis
Renal Renal Tubular Asidosis
Gagal ginjal kronik
Kardiopulmonal Gagal jantung
Asma
Displasia bronkopulmoner
Fibrosis kistik
Tonsilitis dan adenoid kronik
Neurologi Cerebral Palsy
Gangguan perkembangan
Sensoris Anosmia
Buta
Endokrin Diabetes Mellitus
Hipotiroid
Insufisiensi Adrenal
Kelainan Hipofisis
Defisiensi GH
Lain lain Kanker
Sindrom Diensefalik
Penyakit Rematik
Keracunan timbal
Sumber : Buku ajar Endokrinologi Anak Edisi 1, 2010

E. PATOFISIOLOGI
Walaupun sudah dipertimbangkan sejak dulu bahwa gagal tumbuh
merupakan akibat dari faktor organik atau anorganik, sebuah pandangan baru
dilakukan untuk mengidentifikasi seluruh faktor yang mungkin berperean dan
sering kali ditemukan faktor yang berasal dari keduanya pada seorang anak.
Faktor anorganik yang berperan biasanya berupa intake energi yang inadekuat,
selain masalah itu faktor kegagalan tumbuh bisa diakibatkan oleh kurangnya
kalori yang masuk (biasanya mutah atau malabsorbsi dan atau hilangnya
berlebihan misalkan protein losing enteropati) dan kebutuhan metabolik yang
terlalu tinggi.
Rata-rata berat bayi pada usia aterm adalah 3,3 kg dengan penurunan
berat badan sebanyak 10% pada beberapa hari pertama hidupnya akibat
skehilangan banyak cairan. Pada hari 10-14 hidupnya, berat badan bayi
seharusnya naik akibat dari pemberian ASI dan colostrum. Rata-rata bayi
mengalami berat badan 1 kg tiap bulannya selama 3 bulan pertama, setengah kg
per bulan pada usia 3-6 bulan, 0,33 kg per bulan pada usia 6-9 bulan dan 0,25 kg
per bulan pada usia 9-12 bulan. Oleh karena itu seharusnya berat badan bayi akan
meningkat dua kali lipat pada usia 4-6 bulan dan tiga kali lipat pada usia 12
bulan.
Sebuah skema alternatif digunakan pada bayi yang sudah memiliki
peningkatan berat badan 30 g per hari selama 3 bulan dan 15 g per hari selama 6
bulan selanjutnya. Usia 9 sampai anak-anak, rata-rata peningkatan berat badan
sebesar 0,25 kg/bulan, setelah itu berat badan anak akan meningkat sebesar 2
kg/tahun selama usia sekolah. Intake kalori yang dibutuhkan oleh bayi yang
normal adalah 100-110 kkal/kgBB/hari untuk setengah tahun pertama dan 100
kkal/kgBB/hari untuk setengah tahun kedua pada tahun pertama. Jika berat bayi
sudah lebih dari 10 kg, kebutuhan kalori sebesar 50kkal/kgBB/hari untuk
mencapai BB 20 kg. Jika berat badan lebih dari 20 kg, kebutuhan kalori sebesaro
20 kkal/kgBB/hari cukup untuk menjaga berat badan. Bayi akan tumbuh dengan
panjang badan 25 cm pada usia tahun pertama, selanjutnya akan meningkat 12,5
cm pada tahun kedua dan akan melambat menjadi sekitar 5-6 cm pada usia antara
4 tahun sampai usia pubertas sehingga pertumbuhan dapat meningkat menjadi 12
cm setiap tahunnya.
Ukuran lingkar kepala rata-rata sekitar 35 cm pada bayi baru lahir dan
akan meningkat menjadi 47 cm pada usia 1 tahun. Rata-rata akan melambat
pertumbuhannya menjadi 55 cm pada usia 6 tahun. Selain itu, rasio segmen tubuh
bagian atas dan bagian bawah akan berubah seiring adanya pertumbuhan.
Normalnya rasio pada bayi baru lahir adalah 1,7, rasio pada usia3 tahun adalah
1,3 dan rasio pada usia 7 tahun adalah 1 Segmen bagian bawah tubuh diukur dari
simfisis pubis hingga kaki.
Ketika membuat diagram pertumbuhan untuk bayi prematur, usia
terkoreksi harus digunakan yang dapat dihitung dengan mengurangi selisih usia
prematuritas dalam minggu dari usia post natal. Diagram pertumbuhan khusus
berdasarkan usia kehamilan, lebih digunakan dibandingkan usia setelah lahir
dimulai pada usia kehamilan 26 minggu, namun demikian, karna diagram ini
merepresentasikan bayi dengan ukuran relatif kecil, diagram tersebut mungkin
tidak sepenuhnya reliabel, dibutuhkan teknik lain untuk bayi prematur dengan
metodologi konsisten. Ketika metode plotting growth dipilih, teknik tersebut
harus dipantau setiap waktu. Pada bayi usia kehamilan 40 minggu, beberapa bayi
mungkin membutuhkan sekitar 120 kkal/kgBB/hari untuk mencapai berat badan
adekuat.
Diagram pertumbuhan dikembangkan oleh NCHS berdasarkan data
yang diperoleh dari Third National Half and Nutrition Examination Survey 3,
yang sudah digunakan sejak tahun 1977 dan dapat digunakan pada bayi laki-laki
ataupun perempuan pada usia 0-36 bulan dan usia 2-18 tahun. Diagram
pertumbuhan untuk bayi usia 0-36 bulan membutuhkan data diantaranya Berat
badan dan tinggi badan berdasarkan umur dan lingkar kepala. Diagram ini telah
mengalami revisi oleh Centre for Disease Control and Prevention. Diagram baru
ini dapat digunakan untuk bayi, anak dan remaja dari usia baru lahir hingga usia
20 tahun dan memiliki 7 kurva percentil yaitu percentil 5, 10,25, 50,75, 90, 95.
Diagram ini dapat digunakan pada pasien dengan kondisi khusus misalkan
endokrin, gastroenterologi, dengan adanya tambahan kurva percentil ke tiga dan
97. Diagram indeks masa tubuh yang dapat digunakan pada individu pada usia 2-
20 tahun dimana indeks massa tubuh dihitung dengan membagi berat badan
dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. Pengukuran yang akurat sangat
penting membantu inrepetasi dari diagram pertumbuhan. Skala yang digunakan
dikalibrasi secara teratur, panjang badan harus diukur secara hati-hati, dan lingkar
kepala harus diukur dengan teknik yang telah terstandarisasi. Diagram
pertumbuhan alternatif juga tersedia untuk anak anak dengan kebutuhan khusus,
misalkan down sindrome, turner sindorm, akondroplasia, meningomyelo sel,
BBLR, dan berat bayi lahir sangat rendah.

F. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Anamnesis yang lengkap sangat dibutuhkan untuk menegakkan
diagnosis, seperti riwayat prenatal, kelahiran, riwayat diet, pola makan dan
kebiasaan makan, riwayat medis, sosial saat ini dan yang lalu, serta riwayat
keluarga.Riwayat prenatal meliputi semua informasi yang berkaitan dengan
kebiasaan ibu seperti mengkonsumsi alkohol, merokok, mengkonsumsi obat
tertentu dan penyakit selama kehamilan. Riwayat persalinan meliputi cara
lahir, perawatan setelah lahir, komplikasi yang timbul seperti sepsis,
meningitis atau penyakit lain yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
perkembangan anak (Krugman, 2003).
Riwayat diet harus menjelaskan detailmakanan dan minuman bayi/anak
selama 24 jam, bagaimana cara menyiapkan makanan, jenis makanan, volume
makanan, serta frekwensi makan untuk menilai apakah anak mendapatkan
asupan energi yang adekuat. Jika sulit mendapatkan riwayat diet ini, maka
dapat dilakukan three day food diary yang diperoleh dari anamnesis selama 3
hari. Berdasarkan cara ini dapat dinilai jumlah dan kualitas asupan nutrisi.
Riwayat pemberian makan juga menjelaskan jadwal makan, siapa yang
memberi makan dan cara pemberian makan. Riwayat medis sebelum dan saat
ini meliputi riwayat kelahiran, penyakit akut dan kronik yang diderita, riwayat
perawatan di rumah sakit, pola defekasi, gejala saluran cerna seperti muntah,
refluks(Rabinowitz, 2010).
Riwayat sosial meliputi jumlah anggota keluarga, siapa yang mengasuh
anak, kondisi sosial ekonomi, kebiasaan orang tua seperti konsumsi alkohol,
serta hubungan antara anggota keluarga.Riwayat keluarga meliputi apakah ada
keluarga yang mengalami keadaan serupa maupun penyakit gangguan mental
(Rabinowitz, 2010).
2. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik menyeluruh sangat diperlukan dengan tujuan (Krugman,
2003):
a. Menemukan gangguan/bentuk dismorfik dengan kemungkinan faktor
genetik sebagai penyebab gangguan pertumbuhan.
b. Menemukan penyakit dasar yang mempengaruhi pertumbuhan
c. Melihat tanda-tanda adanya kekerasan pada anak.
d. Menilai berat badan anak dan efek yang ditimbulkan akibat malnutrisi.

Pengukuran antropometri seperti berat badan, tinggi badan dan


lingkaran kepala harus dilakukan dengan memplotnya pada kurva
pertumbuhan karena kriteria diagnosis gagal tumbuh berdasarkan grafik
pertumbuhan, walaupun pengukuran berat badan saja masih merupakan alat
diagnostik untuk menilai gagal tumbuh pada anak (Raynor, 2000).
Tanda vital biasanya dalam batas normal, pencatatan tekanan darah,
pernafasan, tekanan nadi saturasi oksigen dalam beberapa kondisi klinis
tertentu. Kelainan structural atau anatomi yang dapat mengganggu pemberian
makan harus diperiksa, anak dengan celah pada bibir dan palatumnya
mempunyai risiko yang lebih tinggi untuk terjadi gagal tumbuh, begitu juga
kelainan anatomi ringan seperti adanya caries dentis, abses rongga mulut,
pembesaran tonsil dan adenoid dapat mempengaruhi intake makanan
(Schwartz, 2000). Beberapa keadaan dapat ditemukan pada anak dengan gagal
tumbuh antara lain edema, kurus, hepatomegali, perubahan pada kulit, warna
rambut, perubahan status mental dan tanda-tanda defisiensi vitamin
(Rabinowitz, 2010).
3. Interaksi anak dengan orang tua
Gagal tumbuh dapat melibatkan faktor psikososial meliputi hubungan
antara orang tua dan anak. Dengan memperhatikan interaksi keduanya
terutama waktu makan, mungkin dapat memberikan informasi tentang etiologi
gagal tumbuh. Disini akan terlihat kemampuan orangtua menangkap isyarat
dari anak, respon anak, cara orangtua bersikap terhadap anaknya, sehingga
akan didapat gambaran hubungan orangtua dengan dan anak yang akan
menjadi kunci untuk memulai intervensi(Rabinowitz, 2010).
Interaksi orangtua dengan anaknya dapat juga diperoleh melalui
wawancara dan pengamatan langsung serta melalui tenaga kesehatan
masyarakat yang berhubungan dengan keluarga tersebut(Schwartz,
2000).Adanya faktor psikososial dalam hal ini memerlukan pemeriksaan lebih
lanjut termasuk kondisi ekonomi keluarga, hubungan social kemasyarakatan
dan pemeriksaan kesehatan mental.Kadang beberapa kasus diperlukan
konsultasi dengan psikolog, pekerja social dan bahkan psikiater. Adanya tanda
kekerasan pada anak jelas akan memerlukan perhatian lebih, bahkan dapat
melibatkan pelayanan perlindungan anak(Rabinowitz, 2010). Cara atau sikap
ibu dalam memberikan makan yang tidak baik pada anak juga merupakan
faktor risiko untuk terjadinya gagal tumbuh (Wright et al., 2006).

4. Kurva pertumbuhan
Kurva pertumbuhan merupakan alat pemeriksaan yang sangat penting
dalam menilai anak gagal tumbuh. Memproyeksikan berat badan,
panjang/tinggi badan dan lingkaran kepala secara serial akan memperlihatkan
perubahan yang dinamis terhadap ketiga ukuran tersebut. Pertumbuhan yang
normal akan mengikuti kurva persentil sesuai yang diharapkan. Dengan
memperhatikan kurva pertumbuhan akan dapat diamati dengan tepat kapan
terjadi gangguan pertumbuhan (Gahagan, 2006). Kriteria diagnostik gagal
tumbuh (Olsen, 2007):
a. Berat badan <75% dari median berat badan sesuai umur kronologik
(kriteria Gomez) atau;
b. Berat badan <80% dari berat badan menurut tinggi (kriteria Waterlow)
atau ;
c. BMI umur kronologi < persentil 5 atau;
d. Berat menurut umur kronologi < persentil 5 atau;
e. Tinggi menurut umur kronologi < persentil 5 atau;
f. Penurunan berat badan menyeberangi lebih dari 2 garis persentil mayor.

Dari semua kriteria diatas belum ada kesepakatan para ahli mana yang
ideal untuk menilai gagal tumbuh. Penelitian yang dilakukan oleh Olsen dan
kawan kawan menyimpulkan tidak ada satu kriteria yang ideal untuk menilai
gagal tumbuh (Olsen, 2007)

Gambar 1. Contoh grafik anak dengan gagal tumbuh karena pemberian makan yang
salah dan penyakit celiac (Gahagan, 2006)
Gambar 2. Contoh grafik anak gagal tumbuh anorganik(Gahagan, 2006)

5. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan ditentukan berdasarkan hasil
temuan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.Tidak ada pemeriksaan
laboratorium khusus untuk semua anak dengan gagal tumbuh, karena banyak
anak dengan gagal tumbuh tidak mempunyai kelainan laboratorium (Krugan,
2003).Pemeriksaan labor yang dilakukan pada anak dengan gagal tumbuh
untuk skrining awal meliputi darah tepi lengkap, urinalisis, kultur urin,
elektrolit, ureum kreatinin, kalsium, faal hepar, termasuk albumin dan
globulin.6 Pemeriksaan lain dilakukan atas indikasi seperti skrining untuk
HIV, uji fungsi tiroid, imunoglobuln, uji mantoux, rontgen foto, bone age dan
lain-lain (Robimowitz, 2010)
6. Penilaian perkembangan
Penilaian perkembangan juga seharusnya dilakukan untuk deteksi dini
keterlambatan perkembangan pada anak gagal tumbuh. Penelitian dari Case
Western Reserve, terhadap anak dengan gagal tumbuh didapatkan rata-rata IQ
85,4 + 15, 11,5% mempunyai beberapa keterlambatan perkembangan dan 18%
mempunyai nilai sekolah yang rendah (Schwatz, 2000).

Gambar 3. Algoritma penilaian gagal tumbuh


G. DIAGNOSIS BANDING
1. Familial Short Stature
Anak dengan perawakan pendek, kurva pertumbuhannya seringkali
sangat dekat dengan presentil 3. Anak tersebut memiliki kecepatan
pertumbuhan dan rasio berat badan menurut tinggi badan yang normal.Kurva
pertumbuhan anak dengan perawakan pendek masih paralel dengan kurva
pertumbuhan normal.Selain itu, usia tulang anak dengan perawakan pendek
sesuai dengan usia kronologisnya (Allen, 2013).
2. Constitutional Growth Delay
Constitutional growth delay adalah keadaan transien hipogonadisme
hipogonadotropik terkait dengan perpanjangan fase pertumbuhan, penundaan
maturasi tulang, penurunan kecepatan pertumbuhan pada masa pubertas
(pubertal growth spurt), dan penurunan sekresi insulin-like growth factor-1.
Tinggi anak dengan constitutional growth delay pada umumnya tidak akan
mencapai tinggi potensial genetik pada saat dewasa, namun beberapa kasus
dapat mencapai tinggi normal menurut potensi genetiknya (Soliman, 2012).
3. Anak Pada Populasi Tertentu
Bayi preterm dan bayi yang mengalami intra uterine growth restriction
(IUGR) biasanya akan menunjukkan tanda-tanda gagal tumbuh langsung pada
masa postnatal, tetapi catch-up pertumbuhan akan terjadi pada 2-3 tahun
pertama kehidupan. Selama pertumbuhan mengikuti atau paralel dengan kurva
pertumbuhan normal, failure to thrive (gagal tumbuh) tidak boleh didiagnosa
(Alphonsus, 2011).
4. Sindrom Diensefalik
Sindrom diensefalik disebabkan oleh neoplasma pada daerah
hipotalamus dan ventrikel ketiga.Sindrom diensefalik biasanya muncul pada
pada tahun pertama kehidupan dengan tampilan klinis gagal tumbuh, kurus,
peningkatan nafsu makan, euforia, dan pergerakan mata nystagmoid. Secara
klinis, sindrom diensefalik berbeda dengan failure to thrive karena disamping
kondisi fisiknya yang kurang baik, anak dengan sindrom diensefalik aktif,
dapat berinteraksi dengan mudah, dan tidak depresi (Kuttesch and Ater, 2010).
5. Psychosocial Short Stature (Psychosocial Dwarfism)
Psychososcial dwarfism adalah sindrom perlambatan pertumbuhan
linier yang dikombinasikan dengan karakteristik gangguan prilaku seperti
gangguan tidur dan kebiasaan makan yang tidak biasa. Kedua hal ini
bertanggung jawab dalam perubahan linkungan psikososial anak. Biasanya
onset sindrom ini di antara usia 18 bulan dan 24 bulan. Anak yang mengalami
psychosocial dwarfism biasanya pemalu, pasif, dan sering menarik diri dari
kehidupan sosial (Alphonsus, 2011).

H. PENATALAAKSANAAN
Penatalaksana an gagal tumbuh memerlukan pemahaman terhadap semua
faktor yang berperan dalam proses pertumbuhan anak termasuk kondisi kesehatan
dan gizi anak, permasalahan dalam keluarga dan hubungan orang tua-anak
(Bauchner, 2010). Tatalaksana ini harus segera dimulai bahkan sebelum
pemeriksaan lengkap. Seiring dengan pengumpulan informasi, pemeriksaan fisik
lengkap, pemeriksaan laboratorium, radiologi, atau evaluasi psikososial, edukasi
tentang gizi yang adekuat harus diberikan, intervensi gizi dan pemberian makan
dimulai pada kunjungan pertama (Black et al., 2007).
Hal pertama yang menjadi patokan dalam penatalaksanaan gagal tumbuh
adalah mengidentifikasi penyakit dasar dan pengobatannya. Jika ditemukan
penyakit yang berat seperti gangguan elektrolit dan dehidrasi harus diatasi segera,
bahkan kalau diperlukan anak harus segera dirawat di rumah sakit (Gahagan,
2006).
Tahapan yang dapat ditempuh dalam penatalaksanaan anak dengan gagal
tumbuh adalah sebagai berikut :
1. Penatalaksanaan pemberian makan
Sebagian besar kasus gagal tumbuh dapat diatasi hanya dengan
intervensi gizi dan modifikasi pola makan.Dua hal prinsip yang dipegang
dalam tata laksana gagal tumbuh tanpa memandang penyebabnya adalah diet
kalori tinggi untuk mengejar ketertinggalan pertumbuhan dan pemantauan
yang ketat.Anak dengan gagal tumbuh memerlukan asupan kalori lebih besar
150% dari asupan kalori harian yang direkomendasikan berdasarkan berat
badan yang diharapkan, bukan berat badan saat ini (Krugman, 2003).

Corrales dan Hangen dalam buku Manual of Pediatric Nutrition,


menganjurkan estimasi kebutuan kalori untuk catch up pertumbuhan pada
gagal tumbuh dengan menggunakan rumus (Corrales and Hangen, 2000) :

RDA x BB ideal menurut tinggi (kg) sampai RDA x BB ideal menurut umur (kg)
Berat badan aktual (kg) Berat Badan aktual (kg)

atau
120 kcal/kg x BB ideal menurut tinggi
Berat badan aktual
Pada bayi hal ini dapat dicapai dengan meningkatkan asupan kalori
dengan menambahkan konsentrasi susu formula. Penambahan kalori pada
anak prasekolah dapat dilakukan dengan cara penambahan bahan seperti keju,
roti atau kacang dalam menu sehari-hari. Pemberian multi vitamin akan
memberikan anak vitamin dalam jumlah minimal yang di butuhkan oleh
tubuh. Anak yang tidak respon dengan pendekatan ini memerlukan
penelusuran lebih lanjut (Gahagan, 2003).
2. Pendekatan multi disiplin
Konsultasi dengan ahli gizi diperlukan untuk mengatasi timbulnya
malnutrisi, memperkirakan asupan kalori yang diperlukan dan menentukan
ben tuk diet yang tepat dan berkalori tinggi. Masalah emosional ibu,
keluarga dan anak dengan psikiater akan membantu mengatasi masalah
tersebut.Dukungan pekerja sosial, ahli spiritual dan masyarakat sekitar juga
diperlukan (Wright et al., 2006).
3. Perawatan di rumah sakit
Perawatan di rumah sakit pada anak gagal tumbuh jarang diperlukan,
kebanyakan rawat jalan. Perawatan rumah sakit diperlukan bila tata laksana
rawat jalan gagal dalam mengatasi keadaan ini.2Anak dengan gagal tumbuh
harus dirawat di rumah sakit bila keadaan ini terus terjadi walaupun
optimalisasi dukungan masyarakat seperti perawatan kesehatan masyarakat,
ahli gizi masyarakat, pekerja sosial, tokoh agama, pemuka agama, dan
sebagainya telah diberikan.Pasien juga dianjurkan untuk dirawat bila kondisi
anak atau orang yang mengasuh atau keluarga tidak dapat memberikan
perawatan yang tepat atau mungkin malah membahayakan keselamatan anak
(Rabinowitz, 2010).

Tujuan perawatan anak gagal tumbuh dirumah sakit adalah:


a. Mengamati kebiasan makan anak dan hubungan orang tua dan anak
b. Melihat apakah berat badan anak dapat kembali normal bila mendapatkan
asupan yang cukup atau dijauhkan dari keluarga.
c. Memutuskan pemeriksaan penunjang yang diperlukan sesuai indikasi

I. KOMPLIKASI
Gangguan pertumbuhan dalam 6 bulan pertama berhubungan dengan
gangguan mental dan psikomotor pada tahun kedua.Dampak terhambatnya
pertumbuhan terhadap perkembangan intelektual dan tingkah laku tergantung dari
penyebabnya.Malnutrisi berat yang lama dan timbul dini berhubungan dengan
gangguan perkembangan sistem saraf (Batubara et al., 2010).

J. PROGNOSIS
Untuk mencapai pertumbuhan dewasa normal, maka prognosis gagal tumbuh
tergantung dari penyebab gagal tumbuh itu sendiri.Intervensi dini sangat penting
untuk mengurangi resiko gangguan pertumbuhan yang berkelanjutan.Makin cepat
timbulnya gangguan tumbuh dan makin berat penyakit yang mendasarinya maka
prognosisnya makin kurang baik.Gangguan pertumbuhan selama bayi dan anak
merupakan faktor resiko potensial untuk pertumbuhan selanjutnya.Prognosisnya
baik jika kebutuhan medis, nutrisi dan psikososial anak serta keluarga tercukupi
(Batubara et al., 2010).

BAB III
KESIMPULAN

Pertumbuhan adalah suatu proses bertambah besarnya ukuran fisik dan


struktur tubuh. Pertumbuhan merupakan suatu indikator sensitif kesehatan, status
nutrisi dan latar belakang genetik anak.Adapun indikatornya adalah berat badan,
panjang badan, tinggi badan, lingkar kepala dan lingkar lengan atas.Pertumbuhan
bersifat kuantitatif sehingga dapat diukur dengan satuan berat (gram, kilogram) dan
satuan panjang (cm, m).umur tulang dan keseimbangan metabolik.

Gagal tumbuh (failure to Thrive) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan
kenaikan berat badan yang tidak sesuai dengan seharusnya, tidak naik (flat growth)
atau bahkan turun dibandingkan pengukuran sebelumnya (diketahui dari grafik
pertumbuhan).Gagal tumbuh merupakan tanda yang paling sering terjadi pada anak
yang mengalami gizi kurang.Berat badan dan tinggi badan gagal untuk bertambah
dengan kecepatan yang diharapkan.

Deteksi dini gangguan tumbuh kembang balita sebaiknya dilakukan dengan


anamnesis, pemeriksaan fisik danskrining perkembangan yang sistematis agar
lebihobyektif.Tatalaksana utama pada gagal tumbuh adalah mengetahui penyebab
yang mendasarinya dan memperbaiki keadaan tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Alphonsus, NO.2011. Evaluation and Managementof the Child With Failure to


Thrive. Hospital Chronicles.6(1): 923
Batubara, J RL.,Tridjaja, B AAP, Pulungan, A B (ed). 2010. Buku Ajar Endokrinologi
Anak. Ed I.Jakarta: Penerbit Badan IDAI.
Bauchner H. 2007. Failure to Thrive. In: Behrman, Kliegman, Jenson, eds. Nelson
Textbook of Pediatrics. 18 ed. Philadelphia: WB Saunders. 184-7
Chundrayetti, E. 2005. Early Detection of Growth and Developmental Disorder:
Why, When, How. Bagian ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran Universitas
Andalas/RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Corrales, K M. Hangen, JP. 2000. Growth Failure. In: Hendricks, Duggan, Walker,
eds. Manual of Pediatric Nutrition Book. 3 ed. Philladelphia: B.C. Decker. 414-
25.
Daniel, M., Kleis, L., Cemeroglu, A P. 2008. Etiology of failure to thrive in infants
and toddlers referred to a pediatric endocrinology outpatient clinic. Clinical
Pediatrics: 47(8): 762-5
Gahagan, S. 2006. Failure to Thrive : A Consequence of Undernutrition. Pediatrics in
Review. 27:e1-e11.
Hakimi,. Pulungan, Aman B. 2005. Deteksi Dini Gangguan Pertumbuhan Pada Anak.
Dalam : Simposium Peran Endokrinologi Anak Dalam Proses Tumbuh
Kembang Anak. Padang: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran
Universitas Andalas. 2005:1-7.
Irwanto, Suryawan, A., Narendra, M B., 2006. Penyimpangan Tumbuh Kembang
Anak. Surabaya: Ilmu Kesehatan Anak RSU Dr. Soetomo Surabaya.
Krugman, S D., Dubowitz, H. 2003. Failure to Thrive. American Family
Physician.68:879-83.
Kuttesch, J F Jnr., Ater, JL. 2010. Brain tumours in childhood. Nelson Textbook of
Pediatrics, edisi ke-19. Philadelphia: WB Saunders Company. 2128-2137.
Olsen, EM., Petersen, J., Skovgaard, A M., Weilee, B., Jorgensen, T., Wright, CM.
2007. Failure to Thrive: the prevalence and concurrence of anthropometric
criteria in a general infant population. Arch Dis Child. 92:109-14
Rabinowitz, S S., Katturupalli, M.2010 Failure to Thrive. eMedicine Pediatrics. 1-16.
Rosso, J M D., Arlianti, R. 2010. Investasi Untuk Kesehatan dan Gizi Sekolah di
Indonesia. Jakarta : Basic Education Capacity-Trust Fund. 16-8.
Schwartz, I D. 2000. Failure To Thrive: An Old Nemesis in the New Millennium.
Pediatrics in Review. 21:257
Spencer, NJ. 2007. Failure to Think about Failure to Thrive. Arch Dis Child. 92:95-6.
Wright, C M., Parkinson, K N., Drewett, RF. 2006. How Does Maternal and Child
Feeding Behavior Relate to Weight Gain and Failure to Thrive? Data From a
Prospective Birth Cohort. Pediatrics. 117:1262-9.