Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

Anestesiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mendasari berbagai

tindakan meliputi pemberian anestesi, penjagaan keselamatan penderita yang

mengalami pembedahan, pemberian bantuan hidup dasar, pengobatan intensif

pasien gawat, terapi inhalasi dan penanggulangan nyeri. Kata anesthesia

diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang menggambarkan keadaan tidak

sadar yang bersifat sementara, karena pemberian obat dengan tujuan untuk

menghilangkan nyeri pembedahan. Pada prinsipnya dalam penatalaksanaan

anestesi pada suatu operasi terdapat beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu

pra anestesi yang terdiri dari persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan

anestesi, menentukan prognosis dan persiapan pada pada hari operasi. Sedangkan

tahap penatalaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi, induksi dan pemeliharaan,

tahap pemulihan serta perawatan pasca anestesi. 1,2

Tumor jaringan lunak ada yang jinak dan ada yang ganas. Tumor ganas

atau kanker pada jaringan lunak dikenal sebagai sarcoma jaringan lunak atau

Soft Tissue Sarcoma (STS). Kanker jaringan lunak termasuk kanker yang

jarang ditemukan, insidensnya hanya sekitar 1% dari seluruh keganasan yang

ditemukan pada orang dewasa dan 7-15% dari seluruh keganasan pada anak. Bisa

ditemukan pada semua kelompok umur. Pada anak-anak paling sering padaumur

sekitar 4 tahun dan pada orang dewasa paling banyak pada umur 45-50 tahun.

Lokasi yang paling sering ditemukan adalah pada anggota gerak bawah yaitu

1
sebesar 46% di mana 75% ada diatas lutut terutama di daerah paha. Di anggota

gerak atas mulai dari lengan atas, lengan bawah hingga telapak tangan sekitar

13%. 30% di tubuh bagian luar maupun dalam, seperti pada dinding perut, dan

juga pada jaringan lunak dalamperut maupun dekat ginjal atau yang disebut

daerah retroperitoneum. Pada daerah kepala dan leher sekitar 9% dan 1% di

tempat lainnya, antara lain di dada.3

Intubasi endotrakeal merupakan gold standard untuk penanganan jalan

nafas. Prosedur ini dapat dilakukan pada sejumlah kasus pasien yang mengalami

penyumbatan jalan nafas, kehilangan refleks proteksi, menjaga paru-paru dari

sekret agar tidak terjadi aspirasi dan pada segala jenis gagal nafas.2,4

Tindakan intubasi endotrakeal selama anestesi umum berfungsi sebagai

sarana untuk menyediakan oksigen ke paru-paru dan sebagai saluran untuk obat-

obat anestesi yang mudah menguap.1

Tingkat komplikasi, seperti perdarahan pascaoperasi berkisar antara 0,1-

8,1% dari jumlah kasus. Kematian pada operasi sangat jarang. Kematian dapat

terjadi akibat komplikasi bedah maupun anestesi. Tantangan terbesar selain

operasinya sendiri adalah pengambilan keputusan dan teknik yang dilakukan

dalam pelaksanaannya.1

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Saluran Pernapasan

Dalam melakukan tindakan intubasi endotrakheal terlebih dahulu kita

harus memahami anatomi dan fisiologi jalan napas bagian atas dimana

intubasi itu dipasang. 5

Gambar 2.1. Anatomi Saluran Pernapasan

2.1.1 Respirasi Internal dan Eksternal

Respirasi dibagi dalam dua fase. Fase pertama ekspirasi

eksternal dalam pengertian yang sama dengan bernafas. Ini merupakan

kombinasi dari pergerakan otot dan skelet, dimana udara untuk pertama

3
kali didorong ke dalam paru dan selanjutnya dikeluarkan.Peristiwa ini

termasuk inspirasi dan ekspirasi. Fase yang lain adalah respirasi internal

yang meliputi perpindahan atau pergerakan molekul-molekul dari gas-

gas pernafasan (oksigen dan karbondioksida) melalui membrana,

perpindahan cairan, dan sel-sel dari dalam tubuh sesuai keperluan.5

2.1.2 Faring

Udara masuk ke dalam rongga mulut atau hidung melalui faring

dan masuk ke dalam laring.Nasofaring terletak di bagian posterior

rongga hidung yang menghubungkannya melalui nares posterior.Udara

masuk ke bagian faring ini turun melewati dasar dari faring dan

selanjutnya memasuki laring.5

Kontrol membukanya faring, dengan pengecualian dari esofagus

dan membukanya tuba auditiva, semua pasase pembuka masuk ke

dalam faring dapat ditutup secara volunter. Kontrol ini sangat penting

dalam pernafasan dan waktu makan, selama membukanya saluran nafas

maka jalannya pencernaan harus ditutup sewaktu makan dan menelan

atau makanan akan masuk ke dalam laring dan rongga hidung

posterior.5

Faring mempunyai dua fungsi yaitu untuk sistem pernafasan dan

sistem pencernaan. Beberapa otot berperan dalam proses pernafasan.

Diafragma merupakan otot pernafasan yang paling penting disamping

muskulus intercostalis interna dan eksterna beberapa otot yang lainnya.5

4
2.1.3 Laring

Laring terletak di antara akar lidah dan trakhea.Laring terdiri

dari 9 kartilago melingkari bersama dengan ligamentum dan sejumlah

otot yang mengontrol pergerakannya.Kartilago yang kaku pada dinding

laring membentuk suatu lubang berongga yang dapat menjaga agar

tidak mengalami kolaps. Pita suara terletak di dalam laring, oleh karena

itu ia sebagai organ pengeluaran suara yang merupakan jalannya udara

antara faring dan laring.Bagian laring sebelah atas luas, sementara

bagian bawah sempit dan berbentuk silinder.5

Fungsi laring, yaitu mengatur tingkat ketegangan dari pita suara

yang selanjutnya mengatur suara.Laring juga menerima udara dari

faring diteruskan ke dalam trakhea dan mencegah makanan dan air

masuk ke dalam trakhea. Ketika terjadi pengaliran udara pada trakhea,

glotis hampir terbuka setiap saat dengan demikian udara masuk dan

keluar melalui laring namun akan menutup pada saat menelan.5

Epiglotis yang berada di atas glottis selain berfungsi sebagai

penutup laringjuga sangat berperan pada waktu memasang intubasi,

karena dapat dijadikan patokan untuk melihat pita suara yang berwarna

putih yang mengelilingi lubang.5

2.1.4 Trakea

Trakea adalah sebuah struktur berbentuk tubulus yang mulai

setinggi Cervikal 6 columna vertebaralis pada level kartilago tiroid.

Trakea mendatar pada bagian posterior, panjang sekitar 10-15 cm,

5
didukung oleh 16-20 tulang rawan yang berbentuk tapal kuda sampai

bercabang menjadi dua atau bifurkasio menjadi bronkus kanan dan kiri

pada thorakal 5 kolumna vertebaralis. Luas penampang melintang lebih

besar dari glotis, antara 150-300 mm2. Beberapa tipe reseptor pada

trakea, sensitif terhadap stimulus mekanik dan kimia. Penyesuaian

lambat reseptor regang yang berlokasi pada otot-otot dinding posterior,

membantu mengatur rate dan dalamnya pernafasan, tetapi juga

menimbulkan dilatasi pada bronkus melalui penurunan aktivitas afferen

nervus vagus. Respon cepat resptor iritan yang berada pada seluruh

permukaan trakea berfungsi sebagai reseptor batuk dan mengandung

reflek bronkokontriksi.5

2.2 Soft Tissue Tumor

Jaringan lunak adalah bagian dari tubuh yang terletak antara kulit

dan tulang serta organ tubuh bagian dalam. Yang tergolong jaringan lunak

adalah yang berasal dari jaringan embrional mesoderm yaitu jaringan ikat,

otot,pembuluh darah dan limfe, jaringan lemak, dan selaput saraf.

Tumor jaringan lunak atau Soft Tissue Tumor (STT) adalah suatu

benjolan atau pembengkakan abnormal yang disebabkan pertumbuhan sel

baru.

2.2.1 Etiologi

1. Kondisi genetik

Ada bukti tertentu pembentukan gen dan mutasi gen adalah

faktor predisposisi untuk beberapa tumor jaringan lunak, dalam

6
daftar laporan gen yang abnormal, bahwa gen memiliki peran

penting dalam diagnosis.

2. Radiasi

Mekanisme yang patogenik adalah munculnya mutasi gen

radiasi-induksi yang mendorong transformasi neoplastik.

3. Lingkungan karsinogen

Sebuah hubungan antara eksposur ke berbagai karsinogen

dan setelah itu dilaporkan meningkatnya insiden tumor jaringan

lunak.

4. Infeksi

Infeksi virus Epstein-Barr dalam orang yang kekebalannya

lemah juga akan meningkatkan kemungkinan tumor jaringan lunak.

5. Trauma

Hubungan antara trauma dan Soft Tissue Tumors

nampaknya kebetulan. Trauma mungkin menarik perhatian medis

ke pra-luka yang ada.

2.2.2 Epidemiologi

Kanker jaringan lunak termasuk kanker yang jarang ditemukan,

insidensnya hanyasekitar 1% dari seluruh keganasan yang ditemukan

pada orang dewasa dan 7-15 % dariseluruh keganasan pada anak. Bisa

ditemukan pada semua kelompok umur. Pada anak-anak paling sering

pada umur sekitar 4 tahun dan pada orang dewasa paling banyak

7
padaumur 45-50 tahun. Lokasi yang paling sering ditemukan adalah

pada anggota gerakbawah yaitu sebesar 46% dimana 75%-nya ada di

atas lutut terutama di daerah paha.Di anggota gerak atas mulai dari

lengan atas, lengan bawah hingga telapak tangan sekitar13%. 30% di

tubuh bagian di bagian luar maupun dalam, seperti pada dinding perut,

danjuga pada jaringan lunak di dalam perut maupun dekat ginjal atau

yang disebut daerahretroperitoneum. Pada daerah kepala dan leher

sekitar 9% dan 1% di tempat lainnya,antara lain di dada.

2.2.3 Eksisi

Eksisi disebut juga ectomy, yaitu membuang tumor dengan

cara memotong. Eksisi mengeluarkan atau menghilangkan sebagian

atau seluruh bagian organ atau struktur lain. Contoh eksisi :

1. Eksisi intracapsular : pembuangan tumor dengan dengan

melakukan insisi langsung pada kapsul tumor, hanya bernilai

diagnostik karena bagian ini membiarkan sebagian besar massa

tumor tetap utuh.

2. Eksisi marginal : operasi pengangkatan lesi keseluruhan dengan

mengangkat sedikit jaringan di sekitar lesi.

3. Eksisi radical: pengangkatan seluruh struktur anatomis yang

mengandung tumor.

4. Eksisi wide: dalam penganglatan neoplasma, pengangkatan tumor

sekaligus jaringan yang tampak normal di sekitar tumor

8
Indikasi dilakukan Eksisi :

a) Diagnositik

b) Kosmetik (lipoma , melanoma)

c) Setiap lesi yang di duga ganas (pada kulit)

2.3 Anestesia

Anestesi adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara

sentral disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversibel).Pada

prinsipnya dalam penatalaksanaan anestesi pada suatu operasi terdapat

beberapa tahap yang harus dilaksanakan yaitu pra anestesi yang terdiri dari

persiapan mental dan fisik pasien, perencanaan anestesi, menentukan

prognosis dan persiapan pada pada hari operasi. Sedangkan tahap

penatalaksanaan anestesi terdiri dari premedikasi, induksi dan pemeliharaan.

Dengan anestesi akan diperoleh trias anestesia, yaitu:8,9

a. Hipnotik (tidur)

b. Analgesia (bebas dari nyeri)

c. Relaksasi otot (mengurangi ketegangan tonus otot)

2.3.1 Premedikasi

Premedikasi adalah tindakan awal anestesia dengan memberikan

obat obatan pendahuluan yang terdiri dari obat obatan golongan

antikholinergik, sedatif, dan analgetik. Dengan tujuan sebagai berikut:8,9

1. Menimbulkan rasa nyaman bagi pasien.

2. Mengurangi sekresi kelenjar dan menekan refleks vagus

3. Memperlancar induksi

9
4. Mengurangi dosis obat anestesia

5. Mengurangi rasa sakit dan gelisah

a. Obat obat pramedikasi

1. Sulfas Atropin

Obat golongan antikholinergik adalah obat-obatan yang

berkhasiat menekan aktivitas kholinergik atau parasimpatis.

Mekanisme kerja:

Menghambat mekanisme kerja asetil kolin pada organ

yang diinervasi oleh serabut saraf otonom para simpatis atau

serabut saraf yang mempunyai neurotransmitter asetilkholin.

Obat ini juga menghambat muskarinik secara kompetitif

yang ditimbulkan oleh asetil kholin pada sel efektor organ

terutama pada kelenjar eksokrin, otot polos dan otot jantung.

Cara pemberian dan dosis

Intramuskular, dosis 0,01 mg/kgBB, diberikan 30-45

menit sebelum induksi.

Intravena, dengan dosis 0,005 mg/kgBB, diberikan 10-15

menit sebelum induksi.8

2. Midazolam

Mekanisme kerja:

Sebagai agonis benzodiazepin yang terikat dengan

spesifitas yang tinggi pada reseptor benzodiazepin, sehingga

mempertinggi daya hambat neurotransmiter susunan saraf

10
pusat diresptor GABA sentral. Mempunyai efek sedasi dan

anticemas yang bekerja pada sistem limbik dan pada ARAS

serta bisa menimbulkan amnesia anterograd.

Cara pemberian dan dosis :

Premedikasi, diberikan intramuskular dengan dosis 0,2

mg/kgBB. Pada dosis intravena diberikan 2 mg disusul setelah

2 menit meningkatkan 0,5-1 mg bila sedasi tidak memadai.8

b. Obat Induksi

1. Fentanyl

Merupakan obat narkotik sintetik yang paling banyak

digunakan dalam praktek anestesiologi. Mempunyai potensi

1000 kali lebih kuat dibandingkan dengan petidin dan 50-100

kali lebih kuat dari morfin. Mulai kerjanya cepat dan masa

kerjanya pendek. Pada awalnya akan digunakan sebagai obat

analgesia nerolept yang dikombinasikan dengan doperidol

yang dikenal dengan nama inovar.8,9

Cara pemberian dan dosis :

Untuk suplemen analgesia ,1-2 mcg/kgBB. Intravena

Untuk induksi anestesia, 100-200 mcg/kgBB intravena

2. Propofol

Merupakan derivat fenol dengan nama kimia di-iso

profenol yang banyak dipakai sebagai obat anestesia intravena.

Obat ini relatif baru dan lebih dikenal dengan nama dagang

11
Diprivan. Pertama kali digunakan dalam praktik anestesi pada

tahun 1977 sebagai obat induksi.

Cara pemberian dan dosis : Induksi anestesia, dosisnya 2-2,5

mg/kgBB. 8,9

c. Pemeliharaan

1. Nitrous Oksida (N2O)

Merupakan gas yang tidak berwarna, berbau manis dan

tidak iritatif, tidak berasa, lebih berat dari udara, tidak mudah

terbakar/meledak, dan tidak bereaksi dengan soda lime

absorber (pengikat CO2). Mempunyai sifat anestesi yang

kurang kuat, tetapi dapat melalui stadium induksi dengan

cepat, karena gas ini tidak larut dalam darah. Gas ini tidak

mempunyai sifat merelaksasi otot, oleh karena itu pada operasi

abdomen dan ortopedi perlu tambahan dengan zat relaksasi

otot. 4,8,9

Terhadap SSP menimbulkan analgesi yang berarti.

Depresi nafas terjadi pada masa pemulihan, hal ini terjadi

karena Nitrous Oksida mendesak oksigen dalam ruangan-

ruangan tubuh. Hipoksia difusi dapat dicegah dengan

pemberian oksigen konsentrasi tinggi beberapa menit sebelum

anestesi selesai. Penggunaan biasanya dipakai perbandingan

atau kombinasi dengan oksigen. Penggunaan dalam anestesi

12
umumnya dipakai dalam kombinasi N2O : O2 adalah sebagai

berikut 60% : 40% ; 70% : 30% atau 50% : 50%. 2,4,8,9

d. Pelumpuh Otot

1. Atrakurium

Merupakan obat pelumpuh otot non depolarisasi yang

relatif baru yang mempunyai struktur benzilisoquinolin yang

berasal dari tanaman Leontice leontopetaltum. Beberapa

keunggulan atrakurium dibandingkan dengan obat terdahulu

antara lain adalah : 8,9

a. Metabolisme terjadi dalam darah (plasma) terutama melalui

suatu reaksi kimia unik yang disebut reaksi kimia hoffman.

Reaksi ini tidak bergantung pada fungsi hati dan ginjal.

b. Tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian

berulang.

c. Tidak menyebabkan perubahan fungsi kardiovaskuler yang

bermakna.

Mula dan lama kerja atracurium bergantung pada dosis

yang dipakai. Pada umumnya mulai kerja atracurium pada

dosis intubasi adalah 2-3 menit, sedang lama kerja atracurium

dengan dosis relaksasi 15-35 menit.8

Pemulihan fungsi saraf otot dapat terjadi secara spontan

(sesudah lama kerja obat berakhir) atau dibantu dengan

pemberian antikolinesterase. Nampaknya atracurium dapat

13
menjadi obat terpilih untuk pasien geriatrik atau pasien dengan

penyakit jantung dan ginjal yang berat.8

Kemasan dibuat dalam 1 ampul berisi 5 ml yang

mengandung 50 mg atracurium besilat. Stabilitas larutan

sangat bergantung pada penyimpanan pada suhu dingin dan

perlindungan terhadap penyinaran.8

Cara pemberian dan dosis:

1. Dosis intubasi : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv

2. Dosis relaksasi otot : 0,5 0,6 mg/kgBB/iv


3.
Dosispemeliharaan : 0,1 0,2 mg/kgBB/ iv

2.3.2 Anestesi dibagi menjadi 3 jenis kelompok besar anestesi, antara lain

sebagai berikut: 8,9

1. Anestesia Umum : suatu keadaan tidak sadar yang bersifat sementara yang

diikuti oleh hilangnya rasa nyeri di seluruh tubuh akibat pemberian obat

anestesia. Teknik anestesia umum terdiri dari:

a. Anestesia umum intravena : merupakan salah satu teknik anestesia

umum yang dilakukan dengan jalan menyuntikkan obat anestesia

parenteral langsung dalam pembuluh darah vena.

b. Anestesia umum inhalasi : merupakan salah satu teknik anestesia

umum yang dilakukan dengan jalan memberikan kombinasi obat

anestesia inhalasi yang berupa gas dan atau cairan yang mudah

menguap melalui alat atau mesin anestesia langsung ke udara

inspirasi. Berbagai teknik anestesia umum inhalasi, yaitu:

14
Inhalasi dengan Respirasi Spontan:

Sungkup wajah

Intubasi endotrakeal

Laryngeal mask airway (LMA)

Inhalasi dengan Respirasi kendali

Intubasi endotrakeal

Laryngeal mask airway

c. Anestesia imbang : merupakan teknik anestesia dengan

mempergunakan kombinasi obat-obatan baik obat anestesia

intravena maupun obat anestesia inhalasi atau kombinasi teknik

anestesia umum dengan analgesia regional untuk mencapai trias

anestesia secara optimal dan berimbang.

2. Anestesia Lokal : anestesia yang dilakukan dengan cara menyuntikkan

obat anestesia lokal pada daerah atau disekitar lokasi pembedahan yang

menyebabkan hambatan konduksi impuls aferen yang bersifat temporer.

3. Anestesia Regional : anestesia yang dilakukan dengan cara menyuntikkan

obat anestesia lokal pada lokasi serat saraf yang menginervasi regio

tertentu, yang menyebabkan hambatan konduksi impuls aferen yang

bersifat temporer.

15
2.4 General Anestesia OTT

Intubasi orotrakeal ialah memasukkan pipa pernafasan yang terbuat

dari portex ke dalam trakea guna membantu pernafasan penderita atau waktu

memberikan anestesi secara inhalasi.1,3

OTT dapat digunakan untuk memberikan gas anestesi secara langsung

ke trakea dan memberikan ventilasi dan oksigenasi terkontrol. Bentuk dan

kekerasan OTT dapat diubah dengan stilet. Resistensi terhadap aliran udara

tergantung pada diameter tabung, tetapi juga dipengaruhi oleh panjang tabung

dan kurvatura. 3,4

Gambar 2.2. Pipa Orotrakea

2.4.1 Pipa Orotrakea

Berfungsi mengantar gas anestesik langsung ke dalam

trakea dan biasanya dibuat dari bahan standar polivinil-klorida.

Ukuran diameter lubang pipa trakea dalam milimeter. Karena

penampang trakea bayi, anak kecil dan dewasa berbeda,

penampang melintang trakea bayi dan anak kecil di bawah usia 5

tahun hampir bulat sedangkan dewasa seperti huruf D, maka untuk

16
bayi dan anak kecil digunakan tanpa cuff dan untuk anak besar dan

dewasa dengan cuff supaya tidak bocor. 4,5

Gambar 2.3. Berbagai Jenis Pipa OTT

Ukuran pipa trakea dapat dihitung menggunakan rumus 4+

N (usia) : 4. Sering ukuran pipa trakea yang digunakan pada wanita

dewasa diameter internal 7-7.5 mm dengan panjang 24 cm. pada

pria dewasa diameter internal 7.5-9 mm dengan panjang 24cm.2,4

Gambar 2.4. Tabel Ukuran Pipa OTT

17
2.4.2 Laringoskop

Fungsi laring ialah mencegah benda asing masuk paru.

Laringoskop ialah alat yang digunakan untuk melihat laring

secara langsung supaya kita dapat memasukkan pipa trakea

dengan baik dan benar. Secara garis besar dikenal dua macam

laringoskop:2,4

1. Bilah lurus (straight blades/ Magill/ Miller)

2. Bilah lengkung (curved blades/ Macintosh)

Gambar 2.5. Laringoskop

2.4.3 Indikasi Pemasangan OTT

Pemilihan pemasangan OTT dalam bidang anestesi

berdasarkan indikasi berikut, antara lain:4

1. Menjaga jalan nafas yang bebas oleh sebab apapun

2. Mempermudah ventilasi positif dan oksigenasi

3. Pencegahan terhadap aspirasi dan regurgitasi

4. Operasi-operasi pada kepala, leher, mulutm hidung dan

tenggorokan

18
5. Pada banyak operasi abdominal, untuk menjamin pernafasan

yang tenang dan tak ada ketegangan

6. Pada operasi intrathorakal, supaya jalan nafas selalu terkontrol

7. Untuk mencegah kontaminasi trakea

8. Bila dipakai controlled ventilation maka tanpa pipa

endotrakeal dengan pengisian cuffnya dapat terjadi inflasi ke

dalam gaster

9. Pada pasien-pasien dengan fiksasi vocal cord.4

2.4.4 Kontraindikasi Pemasangan OTT

Tidak ada kontraindikasi yang absolut ; namun demikian

edema jalan napas bagian atas yang buruk atau fraktur dari wajah

dan leher dapat memungkinkan dilakukannya intubasi.4

2.4.5 Prosedur pemasangan OTT

Sebelum memulai induksi anestesia, selayaknya disiapkan

peralatan dan obat-obatan yang diperlukan, sehingga seandainya

terjadi keadaan gawat dapat diatasi dengan lebih cepat dan lebih

baik. Untuk persiapan induksi anestesi sebaiknya kita ingat kata

STATICS:4,8

S : Scope Stetoskop untuk mendengarkan suara paru dan


jantung. Laringo-Scope, pilih bilah atau daun
(blade) yang sesuai dengan usia pasien. Lampu
harus cukup terang.

19
T : Tube Pipa trakea.pilih sesuai usia. Usia < 5 tahun
tanpa balon (cuffed) dan > 5 tahun dengan balon
(cuffed).

A : Airway Pipa mulut faring (Guedel, orotracheal airway)


atau pipa hidung-faring (naso-tracheal airway). Pipa
ini untuk menahan lidah saat pasien tidak sadar
untuk menjaga supaya lidah tidak menyumbat jalan
napas.

T : Tape Plester untuk fiksasi pipa supaya tidak terdorong


atau tercabut.

I : Introducer Mandrin atau stilet dari kawat dibungkus plastic


(kabel) yang mudah dibengkokan untuk pemandu
supaya pipa trakea mudah dimasukkan.

C : Connector Penyambung antara pipa dan peralatan anestesia

S : Suction Penyedot lendir, ludah danlain-lainnya.

Pemasangan pipa trakea dalam anestesia inhalasi dengan

menggunakan obat pelimpuh otot non depolarisasi, selanjutnya

dilakukan nafas kendali. Adapun prosedur dalam tatalaksana

tindakan sebagai berikut:8

1. Pasien telah dipersiapkan sesuai pedoman dan pemberian

premedikasi (Midazolam 0.01-0.1 mg/KgBB, Ketorolac 0.5

mg/KgBB, Sulfas Atropin 0.005 mg/KgBB, Ondancentron 4

mg dan Ranitidine 25 mg)

2. Posisikan pasien dengan baik dan nyaman

20
3. Pasang alat pantau yang diperlukan

4. Siapkan alat-alat dan obat-obat resusitasi

5. Siapkan mesin anestesia dengan sistem sirkuitnya dan gas

anestesia yang dipergunakan

6. Induksi pasien dengan menggunakan fentanyl 1-2 mcg/KgBB

dan propofol 2-2.5 mg/KgBB atau hipnotik jenis lain

7. Berikan obat pelumpuh otot non depolarisasi seperti atracurium

0.5-0.5 mg/KgBB lalu tunggu 3 menit

8. Berikan napas bantuan melalui sungkup muka dengan oksigen

100% menggunakan fasilitas mesin anestesia sampai fasikulasi

hilang dan otot rahang relaksasi

9. Lalu pasang laringoskop sesuai ukuran dan pasang OTT sesuai

ukuran yang dibutuhkan

10. Fiksasi OTT dan hubungkan dengan sirkuit mesin anestesia

11. Berikan salah satu kombinasi obat inhalasi N2O : O2 :

Sevofluran = 2L : 2L + 2%

12. Kendalikan napas pasien secara manual atau mekanik dengan

volume dan frekuensi napas disesuaikan dengan kebutuhan

pasien

13. Pantau tanda vital secara kontinyu dan ketat

14. Apabila operasi sudah selesai, hentikan aliran gas atau obat

anestesia inhalasi dan berikan oksigen 100% (4-8 liter/menit)

selama 2-5 menit

21
15. Berikan neostigmin dan atropin (jika diperlukan)

16. Ekstubasi pipa trakea dilakukan apabila pasien sudah bernapas

spontan dan adekuat serta jalan napas (mulut, hidung, dan pipa

endotrakea) sudah bersih, jika belum bersih lakukan suction.

Gambar 2.6. Teknik Pemasangan Laringoskop

Gambar 2.7. Teknik Pemasangan OTT

2.4.6 Ekstubasi

Mengeluarkan pipa endotrakea (ekstubasi) harus mulus dan

tidak disertai batuk dan kejang otot yang dapat menyebabkan

gangguan nafas, hipoksia sianosis. 4,9

22
Ekstubasi adalah tindakan pencabutan pipa endotrakeal.

Ekstubasi dilakukan pada saat yang tepat bagi pasien untuk

menghindari terjadinya reintubasi dan komplikasi lain. Tindakan

ekstubasi harus dikerjakan ketika kesadaran pasien belum pulih

atau setelah kesadaran pasien pulih. Tidak boleh dilakukan dalam

keadaan setengah sadar karena bisa menyakiti pasien. Adapun

kriteria dilakukan ekstubasi yaitu: 9

1. Kesadaran yang adekuat untuk mempertahankan reflex

protektif jalan napas dan reflex batuk untuk

mempertahankan jalan napas.

2. Cadangan paru yang adekuat seperti: laju paru <30

kali/menit, FVC >15 ml/ka, PaO2/FiO2 >200.

3. Pada pasien pasca pembedahan jalan nafas atas atau edema

jalan nafas atas. Edema jalan nafas telah minimal atau

ditandai dengan adanya kebocoran udara yang adekuat

setelah cuff pipa endotrakeal dikosongkan.

4. Pasien bedah plastik atau THT bila memungkinkan

dibicarakan terlebih dahulu dengan dokter bedah plastik

atau THT sebelum ekstubasi.

5. Pasien-pasien khusus seperti pasien PPOK, pasien dengan

kesadaran yang tidak baik membutuhkan diskusi dengan

konsultan yang bertugas untuk melakukan ekstubasi.9

23
2.4.7 Kesulitan tindakan pemasangan OTT

Dalam tindakan pemasangan OTT, ada beberapa hal yang

dapat mempengaruhi keberhasilan tindakan, yaitu: 1,3

1. Otot-otot leher yang pendek dengan gigi geligi yang lengkap

2. Mulut yang panjang dan sempit dengan arcus palatum yang

tinggi

3. Gigi incisivum atas yang menonjol (rabbit teeth)

4. Kesulitan membuka mulut

5. Uvula tidak terlihat (malapati 3 dan 4)

6. Abnormalitas pada daerah servikal

7. Kontraktur jaringan leher

2.4.8 Komplikasi Pemasangan OTT

Adapun komplikasi dari tindakan pemasangan OTT yang

tidak diinginkan seperti:4

1. Memar & oedem laring

2. Strech injury

3. Non specific granuloma larynx

4. Stenosis trakea

5. Trauma gigi geligi

6. Laserasi bibir, gusi dan laring

7. Aspirasi

8. Spasme bronkus

24
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 IDENTITAS

Nama : Ny. K

Umur : 17 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan

Berat Badan : 45 kg

Alamat : Br. Undisan Kelod

Agama : Hindu

Diagnosis pre operasi : Soft Tissue Tumor Regio Frrontalis

Jenis pembedahan : Eksisi

Jenis anestesi : General Anestesi OTT

Tanggal masuk : 18 Oktober 2017

Tanggal Operasi : 19 Oktober 2017

No.Rekam Medis : 242916

3.2 ANAMNESIS

Keluhan utama : Benjolan pada pangkal hidung

Riwayat Penyakit Sekarang:

Pada anamnesis didapatkan pasien mengeluh terdapat benjolan pada

pangkal hidung sejak 2 bulan sebelum masuk rumah sakit. Pasien sangat tidak

nyaman dengan benjolan tersebut karena mengganggu kosmetik Pasien

mengatakan benjolan tersebut semakin hari semakin tumbuh dan pelan pelan

tambah membesar. Pasien mengaku, kalau benjolan tersebut kadang disertai

25
nyeri yang hilang timbul, apalagi kalau di tekan. Pasien menyangkal kalau

benjolan tersebut awalnya berwarna kemerahan. Pasien mengaku benjolan

tersebut sangat mengganggu. Pasien menyangkal ada riwayat demam, trauma

bagian hidung, dan pasien menyangkal pernah mengalami benjolan seperti ini

sebelumnya. Pasien mengaku sehari hari sering membeli makanan cepat saji.

Pasien sering juga nongkrong bersama teman teman untuk membeli makanan

yang kadang banyak mengandung minyak.

Riwayat Penyakit Dahulu :

- Riwayat Operasi (-)

- Riwayat Penggunaan zat anestesi (-)

- Riwayat Hipertensi (-)

- Riwayat Asma (-)

- Riwayat Alergi

- obat : (+) Ampicillin

- makanan : (-)

- Riwayat Diabetes mellitus (-)

- Riwayat TB paru (-)

- RiwayatSakitJantung (-)

Riwayat Penyakit Keluarga:

- Riwayat Hipertensi : (-)

- Riwayat Asma (-)

- Riwayat Alergi obat dan makanan (-)

- Riwayat Diabetes mellitus (-)

26
- Riwayat TB Paru (-)

3.3 PEMERIKSAAN FISIK

B1 (Brain) : Compos mentis, Defisit neurologis (-)

B2 (Breath) : Vesikuler +/+ rhonki -/- wheezing -/-. RR : 18 x/menit,

Malampathi : 1 , Obstruksi jalan nafas (-), T1/T1.

B3 (Blood) : Tekanan Darah :110/70 mmHg, Nadi: 84x/menit, S1 S1

tunggal reguler, murmur (-)

B4 (Blader) : Urine spontan

B5 (Bowel) : Distensi (-), Bising usus (+) normal

B6 (Bone) : Akral hangat (+), edema (-), Leher panjang, Tiromental

distance> 3 jari, Jarak antar insisivus 3 jari, mobilitas

leher baik.

3.4 LABORATORIUM

WBC : 8,4

RBC : 4,50

HGB : 12,2

HCT : 35,7

PLT : 210

BT : 200

CT : 800

27
3.5 KESIMPULAN

Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang, maka didapatkan:

Diagnosis pre operatif : Soft Tissue Tumor Regio Frontalis

Status operatif : ASA I, Mallampati I

Jenis operasi : Tonsilektomi

Jenis anestesi : General Anastesi OTT dengan napas kendali

3.6 PENATALAKSANAAN

a. Intravena fluid drip (IVFD) RL 20 tpm

b. Inj cefotaxime 2 gr iv 2 jam pre op

c. Pro Eksisi

d. Konsul ke Bagian Anestesi

e. Informed Consent Pembiusan

f. Preop

- Melengkapi surat izin operasi

- Berpuasa 8 jam pre operasi

- Membersihkan diri dan mengganti pakaian

- Tidak menggunakan perhiasan

- Istirahat yang cukup dan berdoa

Dilakukan operasi dengan general anestesi dengan status ASA I.

28
3.7 TERAPI ANESTESI

Pada pasien dengaan status fisik ASA 1 dilakukan tindakan anestesi

dan diberikan terapi anestesi yaitu :

a. Pramedikasi :

Sedatif : Midazolam 2 mg iv

Analgetik : Ketorolac 30 mg iv

Antiemetik : Ondancentron 4 mg iv

Ranitidine 50 mg iv

Antikolinergik : Sulfas Atropin 0,25 mg iv

b. Induksi :

Fentanyl 100 g iv

Propofol 150 mg iv

Atrakurium 25 mg iv

c. Intubasi : Laringoskop blade no 2

Endotracheal Tube kinking no 6

d. Maintenence : N2O : O2 : Sevofluran : 2L : 2L : 2 vol%

e. Pemantauan Selama Anestesi

Melakukan monitoring terus menerus tentang keadaan pasien yaitu

reaksi pasien terhadap pemberian obat anestesi khususnya terhadap fungsi

pernapasan dan jantung.

Kardiovaskular : Nadi dan tekanan darah setiap 5 menit.

Respirasi : Inspeksi pernapasan & saturasi oksigen

Cairan : Monitoring input cairan

29
Jam Tindakan Tekanan Nadi Saturasi

Darah (x/menit) O2 (%)

(mmHg)

12.05 Pasien masuk ke kamar operasi, dan 110/70 86 99

dipindahkan ke meja operasi

Pemasangan monitoring tekanan

darah, nadi, saturasi O2

Infus RL terpasang pada tangan

kiri

Premedikasi

12.15 Obat induksi dimasukkan secara iv: 120/70 88 100

o Fentanyl 100 g

o Propofol 150 mg

o Atrakurium 25 mg

Kemudian mengecek apakah

refleks bulu mata masih ada atau

sudah hilang.

Jika tidak ada, lalu dilakukan

tindakan face mask dengan

sungkup No.3, dan diberikan:

o O2 : 2 L

o N2O : 2 L

o Sevoflurane : 2 vol%

30
12.18 Dilakukan tindakan pemasangan 110/70 61 90

endotracheal tube No. 6 dengan

bantuan laringoskop kemudian

fiksasi.

Kedua mata pasien diberikan

ophtalmic ointment (salep mata)

dan ditutup dengan kassa

12.20 Operasi dimulai 110/70 70 98

Kondisi terkendali

12.30 Kondisi terkendali 110/70 74 100

Soft tissue tunor berhasil dieksisi

dengan ukuran +5 cm dan dijahit

12.35 Kondisi terkendali 110/70 68 100

12.40 Kondisi terkendali 110/70 76 99

12.45 Operasi selesai 110/70 82 100

Melakukan ekstubasi dengan

tindakan ekstubasi dalam

Memasang goedel (oral airway) ,

dilakukan suction, dan pelepasan

endotracheal tube

Gas N2 O dan sevoflurane

dimatikan, dan gas O2 dinaikkan

menjadi 6 vol % (Oksigenisasi)

31
dengan menggunakan face mask.

Gas O2 dihentikan

Pelepasan alat monitoring (saturasi

dan tensimeter).

Pasien dipindahkan ke ruang

12.50 recovery room. Selanjutnya 120/80 74 100

dilakukan pemasangan alat

monitoring di recovery room

Pasien dapat dibangunkan dan

memonitoring keadaan pasien.

f. Analgetik Post Operatif

1. Ketorolac 3 x 15 mg iv

32
BAB IV

PEMBAHASAN

Dari hasil kunjungan pra anestesi baik dari anamnesis, pemeriksaan

fisik akan dibahas masalah yang timbul, baik dari segi medis, bedah

maupun anestesi.

Pasien, Ny.M 17 tahun datang ke ruang operasi untuk menjalani

operasi Eksisi pada tanggal 19 Oktober 2017 dengan diagnosis pre

operatif Soft Tissue Tumor regio Frontalis. Persiapan operasi dilakukan

pada tanggal 18 Oktober 2017. Dari anamnesis terdapat keluhan benjolan

pada pangkal hidung kadang diseertai bila di tekan. Benjolan dirasakan

kurang lebih sejak 2 bulan terakhir dan bertambah walaupun sedikit.

Karena mengganggu kosmetik, dokter menganjurkan untuk dilakukan

operasi eksisi pada daerah tersebut. Pemeriksaan fisik dari tanda vital

didapatkan tekanan darah 120/80 mmHg; nadi 84x/menit; respirasi

18x/menit; suhu 36OC. Dari pemeriksaan laboratorium hematologi yang

dilakukan tanggal 177 oktober 2017 dengan hasil: Hb 12,2 g/dl. Dari hasil

anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang disimpulkan

bahwa pasien masuk dalam ASA I.

Sebelum dilakukan operasi pasien dipuasakan selama 8 jam.

Tujuan puasa untuk mencegah terjadinya aspirasi isi lambung karena

regurgitasi atau muntah pada saat dilakukannya tindakan anestesi akibat

efek samping dari obat- obat anastesi yang diberikan sehingga refleks

33
laring mengalami penurunan selama anestesia. Penggantian puasa juga

harus dihitung dalam terapi.

Operasi Eksisi dilakukan pada tanggal 19 Oktober 2017. Pasien

masuk keruang OK pada pukul 12.05 WITA dilakukan pemasangan

monitoring tekanan darah, nadi, saturasi O2 dengan hasil TD 110/70

mmHg; Nadi 86 x/menit, dan SpO2 99%. Dilakukan injeksi Midazolam 2

mg, Ranitidine 50 mg, Ondansentron 4 mg, sulfas atropin 0,25 mg dan

Ketorolac 30 mg. Penggunaan premedikasi pada pasien ini betujuan untuk

menimbulkan rasa nyaman pada pasien dan mempermudah induksi dengan

menghilangkan rasa khawatir. Karena dilakukan operasi tonsilektomi,

maka dokter anestesi memilih untuk dilakukan intubasi endotrakeal agar

tidak mengganggu operator sepanjang operasi dilakukan dan supaya

pasien tetap dianestesi dan dapat bernafas dengan adekuat.

Pasien lakukan tindakan pemasangan orotrakeal tube dengan

penggunaan endotrakeal tube kinking no 6 dan telah terpasang pada mesin

anestesi yang menghantarkan gas (Sevoflurane) dengan ukuran 2 vol%

dengan oksigen dari mesin ke jalan napas pasien sambil melakukan

bagging selama kurang lebih 2 menit untuk menekan pengembangan paru

dan juga menunggu kerja dari pelemas otot sehingga mempermudah

dilakukannya pemasangan endotrakheal tube. Penggunaan sevofluran

disini dipilih karena pulih dari anestei lebih cepat dibandingkan isofluran.

Baunya tidak menyengat dan tidak merangsang jalan napas, sehingga

digemari untuk induksi. Efek terhadap kardiovaskular pun cukup stabil

34
dan jarang menyebabkan aritmia. Belum ada laporan toksik terhadap

hepar. Setelah pemberian dihentikan sevofluran cepat dikeluarkan oleh

badan.

Setelah pasien di intubasi dengan mengunakan endotrakheal tube,

maka dialirkan sevofluran 2 vol%, oksigen sekitar 2 l/menit sebagai

anestesi rumatan. Ventilasi dilakukan dengan bagging dengan laju napas

20 x/ menit. Sesaat setelah operasi selesai gas anestesi diturunkan untuk

menghilangkan efek anestesi perlahan-lahan dan untuk membangunkan

pasien. Juga diharapkan agar pasien dapat melakukan nafas spontan

menjelang operasi hampir selesai.

Operasi selesai tepat jam 12.45 WITA. Gas sevofluran dihentikan

karena pasien sudah nafas spontan dan adekuat. Kemudian dilakukan

ekstubasi endotracheal secara cepat untuk menghindari penurunan saturasi

lebih lanjut dengan pemantauan akhir TD 110/70 mmHg; Nadi 82x/menit,

dan SpO2 100%. Pembedahan dilakukan selama 20 menit dengan

perdarahan 15 cc. Pasien kemudian dibawa ke ruang pemulihan

(Recovery Room). Selama di ruang pemulihan, jalan nafas dalam keadaan

baik, pernafasan spontan dan adekuat serta kesadaran composmentis.

Tekanan darah selama 15 menit pertama pasca operasi stabil yaitu 110/70

mmHg.

35
A. PERMASALAHAN DARI SEGI MEDIK

Meningkatnya laju metabolisme tubuh karena radang, dimana

kebutuhan cairan dapat meningkat, sehingga pasien dapat mengalami

dehidrasi. Tanda-tanda radang dapat dilihat dari suhu maupun angka

leukosit. Pada pasien ini suhu tubuh tidak mengalami peningkatan dan

angka leukosit masih dalam batas normal. Hal ini mungkin disebabkan

karena pasien sebelumnya sudah menerima terapi antibiotik.

B. PERMASALAHAN DARI SEGI ANESTESI

1. Pemeriksaan pra anestesi

Pada penderita ini telah dilakukan persiapan yang cukup, antara lain :

a. Puasa lebih dari 6 jam (pasien sudah puasa selama 6 jam) atau 8 jam

b. Pemeriksaan laboratorium darah

Permasalahan yang ada adalah :

Bagaimana memperbaiki keadaan umum penderita sebelum

dilakukan anestesi dan operasi.

Macam dan dosis obat anestesi yang bagaimana yang sesuai

dengan keadaan umum penderita.

36
Dalam mempersiapkan operasi pada penderita perlu dilakukan :

Pemasangan infus untuk terapi cairan sejak pasien masuk RS. Pada

pasien ini diberikan cairan Ringer Laktat 20 tetes per menit,

terhitung sejak pasien mulai puasa hingga masuk ke ruang operasi.

Puasa paling tidak 8 jam untuk mengosongkan lambung, sehingga

bahaya muntah dan aspirasi dapat dihindarkan.

Jenis anestesi yang dipilih adalah general anestesi karena

padakasus ini diperlukan hilangnya kesadaran, rasa sakit, amnesia

dan mencegah resiko aspirasi. Teknik anestesinya dengan

pemasangan endotrakheal tube.

Selama operasi dipasang ET teknik cepat.

2. Premedikasi

a. Sebagai sedatif pada pasien ini diberikan midazolam 1 mg IV

b. Sebagai antiemetic pada pasien diberikan ondansentron 4 mg IV dan

ranitidine 50 mg IV

c. Untuk mengurangi rasa sakit pra bedah dan pasca bedah maka diberikan

ketorolac 30 mg IV

d. Untuk antikolinergik pasien diberikan sulfas atropin 0.25mg IV.

3. Induksi

a. Pemberian fentanyl dengan dosis 100 mcg IV diberikan sebelum

induksi menggunakan propofol.

b. Digunakan Propofol 150 mg IV(dosis induksi 2-2,5mg/kgBB) karena

memiliki efek induksi yang cepat, dengan distribusi dan eliminasi yang

37
cepat. Selain itu juga propofol dapat menghambat transmisi neuron

yang hancur oleh GABA. Obat anestesi ini mempunyai efek kerjanya

yang cepat dan dapat dicapai dalam waktu 30 detik.

c. Pemberian Atracium 25 mg IV sebagai pelemas otot untuk

mempermudah pemasangan Endotracheal Tube.

4. Maintenance

Dipakai N2O dan O2 dengan perbandingan 2L/2L, serta sevofluran 2 vol%.

38
BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Anestesi umum (General anesthesia) disebut juga Narkose Umum

(NU) adalah tindakan meniadakan nyeri secara sentral disertai hilangnya

kesadaran dan bersifat reversible berdasarkan trias anesthesia yang ingin

diperoleh yaitu hipnotik, analgesia, dan relaksasi otot.

Prosedur anastesi umum dan monitoring pasien tidak hanya dilakukan

pada saat operasi tetapi juga mencakap persiapan pra anastesia (kunjungan dan

premedikasi) dan pasca anastesia.

Pemilihan teknik intubasi pada anastesi umum didarkan pada jenis

operasi yang akan dilakukan, usia, jenis kelamin, status fisik pasien,

keterampilan pelaksana anastesi, ketersediaan alat, serta permintaan pasien.

Pasien wanita, usia 17 tahun dengan berat badan 45 kg datang dengan

benjolan pada pangkal hidung kadang diseertai bila di tekan. Benjolan

dirasakan kurang lebih sejak 2 bulan terakhir dan bertambah walaupun sedikit.

Pasien direncanakan tindakan Eksisi.

Pemilihan tindakan anestesi pada pasien ini adalah General Anestesi

Orotrakeal Tube (GA OTT) dengan jenis napas kendali dan hasil pemeriksaan

didapatkan status fisik ASA 1.

39
5.2 Saran

Untuk mencapai hasil yang maksimal dari anastesi, permasalahan

pasien dapat diantisipasi dengan melakukan penilaian atau kunjungan

preanastesia agar dapat dilakukan penentuan terhadap tindakan anastesi yang

akan dilakukan, serta jenis obat yang akan diberikan, selain itu juga dapat

menekan timbulnya komplikasi anastesi baik intra operatif ataupun pasca

operatif.

Optimalisasi penilaian dan persiapan pra anastesia dapat mengurangi

angka kesakitan operasi, mengurangi biaya operasi, dan meningkatkan

kualitas pelayanan kesehatan khususnya terhadap pasien yang akan dioperasi.

40