Anda di halaman 1dari 4

KEJANG-KEJANG PADA MASA ANAK

Kejang-kejang merupakan gangguan neurologis yang lazim pada kelompok umur


pediatri dan terjadi dengan frekuensi 4-6 kasus/1000 anak.Adanya gangguan kejang tidak
merupakan diagnosis tetapi gejala suatu gangguan sistem saraf sentral yang mendasari yang
memerlukan pengamatan menyeluruh dan rencana manajemenKejang (konvulsi)
didefinisikan sebagai gangguan fungsi otak tanpa sengaja paroksismalyang nampak sebagai
gangguan atau kehilangan kesadaran, aktivitas motorik abnormal, kelainan perilaku,
gangguan sensoris, atau disfungsi autonom. Beberapa kejang ditandai oleh gerakan abnormal
tanpa kehilangan atau gangguan kesadaran. Epilepsi didefinisikan sebagai kejang berulang
yang tidak terkait dengan demam atau serangan otak akut.
Anamnesis harus berupaya menentukanfaktor-faktor yang dapat meningkatkan
konvulsi dan memberikan gambaran kejangdan keadaan pascakejang anak. Anak yang
mempunyai kecenderungan berkembang epilepsi dapat mengalami konvulsi pertama bersama
dengan penyakit virus atau demam ringan.
Kejang motorik dapat setempat atau menyeluruh dan tonik klonik, tonik, klonik,
mioklonik, atau atonik. Kejang tonik ditandai dengan peningkatan tonus atau kekakuan, dan
kejang atonik ditandai dengan flaksiditas atau dengan tidak adanya gerakan selama konvulsi.
Kejang klonik terdiri dari kontraksi otot ritmik dan relaksasi, dan mioklonus adalah paling
tepat digambarkan sebagai kontraksi otot mirip syok.
Pemeriksaan anak dengan gangguan kejang harus dimasukkan kearah pencarian
penyebab organik, Tekanan darah dicatat, dan lingkaran kepala, panjang dan berat badan
anak digambarkan pada grafik pertumbuhan dan dibandingkan dengan pengukuran
sebelumnya. Temuan tanda wajah yang ridak biasa atau tanda fisik terkait seperti
hepatosplenomegali mengarah pada penyakit metabolik atau penyakit penyimpanan sebagai
penyebab gangguan neurologis.

KLASIFIKASI KEJANG
Kejang Parsial
Kejang Parsial Sederhana (KPS).
Aktivitas motorik merupakan gejala yang paling lazim pada KPS. Gerakan ditandai
dengan gerakan klonik atau tonik yang tidak sinkron, dan mereka cenderung melibatkan
wajah, leher, dan tungkai.
Emsefalitis Rasmussen.
Ensefalitis radang subakut ini, merupakan salah satu sebab dari epilepsia parsialis
kontinua. Penyakit demam non spesifik yang mendahului, dapat mendahului mulainya
kejang-kejang setempat, yang dapat amat sering atau terus menerus. Mulainya biasanya
sebelum umur 10 tahun.
Kejang Parsial Kompleks (KPK).
KPK dapat dimulai dengan kejang parsial sederhana dengan atau tanpa aura, disertai
dengan gangguan kesadaran atau sebaliknya, mulainya KPK dapat bersama dengan keadaan
kesadaran yang berubah. Aura terdiri dari rasa tidak enak, samar-samar, rasa tidak enak
epigastrium, atau ketakutan ada pada sekitar sepertiga anak dengan KPS dan
KPK.Automatisme merupakan tanda KPK yang lazim pada bayi dan anak, terjadi pada
sekitar 50-75% kasus ; makin tua anak, akan makin besar frekuensi automatisme. Perilaku
automatisme yang diamati pada bayi ditandai dengan automatisme saluran pencernaan,
termasuk menggigit bibir, mengunyah, menelan, dan ludah berlebihan.Penyebaran discharge
(rabas) epileptiformis selama KPK dapat mengakibatkan generalisasi sekunder dengan
konvulsi tonik klonik. Selama penyebaran discharge (rabas) kejang melalui hemisfer,
pemutaran kepala khusus kontralateral, postur distonik, dan gerakan tonik klonik tungkai dan
wajah termasuk kedipan mata dapat ditemukan. Lama rata-rata KPK adalah 1-2 menit, yang
adalah sangat lebih lama daripada KPK atau kejang tidak sadar.
Epilepsi Parsial Benigna dengan Gelombang Paku Sentro Temporal (Benign Partial
Epilepsy with Centrotemporal Spikes [BPEC]).
BPEC adalah tipe epilepsi parsial yang lazim pada masa anak dan mempunyai
prognosis yang sangat baik. Tanda klinis, temuan EEG, dan tidak adanya lesi neuro patologis
adalah khas dan dengan mudah membedakan BPEC dari KPK.BPEC terjadi antara umur 2
dan 14 tahun, dan umur puncak mulai 9-10 tahun.Gejala orofaring meliputi kontraksi tonik
dan parestesia lidah, mati rasa pipi unilateral (terutama sepanjang gusi), suara berisik,
disfagia dan ludah berlebihan.BPEC terjadi selama tidur pada 75% penderita, sedangkan
KPK teramati selama jam-jam bangun.

Kejang Menyeluruh
Kejang-Kejang Linglung (Petit Mal).
Ditandai dengan penghentian aktifitas motorik atau bicara mendadak, dengan
ekspresi wajah kosong, dan kelopak mata berkedip-kedip. Kejang ini tidak lazim sebelum
umur 5 tahun, lebih lazim pada anak wanita; kejang ini tidak permah disertai dengan aura;
kejang ini jarang menetap lebih lama dari 30 detik; dan mereka tidak disertai dengan status
pasca kejang.
Kejang Tonik Klonik Menyeluruh.
Kejang ini sangat lazim dan dapat pascakejang parsial dengan mulainya setempat
(generalisasi sekunder) atau terjadi pada tempat semula (denovo). Kejang dapat disertai
dengan aura yang menunjukkan asal tempat discharge (rabas) epileptiform.
Epilepsi Mioklonik Masa Anak.
Gangguan ini ditandai dengan kejang berulang yang terdiri dari kontraksi otot
sebentar, sering kontraksi otot simetris dengan kehilangan tonus tubuh dan jatuh atau
menelungkup ke depan, yang mempunyai kecenderungan menyebabkan luka pada wajah dan
mulut
Mioklonus Benigna Masa Bayi.
Mioklonus benigna mulai selama masa bayi dan terdiri dari kelompok gerakan
mioklonik yang terbatas pada leher, badan, dan tungkai.
Epilepsi Mioklonik Khas Masa Anak Awal.
Anak berkembang epilepsi mioklonik khas adalah hampir nirmal sebelum mulainya
kejang dengan kehamilan, persalinan dan kelahiran yang tidak luar biasa dan tanda
perkembangan utuh. Umur rata-rata mulainya adalah sekitar 2,5 tahun,namun kisarannya dari
6 bulan sampai 4 tahun.Frekuensi kejang mioklonik bervariasi.
Epilepsi Mioklonik Kompleks.
Epilepsi ini terdiri dari kelompok penyakit yang heterogen dengan prognosis yang
secara seragam buruk.Secara khas kejang tonik klonik setempat atau menyeluruh mulai dari
tahun pertama kehidupan mendahului mulainya epilepsi mioklonik.
Epilepsi Mioklonik Juvenil.
Biasanya mulai umur 12 sampai 16 tahun, dan merupakan 15% dari epilepsi. Lokus
gen telah dikenali pada kromosom 6P. Penderita mencatat jingkatan mioklonik yang sering
pada saat terjaga, yang membuat sukar menyisir rambut dan sikat gigi. Karena mioklonus
cenderung mereda nantinya pada pagi hari, kebanyakan penderita tidak meminta pertolongan
medik pada stadium ini dan beberapa penderita mengingkari episodenya. Beberapa tahun
kemudian, kejang tonik klonik menyeluruh di pagi hari berkembang besama dengan
mioklonusnya.
Epilepsi Mioklonik Progresi.
Kelompok heterogen gangguan genetik yang jarang ini secara seragam mempunyai
prognosis yang buruk. Keadaan ini meliputi penyakit Lafora, epilepsi miklonik dengan
serabut merah compang-camping, sialosis tipe 1, lipofusinosis seroid, penyakit neuropati
juvenil Gaucher dan ditrofi neuroksonal Juvenil.
Spasme Infantil.
Biasanya mulai umur 4 dan 8 bulan dan ditandai dengan kontraksi leher simetris
singkat pada leher, badan dan tungkai. Setidaknya ada 3 tipe infantil : fleksor, ekstensor, dan
campuran. Spasme fleksor terjadi dalam kelompok dan terdiri dari fleksi mendadak leher,
lengan, dan kaki pada tungkai, spasme ekstensor menghasilkan ektensi badan dan tungkai,
dan setidak-tidaknya bentuk spasme infantil biasa. Spasme infantil campuran terdiri dari
fleksi pada beberapa berondongan dan ekstensi pada yang lain, adalah tipe spasme infantil
yang paling lazim. Kelompok kejang dapat menetap selama beberapa menit dengan interval
pendek antara setiap spasme.
Sindrom Landau –Kleffner (SLK).
Ini merupakan keadaan jarang yang etiologinya belum diketahui, lebih lazim pada
anak laki-laki dengan rata-rata mulainya adalah 5,5 tahun. Sindrom ini ditandai dengan
kehilangan kemampuan berbicara pada anak yang sebelumnya normal.