Anda di halaman 1dari 76

Isu tentang bahan bakar dan polusi udara akibat kendaraan bermotor

merupakan alasan utama saat ini kendaraan bermotor bensin dengan sistem
karburator sudah jarang diproduksi. Produsen kendaraan beralih dari sistem
bahan bakar karburator ke sistem injeksi. Aplikasi teknologi injeksi bahan
bakar pada motor bensin merupakan salah satu upaya menciptakan
kendaraan yang rendah emisi, ekonomis dalam pemakaian bahan bakar dan
meningkatkan performa mesin.
Kelebihan Sistem Injeksi Bahan Bakar dibandingkan dengan sistem
karburator antara lain:
1) Pengabutan bahan bakar lebih baik, karena bahan bakar dikabutkan oleh
2
injektor dengan tekanan tinggi ( 2,5 kg/cm ), pengabutan terjadi tiap
silinder yang menjamin homogenitas campuran lebih baik.
2) Komposisi campuran sesuai dengan putaran dan beban mesin dan
dikontrol dengan akurat secara elektronik berdasarkan masukan dari
berbagai sensor
Dengan kelebihan tersebut memungkinkan pembakaran campuran bahan
bakar dengan udara di dalam silinder lebih sempurna sehingga bahan bakar
lebih hemat, tenaga mesin lebih besar dan emisi gas buang lebih rendah.

A. Macam Sistem Injeksi Bahan Bakar


Sistem injeksi bahan bakar merupakan sistim yang proses pengabutan
bahan bakar dengan metode di injeksikan. Sistem injeksi bahan bakar dapat
diklasifikasikan menjadi:
1. Berdasarkan lokasi injektor
a.TBI (Throttle Body Injection)
Pada tipe ini injektor berada di
throttle body atau venturi dengan
jumlah injektor satu buah. Sistem
injeksi tipe ini juga disebut sistem
mono injection. Sistem injeksi
tipe ini merupakan konsep awal
aplikasi sistem injeksi pada
Gambar 1. TBI (Bonnick,2001)
motor bensin.
b. MPI (Multi Point Injection)
Pada tipe ini injektor dipasang pada manifold mengarah ke katup masuk,
jumlah injektor sejumlah silinder. Pada saat ini hampir semua sistem
injeksi menggunakan konsep MPI.

1
Gambar 2. MPI

c. GDI (Gasoline Direct Injection)


Pada tipe ini injektor dipasang di kepala silinder, injektor menyemprot ke
ruang bakar, banyak injektor sejumlah silinder.

Gambar 3. Mesin GDI (Mitsubishi)

2. Berdasarkan Sistem Kontrolnya


a. Kontrol Mekanik
Sistem injeksi bahan bakar motor bensin tipe K Jetronic merupakan sistem
injeksi kontrol mekanik. Pada sistem ini injektor menyemprotkan bensin
secara terus-menerus dalam setiap saluran masuk silinder motor.
Pengontrolan jumlah injeksi bahan bakar ke setiap saluran masuk ditakar
oleh plunyer pengontrol (control plunger) yang terletak di distributor bahan
bakar dan pengontrolan udara dilakukan oleh air flow sensor.
Gambar 4. Sistem Injeksi K-Jetronic

b.Kontrol Elektronik (Electronic Fuel Injection /EFI)


Aplikasi teknologi kontrol elektronik memungkinkan pengontrolan injeksi
bahan bakar lebih akurat sehingga sistem injeksi motor bensin dengan
kontrol elektronik pada saat ini paling banyak digunakan. Sistem injeksi
kontrol elektronik atau Electronic Fuel Injection (EFI) secara umum
dikelompokkan menjadi 2 yaitu:

1). L Jetronic atau EFI-L


Kode L berasal dari bahasa Jerman Luft yang berarti udara. Pada EFI-L
Jetronic, kontrol injeksi dilakukan secara elektronik oleh Electronic Control
Unit (ECU) berdasarkan jumlah udara yang masuk. Sensor untuk
mengukur jumlah udara dengan mengukur aliran udara yang masuk ke
dalam silinder menggunakan Air Flow Meter (AFM)
2). D Jetronic atau EFI-D
Kode D berasal dari bahasa Jerman Drunk yang berarti tekanan. Pada
EFI-D Jetronic, kontrol injeksi dilakukan secara elektronik oleh Electronic
Control Unit (ECU) berdasarkan jumlah udara yang masuk. Sensor untuk
mengukur jumlah udara yang masuk ke dalam silinder dengan mengukur
tekanan atau kevaccuman pada intake manifold menggunakan Manifold
Absolute Pressure Sensor (MAP Sensor) atau Vacuum sensor.

Gambar 5. EFI D-Jetronic dan L-Jetronic (Toyota)


1. Tangki BB 8. Throttle 14.Water temp. Sensor
2. Pompa BB 9. Throttle Position sensor 15. Idle Speed Control
3. Saringan BB 10. Skerup penyetel idle 16.Crank sensor
4. Pipa deliveri 11. Penyetel CO 17.Kontak
5. Regulator tekanan 12. ECU 18.Ignition coil
6. Injektor 13. Injektor saat dingin 19.fuel pum relay
7. Air Flow meter

Gambar 6. Komponen EFI L-Jetronic


Swit peng pian Swit start netral

Konektor oek
ITe1 -E1)

Kompresor AC
Pompa
bensin
r------ Swit
lampu rem

Swit lampu besar


ECU
Distributor

Starter

Slringan
udara

Sensor
temp. udara mas

Regulator tekanan
bensin

Resistor variable

Swit pembatas waktu injektor start dingin

Gambar 7. EFI D-Jetronic

1
B. Bagian-Bagian Sistem Injeksi Bahan Bakar Kontrol Elektronik
Sistem injeksi bahan bakar kontrol elektronik atau Electronic Fuel Injection
(EFI) dapat dikelompokan menjadi 3 kelompok sistem dasar, yaitu:
a. Sistem bahan bakar (Fuel System):
Sistem bahan bakar berfungsi untuk mensuplay bahan bakar tekanan
tinggi pada pipa deliveri (delivery pipe) pada tekanan konstan sehingga
siap diinjeksikan.
b. Sistem induksi (Air Induction System):
Sistem induksi berfungsi untuk mengontrol jumlah udara yang masuk
kedalam silinder.
c. Sistem kontrol elektronik (Electronic Control System):
Sistem kontrol elektronik berfungsi untuk mengontrol jumlah bahan bakar
yang di injeksikan ke dalam silinder berdasarkan dari masukan sensor
yang ada.

1. Sistem Bahan Bakar (Fuel System)


a. Prinsip dan fungsi sistem bahan bakar
Sistem bahan bakar berfungsi untuk mensuplay bahan bakar tekanan
tinggi pada pipa deliveri (delivery pipe) pada tekanan konstan sehingga siap
diinjeksikan. Komponen sistem bahan bakar antara lain: Tangki bahan bakar
(fuel tank), pompa bahan bakar (fuel pump), pipa bahan bakar (fuel pipe),
saringan bahan bakar (fuel filter), damper pulsa (pulsation damper), pipa
deliveri (delivery pipe), regulator tekanan (pressure regulator), pipa
pengembali (return pipe). Tata letak komponen dapat dilihat pada gambar di
bawah.

Gambar 8. Tata letak komponen sistem bahan bakar EFI


Prinsip kerja sistem bahan bakar adalah sebagai berikut: saat mesin
distarter atau mesin hidup maka pompa bahan bakar (fuel pump) bekerja
menghisap bahan bakar dari tangki (fuel tank) dan menekan ke pipa deliveri
(delivery pipe) dengan terlebih dahulu disaring oleh saringan bahan bakar
(fuel filter). Bila tekanan bahan bakar melebihi batas yang ditentukan maka
regulator akan membuka dan bahan bakar akan mengalir ke tangki melalui
saluran pengembali (return pipe). Injektor dihubungkan ke pipa deliveri
sehingga saat jarum injektor membuka maka injektor akan mengabutkan
bakan bakar ke arah katup hisap, saat katup hisap terbuka maka bahan bakar
yang dalam benuk kabut dan udara masuk ke dalam silinder dan bercampur.
Untuk lebih jelasnya aliran bahan bakar dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 9. Aliran bahan bakar pada sistem EFI (digambar ulang dengan foto komponen)

b. Komponen Sistem Bahan Bakar EFI


1). Tangki Bahan Bakar
Tangki bahan bakar berfungsi sebagai penampung bahan bakar,
kapasitas tangki bahan bakar tergantung jenis kendaraannya.

2). Pompa Bahan Bakar


Pompa bahan bakar berfungsi untuk menghisap bahan bakar dari tangki
dan menekannya ke pipa deliveri. Pompa bahan bakar yang digunakan
pada sistem EFI adalah pompa listrik tekanan tinggi tipe motor (gerak putar),
berbeda dengan pompa listrik pada sistim karburator merupakan pompa
listrik gerak bolak-balik.

a) Jenis pompa bahan bakar EFI ada 2 macam yaitu:


(1). External Tank Type (In Line Type)
Pompa jenis ini diletakkan di luar tangki bahan bakar. Konstruksi pompa
terdiri dari 4 bagian yaitu:
1). Motor listrik
2). Pompa menggunakan roller
3). Pengaman yaitu check valve dan relief valve
4). Saringan
5). Sillencer untuk meredam suara bising dari pompa saat bekerja.
Pada saat ini pompa jenis ini sudah jarang digunakan.

Gambar 10. External Pump Type (Toyota)

(2). Internal -Tank Type (Impeller Type)


Pompa diletakkan di dalam tangki bahan bakar, sehingga posisi pompa
terendam bahan bakar. Kelebihan tipe ini antara lain pendinginan lebih baik
karena pompa terendam dalam cairan bahan bakar. Peluang pompa tidak
berfungsi akibat saluran hisap bocor lebih kecil.
Konstruksi pompa terdiri dari 4 bagian yaitu:
1). Motor listrik
2). Pompa turbin
3). Pengaman yaitu check valve dan relief valve
4). Saringan
Gambar 11. Pompa Internal Tank Type

b). Kelistrikan Pompa Bahan Bakar


Kelistrikan pompa bahan bakar terdiri dari beberapa komponen, seperti
gambar berikut:

Gambar 13. Rangkaian kelistrikan pompa bahan bakar (WWW.Autoshop101.Com)

Saat kunci kontak ON namum mesin mati maka pompa bahan bakar tidak
bekerja. Pada saat itu relay utama bekerja namun relay pompa tidak bekerja
karena lilitan (L1 maupun L2) tidak dialiri listrik.
Saat mesin di starter maka listrik dari terminal ST kunci kontak mengalir ke
STA relay, ke L2 relay pompa, ke E dan ke massa, relay pompa bekerja.
Listrik mengalirkan listrik dari B+ ke FP terus ke pompa sehingga pompa
bekerja. Saat mesin sudah hidup maka distributor mengirim signal Ne ke
ECU, selanjutnya ECU mengaktifkan Tr sehingga terminal FP berhubungan
dengan E. Adanya hubungan FP dengan E menyebabkan adanya aliran
listrik melalui L1 relay pompa sehinggan relay pompa bekerja. Listrik
mengalirkan listrik dari B+ ke FP terus ke pompa sehingga pompa bekerja
Dari uraian tersebut Pompa dapat bekerja pada saat mesin distarter atau
mesin telah hidup, hal ini sebagai upaya pengamanan dan upaya untuk
mengurangi kosumsi energi listrik.
Upaya menghidupkan pompa saat mesin mati dapat dilakukan dengan me-
jumper terminal FP dan +B pada kotak diagnosis. Fasilitas ini diberikan agar
pompa bahan bakar dapat dihidup saat mesin mati sehingga tekanan kerja
cepat terpenuhi. Fasilitas tersebut digunakan setelah mengganti komponen
sistem bahan bakar atau saat melakukan pengetestan tekanan bahan bakar
maka pompa
3). Saringan Bahan Bakar (Fuel Filter)
Saringan bahan bakar berfungsi untuk menyaring kotoran pada bensin
agar tidak menyumbat injektor. Saringan bahan bakar dipasang setelah
pompa bahan bakar. Saat pemasangan saringan bahan bakar harus
memperhatikan tanda pemasangan yang terdapat pada bodi saringan
bahan bakar.

Tanda pemasangan pada bodi filter


Konstruksi filter

Gambar 14. Fuel filter (foto lagi)


4). Pipa deliveri (Delivery pipe)
Pipa deliveri merupakan pipa yang berhubungan dengan injektor,
berfungsi sebagai penampung bahan bakar tekanan tinggi bagi injektor. Pada
bagian pipa yang berhubungan dengan injektor sering bocor sehingga mesin
boros, kebocoran disebabkan oleh mengerasnya seal injektor dan
pemasangan yang miring.

Gambar 15. Pipa deliveri (Foto lagi)

5). Regulator Tekanan (Pressure Regulator)


Regulator tekanan berfungsi untuk mengatur tekanan bahan bakar pada
pipa deliveri agar tekanan tetap stabil. Besar tekanan bahan bakar diatur
2
sebesar 2,3-2,6 kg/cm . Bila tekanan melebihi batas yang ditentukan maka
katup (valve) regulator tekanan akan membuka dan bahan bakar dialirkan ke
tangki kembali.

Gambar 16. Regulator tekanan (Toyota)


Injektor menyemprotkan bahan bakar ke manifold, sehingga perbedaan
tekanan yang harus dijaga stabil adalah perbedaan tekanan antara bahan
bakar pada pipa deliveri dengan tekanan manifold, oleh karena itu pada
regulator terdapat ruang diafragma yang dihubungkan dengan tekanan
manifold agar perbedaan tekanan antara bahan bakar pada pipa deliveri
dengan tekanan manifold relative tetap.

6). Injektor
Injektor berfungsi untuk menginjeksikan bahan bakar ke arah katup hisap,
bahan bakar keluar dari injektor dalam bentuk kabut. Jumlah bahan bakar
yang diinjeksikan tergantung dari tekanan bahan bakar, besar lubang injektor
dan lama injektor membuka. Pembukaan injektor dilakukan secara
electromagnetic, yaitu dengan mengalirkan listrik pada lilitan injektor. Saat
listrik mengalir ke lilitan injektor maka lilitan menjadi magnet, dan magnet
menarik katup jarum pada injektor, lubang injektor terbuka dan injektor
menginjeksikan bahan bakar. Pengaturan kapan dan berapa lama listrik
dialirkan ke injektor dilakukan oleh ECU berdasarkan kondisi kerja mesin dari
masukan sensor-sonsor yang ada.

Gambar 17. Konstruksi injector (Toyota)

2. Sistem Induksi Udara ( Air Induction System )


Sistem induksi udara berfungsi untuk mengalirkan udara ke dalam silinder
yang diperlukan untuk proses pembakaran. Komponen sistem induksi udara
terdiri dari: saringan udara, air flow meter (untuk EFI-L), throttle body, air valve,
air intake chamber (intake manifold).

Gambar 18. Tata letak komponen sistem induksi (Toyota)

Aliran udara yang masuk ke dalam silinder adalah sebagai berikut:

Gambar 19. Aliran udara pada sistem induksi (gambar ulang)


Komponen Sistem Induksi
a. Saringan Udara
Saringan udara berfungsi untuk
menyaring debu atau kotoran agar
tidak masuk ke silinder. Saringan
harus dibersihkan setiap perawatan
berkala (tiap 3000-5000 km). Cara
membersihkan dengan menyemprot
dengan udara bertekanan dari arah
Gambar 20. Membersihkan
berlawanan dengan aliran udara
saringan udara (Foto lagi)
masuk saat terpasang.

b. Air Flow Meter


Air flow meter berfungsi untuk mengukur jumlah udara yang masuk ke
dalam silinder.

Gambar 21. Air flow meter (Toyota)

Saat pedal gas ditekan maka throttle valve membuka lebih lebar, sehingga
jumlah udara yang masuk lebih banyak, aliran udara menggerakkan sensor air
flow meter bergerak membuka lebih besar, gerakan tersebut merubah nilai
tahanan pada air flow meter. Perubahan tahanan tersebut dideteksi oleh ECU,
untuk dikonversi menjadi jumlah udara yang masuk ke dalam silinder.

c. Throttle Body
Throttle body merupakan bagian yang mengatur jumlah udara yang masuk ke
dalam silinder. Throttle body terdiri dari:
Katup throttle (Throttle valve) : digerakkan oleh pedal gas untuk
mengatur jumlah udara yang masuk ke silinder.
Throttle position sensor: mensensor posisi katup throttle
Sekerup penyetel kecepatan idle: menyetel putaran idle mesin
Air Valve : menaikan putaran idle saat mesin masih dingin.

Gambar 22. Throttle body dengan air valve tipe wax (Toyota)

Terdapat 2 model air valve:


1). Tipe Wax
Prinsip kerja air valve tipe Wax adalah saat temperatur air dingin, thermo
valve mengkerut sehingga gate valve terbuka, udara yang masuk ke silinder
lebih banyak, kondisi ini dideteksi oleh ECU, sehingga ECU memberikan
signal ke injektor untuk menginjeksikan bensin lebih banyak, bertambahnya
jumlah injeksi menyebabkan putaran mesin lebih tinggi. Saat mesin sudah
panas thermo valve memuai sehingga gate valve menutup, udara yang masuk
ke silider berkurang, jumlah injeksi berkurang, dan putaran mesin turun.

2). Tipe Bimetal


Saat mesin hidup dalam
kondisi dingin maka bimetal valve
membuka saluran lebih besar
sehingga udara yang masuk ke
silinder lebih banyak dan putaran
mesin lebih tinggi. Saat mesin
semakin panas bimetal valve
berangsur-angsur menututup
sehingga putaran mesin turun.

Gambar 23. Air valve bimetel


d. Intake Manifold
Intake manifold merupakan saluran masuk udara ke dalam silinder, pada
intake manifold terdapat intake chamber, yang berfungsi sebagai stabilizer
aliran udara yang akan masuk ke dalam silinder, hal ini dikarenakan udara
mengalir ke dalam silinder hanya saat katup masuk terbuka sehingga terjadi
fluktuasi aliran yang menyebabkan akurasi pengukuran jumlah udara yang
masuk berkurang.
Terdapat dua model intake manifold EFI, yaitu:
Model integrated type (menyatu)
Model separated type (terpisah)

Gambar 24. Konstruksi intake manifold (ganti Foto)

3. Sistem Kontrol Elektronik


Sistem kontrol elektronik merupakan bagian sistem EFI yang berfungsi
mengontrol jumlah injeksi bahan bakar dan saat pengapian sesuai dengan
kondisi kerja mesin. Pemanfaatan elektronik sebagai pengontrol sistem injeksi
memungkinkan dihasilkan akurasi campuran bahan bakar dan saat pengapian
yang paling optimal, sehingga kosumsi bahan bakar ekonomis, emisi gas
buang rendah dan performa mesin optimal. Bagan sistem pada sistem kontrol
injeksi dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 25. Komponen sistem kontrol injeksi WWW .Autoshop101.Com )

Sistem kontrol elektronik dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:


Sensor berfungsi untuk mendeteksi kondisi kendaraan sebagai
masukan ECU
Electronic Control Unit (ECU) berfungsi untuk memproses masukan
dari sensor untuk mengontrol actuator
Actuator merupakan bagian yang dikontrol oleh ECU untuk melakukan
aktifitas sesuai kontrol dari ECU.
a. Sensor
Sensor berfungsi untuk mendeteksi kondisi kendaraan yang dibutuhkan
ECU untuk menentukan jumlah injeksi bahan bakar dan saat pengapian.
Terdapat banyak sensor yang digunakan oleh mesin EFI. Beberapa sensor
yang digunakan dann fungsinya adalah sebagai berikut:
1). Air Flow Meter
Air flow meter berfungsi mengukur jumlah udara yang masuk ke dalam
silinder sebagai dasar ECU menentukan jumlah injeksi. Misal agar campuran
ideal yaitu 15 : 1, maka air flow meter mendeteksi jumlah udara yang masuk
ke silinder 15 g maka ECU akan mengontrol injektor untuk menginjeksikan
bahan bakar 1 g. Air flow meter digunakan pada EFI-L.
Air flow meter dipasang setelah saringan udara. Air flow meter terdiri dari :
Potensio meter yang nilai tahanannya berubah sesuai degan
perubahan bukaan measuring plate.
Measuring plate yang bergerak sesuai dengan aliran udara yang
masuk, semakin banyak udara yang masuk semakin lebar bukaan
measuring plate.
Idle mixture adjusting srew merupakan sekrup untuk menyetel
campuran udara saat putaran idle.
By-pass merupakan saluran udara yang masuk ke dalam silinder yang
tidak melalui measuring plate.

Gambar 26. Kontruksi air flow meter (Toyota)

Terdapat dua model rangkaian potensio meter pada air flow meter,
yaitu:
Model A.
Semakin besar bukaan measuring plate, semakin tinggi tegangan pada
terminal Vs pada air flow meter. Rangkaian kelistrikan dan hubungan
bukaan dengan tegangan Vs adalah sebagai berikut:

Gambar 27. Rangkaian air flow meter model A


Semakin tinggi tegangan pada terminal signal VS, mengindikasikan
semakin banyak jumlah udara yang masuk.
Model B
Semakin besar bukaan measuring plate, semakin rendah tegangan pada
terminal Vs pada air flow meter. Semakin rendah tegangan pada terminal
signal VS, mengindikasikan semakin banyak jumlah udara yang masuk.
Rangkaian kelistrikan dan hubungan bukaan dengan tegangan Vs adalah
sebagai berikut:

Gambar 28. Rangkaian air flow meter model B

Pemeriksaan air flow meter dapat dilakukan dengan mengukur tegangan


terminal-terminal pada air flow meter, maupun mengukur nilai tahanan
menggunakan Ohm meter. Contoh pemeriksaan air flow meter dengan Ohm
meter adalah sebagai berikut:
Gambar 29. Memeriksa air flow meter (Toyota)

2). Manifold Absolute Pressure Sensor (MAP Sensor)


MAP sensor mengukur jumlah udara yang masuk ke dalam silinder
berdasarkan tekanan udara pada intake manifold yang digunakan pada
EFI-D. Sensor ini sering disebut Pressure Intake Manifold sensor (PIM)
atau Vacuum sensor. Data dari MAP sensor sebagai dasar untuk
menentukan jumlah injeksi dan saat pengapian, kelebihan utama MAP
sensor dibandingkan air flow meter dalam mengukur jumlah udara adalah
komponen mekanis lebih sedikit, tidak terpengaruh terhadap kebocoran
pada manifold dan perubahan tekanan udara luar.

MAP sensor merupakan piezoresistive silicon chip yang nilai tahanannya


berubah akibat perubahan tekanan dan sebuah Integrated Circuit (IC). MAP
sensor dihubungkan ke intake manifold menggunakan slang.atau dipasang
pada intake manifold. Konstruksi dan rangkaian MAP sensor adalah sebagai
berikut:
Gambar 30. Konstruksi dan rangkaian MAP sensor

Gambar 31. Konstruksi dan rangkaian MAP sensor

Terdapat 3 terminal pada MAP sensor yaitu terminal:


Terminal VC sebagai terminal catu daya dengan tegangan 5 V.
Terminal PIM merupakan signal tegangan yang menghambarkan
perubahan tekanan intake manifold
Terminal E2 sebagai terminal massa
Semakin besar kevakuman (semakin rendah tekanan) pada intake
manifold maka tahanan pada MAP sensor lebih tinggi, sehingga tegangan
pada terminal PIM semakin kecil. Hubungan tegangan terminal PIM dengan
tekanan pada intake manifold adalah sebagai berikut:
Gambar 32. Hubungan tegangan terminal PIM dengan tekanan
pada intake manifold.

3). Throttle Position Sensor


Throttle position sensor (TPS) dipasang pada throttle body, berfungsi untuk
mendeteksi posisi bukaan katup gas. Terdapat 2 model TPS, yaitu:

a). Model Contact Point


TPS model ini mempunyai 3 terminal, yaitu IDL, TL dan PSW. Teminal IDL
dan TL berhubungan pada bukaan 0-5 sebagai indikasi putaran idle dan
perlambatan. Teminal TL berhubungan dengan PSW mulai 50 bukaan
katup, sebagai indikasi beban tinggi (full load). Rangkaian dan
pemasangan TPS adalah sebagai berikut:

Gambar 33. TPS model contact point


Model Resistor
TPS model resistor merupakan variable resistor yaitu resistor yang nilai
tahanannya berubah sebanding dengan perubahan bukaan throttle. TPS
model ini juga disebut TPS model linier. Rangkaian kelistrikan TPS linier
adalah sebagai berikut:

Gambar 34. TPS model resistor

4). Intake Air Temperature Sensor (IATS)


Intake Air Temperature Sensor (IATS) berfungsi untuk mendeteksi
temperatur udara yang masuk ke dalam silinder. IATS dipasang dekat rumah
saringan udara. Pemasangan dan rangkaian IATS adalah sebagai berikut:

Gambar 35. Pemasangan dan rangkaian Intake Air Temperatur Sensor (foto ganti)

Intake air temperature sensor merupakan thermistor, yaitu resistor yang nilainya
berubah sesuai temperatur, jenis thermistor adalah Negative Temperature
Coefficient (NTC) yaitu semakin tinggi temperatur semakin rendah nilai resistor.
Pemeriksaan IATS dapat dilakukan dengan mengukur nilai resistor
menggunakan Ohm meter pada terminal THA dengan E2, dan mengukur
temperatur udara, nilai resistor hasil pengukuran yang benar dapat dilihat dari
grafik hubungan nilai resistor dengan temperatur pada gambar di bawah.
Contoh nilai resistor pada temperatur 20 C kurang lebih 2 k. Konstruksi, nilai
resistor dan cara memeriksa IATS adalah sebagai berikut:

Gambar 36. Konstruksi dan nilai resistor Intake Air Temperature Sensor

5). Water Temperature Sensor (WTS)


Water Temperature Sensor (WTS) berfungsi untuk mendeteksi
temperature mesin melalui air pendingin mesin. WTS dipasang dekat rumah
thermostat atau saluran pendingin, dimana ujung sensor berhubungan
dengan air pendingin. Pemasangan dan rangkaian WTS adalah sebagai
berikut:

Pemasangan WTS Konstruksi WTS

Gambar 37. Pemasangan dan rangkaian Water Temperatur Sensor


Sama halnya dengan IATS maka WTS merupakan thermistor, yaitu resistor
yang nilainya berubah sesuai temperature, jenis thermistornya adalah
Negative Temperature Coefficient (NTC) yaitu semakin tinggi temperatur
semakin rendah nilai resistor. Nilai resistor kurang 0,2 k pada temperatur
mesin normal (90 C). Konstruksi WTS dan hubungan temperatur dan nilai
resistor adalah sebagai berikut:

Gambar 38. Konstruksi WTS dan hubungan temperatur dan nilai resistor

6). Oxygen Sensor


Oxygen sensor digunakan untuk mendeteksi gas buang, untuk
menentukan apakah campuran udara bahan bakar (AFR) terlalu kaya,
terlalu miskin atau sudah campuran ideal. Berdasarkan masukan oxygen
sensor bila campuran terlalu kaya maka ECU akan mengurangi injeksi dan
sebaliknya bila campuran miskin maka ECU akan menambah injeksi bahan
bakar. Pemasangan sensor pada saluran buang seperti gambar di bawah:

Gambar 39. Lokasi pemasangan oxygen sensor


Kontruksi oxygen sensor terdiri dari Zircomium (ZrO2) (semacam matrial
keramik) dan dilapisi dengan platina pada bagian luar maupun dalamnya. Jika
kosentrasi pada bagian dalam dan bagian luar ZrO2, maka akan membentuk
tegangan 0 1V. Campuran kurus terdapat banyak oxygen pada gas buang
sehingga menghasilkan tegangan rendah (0,1 -0,4 V), campuran kaya
kandungan oxygen pada gas buang rendah sehingga oxygen sensor
menghasilkan tegangan lebih tinggi (0,6 - 1 V). Campuran stoichiometric
(14,7:1) tegangan oxygen sensor 0,45V.

Gambar 40. Kontruksi oxygen sensor

Berdasarkan input dari oxygen sensor melalui terminal Ox, ECU menambah
atau mengurangi volume injeksi sehingga diperoleh campuran stoichiometric.

Gambar 41. Rangkaian oxygen sensor


7). Variable Resistor
Variable resistor merupakan komponen yang digunakan pada
kendaraan yang tidak dilengkapi catalytic conventer. Variable resistor
sebagai ganti oxygen sensor. Pada kendaraan yang menggunakan oxygen
sensor penyetelan campuran bahan bakar dilakukan secara otomatis
sesuai signal dari oxygen sensor, namun pada kendaraan yang tidak
menggunakan oxygen sensor dilakukan dengan menyetel variable resistor.
Variable resistor juga sering disebut CO adjuster, karena komponen ini
untuk yang digunakan untuk menyetel kosentrasi CO.

Gambar 42. Rangkaian variable resistor

8). Distributor Signal


Distributor signal merupakan signal yang dihasilkan distributor sebagai
masukan bagi ECU untuk menentukan putaran mesin dan sudut engkol.
Berdasarkan input distributor signal yang ke ECU maka ECU menentukan
ignition timing dan injection timing. Terdapat 2 model distributor signal,
yaitu: model signal generator dan model photo diode.
Model Signal Generator
Distributor signal model signal generator mempunyai ciri pada
distributor terdapat pembangkit gelombang listrik (signal generator).
Signal generator terdiri dari pick up coil dan reluctor atau signal rotor
yang dipasang pada poros distributor. Saat poros distributor berputar
maka reluctor akan melewati pick up coil, sehingga pick up coil
menghasilkan gelombang listrik.

Gambar 43. Kontruksi signal generator

Pada distributor terdapat 2 signal generator, yaitu NE signal


dengan 24 gigi reluctor yang membangkitkan gelombang listrik dengan
selisih 30 engkol. Signal ini berfungsi sebagai sensor posisi sudut
engkol. Signal generator kedua adalah G signal dengan 4 gigi reluctor
yang membangkitkan gelombang listrik dengan selisih 90 engkol,
signal ini digunakan ECU untuk menentukan timing ignition dan putaran
mesin.
Pada beberapa model kendaraan terdapat juga NE signal dengan
4 reluctor di distributor, dan G signal dengan 2 pick up coil dan 1 reluctor.
Ada pula NE signal dipasang dekat puli poros engkol.
Gambar 44. Rangkaian distributor model signal generator.

Model Photo Diode


Distributor signal model photo diode terdiri dari sebuah piringan
(disc) yang berlubang yang dipasang pada poros distributor, LED (Light
Emitting Diode) dan photo diode. Pada disc terdapat lubang untuk signal
TDC (Top Dead Centre) pada mesin 4 silinder ada 4 lubang, untuk
ludang silinder 1 lubangnya lebih panjang dibanding lubang yang lain.
Deteksi sudut engkol menggunakan 6 lubang.

Gambar 45. Kontrusi disc pada distributor signal model photo diode

Saat kunci kontak ON, LED akan menyala, bila posisi LED tepat lubang
disc dan sinar LED mengenai photo diode sehingga photo diode akan
ON, sedangkan saat sinar terhalang oleh disc maka photo diode akan
OFF. Dengan demikian saat mesin hidup maka distributor berputar dan
photo diode akan menghasilkan signal ON/OFF yang dialirkan ke ECU.
Gambar 46. Rangkaian distributor signal model photo diode (Mitsubishi)

9)Speed Sensor
Speed sensor berfungsi untuk mendeteksi kecepatan kendaraan.
Adanya speed sensor maka ECU memperoleh informasi yang lebih lengkap
tentang kondisi kendaraan. Dengan kombinasi informasi dari TPS, MAP
sensor maupun NE signal, dan speed sensor maka ECU dapat mengetahui
apakah kendaraan pada saat itu sedang dipercepat, diperlambat, saat idle
atau saat beban berat.

Gambar 47. Rangkaian speed sensor

Speed sensor merupakan reed switch yang dipasang pada meter


kombinasi, reed switch akan ON/OFF akibat gaya magnet, Saat kabel
speedometer berputar maka magnet ikut berputar, saat magnet mendekati
reed switch menyebabkan reed switch ON dan saat magnet menjauhi reed
switch maka reed switch akan OFF, dengan demikian reed switch akan
ON/OFF selama speedometer berputar. Signal dari speed sensor dikirim ke
ECU untuk menentukan kecepatan kendaraan. Pada kecepatan 20 km/h
gelombang yang dihasilkan pada terminal SPD dan terminal E1 adalah 20
mdet/div.

10). Knock Sensor


Knock sensor berfungsi mendeteksi getaran blok silinder akibat knocking.
Knock sensor dipasang pada blok silinder. Knock sensor terdiri dari
piezoelectric element dan sebuah diafragma.

Gambar 48. Konstruksi dan lokasi knock sensor

Bila terjadi getaran pada blok silinder akibat terjadi knocking maka diafragma
pada knock sensor akan bergetar menggerakan piezoelectric element, dan
piezoelectric element menghasilkan tegangan, besar tegangan yang
dihasilkan sebanding dengan intensitas getarannya. Signal yang dihasilkan
knock sensor selanjutnya dikirim ke ECU, dan ECU akan memperlambat
timing ignition berdasarkan intesitas knocking

Gambar 49. Rangkaian dan signal dari knock sensor


11). Starter Signal
Starter signal berfungsi sebagai signal bagi ECU bahwa pada saat
tersebut motor sedang starter. Berdasarkan masukan tersebut ECU akan
menambah jumlah injeksi bahan bakar untuk memperkaya campuran
bahan bakar sehingga mesin lebih mudah dihidupkan.

Gambar 50. Rangkaian signal starter

12). Air Conditioning (AC) Signal


.

Gambar 51. Rangkaian kelistrikan AC

Air Conditioning (AC) Signal memberikan informasi bagi ECU bahwa AC sedang
dihidupkan. Berdasarkan masukan tersebut maka ECU akan mengontrol Idle
Speed Control (ISC) menambah jumlah udara yang masuk melalui ISC.
Meningkatnya jumlah udara akan dideteksi oleh MAP sensor dan MAP sensor
memberikan masukan ke ECU untuk menambah injeksi sehingga mesin berputar
lebih tinggi. Hal tersebut sebagai upaya mencegah mesin mati saat AC dihidupkan
pada putaran idle

b. Electronic Control Unit ( ECU )


Electronic Control Unit merupakan microcomputer yang berfungsi untuk
mengontrol sistem kelistrikan pada kendaraan. ECU sering juga disebut
Electronic Control Module (ECM) dan Electronic Management System (EMS)
karena bagian tersebut yang mengatur sistem secara elektronik.

Gambar 52. Konstruksi ECU Toyota 5A-FE

Secara skematik ECU dapat diambarkan sebagai berikut:


Gambar 53. Sistem pada computer (Mitsubishi)

Input ECU dari sensor-sensor yang telah dibahas di atas. Sensor tersebut
dikelompokan menjadi 2 yaitu:
Sensor dengan signal analog
Signal dengan perubahan kontinyu. Misal: intake air temperature sensor,
air flow meter, throttle position sensor, MAP sensor, water temperature
sensor, knock sensor maupun NE signal. Signal dari sensor tersebut
dirubah oleh rangkaian A/D converter menjadi signal digital.

Gelombang analog ke digital

Gambar 54. Merubah signal analog menjadi digital

Sensor dengan signal digital


Signal digital yaitu signal dengan 2 kondisi, yaitu: 0 atau 1, ON-OFF,
atau tinggi-rendah. Misal: starter signal, ECU akan mendapat signal 1
saat mesin distarter dan mendapat signal 0 saat mesin mati. Distributor
signal tipe photo diode menghasilkan signal digital karena membangkitkan
signal gelombang kotak.
Sensor-sensor memberi masukan ke microcomputer, berdasarkan
masukan tersebut microcomputer melakukan proses perghitungan dan
penyesuaian sesuai dengan program-program yang ada, guna
menentukan signal keluar ke actuator. Pada bagian microcomputer
terdapat bagian:
CPU (Central Processing Unit)
Melakukan proses penghitungan data masukan dan menyimpan
data tersebut sesuai dengan program yang tersimpan pada ROM.
ROM (Read Only Memory)
Menyimpan program dan data yang diperlukan untuk proses
penghitungan. Meskipun power OFF isi program tetap tersimpan,
tetapi isi program tidak dapat ditulis kembali.
RAM (Random Access Memory)
Menyimpan data sementara saat kendaraan beroperasi, ketika
power OFF maka data akan terhapus.

Output Circuit pada ECU merupakan rangkaian untuk proses penguatan


signal sehingga actuactor dapat difungsikan, rangkaian tersebut biasanya
sebuah transistor yang difugsikan sebagai saklar (switching).

Gambar 55. Rangkaian penguat pada ECU

c. Actuators
Actuactors merupakan bagian yang dikontol oleh ECU guna
melakukan aksi sesuai dengan signal dari ECU. Secara umum actuator ada
dua macam yaitu:
1). Selenoid
Selenoid merupakan penghantar yang dibuat lilitan, bila penghantar
tersebut dialiri listrik maka akan menghasilkan medan magnet untuk
menggerakan sesuatu. Actuactor solenoid merupakan jenis yang paling
banyak digunakan, nama actuactor dan konsep kerjanya adalah sebagai
berikut.

Nama Konsep
kerja
Signal dari ECU menyebabkan coil pada injector menjadi
Injektor magnet dan menarik jarum injector sehingga injector membuka,
dan terjadi injeksi bahan bakar.
Saat mesin putaran idle, dan AC hidup maka ECU mengirim
ISCV (Idle Speed Control signal ke ISCV untuk membuka saluran by-pass, sehingga
Valve) udara yang masuk lebih banyak. Bertambahnya udara yang
masuk dideteksi oleh MAP sensor dan ECU akan menambah
volume injeksi sehingga putaran mesin lebih tinggi.
Saat mesin distarter atau mesin hidup ECU mengirim signal
Relay Fuel untuk menghidupkan relay fuel pump agar pompa bekerja, saat
Pump mesin mati walaupun kontak posisi ON, relay fuel pump mati
sehingga pompa mati.
VSV merupakan solenoid yang digunakan untuk membuka dan
VSV (Vacuum menutup saluran vacuum yang digunakan untuk mengontrol
Switch Valve) sistem tertentu. Aplikasi VSV antara laian untuk idle up AC,
mengoperasikan Evaporation Emission Control System (EVAP),
Exhaust Gas Recirculation (EGR), dan sebagainya.

Konstruksi VSV

Gambar 56. Actuactor VSV pada EGR

2). Motor Stepper


Pada saat ini Idle Speed Control (ISC) banyak yang menggunakan
motor stepper, karena model ini mempunyai akurasi pengontrolan yang lebih
baik, sehingga dihasilkan putaran idle yang paling optimal.
Motor stepper mengatur bukaan ISC valve dengan berputar sampai
125 step. Satu signal pulsa menyebabkan motor berputar 15. Motor stepper
berputar untuk menggerakkan ISC valve maju atau mundur tergantung
signal dari ECU. Bila motor berputar searah jarum jam maka ISC valve
bergerak mundur sehingga jumlah udara yang masuk lebih banyak dan
putaran mesin bertambah. Sebaliknya bila motor berputar belawanan
dengan jarum jam maka ISC valve bergerak maju untuk mengurangi udara
yang mengalir dan putaran mesin berkurang.

Gambar 57. Kontruksi ISC model motor stepper

Gambar 58. Rangkaian motor stepper

C. Diagnosa Sistem Injeksi Bahan Bakar Kontrol Elektronik


Diagnosa merupakan suatu proses untuk menentukan sumber penyebab
gangguan. Realita di lapangan sering seseorang menentukan sumber gangguan
secara coba-coba atau trial and error. Metode ini didasarkan oleh pengalaman
yang sama atau mirip yang perna ia jumpai maupun pengalaman orang lain dalam
mengatasi masalah. Kelemahan terbesar metode ini adalah sangat tergantung
pengalaman diagnoser, bila terjadi salah diagnosis sulit dipertanggungjawabkan,
beban biaya dan resiko kerusakan biasanya ditanggung konsumen, waktu
perbaikan sulit terukur. Metoda coba-coba sangat berisiko dilakukan dalam
mengatasi gangguan pada kendaraan yang menggunakan teknologi system
injeksi bahan bakar kontrol elektronik, karena banyak komponen elektronik yang
sangat rentan terhadap kesalahan.
Kendaraan terdiri dari beberapa sistem, tiap sistem mempunyai fungsi yang
saling melengkapi satu dengan yang lain dalam menghasilkan fungsi utama. Tiap
sistem mempunyai komponen yang saling berhubungan satu dengan yang lain
sehingga sistem dapat berfungsi. Kegagalan fungsi komponen dalam sistem dapat
meyebabkan kegagalan pada sistem. Dalam mencari sumber penyebab gangguan
kita harus dapat memeriksa fungsi sistem dan fungsi komponen apakah masih
baik atau sudah rusak.
Kendaraan merupakan suatu hasil karya manusia yang didasarkan oleh logika
dan kajian ilmiah, sehingga untuk mencari sumber gangguan yang terjadi pada
suatu sistem pada kendaraan akan lebih efektif bila menggunakan metode ilmiah.

1. Langkah Diagnosa
Langkah diagnosa menggunakan metode ilmiah yaitu :
a. Melakukan identifikasi gejala/ keluhan pelanggan. Seorang konsumen
mengeluh tentang gangguan pada kendaraannya kita catat menjadi daftar
keluhan.
b. Melakukan verifikasi gejala. Keluhan pelanggan tersebut kita verifikasi
apakah termasuk masalah atau hanya subyektif rasa pelanggan saja. Terjadi
terus menerus atau kondisional. Dari proses ini akan didapat daftar gejala
yang terjadi pada kendaraan.
c. Menganalisa dugaan penyebab gejala. Berdasarkan daftar gejala yang
terjadi selanjutnya dilakukan analisis dugaan penyebab gangguan. Apakah
gangguan terjadi karena ada bebab berlebihan, tegangan sumber yang
hilang atau kurang, sambungan yang kotor, pemassaan yang kurang baik,
rangkaian putus, rangkaian hubung singkat, komponen sensor yang tidak
bekerja dan sebagainya. Dari analisis ini akan didapatkan daftar dugaan
penyebab gejala atau gangguan.
d. Menguji dugaan penyebab gangguan. Berdasarkan daftar dugaan
penyebab gangguan maka dilakukan pengujian dengan cara melakukan
pemeriksaan fisik, mengukur, mengoperasikan, melakukan simulasi kondisi
dan sebagainya. Dari aktifitas tersebut akan diperoleh data untuk
menentukan penyebab gangguan sebenarnya. Contoh; keluhan pelanggan
bahwa kendaraan setelah dioperasikan kurang lebih 30 menit maka
mesinnya mati, dan tidak dapat dihidupkan sebelum mesin dingin.
Berdasarkan keluhan tersebut maka dapat diduga penyebabnya antara lain:
1) Mesin mengalami panas berlebihan. Dugaan penyebab adalah kipas
elektrik rusak, sikring putus, saklar kipas rusak dan sebagainya.
2) Percikan api pada busi hilang. Dugaan penyebab adalah koil
pengapian, signal generator, igniter mati setelah panas dan
sebagainya
3) Tidak ada injeksi bahan bakar. Dugaan penyebab adalah injektor,
pompa bahan bakar, ECU mati setelah panas dan sebagainya
Menguji koil pengapian mati setelah panas berarti menunggu cukup lama,
untuk itu dapat dilakukan simulasi kondisi dengan cara memanaskan koil
pengapinan menggunakan pemanas rambut, dan mengamati dampaknya. Bila
hasil simulasi menunjukan mesin mati setelah koil pengapian panas maka
penyebab gangguan adalah koil pengapian.
Berdasarkan data hasil pemeriksaan dan pengujian yang dilakukan dapat
ditentukan penyebab gangguan, lokasi gangguan dan langkah untuk
mengatasi gangguan.
f. Mengatasi penyebab gangguan.
Mengatasi penyebab gangguan dilakukan dengan melakukan perbaikan pada
bagian yang mengalami kerusakan, melakukan penggantian atau hanya
melakukan penyetelan.
g. Menguji hasil mengatasi penyebab gangguan
Menguji hasil mengatasi gangguan dilakukan dengan mengoperasikan sistem,
rangkaian atau kendaraan, dan memeriksa apakah gangguan/ keluhan sudah
teratasi.
Penguasaan pengetahuan dan dukungan buku manual kendaraan, diagram
system pengkabelan (Electronic Wiring Diagram) sangat dibutuhkan oleh
diagnoser untuk memberikan penjelasan pada pelanggan tentang penyebab
dugaan gangguan pada kendaraannya. Penguasaan pengetahuan dan
keterampilan menggunakan alat diagnosis dan dukungan buku manual
kendaraan, diagram system pengkabelan (Electronic Wiring Diagram) akan
mempercepat proses menentukan sumber gangguan dan langkah perbaikan.
2. Alat Diagnosa dan Perbaikan
Alat diagnosa dan perbaikan yang digunakan untuk menentukan
penyebab gangguan pada kendaraan dengan teknologi sistem injeksi bahan
bakar dikontrol secara elektronik yaitu: Multimeter, Engine Scanner,
Manometer tekanan, Injektor tester, Gelas ukur.

a. Multimeter
Pada multimeter mempunyai 3 alat ukur utama yaitu:
1) Amper meter untuk mengukur besar arus yang mengalir
2) Voltmeter untuk mengukur besar tegangan
3) Ohmmeter untuk mengukur besar tahanan/ hambatan
Ada dua tipe multimeter, yaitu:
1) Multimeter Analog, display menggunakan jarum dengan nilai ukur
menggunakan skala.
2) Multimeter Digital, display menampilkan hasil pengukuran nyata yang
ditampilkan dalam angka.
Multimeter digital hasil pengukuran lebih cepat dibaca dan lebih akurat
sehingga lebih dianjurkan.

Analog Digital

Gambar 59. Multimeter

Voltmeter dapat digunakan untuk memeriksa apakah tegangan sumber kurang,


terminal/ sambungan kotor, komponen putus, voltage drop berlebihan dan
pemassaan kurang. Dengan membandingkan tegangan sumber dengan
tegangan pada beban dapat diketahui apakah system mengalami voltage drop
yang berlebihan. Kabel yang putus dapat ditentukan dengan membandingkan
tegangan dua terminal kabel yang diduga putus.

Gambar 60. Menggunakan voltmeter untuk menentukan gangguan

Ampermeter dapat digunakan untuk menentukan beban parasit atau kebocoran


listrik maupun penurunan kualitas beban.

Gambar 61. Mengukur beban parasit

Ohmmeter dapat digunakan untuk menentukan kabel putus, kabel hubung


singkat, sensor atau aktuaktor rusak. Sensor yang digunakan banyak yang
karakternya seperti potensio, dimana nilai tahanan berubah sesuai kondisi
yang disensor seperti air flow meter, throttle position sensor, CO adjuster. Air
temperatur sensor dan water temperature sensor merupakan thermistor NTC,
dengan mengukur tahanan pada temperature yang bervariasi maka kita dapat
menentukan apakah komponen masih baik atau sudah rusak. Atuaktor yang
digunakan banyak yang bersifat seperti solenoid, seperti injector, relay pompa
bahan bakar, idle speed control dan VSV. Mengukur nilai tahanan pada lilitan
aktuaktor tersebut kita dapat menetukan kerusakan komponen.

Posisi Terminal Tahanan


Katup
Tertutup VTA-E2 0,2-5,7k
Terbuka VTA-E2 2,0-10,2k
- VC-E2 2,4-5,1k

Gambar 62. Mengukur tahanan throttle position sensor,

b. Diagnostic Trouble Code


Pada kendaraan dilengkapi dengan self diagnostic, yang memberikan
peringatan pada pengendara bila ECU mendeteksi adanya malfungsi dengan
nyala lampu CHECK ENGINE yang berada di dashboard pada saat mesin
hidup. Pada kondisi normal, lampu CHECK ENGINE menyala saat kontak
ON, dan akan mati bila mesin hidup, bila lampu tetap nyala berarti ECU
mendeteksi adanya malfungsi.
Menentukan sumber gannguan dapat dilakukan dengan
memamfaatkan fasilitas Diagnostic Trouble Code (DTC). Pemeriksaan
menggunakan DTC lebih sederhana namun terbatas pada sistem/ komponen
tertentu yang Diagnostic Trouble Code telah terekam pada ECU.
Kode kerusakan berupa pulsa kedipan lampu pada CHECK ENGINE . Pada
kondisi normal jumlah pulsa 1 kali secara terus menerus. Waktu ON sama
dengan waktu OFF yaitu 0,25 detik. Bila terjadi gangguan maka akan
menunjukkan jumlah kedipan tertentu, bila gangguan lebih dari satu maka
jumlah kedipan lampu (DTC) yang ditampilkan juga lebih dari satu. Contoh
DTC 12 dan DTC 31 ditunjukan dengan pulsa kedipan pada gambardi bawah.
Kode DTC 12 maka OFF 4 detik, ON 0,5 detik satu kali, OFF 1,5 detik
kemudian ON 2 pulsa masing-masing 0,5 detik. Diteruskan dengan DTC 31
yaitu OFF 2,5 detik, ON 3 pulsa masing-masing 0,5 detik, OFF 1,5 detik,
kemudian ON 1 kali, demikian seterusnya.

DTC 12 yaitu engine speed (RPM) sensor


DTC Normal
DTC 31 yaitu MAP sensor

Gambar 63. Diagnostic Trouble Code

Metode mencari gangguan dengan DTC dapat dilihat pada buku


pedoman kendaraan bersangkutan. Berikut ini contoh mencari gangguan
dengan DTC pada mesin Toyota.
1. Hubungkan terminal TE1-E1 pada kotak diagnosis

Gambar 64. Menentukan sumber malfungsi

2. Putar kunci kontak ON


3. Bacalah jumlah kedipan lampu CHECK ENGINE, bandingkan dengan
tabel Diagnostic Trouble Codes (DTC).

Gambar 65. Menentukan sumber malfungsi


`
Tabel 2. Diagnostic Trouble Codes (DTC) kendaraan Toyota
DTC Trouble Location
11 EngineControl Module (ECM) - power suplay
12 Engine speed (RPM) sensor - signal
13 Engine speed (RPM) sensor signal diatas 1500 rpm
14 Ignition signal
15 Ignition signal
16 Electronic Traction Control (ETC) signal
21 Oxygen sensor (O2S)
22 Water temperature (WT) sensor - Engine Coolent
Temperature (ECT) sensor
24 Intake Air Temperature (IAT) sensor
25 Weak mixture
26 Rich mixture
27 Oxygen sensor (O2S) LH or single
28 Oxygen sensor (O2S) RH or V6
31 Mass Air flow (MAF) sensor Manifold Absolute
Pressure (MAP) sensor
32 Mass Air flow (MAF) sensor
33 Idle Air Control Valve
34 Turbocharger pressure signal
35 Turbocharger pressure signal/ Manifold Absolute
Pressure (MAP) sensor
DTC Trouble Location
41 Throttle Position (TP) sensor
42 Vehicle Speed Sensor (VSS)
43 Starter signal
47 Throttle Position (TP) sensor
51 Closed Throttle Position (CTP) switch - sensor
52 Knock sensor (KS) LH or single
53 Knock Control pada ECM
54 Turbocharge intercooler signal
55 Knock sensor (KS) RH or V6
78 Fuel Pump Control
81 Electronic Traction Control (ETC)/ Engine Control Modul
(ECM) signal- open circuit
83 Electronic Traction Control (ETC)/ Engine Control Modul
(ECM) signal- open circuit
84 Electronic Traction Control (ETC)/ Engine Control Modul
(ECM) signal- open circuit
83 Electronic Traction Control (ETC)/ Engine Control Modul
(ECM) signal- open circuit
Sumber AUTO DATA 1998

Setelah gangguan diatasi maka memori DTC yang tersimpan di ECU dihapus
dengan cara:
1) Putar kontak OFF
2) Cabut fuse EFI pada kotak fuse kurang lebih 10-15 detik dan pasang
kembali fuse.
3) Hidupkan mesin dan jalankan kendaraan beberapa saat, test DTC apakah
DTC sudah tidak muncul lagi?.
Menghapus DTC pada memori ECU dapat dilakukan dengan melepas kabel
baterai negatip, namun metode ini memori lain seperti jam dapat terhapus
juga. Bila lampu CHECK ENGINE tidak mati setelah bagian yang menjadi
penyebab gangguan diatasi dan DTC sudah dihapus, maka teliti dengan
cermat adanya sambungan kabel, konektor, fuse yang kurang baik.

c. Engine Scanner
Kelemahan menggunakan DTC adalah terbatas pada sistem/
komponen tertentu yang telah memiliki Diagnostic Trouble Code dan telah
terekam pada ECU, selain itu kita harus hafal DTC dimana terdapat
perbedaan tiap kendaraan. Guna mengatasi kelemahan tersebut dan upaya
meningkatkan kecepatan dan akurasi hasil diagnosa maka diperlukan alat
diagnosa sistem EFI yang lebih baik.
Alat untuk menentukan sumber gangguan atau diagnosa mesin EFI
adalah Engine Scanner. Penggunaan alat tersebut sangat penting karena
pada saat ini teknologi sistem EFI berkembang dengan pesat, sehingga kalau
dahulu ECU hanya mengontrol sistem EFI, namun pada saat ini ECU
mengontrol semua sistem secara terintregrasi seperti sistem AC, sistem Anti
Lock Brake System (ABS), sistem traksi (Electronic Traction Control), Air Bag
dan sebagainya, sehingga melibatkan sangat banyak sensor dan banyak
actuator.
Gambar 66. Engine scanner merk Carman-Scan II
Penggunaan Engine Scanner adalah sebagai berikut: (Carman Scan pada mobil
Timor).

1). Pilih data link sesuai dengan merk kendaraan dan hubungkan data link
scanner pada kotak diagnosis yang tersedia pada kendaraan

Data link Kotak diagnosis Memasang data link

Gambar 67. Memilih dan memasang data link pada kendaraan


2). Pasang kabel Power pada baterai, hidupkan alat dengan menekan tombol
Power.

Gambar 68. Menghidupkan Engine scanner merk Carman-Scan II

3). Tekan tombol Enter sehingga muncul display Initial Sceen, bila posisi blok
hitam pada Vahicle Diagnosis maka tekan enter sehingga muncul display
Vahicle Diagnosis. Pilih Korean Vahicle Diagnosis dengan cara menekan
tombol enter.

Gambar 69. Memilih fungsi Vahicle Diagnosis kendaraan Korea

4). Pada display akan muncul 3 merk kendaraan dari Korea yaitu Hunday, KIA
dan Daewoo. Geser krusor dengan tanda pana pada papan kontrol dan pilih
KIA. Muncul pada display berbagai tipe kendaraan KIA, maka pilih Sephia,
muncul tahun produksi maka pilih before 1998.

Gambar 70. Memilih kendaraan KIA tipe Sephia

5). Pada display jenis diagnosis maka pilih Engine Control, kemudian pilih 1.5L
Gasoline MAP, selanjutnya tunggu proses komunikasi data antara engine
scanner dengan kendaraan.
Gambar 71. Memilih diagnosa engine control.

6). Setelah proses komunikasi data selesai akan muncul display, dan pilih
diagnosis trouble codes, sehingga muncul data komponen/ sistem yang
mengalami gangguan.

Gambar 72. Display Diagnosis Trouble Codes.

7). Beberapa data mesin dapat diketahui melalui current data, untuk menuju
current data maka tekan tombol ESC, kemudian pilih current data, sehingga
display akan menampilkan data pada mesin.

Gambar 73. Current data

D. Pemeriksaan dan Penyetelan EFI


Pada kendaraan sistem injeksi bahan bakar control elektronik telah
mengaplikasikan teknologi yang mereduksi bagian yang perlu diperiksa atau
disetel, namun demikian masih terdapat bagian yang dapat disetel pada mesin.
Pada bagian ini kita bahas tentang: pemerikaan tekanan bahan baker,
pemeriksaan injector,

1. Pemeriksaan Tekanan Bahan bakar


Bila regulator bocor maka tekanan bahan bakar rendah sehingga mesin
sulit hidup, idling kasar dan tenaga mesin lemah. Pengecekan tekanan
menggunakan manometer. Langkah pemeriksaan adalah sebagai berikut:
a. Lepas baut nipel pada saringan bahan bakar atau pada saluran masuk
pipa deliveri. Hati-hati bensin bertekanan dapat menyembur ke mana-
mana. Pasang manometer pada nipel saringan bahan bakar.

Gambar 74. Memasang manometer

b. Jamper terminal B+ dengan terminal FP menggunakan kabel SST, lokasi


terminal berada di kotak diagnosis. Putar kontak beberapa saat agar
pompa bahan bakar bekerja, setelah tekanan naik lebih dari 2 kg/cm2,
maka jabut jamper.

Gambar 75. Jamper B+ dengan FP


3). Hidupkan mesin dan lihat tekanan bahan bakar pada manometer.
Tekanan pompa Saat mesin hidup idle 2,3-2,6 kg/cm2. Cabut slang
vacuum ke manifold dan tutup ujung slang, maka tekanan harus naik
menjadi 2.7-3,1 kg/cm2. Matikan mesin tunggu sampai 5 menit, maka
tekanan harus diatas 1,5 kg/cm2

Gambar 76. Mencabut slang vacuum

2. Pemeriksaan Injektor
Terdapat beberapa gangguan pada injektor diantaranya: tahanan lilitan
bertambah atau lilitan putus, lubang injektor tersumbat atau terkikis dan arah
penyemprotan tidak tepat dan injektor bocor. Prosedur pemeriksaan injector
adalah sebaga berikut:
1). Memeriksa Tahanan Lilitan:
Periksa tahanan lilitan injektor
menggunakan multimeter (Ohm
meter). Hubungkan terminal
injektor dengan colok ukur Ohm
meter. Besar tahanan 13,4-14,2
pada temperature 20C
Gambar 77. Memeriksa lilitan injektor

2). Pemeriksaan Kerja Injektor


Hidupkan mesin, gunakan sound scope untuk memeriksa adanya
suara operasi injector. Injektor normal suara operasi injector sesuai
dengan putaran mesin.

Gambar 78. Pemeriksaan kerja injektor


Catatan :
Apabila tidak ada suara atau ada suara tetapi tidak normal, periksa konektor
rangkaian kabel, injektor atau signal injeksi dari ECU.

3). Memeriksa Jumlah Injeksi


Hubungkan injektor pada saluran tekanan tinggi. Hubungkan
terminal B+ dengan FP pada kotak diagnosis. Hubungkan injektor dengan
baterai 15 detik.

Gambar 79. Test volume injeksi

Volume injeksi 39-49 cc, perbedaan antar injektor maksimal 10 cc.


Bila volume kurang mengindikasikan lubang mengecil, bila volume lebih
maka lubang terkikis. Ulangi pengujian 2-3 kali agar hasil lebih valid.

4). Memeriksa arah penyemprotan dan kebocoran


Saat test volume injeksi perhatikan arah penyemprotan pada injektor.
Arah penyemprotan yang baik adalah lurus dan menyebar, lihat gambar
dibawai ini.

Gambar 80. Arah penyemprotan dan kebocoran


Setelah pengujian selesai lepas kabel injektor ke baterai, bila terjadi
tetesan bahan bakar di ujung injektor menandakan injektor bocor.
Kebocoran maksimal 1 tetesan tiap 12 menit.

3. Pemeriksaan MAP Sensor


Pemeriksaan MAP sensor dilakukan dengan melakukan pengukuran
tegangan pada terminal MAP sensor. Pemeriksaan terminal E2 VC sebesar
4-6 V. Pemeriksaan tegangan terminal E2-PIM sesuai dengan kevakuman
pada intake manifold.

Gambar 81. Pemeriksaan MAP sensor

4. Pemeriksaan TP Sensor
Pemeriksaan TP Sensor tipe variable resistor dapat dilakukan
menggunakan Ohm meter dengan memeriksa hubungan pada terminal VTA
dengan E2 dan VC dengan E2. Cara pemeriksaan dan hasilnya adalah
sebagai berikut:

Posisi Katup Terminal Tahanan


Tertutup VTA-E2 0,2-5,7k
Terbuka VTA-E2 2,0-10,2k
VC-E2 2,4-5,1k

Gambar 82. Pemeriksaan TPS model resistor


Pemeriksaan TP Sensor tipe kontak dapat dilakukan menggunakan
Ohm meter. Prosedur pemeriksaan adalah: Melepas konektor sensor.
Menempatkan feeler gage diantara sekrup pembatas throttle dan tuas
pembatas. Menggunakan ohmmeter, ukur tahanan diantara setiap terminal

Gambar 83. Pemeriksaan throttle position sensor

Celah antara tuas Kontinuitas antara terminal


dan sekrup
pembatas IDL - TL PSW - TL IDL PSW

0,44 mm Ada kontinuitas Tidak ada kontinuitas Tidak ada kontinuitas


0,66 mm Tidak ada kontinuitas Tidak ada kontinuitas Tidak ada kontinuitas
Throtle valve pada Tidak ada kontinuitas Tidak ada kontinuitas Tidak ada kontinuitas
posisi terbuka penuh

5. Pemeriksaan WTS (Water Temperature Sensor)


Pemeriksaan WTS dapat dilakukan dengan mengukur nilai resistor
menggunakan Ohm meter pada terminal THW dengan E2, dan mengukur
temperature air pendingin pada radiator, nilai resistor hasil pengukuran yang
benar dilihat dari grafik hubungan nilai resistor dengan temperatur gambar di
bawah. Contoh nilai resistor pada temperature 90 C kurang lebih 0,2 k.
Pemeriksaan dapat pula dilakukan dengan melepas sensor, kemudian
ditempatkan pada pada paci dan air direbus, temperature air diamati dengan
thermometer.

Gambar 84. Pemeriksaan WTS


6. Pemeriksaan Variable Resistor (VR)
Adanya variable resistor memungkinkan mekanik dapat menyetel
campuran bahan bakar dengan emisi terendah, yaitu campuran stoichiometric
atau lamda ()= 1. Dalam menyetel campuran tersebut harus menggunakan
CO tester, Jangan coba-coba menyetel bila tidak menggunakan CO tester.

Pemeriksaan veriable resistor


dapat dilakukan dengan
pendekatan tegangan, yaitu
tegangan 0 - 5V pada terminal
VAF E2, dapat pula mengukur
nilai resistor antara terminal VAF-
E2 dengan tahanan 5.

Gambar 85. Pemeriksaan variable resistor

7. Menyetel Saat Pengapian


Selain pemeriksaan komponen di atas terdapat pula beberapa
pemeriksaan dan penyetelan yang secara periodik dilakukan saat tune up
mesin, diantaranya: Penyetelan saat pengapian, penyetelan putaran idling dan
penyetelan CO (beberapa tipe).
Berikut ini contoh prosedur pemeriksaan dan penyetelan saat
pengapian pada kendaraan Toyota sebagai berikut:
a. Hidupkan mesin pada putaran idle
b. Hubungkan terminal E1 dengan TE1 pada kotak diagnosis
c. Pasang Timing tester pada kabel busi silinder 1

Gambar 86. Jamper E1-TE1

d. Arahkan sinar timing light pada pully


e. Bacalah hasil pemeriksaan, saat pengapian 10 sebelum TMA
f. Bila saat pengapian tidak tepat maka kendorkan baut pengikat distributor,
geser distributor searah putaran rotor untuk mengundurkan saat
pengapian dan berlawanan dengan arah rotor untuk mengajukan saat
pengapian.
g.Cabut kabel E1 dengan TE1. Saat pengapian 14-19 sebelum TMA, pada
puataran idle

Gambar 87. Pemeriksaan timing

8. Penyetelan Putaran Idle


a. Hidupkan mesin sampai temperatur kerja normal, dengan filter
terpasang, saat pengapian tepat, posisi netral dan beban aksesoris
OFF.
b. Pasang tacho meter kabel sumber pada (+) dan (-) baterai, dan kabel
sensor pada IG -, seperti gambar dibawah ini.

Peringatan:
Jangan sampai kabel sensor (IG-) menyentuh massa sebab dapat mengakibatkan

signal generator dan igniter terbakar.

Gambar 88. Pemasangan tachometer


c. Putar sekerup penyetel putaran idle sampai diperoleh putaran 800 rpm

EFI-L EFI-D

Gambar 89. Menyetel putaran idle

Saat ini fasilitas penyetelan putaran idle sudah dihilangkan seiring dengan
teknologi idle speed control (ISC) yang semakin baik.

9. Penyetelan CO
a. Hidupkan mesin sampai temperatur kerja normal, dengan filter terpasang,
saat pengapian tepat, posisi netral dan beban aksesoris OFF.
b. Pasang tachometer, dan stel putaran idle pada 800 rpm.
c. Tekan pedal gas, tahan mesin pada putaran 2500 rpm kurang lebih 2
menit.
d. Lepas pedal gas, tunggu 1-3 menit, kemudian masukkan probe CO meter
ke knalpot sekurang-kurangnya 30-40 cm.

Gambar 90. Pemeriksaan CO


e. Bacalah besar CO pada CO meter, Spesifikasi CO : 0,8 + 0,5 %. Bila
CO tidak tepat maka stel CO potensio atau Variable Resistor sampai
diperoleh nilai CO yang tepat.

Catatan:
Jangan menyetel CO
atau merubah posisi
Variable resistor tanpa
menggunakan CO meter.

Pada EFI yang


menggunakan Oxygen
sensor tidak dilakukan Gambar 91. Menyetel CO
penyetel CO

f. Stel kembali putaran idle bila putaran berubah akibat penyetelan CO

D. Latihan
Latihan soal pilihan ganda
Pilih salah satu jawaban yang paling anda anggap tepat.

1. Sistem injeksi bahan bakar tipe Multi Point Injection (MPI) mempunyai
injektor:
a. Satu buah c. Empat buah
b. Dua buah d. Sejumlah silinder

2. Kelebihan utama sistem injeksi kontrol elektronik dibanding sistem


karburator:
a. Harga murah dan perawatan c. Emisi rendah dan bahan bakar irit
mudah
b. Perawatan mudah dan tenaga d. Mampuh untuk perjalanan jauh
besar

3. Ciri utama sistem injeksi bahan bakar kontrol elektronik tipe EFI-L adalah:
a. Menggunakan Air Flow Meter c. Menggunakan TP sensor
b. Menggunakan MAP Sensor d. Menggunakan Vacuum meter
4. Komponen sistem injeksi bahan bakar kontrol elektronik yang bertugas
mendeteksi temperatur mesin adalah:
a. Air Temperatur Sensor c. MAP Sensor
b. Water Temperatur Sensor d. TPSensor

5. Bila MAP sensor rusak atau mengalami gangguan maka mesin akan mati
sebab:
a. ECU tidak mendapat masukan temperatur udara yang masuk
b. ECU tidak mendapat masukan temperatur mesin saat itu
c. ECU tidak mendapat masukan jumlah udara yang masuk
d. ECU tidak mendapat masukan jumlah bahan bakar yang tersedia

6. Komponen sistem injeksi bahan bakar kontrol elektronik yang bertugas


mendeteksi campuran bahan bakar adalah:
a. Air Temperatur Sensor c. MAP Sensor
b. TP Sensor d. Oxygen Sensor

7. Sistem pada gambar di bawah berfungsi:


a. Mensuplay bahan bakar tekanan tinggi siap diinjeksikan
b. Mengatur jumlah bakar yang akan diinjeksikan
c. Mengatur jumlah udara yang akan masuk ke dalam silinder
d. Mendeteksi bahan bakar yang akan diinjeksikan

8. Komponen No.5 pada gambar di atas berfungsi


a. Injeksi bahan bakar c. Menyaring kotoran pada b. bakar
b. Mengatur tekanan bahan bakar d. Oxygen Sensor

9. IATS (gambar di bawah) merupakan salah satu sensor pada motor bensin
dengan system injeksi bahan bakar (EFI) yang berfungsi:
a. Menentukan jumlah injeksi bahan bakar.
b. Mendeteksi jumlah udara yang masuk ke dalam silinder.
c. Mendeteksi temperatur udara yang masuk ke dalam selinder
d. Mendeteksi tekanan udara di dalam intake manifold

10. IATS merupakan thermo resistor jenis NTC. Karakteristik NTC


a. Bila temperatur naik tahanan tetap netral
b. Bila temperatur naik tahanan turun
c. Bila temperatur naik tahanan naik
d. Bila tekanan naik maka tahanan turun

11. Dalam sistem kontrol elektronik terdiri dari sensor, control unit dan
aktuactor. Komponen di bawah yang termasuk sensor adalah:
a. Injektor, ISC Valve, VSV dan Relay
b. MAP, WTS, IATS dan O2 Sensor
c. WTS, IATS, VSV dan Relay
d. MAP, ISC, VSV dan O2 Sensor

12. Dalam sistem kontrol elektronik terdiri dari sensor, control unit dan
aktuactor. Komponen di bawah yang termasuk aktuactor adalah:
a. Injektor, ISC Valve, VSV dan Relay
b. MAP, WTS, IATS dan O2 Sensor
c. WTS, IATS, VSV dan Relay
d. MAP, ISC, VSV dan O2 Sensor

13. Engine Scanner sangat membantu untuk mencari sumber ganggunan


pada sistem injeksi kontrol elektronik, untuk menentukan sumber
gangguan pada sensor kita dapat memanfatkan fungsi:
a. Diagnosis Trouble Codes c. Current data
b. Tool Box d. Immobilizer

14. Engine Scanner sangat membantu untuk mencari sumber ganggunan


pada sistem injeksi kontrol elektronik, untuk melihat data komponen
sistem yang aktif menggunakan fungsi:
a. Diagnosis Trouble Codes c. Current data
b. Tool Box d. Immobilizer

15. Indikator regulator tekanan bahan bakar bocor adalah:


a. Tekanan bahan bakar rendah c. Mesin sulit hidup
b. Tekanan bahan bakar turun d. Mesin pincang
setelah beberapa saat kontak
OFF

16. Bila tidak mempunyai Engine Scanner kita dapat mencari sumber
gangguan menggunakan:
a. Multimeter c. Obeng dan kunci pas
b. Lampu test d. Amper meter

Latihan Soal Uraian


Jawablah pertanyaan berikut ini.
1. Sistem bahan bakar kendaraan menggunakan teknologi Electronic Fuel
Injection (EFI), berbeda dengan system bahan bakar karburator.
a. Jelaskan apakah fungsi sistem bahan bakar pada kendaraan
menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI)? (1)
b. Sebutkan komponen pada sistem bahan bakar pada kendaraan
menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI) dan fungsi masing-
masing komponen.(4)
c. Gambarkan aliran bahan bakar sistem bahan bakar pada kendaraan
menggunakan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI) dan jelaskan
kerjanya. (5)

2. Injektor merupakan salah satu komponen kendaraan menggunakan teknologi


Electronic Fuel Injection (EFI), yang tidak dimiliki oleh system bahan bakar
karburator.
a. Jelaskan apakah fungsi injektor pada kendaraan menggunakan teknologi
Electronic Fuel Injection (EFI)? (1)
b. Jelaskan prinsip kerja injector. (3)
c. Jelaskan metode memeriksa injector menggunakan multimeter/ ohmmeter
(3)
d. Jelaskan mentode memeriksa volume injeksi (3)

3. Secara umum Electronic Fuel Injection (EFI), dapat dikelompok menjadi dua
yaitu L-EFI dan D-EFI.
a. Apakah yang dimaksud L-EFI?, apakah sensor untuk mengukur jumlah
udara ?(2)
b. Apakah yang dimaksud D-EFI?, apakah sensor untuk mengukur jumlah
udara ?(2)
c. Gambarkan konsep L-EFI dan D-EFI yang dilengkapi sensor dan ECU(4)

4. Gambar di bawah ini merupakan rangkaian throttle position sensor system


pada pada kendaraan dengan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI).

a. Jelaskan apakah fungsi throttle positon sensor system ? (1)


b. Jelaskan metode memeriksa throttle positon sensor menggunakan
multimeter/ Ohm meter.(4)
c. Gambarkan grafik hubungan posisi throttle terhadap besar tahanan
pada sensor (3)
d. Sebutkan 3 gejala pada kendaraan bila terjadi gangguan throttle
position sensor. (2)
5. Gambar di bawah ini merupakan rangkaian Vacuum sensor system pada
pada kendaraan dengan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI).

a. Jelaskan apakah fungsi Vacuum sensor system ? (1)


b. Jelaskan metode memeriksa Vacuum sensor menggunakan
multimeter/ Volt meter.(4)
c. Gambarkan grafik hubungan kevacuuman terhadap besar tegangan
pada sensor (3)
d. Sebutkan 3 gejala pada kendaraan bila terjadi gangguan Vacuum
sensor. (2)

6. Gambar di bawah ini merupakan rangkaian Water Temperature sensor system


pada pada kendaraan dengan teknologi Electronic Fuel Injection (EFI).

a. Jelaskan apakah fungsi Water Temperature sensor system ? (1)


b. Jelaskan metode memeriksa Water Temperature sensor menggunakan
multimeter/ Ohm meter.(4)
c. Gambarkan grafik hubungan temperature terhadap besar tahanan pada
sensor (3)
Sebutkan 3 gejala pada kendaraan bila terjadi gangguan Water
Temperature sensor. (2)

Kunci Jawaban
No 1

a Fungsi sistem bahan bakar pada kendaraan menggunakan teknologi


Electronic Fuel Injection (EFI) adalah mensuplay bahan bakar tekanan
tinggi pada pipa akumulator (delivery pipe) pada tekanan konstan
sehingga siap diinjeksikan

b 1) Tangki bahan bakar untuk menyimpan bahan bakar


2) Pompa bahan bakar untuk menghisap bahan bakar pada tangki dan
menekan ke ke pipa akumulator
3) Filter untuk menyaring kotoran pada bahan bakar
4) Pulsa damper untuk menjaga stabilitas tekanan pada pipa
akumulator
5) Pipa akumulator untuk menyediakan bahan bakar tekanan tinggi bagi
injector
6) Regulator untuk mengatur tekanan bahan bakar tekanan tinggi pada
pipa akumulator
7) Pipa tekanan tinggi untuk mengalirkan bahan bakar tekanan tinggi
8) Pipa tekanan rendah/ pipa pengembali untuk mengalirkan bahan
bakar kembali ke tangki
c

Prinsip kerja sistem bahan bakar adalah sebagai berikut: saat mesin
distarter atau mesin hidup maka pompa bahan bakar (fuel pump) bekerja
menghisap bahan bakar dari tangki (fuel tank) dan menekan ke pipa
deliveri (delivery pipe) dengan terlebih dahulu disaring oleh saringan
bahan bakar (fuel filter). Bila tekanan bahan bakar melebihi batas yang
ditentukan maka regulator akan membuka dan bahan bakar akan
mengalir ke tangki melalui saluran pengembali (return pipe). Injektor
dihubungkan ke pipa deliveri sehingga saat jarum injektor membuka maka
injektor akan mengabutkan bakan bakar ke arah katup hisap dan masuk
ke dalam silinder

No.2

a Fungsi injektor pada kendaraan menggunakan teknologi Electronic Fuel


Injection (EFI) adalah untuk menginjeksikan bahan bakar ke arah katup
hisap, bahan bakar keluar dari injektor dalam bentuk kabut (mengabutkan
bahan bakar )
b Prinsip kerja injector yaitu mengalirkan listrik pada lilitan injektor, saat
listrik mengalir ke lilitan maka lilitan menjadi magnet, dan magnet menarik
katup jarum pada injektor, lubang injektor terbuka , bahan bakar keluar
melalu lubang dalam entuk kabut. Pengaturan kapan dan lama listrik
dialirkan ke injektor dilakukan oleh ECU berdasarkan kondisi kerja mesin
dari masukan sensor-sonsor yang ada.

c Metode memeriksa injector dengan multimeter yaitu:


1) Atur selector multimeter (Ohm meter) pada posisi Ohm 1X.
2) Hubungkan terminal injektor dengan colok ukur Ohm meter.
3) Baca nilai yang ditunjukkan pada multi meter. Besar tahanan 13,4-
14,2 pada temperature 20C
d Metode memeriksa volume injeksi:
1)Hubungkan injektor pada saluran tekanan tinggi.
2)Hubungkan terminal B+ dengan FP pada kotak diagnosis dan kontak
di On kan
3)Hubungkan injektor dengan baterai 15 detik
Volume injeksi 39-49 cc, perbedaan antar injektor maksimal 10 cc. Bila
volume kurang mengindikasikan lubang mengecil, bila volume lebih maka
lubang terkikis

No3

a L Jetronic atau EFI-L


Kode L berasal dari bahasa Jerman Luft yang berarti udara. Pada EFI-L
Jetronic, kontrol injeksi dilakukan secara elektronik oleh Electronic Control
Unit (ECU) berdasarkan jumlah udara yang masuk. Sensor untuk mengukur
jumlah udara yang masuk ke dalam silinder menggunakan Air Flow Meter
(AFM)

b D Jetronic atau EFI-D


Kode D berasal dari bahasa Jerman Drunk yang berarti tekanan. Pada EFI-
D Jetronic, kontrol injeksi dilakukan secara elektronik oleh Electronic Control
Unit (ECU) berdasarkan jumlah udara yang masuk. Sensor untuk mengukur
jumlah udara yang masuk ke dalam silinder menggunakan Manifold Absolute
Pressure Sensor (MAP Sensor
No 4

a Fungsi throttle position sensor system adalah untuk mendeteksi


posisi bukaan katup gas/ throttle position.

b Metode memeriksa throttle position sensor menggunakan


multimeter/ Ohm meter adalah sebagai berikut:
1) Siapkan multimeter, putar selector ke posisi Ohm yaitu posisi 1xK,
set jarum multimeter pada posisi nol (kalibrasi)
2) Lepas konektor kabel throttle positon sensor
3) Hubungkan colok ukur multi meter pada terminal VTA dengan E2
pada saat throttle tertutup dan posisi terbuka penuh. Catat hasil
pemeriksaan.
4) Hubungkan colok ukur multi meter pada terminal VC dengan E2,
catat hasil pemeriksaan

c Hasil pemeriksaan adalah saat throttle tertutup tahanan VTA-E2


lebih kecil dibandingkan saat throttle terbuka. Jadi semakin besar
bukaan throttle, semakin besar tahanan.

Posisi Katup Terminal Tahanan


Tertutup VTA-E2 0,2-5,7k
Terbuka VTA-E2 2,0-10,2k
VC-E2 2,4-5,1k

d ECU tidak mendapat masukan posisi throttle, sehingga dapat


menyebabkan (1), Putaran stasioner terganggu, (2) Tersendat saat
dipercepat , (3) Campuran terlalu kaya/ CO tinggi

No 5

a Fungsi Vacuum sensor system/ MAP sensor system adalah


mendeteksi kevacuuman pada manifold untuk menentukan jumlah
udara yang masuk ke dalam silinder.
.
b Metode memeriksa Vacuum sensor system/ MAP sensor system
menggunakan multimeter/ Volt meter adalah sebagai berikut:
1) Siapkan multimeter, putar selector ke posisi Volt yaitu posisi 10Volt,
kalibrasi dengan memastikan sebelum digunakan jarum menunjukkan 0
Volt
2) Lepas selang vacuum, hubungkan selang ke pompa vacuum.
3) Hubungkan colok ukur multi meter pada terminal PIM dengan E2, putar
kunci kontak ke ON
4) Lakukanpemompaan pada pompa vacuum, amati tekanan pada
manometer pompa vacuum dan tegangan pada multimeter
5) Catat hasil pemeriksaan.
c Hubungan tegangan terminal PIM dengan tekanan pada intake manifold
adalah semakin rendah tekanan ( tinggi vacuum) semakin rendah
tegangansebagai berikut:

d ECU tidak mendapat masukan jumlah udara yang masuk, sehingga dapat
menyebabkan (1), Mesin tiak dapat dihidupkan, (2) Putaran mesin naik-
turun tidak terkendali , (3) Tenaga mesin lemah , (4)Campuran terlalu kaya/
CO tinggi.

No 6

a Fungsi Water Temperature sensor system adalah untuk mendeteksi


temperature mesin

b Metode memeriksa Water Temperature sensor menggunakan multimeter/ Ohm


meter adalah sebagai berikut:
1) Siapkan multimeter, putar selector ke posisi Ohm yaitu posisi 1xK, set
jarum multimeter pada posisi nol (kalibrasi)
2) Lepas konektor kabel Water Temperature senso (WTS), dan lepas WTC
dari mesin.
3) Siapkan panci yang berisi air, rebus air dan pasang thermometer unuk
mendeteksi temperature air.
4) Hubungkan colok ukur multi meter pada terminal pada Water Temperature
sensor, masukkan WTS ke panci yang direbus.
5) Amati hubungan temperature air dan tahanan, catat hasil pemeriksaan

c Hasil pemeriksaan Water Temperature sensor adalah tahanan mengecil saat


temperature air naik.
d ECU tidak mendapat masukan temperature mesin, sehingga dapat
menyebabkan (1), Putaran stasioner terlalu tinggi, (2) Campuran terlalu kaya/
CO tinggi, (3) Tersendat saat dipercepat

E. Daftar Pustaka
Astra Daihatsu Motor (2004), Diagnosis dan Petunjuk Pemeriksaan Sistem EFI,
Jakarta, Jakarta, Astra Daihatsu Motor.

Astra Daihatsu Motor (2004), EFI System, Jakarta, Astra Daihatsu Motor.

Astra Daihatsu Motor (2004), Text Book Daihatsu Ceria, Jakarta, Astra
Daihatsu Motor.

Astra Daihatsu Motor (2004), Text Book Daihatsu Xenia, Jakarta, Astra
Daihatsu Motor.

Auto Data (1998) Technical Data Tuning Emission Service, Diagnosis,


Procedure Repair Conditions 1998, England, Auto data Limited

Bonnick, A. W. M. (2001). Automotive Computer Controlled Systems - Diagnostic


Tools and Techniques

Denton Tom ( 2006) Advanced Automotive Fault Code Diagnosis, Esevier


Butterworth Heinemann, Oxford

Heisler , H. (2002). Advanced Vehicle Technology (2nd ed.), Butterworth


Heinemann, Oxford

Higgins, L.R (2002). Maintenance_Engineering_Handbook,Mc.Graw-Hill, New


York
Honda Prospect Motor (2001), Manual Civic 2001, Jakarta, Honda Prospect
Motor.

Honda Prospect Motor (2004), Manual CRV, Jakarta, Honda Prospect Motor.

Krama Yuda Tiga Berlian Motor (2000), Step II MPI, Jakarta, Krama Yuda Tiga
Berlian Motor.

Nwagboso, Christoper (1997), Advance Vehicle and Infrastructure System,


Computer Applications Control and Automation, New York, John
Wiley & Sons

TEAM (1996), Electronic Fuel Injection Training Manual Step 2, Vol 5, Jakarta,
Toyota Astra Motor.

Toyota Astra Motor (2000) Pedoman Reperasi Mesin 5A-FE Soluna, Jakarta,
Toyota Astra Motor.

Toyota Astra Motor (1988) Pedoman Reperasi Mesin 3S-FE, Jakarta, Toyota
Astra Motor.

Toyota Astra Motor (2002) Pedoman Reperasi Mesin 7K-FE, Jakarta, Toyota
Astra Motor.

Sullivan, Kevin R (2004), Engine Controls-Input Sensors,


WWW .Autoshop101.Com.

Sullivan, Kevin R (2004), Engine Controls part ECU Process and Output
Functions , WWW .Autoshop101.Com .

Sullivan, Kevin R (2004), Engine Controls part #3 Idle Speed Controls,


WWW .Autoshop101.Com.

Sullivan, Kevin R (2004), Temperature Sensor, WWW .Autoshop101.Com .

Sullivan, Kevin R (2004), Air Inductions, WWW .Autoshop101.Com.

Sullivan, Kevin R (2004), Fuel System #2, Injection Duration Controls,


WWW .Autoshop101.Com.

Sullivan, Kevin R (2004), Sensors and Actuators, WWW .Autoshop101.Com .

Sullivan, Kevin R (2004), Oxygen / Air Fuel Sensor, WWW .Autoshop101.Com.

Sullivan, Kevin R (2004), Overwiew Of ODB and Regulations,


WWW .Autoshop101.Com.

Swisscontact (2003), Electronic Fuel Injection and Engine Management,


Jakarta, Swisscontact.
Lampiran:

Trouble Shooting
Trouble Shooting merupakan kumpulan beberapa penyebab ganggunan
yang sering terjadi. Terdapat beberapa gangguan pada mesin dengan sistem
injeksi bahan bakar kontrol elektronik yaitu antara lain:
a. Mesin mati (Engine stalling)
b. Mesin susa hidup (Poor starting)
c. Putaran idle jelek (Poor idling)
d. Pengendaraan kurang baik (Poor drivability)

Mesin mati (Engine stalling)


Kemungkinan Penyebab
No Gejala
Sistem Komponen Jenis
Pompa bensin Tidak bekerja
Mati Sistem Circuit opening relay Tidak ON
1 setelah bahan Pressure regulator Rusak
starter bakar Fuel filter, Fuel line Tersumbat
Aktuator ISC Tidak bekerja
Mesin Electronic Air flow meter/ MAP Tegangan dan
2 mati Control sensor tahanan tidak
bila System Water Temperatur tepat
pedal sensor
ditekan Throttle position sensor
Air Throttle body Tidak tepat
Mesin induction
mati system
3 saat Electronic Air flow meter/ MAP Tidak fungsi
pedal control sensor
dilepas system Aktuator ISC

Power Ignition switch Kotor, kendor


Mesin
suplay EFI main relay Kotor,kendor
mati
system
4 tetapi Electronic Air flow meter/ MAP Tidak fungsi
dapat control sensor
distarter system Distributor signal Hubungan
lagi kurang baik
Mesin Sulit Starter (Poor Starting)
Kemungkinan Penyebab Jenis
No Gejala
Sistem Komponen
Power Ignition switch Kontak kotor
suplay EFI main relay Kotor/ rusak
1 Saat starter Injector Bocor, tidak
tidak ada Sistem fungsi
tanda bahan bakar Pompa bahan Tidak bekerja
pembakaran bakar
Circuit opening Tidak ON
relay
Pressure regulator Bocor
Fuel Filter, Fuel line Tersumbat
Sistem Busi, coil, Igniter Lemah, mati
pengapian Distributor signal Lemah, rusak
Injector Tersumbat/
bocor
Sistem Pompa bahan lemah
bahan bakar bakar
2 Pembakaran Circuit opening Kotor, kendor
tidak relay
sempurna Pressure regulator Lemah Fuel
mesin sulit Filter, Fuel line Tersumbat
hidup saat Sistem Busi, coil, Igniter Lemah
starter pengapian Distributor signal Lemah
Signal starter Tidak ada
Electronic Aktuaktor ISC Macet, tidak
control fungsi
system Air flow meter/ MAP Tidak fungsi
sensor
Sistem PVC Rusak
induksi Air house Bocor
Sistem Piston, ring piston, Aus
kompresi silinder, katup
bocor
Injector Bocor,
tersumbat
Sistem Pompa bahan Lemah
bahan bakar bakar
3 Sulit hidup Circuit opening Kotor
relay
Pressure regulator Tekanan
rendah
Fuel Filter, Fuel line Kotor,tersumbat
Sistem Busi, coil, Igniter Lemah
pengapian Distributor signal Lemah
Signal starter Tidak ada
Electronic
Aktuaktor ISC Macet posisi
control menutup
system Air flow meter/ MAP body
sensor
Induksi Air valve/ throttle
sistem
Kendor, tidak fungsi Aus
Putaran idle jelek (Poor idling)
Kemungkinan Penyebab
No Gejala
Sistem Komponen Jenis
Air Air valve Membuka berlebihan
induction atau macet
1 Tidak system
dapat Electronic Water temperature Rangkaian terbuka atu
fast control sensor hubung singkat
idle system Rangkaian ISC Rangkaian terbuka
atau aktuktor ISC tidak
bekerja
Air Air valve Membuka berlebihan
induction Thottle body Aus sehingga tidak
system dapat menutup rapat
2 Idling
Penyetelan idle Penyetelan idle terlalu
terlalu
tinggi
tinggi Electronic Rangkaian ISC Rangkaian terbuka
control atau aktuktor ISC tidak
system bekerja dengan posisi
terbuka
AC signal On terus
Air Air valve Macet posisi menutup
induction
Penyetelan idle Penyetelan idle terlalu
3 Idling system
Electronic rendah
terlalu Rangkaian ISC Rangkaian terbuka
control
rendah system atau aktuktor ISC tidak
bekerja dengan posisi
menutup
Air flow meter. MAP Tegangan atau
sensor tahanan tidak tepat
Sistem Pompa bahan bakar Pompa lemah
bahan Injektor Lubang tersumbat
bakar
Injector Terbalik atau bocor
Sistem
Pompa bahan bakar Tidak berfungsi
bahan Pressure regulator dengan baik
4 Idling bakar
tidak Air Air valve kotor
stabil induction Throttle body Poros throttle valve
system aus
Electronic Air flow meter/ MAP Kontak kotor, tidak
control sensor bekerja
system Oxygen sensor Tidak bekerja
5 Mesin Idle Aktuator ISC Tidak bekerja
mati speed
saat control
AC ON
Pengendaraan kurang baik (Poor drivability)
Kemungkinan Penyebab
No Gejala
Sistem Komponen Jenis
Injector Volume injeksi
kurang
1 Tersendat Sistem bahan Pompa bahan bakar Volume kurang
saat bakar Pressure regulator Tekanan rendah
dipercepat Fuel Filter, Fuel line Tersumbat
Electronic Air flow meter/ MAP Tegangan atau
control system sensor tahahan tidak tepat,
Intake air temperature sambungan terbuka
sensor atau hubung pendek
Water temperature
sensor
Throttle position
sensor
Sistem Busi, coil, Igniter Lemah
pengapian Distributor signal
Sistem bahan Injector Bocor, volume
2 bakar
berlebihan
Mufler Electronic Water temperature Tegangan atau
meledak - control system sensor tahahan tidak tepa
ledak Sistem Busi, coil, Igniter, Lemah
pengapian
3 Injector Volume injeksi
Sistem bahan kurang
bakar Pompa bahan bakar Volume kurang
Pressure regulator Tekanan rendah
Tenaga Fuel Filter, Fuel line Tersumbat
mesin Air flow meter/ MAP Tegangan atau
lemah Electronic sensor tahahan tidak tepat,
control system Intake air temperature sambungan terbuka
sensor atau hubung pendek
Water temperature
sensor Output signal VTA
Throttle position atau PSW tidak ada
sensor
Injector Injector bocor atau
Sistem bahan volume injeksi
bakar berlebihan
Pressure regulator Macet, tenakan bb
4 Asap
berlebihan
hitam Air flow meter/ MAP Tegangan atau
sensor tahahan tidak tepat,
sambungan terbuka
Electronic atau hubung pendek
control system Intake air temperature Tegangan atau
tahahan tidak tepat
sensor

Water temperature sensor


sensor Oxygen sensor
Throttle position
Tidak berfungsi