Anda di halaman 1dari 11

ARTIFICIAL RECHARGE

PERESAPAN ATAU PENGISIAN AIR TANAH BUATAN DAN


PENERAPANNYA
A. Pengertian
Meningkatnya penggunaan air tanah dan di lain pihak jumlah air hujan yang
meresap ke dalam tanah berkurang akibat meningkatnya koefisien limpasan (runoff).
Meningkatnya koefisien limpasan (runoff) tersebut disebabkan karena perubahan tat
guna lahan serta pertumbuhan perkotaan sehingga banyak area resapan tertutup oleh
bangunan. Hal ini telah menyebabkan ketidakseimbangan antara jumlah pemakaian
air tanah dan jumlah air hujan yang meresap (recharge). Dalam rangka menjaga
kelestarian air tanah, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah mengembangkan
dan memasyarakatkan teknologi peresapan atau pengisian air tanah buatan (artificial
recharge of groundwater), yaitu teknik meresapkan air hujan atau air permukaan
kedalam tanah agar jumlah air tanah bertambah (Murray and Harris, 2010)
Secara sederhana, artificial recharge adalah sebuah proses dimana air hujan
atau kelebihan air permukaan diresapkan atau dimasukkan ke dalam tanah, baik
dengan menyebarkannya di permukaan, dengan menggunakan sumur resapan, atau
dengan mengubah kondisi alami untuk meningkatkan infiltrasi yang bertujuan untuk
mengisi kembali aquifer. Hal ini mengacu pada pergerakan air melalui system buatan
manusia dari permukaan bumi ke lapisan akuifer di bawah tanah dimana air hujan
pada saat musim hujan dapat disimpan di dalam tanah (akuifer) agar dapat digunakan
pada saat musim kemarau atau untuk penggunaan di waktu yang akan datang.
Resapan buatan atau pengisian air tanah buatan sering juga disebut planned recharge
adalah suatu cara menyimpan air di bawah tanah pada saat surplus, untuk memenuhi
kebutuhan pada saat kekurangan air (Murray and Harris, 2010)
B. Manfaat
Beberapa keuntungan dari pengisian air tanah buatan antara lain adalah :
Tidak dibutuhkan struktur penyimpanan yang besar untuk menyimpan air.
Struktur yang dibutuhkan kecil dan hemat biaya
Meningkatkan cadangan air tanah atau meningkatkan permukaan air tanah
Kerugian dapat diabaikan jika dibandingkan dengan kerugian pada
penyimpanan air di permukaan tanah
Meningkatkan kualitas air tanah sebagai akibat pengenceran bahan
kimia/garam berbahaya
Tidak ada efek samping seperti penggenangan daerah permukaan yang luas
dan kehilangan atau kerusakan tanaman.
Tidak ada pemindahan penduduk setempat
Pengurangan biaya energy untuk mengangkat atau memompa air tanah
terutama pada tempat dimana kenaikan permukaan air tanah cukup besar
Memanfaatkan kelebihan limpasan air permukaan, sehingga air hujan tidak
terbuang secara sia-sia
C. Metode Peresapan Air Hujan atau Pengisian Air Tanah Buatan
Ada beberapa cara yang telah dikembangkan antara lain yaitu (Murray and
Harris, 2010) :
1. Metode Penyebaran Air di permukaan tanah (Surface Water Spreading
Techniques). Metode ini meliputi beberapa cara yakni :
Metode Cekungan (Basin Method)
Metode Parit (Furrow Method)
Metode Saluran Alami (Natural Channel Method)
Metode Perendaman (Flooding Method)
Metode Irigasi (Irrigation Method)
2. Metode Pengisian melalui sumur galian (Recharge Through Pits)
3. Metode pengisian melalui sumur injeksi (Recharge Throuhg Injection Wells)
4. Metode Induced Recharge
Pemilihan dari metode-metode tersebut adalah berdasarkan pertimbangan yang
meliputi hal-hal antara lain :
Kondisi geologis dan hidrogeologi, misalnya kondisi lapisan tanah
pembawa air (akuifer), topografi, cekungan tanah, kapasitas resapan, dan
lainnya
Kualitas dan jumlah air yang digunakan
Tingkat peresapan dan kecepatan pengisian tanah
Penggunaan air tanah
Pertimbangan teknis dan ekonomis
D. Artikel mengenai Penerapan Peresapan atau Pengisian buatan (Artificial
recharge)
1. Merode Perendaman (Flooding Method)
Pengisian air tanah buatan dengan metode perendaman dilakukan dengan cara
menyebarkan air hujan atau air sungai ke permukaan tanah sampai terendam sehingga
meresap ke dalam tanah. Untuk daerah yang datar dan luas, daerah perendaman
seringkali menyimpang dari yang direncanakan. Oleh karena itu pada prakteknya,
disekeliling daerah rendaman dibuatkan kanal-kanal atau saluran agar penyebaran dan
perendaman air dapat terkendali (Murray and Harris, 2010)
Studi Kasus:
Teknik ini sangat ideal untuk daerah yang berada di dekat sungai atau saluran
irigasi, dimana permukaan airnya tetap tinggi bahkan setelah musim hujan. Teknik ini
terdiri dari penyebaran lapisan tipis air di antara dua tanggul, sedangkan air berlebih
(tidak terpakai) diarahkan melalui saluran kembali ke sumber (yang bisa berupa
saluran sungai atau irigasi)
Teknik perendaman membantu mengurangi kerugian air melalui penguapan
dari permukaan tanah dan ini teknik ini lebih ekonomis daripada metode pengisian
ulang buatan lainnya yang tersedia, yang juga memiliki biaya perawatan yang rendah.
Flooding of Dorz Sayban Plain, Iran
Eksploitasi air tanah secara berlebihan menyebabkan penurunan sebagian
besar permukaan air tanah (1,50m/tahun) seiring dengan penurunan kualitas air tanah
di Dataran Dorz Sayban, Iran. Dataran yang terletak di 115 km selatan-timur Larestan
di Iran adalah wilayah pertanian, 3500 hektarnya diirigasi dengan menggunakan air
tanah. Untuk mengembalikan fungsi air tanah, lima sistem perendaman untuk
pengisian ulang air di dalam tanah (akuifer) dibuat antara tahun 1983 dan 2003 (Gale,
2005).
Salah satu sistem perendaman yang dipasang di sungai Kaftari, dirancang
untuk mengarahkan air rendaman di sembilan saluran pengisian ulang berbentuk
persegi panjang. Untuk sistem ini, sembilan kejadian banjir yang terjadi antara 2002-
2003 dipantau di dua saluran. Arus masuk maksimum dan arus keluar sistem adalah
20,3 m3/s, masing-masing 7,26 m3/s. Volume arus masuk dan keluar total untuk
sembilan kejadian banjir adalah 886.000 m3/s, masing-masing 146000 m3/s. Oleh
karena itu, disimpulkan bahwa 83,5% aliran masuk dialirkan ke akuifer, hanya
sejumlah kecil air yang hilang melalui penguapan, sehingga efisiensi sistem yang
tinggi untuk wilayah ini (Gale, 2005).
2. Metode Pengisian Cekungan/Penampung (Recharge Basin)
Pengisian cekungan biasanya dibangun di samping sumber air sementara, melalui
penggalian atau tanggul. Bisa juga dibangun sejajar dengan kanal atau permukaan
sungai, di sana dapat dibangun lebih banyak cekungan isi ulang, di samping jalur air
agar (MWR, 2007):
meningkatkan waktu kontak antara air dan medan;
mengurangi padatan tersuspensi melalui aliran air dari satu tangki ke tangki lainnya;
memfasilitasi perawatan berkala
Untuk menerapkan sistem pengisian ulang buatan melalui cekungan isi ulang,
hal-hal berikut harus dipertimbangkan (MWR, 2007):
Permukaan yang dipilih untuk pengisian ulang buatan harus memiliki kemiringan
rendah;
titik masuk dan keluar air berlawanan arah untuk memperlancar peredaran air di
setiap cekungan;
air yang dimasukkan ke dalam cekungan harus sebersih mungkin (tidak ada
sedimen);
Tingkat aliran influen harus lebih besar dari kapasitas semua cekungan infiltrasi.
Recharge basins in Atlantis, South Africa
Contoh penerapan yang baik dalam penggunaan cekungan air tanah buatan
diimplementasikan di kota Atlantis, terletak 50 km sebelah utara pusat kota Cape
Town di Afrika Selatan, beroperasi lebih dari 30 tahun. Di sini diolah air limbah dan
air dari curah hujan yang diarahkan untuk mengisi cekungan besar, di mana air
menginfiltrasi akuifer sesudahnya, dan akhirnya diekstraksi dan digunakan kembali
oleh pemerintah kota (IGRAC, 2008).
Kota Atlantis menjadi kota yang baru dikembangkan, kondisi alam awal tanah
ini menghasilkan limpasan minimal. Diharapkan juga bahwa jumlah ini akan
meningkat secara signifikan dengan perkembangan urbanisasi daerah tersebut dan
oleh karena itu permukaannya tidak rata, sehingga menciptakan sumber air potensial.
Karena sumber ini dapat digunakan untuk meningkatkan cadangan air di wilayah ini,
diputuskan untuk membangun sistem pengumpulan air dari curah hujan. Sebagai
sumber air tambahan, ditambahkan air limbah yang ditambahkan dan diolah, untuk
mengisi kembali akuifer bersama dengan air dari curah hujan (Tredoux G., 2010).
Jika dilihat dari bangunannya, sistem Atlantis terdiri dari 12 cekungan untuk
menyimpan air, dengan kedalaman rata-rata 1-4 m. Kedalaman ini cukup besar untuk
mencegah pertumbuhan ganggang, namun cukup kecil mencegah berkembangnya
kondisi anaerobik, kecuali bagian bawah sungai (IGRAC, 2008). Mengenai hasilnya,
diperkirakan sekitar 7500 meter kubik / hari air limbah yang diolah dan air dari curah
hujan, diisi pada akuifer. Ini berarti bahwa cadangan air tanah Atlantis dilengkapi
dengan pasokan buatan sekitar 25-30% (Tredoux G., 2010).
3. Memanen/menampung air hujan (Murray and Harris, 2010)
Air hujan dari atap atau paving lokal dialihkan ke lubang yang sudah di bor, sumur
atau cekungan yang terisi penuh dengan pasir atau kerikil dan dibiarkan meresap ke
muka air tanah dimana dikumpulkan dengan memompa dari sumur atau lubang bor.
Kondisi Hidrologi :
Akuifer pasir : sumur, penampungan, lubang bor
Akuifer berbatu : lubang bor
Biaya relatif : Rendah sampai sedang (bisa dipasang/dipraktikkan bagi yang
punya lubang bor)
Pra-Treatment : Biasanya tidak diperlukan
Pertimbangan Lain : Mengalihkan air dari atap ke tanah bisa bermanfaat
Studi Kasus : Hermanus
Latar belakang : Dua dari tiga rumah di pinggiran kota Northcliff dan Eastcliff
di Hermanus memiliki syarat yang baik untuk membuat suatu penyimpanan
cukup besar pada sumber air tanah dangkal yang ada.
Tujuan : Air hujan yang jatuh ke atap setiap rumah tangga dan permukaannya
keras jadi bisa ditangkap dan dialihkan ke akuifer daripada terbuang percuma.
Sumber air : Air hujan yang jatuh di daerah sekitar
Pre-Treatment : Tidak ada
Target Akuifer : Pasir dangkal setebal 5-10m, dengan kedalaman air tanah
rata-rata 2,5 m di bawah permukaan tanah
Hasil : Resapan buatan akan membantu mempertahankan hasil panen yang
cukup untuk memenuhi kebutuhan irigasi di kebun
Perubahan : Meningkatkan kesadaran akan manfaat finansial pemanenan air
hujan untuk irigasi rumah tangga, daripada menggunakan air bersih kota
DAFTAR PUSTAKA

Gale I.(2005) Strategies for Managed Aquifer Recharge (MAR) in semi arid areas.
UNESCO International Hydrological Programme (IHP)

Ministry of Water Resources (MWR, 2007) Central Ground Water Board Manual on
artificial recharge of ground water, India

Murray, R., and Harris, J. (2010). Water Banking : A Practical guide to using Artificial
Groundwater Recharge. Department of Water Affairs, Republic South Africa

Tredoux G., Cain J., et al (2010) Strategy and Guideline Development for National
Groundwater Planning Requirements. The Atlantis Water Resource Management
Scheme: 30 years of Artificial Groundwater Rechage. Department of Water
Affairs, PRSA 000/00/11609/10, Activity 17 (AR5.1).
PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN

STUDI CASE OF ARTIFICIAL RECHARGE

DISUSUN OLEH :
Denesya Natalia Paris
(03211750010008)

DOSEN :

Ir. Mas Agus Mardyanto, ME, Ph.D

PROGRAM PASCASARJANA TEKNIK LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOVEMBER

SURABAYA

2017