Anda di halaman 1dari 14

BAB II

TINJAUAN UMUM

1.1. Profil Perusahaan

PT. Timah Investasi Mineral merupakan perusahaan yang bergerak di bidang

pertambangan bijih nikel. Kegiatan penambangan berada di wilayah IUP Operasi Produksi No.

86 Tahun 2015 . Kecamatan Kabaena, Kabupaten Bombana, Propinsi Sulawesi Tenggara

dengan luas 300 Ha. Pada tanggal 26 Mei 2015 Pemerintah Kabupaten Bombana menerbitkan

Keputusan Bupati Bombana No. 86 Tahun 2015 tentang pengalihan ijin usaha Pertambangan

operasi produksi PT Timah Eksplomin menjadi ijin usaha Pertambangan operasi produksi PT

Timah Investasi Mineral yang secara administratif terletak di kecamatan Kabaena Barat,

Kabupaten Bombana Provinsi Sulawesi Tenggara.

Gambar 2.1 lokasi perusahaan PT. Timah Investasi Mineral


Gambar 2.2. Peta Wilayah Izin Pertambangan Operasi Produksi
2.1.1 Deskripsi Kegiatan

Kegiatan penambangan Bijih Nikel PT. Timah Investasi Mineral diwilayah IUP

meliputi Tahap Operasi Produksi pada areal 300 Ha. Kegiatan yang dilakukan secara

umum meliputi :

1. Pembersihan lahan penambangan (land Clearing),

2. Pengupasan, pemindahan dan penimbunan tanah pucuk,

3. Pengambilan bijih nikel dengan alat gali dan muat, kemudian dilakukan

pengangkutan melewati jalan tambang ke lokasi penimbunan sementara (ETO)

sebelum dilakukan pengangkutan lebih lanjut ke stockpile pelabuhan (EFO).

Gambar 2.3. Tahapan Kegiatan Operasi Produksi PT. Timah Investasi Mineral
Nama Perusahaan : PT. Timah Investasi Mineral
Bahan Galian : Bijih Nikel

Legalitas : No. 86 Tahun 2015 Tanggal 26 November

2015

Luas Wilayah : 300 Ha

Tahun Produksi komersial : Tahun 2015

Produksi Maksimal : 1.500.000 MT

Lokasi Perusahaan : Kec. Kabaena, Kabupaten Bombana,

Prop. Sulawesi Tenggara.

Metode : Tambang Terbuka (Open Pit Mining)

1.2. Kondisi Geologi

2.2.1 Morfologi Daerah Penyelidikan

1. Satuan Geomorfologi Lereng Curam

Satuan ini menempati sebelah tenggara dari daerah eksplorasi yang disusun oleh batuan

ultrabasa dan gamping kuarsa yaitu meliputi 10% dari luas area eksplorasi dengan

slope/kemiringan 450 dan pada umumnya merupakan semak belukar dan hutan, berada pada

ketinggian 350 600 Mdpl

Kerapatan kontur menandakan kemiringan lereng yang curam dengan arah memanjang kea

rah barat laut tenggara.

2. Satuan Geomorfology Lereng Sedang

Satuan ini menempatisebelah barat laut dan tenggaradaerah eksplorasi yang meliputi 60%

dari luas areal dengan kemiringan 250-300 dan pada umumnya merupakan perkebunan, hutan

dan semak belukar, dengan ketinggian 150 300 Mdpl. Terdapat aliran sungai kering yang
mengalir di tengah yang terisi air pada saat hujan dengan kerapatan kontur sedang dengan

arah memanjang kearah barat tenggara mengikuti lereng bukit.

3. Satuan Geomorfology Lereng Landai

Satuan ini menempati sebelah barat daya daerah eksplorasi yang meliputi 30% dari luas

area eksplorasi dengan kemiringan 10 200 dan pada umumnya perkebunan dan semak

belukar pada ketinggian 100 150 Mdpl kerapatan kontur agak kurang dengan arah

memanjang kearah barat laut tenggara mengikuti lereng bukit.

2.2.2 Geologi Regional Pulau Kabaena Kabupaten Bombana

Kondisi morfologi Pulau Kabaena dapat dibedakan menjadi 4 satuan geomorfologi,

yaitu pegunungan,perbukitan, daerah karst dan dataran rendah.Daerah pegunungan terletak

di bagian tengah Pulau Kabaena memanjang ke arah selatan, puncaknya yaituGunung

Sambopolulu yang memiliki ketinggianhingga 1550 m di atas permukaan laut. Sungai

didaerah pegunungan biasanya memiliki banyakpercabangan, lembahnya curam dan

berbentuk V.Morfologi perbukitan terletak di bagian utara Pulau Kabaena memanjang ke

arah selatan sampai perbukitan karst yang berbatasan langsung dengan Gunung

Sambopolulu di bagian tengah Pulau Kabaena.Ketinggiannya berkisar antara 100 600 m di

ataspermukaan laut.Pola aliran umumnyamemperlihatkan percabangan dengan

dasarlembahnya agak datar dan memperlihatkanpengikisan ke samping lebih kuat. Daerah

karst terdapat di bagian tengah Pulau Kabaena, puncaknya yaitu Batu Sengia yang

memiliki ketinggianlebih dari 1000 m di atas permukaan laut.Batuan inidibentuk oleh batu

gamping dengan pola aliransecara umum memperlihatkan percabangan dansetempat

terdapat di bawah tanah.Dataran rendah menempati bagian daratan dekatpantai. Satuan ini

memiliki ketinggian hingga sekitar100 m di atas permukaan laut


2.2.3 Geologi Lokal Derah Penelitian

Simandjuntak dalam Surono (2010), menjelaskan bahwa berdasarkan sifat geologi

regionalnya Pulau Sulawesi dan sekitarnya dapat dibagi menjadi beberapa mandala

geologi yakni salah satunya adalah mandala geologi Sulawesi Timur. Mandala ini

meliputi lengan Tenggara Sulawesi, Bagian Timur Sulawesi Tengah dan Lengan Timur

Sulawesi. Lengan Timur dan Lengan Tenggara Sulawesi tersusun atas batuan malihan,

batuan sedimen penutupnya dan ofiolit yang terjadi dari hasil proses pengangkatan

(Obduction) selama Miosen. Surono menyebutkan bahwa jalur batuan malihan dan

sedimen serta penutupnya tersebut sebagai mintakat benua, sedangkan batuan ofiolitnya

merupakan lajur ofiolit Sulawesi Timur.Bagian Timur Sulawesi ini memanjang melalui

ujung Timur Lengan Timur, sisi Timur bagian Tengah, dan Lengan Tenggara Sulawesi.

Tektonik yang terjadi di Pulau Kabaena mulai dari kala Eosen sampai Oligosen

tektonik ini ini menyebabkan terjadinya sesar sesar naik yang mempunyai arah naik yang

mengarah relative ke barat timur sampai dengan kala miosen awal, tektonik ini

berkembang terus menerus berupa sesar sesar yang mengarah ke barat laut tenggara dan

timur laut, selanjutnya pada kala pliopisto terjadi tektonik yang menyebabkan

pengangkatan, perlipatan dan tersesarkan batuan tersier, kemungkinan tektonik ini

menerus sampai sekarang.


Gambar 2.4. Peta Lothologi Lokasi IUP dan Sekitarnya.

Pada sesar sesar batuan yang mengarah ke barat laut dan tenggara yang

membentuk bukit bukit dengan ketinggian sekitar 50 150 m dari permukaan laut.

Batuan induk biji besi nikel adalah batuan peridotite menurut vinogradov batuan

ultrabasa rata rata mempunyai kandungan nikel 0.2% unsur ni tersebut terdapat dalam

kisi kisi Kristal mineral olivium dan piroksin.

Muatan ion yang hampir bersamaan diantara unsurunsur tersebut pada pelapukan

kimia khususnya air tanah yang kaya akan CO2 berasal dari udaradan pembusukan

tumbuh tumbuhan menguraikan mineral mineral yang tidak stabil seperti ( olivium dan

piroksin ) pada batuan ultrabasa menghasilkan Mg, Fe, Ni yang larut, Si cenderung

membentuk koloid dari partikel partikel silica yang sangat halus. Di dalam larutan Fe
teroksidasi dan mengendap sebagai ferry-hydroksida akhirnya membentuk mineral

mineral seperti goethite, limonite, dan hematite dekat permukaan.

Bersam mineral mineral ini selalu ikut serta unsure Cobalth dalam jumlah relative

lebih kecil.Larutan yang mengandung Mg, Ni dan Si terus menerus kebawah selama

larutannya bersifat asam, hingga pada suatu kondisi dimana suasana cukup netral akibat

adanya kontak dengan tanah dan batuan, membentuk endapan Hydrosilikat.

Nikel yang terkandung dalam rantai silikat atau hydrosilikat dengan komposisi

yang berfariasi tersebut akan mengendap pada celah celah atau rekahan rekahan yang

dikenal dengan urat urat garneritdan krisopras, sedangkan residunya akan membentuk

suatu unsure lainnya seperti Ca dan Mg yang terlarut sebagai bikarbonat akan terbawa

kebawah sampai batas pelapukan dan diendapkan sebagai dolomite, magnesit yang biasa

mengisi celah celah atau rekahan pada batuan induk.

2.2.4 Struktur Geologi

Menurut peta geologi lembar Kolaka (Simandjuntak, dkk., 1993) terdapat sesar

geser dan sesar naik.Arah sesar-sesar tidak beraturan.Sesar naik menjadi batas dari tiap

litologi, sedangkan sesar geser lebih mengontrol pengendapan batuan.Sesar-sesar ini

hanya memotong batuan Pra Tersier.Batuan Tersier tidak terpengaruh oleh kahadiran

sesar tersebut.Sesar-sesar tersebut diduga berumur Mesozoikum (Moetamar, 2005).

Struktur geologi yang dijumpai di blok Toshida terdiri dari perlipatan dan sesar

serta kekar, sebaran struktur geologi dapat dilihat pada peta geologi. Perlipatan yang ada

terdiri dari lipatan lemah dan lipatan tertutup.Lipatan lemah kemiringan lapisannya landai

kurang dari 30 derajat, merupakan lipatan terbuka, berarah Baratdaya Timurlaut dengan
sumbu lipatan bergelombang.Lipatan tertutup kemiringan lapisannya agak tekak sampai

terbalik, sumbu lipatan secara umum berarah utara-Barat, diperkirakan terbentuk pada

kala Oligosen.

Kekar terdapat dalam hampir semua jenis batuan dan tampaknya terjadi dalam

beberapa priode. Perpaduan terjadi pada batuan yang berumur Kapur sejalan dengan

kegiatan tektonik di daerah tersebut.

Gambar 2.5 Peta Struktur Geologi.

2.2.5 Stratigrafi

Kompleks batuan malihan menempati bagian tengah lengan tenggara sulawesi

membentuk pegunungan mandoke dan ujung delatan membentuk pegunungan rumbia.

Komplek ini di dominasi batuan malihan yang terdiri dari sekis, kuarsa, sabak dan marmer
(Simandjuntak dkk.,1993; Rusmana dkk., 1993b) dan terobos aplit dan diabas

(Surono,1986). Secara garis besar kedua mendala ini dibatasi oleh Sesar Lasolo .Batuan

yang terdapat di Lajur Tinodo yang merupakan batuan alas adalah batuan malihan

Paleozoikum (Pzm) dan diduga berumur Karbon.Pualam Paleozoikum (Pzmm) menjemari

dengan batuan malihan Paleozoikum terutama terdiri dari pualam dan batugamping

terdaunkan. Pada Permo-Trias di daerah ini diduga terjadi kegiatan magma yang

menghasilkan terobosan antara lain aplit PTr (ga), yang menerobos batuan malihan

Paleozoikum. Formasi Meluhu (TRJm) ,secara tak selaras menindih Batuan Malihan

Paleozoikum. Pada zaman yang sama terendapkan Formasi Tokala (TRJt). Hubungan

dengan Formasi Meluhu adalah menjemari.Pada kala Eosen (Surono. 2010).

Batuan yang terdapat di Lajur Hialu adalah batuan ofiolit (Ku) yang terdiri dari

peridotit, harsburgit, dunit dan serpentintit. Batuan ofiolit ini tertindih tak selaras oleh

Formasi Matano (Km) yang berumur Kapur Akhir, dan terdiri dari batugamping berlapis

bersisipan rijang pada bagian bawahnya (Surono. 2010). Bahwa sejumlah percontohan

batuan malihan dari kompleks batuan malihan di Lengan Tenggara bahwa periode

pemalihan batuan, tua dan muda.Pemalihan tua menghasilkan fasies epidot-ampibol dan

yang muda menghasilkan fasies sekis glaukofan.Pemalihan tua berhubungan dengan

penimbunan, sedangkan yang muda diakibatkan sesar naik.Sangat mungkin sesar naik

tersebut terjadi pola Oligosen Awal Miosen, sewaktu kompleks ofiolit tersesar-naikkan

keatas kepingan benua.

Menurut Helmers dkk. (1989) dalam Surono (2013) dalam penelitiannya

menyatakan bahwa evolusi sekis hijau di Lengan Tenggara Sulawesi, Terutama dari

pegunungan Mendoke dan Pegunungan Rumbia adalah suatu pemalihan pertama adalah
rekritalisasi sekis hijau pada akhir penimbunan cepat (fast burial yang pernah mengalami

subdaksi.

2.3 Waktu, Lokasi dan Kesampaian Daerah

Wilayah konsesi PT. Timah Investasi Mineral dengan luas 300 hektar berada pada area

kecamatan Kabaena dan Kecamatan Kabaena Barat Propinsi Sulawesi Tenggara Sulawesi

tengah.Areal konsesi dibagi menjadi tiga zona yaitu Desa Langkema, Desa Batuawu dan Desa

Rahadopi. Secara geografis, wilayah konsesi terletak pada koordinat sebagai berikut sebagai

berikut:

Table 2.1 Koordinat IUP Operasi Produksi PT. Timah Investasi Mineral

Koordinat
Nomor
Bujur Timur Lintang Selatan
Titik
Derajat(0) Menit (0) Detik (0) Derajat(o) Menit (0) Detik (0)

1 121 49 0,00 05 15 59,00

2 121 49 0,00 05 14 50,00

3 121 49 33,00 05 14 50,00

4 121 49 33,00 05 15 11,00

5 121 49 49,00 05 15 11,00

6 121 49 49,00 05 16 7,00

7 121 49 49,00 05 16 7,00

8 121 49 49,00 05 15 59,00


Untuk dapat sampai ke wilayah yang dimaksud dapat ditempuh dengan transportasi

umum dan atau pribadi dengan rute :

Jakarta Makassar Kendari : Dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat

terbang kurang lebih 3 Jam.

Kendari Bombana : Ditempuh dengan menggunakan Kendaraan umum atau pribadi

selama kurang lebih 4 Jam.

Bombana Pulau Kabaena : Ditempuh dengan menggunakan Speed Boat selama

kurang lebih 90 Menit menuju pelabuhan Sikeli

Pelabuhan Sikeli : menuju lokasi Penambangan PT. Timah Investasi Mineral yang

terletak dalam Kecamatan Kabaena Barat ( 2 Km) dapat ditempuh dengan

menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat kearah Barat selama kurang lebih

10 Menit.

2.3.1 Keadaan Daerah

a. Penduduk

Secara umum penduduk yang bermukim didaerah IUP Operasi Produksi PT. Timah

investasi mineral secara sosial ekonomi pulau kabaena umumnya terdapat 2 mata

pencaharian yaitu sebagai nelayan dan petani. Penduduk Pulau Kabaena pesisir merupakan

penduduk migrasi yang didominasi oleh suku Makassar, Bugis, Selayar, Buton, dan

Bajo. Mereka adalah nelayan dan pedagang dengan hasil laut berupa ikan, kepiting dan

rumput laut.

Di wilayah pegunugan dihuni oleh suku Moronene, suku asli pulau kabaena yang

bermata pencaharian sebagai petani dengan hasil berupa kelapa, kakao, cengkeh, gula merah
dan kacang mente sedangkan hasil ternak berupa sapi dan kambingdan terdapat sebagian

pegawai negeri. Pada daerah ini juga terdapat kantor kantor pemerintah berupa kantor

Desa, Kantor Kecamatan, Kantor Polisi ,koramil, Rumah sakit pembantu, serta terdapat

instansi pendidikan tingkat pertama dan Desa Temokole dan batuawu merupakan Kota

Kecamatan.

b. Iklim

Kondisi iklim suatu daerah digambarkan oleh keadaan rata-rata cuaca pada waktu yang

lama. Mengingat di sekitar lokasi penambangan tidak tersedia stasiun pengamatan

meteorology, maka untuk menggambarkan kondisi iklim di lokasi penambangan nikel PT.

Timah Investasi Mineral dan sekitarnya digunakan data dari badan Meteorologi dan geofisika

stasiun Meteorologi klas III Pomala Kolaka Tahun 2001 Tahun 2009, berupa data curah

hujan, kelembaban nisbi, suhu udara, serta kecepatan dan arah angin. Kondisi curah hujan

dan hari hujan dapat dilihat pada Tabel 2.2

Tabel 2.2. Curah Hujan Daerah Pulau Kabaena


Pada tabel nampak bahwa curah hujan tertinggi terjadi pada tahun 2005 sebesar

2.349.1 mm dan curah hujan terendah terjadi pada tahun 2004 sebesar 1.482 mm.

Sedangkan jumlah hari hujan tertinggi terjadi pada tahun 2007 sebesar 225 hari dan

terendah 148 hari pada tahun 2006. Sementara itu, pada rentang tahun 2001 sampai tahun

2011 curah hujan tertinggi terjadi pada bulan April 2005 sebesar 421,7 mm dan hari

hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari 2012 dan Desember 2013.