Anda di halaman 1dari 156

BAB I

PENDAHULUAN

Unit Radiologi merupakan salah satu unit penunjang medis yang


memberikan layanan pemeriksaan dengan hasil berupa foto / gambar / imejing
untuk membantu dokter yang merawat pasien dalam menegakkan diagnosis
penyakit. Dengan begitu bila ada seorang pasien akan melaksanakan pemeriksaan
THORAX, HSG, COLON, BNO, IVP atau APENDIX, maka kita sebagai ahli atau
teknisi elektromedis harus menjamin dan mempersiapkan Pesawat Rontgen yang
mampu melaksanakan pemeriksaan seperti itu.
Untuk pemeriksaan thorax maka yang perlu kita persiapkan adalah sebuah
Pesawat Rontgen Radiografi atau Pesawat Rontgen Multipurpose. Disini kita
menggunakan contoh bahwa pemeriksaan thorax dilakukan menggunakan
Pesawat Rontgen Multipurpose. Sebelumnya kita wajib mengetahui bahwa
Pesawat Rontgen Multipurpose dapat melaksanakan pemotretan Tunggal (
Radiografi ), Foto Seri dan Fluoroscopy. Untuk pemotretan tunggal peralatan-
peralatan yang ada adalah :
A. X-Ray Denerator Terdiri dari :
1. Control Table
2. HTT Tank
3. X-Ray Tube

B. X-Ray Apparatus Terdiri dari :


1. Patient Table / Universal Patient Table
2. Bucky Wall Stand, Bucky Table
3. Kolimator

Dengan memiliki poin-poin diatas saja maka dapat terlaksanalah pemeriksaan


radiografi ( secara teknis ) contohnya pemeriksaan thorax. Sedangkan untuk
konfigurasi pemeriksaannya sendiri ada beberapa macam :

1
1. Pemeriksaan Thorax menggunakan X-Ray tube overtable
a. Pasien Berdiri

Gambar 1. 1 Pemeriksaan Thorax dengan X-Ray Overtable

Untuk pemeriksaan ini, pasien berdiri didepan Bucky atau Wall Stand
kemudian ditembakan Sinar-X yang berasal dari X-Ray tube overtable. Setelah
menembus jaringan tubuh manusia, sebagian Sinar-X diserap oleh tubuh dan
sebagian lainnya keluar menembus tubuh dan diterima oleh Film yang berada
dalam Bucky atau Wall Stand tersebut.
b. Pasien Tidur di Patient Table

Gambar 1. 2 Pemeriksaan Thorax dengan X-Ray Tube Overtable (Pasien Tidur)

Adapula pemeriksaan thorax dimana pasien terlentang di patient table lalu


ditembakan Sinar-X dari X-Ray Tube Overtable, selanjutnya Sinar-X diterima oleh
Film yang berada pada Bucky Table.

2
2. Pemeriksaan Thorax menggunakan X-Ray tube undertable

Gambar 1. 3 Pemeriksaan dengan X-Ray Tube Undertable

Pemeriksaan thorax pada Patient Table biasanya dilakukan saat pasien


benar-benar sakit parah sehingga tidak bisa duduk. Untuk pemeriksaan ini, pasien
tidur atau terlentang di Patient Table lalu ditembakan Sinar-X.
Sedangkan untuk pemeriksaan HSG / COLON / BNO IVP atau APENDIX maka
kita sebagai ahli / teknisi elektromedis harus mempersiapkan Pesawat Rontgen
yang memiliki spesifikasi atau konfigurasi yang tidak sama dengan Pesawat
Rontgen yang hanya bisa melaksanakan pemeriksaan Radiografi saja. Oleh karena
itu kita harus mempersiapkan Pesawat Rontgen Multipurpose yang memiliki :
1. X-Ray Generator =
a. Control Table
b. HTT Tank
c. X-Ray Tube
2. X-Ray Apparatus =
a. Universal Patient Table
b. Bucky Wall Stand, Bucky Table
c. Explorator
d. CCTV

Dengan tersedianya peralatan yang disebutkan diatas maka secara teknis


pemeriksaan HSG ( Kandungan ) / COLON ( Usus ) / BNO IVP ( Urinari ) atau
APENDIX ( Usus Buntu ) dapat dilaksanakan. Yang perlu kita ketahui lagi adalah
bahwa pemeriksaan tersebut memerlukan bantuan bahan kontras yang terbuat
dari zat Barium ( sebagai contoh ). Hal tersebut perlu dilakukan karena pada
organ bagian perut / pencernaan terdiri dari jaringan lunak, bila terkena Sinar-X
maka tidak banyak yang diserap sehingga nanti hasilnya sangat sulit dibaca pada
Film.
Bahan kontras ( radiopaque ) adalah suatu bahan atau zat yang bilamana
terkena Sinar-X maka bahan tersebut akan menyerap Sinar-X sehingga dengan

3
bahan ini jaringan lunak pada pemeriksaan HSG / COLON / BNO IVP atau APENDIX
akan terlihat jelas pada film.
Bila kita analisa, bahwa pemeriksaan diatas memerlukan sebuah komponen
CCTV sebagai bagian dari X-Ray Apparatus. Dengan begitu sangat penting untuk
diketahui secara terperinci informasi dan penjelasan tentang CCTV agar dapat
menjamin pesawat rontgen selalu siap pakai.
Kita tidak perlu khawatir, karena beberapa hal yang kita perlukan untuk
menjamin kesiapan alat Radiologi terutama Pesawat Rontgen Konvensional
Multipurpose memerlukan CCTV, selanjutnya Pesawat Rontgen Condensator
Discharge, Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi dan Pesawat Rontgen Condensator
Discharge Frekuensi Tinggi akan dibahas secara lengkap.

4
BAB II
TEORI RADIOLOGI DASAR

A. Teori Dasar :
Pesawat radiology adalah alat/pesawat medik yang bekerja dengan
menggunakan dan atau menghasilkan radiasi pengion, baik itu radioaktif
maupun sinar X.
Pesawat rontgen adalah alat/pesawat medik yang bekerjanya dapat
menghasilkan radiasi sinar X, baik untuk keperluan diagnostik maupun
terapi.

B. Sejarah singkat ditemukannya sinar rontgen/sinar X


Sinar X pertama kali ditemukan oleh Willhem Conrad Rontgen pada tahun
1895. Dalam percobaannya beliau menggunakan tabung Geslier yaitu tabung yang
terbuat dari Glass Envelope. Didalamnya terdapat gas Argon atau Xenon. Jika ada
perbedaan potensial yang tinggi antara anoda dan katoda maka gas-gas ini akan
terionisasi dan elektron-elektron akan membebaskan diri dari ikatan atomnya.
Elektron yang terdekat dengan anoda akan langsung ditarik ke anoda sehingga
terjadi hole. Hole ini akan diisi oleh elektron berikutnya. Tempat yang
ditinggalkan elektron, akan menjadi hole lagi dan terjadi pengisian lagi oleh
elektron berikutnya. Begitu seterusnya sehingga akan terjadi estafet elektron dan
terjadilah rangkaian tertutup dan terjadilah arus elektron yang berkebalikan
dengan arus listrik yang kemudian disebut arus tabung . Pada saat yang
bersamaan, elektron-elektron yang ditarik ke anoda tersebut akan menabrak
anoda dan ditahan. Jika tabrakan elektron tersebut tepat di inti atom disebut
peristiwa Breamstrahlung dan apabila menabraknya di elektron dikulit K, disebut
K Karakteristik. Akibat tabrakan ini maka terjadi hole-hole karena elektron-
elektron yang ditabrak tersebut terpental. Hole-hole ini akan diisi oleh elektron-
elektron lain. Perpindahan elektron ini akan menghasilkan gelombang
elektromagnetik yang panjang gelombangnya berbeda-beda.

Gambar 2.1 X-ray Tube

5
Gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,01 1 Amstrong
inilah yang kemudian disebut sinar X atau sinar Rontgen. Tabung X-ray jenis
pertama ini disebut Cold Chatoda Tube .
Namun pada perkembangan selanjutnya, pada tahun 1913, Collige
menyempurnakan penemuan Rontgen dengan memodifikasi tabung yang
digunakan. Tabung yang digunakan tersebut adalah tabung vakum yang
didalamnya terdapat 2 elektroda yaitu anoda dan katoda. Tabung jenis ini
kemudian disebut Hot ChatodaTube dan merupakan tabung yang dipergunakan
untuk pesawat Rontgen sampai saat ini.
1. Hot Chatoda Tube :

Gambar I.2
Gambar 2.2 Bagian-bagian Hot Chatode Tube

Katoda/filamen tabung rontgen dihubungkan ke transformator filamen.


Transformator filamen terdiri dari transformator stepdown. Bagian primer
diberi tegangan 110 volt. Bagian skunder bertegangan 12 sampai dengan 24
volt. Transformator filamen akan memberi supply sehingga mengakibatkan
terjadinya pemanasan pada filamen tabung rontgen. Hal ini mengakibatkan
terjadinya Thermionic Emission, dimana elektron-elektron akan
membebaskan diri dari ikatan atomnya, sehingga akan terjadi elektron bebas
dan terbentuklah awan elektron.
2
Keterangan gambar :
110 volt 12-24 volt 1. Lilitan primer
2. Inti besi
1 3 3. Lilitan sekuder

1
Gambar 2.3
Transformator step down

6
Anoda dan katoda kemudian di hubungkan dengan transformator
tegangan tinggi. Primer HTT diberi tegangan AC (bolak-balik) sehinggga akan
terjadi garis-garis gaya magnet (GGM) yang berubahubah bergantung dari
besarnya arus yang mengalir. Akibat dari perubahan garig-garis gaya magnet
ini akan menyebabkan timbulnya gaya gerak listrik (GGL) pada kumparan
sekunder, yang besarnya tergantung dari besarnya perubahan fluks pada
setiap perubahan waktu (E = - d / dt).
Dari proses ini didapatkan tegangan tinggi yang akan memberikan beda
potensial antara anoda dan katoda tabung rontgen.

2 Keterangan gambar :
1. input HTT
2 2. output HTT
1 3 5 3. mA meter
4. grounding
4
5. X-ray tube

Gambar 2.4
High Tention Transformator ( HTT )

Pada gambar 2.4 terlihat bahwa pada bagian sekunder, saat anoda
mendapatkan polaritas Positif ( + ) dan katoda mendapat polaritas Negatif ( - )
elektron-elektron bebas yang ada disekitar katoda akan ditarik menuju
anoda, akibatnya terjadilah suatu loop (rangkaian tertutup) maka akan terjadi
arus elektron yang berlawanan dengan arus listrik yang kemudian disebut
arus tabung. Pada saat yang bersamaan, elektron-elektron yang ditarik ke
anoda menabrak anoda dan ditahan. Jika tabrakan elektron tersebut tepat
diinti atom terjadi peristiwa Breamstrahlung dan apabila menabraknya di
elektron kulit K, terjadi K Karakteristik. Akibat tabrakan ini maka terjadi hole-
hole karena elektron-elektron yang ditabrak tersebut terpental. Hole-hole ini
akan diisi oleh elektron-elektron dari lintasan lain. Perpindahan elektron yang
mengisi hole-hole tersebut akan menghasilkan suatu gelombang
elektromagnetik yang panjang gelombangnya berbeda-beda. Gelombang
elektromagnetik yang panjang gelombangnya antara 0,01 1 Amstrong inilah
yang kemudian disebut sinar X atau sinar Rontgen.

Pada tabel 2.1 terlihat daerah spectrum gelombang elektromagnetik


bahwa antara Gamma Ray dan X-Ray berada pada daerah yang sama, artinya
panjang gelombang diantara keduanya ada pada gelombang yang sama.

7
Tabel 2.1 Spektrum Gelombang Elektromagnetik

8
2. Sinar Rontgen Memiliki Sifat-Sifat :
Sinar X dapat digunakan untuk terapi maupun diagnostik karena sinar
X mempunyai sifat sifat sebagai berikut :
a. Penetrating Effect
Bila sinar X mengenai bahan maka sinar tersebut akan diserap oleh
bahan yang dikenainya. Banyaknya sinar yang terserap tergantung dari
tebal tipisnya bahan dan kerapatannya, semakin tebal bahan semakin
banyak jumlah sinar-x yang terserap sehingga yang lolos sedikit.
Demikian pula jika kerapatan bahan semakin besar maka daya serap
semakin tinggi dan sinar-x yang lolos semakin sedikit.

b. Biological effect
Apabila sinar X mengenai tubuh maka akan merusak / mematikan sel-
sel lain yang hidup. Akibat radiasi sinar-x tersebut tersebut maka akan
menyebabkan kemandulan / metabolisme tidak lancar.
Contoh : - Alat reproduksi, akan menyebabkan kemandulan.
- Mata, berakibat kebutaan, sekecil apapun radiasi sinar X
jangan diabaikan.

c. Ionisation effect
Apabila sinar X dikenakan pada bahan, maka pada bahan tersebut
akan terjadi ionisasi yaitu peristiwa dimana ion-ion negatif akan
terlepas dari ikatan atomnya.

d. Flourecent effect
Bila sinar X mangenai layar yang dilapisi dengan bahan flourecent
misalnya : NaI maka pada layar tersebut akan terjadi kilatan cahaya
/cahaya tampak dan akan berpendar.

e. Fotography effect
Bila sinar X mengenai fllm, maka pada film akan terjadi bayangan
laten. Apabila kemudian film tersebut telah diproses di kamar gelap
untuk dicuci dengan bahan kimia yaitu developer, fixer dan washer
lalu dikeringkan maka akan terjadi bayangan laten yang bisa dilihat
secara nyata.

3. Syarat Syarat Terjadinya Sinar X :


Jika tabung sinar-x memenuhi syarat dibawah ini maka tabung tersebut
akan membangkitkan sinar-x dengan syarat sebagai berikut:

9
a. Adanya sumber elektron yang diperoleh dari transformator
filament sehingga terjadi termionic emission. Kemudian terjadi
elektron-elektron bebas dan menyebabkan terjadinya awan
elektron di katoda.
b. Adanya tegangan tinggi (kV) yang diperoleh dari HTT, sehingga
diperoleh beda potensial antara anoda dan katoda.
c. Adanya alat yang berfungsi menghentikan jalannya electron dari
anoda ke katoda yang berupa target .
d. Adanya tabung fakum yang berfungsi memberikan keleluasaan
electron dari anoda ke katoda sehingga tidak ada hambatan.
e. Adanya focusing cup yang berfungsi untuk memfokuskan electron
agar tertuju ke anoda.

Bahan Bahan Tabung Rontgen :


1. Glass envelope / tube insert
Merupakan wadah dari elektrode-elektrode. Glass envelope terbuat
dari bahan phyrex yang tahan panas dan dirancang sedemikian rupa
sehingga tempat yang akan dilalui sinar Rontgen dibuat lebih tipis
dibanding yang lain dan disebut window.

Gambar 2.5 Glass envelope

2. Katoda/Filamen
Terdiri dari bahan Tungsten mempunyai titik lebur yang tinggi yaitu
3600 oC dengan nomor atom 74.
Filamen merupakan sumber elektron dan berfungsi sebagai katoda.
Terdiri dari dua jenis katoda yaitu :
a) Single focus

ANODA
KATODA

Gambar 2.6 X-ray tube singel focus

10
b) Double focus

Small focus

ANODA
Large Focus

Gambar 2.7 X-ray tube double focus

Katoda merupakan elektroda negatif yang memiliki 2 sistem pemanasan


yaitu:
1) Pemanasan Langsung
Pemanasan langsung adalah peristiwa pemanasan dimana katoda
dan filament merupakan satu bahan yang terbuat dari thungsten.
Dengan kata lain bahwa bahan yang digunakan sebagai tempat
terjadinya proses thermionic emission juga berfungsi sebagai katoda.
2) Pemanasan Tidak Langsung
Disini antara filamen dan katoda terpisah, filamen bahan untuk
dipanaskan sehingga terjadi thermionic emission sebagai sumber
electron, sedangkan katoda sebagai sumber muatan negartif
( perhatikan gambar 2.8)

Keterangan gambar
1. glass envelope (tabung glass)
2. anode
3. katode
4. filament
5. ke trafo filamen

Gambar 2.8
Pemanasan tidak langsung

Katoda terbuat dari bahan nikel sedangkan filamen sebagai alat


terjadinya thermionic emission terbuat dari thungsten. Thermionic
emission adalah terjadinya proses pemanasan filament hingga
elektron-elektron terlepas dari ikatan atom dan membebaskan diri
sehingga terjadi awan electron pada filament.

11
3) Anoda sebagai target terdiri dari :
a. Stationary Anode X Ray Tube seperti pada gambar 2.9

Gambar 2.9
Stationary Anode X-ray Tube
Keterangan :
1. Katoda 6. Glass envelope
2. Filamen 7. Anoda
3. Focal Spot 8. Primary diaphragm
4. Thungsten Disc 9. Usefull beam
5. Vacum Space

Kedua bahan anoda ini mempunyai syarat :


Hubungan mekanik harus baik: agar bahan tetap lengket dan
tidak lepas.
Hubungan elektrik harus baik : agar tidak terjadi voltage drop
yang besar. Hal ini disebabkan karena hubungan elektrik antara
keduanya akan menciptakan terjadinya R (tahanan).

12
b. Rotating anoda

Gambar 2.10 Rotating Anoda

Keterangan :
1. Thungsten anode beam
2. Rotor
3. Ball-bearing motor
4. Cathode with filament
5. Focusing cup
6. Glass envelope

Sebelum terjadi exsposure yaitu saat preparation, anoda berputar


terlebih dulu. Tegangannya lebih besar daripada saat putaran
normal. Keuntungan menggunakan rotating anoda adalah:
1. Sasaran mendaratnya/membenturnya elektron pada target
tidak satu tempat yaitu pada semua permukaan anode secara
bergantian sehingga target tidak mudah erosi/berlubang.
2. Karena berputar maka rotating anode juga berfungsi sebagai
pendingin.
3. Anode akan lebih awet.

Gambar 2.11
Effective vocal spot size

13
Anoda dibuat miring dengan kemiringan 15-45o supaya
mendapat fokus x-ray yang dapat memantul ke window. Terbuat
dari tembaga (Cu) dan dilapisi Tungsten yang mempunyai titik lebur
tinggi yaitu 3600o. Tegangan saat awal putaran harus lebih besar
dibanding saat putaran normal. Berputarnya anode digerakkan oleh
motor, kemiringan anoda disebut gotze line focus (kemiringan
sudut anoda), fungsinya untuk mendapat effective vocal spot
size/ukuran fokus yang sekecil-kecilnya.
Selain itu disekitar katode juga dilengkapi alat focusing cup
yaitu peralatan pada x-ray tube yang berfungsi untuk memfokuskan
jalannya elektron dari filamen menuju target/anoda. Alat ini
bentuknya seperti mangkuk, perhatikan gambar focusing cup pada
gambar 2.12

Gambar 2.12
Focusing Cup

Proses lain yang terjadi saat produksi sinar Rontgen:


1. Hill effect
Suatu akibat yang terjadi karena elektron yang membentur
target tidak mengenai sasaran tetapi pada bagian anode
lainnya yang kemudian juga menyebabkan terjadinya radiasi
sinar X dengan arah yang tidak menentu.
2. Heat dissipation x-ray tube
Yaitu daya pembuangan panas pada anoda x-ray tube yang
terbangkit saat terjadi proses benturan elektron pada anoda
dengan kecepatan tinggi, dimana panas ini perlu
diredam/didinginkan.
3. Heat storage capacity
Daya tampung panas pada x-ray tube, yaitu bahwa tabung bisa
menampung panas pada batas tertentu tergantung pada luas
anoda, kecepatan putaran anoda serta kecepatan pembuangan
panas melalui daya hantar panas melalui poros anodanya.

14
4. X-ray tube rating
Batas kemampuan kerja pada x-ray tube. X-ray tube rating
tergantung dari besarnya nilai Heat Storage Capacity, apabila
Heat Storage Capacity lebih besar maka x-ray tube rating lebih
besar pula dan sebaliknya. Besarannya juga ditentukan oleh
besaran Heat Unit yaitu kV x mA x Sec atau kV x mAs
5. Gassy
Saat anoda mendapatkan benturan elektron akan terjadi panas
yang luar biasa (99,9 %), panas tersebut akan menyebabkan
terjadinya penguapan atau gassy didalam tabung Rontgen. Saat
tabung kembali dingin akan terjadi uap air didalam tabung
sehingga tabung tidak vakum lagi.

15
BAB III
PESAWAT RONTGEN KONVENSIONAL

A. Blok Diagram Pesawat Rontgen Konvensional


5

1 4

2
Gambar 3.1
Blok Diagram Pesawat Rontgen Konvensional

Keterangan gambar :
1. Blok rangkaian Power Supply berfungsi untuk mendistribusikan tegangan
listrik keseluruh rangkaian pada pesawat rontgen.
2. Blok rangkaian Pemanas Filamen, berfungsi untuk memberikan
pemanasan filamen sehingga pada filamen, terjadi Thermionic emission.
3. Blok rangkaian Tabung Rontgen/X-Ray Tube. Pada blok ini terdapat tabung
vakum yang didalamnya terdapat anoda, katoda dan focusing cup. Anoda
merupakan tempat terbenturnya electron pada target. Katoda sebagai
sumber electron dan berpolaritas negative. Katoda yang juga selaku
filamen, bisa single focus maupun double focus, seperti terlihat pada
gambar 2.7 dan 2.8.
4. Blok rangkaian Transformator Tegangan Tinggi (HTT). Rangkaian ini terdiri
dari transformator tegangan tinggi, penyearah, mA meter yang dipasang
pada center tap dan dihubung ke grounding.

16
5. Blok rangkaian Timer. Rangkaian timer berfungsi sebagai pengontrol
waktu, terhubungnya antara rangkaian power supply dengan rangkaian
HTT.

1. Rangkaian Power Supply

Keterangan gambar :
1. Fuse
2. Saklar utama
3. Voltage compensator
4. Voltage indicator
5. Voltage regulator
6. kVp selector mayor
7. kVp selrctor minor
8. Voltgae selector

Gambar 3. 2
Rangkaian Power Supply

Rangkaian power supply berfungsi untuk mendistribusikan tegangan pada


seluruh rangkaian pesawat sesuai yang dibutuhkan rangkaian. Rangkaian
power supply terdiri dari:
a. Fuse / Sekring / MCB (Main Circuit Breakers)
Berfungsi sebagai pengaman jika terjadi beban berlebih.

Gambar II.3
Simbol MCB

b. Saklar
Berfungsi untuk menghubungkan supply listik PLN dengan pesawat
roentgen.

17
c. Voltage Compensator
Alat yang berfungsi untuk mengkompensasi nilai tegangan yang diperlukan
pesawat jika terjadi penurunan atau kenaikan tegangan pada supply PLN.
Terdapat 2 jenis voltage compensator yaitu :

Gambar 3.4
Manual Voltage Compensator

Saat main switch on, kita harus melihat voltage indikator yaitu
harus menunjuk tanda hitam/merah, jika jarum indicator menyimpang
berarti terjadi perubahan tegangan PLN, misalnya tegangan PLN naik kita
harus menambah jumlah lilitan primer dengan memutar selector pada
voltage compensator dan jika tegangan PLN turun kita harus mengurangi
jumlah lilitan primer dengan memutar selector voltage compensator pada
arah yang berlawanan, sehingga diperoleh perbandingan transformasi
antara nilai tegangan dan jumlah lilitan primer dengan nilai tegangan dan
jumlah lilitan sekunder menjadi tetap, yang mengakibatkan nilai tegangan
pada setiap lilitan tetap dan jelas nilai nominalnya.
Perbandingan transformasi dapat dirumuskan :

E1 : N1 = E2 : N2

18
Dimana E1 = Tegangan di primer
N1 = Jumlah lilitan di primer
E2 = Tegangan di sekunder
N2 = Jumlah lilitan di sekunder
Contoh : E1 : N1 = E2 : N2
220 : 220 = 1 : 1

Jika tegangan dari PLN tetap yaitu tidak naik dan tidak turun atau sebesar
220 V maka pada lilitan primer yang jumlah lilitannya dimisalkan 220 lilitan
maka perbandingan tegangan dan jumlah lilitan antara primer dan sekunder
= 1 : 1 maksudnya, pada setiap 1 lilitan mengandung 1 volt tegangan.
Jika tegangan dari PLN naik menjadi 230 V sedangkan jumlah lilitan
primer selalu tetap220, maka perbandingan transformasi tidak sama yaitu 1
: 1. Hal ini disebabkan karena 230 v : 220 tidak sama dengan 1 : 1 atau dapat
dituliskan bahwa:
230 v : 230 1 : 1
Agar diperoleh nilai tegangan pada setiap lilitan (pada output / sekunder)
tetap 1 : 1 maka kita harus menambah jumlah lilitan primer sebanyak 10
lilitan, sehingga jumlah lilitan skunder juga berjumlah 230. Dengan demikian
akan diperoleh:
E1 : N1 = E2 : N2
230 v : 230 = 1 : 1
Maka perbandingan transformasi tetap.
Jika tegangan dari PLN turun menjadi 210 V dan jumlah lilitan primer
tetap 220 maka perbandingan transformasi tidak sama dengan 1 : 1 atau 210
V : 220 tidak sama dengan 1 : 1 atau bisa dituliskan 210 V : 220 1 : 1.
Agar tetap diperoleh perbandingan transformasi 1 : 1 / tetap, maka kita harus
mengurangi jumlah lilitan primer sebanyak 10 lilitan, sehingga menjadi 220
lilitan atau bisa dituliskan 210 V : 210 = 1 : 1
Dengan demikian akan diperoleh perbandingan transformasi pada
autotransformator yang tetap.

19
Automatic Voltage Compensator
Automatic Voltage Compensator adalah alat yang berfungsi untuk
mengkompensasi nilai tegangan jala-jala yang fluktuasi yang bekerja
secara otomatis.

Gambar 3.5
Automatic Voltage Compensator
Alat ini terdiri dari :
1. Autotransformator (TV)
2. Transformator (TC)
3. Sensitive Relay (W1 dan w2)
AB = Tegangan PLN
XY = Tegangan Output
TV = Gulungan Autotrafo
TC = Transformator untuk menentukan terjadinya booking
dan busting voltage
W1 dan W2 = Sensitive relay untuk mengendalikan arah
polaritas pada autotrafo (TV).

Perhatikan gambar 3.5


Skala 6 digerakkan ke kiri atau ke kanan oleh sebuah motor sehingga
akan menyebabkan terjadinya boosting dan boocking voltage.
Ketika tegangan utama PLN turun dari nilai nominalnya maka
tegangan pada x dan y akan ikut turun. Hal ini menyebabkan sensitive
relay w1 bekerja dan menghubungkan kontak 12 14 , sehingga arus
akan mengalir dari : x 9 14 12 w1 11 10 y

20
Dan motor akan berputar ke kiri, sehingga selektor TV juga bergerak
ke kiri. Dengan demikian rangkaian pada sekunder TC akan mengalir
dari titik 6-4-Primer TC 3 5 ( titik 6 lebih positif dari titik 5). Maka
pada primer TC arus menuju ke atas, sehingga arus sekundernya
menuju ke bawah. Akibatnya polaritas arus dari 1 ke 2 akan
mengalami Boosting (penambahan) polaritas dan tegangan keluaran
automatic voltage compensator yang semula turun akan terkompensir,
sehingga nilai tegangan pada setiap lilitan tetap, dan nilai tegangan
yang digunakan untuk mensupply rangkaian tidak mengalami
perubahan.
Sebaliknya, saat tegangan antara x dan y naik, motor akan berputar
kekanan dan skala akan menyimpang ke kanan, sensitive relay akan
berubah menyimpang ke kanan, sehingga arus akan mengalir dari x 9
14 13 W2 10 y. Pada rangkaian sekunder TC akan mengalir
dari 5 3 Primer TC 4 6 (titik 5 lebih positif dibanding titik 6). Ini
artinya arus sekunder TC mengalir ke atas. Jadi saat tegangan x y
naik maka akan terjadi Boocking Voltage (pengurangan polaritas)
sehingga mengurangi polaritas dan akan mengkompensir tegangan x
y yang naik. Dengan demikian nilai tegangan pada setiap lilitan tetap,
sehingga nilai tegangan yang digunakan untuk mensupply rangkaian
tidak mengalami perubahan.
Kesimpulan :
Saat x y turun akan terjadi Boosting Voltage
Saat x y naik akan terjadi Boocking Voltage.
Dengan demikian meskipun terjadi penurunan maupun kenaikan
tegangan PLN maka tegangan yang akan dipakai pada distributor,
tegangan PLN akan terjadi penyasuaian.

d. Line Resistance ( R Match )


Setiap pesawat mempunyai hambatan atau R yang diberikan oleh pabrik,
contohnya pada pesawat shimadzu R=0,04-0,08 , resistance ini disebut
R internal ( R pesawat ). R line adalah tahanan atur yang berfungsi untuk
mencocokkan tahanan pengkabelan dengan tahanan yang dibutuhkan
pesawat. Setelah R internal diketahui misal 0,05 , selanjutnya teknisi
harus menghitung R pengkabelan misal pengkabelan seperti di work shop
ATEM. Perhitungan R pengkabelan (R Eksternal) adalah :
Mengukur nilai R pengkabelan dari gardu induk menuju ke terminal
distribuse.

21
Mengukur nilai R pengkabelan (R External) dari terminal distribusi
sampai terminal ganda X ray kemudian dan dijumlah dan disebut R
External (R pengkabelan)
Penentuan nilai R match (nilai R yang harus dicocokkan) pada R line
adalah R match = R internal R eksternal atau R internal = R. match (line)
+ R. Eksternal (pengkabelan).

e. Voltage Indicator
Alat yang berfungsi untuk menunjukkan besarnya tegangan PLN yang
masuk pada Rangkaian Power Supply jika mengalami kenaikan atau
penurunan. Pada voltage indikator diberikan tanda tertentu yaitu kotak
kecil merah atau hitam, jika tegangan PLN naik skala menyimpang ke
kanan dan jika tegangan PLN turun maka skala menyimpang ke kiri.

f. Voltage Regulator
Alat yang berfungsi untuk memilih tegangan PLN 110/220/380 Vac
tergangtung dengan pesawat yang digunakan dan dinegara mana
pesawat dioperasikan.

g. Auto Transformator atau biasa disebut Autotrafo


Autotransformator atau autotrafo berfungsi untuk memindahkan
tegangan listrik dari satu rangkaian ke rangkaian lain dengan cara
menaikkan atau menurunkan tegangan ke seluruh pesawat. Autotrafo
adalah transformator yang kumparan primer dan kumparan sekundernya
menjadi satu dalam satu core. Bagian primer berhubungan dengan
voltage kompensator dan voltage indikator. Sedangkan bagian
skundernya disambungkan ke beberapa rangkaian pengguna.

h. KVP selector Mayor


Alat yang berfungsi untuk memilih tegangan tinggi/memilih besarnya
beda potensial antara anoda dan katoda, yang besar selisih tiap
terminalnya 10 KV.

i. KVP selector Minor


Alat yang berfungsi untuk memilih tegangan tinggi/memilih besarnya
beda potensial antara anoda dan katoda, yang besar selisih tiap
terminalnya 1 KV.

22
2. Rangkaian Pemanas Filamen.

Gambar 3.6
Rangkaian Pemanas Filamen

Fungsinya untuk memberikan catu daya dan mengatur besar arus pemanas
filamen agar terjadinya thermionic emission bisa di kendalikan sehingga
jumlah elektron elektron bebas yang dihasilkan pada filamen tabung rontgen
bisa dikontrol.
Rangkaian ini terdiri dari :
a. Rangkaian voltage stabilisator
b. Rangkaian space charge compensator
c. Rangkaian mA Control
d. Rangkaian Stand by Resistor
e. Rangkaian Filament limiter
f. Transformator Filament (step down)
g. Filament tabung Rontgen

a. Rangkaian Voltage Stabilisator/Stabilisator Tegangan.


N2

C
EK1 N1 EK2
N3

Gambar 3.7
Rangkaian Stabilisator Tegangan
Fungsinya untuk menstabilkan tegangan yang akan diberikan pada
rangkaian pemanas filamen sehingga pengaruh fluktuasi tegangan PLN

23
tidak mengakibatkan kerusakan pada filament tabung rontgen. Rangkaian
ini terdiri dari kumparan primer yang kita sebut N 1, kemudian kumparan
sekunder yang terdiri dari N2 dan N3. N2 di paralel dengan C diseri dengan
N3. Masukan / input disebut Ek1 dan keluaran / output disebut Ek2.
Ada 3 kemungkinan keadaan pada stabilisator tegangan :
Jika EK1 = EK2
Pada kondisi ini tegangan PLN berada pada nilai normal 220 V atau 135
V , tegangan pada kumparan primer N1 akan disuplay sebesar 110V.
Karena tegangan pada N1 harus sebesar 110 V atau 135 V , maka
otomatis tegangan pada EK2 atau tegangan sekundernya adalah 110 V
atau 135 V .
Cara kerja :
Pada saat EK1 mensupply tegangan sebesar 110 V atau 135 V pada
lilitan N1, maka akan terjadi tegangan bolak-balik pada N1,dan
menyebabkan timbulnya induksi magnet, berupa Garis-garis Gaya
Magnet yang selalu berubah setiap saat, sehingga menimbulkan gaya
gerak listrik pada N2 dan N3 yang besarnya = d/dt
Dengan demikian, pada lilitan N2 timbul tegangan yang akan
mendahului arus sebesar 90, sedangkan pada kapasitor C, akan terjadi
pengisian arus, sehingga mencapai tegangan maksimum di N2,
kemudian akan terjadi pengosongan muatan kapasitor. Hal ini akan
terjadi secara kontinyu. Pada kapasitor C arus mendahului tegangan
sebesar 90. Dalam hal ini, terdapat beda fase antara tegangan di N2
dengan tegangan di C, dikarenakan secara rumusannya : impedansi
dari N2 (XL) =J.W.L dan impedansi dari C (XC) = 1/J.W.C sehingga pada
keduanya terjadi perlawanan fase.
Selanjutnya karena N2 diparalel dengan C, dan besar tegangan di N2
(I.XL) dan tegangan di C (I.XC) adalah sama dangan demikian, tegangan
pada N2 dan tegangan pada C akan saling meniadakan atau = 0 dan
terjadi resonansi. Sehingga tegangan keluaran N2 // C hanya akan
melewati hambatan murni atau internalnya, yaitu sebesar E = I.R
internal atau R murni, tanpa melewati impedansinya masing-masing (
N2 dan C ).
Adapun secara vektoris dilukiskan ( tegangan N2//C ) :
I.XC
Terjadi
Beda fase E = I.XC I.XL + I.R internal ( I.XC = I.XL )

Sehingga
I.XL E = I.R internal= 0

24
Tegangan PLN tidak mengalami perubahan, tegangan pada N2 tetap,
tegangan pada C juga Tetap
Maka didapatlah tegangan sekunder EK2 adalah :

EK2 = I.XL3 + E
= E pada N3 + E murni ( di N2 // C )

Secar vektoris EK2 didapat dari :

I.XL3 EK2 = I.XL3 + E

= =

E = I x R internal

Ek1>EK2
Pada kemungkinan ini, tegangan PLN berada di atas 220 V sehingga
tegangan yang disuplay ke EK1 jugasampai 135 V tetapi karena
rangkaian ini merupakan rangkaian stabilisator tegangan, maka output
pada EK2 harus tetap 135 V.
Cara kerja :
Pada saat EK1 naik, E pada N1 naik, E pada N2 naik, EN2 naik, dan E
pada N3 pun ikut naik, akan tetapi tegangan di kapasitor C ( EC ) tidak
langsung naik. Karena kapasitor masih berada pada masa transient,
sehingga tegangan di N2 menjadi lebih besar dari pada tegangan di
kapasitor C,maka terjadilah selisih fase di antara keduanya,
Selisih ( E pada N2 dan E pada C ) sebesar : = E.N2 EC
= I.XL2 I.XC
Secara vektoris dilukiskan :
I. XC

I.XL2 I.XC
E = I . R internal

E1 = E + (I.XL2 I.XC)

I.XL2

25
Maka besarnya tegangan sekunder EK2 adalah :

EK2 = I.XL3 + ( I.XL2 I.XC) + I.R internal)

EK2 = I.XL3 + E1

Tegangan PLN naik maka tegangan pada N3 juga naik (I.XL juga naik)
Secara vektoris EK2 didapat dari :
I.XL3

EK2 = I.XL3 + E1

E = I . R internal
E1

EK1< EK2
Pada kemungkinan ini, tegangan PLN berada di bawah 220V sehingga
tegangan pada input EK1 akan berada dibawah 110V atau 135 V. Tetapi
karena rangkaian ini berfungsi sebagai penstabil tegangan, maka
output EK2 harus tetap 110 V atau 135 V.

Cara kerja :
Pada saat EK1 turun, EN1 juga ikut turun, EN2 turun dan EN3 juga ikut
turun. Akan tetapi tegangan dikapasitor C tidak langsung menglami
penurunan, kerena kapasitor C masih mengalami masa transient,
akibatnya tegangan pada kapasitor C lebih besar dari pada tegangan di
N2 ( EN2 ) ,maka terjadilah selisih fase antara E pada N2 dan E pada C,
yaitu sebesar = E pada C E pada N2
= I.XC IXL2

Secara vektoris dilukiskan :

I.XC

selisih fase E1 = ( I.XC I. XL2 ) + E

I.XC I.XL2
E = I.R internal

I.XL2

26
Tegangan PLN turun maka tegangan pada N3 juga turun
Maka besarnya tegangan sekunder EK2 adalah :
EK2 = EN3 + EN2 // C
= I.XL3 + { ( I.XC I.XL2 ) } + I.R
EK2 = I.XL3 + E1

Secara vektoris EK2 dapat dari :



EK2 = I.XL3 + E1
I.XL3

selisih fase E1
I.XC I.XL2
E = I.R internal
Kesimpulan:
Meskipun terjadi perubahan tegangan PLN, keluaran tegangan pada
stabilisator tegangan secara vektoris dapat dibuktikan besarnya adalah
sama.

b. Space Charge Compensator


Alat ini berfungsi untuk mengkompensasikan nilai arus tabung agar sesuai
dengan yang dipilih meskipun terjadi perubahan tegangan tinggi pada
tabung roentgen.
di gange ke kV selector mayor

ke R. Stabilisator ke mA Control

Gambar 3.8
Space Charge Compensator

Space Charge Compensator (SCC) Terdiri Dari 2 Jenis Yaitu :


1. Manual Space Charge Compensator
Rangkaian ini berupa variable resistor (VR) yang terdiri dari tap-tap,
yang tiap tap-tapnya mempunyai nilai R yang berbeda-beda.
Sebelum lebih jauh membahas tentang space charge compensator kita
lihat terlebih dahulu karakteristik tabung rontgen.
Karakteristik tabung roentgen:
- Semakin tinggi tegangan maka arus akan semakin besar.
- Tabung roentgen hanya bekerja pada daerah space charge.

27
Gambar 3.9
Manual Space Charge Compensator

Selector pada SCC ini digank dengan kVp selector mayor dengan
maksud agar pada saat kita memilih besar tegangan kita juga
mengatur/memilih besarnya nilai Resistan pada SCC. Jika posisi kVp
selector mayor pada pemilihan KV tertinggi maka pada SCC nilai R nya
akan pada posisi dengan nilai R tertinggi begitu juga sebaliknya. Hal ini
dimaksudkan supaya pada saat KV naik maka SCC yang terdiri dari VR
dan digank dengan KV selector, naik sehingga terjadi voltage drop yang
besar pada SCC dan mengakibatkan tegangan pada pemanas filamen
berkurang, jadi walaupun energi yang menarik elektron lebih kuat
tetapi jumlah elektron yang ditarik sedikit maka nilai arus tabung yang
terjadi sesuai dengan yang telah ditentukan. Kemudian pada saat KV
turun maka nilai R space charge compensator yang terdiri dari VR yang
telah digank dengan KV selector akan turun juga, sehingga terjadi
voltage drop yang kecil pada SCC dan mengakibatkan tegangan pada
pemanas filamen bertambah/naik sehingga awan elektron naik (
semakin banyak ) sehingga walaupun energi yang menarik elektron
kecil tapi elektron yang ditarik banyak maka nilai arus tabung yang
terjadi sesuai dengan yang diatur sebelumnya.

28
2. Automatic Space Charge Compensator
Automatic space carge compensator adalah SCC yang bekerja secara
automatic dan dipasang parallel dengan KV selector mayor. Gambar
3.10 adalah automatic space charge.

Gambar 3.10
Automatic space charge compensator

Keterangan gambar :
1. Autotransformator
2. KVP Selector
3. Trafo SCC
4. Stabilisator tegangan

Cara kerja automatic space charge compensator yaitu masukkan


trafo SCC berasal dari titik A dan B. jika skala berada pada posisi di
bawah titik tengah pada KV selector, maka arus pada primer trafo
SCC dari titik Amenuju ke B. Ini berarti bahwa pada primer SCC
mengarah ke atas. Dengan demikian sekunder SCC menuju ke
bawah. Selisih tegangan pada setiap tap akan mempengaruhi
jumlah arus yang mengalir pada primer dan sekunder trafo SCC.
Penunjukan skala yang semakin mendekati titik A semakin kecil
arus yang mengalir di primer dan sekunder trafo SCC. Penunjukan
skala semakin menjauhi titik A akan semakin turun maka arus yang
mengalir pada primer dan sekunder SCC semakin besar.
Jika skala C pada posisi di bawah titk A maka primer SCC menuju ke
atas dan sekunder SCC menuju ke bawah. Berarti searah dengan
arah arus dari stabilisator tegangan.

29
c. Rangkaian mA control

Variabel
resistor

Gambar 3.11
Rangkaian mA Control

Berfungsi untuk mengatur besarnya arus yang mengalir pada rangkaian


pemanas filamen yang kemudian akan digunakan sebagai penentu
besarnya arus tabung yang digunakan.
Alat ini disambung seri dengan trafo filamen. Untuk memilih arus
tabung kita sebenarnya memilih nilai tahanan nya untuk menentukan
voltage drop pada VR. Semakin besar pilihan mA maka pilihan tap
tersebut berada pada posisi nilai tahanan yang paling kecil, sehingga
voltage dropnya kecil. Dan semakin kecil mA maka pilihan tap tersebut
berada pada posisi nilai tahanan paling besar. Arus tabung ditentukan
oleh besarnya tegangan pada trasformator filamen. Tegangan
transformator ini (EF) akan menentukan besarnya arus transformator
filamen ini (IF), semakin besar tegangan trafo filamen semakin besar
pula arus yang mengalir pada trafo filamen,besarnya arus trafo filamen
ini akan menentukan banyaknya elektron bebas yang dihasilkan. EF
besar IF besar elektron bebas banyak awan electron banyak.
Jika R lebih tinggi, tegangan trafo filamen kecil karena dengan tahanan
lebih besar maka tegangan pada tegangan trafo lebih kecil karena R tadi
menyebabkan voltage drop yang lebih besar.
V = I x R . Tegangan pada filamen = Tegangan awal voltage drop.

d. Rangkaian Stand by Resistor


Relay
ke Exposure Switch

Gambar 3.12
Rangkaian Stand by Resistor

30
Alat yang berfungsi untuk memberikan pemanasan awal pada
filamen tabung rontgen agar terjadi Pre Heating sebelum expose
berlangsung sehingga filamen tabung roentgen lebih awet. Alat ini
terdiri dari Resitor yang dilengkapi yang dilengkapi dengan kontaktor
yang digerakkan oleh delay relay.
Cara kerjanya adalah sebagai berikut, pada saat main switch ON,
filament tabung rontgen langsung mendapatkan tegangan dari
transformator filamen tapi melewati stand by resistant sehingga
tegangan yang mengalir bukan tegangan normal. Pada saat expose,
timer bekerja dan relay energize bekerja sehingga kontaktor exposure
switch terhubung dan kontaktor relay di stand by resistant terhubung
(di by pass ), sehingga tegangan akan melewati kontaktor (bukan
Resitor lagi) sehingga tidak ada voltage drop sehingga pemanasan
filament pada tegangan normal.

e. Rangkaian Filament Limiter ( mA limiter )

Limiter

TF

Gambar 3.13
Rangkaian Filament Limiter

Alat yang berfungsi untuk membatasi mengalirnya arus pada pemanas


filamen, maksudnya agar tegangan pemanas filamen sesuai dengan
kemampuan kapasitas filamen tabung rontgen sehingga pemberian
tegangan tersebut memberi pemanasan yang normal. Penggunaan
filamen limiter ini akan lebih terasa terutama pada tabung rontgen yang
mengunakan double focus, yaitu focus besar (Large Focus) dan focus
kecil (Small Focus) yang masing-masing harus dilengkapi dengan filamen
limiter sendiri-sendiri. Untuk yang large focus nilai tahanan limiternya
kecil, sedangkan untuk yang small focus nilai tahanan limiternya besar
yang diatur sekali pada waktu pemasangan oleh teknisi.

31
Filamen limiter untuk SMALL FOCUS

Filamen limiter untuk LARGE FOCUS

Gambar 3.14
Filamen Limiter

f. Rangkaian Trafo Filament


TUBE X-RAY

Gambar 3.15
Rangkaian Trafo Filament

Alat yang Berfungsi sama seperti trafo biasa, yaitu untuk memindahkan
tegangan dari satu rangkaian ke rangkaian yang lain. Dalam hal ini,
Trafo filamen memindahkan tegangan dari Rangkaian pemanas filamen
ke rangkaian Tabung Rontgen, yaitu sebesar 18 24 Volt, untuk
membangkitkan proses Thermionic Emission. Trafo filamen merupakan
Trafo Step Down, karena tegangan yang digunakan adalah tegangan
110-135 V menjadi 18 24 Volt atau 12 v/18 Volt tergantung spesifikasi
tabung.

g. Rangkaian Filamen Tabung Rontgen


Berfungsi sebagai sumber elektron dan juga sebagai katoda.
Terdiri dari bahan Tungsten yang mempunyai titik lebur yang tinggi
3600C dengan nomor atom 74.
Katoda/filament terbagi 2, yaitu :
Katoda Direct
Disebut juga katoda langsung yaitu filament yang sekaligus
berfungsi sebagai katoda.

32
KATODA ANODA

Gambar 3.16
Katoda Direct

Katoda Indirect
Disebut juga katoda tak langsung yaitu filament hanya berfungsi
sebagai sumber elektron sedangkan katodanya dipisah (didepan
filamen), katodanya biasa terhubung dengan transformator
filament atau dengan sumber lain.

Filamen Anoda

Katoda

Gambar 3.17
Katoda Indirect
Pada katoda juga dipasang Focussing Cup yaitu alat yang
menyerupai mangkok untuk memfokuskan jalannya elektron dari
anoda ke katoda.

Katoda juga bisa berupa :


Single Focus

KATODA ANODA

Gambar 3.18
Single Focus
Double focus

Small Focus ANODA

Large Focus

33
ANODA
Small Focus

Large Focus

Gambar 3.19
Double Focus
Maksud digunakannya double focus agar dapat melayani
pengunaan mA (arus) yang berbeda-beda.

3. Rangkaian Tabung Rontgen


Rangkaian tabung rontgen terdiri dari tabung rontgen dan penyearahnya
a. Tabung Rontgen

Gambar 3.20
Stationary Anode X-ray Tube

Merupakan sebuah tabung diode yaitu tabung vakum yang terdiri dari dua
elektrode, yaitu anode dan katode. X-ray tube adalah tempat
berlangsungnya proses terbentuknya sinar X.
- Pesawat dengan 1 unit x-ray tube over table untuk pemotretan tunggal
disebut Pesawat Rontgen 1 examination
- Pesawat rontgen yang memiliki x-ray tube over table dan under table
disebut 2 Examination.

Ada 2 macam x ray tube :


X-ray tube over table berada diluar patient table
X-ray tube under table berada di bawah universal patient table

34
b. Penyearah Arus
Jenis-jenis penyearah :
1. Self rectifier X-ray unit
2. Penyearah inversuppessor
3. Penyearah sistem bridge
4. Penyearah gelombang penuh dengan 2 dioda
5. Penyearah gelombang dengan 2 dioda
6. Penyearah gelombang dengan 1 dioda

1. Self Rectifier X-ray Unit


Self rectifier X-ray unit disebut juga penyearah sendiri, dimana x-ray tube
itu sendiri akan menyearahkan arus yaitu dengan cara :
Saat anoda mendapat polaritas positif akan terjadi arus tabung,
sehingga ada electron yang ditarik.
Saat anoda mendapat polaritas negative, tidak ada arus yang
mengalir, karena tidak ada electron yang ditarik karena katoda
merupakan tempat berkumpulnya electron.

HTT

dari A Anoda
sekunder
auto trafo

Katoda

Gambar 3.21
Ke sekunder
Self Rectifier X-Ray Unit trafo filamen

Cara kerja
Pada saat siklus I, anoda mendapat polaritas positif dan katoda mendapat
polaritas negative maka electron dari katoda akan ditarik ke anoda,
sehingga terrjadi rangkaian tertutup yang menyebabkan arus electron
yang berkebalikan dengan arus listrik yang disebut arus tabung.
Pada saat siklus II, anoda mendapat polaritas negative dan B mendapat
polaritas positif electron bebas yang ada pada katoda tidak bisa ditarik ke
anoda, karena saat anoda negative dan katoda negative berarti satu kutub,

35
sehingga yang terjadi adalah tolak-menolak, sehingga tidak terjadi
rangkaian tertutup dan tidak terjadi arus tabung, namun antara anoda dan
aktoda tetap terjadi beda potensial yang besarnya justru besar
dibandingkan pada saat anoda mendapat polaritas positif sehingga terjadi
arus tabung maka terjadi voltage drop pada setiap penghantar dengan
adanya hambatan R internal yang besarnya Ix hambatan Rinternal.

Vsek
autotravo Tegangan sekunder autotrafo

Vprimer Tegangan primer HTT


HTT
Tegangan sekunder HTT. Tinggi amplitudo tegangan sekunder HTT ditentukan
oleh perbandingan transformator antara primer dan sekunder HTT.
E1:N1= E2:N2
V sek
HTT

Voltage drop.trerjadinya voltage drop saat anoda mendapat polaritas


positif yang besarnmya Ix R internal sehingga amplitude saat anoda
positif lebih kecil saat anoda mendapat polaritas negatif.
V
tabung

Pada saat anoda mendapat polaritas positif terjadi rangkaian tertutup


I dan terjadi arus tabung sedangkan saat anoda mendapat polaritas
tabung negative tidak akan terjadi arus tabung

Gambar 3.22
Grafik tegangan dan arus

2. Penyearah Inversuppessor
Penyearah inversuppessor adalah menekan tegangan, balik pada saat
anoda mendapat polaritas positif.saat anoda mendapat polaritas negative
dan katoda mendapat polaritas positif maka arus tidak bisa mengalir,
karena katoda juga merupakan sumber electron dan anoda tidak dapat
menarik elekton di katoda maka justru tolak menolak.
X A C

Ke sekunder auto Anoda


trafo
Katoda
Y
B

Ke sekunder Trafo filament


Gambar 3.23 Penyearah Inversuppessor

36
Cara kerja
1. Primer HTT bekerja, mendapat supply dari sekunder autotrafo.
2. Saat siklus I, titik A mendapat polaritas positif, titik B mendapat poaritas
negative maka arus mengalir dari A ke Bmelewati Rinversuppresor menuju
kesekunder autotrafo Y, pada saat itu titik C mendapat polritas negative dan
titik D mendapat polaritas positif, maka tegangna inverse yang merugikan
pada tabung dapat ditekan atau di drop sehingga arus tabung yang mengalir
tidak ada.
3. Saat A mendapat polaritas negative, titik B mendapat polaritas positif maka
arus akan mengalir dari Y positif ke B melalui D menuju ke A dan menuju ke X
negative pada saat itu titik C mendapat polaritas positif dan titik D mendapat
polaritas negative maka ada arus yang mengalir dari titk C ke anoda lalu ke
katoda kemudian ketitik D mendapat polaritas negative maka ada arus yang
mengalir dari titk c menuju ke anoda lalu ke katoda kemudian ke titik D, dan
kembali ke autotrafo, sehinggga terjadi arus elektron yang berkebalikan
dengan arus tabung.
Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar grafik berikut ini:

V.sek. Tegngan sekuder auto


auto trafo
trafo

Tegangan primer
HTT
Vprim
er
HTT
Pada saat terjadi invers voltage arus
melewati R impress impresor
sehingga terjadi voltage drop yang
besar maka tegangan invers voltage
jadi kecil.

V.sek
HTT

Pada saat voltage drop tidak


terjadi arus electron.

V.tab
ung

Pada saat voltage drop tidak


terjadi arus tabung.
Arus
tabung
Gambar 3.24
Grafik Tegangan dan arus

37
3. Penyearah Sistem Bridge

Ke sekunder auto
trafo
Anoda

Katoda

Gambar 3.25 Ke sekunder trafo filamen


Penyearah Sistem Bridge

Cara kerja
1. Saat sekunder bekerja pada periode I, titik A mendapat polaritas
positif dan titik B mendapat polaritas negative maka arus mengalir dari
A+ melalui dioda 1 menuju anoda. Diteruskan ke katoda lalu ke dioda 3
dan ke B kembali ke supply.
2. Saat sekunder bekerja pada periode 2 titik A mendapat polaritas
negative dan titik B mendapat polaritas positif. Maka arus mengalir dari
B positif melalaui dioda 2 menuju anoda diteruskan ke katoda lalu ke
dioda 4 lalu kembali ke supply (ac)
Untuk lebih jelasnya lihat pada gambar grafik berikut ini

Tegngan sekunder
V.sekund auto trafo
er auto
trafo
Tegangan
primer HTT

V.primer
HTT Tinggi amplitudeo sekunder HTT
ditentukan oleh perban dingan trafo antara
primer dan sekunder HTT E1:N1=E2:N2

V.sekund
er

V tabung =V sekunder

V.tabun
g

Arus tetap ada walaupun di


Arus rabung sekunder HTT terjadi invers

Gambar 3.26
Grafik Tegangan dan Arus

38
4. Penyearah dengan anoda grounding

Gambar 3.27
Penyearah Anoda Grounding

Cara kerja
1. Saat titk A mendapatkan polaritas positif dan titik B mendapat polaritas
negative maka saat arus mengalir dari titik A menuju ground lalu anoda
menuju katoda masuk ke titik B negative melalui dioda 2.
2. Saat titik A mendapat polaritas negative dan titik B mendapat polaritas
positive, maka saat arus mengalir menuju ke titik B positive keground
lalu ke anoda menuju katoda kemudian ke titik A melalui dioda 1

Gambar Grafik :

V.sekunder Tegngan sekunder auto


auto trafo trafo

Tegangan primer
HTT
V.primer
HTT
Tinggi amlitudo sekunder HTT ditentukan oleh
perbandingan trafo antara primer dan sekunder
HTT E1:N1=E2:N2

V.sekunder

V.tabung V.tabung =1/2V sekunder


HTT

Arus tabung tetap terjadi.


Arus tabung

Gambar 3.28
Grafik tegangan dan arus

39
5. Penyearah gelombang dengan 2 dioda

Gambar 3.29
Penyearah Gelombang dengan 2 Anoda

Cara Kerja :
1. Pada saat titik A mendapat polaritas positive dan titik B mendapat
polaritas negative, arus mengalir dari A ke dioda 1 lalu ke anoda menuju
katoda ke dioda 2 dan terakhir ke titk B. Pada saat ini terjadi penarikan
electron sehingga terjadi arus electron.
2. Saat titik A mendapat polaritas negative dan titik B mendapat polaritas
positive, arus mengalir dari titk B ke dioda 2, namun saat tegangan
mengalir, tegangan tersebut di drop di dioda 2 sehingga tidak terjadi arus
electron.
V.sekunder
auto trafo Tegngan sekunder auto
trafo

V.primer
HTT Tegangan primer
HTT

Tinggi amlitudo sekunder HTT di tentukan


oleh perbandingan transformasi antara
V.sekunder primrdan sekunder

V.tabung =V sekunder
HTT
V.tabung

Arus tabung tetap terjadi


Arus tabung

Gambar 3.30 Grafik tegangan dan arus

40
6. Penyearah Gelombang dengan 1 Dioda
Gambar :
A D

Ke sekunder Anoda
Auto trafo
Katoda

Ke sekunder Trafo filamen


Gambar 3.31
Penyearah gelombang dengan 1 Dioda

Cara Kerja :
1. Pada saat titik A mendapat polaritas positive dan titik B mendapat
polaritas negative, maka arus akan mengalir dari titik A ke dioda ke
anoda dan ke katoda kemudian ke titik B sehingga terjadi penarikan
electron atau arus electron
2. Sedangkan pada titik A mendapat polaritas negative dan titik B
mendapat polaritas positive, maka arus electron tidak akan terjadi. Hal
ini karena anoda mendapat polaritas negative dan katoda mendapat
polaritas positive.

Tegngan sekunder auto trafo


V.sekunder auto
trafo

Tegangan primer HTT


V.primer HTT

Tinggi amplitudeo sekunder HTT ditentukan oleh perban dingan


transformasi antara primer dan sekunder
E1:N1=E2:N2

V.sekunder

V tabung =V sekunder

V.tabung

Anoda mendapetkan polaritas positive terdapat tegangan dan


terjadi arus tabung,dan anoda mendapat negative
Arus tabung

Gambar 3.32 Grafik tegangan dan arus

41
7. Penyearah 3 phase
Penyearah 3 phase mendapat supply dari tegangan PLN 3 phase yang
dapat dihubung bintang ataupun hubungan segitiga. power supply 3 phase
hubungan segitiga dihubungkan dengan lilitan primer HTT, sedangkan
pada lilitan sekunder HTT terdapat 2 set yaitu lilitan S1A, S2A, S3A
dihubung bintang dan lilitan S1B, S2B dan S3B dihubung segitiga. Masing-
masing set dari lilitan sekunder disambung dengan 6 dioda penyearah
menjadi 2 kondisi rangkaian. Penyearah 3 phase yang kemudian
dihubungkan ke ground melalui titik E. Gambar penyearah 3 phase dapat
dilihat seperti pada gambar berikut ini :

Gambar 3.33
Penyearah 3 Phase

Pada gambar terlihat bahwa kutub positif dari dioda penyearah 3 phase
dihubung ke anoda (forward bias). Sedangkan kutub negatif dari dioda
penyearah 3 phase dihubungkan ke katoda (reversed bias).
jalannya arus untuk kutub positif adalah :
Dari titik kanan S1Btitik temu positifD8titik
11anodakatodatitik xtitik 10D1S1A
Dari titik S2Btitik temu positifD10titik
11anodakatodatitik xD3S2A.
Dari titik S3Btitik temu positifD12titik 11anodakatoda titik
xD5S3A.

Jalannya arus untuk kutup negatif (elektron)


Dari titik kiri S1AD1titik 10xkatodaanodatitik
11D8S1B.

42
dari titik kiri
S2AD3titik10xkatodaanodatitik11titik10S2B.
Dari titik kiri S3AD5titik 10xkatodaanodatitik
11D12S3B.

Bentuk pulsa tegangan/pulsa generator 3 phase hubung bintang,


generator 3 phase hubung segitiga dan pulsa tabung rontgen adalah
sebagai berikut :

Gambar II.34
Generator 3 Phase

4. Rangkaian Transformator Tegangan Tinggi (HTT)

ke KVP MAYOR

X-ray tube

KV meter mA meter

Gambar 3.35 Ke TRAFO FILAMEN

Rangkaian HTT

43
Pada rangkaian ini terdapat trafo tegangan tinggi yang berfungsi untuk
memberikan beda potensial antara anoda dan katoda dimana anoda harus
selalu mendapat polaritas positif dan katoda harus selalu mendapat polaritas
negatif agar elektron-elektron bebas yang ada disekitar katoda dapat ditarik
ke anoda. Agar anoda selalu mendapat polaritas positif, maka dipasang
penyearah tabung rontgen.
Transformator adalah alat yang berfungsi untuk mendistribusikan tegangan
baik itu menaikkan ataupun menurunkan tegangan dari satu rangkaian
kerangkaian lain. Bila transformator tersebut untuk menaikkan tegangan
disebut transformator step up (pada HTT) dan apabila untuk menurunkan
tegangan disebut transformator step down (pada trafo filamen).
Transformator step up mempunyai jumlah lilitan sekunder lebih banyak dari
pada jumlah lilitan primernya sedangkan transformator step down
mempunyai jumlah lilitan sekunder lebih sedikit dari pada jumlah lilitan
primernya.
Pada HTT jenis transformator yang digunakan adalah step up dan
perbandingan transformasinya bisa mencapai 1 : 1000 atau tergantung dari
desain pabrik pembuatan. Bila pada kumparan primer dialiri arus bolak balik (
AC ) maka akan timbul garis-garis gaya magnet yang berubah-ubah
tergantung dari besarnya arus yang mengalir. Perubahan garis-garis gaya
magnet ini akan menyebabkan terjadinya gaya gerak listrik ( ggl ) pada lilitan
sekundernya, yang besarnya bergantung dari perubahan fliks pada setiap
perubahan waktu.
mA meter dipasang pada center tap dan disambung ke ground maksudnya
adalah untuk mengetahui besarnya nilai arus tabung yang mengalir pada saat
expose terjadi.

5 Rangkaian timer
Timer berfungsi untuk menentukan lamanya proses penyinaran.
Terdapat 4 jenis timer yaitu:
a) Timer Mekanik
b) Timer Elektrik
c) Timer Elektronik
d) Timer Automatic

44
a) Timer Mekanik

Gambar 3.36
Timer Mekanik

Cara kerja:
1. menetukan lamanya penyinaran dengan menarik valve p kearah searah
jarum jam, dalam waktu yang bersamaan jarum penahan PA lepas hingga
gigi gergaji W akan ikut berputar kekanan (searah jarum ajm) kontaktor C
dari normally open menjadi close.
2. setelah sesuai waktu yangn ditetapkan, misalnya sampai 0,3 detik jarum
PA mengunci roda gigi W.
3. sementyara preparation selesai, yaitu kV, mA dan waktu telah ditetapkan
maka PB SWE ditekan, sehingga akan ada arus yang mengalir dari power
supply menuju kontaktor C ke PB SWE kemabli ke relay S, kembali ke
power supply.
4. sehingga akan menyebabkan relay s energized dan menarik kontak SW3
hingga rangkaian power supply dan rangkaian tegangan tinggi terhubung
dan menyebabkan expose (penyinaran) dimulai.
5. sementara PB ditekan, maka akan menekan jarum valve PA sehingga
terlepas dari penguncian, gigi gergaji mulai berputar kea rah kiri
(berlawanan jarum jam).
Setelah waktu 0,3 detik tadi, valve sampai pada posisi nol. Maka valve
akan menyentuh kontaktor C hingga membuka kembali. Dengan
membukanya kontaktor C, relay S energized, kontaktor SW3 membuka
kembali, sehingga akan memutuskan hubungan antara rangakian Power
Supply dengan rangakaian transformator tegangan tinggi hingga proses
expose terhenti.

45
b) Timer Elektrik

Gambar II.36
Timer Elektrik

Gambar 3.37
Timer Elektrik

Cara kerja :
1. menetukan lamanya penyinaran dengan memutar knop K yang diikuti
lengan A kearah kiri (berlawanan jarum jam), misalnya 0,5 detik, dan plat
bsi D2 kearah kiri.
2. pada saat itu motor M telah berputar hingga memutar plat D1 kearah
kanan (searah jarum jam).
3. saat preparation selesai, yaitu kV, mA, waktu telah ditetapkan maka PB
SWE, terminal 1 terhubung dengan terminal 2, terminal 3 terhubung
dengan terminal 4.
4. dengan terhubungnya terminal 1 dan terminal 2, maka dari Power
Supply akan mengalir arus (menuju relay S) kembali ke power supply,
sehingga relay S energized. Dengan energizednya relay, maka plat D2
akan menempel dengan plat D1. sehingga plat D2 bergerak kekanan,
diikuti lengan A dan knop K.
5. pada waktu yang bersamaan, ada arus yang mengalir dari power supply
menuju ke kontaktor 3-4 lalu ke kontak lalu ke relay SW dan kemudian
kembali ke power supply.

46
c) Timer elektronik

Gambar II.37
Timer Elektronik

Gambar 3.38
Timer Elektronik

cara kerja:
1. Kita menentukan lamanya penyinaran waktu yang ada, T= R.C
2. SWE ditekan ke posisi on, sehingga terjadi pengisian kondensator
dengan arah arus dari terminal(+)SWRkondensator Cterminal
1. sementara itu, kontak SWS (bawah) akan close (karena digank
dengan SWE), sehingga relay SA akan energized, kontaktor SW3A
menutup, sehingga rangkaian power supply dan rangkaian HTT akan
terhubung dan expose akan berlangsung.
3. Berlangsungnya expose berbarengan dengan pengisian kondensator,
sehingga saat muatan kondensator penuh (time konstan 63%, karena
merupakan fungsi linier setiap perubahan waktu), yang merupakan
tegangan critical gride, maka pada posisi 63% itu maka relay SB
akan bekerja.
4. dengan berubahnya thyratron, maka arus mengalir ke relay SB
sehingga relay SB akan bekerja, dengan bekerjanya relay SB maka
kontaktor SW3 membuka.
5. membukannya SW3 menyebabkan terputusnya power supply dengan
HTT.
Kita menentukan lamanya penyinaran dengan perhitungan secara
matchmatik T = RxC. SWE ditekan untuk merubah posisi dari OFF ke ON,
sehingga terjadi pengisian kondensator dengan arus mengalir dari

47
terminal positif, SWR, kondensator C, terminal negatif. Sementara itu
saat SWE ditekan kontak akan berada pada posisi ON dan energiese.
Kontaktor SW3A akan menutup, yang mengakibatkan terhubungnya
rangkaian power supply dengan HTT sehingga ekspose berlangsung.
Berlangsungnya ekspose bersamaan dengan pengisian kondensator.
Sehingga pada saat muatan kondensator penuh (time konstan sebesar
63% karena merupakan fungsi linier setiap perubahan waktu). Yang
merupakan tegangan Critical Grid, maka pada kondisi 63% itu relay SB
akan bekerja.
Dengan bekerjanya thyratron maka arus akan mengalir ke relay SB,
sehingga relay SB akan bekerja. Dengan bekerjanya relay SB maka
kontaktor SW3 membuka. Membukanya SW3 menyebabkan terputusnya
power supply dengan HTT, dan ekspos selesai.

d) Timer Automatik
1) Timer dengan Iontomat Chamber

Gambar 3.39
Timer Automatik

Cara Kerja :
1. Lamanya penyinaran ditentukan oleh banyaknya radiasi sinar x yang
menembus tubuh pasien dan kemudian diterima oleh ionisation
chamber
2. Pada saat exposure switch SWE ditekan maka terjadi kontak antara
pin 5 dan pin6, sehngga menyebabkan pada primer high tension
transformer terjadi hubungan tertutup melalui pin 7, 5, 6, 8, dan
terjadilah expose.
3. D.C.2 memberikan supplai tegangan pada kapasitor C melalui
ionisation chamber (IC). Pada saat terjadi expose IC akan teradiasi
oleh sinar-x sehingga menyebabkan kapasitor C mulai terisi muatan
listrik.

48
4. Pada saat yang sama tegangan pada grid thyristor secara bertahap
akan menyebakan grid terbuka sehingga terjadi kontak antar
elektoda pada thyristor.
5. D. C. 1 akan memberikan supply tegangan dari +, S1, elektroda-
elrktoda thyristor menuju bagian pada D. C. 1. Maka solenoid S1
akan menari kontaktor SW3 dan menyebabkan proses expose
berhenti.

2) Timer Automatik dengan Fluorecent Screen

Gambar 3.40
Timer Automatik dengan Fluorecent Screen

Cara Kerja :
1. Lamanya penyinaran ditentukan oleh banyaknya radiasi sinar x yang
menembus tubuh pasien dan kemudian diterima oleh fluorosent
scren dan diubah menjadi cahaya tampak, dimana cahaya tampak
tersebut akan mempengaruhi kinerja PEC
2. Pada saat exposure switch SWE ditekan maka terjadi kontak antara
pin 5 dan pin6, sehngga menyebabkan pada primer high tension
transformer terjadi hubungan tertutup melalui pin 7, 5, 6, 8, dan
terjadilah expose.
3. D.C.2 memberikan supply tegangan pada kapasitor C melalui PEC
yang kerjanya dipengaruhi oleh banyaknya intensitas cahaya tampak
yang dihasilkan oleh Fluorosent Scren ( FS ). Pada saat terjadi expose
FS akan mengubah sinar-x menjadi cahaya tampak sehingga
kontaktor PEC menjadi terhubung dan menyebabkan kapasitor C
mulai terisi muatan listrik melalui PEC.

49
4. Pada saat yang sama tegangan pada grid thyristor secara bertahap
akan menyebakan grid terbuka sehingga terjadi kontak antar
elektoda pada thyristor.
5. D. C. 1 akan memberikan supply tegangan dari +, S1, elektroda-
elrktoda thyristor menuju bagian pada D. C. 1. Maka solenoid S1
akan menari kontaktor SW3 dan menyebabkan proses expose
berhenti.

3) mAS Timer
Biasanya dipakai pada pesawat roentgen yang menggunakan two type
methods (kV, mAS).
Gambar mAS Timer:

Gambar 3.41
mAs Timer

Cara kerja :
1. menetukan lamanya waktu penyinaran = R.C
2. pada saat PB SWE ditekan maka akan ada arus yang mengalir dari
power supply menuju terminal 7,5,6,8 SW3 lalu menuju kumparan
primer HTT dan kembali ke supply.
3. maka akan ada arus yang mengalir pada sekunder trafo tegangann
tinggi dengan arah arus : Rectifier menuju kapasitor. Sehingga
kapasitor akan terisi penuh sebesar 0,63 C.
4. setelah kapasitor terisi penuh, maka Thirytron akan mendapat
tegangan sehingga akan mengaktifkan relay S1.
5. dengan aktifnya Relay S1, maka kontaktor SW3 akan terbuka.
Sehingga tidak ada arus yang mengalir pada primer trafo tegangan
tinggi.
6. proses penyinaran telah selesai.

50
B. Wiring diagram pesawat rontgen konvensional

X Ray Tube

Filamen Limiter untuk LARGE FOCUS


Filamen Limiter untuk SMALL FOCUS

Gambar II.41
Wiring Diagram Pesawat Rontgen Konvensional

Gambar 3.42 wiring diagram pesawat rontgen konvensional

51
6. Tahap - tahap pengoperasian pesawat rontgen konvensional
a. Tahap I ( Preparation )
1) Main Switch On,
2) Lihat keadaan voltage indikator, jika jarumnya bergerak ke kanan maka
kita harus menambah jumlah lilitan primer auto trafo dengan
menggunakan Line V (voltage Compensator) jika jarum bergerak ke kiri
maka kita harus mengurangi jumlah lilitan primer pada auto trafo dengan
menggunakan line V (voltage compensator) sehingga diperoleh
perbandingan transformasi antara nilai tegangan & jumlah lilitan primer
dengan nilai tegangan & jumlah lilitan sekunder menjadi tetap dengan
demikian nilai tegangan setiap lilitan akan menjadi jelas nilai nominalnya.
3) Memilih radiografi / fluoroscopy tergantung kebutuhan.
4) Menentukan besarnya tegangan tinggi (KV) sesuai kebutuhan dengan
menggunakan KV selector mayor dan minor dengan ditunjukkan pada KV
meter untuk Radiografi. Menentukan besarnya tegangan tinggi (KV)
untuk fluaroscopy dengan menggunakan KV selector untuk fluaroscopy.
5) Menentukan besarnya mA control pada rangkaian pemanas filamen
dengan mengatur tahanan atur sehingga terjadi voltage drop yang berarti
tegangan pemanas filamen kecil, besarnya dilihat di mA meter untuk
fluoroscopy mengatur besarnya mA dengan memutar selector mA untuk
fluoroscopy.
6) Menentukan lamanya penyinaran dengan mengatur timer pada selector
timer. filamen tabung rontgen mulai menyala, jika X ray tube
menggunakan rotating anoda, maka anoda mulai berputar.
7) Mengatur posisi pasien sesuai dengan jenis pemotretan, mengatur letak
bucky, spot film device, dan CCTV.

b. Tahap II ( Ready )
1) Jika yang dilakukan Radiografi maka kita menekan handswitch posisi 1/2 ,
Rotating anoda pada tabung rontgen akan berputar normal pada tegangan
normal.
2) Filamen mendapat tegangan normal 12 24 V, filamen mengalami
pemanasan sehingga terjadi Thermionic Emission, elektron terlepas dari
ikatan atomnya dan membentuk awan elektron.

c. Tahap III ( exposure )


1) Jika Radiografi, maka kita menekan handswitch dalam posisi penuh,
berarti kita menekan saklar yang menghubungkan Power Suplly dengan
HTT yang digang dengan timer,sehingga timer bekerja.
2) Jika memilih fluoroscopy maka kita menginjak Footswitch, maka timer
mulai bekerja.

52
3) Timer bekerja sehingga akan menghubungkan semua kontraktor dengan
push button yang digang / dihubung
4) Setelah timer ditekan sehingga HTT mendapat supply dari Power Supply,
setelah anoda dan katoda disambungkan dengan HTT, Primer HTT diberi
tegangan AC menginduksi medan listrik, timbul garis-garis gaya magnet
(Garis Gaya Magnit) yang berubah setiap saat/waktu, sehingga
menimbulkan Gaya Gerak Listrik pada kumparan sekunder HTT akibatnya
timbul beda potensial antara anoda dan katoda.
5) Setelah anoda dan katoda mendapat beda potensial, yaitu pada saat
anoda mendapat polaritas (+) dan katoda mendapat polaritas (-) maka
awan elektron pada katoda tertarik menuju anoda dan tertahan di anoda
akibatnya terbentuk rangkaian tertutup karena adanya arus elektron yang
berlawanan dengan arus tabung.
6) Selain terjadi arus tabung maka saat elektron membentur target yang
menumbuk sampai ke inti atom disebut Breamstrakhlung sedangkan
electron yang menubruk lapisan kulit K disebut K karakteristik, yaitu
terpentalnya atom di kulit K dan diisi kembali oleh atom dari partikel di
sekitarnya. Perpindahan atom menuju kulit K menghasilkan Energi
Gelombang Elektromagnetik yang panjangnya 0,1 1 Amstrong yang
disebut sinar X / sinar rontgen.
7) Setelah waktu yang telah ditentukan maka timer tidak bekerja lagi, dan
akan memutuskan hubungan antara Power Suplly dan HTT, sehingga HTT
tidak mendapat tegangan tinggi dan expose pun terhenti.
8) Lamanya expose / penyinaran ditentukan oleh pemilihan timer.

53
BAB IV
X-RAY GENERATOR DAN APPARATUS

A. X Ray Generator
X ray generator adalah alat atau pesawat atau disebut pesawat Rontgen,
untuk membangkitkan sinar X. Sedangkan yang dimaksud apparatus di sini
adalah alat kelengkapan dari pesawat rontgen untuk melakukan pemotretan
dengan sinar X.
X ray generator tersebut terdiri dari bagian bagian yang telah diuraikan
di depan. Semua bagian bagian itu dibuat untuk memenuhi persyaratan
terbangkitnya sinar X dan untuk mengendalikan atau mengatur sinar X sesuai
kebutuhan untuk membuat photo.
Secara fisik pesawat rontgen terdiri dari :
1. Control table
Control table adalah bagian dari pesawat rontgen untuk mengatur sinar X
yang akan dibangkitkan. Pengatur sinar X tersebut adalah :
a. KV kontrol
Gunanya untuk mengatur besarnya tegangan tinggi pada tabung sinar
X yang dipakai untuk mengatur daya tembus sinar X yang akan
dibangkitkan. KV kontrol berupa tombol atau kenob yang diputar
untuk menunjuk suatu angka besaran KV.
b. KV meter / Indikator KV
Untuk mengetahui atau memonitor besarnya KV yang diatur
menggunakan KV meter atau angka sebagai indikator KV yang
didinginkan. KV meter atau angka indikator KV menunjukkan besarnya
tegangan yang akan muncul pada tabung sinar X dan disebut kualitas
sinar X.
c. mA kontrol berupa tombol untuk mengatur besarnya Arus Tabung
sinar X dan disebut kuantitas/besarnya/banyaknya sinar X yang akan
dibangkitkan pada tabung sinar X.
d. mA meter
mA meter sebagai indikator besarnya arus tabung sinar X sesuai
dengan angka yang dipilih pada mA kontrol.
e. Timer
Timer adalah alat untuk mengatur waktu lamanya penyinaran sinar X
yang akan dilaksanakan. Gabungan antara besaran mA (arus tabung
sinar X) dan lamanya waktu penyinaran (second) menjadi suatu
besaran mAS yang dipakai untuk mengatur kehitaman film pada photo
yang dibuat, dengan 3 macam pengontrol yaitu :

54
- KV kontrol (pengatur tegangan tinggi tabung)
- mA kontrol (pengatur arus tabung)
- Second (pengatur waktu/timer)
Dipakai untuk membuat photo rontgen agar didapatkan mutu gambar
yang optimal.

f. Tombol pemilih apparatus


Tombol pemilih apparatus disebut juga technic selector untuk
pemilihan peralatan yang akan dipakai untuk melaksanakan
pemotretan dengan sinar X. Apparatus tersebut antara lain :
1) Patient table / Bucky Table
2) Bucky Wall Stand
3) Explorator
4) Table tanpa Bucky
5) Tomography.

g. KV kontrol untuk Fluoroscopy


Tombol untuk mengatur tegangan tinggi tabung sinar X pada waktu
fluoroscopy.

h. mA Kontrol untuk Fluoroscopy


Tombol ini untuk mengatur besarnya arus tabung sinar X pada waktu
fluoroscopy.

i. Timer Fluoroscopy
Timer Fluroscopy dipakai sebagai indikator waktu lamanya penyinaran
Fluoroscopy.
Fluoroscopy dibatasi waktunya paling lama 5 menit. Setelah 5 menit,
Fluoroscopy di blok : sinar X tidak keluar, kecuali setelah timer di Reset
ke nol.

Three Point Methode dan Two Point Methode


1) Three Point Methode
Yaitu Radiography dengan mengatur kondisi sinar X nya, dilakukan
dengan mengatur 3 macam besaran, yaitu :
a. Besaran KV dengan KV kontrol
b. Besaran mA dengan mA kontrol
c. Besaran Second dengan Timer.

55
Gambar 4.1
Control Table dengan Three Point Methode

2) Two Point Methode


Yaitu Radiography dengan pengaturan 2 macam tombol pengontrol
besaran X ray, yaitu :
a. Besaran KV dengan KV kontrol
b. Besaran mAS dengan mAS kontrol.

Jadi, pada Control Table hanya mempunyai 2 macam pengatur


kondisi X ray, yaitu KV kontrol dan mAS kontrol. Di sini pengatur
mA dan pengatur waktu dikombinasikan menjadi satu disebut mAS
Timer.

Gambar 4.2
Control Table dengan Two Point Methode

56
2. High Tension Transformer Tank (HTT)
HTT adalah bagian dari pesawat Rontgen yang berfungsi untuk :
- membangkitkan tegangan tinggi
- menyearahkan tegangan tinggi
- membuat tegangan rendah sesuai tegangan yang diperlukan oleh
filamen tabung sinar X.

Di dalam HTT ini terdapat bermacam alat, yaitu :


- High Tension Trafo, untuk membangkitkan tegangan tinggi.
- Filamen Trafo, untuk membangkitkan tegangan untuk filamen tabung.
- Penyearah tegangan tinggi, untuk menyearahkan tegangan tinggi
- Relay tegangan tinggi (menghubungkan tegangan tinggi ke X ray tube.
- Oli tegangan tinggi sebagai isolator dan pendingin.

Pada blok diagram pesawat rontgen, HTT dihubungkan dengan kontrol


Table dan tabung rontgen.

X ray tube

Control Overtable
Table Bucky
Wall
HTT
Explorator
Stand

Patient Table

X-ray tube
Undertable

Gambar 4.3
Blok Diagram Pesawat Rontgen

57
Gambar 4.4
Fisik HTT

3. X Ray Tube
X ray tube adalah alat yang digunakan sebagai sumber pembangkit sinar
X.
X ray tube mendapat tegangan tinggi pada Anode, sedangkan katode dari
tegangan filamen dari HTT. Ada 2 buah X ray tube, yaitu :
- Overtable tube, yang letaknya di atas, dipasang pada tiang X ray tube.
- Undertable tube, letaknya di bawah meja pasien yang fungsinya untuk
fluoroscopy dan photo seri menggunakan explorator.
Untuk pemindahan pemakaian X ray tube dipakai Relay tegangan tinggi
yang berada di dalam HTT.

Gambar X ray tube Overtable dan Undertable :

Gambar 4.5
Overtable Tube

58
Gambar 4.6
Undertable Tube
B. X Ray Apparatus
Yang dimaksud X ray apparatus adalah alat alat yang dipakai untuk
melaksanakan pembuatan photo rontgen, antara lain :
1. Universal Patient Table
Universal patient table atau disebut patient table saja adalah alat untuk
tempat tidur pasien yang akan diphoto.
Disebut Universal karena dapat dipakai untuk membuat photo bermacam
macam, seperti photo abdomen, kepala, tangan, kaki, pinggang, dan lain
lain, juga fluoroscopy. Meja pasien ini dapat digerakkan dari 0 sampai
dengan 180, sesuai kebutuhan pemotretan.
Patient table mempunyai 2 Bucky :
b. Bucky yang ada di bawah meja disebut Bucky table.
Gunanya untuk membuat photo dengan menggunakan X ray tube
Overtable.
c. Bucky yang ada di explorator.
Gunanya untuk membuat photo seri menggunakan X ray tube
Undertable.

Gambar 4.7 Gambar 4.8


X-Ray Undertable X-Ray Overtable

59
2. Explorator / Spot Film Device (SFD)
SFD adalah tempat mengatur posisi kaset saat pelaksanaan photo seri
dimana antar Radiografi gdan fluoroscopy dilakukan secara bergantian.
Pada pemotretan Radiografi, diperlukan kaset berada pada Expose Area.
Sedangkan pada pemotretan Fluoroscopy, kaset berada pada Free Area.
Untuk Fluoroscopy, dibutuhkan peralatan pendukung yang disebut CCTV
(Close Circuit Television), yang terdiri dari :
a. Image Intensifyer yaitu alat yang berfungsi untuk merubah sinar X
menjadi cahaya tampak.
b. Camera yaitu alat yang dapat merubah cahaya tampak menjadi
sinyal Video / sinyal listrik.
c. TV Monitor yaitu alat yang dapat merubah sinyal Video / sinyal
listrik menjadi bayangan gambar pada layar monitor.

Gambar 4.9 Gambar 4.10


Explorator Camera Image Intensifier

Gambar 4.11
TV Monitor

60
3. Bucky wall stand / Bucky stand
Bucky wall stand adalah alat untuk membuat photo rontgen yang
ditempelkan pada dinding / tembok (wall). Kalau bucky nya diletakkan
pada tiang bucky (saja) disebut Bucky Stand.
Untuk membuat photo rontgen dengan bucky wall stand menggunakan X
ray tube Overtable yang berada pada tiang X ray tube.

Gambar 4.12
Bucky Wall Stand

4. Kolimator
Kolimator adalah alat untuk membatasi luas lapangan penyinaran sinar X
yang akan dikanakan pada obyek penyinaran (pasien). Karena sinar X itu
berbahaya, maka luas lapangan obyek dibatasi untuk yang diperlukan saja.
Selain untuk meminimalkan bahaya radiasi, juga untuk mendapatkan mutu
gambar yang optimal.

61
BAB V
JENIS - JENIS PEMOTRETAN DENGAN SINAR X

A. Pemotretan tunggal / Foto tunggal


Pemotretan yang menghasilkan 1 gambar dalam 1 film
- Hasil 1 gambar dalam 1 cassete
- Dapat menggunakan X ray tube Under table mapun X ray tube Over table
- Jika mengunakan X ray tube under table harus mengunakan Bucky Wall
Stand atau explorator ( SFD )
- Jika mengunakan X ray tube over table bisa mengunakan bucky table atau
bucky wall stand.

Konfigurasi Pemotretan tunggal :

1 2 3

Gambar 5.1
Konfigurasi Pemotretan Tunggal

Keterangan :
1. X Ray Tube
2. Patient
3. Film (pada bucky table)

B. Pemotretan / foto seri


- Pemotretan yang menghasilkan lebih dari 1 foto rontgen, dalam 1 film.
- Pelaksanaan radiografi dan fluoroscophy bergantian :
Peralatan-peralatan pemotretan:
a. Bucky
Bucky ada 2 jenis, yaitu :
Bucky table : yaitu bucky yang terletak di bagian belakang Universal
Patient Table, tepatnya di belakang pasien.
Bucky Wall Stand : Yaitu bucky yang menempel pada dinding.

62
b. Explorator
Yaitu alat yang berfungsi sebagai penggerak atau pengatur kaset agar pada
pelaksanaan radiografi, kaset berada pada posisi expose area dan kalau
pada pelaksanaan fluoroscopy, kaset berada pada posisi free area.

C. Pelaksanaan foto seri


- Atur posisi pasien dengan konfigurasi : X ray tube under table pasien
Explorator ( SFD ) pada posisi free area CCTV
- Pasang film pada explorator
- Menentukan berapa banyak gambar dalam satu film
- Menentukan tahap-tahap pelaksanaan fluoroscopy
- Injak foot switch
- Lihat TV monitor. Atur-atur posisi pasien agar diperoleh gambar yang
dikehendaki.
- Bila posisi pada gambar TV monitor sudah jelas maka dilakukan tahap-
tahap pelaksanaan radiografi
- Pindahkan posisi cassete pada explorator dari free area ke expose area.
Dengan memindahkan posisi cassete pada explorator dari free area ke
expose area berarti kita telah melakukan ekpose seperti menekan hand
switch pada posisi penuh.

63
BAB VI
TEKNOLOGI PESAWAT RONTGEN

A. X-Ray Generator

X-Ray generator adalah alat atau pesawat yang berfungsi untuk


membangkitkan Sinar-X. Sedangkan yang dimaksud apparatus disini adalah alat
atau kelengkapan dari pesawat rontgen yang merupakan perlengkapan lain untuk
melakukan pemotretan dengan sinar-x. X-Ray generator tersebut terdiri dari
bagian-bagian yaitu contro table, HTT tank dan X-Ray tube. Semua bagian-bagian
itu dibuat untuk memenuhi persyaratan terbangkitnya sinar-x dan untuk
mengendalikan atau mengatur sinar-x sesuai kebutuhan untuk membuat photo.
Bagian bagian pesawat rontgen Secara fisik terdiri dari:
1. Control table
Control table adalah bagian dari pesawat rontgen untuk mengatur sinar-x
yang akan dibangkitkan. Gambar pengatur sinar-x adalah seperti berikut:

Gambar 6.1 control table


Sedangkan jabaran Control table adalah :
a. KV kontrol

Gunanya untuk mengatur besarnya tegangan tinggi pada tabung sinar-x yang
dipakai untuk mengatur daya tembus sinar-x yang akan dibangkitkan KV kontrol
berupa tombol atau kenob yang diputar untuk menunjuk suatu angka besaran KV.
b. KV meter/Indikator KV

Untuk mengetahui atau memonitor besarnya KV yang digunakan. KV meter atau


angka indikator KV menunjukkan besarnya tegangan yang akan digunakan pada
tabung sinar-x dan disebut kualitas sinar-x. Kv meter dipasang sebelum exposure
switch.
c. mA kontrol

Berupa tombol untuk mengatur besarnya arus tabung sinar-x dan disebut
kuantitas/besarnya/banyaknya sinar-x yang akan dibangkitkan pada tabung sinar-
x.

64
d. mA meter

mA meter sebagai indikator besarnya arus tabung sinar-x sesuai dengan angka
yang dipilih pada mA kontrol. mA meter dipasang pada center HTT.
e. Timer

Timer adalah alat untuk mengatur waktu lamanya penyinaran. Gabungan antara
besaran mA ( arus tabung sinar-x ) dan lamanya waktu penyinaran ( second )
menjadi suatu besaran mAs yang dipakai untuk mengatur kehitaman film pada
photo yang dibuat. dengan 3 macam pengontrol yaitu:
f. Tombol pemilih apparatus

Tombol pemilih apparatus disebut juga technic selector untuk pemilihan


peralatan yang akan dipakai untuk melaksanakan pemotretan dengan sinar-x.
Apparatus tersebut antara lain : Patient table, Bucky table dan Bucky wall stand
dll.
g. KV kontrol untuk Fluoroscopy

Tombol untuk mengatur tengangan tinggi tabung sinar-x pada waktu fluoroscopy.
h. mA kontrol untuk Fluoroscopy

tombol ini untuk mengatur besarnya arus tabung sinar-x pada waktu fluoroscopy.
i. Timer Fluoroscopy

Timer fluoroscopy dipakai sebagai indikator waktu lamanya penyinaran


fluoroscopy. Fluoroscopy dibatasi waktu nya paling lama 5 menit. Setelah 5 menit
fluoroscopy di blok dan Sinar-X tidak keluar, kecuali setelah timer di Reset ke nol
lagi.

Three Point Methode dan Two Point Methode


Three Point Methode

Yaitu Radiography dengan mengatur kondisi sinar-x nya, dilakukan dengan


mengatur 3 macam besaran, yaitu :
a. Besaran KV
b. Besaran mA
c. Besaran lamanya penyinaran atau timer

Two Point Methode

Yaitu Radiography dengan pengaturan 2 macam tombol pengontrol besaran X-


Ray, yaitu :
a. Besaran KV
b. Besaran mAs

65
2. High Tension Transformer Tank ( HTT )

HTT adalah bagian dari pesawat rontgen yang berfungsi untuk :


Membangkitkan tegangan tinggi
Membuat tegangan rendah menjadi tegangan tinggi

Di dalam HTT tank ini terdapat bermacam alat, yaitu :


High Tension Trafo, untuk membangkitkan tegangan tinggi
Filamen Tarfo, untuk membangkitkan tegangan filamen tabung rontgen
Penyearah tegangan tinggi, untuk menyearahkan tegangan tinggi
Relay tegangan tinggi ( menghubungkan tegangan tinggi ke X-Ray tube )
High Tension change over switch untuk memindahkan dari tube over table
ke tube under table
Oli tegangan tinggi sebagai isolator dan pendingin

3. Blok diagram pesawat rontgen, dapat dilihat dibawah ini :

Gambar 6.2 blok diagram pesawat rontgen


4. X-Ray Tube

X-Ray tube adalah tabung rontgen yang digunakan sebagai sumber pembangkit
sinar-x. X-Ray tube mendapat tegangan tinggi untuk memberi beda polaritas
antara anoda dan katoda. Ada 2 buah X-Ray tube, yaitu :
X-Ray tube Overtable , yang letaknya diatas dipasang pada tiang X-Ray
tube.
X-Ray tube Undertable, letaknya dibawah meja pasien yang fungsinya
untuk fluoroscopy dan photo seri menggunakan exploratory

66
Gambar 6.3 HTT tank

B. X-Ray Apparatus-Examination Unit

Yang dimaksud X-Ray apparatus adalah perangkat yang dipakai untuk


melaksanakn pembuatan photo rontgen, antara lain :
a. Universal Patient Table/Patient Table

Universal patient table atau disebut patient table adalah alat untuk tempat tidur
pasien yang akan di photo. Universal patient table dapat dipakai untuk membuat
photo bermacam-macam, seperti photo abdomen, kepala, tangan, kaki, pinggang,
dan lain-lain juga fluoroscopy. Meja pasien ini dapat digerakkan dari 0 derajat
sampai dengan 180 derajat. Sesuai kebutuhan pemotretan.
Patient table dilengkapi 3 Bucky :
Bucky yang ada dibawah meja disebut Bucky table
Bucky yang ada di explorator, gunanya untuk membuat photo

1. Bucky Table

Bucky yang ada didalam meja pasien disebut bucky table. Gunanya untuk
membuat photo dengan menggunakan X-Ray tube overtable.
2. Bucky Wall Stand

Bucky wall stand adalah alat untuk membuat photo rontgen yang ditempelkan
pada dinding/tembok ( wall ). Jika bucky diletakkan pada tiang bucky saja disebut
Bucky Stand.
3. Bucky didalam explorator untuk kelengkapan photo seri

Untuk membuat photo rontgen dengan bucky wall stand menggunakan X-Ray
tube Overtable yang berada pada tiang X-Ray tube.
4. Tube Arm (Lengan penyangga X-ray tube)
5. Sistem Penggerak Pasient Table
6. Collimator dan FFD

67
Collimator adalah alat untuk membatasi luas lapangan penyinaran sinar-x yang
akan dikenakan pada objek penyinaran ( pasien ). Karena sinar-x itu berbahaya,
maka luas lapangan penyinaran dibatasi untuk yang diperlukan saja. Selain untuk
meminimalkan bahaya radiasi, juga untuk mendapatkan mutu gambar yang
optimal. FFD adalah Focus Film Distance gunanya untuk mengukur jarak focus
dengan film atau jarak pemotretan yang biasa digunakan adalah 1 (satu) meter.

Cara kerja rangkaian pengatur nilai ampere second/mAs


Cara Kerja:
1. Menentukan lamanya waktu penyinaran = R.C
2. Pada saat PB SWE ditekan maka akan ada arus yang mengalir dan power
supply menuju terminal 7, 5, 6, 8 SW3 lalu menuju kumparan primer HTT
dan kembali ke supply.
3. Maka akan ada arus yang mengalir pada sekunder trafo tegangan tinggi
dengan arah arus: Rectifier menuju kapasitor. Sehingga kapasitor akan
terisi penuh sebesar 0, 63 C
4. Setelah kapasitor terisi penuh, maka Thirytron akan mendapat tegangan
sehingga akan mengaktifkan relay S1.
5. Dengan aktifnya relay S1, maka kontraktor SW3 akan terbuka. Sehingga
tidak ada arus yang mengalir pada primer trafo tegangan tinggi.
6. Proses penyinaran telat selesai.

68
BAB VII
CCTV ( CLOSED CIRCUIT TELEVISION )

Gambar 7. 1 CCTV Secara Real

Secara umum CCTV adalah seperangkat peralatan elektronik yang dirangkai


secara tertutup dan berfungsi untuk menampilkan gambar pada TV monitor.
Sehingga, dalam bidang radiologi dengan menggunakan teknologi CCTV, Pesawat
Rontgen dapat melakukan pemotretan seri dan pemeriksaan fluoroscopy.
Ingat, CCTV ini merupakan suatu kumpulan perangkat elektronik. Sehingga
dalam cara kerjanya pun komponen komponennya saling berkaitan antara satu
dengan yang lain fungsi alat ini adalah untuk membuat pencitraan tubuh manusia
bisa muncul pada layar TV Monitor.

Photo seri adalah pemotretan yang dilakukan lebih dari satu kali sehingga
dalam satu film dapat dihasilkan lebih dari satu gambar dengan flouroscopy dan
radiografi dilakukan secara bergantian.
SOP Pelaksanaan Photo seri :
1. Atur posisi pasien untuk salah satu pemotretan seperti colon, IVP
(kandung kemih), HSG (Rahim), Apendix (Usus Buntu)
2. Atur tombol pengaturan berapa gambar dalam 1 film, misal 1 gambar, 2
gambar, 3 gambar, atau 4 gambar.
3. Lakukan flouroscopy terlebih dahulu dengan posisi bucky didalam
explorator berada pada free area
4. Setelah diketahui adanya kelainan organ didalam tubuh maka
flouroscopydigantikan dan diganti dengan radiografi

69
5. Pengambilan dari flouroscopy ke radiografi adalah dengan
memindahkan posisi kaset pada posisi exposure area dan memindahkan
tombol foot switch ke hand swicth
6. Jika pemotretan akan dibuat lebh dari satu gambar maka diatur lagi
posisi pasien seperti keadaan awal
A. Blok Diagram CCTV Dilengkapi dengan ADR

Gambar 7. 2 Blok Diagram CCTV

Cara kerja blok diagram CCTV adalah Sinar-X keluar dari X-Ray Tube yang
dibangkitkan dari X-Ray Generator akan mengenai tubuh pasien yang terdiri dari
kumpulan jaringan atau organ yang memiliki kerapatan berbeda-beda. Sinar-X
tersebut ada yang diserap tubuh dan ada pula yang keluar menembus pasien,
sehingga intensitas Sinar-X yang masuk kedalam tubuh dan yang keluar tidak
sama. Sinar-X yang keluar dari tubuh manusia tersebut akan diterima Image
Intensifier, disini cahaya yang tidak tampak ( Sinar-X ) dirubah menjadi cahaya
tampak yang memiliki kualitas baik.
Cahaya tampak keluaran dari image intensifier tersebut diterima oleh
camera, sehingga cahaya tampak akan diubah menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik
dirubah menjadi sinyal video oleh Control TV / Central TV. Sinyal video tersebut
oleh TV Monitor akan dirubah menjadi sinyal gambar.
B. Komponen CCTV
Pada bagian ini akan dijelaskan prinsip dasar komponen tersebut secara
detail. Komponen yang merupakan satu kesatuan CCTV adalah :
1. Explorator / Spot Film Device
2. Image Intensifier
3. Camera
4. Central TV
5. TV Monitor
6. Rangkaian ADR ( Automatic Dose Rate )

70
1. Explorator / Spot Film Device

Gambar 7. 3 Eksplorator

Secara mekanik Explorator adalah tempat kedudukan Image Intensifier yang


dilengkapi dengan pengaturan gerakan kaset. Maksudnya adalah dalam
eksplorator ini terdapat tempat kaset yang dapat diatur posisinya saat
melaksanakan poto seri, dimana terjadi pencitraan radiografi dan fluoroscopy
yang dilakukan secara bergantian. Pada pemotretan radiografi, kaset perlu berada
pada Expose Area. Sedangkan pada pemotretan fluoroscopy, kaset harus berada
pada Free Area.

Ilustrasi Eksplorator

Camera
Image Intensifier

Eksplorator

X-Ray Tube
Under Table
Gambar 7. 4 Eksplorator

71
Tombol Yang Berada Pada Explorator

: Kompression
1

: Decompression
2

: Exposure
3

4 : Mesuring Field Selection

5 : Full Field / Survey

6 : Split To Half

7 : Split To Quarter

Layer ( height ) menentukan kedalaman /


8 :
ketebalan objek yang harus diambil.

9 : Fluoroscopy ( screening )

10 : Screening Kv

11 : Bucky Exposure

12 : FFD/SID 150

13 Linier Tomografi 0, 8
:

14 : Linier Tomografi 1, 2

72
15 : Angiografi

16 : Collimation auto

17 : Contrast

18 : Brighness

19 : Normal Size

Zoom
20 :

2. Image Intensifier

Gambar 7. 5 Image Intensifier

Image Intensifier adalah suatu alat yang digunakan untuk merubah Sinar-X
menjadi Cahaya Tampak dimana berkas-berkas cahaya tersebut diproses
sedemikian rupa menjadi Berkas Cahaya yang lebih tajam ( berkualitas baik ).
Image Intensifier dilengkapi dengan beberapa komponen, yaitu input phosper (
input screen ), photo cathode, tiga buah metal yang merupakan 3 elektroda (
electron optic ) berbentuk ring dan output phosper ( output screen ). Yang perlu
kita ketahui adalah penguatan ketajaman gambar pada output phosphor ( output
screen ) adalah sebanyak 1000 kali dari cahaya masukannya.

73
Bagian Bagian Image Intensifier :

Gambar 7. 6 Komponen Yang Berada Pada Image Intensifier

Input Screen

Gambar 7. 7 Input Screen

Pada pemotretan pesawat rontgen dengan menggunakan tabung image


intensifier, diameter bidang input screen lebih besar dibandingkan dengan
diameter objek yang diselidiki, seperti pada gambar 3.7 ( Input Screen ).
Bila kita menemukan spesifikasi pada Image Intensifier seperti Type RBW
25/15, dengan perbandingan input screen dengan output screen = 13, 3 : 1 lalu
diameter bidang output screennya adalah 18, 8 mm ( 1, 88 cm ), maka ini berarti
suatu tabung image intensifier dapat mengubah gambar input screen dengan
ukuran 25 cm menjadi 15 cm atau sebaliknya. Lalu dari spesifikasi tersebut juga
kita dapat mengetahui bahwa diameter input screen adalah 13, 3 x 18, 8 = 250
mm atau sebesar 25 cm. Dengan demikian perbandingan diameter input screen
sangat tepat menurut perbandingan antara bidang input screen dan bidang
output screen.

74
Input screen ini merupakan suatu yang terbuat dari bahan fluorescent /
crystals iodide ( CsI ) yang mempunyai sifat memendarkan cahaya apabila terkena
radiasi sinar-X. sehingga input screen berfungsi sebagai pengubah sinar x menjadi
cahaya tampak.
Besar bayangan objek ( s1 ) yang dihasilkan pada input screen sesuai rumus
{s1 = s ( d1/d )}. Sedangkan untuk besarnya magnifikasi ( M ) bayangan adalah {M
= ( s1/s )}. Disamping itu pula besarnya ukuran bayangan objek yang di peroleh
pada tabung image intensifier tergantung dari :
Penyimpangan radiasi
Jarak antara objek dengan input screen tabung image intensifier
Ukuran objek asalnya harus lebih kecil dari ukuran bidang input screen
tabung image intensifier.
Photo Cathode ( Foto Katoda )

Photo Cathode adalah suatu bagian Image Intensifier yang berfungsi untuk
merubah cahaya tampak menjadi elektron

Electron Optic

Gambar 7. 8 Electron Optic

Electron optic terbagi menjadi 3 bagian, yang pertama adalah electron optic
1, electron optic 2, lalu electron optic 3. Masing masing dari electron optic ini
memiliki fungsi yang berbeda beda. Fungsi dari masing masing electron optic
tersebut antara lain adalah :
Electron Optic 1 = Mempercepat Electron
Electron Optic 2 = Memfokuskan Electron
Electron Optic 3 = Memayarkan Electron agar sesuai dgn Ouput Screen

Yang dimaksudkan dengan memfokuskan electron ialah mengkonsentrasikan


bidang cahaya yang lebar dan redup menjadi satu titik kecil tajam dan cerah yang

75
disebut elektron gun. Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan
medan listrik atau medan magnet.
Bila kita analogikan terhadap cara kerja tabung gambar televisi yang
memanfaatkan medan listrik untuk memfokuskan electron, maka cara kerjanya
adalah sebagai berikut :

Gambar 7. 9 Cara Kerja Pemfokusan Electron

Dua elektroda yang berbentuk cincin mempunyai potensial positif terhadap


katoda, tetapi potensial di F2 lebih tinggi daripada potensial F1. Oleh karena
adanya perbedaan potensial antara F2 dan F1 maka diantara kedua cincin itupun
terdapat medan listrik yang garis-garis gayanya melengkung diantara keduanya.
Satu electron yang keluar dari katoda akan memasuki medan listrik itu, kemudian
oleh medan listrik electron tersebut diarahkan ke bawah terhadap poros
horizontal. Elektron itupun melanjutkan lajunya dengan arah condong ke bawah
sampai bertemu dengan medan listrik yang membelokkannya kembali ke atas.
Disini electron tertarik sedikit ke atas, tetapi gaya yang menarik ke atas ini tidak
akan membawa electron menuju ke atas ( tidak meninggalkan sama sekali poros
horizontal ), sebab laju electron sudah semakin kuat oleh tarikan anoda, jadi
pengaruh dari bagian medan listrik yang kedua ini tidak akan besar. Dengan
demikian elektronpun melaju terus menuju anoda searah dengan poros
horizontal. Elektron-elektron lain akan mendapat perlakuan yang sama sehingga
pada akhirnya elektron-elektron akan bertemu pada satu titik. Dengan cara inilah
pemfokusan electron dapat terjadi.
Titik dimana elektron-elektron bertemu ditentukan oleh kecepatan electron
dan kuat medan listrik diantara F1 dan F2. Adapun tentang kecepatan electron
ditentukan oleh perbedaan tegangan yang ada diantara anoda dan katoda.
Tegangan ini sudah dibuat stabil dan ditetapkan sangat tinggi oleh karena itu
tegangan antara F1 dan F2 harus variabel guna memperoleh pekerjaan
pemfokusan yang diharapkan. Susunan elektroda-elektroda F1 dan F2 dinamai
lensa elektrostatik ( electron optic ) karena elektroda-elektroda itu memfokuskan
berkas electron seperti halnya lensa optic memfokuskan berkas cahaya.

76
Output Screen

Gambar 7.10 Output Screen / Ouput Phospor

Output screen merupakan bagian akhir yang berada pada image intensifier,
dengan begitu fungsi daripada Output Screen ini adalah merubah electron yang
sudah di fokuskan dan di payarkan sesuai ukuran ouput screen mennjadi cahaya
tampak. Bahan yang membuat outputscreen bisa merubah electron menjadi
cahaya tampak salah satunya adalah Zinc Cadmium Sulfide.
Glass Envlope

Gambar 7.11 Image Intensifier Tanpa Cover

Glass Envlope merupakan wadah dari elektrode-elektrode ( input screen,


photo cathode, electron optic, output screen ). Glass envlope ini terbuat dari
bahan phyrex yang tahan panas. Bahan phyrex tempat yang akan dilalui sinar
rontgen dibuat lebih tipis dibanding yang lain.
Prinsip Kerja Image Intensifier

Tabung Image Intensifier merupakan sebuah tabung yang terbuat dari Glass
Envlope yang vacuum. Bagian depan image intesifier terbuat dari bahan
fluorosent yang dilapisi oleh photo cathode, kedua kombinasi ini disebut dengan
input screen. Pada bagian belakang glass envelope dipasang output screen dan
silinder anoda yang saling berhubungan. Sedangkan system optic electron dalam

77
glass envlope ini terbuat dari 3 metal berbentuk silinder tipis.
Apabila suatu objek dikenai Sinar-X maka sebagian energinya akan diserap oleh
objek tersebut. Adapun besar kecilnya penyerapan tergantung dari dua faktor,
yaitu:
Ketebalan objek
Nomor atom dari objek
Untuk ketebalan objek, semakin gemuk seseorang maka penyerapan
energinya juga semakin besar. Jadi semakin tebal objeknya semakin banyak
energi sinar-x yang diserap. Untuk nomor atom dari objek, semakin besar nomor
atomnya maka semakin banyak penyerapan energinya.
Setelah Sinar-X menembus objek, sinar tersebut akan masuk ke input screen
sehingga terjadi benturan dengan input screen yang terbuat dari bahan fluorosent
screen. Bahan itu akan memancarkan photon cahaya bila terkena Sinar-X, setelah
itu photon cahaya tersebut akan mengenai foto katoda, sehingga bahan tersebut
memancarkan electron. Kejadian pemancaran electron tersebut itu disebut juga
emisi foto listrik.

Gambar 7. 12 Proses terjadinya cahaya tampak dari Sinar-X

Berkas electron yang dihasilkan oleh foto katoda akan dipusatkan (


difokuskan ) ke satu titik dengan suatu sistim optic electron ( electron optic ).
Karena ada beda potensial antara anoda dan katoda maka timbul medan listrik
pada anoda, hal ini akan mempercepat gerakan elektron untuk bergerak dari
photo cathode ke anoda dengan kecepatan tinggi. Karena output screen kecil,
maka bayangan akan diperkecil tetapi lebih terang. Apabila tabung image
intersifier dihubungkan dengan tv camera, maka bayangan pada output screen
akan dapat dilihat di TV Monitor.

78
3. Camera

Gambar 7. 13 Camera pada CCTV Pesawat Rontgen

Camera pada Pesawat Rontgen ini merupakan sebuah komponen yang berfungsi
untuk merubah cahaya tampak menjadi sinyal listrik.
1) Jenis-jenis Camera
a) Vidicon

Gambar 7. 14 Vidicon

Vidicom mempunyai diameter plat penyetel sebesar 1 inci, 2/3, atau 1, 2 inci.
Dalam tabung kamera ini, sasaran yang peka cahaya ( plat bayangan ) dibuat dari
trisulfida antimoni.
b) Plumbicon

Gambar 7. 15 Plumbicon Philips

Plumbicon ini adalah jenis camera buatan N.V. Philips. Bentuk fisiknya serupa
dengan vidicom, tetapi pelat bayangan plumbicom terbuat dari oksida timbal (
pbo ). Kepekaannya lebih baik pada cahaya biru atau merah.

79
c) Saticon

Gambar 7. 16 Saticon Hitachi

Saticon ini adalah jenis camera dengan merek dagang Hitachi Ltd. Pelat bayangan
terbuat dari selenium, arsenic dan tellurium.
d) Silicon Vidicon
Titik sambungan semikonduktor silicon di gunakan untuk bahan sasaran di dalam
silicon vidicon. Keuntungannya adalah sensitivitasnya yang tinggi untuk
pemakaian dengan cahaya rendah.
e) Chalnicon

Chalnicon ini adalah jenis camera dengan merek dagang Toshiba Electric co.Ltd.
Sasarannya berupa sebuah susunan lapisan ganda yang rumit yang terdiri dari
oksida kaleng, cadmium helenide dan trisulfida arsebik. Tabung kamera ini
memiliki sesitivitas yang sangat tinggi.
f) Newvicon

Newvicon ini adalah jenis camera dengan merek dagang matsushita


Electric. Sasaran terbuat dari lapisan selenium seng, tidak berbentuk ( amorphous
) dan ditopang oleh trisulfida antimony. Amorphous berarti suatu keadaan fisis
yang bukan dalam suatu bentuk yang pasti yakin, ekivalen dengan cairan padat.
Keuntungan newvicon adalah sesitivitasnya yang sangat tinggi dan respons
spektral yang meluas kepanjang gelombang cahaya yang panjang untuk merah
infra.
Semua tabung yang disebutkan diatas pada dasarnya memiliki konstruksi yang
sama dengan jenis camera vidicon, yang membedakan adalah bahan yag terdapat
pada plat sasaran, guna mendapatkan karakteristik fotolistrik yang diinginkan.
Sensitivitas yang tinggi saat diinginkan dalam pemeriksaan, agar hanya sedikit
cahaya yang diperlukan untuk sinyal kamera. Respons spectral menentukan
sensitivitas relative untuk berbagai warna.

2) Bagian Bagian Camera

Karena seluruh konstruksi camera pada dasarnya sama, maka pada


pembahasan ini akan dijelaskan secara rinci bagaimana cara kerja camera vidicon.

80
Gambar 7. 17 Konstruksi Bagian Dalam Vidicon

Face Plate, Sodium Anti Mony ( Outisde Zenc )


Vidicon terdiri atas sebuah pembungkus gelas dan sebuah faceplate, faceplate ini
berguna untuk menerima masukan cahaya. Pada permukaan belakang faceplate (
dibagian dalam pembungkus gelas vakum ) terdapat bahan peka cahaya yang
bekerja sebagai plat bayangan. Plat tersebut memiliki dua lapisan. Yang pertama
adalah lapisan yang menghadap cahaya, lapisan ini adalah suatu lapisan tipis yang
dapat tembus cahaya ( transparan ) tetapi secara listrik bersifat menghantarkan.
Lapisan ini terbuat dari oksida seng ( Sn0 ). Lapisan ini memiliki saluran listrik ke
sebuah cincin sasaran ( target ring ). Cincin sasaran ini terbuat dari logam yang
mengelilingi ( memutari ) tabung. Selain memberi sambungan listrik kepada
lapisan oksida seng, cincin sasaran ini juga merupakan terminal keluaran sinyal.
Bagian belakang plat sasaran yakni yang menghadap senapan electron
memiliki suatu lapisan bahan peka cahaya yang biasanya terbuat dari trisulfida
antimony. Lapisan ini adalah fotokonduktif. Tahanannya berkurang terhadap
pertambahan cahaya. Sebagai akibatnya, perubahan-perubahan intensitas cahaya
dapat diubah perubahan sinyal listrik.
Cahaya masuk ke camera melalui faceplate konduktif lalu ke pelat bayangan
fotokonduktif, sementara itu cahaya di scan ( dipindai ) oleh berkas electron.
Sinyal kamera yang dihasilkan diambil dari cincin sasaran. Umumnya vidicon
terdapat dalam tiga ukuran menurut diameter faceplate, yakni:
1, 2 inci ( 30, 5 mm )
1 inci ( 25, 4 mm )

81
2/3 inci ( 18 mm )

Sedangkan panjangnya adalah 5 sampai 8 inci ( 127 samapai 203 mm ).


Pick Up Tube ( Camera )
Filament pada katoda mendapatkan tegangan sehingga terjadi thermionic
emission ( pelepasan electron dari inti atomnya ) yang menyebabkan awan
electron berkumpul di katoda, seperti dalam tabung Sinar-X. Tegangan pemanas
adalah 6, 3 v pada 95 mA.

Kisi G1 di sebelah katoda berfungsi untuk mengontrol muatan elektron yang


telah tercipta oleh filament. Kisi G1 memiliki tegangan sebesar 30 Volt dengan
acuan terhadap katoda yang ditanahkan. Tegangan bias ini mengontrol kerapatan
elektron, atau jumlah arus berkas. Tegangan bias G1 disetting oleh pengatur
berkas. Setelah elektron di control, maka elektron - elektron dari katoda ditarik ke
sasaran oleh kisi pemercepat positif G2 yang memiliki tegangan 300V. Keduanya,
G1 dan G2 merupakan silinder - silinder logam kecil yang terdiri dari sebuah celah
( aperture ) dimana berkas elektron dapat melewatinya.
Setelah dipercepat oleh G2, elektron elektron akan di fokuskan oleh kisi G3
yang memiliki tegangan 260 Volt. Berikutnya adalah kisi G4 yang berdekatan
dengan plat sasaran. Potensial G4 adalah 400 v berkenaan terhadap katoda.

3) Cara Kerja Camera

Gambar 7. 18 Cara Kerja Camera

82
Sehingga dari kedua bagian camera yang telah dijelaskan diatas ( Face Plate,
Sodium Anti Mony ( Outside Zenc ) Dan Pick Up Tube ) dapat kita ketahui bahwa
cara kerja secara keseluruhan dari camera ini adalah :
a) Didalam tabung camera terjadi proses pemayaran / scanning :
1. Mula-mula filament mendapat pemanasan sehingga terjadi thermionic
emission. Elektron-elektron yang dihasilkan akan ditarik ke bidang
sasaran bagian dalam face plate yang dilengkapi bahan peka cahaya
terbuat dari trisulfida antimoni.
2. Sebelum sampai sasaran, elektron-elektron dikontrol oleh G1,
dipercepat G2 dan difocuskan oleh G3 menjadi berkas titik yang
disebut elektron gun.
3. Elektron gun ini akan menyapu seluruh permukaan bidang sasaran
yang digerakkan oleh rangkaian horizontal deflection dan rangkaian
vertical deflection.
4. Pada sekeliling bidang sasaran dilengkapi dengan kisi G4 yang
merupakan piringan mata jala halus dengan potensial 400 volt
terhadap filamen katodanya.
5. Tetapi karena sasaran diberi tegangan rendah ( 50 volt ) maka saat
elektron gun akan mendarat ke bidang sasaran terjadi pengereman
sehingga akan mengurangi terjadinya radiasi hambur ( secondary
elektron yang menyebabkan noise ) dan mendarat dengan sudut
sebesar 90, yang tegak lurus pada semua titik permukaan.

b) Trisulfida antimoni yang sifatnya peka cahaya ini merupakan lapisan foto
konduktif. Tahanannya akan berkurang sesuai dengan pertambahan cahaya
yang diterima dari image intensifier. Saat melaksanakan ekspose, tentu hasil
cahaya yang keluar dari image intensifier tidak merata ( karena ada
perbedaan nomer atom pada tubuh ) jadi ada cahaya yang sangat tajam atau
cahaya yang sangat lemah, saat cahaya yang intensitasnya berbeda itu
terkena bahan trisulfida antimony maka akan ada bagian yang sangat
konduktif dan ada pula yang tidak. Saat itu pula, terjadi scanning oleh
elektron gun ( sudah dijelaskan di point a ), dengan kata lain, cahaya yang
datang akan dirubah menjadi sinyal listrik / sinyal video.
c) Cahaya yang telah dirubah menjadi sinyal listrik ini akan diteruskan ke control
unit / central tv untuk diolah ( diperkuat ) menjadi sinyal video dan diproses
untuk dijadikan sinyal gambar pada TV Monitor.

83
4. TV Monitor dan Central TV

Gambar 7. 19 Bentuk Fisik TV Monitor

Gambar 7. 20 Bentuk Fisik TV Monitor

TV Monitor atau yang biasa disebut Television Monitor adalah suatu


peralatan dari CCTV yang berfungsi untuk merubah sinyal listrik / sinyal video (
dari kamera ) menjadi sinyal gambar ( menampilkan gambar ). Sehingga dengan
adanya monitor, operator dapat melihat bagian tubuh yang sedang dilakukan
proses fluoroscopy.

1) Cara Kerja TV Monitor

Gambar 7. 21 Blok Diagram TV Monitor

84
Didalam TV Monitor terdapat beberapa bagian yang bekerja secara kompak
untuk membuat konversi antara sinyal listrik / sinyal video menjadi sinyal
gambar.
a) Cara Kerja Tabung CRT

Gambar 7. 22 Tabung CRT

Didalam tabung ini terjadi 2 proses, yaitu proses pembuatan awan elektron,
pemfokusan elektron dan proses pembelokan berkas elektron.
Pembuatan Elektron

Filament pada katoda mendapatkan tegangan sehingga terjadi emisi


elektron ( thermionic emission ). Elektron-elektron tersebut akan ditarik oleh
anoda, karena anoda diberi tegangan positif yang sangat tinggi terhadap katoda.
Layer pada anoda merupakan suatu lapisan zat yang terbuat dari bahan yang
apabila terkena benturan elektron-elektron layer tersebut akan berpendar.
Berpendarnya zat tersebut akan semakin terang apabila elektron yang menabrak
anoda ini jumlahnya semakin banyak persatuan waktu atau tenaga yang terdapat
pada elektron-elektron itu semakin besar. Akan tetapi elektron-elektron tersebut
akan menyebar dan membentuk bidang cahaya yang lebar dan redup.

Bidang cahaya yang lebar lagi redup itu perlu dibuat menjadi bintik yang
tajam dan cerah. Guna mewujudkan hal tersebut maka pancaran elektron yang
keluar dari katoda ke anoda harus dibuat menjadi berkas elektron yang tipis dan
kuat yang intensitas layernya sesuai dengan kebutuhan.

Pemfokusan Elektron

Yang dimaksud dengan hal ini merupakan suatu proses mengkonsentrasikan


bidang cahaya yang lebar dan redup menjadi satu titik kecil tajam dan cerah.
Pekerjaan ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan medan listrik atau medan

85
magnet. Dalam tabung gambar televisi ( CRT ) dimanfaatkan medan listrik. Cara
kerjanya adalah sebagai berikut :

Gambar 7. 23 Proses Pemfokusan Cahaya

Dua elektroda yang berbentuk cincin mempunyai potensial positif terhadap


katoda, tetapi potensial di F2 lebih tinggi dari potensial di F1. Karena adanya
perbedaan potensial antara F2 dan F1 maka diantara kedua cincin itupun terdapat
medan listrik yang garis-garis gayanya melengkung diantara keduanya.
Satu elektron yang keluar dari katoda akan memasuki medan listrik,
kemudian oleh medan listrik elektron akan dibawa mengarah kebawah terhadap
poros horizontal. Elektron itupun melanjutkan lajunya dengan arah condong
kebawah sampai ia bertemu dengan medan listrik yang membelokannya kembali
keatas. Di sini elektron tertarik sedikit keatas, tetapi gaya yang menariknya keatas
ini tidak akan membawa elektron menuju keatas ( meninggalkan sama sekali
poros horizontal ). Sebab, laju elektron sudah semakin kuat oleh tarikan anoda,
jadi pengaruh dari bagian medan listrik yang kedua ini tidak akan besar.
Elektronpun melaju terus menuju anoda, searah dengan poros horizontal.
Elektron-elektron lain akan mendapat perlakuan yang sama sehingga pada
akhirnya elektron-elektron akan bertemu pada suatu titik. Dengan cara inilah
pemfokusan elektron dapat terjadi.
Titik dimana elektron-elektron bertemu ditentukan oleh kecepatan elektron
dan kuat medan listrik diantara F1 dan F2. adapun tentang kecepatan elektron
ditentukan oleh perbedaan tegangan yang ada diantara anoda dan katoda.
Tegangan ini sudah dibuat stabil dan ditetapkan sangat tinggi, sedangkan
tegangan antara F1 dan F2 harus variable guna memperoleh pekerjaan
pemfokusan yang diharapkan. Susunan elektroda-elektroda F1 dan F2 dinamakan
lensa elektrostatik ( elektron optic ) karena elektroda-elektroda itu memfokuskan
berkas elektron seperti halnya lensa optik memfokuskan berkas cahaya.
Pembelokan Berkas Elektron

Berkas elektron perlu dibawa ke segala penjuru layer gambar agar dapat
melukiskan informasi gambar. Pembelokan berkas elektron itu akan dikerjakan
secara listrik oleh suatu peralatan. Pada dasarnya elektron akan dibelokkan
kearah horizontal ( dari kiri ke kanan dan sebaliknya ). Guna membelokkan berkas

86
elektron itu maka di leher tabung CRT dipasang dua pasang kumparan, satu
pasang kumparan akan membelok-belokkan berkas elektron ke arah horizontal,
satu pasang yang lain akan membelok-belokan berkas elektron ke arah vertikal.
Pasangan kumparan yang pertama tadi disebut kumparan pembelok horizontal (
Horizontal Deflection Coil ) dan pasangan kumparan yang lain disebut kumparan
pembelok vertikal ( Vertical Deflection Coil ). Sistem dari kedua pasang kumparan
ini disebut juga dengan Deflection Joke atau disingkat dengan DJ.
b) Cara Kerja Penguat Video ( Penguat Sinyal Gambar )

Penguat video berfungsi untuk menguatkan sinyal-sinyal masukan berupa


sinyal video yang mempunyai frekuensi antara 30 Hz sampai 5 MHz. Penguat
video harus mampu memperkuat sinyal yang sangat lebar jalurnya dengan faktor
penguatan yang diumpankan kepada tabung gambar dan pembangkit denyut (
separator sinkronisasi ). Penguat semacam ini disebut juga penguat jalur lebar.
Penguat ini harus mampu memperkuat sinyal dengan frekuensi 50 Hz sebab
sinyal frekuensi sinkronisasi vertical yang dikirim dari sentral pemancar bernilai
seperti itu. Penguat ini juga harus mampu memperkuat sinyal dengan frekuensi
sebesar 5 MHz supaya definisi gambar ( detail ) dapat direproduksi dengan baik.
c) Rangkaian Sinkronisasi / Otomatisasi
Terdiri dari :
Proses Pemisahan Sinkronisasi ( Separator Sinkronisasi )

Kegunaan sinkronisasi dalam tabung gambar adalah untuk


menyamakan penelusuran ( scanning ) layer oleh berkas-berkas elektron yang
berada pada camera dan tv monitor. Penelusuran ( scanning ) yang dilakukan
dalam tabung gambar haruslah berjalan sinkron dengan penelusuran yang
dilakukan dalam kamera, apabila gerak penelusuran ( scanning ) garis
horizontal pada tv monitor dan gerak penelusuran ( scanning ) garis
horizontal pada kamera tidak serempak maka akan dihasilkan gambar yang
terkoyak-koyak. Begitu pula terjadi pada scanning vertical, oleh karena itu
untuk menyamakan gerakan penelusuran pada kamera dan tv monitor, maka
pada sentral televisi harus memancarkan denyut-denyut sinkronisasi.

Ada dua jenis denyut sinkronisasi yang terjadi pada proses ini, yaitu
denyut sinkronisasi vertical dan denyut sinkronisasi horizontal. Denyut-
denyut tersebut dipancarkan setiap 64 mikro second.
Pemisah sinkronisasi pada tingkat pertama memisahkan denyut-denyut
sinkronisasi dari sinyal gambar, kemudian pada tingkat kedua adalah :
Membalik fasa sesuai dengan persyaratan yang diperlukan untuk
mengumpan oscillator penelusuran.

87
Membentuk sama tinggi amplitudo denyut-denyut sinkronisasi.
Memperbaiki denyut-denyut sinkronisasi sesuai dengan keperluan.
Memperkecil pengaruh gangguan.

Rangkaian Pembelok Vertical

Sebelum kita membicarakan rangkaian pembelok vertical dan rangkaian


pembelok horizontal, terlebih dahulu kita bicarakan mengenai dimana sinyal-
sinyal yang akan melakukan penelusuran ( scanning ) dibangkitkan.
Sinyal-sinyal yang melakukan proses scanning dibangkitkan oleh
oscillator. Dalam hal ini ada dua jenis rangkaian oscillator, yaitu rangkaian
oscillator pembelok vertical dan rangkaian oscillator pembelok horizontal.
Keduanya tidak membangkitkan sinyal sinusoida akan tetapi membangkitkan
bentuk denyut-denyut. Kedua jenis oscillator tadi mempunyai karakteristik
antara lain:
Tidak menerapkan rangkaian LC melainkan menerapkan rangkaian
RC guna menentukan bentuk dan frekuensi gelombang keluaran.
Dapat berguncang bebas ( free running ), namun jika kita
menangkap sinyal dari central TV, fasa dan guncangan oscillator
itu dikendalikan oleh sinyal-sinyal atau denyut-denyut yang
berasal dari separator sinkronisasi. Sinyal yang berasal dari
separator sinkronisasi itu disebut juga sinyal sinkronisasi yang
dikirim dari central televisi.

Pada rangkaian pembelok vertical, oscillator yang dipergunakan adalah


Oscilator Sumbatan ( Blocking Oscilator ) dimana rangkaian tersebut secara
berganti-ganti memberikan sinyalnya dengan cara menghantar, menyumbat
dan seterusnya. Lama waktu menghantarnya lebih singkat dari pada lama
waktu penyumbatannya. Suatu keunggulan oscillator sumbatan ini ialah
bahwa ia dapat di sinkronisasikan dengan suatu frekuensi dari luar yang mana
hal ini dapat terjadi jika frekuensi oscillator sendiri hanya berselisih sedikit
dari frekuensi yang mensikronkan.

Rangkaian Pembelok Horizontal

Suatu oscillator sumbatan yang diterapkan dalam rangkaian pembelok


horizontal dalam azasnya tidaklah berbeda dari yang diterapkan dalam
rangkaian scanning vertical, hanya saja selalu dilengkapi dengan sebuah
pengatur frekuensi automatic ( AFC ), pengatur ini menjaga agar frekuensi
dan fasa dari oscillator horizontal benar-benar bagus dan sinkron dengan
sinyal yang berasal dari central televisi, karena oscillator horizontal peka

88
sekali terhadap gangguan-gangguan dari luar.

Gambar 7. 24 Blok Diagram Pembelok Horizontal

Pemisah sinkronisasi ( separator sinkronisasi ) tidak memberikan umpan


langsung kepada oscillator horizontal, melainkan kepada pengatur frekuensi
automatic ( AFC ). Penguat akhir horizontal mengembalikan sebagian dari
tegangan sinyal keluarannya kepada pengatur frekuensi. Sinyal ini merupakan
indikasi yang tepat terhadap fasa arus listrik yang mengalir di dalam
kumparan pembelok horizontal.
Dalam pengatur frekuensi automatic ( AFC ), tegangan sinyal yang
berasal dari tempat penguat akhir horizontal dibandingkan dengan denyut-
denyut sinkronisasi, jika kedua sinyal ini tidak sinkron, maka pengatur
frekuensi membangkitkan koreksi. Tegangan koreksi ini diumpamakan
kepada oscillator horizontal guna mengkoreksi frekuensi dan atau fasanya.
Tegangan koreksi berupa tegangan rata yang berfungsi mengubah (
menempatkan ) tegangan pada transistor oscillator horizontal. Jikalau
sinkronisasi kurang baik maka akan terjadi salah anyaman pada raster dan
akan terjadi desah ( noise ) yang semakin kuat ( tampak pada raster ). Jika
sinkronisasi hilang sama sekali maka gambar akan terkoyak-koyak.

Detektor Fasa

Rangkaian ini adalah sebuah penyearah yang terdiri dari dua buah
dioda. Dalam rangkaian ini, sinyal yang berasal dari pemisah sinkronisasi
disearahkan, bersamaan dengan itu dibandingkan dengan sinyal yang berasal
dari salah satu penguat pembelok horizontal. Secara garis besar detektor fasa
bekerja sebagai berikut :
Pertama, kita misalkan tidak ada sinyal dari penguat akhir
horizontal. Sinyal a dan sinyal b berasal dari separator sinkronisasi
adalah sama kuat tetapi saling berlawanan fasa. Karena pada

89
dioda 1 ( D1 ) dan dioda 2 ( D2 ) ada sinyal yang berlawanan fasa
dan sama kuat, dioda-dioda tersebut tidak menghantar. Antara
terminal R3 dan ground tidak ada tegangan.
Jika ada sinyal yang berasal dari penguat akhir horizontal, maka
pada titik petemuan antara D1 dan D2 menjadi positif / negatif
terhadap ground. Potensial ini ditentukan dengan fasa sinyal
tersebut. Maka sekarang keseimbangan menjadi terganggu pada
terminal R3 timbul potensial.
Potensial pada terminal R3 ini diteruskan ke oscillator horizontal.
Oleh potensial inilah frekuensi dan fasanya di koreksi. Penguat
akhir horizontal tidak secara langsung mendapat sinyal dari
oscillator horizontal, melainkan dari suatu tingkat penggerak (
driver ). Tingkat penggerak ( driver ) mempunyai pekerjaan :
1. Menyediakan denyut-denyut yang berasal dari oscillator
horizontal menjadi bentuk blok yang diperlukan.
2. Menyediakan denyut-denyut yang cukup kuat untuk
keperluan pengumpan penguatan akhir.
Karena pada sirkuit masukan maupun sirkuit keluarannya
rangkaian penggerak ini diterapkan kumparan-kumparan, maka
pada hakikatnya rangkaian ini merupakan suatu rangkaian tertala
( turned circuit ). Rangkaian ini menentukan lebarnya denyut dan
juga ( bersama-sama penguat akhir ) turut menentukan waktu
berlangsungnya umpan balik.

Sinyal penggerak untuk transistor akhir berbentuk blok. Tegangan


berbentuk blok ini diperlukan untuk memperoleh arus yang berbentuk gigi
gergaji di kumparan pembelok horizontal. Transistor penguat akhir horizontal
berfungsi sebagai saklar. Dioda basis emiter tidak diberi tegangan maju. Hal
ini berarti, bahwa dalam kondisi tidak ada sinyal.
d) Power Supply

Rangkaian dasar power supply ( pencatu daya ) untuk TV monitor haruslah


memiliki stabilisasi yang baik, karena pesawat TV bertransistor ini menarik arus
lebih besar, selain itu juga pada rangkaian power supply ini, diberi fasilitas untuk
mengatur tegangan jepit. Untuk mengatur tegangan beban, merangkap stabilisasi
tegangan akan dapat pula dipakai transistor-transistor komplementer.

90
5. Rangkaian ADR ( Automatic Dose Rate ) Control

Gambar 7. 25 Rangkaian ADR

Rangkaian ADR control merupakan suatu rangkaian yang berfungsi untuk


mengubah dosis radiasi Sinar-X kepada pasien secara otomatis. Pengubahan dosis
ini dilakukan dengan mengatur kV dengan motor pada kV Selector.
Pada saat kita akan melaksanakan fluoroscopy dan photo seri, maka diawal
pengoperasian alat dilakukan pengaturan besarnya kV dan mAS yang diperlukan.
Misalnya untuk pemotretan torax, diperlukan kV sebesar 80 kV dan mAS = 50.
Maka dilakukan pengaturan pada control table oleh elektromedik. Setelah paien
berada diatas meja pasien, dan proses preparation telah selesai, lalu dilakukan
fluoroscopy ( muncul gambar organ pada monitor ), jika sudah tepat posisi dan
gambar yang ingin dipotoseri, maka dilakukan photoseri pertama.
Ketika ingin mengambil gambar pada posisi lain ( misalnya posisi tubuh
pasien miring ), maka ketebalan objek akan berbeda dengan ketebalan pada
pemotretan pertama, sehingga besarnya kV yang dibutuhkan juga akan berubah.
Namun dengan adanya rangkaian ADR ini apabila terjadi perubahan posisi pada
objek yang membuat dosis Sinar-X terlalu lebih atau kurang, maka control motor
akan menggerakkan motor yang akan menggerakkan kV selector secara otomatis.
Jadi nanti operator tidak lagi harus mengatur kembali kV dan mAs secara manual,
sehingga bisa langsung di ekspose untuk potoseri selanjutnya.

91
6. Cara Kerja Rangkaian ADR

Gambar 7. 26 Cara kerja Rangkaian ADR

Sinar-X yang dihasilkan oleh X-Ray Tube mengenai tubuh pasien, Sinar-X
yang telah mengenai tubuh pasien akan diserap dan diubah menjadi cahaya
tampak oleh image intensifier. Cahaya tampak tersebut akan mengenai splitting
mirror, dimana cahaya dibagi menjadi 2 arah. Ada yang menembus splitting
mirror dan terkena camera dan ada yang dibelokan menuju Photo Multiplier
Tube. Cahaya yang masuk ke PMT akan diubah menjadi elektron, didalam PMT
elektron diperbanyak oleh dynode. Keluaran dari PMT ini adalah sinyal negative
elektron, sehingga perlu diubah menjadi sinyal listrik oleh rangkaian inverter.
Sinyal listrik inilah yang masuk ke control motor untuk memberikan perintah
kepada Motor untuk mengubah nilai kV pada kV selector.

92
BAB VIII
FLAT DETECTOR

Teknologi digital telah membuat revolusi di dalam kehidupan kita. Baik itu di
bidang perumahan, perkantoran, dan lain sebagainya. Dengan menggunakan teknologi
digital ini, maka seluruh benda yang masih menggunakan sistem yang dapat diubah
menjadi sederhana.

Gambar 8. 1 X-Ray Flat Panel Detector ( FPD )

Sebagai contoh misalnya dokumen, zaman dahulu dokumen itu berupa


kertas yang tebal dan sulit untuk dibawa kemana mana, namun dengan era digital
ini dokumen bisa menjadi sebuah ukuran file yang sederhana dan bisa di edit.
Sama halnya dibidang Pesawat Rontgen. Hasil pemeriksaan yang berbentuk
film yang harus dicuci terlebih dahulu, kini hasilnya bisa berbentuk foto ( data
digital ) yang bisa dikirim kemana mana secara cepat dan real-time tanpa
mengenal jarak. Dan dengan menggunakan teknologi ini maka tidak lagi
diperlukannya bahan kimia untuk pencucian film.
Pencitraan menggunakan Flat Panel Detector ( FPD ) bekerja berdasarkan
teknologi Solid State / Integrated Circuit atau yang biasa kita sebut dengan IC.
Karena pencitraan X-Ray ini berbeda dengan pencitraan cahaya tampak, maka
penggunaan ICnya pun akan digunakan dengan skala yang sangat banyak.
Untungnya teknologi IC dengan skala besar ini dapat ditemukan dengan
penggunaan amorphous-silicon thin-film-transistor ( TFT ). Teknologi tersebut
biasa dipakai pada laptop atau handphone kita untuk menampilkan gambar.
Pada dasarnya Flat Panel Detector ini terbagi menjadi dua kategori, yang
pertama adalah direct detectors dan yang kedua adalah indirect detectors.
Namun detector yang paling bagus dan sering digunakan adalah detector dengan
system indirect detectors, oleh karenanya pada pembahasan kali ini hanya
dijelaskan prinsip kerja dari indirect detectors.

93
A. Bagian Bagian Flat Panel Detector

Gambar 8. 2 Arsitektur Bagian Dalam Flat Panel Detektor

Menurut fungsinya Flat Panel Detektor terdiri dari tiga bagian yaitu :
a. Input Screen ( Scintilator )
Berfungsi untuk merubah Sinar-X menjadi kilatan kilatan cahaya tampak. Scintillator
ini terbuat dari Cesium Iodide ( Csl ). Bagian ini fungsinya sama saja seperti Image
Intensifier, yang membedakan adalah teknologi dan bentuknya yang datar seperti
plat berukuran 20x20 Cm. Bagian ini hanya terdiri dari dua lapisan yaitu :
1) Carrier yang berfungsi untuk mengarahkan Sinar-X ke layar pendar (
Flourosent screen ). Bahan ini merupakan lapisan alumunium dengan
ketebalan 0.4 mm, bentuknya seperti cermin sehingga bisa
memantulkan cahaya seperti reflektor.
2) Flourosent Screen vang berfungsi untuk menyerap Sinar-X lalu
merubahnya menjadi kilatan-kilatan cahaya ( Scintilation ) namun
cahaya ini sangat lemah. Bahan ini terbuat dari cecium idode ( Csl ).
b. Detektor / Pixel Matrix / Photodiode Matrix

Gambar 8. 3 Arsitektur Bagian Dalam Flat Panel Detektor

94
1) Layout Detektor Matrix / Pixel Matrix / Photodiode Matrix
Bagian ini merupakan barisan dioda cahaya ( photo diode ) yang disusun
berurutan berbentuk matrik ( pixel ), dioda cahaya ini berfungsi sebagai
pendeteksi dan penerima kilatan-kilatan cahaya yang dihasilkan dari kristal
scintillation lalu diubah menjadi besaran listrik. Photo dioda ini dirangkai langsung
dengan Thin Film Transistor dan disolder pada PCB secara rapat.

Gambar 8. 4 Rangkaian Photodiode

Gambar 8.5 Letak Photodiode dengan TFT Switch

Flat Panel Detektor yang memiliki ukuran 20 x 20 cm terdapat 1080 x 1080


pixel. Setiap pixelnya berukuran 184 jim ( mikrometer ). Disetiap pixel terdapat
photo dioda sebagai detektor, kapasitor sebagai penyimpan muatan dan Thin Film
Transistor sebagai switching. Dari rangkaian ini akan menghasilkan besaran listrik
yang sangat lemah sehingga diperlukan penguatan.
2) Prinsip Kerja Rangkaian Detektor Matrik
Pada Flat Panel detektor terdiri dari 1080 x 1080 pixel yang berarti memiliki
1.166.400 pixel ( 1, 166-1 Mega Pixel ), maka diperlukan 1.166.400 jalur data.
Rangkaian ini dilengkapi dengan Multiplexer ( Mapik ) dimana 1 Mapik ini bisa
mewakili 120 pixel, sehingga untuk pengiriman data tadi dibuat secara serial

95
melalui jalur serat optik. Gambar di bawah im merupakan pengganti 120 pixel
multiplexer ke suatu ADC.

Gambar 8. 6 Rangkaian Photodiode Matrix

Saat Kristal Scintilation mengeluarkan kilatan cahaya, maka cahaya tersebut


akan mengenai potodioda. Photodioda akan mengkonversikan cahaya tersebut
menjadi arus listrik yang sangat lemah kisaran 0, 2 A, arus listrik tersebut akan
mengisi capasitor. Setelah kapasitor bermuatan listrik, maka thin film transistor (
sebagai switching ) akan aktif dan meneruskan arus listrik, sehingga arus akan
mengalir ke rangkaian operasi amplifier ( sebagai penguat ). Dan output operasi
amplifier mengeluarkan listrik atau sinyal analog yang berbetuk tegangan dalam
satuan volt.
Tegangan analog akan diterima oleh rangkaian multiplexer dan di dim
secara berurutan kemudian dikuatkan kembali dengan rangkaian gain, setelah itu
dikonversikan menjadi sinyal-sinyal digital oleh rangkaian ADC ( Analog to Digital
Converter ), data-data digital ini akan ditransfer melalui jalur serat optik ke
rangkaian acquisition sub system.
c. Read Out Board
Read Out Board berfungsi untuk memperkuat besaran listrik yang dihasilkan
detektor matrik ( photodiode matrix ) lalu merubahnya menjadi pulsa-pulsa digital lalu
ditransfer sebagai data ke komputer. Rangkaian read out merupakan kesatuan
pada rangkaian layout detektor yang terdiri dari tiga bagian yaitu :
1) Rangkaian penguat ( Integrator ), untuk menguatkan besaran listrik
yang dihasilkan dari detektor .
2) Rangkaian Multiplexer untuk memilih input masukan dari integrator
mewakili 120 pixel yang akan diterusakan kebagian keluaran.
3) Rangkain Gain untuk menguatkan kembali tegangan.
4) Rangkaian conversi dari analog ke digital ADC ( Analog Digital

96
Converter ).
5) Sambungan serat optik ( Optical Fiber Channel ) yang disebut dengan
gigalink, untuk transfer data ke DIPP ( Digital Image Pre Prossesing )
yang berada pada bagian RTC ( Real Time Control ).

P
r Gambar 8. 7 Rangkaian Read Out
isip Kerja Read Out

Sinyal listrik yang dihasilkan oleh detektor matrik akan masuk ke input
rangkaian Integrator untuk dikuatkan oleh Op-Amp, kemudian setiap 120 pixel
akan melewati rangkaian multiplexer yang merupakan rangkaian elektronika
dimana bisa memilih masukan untuk diteruskan kebagian pengeluaran. Pemilihan
input mana yang akan dipilh akan ditentukan oleh sinyal yang ada di bagian
kontrol pada rangkaian tersebut. Dari keluaran multiplexer akan dikuatkan
kembali oleh rangkaian gain, kemudian akan dirubah menjadi data digital oleh
rangkaian ADC. Sinyal-sinyal inilah yang akan ditransfer lewat saluran serat optic.

97
B. Prinsip Kerja Flat Detector

Gambar 8. 8 Prinsip Kerja Flat Detector

Berkas Sinar-X yang diproduksi oleh X-Ray Tube mengenaik objek tubuh
manusia, beberapa berkas keluar menembus organ manusia lalu masuk ke
Scintillation Layer, Scintillation Layer ini terbuat dari bahan Cesium-Iodide ( CsI ).
Disini berkas Sinar-X diserap oleh Scintillation Layer ( berbentuk Kristal ) sehingga
menghasilkan kilatan-kilatan cahaya tampak, jumlah kilatan cahaya tersebut tergantung
dari energi yang diserap oleh Scintillation Layer.
Kuantitas cahaya tampak tersebut dilanjutkan masuk ke photodiodes ( dioda
cahaya ), sehingga terjadi pengkonversian dari cahaya tampak menjadi arus listrik.
Arus listrik ini berkisar 0 sampai dengan 0, 2 micro ampere. Arus inilah yang
kemudian diukur dan diproses pada sistem elektronika aquisisi data. Sambungan
antara scintillation layer dan dioda cahaya merupakan sambungan khusus yang di
diesign khusus agar tidak ada cahaya yang keluar dan tidak ada cahaya dari diluar yang
masuk sehingga bisa berubah menjadi arus listrik. Dioda cahaya ini sendiri disolder
di atas PCB y a n g langsung menuju sistem aquisisi data, keseluruhan matrik detector
ini diletakkan dalam ruangan yang tahan cahaya. Alat ini mampu mempertahankan
efesiensi sampai 90 %.
Dioda cahaya memiliki dua kategori umur berdasarkan material penyusun kristal,
yaitu crystalline dan keramik buatan. Keduanya sangat sensitive terhadap keadaan
temperatur dan tekanan udara. Siemens telah memproduksi kristal sendiri dan telah
dipatenkan yaitu UFC ( Ultra Fast Ceramic ). Secara fungsi Flat Panel Detektor ( FPD ) sarna
dengan Image Intensifier hanya perbedaan di teknologi pcmbuatannya lebih
sederhana.

98
BAB IX
PESAWAT RONTGEN CONDENSATOR DISCHARGE

Pesawat Rontgen Condensator Discharge adalah sebuah pesawat rontgen


yang cara kerjanya dikontrol oleh condesator tegangan tinggi untuk menghasilkan
Sinar-X. Sinar-X ini akan terjadi saat pengosongan capacitor. Yang perlu kita
ketahui adalah Condensator adalah nama lain dari Capacitor yang berfungsi
sebagai suatu alat yang dapat menyimpan energi di dalam medan listrik.

Gambar 9. 1 Pesawat Rontgen Kondensator Discharge

Pesawat Rontgen Condensator Discharge ini menggunakan tabung triode.


Berbeda dengan tabung system diode yang mempunyai dua electrode ( Anoda
dan Katoda ), Tabung triode ini memiliki tiga electrode yaitu Andoda, Grid dan
Katoda .

99
Gambar 9. 2 Tabung Triode

Adapun fungsi dari ketiga elektroda ini adalah :


1. Katoda : Elektrode dengan muatan negatip dan sumber electron

2. Anode : Elektrode bermuatan positip sebagai penangkap electron

3. Grid : Berfungsi pengatur jalannya electron

Pesawat kondensator discharge ini biasanya dibuat Mobile. Maksudnya


adalah Pesawat Rontgen tersebut di design secara khusus agar memudahkan
mobilitas / mudah disesuaikan dengan pemeriksaan pasien. Pesawat Rontgen
Mobile dapat dibawa keruangan ICU, Rawat Inap dan lainnya.

A. Ciri Ciri Pesawat Rontgen Condensator Discharge

1. Tabungnya terdiri dari 3 electrode ( Anoda, Katoda dan Grid ).

2. Pada control tablenya terdapat tombol tau saklar bertuliskan ( Charge ).

3. Mempunyai shuter sebagi pengaman

4. Membutuhkan tegangan DC sebagai power supply

100
a. X-Ray Generator

2
)
1)

1) Control Console ( Control Table + HTT Tank )

Control Console terdiri dari Control Table, maksudnya pada control console ini
terdapat beberapa parameter dan pengaturan kV dan mAs yang diperlukan. HTT
Tank memiliki arti bahwa dalam control console ini terdapat Trafo Tegangan
Tinggi pesawat digunakan untuk radiografi
2) X-Ray Tube ( 3 Electrodes )

X-Ray Tube yang digunakan pada pesawat rontgen condensator discharge


tabung triode,
3) Tube stand
Tube stand berfungsi sebagai penyangga x-ray tube.

B. Prinsip Kerja Dasar Pesawat Condensator Discharge

Disini akan dibahas mengenai cara kerja pengisian kapasitor dan


pengosongan kapasitor pesawat rontgen condensator discharge saat terjadi
ekspose.
Secara filosofi Pesawat Rontgen condenstator discharge rangkaian dasar
atau wiring diagram dasar Condensator ini memiliki wiring diagram sebagai
berikut :

101
Gambar 9. 3 Rangkaian Dasar Pesawat Rontgen Kondenstatator Discharge

Saat S1 ( Main Switch ) ditekan menjadi ON maka arus dari PLN akan masuk
ke Relay D dan membuatnya aktif. Dengan aktifnya Relay D maka kontaktor Relay
D yang mulayna NC ( Normally Close ) akan berubah menjadi Open.
Selain itu juga arus dari PLN mengalir ke lillitan primer Transformator, disini
terjadi GGM ( Garis Garis Magnet ) yang berubah ubah akibat tegangan PLN yang
memiliki amplitude ( AC ) yang berjalan terus menerus seiring berjalannya waktu.
GGM ini akan mengakibatkan GGL ( Gaya Gerak Listrik ) pada sekunder
Transformator.
Tegangan pada sekunder Transformator akan disearahkan oleh penyearah
penyearaha diode bridge yang berfungsi sebagai penyearah tegangan AC menjadi
DC Full Wave. Tegangan DC tersebut akan diatur oleh sebuah variable resistor (
kV Selector ) dimana kita bisa mengontrol seberapa besar nilai hambatan yang
nantinya akan mempengaruhi nilai tegangan yang akan dibutuhkan untuk
melakukan ekspose. Tegangan ini mengindikasikan seberapa besar kV yang akan
diatur.
S2 ( Tombol Charger ) ditekan, sehingga tegangan DC yang telah kita atur
tadi akan mengisi kondensator tegagan tinggi dan dapat dilihat pada kV Meter
sebgai indikator apakah kV yang diatur sudah sesuai dengan kV yang berada pada
capacitor. Selain itu kV tegangan tersebut digunakan untuk mengisi Capacitor 1 (

102
C1 ) dan Capacitor 2 ( C2 ), semakin bertambah isi capacitor tersebuti maka
semakin naik juga jarum pada kV meter.
Tegangan beda capasitor digunakan untuk memberi beda potensial antara
anode dan katoda tabung rontgen, meski demikian ekspose tidak akan terjadi,
karena pada tabung masih ada tegangan Grid negatif yang menghalangi laju
electron ke anode. Saat kV Meter sama dengan kV Selector Pengisian maka
pengisian capacitor akan berhenti, kemudian mengatur mAs selector sesuai
kebutuhan photo rontgen.
Saat pengisian capacitor telah selesai ( mencapai titik pengaturan ) maka
akan ada indikasi kepada operator yang menandakan bahwa ekspose siap
dilakukan. Operator menekan handswitch setengah, berarti pesawat rontgen
ready. Kemudiab shutter akan terbuka, mAs timer bekerja, sehingga membuat
saklar G berada pada posisi ( 1-2 ). Akibatnya grid tidak lagi mendapatkan
tegangan negative, melainkan tegangannya menjadi nol. Dengan demikian
electron di katoda akan ditarik menuju anoda, sehingga terjadilah expose. Saat
terjadi ekspose kV meter akan menurun seiring dengan discharging capasitor (
pengosongan capacitor ).
Setelah kondisi mAs tercapai maka saklar G berada pada posisi ( 1-3 ),
keadaan ini membuat tegangan grid kembali menjadi negative ( - ). Shutter
kembali pada posisi semula. Saat main switch ( S1 ) OFF maka Relay D tidak lagi
mendapatkan tegangan, kontaktor Relay D kembali keposisi normally close
sehingga tegangan sisa pada capacitor keluar ( discharge ) menuju grounding.
C. Wiring Diagram Pesawat Rontgen Condensator Discharge

Dari prinsip dasar yang telah dijelaskan diatas kita perlu ketahui bahwa
untuk membangkitkan Sinar-X pesawat tersebut membutuhkan suatu system
atau kumpulan rangkaian yang bekerja secara kompak dan saling membutuhkan.
Rangkaian yang terdiri dari :
1. Rangkaian Tegangan Tinggi

2. Rangkaian Pengendali Tegangan Tinggi

3. Rangkaian Pengendali Tegangan Grid dan Rangkain Pemanas Filamen

4. Rangkaian Pengendali Beban Lebih

1. Rangkaian Tegangan Tinggi

Rangkkaian tegangan tinggi merupakan rangkaian yang bekerja untuk


membangkitkan tegangan tinggi yang sesuai. Selain membangkitkan tegangan
tinggi, rangkaian ini juga berfungsi sebagai penyearah tegangan yang akan

103
mensupply capacitor. Tegangan tinggi DC ini selanjutnya digunakan untuk
pembangkitan Sinar-X.
Pesawat juga di lengkapi dengan rangkaian tegangan tinggi sebagai berikut ;

Gambar 9. 4 Rangkaian Tegangan Tinggi

a. Keterangan Gambar

At Autotransformator
Tr-4 Tranformator Tegangan Tinggi
Dioda (
D-3 Dan D-4
Penyearah Tegangan Tinggi )
C7 Dan C6 Condensator Tegangan Tinggi
R 15 Dan R16 Resistor Pengaman C6
Tube X-Ray Tube
Relay Discharge Condensator
Ry D
tegangan tinggi
Ry-1 Relay Pengisi Tegangan

104
Kontaktor Self Holding Relay
Ry-1 ( 14-15 )
Ry-1
Kontaktor Self Holding Relay
Ry-1 ( 6-8 )
Ry-1
Charge Saklar Pengisi Tegangan

b. Cara Kerja

Main Switch ON

Autotrafo mendapat supply tegangan dari PLN

Relay discharge bekerja, membuka kontak relay Ry D1 dan Ry D2

Tombol Charge ditekan sehingg membuat Relay Ry1 energize ( aktif ),


karena aktifnya relay ini Kontaktor Relay Ry1 ( 14-15 ) dan ( 6-8 ) yang
asalanya Normally Open menjadi Close, kontaktor tersebut merupakan self
holding relay. Menutupnya kontaktor Relay Ry1 menyebabkan adanya
arus yang mengalir dari titik B ( + ) D4 R16 C6 Ground lalu ke titik
A sehingga terjadi pengisian condensator C6.

Saat titik A mendapat polaritas positive ( + ), arus mengalir dari titik A


Ground ke C7 R15 D3 titik B, sehingga terjadi pengisian
condensator C7 ( tegangan tinggi pada anoda dan katoda merupakan
penjumlahan dari tegangan yang terkumpul pada C6 dan C7 ) karena C7
dan C6 dirangkai seri kemudian dihubungkan pararel dengan tabung
rontgen

Tegangan tinggi ini akan diumpan balikkan menuju rangkaian pengatur


tegangan tinggi, sehingga terjadi pengisian capasitor yang sesuai dengan
apa yang sudah diatur pada control console.

2. Rangkaian Pengendali Tegangan Tinggi

Rangkaian ini berfungsi untuk mengatur kapan pengisian condensator


tegangan tinggi berhenti, Dengan berhentinya pengisian pada suatu batas
tertentu maka ini menandakan sudah sesuainya antara kV yang diatur dan kV
yang sebenarnya. Bila tidak ada rangkaian ini maka akan terus terjadi pengisian
pada condensator yang nilainya tidak diketahui. Rangkaian pengendali tegangan
tinggi bisa dilihat sebagai berikut :

105
Gambar 9. 5 Rangkaian Pengendali Tegangan Tinggi

a. Jika grid mendapat bias negatif maka elektron-elektron tidak bisa ditarik
ke anode dan exposure belum bisa terjadi, tabung rontgen sekarang dalam

106
keadaan netral, artinya bila filamen tabung rontgen mempunyai polaritas
yang sama dengan gridnya. Sehingga elektron - elektron di tarik menuju ke
anode dan terjadi penyinaran atau exposure.
b. Bersamaan dengan hal tersebut kontaktor Ry2 ( 2-5 ) berubah ke posisi ( 2-
4 ), sehingga tabung rontgen akan bekerja selama tegangan anoda
mendapat polaritas positif ( + ). Tegangan grid sama dengan tegangan
katodenya.
c. Saat terjadi penyinaran, tegangan pada anoda tabung rontgen akan turun
sedemikian rupa, sehingga tegangan feed back menuju rangkaian pengatur
grid akan ikut turun. Jika tegangan grid turun maka tabung thyritron akan
cut off, sehingga relay Ry2 tidak bekerja. Bila relay ini tidak bekerja, maka
kontak-kontaknya pun tidak bekerja, dan akan kembali ke posisi semula.
d. Karena Ry2 ( 8-11 ) terhubung maka relay Ry5 kembali bekerja, dan
kontak-kontak Ry5 kembali terbuka. Tegangan grid mendapat bias negatif (
- ) sehingga tabung rontgen berhenti bekerja.

3. Rangkaian Pengendali Tegangan Grid

Bila kita analisa dari rangkaian sebelumnya, kita bisa menelaah


bahwasannya pada saat kondensator terisi sesuai dengan kV yang diatur maka
pengisian akan berhenti. Dengan demikian perlu adanya rangkaian pengatur
tegangan grid. Hal ini disebabkan karena antara anode dan katode sudah terjadi
perbedaan polaritas tinggi dari kapasitor yang di sambungkan secara pararel
dengan tabung rontgen. Namun meskipun anode sudah mendapatkan polaritas
positif terhadap katode, electron di katode belum bisa di tarik ke anode karena
terhalang oleh grid yang di beri polaritas negative. Jadi terjadinya exposure di
kendalikan oleh adanya grid yang di bias oleh rangkaian pengendali tegangan grid.

107
Rangkaian pengendali tegangan grid seperti berikut :

Gambar 9. 6 Wiring Diagram Pengendali Tegangan Grid


Cara Kerja :
a. Main switch ditekan/ON, sehingga tegangan dari PLN memberi catudaya
pada Autotrafo atau AT

108
b. Autotrafo bekerja. Bekerjanya autotrafo menyebabkan arus mengalir dari
Autotrafo Ry5 dan TR6 melalui Ry4, Ry9, Ry 10, Ry 13 lalu kembali
menuju autotrafo
c. Transformator ( TR6 ) bekerja, dan Ry5 aktif ( energize ) juga kontaktor Ry5
membuka. Akibat dari kejadian ini maka ada arus yang mengalir dari TR6
D6 C9 TR6
d. Pada saat itu di condensator C9 terjadi pengisian sehingga plat bagian
kanan mendapatkan polaritas positif ( + ) dan plat bagian kiri mendapatkan
polaritas negatif ( - ).
e. Saat tombol ready kita tekan ( handswitch ditekan setengah ), maka Ry3
energize. Dengan deminikian, maka kontaktor Ry3 menutup, sehingga ada
arus yang mengalir menuju Ry4, Ry9, Ry10 dan Tr5. Kejadian ini
mengakibatkan rotating anoda berputar dan trafo filamen bekerja untuk
memanaskan filamen sehingga terjadi thermionic emision, elektron
terbebas dari ikatan atomnya dan membentuk awan-awan elektron pada
katoda.
f. Karena aktifnya relay yang disebutkan pada nomor e, maka seluruh
kontaktor relay Ry4 ( 3-4 ), Ry9 ( 1-4 ), Ry10 ( 1-4 ) yang asalnya normally
close sekarang menjadi open. Dengan demikian TR6 hanya mendapat
supply dari jalur kontaktor Ry13 ( 3-7 ).
g. Jika tombol X-Ray ditekan ( handswitch ditekan penuh ) maka akan ada
arus yang mengalir dari Autotrafo Rangkaian Penyearah R28
Selenoid Rangkaian Penyearah Autotarfo.
h. Karena selenoid terkena arus, maka sesaat kemudian microswitch secara
otomatis akan menutup. Akibatnya Ry13 energize, hal ini membuat (
kontaktor Ry13 ( 13-7 ) membuka. TR6 dan Ry5 sekarang tidak
mendapatkan supply tegangan.
i. Kontaktor Ry5 kembali menutup /close, sehingga kondensator C9 ( + ) akan
discharge melalui R19 Kontaktor Ry5 Kembali ke C9 dan terjadi short
circuit
j. Sekarang Tegangan antara grid dan katoda sama. Pada saat itu elektron
ditarik dari katoda ke anoda, terjadilah rangkaian tertutup dan terjadi arus
tabung ( exposure ).
k. Selanjutnya plat bagian kanan pada kondensator yang positif memberikan
polaritas positif ke katode dan plat bagian kiri pada kondensator
memberikan polaritas negatif pada grid sehingga grid mendapatkan bias
negatif dan tidak terjadi penyinaran atau exposure.

109
4. Rangkaian Pengendali Beban Lebih

Sebagaimana kita ketahui bahwa sebelum terjadi exposure akan terjadi


proses pengisian kondensator, pengisian ini akan berhenti hingga batas kV yang
telah ditentukan pada control console. Namun dalam beberapa kejadian, mungkin
saja kondensator akan terus mengisi hingga batas kemampuan penyimpanannya
sehingga terjadi beban lebih yang dapat merusak pesawat rontgen. Untuk
menanggulangi adanya beban lebih tersebut maka di butuhkan rangkaian
pengaman beban lebih seperti gambar berikut :

Gambar 9.7 Rangkaian Pengendali Beban Lebih


Cara Kerja :
a. Pengaturan tegangan kV ditentukan dari besarnya pengaturan kV selektor
(yaitu dengan terminal 6, 7, 8,9 dari autotarfo ).
b. Saat main swicth ON, TR2 bekerja memberikan supply pada thyratron V1.
Katoda diberikan bias lebih negative ( - ) terhadap anodanya.
c. Sebelumnya terjadi pemanasan filamen pada A-B hingga terjadi thermionic

110
emission ( elektron terbebas dari ikatan atomnya dan membentuk awan
elektron pada filamen katoda ).
d. Bias katoda diberi tegangan tetap dari dioda zener ( Ze1 ) sebesar VC.
e. Pengaturan tegangan grid thyratron mendapatkan tegangan dari umpan
balik anoda melalui R17 kV meter R6 R5 Grid Thyratron.
f. Tegangan anoda naik sedemikian rupa sehingga menyebabkan tegangan
pengatur grid V1 mendekati tegangan katodanya, Pada saat ini terjadi,
maka Tabung V1 akan aktif.
g. Apabila tegangan C7 dan C8 pada rangkaian tegangan tinggi melebihi
atau mengalami kerusakan, maka akan ada arus balik melalui R17 kV
meter R6 R5 ke grid thryratron ( V2 ) sehingga tegangan thryaton V2
bertambah ( + ). sehingga Ry12 bekerja. Arus mengalir dari TR2 ke Ry12.
Bekerjanya Ry12, membuat kontaktor 1-4 terbuka. Membukanya
kontaktor 1-4 menyebabkan Ry1 denergize, hingga kontraktor Ry1 (3-6)
membuka dan TR4 tidak mendapat tegangan. Dengan demikian akan
menyebabkan tabung rontgen tidak bekerja lagi.

111
BAB X
PESAWAT RONTGEN FREKUENSI TINGGI

A. Definisi

Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi adalah sebuah pesawat rontgen dimana


pembangkitan Sinar-X nya menggunakan tegangan berbasis frekuensi tinggi.
Pesawat Rontgen Frekuensi ini ada yang stationary dan ada pula yang di rancang
untuk mobilitas ( mobile X-Ray ).

Gambar 10. 1 Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi Mobile

Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi Mobile di design secara khusus agar


memudahkan mobilitas / mudah disesuaikan pada pemeriksaan pasien.
Contohnya bila kasus orang kecelakaan yang tidak bisa diangkat dari kasurnya,
maka digunakan alat ini untuk pemeriksaan organ tubuhnya. Selain itu juga alat
ini digunakan untuk pasien yang sama sekali tidak boleh di pindahkan dari
ruangannya, pesawatnyalah yang akan dibawa ke ruang dimana diperlukan.
Pesawat ini terdiri dari control console, HTT yang ada di dalam box control
console dan x-ray tube dan hanya bisa digunakan untuk radiografi. Dalam
pelaksanaan penyinaran / exposure hanya diperlukan sebuah kaset yang

112
dilengkapi film agar dihasilkan gambar yang sesuai dengan keinginan. Sedangkan
pesawaat rontgen frekuensi tinggi yang stasionary sperti gambar berikut :

Gambar 10. 2 Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi Stationary

Pesawat Rontgen Stationary adalah Pesawat Rontgen yang di design secara


paten untuk diam di satu tempat. Pesawat Rontgen stasionary biasanya dapat
melakukan segala macam pemeriksaan radiografi dan fluoroscopy ( dengan
catatan tergantung dari spesifikasi alatnya juga ).Mungkin menjadi pertanyaan
bagi kita semua, apa yang menjadi kelebihan dari pesawat ini dibanding pesawat
rontgen konvensional, sedangkan fungsinya sama saja untuk melakukan
pencitraan anatomi bagian dalam tubuh manusia. Pada dasarnya pesawat ini
memiliki kelebihan :
1. Volume transformator tegangan tinggi lebih kecil karena luas
penampangnya berbanding terbalik dengan frekuensi sesuai rumus :

U = K.f.n.A

Dimana :
U : Tegangan induksi.
K : Konstanta.
F : Frekwensi.
n : Jumlah gulungan
A : Penampang inti trafo.

113
2. Tidak menggunakan Autotransformator dan Voltage Stabilisator
seperti pada pesawat rontgen konvensional yang besar dan berat.
3. Tidak menggunakan komponen elektro mekanik seperti motor, relay
dan kontaktor yang besar. Tetapi menggunakan komponen
elektronik semiconduktor atau yang biasa dikenal sebagai IC (
Intergrated Circuit ) yang lebih cepat dalam proses dan kompak
sehingga hasil pengaturan lebih teliti.
4. Meskipun menggunakan tegangan listrik 1 Phase hasil ripple
tegangan tinggi mendekati generator 12 pulsa pada pesawat rontgen
konvensional.
5. Dosis yang dihasilkan hampir 1 - 2 kali generator multi pulsa.
Contoh : Generator Frekuensi tinggi dengan kapasitas 100kV, 300 mA
setara dengan generator multi pulsa dengan kapasitas 100 kV, 500
mA.
6. Proses pengaturan tegangan tinggi terjadi pada saat pemberian
tegangan tinggi pada tabung rontgen atau selama waktu penyinaran
yang disebut dengan on line exposure.
7. Proses pengaturan tegangan tinggi dan arus tabung terpisah sehingga
tidak saling mempengaruhi seperti pada pesawat rontgen
konvensional yang saling mempengaruhi satu sama lain sehingga
tidak perlu menggunakan space charge compensator
8. Dengan adanya micro prosessor pada generator frekuensi tinggi
konstruksi console menjadi kecil dan kompak sehingga tidak lagi
disebut control table melainkan control console.
9. Trafo tegangan tinggi dapat dijadikan satu dengan tabung rontgen,
yang disebut single tank sehingga tidak memerlukan kabel tengangan
tinggi.
10. Untuk pesawat rontgen frekuensi tinggi yang tidak menggunakan
Single Tank, HTT berada diluar dan kabel tegangan tingginya tidak
sebesar pesawat rontgen konvensional.
11. Menghemat ruangan karena bentuknya yang kecil dan kompak.

114
B. Blok Diagram Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi dan pulsa yang dihasilkan
dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar 10. 3 Blok Diagram Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi

Keterangan gambar :
Bagian Tegangan Tinggi

115
1. Rangkaian Penyearah
2. Rangkaian Filter ( Penghalus Tegangan )
3. Rangkaian Inverter
4. Rangkaian High Tension Transformator
5. Rangkaian Penyearah
6. Rangkaian Filter ( Penghalus Tegangan )
7. Rangkaian VCO ( Voltage Controlled Oscillator )
8. Rangkaian Regulator
9. Voltage devider
1.a.Rangkaian Penyearah
2.a. Rangkaian Filter
3.a. Rangkaian Inverter
4.a. Trafo Step-down

C. Cara Kerja Blok Diagram Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi :


Dalam proses pembangkitan Sinar-X terdapat 3 proses yang terjadi sesuai blok
diagram. Masing-masing proses ini bekerja berdasarkan perpaduan fungsi dari
berbagai macam blok yang sudah kita lihat pada pembahasan sebelumnya.
1. Proses Pemanasan Filamen
Proses pemanasan tabung rontgen dimaksudkan untuk membangkitkan awan
elektron pada filamen tabung rontgen dan lazimnya disebut thermionic
emission. Cara kerjanya dapat dijelaskan seperti berikut :

Gambar 10. 4 Bagian Pemanasan Filamen

Tegangan AC 50 Hz dari PLN disearahkan pada blok 1A, menjadi tegangan DC


full wave yang kemudian difilter oleh kondensator pada blok 2a, menjadi tegangan
DC ripple. Kemudian tegangan DC tersebut diubah menjadi tegangan bolak-balik ( AC
) frekuensi tinggi oleh inverter pada blok 3a. Setelah itu tegangan tersebut

116
diturunkan tegangannya menjadi 6 16 volt oleh Trafo filamen Step-Down pada
blok 4a dan di gunakan sebagai catu daya filamen tabung rontgen, sehingga terjadi
thermionic emission.

Pengaturan arus tabung rontgen melalui regulator yang menghasilkan


tegangan square dan merupakan hasil perbandingan antara milliampere (mA), yang
di atur (y soll), milliampere (mA) yang dihasilkan (y ist). Keluaran dari regulator akan
digunakan oleh VCO yang akan merubah tegangan menjadi frekuensi. Pulsa keluaran
dari VCO berbentuk pulsa square selanjutnya digunakan untuk memberikan triger
pada thyristor pada rangkaian inverter. Gambar 6.5 adalah rangkaian pembangkit
tegangan tinggi dan sinyal sinyal yang dihasilkan pada setiap blok rangkaian.

2. Proses Pembangkitan Tegangan Tinggi


Pembangkit tegangan tinggi dimaksudkan untuk memberikan beda potensial
yang tinggi antara anode dan katode tabung rontgen hingga elektron elektron yang
dihasilkan filamen ditarik ke anode.

Gambar 10. 5 Bagian Pembangkit Tegangan Tinggi

Perubahan Bentuk Pulsa

Gambar 10.6 Perubahan Bentuk Pulsa

117
Tegangan AC dengan frekuensi 50 Hz ( U0 ) dari PLN disearahkan di blok 1
sehingga menghasilkan pulsa DC( U1 ) dan difilter di blok 2 menjadi tegangan DC
ripple ( U2 ). Tegangan tersebut diubah lagi menjadi tegangan bolak-balik ( AC )
frekuensi tinggi antara 7 13KHz oleh inverter blok 3 ( U3 ). Kemudian tegangan AC
frekuensi tinggi tadi di naikkan tegangannya oleh transformator tegangan tinggi di
Blok 4, sehingga sekarang tegangan tersebut menjadi tegangan tinggi frekwensi
tinggi ( U4 ). Setelah itu tegangan tersebut disearahkan di blok 5 menjadi tegangan
DC ( U5 ), kemudian difilter di blok 6 ( U6 ) yang selanjutnya diberikan ke tabung
rontgen. Frekuensi tinggi terjadi karena inverter di triger oleh VCO yang
menghasilkan frekuensi tinggi antara 7-13 Khz.

3. Pengaturan Tegangan Tinggi

Tegangan referensi ( kV soll ) yang berasal dari control console diberikan ke


regulator lalu dibandingkan dengan tegangan feedback dari voltage divider pada
rangkaian tegangan tinggi ( kV ist ). Hasil rasio dari regulator yang didalam
merupakan penguat pembanding adalah selisih tegangan antara tegangan yang
diatur dan tegangan yang dihasilkan dari keluaran voltage devider. Voltage devider
ini fungsinya untuk membagi tegangan tinggi (KV) menjadi tegangan rendah misal
10KV dengan 1 volt sehingga hasilnya berupa tegangan DC. Tegangan DC ini oleh VCO
dirubahnya menjadi tegangan bolak balik square frekwensi tinggi yang selanjutnya di
gunakan untuk mentriger INVERTER.
Saat melakukan pengisian kapasitor tegangan tinggi kV ist naik dari nol sampai
mencapai tegangan yang diinginkan. Bila tegangan feedback ( kV ist ) telah sama
dengan tegangan referensi ( kV soll ) maka tegangan tinggi tidak naik lagi, dan
inverter tidak di triger muatan kapasitor sehingga trafo tidak bekerja. Tidak
bekerjanya trafo tegangan tinggi menyebabkan tegangan pada tegangan tinggi
menurun sehingga KV ist lebih kecil dari KV soll. Keluaran regulator yang merupaka
perbandingan antara KV is dan KV soll tersebut akan memberikan tegangan pada
VCO dan frekuensi yang dihasilkan akan mentriger inverter lagi. Berikutnya inverter
akan menebabkan tegangan tinggi naik lagi sehingga KV ist sama degan KV soll lagi
begitu berulang-ulang sehingga tegangan tinggi tabung rontgen naik turun sehingga
membentuk ripple.
Proses pengaturan tegangan tinggi dan pengaturan arus tabung rontgen yang
dilakukan pada saat Exposure berlangsung ( seperti yang telah dijelaskan diatas )
disebut online adjustment.
Demikian cara kerja blok diagram secara umum dari pesawat rontgen frekuensi
tinggi. Sekarang mari kita simak secara detail prinsip kerja pesawat rontgen ini dalam
beberapa rangkaian yang sangat berkaitan dengan cara kerja blok diagram diatas.

118
Rangkaian-rangkaian dimaksud adalah :
1. Rangkaian Power Supply

2. Rangkaian Inverter

3. Rangkaian Tranformator Tegangan Tinggi

4. Rangkaian Pengatur Tegangan Tinggi

5. Rangkaian Pemanas Filamen

6. Rangkaian Pengatur Arus Tabung Rontgen

1. Rangkaian Power Supply

1.1 Rangkaian Power Supply dengan PLN 2 Fasa

Gambar 10.7 Rangkaian Power Supply 2 Fasa


Cara Kerja :
Rangkaian Power Supply ini terdiri dari rangkaian penyearah dan rangkaian
filter ( Blok 1 dan Blok 2 pada Gambar 4.4 ) Tegangan bolak balik frekuensi 50 Hz dari
PLN disearahkan dan difilter dengan kondensator menjadi tegangan searah sebesar,
220 V * * 2 = 622 Volt. Tegangan PLN merupakan tegangan efektif sehingga Nilai
tersebut perlu dikalikan sehingga dapat dibaca menjadi Tegangan Maksimum (
Vp ).

119
1.2 Rangkaian Power Supply dengan PLN 3 Fasa

Gambar 10. 8 Rangkaian Power Supply PLN 3 Fasa

Cara Kerja :
Tegangan PLN sebesar 380V masuk kebagian penyearah ( diode ) lalu difilter
oleh capacitor ( C ) sehingga menghasilkan tegangan searah dengan nilai, 380 V *
= 575 Volt. Tegangan PLN merupakan tegangan efektif sehingga Nilai tersebut perlu
dikalikan sehingga dapat dibaca menjadi Tegangan Maksimum ( Vp ).
2. Rangkaian Inverter

2.1 Rangkaian Dasar Oscilator


Sebelum melihat rangkaian inverter pada pesawat rontgen maka ada baiknya
kita memahami konsep dasar dari rangkaian oscillator. Osilator adalah suatu
rangkaian yang menghasilkan keluaran yang amplitudonya berubah-ubah ( AC )
secara periodik dengan waktu. Keluarannya bisa berupa gelombang sinusoida,
gelombang persegi, gelombang pulsa, gelombang segitiga atau gelombang gigi
gergaji.
Gambar dibawah ini menunjukkan gambar rangkaian R, L, C yang dihubung
seri dan dihubungkan dengan sumber tegangan DC melalui sebuah saklar S.

120
Gambar 10.9 Rangkaian R, L, C

Apabila rangakaian R, L, C dihubungkan dengan sumber tegangan DC melalui saklar S


maka akan terjadi pengisian Kondensator C sampai penuh. Saklar S kemudian
dipindah pada posisi 2-1 menjadi 2-3. Maka akan terjadi oscilasi yang makin lama
makin kecil amplitudonya atau disebut teredam karena energinya hilang di Rs seperti
pada gambar diatas.

2.2 Rangkaian Inverter


Untuk Membuat agar oscilasi tidak teredam maka perlu diberikan tegangan DC
secara periodik untuk mengatasi hilangnya energi. Dengan prinsip tersebut, saklar S
diganti Thyristor dan dirangkai seperti pada gambar dibawah ini.

Gambar 10. 10 Rangkaian Inverter Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi

Keterangan Gambar :
Thyristor Th1, Th2, Th3 dan Th4 sebagai pengganti saklar S.

Diode V1, V2, V3 dan V4 dihubungkan berlawanan arah dengan Thyristor.

Oscilator terdiri dari Cs, Ls dan Rs yang dihubung Seri.

121
Cara Kerja Rangkaian Inverter :
Th1 berpasangan dengan Th2, bekerja bergantian dengan Th3 yang
berpasangan dengan Th4. Pada setengah periode pertama, Th1 dan Th2 bekerja
karena diberi signal triger dari VCO pada gate-nya. Arus mengalir dari sumber
tegangan positif ke negatif seperti pada gambar dibawah :

Gambar 10. 11 Bekerjanya Th1 dan Th2 pada Inverter ( Fase 1 )

Dari positif lewat Th 1, Cs, Ls, Rs terus lewat Th2 terus ke Negatif. Terjadi
pengisian Kondenstor Cs hingga penuh. Karena rangkaian oscilator membangkitkan
arus balik setelah setengah periode, maka arus balik ini mengalir lewat V2, Rs, Ls dan
V1 terus ke terminal positif seperti pada gambar dibawah.

Gambar 10.12 Bekerjanya Th1 dan Th2 pada Inverter ( Fase 2 )

122
Arus balik ini digambarkan arah negatif. Pada saat ini kondenstor Cs discharge
hingga kosong ( t2 ). Dan arus balik ini berfungsi juga untuk mematikan firingnya (
bekerjanya ) Th 1 dan Th2.

Pada setengah periode berikutnya, Th3 dan Th4 firing oleh signal triger. Arus
mengalir dari positif lewat Th3, Rs, Ls, Cs terus Th4 terus ke negatif sperti pada
gambar dibawah. Terjadi pengisian kondenstor sampai penuh dengan polaritas
kebalikan dari pengisian pertama.

Berikut adalah Tahap Bekerjanya Th3 dan Th4 pada Inverter ( Fase 3 )

Gambar 10. 13 Bekerjanya Th3 dan Th4 pada Inverter ( Fase 3 )

Pada saat terjadi arus balik dari rangkaian oscilator terjadi discharge
kondensator Cs dengan arah arus, dari terminal Negatif, V4, lalu menuju
Kondensator negatif Cs, ke positif, lalu ke Ls, Rs, V3 dan akhirnya menuju terminal
positif. Gambar Pulsanya seperti pada gambar dibawah ini. Arus balik ini berfungsi
juga untuk mematikan Th3 dan Th4 yang sedang firing ( Gambar 10.13 )

123
Berikut adalah tahap Bekerjanya Th3 dan Th4 pada Inverter ( Fase 4)

Gambar 10. 14 Bekerjanya Th3 dan Th4 pada Inverter ( Fase 4 )

2.3 Penting Diketahui Dari Rangkaian Inverter


Komponen oscilator ( Ls ) merupakan gulungan primer trafo tegangan tinggi.
Sedangkan signal triger thyristor didapat dari rangkaian triger yang menggunakan
VCO ( Voltage Control Oscilator ).

3. Rangkaian Transformator Tegangan Tinggi

Rangkaian transformator tegangan tinggi adalah rangkaian yang berfungsi


untuk menaikkan tegangan rendah menjadi tegangan tinggi kemudian disearahkan
dan diberikan ke tabung rontgen. Rangkaian transformator tegangan tinggi terdiri
dari :
a. Dua buah transformator tegangan tinggi.
b. Dan 2 buah rangkaian voltage doubler yang dihubungkan seri. Tegangan
output yang diperoleh dari rangkaian ini adalah 4 kali tegangan A-B. Seperti
pada gambar dibawah.

124
Gambar 10. 15 Rangkaian Tegangan Tinggi

3.1 Cara Kerja Rangkaian Tegangan Tinggi


Trafo tegangan tinggi Tr1 dan Tr2 bekerja secara bersamaan karena
dihubungkan secara paralel. Pada saat U positif dan V negatif, yaitu periode pertama
maka arus dari U mengalir menuju A, B dan kembali V, maka adanya arus yang
mengalir pada trafo tegangan tinggi Tr1, sehingga menjadikan A positif dan B negatif.
Pada saat ini arus dari A mengalir menuju V1, C1, B dan kembali ke A. Pada saat ini
kondensator C1 telah terisi tegangan. dan arus juga mengalir dari U menuju D, C
dan kembali V, maka adanya arus yang mengalir pada trafo tegangan tinggi Tr2,
sehingga menjadikan D positif dan C negatif. Pada saat ini arus dari D mengalir
menuju V3, C3, C dan kembali ke D. Pada saat ini kondensator C3 telah terisi
tegangan.
Pada saat V positif dan U negatif, yaitu periode kedua maka arus dari V
mengalir menuju B, A dan kembali U, maka adanya arus yang mengalir pada trafo
tegangan tinggi Tr1, sehingga menjadikan B positif dan A negatif. Pada saat ini arus
dari B mengalir menuju C2, V2, A dan kembali ke B. Pada saat ini kondensator C2
telah terisi tegangan. dan arus juga mengalir dari V menuju C, D dan kembali U,
maka adanya arus yang mengalir pada trafo tegangan tinggi Tr2, sehingga
menjadikan C positif dan D negatif. Pada saat ini arus dari C mengalir menuju C4, V4,
D dan kembali ke C. Pada saat ini kondensator C4 telah terisi tegangan.
C1, C2, C3 dan C4 dihubung secara seri menjadi tegangan tinggi. Kutub positif
C1 di hubungkan ke Anode dan kutub negatif C4 dihubungkan ke katode untuk
memberikan beda potensial tabung rontgen sehingga elektron dapat ditarik dari
katode ke anode yang besar tegangannya merupakan penjumlahan dari C1, C2, C3
dan C4.

125
4. Rangkaian Pengatur Tegangan Tinggi

Pengaturan tegangan tinggi tabung rontgen pada pesawat rontgen frekuensi


tinggi dikerjakan dengan cara membandingkan tegangan referensi ( kV soll ) sebagai
pengaturan tegangan tinggi yang diinginkan operator dengan tegangan feedback (
kV ist ), tegangan tinggi yang dalam keadaan sebenarnya yang dihasilkan.

4.1 Prinsip Dasar Rangkaian Pengatur Tegangan Tinggi


Tegangan tabung rontgen ( kV ) yang diinginkan atau dikenal dengan kV soll
dibandingkan dengan tegangan tabung rontgen yang sebenarnya merupakan
keluaran dari ( kVist ) regulator. Hasil perbandingan tersebut merupakan tegangan
DC yang kemudian diubah menjadi pulsa frekwensi tinggi pada VCO. Pulsa frekuensi
tinggi ini dibuat untuk mentriger inverter supaya aktif. Dengan aktifnya inverter
maka teganan DC dari power supply dirubah menjadi tegangan AC sehingga trafo
tegangan tinggi primer mendapat tegangan bolak-balik frekwensi tinggi yang diubah
menjadi tegangan tinggi frekuensi tinggi.
Setelah tegangan tinggi mencapai nilai yang diinginkan operator, atau kV ist
sama dengan kVsoll, maka rangkaian inverter tidak aktif karena tidak mendapat
trigger dari VCO Regulator. Pengaturan tegangan tinggi ini dilakukan dengan
prinsip online adjustment yang telah dijelaskan diawal materi.
5. Pengaturan Arus Tabung Rontgen.

Arus tabung rontgen pada pesawat rontgen frekuensi tinggi tidak dapat
dipilih, tetapi besarannya ditentukan oleh pembagian daya dengan tegangan tabung
yang dipilih. Rangkaian pengatur arus tabung rontgen dapat dilihat seperti gambar
berikut :

Gambar 10. 17 Rangkaian Pemanas Filamen dan Pengatur Arus Tabung

126
5.1 Keterangan Gambar
1. Inverter 6. Stand by heating
2. VCO 7. Relay ZB
3. Regulator 8. Radiographic heating
4. Arus tabung simulasi 9. Penguat pembagi
5. Relay exposure
Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa arus tabung pada pesawat rontgen
frekuensi tinggi tidak dapat dipilih. Penentuan besaran mA ( arus tabung ) tersebut
dijabarkan seperti uraian dibawah yaitu :

a. Pemanasan filamen tabung rontgen terjadi melalui 2 tahap yaitu :


a.1. tahap pemanasan awal / pre heating / stand by heating / fluoroscopy
heating.
a.2. tahap pemanasan radiography atau radiographic heating atau
exposure heating.
b. Relay ZB bekerja pada saat hand switch di tekan setengah (1/2) atau
tahap 1.
c. Relay exposure bekerja pada saat hand switch ditekan full atau penuh.
d. Pada waktu stand by heating tegangan filamen sama dengan fluoroscopy
heating.
e. Radiographic heating atau arus tabung rontgen besarnya diatur atau
tergantung dari pembagian kapasitas daya atau power pesawat rontgen
dengan besarnya tegangan tinggi ( kV ) yang dipilih.

5.2 Cara Kerja Rangkaian Pemanas Filamen dan Pengatur Arus Tabung
5.2.a. Tahap pemanasan awal
1. Pemanasan awal mendapat sumber tegangan dari power supply. 1 V = 5 mA
untuk stand by heating atau fluoroscopy.
2. Dari power supply ini, tegangan 1 V diteruskan lewat relay ZB diberikan ke
regulator, dibandingkan dengan Iro ist simulator yang berasal dari nyala lampu
kecil yang di ubah menjadi tegangan oleh photo transistor.
3. Regulator akan menghasilkan tegangan pada outputnya kalau Iro ist lebih kecil
daripada Iro soll. Karena tegangan filamen masih nol, Lampu dan filamen mati
sehingga Iro ist lebih daripada Iro soll dan regulator menghasilkan tegangan
dan teruskan ke VCO.
4. Oleh VCO tegangan dari regulator di rubah menjadi frekuensi.
5. Frekuensi mentrigger INVERTER sehingga bekerja mengubah tegangan DC
menjadi AC.
6. Tegangan AC dimasukkan ke filamen trafo dan outputnya menjadi tegangan
rendah frekuensi tinggi dan diberikan ke filamen trafo dan lampu kecil yang

127
sinarnya diubah menjadi tegangan oleh photo transistor dan dipakai sebagai
Iro ist simulasi
7. Iro ist tegangan naikdan lalu menjadi sama dengan Iro soll sehingga output
regulator menjadi 0 Volt dan VCO berhenti bekerja sehingga INVERTER tidak
dapat trigger sehingga tidak bekerja mengubah DC jadi AC.
8. Karena tegangan AC tidak ada lagi jadi filamen trafo tidak bekerja dan
tegangan filamen turun.
9. Karena tegangan filamen trigger maka Iro ist jadi turun sehingga output
regulator bekerja lagi demikian seterusnya.
10. Tegangan filamen ini harusnya rendah, sekitar 6 9 Volt sehingga nyala
filamen redup dan electron bebas yang terjadi hanya sedikit.

5.2.b. Tahap Exposure ( pemanasan radiography )


1. Hand switch ditekan setengah ( )
Relay ZB pindah dari tegangan pemanasan awal ke pemanasan radiography.
yang besarnya = = Iro soll radiography.
Misalnya : daya 30 kVA, tegangan tinggi ( kV ) yang dipilih / dipakai = 100 kV
Maka, Iro soll = = 300 mA
1 Volt Iro soll radiography = 100 mA
Jadi, Iro soll radiography = = 3 Volt
Sehingga Iro soll sekarang adalah 3 Volt
Pada regulator sekarang. 3 V dibandingkan dengan Iro ist = 1 V. maka output
regulator menghasilkan tegangan yang lebih besar sehingga frekuensi VCO
menjadi lebih tinggi dan mentrigger INVERTER dan hasilnya tegangan filamen
tambah besar sehingga pemanasan filamen lebih tinggi.

2. Hand switch ditekan penuh ( full )


a. Pada saat hand switch ditekan full exposure mulai. Artinya tegangan
tinggi pada HTT muncul dan diberikan ke tabung rontgen sehingga
muncul arus tabung rontgen ( Iro ist ).
b. Relay exposure berpindah dari Iro ist simulasi ke Iro ist dari tabung
rontgen.
c. Pada saat ini Iro soll dibanding dengan Iro ist yang 0 Volt. Aruts tabung
Ro dari nol akan naik sampai Iro ist = Iro soll. Setelah sama maka
output regulator menjadi nol Volt sehingga VCO tidak menghasilkan
frekuensi dan mentrigger inverter sehingga tegangan filamen turun
dan Iro ist juga turun karena Iro ist lebih kecil dari Iro soll maka VCO
mentrigger inverter lagi dan tegangan filamen naik lagi. Demikian
seterusnya sampai exposure selesai.

128
BAB XI
PESAWAT RONTGEN KONDENSATOR DISCHARGE FREQUENSI
TINGGI

Pesawat Shimadzu Condenser Discharge adalah pesawat rongten untuk


keperluan diagnostik yang menggunakan system kondensator sebagai pembangkit
tegangan tinggi.
Supply utama pesawat ini adalah baterei 24 volt, dan menggunakan tabung
triode sebagai penghasil sinar-x. system ini dikontrol oleh rangkaian mikrokomputer
XSYS-86. Konfigurasi pesawat Rontgen Condensator Discharge frekuensi tinggi dapat
dilihat seperti berikut:

A. PESAWAT RONTGEN FREKUENSI TINGGI SHIMADZU MC 125L-50

Gambar 11.1 Blok Diagram Shimadzu MC 125l-50

Dari gambar konfigurasi pesawat rontgen tersebut dapat diklasifikasikan


sebagai board utama yang terdiri dari :
1. Sheet key switch panel
Papan ini berfungsi sebagai control panel dan display

129
2. CPU papan XSYS-86
Papan ini berfungsi untuk menerima data-data dari sheet key switch panel
yang merupakan bagian utama dalam proses control seluruh pesawat.
3. MC-50 papan control
Papan ini berfungsi untuk menerima sinyal perintahdari papan CPU XSYS-86
dan mengirim sinyal terdeteksi ke CPU kembali untuk diperintahkan ke
board-board lainnya.
4. Board Kontrol Inventer
Board ini berfungsi untuk memperkuat sinyal-sinyal MC-50 papan control
untuk menggerakkan FET-FET yang berfungsi sebagai saklar pada rangkaian
inverter.
5. Arm Control Board
Fungsinya adalah sebagai penggerak arm control yang menggerakan posisi
tabung sinar-x.
6. Motor Control Board
Fungsinya adalah sebagai penggerak mekanisme roda pesawat yang
menerima perintah dari papan XSYS-86.
Selain itu pesawat ini dilengkapi dengan alat-alat penunjang seperti :
Baterai
Baterai pembangkit dengan 24 volt DC
Generator Tegangan Tinggi Sinar-x
Tabung Triode
Collimator R-20 MCA
Ultrasound Distance Measuring ( UDM )

130
B. BLOK DIAGRAM PESAWAT RONTGEN FREKUENSI TINGGI

Gambar 11.2 blok Diagram Pesawat Rontgen Frekuensi Tinggi

Bagian bagian dan Fungsi Masing-masing Blok


1. Penyearah Blok 1 dan Blok 1a
Penyearah gelombang penuh untuk menyearahkan tegangan AC dari jala-jala
PLN.
2. Penyarah Blok 2 dan 2a menjadikan tegangan DC murni
Merupakan Rangkaian Baterai Sebagai supply utama pesawat terjadi
pengisian battery 24 volt DC.
3. Rangkaian Inverter Blok 3 dan 3a
Untuk mengubah tegangan DC menjadi AC.
4. Blok 4 adalah Rangkaian HTT
Berfungsi untuk menaikan tegangan AC.
5. Blok 4a adalah Transformator Step - Up
Berfungsi untuk menaikan tegangan 24 volt menjadi tegangan 110 volt
6. Blok 5 dan 5a adalah Penyearah
7. Blok 6 dan 6a sebagai penyimpan tegangan.

131
Sebagai Filter untuk meratakan arus yang telah disearahkan.
8. Blok 7 yang berfungsi sebagai voltage Defider.
9. Blok 8 sebagai Detektor Tegangan Tinggi
10. Blok 9 dan 14 CPU XSYS-86 (Control Processing Unit) yang merupakan bagian
utama dalam proses Kontrol Pesawat.
11. Blok 10 Rangkaian Oscillator yang menghasilkan frekuensi 1,1 KHz, 1,3 KHz
dan 1,5 KHz berfungsi untuk mentrigger inverter.
12. Blok 11 adalah Rangakaian inverter yang berfungsi untuk mengubah tegangan
DC menjadi tegangan AC.
13. Blok 12 adalah Trafo Filamen berfungsi untuk memberi catu daya pada
filament tabung.
14. Blok 13 adalh Rangkaian oscillator berfungsi untuk mentrigger rangakaian
inverter.
15. Blok 15 adalah rangkaian Oscilator 1 KHz berfungisi untuk mentriger inverter
16. Blok 16 adalah rangkaian Oscilator 1 KHz berfungisi untuk mentriger kerjanya
penyearah SCR.
17. Blok 17 adalah Rangkaian detector arus yang berfungsi untguk mendeteksi
arus.
18. Blok Tabung Sinar-X berupa tabung Triode berfungsi sebagai penghasil Sinar-
X.

Cara Kerja Blok I

Gambar 11.3 Blok Diagram Shimadzu MC 125l-50

Tegangan pada Blok 2 dari PLN akan disearahkan dari Blok I dan akan mengisi
batere 24 volt tegangan DC. Pada CPU XSYS-86 tegangan yang kita kehendaki diset,
sehingga CPU memberi perintah pada rangkaian osilator untuk berosilasi. Dengan
demikian rangkaian Blok 3 akan mendapatkan trigger pada Blok 3 tegangan DC akan
dirubah menjadi tegangan AC. Oleh HTT Blok 4, tegangan AC tersebut akan dinaikkan
menjadi tegangan tinggi selanjutnya tegangan tinggi akan disearahkan oleh Blok 5.
Pada kapasitor Blok 6, akan terjadi pengisian tegangan tinggi, seiring dengan
pengisian kondensator, resistor yang dipararel dengannya akan terus diumpan
balikkan guna menginformasikan besar tegangan yang terjadi sehingga dapat

132
dideteksi pada detector tegangan tinggi. Sampai terjadi antara tegangan pengisian
dan yang di sett sama besar maka CPU akan menghentikan osilasi untuk mentrigger
rangkaian inverter dan pengisian selesai.

Cara Kerja Blok II

Gambar 11.4 Blok Diagram Shimadzu MC 125l-50

Tegangan jala-jala yang masuk disearahkan oleh Blok 1a membentuk


gelombang penuh dan mengisi batere sehingga tegangan menjadi DC.
Pada CPU XSYS-86 kita mengatur arus yang kita kehendaki yang
mengakibatkan blok 15, 16 dan 13 mendapat perintah untuk berosilasi. Osilasi dari
blok 15 mentrigger inverter blok 3a yang mengakibatkan tegangan DC batere
menjadi AC, kemudian dinaikkan tegangannya oleh HTT. Osilasi blok-16 mentrigger
penyearah SCR, tegangannya difilter atau diratakan oleh blok 6a. tegangan yang rata
tadi oleh rangkaian inverter blok II diubah menjadi AC setelah mendapat trigger dari
osilasi blok 13, sehingga filament mendapat supply yang sebelumnya tegangan AC
diturunkan oleh trafo filament blok 12.
Tegangan oleh R13 diubah menjadi arus yang dideteksi oleh blok 17 untuk
dibandingkan dengan arus yang diatur, setelah arus yang diatur sama dengan arus
yang terisi, maka arus tabung sesuai dengan kebutuhan.

CARA KERJA RANGKAIAN


1. Rangkaian Pengisian Tegangan Tinggi
Rangkaian Pengisian Tegangan Tinggi adalah rangkaian pengontrol
pengisian tegangan tinggi dengan menggunakan system transistor inverter

133
untuk mengisi kapasitor tegangan tinggi. Tegangan Dc dari Batere diubah
menjadi tegangan AC oleh transistor inverter.

Dibawah ini adalah Rangkaian Pengisian Tegangan Tinggi

Gambar 11.5 Rangkaian pengisi tegangan tinggi

Gambar 11.5 menunjukan rangkaian pengisian tegangan tinggi. Tegangan


baterai adalah 24 V DC, kemudian tegangan keluaran baterai diubah menjadi
tegangan AC dengan frekuensi sebesar 1kHz sampai 1.5kHz oleh transistor inverter
dengan bekerjanya TR1 sampai TR4. Berikut adalah jalannya arah arus :
Pertama ketika TR1 dan TR4 mendapat trigger, maka arus akan mengalir dari
sisi positif baterai ke TR1, T2, HTT bagian Primer, T1, TR4 dan kembali ke sisi negative
baterai. Berikutnya ketika TR2 dan TR3 mendapat trigger maka arus akan mengalir
dari sisi positive baterai menuju TR2, T1, HTT bagian primer, T2, TR3, dan berakhir di
sisi negative baterai, hasil kerja dari TR1 sampai dengan TR4 adalah tegangan DC dari
baterai berubah menjadi tegangan AC yang tegangannya di naikan oleh HTT dan
terjadilah pengisian kapasitor. Untuk siklus pertama dari sekunder HTT, arus
disearahkan oleh diode D1 melewati R (2K), mengisi capacitor 2uF, CN1, N1, E dan
menuju bagian bawah sekunder HTT. Untuk siklus slanjutnya sekunder HTT (bagian
bawah) lebih positive, arus akan mengalir dari sekunder, E, N2, CN2, mengisi
capacitor kutub negative 2uF, ke R2K diserahkan oelh diode dan berakhir pada
bagian sekunder HTT bagian atas.
Dari hasil kerja rangkaian di atas dan penyearah voltage doubbler
menghasilkan tegangan tabung dua kali lipat dari keluaran primer HTT. Tombol

134
discharge adalah untuk mengurangi nilai pengisian atau untuk mengosongkan
capacitor tegangan tinggi supaya benar benar kosong, apabila tombol ini di tekan
muatan capacitor sisi positif akan di buang melewati R (400M), VCI, V1, N1 dan
kembali ke CN1. Sedangkan pembuangan muatan sisi negatif melewati R (400M) ke
N1, ke terminal VC2, V2. N2 dan kembali ke terminal CN2.

2. Rangakaian Inverter

Gambar 11.6 Rangkaian Inverter

Gambar 11.6 merupakan rangkaian Inverter, yang memiliki system kerja


sebagai berikut. Jika sinyal dimasukkan pada T14K pada konektor J30, pin T14A,
menuju ke M6 dan kembali ke T14K, maka transistor Q3 dan Q4 akan mendapat bias
basis sehingga membuatnya bekerja. Bekerjanya Q3 akan mengakibatkan arus
mengalir menuju ke T2. Pada D7 positif merupakan catu daya yang akan mentrigger
TR. Emitor TR 1 akan Kembali ke negatif D7. Sedangkan bekerjanya Q4 menyebabkan

135
arus mengalir dari T2, menuju ke D6 bagian positif, ke Q4, kemudian mentrigger
basis TR4 Emitor dan kembali negatif D6.
Kemudian arus positif akan mengalir menuju ke TR1, T2, T1, TR4 dan akan
menghasilkan arus yang bermuatan negatif. Jika sinyal dimasukkan pada T2 (3K)
pada konektor J30, Arus akan mengalir dari T2 (3A) ke M5 dan kembali ke T2 (3K)
pada konektor J30, arus akan mengalir dari T2 (3A) ke M5 dan kembali ke T2 (3K),
dengan demikian Q1 dan Q2 akan bekerja, Bekerjanya Q2 menyebabkan catu daya
dari T2, D5 positif, dan Q2 mentriger basis TR2 sehingga TR2 bekerja, dan melewati
emitor TR2 arus kembali kesisi negatif D5. Pada saat bersamaan dengan bekerjanya
D1 arus akan mengalirkan catu daya ke T2, D6 sisi ( 4 ), Q1 dan mentriger TR3 hingga
bekerja dan arus kembali melewati emitor TR3 menuju ke sisi negatif D6.
Dalam hal ini, bekerjanya TR2-3 merupakan kebalikan dari TR1-4 karna tujuan
nya memang demikian, yaitu arus akan mengalir dari arus positif menuju ke TR2, TI,
T2, TR3, dan kembali menuju ke arus negatif. Sebagai hasilnya pada trafo HTT akan
terjadi arus bolak balik dengan sumber batere 24 VDC.
Cara Kerja baterai

Gambar 11.7 Rangkaian kerja batere

136
Gambar pulsa battery

Gambar 11.8 Keterang gambar pulsa

Pada awalnya arus akan mengalir dari positif baterai menuju ke TR1, T2, TI,
TR3 dan kembali kesisi negatif baterai. Apabila TR2 dan TR4 bekerja maka arus akan
mengalir dari baterai sisi positif TR2, TI, T2, TR4 dan kembali ke sisi negatif baterai.
Akibat mengalirnya arus yg berlawanan pada T1 dan T2 akan menyebabkan arus DC
pada baterai berubah menjadi arus AC yang ditriger pada primer trafo sehingga trafo
dapat bekerja.
Pulsa TR1 TR4 adalah pulsa pulsa yang dikeluarkan untuk mentriger
transistro TR1 dan TR4, pulsa TR2 TR3 adalah pulsa pulsa yang dikeluarkan untuk
mentriger transistor TR2- TR3, dan pulsa TI dan T2 adalah pulsa pulsa AC yang
hasilkan oleh bekerjanya TRH dan TFL23.
Terlihat dalam bentuk pulsa TI T2 tidak membentuk gelombang square yang
sempurna, hal tersebut disebabkan adanya delay time antara T14K dengan T23K,
karena kedua pulsa ini bekerja secara bergantian sehingga pada saat terjadi selang
waktu tadi T1-T2 membentuk pulsa yang rata sebelum terjadinya perubahan.
3. Rangkaian Pendeteksi Tegangan Pengisian

Fungsi dari rangkaian ini untuk mengatur pengisian kapasitor tegangan tinggi
dan mendeteksi apabila terjadi kelebihan pada pengisian kapasitor . Prinsip
Rangkaian ini adalah memanfaatkan komperator sebagai pembanding tegangan yang
diatur dengan tegangan yang terisi pada kapasitor tegangan tinggi.

137
Gambar 11.9 Rangkaian pendeteksi tegangan pengisian

CKV = / CP 32 adalah titik tempat pengaturan tegangan dengan perbandingan


1:20 dimana nilai perbandingan tersebut terletak diantara R156 dan R157 yang
merupakan teganga referensi di komperator A10
Pada R198 dapat diperoleh perbandingan 1:10, Perbandingan ini untuk
mendeteksi pengisian kapasitor sisi positif
Apabila operator mengatur tegangan setting 100kV. Maka dititik antara R156
dan R517 diperoleh tegangan 100kV/20 = 5 Volt dan tegangan tabung juga akan
bernilai 100 kV dimana kedua kapasitor masing masing diawali dengan tegangan 50
KV. Namun pengisian kapasitor tersebut berangsur angsur misalnya 10 KV pada R198
teradapat 10/10 = 1 volt. Tegangan 1 volt ini akan dikirim ke A10 keluaran negatif
dan pin A10 keluaran buffer akan dikirim ke A pin A2 menginformasikan ke CPU
XSYS -86 untuk pengisian kapasitor terus sampai tegangan naik 10, 20, 30 ... 50 KV
ketika terjadi perbandingan 50/10 = 5 volt pada R198 menyebabkan pin 5 dan 2
pada A10 = 0, Kemudian A2 akan menginformasikan pada CPU XSYS 86 untuk
menghentikan pengisian kapasitor.
Untuk pendeteksian sisi negatif hampir sama seperti pendeteksian dengan
sisi positif tetapi apabila terjadi perubahan nilai pengisian dari clk 32 CKV maka
perbandingan tegangan input penguat tegangan referensi tidak lagi stabil dan output
A13 pin 1 menjadi lebih negatif dari tegangan refrensi mono inversi A7 ( 0, 5 V )
sehingga output A7 berubah dari -15 Volt menjadi +15 volt, dioda D212 akan bekerja,
flip flop M35 mendapat set sehingga output pada pin 13 akan high dan pin 12 akan

138
low menyebabkan pengisian berakhir dan pada display panel akan tertera charge
over.
4. Rangkaian Pemeliharaan Pengisian

Gambar 11.10 Pemeliharaan pengisian

Blok pengisian XSYS- 86 sebagai pembanding sinyal tegangan pengisian CKV


dari board MC-50 dengan nilai tegangan yang telah di setting saat tegangan yang
disetting sama dengan tegangan yang ada, lalu sinyal CCHA menginstrusikan untuk
melakukan pengisian kapasitor. kemudian oscilasi yang terdapat pada transistor
bekerja dan pengisisan kapasitor pun berhenti. Pada awalnya tegangan terdeteksi di
resistor yang bernilai tinggi ( 400 M x 2 ) yang telah disambungkan pada kapasitor
tegangan tinggi. Kemudian muatan listrik telah terisi pada kapasitor tegangan tinggi
akan dibuang secara perlahan-lahan langsung pada resistor-resistor yang bernilai
tinggi ini. Pada waktu pengisian tegangan, tegangannya rendah yaitu 2 KV lebih
rendah dengan tegangan yang diatur, keluaran CCHA akan mengisi kembali sinyal
CCHA menyebabkan transistor pada inverter untuk beroscilasi kembali melakukan
pengisian kapasitor tegangan tinggi. Ketika nilai pengisian sama dengan tegangan
yang diatur, maka sinyal CCHA akan nilai yang menyebabkan proses pengisian
tegangan kapasitor berhenti. Dengan demikian nilai tegangan pada proses pengisian
kapasitor tegangan tinggi akan mempertahankan nilai tegangannya sehingga nilainya
tetap.
Dari gambar 7.9 terlihat bentuk pulsa pengisian kapasitor tegangan tinggi dan ada
pembuang sebanyak 2 KV, tetapi pulsa turun naik terus. Pembuangan muatan kira-
kira 2 KV disebabkan oleh rangkaian-rangkaian lain yang dihubungkan dengan
kapasitor tersebut tetapi apabila terjadi penurunan sinyal CCHA akan aktif kembali
untuk mengisi kembali kapasitor dan kejadian ini berlangsung terus-menerus dengan
demikian muatan kapasitor akan dipertahankan pada nilai yang diatur.

139
5. Rangkaian Osilasi

Tabel dibawah ini menunjukan hubungan antara sinyal teganagn CCH1 CCH2
frekuensi oscilasi, dan pengisian tegangan.
CCH1, CCH2, frekuensi oscilasi, dan pengisian tegangan.
CCH1 CCH2 FREKUENSI OSILASI PENGISIAN TEGANGAN
L H 1,1 Khz 90 125 KV
H L 1,3 Khz 55 100 KV
H L 1,5 Khz 0 60 KV

Gambar 11.11 rangkain osilasi

Jika mengatur tegangan 90 125 KV, berarti memberikan sinyal CCH1 low dan
CCH2 high.Jika CCH1 low maka arus akan mengalir dari VCC, R311, D135, M120 dan
ke B3. Optocoupler M120 bekerja dan kolektornya menjadi low lalu diteruskan pada
M201 pin 11, CCH2 high maka optocoupler M120 tidak bekerja dan arus akan
mengalir dari VCC, R306 yang high diinputkan ke pin 10 M201 oleh M201 akan diset.

140
pada pin 13 dan arus akan mengalir dari R241, D244, R144, C34. Kemudian
pembuangan kapasitor dari C34 kee R114 yang menghasilkan Oscilasi oleh M20 pada
pin 3 mengakibatkan pin 9 pada M18 terjadi masukkan high-low secara kontinue.
Jika mengatur tegangan 55-100 KV berarti memberi sinyal CCH1 high dan
CCH2 low. Saat CCH1 high maka optocopler M120 tidak bekerja karna tidak
mendapat bias basis dan kolektor nya akan high, arus akan mengalir dari VCC, R306
kolektor akan high arus akan mengalir dari vcc, R306 kolektor high ke M201 pin 11,
Sim CCh2 low menyebabkan arus akan mengalir dar Vcc, R31 1, D134 N120, M201
akan di set ke pin 14 menyebabkan arus mengalir dari R242 D244 mengisi kapasitor
C34 kemudianpembuangan dari C34 R1 1.1 dan terjadi pembangkitan oscilasi pin 3
dari M20 sebagai input M18 pin 9
Selanjutnya untuk pengisian kapasitor CCHA diaktifkan, dengan demikian
arus akan mengalir dari Vcc, D130, M121 ke A3 akibatnya tegangan dari M20 sebagai
input M18 pin 9. Selanjutnya untuk pengisian kapasitor CCHA diaktifkan, dengan
demikian arus akan mengalir dari Vcc, D130, M121 ke A3 akibatnya tegangan
kolektornya menjadi low tetapi oleh M29 3-2 di inverter menjadi high, Sinyal KC
tidak diaktifkan memba M118 tidak bekerja dengan tegangan kolektornya high akan
mengalir ke arus Vcc, R3O4, input M28 keluaran M28 pin 4 akan high, mentriger M19
pin 9 menyebabkan keluaran pin 9 menyebabkan keluaran pin 13 menjadi high
secara continue.
Karena sifatnya gerbang AND akan high hanya jika keuda inputanya high
maka keluaran baru akan high keluaran M18 pin 10 akan sama dengan pulsa M18 pin
3 mentriger M6 pin 11 yang berfungsi sebagai frekuensi.
Unuk menerangkan cara kerja M6 lihat tabel dibawah ini
C Q Q D Qn Qn
H H H H L H
L L H H L H
H L L L H L
L H L L H L
CLOCK AWAL AWAL DATA HASIL HASIL

Dari tabel diatas apabila C high C, Q high, Qlow maka Qn menjadi high, M15
pin 1-2 high membias keluaran pin 3 high M17 pin 4 high di inverter oleh M14 pin 13
low M17 pin 4 high di inverter oleh M14 pin 13 menjadi low yang ditandai dengan
menyala led D148 oleh karena itu arus akan mengalir dari VCC menuju T23
Pembangkit oscilasi ( M6 ) membagi pulsa clock menjadi dua : apabila
keluaran pulsa keluaranya dijumlahkan sama dengan pulsa input ole karena itu
pembagi frekuensi ini TR14 dan TR23 bisa bekerja bergantian.

Gambar dibwah ini adalah bentuk pulsa dari rangkaian osilasi

141
Gambar 11.12 bentuk pulsa
Keterangan gambar pulsa
M20 adalah pulsa clock akibat pengisian dan pengosongan kapasitor C34
Pulsa M19 ( 10 ) Q merpakan hasil dari pulsa M20 yang high pulsa CCHA high,
oleh gerbang AND dibentuk menjadi high.
Pulsa M18 ( 9 ) adalah sama dengan pulsa clock karena sifat gerbang AND
yaitu jika kedua inputanya hihgh maka outputnya akan high dan apabila sala
satu inputanya low maka outputnya akan low
Pulsa M6 ( 11 )/ clock pulsa ini sama dengan pulsa M18
Pulsa M6 Q memperlihatkan fungsi M6 yaitu membagi keluaran menjadi dua,
apapbila pulsa yang satu high yang lain low. Dan apabila pulsa clock low akan
terjadi penahanan pulsa sehingga pulsa yang dibentuk jadi lebih panjang.

142
Pulsa M16( 1 ) ( 6 ) merpakan pulsa clock atau menggunakan inputanya pulsa
clock
Pulsa M17 ( 4 ) TR14 merupakan pulsa yang telah di blok oleh M15 artinya
pulsa clock berharga low menjadi low high menjdai high sehingga bentuk
pulsa yang tadinya ada penahanan dipotong kembali untk mengakttfkan TR14
Pulsa M17 ( 3 ) TR23 merupakan hasil pulsa pemotongan And gate M15 yang
hanya high jika clock high untuk mengaktifkan TR23
Pulsa T1 T2 output pulsa yang diaktifkan M16, M17, TR14, R17, M17 low .
T1-T2, menjadi high jika M16 low M17 low . T1 T2 membentuk pulsa low (
pulsa delay time )
Sedangkan pulsa berikutnya M16 high, M17 TR23 high M17 TR14- low,
menghasilkan T1-T2 low negatif karena T1-T2 bertegangan AC

6. Rangkaian Pemilihan pengisian tegangan / Rotating anoda

Rangkaian ini berfungsi untuk rotasi anoda pada saat dilakukan persiapan
dengan mengaktifkan sinyal KC low.

Gambar 11.13 Strator Oscillation Circuit

143
Cara Kerja Rangkaian :
Pada M21 akan mengalirkan arus ke Vcc R117, R 117, R116, kemudian mengisi
C36 dan pembuangan muatan kapasitor C34, ke R116. M21 pin 7 menghasilkan pulsa
clock sehingga pin 3 M21 secara terus menerus yang merupakan input M18 kaki 5
pada saat KC diberi sinyal low mengakibatkan akan ada arus mengalir dari Vcc , R309
, D224 , menuju B11 sehingga M 118 bekerja membuat tegangan kolektor low , tapi
di inverter oleh M29 menjadi high.
Karena OCHA aktif maka M121 tidak bekerja dan tegangan kolektor menjadi
high yang diteruskan ke M28 pin 1 , M28 pin 1-2 high, keluaran nya akan menjadi
high konstant output dari M28 pin 4-11 akan sama dengan pulsa clock M21, M16 /
M15 pin 8-12. Oleh M16 pulsa clock dibagi menjadi dua. Jika pulsa clock high , Q high
dan D akan high mengakibatkan Q high yang membuat keluaran M15 pin 10 high .
M17 pin 4 high diinverter oleh M14 menjadi low yang ditandai dengan menyalanya
LED D 149 sehingga akan ada arus dari Vcc, R 110 , T14A dan akan kembali seketika.
Sedangkan jika clock high , Q bar menjadi high karena M16 bekerja D=Q dan Q harus
berlawanan . Dengan demikian M16 pin 11 dan M17 pin 3 akan menjadi high di
inverter menjadi low oleh M14 yang ditandai dengan menyalanya LED D150, lownya
konektor J30 pin 4 menyebabkan arus akan mengalir dari Vcc, R110, T23A menuju ke
T23X.
Pada saat OCHA aktif , M121 bekerja karena adanya arus dari Vcc , R312,
D234 menuju A3. Tegangan kolektor 10%Volt diinverter oleh M29 pin 2 menjadi
high. Karena Kc tidak aktif dan M181 belum bekerja maka tegangan kolektor menjadi
high yang mengakibatkan N128 pin 4 akan high , di inveter N114 pin 14 menjadi low,
arus akan mengalir dari Vcc, R228, D141 menyala sehingga arus akan mengalir dari
Vcc, R19 , SCRIA menuju SCK2A, dengan demikian SCK2X akan aktif
Untuk ready KC akan aktif dan arus akan mengalir dari Vcc, R309 , LED, M118
bekerja menuju B11 yang low. Tegangan kolektor jatuh di inverter oleh M29 pin 4
jadi high. Karena OCHA tidak aktif membuat M121 tidak bekerja, kolektor high di
umpankan pada M28 pin 1 M28 pin 1 dan pin 2menjadi high sehingga keluarannya
akan high pula, tetapi diinverter oleh M14 pin 15 menjadi low yang ditandai dengan
menyalanya LED D150, kemudian akan ada arus mengalir dari Vcc, R120, SCK3A,
kembali ke SCK3X bekerja.

144
7. Rangkaian Tegangan Tinggi and Rangkain Starter

Gambar 11.14 High Votage Transformer Circuit and Starter Circuit

Kita ketahui bahwa pada saat pengisian, SCR2 akan aktif sedangkan SCR3 off,
Arus akan mengalir dari sisi positif baterai, F2, TR, inverter, SCR2, T2, trafo primer,
T1, TR Inverter dan kembali ke kutub negative baterai. Saat berikutnya arus mengalir
dari sisi positif baterai F2, TR inverter, T1, trafo primer, T2, SCR2, TR inverter kembali
ke negative baterai, sehingga tegangan DC baterai pada titik T1-T2 diubah menjadi
AC untuk mengisi kapasitor tegangan tinggi. Apabila melakukan tahap
persiapan, SCR3 akan aktif dan SCR 2 off, maka arus akan mengalir dari baterai sisi
positif, F2, TR inverter, T3, SCR 3, TR inverter, kembali ke sisi negative baterai. Dari
hasil di atas T3 menjadi AC dan X-Ray tube stater mendapat tenaga, Hal itu
memungkinkan start rotating anoda dan rotating anoda sebenarnya.

8. Rangkaian starter

Gambaar 11.13 menggambarkan pewaktuan bagi rangkain tabung sinar-X yang


dikendalikan. Pulsa pada M21 diberikan ke rangkaian starter dan keluarannya (
periksa pin 27 ) dengan frekuensinya sebesar 10 Hz.
Ketika starter dimulai sinyal KC mendapatkan inputan dari XSYS 86, pada pin 3
M28 berubah menjadi high dan pada pin 5 inputan ( DATA ) M19 berubah menjadi
High. Kemudain, pin 1 ( Q ) pada M19 berubah menjadi High pada saat berikutnya

145
menghasilkan pulsa keluaran pada M21, Setelah itu pulsa keluaran dari M21
frequensinya dibagi dua oleh M16 dan M15 ( 8, 9, 10, 11, 12, 13 ) untuk diberikan ke
inverter dengan frekuensi keluaran sebesar 60 Hz.

Gambar 11.15 bentuk pulsa rangkaian stater

146
9. Rangkain Checking Tabung X-Ray Anoda Putar

Gambar 11.16 Rangkaian Checking X-Ray Anoda Putar

Transformator arus CT2 dan CT3 untuk deteksi arus yang dipasang pada line Y
dan Z dari rangkaian pengendali tabung X-ray stator. Output CT2 dan CT3 di
masukkan ke MC-50 control board lewat konektor J32. Transformator arus ini
mengecek stator agar dilepaskan, kegagalan kontak dan start up.

147
Sinyal pemutar anoda tabung X-ray KO mengaktifkan SCR3 menyebabkan
transistor inverter beroperasi pada 60 Hz. Output ini ditambah untuk tegangan yang
dibutuhkan untuk mengendalikan tabung X-ray oleh transformator T3. Output T2
dihubungkan langsung ke line X dan Y, sedangkan output T2 yang dihubungkan ke
line Z lewat phase shift condenser.
Pada saat arus mengalir ke line Y setelah penstateran anoda tabung sinar-X,
arus dibangkitkan oleh CT selanjutnya disearahkan oleh D14 dan keluarannya diubah
menjadi tegangan oleh R199. Tegangan deteksi (check pin CTY) dan tegangan
referensi 0,3 V dibandingkan dengan komparator A12, pada saat tegangan deteksi
melebihi tegangan referensi, pin 7 output dari A12 berubah dari -15V menjadi +15V
dan trigger ini merubah Q dari Flip-flop M26 dari Low mejadi High (pada pin 13), hal
ini disebabkan sebelumnya sinyal SHOP diberikan melalui konektor J5 pin 10
sehingga pada pin 5 dari M6 akan H (merupakan data bagi M26). Output dari M26
akan di inputkan ke M30 pin 8, untuk menegaskan bahwa line Y dalam keadaan OK.
Sebelumnya sinyal SHOP diberikan melalui konektor J5 pin B10 sehingga arus
akan mengalir dari VCC ke R142,disearahkan oleh D109, menuju M114 sehingga
M114 bekerja, kembali ke B10 yang aktif Low. Bekerjanya m114 juga membuat Q21
dan Q23 bekerja serta kolektor Q23 menjadi high.
Arus pada line Z dideteksi sebagai sebuah tegangan dari CT3 dan arusnya
disearahkan oleh D19, melewati R-256 yang merupakan input non inverting A14.
Teganagn deteksi (check pin CTZ) dari line Z dibandingkan dengan referensi 0, 1 volt
oleh komparator A14, Pada saat tegangan dideteksi melebihi teganagan referensi 0.1
volt, pin 7 keluaran A14 berubah dari -15V menjadi +15V membuat D245 bias maju,
melalui R254 mentriger kapasitor pada M35 dan mrengubah Q1 low menjadi high,
yang menegaskan line Z dalam keadaan OK, dengan highnya pin 9 dan 8 pada M30
outputnya akan high pula serta menegaskan starter telah siap.
Selanjutnya arus mengalir dari Vcc, D109, M114 menjadi bekerja dan arus
mengalir ke ground. Dengan bekerjanya M114 emitornya menjadi high yang
merupakan masukan bagi pin 1 pada M30. Karena M30 pin 1 dan 2 telah high
keluarannya yang menegaskan starter open. Sinyalnya high diinverter oleh M32 dan
M3 menjadi low.
Dengan lownya pin 11 dari M32, pin 14 dari M33 mengakibatkan arus
mengalir dari RE OK menuju J10 pin A1B, ke R-314, D122 menyala yang menandakan
ready telahh oke dan juga arus mengalir dari RE OK menuju konektor J10 pin A4
menuju R315, D142 menyala yang juga menandakan Ready oke.

148
10. Rangkain Detektor Arus Tabung

Gambar 11.17 Rangkaian Detektor Arus Tabung

Fungsi rangkaian ini adalah sebagai pendeteksi arus tabung. AR yang


dihubungkan diantara terminal NI dengan E dan E2, berfungsi untuk mencegah
berubahnya tegangan tinggi ke terminal N1 dan N2, ketika hubungan N1-E terjadi
oleh beberapa perubahan diluar trafo tegangan tinggi.
Selama Exposure berlangsung, arus tabung mengalir dari kondensator
tegangan tinggi kutub positif terus ke tabung sinar-X dan ke kondensator tegangan
tinggi sisi negative ke terminal CN2 dan R183, R184 terus ke N dan ke terminal CN1.
Resistor R 183 dan R 184 merupakan input penguat differensial yang
berfungsi untuk menghilangkan gangguan ( noise ). Keluaran A11 diperkuat oleh
penguat non inverting A7, keluaran A7 adalah sebagai masukkan untuk M25 yang
merupakan suatu converter tegangan menjadi frekuensi M25 dibagi 1/10 oleh M24,
kemuadian keluaran frekuensi M24 dibagi menjadi oleh M23. Sehingga frekuensi
hasil totalnya dibagi 20. Keluaran M23 merupkan sinyal TMV yang bernilai 100 mA =
1V = 1KHz.
Sinyal TMV dikirim ke CPU XSYS-86 untuk discounter dan apabila telah
mencapai nilai pengesetan dari mAs, sinyal sinar-X menjadi off(tidak aktif) dan
menghetikan penyinaran X-ray. Terminal CP 15 (mAs+) dan CP 16 (mAs-) adalah
terminal untuk mematikan dan S1 serta mAs meter dihubungkan ke sini.

149
11. Rangkaian Kontrol Grid Bias

Gambar 11.18 kontrol Grid Bias

Jenis MC1251-50 menggunakan tabung X-ray triode. Rangkaian ini berfungsi


untuk menghalangi terjadinya exposure dengan memberikan tegangan negative
sebesar -2700 volt pada grid dan sisi positif dihubungkan ke tabung katoda yang
membuat adanya medan listrik antara katoda dan grid sehingga akan menghambat
aliran-aliran electron ke anoda. Prinsip rangkaian ini hanya memberikan masukkan
high pada D dari D flip-flop apabila menghendaki terjadinya osilasi dan bias grid
negative. Sedangkan masukan data ( D ) low akan menghentikan osilasi/terjadinya
exposure.

150
12. Rangkaian Inverter FET

Gambar 11.19 Rangkaian Inverter FET

M2 adalah multivibrator astabil yang memanfaatkan pengisian dan


pengosongan kapasitor dan keluarannya akan terjadi clock yang merupakan

151
masukkan M4. M3 adalah D flip-flop dimana masukkan D=Q. ketika D nya high
membuat keluaran Q high terus yang menghasilkan keluaran M4 menjadi sama
seperti pulsa clock sebab sifat gerbang AND demikian. Selanjutnya Pulsa clock tadi
dibagi menjadi dua pulsa yang berbeda oleh M5. Karena flip-flop dihubungkan
dengan D maka keluarannya juga tergantung pada Q yang berlogika low atau high.
Apabila clock high, diinverter M3 menjadi low, mengakibatkan arus mengalir dari
VCC, R36, optocouple M107, optocoupler M109, menyebabkan D105 menyala.
Bekerjanya optocoupler M107 dan M109 menyebabkan catu daya transistor
mengalir dari T2, disearahkan oleh D2, melalui sisi positif D2 menuju M107, Q13
bekerja, menyebabkan Q9 bekerja juga dan kembali ke sisi negative D2. Sedangkan
lainnya mendapatkan catu daya dari T2, disearahkan oleh D4, melalui sisi positif
penyearah menuju M109, Q15 bekerja, Q11 bekerja dan kembali ke ssisi negatif
penyerah D3. Sedangkan saat catu daya diberikan ke M110 menyebabkan aliran arus
dari T2,disearahkan D4 melalui sisi positif penyearah menuju M110, Q16 bekerja,
Q12 bekerja dan kembali ke sisi negative penyearah D4. Sedangkan catu daya untuk
M108 menyebabkan aliran arus dari T2, disearahkan oleh D4 melalui sisi positif
penyearah menuju M108, Q14 bekerja, Q10 bekerja, dan arus mengalir menuju sisi
negatif D3.
Dengan aktifnya FET Q14 dan Q10 arus akan mengalir dari sisi posif beterai
volt DC berubah menjadi AC dan yang, utama akibat adanya oscilasi.
MC125l-50 menggunakan Fet Inverter untuk mengkorversikan tegangan
keluaran baterai utama menjadi 1 KHz tegangan AC, masukan iini diunakan sebagai
sumber sumber tegnagan Transformer T2 dan menjadi tegangan basis pada
trtansistor utama dan tegangan keluaran dari T2 digunakan untuk pemanasan
filament pada X-Ray Tube.

152
13. Rangkaian Pemanas Filamen
Pemanas filament dari tabung rontgen MC125L-50 menggunakan TR Inverter,

Gambar 11.20 Rangkaian Pemanas Filament

Dimulai dari rangkaian Frekuensi Voltage Regulator dimana M10 MC1455


akan mengeluarkan sinyal sebesar 2 KHz, sinyal tersebut akan mengaktifkan IC M6
dan pada masing-masing outpunya akan mengeluarkan sinyal osilasi yang antara Q
dengan berbeda fase sebesar 180, selanjutnya masing-masing output
dihubungkan dengan M9 yang merupakan gerbang OR, keluaran M9 akan mengisi
kapasitor C22 dan C23 terlebih dahulu dimana sinyal digital akan diubah menjadi

153
sinyal gergaji. Lalu dihubungkan dengan gerbang NOT M7 yang keluarannya
disambungkan ke kaki inverting A4 dan A3 dan digunakan sebagai clock.
Kemudian kaki R74 dihubungkan dengan VCC positif, disini terjadi pembagi
tegangan kemudian dihubungkan dengan kaki non-inverting A1, karena pada kaki
inverting A1 masih bernilai 0 maka outputan A1 masih bernilai positif, masuk ke kaki
inverting A2 dimana sinyal positif berubah menjadi sinyal negatif. Keluaran A2
masing-masing dihubungkan dengan kaki A3 dan A4 yang mana akan diproses sesuai
dengan clock keluaran dari M7.
Pada A3 sinyal negatif dari A2 masuk ke noninverting dimana sinyal tetap
menjadi sinyal negatif kemudian masuk ke gerbang NOT M1 diubah menjadi positif,
karena pada M19 mendapat VCC positif dan pada kaki output M1 positif juga maka
LED pada opthocoupler M102 belum menyala sehingga Opthocoupler belum bekerja.
Begitupun pada A4, sinyal yang bernilai negatif dari A2 masuk ke inputan
noninverting dimana sinyal akan tetap menjadi sinyal negatif selanjutnya masuk ke
gerbang NOT M1 dirubah menjadi sinyal positif, karena pada kaki R16 diberi VCC
positif dan keluaran M1 juga positif maka LED pada Opthocoupler M101 belum
bekerja.
Selanjutnya pada Filamen Voltage Regulator (FVR) setelah disetting akan
mendapat tegangan dari CPU dengan nilai perbandingan 1V=1A yang mana
dihubungkan dengan kaki inverting pada A1, karena nilai pada noninverting lebih
positif maka keluaran pada A1 menjadi sinyal negative selanjutnya masuk ke
inverting A2 berubah menjadi sinyal positif. Berubahnya sinyal A2 menyebabkan
keluaran dari A3 dan A4 menjadi positif masuk ke M1 menjadi negatif, oleh karena
itu tegangan dari VCC R16 dan R19 mengalir ke outputan M1 sehingga LED pada
Opthocoupler M101 dan M102 menyala. Menyalanya M101 dan M102 menyebabkan
Opthocoupler bekerja sehingga Q2 dan Q1 aktif sehingga arus mengalir dari trafo
filamen titik 1 menuju Q2CR3CM-12 selanjutnhya mengisi kapasitor C1 menuju D1
kemudian kembali ke trafo filamen titik 2. Secara bergantian arus bergerak dari trafo
filamen titik 2 melewati Q1CR3CM-12 dan mengisi C1 serta kembali ke trafo filamen
titik 1 melalui D16.
Osilator akan memberikan sinyal sebesar 60 Hz sebagai trigger pada
Opthocoupler dimana akan terjadi dua kondisi. Kondisi pertama, pada saat
Optocoupler M103 dan Opthocoupler M105 mendapat sinyal Low maka arus akan
mengalir dari VCC melalui R21 dan mengaktifkan Opthocoupler M103 dan
Opthocoupler M105, sehingga opthocoupler M103 mengaktifkan Q5 dan M105
mengaktifkan Q7 menyebabkan muatan tinggi dari kapasitor polaritas positif C1
bergerak menuju Q5 kemudian filamen tabung rontgen dan Q7 selanjutnya kembali
ke C1 kutub negatif.
Kondisi kedua, pada saat Opthocoupler M104 dan Opthocoupler M106
mendapat sinyal Low maka arus akan mengalir dari VCC melalui R25 dan

154
mengaktifkan Opthocoupler M104 dan Opthocoupler M106 dimana Opthocoupler
M104 mengaktifkan Q6 dan Opthocoupler M106 mengaktifkan Q8 sehingga muatan
tinggi dari kapasitor C1 polaritas positif bergerak menuju Q6 kemudian filamen
tabung rontgen dan menuju Q8 dan kembali lagi ke C1 kutub negatif.
Apabila terjadi arus berlebih CP3 akan mendeteksi kemudian arus bergerak
menuju R54 dan mengisi kapasitor. Akibat pengisian inputan noninverting A1 akan
lebih positif dibandingkan inputan inverting sehingga keluaran A1 menjadi positif
melewati A2 menjadi negatif dan masuk A3 dan A4 menjadi negatif serta di NOT kan
oleh M1 menjadi positif akibatnya Opthocoupler M101 dan M102 berhenti bekerja
dan pengisian kapasitor C1 berhenti.
Apabila terjadi tegangan berlebih pada C1 maka CP2 akan mendeteksi
kemudian melewati pembagi tegangan R2 dan R3 untuk masuk ke kaki noninverting
A4. Outputan A4 berupa sinyal positif melewati D241, R222 menuju IC4013 oleh
karena itu outputan IC4013 menjadi High dan di NOT kan oleh M5 menjadi sinyal
negatif sehingga arus VCC dari R232 mengalir melewati D146 menuju M5 dan LED
pun menyala yang manandakan CV Over pada saat bersamaan outputan M5 yang
bernilai negatif dihubungkan dengan kaki inverting A1 sehingga outputan A1 menjadi
positif sehingga keluaran A1 menjadi positif melewati A2 menjadi negatif dan masuk
A3 dan A4 menjadi negatif serta di NOT kan oleh M1 menjadi positif akibatnya
Opthocoupler M101 dan M102 berhenti bekerja dan pengisian kapasitor C1 berhenti.

155
DAFTAR PUSTAKA

1. http://1.bp.blogspot.com/-
A2oxx_24jS4/UR9as0u4s3I/AAAAAAAAAC4/7qz8SuAaKrU/s1600/panel-
fluoroscopy.jpg
2. http://2.bp.blogspot.com/_s0UCR0FF4HY/Sd1kxj38IYI/AAAAAAAAAGM/Pb7jl
_dcBkM/s1600-h/index_clip_image002.jpg
3. http://home.earthlink.net/~webdisk1/oddtubes/05.jpg
4. http://home.earthlink.net/~webdisk1/oddtubes/07.jpg
5. http://home.earthlink.net/~webdisk1/oddtubes/06.jpg
6. http://www.r-type.org/pics/aaa1145.jpg
7. http://www.tvcameramuseum.org/philips/ldk614/pictures/xq3727plubicont
ube750.jpg
8. http://www.ndt.net/article/v07n02/ewert/fig3.gif
9. http://radiopaedia.org/articles/flat-panel-detectors
10. http://4.bp.blogspot.com/_4kv251JRv6E/TFGkgTKHoNI/AAAAAAAAAT8/6-
XH8INoduw/s320/Posisi+Pasien.jpg
11. Bahan Ajar Radiologi Lanjut Dr. Ir. Hj. Rusmini B, AIM, MM
12. Bahan Ajar Radiologi Ir. H. Barozie

156