Anda di halaman 1dari 15

Penyakit Paru Akibat Pajanan di Tempat Kerja

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana, Jakarta, Indonesia

Pendahuluan

Perkembangan industri mengubah pola penyakit yang ada di masyarakat khususnya bagi
pekerja.Pekerja menghabiskan sepertiga waktunya tiap hari di tempat kerja dimana lingkungan
kerja berbeda dengan lingkungan sehari-hari.Pajanan dan proses kerja menyebabkan gangguan
kesehatan.1

Menurut International Labor Organization (ILO) setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian
yang disebabkan oleh penyakit atau yang disebabkan oleh pekerjaan.Sekitar 300.000 kematian
terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat kerja dimana
diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya.1

Pneumokoniosis adalah penyakit paru menahun yang disebabkan karena menghirup


berbagai bentuk partikel debu, khususnya di perindustrian. Tingkat keparahan dan jenis
pneumokoniosis tergantung pada partikel debu, misalnya, sejumlah kecil zat tertentu, seperti abses
dan silika, dapat menyebabkan reaksi yang serius. Jenis paling umum pneumokoniosis adalah
pneumokoniosis pekerja batu bara, silikosis, dan asbestosis. Prevalensi berkisar antara 3,9-0,8
kasus per 1000 pemeriksaan medis.1

Dalam menegakan diagnosis untuk mengetahui penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan atau
bukan harus meliputi 7 langkah,yaitu :

1. Diagnosis Klinis
a. Anamnesis2
Anamnesis adalah wawancara seksama yang dilakukan pasien yang berguna untuk menunjang
diagnosis penyakit seorang pasien. Seringkali, diagnosis yang baik sudah dapat menentukan
penyakit seseorang. Anamnesis merupakan gabungan dari keahlian mewawancarai dan
pengetahuan yang mendalam tentang gejala dan tanda suatu penyakit sehingga dapat
melakukan pemeriksaan fisik dan penunjang yang sesuai untuk penyakit tersebut.2 Dalam
penegakan diagnosis penyakit paru lingkungan atau penyakit paru kerja, maka anamnesis
tentang riwayat pekerjaan atau lingkungan merupakan suatu alat yang amat berguna dalam
menentukan apakah suatu problem respirasi ada hubungannya dengan suatu paparan debu
tertentu. Pertanyaan pada anamnesis harus sistematis, lengkap (detail), dan kronologis.2

Wawancara harus jelas, teliti dan cermat mengenai:


Riwayat penyakit paru dan kesehatan umum3,4,5
Ada keluhan: sesak napas, batuk, batuk berdahak, mengi, kesulitan bernapas
Ada riwayat merokok
Masalah pernapasan sebelumnya dan obat yang dikonsumsi
Apakah ada hari-hari tidak dapat masuk kerja dan alasannya
Kapan keluhan-keluhan mulai dan apakah ada hubungannya dengan pekerjaan
Riwayat penyakit terdahulu5,6
Apakah sebelumnya pernah menderita: sesak nafas, asma, atopi, penyakit
kardiorespirasi
Paparan bahan-bahan yang pernah diterimanya: kebisingan, getaran, radiasi, zat
kimiawi, debu organik dan fibrogenik

Riwayat pekerjaan5
Daftar pekerjaan yang pernah dilakukan sejak awal
Aktifitas kerja dan material yang digunakan
Barang yang diproduksi/dihasilkan
Lama dan intensitas paparan
APD yang digunakan
Kecukupan ventilasi ruang kerja
Apakah ada pekerja-pekerja lain yang juga terkena paparan dan berefek pada kesehatannya
Tugas tambahan lainnya
Paparan lain diluar tempat kerja
Penyakit-penyakit yang ada hubungannya dengan paparan bahan ditempat kerja atau
lingkungan

b. Pemeriksaan Fisik7

Pemeriksaan fisik tergantung dari stadium penyakit tersebut.7

Inspeksi
Bentuk dada
Normal: diameter Anterior Posterior transversal = 1:2
Pigeon chest/dada burung: sternum menonjol kedepan, diameter Anterior-
Posterior > transversal
Barrel Chest: Anterior Posterior : transversal = 1:1
Funnel Chest: anterior Posterior mengecil, sternum menonjol ke dalam
Sifat pernafasan : pernafasan dada dan perut
Frekuensi pernafasan:
Normal: 16-20 x/menit
>20x/menit: tachypnea
<16x/menit: bradipnea

Ritme pernafasan
Eupnea: irama normal
Kussmaul: cepat dan dalam
Hiperventilasi: pernafasan dalam, kecepatan normal
Cheyne-stokes: bertahap dangkal lebih cepat dan dalam lambat apnea
(kerusakan saraf)
Palpasi
Nyeri dada tekan :kemungkinan fraktur iga
Taktil fremitus
Letakkan tangan sama dengan cara pemeriksaan ekspansi dada
Anjurkan pasien menyebut tujuh-tujuh / enem-enam, rasakan getaran
Kurang bergetar: pleural effusion, pneumothoraks

Perkusi
Paru normal: sonor/resonan
Pneumothoraks: hipersonor
Jaringan padat (jantung, hati): pekak/datar
Daerah yang berongga: timpani

Auskultasi
Suara nafas vesikuler
Terdengar disemua lapang paru normal
Bersifat halus, nada rendah
Inspirasi lebih panjang dari ekspirasi

Suara nafas bronchovesikuler


Ruang interkostal pertama dan kedua area interskapula
Nada sedang, lebih kasar dari vesikuler
Inspirasi sama dengan ekspirasi

Suara nafas bronchial


Terdengar di atas manubarium,
Bersifat kasar, nada tinggi
Inspirasi lebih pendek dari ekspirasi

Suara tambahan

Ronchi (ronchi kering)


Suara yang tidak terputus, akibat adanya getaran dalam lumen saluran pernafasan
karena penyempitan: ada sekret kental/lengket

Rales (ronchi basah)


Suara yang terputus, akibat aliran udara melewati cairan dan terdengar pada saat
inspirasi

Wheezes wheezing (mengi)


Suara terdengar akibat obstruksi jalan napas, terjadi penyempitan sehingga ekspirasi dan
inspirasi terganggu, sangat jelas terdengar saat ekspirasi

C. Pemeriksaan Penunjang
Rontgen thorax:

Dokter mungkin memesan x-ray dada jika memiliki salah satu dari gejala berikut:8

batuk terus-menerus
Dada cedera
Nyeri dada
Batuk darah
Kesulitan bernapas

Hal ini juga dapat dilakukan jika Anda memiliki tanda-tanda tuberkulosis , kanker paru-paru ,
atau dada atau penyakit paru-paru. Sebuah rontgen thorax seri (diulang) dapat digunakan untuk
mengevaluasi atau memantau perubahan ditemukan pada dada x-ray sebelumnya.9

Test Spirometri

Dalam tes spirometri, anda bernapas ke dalam mulut yang terhubung ke sebuah alat yang
disebut spirometer. Spirometer mencatat jumlah dan laju udara yang anda hirup masuk dan keluar
selama periode waktu. Untuk beberapa pengukuran pengujian, anda dapat bernafas dengan normal
dan tenang. Tes lainnya memerlukan inhalasi paksa atau pernafasan setelah napas dalam-dalam.
Tes fungsi paru dilakukan untuk:4
Diagnosa jenis tertentu dari penyakit paru-paru (terutama asma , bronkitis , dan
emfisema)
Menemukan penyebab sesak napas
Mengukur apakah paparan kontaminan di tempat kerja mempengaruhi fungsi paru-paru

Spirometri mengukur aliran udara. Dengan mengukur berapa banyak udara Anda
mengeluarkan napas, dan seberapa cepat, spirometri dapat mengevaluasi berbagai penyakit paru-
paru. Volume paru-paru mengukur jumlah udara di paru-paru tanpa paksa meniup. Beberapa
penyakit paru-paru (seperti emfisema dan bronkitis kronis) dapat membuat paru-paru berisi udara
terlalu banyak. Penyakit paru-paru lainnya (seperti fibrosis paru-paru, bisinosis dan asbestosis )
membuat paru-paru terluka dan lebih kecil sehingga mereka berisi udara terlalu sedikit.7 Pengujian
kapasitas difusi memungkinkan dokter untuk memperkirakan seberapa baik paru-paru
memindahkan oksigen dari udara ke dalam aliran darah.

2. Pajanan yang di alami

Langkah kedua dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan
menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah mencari tahu pajanan yang dialami oleh
pasien dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Pajanan yang dinilai haruslah meliputi pajanan
yang dialami saat ini dan juga pajanan yang dialami sebelumnya. Informasi mengenai pajanan
yang dialami oleh pasien boleh didapatkan melalui Anamnesis.2

Dimana berdasarkan anamnesis diketahui bahwa pasien pasien bekerja di pertambangan batu
bara dimana terdapat debu yang dapat masuk ke dalam saluran pernapasan. Pajanan yang
mungkin saja terjadi adalah sebagai berikut :1

Asbes

Asbes merupakan campuran fibrosa silikat yang sangat resisten terhadap degradasi.
Serat-seratnya mempunyai lebar 1-2m, tetapi panjangnya sampai 50 m (asbes biru) atau
2 cm (asbes putih). Oleh karena itu, asbes mudah terperangkap dalam paru. Asbes biru
jauh lebih berbahaya. Adanya asbes dalam gedung dan interval panjang antara pajanan
dan perkembangan penyakit terkait asbes akan terjadi sewaktu-waktu. Badan asbes (serat
yang dilapisi protein) dalam paru merupakan indikasi adanya pajanan, tetapi bukan
penyakit. Jenis dan luas penyakit sebagian besar bergantung pada pajanan. Asbestosis
adalah penyakit paru fibrosis yang berkembang sampai 10 tahun setelah pajanan berat.
Pasien datang dengan dispnea progresif, ronki basah di basal pada inspirasi dan kadang-
kadang jari tabuh. Terdapat defek restriktif dungsi paru dengan bayangan difus bergaris-
garis pada foto toraks dan menebalnya pleura viseralis. Paru sarang lebah sering menonjol
pada lobus bawah.1

Batu bara

Penyakit terjadi akibat penumpukan debu batubara di paru dan menimbulkan reaksi
jaringan terhadap debu tersebut. Penyakit ini terjadi bila paparan cukup lama , biasanya
setelah pekerja terpapar >10 tahun. Berdasarkan gambaran foto Thorax dibedakan atas
bentuk simple dan complicated. Simple Coal Workers Pneumoconiosis (Simple CWP)
terjadi karena inhalasi debu batubara saja. Gejalanya hampir tidak ada, dan bila paparan
tidak berlanjut maka penyakit ini tidak akan memburuk. Penyakit ini dapat berkembang
menjadi bentuk complicated. Complicated Coal Workers Pneumoconiosis atau Fibrosis
Masif Progresif (PMF) ditandai adanya daerah fibrosis yang luas hampir selalu terdapat di
lobus atas. Pada daerah fibrosis dapat timbul kavitas dan ini bisa menyebabkan
pneumotoraks; foto thorax pada PMF sering mirip tuberkulosis, tetapi sering ditemukan
bentuk campuran karena terjadi emfisema. Tidak ada korelasi antara kelainan faal paru dan
luasnya lesi pada foto thorax. Gejala awal biasanya tidak khas. Batuk dan sputum menjadi
lebih sering, dahak berwarna hitam (melanoptisis). Kerusakan yang luas menimbulkan
sesak napas yang makin bertambah, pada stadium lanjut terjadi kor hipertensi pulmonal,
gagal ventrikel kanan dan gagal napas.7

Silika

Pada silikosis, inhalasi berlebih atau dalam jangka waktu lama dari partikel silica
bebas (silicon dioksida) pada rentang 0,3-5 mm menyebabkan terbentuknya bulatan kecil
yang opak (nodul silikotik) di sepanjang paru. Prevalensinya tergolong rendah di negara
maju. Kalsifikasi di hilus paru bagian tepi (eggshell kalsifikasi) merupakan temuan
radiografi yang tidak umum namun dapat menunjukkan adanya suatu silikosis. Silikosis
simpel biasanya asimptomatik dan tidak memberikan gejala pada pemeriksaan faal paru.
Pada silikosis yang berat, dapat ditemukan densitas bergumpal di paru bagian atas dan
sering disertai dengan sesak serta obstruksi dan restriksi paru. Insidens TB paru meningkat
pada pasien dengan silikosis. Seluruh pasien dengan silikosis sebaiknya melakukan tes
tuberculin dan foto radiologi toraks. Pekerjaan yang merupakan risiko meliputi pekerja
pertambangan, tukang batu, pembuat amplas, pengecor logam, dan pekerja di pabrik kaca.
Secara klinis terdapat 3 bentuk silikosis, yakni silikosis akut, silikosis kronik, silikosis
terakselerasi.7,8

Silikosis Akut

Penyakit dapat timbul dalam beberapa minggu, bila pekerja terpapar dengan
konsentrasi sangat tinggi. Perjalanan penyakit sangat khas, yaitu gejala sesak napas yang
progresif, demam, batuk dan penurunan berat badan setelah paparan silika konsentrasi
tinggi dalam waktu relatif singkat. Lama paparan silika berkisar antara beberapa minggu
hingga 4 atau 5 tahun. Kelainan Faal paru yang timbul adalah restriksi berat dan
hipoksemia disertai penurunan kapasitas difusi.7,9

Silikosis Kronik

Kelainan pada penyakit ini mirip dengan pneumokoniosis pekerja tambang batubara,
yakni terdapat nodul yang biasanya dominan di lobus atas. Bentuk silikosis kronik paling
sering ditemukan, terjadi setelah paparan 20 hingga 45 tahun oleh kadar debu yang relatif
rendah. Pada stadium simple, nodul di paru biasanya kecil dan tanpa gejala/ minimal.
Walaupun paparan tidak ada lagi, namun kelainan paru dapat menjadi progresif sehingga
terjadi fibrosis yang masif.7,9

Pada silikosis kronik yang sederhana, foto toraks menunjukkan nodul terutama di lobus
atas dan mungkin disertai kalsifikasi. Pada bentuk lanjut terdapat massa yang besar yang
tampak seperti sayap malaikat (angels wing). Sering terjadi reaksi pleura pada lesi besar
yang padat. Kelenjar hilus biasanya membesar dan membentuk bayangan egg shell
calcification. Jika fibrosis masif progresif terjadi, volume paru berkurang dan bronkus
mengalami distorsi. Faal paru menunjukkan gangguan restriksi, obstruksi atau campuran.
Kapasitas difusi dan komplian menurun. Timbulnya gejala sesak napas, biasanya disertai
batuk dan produksi sputum. Sesak pada awalnya terjadi saat aktivitas, kemudian pada
waktu istirahat dan akhirnya timbul gagal kardiorespirasi. 7,9

Silikosis Terakselerasi

Bentuk kelainan ini serupa dengan silikosis kronik, hanya saja perjalanan penyakit
lebih cepat dari biasanya, menjadi fibrosis masif, sering terjadi infeksi mikobakterium
tipikal/atipik. Setelah paparan 10 tahun sering terjadi hipoksemia yang berakhir dengan
gagal napas. 7,9

3. Hubungan Pajanan dengan Diagnosis Klinis

Langkah ketiga dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan
menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu hubungan pajanan
yang dialami oleh pasien dengan penyakit. Langkah ini dimulai dengan identifikasi pajanan yang
ada, lalu dicari apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit yang dialami pasien tersebut.
Hubungan antara pajanan dan penyakit ini haruslah didukung oleh bahan ilmiah seperti literature
atau penelitian. Seandainya belum ada bahan ilmiah yang mampu membuktikan hubungan antara
pajanan dan penyakit, seorang dokter boleh menggunakan pengalaman yang ada padanya untuk
menentukan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit.2

WHO membedakan tiga kategori Penyakit Akibat Kerja :

Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumoconiosis.

Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma


Bronkhogenik.

Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya,
misalnya PPOK.

Penyakit karena debu (Dust Lung Disease) tergantung pada jenis debu, lama pajanan, sifat
debu dan kepekaan tubuh terhadap debu.5,6

1. Jenis debu
i. Debu non-fibrogenik
Debu yang tidak menimbulkan reaksi jaringan paru (debu, besi, timah, kapur). Pada
dosis tetap merangsang dan menimbulkan reaksi jaringan, memproduksi lendir
banyak, menyebabkan perubahan jaringan retikulin, disebut pneumokoniosis non-
kolagen.1

ii. Debu fibrogenik


Adalah debu yang menimbulkan reaksi jaringan paru (fibrosis), juga disebut
pneumokoniosis kolagen seperti batubara, silika bebas dan asbes. 1

Tabel i : Jenis Dan Etiologi Penyakit

Jenis Etiologi
Coal Worker Pneumokoniosis Batu bara
Silikosis Silica
Asbestosis Asbes
Siderosis Besi
Berryliosis Berilium

2. Ukuran debu (debu yang mudah dihirup adalah 0,1-10 mikron)


o Debu 5-10 mikron tertahan di saluran napas atas.
o Debu 3-5 mikron tertahan di saluran napas tengah.
o Debu 1-3 mikron adalah paling berbahaya, karena tertahan dan tertimbun di
saluran napas kecil.
o Debu < 1 mikron tidak mudah mengendap.
o Debu 0,1-0,5 mikron melakukan gerakan Brown, berdifusi keluar dan dapat
memasuki alveoli, bila membentur dinding alveoli akan tertimbun di sana.6
4. Jumlah Pajanan Cukup Besar dapat mengakibatkan Penyakit
Observasi Tempat/Lingkungan Kerja
Untuk menegakkan diagnosis penyakit akibat kerja, harus ditinjau dari tempat atau
lingkungan pasien bekerja. Pada penyakit pneumokoniosis dapat dilihat bagaimana
pekerja tambang mendapatkan pajanan berupa debu asbes/batu bara/silika yang
terhirup/terhisap selama durasi jam bekerja. Akumulasi pajanan tersebut dapat
mengakibatkan terganggunya sistem pernapasan, seringkali batuk atau sesak nafas,
terutama pada orang perokok.3,4,5

Pemakaian Alat Pelindung Diri (APD)


Pada umumnya di tambang, para pekerja diwajibkan memakai alat pelindung diri
dari pajanan berupa debu seperti masker. Tambang tersebut seharusnya menyediakan
masker kepada para pekerjanya. Terjadinya pneumokoniosis dapat terjadi jika pabrik tidak
memberikan masker atau juga akibat kelalaian para pekerja yang tidak memakai masker.
Pemakaian masker pada pekerja tambang dapat menurunkan resiko terkena penyakit
pneumokoniosis.5

5. Faktor Individu

Langkah kelima dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan
menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada faktor
individu yang boleh menimbulkan penyakit yang dialaminya. Faktor individu mencakup status
kesehatan fisik pasien, faktor kesehatan mental pasien dan higinis perorangan pasien.2

6. Pajanan faktor lain di luar pekerjaan.

Langkah keenam dalam identifikasi penyakit akibat kerja melalui pendekatan klinis dengan
menggunakan tujuh langkah diagnosis okupasi adalah dengan mencari tahu apakah ada faktor lain
di luar pekerjaan termasuk hobi, kebiasaan sehari-hari, pajanan di rumah dan juga pajanan dari
kerja sambilan seandainya ada. Berdasarkan kasus tidak dijelaskan adanya pajanan faktor lain di
luar pekerjaan.2
7. Diagnosis Okupasi
Setelah menerapkan ke enam langkah di atas perlu dibuat suatu keputusan berdasarkan
informasi yang telah didapat yang memiliki dasar ilmiah. Seperti telah disebutkan
sebelumnya, tidak selalu pekerjaan merupakan penyebab langsung suatu penyakit, kadang-
kadang pekerjaan hanya memperberat suatu kondisi yang telah ada sebelumnya. Hal ini perlu
dibedakan pada waktu menegakkan diagnosis. Suatu pekerjaan/pajanan dinyatakan sebagai
penyebab suatu penyakit apabila tanpa melakukan pekerjaan atau tanpa adanya pajanan
tertentu, pasien tidak akan menderita penyakit tersebut pada saat ini. Sedangkan pekerjaan
dinyatakan memperberat suatu keadaan apabila penyakit telah ada atau timbul pada waktu
yang sama tanpa tergantung pekerjaannya, tetapi pekerjaannya/pajanannya
memperberat/mempercepat timbulnya penyakit.8

Dari uraian di atas dapat dimengerti bahwa untuk menegakkan diagnosis Penyakit
Akibat Kerja diperlukan pengetahuan yang spesifik, tersedianya berbagai informasi yang
didapat baik dari pemeriksaan klinis pasien, pemeriksaan lingkungan di tempat kerja (bila
memungkinkan) dan data epidemiologis. Hasilnya diagnosis akibat kerja yang dapat
digolongkan menjadi Penyakit Akibat Kerja/Penyakit Akibat Hubungan Kerja/Penyakit
Diperberat Kerja/perlu data tambahan.

Penatalaksanaan

Terapi Medikamentosa

Oksigen dan bronkodilator dapat diberikan jika dibutuhkan. Berhenti merokok sangat
direkomendasikan terhadap pasien dengan pneumoconiosis. Pertimbangkan kemungkinan
infeksi superimposed mycobacterium pada pasien dengan penurunan berat badan tanpa sebab,
batuk kronis, demam atau keringat malam.7

Terapi Non Medikamentosa


o Memberikan penyuluhan dan pengetahuan kepada pekerja mengenai bahaya dari
debu-debu organic tersebut serta tentang penggunaan APD yang benar
o Memberi kebijakan untuk pindah bagian kerja selain di pemintalan dan penenunan,
atau pindah shift kerja bila itu berpengaruh pada pasien.4

Pencegahan3,4
a. Primer
Memberi penyuluhan kepada pekerja tentang bahaya dari debu dan pajanan lain di
pabrik tempat mereka bekerja
Memberi dan memfasilitasi para pekerja pabrik dengan Alat Pelindung Diri (APD)
seperti masker, sarung tangan dan sebagainya
Mengadakan acara senam/olahraga secara teratur untuk pekerja pabrik dan staff
Meningkatkan gizi para pekerja dengan membuat kantin sendiri dengan makanan yang
sehat dan bervariasi.

b. Sekunder

Melalui peraturan dan administrasi yang dibuat pemerintah, menteri, dan perusahaan
sendiri yang menjamin kesehatan dan keselamatan tenaga kerja
Subsitusi dengan bahan lainnya yang lebih aman bagi kesehatan pekerja
Penurunan kadar debu di udara tempat kerja, misal memakai exhaust fan
Ventilasi yang baik baik umum maupun local
o Ventilasi umum: mengalirkan udara ke ruang kerja melalui pintu dan jendela
o Ventilasi local: pompa ke luar setempat yaitu dengan menghisap debu dari
sumber debu yang dihasilkan dan mengurangi sedapat mungkin debu didaerah
kerja para pekerja. Ini manfaatnya besar dalam melindungi pekerja.

c. Tersier
Pemeriksaan kesehatan sebelum bekerja juga berguna untuk tidak menerima penderita-
penderita dengan sakit paru untuk ditempatkan pada tempat yang penuh debu.
Pemeriksaan berkala untuk menemukan penderita-penderita pneumokoniosis sedini
mungkin yang kemudian dapat dipindahkan pekerjaan agar kecacatan dapat dicegah.
Prognosis
Gejala biasanya membaik setelah menghentikan paparan debu. Paparan terus dapat
menyebabkan fungsi paru-paru berkurang. Gejala simtomatik dapat diberikan terapi simtomatik.
Bila ada kecurigaan tuberculosis, segera terapi dengan obat anti tuberculosis.

Kesimpulan

Sebenarnya, jika debunya adalah debu dari batu bara, batuk yang terjadi adalah batuk non-
produktif. Namun, lama-kelamaan, jika debu semakin menumpuk, maka dapat terjadi batuk
produktif di mana sputum yang dihasilkan akan sangat kental karena mengandung partikel yang
berat dan hanya dapat dikeluarkan melalui batuk yang kencang.

Pada silicosis, debu silica bersifat toksik sehingga bila difagosit oleh makrofag dapat membuat
makrofag mati dan menurunkan sistem imun tubuh. Orang yang terpapar dengan debu silica akan
menjadi rentan untuk terkena infeksi oleh bakteri, virus, terutama infeksi Mycobacterium.

Asbestosis seperti halnya silikosis, dapat berkembang walaupun sudah disingkirkan dari
pajanan. Pengobatan bersifat simtomatis. Tindakan pencegahan dimulai dari tindakan substitusi
asbes menggunakan bahan lain, penutupan lokasi pengolahan, pemasangan ventilasi lokal, dan
proteksi respirasi. Pasien yang terpajan disarankan untuk berhenti merokok untuk memperkecil
efek gabungan terhadap paru dan risiko kanker paru.
Daftar Pustaka

1. Kleiner AI, Makotchenko VM, Efremova VA, Kashin LM, Mangasarova SN, Klimenko TA.
Epidemiology of pneumoconiosis and dust bronchitis in machine-building industry workers. Gig
Tr Prof Zabol. 1991;(7):10-2.
2. Yunus F, Rasmin M, Hudoyo A, Mulawarman A, Swidarmoko B, editor. Pulmonologi klinik.
Jakarta: Balai penerbit FKUI; 1992. P.205-214.
3. Ridley J. Iktisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Erlangga: Jakarta. 2006. Hal : 253-6
4. K3 SP ITB. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Edisi Januari 2009. Tersedia dari URL
http://kesehatandankeselamatankerja.blogspot.com/2009/01/pengertian-kesehatan-dan-
keselamatan.html. Diunduh tanggal 15 Oktober 2017.
5. Sumamur, PK. Higine Perusahaan dan Kesehatan Kerja. Sagung Seto: Jakarta .2009. Hal: 245-
59.
6. Yunus F. Dampak Debu Industri pada Paru Pekerja dan Pengendaliannya. Cermin Dunia
Kedokteran :Jakarta.2007. Hal : 45-50.
7. Rahmatullah P. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam: Pneumonitis dan Penyakit Paru Lingkungan. Jilid
II Edisi keempat.FK UI : Jakarta. 2007. Hal 103-6
8. Levy, S. Barry. Wegman, David H. Occupational Health : Regocnizing and Preventing Work
Related Disease and Injury. 4th Edition. Lippincott Williams & Wilkin : USA. 2005. Hal : 477-502
9. Ridley J. Iktisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja. Erlangga : Jakarta. 2006. Hal : 253-6