Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

10.1 Peran Investor Institusional, Investor Asing, dan Kreditur

10.1.1 Investor institusional

Cara investor institusional untuk berperan serta dalam mendorong penerapan GCG
adalah dengan investasi yang bertanggung jawab. Yang dimaksud dengan investasi yang
bertanggung jawab adalah dengan membuat kebijakan hanya akan melakukan penempatan
investasi pada perusahaan-perusahaan yang menerapkan GCG, dan tentu secara konsisten
menerapkan kebijakan tersebut dalam melakukan investasi. Dengan cara ini, institusi
tersebut bertanggung jawab terhadap masyarakat karena penempatan yang salah menjadi
lebih keccil, dan di lain pihak perusahaan yang sahamnya menjadi lirikan investor dan
masuk dalam dafta saham yang desirable atau ingin dimiliki oleh investor, lebih jauh hal ini
akan menaikan nilai saham yang secara tidak langsung juga menaikan nilai perusahaan.

Tentu untuk bisa menerapkan investasi yang bertanggung jawab dibutuhkan usaha
tambahan oleh investor institusional, karena harus ada fungsi di dalam institusi tersebut
yang bertanggung jawab melakukan analisis secara berkesinambungan terhadap penerapan
GCG perusahaan-perusahaan target dengan menggunakan acuan yang benar sebagai dasar
penerapan GCG. Hal ini bukan sesuatu yang mustahil jika memang sudah menjadi sebuah
itikad dalam melakukan investasi yang bertanggung jawab, dalam mengelola dana
masyarakat.

10.1.2 Investor asing

Sesuai dengan teori stakeholder, semakin banyak dan kuat posisi stakeholder,
semakin besar kecenderungan perusahaan untuk mengadaptasi diri terhadap keinginan
stakeholdernya. Hal tersebut diwujudkan dengan cara melakukan aktivitas
pertanggungjaawaban terhadap sosial dan lingkungan atas aktivitas yang dilakukan
perusahaan tersebut. Perusahaan yang berbasis asing kemungkinan memiliki stakeholder
yang lebih banyak dibanding perusahaan berbasis nasional sehingga permintaan informasi
juga lebih besar dan dituntut untuk melakukan pengungkapan yang lebih besar juga.
Sehingga :

1
a. Investasi asing akan menciptakan perusahaan-perusahaan baru, memperluas pasar
atau merangsang penelitian dan pengembangan teknologi lokal yang baru.
b. Investasi asing akan meningkatkan daya saing industri ekspor, dan merangsang
ekonomi lokal melalui pasar kedua (sektor keuangan) dan ketiga (sektor
jasa/pelayanan).
c. Investasi asing akan meningkatkan pajak pendapatan dan menambah pendapatan
lokal/nasional, serta memperkuat nilai mata uang lokal untuk pembiayaan impor.

10.1.3 Kreditur

Perusahaan yang mempunyai leverage tinggi mempunyai kewajiban lebih untuk


memenuhi kebutuhan informasi kreditur jangka panjang. Dengan semakin tinggi leverage,
yang mana akan menambahbeban untuk program corporate social responsibility menjadi
terbatas atau semakin tinggi leverage, maka semakin rendah program CSR.

10.2 Kasus PT Kaltim Prima Coal


10.2.1 Profil Perusahaan

PT Kaltim Prima Coal (KPC) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang
pertambangan dan pemasaran batubara untuk pelanggan industri baik pasar ekspor maupun
domestik. Tahun 1982 PT Kaltim Prima Coal (KPC) didirikan di Indonesia dengan masing-
masing BP dan CRA 50% memegang saham. KPC lisensi untuk melakukan eksplorasi dan
pertambangan batubara berdasarkan Kontrak Karya Batubara (Kontrak Karya) dengan HPH
seluas 90.706 ha. Negara Indonesia Perusahaan Batubara (PTBA) untuk menerima hak
13,5% dari produksi semua. Lokasi dari PT Kaltim Prima Coal terletak di sekitar Sangatta,
Kabupaten Kutai Timur (Kutim), Provinsi Kalimantan Timur Indonesia.

10.2.2 Latar Belakang Kasus

Dalam kurun waktu enam tahun (sampai 2009) di keseluruhan kabupaten di


Kalimantan telah terbit 2.047 kuasa pertambangan dan diperkirakan mengokupasi lahan
seluas 4,09 juta hektar. Tentunya angka itu akan semakin besar jika ditambah dengan
pertambangan ilegal. Begitu pula dengan perusahaan Kaltim Prima Coal (KPC) yang
bergerak di bidang pertambangan batubara di beberapa daerah seperti Pinang, Melawan, dan
Prima di Kalimantan Timur. Dengan operasi yang bisa menjual 35.772.323 ton batubara
hanya pada tahun 2008 saja, perusahaan ini merasa memiliki tanggung jawab pada

2
stakeholders lainnya. Permasalahan timbul saat masyarakat dan pemerintah kabupaten
merasa belum merasakan hasil dari program CSR yang dilakukan oleh KPC. Selama sekian
puluh tahun beroperasi di bawah pemerintahan kabupaten terkait, PT Bumi Resources
membeli KPC pada tahun 2003.

Untuk mendapatkan kepercayaan pemerintah daerah yang menjadi investor pada


saat itu, PT Bumi Resources memberikan beberapa janji untuk tetap ikut membangun daerah
Kutai Timur. Janji yang dilontarkan pada tahun 2003 tersebut ada beberapa, yaitu
pembangunan rumah sakit, membangun kampus Stiper, dan jalan Soekarno-Hatta dua jalur
yang semuanya sampai sekarang belum terealisasi. BR juga berjanji mengucurkan CSR
sekira Rp 50 miliar per tahun. Namun, menurut pihak masyarakat dan pemerintah daerah
setempat pengelolaannya dinilai tidak transparan dan ditangani sendiri oleh KPC. Forum
Multi Stakeholder Coorporate Social Responsibility (Forum MSH- CSR) mengatakan
bahwa dana yang mereka kelola belum maksimal dan masih di bawah dana yang dijanjikan.
Misalnya saja CSR tahun 2009 untuk Kecamatan Bengalon. Data itu adalah data yang dirilis
oleh Forum Multi Stakeholder (MSH) CSR. Dari dana CSR sekira Rp 1,1 miliar yang
sampai ke rakyat hanya sekira Rp 400 juta. Dana sekira Rp 690 juta diberikan ke instansi
vertikal.

Namun, di sisi lain pihak KPC menyanggah hal tersebut dengan berdalih bahwa dana
yang dikucurkan harus melalui prosedur yang sesuai dengan kelengkapan dokumen dan
progress report pada tiap-tiap proyek. Akhirnya, masyarakat menuntut adanya transparansi
dan pertemuan rutin antara pihak KPC dengan Forum MSH-CSR agar permasalahannya
bisa didiskusikan bersama untuk dicari solusinya. Selain itu, masyarakat meminta agar dana
CSR tersebut tidak semuanya dikelola oleh KPC tetapi juga bekerja sama dengan Forum
MSH-CSR dalam pengalokasiaannya. Tuntutan masyarakat ini bahkan disertai dengan
ancaman bahwa operasi KPC mungkin akan terhambat keamanan dan ketertibannya jika
tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Pihak pemerintah daerah pun juga setuju dengan tuntutan
akan transparansi dan pendelegasian pengelolaan dana CSR tersebut. Jika tuntutan tersebut
tidak dipenuhi, pihak pemerintah daerah akan meninjau ulang izin pertambangan di daerah
tersebut.

3
10.2.3 Analisis Masalah

Jika dianalisis satu per satu, pada aspek ekonomi maka KPC sudah memenuhi hal
tersebut dengan memperoleh pendapatan sebesar USD 1.741,93 juta. Hal ini merupakan
pendapatan yang cukup besar dengan pangsa pasar ekspor yang berada di beberapa negara
di belahan dunia. Walaupun begitu, aspek legal yang berada pada dimensi di atas ekonomi
sudah dibuat kontraknya. Namun, hal ini pun masih dipertanyakan implementasinya sejak
pembuatan kontrak ataupun pengucapan janji pembangunan pada tahun 2003 sampai pada
2010 ini, walaupun pada laporan terkait pada tahun 2008 sudah disebutkan community
expenditure commitment sebesar USD 5.000.000 dan biaya lingkungan sebesar USD
18.771,896. Pada dimensi ethical sebenarnya KPC sudah mulai memberikan berbagai
bantuan dengan kegiatan yang berfokus pada tujuh pembangunan berkelanjutan, yakni
pengembangan agribisnis, peningkatan kesehatan dan sanitasi, pendidikan dan pelatihan,
peningkatan infrastruktur masyarakat, pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah
(KUKM), pelestarian alam dan budaya, penguatan kapasitas lembaga masyarakat dan
pemerintah, dan pemberdayaan masyarakat. Namun, pelaksanaan yang kurang terkoordinasi
dari tahun ke tahun membuat pelaksanaannya cukup baik pada tahun-tahun awal sampai ke
2008 akan tetapi agak terganggu pelaksanaannya pada tahun 2009 dan 2010 sehingga
muncul masalah dengan Forum MSH-CSR. Aspek terakhir yang perlu diperhatikan adalah
philanthropic yang sebenarnya baik untuk dilakukan meskipun bukanlah sesuatu yang wajib
untuk dilakukan. Menjadi sebuah corporate citizen yang menguntungkan masyarakat sekitar
dan memenuhi berbagai aspek lainnya untuk dapat hidup berdampingan antara produsen
ataupun pengusaha dan masyarakat sekitar serta stakeholders lainnya.

KPC sudah memenuhi beberapa aspek yang disebutkan, misalnya untuk aspek
ecological environment dengan menutup tambang yang sudah tidak dipergunakan dan
melakukan kegiatan dengan pemberdayaan pertanian dan perikanan. Namun, masih timbul
permasalahan dengan public interest group di mana di dalamnya juga termasuk masyarakat
sekitar dan pemerintah daerah. Dalam hal ini, beberapa hal yang menyebabkan transfer
informasi kurang maksimal adalah penerapan dari prinsip good corporate governance
seperti fairness, transparency, accountability, dan responsibility yang pada saat ini telah
mendorong CSR semakin menjadi sesuatu hal yang krusial. Berdasarkan permasalahan
tersebut, komunikasi menjadi sesuatu yang penting antara perusahaan dengan pihak terkait.

4
Analisis berdasarkan prinsip Good Corporate Governance yang dilanggar PT
Kaltim Prima Coal
a. Transparansi (Transparency)
Dalam kasus PT Kaltim Prima Coal dari dana CSR yang sudah ditentukan oleh
perusahaan batu bara ini yaitu Rp 1,1 miliar, sedangkan yang sampai ke rakyat hanya
Rp 400 juta. Dana sejumlah Rp 690 juta diberikan ke instansi vertikal. Adapun
informasi pembagian dana untuk ke masyarakat, hanya diketahui oleh satu pihak yaitu
PT Kaltim Prima Coal, yang bebas menentukan besaran dana yang akan diturunkan ke
masyarakat tanpa memberitahu detail persentase dana untuk masyarakat disekitar
lingkungan bisnis dan perhitungan-perhitungan lainnya yang mendukung dana CSR
untuk masyarakat.
b. Pertanggungjawaban (Responsibility)
PT Kaltim Prima Coal sejak tahun 2010 mulai melepas tanggung jawabnya kepada
lingkungan sekitar perusahaan, dimana seharusnya PT Kaltim Prima Coal membayar
biaya perawatan lingkungan perusahaan kepada kepala daerah setempat sesuai dengan
kontrak yang sudah dijanjikan, namun realisasinya justru dana yang seharusnya
diberikan sepenuhnya kepada masyarakat, hanya 40% saja yang sampai ke tangan
masyarakat, tidak sesuai dengan data yang disebarkan oleh Forum MSH-CSR.
c. Kewajaran (Fairness)
PT Kaltim Prima Coal harus memperlakukan secara adil seluruh golongan yang
memiliki andil dalam kesuksesan perusahaan, baik yang internal maupun eksternal,
tanpa mementingkan golongan tertentu. Walaupun masyarakat sekitar tidak berperan
langsung untuk kemajuan Kaltim Prima Coal, namun perusahaan memiliki tanggung
jawab untuk merawat lingkungan sekitar bisnis, karena tanpa persetujuan masyarakat
daerah lokasi perusahaan, perusahaan bisa saja ditutup karena dianggap merugikan
masyarakat dan tidak memelihara lingkungan perusahaan.

5
DAFTAR PUSTAKA

http://fekool.blogspot.co.id/2016/05/corporate-governance-corporate-social.html (diakses
pada 4 November 2017)

https://id.scribd.com/document/358249432/Kasus-PT-Kaltim-Prima-Coal-docx (diakses pada


4 November 2017)