Anda di halaman 1dari 87

PERBANDINGAN KODE ETIK

Seorang enginner harus memahami, menjunjung tinggi, dan menerapkan kode etik dalam kehidupannya, baik dalam bidangnya, organisasi,
maupun negaranya.

Kode etik dalam setiap bidang, organisasi, maupun negara dapat berbeda-beda, namun tujuannya teteplah sama, yaitu memberikan dampak serta
pandangan positif bagi semua aspek dalam bidang, organisasi, negara, dan juga bagi enginner itu sendiri.

Dalam bidangnya seorang enginner haruslah bertanggung jawab terhadap bidang atau profesinya, agar timbul sikap pantang menyerah dalam
menjalankan setiap aktifitasnya. Selain itu seorang enginner haruslah memiliki sikap jujur, agar dapat menimbulkan rasa percaya dari konsumen
dan masyarakat. Dan seorang enginner harus pula memiliki daya kreatifitas yang tinggi, agar dapat meningkatkan kemampuan dan wawasannya
didalam bidang atau profesi yang dijalankannya.

Dalam organisasi seorang enginner tidak hanya harus bertanggung jawab dan jujur kepada bidang dan juga konsumennya, akan tetapi
dibutuhkan pula rasa tanggung jawab dan jujur terhadap setiap aspek atau enginner lain yang ada dalam organisasi dan juga organisasi yang lain,
sehingga tidak ada konflik atau kesalah pahaman antara atasan dan bawahan dalam organisasi maupun antara organisasi yang satu dengan
organisasi yang lainnya, serta dapat meningkatkan daya kreatifitas enginner dan juga organisasinya didalam dunia industri.

Dalam suatu negara, enginner haruslah pula mentaati kode etik yang berlaku pada negara dimana ia menjalankan profesinya. Kode etik pada
suatu negarapun berbeda-beda, antara negara yang satu dengan negara yang lainnya. Dengan mentaati kode etik yang berlaku pada negaranya,
maka seorang enginner dapat bertanggung jawab, jujur, dan berkreasi demi kemajuan teknologi, industri, dan negaranya.

Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa perbedaan kode etik enginner berdasarkan bidang, organisasi, dan negara adalah semakin besar
lingkup seorang enginner, maka semakin besar dan semakin banyak pula kode etik yang harus dipahami dan diterapkan dalam kehidupannya,
agar dapat menghasilkan daampak positif serta kemajuan yang lebih luas dan baik pula bagi profesi, bidang, organisasi, negara, dan kehidupan
enginner itu sendiri.
Perbandingan kode etik profesi akuntansi
Keterangan IFAC AICPA IAI
IFAC atau Kode etik Profesi AICPA Kode etik adalah sistem
International menjadi standar umum norma, nilai dan aturan
Federation of perilaku yang ideal dan profesional tertulis yang
Accountants menjadi peraturan khusus secara tegas menyatakan apa
mempunyai tugas tentang perilaku yang harus yang benar dan baik, dan
untuk membuat dilakukan. Kode etik ini terdiri apa yang tidak benar dan
standar internasional dari empat bagian: prinsip- tidak baik bagi profesional.
pada etika, auditing prinsip, peraturan etika, Kode etik menyatakan
dan assurance, interpretasi atas peraturan perbuatan apa yang benar
pengertian
pendidikan akunting, etika, dan kaidah etika. atau salah, perbuatan apa
dan akuntansi sector Bagian-bagian ini disusun yang harus dilakukan dan
public.Langkah berdasarkan urutan makin apa yang harus dihindari.
pertama yang harus spesifiknya standar tersebut, Tujuan kode etik agar
dilakukan oleh prinsip-prinsip menyediakan profesional memberikan jasa
seorang auditor standar-standar ideal etika, sebaik-baiknya kepada
dalam menjalankan sementara kaidah etika pemakai atau nasabahnya.
tugasnya adalah menyediakan standar-standar Adanya kode etik akan
dengan memahami yang sangat spesifik. melindungi perbuatan yang
IFACs International tidak profesional.
Ethics Standards
Board for
Accountants
(IESBA)
Kode Etik Prinsip- 8 prinsip etika menurut IAI
Kode Etik Prinsip-prinsip
prinsip Dasar dalam kongres VIII tahun
Dasar Akuntan Profesional
Akuntan Profesional 1998 yang telah ditentukan
menurut AICPA sebagai
IFAC sebagai ketetapannya :
berikut :
berikut :
1. Tanggung Jawab Profesi
a. Tanggung Jawab
a) Integritas
Dalam prinsip tanggung
Dalam melaksanakan tanggung
Seorang akuntan jawabnya sebagai
jawab mereka sebagai
professional harus profesional, setiap anggota
professional, anggota harus
tegas dan jujur berkewajibanmenggunakan
menerapkan penilaian
dalam semua pertimbangan moral dan
professional dan moral yang
keterlibatannya profesional setiap
sensitive dalam segala
Prinsip dalam hubungan melakukan kegiatannya.
kegiatannya.
profesional dan Sebagai profesional,
bisnis. anggota mempunyai peran
b. Kepentingan Umum
penting dalam masyarakat.
b) Objektivitas Sejalan dengan peranan
Anggota harus menerima
tersebut, anggota memiliki
kewajiban mereka untuk
Seorang akuntan tanggung jawab kepada
bertindak dengan cara yang
professional semua pemakai jasa
dapat melayani kepentingan
seharusnya tidak profesional mereka.
publik, menghormati
membiarkan bias,
kepercayaan publik, dan
konflik kepentingan, 2. Kepentingan Publik
menunjukkan komitmen
atau pengaruh yang
terhadap profesionalisme.
berlebihan dari orang Setiap anggota berkewajiban
lain untuk untuk senantiasa bertindak
mengesampingkan c. Integritas dalam kerangka pelayanan
penilaian kepada publik, mengormati
professional atau Untuk mempertahankan dan kepercayaan publik, dan
bisnis. memperluas kepercayaan menunjukkan komitmen atas
masyarakat, anggota harus profesionalisme.
c) Kompetensi melakukan semua tanggung
professional dan jawab professional dengan Kepentingan publik
Kesungguhan integritas tertinggi. didefinisikan sebagai
kepentingan masyarakat dan
Seorang akuntan d. Objectivitas dan institusi yang dilayani
professional Independensi anggota secara keseluruhan.
mempunyai tugas
yang Seorang anggota harus 3. Integritas
berkesinambungan mempertahankan objectivitas
untuk senantiasa dan bebas dari konflik Integritas adalah suatu satu
menjaga kepentingan dalam kesatuan yang mendasari
penghetahuan dan melaksanakan tanggung jawab munculnya pengakuan
skil professional professional. Seorang anggota profesional. Integritas
pada tingkat yang dalam praktik publik harus merupakan kualitas yang
diperlukan untuk independen dalam penyajian mendasari kepercayaan
memastikan bahwa fakta dan tampilan ketika publik dan merupakan
klien atau atasan memberikan layanan audit dan standar bagi anggota dalam
menerima jasa jasaatestasi lainnya. menguji semua keputusan
professional yang yang diambilnya.
kompeten e. Due Care
berdasarkan Untuk memelihara dan
perkembangan Seorang anggota harus meningkatkan kepercayaan
terkini dalam mematuhi standar teknis dan publik, setiap anggota harus
praktik, legislasi dan etis profesi, berusaha terus menjaga tingkat
teknis. Seorang menerus untuk menigkatkan integritasnya dengan terus
akuntan professional kompetensi dan layanan dalam memaksimalkan kinerjanya
harus bertindak melaksanakan tanggung jawab serta mematuhi apa yang
tekun dan sesuai professional dengan telah menjadi tanggung
dengan standar kemampuan terbaik yang jawabnya.
teknis dan dimiliki anggota.
professional yang 4. Objektivitas
berlaku dalam f. Sifat dan Cakupan Layanan
memberikan layanan Objektivitas adalah suatu
professional. Seorang anggota dalam praktik kualitas yang memberikan
publik harus memerhatikan nilai atas jasa yang
d) Kerahasiaan Prinsip-prinsip dari Kode Etik diberikan anggota
Profesional dalam menentukan berdasarkan apa yang telah
Seorang akuntan lingkup dan sifat jasa yang pemberi nilai dapatkan.
professional harus akan disediakan. Prinsip objektivitas
menghormati mengharuskan anggota
kerahasian informasi bersikap adil, tidak
yang diperoleh memihak, jujur, secara
sebagai hasil dari intelektual, tidak
hubungan bisnis berprasangka atau bias, serta
professional dan bebas dari benturan
bisnis tidak boleh kepentingan atau berada di
mengungkapkan bawah pengaruh pihak lain.
informasi tersebut
kepada pihak ketiga, 5. Kompetensi dan Kehati-
tanpa otoritas yang hatian Profesional
tepat dan spesifik
kecuali ada hak Kompetensi diperoleh
hukum atau melalui pendidikan dan
professional atau pengalaman. Anggota tidak
kewajiban untuk diperkenankan
mengungkapkan. menggambarkan
Informasi rahasi pengalaman kehandalan
yang diperoleh kompetensi atau
sebagai hasil dari pengalaman yang belum
hubungan bisnis anggota kuasai atau belum
professional anggota alami. Kompetensi
seharusnya tidak profesional dapat dibagi
boleh digunakan menjadi 2 fase yang
untuk kepentingan terpisah:
pribadi para akuntan
professional atau a. Pencapaian Kompetensi
pihak ketiga. Profesional.

e) Perilaku Pencapaian ini pada


Profesional awalnya memerlukan
standar pendidikan umum
Seorang akuntan yang tinggi, diikuti oleh
professional harus pendidikan khusus,
patuh pada hukum pelatihan dan ujian
dan peraturan- profesional dalam subjek-
peraturan terkait dan subjek yang relevan. Hal ini
seharusnya menjadi pola pengembangan
menghindari yang normal untuk anggota.
tindakan yang bisa
mendeskreditkan b. Pemeliharaan Kompetensi
profesi. Profesional.

Kompetensi harus dipelihara


dan dijaga melalui
komitmen, pemeliharaan
kompetensi profesional
memerlukan kesadaran
untuk terus mengikuti
perkembangan profesi
akuntansi, serta anggotanya
harus menerapkan suatu
program yang dirancang
untuk memastikan
terdapatnya kendali mutu
atas pelaksanaan jasa
profesional yang konsisten.

6. Kerahasiaan

Dalam kegiatan umum


auditor merupakan
memeriksa beberapa yang
seharusnya tidak boleh
orang banyak tahu, namun
demi
keprofesionalitasannya, para
auditor wajib menjaga
kerahasiaan para klien yang
diauditnya. Setiap anggota
harus menghormati
kerahasiaan informasi yang
diperoleh selam melakukan
jasa profesional dan tidak
boleh memakai atau
mengungkapkan informasi
tersebut tanpa persetujuan.
Anggota mempunyai
kewajiban untuk
memastikan bahwa staff di
bawah pengawasannya dan
orang- orang yang diminta
nasihat dan bantuannya
menghormati prinsip
kerahasiaan.

7. Perilaku Profesional

Kewajiban untuk
menghindari perbuatan atau
tingkah laku yang dapat
mendiskreditkan atau
mengurangi tingkat profesi
harus dipenuhi oleh anggota
sebgai perwujudan tanggung
jawabnya kepada penerima
jasa, pihak ketiga, anggota
yang lain, staff, pemberi
kerja dan masyarakat umum.

8. Standar Teknis

Setiap anggota harus


melaksanakan
profesionalitasnya sesuai
dengan standar teknis dan
standar professional yang
ditetapkan secara relevan.
Standar teknis dan standar
professional yang harus
ditaati anggota adalah
standar yang dikeluarkan
oleh IAI, International
Federation of Accountants,
badan pengatur, dan
peraturan perundang-
undangan yang relevan
Interprestasi Etika

Dalam prakteknya
tak ada etika yang
Interpretasi Aturan Etika
mutlak. Standar etika
merupakan interpretasi yang
pun berbeda-beda
dikeluarkan oleh Badan
pada sebuah
yang dibentuk oleh
komunitas sosial, Interprestasi Peraturan
Himpunan setelah
tergantung budaya, Perilaku (Interpretations of
memperhatikan tanggapan
norma,dan nilai-nilai The Rules of Conduct) yang
interpretasi dari anggota, dan pihak-
yang dianut oleh menyediakan pedoman tentang
pihak berkepentingan
komunitas tersebut. lingkup dan penerapan
lainnya, sebagai panduan
Baik itu komunitas peraturan-peraturan spesifik.
dalam penerapan Aturan
dalam bentuknya
Etika, tanpa dimaksudkan
sebagai sebuah
untuk membatasi lingkup
kawasan regional,
dan penerapannya.
negara,agama,
maupun komunitas
group. Tidak ada
etika yang universal.

Perbandingan Kode Etik Profesi Akuntansi


Keterangan IFAC AICPA IAI

Pengertian Kode etik yang disusun American Kode Etik Ikatan


oleh SPAP adalah kode Institute Akuntan Publik Akuntan Indonesia
etik International (AICPA) adalah asosiasi dimaksudkan sebagai
Federations of nasional profesi panduan dan aturan
Accountants (IFAC) yang Akuntan Publik (CPA) di bagi seluruh anggota,
diterjemahkan, jadi Amerika Serikat , baik yang berpraktik
kode etik ini bukan dengan lebih dari sebagai akuntan publik,
merupakan hal yang 360.000 anggota, bekerja di lingkungan
baru kemudian termasuk CPA dalam dunia usaha, pada
disesuaikan dengan bisnis dan industri, instansi pemerintah,
IFAC, tetapi mengadopsi praktek umum, maupun di lingkungan
dari sumber IFAC. Jadi pemerintah, dan dunia pendidikan dalam
tidak ada perbedaaan pendidikan; siswa pemenuhan tanggung-
yang signifikan antara afiliasi; dan asosiasi jawab profesionalnya.
kode etik SAP dan IFAC. internasional. AICPA
memiliki kantor di New
IFAC (International York City ; Washington,
Federation of DC ; Durham, NC ;
Accountans) adalah Ewing, NJ ; and
organisasi global untuk Lewisville, TX . The
profesi akuntansi. IFAC AICPA memiliki kantor di
berkomitmen untuk
New York City ,
melindungi kepentingan Washington, DC ,
umum dengan Durham, NC ; Ewing, NJ ,
mengembangkan
dan Lewisville, TX .
standar internasional
menjadi berkualitas The AICPA
tinggi, mempromosikan merupakan profesi
nilai-nilai etika secara nasional dalam
intensive, mendorong menghadapi aturan
kualitas prakteknya dan pembuatan, penetapan
mendukung standar dan badan-
pembangunan di segala badan legislatif,
bidang profesi di kelompok-kelompok
seluruh dunia. kepentingan umum,
negara BPA masyarakat,
Kode etik ini meliputi dan organisasi
dalam tiga bagian: profesional lainnya. The
Bagian A adalah bagian AICPA's proactive
yang menetapkan communications
prinsip-prinsip dasar program is designed to
etika untuk akuntan dan inform regulators,
menyediakan kerangka legislators, the public,
kerja konseptual untuk and others of the varied
menerapkan prinsip- roles and functions of
prinsip tersebut. CPAs in society. proaktif
The AICPA's Komunikasi
Kerangka kerja Program ini dirancang
konseptual untuk untuk
menerapkan prinsip- menginformasikan
prinsip tersebut. regulator, legislatif,
Kerangka kerja masyarakat, dan lain-
konseptual lain bervariasi peran dan
menyediakan kerja fungsi CPA dalam
konseptual guna masyarakat.
mengidentifikasi
ancaman terhadap The AICPA's didirikan
kepatuhan prinsip- pada tahun 1887
prinsip dasar etika, sebagai profesi yang
untuk mengevaluasi dibedakan dengan
pengaruh signifikan dari persyaratan pendidikan
ancaman-ancaman itu yang ketat, standar
dan menerapkan profesional yang tinggi,
perlindungan untuk ketat kode etik
mengurangi ancaman- profesional, status
ancaman hingga lisensi, dan komitmen
ketingkat yang dapat untuk melayani
diterima. kepentingan public.

Bagian B dan C
menggambarkan
bagaimana kerangka
kerja konseptual
diterapkan dalam situasi
khusus. Kerangka kerja
konseptual
mengandung contoh
penjagaan terhadap
prinsip-prinsip dasar,
dan juga mengandung
contoh situasi dimana
penjagaan keamanan
tidak tersedia, sehingga
tercipta ancaman-
ancaman yang
seharusnya bias
dihindari

Bagian B diterapkan
profesi akuntansi dalam
praktek untuk
kepentingan publik.

Bagian C diterapkan
profesi akuntan dalam
praktek untuk dunia
bisnis. Dalam praktek
profesi akuntan untuk
kepentingan publik
mungkin juga
ditemukan tuntunan
kode etik bagian C yang
relevan dengan kondisi
mereka sebenarnya

Prinsip 1. Integritas, 1. Tanggung Prinsip Pertama -


seorang Jawab, seorang Tanggung Jawab Prolesi
akuntan harus akuntan sebagai
memiliki sikap profesional, Dalam melaksanakan
yang tegas dan harus tanggung-jawabnya
jujur dalam menerapkan sebagai profesional
semua nilai moral serta
setiap anggota harus
hubungan bisnis bertanggung-
profesional. jawab di setiap senantiasa
pelayanannya. menggunakan
2. Objektivitas, pertimbangan moral
seorang 2. Kepentingan dan profesional dalam
akuntan Umum, seorang semua kegiatan yang
melakukan akuntan harus dilakukannya.
tugasnya sesuai menerima
dengan objek kewajibannya Prinsip Kedua -
tidak untuk melayani Kepentingan Publik
memandang publik,
subjek yang ia menghormati Setiap anggota
sedang kepercayaan berkewajiban untuk
melakukan publik, dan
senantiasa bertindak
penilaian secara menunjukan
independen. komitmen dalam kerangka
terhadap pelayanan kepada
3. Kompetensi profesionalisme. publik, menghormati
profesional dan 3. Integritas, selalu kepercayaan publik, dan
Kesungguhan, mempertahanka menunjukkan
seorang n dan
komitmen atas
akuntan harus memperluas
kepercayaan profesionalisme.
berkompeten
dan senantiasa publik
Prinsip Ketiga
menjaga ilmu terhadapnya.
pengetahuan Integritas
dan selalu 4. Objektivitas dan
Untuk memelihara dan
meningkatkan Independensi,
kemampuan seorang meningkatkan
agar dapat akuntan harus kepercayaan publik,
memberikan mempertahanka setiap anggota harus
pelayanan yang n objektibitas memenuhi tanggung
memuaskan. dan bebas dari jawab profesionalnya
konflik dengan integritas
4. Kerahasian, kepentingan
setinggi mungkin.
seoang akuntan dalam
harus selalu melaksanakan
menjaga dan tanggung Prinsip Keempat
menghormati jawabnya. Obyektivitas
kerahasiaan 5. Due Care,
atas informasi seorang Setiap anggota harus
klien yang ia akuntan harus menjaga
lakukan mematuhi obyektivitasnya dan
pelayanan. standar teknis
bebas dari benturan
5. Perilaku dan etis
profesinya, kepentingan dalam
Profesional,
seorang selalu berusaha pemenuhan kewajiban
akuntan harus terus-menerus profesionalnya.
taat akan untuk
hukum dan meningkatkan Prinsip Kelima -
dilarang kompetensi Kompetensi dan
melakukan hal- yang Kehati-hatian
hal yang dimilikinya. Profesional
membuat nama 6. Sifat dan
akuntan buruk. Cakupan Setiap anggota harus
Layanan, melaksanakan jasa
seorang profesionalnya tkngan
akuntan harus
kehati-hatian,
memperhatikan
prinsip-prinsip kompetensi dan
dari kode etik ketekunan, serta
profesional mempunyai kewajiban
dalam untuk mempertahankan
menentukan pengetahuan dan
lingkup dan sifat
keterampilan
jasa yang akan
disediakan. profesional pada tingkat
yang diperlukan untuk
memastikan bahwa
klien atau pemberi kerja
memperoleh matifaat
dari jasa profesional
yang kompeten
berdasarkan
perkembangan praktik,
legislasi dan teknik yang
paling mutakhir.

Prinsip Keenam -
Kerahasiaan

Setiap anggota harus,


menghormati
leerahasiaan informas
iyang diperoleh selama
melakukan jasa
profesional dan tidak
boleh memakai atau
mengungkapkan
informasi tersebut
tanpa persetujuan,
kecuali bila ada hak
atau kewajiban
profesional atau hukum
untuk
mengungkapkannya

Prinsip Ketujuh -
Perilaku Profesional
Setiap anggota harus
berperilaku yang
konsisten dengan
reputasi profesi yang
baik dan menjauhi
tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi

Prinsip Kedelapan -
Standar Teknis

Setiap anggota harus


melaksanakan jasa
profesionalnya sesuai
dengan standar teknis
dan standar proesional
yang relevan. Sesuai
dengan keahliannya dan
dengan berhati-hati,
anggota mempunyai
kewajiban untuk
melaksanakan
penugasan dari
penerima jasa selama
penugasan tersebut
sejalan dengan prinsip
integritas dan
obyektivitas.
Interprestasi IntInterprestasi Etika Interprestasi Peraturan Interpretasi Aturan
Dalam prakteknya Perilaku (Interpretations Etika merupakan
tak ada etika yang of The Rules of Conduct) interpretasi yang
mutlak. Standar etika yang menyediakan dikeluarkan oleh Badan
pun berbeda-beda pada pedoman tentang yang dibentuk oleh
sebuah komunitas lingkup dan penerapan Himpunan setelah
sosial, tergantung peraturan-peraturan memperhatikan
budaya, norma,dan spesifik. tanggapan dari anggota,
nilai-nilai yang dianut dan pihak-pihak
oleh komunitas berkepentingan lainnya,
tersebut. Baik itu sebagai panduan dalam
komunitas dalam penerapan Aturan Etika,
bentuknya sebagai tanpa dimaksudkan
sebuah kawasan untuk membatasi
regional, negara,agama, lingkup dan
maupun komunitas penerapannya.
group. Tidak ada etika
yang universal.

Konvergensi PSAK & IFRS


Standar Akuntansi Keuangan
Akuntansi memiliki kerangka teori konseptual yang menjadi dasar pelaksanaan teknik-tekniknya, kerangka dasar konseptual ini terdiri dari
standar (teknik,prinsip) dan praktik yang sudah diterima oleh umum karena kegunaannya dan kelogisannya. Standar itu disebut standar
akuntansi, di Indonesia berlaku Prinsip Akuntansi Indonesia kemudian diganti menjadi Standar Akuntansi Keuangan (SAK) Indonesia
kemudian menjadi Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK). Sedangkan di USA berlaku General Accepted Accounting Principle
(GAAP), kemudian Accounting Principle Board Statement (APBS), dan terakhir menjadi FASB Statement. SAK merupakan pedoman bagi
siapa saja dalam menyusun laporan keuangan yang akan diterima oleh umum.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) digunakan untuk entitas yang memiliki akuntabilitas publik yaitu entitas terdaftar atau dalam proses
pendaftaran di pasar modal atau entitas fidusia (yang menggunakan dana masyarakat seperti asuransi, perbankan dan dana pensiun).
Standar ini mengadopsi IFRS mengingat Indonesia, melalui IAI, telah menetapkan untuk melakukan adopsi penuh IFRS mulai tahun 2012.
SAK disusun oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) yang dibentuk oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).

Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia

Terdapat tiga tonggak sejarah dalam pengembangan standar akuntansi di Indonesia (Ahmadi Hadibroto)

1. Menjelang diaktifkan Pasar Modal pada tahun 1973, dibentuk cikal bakal badan penyusun standar akuntansi yang menghasilkan Prinsip
Akuntansi Indonesia (PAI)
2. Komite PAI yang dibentuk tahun 1974 melakukan revisi mendasar PAI 73 untuk menyesuaikan ketentuan akuntansi dengan dunia usaha.
Hasil revisi ini dikodifikasi dalam Prinsip Akuntansi Indonesia 1984
3. Pada tahun 1994, komite PAI melakukan revisi total terhadap PAI 1984. hasil revisi ini dikodifikasi dalam Standar Akuntansi Keuangan
(SAK) per 1 Oktober 1994
4. Selanjutnya periode 1994-1998, nama komite PAI diubah menjadi komite Standar Akuntansi Indonesia (SAK). Mulai 1994, IAI memutuskan
untuk melakukan harmonisasi dengan standar akuntansi internasional dengan melakukan revisi dua kali SAK 1994, yaitu pada 1 Oktober
1995 dan 1 Juni 1996
5. Pada periode 1998-2002, DSAK yang menggantikan komite SAK, melakukan dua kali revisi PSAK, yaitu revisi per 1 Juni 1999 dan 1 April
2002.
Standar Akuntansi Keuangan Yang Disahkan Selama Tahun 2015

Sepanjang tahun 2015, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) telah mengesahkan penyesuaian dan
amandemen atas beberapa Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK), dan serta mengesahkan Interpretasi Standar Akuntansi
Keuangan (ISAK) sebagai berikut:

Pengesahan Amandemen PSAK Tahun 2015

No ISAK/ Ikhtisar Ringkas Tanggal Tanggal Efektif


Amandemen PSAK Pengesahan

1 Amandemen PSAK 1: Exposure Draft Amandemen PSAK 28 Oktober Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
Penyajian Laporan 1: Penyajian 2015 dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari
Keuangan tentang Prakarsa Laporan Keuangan tentang Prakarsa 2017 dan penerapan dini diperkenankan.
Pengungkapan Pengungkapan telah disahkan
menjadi Amandemen PSAK
1: Penyajian Laporan
Keuangan tentang Prakarsa
PengungkapanAmandemen PSAK 1
memberikan klarifikasi terkait
penerapan persyaratan materialitas,
fleksibilitas urutan sistematis catatan
atas laporan keuangan dan
pengidentifikasian kebijakan
akuntansi signifikan.

Amandemen PSAK 1 ini juga


mengakibatkan amandemen
terhadap PSAK (consequential
amendment) sebagai berikut:
PSAK 3: Laporan
Keuangan Interim
PSAK 5: Segmen
Operasi
PSAK 60: Instrumen
Keuangan: Pengungkapan
PSAK 62: Kontrak
Asuransi

2 Amandemen PSAK 4:Laporan Exposure Draft Amandemen PSAK 18 Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
Keuangan 4: Laporan Keuangan Nopember dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016 secara
Tersendiri tentangMetode Tersendiri tentang Metode Ekuitas 2015 retrospektif.
Ekuitas dalam Laporan dalam Laporan Keuangan
Keuangan Tersendiri Tersendiri telah disahkan menjadi
Amandemen PSAK 4:Laporan
Keuangan
Tersendiri tentang Metode Ekuitas
dalam Laporan Keuangan
Tersendiri.Amandemen PSAK 4
memperkenankan penggunaan
metode ekuitas sebagai salah satu
metode pencatatan investasi pada
entitas anak, ventura bersama dan
entitas asosiasi dalam laporan
keuangan tersendiri entitas tersebut.

3 Amandemen PSAK Exposure Draft Amandemen PSAK 18 Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
15:Investasi Pada Entitas 15: Investasi Pada Entitas Asosiasi Nopember dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016.
Asosiasi dan Ventura dan Ventura 2015
Bersama tentangEntitas Bersama tentang Entitas Investasi:
Investasi: Penerapan Penerapan Pengecualian
Pengecualian Konsolidasi Konsolidasi telah disahkan menjadi
Amandemen PSAK 15: Investasi
Pada Entitas Asosiasi dan Ventura
Bersama tentangEntitas Investasi:
Penerapan Pengecualian
Konsolidasi.Amandemen PSAK 15
ini memberikan klarifikasi pada
paragraf 36A tentang pengecualian
konsolidasi untuk entitas investasi
ketika kriteria tertentu terpenuhi.

4 Amandemen PSAK 16:Aset Exposure Draft Amandemen PSAK 28 Oktober Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
Tetap tentangKlarifikasi 16: Aset Tetap tentang Klarifikasi 2015 dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016 secara
Metode yang Diterima untuk Metode yang Diterima untuk prospektif.
Penyusutan dan Amortisasi Penyusutan dan Amortisasi telah
disahkan menjadi Amandemen
PSAK 16: Aset
Tetap tentang Klarifikasi Metode
yang Diterima untuk Penyusutan dan
Amortisasi.Amandemen PSAK 16
memberikan tambahan penjelasan
tentang indikasi perkiraan
keusangan teknis atau komersial
suatu aset. Amandemen PSAK 16
ini juga mengklarifikasi bahwa
penggunaan metode penyusutan
yang berdasarkan pada pendapatan
adalah tidak tepat.

5 Amandemen PSAK Amandemen PSAK 16 16 Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
16:Agrikultur: Tanaman Produktif mengklarifikasi bahwa aset biologis Desember dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari
yang memenuhi definisi tanaman 2015 2018 sesuai dengan PSAK 25:Kebijakan
produktif (bearer plants) masuk Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi dan
dalam ruang lingkup PSAK 16: Aset Kesalahan. Penerapan dini diperkenankan.
Tetap. Definisi, pengakuan dan Entitas mengungkapkan fakta tersebut jika
pengukuran tanaman produktif menerapkan opsi penerapan dini.
mengikuti persyaratan yang ada
dalam PSAK 16: Aset Tetap.

6 Amandemen PSAK 19:Aset Exposure Draft Amandemen PSAK 28 Oktober Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
Takberwujudtentang Klarifikasi 19: Aset 2015 dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016 secara
Metode yang Diterima untuk Takberwujud tentang Klarifikasi prospektif.
Penyusutan dan Amortisasi Metode yang Diterima untuk
Penyusutan dan Amortisasi telah
disahkan menjadi Amandemen
PSAK 19: Aset
Takberwujud tentang Klarifikasi
Metode yang Diterima untuk
Penyusutan dan
Amortisasi.Amandemen PSAK 19
memberikan klarifikasi tentang
anggapan bahwa pendapatan
adalah dasar yang tidak tepat dalam
mengukur pemakaian manfaat
ekonomi aset takberwujud dapat
dibantah dalam keadaan terbatas
tertentu.

7 Amandemen PSAK 24:Imbalan Exposure Draft Amandemen PSAK 28 Oktober Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
Kerja tentangProgram Imbalan 24: Imbalan Kerja tentang Program 2015 dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016 secara
Pasti: Iuran Pekerja Imbalan Pasti: Iuran Pekerja telah retrospektif.
disahkan menjadi Amandemen
PSAK 24: Imbalan
Kerja tentang Program Imbalan
Pasti: Iuran Pekerja.Amandemen
PSAK 24 ini menyederhanakan
akuntansi untuk kontribusi iuran dari
pekerja atau pihak ketiga yang tidak
bergantung pada jumlah tahun jasa,
misalnya iuran pekerja yang dihitung
berdasarkan persentase tetap dari
gaji.

8 Amandemen PSAK 65:Laporan Exposure Draft Amandemen PSAK 18 Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
Keuangan 65: Laporan Keuangan Nopember dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016.
Konsolidasian tentangEntitas Konsolidasian tentang Entitas 2015
Investasi: Penerapan Investasi: Penerapan Pengecualian
Pengecualian Konsolidasi Konsolidasitelah disahkan menjadi
Amandemen PSAK 65
tentang Entitas Investasi: Penerapan
Pengecualian
Konsolidasi.Amandemen PSAK 65
ini mengklarifikasi tentang
pengecualian konsolidasi untuk
entitas investasi ketika kriteria
tertentu terpenuhi.

9 Amandemen PSAK Exposure Draft Amandemen PSAK 18 Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
66:Pengaturan 66:Pengaturan Nopember dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016 secara
Bersamatentang Akuntansi Bersama tentang Akuntansi Akuisisi 2015 prospektif.
Akuisisi Kepentingan dalam Kepentingan dalam Operasi
Operasi Bersama Bersama telah disahkan menjadi
Amandemen PSAK 66:Pengaturan
Bersama tentang Akuntansi Akuisisi
Kepentingan dalam Operasi
Bersama.Amandemen PSAK 66
mensyaratkan bahwa seluruh prinsip
kombinasi bisnis dalam PSAK
22: Kombinasi Bisnis dan PSAK lain
beserta persyaratan
pengungkapannya diterapkan untuk
akuisisi pada kepentingan awal
dalam operasi bersama dan untuk
akuisisi kepentingan tambahan
dalam operasi bersama, sepanjang
tidak bertentangan dengan pedoman
yang ada dalam PSAK 66.

10 Amandemen PSAK Exposure Draft Amandemen PSAK 18 Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
67:Pengungkapan 67:Pengungkapan Kepentingan Nopember dimulai pada atau setelah 1 Januari 2016.
Kepentingan Dalam Entitas Dalam Entitas Laintentang Entitas 2015
Lain tentangEntitas Investasi: Investasi: Penerapan Pengecualian
Penerapan Pengecualian Konsolidasi telah disahkan menjadi
Konsolidasi Amandemen PSAK
67: Pengungkapan Kepentingan
Dalam Entitas Lain tentang Entitas
Investasi: Penerapan Pengecualian
Konsolidasi.Amandemen PSAK 67
ini mengklarifikasi tentang
pengecualian konsolidasi untuk
entitas investasi ketika kriteria
tertentu terpenuhi.

11 PSAK 69 : Agrikultur PSAK 69 mengatur bahwa aset 16 Berlaku efektif untuk periode tahun buku yang
biologis atau produk agrikultur diakui Desember dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari
saat memenuhi beberapa kriteria 2015 2018 dan dicatat sesuai dengan PSAK
yang sama dengan kriteria 25: Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi
pengakuan aset. Aset tersebut Akuntansi, dan Kesalahan. Penerapan dini
diukur pada saat pengakuan awal diperkenankan. Entitas mengungkapkan fakta
dan pada setiap akhir periode tersebut jika menerapkan opsi penerapan dini.
pelaporan keuangan pada nilai wajar
dikurangi biaya untuk menjual.
Selisih yang timbul dari perubahan
nilai wajar aset diakui dalam laba
rugi periode terjadinya.
Pengecualian diberikan apabila nilai
wajar secara jelas tidak dapat diukur
secara andal.PSAK 69 memberikan
pengecualian untuk aset produktif
yang dikecualikan dari ruang
lingkup. Pengaturan akuntansi aset
produktif tersebut mengacu ke PSAK
16: Aset Tetap. PSAK 69 tidak
mengatur tentang pemrosesan
produk agrikultur setelah masa
panen. Sebagai contoh, pemrosesan
buah anggur menjadi minuman
anggur (wine) dan wol menjadi
benang.

Pengelompokan Standar Akuntansi

6. Standar Akuntansi Keuangan (SAK)


7. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK-ETAP)
8. Standar Akuntansi Syariah
9. Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)

Standar Pelaporan Keuangan Internasional


Standar Pelaporan Keuangan Internasional (International Financial Reporting Standards (IFRS) adalah Standar dasar, Pengertian dan
Kerangka Kerja (1989) yang diadaptasi oleh Badan Standar Akuntansi Internasional (International Accounting Standards Board (IASB)).

Sejumlah standar yang dibentuk sebagai bagian dari IFRS dikenal dengan nama terdahulu Internasional Accounting Standards (IAS). IAS
dikeluarkan antara tahun 1973 dan 2001 oleh Badan Komite Standar Akuntansi Internasional (bahasa Inggris:Internasional Accounting
Standards Committee (IASC)). Pada tanggal 1 April 2001, IASB baru mengambil alih tanggung jawab gunan menyusun Standar Akuntansi
Internasional dari IASC. Selama pertemuan pertamanya, Badan baru ini mengadaptasi IAS dan SIC yang telah ada. IASB terus
mengembangkan standar dan menamai standar-standar barunya dengan nama IFRS.

Struktur IFRS
IFRS dianggap sebagai kumpulan standar dasar prinsip yang kemudian menetapkan peraturan badan juga mendikte penerapan-penerapan
tertentu.
Standar Laporan Keuangan Internasional mencakup:

10. Peraturan-peraturan Standar Laporan Keuangan Internasional (bahasa Inggris:Internasional Financial Reporting Standards (IFRS)) -
dikeluarkan setelah tahun 2001
11. Peraturan-peraturan Standar Akuntansi Internasional (bahasa Inggris: International Accounting Standards (IAS)) -dikeluarkan sebelum
tahun 2001
12. Interpretasi yang berasal dari Komite Interpretasi Laporan Keuangan Internasional(bahasa Inggris:International Financial Reporting
Interpretations Committee (IFRIC)) -dikelularkan setelah tahun 2001
13. Standing Interpretations Committee (SIC)dikeluarkan sebelum tahun 2001
14. Kerangka Kerja untuk Persiapan dan Presentasi Laporan Keuangan (1989) (bahasa Inggris: Framework for the Preparation and
Presentation of Financial Statements (1989))

Pada bulan Desember 2008, Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) telah mencanangkan konvergensi PSAK ke IFRS secara penuh pada tahun 2012.
Sejak tahun 2009, Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK-IAI) melaksanakan program kerja terkait dengan
proses konvergensi tersebut sampai dengan tahun 2011.

Ditargetkan bahwa pada tahun 2012, seluruh PSAK tidak memiliki beda material dengan IFRS yang berlaku per 1 Januari 2009. Setelah
tahun 2012, PSAK akan di-updatesecara terus-menerus seiring adanya perubahan pada IFRS. Bukan hanya mengadopsi IFRS yang sudah
terbit, DSAK-IAI juga bertekad untuk berperan aktif dalam pengembangan standar akuntansi dunia.

International Financial Reporting Standards (IFRS) memang merupakan kesepakatan global standar akuntansi yang didukung oleh banyak
negara dan badan-badan internasional di dunia. Popularitas IFRS di tingkat global semakin meningkat dari waktu ke waktu. Kesepakatan G-
20 di Pittsburg pada tanggal 24-25 September 2009, misalnya, menyatakan bahwa otoritas yang mengawasi aturan akuntansi internasional
harus meningkatkan standar global pada Juni 2011 untuk mengurangi kesenjangan aturan di antara negara-negara anggota G-20.

Terlepas dari trend pengadopsian IFRS tersebut, adalah suatu keharusan bagi kita untuk mempertanyakan secara kritis, apa sesungguhnya
hakikat dari konvergensi. Melalui partisipasi global, IFRS memang diharapkan menjadi standar akuntansi berbasis teori dan prinsip yang
memiliki kualitas tinggi. Penerapan standar akuntansi yang sama di seluruh dunia juga akan mengurangi masalah-masalah terkait daya
banding (comparability) dalam pelaporan keuangan. Yang paling diuntungkan sudah jelas, investor dan kreditor trans-nasional serta badan-
badan internasional.

Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) adalah kumpulan dari standar akuntansi yang dikembangkan oleh Badan Standar
Akuntansi Internasional (IASB) yang menjadi standar global untuk penyusunan laporan keuangan perusahaan publik.

Terdiri dari 15 anggota dari sembilan negara, termasuk Amerika Serikat. The IASB mulai beroperasi pada tahun 2001 ketika ia menggantikan
Komite Standar Akuntansi Internasional. Hal ini didanai oleh kontribusi dari perusahaan-perusahaan akuntansi yang besar, lembaga-lembaga
keuangan swasta dan perusahaan-perusahaan industri, pusat dan bank pembangunan, rezim pendanaan nasional, dan internasional lainnya
serta organisasi profesional di seluruh dunia. Sementara AICPA adalah anggota pendiri Komite Standar Akuntansi Internasional, para
pendahulu IASB organisasi, tidak berafiliasi dengan IASB. IASB tidak sponsor yang mendukung maupun yang sumber daya AICPAs IFRS
website (http://www.IFRS.com).

Sekitar 117 negara memerlukan izin atau terdaftar domestik IFRS untuk perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan yang terdaftar di Uni
Eropa. Negara-negara lain, termasuk Kanada dan India, diharapkan untuk transisi ke IFRS pada tahun 2011. Meksiko berencana untuk
mengadopsi IFRS untuk semua perusahaan yang terdaftar mulai tahun 2012. Beberapa memperkirakan bahwa jumlah negara-negara yang
memerlukan atau menerima IFRS bisa tumbuh hingga 150 dalam beberapa tahun mendatang. Jepang telah memperkenalkan sebuah peta
jalan untuk adopsi itu akan memutuskan pada tahun 2012 (dengan adopsi direncanakan untuk 2016). Negara-negara lain masih memiliki
rencana untuk berkumpul (menghilangkan perbedaan signifikan) standar nasional mereka dengan IFRS.

Banyak orang percaya bahwa penerimaan IFRS di Amerika Serikat oleh SEC untuk perusahaan publik adalah niscaya. Selama bertahun-
tahun, SEC telah menyatakan dukungannya untuk seperangkat inti standar akuntansi yang dapat berfungsi sebagai kerangka kerja untuk
pelaporan keuangan dalam penawaran lintas batas, dan telah mendukung upaya dari Dewan Standar Akuntansi Keuangan (FASB) dan IASB
untuk mengembangkan suatu set umum berkualitas tinggi standar global. November 14, 2008, SEC mengeluarkan komentar publik peta jalan
yang mengusulkan transisi bertahap untuk wajib adopsi IFRS oleh perusahaan publik AS. Pada tahun 2009, krisis keuangan di SEC
memfokuskan kembali prioritas lain. Namun, belakangan pernyataan dari pejabat SEC, termasuk kepala akuntan James Kroeker,
menunjukkan bahwa Komisi akan memberikan kejelasan pada niat untuk IFRS pada akhir tahun. Selain itu, rancangan SEC Lima Tahun
Rencana Strategis termasuk komitmen untuk standar global.

Tujuan Mengkonvergensi IFRS

IFRS (International Financial Reporting Standar) yang akan digunakan sebagai standar akuntansi secara Internasional dan diterapkan atau
digunakan oleh setiap Negara yang bertujuan untuk mengharmonisasikan standar akuntansi Internasional. Saat ini pembuatan dari SAK
(Standar Akuntansi Keuangan) mengacu pada FASB (Financial Accounting Standads Board) yang berada di Amerika Serikat, karena kiblat
dari ilmu akuntansi yang ada di Indonesia saat ini berada di Amerika Serikat. Jadi selama ini standar akuntansi di Indonesia tidak jauh
berbeda isinya dengan yang digunakan oleh Amerika. Sedangkan pada tahun 2011 akan dilakukan keseragaman terhadap standar Akuntansi
di seluruh dunia, yaitu menggunakan standar akuntansi IFRS(International Financial Reporting Standar). Mau tidak mau Indonesia harus
mengikuti perubahan yang akan dilakukan dunia yaitu mengganti standar akuntansi yang digunakan dengan standar akuntansi dunia. Oleh
sebab itu, peran dari I.A.I sangat dibutuhkan setipa perusahaan dan pemerintah untuk melakukan perubahan standar akuntansi di Indonesia.

IFRS adalah standar akuntansi secara Internasional dan akan diterapakan oleh setiap Negara pada tahun 2011. Sedangkan FASB (Financial
Accounting Standards Board) adalah lembaga swasta yang bertanggung jawab untuk membentuk standar akuntansi yang akan diterapkan di
Ameika Serikat dan SAK (Standar Akuntansi Keuangan) adalah atandar akuntansi yang digunakan olh Indonesia dan lembaga ang ditunjuk
untuk menentukan dan bertanggung jawab terhadap standar akuntansi di Indonesia ialah I.A.I (Ikatan Akuntansi Indonesia). Setiap
perusahaan harus membuat Laporan Keuangan yang berguna untuk menggambarkan kondisi keuangan perusahaan tersebut dalam jangka
waktu tertentu yang mengacu pada standar akuntansi yang digunakan oleh setiap Negara tersebut.

Upaya untuk memperkuat arsitektur keuangan global dan mencari solusi jangka panjang terhadap kurangnya transparansi informasi
keuangan, membuat IASB melakukan percepatan harmonisasi Standar Akuntansi Internasional khususnya IFRS yang dibuat oleh IASB dan
FASB (Badan Pembuat Standar Akuntansi di Amerika Serikat).

Tujuan IFRS adalah memastikan bahwa laporan keuangan dan laporan keuangan interim perusahaan untuk perioda-perioda yang dimaksud
dalam laporan keuangan tahunan, mengandung informasi berkualitas tinggi yang:
15. Transparan bagi para pengguna dan dapat dibandingkan (comparable) sepanjang periode yang disajikan
16. Menyediakan titik awal yang memadai untuk akuntansi yang berdasarkan pada IFRS.
17. Dapat dihasilkan dengan biaya yang tidak melebihi manfaat untuk para pengguna.

Perkembangan Konvergensi PSAK ke IFRS

Sesuai dengan roadmap konvergensi PSAK ke IFRS (International Financial Reporting Standart) maka saat ini Indonesia telah memasuki
tahap persiapan akhir (2011) setelah sebelumnya melalui tahap adopsi (2008 2010). Hanya setahun saja IAI (Ikatan Akuntan Indonesia)
menargetkan tahap persiapan akhir ini, karena setelah itu resmi per 1 Januari 2012 Indonesia menerapkan IFRS.

Berikut konvergensi PSAK ke IFRS yang direncanakan Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI:

Tahap Adopsi (2008-2010) Tahap Persiapan Akhir (2008-2010) Tahap Implementasi (2008-2010)

Adopsi seluruh IFRS ke PSAK Penyelesaian persiapan Penerapan PSAK berbasis IFRS
Infrastruktur yang diperlukan secara bertahap

Persiapan infrastruktur yang Penerapan secara bertahap Evaluasi dampak penerapan PSAK
diperlukan beberapa PSAK berbasis IFRS secara komprehensif

Evaluasi dan kelola dampak adopsi


terhadap PSAK yang berlaku

Keuntungan dan Kelemahan dari Mengkonvergensi IFRS


Dengan mengadopsi IFRS, suatu bisnis dapat menyajikan laporan keuangan dengan dasar yang sama sebagai pesaing asing, membuat
perbandingan lebih mudah. Selain itu, perusahaan dengan anak perusahaan di negara-negara yang memerlukan atau mengizinkan IFRS
mungkin dapat menggunakan salah satu bahasa akuntansi perusahaan-lebar.. Perusahaan-perusahaan juga mungkin perlu mengkonversi ke
IFRS jika mereka adalah anak perusahaan dari sebuah perusahaan asing yang harus menggunakan IFRS, atau jika mereka memiliki investor
asing yang harus menggunakan IFRS.. Perusahaan juga dapat merasakan manfaat dengan menggunakan IFRS jika mereka ingin
meningkatkan modal di luar negeri.

Walaupun sebuah keyakinan oleh beberapa keniscayaan penerimaan global IFRS, yang lain percaya bahwa US GAAP adalah standar emas,
dan bahwa sesuatu akan hilang dengan penerimaan penuh IFRS. Selanjutnya, emiten AS tertentu tanpa pelanggan atau operasi yang
signifikan di luar Amerika Serikat IFRS mungkin menolak karena mereka mungkin tidak memiliki pasar IFRS insentif untuk menyiapkan
laporan keuangan. Mereka mungkin percaya bahwa biaya yang signifikan terkait dengan mengadopsi IFRS lebih besar daripada manfaatnya.

Perbedaan antara Konvergensi dan Adopsi

Adopsi akan berarti bahwa SEC menetapkan jadwal tertentu ketika perusahaan publik yang terdaftar akan diperlukan untuk menggunakan
IFRS sebagai yang dikeluarkan oleh IASB.

Konvergensi berarti bahwa AS FASB dan IASB akan terus bekerja sama untuk mengembangkan kualitas tinggi, kompatibel standar akuntansi
dari waktu ke waktu. Lebih konvergensi akan membuat adopsi lebih mudah dan lebih murah dan mungkin bahkan membuat adopsi IFRS yang
tidak perlu. Pendukung adopsi, namun, percaya bahwa konvergensi saja tidak akan pernah menghilangkan semua perbedaan antara dua set
standar.

Perbandingan PSAK dengan IFRS

Jika kita bandingkan antara semua standar akuntansi yang dimiliki Indonesia dengan IFRS, dengan jelas kita temukan perbedaan kuantitas
sebagai berikut:
PSAK IFRS

S/d status 2006, PSAK s/d 2006, terdiri dari 59 S/d status 2006, terdiri 37 standar dan 20
standar dan 6 interpretasi, umumnya diadopsi dari interpretasi: 7 new standards IFRS
IAS, namun beberapa menggunakan referensi
30 standar IAS
SFAS. Dikembangkan sejak 1994 (PAI)
9 new Interpretation (IFRIC)
Ada banyak standar khusus industri (15
standar) 11 Interpretasi (SIC)

Dimulai sejak 1974 (IAS)

Lebih merupakan standar umum, hanya ada 4


standar khusus industri

1. Belum diadopsi. 1. First time adoption of IFRS 2.


Share-based payment
18. PSAK 53 belum adopsi IFRS 2, referensi
menggunakan US SFAS 123. 3. Business Combinations
19. PSAK 22 belum mengadopsi IFRS 3, referensi
4. Insurance Contract
menggunakan IAS 22 (1993).
20. PSAK 28 dan 36, belum adopsi IFRS 4, referensi 5. Non-Current Assets Held for Sale and
menggunakan US SFAS dan regulasi industri Discontinued Operations
asuransi.
21. PSAK 58 belum adopsi IFRS 5, referensi 6. Exploration for and Evaluation of Mineral

menggunakan IAS 35 (1998). Resources


22. PSAK 29 dan 33, belum adopsi IFRS 6, referensi
US SFAS dan regulasi industri 7. Financial Instruments: Disclosures
PSAK 31 dan 55, belum adopsi IFRS

7. referensi menggunaka IAS 30, US SFAS dan


regulasi industri.

Konvergensi IFRS

Menurut DSAK, pengadopsian IFRS dapat dibedakan menjadi lima tingkatan:

23. Full Adoption, pada tingkat ini suatu negara mengadopsi seluruh IFRS dan menterjemahkan word by word.
24. Adapted, mengadopsi seluruh IFRS tetapi disesuaikan dengan kondisi di suatu negara.
25. Piecemeal, suatu negara hanya mengadopsi sebagian nomor IFRS, yaitu nomor standar atau paragraf tertentu
26. Referenced, standar yang diterapkan hanya mengacu pada IFRS tertentu dengan bahasa dan paragraf yang disusun sendiri oleh badan
pembuat standar
27. Not adoption at all, suatu negara sama sekali tidak mengadopsi IFRS.

Keputusan adopsi IFRS oleh IAI akan ditentukan pada tahun 2008

Keputusan DSAK saat ini adalah mendekatkan PSAK dengan IAS/IFRS dengan membuat dua strategi:

28. Strategi selektif. Strategi ini dilakukan dengan tiga target yaitu; mengidentifikasi standar-standar yang paling penting untuk diadopsi
seluruhnya dan menentukan batas waktu penerapan standar yang diadopsi, melakukan adopsi standar selebihnya yang belum diadopsi
sambil merevisi standar yang telah ada, dan target terakhir adalah melakukan konvergensi proses penyusunan standar dengan IASB.
29. Strategi dual standard. Strategi ini dilakukan dengan menerjemahkan seluruh IFRS sekaligus dan menetapkan waktu penerapannya bagi
listed companies. Sedangkan bagi non listed companies tetap menggunakan PSAK yang telah ada.
Dalam penerapan kedua strategi tersebut harus mempertimbangkan lima hal:

30. Konvergensi standar dan proses konvergensi itu sendiri. Hal ini perlu dipertimbangkan karena DSAK belum memutuskan kapan melakukan
konvergensi.
31. Ketersediaan dana untuk penerjemahan standar.
32. Ketersediaan sumber daya manusia.
33. Ketentuan perundang-undangan di Indonesia.
34. Sosialisasi standar dan peluang moral hazards dalam penyusunan laporan keuangan.

Di Indonesia juga masih terdapat Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) yang masih mengacu pada PSAK lama. Kemungkinan besar setelah
konvergensi PSAK ke IFRS akan menyusul perubahan pada SAP.

Tidak semua standar IFRS tersebut diatas dicontek habis dan dirubah menjadi PSAK, itulah mengapa IAI memilih konvergensi dari
para adaption danadoption. Sedikit gambaran saja untuk membedakan ketiga istilah tersebut saya jelaskan dalam tabel berikut:

Perbedaan Adaption Convergence Full Adoption

Arti harafiah Adaptasi/Penyelarasan Pertemuan pada suatu titik Adopsi/pemakaian

Standar akuntansi Membuat standar yang benar Membuat standar baru Mentranslet standar lama
benar baru dengan mempertimbangkan menjadi standar baru
keadaan yang berlaku

Contoh negara Indonesia sebelum IFRS Indonesia setelah 2012 Australia, Hongkong

Alasan Perlunya Standar Akuntansi Internasional


35. Peningkatan daya banding laporan keuangan dan memberikan informasi yang berkualitas di pasar modal internasional
36. Menghilangkan hambatan arus modal internasional dengan mengurangi perbedaan dalam ketentuan pelaporan keuangan.
37. Mengurangi biaya pelaporan keuangan bagi perusahaan multinasional dan biaya untuk analisis keuangan bagi para analis.
38. Meningkatkan kualitas pelaporan keuangan menuju best practise.

Persiapan Konvergensi PSAK IFRS

39. Pertengahan Agustus 2004, Dirjen Pembinaan Akuntan dan Jasa Penilai mengundang DPN-IAI, kompartemen IAI, DSAK-IAI, DSPAP-IAI
KAP, Bapepam, KSAPPD untuk mendiskusikan kesiapan profesi akuntan melakukan konvergensi standar yang berlaku internasional.
40. Sebagai full members the International Federation of Accountant (IFAC), IAI berkewajiban memenuhi butir-butir statements of membership
obligation (SMO)diantaranya penerapan IFRS
41. Dari hasil diskusi dicapai kesepakatan bahwa penyusunan SAK tidak berubah. Penyusunan SAK mengacu ke IAS yang disesuaikan
dengan kondisi di Indonesia.

Permasalahan Yang Dihadapi Dalam Implementasi Dan Adopsi IFRS

A. Translasi Standar Internasional

Terdapat kesulitan dalam penerjemahan IFRS (bahasa Inggris) ke bahasa masing-masing negara

A. Penggunaan kalimat bahasa Inggris yang panjang


B. Ketidakkonsistenan dalam penggunaan istilah
C. Penggunaan istilah yang sama untuk menerapkan konsep yang berbeda
D. Penggunaan istilah yang tidak terdapat padanan dalam terjemahannya
E. Keterbatasan pendanaan untuk penterjemahan

B. Ketidaksesuaian Standar Internasional dengan Hukum Nasional


42. Pada beberapa negara, standar akuntansi sebagai bagian dari hukum nasional dan ditulis dalam bahasa hukum. Disisi lain, standar
akuntansi internasional tidak ditulis dengan bahasa hukum sehingga harus diubah oleh dewan standar masing-masing negara
43. Terdapat transaksi-transaksi yang diatur hukum nasional berbeda dengan yang diatur standar internasional. Misal: transaksi ekuitas untuk
perusahaan di Indonesia berbeda perlakuan untuk PT, Koperasi atau badan hukum lainnya.

C. Struktur dan Kompleksitas Standar Internasional

44. Adanya kekhawatiran bahwa standar internasional akan semakin kompleks danrules-based approach.Standar mengatur secara detil setiap
transaksi sehingga penyusun LK harus mengikuti setiap langkah pencatatan.
45. Penerapan standar sebaiknya menggunakan principles-based approach. Standar hanya mengatur prinsip pengakuan, pengukuran, dan
pencatatan suatu transaksi.

D. Frekuensi Perubahan dan Kompleksitas Standar Internasional

46. Standar akuntansi internasional perlu dipahami secara jelas sebelum diterapkan. Tentunya butuh cukup waktu bagi penyusun laporan
keuangan, auditor, dan pengguna laporan keuangan untuk memahami suatu standar akuntansi.
47. Bila standar akuntansi sering berubah-ubah maka akan sangat sulit dipahami apalagi diterapkan.
Perbandingan Kode Etik Profesi Akuntansi
Keterangan IFAC AICPA IAI

Pengertian Kode etik yang disusun American Kode Etik Ikatan


oleh SPAP adalah kode Institute Akuntan Publik Akuntan Indonesia
etik International (AICPA) adalah asosiasi dimaksudkan sebagai
Federations of nasional profesi panduan dan aturan
Accountants (IFAC) yang Akuntan Publik (CPA) di bagi seluruh anggota,
diterjemahkan, jadi Amerika Serikat , baik yang berpraktik
kode etik ini bukan dengan lebih dari sebagai akuntan publik,
merupakan hal yang 360.000 anggota, bekerja di lingkungan
baru kemudian termasuk CPA dalam dunia usaha, pada
disesuaikan dengan bisnis dan industri, instansi pemerintah,
IFAC, tetapi mengadopsi praktek umum, maupun di lingkungan
dari sumber IFAC. Jadi pemerintah, dan dunia pendidikan dalam
tidak ada perbedaaan pendidikan; siswa pemenuhan tanggung-
yang signifikan antara afiliasi; dan asosiasi jawab profesionalnya.
kode etik SAP dan IFAC. internasional. AICPA
memiliki kantor di New
IFAC (International York City ; Washington,
Federation of DC ; Durham, NC ;
Accountans) adalah Ewing, NJ ; and
organisasi global untuk Lewisville, TX . The
profesi akuntansi. IFAC AICPA memiliki kantor di
berkomitmen untuk New York City ,
melindungi kepentingan Washington, DC ,
umum dengan Durham, NC ; Ewing, NJ ,
mengembangkan
standar internasional dan Lewisville, TX .
menjadi berkualitas
tinggi, mempromosikan The AICPA
nilai-nilai etika secara merupakan profesi
intensive, mendorong nasional dalam
menghadapi aturan
kualitas prakteknya dan
mendukung pembuatan, penetapan
pembangunan di segala standar dan badan-
bidang profesi di badan legislatif,
seluruh dunia. kelompok-kelompok
kepentingan umum,
Kode etik ini meliputi negara BPA masyarakat,
dalam tiga bagian: dan organisasi
profesional lainnya. The
Bagian A adalah bagian AICPA's proactive
yang menetapkan communications
prinsip-prinsip dasar program is designed to
etika untuk akuntan dan inform regulators,
menyediakan kerangka legislators, the public,
kerja konseptual untuk and others of the varied
menerapkan prinsip- roles and functions of
prinsip tersebut. CPAs in society. proaktif
Kerangka kerja The AICPA's Komunikasi
konseptual untuk Program ini dirancang
menerapkan prinsip- untuk
prinsip tersebut. menginformasikan
Kerangka kerja regulator, legislatif,
konseptual masyarakat, dan lain-
menyediakan kerja lain bervariasi peran dan
konseptual guna fungsi CPA dalam
mengidentifikasi masyarakat.
ancaman terhadap
kepatuhan prinsip- The AICPA's didirikan
prinsip dasar etika, pada tahun 1887
sebagai profesi yang
untuk mengevaluasi
pengaruh signifikan dari dibedakan dengan
ancaman-ancaman itu persyaratan pendidikan
dan menerapkan yang ketat, standar
perlindungan untuk profesional yang tinggi,
mengurangi ancaman- ketat kode etik
ancaman hingga profesional, status
ketingkat yang dapat lisensi, dan komitmen
untuk melayani
diterima.
kepentingan public.
Bagian B dan C
menggambarkan
bagaimana kerangka
kerja konseptual
diterapkan dalam situasi
khusus. Kerangka kerja
konseptual
mengandung contoh
penjagaan terhadap
prinsip-prinsip dasar,
dan juga mengandung
contoh situasi dimana
penjagaan keamanan
tidak tersedia, sehingga
tercipta ancaman-
ancaman yang
seharusnya bias
dihindari

Bagian B diterapkan
profesi akuntansi dalam
praktek untuk
kepentingan publik.

Bagian C diterapkan
profesi akuntan dalam
praktek untuk dunia
bisnis. Dalam praktek
profesi akuntan untuk
kepentingan publik
mungkin juga
ditemukan tuntunan
kode etik bagian C yang
relevan dengan kondisi
mereka sebenarnya

Prinsip 1. Integritas, 1. Tanggung Prinsip Pertama -


seorang Jawab, seorang Tanggung Jawab Prolesi
akuntan harus akuntan sebagai
memiliki sikap profesional, Dalam melaksanakan
yang tegas dan harus tanggung-jawabnya
jujur dalam menerapkan sebagai profesional
semua nilai moral serta
setiap anggota harus
hubungan bisnis bertanggung-
jawab di setiap senantiasa
profesional. pelayanannya. menggunakan
pertimbangan moral
2. Objektivitas, 2. Kepentingan dan profesional dalam
seorang Umum, seorang semua kegiatan yang
akuntan akuntan harus
dilakukannya.
melakukan menerima
tugasnya sesuai kewajibannya
Prinsip Kedua -
dengan objek untuk melayani
tidak publik, Kepentingan Publik
memandang menghormati
Setiap anggota
subjek yang ia kepercayaan
sedang publik, dan berkewajiban untuk
melakukan menunjukan senantiasa bertindak
penilaian secara komitmen dalam kerangka
independen. terhadap pelayanan kepada
profesionalisme. publik, menghormati
3. Kompetensi 3. Integritas, selalu kepercayaan publik, dan
profesional dan mempertahanka
menunjukkan
Kesungguhan, n dan
seorang memperluas komitmen atas
akuntan harus kepercayaan profesionalisme.
berkompeten publik
dan senantiasa terhadapnya. Prinsip Ketiga
menjaga ilmu Integritas
pengetahuan 4. Objektivitas dan
dan selalu Independensi, Untuk memelihara dan
meningkatkan seorang meningkatkan
kemampuan akuntan harus kepercayaan publik,
agar dapat mempertahanka setiap anggota harus
memberikan n objektibitas memenuhi tanggung
pelayanan yang dan bebas dari
jawab profesionalnya
memuaskan. konflik
kepentingan dengan integritas
4. Kerahasian, dalam setinggi mungkin.
seoang akuntan melaksanakan
harus selalu tanggung Prinsip Keempat
menjaga dan jawabnya. Obyektivitas
menghormati 5. Due Care,
kerahasiaan seorang Setiap anggota harus
atas informasi akuntan harus menjaga
klien yang ia mematuhi obyektivitasnya dan
lakukan standar teknis bebas dari benturan
pelayanan. dan etis
kepentingan dalam
5. Perilaku profesinya,
Profesional, selalu berusaha pemenuhan kewajiban
seorang terus-menerus profesionalnya.
akuntan harus untuk
taat akan meningkatkan Prinsip Kelima -
hukum dan kompetensi Kompetensi dan
dilarang yang Kehati-hatian
melakukan hal- dimilikinya. Profesional
hal yang 6. Sifat dan
membuat nama Cakupan Setiap anggota harus
akuntan buruk. Layanan, melaksanakan jasa
seorang profesionalnya tkngan
akuntan harus
kehati-hatian,
memperhatikan
prinsip-prinsip kompetensi dan
dari kode etik ketekunan, serta
profesional mempunyai kewajiban
dalam untuk mempertahankan
menentukan pengetahuan dan
lingkup dan sifat keterampilan
jasa yang akan
profesional pada tingkat
disediakan.
yang diperlukan untuk
memastikan bahwa
klien atau pemberi kerja
memperoleh matifaat
dari jasa profesional
yang kompeten
berdasarkan
perkembangan praktik,
legislasi dan teknik yang
paling mutakhir.

Prinsip Keenam -
Kerahasiaan

Setiap anggota harus,


menghormati
leerahasiaan informas
iyang diperoleh selama
melakukan jasa
profesional dan tidak
boleh memakai atau
mengungkapkan
informasi tersebut
tanpa persetujuan,
kecuali bila ada hak
atau kewajiban
profesional atau hukum
untuk
mengungkapkannya

Prinsip Ketujuh -
Perilaku Profesional

Setiap anggota harus


berperilaku yang
konsisten dengan
reputasi profesi yang
baik dan menjauhi
tindakan yang dapat
mendiskreditkan profesi

Prinsip Kedelapan -
Standar Teknis

Setiap anggota harus


melaksanakan jasa
profesionalnya sesuai
dengan standar teknis
dan standar proesional
yang relevan. Sesuai
dengan keahliannya dan
dengan berhati-hati,
anggota mempunyai
kewajiban untuk
melaksanakan
penugasan dari
penerima jasa selama
penugasan tersebut
sejalan dengan prinsip
integritas dan
obyektivitas.

Interprestasi IntInterprestasi Etika Interprestasi Peraturan Interpretasi Aturan


Dalam prakteknya Perilaku (Interpretations Etika merupakan
tak ada etika yang of The Rules of Conduct) interpretasi yang
mutlak. Standar etika yang menyediakan dikeluarkan oleh Badan
pun berbeda-beda pada pedoman tentang yang dibentuk oleh
sebuah komunitas lingkup dan penerapan Himpunan setelah
sosial, tergantung peraturan-peraturan memperhatikan
budaya, norma,dan spesifik. tanggapan dari anggota,
nilai-nilai yang dianut dan pihak-pihak
oleh komunitas berkepentingan lainnya,
tersebut. Baik itu sebagai panduan dalam
komunitas dalam penerapan Aturan Etika,
bentuknya sebagai tanpa dimaksudkan
sebuah kawasan untuk membatasi
regional, negara,agama, lingkup dan
maupun komunitas penerapannya.
group. Tidak ada etika
yang universal.
Pelanggaran Etika Oleh Auditor
A. Pendahuluan

Dalam dunia bisnis, akuntan sangat dibutuhkan oleh entitas dalam pelaksanaan fungsi pencatatan dan pelaporan aktivitas operasionalnya.
Untuk menghasilkan laporan keuangan yang handal, dibutuhkan keterampilan dan pengetahuan yang memadai dalam memenuhi kebutuhan
informasi pihak-pihak yang berkepentingan (stakeholder). Keterampilan dan pengetahuan yang memadai di bidang akuntansi ini hanya dimilliki oleh
seorang akuntan. Profesi akuntan sendiri merupakan profesi yang menjanjikan. Dengan adanya peningkatan aktivitas perekonomian di Indonesia,
profesional di bidang akuntansi banyak diincar para pebisnis lokal maupun internasional untuk membantu mereka dalam mengembangkan
perusahaannya.

Bidang bisnis yang semakin terspesialisasi telah mendorong permintaan akan akuntan yang juga memiliki keahlian yang spesifik. Saat ini,
terdapat berbagai sertifikasi dalam profesi akuntan sebagai bentuk pengakuan terhadap ilmu spesifik yang dimilikinya. Salah satu sertifikasi ini
dilakukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Lembaga ini menaungi profesi akuntan di seluruh Indonesia. Tujuan dari keberadaan lembaga ini
adalah mengembangkan dan mendayagunakan potensi akuntan Indonesia sehingga terbentuk suatu cipta dan karya akuntan Indonesia yang
didharmabaktikan bagi kepentingan bangsa dan negara. Lembaga ini secara rutin melaksanakan pelatihan dan sertifikasi bagi para anggotanya. Bagi
akuntan yang telah mendapat pelatihan dan pendidikan khusus di bidang akuntansi syariah dan telah lulus Ujian Sertifikasi Akuntansi Syariah
(USAS), maka ia akan mendapat gelar SAS; bagi akuntan yang pernah mengikuti kursus Brevet pajak, maka akan mendapat sertifikat brevet; dan
yang terakhir ada sertifikasi PSAK untuk mendapat gelar certified PSAK. Selain IAI, ada juga lembaga Ikatan Akuntan Manajemen Indonesia (IAMI)
yang memiliki sertifikasi CPMA, serta Ikatan Akuntan Publik (IAPI) yang memiliki sertifikasi CPA. Dengan adanya sertifikasi tersebut diharapkan
dapat meningkatkan kompetensi dari akuntan. Di samping itu lembaga-lembaga ini juga memiliki kode etik profesi untuk dijadikan sebagai
pegangan dalam melakukan pekerjaan. Proses peningkatan kompetensi dan kode etik profesi yang dimiliki diharapkan akan menciptakan citra baik
dari profesi akuntan di kalangan pebisnis atau perusahaan.

B. Permasalahan yang mungkin muncul dalam profesi akuntan


Dari segi kompetensi, nampaknya para akuntan di Indonesia telah memiliki banyak pilihan untuk meningkatkan kemampuannya. Akan tetapi
mengapa saat ini banyak terdapat kasus kecurangan yang melibatkan akuntan? Adapun beberapa contoh kasus tersebut yaitu:

1. Kasus mark up (penggelembungan) laba bersih 2001 PT Kimia Farma Tbk. (KAEF)

Kasus ini berakhir dengan sanksi denda yang dikenakan oleh Bapepam. Denda Rp 1 miliar diberikan kepada direksi lama Kimia Farma periode
1998-Juni 2002 dan Rp 100 juta untuk Ludovicus Sensi W sebagai auditor dari Hans Tuanakotta & Mustafa (HTM). Sementara perusahaan Kimia
Farma mendapat denda Rp 500 juta. Berdasarkan hasil pemeriksaan Bepepam diperoleh diperoleh bukti, bahwa terdapat kesalahan penyajian
dalam laporan keuangan KAEF. Adapun dampak kesalahan tersebut mengakibatkan overstated (penggelembungan keuntungan) laba bersih tahun
2001 sebesar Rp 32,7 miliar yang merupakan 2,3% dari penjualan dan 24,7% dari laba bersih PT Kimia Farma Tbk. Kesalahan tersebut berupa
overstated pada penjualan sebesar Rp 2,7 miliar, overstated pada barang persediaan Rp 23,.9 miliar (keduanya masuk dalam unit industri bahan
baku). Overstated juga terjadi pada unit pedagang besar farmasi (PBF) yakni pada persediaan barang Rp 8,1 miliar dan pada penjualan Rp 10,7
miliar.

2. Kasus Suap Mulyana W Kusuma terhadap Auditor BPK

Kasus ini terjadi sekitar tahun 2004. Mulyana W Kusuma sebagai seorang anggota KPU diduga menyuap anggota BPK yang raat itu akan
melakukan audit keuangan berkaitan dengan pengadaan logistik pemilu. Logistik untuk pemilu yang dimaksud yaitu kotak suara, surat suara,
amplop suara, tinta dan teknologi informasi. Setelah dilakukan pemeriksaan, BPK meminta dilakukan penyempurnaan laporan. Setelah dilakukan
penyempurnaan laporan. BPK sepakat bahwa laporan tersebut lebih baik daripada sebelumnya, kecuali untuk teknologi informasi, untuk ini, maka
disepakati bahwa laporan akan diperiksa kembali satu bulan setelahnya. Setelah lewat satu bulan, ternyata laporan tersebut belum selesai dan
disepakati pemberian waktu tambahan. Di saat inilah terdengar kabar penangkapan Mulyana W Kusuma. Mulyana ditangkap karena dituduh
hendak melakukan penyuapan kepada anggota tim auditor BPK, yakni Salman Khairiansyah. Dalam penangkapan tersebut, tim intelijen KPK
bekerjasama dengan auditor BPK. Menurut versi Khairiansyah ia bekerja sama dengan KPK memerangkap upaya penyuapan oleh saudara Mulyana
dengan menggunaan alat perekam gambar pada dua kali pertemuan mereka.
Penangkapan ini menimbulkan pro dan kontra. Salah satu pihak berpendapat auditor yang bersangkutan, yakni Salman telah berjasa
mengungkap kasus ini, sedangkan pihak lain berpendapat bahwa Salman tidak seharusnya melakukan perbuatan tersebut karena hal tersebut telah
melanggar kode etik akuntan.

3. Kasus Korupsi Gayus Tambunan

Kasus Gayus adalah bukti betapa sindikat pajak telah begitu menggurita di negeri ini. Laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK) yang berisi tentang rekening tambun Gayus senilai Rp. 25 miliar menarik perhatian aparat pemerintah. Gayus cuma pegawai
pajak rendahan. Golongan kepangkatannya baru IIIA. Maksimal, gaji karyawan pajak di level ini ditambah tunjangan program reformasi birokrasi di
Departemen Keuangan, hanya sekitar Rp.6 juta per bulan. Lantas darimana asalnya uang tersebut?

Data arus dana di berbagai rekening Gayus memperlihatkan berbagai indikasi kuat bahwa duit segunung itu memang berkait dengan
pekerjaannya sebagai aparat pajak, yang mengurus keberatan dari wajib pajak tentang besaran uang yang harus mereka setor ke kas negara.
Tertera di situ, harta Gayus merupakan akumulasi dari berbagai transfer bank dari banyak pihak, baik invidu maupun perusahaan. Nilainya
bervariasi, berkisar antara Rp 100 juta hingga miliaran rupiah.

4. Kasus Transaksi Derivatif PT. Indosat Tbk.

Pada laporan keuangan periode 2006, PT. Indosat melaporkan adanya kerugian sebesar Rp 438 miliar yang di klaim sebagai Rugi dari
perubahan nilai wajar atas transaksi derivatif-bersih (Loss on Change in Fair Value of Derivatifes-Net). Pengakuan atas kerugian ini muncul karena
perusahaan tidak menerapkan PSAK sebagaimana mestinya.

Dalam PSAK no 55 Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktifitas Lindung Nilai disebutkan bahwa transaksi derivatif mensyaratkan adanya
dokumentasi formal atas analisa manajemen resiko dan analisa efektifitas transaksi jika ingin melindungi resiko dari transaksi derivatif ini. Selain itu
suatu entitas diwajibkan pula untuk melaporkan setiap transaksi derivatif paling tidak setiap tiga bulan dalam laporan keuangan perusahaan.
Dalam surat yang ditujukan kepada manajemen Indosat (management letter) pada tahun 2004, 2005 dan 2006, auditor eksternal Indosat
menyarankan pihak manajemen Indosat untuk segera membenahi kebijakan formal manajemen resiko yang berkaitan dengan transaksi derivatif
yang dilakukan oleh Indosat sebesar US$ 275 juta atau sekitar Rp 2,5 trilliun. Transaksi derivatif ini meliputi 17 kontrak perjanjian dengan berbagai
institusi keuangan.

Kasus ini memberikan contoh dari besarnya kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan di Indonesia diakibatkan tidak adanya analisa
yang memadai terhadap transaksi derivatif yang akan dilakukan. Akibat kerugian ini pula negara kehilangan potensi pajak baik atas laba bersih
perusahaan maupun atas deviden yang dibagikan.

5. Kasus-kasus lainnya

Kasus sembilan dari sepuluh KAP yang melakukan audit terhadap sekitar 36 bank bermasalah ternyata tidak melakukan pemeriksaan sesuai
dengan standar audit. Hasil audit tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya sehingga akibatnya mayoritas bank-bank yang diaudit
tersebut termasuk di antara bank-bank yang dibekukan kegiatan usahanya oleh pemerintah sekitar tahun 1999. Dalam hal ini kesembilan KAP itu
telah melanggar standar audit sehingga menghasilkan laporan yang menyesatkan masyarakat, karena mereka memberi laporan bank tersebut sehat
ternyata dalam waktu singkat bank tersebut bangkrut.

Kasus KPMG-Siddharta dan Harsono yang diduga menyuap pajak telah terbukti menyogok aparat pajak di Indonesia sebesar US$ 75 ribu.
Sebagai siasat, diterbitkanlah faktur palsu untuk biaya jasa profesional KPMG yang harus dibayar kliennya PT Easman Christensen, anak perusahaan
Baker Hughes Inc. yang tercatat di bursa New York. Hampir saja Baker dan KPMG terseret ke pengadilan distrik Texas karena telah melanggar
undang-undang anti korupsi buat perusahaan Amerika di luar negeri. Namun karena Baker memohon kebijakan dari Badan pengawas pasar modal
AS dan Securities and Exchange Commission, akhirnya kasus ini diselesaikan di luar pengadilan dan KPMG pun terselamatkan.

C. Pembahasan

Kasus-kasus di atas merupakan beberapa kasus kecurangan yang melibatkan akuntan di Indonesia. Pada kasus pertama (PT. Kimia Farma)
dan keempat (PT. Indosat) yang terlibat adalah akuntan internal perusahaan, pada kasus kedua (Suap Mulyana W Kusuma) melibatkan Auditor
Pemerintah (BPK), pada kasus ketiga (Gayus Tambunan) melibatkan akuntan pemerintah bidang pajak, dan pada kasus lainnya (kasus pelanggaran
prosedur oleh KAP) melibatkan Akuntan Publik. Jika dilihat, kasus tersebut secara merata melibatkan berbagai bidang dari profesi akuntan. Lantas
kira-kira apa penyebab terjadinya kecurangan ini?

1. Pada kasus PT. Kimia Farma, akuntan internal perusahaan telah mengabaikan prinsip objektifitas dan membuat laporan keuangan yang dihasilkan
menjadi tidak relevan lagi, hal ini tentu saja dapat menyesatkan pengguna laporan keuangan. Investor akan menilai perusahaan lebih besar
daripada seharusnya. Alasan dilakukannya mark up ini bisa saja karena adanya tuntutan dari dewan direksi perusahaan dan akuntan sebagai salah
satu staf dari perusahaan harus mengikuti keputusan manajemen. Begitu pula yang mungkin terjadi pada akuntan di PT. Indosat. Bisa saja pihak
manajemen perusahaan meminta akuntan untuk tidak melakukan prosedur pencatatan sesuai PSAK 55 untuk memunculkan kerugian atas transaksi
derivatif. Mungkin perusahaan ingin agar sahamnya bernilai lebih rendah dari semestinya dengan maksud menekan investor publik dan untuk
melakukan akuisisi saham dari pihak internal.

2. Pada kasus suap yang dilakukan oleh Mulyana W. Kusuma terhadap Auditor BPK Salman Khairiansyah menunjukkan bahwa auditor pemerintah
seharusnya tetap mengikuti prosedur dan melaksanakan kode etik profesi dalam menghadapi adanya potensi suap dalam pekerjaan lapangan. Jika
tidak, maka terjadi simpang siur informasi dan pro kontra terhadap kerja dari auditor itu sendiri. Seorang auditor seharusnya memiliki integritas dan
mampu bersikap tegas dalam bertindak dan mengambil keputusan termasuk jika diiming-imingi suatu imbalan yang jelas-jelas tidak diperbolehkan.

3. Pada kasus Gayus Tambunan, akuntan pemerintah benar-benar diuji kredibilitasnya. Akibat kasus ini, banyak masyarakat yang antipati terhadap
petugas pajak. Dengan gaji yang sudah diatas rata-rata, ternyata masih belum bisa melindungi Gayus dari godaan materi. Entah apakah faktor latar
belakang dari keluarga yang pas-pasan sehingga membuat ia melanggar kode etik profesi. Yang jelas, pemerintah dalam hal ini direktorat jenderal
pajak harus melakukan pembenahan dan perbaikan terutama terkait sistem dan prosedur dalam mengamankan sumber penerimaan utama negara
ini.

4. Pada kasus pelanggaran prosedur oleh KAP, menunjukkan bahwa akuntan publik masih rentan terhadap isu profesionalitas dalam pekerjaannya.
Dilema yang dihadapi akuntan publik terjadi ketika ada benturan antara kepentingan klien dengan independensi auditor itu sendiri. Salah satu yang
menjadi penyebab adalah fee audit yang dibayarkan oleh klien. Di satu sisi auditor ingin agar audit yang dilakukannya sesuai dengan prosedur dan
standar yang ditetapkan serta tidak melanggr kode etik profesi, namun di sisi lain auditor juga dituntut nleh klien yang membayarnya agar diberikan
kemudahan dan hasil yang sesuai dengan keinginan klien. Dilema ini bisa terjadi pada semua KAP. Sebagaimana diketahui, laporan auditor
independen saat ini dijadikan sebagai syarat dalam berbagai kondisi seperti dalam hal pengajuan kredit/pembiayaan dari bank, syarat dalam
mendaftar menjadi perusahaan terbuka (go public), dan lain-lain.

D. Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil atas identifikasi masalah di atas adalah

1. Faktor kompetensi bukan menjadi penyebab utama tejadinya kecurangan


Para akuntan yang terlibat dalam kasus kecurangan di atas tidak diragukan lagi kemampuannya karena merupakan akuntan di perusahaan
besar yang sudah go public, lulusan dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN), dan akuntan dari KAP. Kecurangan tersebut terjadi karena
akuntan tidak mampu mempertahankan profesionalitasnya dan lebih memilih untuk melanggar etika profesi. Alasannya bisa beragam, bisa karena
faktor materi, faktor tekanan dari atasan, maupun buruknya sistem dan prosedur yang ditetapkan. Sebagaimana diketahui, kecurangan bisa muncul
karena tiga sebab yaitu adanya tekanan, adanya kesempatan, dan adanya pembenaran atas tindakan kecurangan tersebut.

2. Dilema etika dapat menjadi faktor munculnya kecurangan dalam pekerjaan


Dilema etika seperti yang dialami oleh akuntan publik muncul dikarenakan adanya kesalingtergantungan antara klien dan KAP. Jika bukan
klien yang membayar fee audit, maka darimana sumber penerimaan KAP? Jika memang struktur ini tidak lagi efektif, sebaiknya diubah dan diganti
untuk menciptakan lingkungan yang lebih bebas dari dilema etika (misalnya fee audit akan dibayarkan oleh pihak ketiga). Begitu pula dilema etika
yang dihadapi akuntan internal perusahaan. Seharusnya akuntan internal tetap bersikap objektif dan independen serta tidak dipengaruhi oleh
manajemen. Akuntan internal sebaiknya bertanggungjawab secara langsung kepada pemilik dan bukan pada manajemen perusahaan. Hal ini dapat
mengurangi tekanan yang dihadapi oleh akuntan internal.
3. Pentingnya pendidikan etika profesi bagi para akuntan sebagai bekal dalam menghadapi potensi kecurangan
Pelanggaran etika akan terus terjadi jika tidak ada pemahaman yang mendalam dari akuntan terhadap pentingnya untuk memegang teguh
etika profesi. Bisa jadi mereka tidak mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh kecurangan yang mereka lakukan. Salah satu cara untuk menekan
jumlah akuntan yang menyimpang serta menanamkan kesadaran akan pentingnya menerapkan kode etik profesi adalah dengan melakukan
sosialisasi intensif tentang profesionalitas dan kode etik akuntan dalam lingkungan kerja. Misalnya, secara rutin IAI sebagai lembaga akuntan
terbesar di Indonesia menyelenggarakan pelatihan dan seminar untuk meningkatkan kompetensi dan kesadaran terhadap kode etik profesi kepada
anggotanya. Agar lebih efektif, kegiatan semacam ini juga dapat dilakukan di tingkat pendidikan baik dari tingkat SMP, SMA hingga ke tingkat
Perguruan Tinggi. Caranya adalah dengan memberikan mata ajaran atau mata kuliah tentang etika bisnis dan profesi, akuntansi forensik dan deteksi
kecurangan, seperti yang dilakukan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang. Sebagaimana diketahui, para calon akuntan
juga merupakan anggota luar biasa dari IAI. Dengan adanya pendidikan yang intensif kepada calon akuntan ini, maka diharapkan tindakan
kecurangan dan penyimpangan dalam etika profesi dan bisnis di masa mendatang dapat berkurang dan citra profesi akuntan akan menjadi lebih
baik lagi.

Kompetensi dalam profesi akuntan memang sangat penting namun etika profesi juga tidak kalah pentingnya. Tidak heran jika lembaga IAI,
IAPI, maupun IAMI memiliki kode etik dan sertifikasi untuk menjaga citra anggotanya. Pendidikan serta sosialisasi intensif untuk menumbuhkan
kesadaran akan kode etik profesi perlu dilakukan karena potensi kecurangan dalam lingkungan kerja akan selalu ada. Hal ini dilakukan sebagai
upaya untuk meminimalisir terjadinya pelanggaran etika maupun kecurangan oleh akuntan. Dengan akuntan yang berkompeten dan juga beretika,
maka profesi akuntan yang lebih baik dalam mewujudkan good corporate governance (GCG) di Indonesia dapat segera terwujud. Kita tidak boleh
lupa bahwa profesi akuntan ini dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas, dan tidak hanya internal perusahaan saja.

Analisis Perbandingan Nilai-nilai Etika dan Teknik


Akuntansi/Auditing

Nilai-Nilai Etika vs Teknik Akuntansi/Auditing


Nilai-nilai etika di dalam profesi akuntansi/auditing harus sangat dimiliki oleh para anggota, karena semua perilaku sangat mencerminkan
integritas dan kompetensi seorang anggota. Nilai etika terdiri dari:

1. Integritas : setiap tindakan dan kata-kata pelaku profesi menunjukan sikap transparansi, kejujuran dan konsisten.
2. Kerjasama : mempunyai kemampuan untuk bekerja sendiri maupun dalam tim.
3. Inovasi : pelaku profesi mampu memberi nilai tambah pada pelanggan dan proses kerja dengan metode baru.
4. Simplisitas : pelaku profesi mampu memberikan solusi pada setiap masalah yang timbul, dan masalah yang kompleks menjadi lebih sederhana.

Sedangkan teknik akuntansi adalah aturan-aturan khusus yang diturunkan dari prinsip-prinsip akuntan yang menerangkan transaksi-transaksi
dan kejadian-kejadian tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.

Teknik akuntansi sektor publik terdiri atas:

1. Budgetary accounting : Akuntansi Anggaran adalah bidang akuntansi yang menguraikan kegiatan keuangan untuk suatu jangka waktu tertentu yang
dilengkapi dengan sistem penganalisaan dan pengawasannya.

2. Commitment accounting : adalah sistem akuntansi yang mengakui transaksi dan mencatatnya pada saat order dikeluarkan. Akuntansi komitmen
dapat digunakan bersama-sama dengan akuntansi kas atau akuntansi akrual.

3. Fund accounting : adalah sebuah konsep akuntansi di mana aktiva dipisah-pisahkan berdasarkan masing-masing sumber dan peruntukkan dana.
Karena dalam penyajian laporan keuangan, organisasi nirlaba harus mengidentifikasi kategori batasan penggunaan dana yang diberikan oleh donor,
oleh karenanya organisasi mengadopsi akuntansi dana.
4. Cash accounting : adalah di dalam metode ini beban dengan pendapatan tidak secara hati-hati di samakan dari bulan ke bulan. Beban tidak diakui
sampai uang di bayarkan walaupun beban pada bulan itu terjadi sama halnya dengan pendapatan, pendapatan tidak diakui sampai dengan uangnya
diterima.

5. Accrual accounting : adalah beban dan pendapatan secara hati-hati di samakan menyediakan informasi yang lebih handal dan terpercaya tentang
seberapa besar suatu perusahaan mengeluarkan uang atau menerima uang dalam setiap bulannya.

Kode Etik Dalam Profesi Akuntansi

Etika profesi merupakan karakteristik suatu profesi dengan profesi lain, yang berfungsi untuk mengatur tingkah laku para anggotanya. Kode
etik profesi akuntansi adalah pedoman sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam melaksanakan tugas dan dalam kehidupan sehari-hari dalam
profesi akuntansi. Kode etik akuntansi dapat menjadi penyeimbang sekaligus menjamin mutu moral profesi akuntansi dimata masyarakat.

Kode perilaku Profesional

Etika mengacu pada suatu system atau kode perilaku berdasarkan kewajiban moral yang menunjukan bagaimana seseorang individu secara luas
mengacu pada perilaku, tujuan, dan kualitas yang membentuk karakter atau ciri profesi atau orang-orang professional. Seluruh profesi penyusun
aturan atau kode perilaku yang mendefinisikan perilaku etika bagi anggota profesi tersebut.
Prinsip-prinsip etika :

Menururt IFAC 2005-section 100.4

Seorang akuntan professional diharuskan untuk mematuhi prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :

a. Integritas
b. Objektivitas
c. Kompetensi professional dan kesungguhan
d. Kerahasiaan
e. Perilaku professional

Menurut AICPA

a. Tanggung jawab
b. Kepentingan umum
c. Integritas
d. Objektivitas dan independensi
e. Due care.
f. Sikap dan cakupan layanan

Menurut IAI

a. Kredibilitas
b. Profesionalisme
c. Kualitas jasa
d. Kepercayaan

Prinsip etika profesi akuntansi

1. Tanggung jawab profesi

2. Kepentingan public

3. Integritas

4. Objektivitas

5. Kompetisi dan kehati-hatian professional

6. Kerahasiaan

7. Perilaku professional

8. Standar teknis

ETIKA DALAM AUDIT

Etika dalam auditing adalah suatu proses yang sistematis untuk memperoleh serta mengevaluasi bukti secara objektif mengenai asersi-
asersi kegiatan ekonomi dengan tujuan untuk menetapkan derajat kesesuaian antara asersi-asersi tersebut, serta penyampaian hasilnya kepada
pihak yang berkepentingan.
Setiap auditor harus memiliki sifat independen yang artinya bebas, tidak terikat. Maksudnya adalah setiap auditor harus memiliki pendapat
sendiri mengenai objek yang di auditnya, tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain. Hal itu merupakan salah satu upaya untuk mendapatkan
kepercayaan public terhadap kinerja auditor.

Auditor harus bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan audit dengan tujuan untuk memperoleh keyakinan memadai
mengenai apakah laporan keuangan bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan atau kecurangan.

Tanggung jawab dasar auditor:

1. Perencanaan, pengendalian dan pencatatan


2. System akuntasi
3. Bukti audit
4. Pengendalian intern
5. Meninjau ulang laporan keuangan yang relevan

Tanggung jawab yang lainnya

1. Tanggung jawab kepada klien


2. Tanggung jawab kepada rekan seprofesi
3. Tanggung jawab dan praktik lain
Perbandingan Nilai-nilai Etika dan Teknik Akuntansi/Auditing

Nilai-nilai etika di dalam profesi akuntansi/auditing harus sangat dimiliki oleh para anggota, karena semua perilaku sangat mencerminkan
integritas dan kompetensi seorang anggota. Sedangkan Sedangkan teknik akuntansi adalah aturan-aturan khusus yang diturunkan dari prinsip-
prinsip akuntan yang menerangkan transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian tertentu yang dihadapi oleh entitas akuntansi tersebut.

Mana yang lebih penting, nilai etika atau teknik akuntansi/auditing? Nilai etika lebih penting dibandingkan teknik akuntansi/auditing, karena
tanpa nilai etika:

1. Kepercayaan yang diperlukan dalam fiduciary relationship tidak dapat dipertahankan.

2. Hak akuntan akan terbatas, dan

3. Independensi makin berkurang.

Akuntan dihadapkan pada situasi untuk memutuskan kapan dan bagaimana mendisclose kondisi keuangan yang jelek dari suatu
perusahaan. Nilai etika sangat penting dan harus memiliki nilai integritas yaitu tindakan dan kata-kata akuntan harus memiliki sikap transparansi,
kejujuran dan konsisten. dan mampu memberikan solusi pada setiap masalah yang timbul, dan masalah yang kompleks menjadi sederhana
(Simplisitas). Serta harus memperbaiki teknik atau sistem dari akuntansi/auditing.
Karena ekspektasi publik terhadap akuntan yaitu:

1. Memiliki keahlian teknis yang tinggi.


2. Menjalankan tugas profesionalnya dengan baik sesuai nilai-nilai etika.
3. Tugas yang dijalankan bermanfaat bagi publik.

Konsekuensi akuntan adalah harus memahami jati diri, tugas, dan nilai-nilai etis.

Evaluasi Terhadap Kode Perilaku Korporasi


Governance System

Governance system adalah suatu sistem hukum dan suara pendekatan dimana perusahaan diarahkan dan dikontrol berfokus
pada struktur internal dan eksternal perusahaan dengan tujuan memantau tindakan manajemen dan direksi badan dan risiko
sehingga mengurangi yang mungkin berasal dari perbuatan-perbuatan pejabat perusahaan.

Governance system merupakan suatu tata kekuasaan yang terdapat di dalam perusahaan yang terdiri dari 4 (empat) unsur yang
tidak dapat terpisahkan, yaitu :

a. Commitment on Governance, adalah komitmen untuk menjalankan perusahaan yang dalam hal ini adalah dalam bidang perbankan
berdasarkan prinsip kehati-hatian berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku.
b. Governance Structure, adalah struktur kekuasaan berikut persyaratan pejabat yang ada di bank sesuai dengan yang dipersyaratkan
oleh peraturan perundangan yang berlaku.

c. Governance Mechanism, adalah pengaturan mengenai tugas, wewenang dan tanggung jawab unit dan pejabat bank dalam
menjalankan bisnis dan operasional perbankan.

d. Governance Outcomes, adalah hasil dari pelaksanaan baik dari aspek hasil kinerja maupun cara-cara/praktek-praktek yang digunakan
untuk mencapai hasil kinerja tersebut.

Budaya etika

Corporate culture (budaya perusahaan) merupakan konsep yang berkembang dari ilmu manajemen serta psikologi industri dan
organisasi. Bidang-bidang ilmu tersebut mencoba lebih dalam mengupas penggunaan konsep-konsep budaya dalam ilmu manajemen
dan organisasi dengan tujuan meningkatkan kinerja organisasi, yang dalam hal ini, adalah organisasi yang berbentuk perusahaan.

Djokosantoso Moeljono mendefinisikan corporate culture sebagai suatu sistem nilai yang diyakini oleh semua anggota organisasi
dan yang dipelajari, diterapkan, serta dikembangkan secara berkesinambungan, berfungsi sebagai sistem perekat, dan dijadikan
acuan berperilaku dalam organsisasi untuk mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan.

Penggunaan komputer dalam bisnis diarahkan pada nilai-nilai moral dan etika dari para manajer, spesialis informasi dan
pemakai dan juga hukum yang berlaku. Hukum paling mudah diiterprestasikan karena berbentuk tertulis. Di nilai pihak etika dan
moral tidak didefinisikan secara persis dan tidak disepakati oleh semua anggota masyarakat.
Hubungan antara CEO dengan perusahaan merupakan dasar budaya etika. Jika perusahaan harus etis, maka manajemen puncak
harus etis dalam semua tindakan dan kata-katanya. Manajemen puncak memimpin dengan memberi contoh. Perilaku ini adalah
budaya etika. Tugas manajemen puncak adalah memastikan bahwa konsep etikanya menyebar di seluruh organisasi, melalui semua
tingkatan dan menyentuh seluruh karyawan.

Gambaran mengenai perusahaan, mencerminkan kepribadian para pemimpinya. Budaya etika adalah perilaku yang etis.
Penerapan budaya etika dilakukan secara top-down. Para eksekutif mencapai penerapan ini melalui suatu metode tiga lapis, yaitu :

a. Corporate Credo, merupakan pernyataan ringkas mengenai nilai-nilai etis yang ditegakkan perusahaan, yang diinformasikan kepada
orang-orang dan organisasi-organisasi baik di dalam maupun di luar perusahaan.
1. Komitmen internal
- Perusahaan terhadap karyawan
- Karyawan terhadap perusahaan
- Karyawan terhadap karyawan lain
2. Komitmen Eksternal
- Perusahaan terhadap pelanggan
- Perusahaan terhadap pemegang saham
- Perusahaan terhadap masyarakat
b. Program etika adalah suatu yang terdiri dari berbagai aktivitas yang dirancang untuk mengarahkan pegawai dalam melaksanakan
lapis pertama. Misalnya pertemuan orientasi bagi pegawai baru dan audit etika.

c. c.Kode etik perusahaan. Setiap perusahaan memiliki kode etiknya masing-masing. Kadang-kadang kode etik tersebut diadaptasi dari
kode etik industri tertentu. Lebih dari 90% perusahaan membuat kode etik yang khusus digunakan perusahaan tersebut dalam
melaksanakan aktivitasnya. Contohnya IBM membuat IBMs Business Conduct Guidelines (Panduan Perilaku Bisnis IBM).

Mengembangkan Struktur Etika Korporasi

Membangun entitas korporasi dan menetapkan sasarannya. Pada saat itulah perlu prinsip-prinsip moral etika ke dalam kegiatan
bisnis secara keseluruhan diterapkan, baik dalam entitas korporasi, menetapkan sasaran bisnis, membangun jaringan dengan para
pihak yang berkepentingan (stakeholders) maupun dalam proses pengembangan diri para pelaku bisnis sendiri. Penerapan ini
diharapkan etika dapat menjadi hati nurani dalam proses bisnis sehingga diperoleh suatu kegiatan bisnis yang beretika dan
mempunyai hati, tidak hanya sekadar mencari untung belaka, tetapi juga peduli terhadap lingkungan hidup, masyarakat, dan para
pihak yang berkepentingan (stakeholders).

Kode Perilaku Korporasi


Untuk mencapai keberhasilan dalam jangka panjang, suatu perusahaan perlu dilandasi oleh integritas yang tinggi. Oleh karena
itu, diperlukan pedoman perilaku (code of conduct) yang dapat menjadi acuan bagi organ perusahaan dan semua karyawan dalam
menerapkan nilai-nilai (values) dan etika bisnis sehingga menjadi bagian dari budaya perusahaan. Kode perilaku korporasi (Code of
Conduct) adalah pedoman internal perusahaan yang berisikan sistem nilai, etika bisnis, etika kerja, komitmen, serta penegakan
terhadap peraturan-peraturan perusahaan bagi individu dalam menjalankan bisnis, dan aktivitas lainnya serta berinteraksi dengan
stakeholders. Kode perilaku korporasi yang dimiliki suatu perusahaan berbeda dengan perusahaan lainnya, karena setiap perusahaan
memiliki kebijakan yang berbeda dalam menjalankan usahanya.

Prinsip dasar yang harus dimiliki oleh perusahaan adalah:

Setiap perusahaan harus memiliki nilai-nilai perusahaan (corporate values) yang menggambarkan sikap moral perusahaan dalam
pelaksanaan usahanya.

Untuk dapat merealisasikan sikap moral dalam pelaksanaan usahanya, perusahaan harus memiliki rumusan etika bisnis yang
disepakati oleh organ perusahaan dan semua karyawan. Pelaksanaan etika bisnis yang berkesinambungan akan membentuk budaya
perusahaan yang merupakan manifestasi dari nilai-nilai perusahaan.

Nilai-nilai dan rumusan etika bisnis perusahaan perlu dituangkan dan dijabarkan lebih lanjut dalam pedoman perilaku agar dapat
dipahami dan diterapkan.

Manfaat Code of Conduct antara lain :


Menciptakan suasana kerja yang sehat dan nyaman dalam lingkungan perusahaan.

Membentuk karakter individu perusahaan yang disiplin dan beretika dalam bergaul dengan sesama individu dalam perusahaan
maupun dengan pihak lain di luar perusahaan.
Sebagai pedoman yang mengatur, mengawasi sekaligus mencegah penyalahgunaan wewenang dan jabatan setiap individu dalam
perusahaan.
Sebagai acuan terhadap penegakan kedisiplinan.
Menjadi acuan perilaku bagi individu dalam perusahaan untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab masing-masing dan
berinteraksi dengan stakeholder perusahaan.

Evaluasi Terhadap Kode Perilaku Korporasi

Dalam setiap code of conduct, adanya evaluasi terhadap kode perilaku korporasi juga sangat diperlukan, agar segala kegiatan
yang telah dilakukan apakah sudah dijalankan sesuai dengan prosedur yang sudah ditetapkan. Evaluasi terhadap kode perilaku
korporasi dapat dilakukan dengan melakukan evaluasi tahap awal (Diagnostic Assessment) dan penyusunan pedoman-pedoman.
Pedoman Good Corporate Governance disusun dengan bimbingan dari Tim BPKP dan telah diresmikan pada tanggal 30 Mei 2005.

Dalam mengimplementasikan Good Corporate Governance, diperlukan instrumen-instrumen yang menunjang, yaitu sebagai
berikut :

o Code of Corporate Governance (Pedoman Tata Kelola Perusahaan), pedoman dalam interaksi antar organ Perusahaan
maupun stakeholder lainnya.
o Code of Conduct (Pedoman Perilaku Etis), pedoman dalam menciptakan hubungan kerjasama yang harmonis antara
Perusahaan dengan Karyawannya.

o Board Manual, Panduan bagi Komisaris dan Direksi yang mencakup Keanggotaan, Tugas, Kewajiban, Wewenang serta Hak,
Rapat Dewan, Hubungan Kerja antara Komisaris dengan Direksi serta panduan Operasional Best Practice.

o Sistim Manajemen Risiko, mencakup Prinsip-prinsip tentang Manajemen Risiko dan Implementasinya.

o An Auditing Committee Contract arranges the Organization and Management of the Auditing Committee along with its
Scope of Work.

o Piagam Komite Audit, mengatur tentang Organisasi dan Tata Laksana Komite Audit serta Ruang Lingkup Tugas.

Berikut ini langkah yang harus dilakukan dalam evaluasi terhadap kode perilaku korporasi, yaitu :

a. Pelaporan Pelanggaran Code of Conduct


Setiap individu berkewajiban melaporkan setiap pelanggaran atas Code of Conduct yang dilakukan oleh individu lain dengan
bukti yang cukup kepada Dewan Kehormatan. Laporan dari pihak luar wajib diterima sepanjang didukung bukti dan identitas yang
jelas dari pelapor. Dewan kehormatan wajib mencatat setiap laporan pelanggaran atas Code of Conduct dan melaporkannya kepada
Direksi dengan didukung oleh bukti yang cukup dan dapat dipertanggungjawabkan. Dewan kehormatan wajib memberikan
perlindungan terhadap pelapor.

b. Sanksi Atas Pelanggaran Code of Conduct


Pemberian sanksi Atas Pelanggaran Code of Conduct yang dilakukan oleh karyawan diberikan oleh Direksi atau pejabat yang
berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemberian sanksi Atas Pelanggaran Code of Conduct yang dilakukan oleh Direksi
dan Dewan Komisaris mengacu sepenuhnya pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Perusahaan serta ketentuan yang
berlaku. Pemberian sanksi dilakukan setelah ditemukan bukti nyata terhadap terjadinya pelanggaran pedoman ini.
Evaluasi sebaiknya dilakukan secara rutin sehingga perusahaan selalu berada dalam pedoman dan melakukan koreksi apabila
diketahui terdapat kesalahan.

Contoh Kasus :

Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengakui adanya dugaan pelanggaran UU No.5/1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat oleh PT PLN (Persero) apabila BUMN sektor listrik itu meneruskan kebijakan capping
untuk TDL sektor industri. KPPU akan mengkaji sesuai dengan prosedur lewat pemeriksaan selanjutnya. Kemungkinan pasal yang
akan dikaji KPPU ialah pasal 19d di dalam Undang-Undang Nomor 5/1999 yang mengatur masalah diskriminasi terkait penerapan tarif
terhadap para pelaku industri.Untuk itu, KPPU akan segera menelisik data-data PLN untuk melihat siapa saja pelanggan industri yang
menikmati capping dengan yang tidak. Sementara ini, KPPU mengakui pada 2010 memang terdapat perbedaan tarif untuk golongan-
golongan industri. KPPU akan memanggil pihak yang selama ini diuntungkan dengan tarif lebih rendah atau yang iri terhadap
perbedaan harga karena mereka dikenakan beban yang lebih tinggi dibanding yang lain. Selain itu, mereka juga akan memanggil
Pemerintah dan Kementerian Keuangan dan Dirjen Listrik Kementerian ESDM untuk meminta pandangan dari mereka dan akan
membuktikan di lapangan misal cek kuitansi supaya ada fakta dan data hukum tidak hanya data statistik.

Fungsi PT. PLN sebagai pembangkit, distribusi, dan transmisi listrik sebenarnya sudah mulai dipecah. Swasta diizinkan
berpartisipasi dalam upaya pembangkitan tenaga listrik. Sementara untuk distribusi dan transmisi tetap ditangani PT. PLN. Saat ini
telah ada 27 Independent Power Producer di Indonesia. Mereka termasuk Siemens, General Electric, Enron, Mitsubishi, Californian
Energy, Edison Mission Energy, Mitsui & Co, Black & Veath Internasional, Duke Energy, Hoppwell Holding, dan masih banyak lagi.
Tetapi dalam menentukan harga listrik yang harus dibayar masyarakat tetap ditentukan oleh PT. PLN sendiri.

Krisis listrik kemudian juga memuncak saat PT. Perusahaan Listrik Negara (PT. PLN) memberlakukan pemadaman listrik secara
bergiliran di berbagai wilayah termasuk Jakarta dan sekitarnya, selama periode 11-25 Juli 2008. Hal ini diperparah oleh pengalihan
jam operasional kerja industri ke hari Sabtu dan Minggu, sekali sebulan. Semua industri di Jawa-Bali wajib menaati, dan sanksi bakal
dikenakan bagi industri yang membandel. Dengan alasan klasik, PLN berdalih pemadaman dilakukan akibat defisit daya listrik yang
semakin parah karena adanya gangguan pasokan batubara pembangkit utama di sistem kelistrikan Jawa-Bali, yaitu di pembangkit
Tanjung Jati, Paiton Unit 1 dan 2, serta Cilacap. Namun, di saat yang bersamaan terjadi juga permasalahan serupa untuk pembangkit
berbahan bakar minyak (BBM) PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara Karang.

Akibat dari PT. PLN yang memonopoli kelistrikan nasional, kebutuhan listrik masyarakat sangat bergantung pada PT. PLN,
tetapi mereka sendiri tidak mampu secara merata dan adil memenuhi kebutuhan listrik masyarakat. Banyak daerah-daerah yang
kebutuhan listriknya belum terpenuhi dan juga sering terjadi pemadaman listrik secara sepihak. Kejadian ini menyebabkan kerugian
yang tidak sedikit bagi masyarakat, dan investor menjadi enggan untuk berinvestasi.

Analisis :

Berdasarkan contoh kasus diatas bisa disimpulkan bahwa telah terjadi penyimpangan dari metode Good Corporate Governance.
PLN selaku perusahaan listrik negara tidak memiliki tanggung jawab (Responsibility) yang baik kepada masyarakat selaku pengguna
jasanya. Sehingga masyarakat merasa dirugikan dengan terjadinya krisis listrik yang disebabkan oleh adanya gangguan pasokan
batubara pembangkit utama di sistem kelistrikan Jawa-Bali dan disaat yang bersamaan terjadi juga masalah untuk pembangkit
berbahan bakar minyak PLTGU Muara Tawar dan PLTGU Muara Karang. Apalagi dalam kasus ini PLN diduga melakukan pelanggaran
Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat serta adanya diskriminasi terkait penerapan tarif.

Perkembangan Dalam Etika Bisnis

1. Pengertian Etika

Etika berasal dari dari kata Yunani Ethos (jamak ta etha), berarti adat istiadat . Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun pada suatu masyarakat

Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tatacara hidup yg baik, aturan hidup yg baik dan segala kebiasaan yg dianut dan diwariskan dari satu orang ke
orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yg lain. Etika mempelajari dan menentukan apakah suatu tindakan bernilai baik atau buruk dan
tindakan apayang seharusnya dilakukan dengan benar atau tidak benar (salah).

Peranan etika adalah sebagai tolok ukur kesadaran manusia untuk melakukan tindakan yang bertanggung jawab sedangkan manfaat etika yaitu
mengajak orang bersikap kritis, rasional dan otonom menuju suasana tertib, damai dan sejahtera.

2. Pengertian etika = moralitas


Moralitas berasal dari kata Latin Mos (jamak Mores) berarti adat istiadat atau kebiasaan. Pengertian harfiah dari etika dan moralitas, sama-sama
berarti sistem nilai tentang bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia yang telah diinstitusionalisasikan dalam sebuah adat kebiasaan
yang kemudian terwujud dalam pola perilaku yang ajek dan terulang dalam kurun waktu yang lama sebagaimana laiknya sebuah kebiasaan.

2.1 Etika sebagai Filsafat Moral

Etika sebagai filsafat moral tidak langsung memberi perintah konkret sebagai pegangan siap pakai. Etika dapat dirumuskan sebagai refleksi kritis
dan rasional mengenai

1. Nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia
2. Masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma moral yang umum diterima

Etika sebagai sebuah ilmu yang terutama menitikberatkan refleksi kritis dan rasional,

1. Mempersoalkan apakah nilai dan norma moral tertentu memang harus dilaksanakan dalam situasi konkret terutama yang dihadapi
seseorang, atau
2. Etika mempersoalkan apakah suatu tindakan yang kelihatan bertentangan dengan nilai dan norma moral tertentu harus dianggap sebagai
tindakan yang tidak etis dan karena itu dikutuk atau justru sebaliknya
3. Apakah dalam situasi konkret yang saya hadapi saya memang harus bertindak sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakatku ataukah
justru sebaliknya saya dapat dibenarkan untuk bertindak sebaliknya yang bahkan melawan nilai dan norma moral tertentu.

Etika sebagai Ilmu menuntut orang untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional. Dengan menggunakan bahasa Nietzcshe, etika sebagai ilmu
menghimbau orang untuk memiliki moralitas tuan dan bukan moralitas hamba

Dalam bahasa Kant, etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukan secara heteronom. Etika bermaksud
membantu manusia untuk bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggungjawabkan.
2.2 Teori Etika

1. Etika Teleologi

Berasal dari kata Yunani, telos = tujuan, yaitu mengukur baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang mau dicapai dengan tindakan itu,
atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.

Dua aliran etika teleologi :

1. Egoisme Etis

Inti pandangan egoisme adalah bahwa tindakan dari setiap orang pada dasarnya bertujuan untuk mengejar pribadi dan memajukan dirinya sendiri.
Satu-satunya tujuan tindakan moral setiap orang adalah mengejar kepentingan pribadi dan memajukan dirinya.

Egoisme ini baru menjadi persoalan serius ketika ia cenderung menjadihedonistis, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi diterjemahkan
semata-mata sebagai kenikmatan fisik yg bersifat vulgar.

2. Utilitarianisme

Berasal dari bahasa latin utilis yang berarti bermanfaat. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu
harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan.

Dalam rangka pemikiran utilitarianisme, kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest happiness of the greatest
number, kebahagiaan terbesar dari jumlah orang yang terbesar. Teori ini cocok sekali dengan pemikiran ekonomis, karena cukup dekat
dengan Cost-Benefit Analysis. Manfaat yang dimaksudkan utilitarianisme bisa dihitung sama seperti kita menghitung untung dan rugi atau kredit
dan debet dalam konteks bisnis
Utilitarianisme, dibedakan menjadi dua macam :

1. Utilitarianisme Perbuatan (Act Utilitarianism)


2. Utilitarianisme Aturan (Rule Utilitarianism)

Prinsip dasar utilitarianisme (manfaat terbesar bagi jumlah orang terbesar) diterpakan pada perbuatan. Utilitarianisme aturan membatasi diri pada
justifikasi aturan-aturan moral.

2. Deontologi

Istilah deontologi berasal dari kata Yunani deon yang berarti kewajiban. Mengapa perbuatan ini baik dan perbuatan itu harus ditolak sebagai
buruk, deontologi menjawab: karena perbuatan pertama menjadi kewajiban kita dan karena perbuatan kedua dilarang yang menjadi dasar baik
buruknya perbuatan adalah kewajiban.

Pendekatan deontologi sudah diterima dalam konteks agama, sekarang merupakan juga salah satu teori etika yang terpenting.

Ada tiga prinsip yg harus dipenuhi :

1. Supaya tindakan punya nilai moral, tindakan ini harus dijalankan berdasarkan kewajiban
2. Nilai moral dari tindakan ini tidak tergantung pada tercapainya tujuan dari tindakan itu melainkan tergantung pada kemauan baik yang
mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu, berarti kalaupun tujuan tidak tercapai, tindakan itu sudah dinilai baik
3. Sebagai konsekuensi dari kedua prinsip ini, kewajiban adalah hal yang niscaya dari tindakan yang dilakukan berdasarkan sikap hormat pada
hukum moral universal

Bagi Kant, Hukum Moral ini dianggapnya sbg perintah tak bersyarat (imperatif kategoris), yg berarti hukum moral ini berlaku bagi semua orang pada
segala situasi dan tempat.

Perintah Bersyarat adalah perintah yg dilaksanakan kalau orang menghendaki akibatnya, atau kalau akibat dari tindakan itu mrpk hal yg diinginkan
dan dikehendaki oleh orang tsb.
Perintah Tak Bersyarat adalah perintah yg dilaksanakan begitu saja tanpa syarat apapun, yaitu tanpa mengharapkan akibatnya, atau tanpa
mempedulikan apakah akibatnya tercapai dan berguna bagi orang tsb atau tidak.

3. Teori Hak

Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu
perbuatan atau perilaku.

Teori Hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena berkaitan dengan kewajiban. Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi uang logam yang
sama. Hak didasarkan atas martabat manusia dan martabat semua manusia itu sama. Karena itu hak sangat cocok dengan suasana pemikiran
demokratis.

4. Teori Keutamaan (Virtue)

Berarti memandang sikap atau akhlak seseorang. Tidak ditanyakan apakah suatu perbuatan tertentu adil, atau jujur, atau murah hati dan
sebagainya. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk
bertingkah laku baik secara moral.

Contoh keutamaan :

1. Kebijaksanaan
2. Keadilan
3. Suka bekerja keras
4. Hidup yang baik

Ada 3 jenis masalah yang dihadapi dalam Etika yaitu

1. Sistematik

Masalah-masalah sistematik dalam etika bisnis pertanyaan-pertanyaan etis yang muncul mengenai sistem ekonomi, politik, hukum, dan sistem
sosial lainnya dimana bisnis beroperasi.
2. Korporasi

Permasalahan korporasi dalam perusahaan bisnis adalah pertanyaan-pertanyaan yang dalam perusahaan-perusahaan tertentu. Permasalahan ini
mencakup pertanyaan tentang moralitas aktivitas, kebijakan, praktik dan struktur organisasional perusahaan individual sebagai keseluruhan.

3. Individu
Permasalahan individual dalam etika bisnis adalah pertanyaan yang muncul seputar individu tertentu dalam perusahaan. Masalah ini
termasuk pertanyaan tentang moralitas keputusan, tindakan dan karakter individual.

Pengertian Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah. Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana
diterapkan dalam kebijakan, institusi, dan perilaku bisnis (Velasquez, 2005).

Dapat ditarik kesimpulan bahwa ialah pengetahuan tentang cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang memperhatikan norma dan
moralitas yang berlaku secara universal serta implementasi norma dan moralitas untuk menunjang maksud dan tujuan kegiatan bisnis.

1. PERKEMBANGAN ETIKA BISNIS

Berikut perkembangan etika bisnis menurut Bertens (2000):

1. Situasi Dahulu
Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain menyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan manusia bersama
dalam negara dan membahas bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur.

2. Masa Peralihan: tahun 1960-an ditandai pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas di Amerika Serikat (AS), revolusi mahasiswa (di
ibukota Perancis), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Hal ini memberi perhatian pada dunia pendidikan khususnya
manajemen, yaitu dengan menambahkan mata kuliah baru dalam kurikulum dengan nama Business and Society. Topik yang paling sering
dibahas adalah corporate social responsibility.
3. Etika Bisnis Lahir di AS: tahun 1970-an sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis di sekitar bisnis dan etika
bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di AS.
4. Etika Bisnis Meluas ke Eropa: tahun 1980-an di Eropa Barat, etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira-kira 10 tahun kemudian.
Terdapat forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta sekolah bisnis yang disebut European Business Ethics Network(EBEN).
5. Etika Bisnis menjadi Fenomena Global: tahun 1990-an tidak terbatas lagi pada dunia Barat. Etika bisnis sudah dikembangkan di seluruh
dunia. Telah didirikan International Society for Business, Economics, and Ethics(ISBEE) pada 25-28 Juli 1996 di Tokyo.

Pengertian Etika

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata etika yaitu ethos sedangkan bentuk jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai
banyak arti yaitu : tempat tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti
ta etha yaitu adat kebiasaan.

Beberapa pengertian ETIKA menurut para ahli, diantaranya yaitu :


No. Nama Tahun Keterangan

1. Aristoteles - Mengemukakan etika kedalam dua


pengertian yakni: Terminius Technicus &
Manner and Custom. Terminius Technicus
ialah etika dipelajari sebagai ilmu
pengetahuan yang mempelajari suatu
problema tindakan atau perbuatan manusia.
Sedangkan yang kedua yaitu, manner and
custom ialah suatu pembahasan etika yang
terkait dengan tata cara & adat kebiasaan
yang melekat dalam kodrat manusia (in
herent in human nature) yang sangat terikat
dengan arti baik & buruk suatu perilaku,
tingkah laku atau perbuatan manusia.

2. Bertens dalam Etika seri Memaparkan pengertian etika dalam dalam


Filsafat Atma Jaya bentuk jamak ta etha yang juga berarti adat
(1993:4)
kebiasaan.

3. Drs. Sidi Gajabla - Menjelaskan etika sebagai teori tentang


perilaku atau perbuatan manusia yang
dipandang dari segi baik & buruknya sejauh
mana dapat ditentukan oleh akal manusia.
4. Abdullah dalam buku yang Menjelaskan arti kata etika berdasarkan
berjudul Pengantar etimologinya yang berasal dari bahasa
Studi Etika (2006:4)
Yunani, ethos, yang bermakna kebiasaan atau
adat-istiadat.

5. Asmaran dalam Etika Profesi Etika adalah studi mengenai tingkah laku
Hukum (2006) manusia, tidak hanya menentukan
kebenaran-kebenarannya sebagaimana
adanya, tetapi juga menyelidiki manfaat atau
kebaikan dari seluruh tingkah laku manusia.

6. Dr. James J. dalam Etika Profesi Etics atau etika memperhatikan atau
Spillane SJ Hukum (2006) mempertimbangkan tingkah laku manusia
dalam pengambilan keputusan moral. Etika
mengarah atau menghubungkan penggunaan
akal budi individual dengan objektivitas untuk
menentukan kebenaran atau kesalahan dan
tingkah laku seseorang terhadap orang lain.
7. Drs. O.P. - Menjelaskan bahwa etika ialah pandangan
Simorangkir manusia terhadap baik dan buruknya perilaku
manusia.

8. Drs. H. - Mengungkapkan bahwa etika ialah suatu


Burhanudin cabang ilmu filsafat yang berbicara tentang
Salam nilai -nilai dan norma yang dapat menentukan
perilaku manusia dalam kehidupannya.

9. Katsoff - Etika sebenarnya lebih banyak bersangkutan


dengan prinsip-prinsip dasar pembenaran
dalam hubungan tingkah laku manusia.

10. Soergarda dalam Etika Profesi Etika ialah filsafat mengenai nilai, kesusilaan,
Poerbakawatja Hukum (2006) tentang baik dan buruk, kecuali etika
mempelajari nilai-nilai, ia juga merupakan
pengetahuan mengenai nilai-nilai itu sendiri.

11. Suseno 1987 Etika adalah suatu ilmu yang membahas


tentang bagaimana dan mengapa kita
mengikuti suatu ajaran moral tertentu atau
bagaimana kita harus mengambil sikap yang
bertanggung jawab berhadapan dengan
berbagai ajaran moral.

12. Riady dalam Filsafat Kuno Menjelaskan bahwa etika dalam bahasa Latin
dan Manajemen diartikan sebagai Moralis yang berasal dari
Modern (2008:189) kata Mores dengan makna adat-istiadat yang
realistis bukan teoritis.

13. Hamzah Yacub dalam Etika Profesi Etika adalah ilmu yang menyelidiki mana yang
Hukum (2006) baik dan mana yang buruk dan
memperlihatkan amal perbuatan manusia
sejauh yang dapat diketahui oleh akal pikiran.

14. WJS. dalam Etika Profesi Etika adalah ilmu pengetahuan mengenai
Poerwadarminta Hukum (2006) asas-asas akhlak (moral).

15. Sumaryono 1995 Etika berasal dari istilah Yunani ethos yang
mempunyai arti adat-istiadat atau kebiasaan
yang baik. Bertolak dari pengertian tersebut,
etika berkembang menjadi study tentang
kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan
menurut ruang dan waktu yang berbeda,
yang menggambarkan perangai manusia
dalam kehidupan manusia pada umumnya.
Selain itu, etika juga berkembang menjadi
study tentang kebenaran dan ketidakbenaran
berdasarkan kodrat manusia yang diwujudkan
melalui kehendak manusia.

Dibawah ini terdapat beberapa pengertian EGOIS diantaranya :

No. Nama Tahun Keterangan

1. Friedrich Wilhelm - Teori eogisme atau egotisme diungkapkan


Nietche oleh Friedrich Wilhelm Nietche yang
merupakan pengkritik keras utilitarianisme
dan juga kuat menentang teori Kemoralan
Sosial. Teori egoisme berprinsip bahwa setiap
orang harus bersifat keakuan, yaitu
melakukan sesuatu yang bertujuan
memberikan manfaat kepada diri sendiri.
Selain itu, setiap perbuatan yang memberikan
keuntungan merupakan perbuatan yang baik
dan satu perbuatan yang buruk jika
merugikan diri sendiri.

2. Kamus Besar - Egoisme adalah tingkah laku yang didasarkan


Bahasa Indonesia atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri
(KBBI daripada untuk kesejahteraan orang lain
3. - - ingin menang sendiri

Tidak mau kalah atau menang sendiri


merupakan satu sikap buruk dalam
pergaulan, interaksi sosial, maupun
kehidupan rumah tangga. Orang yang
memiliki karakter seperti ini cenderung
otoriter, sombong, dan tidak kenal
kompromi. Segala sesuatu harus dibawah
kekuasaan dan tunduk pada keinginannya.
Jangankan menerima pendapat orang lain,
mendengarnya saja sudah tidak mau. Orang
yang ingin menang sendiri biasanya tidak
peduli dengan apa yang ia lakukan, walaupun
itu sebetulnya salah.

4. - - suka mengatur tapi tidak mau diatur

Saat ini, banyak sekali kita temukan orang-


orang yang siap memimpin tetapi tidak siap
dipimpin. Ketika ia sudah tidak lagi
memegang jabatan sebagai pemimpin, ia
memilih keluar. Inilah potret yang saat ini
terjadi dan sudah membudaya. Akhirnya
bermusuhan dan saling menjatuhkan satu
sama lain, sehingga perseteruan ini tanpa
akhir alias jadi musuh bebuyutan.
5. Iskandar Putong dalam buku Teori Egois adalah sikap yang mementingkan diri
Ekonomi Mikro : sendiri dengan mengorbankan atau tidak
Konvensional peduli dengan orang lain.
dan Syariah
(2015:23)

6. Max Stirner Max Stirner memandang Egoisme sebagai


tujuan hidup.

7. Hobbes - Hobbes membentangkan pandangan


mengenai hakikat manusia. Baginya egois
adalah tiap individu tidak dapat tidak mencari
kepentingannya sendiri.

8. Jenny Teichman 1998 Egoisme dapat dirumuskan baik dalam arti


praktis maupun dalam arti teoritis. Egoisme
praktis merupakan perilaku yang diwarnai
cinta diri yang sistematik. Egoisme teoritis
merupakan teori yang mendasarkan
moralitas pada kepentingan diri

9. Serapan asing dan - Kata egois berarti orang yang mementingkan


bahasa Indonesia diri sendiri, tidak peduli akan orang lain atau
masyarakat

10. Menurut Bahasa - Egois berasal dari kata ego yang


sebenarnya bukanlah sesuatu yang negative.
Ego dapat memiliki makna sebagai aku;
sebuah pribadi, diri sendiri, sebuah konsep
individu tentang dirinya sendiri. Tidak ada
yang negative dari kata ini. ego justru
merupakan suatu langkah kebaikan dimana
seorang individu sadar akan dirinya sendiri.
Namun, ketika kata ego diberi akhiran is
dan menjadi egois, artinya menjadi individu
yang mementingkan diri sendiri

11. Kamus bahasa - Egois berarti tingkah laku yang didasarkan


Indonesia online atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri
dari pada untuk kesejahteraan orang lain
atau segala perbuatan dan tindakan selalu
disebabkan oleh keinginan untuk
menguntungkan diri sendiri

12. - - keras kepala.

Keras kepala identik dengan sebutan kepala


batu, artinya isi kepalanya sangat keras
sehingga sangat sulit untuk dihancurkan.
Orang berkepala batu yaitu orang yang tidak
bisa menerima masukan dari orang lain.
Orang yang berkepala batu biasanya
berpasangan dengan muka tembok dan keras
hati. Jika tiga unsur ini sudah menyatu, maka
sangat sulit untuk mengubahnya apa lagi
untuk diingatkan.
Basis teori etika, yaitu:

1. Teori Utilitarisme

Utilitarisme berasal dari kata Latin utilis yang berarti bermanfaat. Menurut teori ini, suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi menfaat
itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Menurut suatu perumusan terkenal, dalam rangka
pemikiran utilitarisme (utilitarianism) kriteria untuk menentukan baik buruknya suatu perbuatan adalah the greatest happiness of the greatest
number , kebahagiaan terbesar dari jumlah orang terbesar. Terlepas dari daya tariknya, teori utilitarianisme juga mempunyai kelemahan, antara
lain:

a) Manfaat merupakan konsep yang kompleks sehingga penggunaannya sering menimbulkan kesulitan. Masalah konsep manfaat ini dapat mencakup persepsi dari manfaat
itu sendiri yang berbeda-beda bagi tiap orang dan tidak semua manfaat yang dinilai dapat dikuantifikasi yang berujung pada persoalan pengukuran
manfaat itu sendiri.

b) Utilitarianisme tidak mempertimbangkan nilai suatu tindakan itu sendiri, dan hanya memperhatikan akibat dari tindakan itu. Dalam hal ini
utilitarianisme dianggap tidak memfokuskan pemberian nilai moral dari suatu tindakan, melainkan hanya terfokus aspek nilai konsekuensi yang ditimbulkan dari
tindakan tersebut. Sehingga dapat dikatakan bahwa utilitarianisme tidak mempertimbangkan motivasi seseorang melakukan suatu tindakan.
c) Kesulitan untuk menentukan prioritas dari kriteria etika utilitarianisme itu sendiri, apakah lebih mementingkan perolehan manfaat terbanyak bagi sejumlah
orang atau jumlah terbanyak dari orang-orang yang memperoleh manfaat itu walaupun manfaatnya lebih kecil.

d) Utilitarianisme hanya menguntungkan mayoritas. Dalam hal ini suatu tindakan dapat dibenarkan secara moral sejauh tindakan tersebut menguntungkan
sebagian besar orang, walaupun mungkin merugikan sekelompok minoritas. Dengan demikian, utilitarianisme dapat dikatakan membenarkan
ketidakadilan, yaitu bagi kelompok yang tidak memperoleh manfaat.

2. Teori Deontologi
Deontologi sendiri lebih melepaskan sama sekali moralitas dari konsekuensi perbuatan. Aliran besar pemikiran etika kedua adalah deontologi.
Tokoh besar aliran ini adalah Immanuel Kant (1724-1804) (Ludigdo, 2007), sehingga disebut juga sebagai Kantianisme. Deontologi ( Deontology)
berasal dari kata dalam Bahasa Yunani yaitu : deon yang artinya adalah kewajiban. Dalam suatu perbuatan pasti ada konsekuensinya, dalam hal ini
konsekuensi perbuatan tidak boleh menjadi pertimbangan. Perbuatan menjadi baik bukan dilihat dari hasilnya melainkan karena perbuatan tersebut wajib
dilakukan. Deontologi menekankan perbuatan tidak dihalalkan karena tujuannya. Tujuan yang baik tidak menjadi perbuatan itu juga baik.

3. Teori Hak
Dalam pemikiran moral dewasa ini barangkali teori hak ini adalah pendekatan yang paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya
suatu perbuatan atau perilaku. Sebetulnya teori hak merupakan suatu aspek dari teori deontologi, karena hak berkaitan dengan kewajiban. Maka, teori hak pun cocok
diterapkan dengan suasana demokratis. Dalam arti, semua manusia dari berbagai lapisan kehidupan harus mendapat perlakuan yang sama. Seperti yang diungkapkan
Immanuel Kant, bahwa manusia meruapakan suatu tujuan pada dirirnya (an end in itself). Karena itu manusia harus selalu dihormati sebagai suatu tujuan
sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan semata-mata sebagai sarana demi tercapainya suatu tujuan lain (Bertens, 2000).

4. Teori Keutamaan
Teori tipe terakhir ini adalah teori keutamaan (virtue) yang memandang sikap atau akhlak seseorang. Dalam etika dewasa ini terdapat minat
khusus untuk teori keutamaan sebagai reaksi atas teori-teori etika sebelumnya yang terlalu berat sebelah dalam mengukur perbuatan dengan prinsip atau
norma. Keutamaan bisa didefinisikan sebagai berikut : disposisi watak yang telah diperoleh seseorang dan memungkinkan dia untuk bertingkah laku baik
secara moral, misalnya : Kebijaksanaan, Keadilan, Kerendahan hati, Suka bekerja keras.