Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Wacana I
Oli merupakan bahan penting bagi kendaraan bermotor. Oli yang dibutuhkan tiap-tiap
tipe mesin kendaraan berbeda-beda karena setiap tipe mesin kendaraan membutuhkan
kekentalan yang berbeda-beda. Kekentalan ini adalah bagian yang sangat penting sekali
karena berkaitan dengan ketebalan oli atau seberapa besar resistensinya untuk mengalir.
Sehingga sebelum menggunakan oli merek tertentu harus diperhatikan terlebih dahulu
koefisien kekentalan oli sesuai atau tidak dengan tipe mesin. Memilih dan menggunakan oli
yang baik dan benar untuk kendaraan bermotor merupakan langkah tepat untuk merawat
mesin dan peralatan kendaraan agar tidak cepat rusak dan mencegah pemborosan.

Masyarakat umum beranggapan bahwa fungsi utama oli hanyalah sebagai pelumas
mesin. Padahal oli memiliki fungsi lain, yakni sebagai pendingin, pelindung karat, pembersih
dan penutup celah pada dinding mesin. Sebagai pelumas mesin oli akan membuat gesekan
antar komponen didalam mesin bergerak lebih halus dengan cara masuk kedalam celah-celah
mesin, sehingga memudahkan mesin untuk mencapai suhu kerja yang ideal.

Viskositas dari oli sangat diperhitungkan untuk meminimalisir gaya gesek yang
ditimbulkan oleh mesin yang bergerak dan terkontak satu terhadap yang lain sehingga
mencegah terjadinya keausan. Pada permesinan bagian yang paling sering bergesekan adalah
piston, ada banyak bagian lain namun gesekannya tak sebesar yang dialami piston. Disinilah
kegunaan oli. Oli memisahkan kedua permukaan yang berhubungan sehingga gesekan pada
piston diperkecil. Selain itu, oli juga bertindak sebagai fluida yang memindahkan panas
ruang bakar yang mencapai 1000-1600 derajat celcius ke bagian lain mesin yang lebih
dingin, sehingga mesin tidak over heat (sebagai pendingin).

Pembersih mesin dari sisa pembakaran dan deposit senyawa karbon yang masuk
dalam ruang bakar supaya tidak muncul endapan lumpur. Teknologi mesin yang terus
berkembang menuntut kerja pelumas semakin lengkap, seperti penambahan anti karat dan
anti foam. Semakin kental oli, maka lapisan yang ditimbulkan menjadi lebih kental. Lapisan
halus pada oli kental memberi kemampuan ekstra menyapu atau membersihkan permukaan
P a g e 1 | 15
logam yang terlumasi. Sebaliknya oli yang terlalu tebal akan memberi resitensi berlebih
mengalirkan oli pada temperatur rendah sehingga mengganggu jalannya pelumasan ke
komponen yang dibutuhkan. Untuk itu, oli harus memiliki kekentalan lebih tepat pada
temperatur tertinggi atau temperatur terendah ketika mesin dioperasikan karena nilai
viskositas masing-masing oli akan berkurang jika suhu cairan dinaikkan. Suhu semakin
tinggi diikuti makin rendahnya viskositas oli atau sebaliknya (Anonim, 2017).

B. Wacana II
Suatu zat memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang dimasukkan
kedalamnya mendapat gaya tekanan yang diakibatkan peristiwa gesekan antara permukaan
padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh, apabila kita memasukkan kelereng kedalam
gelas kaca yang berisi minyak goreng, terlihatlah kelereng tersebut mula-mula turun dengan
cepat kemudian melambat hingga akhirnya sampai didasar gelas kaca tersebut. Kelereng
tersebut pada saat tertentu mengalami sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak lurus
beraturan. Gerakan kelereng menjelaskan bahwa adanya suatu kemampuan yang dimiliki
suatu zat cair sehingga kecepatan kelereng berubah. Mula-mula akan mengalami percepatan
yang dikarenakan gaya beratnya tetapi dengan sifat kekentalan cairan maka besarnya
percepatannya akan semakin berkurang dan akhirnya nol. Pada saat tersebut kecepatan
kelereng tetap dan disebut kecepatan terminal. Hambatan-hambatan dinamakan sebagai
kekentalan (viskositas). Akibat viskositas zat cair itulah yang menyebabkan terjadinya
perubahan yang cukup drastis terhadap kecepatan kelereng (Anonim, 2014).

C. Wacana III
Fenomena viskositas atau kekentalan zat cair ini juga dapat dilihat pada proses
penggorengan. Ketika ibu menggoreng ikan di dapur, minyak goreng yang awalnya kental,
berubah menjadi lebih cair ketika dipanaskan. Hal ini dikarenakan tingkat kekentalan suatu
fluida bergantung pada suhu. Semakin tinggi suhu zat cair, semakin kurang kekentalan
(viskositas) zat cair tersebut (Anonim, 2012).

P a g e 2 | 15
D. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dari viskositas?
2. Apakah pengertian dari fluida?
3. Bagaimanakah hubungan dari viskositas dan fluida?
4. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas?
5. Bagaimana cara mengukur viskositas?

P a g e 3 | 15
BAB II

PEMBAHASAN

Kekentalan adalah sifat dari suatu zat cair (fluida) disebabkan adanya gesekan antara
molekul-molekul zat cair dengan gaya kohesi pada zat cair tersebut. Gesekan-gesekan inilah
yang menghambat aliran zat cair. Besarnya kekentalan zat cair (viskositas) dinyatakan dengan
suatu bilangan yang menentukan kekentalan suatu zat cair. Hukum viskositas Newton
menyatakan bahwa untuk laju perubahan bentuk sudut fluida yang tertentu maka tegangan geser
berbanding lurus dengan viskositas.
Suatu zat memiliki kemampuan tertentu sehingga suatu padatan yang dimasukkan
kedalamnya mendapat gaya tekanan yang diakibatkan peristiwa gesekan antara permukaan
padatan tersebut dengan zat cair. Sebagai contoh, apabila kita memasukkan sebuah bola kecil
kedalam zat cair, terlihatlah batu tersebut mula-mula turun dengan cepat kemudian melambat
hingga akhirnya sampai didasar zat cair. Bola kecil tersebut pada saat tertentu mengalami
sejumlah perlambatan hingga mencapai gerak lurus beraturan. Gerakan bola kecil menjelaskan
bahwa adanya suatu kemampuan yang dimiliki suatu zat cair sehingga kecepatan bola berubah.
Mula-mula akan mengalami percepatan yang dikarenakan gaya beratnya tetapi dengan sifat
kekentalan cairan maka besarnya percepatannya akan semakin berkurang dan akhirnya nol. Pada
saat tersebut kecepatan bola tetap dan disebut kecepatan terminal. Hambatan-hambatan
dinamakan sebagai kekentalan (viskositas).

A. Pengertian Viskositas
Viskositas atau kekentalan suatu cairan adalah salah satu sifat cairan yang
menentukan besarnya perlawanan terhadap gaya geser.Viskositas terjadi karena adanya
interaksi antara molekul-molekul cairan. Viskositas merupakan pengukuran dari ketahanan
fluida yang diubah baik dengan tekanan maupun tegangan. Pada masalah sehari-hari (dan
hanya untuk fluida), viskositas adalah "Ketebalan" atau "pergesekan internal".
Secara Umum, pada setiap aliran, lapisan-lapisan berpindah pada kecepatan yang
berbeda-beda dan viskositas fluida meningkat dari tekanan geser antara lapisan yang secara
pasti melawan setiap gaya yang diberikan. Cairan mempunyai gaya gesek yang lebih besar
untuk mengalir daripada gas. Sehingga cairan mempuyai koefisien viskositas yang lebih
P a g e 4 | 15
besar daripada gas. Viskositas gas bertambah dengan naiknya temperatur. Koefisien gas pada
tekanan tidak terlalu besar, tidak tergantung tekanan, tetapi untuk cairan naik dengan naiknya
tegangan.
Viskositas (kekentalan) dapat diartikan sebagai suatu gesekan di dalam cairan zat
cair. Kekentalan itulah maka diperlukan gaya untuk menggerakkan suatu permukaan untuk
melampaui suatu permukaan lainnya, jika diantaranya ada larutan baik cairan maupun gas
mempunyai kekentalan air lebih besar daripada gas, sehingga zat cair dikatakan lebih kental
daripada gas. Viskositas suatu zat cairan murni atau larutan merupakan indeks hambatan
aliran cairan. Viskositas dapat diukur dengan mengukur laju aliran cairan, yang melalui
tabung berbentuk silinder. Cara ini merupakan salah satu cara yang paling mudah dan dapat
digunakan baik untuk cairan maupun gas.
Viskositas adalah indeks hambatan aliran cairan. Viskositas dapat diukur dengan
mengukur laju aliran cairan melalui tabung berbentuk silinder. Viskositas ini juga disebut
sebagai kekentalan suatu zat. Jumlah volume cairan yang mengalir melalui pipa per satuan
waktu.
= viskositas cairan
V = total volume cairan
t = waktu yang dibutuhkan untuk mencair
p = tekanan yang bekerja pada cairan
L = panjang pipa

B. Pengertian Fluida
Fluida adalah zat yang berubah bentuk secara terus menerus bila terkena tegangan
geser suatu fluida adalah suatu zat yang mengembang hingga memenuhi bejana. Fluida selalu
mengalir bila dikenai bekas pengubah zat cair.Fluida diartikan dengan mempunyai volume
tertentu tapi bentuk tertentu itu mengalir menyesuaikan bentuk wadah.
Fluida diartikan sebagai suatu zat yang dapat mengalir. Istilah fluida mencakup zat
cair dan gas karena zat cair seperti air atau zat gas seperti udara dapat mengalir. Zat padat
seperti batu dan besi tidak dapat mengalir sehingga tidak bisa digolongkan dalam fluida. Air,
minyak pelumas, dan susu merupakan contoh zat cair. Semua zat cair itu dapat dikelompokan
ke dalam fluida karena sifatnya yang dapat mengalir dari satu tempat ke tempat yang lain.
P a g e 5 | 15
Selain zat cair, zat gas juga termasuk fluida. Zat gas juga dapat mengalir dari satu satu tempat
ke tempat lain. Hembusan angin merupakan contoh udara yang berpindah dari satu tempat ke
tempat lain.
Fluida adalah suatu zat yang mempunyai kemampuan berubah secara kontinue
apabila mengalami geseran, atau mempunyai reaksi terhadap tegangan geser. Sekecil apapun
dalam keadaan diam atau dalam keadaan keseimbangan, fluida tidak mampu menahan gaya
geser yang bekerja padanya, dan oleh sebab itu fluida mudah berubah bentuk tanpa
pemisahan massa.
Fluida adalah sub-himpunan dari fase benda, termasuk cairan, gas, plasma, dan padat
plastik.Fluida memiliki sifat tidak menolak terhadap perubahan bentuk dan kemampuan
untuk mengalir (atau umumnya kemampuannya untuk mengambil bentuk dari wadah
mereka). Sifat ini biasanya dikarenakan sebuah fungsi dari ketidakmampuan mereka
mengadakan tegangan geser (shear stress) dalam ekuilibrium statik. Konsekuensi dari sifat
ini adalah hukum Pascal yang menekankan pentingnya tekanan dalam mengarakterisasi
bentuk fluid. Dapat disimpulkan bahwa fluida adalah zat atau entitas yang terdeformasi
secara berkesinambungan apabila diberi tegangan geser walau sekecil apapun tegangan geser
itu (Anonim, 2011).

C. Hubungan Fluida dan Viskositas

Didalam fluida yang tidak diidealisir terdapat aktivitas molekuler antara bagian-
bagian lapisannya. Salah satu akibat dari adanya aktivitas ini adalah timbulnya aktivitas
internal antara bagian-bagian tersebut, yang dapat digambarkan sebagai gaya luncur diantara
lapisan-lapisan fluida tadi.Hal ini dapat dilihat dari perbedaan kecepatan bergerak lapisan-
lapisan fluida tersebut. Bila pengamatan dilakukan terhadap aliran fluida makin mengecil
ditempat-tempat yang jaraknya terhadap dinding pipa semakin kecil dan praktis tidak
bergerak pada tempat di dinding pipa. Sedangkan kecepatan terbesar terdapat di tengah-
tengah pipa aliran.

D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Viskositas


1. Suhu

P a g e 6 | 15
Viskositas berbanding terbalik dengan suhu. Jika suhu naik maka viskositas akan
turun, dan begitu sebaliknya. Hal ini disebabkan karena adanya gerakan partikel-partikel
cairan yang semakin cepat apabila suhu ditingkatkan dan menurun kekentalannya.

2. Konsentrasi larutan
Viskositas berbanding lurus dengan konsentrasi larutan. Suatu larutan dengan
konsentrasi tinggi akan memiliki viskositas yang tinggi pula, karena konsentrasi larutan
menyatakan banyaknya partikel zat yang terlarut tiap satuan volume. Semakin banyak
partikel yang terlarut, gesekan antar partikrl semakin tinggi dan viskositasnya semakin tinggi
pula.

3. Berat molekul solute


Viskositas berbanding lurus dengan berat molekul solute. Karena dengan adanya
solute yang berat akan menghambat atau member beban yang berat pada cairan sehingga
manaikkan viskositas.

4. Tekanan
Semakin tinggi tekanan maka semakin besar viskositas suatu cairan. Makin kental
suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya mengalir pada kecepatan
tertentu. Viskositas disperse koloid dipengaruhi oleh bentuk partikel dari fase disperse
dengan viskositas rendah, sedang system disperse yang mengandung koloid-koloid linier
viskositasnya lebih tinggi. Hubungan antara bentuk dan viskositas merupakan refleksi derajat
solvasi dari partikel.
Bila viskositas gas meningkat dengan naiknya temperature, maka viskositas cairan
justru akan menurun jika temperature dinaikkan. Fluiditas dari suatu cairan yang merupakan
kelebihan dari viskositas akan meningkat dengan makin tingginya temperatur.

E. Merumuskan Koefisien Viskositas


Koefisien viskositas secara umum diukur dengan dua metode
1. Viskositas Ostwald
Alat yang digunakan untuk mengukur viskositas fluida disebut viskosimeter.
Paling tidak, terdapat 2 prinsip dasar system / metode pengukuran viskositas tersebut.
Pertama, metode berdasarkan laju aliran fluida dalam pipa kapiler vertikal saat

P a g e 7 | 15
menempuh jarak tertentu. Alat yang digunakan sesuai dengan metode ini adalah
viskosimeter ostwald yang asas kerjanya berdasarkan hukum Poiseuille. Hukum
Poiseuille dituliskan sebagai:

8L
= Iv
r4

Keterangan:

P = tekanan

= koefisien viskositas fluida

L = panjang pipa kapiler yang dilalui fluida

Iv = laju aliran volume

Berdasarkan hukum Poiseuille, dengan viskosimeter Ostwald dapat ditentukan


viskositas fluida jika h, a, L, dan V dapat diukur. Persamaan Poiseuille menjadi :

4
=
8

Dengan = massa jenis cairan yang akan ditentukan viskositasnya; t = waktu


pengaliran cairan dari tanda A sampai B; a = jejari pipa kapiler yang panjangnya L; h =
jarak antara bola kecil dan besar. Jika viskositas cairan (dalam hal ini alkohol) = c x tx
dan viskositas air = c w tw maka viskositas alkohol x terhadap viskositas air w adalah :


x = w

Koefisien viskositas air ditentukan melalui interpolasi data dari table pada suhu
yang sesuai.

Perangkat percobaan viskosimeter Ostwald digunakan untuk menentukan


koefisien viskositas fluida, terutama yang encer. Fluida yang kental sebaiknya tidak
menggunakan peralatan ini karena waktu yang dibutuhkan fluida kental untuk turun
melalui pipa kepiler jauh lebih lama dibandingkan yang encer.

P a g e 8 | 15
2. Metode Bola Jatuh (Hukum Stoke)
Tingkat kekentalan atau viskositas zat cair dapat ditentukan dengan besaran yang
disebut koefisien viskositas ().

= [2.r.g (' - )] / [9.]

Keterangan:

= koefisien viskositas (N.s/m)

r = jari-jari bola (m)

g = percepatan gravitasi (m/s)

= kecepatan terminal bola

' = massa jenis bola (kg/m)

= massa jenis fluida (kg/m)

Menghitung koefisien viskositas dilakukan dengan menjatuhkan sebuah bola ke


dalam fluida. Setelah bergerak dipercepat, bola akan mencapai kecepatan konstan yang
disebut sebagai kecepatan terminal, resultan gaya-gaya yang bekerja pada bola sama
dengan nol.

Fa Fs Fs adalah gaya Stokes, Fa gaya Archimedes


w=mxg
Pembuktian terbentuknya rumus koefisien viskositas adalah sebagai berikut:

F=0

Fa + F - w = 0

Fa + F = w

F = w Fa

6..r. = m.g Fa

P a g e 9 | 15
6..r. = '.V.g - .V.g V = 4/3..r yakni volum bola

6..r. = 4/3..r .g.[' - ]

3..r. = 2/3..r .g.[' - ]

= [2.r.g (' - )] / [9.]

F. Menghitung Koefisien Viskositas Cairan dalam Kapiler

Digunakan untuk menentukan laju aliran kuat kapiler. Pada viskositas Ostwald yang
diukur adalah waktu yang diperlukan oleh sejumlah cairan tertentu untuk mengalir melalui
pipa kapiler dengan gaya yang disebabkan oleh berat cairan itu sendiri.
Cara kerja Viskometer Ostwald :
Sebelum digunakan, viskometer hendaknya di bersihkan terlebih dahulu
Letakkan viskometer pada posisi vertikal
Pipet cairan yang akan ditentukan kekentalannya dimasukkan kedalam reservoir a sampai
melewati garis reservoirnya (kira-kira setengahnya)
Biarkan viskometer beberapa menit dalam thermostat untuk menyeimbangkan atau
mencapai suhu yang di kehendaki
Cairan dihisap melalui pipa b sampai melewati garis m.reservoirnya
Cairan dibiarkan turun sampai garis n
Catat waktu yang dibutuhkan cairan untuk mengalir dari garis m ke n
Contoh:

P a g e 10 | 15
P a g e 11 | 15
P a g e 12 | 15
P a g e 13 | 15
BAB III
KESIMPULAN

Viskositas adalah ukuran hambatan aliran yang ditimbulkan fluida bila fuida tersebut
mengalami tegangan geser. Biasanya diterima sebagai kekentalan, atau penolakan terhadap
penuangan. Viskositas menggambarkan penolakan dalam fluida kepada aliran dan dapat dipikir
sebagai sebuah cara untuk mengukur gesekan fluida. Konsep viskositas adalah fluida, baik zat
cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan yang berbeda. Viskositas
alias kekentalan sebenarnya merupakan gaya gesekan antara molekul-molekul yang menyusun
suatu fluida. Jadi molekul-molekul yang membentuk suatu fluida saling gesek-menggesek ketika
fluida-fluida tersebut mengalir. Pada zat cair, viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi
(gaya tarik menarik antara molekul sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan
oleh tumbukan antara molekul. Metode pengukuran viskositas yaitu viskometer kapiler/Ostwald
atau dengan Hukum Stokes untuk bola jatuh. Faktor-faktor yang mempengaruhi viskositas yaitu
suhu, tekanan, konsentrasi larutan, dan berat molekul solute. Pengaplikasian viskositas dalam
kehidupan sehari-hari adalah pelumas mesin yang biasanya kita kenal dengan nama
oli, mengalirnya darah dalam pembuluh darah vena, proses penggorengan ikan (semakin tinggi
suhunya, maka semakin kecil viskositas minyak goreng), dan mengalirnya air dalam pompa
PDAM yang mengalir kerumah-rumah kita.

P a g e 14 | 15
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2011. Fluida. Diunduh dari http://fisikabisa.wordpress.com/2011/02/04/pengertian-


fluida/ pada tanggal 18 September 2017 pukul 17.54 WITA.

. 2012. Laporan Kimia Fisika Viskositas Zat Cair. Diunduh dari


http://itatrie.blogspot.co.id/2012/10/laporan-kimia-fisika-viskositas-zat-cair.html pada
tanggal 20 September 2017 pukul 16.41.

. 2014. Viskositas. Diunduh dari


http://inanovarina.blogspot.co.id/2014/12/viskositas.html pada tanggal 20 September 2017 pukul
16.17.

. 2017. Tugas Fisika Viskositas. Diunduh dari


https://www.academia.edu/11974296/Tugas_fisika_vikositas pada tanggal 20 September
2017 pukul 16.32.

Kanginan, Marthen, 2007. Fisika SMA Kelas XI.Cimahi : Erlangga.

Purwaningsih, S.Si,dkk. 2012. Dongkrak Nilai Raport Fisika SMA. Yogyakarta : Planet Ilmu.

P a g e 15 | 15