Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH KIMIA FISIKA III

APLIKASI MEKANISME REAKSI FASE CAIR


DALAM PROSES KATALISIS

DISUSUN OLEH :
NASIRATURRAHMI (E1M013034)

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MATARAM
2015

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Banyak zat kimia dapat direaksikan dengan zat lain setelah dalam bentuk larutan.
Dalam hal ini pelarut berfungsi sebagai medium reaksi.Oleh sebab itu, mempelajari
larutan cair sangat penting dalam ilmu kimia.Katalis sangat erat kaitannya dengan
meknisme fasa cair, Karna katalis merupakan suatu zat yang mempercepat laju
reaksidalam fasa cair pada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh
reaksi itu sendiri (lihat pula katalisis).Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukan
sebagai pereaksi ataupun produk.Katalis memungkinkan reaksi berlangsung lebih cepat
atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat perubahan yang dipicunya
terhadap pereaksi.Katalis menyediakan suatu jalur pilihan dengan energi aktivasi yang
lebih rendah.Katalis mengurangi energi yang dibutuhkan untuk berlangsungnya reaksi.

Saat ini banyak proses manufaktur melibatkan kimia katalitik. Perkembangan


kimia katalitik akan terus ditingkatkan dalam berbagai penelitian, terutama katalis sering
dikaitkan digunakan dalam bidang industri, sepertiindustri tekstil, mobil, sepatu akan
tetapi juga industri makanan, minuman dsb, yang kita tidak terlepas dari semua produk
tersebut. Untuk mengetahui lebih jelas megenai bagaimana aplikasi, mekanisme fasa cair
dalam proses katalis, perlu untuk menjawab permasalahan berikut.

Berdasarkan keadaan fasa zat setelah bercampur, maka campuran ada yang
homogen dan ada yang heterogen. Seperti telah dikemukakan bahwa campuran homogen
adalah campuran yang membentuk satu fasa, yaitu yang mempunyai sifat dan komposisi
yang sama antara satu bagian dengan bagian lain didekatnya. Campuran homogen lebih
umum disebut larutan, contohnya air gula dan alcohol dalam air. Seterusnya, campuran
heterogen adalah campuran yang mengandung dua fasa atau lebih, contohnya air susu
dan air kopi. Dalam makalah ini akan lebih banyak dibahas mengenai reaksi katalisis
serta berbagai gambaran penting tentang katalis.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana dasar mekanisme reaksi fasa cair?

2. Apa saja jenis-jenis katalis dan pengertiannya ?

3. Bagaimana cara kerja katalis ?

4. Bagaimana aplikasi mekanisme fasa cair dalam proses katalisis?

C. TUJUAN

1. Untuk mengetahui dasar mekanisme reaksi fasa cair.

2. Untuk mengetahui pengertian dan jenis-jenis katalis.

3. Untuk mengetahui beberapa reaksi katalisis.

4. Untuk mengetahui aplikasi mekanisme fasa cair dalam proses katalisis

BAB II
PEMBAHASAN
A. REAKSI FASE CAIR

Fasa adalah sejumlah zat yang homogen baik secara kimia maupun fisika, atau
dapat juga dikatakan bahwa sebuah sistem yang homogen.Secara umum telah dikenal tiga
kelompok fasa yaitu; fasa gas, fasa cair dan fasa padat. Sifat suatu fasa dinyatakan
dengan properti-properti intensif, dan biasanya properti-properti intensif yang
diperhatikan adalah temperatur, tekanan, dan konsentrasi. Banyaknya properti intensif
yang harus ditetapkan atau harus dinyatakan agar keadaan setimbang tidak menjadi
samar-samar bisa dihitung dengan menggunakan aturan fasa (Phase Rule).

Dalam kimia, larutan adalah campuran homogen yang terdiri dari dua atau lebih
zat.Zat yang jumlahnya lebih sedikit di dalam larutan disebut (zat) terlarut atau solut,
sedangkan zat yang jumlahnya lebih banyak daripada zat-zat lain dalam larutan disebut
pelarut atau solven. Komposisi zat terlarut dan pelarut dalam larutan dinyatakan dalam
konsentrasi larutan, sedangkan proses pencampuran zat terlarut dan pelarut membentuk
larutan disebut pelarutan atau solvasi.
Dalam larutan cair, antara partikel komponen larutan terdapat interaksi yang
relative kuat.Partikel zat terlarut bergerak bersama pelarut ke segala arah dalam
bejana.Oleh karena itu, dua jenis zat terlarut dapat bertabrakan dan menimbulkan
reaksi.Reaksi kimia dapat terjadi dalam larutan cair, contohnya dalam air laut, sungai,
dan dalam organisme. Banyak zat kimia dapat direaksikan dengan zat lain setelah dalam
bentuk larutan. Dalam hal ini pelarut berfungsi sebagai medium reaksi.

B. APLIKASI MEKANISME REAKSI FASE CAIR PADA PROSES KALISIS

Pada banyak reaksi, ada suatu substansi atau bahan atau zatyang bukan reakstan
an juga bukan produk, tetapi dapat dan bahkan sangat mempengaruhi kecepatan
reaksinya. Substansi inilah yang dinamakan katalis atau katalisator.Berzellius pada tahun
1835 merupakan ilmuwan yang pertama kali menggunakan istilah katalis.Katalis
merupakan suatu zat ata substansi yang dapat mempercepat reaksi dan mengarahkan atau
mengendalikannya, tanpa terkonsumsi oleh reaksi, namun bukannya tanpa
bereaksi.Katalis bersifat mempengaruhi kecepatan reaksi, tanpa mengalami perubahan
secara kimiawi pada akhir reaksi.Katalis adalah suatu zat yang mempercepat laju
reaksireaksi kimiapada suhu tertentu, tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh
reaksi itu sendiri.Peristiwa / fenomena / proses yang dilakukan oleh katalis ini disebut
katalisis.Istilah negative catalyst (inhibitor) merujuk kepada zat yang berperan
menghambat atau memperlambat berlangsungnya reaksi. Ada beberapa contoh
mekanisme reaksi fase cair pada proses katalis diantara yaitu katalis asam basa dan
enzim, ketiganya akan dijelaskan pada bagian penting dalam bab ini.

BEBERAPA GAMBARAN TENTANG KATALIS

1. Katalis berperan mempercepat reaksi (meningkatkan kecepatan/laju reaksi)

2. Katalis tidak muncul di dalam persamaan stoikiometri reaksi, karena katalis bukanlah
reaktan dan juga bukan produk. Hal berlaku secara umum, kecuali pada kasus reaksi
autokatalitik. Katalis muncul di dalam mekanisme reaksi, serta muncul (secara
langsung maupun tidak langsung) dalam persamaan kecepatan reaksi.

3. Kuantitas atau banyaknya katalis tidak mengalami perubahan selama reaksi


berlangsung. Kendatipun demikian, seiring dengan berlangsungnya proses, pada
kenyataannya katalis dapat mengalami perubahan sifat-sifat kimia dan fisika secara
irreversibel yang mengarah kepada terjadinya deaktivasi.

4. Komposisi kimiawi suatu katalis tidak berubah pada akhir reaksi.

5. Katalis dibutuhkan oleh suatu reaksi dalam kuantitas yang sangat sedikit. Contoh: 1
gram katalis logam Pt dibutuhkan untuk reaksi penguraian 108 liter H2O2.

6. Jika lebih dari 1 (satu) reaksi berlangsung secara simultan pada saat yang bersamaan,
maka pada umumnya katalis mempengaruhi arah atau selektivitas atau spesifisitas
reaksi. Artinya, katalis bersifat unik (spesifik); katalis tertentu hanya mempercepat
jenis reaksi tertentu.

7. Katalis tidak mengubah atau menggeser kesetimbangan reaksi, termasuk semua sifat
termodinamikanya, seperti kecenderungan keberlangsungan reaksi (berdasarkan
perubahan energi bebas Gibbs reaksi, G), besarnya panas reaksi (H), harga tetapan
kesetimbangan reaksi (K), dan konversi maksimum reaksi (Xe) yang dapat dicapai
pada kondisi tertentu. Dengan atau tanpa katalis, sifat-sifat termodinamika reaksi
tidak mengalami perubahan. Katalis hanya berpengaruh terhadap sifat kinetika reaksi.

8. Katalis tidak memulai berlangsungnya suatu reaksi, tetapi mempengaruhi kecepatan


reaksinya. Katalis hanya mempromosikan reaksi-reaksi yang perubahan energi bebas
Gibbs (G)-nya berharga negatif. Dengan kata lain, katalis tidak mampu
mempercepat suatu reaksi, pada kondisi tertentu, yang secara termodinamika tidak
dapat berlangsung.

9. Katalis hanya mempercepat reaksi untuk mencapai kesetimbangan (Bandingkan 2


grafik profil konversi reaksi versus waktu reaksi yang diilustrasikan pada gambar di
bawah ini. Reaksi yang menggunakan katalis jauh lebih cepat mencapai
kesetimbangan dibandingkan). dengan reaksi tanpa katalis

Karena tetapan kesetimbangan reaksi (K) yang merupakan perbandingan antara


tetapan kecepatan reaksi ke kanan terhadap tetapan kecepatan reaksi ke kiri tidak
mengalami perubahan, maka katalis bersifat mempercepat reaksi dalam kedua arah.
Artinya, katalis yang mempercepat reaksi ke kanan juga akan mempercepat reaksi ke
kiri (reaksi balik). Contoh: logam baik digunakan sebagai katalis reaksi hidrogenasi
dan sekaligus dehidrogenasi.
10. Katalis mempunyai suhu operasi optimum
11. Katalis dapat teracuni oleh suatu zat dalam jumlah yang sangat sedikit yang disebut
racun katalis. Contoh:

12. Keaktifan katalis dapat diperbesar oleh suatu zat yang disebut pemercepat katalis
(promotor). Contoh: Efisiensi katalis CuO-ZnO yang digunakan untuk mengkatalisis
reaksi shift conversion (CO (g) + H2O (g) CO2 (g) + H2 (g)) pada proses
pembuatan pupuk urea ditingkatkan melalui penambahan promotor Al2O3.
13. Pada reaksi-reaksi tertentu, terdapat salah satu produk reaksi yang dapat berfungsi
sebagai katalis untuk reaksi yang bersangkutan. Zat atau produk reaksi ini disebut
autokatalis, sedangkan reaksinya biasa disebut reaksi autokatalitik. Contoh:

14. Katalis yang dapat menghambat atau memperlambat kecepatan reaksi disebut katalis
negatif (atau inhibitor). Contoh:

SEBERAPA BESAR KATALIS DAPAT MEMPERCEPAT REAKSI?


Bisa sampai jutaan kali lipat, bahkan lebih!!! Ilustrasi:Reaksi hidrogenasi etilena menjadi
etana:
C2H4 (g) + H2 (g) C2H6 (g) yang dikatalisis oleh katalis oksida Cu-Mg (CuO-MgO)
Berdasarkan penelitian, diketahui bahwa kecepatan reaksi tersebut di atas yang
dinyatakan dalam persamaan kinetika reaksi berorde-satu terhadap tekanan parsial gas H2
untuk:

BAGAIMANA KATALIS DAPAT MEMPERCEPAT REAKSI?


Katalis dapat mempercepat reaksi dengan cara menurunkan energi aktivasi reaksi. Energi
aktivasi reaksi merupakan banyaknya energi minimum yang dibutuhkan oleh reaksi agar
reaksi dapat berlangsung. Perhatikan gambar berikut ini (hubungan antara energy of
reacting particles versus reaction path untuk kasus reaksi eksotermik):

Keterangan gambar:
Ea1 energi aktivasi reaksi tanpa katalis
(kompleks atau intermediates yang mempunyai energi potensial yang
tinggi mengakibatkan kecepatan reaksi yang rendah).
Ea2 energi aktivasi reaksi dengan katalis
(barrier energy yang lebih rendah dibandingkan dengan reaksi tanpa
katalis mengakibatkan kecepatan reaksi yang makin tinggi)
Hr panas reaksi = H reaktan H produk reaksi
Penurunan energi aktivasi reaksi disebabkan oleh terjadinya pembentukan alur
atau mekanisme reaksi yang berbeda (yakni antara reaksi tanpa katalis dan reaksi dengan
katalis). Bahkan, untuk suatu jenis reaksi yang sama, alur atau mekanisme reaksi yang
terbentuk akibat penggunaan suatu katalis tertentu akan berbeda dengan alur atau
mekanisme reaksi yang terbentuk akibat penggunaan katalis yang lain. Dengan demikian,
katalis hanya bersifat memberikan alternatif.Berdasarkan teori keadaan-transisi (atau
teori kompleks aktif), katalis mampu menurunkan hambatan energi potensial (potential
energy barrier) yang harus dilalui oleh reaktan-reaktan untuk membentuk produk-produk
reaksi.Dengan peranan yang sangat penting ini, maka katalis sangat di perlukan oleh
tubuh dalam proses pencernaan makanan di dalam tubuh. Fungsi penting katalis ( enzim )
ini memberikan dampak besar terhadap kelancaran pencernaan makanan di dalam tubuh.
Misalnya saja adalah enzim amylase di dalam mulut (air liur) yang membantu memecah
amilosa. Selain peranan katalis di dalam tubuh, katalis juga berperan dalam proses kimia
lainnya.

JENIS-JENIS KATALISIS

1. Katalis Homogen

Katalis homogen merupakan katalis yang mempunyai fasa yang sama dengan
reaktan dan produk reaksi. Proses katalisis terjadi melalui perubahan senyawa, dari
senyawa-senyawa sederhana menjadi senyawa yang lebih kompleks yang menyebabkan
terjadinya pengubahan susunan molekul dan ligan Katalis. Dalam katalisis homogen,
reaktan dan katalis terdispersi dalam satu fasa, biasanya fasa cair. Dalam pengoperasian
reaksinya, katalis fasa cair mempunyai keterbatasan pada suhu dan tekanan, sehingga
peralatan pada reaktor menjadi lebih kompleks.

Sebagian besar reaksi katalis homogen adalah asam basa, seperti halnya reaksi
hidrolisis dari ester atau mutarotasi glukosa. Katalisis asam dan basa adalah jenis katalisis
homogen yang paling penting dalam larutan cairan. Dengan menganggap S adalah suatu
substrat dengan suatu reaksi asam basa. Contohnya pada H2SO4 sebagai katalis (asam)
dalam reaksi esterifikasi. Asam basa menurut Bronsted Lowry adalah :

HA + H2O H3O+ + A-
A- + H2O HA + OH-
Maka laju reaksi katalitik adalah:
r = kkat [S]
di mana kkat = ko + kH [H3O] + kOH [OH] + kHA [HA] + kA [A] dan k0 adalah
laju tanpa katalis sedang yang lain adalah laju dengan katalis sesuai dengan zatnya
masing masing. Contohnya, reaksi etil asetat dengan air yang menghasilkan asam asetat
dan etanol biasanya berlangsung sangat lambat sehingga sukar diukur.

Tanpa kehadiran katalis, hukum lajunya ialah :

Laju = k [CH3COOC2H5]

Namun, reaksi dapat dikatalisis oleh asam dengan bantuan asam klorida, sehingga
lajunya menjadi :

Laju = Kc[CH3COOC2H5] [H+]

Contoh lain dalam proses katalisis asam basa adalah reaksi dekomposisi hydrogen
peroksida yang dikatalisis oleh asam sulfat. Makin pekat konsentrasi asam sulfat yang
ditambahkan, reaksi akan berlangsung makin cepat. Reaksinya adalah :

H2O2 + 2 H+ + I- 2 H2O + I2

Dalam penggunaannya , katalis homogen sulit diterapkan karena setelah reaksi


berlangsung, katalis harus dipisahkan dari produk. Hal ini menjadi kesulitan
tersendiri.Biasanya katalis homogen jarang di jumpai pada percobaan-percobaan di
laboratorium kimia atau biasanya hanya dijumpai pada industri-industri tertentu saja,
misalnya industri besar seperti industri obat-obatan atau industri kosmetik dan industri
makanan. Selain itu, beberapa industri petrokimia seperti produksi asam asetat, alkilasi
olefin, dan hidroformilasi juga menggunakan sistem katalisis homogen.

Keuntungan dari katalis homogen yaitu :


a. Kespesifikannya dan tidak dibutuhkan suhu dan tekanan yang tinggi dalam reaksi.
b. Aktifitas selektifitasnya tinggi.
c. Tidak mudah teracuni oleh keberadaan pengotor.
d. Mudah dioperasikan.
e. Mudah dimodifikasi.
f. Mudah untuk dipelajari.

Kerugian dari katalis homogen yaitu :


a. Sulit dipisahkan dari campuran reaksi.
b. Kurang stabil pada suhu tinggi.

2. Katalis Heterogen
Katalis heterogen merupakan katalis yang fasanya tidak sama dengan reaktan dan
produk. Katalis heterogen secara umum berbentuk padat dan banyak digunakan pada
reaktan berwujud cair atau gas.Contoh-contoh dari katalis heterogen adalah zeolit, CaO,
MgO, dan resin penukar ion. Mekanisme katalis heterogen melalui lima langkah, yaitu:
Transport reaktan ke katalis, interaksi reaktan-raktan dengan katalis (adsorpsi), reaksi
dari spesi-spesi yang teradsorpsi menghasilkan prodduk-produk reaksi, deadsorpsi
produk dari katalis, transport produk menjauhi katalis. Keuntungan dari katalis heterogen
adalah ramah lingkungan, tidak bersifat korosif, mudah dipisahkan dari produk
dengan cara filtrasi, serta dapat digunakan berulangkali dalam jangka waktu yang lama.
Selain itu, katalis heterogen meningkatkan kemurnian hasil karena reaksi samping dapat
dieliminasi. Contoh-contoh dari katalis heterogen adalah zeolit, CaO, MgO, dan resin
penukar ion.

3. Katalis Enzim
Dari semua proses rumit yang ada dalam sistem mahluk hidup, tidak satu pun
yang lebih menarik atau lebih penting dari pada katalisis enzim. Enzim adalah suatu
biokatalisator organik berupa protein yang menjadi katalis suatu reaksi tanpa ikut
bereaksi yang sifatsifat kinetikanya sama dengan katalis heterogen atau sering kali
dikatakan mikroheterogen katalis. Enzim umumnya berukuran besar yang mengandung
satu atau lebih tapak aktif tempat terjadinya interaksi enzim dengan substrat. Tapak-tapak
ini memiliki struktur sesuai dengan molekulnya, sama seperti kunci yang sesuai dengan
gembok tertentu, seperti pada gambar 1.2.

Gambar 1.2
Banyak enzim sangat spesifik pada daerah aktifnya. Enzim urease, misalnya
mengkatalisis hidrolisis urea, (NH2)2CO dengan persamaan reaksi yaitu :
H3O+(aq) + (NH2)2CO(aq) + H2O(l)urease 2 NH4+(aq) + HCO3-(aq)
Selain itu, biasanya enzim merupakan katalis yang sangat efisien dan selektif. Sebagai
contoh, reaksi dekomposisi H2O2 yang dikatalisasi oleh enzim catalase adalah lebih cepat
109 kali dari pada diakatalisasi oleh katalis anorganik.
Kinetika katalisis enzim dinyatakan secara skematis lewat mekanisme reaksi
yaitu:
k
E+S 1 ES
k
ES 2 E+P
Disini E berarti enzim bebas, S adalah substrat, ES untuk kompleks yang terbentuk bila
substrat melekat pada daerah aktif, dan P adalah produk dari transpormasi kimia. Secara
umum, laju reaksi seperti itu dinyatakan dengan persamaan :
[]
=

= []
Reaksi metabolisme dalam tubuh makhluk hidup sangat banyak, karena itu jenis-
jenis enzim pun sangat banyak sebab setiap satu enzim hanya dapat mengkatalis satu
jenis reaksi saja. Sesuai peranannya dalam organisme, enzim merupakan suatu katalis
yang sangat berguna bagi tubuh manusia karena sangat diperlukan dalam proses
pencernaan dan berbagai proses kimia di dalam tubuh.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN

a. Konsep dasar fasa cair yaitu larutan yang dimana dalam larutan tersebut ada
yang disebut sebagai zat terlarut atau solut dan ada juga yang disebut sebagai
pelarut atau solven.

b. Interaksi suatu zat dengan pelarutnya ada empat kemungkinan, yaitu: zat terlarut
bereaksi dengan pelarut, zat terlarut berinteraksi kuat dengan pelarut, zat terlarut
berinteraksi lemah dengan pelarut, dan zat yang tidak larut dalam pelarut.

c. Katalis adalah Katalis adalah zat yang dapat merubah laju reaksi kimia tanpa
ikut bereaksi.

d. Jenis katalis berdasarkan mekanisme kerjanya ada tig, yaitu; katalis homogen
katalis heterogen, dan katalis enzim.

e. Salah satu aplikasi dari masing-masing katalis tersebut adalah;

katalis heterogen dalam pembuatan asam nitrat dengan proses ostwald,

katalis homogen sebagai katalisator asam-basa, H2SO4 sebagai katalis


(asam) dalam reaksi esterifikasi, reaksi etil asetat dengan air yang
menghasilkan asam asetat dan etanol dikatalis oleh asam
klorida.Pemanfaatan limbah abu tandan kosong sawit sebagai katalis
basa pada pembuatan biodiesel dari minyak sawit.

katalis enzim untuk mengkonvensi urea ke ammonia dan karbon


dioksida, enzim amilase dapat digunakan pada proses perombakan pati
menjadi glukosa
DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia.2001. Elektrokimia dan Kinetika Kimia.Bandung :PT. Citra Aditya Bakti.

Anonym. 2013. Larutan. http://id.wikipedia.org. Diakses pada tanggal 11 September 2015.

Chang, Raymond. 2005 . KIMIA DASAR Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Shinta.2013. Dasar- Dasar Katalis dan Katalisis.https://shintaleon.wordpress.com/. Diakses pada


tanggal 12 September 2015.

Oxtoby, Gillis dan Nachtrieb. 1999. Prinsip-Prinsip Kimia Jilid I dan II. Jakarta : Erlangga.

Yoeswono, Triyono Triyono, Iqmal Tahir.2007. Jurnal Manusia dan Lingkungan.http://jpe-


ces.ugm.ac.id/ojs/index.php/JML/article/view/403. Diakses pada tanggal 13 september 2014.