Anda di halaman 1dari 10

SAP 10: TAHAPAN PENGOLAHAN DAN PENYAJIAN DATA

10. Tahapan Pengolahan dan Penyajian Data


10.1. Editing
Muhamad Teguh dalam bukunya Metodologi Penelitian Ekonomi
dan Aplikasi menyatakan editing merupakan kegiatan untuk meneliti
kembali rekaman atau catatan data yang telah dikumpulkan oleh pencari
data dalam suatu penelitian, apakah hasil rekaman data tersebut cukup baik
dan dapat dipersiapkan untuk proses lebih lanjut ataukah rekaman tersebut
perlu dilakukan peninjauan kembali agar dapat dipakai untuk proses lebih
lanjut.
Lalu Kuncoro dalam bukunya yang berjudul Metode Riset Untuk
Bisnis dan Ekonomi juga menyatakan bahwa editing adalah proses yang
bertujuan agar data yang dikumpulkan memberikan kejelasan, dan dapat
dibaca, konsisten, dan komplet. Editing data agar jelas dari terbaca akan
membuat data dengan mudah dapat dimengerti. Penyunting (editor) akan
melihat ada atau tidaknya ambiguitas dalam data yang dikumpukan.tulisan
tangan yang menimbulkan salah tafsir perlu diperjelas. Dalam kasus
wawancara personal wawancara dapat dipanggil untuk memecahkan
masalah penyuntingan. Penyuntingan instrumen survey, karena salah
klasifikasi dan salah jawaban, merupakan tanggung jawab penyunting.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyuntingan (editing) adalah
pengecekan atau pengoreksian data yang telah dikumpulkan, karena
kemungkinan data yang masuk atau data terkumpul itu tidak logis dan
meragukan. Pada tahapan ini, data yang telah terkumpul melalui daftar
pertanyaan (kuesioner) ataupun pada wawancara perlu dibaca kembali untuk
melihat apakah ada hal-hal yang masih meragukan dari jawaban responden.
Jadi, editing bertujuan untuk memperbaiki kualitas data dan menghilangkan
keraguan data. Pada kesempatan ini, kekurangan data atau kesalahan data
dapat dilengkapi atau diperbaiki baik dengan pengumpulan data ulang atau
pun dengan interpolasi (penyisipan).

1
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengeditan data antara lain
sebagai berikut:
1) Kelengkapan dan kesempurnaan data: Semua pertanyaan yang
diajukan dalam kuesioner harus terjawab semua dan jangan ada
yang kosong.
2) Kejelasan tulisan: Tulisan pengumpul data yang tertera dalam
kuesioner harus dapat dibaca.
3) Kejelasan makna jawaban: Pengumpul data harus menuliskan
jawaban ke dalam kalimat-kalimat yang sempurna dan jelas.
4) Konsistensi data: Data harus memerhatikan konsistensi jawaban
yang diberikan responden.
5) Keseragaman satuan yang digunakan dalam data (uniformitas
data): Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahan-
kesalahan dalam pengolahan dan analisis data. Misalnya
penggunaan satuan kilogram dalam pengukuran berat. Apabila
dalam kuesioner tertulis satuan berat lainnya, maka harus
diseragamkan terlebih dahulu sebelum masuk dalam proses
analisis.
6) Kesesuaian jawaban: Jawaban yang diberikan responden harus
bersangkut paut dengan pertanyaan dan persoalan yang diteliti.
Catatan harus sempurna dalam pengertian bahwa semua kolom atau
pertanyaan harus terjawab atau terisi. Jangan ada satu pun dari jawaban
terbiarkan kosong. Peneliti harus mengenal data yang kosong, apakah
responden tidak mau menjawab, atau pertanyaanya yang kurang dipahami
responden. Dalam mengedit data, hal-hal di atas harus diperjelas, dan jangan
ada satupun pertanyaan ataupun pernyataan atau catatan yang kosong tidak
terjawab. Jawaban atau catatan yang kosong harus disempurnakan dalam
mengedit data. Harus dilihat apakah catatan dapat dibaca atau tidak. Segala
coret-coret harus diperjelas, segala kata-kata atau kalimat sandi harus
diperjelas, baik kalimat ataupun huruf serta angka. Dalam mengedit,
memperjelas catatan supaya dapat dibaca merupakan hal yang perlu sekali
dikerjakan untuk menghilangkan keragu-raguan kemudian.

2
Pekerjaan mengedit juga termasuk mengubah kependekan-
kependekan yang dibuat menjadi peneliti atau pencatat data dan belum tentu
dapat dimengerti oleh pembuat kode. Karena itu, segala kalimat atau kata-
kata yang dipendekkan, ataupun angka yang dipendekkan, perlu diperjelas.
Mengedit juga berarti melihat apakah data konsisten atau tidak, contohnya:
1) Jika ditemukan data tentang pendapatan dalam usaha tani,
pendapatan di luar usaha tani yang tidak cocok dengan total
pendapatan, maka carilah penyebab kesalahan tersebut! Apakah
ada kesalahan dalam mencatat? Atau kesalahpahaman responden
dalam menjawab pertanyaan?
2) Juga perlu dicek, apakah instruksi dalam daftar pertanyaan diikuti
secara seksama oleh responden atau tidak? Jika dalam jawaban
sebenarnya diinginkan supaya berat dinyatakan dalam kilogram,
sedangkan data yang tercatat mempunyai unit gram, maka
jawaban tersebut harus diubah ke dalam unit yang dimintakan
(kilogram).
3) Jika dalam record book, kolom harus diisi dengan unit rumpun,
sedangkan tertulis dengan unit batang, maka jawaban harus
diperbaiki menjadi unit rumpun.
Dengan kata lain, catatan atau jawaban harus dicek uniformitasnya.
Dalam mengedit, juga perlu dicek pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya
tidak cocok. Jika banyak jawaban pertanyaan yang tidak sesuai, maka daftar
pertanyaan tersebut perlu dikumpulkan, dan harus diklasifikasikan dalam
satu kelompok. Jika hanya beberapa saja yang tidak cocok, maka hal ini
merupakan kesalahan peneliti dan perlu diperbaiki. Perlu juga
diperingatkan, jangan sekali-kali mengganti jawaban, angka, ataupun
pertanyaan-pertanyaan dengan maksud membuat data tersebut sesuai,
konsisten, dan cocok untuk maksud tertentu. Menggantikan data orisinal
demi mencocokkan dengan sesuatu keinginan peneliti, berarti melanggar
prinsip-prinsip kejujuran intelektual (intellectual honesty).

3
10.2. Coding
Coding adalah pemberian tanda, simbol, dan kode bagi tiap-tiap data
yang termasuk dalam kategori yang sama. Tanda dapat berupa angka atau
huruf. Tujuan coding adalah untuk mengklasifikasi jawaban kedalam
kategori kategori yang penting. Ada dua langkah penting dalam
melakukan coding yaitu :
1) Menentukan kategori-kategori yang akan digunakan.
2) Mengalokasikan jawaban individual pada kategori-kategori
tersebut.
Kumpulan kategori-kategori ini disebut dengan coding frame. Pada
pertanyaan tertutup biasanya coding frame sudah dilengkapi, tetapi pada
pertanyaan terbuka sulit untuk merencanakan coding frame yang
bersangkutan. Mengkostruksikan coding frame hendaknya dilakukan oleh
seseorang yang benar-benar mengetahui tujuan peneliti dan mengetahui
bagaimana hasil penelitian akan digunakan. Coding frame ini perlu di tes
terlebih dahulu oleh petugas coding. Hal ini dilakukan, selain untuk melatih
petugas coding juga untuk membuka kemungkinan terciptanya coding frame
yang lebih baik (Rahyuda, 2004:82).
Nasir mengemukakan bahwa mengkode adalah menaruh angka pada
tiap jawaban (Moh. Nasir, 1998:407), untuk dapat memberikan kode pada
jawaban tersebut perlu diperhatikan:
1) Kode dan jenis pertanyaan
a) Bila jawaban berupa angka maka kode yang digunakan
adalah angka itu sendiri.
b) Bila jawaban untuk pertanyaan tertutup jawabannya sudah
disediakan terlebih dahulu dan responden hanya mengecek
jawaban tersebut sesuai dengan instruksi. Responden tidak
boleh menjawab di luar yang telah ditetapkan.
c) Bila jawaban pertanyaan semi terbuka, selain dari jawaban
yang telah ditentukan maka jawaban lain yang dianggap
cocok oleh responden masih diperkenankan untuk dijawab.
Jawaban tambahan tersebut perlu diberi kode tersendiri.

4
d) Bila jawaban pertanyaan terbuka, jawaban yang diberikan
sifatnya bebas. untuk memberi kode, jawaban- jawaban
tersebut harus dikategorikan lebih dahulu atau
dikelompokkan sehingga tiap kelompok berisi jawaban yang
sejenis. Kalau masih ada jawaban yang tidak bisa masuk ke
kelompok tersebut dapat dibuatkan kategori-kategori lain-
lain, tetapi tidak boleh terlalu banyak dan juga perlu diingat
jawaban pertanyaan tidak boleh tumpang tindih.
e) Bila jawaban kombinasi, hampir serupa dan jawaban
pertanyaan tertutup. Selain ada jawaban yang jelas,
responden masih dapat menjawab kombinasi dari beberapa
jawaban.
2) Tempat kode
Kode dapat dibuat pada kartu tabulasi atau pun daftar pertanyaan
itu sendiri, jika data diolah dengan komputer, kode-kode harus dibuat
dalam coding sheet. Setelah tahap editing selesai, maka data-data yang
berupa jawaban-jawaban responden perlu diberi kode untuk
memudahkan dalam menganalisis data. Pemberian kode pada data
dapat dilakukan dengan melihat jawaban dari jenis pertanyaan yang
diajukan dalam questioner (Moh.Nazir,2014:306). Pengkodean data
dapat dibedakan atas beberapa hal berikut ini :
a) Pengkodean terhadap jawaban yang berupa angka.
b) Pengkodean terhadap jawaban dari pertanyaan tertutup.
c) Pengkodean terhadap jawaban dari pertanyaan semi terbuka.
d) Pengkodean terhadap jawaban dari pertanyaan terbuka.
Setelah seluruh data responden dalam daftar pertanyaan diberi
kode, maka langkah berikutnya adalah menyusun buku kode. Buku
kode ini sebagai pedoman untuk memindahkan kode jawaban
responden dalam questioner ke lembaran kode, yang kemudian juga
akan berguna sebagai pedoman peneliti dalam mengindentifikasi
variabel penelitian yang akan digunakan dalam analisis data
(membaca tabulasi data) (Moh.Nazir, 2014:309).

5
10.3. Tabulasi yang Didahului oleh Tahapan Entry Data
Data yang dikumpulkan setelah melewati proses editing dan coding
langkah selanjutnya yaitu menyusun data tersebut dalam bentuk tabel.
Jawaban yang serupa dikelompokkan dengan cara yang diteliti dan teratur,
kemudian dihitung dan dijumlahkan berapa banyak peristiwa atau gejala
atau item yang termasuk dalam satu kategori. Kegiatan ini dilakukan sampai
tabel-tabel yang berguna, terutama pada data kuantitatif. Dalam tabulasi,
angka-angka akan dimasukkan dalam satu tabel yang terdiri atas kolom-
kolom, maka ada baiknya bila susunan yang logis dan tiap-tiap kepala
kolom diberi keterangan yang menyatakan isi kolom yang bersangkutan.
Dengan demikian, dapat dilakukan pencairan hubungan-hubungan yang
berarti antara jawaban yang satu dengan jawaban lainnya, hanya dengan
melihat kepada kolom tersebut.
Pengaturan data dapat bermacam-macam seperti pengaturan menurut
banyaknya peristiwa yang terjadi atau jumlah jawaban yang sama (tabel
frekuensi) menurut kelompok atau kelasnya (tabel klasifikasi) atau secara
korelatif (tabel korelasi). Jika setelah dibuat distribusi frekuensi ada kode
variabel yang tidak cocok, maka harus dilakukan pembersihan data. Setelah
itu, baru dilanjutkan ke dalam analisis berikutnya.
Tabel juga dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu tabel induk,
tabel teks dan tabel frekuensi.
1) Tabel induk adalah tabel yang berisi semua data yang tersedia
secara terperinci untuk melihat kategori data secara keseluruhan.
Tabel tersebut tidak pernah dimasukkan dalam penjelasan
keterangan, tetapi digunakan sebagai dasar tabel untuk membuat
tabel lain yang lebih singkat. Jika sangat diperlukan, tabel ini
diletakkan pada apendiks.
2) Tabel teks adalah tabel yang diringkas sesuai dengan keperluan.
Tabel ini biasanya dibuat langsung dalam teks dan digunakan saat
membuat penafsiran.
3) Tabel frekuensi adalah tabel yang menyajikan berapa kali sesuatu
hal terjadi. Tabel frekuensi ini sering digunakan untuk mengecek

6
kesesuaian hubungan jawaban antara satu pertanyaan dengan
pertanyaan lain dalam daftar pertanyaan. Tabel frekuensi yang
menyatakan persentase dinamakan tabel frekuensi relatif,
sedangkan jika angka kumulatif yang digunakan, maka tabel
tersebut dinamakan tabel frekuensi kumulatif.
10.4. Penyajian Data (Tabel, Grafik)
10.4.1. Penyajian Data dalam Bentuk Tabel
Tabel merupakan kumpulan angka-angka yang disusun
menurut kategori-kategori tertentu sehingga memudahkan pembuatan
analisis data (Supranto, 2000). Penyajian data dengan tabel bisa
memberikan angka-angka yang lebih teliti. Menurut Rahyuda (2004),
penyajian data dengan tabel dapat dibagi menjadi 2 jenis yaitu tabel
garis dan kolom serta tabel distribusi frekuensi.
1) Tabel Baris dan Kolom adalah tabel yang memuat
keterangan mengenai baris dan kolom.
2) Tabel Distribusi Frekuensi adalah tabel yang menyusun
distribusi datanya dalam bentuk frekuensi. Tabel ini dibagi
menjadi dua yaitu tabel distribusi frekuensi tunggal dan
bergolong. Tabel distribusi frekuensi tunggal adalah tabel
yang digunakan untuk menyusun distribusi data dalam
frekuensi dengan distribusi yang bersifat tunggal,
sedangkan tabel distribusi frekuensi bergolong adalah
tabel yang digunakan untuk menyajikan data dalam
frekuensi dengan digolongkan atas kategori tertentu.
Menurut Supranto (2000), bentuk tabel dikategorikan menjadi
tiga yaitu tabel satu arah, tabel dua arah, dan tabel tiga arah.
1) Tabel Satu Arah (One Way Table): Tabel satu arah adalah
tabel yang memuat keterangan mengenai satu hal atau satu
karakteristik saja, misalnya data personalia: jumlah data
karyawan menurut pendidikan.
2) Tabel Dua Arah (Two Way Table): Tabel dua arah adalah
tabel yang menunjukkan dua hal atau dua karakteristik.

7
Misalnya tabel penjualan suatu perusahaan di beberapa
daerah dan pada beberapa jenis produk.
3) Tabel Tiga Arah (Three Way Table): Tabel tiga arah
adalah tabel yang menunjukkan 3 hal atau 3 karakteristik.
Misalnya jumlah penjualan suatu perusahaan di beberapa
daerah berdasarkan kawasan atas beberapa jenis produk
yang berbeda.
10.4.2. Penyajian Data dalam Bentuk Grafik
Grafik merupakan gambar-gambar yang menunjukkan secara
visual data berupa angka atau mungkin juga dengan simbol-simbol
(Supranto, 2000). Penyajian data dalam bentuk grafik mempunyai
beberapa fungsi, diantaranya lebih mudah dibaca daripada deretan
data mentah. Penggambaran data dalam sebuah grafik dapat dilakukan
dengan menggunakan berbagai jenis grafik tergantung sifat datanya.
Bila data yang hendak disajikan merupakan data nominal, maka
penyajian data menggunakan grafik berupa batang, lambang, garis,
atau lingkaran.
1) Grafik Batang: Grafik batang adalah grafik yang
menggambarkan data menggunakan bentuk batang.
Batang menunjukkan data dan ketinggiannya
menggambarkan frekuensinya.
2) Grafik Lambang: Grafik lambang adalah penyajian data
dengan menggambarkan data menggunakan lambang
tertentu dari yang dijelaskan. Dalam menggambarkan
lambang, grafik lambang menyertakan keterangan unit
untuk tiap satu gambar.
3) Grafik Garis: Grafik garis merupakan bentuk penyajian
data dalam bentuk garis yang diklasifikasikan atas ciri-ciri
kronologis, geografis, kuantitatif maupun kualitatif. Salah
satu bentuk data yang dapat diklasifikasikan secara
kronologis adalah deret berkala (time series).

8
4) Grafik Lingkaran: Grafik lingkaran yaitu grafik yang
menggambarkan perbandingan nilai-nilai dari suatu
karakteristik. Untuk mengetahui perbandingan suatu data
terhadap keseluruhan, suatu data lebih tepat disajikan
dalam bentuk diagram lingkaran. Grafik data berupa
lingkaran yang telah dibagi menjadi juring-juring sesuai
dengan data tersebut. Bagian-bagian dari keseluruhan data
tersebut dinyatakan dalam persen atau derajat.

9
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Tanzeh. 2011. Metodologi Penelitian Praktis. Yogyakarta: Teras.
Rahyuda, Ketut. 2016. Metode Penelitian Bisnis. Denpasar: Udayana University
Press.
Sugiyono. 2007.Metode Penelitian Bisinis. Bandung : Alfabeta.

10