Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PRAKTIKUM LABORATORIUM FISIKA MODERN

DIFRAKSI ELEKTRON DALAM KISI POLIKRISTAL

Program Studi Fisika, Fakultas Teknologi Informasi dan Sains

Universitas Katolik Parahyangan

Andreas Budi Cahyanto / (2016720002)

Dualisme gelombang partikel merupakan fenomena bahwa partikel elementer dapat


menunjukkan sifat tidak hanya partikel melainkan dapat juga menunjukkan sifat gelombang.
Louis De Broglie mengemukakan bahwa partikel dapat bersifat seperti gelombang dengan
panjang gelombang yang sebanding dengan konstanta plank dibagi dengan momentum
partikel tersebut.Dalam praktikum kali ini, fenomena dualisme gelombang partikel dapat
dilihat dengan melakukan percobaan difraksi elektron oleh kisi polycrystalline grafit.
Praktikan akan mengamati pola difraksi elektron menggunakan alat tabung difraksi elektron
yang diberi tegangan kurang lebih 3 sampai 5 kV. Ketika pola difraksi muncul dilayar ,
praktikan akan mengukur diameter dari pola lingkaran kecil dan lingkaran besar yang muncul
dari setiap tegangan yang diberikan dengan rentang 0,1 kV. Data-data ini yang akan
digunakan untuk menentukan panjang gelombang elektron dengan menerapkan postulat De
Broglie.

1. Pendahuluan

Tujuan praktikum kali ini adalah menentukan hubungan tegangan dengan diameter pola
lingkaran yang muncul pada layar dan menentukan panjang gelombang elektron dengan
menerapkan postulat de Broglie. Dualisme gelombang partikel adalah suatu fenomena bahwa
setiap partikel elementer tidak hanya memiliki sifat partikel melainkan dapat juga memiliki
sifat gelombang. Louis De Broglie mengemukakan bahwa partikel dapat memiliki sifat
gelombang dengan panjang gelombang memenuhi persamaan berikut :


= (1)

1
Dengan

: Panjang Gelombang

h : Konstanta Planck

: 6,626 1034 J.s

: 4,136 1015 eV

p : Momentum Partikel

Untuk mengetahui fenomena dualisme gelombang-partikel pada elektron, dapat melalui


fenomena difraksi elektron dalam kisi polikristal grafit. Untuk mengamati pola difraksi
tersebut, digunakan tabung difraksi elektron yang diberi sumber sekitar 2 sampai 5 kV.

Pada tabung difraksi elektron, terdapat komponen-komponen antara lain katoda, control grid
(tabung Wehnelt), anoda, grafit foil dan layar flourescent. Prinsip kerja dari tabung difraksi
difraksi elektron yaitu elektron berasal dari elektron gun atau pistol elektron yang akan
menghasilkan elektron melalui thermionic pada katoda yang dipanaskan. Elektron-elektron
ini difokukskan menjadi sinar yang tipis dengan menggunakan control grid (silinder
Wehnelt). Kemudian elektron ini akan mengalami percepatan karena adanya medan listrik
yang kuat antara katoda dan anoda. Elektron yang dipercepat ini akan melewati anoda dan
akan menabrak grafit foil dengan kecepatan yang tinggi. Setelah menabrak grafit foil,
elektron akan mengalami difraksi sehingga elektron akan bergerak menuju layar dengan arah
yang berbeda-beda. Ketika elektron telah sampai pada layar flourescent, akan terjadi emisi
cahaya sehingga pola difraksi dapat diamati. Semua konfigurasi alat ini diletakkan pada
tabung vakum untuk mengurangi tumbukan antara elektron dengan molekul-molekul gas di
udara yang akan menyebabkan atenuasi sinar.

Tahun 1931 W.L Bragg mengemukakan bahwa sinar x-ray atau makromatik elektron
mengenai kisi Kristal, maka gelombang akan terhamburkan dengan intensitas hamburan
dapat diamati dengan kondisi sudut datang sama dengan sudut hambur dan perbedaan
panjang lintasan sebanding dengan bilangan interger dari panjang gelombang. Sehingga
untuk keadaan maksimum, dalam hukum Bragg panjang gelombang elektron yang mengenai
kristal adalah sebagai berikut

2
n = 2d sin (2)

dengan

n : 1, 2, 3, .....

d : Jarak antar Bidang Lattice

: Sudut Difraksi

Apabila terdapat banyak kristal-kristal kecil yang tersusun secara acak misalnya seperti pada
polakristal grafit, akan diperoleh berkas-berkas terdifraksi maksimum yang membentuk
kerucut dan akan terbentuk pola lingkaran/cincin dengan diameter tertentu pada layar. Akan
terbentuk pola difraksi Hull-Debye Scherrer untuk kristal berwujud tepung (kumpulan kristal
kecil) yaitu untuk tiap jarak kisi kristal d dan orde n akan diperoleh satu cincin.

Diameter pada difraksi Hull-Dybe Schrrer pada layar akan memenuhi persamaan


D=2n (3)

Dengan

D : Diameter cincin

L : Jarak antara grafit dan layar.

Pola cincin itu dipengaruhi oleh besarnya panjang gelombang dan percepatan tegangan U.
Berdasarkan persamaan energi elektron, didapat persamaan sebagai berikut


e U = m = (4)

dengan

U : Tegangan percepatan

e : Muatan elektron

3
m : Masa Partikel

v : Kecepatan Partikel

Persamaan (4) juga dapat ditulis

= = (5)

Kemudian dengan subtitusi persamaan (5) ke dalam persamaan de Broglie, akan didapat
persamaan


= (6)

2. Metode Percobaan

Pada percobaan kali ini terdapat beberapa prosedur keselamatan yang harus diperhatikan
antara lain tidak memberikan tegangan lebih dari 5 kV, tidak menyentuh kaca pada tabung
dam tidak memberikan tekanan yang berlebih pada tabung, serta hati-hati dalam memasukkan
kontak pin pada dudukan tabung.

Langkah pertama pada praktikum ini adalah meng-setup alat. Praktikan menghubungkan
soket pemanas katoda F1dan F2 pada dudukan tabung dengan power supply.Kemudian
praktikan menhubungkan soket C (catodhe cap) dan X (focusing electrode) pada dudukan
tabung dengan kutub negatif. Setelah itu hubungkan soket A (Anoda) dengan kutub positif
dengan output 5kV/2mA pada power supply dan hubungkan kutub positif power supply 10
kV dengan ground. Pastikan kabel penghubung terpasang dengan benar dan kencang. Setelah
setup alat, hidupkan power supply dan beri tegangan sesuai dengan kemauan praktikan
hingga muncul pola difraksi. Awalnya praktikan memberikan tegangan maksimum yaitu 5
kV. Kemudian praktikan mengamati pola difraksi yang muncul pada layar serta lingkaran
besar. Kemudian lakukanlah langkah ini diulangi dari tegangan 5 kV turun ke tegangan 2 kV
dengan rentang 0,1 kV.

4
3. Pengolahan Data

Gambar 1. Hasil grafik percobaan d2

Gambar 2. Data hasil percobaan d2

5
Gambar 3. Grafik data percobaan d1

6
Gambar 4. Tabel penghitungan rata-rata data dari d1 dan d2

4. Pembahasan

Pada saat percobaan digunakan tegangan sebesar 3-5 kV. Praktikan tidak boleh menggunakan
tegangan lebih dari 5 kV karena ketika tabung difraksi electron diberikan tegangan lebih dari
5kV, akan dihasilkan sinar X. Selain itu alasan praktikan tidak boleh menggunakan tegangan
yang terlalu tinggi adalah karena tegangan yang terlalu tinggi dapat merusak tabung difraksi

7
elektron. Pada gambar 1, hasil dari grafik menggambarkan d2 dengan rata-rata 2,054, dimana
grafik d2 membentuk agak condong kearah kanan. Sedangkan pada gambar 3, hasil dari
grafik menggambarkan d1 dengan rata-rata 1,134, dimana grafik d1 membentuk agak tegak
lurus.

5. Kesimpulan

Dari paktikum ini, dapat disimpulkan bahwa

1. Tegangan berbanding terbalik dengan panjang gelombang.


2. Panjang gelombang berbanding lurus dengan diameter pola lingkaran yang
muncul pada layar.
3. Semakin besar tegangan yang diberikan pada tabung difraksi elektron, akan
semakin besar momentum elektron dan mengakibatkan panjang gelombang akan
kecil dan diameter pola lingkaran yang muncul juga akan kecil.
4. Panjang gelombang hasil eksperimen tidak sesuai dengan teori disebabkan karena
adanya kesalahan dalam mengukur diameter pola lingkaran yang muncul.
6. Daftar Pustaka

[1] Electron Diffraction Tube

[2] Diffraction of electrons in polycrystalline latice ( Debye-Scherrer difraction )

[3] https://www.scribd.com/doc/.../Struktur-polikristal-grafit