Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Permata Indonesia

Volume 5, Nomor 2, November 2014


Hal. 1-7

UJI DAYA HAMBAT INFUSA DAUN NANGKA (Artocarpus heterophyllus) TERHADAP


PERTUMBUHAN BAKTERI Staphylococcus aureus

Chinthia Sari Yusriana, Chrisnawan Setya Budi, Trisna Dewi

Abstrak : Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan,
bahan hewan, bahan mineral, sediaan galenik atau campuran dari bahan-bahan tersebut, yang
secara tradisional telah digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman. Salah satu
tanaman yang bisa di manfaatkan untuk pengobatan yaitu daun nangka yang memiliki
kandungan flavonoid, saponin, tanin berfungsi sebagai anti mikroba.Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui daya hambat infusa daun nangka (Artocarpus heterophyllus) terhadap
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Mengetahui besar diameter zona hambat
infusa daun nangka terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan metode
difusi Agar. Rancangan penelitian eksperimen yang akan digunakan dalam penelitian ini
adalah Pretest post test control group. Desain ini melibatkan dua kelompok subjek, satu diberi
perlakuan eksperimental (kelompok eksperimen) dan yang lain diberikan kontrol positif dan
negatif (kelompok kontrol).
Hasil dari rata-rata pengukuran zona jernih bakteri Staphylococcus aureus dengan prosentase
30% adalah 1,00 cm, 50% adalah 1,06 cm, dan 70% adalah 1,15 cm. Dari penelitian yang
sudah dilakukan dapat disimpulkan bahwa infusa daun nangka (Artocarpus heterophyllus)
mampu menghambat pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus.
Kata Kunci : Infusa Daun Nangka (Artocarpus heterophyllus)

Abstract : Traditional medicine is the ingredient or ingredients in the form of plant material ,
animal ingredients , mineral materials , galenic preparations or mixtures of these materials ,
which have traditionally been used for treatment based on experience . One of the plants that
can be utilized for the treatment ie jackfruit leaf contains flavonoids , saponins , tannins act as
anti mikroba.Tujuan this study to determine the inhibition of infusion jackfruit ( Artocarpus
heterophyllus ) on the growth of Staphylococcus aureus and large Knowing the diameter of
inhibition zone jackfruit leaf infusion on the growth of Staphylococcus aureus in order
diffusion method . Experimental research design that will be used in this study is a pretest
posttest control group . This design involves two groups of subjects , one given the
experimental treatment ( experimental group ) and the other given positive and negative
controls (control group ) .
The results of measurements of the average clear zone of Staphylococcus aureus with a
percentage of 30 % is 1.00 cm , 1.06 cm was 50 % , and 70 % was 1.15 cm . From the
research that has been done can be concluded that the infusion of leaves of jackfruit
(Artocarpus heterophyllus) is able to inhibit the growth of Staphylococcus aureus . Keywords
: Leaf infusion Jackfruit ( Artocarpus heterophyllus )

1
Jurnal Permata Indonesia, Volume 5, Nomor 2, November 2014, Hal. 1-7

PENDAHULUAN penyebab berbagai infeksi kulit dan jaringan


lunak yang mampu mengancam jiwa. Akhir-
Penggunaan bahan-bahan alami asal akhir ini terjadi peningkatan bakteri yang
tumbuhan (herbal) untuk mengobati resisten terhadap antibiotic, salah satunya
berbagai penyakit sebenarnya bukan bakteri Staphylococcus aureus (Irianto, K.
merupakan hal yang baru bagi masyarakat 2007).
Indonesia.Meskipun sempat tergeser oleh Berdasarkan hal tersebut peneliti
adanya modernisasi dibidang kesehatan, mencoba melakukan penelitian mengenai
tetapi pada kenyataannya obat-obatan herbal kemampuan daya hambat infusadaun nangka
tidak kalah ampuh untuk mengobati (Artocarpus heterophyllus) terhadap
penyakit.Bahkan, obat-obatan herbal juga pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
cenderung lebih murah.Oleh karena itu tidak
mengherankan bila tren obat-obatan herbal Jenis penelitian ini adalah penelitian
kembali marak dikalangan masyarakat eksperimen, yaitu memberikan dan
Indonesia (Agoes, Azwar, 2010). melakukan percobaan terhadap subyek
Banyak jenis tumbuhan yang telah penelitian yang dapat mempengaruhi
diselidiki kekayaan kimianya, salah satunya perubahan pada variabel penelitian dengan
adalah daun nangka. Pada umumnya, daun cara yang sistematis, logis dan teliti didalam
nangka dikenal sebagai pakan ternak, tetapi melakukan kontrol terhadap kondisi subyek
dibalik fungsinya sebagai pakan ternak, penelitian.
daun nangka mempunyai manfaat bagi
Rancangan penelitian eksperimen
kesehatan karena daun nangka mengandung
yang akan digunakan dalam penelitian ini
anti mikroba antara lain flavonoid, tannin,
adalah Pretest post test control group, desain
saponin yang bisa larut dalam air dan dapat
ini melibatkan tiga kelompok subjek, satu
bekerja merusak membran sitoplasma dan
diberi perlakuan eksperimental (kelompok
mendenaturasi protein sel (Sunaryono,
eksperimen) dan yang lain diberikan kontrol
2005).
positif dan negatif (kelompok
Senyawa flavonoid terbukti secara kontrol).Sampel penelitian ini diambil
empirik sebagai antikanker, antivirus, random samplingyaitu setiap unit dari
antiinflamasi, diuretik dan antihipertensi. populasi mempunyai kesempatan yang sama
Saponin merupakan salah satu senyawa
untuk diseleksi sebagai sampel.
yang dihasilkan tumbuhan berfungsi sebagai
Sampel yang digunakan dalam
antivirus, antibakteri, meningkatkan
penelitian adalah bagian daun nangka
kekebalan tubuh(Ersam 2001).
(Artocarpus heterophyllus) yang berusia
Tanin merupakan senyawa fenol muda diambil dari batang ke tiga dari pohon
yang larut dalam air dan tanin pada tanaman nangka.
merupakan senyawa fenolik yang memiliki Alat yang digunakan dalam
daya antiseptik. Efek antibakteri tanin
penelitian yaitu erlenmeyer, gelas kimia,
melalui reaksi dengan membran sel,
cawan petri, pipet, Inkubator, autoklaf,
inaktivasi enzim, dan inaktivasi fungsi
kompor, jangka sorong, stopwatch, kapas,
materi genetik (Ersam, 2001).
kertas paying, kertas cakram, neraca analitik
Pada permukaan kulit manusia digital, pinset, kawat ose, lampu spiritus.
terdapat berbagai mikroorganisme yang
Bahan yang digunakan dalam
pada kondisi tertentu, mikroorganisme
penelitian ini adalah suspensi biakan bakteri
tersebut mampu menginfeksi kulit. Staphylococcus aureus, media agar NA,
Staphylococcus aureus dan Pseudomonas aquades, dan infus daun nangka muda.
aeruginosa diketahui sebagai bakteri

2
Chrisnawan Setya Budi, Chinthia Sari Yusriana, Trisna Dewi, Rahma Aliya : Uji Daya......

Langkah kerja: 4. Peremajaan Bakteri


1.Penyiapan Bahan Utama Peremajaan bakteri merupakan
Daun nangkayang berwarna hijau cara untuk merawat bakteri agar tetap
baik.Peremajaan tersebut dilakukan
muda dicuci bersih menggunakan air
dengan media miring NA ditanami
yang mengaliragar kotoran yang bakteri Stapylococcus aureusmelalui
menempel mudah hilang. Kemudian goresan, kemudian diinkubasi pada suhu
dikeringkan dengan cara diangin- 0 0
anginkan hingga kering dari air. Daun 37 C-38 C selama 24-48 jam.
nangka yang berwarna hijau muda yang 5. Suspensi Bakteri
sudah kering kemudian diserbuk dengan Bakteri Stapylococcus
blender dan diayak dengan pengayak aureusyang sudah diremajakan
ukuran B 30. Infus Daun nangka yang ditambahkan NaCl fisiologis sebanyak 10
berwarna hijau muda dibuat dengan cara mldan dikocok dengan cara digulir-gulir.
serbuk daun nangka 25g dimasukan ke 6. Pengenceran Bakteri Stapylococcus
dalam panci A dan ditambah aquades aureus
250ml (sampai bahan terendam
seluruhnya), panci bagian (B) Bakteri Stapylococcus
ditambahkan air secukupnya hingga panci aureusdilakukan dengan cara tabung 1
atas (A) terendam sebagian (panci A yang berisi suspensi bakteri, media
tertutup), kemudian dipanaskan pada miring digores bakteri kemudian diberi
0
suhu 90 C selama 15 menit sambil NaCl fisiologis 10 ml, tabung kesatu
sesekali diaduk, setelah itu disaring diambil 1ml suspensi bakteri untuk di
dengan kain flannel saat masih panas. encerkan ketabung selanjutnya sehinga
2. Sterilisasi Alat didapatkan konsentrasi pengenceran 10-5.
Alat-alat yang digunakan dalam 7. Pembuatan Larutan Pembanding
penelitian ini seperti glass ware, pipet, (Tetrasiklin 10%)
pinset, dan kawat ose disterilisasi dengan larutan pembanding hal yang
autoklaf pada tekanan 2 atm dengan pertama dilakukan yaitu dengan
temperatur 121C selama 20 menit. menimbang tetrasiklin sebanyak 10 mg,
Sebelum di masukkan kedalam autoklaf, kemudian dilarutkan dalam aquades 100
alat-alat yang akan disterilkan dibungkus ml ke dalam labu takar dan digoyang
terlebih dahulu menggunakan kertas sampai homogen dan larutan siap
payung agar tetap steril pada saat alat-alat digunakan.
keluar dari autoklaf.
8. Teknik Isolasi
3. Pembuatan Media Agar NA Caraisolasi yang digunakan dalam
Media agar NA dibuat dengan penelitian ini dengan menggunakan
cara 1,68 gram NA ditambahkan aquades teknik tuang, cara pengerjaannya adalah
60 ml dicampurkan dalam erlenmeyer. sebagai berikut :
Campuran tersebut diaduk sampai Dari suspensi bakteri pemeriksaan
homogen (warna larutan jernih) dan dibuat pengenceran.Dari tiap
diamkan sampai kental, kemudian pengenceran diambil satu milliliter dan
disterilkan dengan autoklaf bertekanan2 diletakkan kedalam pingman petri
0
atm, pada temperatur 121 C selama 15 steril.Dalam tiap cawan petri tersebut
menit. dituang medium pembiakan yang telah
dicairkan dan didinginkan sampai suhu
kira-kira 40C-45C. Dengan perlahan-

3
Jurnal Permata Indonesia, Volume 5, Nomor 2, November 2014, Hal. 1-7

lahan cawan petri digoyang dengan 70ml infusa daun nangka dilarutkan
gerakan memutar tanpa diangkat dari akuades 100ml untuk mendapatkan
permukaan meja, sehingga bahan larutan konsentrasi 70%
pemeriksaan tercampur rata 12. Pengolahan Dan Analisis Data
kemudianmedium didiamkan sampai Pengukuran luas wilayah
beku. jernih dilakukan setelah inkubasi
9. Uji Efektifitas Antibakteri selama 24 jam, dari hasil inkubasi
Dalam uji efektifitas antibakteri, terlihat zona jernih disekitar kertas
metode yang digunakan yaitu metode cakram. Zona jernih tersebut
cakram diisi dengan larutan uji yang telah menandakan daya hambat
disiapkan yaitu konsentrasi tetrasiklin antibakteri. Zona jernih tersebut
10% dan 30%,50%,70% infusa daun diukur menggunakan pengukur
nangka. Untuk satu set percobaan jangka sorong. Dari hasil
dimasukkan 5 cakram dan sebagai pengukuran zona hambat antibakteri
kontrol menggunakan aquades. Inkubasi (Staphylococcus aureus) kontrol
dilakukan pada suhu 37C selama 24 danantibiotika (Tetrasiklin) dengan
jam.Sebelum inkubasi dilakukan, cawan melakukan 3 kali pengukuran di sisi
diberi label agar tidak tertukar. yang berbeda dengan replikasi 3 kali,
Pertumbuhan bakteri diamati untuk setiap selanjutnya dianalisis dengan
area. Bila zona hambatan belum tampak, program SPSS 17.0 (Statical
dibiarkan 24 jam lagi. Product and Service Solution)
menggunakan metode One Way
10. Pengukuran Zona Hambat Anova (analysis of variance), yaitu
Pada percobaan ini hasil yang metode untuk menguji perbedaan
diperoleh berupa diameter (cm) daerah tiga kelompok atau lebih berdasarkan
hambatan pertumbuhan mikroba satu variabel independen.
termasuk diameter kertas cakram. Daerah
hambatan yang terjadi di amati dengan di
ukur dengan mengunakan jangka sorong. HASIL DAN PEMBAHASAN
Untuk akurasi data, tiap daerah hambatan Identifikasi simplisia terhadap daun
dilakukan dengan pengukuran 3x dari nangka bertujuan untuk mengetahui bahwa
arah yang berbeda. simplisia yang digunakan benar-benar daun
11. Perhitungan pengenceran nangka asli, sehingga tidak ada kesalahan
Pembuatan konsentrasi dalam 100ml larutan. ataupun keraguan dalam penggunaan
30%=
30

100% = 30ml
simplisia daun nangka pada penelitian ini.
Identifikasi simplisia daun nangka sudah
100

50

50%=
100
100% = 50ml
dilakukan yaitu dengan uji determinasi di
70%=
70

100% = 70ml
Laboratorium Farmakognosi Bagian Biologi
100

Farmasi Fakultas UGM Yogyakarta.


Keterangan:
Penelitian ini menggunakan metode
30ml infusa daun nangka dilarutkan
ekstraksi infundasi karena senyawa aktif
akuades 100ml untuk mendapatkan
larutan konsentrasi 30%. yang terkandung didaun nangka (tannin,
flavonoid, saponin) larut dalam air. Selain
50ml infusa daun nangka dilarutkan
itu metode ini cara pengerjaannya mudah,
akuades 100ml untuk mendapatkan
murah, dan peralatan yang digunakan
larutan konsentrasi 50%.
sederhana.

4
Chrisnawan Setya Budi, Chinthia Sari Yusriana, Trisna Dewi, Rahma Aliya : Uji Daya......

Metode yang digunakan untuk isolasi rendah terhadap bakteri Staphylococcus


bakteri Staphylococcus aureus dengan metode aureus, artinya mempunyai daya hambat
cawan gores. Hal ini dilakukan supaya yang rendah pula terhadap bakteri
dihasilkan koloni-koloni bakteri yang benar- Staphylococcus aureus.
benar terpisah sehingga akan mempermudah Sampel daun nangka pada prosentase
proses isolasi bakteri dan 50, dengan replikasi 3 kali dan pengukuran
pengamatan terhadap bakteri yang dilakukan dengan jangka sorong
Staphylococcus aureus. terhadap zona bening atau zona jernih
Dalam penelitian ini untuk menghasilkan rata-rata 1,06 cm. Dengan
menumbuhkan bakteri menggunakan media demikian diketahui bahwa infus daun
Nutrien Agar (NA). Media Nutrien Agar nangka 50% mempunyai zona hambat
(NA) dipilih karena merupakan media yang sedang terhadap bakteri Staphylococcus
paling cocok dimana tidak mengandung aureus, artinya mempunyai daya hambat
sumber karbohidrat dan konsistensinya yang sedang pula terhadap bakteri
padat. Staphylococcus aureus.
Tetrasiklin pada penelitian ini Sampel daun nangka pada prosentase
digunakan sebagai kontrol positif (+), 70, dengan replikasi 3 kali dan pengukuran
mempunyai spektrum luas sehingga dapat yang dilakukan dengan jangka sorong
menghambat bakteri gram positif dan gram terhadap zona bening atau zona jernih
negatif. Besarnya daerah hambat tetrasiklin menghasilkan rata-rata 1,15 cm. Dengan
yang terbentuk disesuaikan dengan kreteria demikian diketahui bahwa infus daun
CSLI (Clinical Laborator Standard Institute) nangka 70% mempunyai zona hambat tinggi
yaitu bila daerah hambat 19 mm dikatakan terhadap bakteri Staphylococcus aureus,
sensitif dan bila daerah hambat 14 mm artinya mempunyai daya hambat yang tinggi
maka dikatakan resisten, sedangkan antara pula terhadap bakteri Staphylococcus
14 mm sampai 19 mm dikatakan aureus.
intermediate terhadap bakteri Hasil penelitian pada sampel infus
Staphylococcus aureus. (Jennings, Spring daun nangka dengan prosentase 30, 50, 70
B., 2009). dapat dikatakan bahwa semakin tinggi
Angka tersebut menunjukkan bahwa prosentase infus daun nangka semakin tinggi
tetrasiklin efektif menghambat bakteri zona hambatnya, semakin tinggi zona
Staphylococcus aureus. hambat infus daun nangka menunjukkan
Hasil penelitian dengan 3 kali semakin tinggi pula daya hambatnya
replikasi, tetrasiklin sebagai kontrol positif terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
( dan aquades sebagai kontrol negatif (-) Analisis selanjutnya dilakukan
didapatkan hasil rata-rata zona hambat dengan uji statistik One Way Anova, dimana
tetrasiklin 1,42 cm. Hasil penelitian tersebut data yang dihasilkan sudah memenuhi syarat
sesuai dengan standar daya hambat homogenitas dan distribusi normalitas
tetrasiklin yang tergolong intermediate. 0,050. Hasil uji distribusi nomalitas infusa
Sampel daun nangka pada prosentase daun nangka 30% sig = 0,780, infusa daun
30, dengan replikasi 3 kali dan pengukuran nangka 50% sig = 0,567, infusa daun nangka
yang dilakukan dengan jangka sorong 70% sig= 0,339. Hasil uji homogenitas
terhadap zona bening atau zona jernih infusa daun nangka sig = 0,125. Pada uji
menghasilkan rata-rata1,00 cm. Dengan data dengan One Way Anova didapatkan
demikian diketahui bahwa infus daun hasil yang ditunjukkan oleh nilai sig = 0,066
nangka 30% mempunyai zona hambat 0,050. Hasil tersebut artinya signifikan

5
Jurnal Permata Indonesia, Volume 5, Nomor 2, November 2014, Hal. 1-7

yaitu infus daun nangka walaupun menghambat pertumbuhan bakteri


prosentase berbeda-beda (30, 50, 70) Staphylococcus aureus.
mempunyai daya hambat atau mampu

1,5

1 Replikasi 1

0,5 Replikasi 2
Replikasi 3
0

30% 50% 70%

Dari gambar histogram menunjukan SARAN


bahwa larutan yang digunakan Perlu dilakukan penelitian lebih
menghasilkan daya antibakteri yang lanjut dengan metode ekstraksi yang lain
berbeda-beda. Pada larutan yang tinggi akan serta perlu adanya penelitian lain pada daun
memberikan zona jernih yang besar, nangka (Artocarpus heterophyllus) terhadap
demikian sebaliknya. Zona jernih antibakteri pengobatan obat tradisional.
yang ada dalam infusa daun nangka
disebabkan karena adanya senyawa DAFTAR PUSTAKA
antibakteri, yaitu flavonoid, tannin dan Agoes, Azwar. 2010. Tanaman
saponin karena merupakan antibiotik alami. Obat
Indonesia. Jakarta: Salemba
Medika Jakarta
KESIMPULAN Candrika, 2006, Hypoglycaemic Action Of
1. Infusa daun nangkamemiliki daya hambat The Flavanoid Fraction of
terhadap bakteri Stapylococcus aureus. Artocarpus heterophyllus
2. Larutan infusa daun nangka memiliki Leaf, Afr. J. Trad. CAM,
besar zona hambat pada prosentase30% = Jakarta
1,04 cm, 50%= 1,07 cmdan 70% = 1,15 Ersam, T., 2001, Senyawa Kimia
cm adalah yang memiliki zona hambat Makromolekul beberapa
paling besar. Tumbuhan Artocarpus Hutan
3. Semakin besar prosentase daun nangka, Tropika Sumatera Barat,
semakin besar pula daya hambatnya Disertasi ITB, Bandung
terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Harmita dkk, 2008. Metode-
DAFTAR PUSTAKA Metode
Anonim, 1995, Farmakope Indonesia Mikrobiologi, Universitas
Edisi IV, Departemen Kesehatan Muhamadiyah Malang.
Republik Indonesia,Jakarta Irianto, K. 2007. Mikrobiologi Menguak
Anonim, 2007, Farmakologi dan Terapi Dunia Mikroorganisme. Jilid 1 CV.
Edisi V, Departemen Farmakologi dan RAMA WIDYA.
Terapeutik Fakultas Kedokteran Jennings, Spring B. Metghicillin resistant
Universitas Indonesia, Jakarta. Staphylococcus aureus
(Available 0n line at
http//www.jci.org/cgi/contetnt

6
Chrisnawan Setya Budi, Chinthia Sari Yusriana, Trisna Dewi, Rahma Aliya : Uji Daya......
/full114/12/1993.htm)(diakses Indonesia, edisi kedua,

Juni 2014). Departemen Kesehatan RI,


Kusnandi, 2003. Bakteriologi Jakarta
Medik.Fakultas Kedokteran Tortora et al. 2001, ANTIBIOTICS AND
Universitas Brawijaya Their laboratory 2nd, Butter
TOGA MAS. Malang. worthand CO, Ltd, 18.
Lay,B.W. 1994. Analis Mikroba Tjay, T. H. & Rahardja, Kirana, 2007. Obat-
Dilabolatorium. PT. Raja Obat Penting. Elek Media
Grafindo persada, Jakarta. Koputindo, Jakarta
Prajitno, A. 2007. Penyakit Ikan Udang : Voigt, R., Buku Pelajaran Teknologi
Bakteri, UM Pres, Malang Farmasi, edisi ke-5, UGM
Rukmana 2008, Morfologi Tanaman Press, Yogyakarta, 1995
Berkhasiat. Jakarta: Salemba Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum Edisi
Medika Jakarta Pertama. Universitas
Sunaryono 2005,Tumbuhan Berguna Muhamadiyah Malang.
Indonesia Jilid II, Badan
Litbang Kehutanan, Jakarta
Syamsuhidayat, S.S and Hutapea, J.R, 1991,
Inventaris Tanaman Obat