Anda di halaman 1dari 28

Pengauditan Internal

Survey Pendahuluan
Modul Pengauditan Internal

Disusun oleh :
Ridah Alawiah Rahman
A31114315

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

0
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
dengan ini kita panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat-
Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan modul untuk mata kuliah Pengauditan Internal
ini.
Tidak lupa penyusun juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak-
pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian modul ini. Harapan penyusun semoga
modul ini dapat menambah pengetahuan dan berguna bagi pembaca.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penyusun, maka disadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam modul ini, Oleh karena itu penyusun mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan modul ini.

Makassar, Oktober 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.0

KATA PENGANTAR...1

DAFTAR ISI.2

BAGIAN I - TINJAUAN MATA KULIAH .3

BAGIAN II PENDAHULUAN5

BAGIAN III MATERI PEMBELAJARAN..6

BAGIAN IV - LATIHAN...21

BAGIAN V RANGKUMAN...22

BAGIAN VI TES FORMATIF..23

BAGIAN VII UMPAN BALIK ..24

BAGIAN VIII KUNCI TES FORMATIF.... 25

BAGIAN IX DAFTAR PUSTAKA27

2
BAGIAN I

TINJAUAN MATA KULIAH

A. DESKRIPSI MATA KULIAH

Matakuliah ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang


konsep dan pelaksanaan pengauditan internal perusahaan serta pentingnya pengendalian
internal (Internal Control/ICOFR) dan hubungannya dengan manajemen risiko
perusahaan.

A. KEGUNAAN MATA KULIAH


1. Mampu melaksanakan proses pengauditan internal dan penyusunan laporan audit
internal secara professional
2. Mampu membuat prosedur pemeriksaan internal
3. Mampu memahami struktur pengendalian intern perusahaan
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi
5. Mampu untuk bekerjasama, baik sebagai pimpinan maupun sebagai anggota kelompok
(tim audit)

C. SASARAN BELAJAR :
Dapat memahami materi berikut:
1. Gambaran Umum Audit Internal
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit

3
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

D. URUTAN PENYAJIAN :
1. Gambaran Umum Audit Internal
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

4
BAGIAN II
PENDAHULUAN

A. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai


Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1. Memahami metode survey pendahuluan
2. Memahami tujuan dan sasaran survey
3. Memahami pengendalian untuk mencapai tujuan
4. Memahami penyusunan anggaran survey

B. Ruang lingkup bahan modul


Modul ini disusun berdasarkan Garis Besar Rencana Pembelajaran (GBRP) mata
kuliah Pengauditan Internal. Penyusunan modul ini merujuk pada berbagai referensi
yang relevan. Modul ini diharapkan mampu menambah pengetahuan terkait dengan
Audit Internal terkait pembahasan Survey Pendahuluan

C. Manfaat mempelajari modul


Setelah mempelajari modul ini, pembaca diharapkan mampu untuk memahami materi
terkait Survey Pendahuluan dengan pembahasan berbagai subpokok bahasan yang
lebih ringkas dan padat dari berbagai referensi yang digunakan sehingga memudahkan
dalam memahami materi tersebut.

D. Urutan pembahasan
1. Metode survey pendahuluan
2. Tujuan dan sasaran survey
3. Pengendalian untuk mencapai tujuan
4. Penyusunan anggaran survey

5
BAGIAN III

MATERI PEMBELAJARAN

A. SURVEY PENDAHULUAN

Survey pendahuluan (preliminary survey) merupakan proses yang bertujuan untuk


mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai risiko dari suatu unit yang akan
diperiksa. Survey pendahuluan bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai objek yang
diteliti tanpa melakukan verifikasi secara rinci. Tujuan dari survey pendahuluan ini untuk
lebih memahami aktivitas auditee, mengidentifikasi area/bidang yang memerlukan penekanan
khusus dalam audit, memperoleh informasi awal sebagai bahan untuk melakukan pekerjaan
lapangan, dan menetukan apakah perlu melakukan audit lebih lanjut. Dengan kata lain, survey
pendahuluan berguna untuk memahami lebih baik mengenai tujuan, proses, risiko, dan
pengendalian dari bagian/fungsi yang diaudit.

Survey pendahuluan dapat menjadi sarana yang baik untuk menganalisis karyawan
dan system, namun bias juga menjadi sebuah pencarian yang tidak beraturan. Auditor internal
harus memastikan bahwa waktu dan upaya yang dihabiskan untuk survey pendahuluan bisa
produktif.

B. TAHAP-TAHAP PELAKSANAAN SURVEY PENDAHULUAN

Berikut tahap-tahap pelaksanaan survey pendahuluan:

a. Melaksanakan Studi Awal

Kebanyakan pendokumentasian dan proses perolehan pemahaman diselesaikan bahkan


sebelum auditor melakukan audit. Studi awal yang dilakukan auditor mencakup penelaahan
atas kertas kerja tahun sebelumnya, temuan-temuan audit, bagan organisasi, dan dokumen-
dokumen lain yang akan membentu untuk lebih memahami subjek audit.

Pada banyak kondisi, studi awal akan dilakukan di kantor pusat, meskipun banyak
auditor internal saat ini dapat mengakses informasi secara elekronik dari yang jauh. Kertas
kerja tahun sebelumnya dapat menunjukkan pendekatan yang dilakukan auditor lain atas

6
penugasan tersebut, meskipun pendekatan yang sama mungkin tidak lagi layak atau tidak
diinginkan untuk audit tahun ini.

Studi awal juga mencakup penelaahan saksama atas bagan organisasi dan pernyataan
tanggung jawab dan kewenangan. Dokumen tersebut dapat menunjukkan posisi aktivitas klien
dalam hierarki perusahaan, apa yang diharapkan manajemen senior atas manajemen di
bawahnya, dan kewenangan apa yang diberikan kepada manajer operasi. Penelaahan harus
dilakukan secara saksama atas kata-kata yang tertera. Pernyataan wewenang dan tanggung
jawab seringkali dibuat oleh orang yang melakukan aktivitas tersebut. Dalam beberapa hal,
pernyataan tersebut bisa dilebih-lebihkan dan auditor harus skeptic menyikapinya. Beberapa
hal yang perlu diperhatikan apabila audit yang dilakukan adalah audit berulang (repeat audit)
adalah mempelajari permanent file yang berisi laporan audit terdahulu, informasi lainnya
yang relevan dengan penugasan berikutnya. Auditor perlu menelaah literature-literatur yang
terkait agar pengetahuan audit dapat selalu ter-update dengan memakai referensi dari situs
dari IIA yaitu www.theiia.org atau jurnal Internal Auditor yaitu jurnal profesi.

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam melakukan studi awal:

- Pendokumentasian

Pendokumentasian merupakan beberapa langkah yang akan mengarah pada pertemuan


awal antara auditor dengan manajer kalien. Dokumentasi berupa kuesioner penting untuk
bahan wawancara/diskusi.

- Daftar Pengingat

Dalam setiap permulaan audit, auditor internal kadang kala bingung, apa yang akan
dikerjakan selanjutnya? Meskipun setiap penugasan audit tidak sama, namun terdapat
langkah-langkah awal tertentu yang berlaku untuk setiap audit. Langkah-langkah ini harus
dicatat dalam daftar pengingat sehingga memudahkan pekerjaan.

Daftar pengingat tidak dirancang untuk menghambat inisiatif atau kreativitas. Daftar
tersebut menyederhanakan proses perencanaan dengan membantu auditor melakukan
pekerjaan secara terorganisasi dan dengan langkah awal yang minimum. Daftar pengingat
membantu auditor mengorganisasikan kertas kerja mereka dan membuat tahap audit
selanjutnya lebih sederhana untuk dikerjakan.

7
- Daftar Isi

Sebelum auditor mulai melakukan instruksi-instruksi yang terdapat dalam daftar


pengingat, sebaiknya siapkan dahulu daftar isi. Langkah ini dilakukan sebelum tahap
perencanaan audit. Daftar isi akan memaksa audit untuk (1) mendaftar masalah-masalah
tertentu yang harus ditangani seiring dengan kemajuan penugasan, dan (2) membuat acuan
kertas kerja.

- Pengurangan Biaya

Pengurangan biaya secara langsung memengaruhi laba perusahaan. Pada umumnya


manajemen mengharapkan penugasan audit internal menghasilkan pengurangan biaya,
maupun peningkatan operasi. Beberapa usulan pengurangan biaya dari auditor berasal dari
kombinasi kondisi yang ada dan memahami masalah yang dihadapi oleh auditor.

- Catatan Kesan

Catatan kesan tidak dibuat untuk diberikan kepada manajemen. Fungsinya adalah
sebagai daftar pengingat bagi auditor ketika mereka sedang melakukan pembicaraan rahasia
dengan manajer senior. Catatan kesan dapat membantu mengidentifikasi gejala-gejala
kemunduran yang membutuhkan perhatian khusus dan membutuhkan perbaikan dalam
hubungan dengan karyawan, kondisi kerja, manajemen, atau pengawasan.

Catatan ini menyimpan semua penilaian auditor terhadap aspek-aspek tertentu


organisasi yang telah diperiksa. Catatan ini harus dilengkapi setiap selesai melakukan audit.
Auditor harus meringkas data untuk menentukan kecenderungan umum atau masalah-masalah
di organisasi yang harus diketahui oleh manajemen. Jika ada penilaian yang terkait langsung
dengan temuan khusus, catatan ini tidak boleh dibahas dengan karyawan klien. Jika auditor
merasa tidak memiliki cukup informasi untuk menjawab suatu pertanyaan, nyatakan hal
tersebut dibawah setiap pertanyaan.

- Kuisioner

Kuisioner diusahakan untuk mudah dipahami bagi responden yang diminta mengisi
kusioner. Kuesioner ini berisi pertanyaan-pertanyaan yang akan digunakan untuk
memenuhi tujuan audit, bertemu manajer klien pada pertemuan awal. Selain itu, kuisioner
yang baik tidak terlalu tebal atau tidak terlalu panjang.

8
Berikut contoh pertanyaan-pertanyaan yang layak untuk ditanyakan:

1. Berapa bagian/seksi yang ada pada aktivitas anda?


2. Berapa banyak karyawan yang ditugaskan pada bidang ini?
3. Aktivitas-aktivitas apa yang dilakukan?
4. Apakah terdapat prosedur-prosedur tertulis untuk aktivitas tersebut?
5. Aktivitas apa yang menurut anda paling penting?
6. Aktivitas mana yang paling mengganggu?
7. Bagaimana anda menerapkan control atas organisasi?
8. Laporan control apa yang anda terima dari karyawan?
9. Standar apa yang anda tetapkan untuk karyawan?
10. Standar anda bersumber dari mana?
11. Bagaimana anda melatih karyawan?
12. Bagaimana anda mengevaluasi kinerja mereka?
13. Bagaimana supervisor membantu meningkatkan kinerja karyawan?
14. Bagaimana anda menetapkan prioritas bagi pekerjaan anda?
15. Bagaimana tingkat perputaran karyawan?
16. Seberapa banyak dan bagaimana sifat pesanan anda?
17. Kepada siapa anda melapor?
18. Laporan apa yang anda siapkan untuk manajemen anda sendiri, dan seberapa sering
dihasilkan?
19. Dari mana sumber informasi yang terdapat dalam laporan?
20. Dengan organisasi apa anda menjalin kerja sama?
21. Imbal balik apa yang anda dapat dari mereka?
22. Perubahan-perubahan besar apa yang telah terjadi sejak audit terakhir?
Kuesioner ini bisa diperluas atau dipersempit sesuai kondisi. Jenis pertanyaan bisa
bervariasi, tergantung pada apakah audit yang diusulkan bersifat organisasional (untuk satu
unit organisasi) atau fungsional (mengikuti fungsi atau program dari awal hingga akhir dan
melintasi batas organisasional). Dalam audit organisasional, pertanyaan yang berorientasi
pada manusia akan lebih mendominasi. Sementara dalam audit fungsional atau audit program,
pertanyaan yang diajukan akan lebih berkenaan dengan alur kerja, hubungan dengan
organisasi lain dan umpan balik.
Kuesioner yang diberikan ke klien sebelum auditor datang mengaudit, terkadang bisa
bermanfaat, khususnya untuk klien yang berada di lokasi yang jauh. Kuesioner dapat menjadi

9
semacam persiapan akan datangnya auditor. Kuesioner juga dapat menghilangkan sedikit
keengganan dan rasa curiga mengenai audit yang akan dilakukan dan melibatkan supervisor
klien sebagai mitra sejak awal. Kuesioner dapat memberi peluang bagi karyawan manajemen
untuk memahami diri mereka sendiri, karena pertanyaan yang disiapkan dengann baik dapat
berfungsi sebagai lembar evaluasi diri yang efektif.
Kuesioner juga dapat mencerminkan penghematan yang substansial, karena penugasan
audit lebih baik dilakukan oleh orang-orang yang sangat berkualifikasi untuk
menyelesaikannya dengan cepat. Bila audit dilakukan di lokasi yang jauh, kuesioner bisa
dikirim bersama memorandum yang ditandatangani direktur pusat yang menerima laporan
dari manajer cabang. Surat tersebut akan dirancang untuk memperoleh dan menjadi bukti
keterlibatan manajemen eksekutif dan menambah sentuhan kewenangan atas permintaan
tersebut. Memorandum tersebut, yang harus dirancang drafnya oleh auditor untuk
ditandatangani pihak manajemen, akan menjadi sarana perkenalan auditor atau tim audit,
memberitahu jadwal kedatangan, dan memohon kerja sama. Memorandum tersebut juga harus
secara jelas mengkomunikasikan harapan pihak manajemen bahwa semua pertanyaan akan
dijawab lengkap dan terbula serta didukung oleh salinan laporan yang relevan dan dapat
diaudit, juga dokumen terkait lainnya.

b. Bertemu Klien
Pertemuan auditor internal dengan manajer klien memberi peluang bagi auditor untuk
menjelaskan tujuan dan pendekatan audit yang akan dilakukan. Dalam beberapa situasi,
auditor justru ingin membahas keseluruhan peran audit internal dalam organisasi. Dalam
pembahasannya dengan manajer dan supervisor, auditor menjelaskan tujuan, sasaran, standar
operasi serta risiko bawaannya. Auditor internal juga ingin mengenali gaya manajemen yang
diterapkan. Waktu dan tempat pertemuan harus diatur terlebih dahulu. Jika memungkinkan,
hindari kunjungan mendadak, meskipun audit yang tidak diberitahukan terlebih dahulu
mungkin perlu untuk dilakukan dalam audit kas, audit keamanan, atau hal-hal lain yang cukup
rawan.
Auditor internal harus memiliki keahlian dalam berhubungan dengan orang dan
berkomunikasi secara efektif. Auditor internal juga harus memiliki keahlian dalam
berkomunikasi baik lisan dan tulis, sehingga mereka dapat menyampaikan tujuan audit,
evaluasi, kesimpulan dan rekomendasi secara jelas dan efektif.

10
- Mengatur Jadwal Pertemuan
Waktu dan tempat pertemuan harus diatur terlebih dahulu. Jika memungkinkan hindari
kunjungan mendadak. Pemberitahuan terlebih dahulu lebih sopan dan akan dihargai serta
tidak merugikan audit. Klien yang siap akan memberikan lebih banyak informasi dan
kesalahan informasi yang disengaja oleh klien akan cenderung dideteksi dalam pelaksanaan
audit sesungguhnya.
Pertemuan awal cenderung akan menuntun arah audit, salah satunya kemungkinan
kerja sama. Auditor internal haruslah terbuka dan terus terang mengenai tujuan audit mereka.
Mereka harus mengajukan pertanyaan sebagai seorang yang ingin menggali informasi, bukan
sebagai penyidik. Jangan ada perseteruan, perselisihan yang bisa merusak pertemuan awal ini.
Manajer klien hanya ingin diperlaukan secara wajar dan dipandang dengan objektif.
Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tesebut memiliki bukti yang sah bahwa
memang ada tindakan perbaikan, maka manajemen patut diberi pujian. Jika masalah tersebut
cukup signifikan, sebaiknya dimuat dalam laporan audit internal-bukan sebagai temuan audit,
tetapi sebagai catatan masalah yang diselesaikan. Jika keyakinan yang diberikan hanya
sebagai upaya untuk menghindari disangkutpautkan dengan temuan kelemahan, maka hal ini
harus dilaporakan sebagai temuan audit.
- Wawancara
Teknik-teknik wawancara yang baik membuat orang merasa nyaman, membuat
mereka ingin memberi informasi, bekerja sama dalam audit, dan mudah mudahan membuat
penugasan audit berhasil. Auditor internal harus memiliki keahlian dalam berhubungan
dengan orang dan berkomunikasi secara efektif. Juga oenting bagi auditor internal untuk
memiliki keahlian dalam komunikasi lisan dan tulisan sehingga mereka dapat menyampaikan
tujuan audit, evaluasi, kesimpulan dan rekomendasi secara jelas dan efektif.
Karena penugasan teknik-teknik wawancara yang efektif pada hakikatnya adalah
tanggung jawab professional, maka auditor internal harus memahami bagian-bagian penting
dari wawancara dan berusaha menguasainya. Wawancara bukanlah sebuah tindakan tunggal,
melainkan bagian dari sebuah proses. Wawancara yang sukses didasarkan pada penerapan
saksama enam langkah penting:
1. Persiapan. Jangan datang tanpa persiapan. Pelajari sebanyak mungkin tentang klien
sebelum Tanya jawab. Tentukan tujuan Tanya jawab dan siapkan pertanyaan-
pertanyaan untuk mencapai tujuan tersebut.
2. Penjadwalan. Rencanakan jadwal dengan saksama. Jangan berkunjung dengan
mendadak-kecuali memang diperlukan.

11
3. Pembukaan. Beritahu klien dengan jujut tujuan wawancara dan bagaimana hasilnya
akan digunakan.
4. Pelaksanaan. Wawancara merupakan pelaksanaan komunikasi, dan auditor internal
harus memiliki keahlian dalam proses komunikasi.
5. Mengajukan pertanyaan. Cara auditor mengajukan pertanyaan dapat memengaruhi
kesuksesan atau kegagalan suatu wawancara. Pertanyaan-pertanyaan pembuka harus
membuat orang menjadi nyaman.
6. Penutupan. Jangan terlena dengan pembicaran. Perhatikan tanda-tanda nonverbal
bahwa klien ingin pembicaraan diakhiri. Cobalah akhiri dengan nada positif dengan
meringkas kesepakan atau puji tindakan-tindakan yang layak dipuji.

c. Mengumpulkan Bahan Bukti


Survey pendahuluan akan berlangsung lancar dan sistematis jika auditor memiliki
pandangan yang jelas mengenai apa yang ingin dicapai. Dalam kebanyak audit, informasi
penting dalam rangka mengumpulkan bahan bukti dapat diklasifikasikan ke dalam empat
fungsi dasar manajemen.
- Perencanaan
Informasi penting yang bisa diperoleh auditor mengenai perencanaan adalah sebagai
berikut:
1. Tentukan tujuan aktivitas atau organisasi, baik jangka panjang maupun jangka pendek.
2. Dapatkan salinan anggaran, kebijakan, arahan, dan prosedur.
3. Tentukan proyek atau studi khusus yang tengah berlangsung.
4. tentukan rencana untuk masa datang yang telah dibuat.
5. Tanyakan jika ada ide-ide perbaikan yang belum direalisasikan.
6. Tentukan cara menetapkan sasaran dan siapa yang menetapkan atau membantu
menetapkannya.
- Pengorganisasian
Informasi penting yang bisa diperoleh auditor mengenai pengorganisasian adalah
sebagai berikut:
1. Dapatkan salinan bagan organisasi dan salinan deskripsi jabatan.
2. Tanyakan hubungan dengan organisasi lain.
3. Telaah letak fisik, catatan peralatan, serta lokasi dan kondisi aktiva.
4. Tentukan perubahan organisasional yang dilakukan akhir-akhir ini atau sejak audit
terakhir

12
5. Dapatkan informasi mengenai otoritas yang didelegasikan dan tanggung jawab yang
diberikan dan
6. Dapatkan informasi mengenai lokasi, sifat dan ukuran kantor cabang.
- Pengarahan
Informasi penting yang bisa diperoleh auditor mengenai pengarahan adalah sebagai
berikut:
1. Dapatkan salinan instruksi operasional bagi karyawan.
2. Tanyakan kepada karyawan apakah instruksi sudah cukup jelas dan bisa dipahami.
3. Tentukan apakah rentang manajemen dan pengawasan memungkinkan arah kerja yang
memadai.
4. Tentukan apakah kewenangan sama dengan tanggung jawab.
5. Pada badan-badan pemerintah, tentukan masalah-masalah penting yang akan menarik
minat public.
6. Identifikasikan hambatan-hambatan organisasi dalam melaksanakan tugas yang
diembannya.
- Pengendalian
Auditor dapat memperoleh informasi penting mengenai pengarahan dengan:
1. Dapatkan salinan standard an pedoman kerja tertulis.
2. Telaah system dan alur kerja. Waspada dengan adanya tanda pemborosan, pesanan
penjualan, peralatan atau bahan baku yang berlebihan, karyawan yang menganggur,
perbaikan dan pekerjaan ulang yang ekstensif, bahan sisa yang berlebihan, dan kondisi
kerja yang buruk.
3. Telaah data finansial historisnya, dan kenali trennya.
4. Identifikasikan aktivitas atau prosedur khusus yang akan digambarkan dengan bagan
alir, seperti penyusunan kontrak, pemeriksaan aplikasi pinjaman, menyetujui atau
tidak menyetujui pinjaman, penjualan aktiva, melakukan sewa guna usaha, periklanan,
menetapkan harga, merekrut karyawan, meminjam dana, dan memilih pemasok.
Tindakan-tindakan atau prosedur prosedur ini harus mencerminkan aktivitas yang
diperiksa.
- Pengendalian Risiko
Auditor internal harus menentukan jenis pengendalian yang telah diterapkan atau
seharusnya diterapkan untuk mengurangi atau menghilangkan kemungkinan risiko.
Pengendalian yang tidak efektif harus didiskusikan segera dengan manajer. Survey
pendahuluan memberikan dasar bagi perusahaan untuk menyiapkan program audit, dan yang

13
menjadi masalah atas kepentingan manajemen adalah apakah kunci risiko telah
diidentidikasi? Bisa dimonitor? Dan pengendalian cukup kuat? Risiko yang tidak dimonitor
harus diaudit lebih dalam.
Selama survey pendahuluan, dan khususnya selama wawancara dengan manajemen
operasional, auditor internal bisa menilai manajer. Tidak ada pengendalian yang lebih baik
daripada manajemen yang memiliki pengetahuan, gampang ditemui, dan berpandangan luas.
Jika manajemen efektif, auditor internal dapat mengurangi cakupan audit.

d. Pengamatan
Pengamatan dalam arti umum terus dilakukan selama survey pendahuluan. Melalui
pengamatan dan tanya jawab yang yang efektif, auditor internal mampu untuk:
- Menentukan tujuan, sasaran dan standar
Selama survey pendahuluan, auditor internal harus menentukan aktivitas yang diaudit-
bukan tujuan audit yang akan ditetapkan selanjutnya melainkan tujuan aktivitas itu sendiri.
Jika tujuan-tujuan itu tidak dipahami dengan baik, maka audit bisa kehilangan manfaatnya,
Mendapatkan gambaran tujuan aktivitas yang tepat dan kesesuaian misinya dengan sasaran
strategis perusahaan (disebut audit berorientasi manajemen yang efektif / effective
management oriented audit) merupakan cerminan profesionalisme auditor internal.
Selama survey pendahuluan, auditor internal harus mengevaluasi tujuan dan sasaran.
Apakah tujuan dan sasaran sudah ditetapkan dengan baik? Apakah dipahami oleh orang-orang
yang dibebani tanggung jawab untuk mencapainya? Apakah didalamnya terkandung standar
keberhasilan? Apakah semua yang terlibat memahami dengan tepat yang diharapkan dari
mereka? Auditor internal harus mengetahui sasaran aktivitas yang akan mereka periksa
sebelum melakukan apa yang tertera di program audit dan melaksanakan pekerjaan lapangan.
Saat melakukan survey, auditor internal akan senantiasa mengingat dengan tepat
tujuan, sasaran, dan standar yang seharusnya atau sedang diupayakan untuk dimiliki
organisasi klien. Auditor harus mencoba untuk menentukan apakah:
1. Tujuan tersebut sesuai dengan rencana strategis dari organisasi-suatu rancangan besar
bagi perusahaan.
2. Tujuan diketahui oleh semua orang yang akan berpartisipasi dalam pencapaiannya.
3. Tujuan tersebut secara realistis mempertimbangkan sumber data yang tersedia bagi
aktivitas.
4. Tujuan tersebut menuntun aktivitas dalam menghadapi kendala dan kendali eksternal.

14
5. Sasaran dan standar yang ditetapkan akan memotivasi orang untuk mencapai lebih dari
apa yang bisa mereka capai.

- Menilai control untuk mencapai tujuan


Jika tujuan, sasaran, dan standar telah diidentifikasi dan disepakati selama survey
pendahuluan, langkah selanjutnya adalah menentukan control apa, atau apa yang seharusnya
diterapkan untuk memastikan bahwa hasil-hasil yang diinginkan akan dicapai. Kontrol
digunakan untuk memastikan bahwa hasil-hasil yang diinginkan akan dicapai. Cara paling
produktif untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi control adalah dengan mengenali masalah
dan kemudian mencari control yang bisa mengidentifikasi atau mencegah masalah tersebut
atau mencari control yang seharusnya bisa mengurangi resiko.

- Mengevaluasi resiko

Titik awal perencanaan audit haruslah resiko-resiko organisasional atau ancaman bagi
pencapaian tujuan usaha. Kecermatan professional mencakup pertimbangan atas
ketidakwjaran dan ketidakpatuhan yang material. Kapanpun auditor internal melakukan audit
mereka harus menyadari resiko, jebakan-jebakan potensial-ibarat batu-batu yang dibawahnya
terdapat kalajengking berbisa yangsiap menerkam. Yang dibutuhkan adalah kompetensi
professional. Orang awam mungkin merasa tidak ada masalah bila pemesanan dan
penerimaan persediaan dilakukan oleh orang yang sama, tetapi auditor internal yang
professional harus segera menyadari adanya resiko bawaan dibaliknya.
Mengidentifikasi semua resiko yang ada akan sulit khususnya karena resiko sering
muncul seiring dengan perubahan praktik bisnis. Namun banyak resiko-resiko umum yang
telah didefinisikan dalam buku standar akuntansi, auditing dan manajemen. Beberapa risiko
sudah jelas dan diketahui oleh auditor yang professional. Sebagai contoh, tidak adanya
pemisahan tugas yang memadai akan menciptakan risiko. Orang yang menerima kas
seharusnya tidak merangkap tugas mencatat penerimaan tersebut.
- Menentukan control untuk meminimalkan resiko
Ketika auditor telah mengenali resiko mereka harus mencari control yang dirancang
untuk menghadapinya. Kontrol yang tidak memadai atau tidak efektif harus didiskusikan
dengan manajer. Jika manajer tidak bisa diyakinkan untuk melakukan perbaikan maka auditor
harus membuat program pengujian purposive-bukan pengujian berdasarkan sampel untuk
mendukung bukti dan signifikansi risiko.
Survei pendahuluan memberi perusahaan fondasi untuk penyiapan program audit yang
berkonsentrasi pada masalah-masalah penting bagi manajemen. Apakah resiko kunci telah
15
diidentifikasi? Apakah sudah diawasi? Apakah control yang tidak memadai telah disadari dan
diperbaiki? Apakah kelemahan yang harus diaudit lebih dalam.

- Menilai gaya manajemen dan aspek perilaku manusia


Internal auditor dapat melakukan penilaian perilaku manajer selama wawancara. Tidak
ada control yang lebih baik daripada manajemen yang memiliki pengetahuan, gampang
ditemui, berpandangan luas sehingga manajer itu sendiri dapat dianggap berperilaku seperti
auditor internal. Jika manajemen efektif, auditor internal dapat mengurangi cakupan audit.
Menilai aspek manusia
Pegawai merupakan urat nadi perusahaan. Kontrol yang baik tidak dapat menjamin
bahwa semua aktivitas akan dilaksanakan dengan baik kecuali terdapat pegawai yang
kompeten. Cara menilai aspek manusia ini dengan menelaah catatan dan praktik-praktik
pegawai. Penelaahan bisa jadi tidak memungkinkan auditor membuat penentuan definitive,
namun bisa memberikan sinyal bahaya dan mempengaruhi program audit. Auditor bisa
mengajukan beberapa pertanyaan berikut :
1. Apakah terdapat perputaran pegawai yang cepat?
2. Apakah organisais memiliki pegawai baru dan kurang berpengalaman?
3. Apakah latar belakang pendidikan sesuai untuk pekerjaan yang dilakukan?
4. Apakah program pelatihan untuk pegawai sudah memadai?
5. Apakah setiap posisi kunci, termasuk posisi manajer, memiliki cadangan orang bila terjadi
ketidakmampuan atau berhenti kerja?
6. Apakah terdapat tingkat lembur yang tidak biasa?
7. Apakah ketentuan untuk mengambil cuti diterapkan sehingga praktik-praktik yang tidak patut
tidak disembunyikan?
Jika jawaban menunjukkan kondisi yang memuaskan, auditor bisa mengurangi tingkat
keandalan sampel yang diharapkan dari hasil pengujian. Dengan kata lain, auditor bisa
mengambil kesimpulan dengan memeriksa sedikit sampel. Jika survey menunjukkan praktik
kepegawaian yang tidak memuaskan, auditor mungkin perlu memeriksa dengan lebih ketat
memperluas sampel, serta mencatat ketidakefektifan dan ketidakefisienan kinerja.

e. Pengamatan Fisik
Hal-hal yang abstrak sulit dipahami dan digambarkan. Auditor harus keluar sendiri
dan melihat sendiri fasilitas, tata letak fisik, proses, aliran bahan baku dan dokumen.
Pengamatan pribadi menggambarkan apa yang terjadi dan bagaimana terjadinya.

16
Pengamatan fisik selayaknnya berlangsung dalam dua tahap. Pada tahap pertama,
auditor internal harus berkeliling fasilitas perusahaan untuk mendapatkan pemahaman yang
lebih baik mengenai lokasi, kondisi dan tata letak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan
gambaran yang tepat mengenai kebijakan, prosedur dan bagan organsasi. Pasa saat bertemu
karyawan,auditor dapat menanyakan
1. Apakah pekerjaan datang ke anda tepat waktu, dan apakah kualitasnya bagus?
2. Apakah terdapat laporan atau catatan informal mengenai kesulitan dalam pekerjaan yang
diterima?
3. Apakah tindakan perbaikan sudah diambil untuk masalah-masalah?
4. Apakah tindakan tersebut terbukti efektif? Jika tidak, mengapa?
5. Apakah terdapat masalah keamanan? Apakah sudah ada penelaahan oleh petugas keamanan
resmi dan bagian administrasi kesehatan atau pemeriksa asuransi?
6. Apakah terdapat masalah keamanan menyangkut dokumen dan aktiva?
7. Apakah alur kerja dan dokumen dokumen cukup wajar dan efisien?
8. Bagaimana kondisi fasilitas peralatan?
9. Bagaiamana kuantitas dan kualitas barang-barang sisa?
Pada operasi yang kompleks, mungkin auditor perlu melakukan tahap selanjutnya
yang sering disebut penelusuran.Selama penelusuran, auditor mungkin menelaah beberapa
aktivitas kerja dari awal sampai akhir, dan menyiapkan bagan alir. Penelusuran membantu
auditor menilai ketaatan dengan kebijakan dan prosedur serta menentukan apakah control
memang berfungsi. Langkah ini tidak akan mengungkapkan seberapa baik transaksi diproses,
hal ini membutuhkan pengujian substantive.

Menyiapkan Flowchart

Dengan menyampaikan Flow chart suatu proses dapat dipotret dan dapat memberikan
gambaran system dan merupakan sarana untuk menganalisa operasi yang kompleks - analisa
yang tidak selalu bisa dicapai dengan narasi yang rinci. Pembuatan flow chart sudah dipelajari
pada kuliah Sistem Informasi Akuntansi.

Pelaporan

Survei yang dilakukan dengan baik akan menghasilkan sejumlah informasi yang
bermanfaat. Data yang dikumpulkan dapat mengidentifikasi hal-hal penting dan masalah yang
ada serta membantu auditor memutuskan apakah pemeriksaan lanjutan diperlukan. Hasil

17
survey ini perlu dibuatkan laporan dengan fokus pada kecukupan control bukan efektivitas
kontrol dan menunjukkan dasar keputusan untuk terus melakukan audit.
Selama penelaahan hasil-hasil survey dengan manajemen, pelaporan temuan positif
dan negative bisa jadi kondusif bagi hubungan auditor-klien, Pendekatan ini
mengkomunikasikan apa yang dicari auditor internal, kerja sama yang sehat, objektif, tidak
bias terhadap penilaian operasi.
Jika survei memberi keyakinan adanya sistem, kontrol, pengawasan, dan
manajemennya bisa menjadi dasar keputusan tidak dilakukannya audit. Sumber daya audit
biasanya kebanyakan organisasi audit internal memiliki lebih banyak proyek audit
dibandingkan auditor yang akan melakukannya. Tidak masuk akal untuk menghabiskan waktu
audit yang berharga hanya untuk mengejar pengujian transaksi jika kelihatannya sistem kontrol
itu sendiri akan menunjukan semua transaksi yang memiliki kelemahan material.
Pada saat yang sama, kebanyakan auditor internal merasa perlu menerbitkan laporan
audit walaupun hanya survei yang dilakukan. Dengan informasi yang dikumpulkan selama
survei, mungkin laporan berharga bisa disiapkan. Namun akan menjadi lebih bijak untuk secara
hati-hati menguraikan lingkup audit yang terbatas, dengan berkonsentrasi pada kecukupan
bukan pada efektivitas control dan menunjukkan dasar keputusan untuk terus melakukan audit.
Bahkan dalam situasi program audit akan disiapkan dan pekerjaan lapangan akan
dilakukan mungkin berguna untuk membuat ringkasan basil survei dan melaporkannya secara
informal ke manajemen. Kadang-kadang, informasi yang mencukupi akan diperoleh selama
survei untuk merekomendasikan perbaikan bahkan sebelum pengujian substantif dilakukan.
Dalam kasus ini, pengamatar. internal harus dibahas dengan manajer klien sebelum program
audit disiapkan. Jika m puas dengan analisis auditor dan bersedia mengambil tindakan
perbaikan, hasil survei final, tergantung pada tindak lanjut normal atas tindakan perbaikan
yang dilakukan.
Selama penelaahan hasil-hasil survei dengan manajemen, pelaporan temuan positif
dam jadi kondusif bagi hubungan auditor-klien. Pendekatan ini mengomunikasikan apa yang
internal: kerja sama yang sehat, objektif, tidak bias terhadap penilaian operasi.
Jika hasil-hasil survei kemudian membutuhkan audit, ringkasan audit seharusnya men
langkah audit yang disarankan dan rasional bagi mereka. Auditor juga harus mengiden tifikasi
aktivitas yang tidak akan diaudit dan menjelaskan alasannya. Estimasi awal untuk waktu dan
kebutuhan sumber daya harus dilakukan, bersama dengan target tanggal pekerjaan lapangan
dan audit.

18
C. TUJUAN DAN SASARAN SURVEY PENDAHULUAN

Kompleksitas operasi pada suatu perusahaan mungkin akan membuat auditor


menemui kesulitan pada saat akan melakukan pemeriksaan. Survei pendahuluan dapat
menjadi senjata terbaik bagi auditor untuk memperoleh pemahaman, informasi dan persektif
yang dibutuhkan untuk mendukung kesuksesan audit. Audit bisa juga merupakan bagian dari
penugasan rutin yang memiliki standar dan proses tertentu atau bisa juga merupakan respons
atas masalah yang berkembang yang membutuhkan pengetahuan akan hal baru atau tehnik
pemeriksaan yang berbeda. Beberapa praktisi audit internal telah mengembangkan
pendekatan tepat pada waktunya untuk penjadwalan audit untuk memastikan bahwa jasa
audit siap tersedia sesuai waktu yang dijadwalkan. Survei pendahuluan dapat membantu
auditor menentukan jenis audit paling efektif terutama dengan adanya paradigma baru bahwa
auditor harus dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan bahwa perusahaan adalah
pelanggan/klien dari auditor.

Selama survei pendahuluan, auditor internal harus menentukan tujuan aktivitas yang
menjadi tujuan audit, yang akan ditetapkan selanjutnya. Jika tujuan ini tidak dipahami dengan
baik, maka audit bisa kehilangan manfaatnya. Mendapatkan gambaran aktivitas yang tepat dan
kesesuaian misinya dengan sasaran strategis perusahaan merupakan profesionalisme auditor
internal.
Saat melakukan survei, auditor internal akan senantiasa mengingat dengan tepat
tujuan, sasara, dan standar yang seharusnya atau sedang diupayakan untuk dimiliki organisasi
kilen. Auditor harus mencoba untuk menentukan apakah:
a. Tujuan tersebut sesuai dengan rencana strategis dari organisasisuatu rancangan
besar perusahaan.
b. Orang-orang yang akan dibatasi oleh tujuan, sasaran, dan standar berpartisipasi
dalam penetapannya.
c. Tujuan diketahui oleh semua orang yang akan berpartisipasi dalam pencapaiannya.
d. Tujuan tersebut secara realistis mempertimbangkan sumber daya yang tersedia bagi
aktivitas.
e. Tujuan tersebut menuntun aktivitas dalam menghadapi kendala dan kendali eksternal.
Sasaran dan standar yang ditetapkan akan memotivasi orang untuk mencapai lebih dari apa
yang bisa mereka capai

19
D. KONTROL-KONTROL UNTUK MENCAPAI TUJUAN

Jika tujuan, sasaran, dan standar telah diidentifikasi dan disepakati selama survei
pendahuluan, langkah selanjutnya adalah menentukan kontrol apa, atau yang seharusnya,
diterapkan untuk memastikan bahwa hasil-hasil yang diinginkan akan dicapai.
Auditor internal dihadapkan pada sejumlah kontrol potensial ketika mereka melakukan
survey pendahuluankebijakan organisasi atau agensi, prosedur, manual, instruksi-instruksi
khusus, laporan daftar, registrasi formulir, pembagian tugas, sistem persetujuan,
pengawasan, dan lainnya. Mencobauntuk membaca dan memahami semuanya dapat
mengaburkan mata dan melelahkan otak. Mencoba menyerap literatur mengenai sejumlah
kontrol sering kali membuang waktu. Jika kita membaca relevansinya dengan masalah
tertentu, semua kontrol ini kelihatan tidak berkaitan dengan kenyataan.

E. MEMBUAT ANGGARAN SURVEY

Anggaran dibuat dengan berpatokan pada perkiraan waktu yang dibutuhkan auditor.
Tidak ada standar untuk anggaran survey pendahuluan. Jika audit yang dilakukan merupakan
audit rutin maka perkiraan waktu dapat segera ditentukan. Jika terjadi perubahan signifikan
dalam tujuan, prosedur, system operasi, otomatisasi, organisasi, manajemen, dan karyawan
akan mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk mengenal dan mengidentifikasi masalah.
Semua faktor harus dipertimbahkan dalam membuat anggran survey. Tetapi bahkan jika
auditor merasa cukup memahami aktivitas, mereka harus selalu waspada akan dua faktor yang
dapat berubah yaitu orang dan perilaku mereka, Tidak ada jaminan bahwa baik orang maupun
tingkah laku mereka akan sama dari tahun ke tahun.

Estimasi biaya yang wajar adalah berkisar 10 hingga 20 persen dari total anggaran untuk
proyek audit.

20
BAGIAN IV

LATIHAN

1. Jelaskan survey pendahuluan dalam internal audit!


2. Jelaskan metode-metode yang perlu dilakukan dalam survey pendahuluan!
3. Jelaskan tujuan dan sasaran survey pendahuluan!
4. Sebutkan dan jelaskan pengendalian untuk mencapai tujuan!
5. Bagaimana penyusunan anggaran survey dalam internal audit?

21
BAGIAN V

RANGKUMAN

Survey pendahuluan (preliminary survey) merupakan proses yang bertujuan untuk


mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai risiko dari suatu unit yang akan
diperiksa. Survey pendahuluan bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai objek yang
diteliti tanpa melakukan verifikasi secara rinci. Tujuan dari survey pendahuluan ini untuk
lebih memahami aktivitas auditee, mengidentifikasi area/bidang yang memerlukan penekanan
khusus dalam audit, memperoleh informasi awal sebagai bahan untuk melakukan pekerjaan
lapangan, dan menetukan apakah perlu melakukan audit lebih lanjut. Dengan kata lain, survey
pendahuluan berguna untuk memahami lebih baik mengenai tujuan, proses, risiko, dan
pengendalian dari bagian/fungsi yang diaudit.

Survey pendahuluan dapat menjadi sarana yang baik untuk menganalisis karyawan
dan system, namun bias juga menjadi sebuah pencarian yang tidak beraturan. Auditor internal
harus memastikan bahwa waktu dan upaya yang dihabiskan untuk survey pendahuluan bisa
produktif.

Tahap-tahap pelaksanaan survey terdiri dari 7 langkah dasar :

1. melakukan studi awal

2. mendokumentasikan

3. bertemu klien

4. mendapatkan informasi

5. mengamati

6. membuat bagan alir/flow chart

7. melaporkan

22
BAGIAN VI

TES FORMATIF

1. Mengapa melakukan studi awal sebelum melakukan audit sangat penting untuk
auditor? Jelaskan!
2. Berikan 10 contoh pertanyaan-pertanyaan yang layak dalam kuisioner survey
pendahuluan!
3. Wawancara dalam penugasan audit termasuk salah satu dari banyak langkah-langkah
penting yang harus dilakukan auditor. Jelaskan teknik-teknik wawancara yang efektif!
4. Jelaskan garis besar yang perlu diketahui dalam membuat anggaran survey!

23
BAB VII

UMPAN BALIK

Setelah mahasiswa mempelajari seluruh materi modul ini, maka terdapat beberapa
instrument latihan untuk menguji kemampuan pemahaman kalian. Hal ini bertujuan untuk
mengetahui tingkat kesulitan materi dalam modul ini, sehingga dapat dilakukan perbaikan dan
langkah penyesuaian dimasa yang akan datang.

Kegiatan umpan balik diberikan dalam bentuk pengujian tertulis melalui instrument
dalam bentuk essay, dimana pertanyaan essay ini berjumlah 4 nomor yang mana tiap nomor
mempunyai skor 25, sehingga total skor adalah 100. Kemudian, skor tersebut diolah dalam
bentuk nilai 1 sampai 100. Tingkat keberhasilan pemahaman anda terhadap materi dalam
modul ini, akan ditentukan atas jumlah skor yang anda peroleh dengan kriteria pembobotan
seperti dibawah ini:

Nilai Predikat
90-100% Baik sekali
80-89% Baik
70-79% Cukup
60-69% Kurang

Bagi mahasiswa yang belum mencapai nilai 80%, dapat mengulangi belajar dengan
memilih materi-materi yang masih dianggap sulit secara lebih teliti atau melakukan kegiatan
diskusi bersama teman maupun dosen pembimbing dalam mata kuliah ini.

24
BAGIAN VIII

KUNCI TES FORMATIF

1. Studi awal penting dilakukan agar auditor bisa memahami gambar keseluruhan
mengenai entitas agar memudahkannya dalam mengambil langkah selanjutnya.
Kebanyakan pendokumentasian dan proses perolehan pemahaman diselesaikan bahkan
sebelum auditor melakukan audit. Studi awal yang dilakukan auditor mencakup
penelaahan atas kertas kerja tahun sebelumnya, temuan-temuan audit, bagan
organisasi, dan dokumen-dokumen lain yang akan membentu untuk lebih memahami
subjek audit. Pada banyak kondisi, studi awal akan dilakukan di kantor pusat,
meskipun banyak auditor internal saat ini dapat mengakses informasi secara elekronik
dari yang jauh. Kertas kerja tahun sebelumnya dapat menunjukkan pendekatan yang
dilakukan auditor lain atas penugasan tersebut, meskipun pendekatan yang sama
mungkin tidak lagi layak atau tidak diinginkan untuk audit tahun ini.

2. Berikut contoh pertanyaan dalam kuisioner survey pendahuluan:

- Berapa banyak karyawan yang ditugaskan pada bidang ini?


- Aktivitas-aktivitas apa yang dilakukan?
- Apakah terdapat prosedur-prosedur tertulis untuk aktivitas tersebut?
- Aktivitas apa yang menurut anda paling penting?
- Aktivitas mana yang paling mengganggu?
- Bagaimana anda menerapkan control atas organisasi?
- Laporan control apa yang anda terima dari karyawan?
- Standar apa yang anda tetapkan untuk karyawan?
- Standar anda bersumber dari mana?
- Bagaimana anda melatih karyawan?

3. Teknik-teknik wawancara yang baik membuat orang merasa nyaman, membuat mereka
ingin memberi informasi, bekerja sama dalam audit, dan mudah mudahan membuat
penugasan audit berhasil. Auditor internal harus memiliki keahlian dalam
berhubungan dengan orang dan berkomunikasi secara efektif. Juga oenting bagi

25
auditor internal untuk memiliki keahlian dalam komunikasi lisan dan tulisan sehingga
mereka dapat menyampaikan tujuan audit, evaluasi, kesimpulan dan rekomendasi
secara jelas dan efektif. Karena penugasan teknik-teknik wawancara yang efektif pada
hakikatnya adalah tanggung jawab professional. Wawancara yang sukses didasarkan
pada penerapan saksama enam langkah penting:
a. Persiapan. Jangan datang tanpa persiapan. Pelajari sebanyak mungkin tentang
klien sebelum Tanya jawab. Tentukan tujuan Tanya jawab dan siapkan
pertanyaan-pertanyaan untuk mencapai tujuan tersebut.
b. Penjadwalan. Rencanakan jadwal dengan saksama. Jangan berkunjung dengan
mendadak-kecuali memang diperlukan.
c. Pembukaan. Beritahu klien dengan jujut tujuan wawancara dan bagaimana
hasilnya akan digunakan.
d. Pelaksanaan. Wawancara merupakan pelaksanaan komunikasi, dan auditor
internal harus memiliki keahlian dalam proses komunikasi.
e. Mengajukan pertanyaan. Cara auditor mengajukan pertanyaan dapat
memengaruhi kesuksesan atau kegagalan suatu wawancara. Pertanyaan-
pertanyaan pembuka harus membuat orang menjadi nyaman.
f. Penutupan. Jangan terlena dengan pembicaran. Perhatikan tanda-tanda
nonverbal bahwa klien ingin pembicaraan diakhiri. Cobalah akhiri dengan
nada positif dengan meringkas kesepakan atau puji tindakan-tindakan yang
layak dipuji.

4. Anggaran dibuat dengan berpatokan pada perkiraan waktu yang dibutuhkan auditor.
Tidak ada standar untuk anggaran survey pendahuluan. Jika audit yang dilakukan
merupakan audit rutin maka perkiraan waktu dapat segera ditentukan. Jika terjadi
perubahan signifikan dalam tujuan, prosedur, system operasi, otomatisasi, organisasi,
manajemen, dan karyawan akan mempengaruhi waktu yang diperlukan untuk
mengenal dan mengidentifikasi masalah. Semua faktor harus dipertimbahkan dalam
membuat anggran survey. Tetapi bahkan jika auditor merasa cukup memahami
aktivitas, mereka harus selalu waspada akan dua faktor yang dapat berubah yaitu
orang dan perilaku mereka, Tidak ada jaminan bahwa baik orang maupun tingkah laku
mereka akan sama dari tahun ke tahun. Estimasi biaya yang wajar adalah berkisar 10
hingga 20 persen dari total anggaran untuk proyek audit.

26
BAGIAN IX

DAFTAR PUSTAKA

Sawyer. Lawrence B, Mortimer A. Dittenhofer, dkk. 2006. Internal Auditing Buku 1


Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.

27