Anda di halaman 1dari 11

RINGKASAN MATA KULIAH

Akuntansi Keperilakuan
Dosen : Dr. Anak Agung Gde Putu Widanaputra, S.E., M.Si., Ak.

Oleh:

1. Putu Vio Narakusuma Ardayani 1515351012


2. Ni Made Prema Laksmi W 1515351030
3. Ni Putu Yunita Sari 1515351035
4. Made Sukma Mutiara Pramita 1515351037

PROGRAM STUDI AKUNTANSI NON REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2017
Aspek Keperilakuan pada Perencanaan Laba dan Penganggaran

Anggaran merupakan komponen penting dalam sebuah perusahaan. Anggaran dikatakan


sebagai komponen penting, karena anggaran berfungsi sebagai alat perencanaan dan pengendalian
agar manajer dapat melaksanakan kegiatan perusahaan secara lebih efektif dan efisien.
Sebagai alat perencanaan, anggaran merupakan rencana kegiatan yang terdiri dari sejumlah
target yang akan dicapai oleh para manajer departemen suatu perusahaan dalam melaksanakan
serangkaian kegiatan tertentu pada masa yang akan datang. Dengan adanya sasaran target yang
harus terpenuhi, penyusunan anggaran umumnya melibatkan bawahan. Keterlibatan ini, disebut
pula sebagai bentuk partisipasi anggaran. Partisipasi karyawan dalam penyusunan anggaran.
Aspek perilaku yang terkait dengan anggaran merujuk pada perilaku manusia yang terlibat
pada saat anggaran tersebut disusun dan diimplemetasikan. Karena penyusunan anggaran
dilakukan oleh manusia dan diperuntukkan bagi manusia, maka tidak mengherankan jika anggaran
dapat mempengaruhi perilaku manusia. Anggaran menjelaskan kepada orang-orang mengenai apa
yang diharapkan dari mereka dan kapan hal tersebut harus sudah dilakukan. Anggaran menetapkan
batasan pada apa yang dapat dibeli dan berapa banyak yang dapat dibelanjakan. Anggaran
membatasi tindakan manjemen. Anggaran merupakan alasan pemantauan kinerja manajer secara
kontinyu dan standar perbandingan hasil kinerja. Adanya anggaran mengakibatkan manusia
membatasi tindakannya. Anggaran pula yang menyebabkan kinerja manajer selalu dan secara
kontinyu dipantau serta dibandingkan. Hal ini pula yang mengakibatkan timbulnya tekanan.
Manajer seringkali menghadapi permasalahan akibat adanya anggaran seperti misalnya timbulya
over atau under budget, penyimpangan dari anggaran yang diharapkan, dan sebagainya. Akibatnya
anggaran kemudian dianggap sebagai sesuatu yang dapat menghambat atau mengancam karir.
Manajemen harus selalu menyadari bahwa dimensi manusia dalam penganggaran
merupakan faktor kunci. Mudah bagi manajer untuk menguasai aspek teknis dari program
anggaran, tetapi tidak mudah dalam memasukkan aspek manusia. Partisipasi penuh dari setiap
manajer dalam semua tingkatan ini bertujuan agar semua aspek yang dibutuhkan dalam
penyusunan anggaran dapat terpenuhi. Walaupun akan sangat sulit apabila semua aspek yang
dibutuhkan dapat terealisasi dalam bentuk anggaran yang ditetapkan, karena akan sangat sulit
dalam memasukkan aspek perilaku manusia dalam anggaran. Manajemen harus ingat bahwa
maksud penyusunan anggaran adalah untuk memotivasi karyawan dan mengkoordinasikan
aktivitas.
Untuk mendorong orang supaya bertanggungjawab terhadap penyusunan anggaran dan
terhadap implementasi anggaran untuk mencapai tujuan organisasi secara efektif dan efisien,
perusahaan perlu mempertimbangkan aspek etika dan perilaku dalam penganggaran. Anggaran
merupakan hasil negosiasi, yang artinya bahwa dalam penyusunannya terdapat pertimbangan akan
tujuan perusahaan dan tujuan karyawan. Adanya konsistensi antara tujuan-tujuan perusahaan
dengan tujuan para karyawannya (goal congruence) merupakan hal yang ideal yang banyak
diupayakan oleh banyak perusahaan.

1. HUBUNGAN ANGGARAN DENGAN AKUNTANSI


Anggaran dan akuntansi memiliki hubungan yang sangat erat dimana akuntansi menyajikan
data historis yang sangat bermanfaat untuk mengadakan estimasi-estimasi yang akan dituangkan
dalam anggaran yang nantinya akan dijadikan sebagai pedoman kerja di waktu mendatang.
Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis yang meliputi seluruh kegiatan
perusahaan dan dinyatakan dalam unit (satuan) moneter dan berlaku untuk jangka waktu (periode)
mendatang. Orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap penyusunan anggaran serta
pelaksanaannya adalah pemimpin perusahaan. Namum siapa atau bagian apa yang ditugaskan
untuk mempersiapkan dan menyusun anggaran tersebut sangat tergantung pada struktur organisasi
dari setiap perusahaan
Pada dasarnya aspek keperilakuan dari penganggaran mengacu pada perilaku manusia yang
muncul dalam penyusunan anggaran dan perilaku manusia yang didorong ketika manusia mencoba
untuk hidup dengan anggaran. Beberapa fungsi anggaran yaitu:
1. Anggaran merupakan hasil akhir dari proses perencanaan perusahaan.
2. Anggaran merupakan cetak biru perusahaan untuk bertindak, yang mencerminkan
prioritas manajemen dalam alokasi sumber daya organisasi.
3. Anggaran bertindak sebagai suatu alat komunikasi internal yang menghubungkan
beragam departemen atau divisi organisasi yang satu dengan lainnya.
4. Dengan menetapkan tujuan dalam kriteria kinerja yang dapat diukur, anggaran
berfungsi sebagai standar terhadap mana hasil operasi aktual yang dapat dibandingkan.
5. Anggaran berfungsi sebagai alat pengendalian yang memungkinkan manajemen untuk
menemukan bidang-bidang yang menjadi kekuatan atau kelemahan perusahaan.
6. Anggaran mencoba untuk mempengaruhi dan memotivasi baik manajer maupun
karyawan untuk terus bertindak dengan cara yang konsisten dengan operasi yang
efektif dan efisien serta selaras dengan tujuan organisasi.

2. PANDANGAN PERILAKU TERHADAP PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN


Ada tiga tahapan utama dalam proses penyusunan anggaran yaitu :
a. Penetapan tujuan
Aktivitas perencanaan dimulai dengan menerjemahkan tujuan organisasi yang luas ke dalam
tujuan-tujuan aktivitas yang khusus. Untuk menyusun rencana yang realistis dan menciptakan
anggaran yang praktis, interaksi yang ekstensif diperlukan antara manajer lini dan manajer staf
organisasi. Pengontrol dan direktur perencanaan memainkan peranan kunci dalam proses manusia
dari penyusunan anggaran ini. Namun jika sesuai dengan struktur organisasi dan gaya
kepemimpinan, maka manajer tingkat bawah dan para karyawan sebaiknya diberikan kesempatan
untuk berpartisipasi dalam proses penetapan tujuan karena mereka akan lebih mungkin menerima
tujuan yang turut mereka formulasikan.

b. Implementasi
Pada tahap implementasi, rencana formal tersebut digunakan untuk mengkomunikasikan
tujuan dan strategi organisasi, serta untuk memotivasi orang secara positif dalam organisasi. Hal
ini dicapai dengan menyediakan target kinerja terperinci bagi mereka yang bertanggung jawab
mengambil tindakan. Agar rencana tersebut berhasil, rencana itu harus dikomunikasikan secara
efektif.

c. Pengendalian dan evaluasi kinerja


Setelah diimplementasikan, anggaran tersebut berfungsi sebagai elemen kunci dalam sistem
pengendalian. Anggaran menjadi tolok ukur terhadap kinera aktual dibandingkan dan berfungsi
sebagai suatu dasar untuk melakukan manajemen berdasarkan pengecualian.
Untuk menyusun suatu anggaran atau rencana laba, terdapat langkah-langkah tertentu yang
harus diambil :
1. Manajemen puncak harus memutuskan apa yang menjadi tujuan jangka pendek perusahan
dan strategi mana yang akan digunakan untuk mencapainya.
2. Tujuan harus ditetapkan dan sumber daya dialokasikan.
3. Suatu anggaran atau rencana laba yang komprehensif harus disusun, kemudian disetujui
oleh manajemen puncak.
4. Anggaran digunakan untuk mengendalikan biaya dan menentukan bidang masalah dalam
organisasi tersebut dengan membandingkan hasil kinerja aktual dengan tujuan yang telah
dianggarkan secara periodik.

3. KONSEKUENSI DISFUNGSIONAL DARI PROSES PENYUSUNAN ANGGARAN


Berbagai fungsi anggaran seperti penetapan suatu tujuan, pengendalian, dan mekanisme
evaluasi kinerja dapat memicu berbagai konsekuensi disfungsional, seperti :

a. Rasa Tidak Percaya


Suatu anggaran terdiri atas seperangkat tujuan-tujuan tertentu. Walaupun anggaran tersebut
dapat disesuaikan untuk kejadian-kejadian yang tidak diantisipasi, anggaran menampilkan rasa
tidak percaya, rasa pertumbuhan, dan mengarah pada kinerja yang menurun. Contoh : Orang
merasa pesimis, apakah mampu menjawab target yang diberikan padanya.

b. Resistensi
Pada proses anggaran memerlukan waktu dan perhatian yang besar. Manajer atau penyelia
mungkin merasa terlalu terbebani dengan permintaan yang ekstensif atas waktu dan tanggung
jawab rutin mereka. Oleh karena itu, mereka tidak ingin terlibat dalam proses penyusunan
anggaran. Contoh : Anggaran menimbulkan penolakan karena orang punya status quo masing-
masing, terbiasa dengan cara-cara lama dan dirugikan secara pribadi. Misal kenikmatan-
kenikmatan yang diperoleh karena memangku jabatan, kalau anggaran dipotong tentu saja akan
menimbulkan keterkejutan.

c. Konflik Internal
Konflik internal dapat berkembang sebagai akibat dari interaksi ini, atau sebagai akibat dari
laporan kinerja yang membandingkan satu departemen dengan departemen lain. Gejala-gejala
umum dari konflik adalah ketidakmampuan mencapai kerja sama antar-pribadi dan antar-
kelompok selama prosesn penyusunan anggaran. Contoh : Adanya perbedaan anggaran pada
departemen tertentu tanpa ada penjelasan kepada departemen lain.

d. Efek Samping Lain yang Tidak Diinginkan


Anggaran akan menghasilkan pengaruh lain yang tidak diinginkan. Salah satu pengaruh lainnya
adalah terbentuknya kelompok-kelompok informal kecil yang menentang tujuan anggaran.
Kelompok-kelompok ini biasanya dibentuk untuk melawan konflik internal dan tekanan yang
diciptakan oleh anggaran tersebut. Pengaruh lainnya adalah penekanan yang berlebihan pada
kinerja departemental dan kurang menekankan pada kinerja organisasi secara keseluruhan. Dengan
memfokuskan perhatian secara eksklusif pada kinerja departemental, ketergantungan dan ekonomi
antar-departemen yang penting dapat terabaikan.

4. RELEVANSI KONSEP ILMU KEPERILAKUAN DALAM LINGKUNGAN


PERENCANAAN
Dampak dari Lingkungan Perencanaan
Lingkungan perencanaan mengacu pada struktur, proses, dan pola-pola interaksi dalam
penetapan kerja. Hal tersebut kadang kala disebut dengan budaya atau iklim organisasi.
Lingkungan dari suatu organisasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran dan struktur,
gaya kepemimpinan, jenis sistem pengendalian, dan stabilitas lingkungan. Lingkungan kerja
mempengaruhi prilaku sehingga mempengaruhi proses perencanaan. Tindakan manajemen
mendorong prilaku karyawan , dan respon karyawan bisa menerima atau menolak . Faktor yang
mempengaruhi lingkungan dijelaskan sebagai berikut:

a. Ukuran dan struktur organisasi


Ukuran dan strutur pada organisasi mempengaruhi perilaku manusia dan pola interaksi dalam
tahap penetapan tujuan, implementasi, dan pengendalian serta evaluasi terhadap proses
perencanaan. Ukuran organisasi dipandang sebagai jumlah karyawan, nilai rupiah dari pabrik fisik,
volume penjualan, jumlah kantor cabang, atau ukuran kuantitatif lainnya yang membedakan
organisasi. Struktur organisasi mengacu pada hubungan formal dan informal antara para anggota
organisasi meliputi jumlah lapisan wewenang, jumlah kantor atau posisi pada setiap lapisan,
tanggungjawab dari setiap kantor, dan prosedur untuk membuat pekerjaan dilakukan.

b. Gaya kepemimpinan
Gaya kepemimpinan juga mempengaruhi lingkungan perencanaan organisasi. Mc Gregor
menjelaskan gaya kepemimpinan yang dikenal dengan teori X dan teori Y. Teori X
mengimplikasikan bahwa anggaran akan disusun oleh manajemen puncak (pengontrol atau
direktur perencanaan) dan dikenakan pada manajemen tingkat bawah. Gaya kepemimpinan
otoriter, anggaran dipandang sebagai alat pengendalian manajemen untuk memastikan kepatuhan
karyawan. Kelebihan teori X ini yaitu secara nyata mengkoordinasi dan pengendalian atas aktivitas
khususnya ketika tanggungjawab atas tugas tersebut tidak jelas. Kelebihan lain, gaya
kepemimpinan ini efisien dalam kasus perbedaan bahasa dan budaya. Namun kelemahannya, tidak
mendorong partisipasi dan dapat menimbulkan tekanan anggaran yang berlebihan, kegelisahan
dan rusaknya motivasi. Teori Y adalah gaya kepemimpinan demokratis, mendorong keterlibatan
dan partisipasi karyawan dalam penentuan tujuan dan pengambilan keputusan. Kelebihannya
yaitu, proses penyusunan anggaran lebih fleksibel dan memberikan peluang bagi karyawan untuk
terlibat dalam perancangan arah organisasi, mengekspresikan ide-ide mereka dan memanfaatkan
bakat mereka secara efektif. Namun kelemahannya adalah dibutuhkan waktu yang lebih banyak
untuk menyelesaikan anggaran karena komunikasi dan negoisasi bolak-balik antar departemen.

c. Stabilitas lingkungan organisasi


Faktor lingkungan eksternal juga mempengaruhi lingkungan perencanaan yang meliputi iklim
politik dan ekonomi, ketersediaan pasokan, struktur industri yang melayani organisasi, hakikat
persaingan, dan lain lain. Lingkungan yang stabil mengenakan risiko yang terbatas dan
memungkinkan proses penetapan tujuan menjadi demokratis dan partisipatif. Lingkungan yang
berubah dengan cepat menghasilkan situasi yang beresiko tinggi. Untuk menghadapi perubahan
semacam itu, keputusan harus dibuat dengan cepat dan tegas, dalam kasus ini gaya kepemimpinan
otoriter terbukti lebih efisien dibandingkan dengan gaya kepemimpinan yang demokratis dan
partisipatif.
5. KONSEP KONSEP KEPRILAKUAN YANG RELEVAN DALAM PROSES
PENYUSUNAN ANGGARAN

I. TAHAP PENETAPAN TUJUAN


Selama tahap penetapan tujuan baik tujuan umum ataupun tujuan khusus dari manajemen
puncak diterjemahkan kedalam target-target yang pasti dan dapat diukur bagi organisasi serta bagi
setiap submit utama.

a. Keselarasan Tujuan
Masalah utama dalam penetapan tujuan adalah mencapai suatu tingkat keselarasan tujuan
atau kompatibilitas yang mungkin diantara tujuan-tujuan organisasi, subunit-subunitnya
(divisi/departemen), dan anggota-anggota yang turut berpartisipasi.

b. Partisipasi
Adalah suatu proses pengambilan keputusan bersama oleh dua bagian atau lebih pihak di mana
keputusan tersebut akan memiliki dampak masa depan terhadap mereka yang membuatnya.

c. Manfaat Partisipasi
Salah satu manfaat dari partisipasi yang berhasil adalah bahwa partisipan menjadi terlibat
secara emosi dan bukan dalam pekerjaan mereka. Pada dasarnya partisipasi dapat meningkatkan
moral dan mendorong insiatif yang lebih besar pada semua tingkatan manajemen.

d. Batasan dan Permasalahan Partisipasi


Bahkan dalam kondisi yang paling ideal sekalipun, partisipasi dalam penetapan tujuan
mempunyai keterbatasan tersendiri. Karena proses partisipasi memberikan kekuasaan kepada para
manajer untuk menetapkan hasil isi dari anggaran mereka, kekuasaan ini bisa digunakan dengan
cara yang memiliki konsekuensi disfungsional bagi organisasi itu sendiri.

II. TAHAP IMPLEMENTASI


Setelah tujuan organisasi ditetapkan, maka direktur perencanaan mengkonsolidasikaannya ke
dalam anggaran formal yang komprehensif. Cetak biru untuk tindakan ditingkat perusahaan ini
kemudian disetujui oleh dewan direksi, komisaris. Anggaran tersebut kemudian
diimplementasikan melalui komunikasi kepada karyawan kunci dalam organisasi.

a. Pengkomunikasian Anggaran
Kontroler atau direktur perencanaan bertanggung jawab untuk mengimplementasikan
anggaran. Hal ini dicapai dengan cara mengkomunikasikan sasaran operasional yang disetujui
kepada orang-orang tingkat organisasi yang lebih rendah. Hal ini disebut juga sebagai menjual
anggaran kebawah.

b. Kerja Sama dan Koordinasi


Implementasi anggaran yang berhasil membutuhkan kerja sama dari orang-orang dengan
beraneka ragam ketrampilan dan bakat. Koordinasi adalah seni menggabungkan secara efektif
seluruh sumber daya organisasi. Dari sudut pandang keprilakuan, hal ini berarti menggabungkan
bakat dan kekuatan dari setiap partisipan organisasi dan membuatnya berjuang untuk mencapai
tujuan yang sama.

III. TAHAP PENGENDALIAN DAN EVALUASI KINERJA


Tujuan yang dianggarkan jarang dicapai tanpa memantau kemajuan karyawan secara kontinyu
terhadap pencapaian tuuan mereka. Dalam tahap pengendalian dan evaluasi kinerja, kinerja aktual
dibandingkan dengan standar yang dianggarkan guna menentukan bidang-bidang permasalahan
dalam organisasi tersebut dan menyarankan tindakan yang sesuai untuk memperbaiki kinerja yang
dibawah standar.
Laporan Kinerja
Untuk mempertahankan kendali atas biaya dan menjaga agar karyawan termotivasi kearah
pencapaian sasaran, laporan kinerja sebaiknya disusun dan didistribusikan paling tidak secara
sebulan. Penerbitan laporan kinerja yang tepat waktu memiliki dampak mendorong moral
karyawan dan kinerja. Selain itu meningkatkan akurasi tugas dan keyakinan serta hubungan baik
yang tinggi.
Evaluasi dan umpan balik kinerja yang berkala akan meningkatkan efisienisi organisasi
dengan mengidentifikasi sasaran yang harus direvisi untuk siklus perencanaan yang berikutnya.
Manajer dapat menyimpulkan hal tersebut dari yang diketahui mengenai tingkat aspirasi.
Relevansi antara penetapan tujuan, standar kinerja dan slack terhadap perilaku manusia dan
pembaharuan standar secara kontinu dilihat dari laporan kinerja. Laporan kinerja sebagai alat
komunikasi yang memicu reaksi manusia. Karena itu penting untuk menetapakan standar untuk
pengendalian mutu serta batas pengeluaran dan produksi. Tingkat pengeluaran dan produksi orang
dapat terlihat menguntungkan dalam suatu laporan kinerja jika input berkualitas buruk digantikan
dengan input berkualitas baik. Hal tersebut menunjukkan bagaimana modifikasi dalam suatu
sistem akuntansi melalui penyesuaian anggaran dan informasi yang dihasilkan oleh sistem tersebut
dalam bentuk laporan kinerja dapat mengubah perilaku manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Aspek Keperilakuan pada Perencanaan. http://inspirasitv-


ku.blogspot.co.id/2009/04/aspek-keperilakuan-pada-perencanaan.html (Diakses pada tanggal 31
Oktober 2017)
Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan. Edisi 2. Jakarta : Salemba Empat.

Nawawi, Kurniaty. 2012. Aspek Keperilakuan pada Perencanaan Laba.


http://kurniatynawawi.blogspot.co.id/2012/06/aspek-keprilakuan-pada-perencanaan-
laba.html?m=1 (Diakses pada tanggal 12 November 2017)

Zs, Indri. 2012. Aspek Perilaku dalam Penyusunan. http://indrizs.blogspot.co.id/2012/01/aspek-


perilaku-dalam-penyusunan.html (Diakses pada tanggal 31 Oktober 2017)