Anda di halaman 1dari 13

Makalah Koperasi Pertanian

Sejarah Koperasi di Dunia

Disusun oleh :

1. Rhesa Sebastian (361541311004)


2. Rika Putri Yanti (361541311010)
3. Muhammad Hirza Rizki A.F (361541311011)
4. Eka Nur Annisa (361541311024)
5. Shania Dewi Deliyanti (361541311031)
6. Firsta Muslikhah Aryani (361541311032)

PROGRAM STUDI D-IV AGRIBISNIS


POLITEKNIK NEGERI BANYUWANGI
2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Koperasi modern yang berkembang dewasa ini lahir pertama kali di
Inggris, yaitu di Kota Rochdale pada tahun 1844. Koperasi timbul pada masa
perkembangan kapitalisme sebagai akibat revolusi industri. Pada awalnya,
Koperasi Rochdale berdiri dengan usaha penyediaan barang-barang konsumsi
untuk keperluan sehari-hari. Akan tetapi seiring dengan terjadinya
pemupukan modal koperasi, koperasi mulai merintis untuk memproduksi
sendiri barang yang akan dijual. Kegiatan ini menimbulkan kesempatan kerja
bagi anggota yang belum bekerja dan menambah pendapatan bagi mereka
yang sudah bekerja. Pada tahun 1851, koperasi tersebut akhirnya dapat
mendirikan sebuah pabrik dan mendirikan perumahan bagi anggota-
anggotanya yang belum mempunyai rumah. Perkembangan koperasi di
Rochdale sangat memengaruhi perkembangan gerakan koperasi di Inggris
maupun di luar Inggris. Pada tahun 1852, jumlah koperasi di Inggris sudah
mencapai 100 unit. Pada tahun 1862, dibentuklah Pusat Koperasi Pembelian
dengan nama The Cooperative Whole Sale Society (CWS). Pada tahun 1945,
CWS berhasil mempunyai lebih kurang 200 pabrik dengan 9.000 orang
pekerja. Melihat perkembangan usaha koperasi baik di sektor produksi
maupun di sektor perdagangan, pimpinan CWS kemudian membuka
perwakilan-perwakilan di luar negeri seperti New York, Kepenhagen,
Hamburg, dan lain-lain.
Pada tahun 1876, koperasi ini telah melakukan ekspansi usaha di
bidang transportasi, perbankan, dan asuransi. Pada tahun 1870, koperasi
tersebut juga membuka usaha di bidang penerbitan, berupa surat kabar yang
terbit dengan nama Cooperative News. The Womens Coorporative Guild
yang dibentuk pada tahun 1883, besar pengaruhnya terhadap perkembangan
gerakan koperasi, disamping memperjuangkan hak-hak kaum wanita sebagai
ibu rumah tangga, warga negara, dan sebagai konsumen. Beberapa tahun
kemudian, koperasi memulai kegiatan di bidang pendidikan dengan
menyediakan tempat membaca surat kabar dan perpustakaan. Perpustakaan
koperasi merupakan perpustakaan bebas pertama di Inggris, sekaligus
digunakan untuk tempat berbagai kursus dan pemberantasan buta huruf.
Kemudian Women Skill Guild Youth Organization membentuk sebuah pusat
yaitu Cooperative Union. Pada tahun 1919, didirikanlah Cooperative Collage
di Manchaster yang merupakan lembaga pendidikan tinggi koperasi pertama.
Revolusi industri di Prancis juga mendorong berdirinya koperasi.
Untuk mampu menghadapi serangan industri Inggris, Prancis berusaha
mengganti mesin-mesin yang digunakan dengan mesin-mesin modern yang
berakibat pada peningkatan pengangguran. Kondisi inilah yang mendorong
munculnya pelopor-pelopor koperasi di Prancis seperti Charles Fourier dan
Louis Blanc. Charles Fourier (1772-1837) menyusun suatu gagasan untuk
memperbaiki hidup masyarakat dengan fakanteres, suatu perkumpulan yang
terdiri dari 300 sampai 400 keluarga yang bersifat komunal. Fakanteres
dibangun di atas tanah seluas lebih kurang 3 mil yang akan digunakan sebagai
tempat tinggal bersama, dan dikelilingi oleh tanah pertanian seluas lebih
kurang 150 hektar. Di dalamnya terdapat juga usaha-usaha kerajinan dan
usaha lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pengurus perkampungan
ini dipilih dari para anggotanya. Cita-cita Fourier tidak berhasil dilaksanakan
karena pengaruh liberalisme yang sangat besar pada waktu itu. Lois Blanc
(1811-1880) dalam bukunya Organization Labour menyusun gagasannya
lebih konkrit, dengan mengatakan bahwa persaingan merupakan sumber
keburukan ekonomi, kemiskinan, kemerosotan moral, kejahatan, krisis
industri, dan pertentangan nasional. Untuk mengatasinya, perlu didirikan
social work-shop (etelier socialux). Dalam perkumpulan ini, para produsen
perorangan yang mempunyai usaha yang sama disatukan. Dengan demikian,
perkumpulan ini mirip dengan koperasi produsen. Pada tahun 1884, kaum
buruh di Perancis menuntut pemerintah untuk melaksanakan gagasan Lois
Blanc untuk mendirikan koperasi, tetapi koperasi ini kemudian bangkrut. Di
samping negara-negara tersebut, koperasi juga berkembang di Jerman yang
dipelopori Ferdinan Lasalle, Friedrich W. Raiffesen (1818-1888), dan
Herman Schulze (1803-1883) di Denmark dan sebagainya.
Dalam perjalanan sejarah, koperasi tumbuh dan berkembang ke
seluruh dunia di samping badan usaha lainnya. Setengah abad setelah
pendirian Koperasi Rochdale, seiring dengan berkembangnya koperasi di
berbagai negara, para pelopor koperasi sepakat untuk membentuk
International Cooperative Alliance (ICA-Persekutuan Koperasi Internasional)
dalam Kongres Koperasi Internasional yang pertama pada tahun 1896, di
London. Dengan terbentuknya ICA, maka koperasi telah menjadi suatu
gerakan internasional.

1.2 Rumusan Masalah


1. Bagaimana sejarah koperasi di Negara Jepang?
2. Bagaimana sejarah koperasi di Negara Amerika Serikat?
3. Bagaimana sejarah koperasi di Negara Malaysia?
4. Bagaimana sejarah koperasi di Negara Jerman?
5. Bagaimana sejarah koperasi di Negara Inggris?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah koperasi di Negara Jepang
2. Untuk mengetahui sejarah koperasi di Negara Amerika Serikat
3. Untuk mengetahui sejarah koperasi di Negara Malaysia
4. Untuk mengetahui sejarah koperasi di Negara Jerman
5. Untuk mengetahui sejarah koperasi di Negara Inggris
1.4 Manfaat
1. Dapat mengetahui sejarah koperasi di Negara Jepang
2. Dapat mengetahui sejarah koperasi di Negara Amerika Serikat
3. Dapat mengetahui sejarah koperasi di Negara Malaysia
4. Dapat mengetahui sejarah koperasi di Negara Jerman
5. Dapat mengetahui sejarah koperasi di Negara Inggris
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Koperasi di Negara Jepang


Koperasi pertama di Negeri Sakura dilahirkan pada 1897, tetapi baru
pada 1920-an gerakan koperasi-koperasi mulai mengorganisir dengan skala
yang lebih besar bersamaan dengan pelaksanaan Undang-Undang Industri
dan Kerajinan. Koperasi di Jepang berkembang tidak hanya di bidang industri
dan kerajinan, tetapi di sektor pertanian juga mengalami perkembangan yang
pesat di awal-awal pertumbuhannya. Koperasi pertanian di Jepang terdapat
dua macam. Pertama adalah yang bersifat khusus, hanya mengembangkan
satu macam komoditas dan kedua adalah bersifat umum, yaitu yang bersifat
serba usaha.
Setelah terbit Undang-Undang Koperasi Pertanian pada tahun 1974,
koperasi pertanian, koperasi konsumsi dan bank koperasi semakin tumbuh
dengan pesat dan menjadi andalan koperasi di Jepang. Koperasi konsumen di
Jepang mampu tumbuh 20 persen per tahun. Sejak awal, mereka
menyediakan barang-barang yang sehat dan memuaskan konsumen. Motto
bisnisnya: Untuk Perdamaian dan Suatu Kehidupan yang Lebih Baik. Pada
1921 Koperasi Nada dan Koperasi Kobe didirikan di bawah kepemimpinan
Toyohiko Kagawa, Bapak Gerakan Koperasi Konsumen. Kedua badan usaha
ini bergabung atau amalgamasi menjadi Koperasi Nada Kobe di tahun 1962.
Kemudian berubah nama lagi menjadi Koperasi Kobe pada 1991. Seiring
perkembangannya, kedua koperasi menjadi kekuatan yang mengemudikan
koperasi di Jepang.
Tujuan pergerakan koperasi di Jepang terutama demi memperbaiki
kondisi kehidupan masyarakat miskin. Caranya, ia menganjurkan tujuh
berkoperasi. Pertama, pembagian keuntungan yang saling menguntungkan.
Kedua, perekonomian yang manusiawi. Ketiga, pembagian modal. Keempat,
pembatasan eksploitasi. Kelima, desentralisasi kekuasaan. Keenam,
kenetralan politik. Ketujuh, menekankan segi pendidikan.
Penyebaran koperasi yang ideal adalah menolong orang merancang
kebangkitan dirinya. Sayangnya, pemerintahan militer semasa Perang Dunia
II di Negeri Para Samurai ini menentang koperasi. Akibatnya, koperasi bubar
dan menghilang pada jaman itu. Setelah Perang Dunia II, sejumlah
pergerakan koperasi yang dirusak selama peperangan, memperbaiki diri.
Banyak koperasi membuka kegiatan distribusi makanan ransum atau jatah
karena saat itu memang terjadi kelangkaan serius hampir semua barang.
Kemudian pada 1948, pemerintah menerbitkan Undang-Undang Koperasi
Konsumen. Perkembangan berikutnya, pada 1951 didirikan Gabungan
Koperasi Konsumen Jepang (Japanese Consumers Co-operative Union,
JCCU), yang merupakan peletak dasar dan pendorong kemajuan koperasi.
Seiring kebangkitan ekonomi Jepang era 1950-an, sejumlah kebijakan
mereorganisasi koperasi pun sering didiskusikan. Tema yang mendominasi
diskusi, antara lain meliputi aspriasi atau kepentingan ekonomi para anggota
juga sekitar manajemen bisnis koperasi.
Muncul gagasan agar koperasi mendasarkan pada kelompok kecil
yang beranggota 5 sampai 10 orang. Cara ini memungkinkan para anggota
bertukar pikiran intensif baik melalui aktifitas jual beli bersama, saling
menolong dan mempromosikan koperasi mereka. Pada kurun 1960 dan 1970-
an, Jepang menikmati pertumbuhan ekonomi yang tinggi bahkan cenderung
tak terkendali karena banyak problem yang menyerang konsumen. Misalnya,
bahan pengawet dipakai membuat makanan yang diproduksi secara massal
dan membahayakan kesehatan orang. Koperasi memanfaatkan situasi ini
dengan berupaya menyuplai produk alternatif dengan jaminan keselamatan
dan makanan yang dapat diandalkan. Kemudian datang krisis minyak di
tahun 1973 yang berdampak pada kelangkaan komoditi dan harga barang
tiba-tiba meroket. Pada kondisi sulit ini, koperasi memasok barang dengan
harga logis kepada anggota sehingga para anggota semakin mempercayai
koperasi.
Pada saat jumlah keanggotaan dan pertumbuhan koperasi menjamur
luar biasa muncul tindakan anti koperasi dari segolongan kecil pedagang ritel
(minor retailer). Kondisinya, di tahun 1980-an Jepang tengah berada pada
pertumbuhan yang menguntungkan. Sebetulnya, para pedagang ritel itu sulit
bersaing melawan peritel besar. Koperasi pun terkena getah. Para pedagang
ritel sampai mengusulkan kepada pemerintah untuk mencegah pembukaan
toko-toko koperasi. Mereka juga menuntut pemerintah menjalankan Undang-
Undang Koperasi Konsumen yang melarang penggunaan koperasi oleh bukan
anggota. Pemerintah menanggapi dengan mengorganisasi satu panitia khusus
dan mendiskusikan aktifitas yang tepat untuk koperasi. Keputusannya,
koperasi sudah beroperasi sesuai kepentingan konsumen maupun Undang-
undang Koperasi Konsumen. Jadi penyebab kesulitan keuangan para
pengecer kecil, bukan karena koperasi.
Koperasi mengatasi kesulitan satu demi satu, dan sekarang
mempunyai anggota sejumlah 14 juta orang. Jumlah koperasi retail local,
kurang lebih 9 juta yang artinya mewakili 20 % dari seluruh tempat tinggal di
Jepang. Sementara penjualan tahunan koperasi senilai 52,7 miliar Dolar AS.
Perkembangan koperasi di Negeri Matahari Terbit ini makin mengesankan
dan lahir sejumlah koperasi, dari Koperasi Kesehatan, Koperasi Asuransi
hingga Koperasi Universitas. Para pendiri semua koperasi ini meyakini,
mereka mewakili kepentingan ekonomi masyarakat, bertanggung jawab
kepada masyarakat dan berupaya melakukan usaha secafra benar. Selain itu,
misalnya di koperasi konsumen, kelembagaan koperasi membantu
keberadaan dan kesejahteraan bersama pengecer kecil. Tujuannya,
merevitalisasi ekonomi lokal dan memberikan kontribusi kepada
komunitasnya.

2.2 Sejarah Koperasi di Negara Amerika Serikat


Keadaan sosial ekonomi Amerika Serikat pada pertengahan abad ke-
19 hampir sama dengan Inggris. Menurut catatan, jumlah Koperasi yang
tumbuh antara tahun 1863-1939, berjumlah 2600 buah. Sekitar 57% dari
Koperasi-koperai ini mengalami kegagalan. Menurut catatan, dalam periode
1909-1921, sekitar 52% dari seluruh pekumpulan Koperasi pertanian yang
ada telah bekerja secara efektif. Dalam perkembangannya, ada banyak jenis
Koperasi yang berkembang di Amerika Serikat. Di daerah pedesaan antara
lain dikenal adanya Koperasi Asuransi Bersama, Koperasi Llistrik dan
Telepon, Koperasi Pengawetan Makanan, Koperasi Simpan-Pinjam dan
Koperasi Penyediaan Benih. Sedangkan Koperasi-koperasi di perkotaan
seringkali menyelenggarakan toko-toko eceran. Koperasi kredit dan Koperasi
Perumahan juga banyak ditemukan dikota-kota, di Amerika Serikat juga
berkembang Koperasi Rumah Sakit dan Koperasi Kesehatan.
Koperasi pertama yang berdiri di Amerika Serikat adalah The
Philadelphia Contributionship From Lose By Fire. Semacam asuransi
kebakaran. Berikutnya berdiri koperasi pengairan yang mengurus irigasi
pertanian.Dan pada tahun 1880 berdiri koperasi-koperasi pertanian yang besar
(History and Performance of Inkopkar 1995). Sementara itu, di Amerika
Serikat, selama bertahun-tahun juga telah berkembang perkumpulan simpan
pinjam yang dikenal dengan nama Credit Union, berkat anjuran Alphonso
Desjardin (1854- 1921).
Sebelumnya masyarakat pernah mencoba mendirikan perkumpulan
serupa, seperti yang pernah didirikan oleh kaum pekerja pada tahun 1892
yang bernama The Boston Globe. Namun kurang mendapat sambutan
masyarakat karena dinilai terlalu mengejar keuntungan, sehingga tidak
mencerminkan suatu bentuk kerja sama dan tolong menolong.Alphonso,
memulai usaha simpan pinjam dengan mendirikan semacam Bank Rakyat
pada tahun 1900 di Levis Queebec, dengan menggerakkan kegiatan
menabung di kalangan petani maupun buruh dan selanjutnya meminjamkan
kepada sesama anggota yang memerlukan. Perkembangan yang pesat usaha
simpan pinjam melalui bank rakyat mendorong Alphonso berpikir akan
perlunya landasan hukum bagi usaha tersebut.Atas usaha keras Alphonso
bersama temannya Edward A Filene (1860-1913), pada tahun 1909, lahirlah
undang-undang pertama tentang koperasi Simpan pinjam di Massachussets.
Dalam perkembangannya, undang-undang tentang koperasi simpan pinjam itu
juga mulai melebar ke New Hampshire.Koperasi simpan pinjam tersebut
selanjutnya menjadi model atau teladan bagi seluruh koperasi simpan pinjam
di Amerika Serikat, bahkan sampai ke Kanada.
Sampai tahun 1915, jumlah koperasi simpan pinjam atau credit union
telah bertambah menjadi 11 unit dan tiga tahun kemudian meningkat menjadi
42 unit.Dan sampai tahun 1934 telah bertambah menjadi sekitar 2.400 unit
yang tersebar di 38 negara bagian.Pada tahun tersebut, Presiden Roosevelt
menandatangani Federal Credit Union Act.Dan pada tahun itu pula terbentuk
Federal Credit Union yang menamakan diri sebagai National Credit Union
Association, yang berkedudukan di Madison, Wiscounsin. Bila pada tahun
1890, terbit Sherman Antitrust Act, yang dikenal sangat merugikan koperasi,
terutama koperasi pertanian Amerika Serikat.Maka pada tahun 1922
pemerintah mengeluarkan Caper Volstead Act, yang intinya menguatkan hak
petani untuk bersatu dan memasarkan hasil pertaniannya secara berkoperasi
tanpa melanggar Undang-undang Antitrust.Pemerintah Amerika dinilai
sangat mendorong dan melindungi koperasi. Di Amerika Serikat, ternyata
undang-undang perkoperasian diundangkan lebih dulu di negara-negara
bagiannya, daripada di tingkat Federal. Negara bagian yang pertama
mengeluarkan Undang-Undang Koperasi adalah Michigan, berupa The
Michigan Act 1865.
Kemudian disusul oleh Massachusset (1866), Wisconsin, pada tahun
1887. Undang-undang Pemerintah Federal yang dinilai mendukung koperasi
di Amerika Serikat antara lain adalah Federal lntrermediate Credit Act, tahun
1923 yang memberi dukungan bagi pendirian 12 lntermediate Banks, yang
memberikan pinjaman kepada Production Credit Association (PCA), yaitu
suatu organisasi koperasi yang dimiliki petani. Di samping itu juga terbit
Farm Credit Act, tahun 1933, yang telah mendorong lahirnya 12 Bank
Koperasi Regional dan sebuah Bank SentraI Koperasi.
Dalam perkembangan selanjutnya, di Amerika Serikat tumbuh pula
koperasi yang bergerak di bidang agribisnis, seperti koperasi anggur, koperasi
sunkist, koperasi advocado, koperasi almond, koperasi buah kiwi, koperasi
kapas, koperasi penyediaan benih, koperasi peternakan, koperasi yang
bergerak di bidang Iistrik pedesaan, koperasi jasa telpon, koperasi jasa
kesehatan, koperasi jasa perdagangan, koperasi jasa asuransi, koperasi di
kaIangan mahasiswa dan sebagainya. Bahkan melalui National Cooperatives
Business Association/NCBA koperasi di Amerika telah banyak menjalin
kerja sama usaha dengan koperasi di Indonesia. Dan yang sangat
mengesankan, justru di lingkungan masyarakat yang demikian
kapitalistiknya, kehidupan berkoperasi masyarakatnya benar-benar
mencerminkan suatu kehidupan berkoperasi yang bertumpu pada hakekat,
etika, nilainilai, sendi-sendi dasar dan prinsip-prinsip koperasi yang murni.
Bahkan ada informasi yang mengatakan, bahwa beberapa koperasi tertentu
ternyata mampu masuk ke dalam peringkat papan atas sebagai salah satu
perusahaan yang besar, maju dan sehat di Amerika Serikat

2.3 Sejarah Koperasi di Negara Malaysia


Sejarah koperasi di Malaysia bermula pada tahun 1970 namun
demikian, usaha tersebut kurang mendapat sambutan daripada pegawai-
pegawai inggris maupun dari masyarakat Melayu ketika itu (Fredericks
1986). Kegagalan koperasi pada masa itu disebabkan oleh tiga faktor utama
yaitu orang Melayu tidak berhasrat untuk menjadi kaya dengan cepat
disebabkan pemikiran bahwa menjadi orang kaya dapat menyebabkan sifat
dengki, mereka lebih menyukai ekonomi yang bersifat domestik daripada
ekonomi bersifat komersial dan segala hal yang berbau riba dalam transaksi
yang dilarang oleh agama (Kularajah 1969).
Langkah awal untuk menumbuhkan koperasi di Tanah Melayu telah
dibuat pada 28 Juni 1922 melalui perjanjian yang berjudul Cooperative
Societies Enactment 1922. Untuk merintis ke arah pertumbuhan koperasi
tersebut, maka pada 1 Juli 1922 Pejabat Kemajuan Kerjasama dibentuk dan
diketuai oleh En. A. Cavendish selaku pendaftar pertama yang telah dilantik
untuk mengisi jabatan tersebut. Maka, pada 21 Juli 1922 Koperasi Kredit
pertama telah didirikan di Tanah Melayu dengan nama Syarikat
Bekerjasamasama Jimat Cermat dan Pinjam Wang Pekerja-pekerja Jabatan
Pos dan Telekom Berhad (Laman Web Koperasi Pos Nasional Berhad).
Pada 3 Desember 1923 didirikan koperasi kedua yang di beri nama
Syarikat Kampung Tebuk Haji Musa Bekerjasama dengan Tanggungan
Berhad Parit Buntar Krian Perak. Pendirian koperasi ini telah mengorak
langkah ke hadapan apabila anak Melayu pertama Capt Noor M. Hashim
telah dilantik menjadi Penolong Pendaftar bagi koperasi ini. Sehingga pada
tahun 1938 terdapat sebanyak 76 koperasi jenis kresit telah ditubuhkan
dengan keanggotaan seramai 30,626 orang dan yur an sebanyak RM
6,393,100. Pada tahun 1939 jumlah koperasi yang wujud di Tanah Melayu
adalah sebanyak 515 buah. Namun demikian pertumbuhan koperasi untuk
tahun berikutnya sedikit melambat karena berlakunya peperangan dunia
kedua bermula pada tahun 1941 hingga 1945.
Mulai tahun 1948, perkembangan koperasi di Tanah Melayu mula
menjadi aktif. Bermula dengan pemansuhan Coopetive Societes Enactment
tahun 1922 dan diganti dengan Cooperative Societies Ordinance 1948.
Tujuan penumbuhan ordinan tersebut untuk menyelaraskan semua undang-
undang yang berkaitan dengan koperasi di Negeri-negeri Tanah Melayu.
Sebelum bertumbuhnya ordinan tahun 1948, gerakan koperasi berdasarkan
tujuh undang-undang yang berada di bawah kerajaan Negeri-negeri Melayu
Bersekutu, tidak Bersekutu dan Negeri-negeri Selat (W. M. Chik 1990). Di
Negeri Sabah dan Sarawak masih menggunakan undang-undang yaitu
Ordinan Pertubuhan Syarikat Bekerjasama 1058 (No.3) di Sabah dan Ordinan
Pertumbuhan Syarikat Bekerjasama tahun 1948 (Cap66) di Sarawak. Namun
demikian nama Syarikat Bekerjasama telah diganti kepada koperasi pada
tahun 1976 (Hidayat Buang 2004).
Pada tahun 1949, sistem yang berlandaskan kepada koperasi terus
berkembang melebarkan aktivitasnya ke Malaysia Timur. Penumbuhan
Ordinan Sarawak Cooperative Ordinance tahun 1949 secara resminya
menjadi asas kepada penumbuhan syarikat koperasi di Sarawak. Sehingga
tahun 1954 sebanyak 172 koperasi jenis pemasaran telah di daftarkan dengan
modal sebanyak RM 10.5 juta. Pada tahun ini telah didirikan beberapa
koperasi lain antaranya Koperasi Insuran se Malaysia (MCIS), Bank
Persatuan Kerjasama kemudian bergabung dengan Bank Agung Kampung
Bekerjasama Persekutuan Tanah Melayu. Koperasi bank ini akhirnya dikenali
sebagai Bank Kerjasama Rakyat Malaysia Berhad.
Bukti koperasi di Malaysia pada hari ini adalah hasil dari usaha-usaha
yang telah dilakukan oleh pengurus yang sebelumnya. Penumbuhan
Suruhjaya Koperasi Malaysia telah mengukuhkan kembali industri koperasi
di Malaysia dan hingga kini terdapat koperasi dengan berbagai aktiviti. Data
Koperasi Suruhjaya Koperasi Malaysia pada tanggal 31 Desember 2011
menyatakan bahwa terdapat sebanyak 9074 buah koperasi sebanyak 7.04 juta
orang. Keuntungan yang diperoleh secara keseluruhan sebesar RM 23.09
bilion.

2.4 Sejarah Koperasi di Negara Jerman


Sejarah koperasi kredit dimulai pada abad ke-19. Ketika Jerman
dilanda krisis ekonomi karena badai salju yang melanda seluruh negeri. Para
petani tak dapat bekerja karena banyak tanaman tak menghasilkan. Penduduk
pun kelaparan. Situasi ini dimanfaatkan oleh orang-orang berduit. Mereka
memberikan pinjaman kepada penduduk dengan bunga yang sangat tinggi.
Sehingga banyak orang terjerat hutang. Oleh karena tidak mampu membayar
hutang, maka sisa harta benda mereka pun disita oleh lintah darat. Kemudian
tidak lama berselang, terjadi Revolusi Industri. Pekerjaan yang sebelumnya
dilakukan manusia diambil alih oleh mesin-mesin. Banyak pekerja terkena
PHK. Jerman dilanda masalah pengangguran secara besar-besaran. Melihat
kondisi ini wali kota Flammersfield, Friedrich Wilhelm Raiffeisen merasa
prihatin dan ingin menolong kaum miskin. Ia mengundang orang-orang kaya
untuk menggalang bantuan. Ia berhasil mengumpulkan uang dan roti,
kemudian dibagikan kepada kaum miskin. Ternyata derma tak memecahkan
masalah kemiskinan. Sebab kemiskinan adalah akibat dari cara berpikir yang
keliru. Penggunaan uang tak terkontrol dan tak sedikit penerima derma
memboroskan uangnya agar dapat segera minta derma lagi. Akhirnya, para
dermawan tak lagi berminat membantu kaum miskin. Raiffeisen tak putus
asa. Ia mengambil cara lain untuk menjawab soal kemiskinan ini. Ia
mengumpulkan roti dari pabrik-pabrik roti di Jerman untuk dibagi-bagikan
kepada para buruh dan petani miskin. Namun usaha ini pun tak
menyelesaikan masalah. Hari ini diberi roti, besok sudah habis, begitu
seterusnya. Berdasar pengalaman itu, Raiffeisen berkesimpulan: kesulitan si
miskin hanya dapat diatasi oleh si miskin itu sendiri. Si miskin harus
mengumpulkan uang secara bersama-sama dan kemudian meminjamkan
kepada sesama mereka juga. Pinjaman harus digunakan untuk tujuan yang
produktif yang memberikan penghasilan. Jaminan pinjaman adalah watak si
peminjam. Untuk mewujudkan impian tersebutlah Raiffeisen bersama kaum
buruh dan petani miskin akhirnya membentuk koperasi bernama Credit Union
(CU) artinya, kumpulan orang-orang yang saling percaya. Credit Union yang
dibangun oleh Raiffeisen, petani miskin dan kaum buruh berkembang pesat di
Jerman, bahkan kini telah menyebar ke seluruh dunia.

2.5 Sejarah Koperasi di Negara Inggris


Inggris, yang oleh beberapa kalangan dianggap sebagai Negara cikal
bakal koperasi di dunia, pada masa-masa tahun 1700-an, di akhir era
peninggalan gilda (Ima Suwandi, 1980), mulai tumbuh organisasi-
organisasi yang bersifat tolong menolong. Apalagi setelah lahir The Friendly
Societies Act pada tahun 1773. Hingga pada tahun 1800 tercatat tidak kurang
7.200 perkumpulan sosial serupa yang terdaftar dan memiliki anggota sekitar
600.000 orang. (Ima Suwandi,1980). Semangat tolong-menolong secra sosial
tersebut dalam perkembangannya ternyata telah pula menggapai sisi bidang
kegiatan ekonomi para anggota perkumpulan. Seperti yang ditunjukkan oleh
para pekrja pelabuhan di Woolwich dan Chatam, yang pada abat ke 18 telah
mengorganisasi diri membangun pabrik pengolahan tepung terigu untuk dapat
menerobos perdagangan yang saat itu sudah mulai sampai pada tingkat
monopolistik dari pada pabrikan terigu. Mereka mengumpulkan uang (dalam
bentuk uang kecil/recehan dari mata uang Poundsterling, Inggris), sedikit
demi sedikit agar mapu menggalang kekuatan (Ima Suwandi, 1980). D.
Danoewikarsa, dalam buku Tanya Jawab Tentang Koperasi, yang ditertibkan
pada tahun 1977, antara lain juga mengisahkan awal pertumbuhan embrio
koperasi di inggris sebagai berikut : Pada akhir abad ke delapan belas oleh
oleh beberapa tukang tenun di Fenwich dibeli bersama-sama terigu dalam
jumlah yang banyak. Di Mongewel dibuka orang sebuah toko yang menjual
barang-barangnya dengan harga pokok. Seorang pendeta di Greenford
membuka toko yang hanya menjual barangnya kepada mereka yang pada hari
minggu datang melakukan kebaktian di Gereja. Semua ini bertujuan hanya
untuk melepaskan diri dari membeli barang-barang keperluan sehari-hari dari
toko yang menjual barang dengan mahal, padahal mutu barangnya tidak baik.
Jadi tujuannya meringankan beban rakyat kecil dan belum menyebut atau
membawa nama koperasi."
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Koperasi adalah organisasi ekonomi yang dimiliki dan dioperasikan
oleh sekumpulan orang demi kepentingan bersama. Koperasi melandaskan
kegiatan berdasarkan prinsip gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan akses
kekeluargaan. Pada saat awal pendirian koperasi baik di Negara Jepang,
Amerika Serikat, Malaysia, Jerman maupun Inggris sama-sama mengalami
penolakan. Terdapat sekelompok golongan yang menentang berdirinya
koperasi karena berbagai alasan yang dirasa merugikan kepentingan
golongannya. Namun setelah mengalami banyak proses perkembangan,
masyarakat mulai menerima keberadaan koperasi dan kedudukan koperasi
akhirnya diperkuat dengan berbagai peraturan perundang-undangan yang
sudah ditetapkan oleh pemerintah pada masing-masing negara.
DAFTAR PUSTAKA

Balowo, Adip. 2014. Koperasi di Jepang.


http://adipbalowo.blogspot.co.id/2014/01/koperasi-di-jepang.html
[internet]. Diakses pada 21 September 2017.

Cyinthia, Anes. 2015. Sejarah Koperasi di Inggris.


http://anescynthiadewi.blogspot.co.id/2014/01/sejarah-koperasi-di-
inggris.html[internet]. Diakses pada 21 Februari 2015.

Fatimah, Azar. 2015. Sejarah Koperasi di Amerika. http://azarfatimah.


Blogspot.co.id/2015/02/sejarah-koperasi-di-amerika.html [internal].
Diakses pada bulan Februari 2015

Koperasi Nasional Berhad. (2013, Februari 17). Koperasi Nasional Berhad.


Retrieved from Sejarah Koperasi: http//www.koponas.coop.my

Kulajarah. 1969. Pengenalan Kepada Gerakan Kerjasama. Petaling Jaya: Sharikat


Percetakan Kerjasama Semalaysia Berhad.

Mohd, Hidayat Buang. 2004. Koperasi Secara Islam Dalam Kerangka


Perundangan Islam. Journal Syariah Universiti Malaya, 1-24.

SKM, W. (2013, Februari 14). Data Koperat Suruhanjaya Koperasi Malaysia.


Retrieved Februari 1, 2013, from Suruhanjaya Koperasi Malaysia:
http//www.skm.gov.my.

SKM, W. (2013, Januari 2). Sejarah Gerakan Koperasi. Retrieved Januari 1,


2013, from Suruhanjaya Koperasi Malaysia: http//www.skm.gov.my.

Tigamartdini, Menny. 2010. Sejarah Koperasi di Negara Jerman.


https://mennytigamartdini.wordpress.com/2010/11/07/sejarah-koperasi-
di-negara-jerman/. Diakses pada 23 September 2017.