Anda di halaman 1dari 113

FORMULASI SABUN CAIR DARI EKSTRAK

BUAH LIBO (Ficus variegate, Blume)

OLEH
SHYNTIA MUTIARASARI TAMBUNAN

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016
FORMULASI SABUN CAIR DARI EKSTRAK
BUAH LIBO (Ficus variegate, Blume)

SKRIPSI
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi
pada fakultas farmasi universitas mulawarman

Oleh

Shyntia Mutiarasari Tambunan


NIM. 1213015055

PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2016
Yeremia 29 : 11 (TB)
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku
mengenai kamu, demikianlah Firman TUHAN, yaitu rancangan damai
sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu
hari depan yang penuh harapan

II Korintus 12 ; 9a (TB)
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab
justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna
RIWAYAT HIDUP

Peneliti adalah mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas


Mulawarman yang sedang menempuh jenjang pendidikan S1
di Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman Jurusan Farmasi.
Peneliti merupakan anak pertama dari 3 (tiga) bersaudara dari
pasangan Sihol Sahala Mangiring Tambunan dan dra. Nurti
Banjarnahor. Peneliti lahir di Medan, 4 Agustus 1994. Peneliti telah
menyelesaikan jenjang Taman Kanak-Kanak (TK) Cikini Kiani Berau tahun 1999,
Sekolah Dasar (SD) Perguruan Cikini Kiani Berau tahun 2006, Sekolah
Menengah Pertama (SMP) Perguruan Cikini Kiani Berau tahun 2009, dan Sekolah
Menengah Atas Katolik (SMAK) St. Fransiskus Assisi Samarinda tahun 2012.
Pendidikan tinggi dimulai pada tahun 2012 pada Fakultas Farmasi Universitas
Mulawarman melalui Jalur Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNMPTN).
Selama perkuliahan penulis aktif dalam bidang akademik dan non-akademik.
Penulis pernah berkecimpung dan aktif dalam PMKKF (Persekutuan Mahasiswa
Kristen Kesehatan Masyarakat dan Farmasi) dan HIMA S1 periode 2013/2014
serta juga aktif sebagai asisten Praktikum di Laboratorium Farmasetika dan
Teknologi Farmasi, Biologi Farmasi.
.
KATA PENGANTAR DAN UCAPAN TERIMAKASIH

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah
memberikan limpahan berkat dan kasih karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penulisan skripsi ini yang berjudul Formulasi Sabun Cair dari
Ekstrak Buah Libo (Ficus variegata, Blume).
Skripsi ini disusun berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan
dan merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana farmasi
(S.Farm) pada Program Studi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman.
Penelitian yang penulis lakukan adalah penelitian eksperimental di Laboratorium
penelitian dan pengembangan kefarmasian farmaka tropis.
Penulis menyadari bahwa dalam pelaksanaan penelitian hingga
tersusunnya skripsi ini, penulis banyak mengalami hambatan, namun berkat
bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung, maka
skripsi ini dapat terselesaikan. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, penulis
ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Rolan Rusli, S.Pd., M.Si., selaku pembimbing utama yang telah
memberikan dukungan, arahan, saran, dan kebijakan kepada penulis dalam
proses penyusunan skripsi ini sehingga dapat terselesaikan dengan baik.
2. Bapak Mirhansyah Ardana, M.Si, Apt selaku pembimbing pendamping yang
telah membimbing dan selalu memberikan kemudahan, kebijakan dan
motivasi dalam proses penyelesaian skripsi.
3. Dosen penguji skripsi yaitu Ibu Nur Mita, M.Si, Apt, Ibu Nurul Annisa,
M.Farm, Apt, Ibu Welinda Dyah Ayu, M.Sc, Apt yang telah memberikan
kritik dan saran yang sangat bermanfaat dalam penyusunan skripsi.
4. Bapak Dr. Laode Rijai, M.Si., Drs. Selaku Dekan Fakultas Farmasi dan
jajarannya, serta tenaga pengajar yang senantiasa memberikan dukungan
moril, motivasi, bantuan, dan ilmu-ilmu pengetahuan selama proses
perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.
5. Laboran yang telah membantu selama proses penelitian yang telah sabar
membimbing selama proses penelitian berlangsung, Kak Edi, Mbak Linda,
Mbak Woro.
6. Kedua orang tua saya yang terkasih yaitu Bapak Sihol Sahala Mangiring
Tambunan dan Mama dra. Nurti Banjarnahor juga kedua adik terkasih
Sylvia Octaviani Tambunan dan Samuel Partogi Tambunan terima kasih atas
kasih sayang, doa, motivasi, dukungan, bantuan materil dan semangat yang
selalu diberikan kepada penulis serta terimakasih selalu mendengarkan
curahan hati penulis sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini.
7. Kakak KTB yaitu Kak Restyana, Kak Dika, Kak Heni yang senantiasa
mendoakan dan mengingatkan penulis. Saudara KTB yaitu Josanti, Helen,
Sartika yang senantiasa mengingatkan dan memberi semangat kepada
penulis.
8. Adik-adik KTB yang terkasih, KTB Queen (Nanda, Delty, Landy, Ayu,
Naomi, Clara), KTB Angels (Putu, Jeny, Hanya, Mercy, Jeflin), KTB Girls
(Pasuria, Indah, Dewi), terimakasih untuk semangat, dorongan, dan doa
yang diberikan kepada penulis. Semangat untuk perkuliahannya dan terus
bertumbuh dalam Kristus.
9. Rekan sepelayanan PMKKF Kak Eko, Kak Okta, Kak Ila, Wiwin, Andika,
Tirza, Resky, Kak Audrey, Kak Alpina, Kak Arthia, Kak Setia, Petrina,
Martha, Erika, Nila, dan seluruh teman teman PMKKF yang tidak bisa
disebutkan satu per satu semangat pelayanan dan perkuliahannya ya.
10. Rekan-rekan KNM dan KKIT yang terus memberi semangat, dorongan, dan
motivasi, terimakasih untuk kebersamaannya untuk: Yoel Rizky, Kak Veron,
Mey, Kak Ranti, Yushi, Kak Jefri, Vero, Bertho, Kak Alan, Kak Aspert, Kak
Winda, Airin, Kak Widi, Kak Shella, Kak Lena, Lamro, Kak Inggrid, Stenly.
11. Teman-teman yang selalu setia menemani dari awal masuk kuliah, Josanti
Sagala, Diana Ntowe, Nalber Andrianus, Redemptus Patria terimakasih
untuk kasih persahabatannya dan sudah menemani di saat-saat susah dan
lelahnya menulis laporan dan praktikum, semangat untuk segera
mendapatkan gelar S.Farm.
12. Teman-teman seperjuangan Farmasi B 2012 dan Farmasi A 2012,
terimakasih atas rasa kekeluargaan yang begitu besar serta terima kasih atas
segala canda tawa, tangisan haru serta bahagia yang pernah kita alami
selama masa perkuliahan dan praktikum.
13. Ucok Richardo H S.KM terimakasih untuk doa dan semangatnya.
Akhir kata, semoga segala bantuan dan kebaikan yang diberikan oleh
berbagai pihak mendapat balasan yang terbaik dari Tuhan Yesus Kristus dan
semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang
membutuhkan serta bermanfaat bagi dunia pendidikan, khususnya dalam bidang
farmasi.

Samarinda, November 2016

Penulis
PERNYATAAN ORISINILITAS KARYA ILMIAH

Dengan ini saya menyatakan bahwa SKRIPSI ini adalah ide asli atau
murni dari saya yang diarahkan oleh Komisi Pembimbing saya, dan saya
membuat proposal penelitian, melakukan penelitian, menuliskan laporan dalam
bentuk naskah SKRIPSI dengan pikiran dan tangan saya sendiri dengan arahan
sepenuhnya Komisi Pembimbing saya pada Fakultas Farmasi Universitas
Mulawarman. Jika dikemudian hari ternyata SKRIPSI ini merupakan hasil plagiat
atau menggunakan jasa orang lain secara komersil baik itu keseluruhan maupun
sebagian aspek terpenting, mulai dari pembuatan proposal, pelaksanaan penelitian,
penulisan naskah SKRIPSI, saya bersedia menerima sangsi apapun sesuai dengan
peraturan yang berlaku pada Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman, termasuk
pencabutan gelar sarjana yang saya peroleh dan jika dikemudian hari ternyata
kesalahan saya tidak terungkap oleh pihak Fakultas Farmasi meskipun kesalahan
tersebut adalah benar terjadi, maka saya mempertanggung jawabkannya kepada
Tuhan Yang Maha Kuasa.

Samarinda, November 2016

Yang Membuat Pernyataan

SHYNTIA MUTIARASARI TAMBUNAN


@ Hak Cipta
Hak Cipta SKRIPSI ini adalah Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman,
sehingga jika terkait dengan perihal Hak Kekayaan Intelektual maka
Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman merupakan pemilik sah dengan
atas nama mahasiswa yang bersangkutan sebagai pembuat karya. Jika
dikemudian hari Karya Ilmiah ini diklaim oleh pihak lain sebagai pemilik
maka pihak lain tersebut telah melanggar @ Hak Cipta Fakultas Farmasi
Universitas Mulawarman
DAFTAR ISTILAH & LAMBANG/SINGKATAN PENTING

ISTILAH/LAMBANG/
SINGKATAN PENGERTIAN/KEPANJANGAN
Aktivitas antibakteri :Merupakan kemampuan suatu zat atau senyawa

yang dapat menghambat atau membunuh bakteri


Zona bunuh :Merupakan daerah bening disekitar paper disc
yang tidak ditumbuhi oleh bakteri
Zona hambat :Merupakan daerah lebih bening disekitar paper
disc dibanding daerah lainnya, namuntidak
sejernih zona bunuh
NA : Nutrient Agar adalah medium padat yang
digunakan sebagai media pertumbuhan bakteri
LAF Laminar Air Flow adalah tempat steril dengan
memanfaatkan blower
NaCl Natrium Klorida
SLS : Sodium Lauril Sulfat
PG : Propilen Glikol
Uji ANAVA : Analisis of variance, suatu metode untuk
menguraikan keragaman total data menjadi
komponen-komponen yang mengukur berbagai
sumber keragaman.
Uji Friedman : Analisi uji nonparametrik untuk menguji
hipotesis komparatif K sampel berpasangan bila
datanya berbentuk rangking.
Uji Hedonik :Uji kesukaan terhadap sejumlah panelis, dengan
menyatakan tanggapan terhadap suatu sediaan
KK : Koefisien Keseragaman
Sig. : Nilai Signifikansi
SPSS : Statistical Product of Service Solution
BNJD : Beda Nyata Jujur Duncan
BNT : Beda Nyata Terkecil
BNJ : Beda Nyata Jujur
ZAP : Zat Aktif Permukaan
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL UTAMA.............................................................................................i

HALAMAN SAMPUL PENDUKUNG...............................................................................ii

HALAMAN PENGESAHAN................................................................................................iii

RIWAYAT HIDUP......................................................................................................................iv

DAFTAR ISTILAH DAN LAMBANG/SINGKATAN PENTING............................xi

DAFTAR ISI..............................................................................................................................xiii

DAFTAR TABEL.....................................................................................................................xiv

DAFTAR GAMBAR................................................................................................................xv

DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................................xvi

ABSTRACT..................................................................................................................................1

ABSTRAK.....................................................................................................................................2

RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PENELITIAN........................................................3

PENDAHULUAN.......................................................................................................................6

BAB I KAJIAN PUSTAKA.............................................................................................9

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN...............................................23

BAB III METODOLOGI PENELITIAN......................................................................25

BAB IV BAHAN DAN PERALATAN PENELITIAN............................................38

BAB V PROSEDUR PENELITIAN............................................................................40

BAB VI HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..........................................48

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN.......................................................................69

BAB VIII IMPLIKASI HASIL PENELITIAN..............................................................70

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................71

LAMPIRAN................................................................................................................................75
DAFTAR TABEL

Nomor Judul Tabel Halaman


Tabel
1.1 Klasifikasi Respon Hambatan Pertumbuhan Bakteri.............................14
1.2 Standar Mutu Sabun Cair Menurut SNI.....................................................19
1.3 Penggunaan SLS................................................................................................20
1.4 Penggunaan Tween...........................................................................................21
1.5 Penggunaan NaCl..............................................................................................22
1.6 Penggunaan Propilen Glikol..........................................................................22
3.1 Uji Aktivitas Antibakteri.................................................................................33
3.2 Formula Sabun Cair`........................................................................................34
3.3 Uji Kelarutan Sediaan......................................................................................34
3.4 Uji pH Sediaan...................................................................................................35
3.5 Uji Viskositas Sediaan.....................................................................................35
3.6 Uji Bobot Jenis Sediaan..................................................................................36
3.7 Uji Aktivitas Sediaan........................................................................................36
4.1 Bahan Penelitian................................................................................................38
4.2 Alat Penelitian....................................................................................................38
6.1 Hasil Uji Aktivitas Antibakteri......................................................................49
6.2 Formulasi Sediaan Sabun Cair......................................................................53
6.3 Tabel Hasil Uji Kelarutan Sediaan...............................................................62
6.4 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk Kelarutan Sediaan . 62
6.5 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk
Kelarutan Sediaan.............................................................................................63
6.6 Tabel Hasil Uji pH Sediaan............................................................................63
6.7 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk pH Sediaan.....................64
6.8 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk pH
Sediaan.................................................................................................................64
6.9 Tabel Hasil Uji Viskositas Sediaan..............................................................64
6.10 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk Viskositas
Sediaan.................................................................................................................64
6.11 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk
Viskositas Sediaan............................................................................................65
6.12 Tabel Hasil Uji Bobot jenis Sediaan............................................................65
6.13 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk Bobot Jenis
Sediaan.................................................................................................................66
6.14 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk
Bobot Jenis Sediaan.........................................................................................66
6.15 Tabel Hasil Evaluasi Aktivitas Antibakteri Sediaan Sabun Cair 67
DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Gambar Halaman


Gambar

1.1. Tumbuhan Libo.................................................................................................9


1.2. Bakteri Staphylococcus aureus..................................................................15
1.3 Bakteri Escherichia coli..............................................................................17
3.1 Skema Pengambilan Ekstrak Buah Libo................................................28
3.2 Skema Uji Pendahuluan Aktivitas Antibakteri Ekstrak......................29
3.3 Skema Uji Organoleptis Sediaan..............................................................30
3.4 Skema Uji Kelarutan Sediaan....................................................................30
3.5 Skema Uji pH Sediaan.................................................................................30
3.6 Skema Uji Viskositas Sediaan....................................................................31
3.7 Skema Uji Bobot Jenis Sediaan.................................................................31
3.8 Skema Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan...............................................32
5.1 Skema Pembuatan Sediaan Sabun Cair Ekstrak Buah Libo.............39
6.1 Diagram Uji Organoleptis Aspek Bentuk Sediaan..............................58
6.2 Diagram Uji Organoleptis Aspek Warna Sediaan................................59
6.3 Diagram Uji Organoleptis Aspek Bau Sediaan.....................................59
6.4 Diagram Uji Organoleptis Aspek Homogenitas Sediaan...................60
6.5 Diagram Uji Organoleptis Aspek Banyak Busa Sediaan...................61
6.6 Diagram uji Organoleptis Aspek Kenyamanan di Kulit....................62
6.7 Grafik Aktivitas Antibakteri Sediaan Terhadap Bakteri
Staphylococcus aureus.................................................................................67
6.8 Grafik Aktivitas Antibakteri Sediaan Terhadap Bakteri
Echerichia coli...............................................................................................67
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Lampiran Halaman


Lampiran
1 Data Hasil Uji Aktivitas Antibakteri...........................................................66
2 Formulasi Sabun Cair......................................................................................72
3 Evaluasi Sediaan Sabun Cair........................................................................73
4 Gambar Penelitian............................................................................................87
ABSTRACT

Libo (Ficus varieagata, Blume) a wild plant that has not been utilized. Libo contain
secondary metabolites such as alkaloids, flavonoids, steroids / terpenoids and tannins,
which has potential as an antibacterial. The purpose of this study was to determine fruit
extract formulation Libo as preparation liquid soap is antibacterial against
Staphylococcus aureus and Escherichia coli and the characteristics of the liquid soap.
Liquid soap made with varying concentrations of SLS, to looked at each foaming
formulation, which will be judged by 20 panelists. As a first step Libo fruit extract
formulation to be applied as a liquid soap required initial testing so it can produce a
good formula. Testing have done is test the antibacterial activity on Escherichia coli and
Staphylococcus aureus obtained the largest inhibitory zone diameters at concentrations
of 10%. The composition of the liquid soap fruit extracts Libo, Tween 20, SLS, NaCl, and
distilled water as a solvent propilenglikol whole. Preparations liquid soap made with SLS
variation of 5%, 7.5%, 10%. Characteristics of the resulting liquid soap it is necessary to
test hedonic, solubility, viscosity, antibacterial activity, which is then compared with SNI.
The characteristics of liquid soap obtained by organoleptic aspects, solubility, viscosity,
antibacterial activity, obtained the best preparations namely preparations F3, while for
the evaluation of pH and specific gravity were not significantly different.

Keywords: Libo fruit extract (Ficus variegata), antibacterial, liquid soap


ABSTRAK

Libo (Ficus varieagata,Blume) merupakan tumbuhan liar yang belum banyak


termanfaatkan. Libo memiliki kandungan metabolit sekunder berupa alkaloid, flavonoid,
steroid/terpenoid dan tannin, yang berpotensi sebagai antibakteri. Tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui formulasi ekstrak buah Libo sebagai sediaan sabun cair
yang bersifat antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia
coli dan karakteristik sabun cair tersebut. Sabun cair yang dibuat dengan variasi
konsentrasi SLS, untuk melihat pembusaan pada setiap formulasi, yang akan
dinilai oleh 20 panelis. Sebagai langkah awal formulasi ekstrak buah libo untuk
diaplikasikan sebagai sabun cair diperlukan pengujian awal sehingga dapat dihasilkan
suatu formula yang baik. Pengujian dilakukan yaitu pengujian aktivitas antibakteri pada
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus diperoleh diameter zona hambat terbesar
pada konsentrasi 10%. Komposisi sabun cair yakni e kstrak buah Libo, Tween 20,
SLS, NaCl, propilenglikol dan aquadest sebagai pelarut keseluruhan. Sediaan
sabun cair dibuat dengan variasi SLS yaitu 5%, 7,5%, 10%. Untuk mengetahui
karakteristik sabun cair yang dihasilkan maka diperlukan uji hedonik, kelarutan,
viskositas, aktivitas antibakteri, yang kemudian dibandingkan dengan SNI. Maka,
diperoleh karakteristik sabun cair berdasarkan aspek organoleptis, kelarutan,
viskositas, aktivitas antibakteri, diperoleh sediaan terbaik yakni sediaan F3,
sedangkan untuk evaluasi pH dan bobot jenis tidak berbeda nyata antar sediaan.

Kata Kunci : Ekstrak buah Libo (Ficus variegata), kelarutan, antibakteri, sabun cair
RINGKASAN HASIL PENELITIAN

Sabun adalah suatu sediaan yang digunakan oleh masyarakat sebagai


pencuci pakaian dan pembersih kulit. Berbagai jenis sabun yang beredar di
pasaran dalam bentuk yang bervariasi, mulai dari sabun cuci, sabun mandi, sabun
tangan, sabun pembersih peralatan rumah tangga dalam bentuk krim, padatan atau
batangan, bubuk dan bentuk cair. Sabun cair saat ini banyak diproduksi karena
penggunaannya lebih praktis dilihat dari koefisien penyebaran sabun cair lebih
baik dibanding bentuk lainnya serta bentuk yang menarik dibanding bentuk sabun
lain. Disamping itu sabun dapat digunakan untuk mencegah penyakit infeksi, yang
disebabkan bakteri. Dengan kata lain sabun dapat digunakan sebagai obat bersifat
preventif yakni dengan membersihkan tubuh dan lingkungan sehingga
kemungkinan terserang penyakit akan berkurang (Anggraini, 2012).
Salah satu tumbuhan khas Kalimantan Timur yang dapat digunakan adalah
tanaman Libo (Ficus variegata, Blume). Libo merupakan tumbuhan liar yang
belum banyak dikenal dan pengetahuan akan manfaatnya juga sangat minim.
Tumbuhan Libo (F.variegata, Blume) merupakan tumbuhan asli dari Kalimantan
Timur dimana buah dan daunnya telah diteliti dan memiliki aktivitas sebagai
larvsida, sitotoksik, antioksidan dan antibakteri (Rijai, 2013). Penelitian
sebelumnya telah menunjukkan adanya berbagai aktivitas dari ekstrak buah Libo
(F variegata, Blume) salah satunya aktivitas antibakteri. Agar lebih maksimal
penggunaannya pada masyarakat luas, maka perlu dibuat dalam suatu sediaan
antibakteri. Sediaan antibakteri yang saat ini sangat dibutuhkan untuk keperluan
sehari-hari salah satunya adalah sabun cair.
Penelitian dilakukan dengan mengambil ekstrak buah Libo (F. variegata,
Blume). Sebelum diformulasikan, maka semestinya ditentukan dahulu aktivitas
antibakterinya terhadaap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
Konsentrasi yang didapatkan kemudian diaplikasikan dalam formulasi sediaan
sabun cair dengan konsentrasi optimum ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume)
dalam menghambat bakteri tersebut. Bahan yang digunakan antara lain, ekstrak
buah Libo (F. variegata, Blume) sebagai bahan aktif, dan beberapa bahan
tambahan agar diperoleh sediaan sabun cair yang optimal, yakni Tween 20, SLS
(Sodium Lauril Sulfat), NaCl (Natrium Chloride), propilen glikol, dan aquadest.
Dibuat 3 formulasi dengan perbedaan konsentrasi SLS sebagai surfaktan. Sediaan
yang telah dibuat kemudian dilakukan evaluasi sediaan sabun cair dengan tujuan
melihat karakteristik sabun cair dan dibandingkan dengan Standar Nasional
Indonesia (SNI 06-4085-1996). Adapun evalusi karakteristik sediaan sabun cair
berupa uji hedonik (uji kesukaan), kelarutan, pH, viskositas, bobot jenis, dan
aktivitas antibakteri.
Berdasarkan hasil pengujian ini data hasil aktivitas antibakteri dari ekstrak
buah Libo (F.variegata, Blume) Konsentrasi optimum ekstrak dalam menghambat
bakteri yakni 10%. Konsentrasi yang diperoleh diaplikasikan sebagai bahan aktif
pada sediaan sabun cair, dengan variasi SLS yakni 5%, 7,5%, 10%. Sediaan sabun
cair yang dibuat kemudian di tinjau karakteristiknya berupa organoleptis
berdasarkan uji hedonik, kelarutan, pH, viskositas, bobot jenis, dan aktivitas
antibakteri sediaan.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah konsentrasi daya hambat ekstrak
buah Libo terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus terbesar
yakni pada konsentrasi 10%. Ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) digunakan
sebagai bahan aktif, Tween 20 sebagai pelarut ekstrak, SLS sebagai surfaktan dan
pembusa, NaCl sebagai pengental, propilenglikol sebagai humektan dan aquadest
sebagai pelarut keseluruhan. Karakteristik organoleptis, kelarutan, viskositas,
aktivitas antibakteri, diperoleh sediaan terbaik yakni sediaan F3, sedangkan untuk
karakteristik pH dan bobot jenis tidak berbeda nyata antar sediaan.
Saran untuk penelitian selanjutnya adalah perlu dilakukan variasi
konsentrasi lainnya untuk mengetahui konsentrasi terbaik dari ekstrak buah Libo
(F. variegata, Blume) Perlu dilakukan penambahan bahan-bahan tambahan
lainnya agar dihasilkan sediaan yang baik baik secara visual. Perlu diberikan
bahan tambahan untuk memperbaiki estetika sediaan, dan penambahan bahan
untuk peningkatan pH dan viskositas sediaan agar sesuai dengan SNI sabun cair.
Implikasi dari hasil penelitian ini adalah ekstrak buah Libo (Ficus
variegata, Blume) dapat digunakan sebagai bahan aktif antibakteri terhadap
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan dapat diaplikasikan
sebagai bahan aktif sediaan sabun cair bahan alam. Dari penelitian ini diketahui
bahwa potensi buah Libo (F. variegata, Blume) sangat besar, sehingga perlu
pembudidayaan tanaman buah Libo, sehingga bahan baku buah Libo dapat
tersedia secara luas.
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini minat masyarakat untuk memanfaatan kembali bahan-bahan


alam bagi kesehatan, terutama obat-obatan baik preventif maupun kuratif, dari
bahan alam cenderung meningkat. Sejalan dengan meningkatnya pemakaian
tumbuhan sebagai obat atau bahan obat, maka penelitian ini untuk membuktikan
kebenaran khasiat tanaman yang memiliki efek antibakteri salah satunya buah
Libo (Ficus variegata, Blume).
Potensi tumbuhan Libo (Ficus variegata, Blume) yang tampak adalah
berbuah secara terus menerus, jumlah buahnya sangat banyak yang menempel
pada seluruh permukaan batang dan ranting pohon. Buah Libo yang telah matang
di pohon akan jatuh ke tanah dan selanjutnya buah tersebut akan tumbuh hingga
menjadi pohon Libo (F. variegata, Blume) dewasa. Hewan pemakan buah Libo
juga sangat langka sehingga kelangsungan kehidupan tumbuhan Libo sangat baik.
Karena itu kegunaan tumbuhan Libo masih sangat minim dengan karakteristiknya
yang demikian, meskipun potensi pelestariannya cukup baik. Pemanfaatan
tumbuhan Libo (F. variegata, Blume) khususnya buah dapat saja dilakukan dalam
bidang farmasi. Buah Libo (F. variegata, Blume) yang tidak disukai hewan
pemakan buah mengindikasikan terdapat sejumlah senyawa dalam buah Libo (F.
variegata, Blume) yang bersifat toksik. Cara untuk memanfaatkan tumbuhan Libo
(F. variegata, Blume) dengan potensi tersebut haruslah dilakukan berbagai
penelitian yang diarahkan pada potensi bidang farmasi, terutama dikemas dalam
bentuk sediaan agar dapat digunakan pada masyarakat
Kandungan zat aktif buah Libo (F. variegata, Blume) yang sudah
teridentifikasi antara lain, alkaloid dan saponin. Buah Libo (F. variegata, Blume)
dapat menghambat pertumbuhan berbagai macam bakteri (Rijai, 2013).
Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan pengembangan sediaan sebagai
antibakteri buah Libo (Ficus variegata, Blume) terhadap bakteri Staphylococcus
aureus dan Escherichia coli untuk pencegahan (preventif) penyakit. Tindakan
pencegahan dan pengobatan ini dilakukan untuk menghindari resiko terjadinya
infeksi (Gibson,1996).
Salah satu sediaan farmasi yang terkenal untuk membersihkan yakni sabun.
Sabun merupakan salah satu produk yang cukup penting dalam kehidupan
manusia dengan salah satu tuntutan manusia untuk membersihkan diri, terutama
membersihkan bagian tubuh yang dapat menjadi saluran masuknya bakteri
tersebut kedalam tubuh. Dari bentuk fisiknya, sabun yang paling banyak
digunakan adalah sabun padat dan cair. Saat ini sabun berbentuk cair lebih
diminati oleh masyarakat. Hal ini dapat diihat berdasarkan data yang diperoleh
dari Badan Pusat Statistik dari tahun 2011 hingga 2012 yang menunjukkan
volume ekspor sabun cair di Indonesia meningkat sebesar 11,32%. Minat
masyarakat yang besar pada sabun cair daripada sabun padat disebaban oleh
kelebihan dari sabun cair sendiri. Sabun cair biasanya ditempatkan dalam wadah
sehingga lebih praktis untuk dibawa, higienis, mudah digunakan, hal ini juga
disebabkan kemampuan penyebaran sabun cair lebih baik dari pada sabun padat.
Saat ini, konsumen beranggapan sabun cair dengan busa yang melimpah
mempunyai kemampuan membersihkan kotoran dengan baik (Izhar, 2009).
Kemampuan membentuk busa dipengaruhi oleh penggunaan surfaktan dalam
formula. Busa merupakan suat dispersi koloid dimana gas terdispersi dalam fase
kontinyu yang berupa cairan. Sifat busa dari sabun terutama ditentukan oleh
surfaktan. Surfaktan yang sering digunakan pada sabun salah satunya adalah SLS
(Sodium Lauril Sulfat).
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini yakni: (1) Berapa konsentrasi
optimum ekstrak Buah Libo (Ficus variegata, Blume) yang beraktivitas sebagai
antibakteri ? (2) Bagaimana formulasi optimal sediaan sabun cair dengan bahan
aktif ekstrak Buah Libo dengan variasi konsentrasi SLS 5%, 7,5%, 10% ? (3)
Bagaimana karakteristik sediaan sabun cair?
Adapun gambaran umum dari metodologi penelitian yang akan dilakukan
untuk mencapai tujuan penelitian. Penelitian dilakukan melalui tahap pendahuluan
berupa pengambilan ekstrak buah Libo dan melakukan tahapan uji aktivitas
antibakteri. Tahap selanjutnya berupa formulasi sediaan sabun cair. Kemudian
dilakukan uji karakteristik sediaan sabun cair berupa, uji hedonik terhadap 20
panelis, uji kelarutan, uji pH, uji bobot jenis, uji viskositas, dan uji aktivitas
antibakteri.
Adapun rincian metodologi penelitian, yakni: (1) Melakukan pengujian
aktivitas antibakteri ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) dalam membunuh
bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. (2) Membuat formulasi
sediaan sabun cair dengan konsentrasi optimum ekstrak buah Libo (F. variegata,
Blume) dan variasi konsentrasi SLS 5%, 7,5%, 10% (3) Melakukan evaluasi
karakteristik sediaan sabun cair, berupa uji hedonik, kelarutan, pH, viskosistas,
bobot jenis, dan aktivitas antibakteri.
Gambaran hasil peneltian yang akan diperoleh yakni (1) Diperoleh
konsentrasi daya hambat ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) terhadap bakteri
Escherichia coli dan Staphylococcus aureus terbesar yakni pada konsentrasi 10%.
(2) Diperoleh komposisi sabun cair yakni ekstrak buah Libo digunakan sebagai
bahan aktif, Tween 20, SLS, NaCl, propilenglikol, dan aquadest. (3) Diperoleh
karakteristik sabun cair berupa aspek kesukaan, kelarutan, viskositas, aktivitas
antibakteri, diperoleh sediaan terbaik yakni sediaan F3, sedangkan untuk evaluasi
pH dan bobot jenis tidak berbeda nyata antar sediaan.
Implikasi umum hasil penelitian sebagai sumbangsih bagi ilmu pengetahuan
modern, yakni bahan alam dalam hal ini tanaman Libo (F. variegata, Blume) yang
telah diketahui aktivitasnya sebagai antibakteri pada suatu konsentrasi yang dapat
dijadikan bahan aktif dalam sediaan sabun cair. Sehingga diharapkan adanya
budidaya buah Libo (F. variegata, Blume), agar sumber daya alam buah Libo (F.
variegata, Blume) terus terjamin ketersediaannya sebagai bahan baku senyawa
antibakteri.
BAB I
KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini diuraikan mengenai pustaka yang mendasari penelitian ini.
Kajian diawali dengan menguraikan mengenai tumbuhan Libo (Ficus variegata,
Blume), baik deskripsi, maupun kandungan metabolit sekunder tumbuhan Libo
(F. variegata, Blume) berefek sebagai antibakteri dalam menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Selanjutnya,
diuraikan pula mengenai sabun cair dan bahan-bahan dalam pembuatan sabun
cair.

1.1 Tanaman Libo (Ficus variegata, Blume)


1.1.1 Klasifikasi Tanaman

Gambar 1.1 Tumbuhan Libo (Koleksi pribadi)


Menurut Hyland (2010), klasifikasi tanaman Libo (Ficus variegata, Blume)
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledone
Ordo : Urticales
Famili : Moraceae
Genus : Ficus
Spesies : Ficus variegata, Blume
1.1.2 Habitat
Ficus variegata adalah spesies baik dari pohon tropis. Hal ini terjadi di
banyak bagian Asia, pulau-pulau Pasifik dan sejauh selatan timur Australia. Ada
berbagai macam nama umum lokal termasuk umum: ara batang merah, ara
berbuah hijau dan ara beraneka ragam, dapat mencapai 30 meter tingginya. Di
Australia buah yang dimakan oleh kasuari dan burung beo ara ganda bermata
(Hyland, 2010).
1.1.3 Deskripsi
Secara umum tampilan fisik pohon Libo (F. variegata, Blume) yang
dijumpai berbentu lurus hngga sedikit bengkok. Kulit batang bagian luar sedikit
licin, berwarna abu-abu kecoklatan dan pohon ini banyak bergetah. Batang
berbanir. Rata-rata diameter batang pohon Libo (F. variegata, Blume) yang
dijumpai di lapangan berkisar antara 30 60 cm dengan tinggi berkisar antara 10
15 meter. Helai daun agak lebar berwarna hijau, ukuran panjang dan lebar 14
21 cm x 9 13 cm; posisi buah libo (F. variegata, Blume) bergerombol tersebar
mulai dari pangkal batang pohon hingga bagian atas disela-sela tajuk (Haryjanto,
2014).
Buah Libo (F. variegata, Blume) dijumpai adanya variasi ukuran maupun
warnanya dengan diameter 1 - 3 cm dan berwarna hijau maupun kemerahan.
Dalam buah dijumpai biji yang menempel pada daging buahnya. Dalam satu buah,
terdapat ratusan butir biji yang dapat diekstraksi dan digunakan sebagai materi
pembuatan bibit. Jumlah benih berkisar 3.000.000 butir/kg (Haryjanto, 2014).

1.1.4 Kandungan Kimia


Golongan metabolit sekunder yang terkandung dalam buah Libo
(F.variegata, Blume) adalah alkaloid (sangat dominan) dan saponin (Rijai,2013).
Alkaloid adalah senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam tumbuh-
tumbuhan, bersifat basa dan struktur kimianya mempunyai sistem lingkar
heterosiklik dengan nitrogen sebagai hetero atomnya. Unsur-unsur penyusun
alkaloid adalah karbon, hidrogen, nitrogen, dan oksigen. Adanya nitrogen dalam
lingkar pada struktur kimia alkaloid menyebabkan alkaloid tersebut bersifat alkali.
Oleh karena itu golongan senyawa-senyawa ini disebut alkaloid (Sumardjo, 2009).
Alkaloid dibentuk berdasarkan prinsip pembentukan campuran dan terbagi
menjadi 3 bagian, yaitu elemen yang mengandung N terlibat pada pembentukan
alkaloid, elemen tanpa N yang ditemukan dalam molekul alkaloid dan reaksi yang
terjadi untuk pengikatan khas elemen-elemen pada alkaloid.
Alkaloid biasanya tanpa warna, seringkali bersifat optis aktif, kebanyakan
berbentuk kristal dan hanya sedikit yang berbentuk cairan pada suhu kamar,
contohnya pada nikotina. Senyawa-senyawa golongan alkaloid misalnya caffeine,
theobromine dan theophylline (Sirait, 2007).
Saponin adalah senyawa yang merupakan senyawa aktif permukaan yang
kuat yang akan menimbulkan busa jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi
rendah sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Beberapa saponin bekerja
sebagai antimikroba (Santosa, 2005).
1.2 Simplisia
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan untuk obat, belum
mengalami pengolahan apapun, dan jika tidak dinyatakan atau disebutkan lain,
simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa simplisia
nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelikan (mineral). Simplisia nabati adalah
simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman.
Simplisia nabati harus bebas dari serangga, fragmen hewan atau kotoran hewan;
tidak boleh menyimpang bau dan warnanya; tidak boleh mengandung lendir atau
menunjukkan tanda-tanda pengotor lain; tidak boleh mengandung bahan lain yang
beracun atau berbahaya (Depkes RI, 1979).
Pada umumnya pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut:
pengumpulan bahan baku, sortasi basah, pencucian, perajangan, pengeringan,
sortasi kering, pengepakan, penyimpanan dan pemeriksaan mutu (Depkes RI,
1985).
1.3 Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisahkan dari bahan yang tidak bisa larut dengan pelarut cair.
Simplisia yang diekstrak mengandung senyawa aktif yang dapat larut dan
senyawa yang tidak dapat larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain.
Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke
dalam golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid dan lain-lain. Struktur kimia
yang berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan serta stabilitas senyawa tersebut
terhadap pemanasan, udara, cahaya, logam berat dan derajat keasaman. Dengan
diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia maka akan mempermudah
pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat. Terdapat berbagai macam metode
ekstraksi diantaranya adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut dengan cara
dingin atau cara panas. Metode ekstraksi cara dingin seperti maserasi dan
perkolasi sedangkan cara panas menggunakan refluks, soxhlet,digesti, infus dan
dekok. (Depkes, 2000).
1.4 Metode Ekstraksi
Maserasi merupakan metode sederhana yang paling banyak digunakan. Cara
ini sesuai baik untuk skala kecil maupun skala industri. Metode ini dilakukan
dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah
inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika
tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan
konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari
sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah
memakan banyak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak. Selain itu,
beberapa senyawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar. Namun di sisi
lain, metode maserasi dapat menghindari rusaknya senyawa-senyawa yang
bersifat termolabil (Mukhriani, 2014).
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif
yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah
mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan lain-
lain. Keuntungan cara penyarian menggunakan maserasi adalah cara pengerjaan
dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Pada penyarian
dengan cara maserasi, perlu dilakukan pengadukan. Pengadukan diperlukan untuk
meratakan konsentrasi larutan di luar butir serbuk simplisia, sehingga dengan
pengadukan tersebut tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang
sekecil-kecilnya antara larutan di dalam sel dengan larutan di luar sel (Depkes RI,
1986).
1.5 Aktivitas Antibakteri
Antibakteri adalah senyawa yang digunakan untuk mengendalikan
pertumbuhan bakteri yang bersifat merugikan. Pengendalian pertumbuhan
mikroorganisme bertujuan untuk mencegah penyakit dan infeksi, membasmi
mikroorganisme pada inang yang terinfeksi dan mencegah pembusukan serta
perusakan bahan oleh mikroorganisme. Antimikrobia meliputi golongan
antibakteri, antimikotik, dan antiviral (Ganiswara, 1995). Antimikroba adalah
suatu senyawa atau agen yang dapat membunuh atau menginhibisi pertumbuhan
suatu mikroorganisme dan terutama mikroorganisme patogen manusia (Syarif et
al., 2007).
Mekanisme penghambatan antibakteri dapat dikelompokkan menjadi lima,
yaitu menghambat sintesis dinding sel mikrobia, merusak keutuhan dinding sel
mikrobia, menghambat sintesis protein sel mikrobia, menghambat sintesis asam
nukleat, dan merusak asam nukleat sel mikrobia (Sulistyo, 1971).
Menurut Madigan dkk. (2000), berdasarkan sifat toksisitas selektifnya,
senyawa antimikrobia mempunyai 3 macam efek terhadap pertumbuhan mikrobia
yaitu:
a. Bakteriostatik, memberikan efek dengan cara menghambat pertumbuhan
tetapi tidak membunuh. Senyawa bakterostatik seringkali menghambat sintesis
protein atau mengikat ribosom. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan
antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah
penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatkan jumlah sel total
maupun jumlah sel hidup adalah tetap.
b. Bakteriosidal memberikan efek dengan cara membunuh sel tetapi tidak
terjadi lisis sel atau pecah sel. Hal ini ditunjukkan dengan penambahan
antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada pada fase logaritmik. Setelah
penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik didapatkan jumlah sel total
tetap sedangkan jumlah sel hidup menurun.
c. Bakteriolitik menyebabkan sel menjadi lisis atau pecah sel sehingga jumlah
sel berkurang atau terjadi kekeruhan setelah penambahan antimikrobia. Hal ini
ditunjukkan dengan penambahan antimikrobia pada kultur mikrobia yang berada
pada fase logaritmik. Setelah penambahan zat antimikrobia pada fase logaritmik,
jumlah sel total maupun jumlah sel hidup menurun.
1.6 Metode Uji Antibakteri
1.6.1 Metode Difusi

Metode difusi merupakan salah satu metode yang sering digunakan. Metode
difusi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu metode silinder, metode
lubang/sumuran, dan metode cakram kertas (Kusmayanti dan Agustini, 2007).
Difusi adalah proses perpindahan molekul secara acak dari satu posisi ke
posisi lain. Pada pengujian potensi suatu antibiotik dengan difusi agar, metode ini
menggunakan media padat, yang pada permukaannya telah diinokulasikan
mikroorganisme uji yang sensitif terhadap antibiotik yang secara merata.
Pencadang atau reservior diletakkan pada permukaan media tersebut dan
selanjutnya dipipet senyawa antibiotik yang akan diuji ke dalam paper disc
dengan volume tertentu. Selanjutnya diinkubasikan pada suhu dan waktu tertentu.
Selama masa inkubasi akan terjadi proses difusi antibiotik ke dalam gel agar dan
membentuk daerah hambatan (zona). Zona yang terbentuk inilah yang digunakan
sebagai dasar kuantitatif untuk membandingkan potensi antibiotik baku, seperti
terlihat dalam Tabel 1.1 (Djide dan Sartini, 2008).
Tabel 1.1 Klasifikasi respon hambatan pertumbuhan bakteri (Mulyadi, 2013)
Diameter Zona Terang Respon Hambatan Pertumbuhan
20 mm Sangat Kuat
10-20 mm Kuat
5-10 mm Sedang
5 mm Lemah
1.6.2 Metode Dilusi

Metode ini dilakukan dengan cara membuat seri pengenceran agen


antibakteri pada medium cair yang ditambahkan dengan bakteri uji. Larutan uji
antibakteri pada kadar terkecil yang terlihat jernih tanpa adanya pertumbuhan
bakteri uji ditetapkan sebagai KHM. Larutan yang ditetapkan sebagai KHM
(Konsentrasi Hambat Minimum) tersebut selanjutnya dikultur ulang pada media
cair tanpa penambahan bakteri uji ataupun agen antibakteri dan diinkubasi selama
18-24 jam. Media cair yang tetap terlihat jernih setelah diinkubasi ditetapkan
sebagai KBM (Konsentrasi Bunuh Minimum) (Pratiwi, 2008).
1.6.3 Metode Bioautografi

Bioautografi adalah suatu metode pendeteksian untuk mememukan suatu


senyawa antimikroba yang belum teridentifikasi dengan cara melokalisir aktivitas
antimikroba tersebut pada suatu kromatogram. Metode ini memanfaatkan
pengerjaan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) (Wildan Nur Fadlila, et al, 2015).
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dilakukan dengan carameletakkan
lempeng KLT di atas permukaan medium agar padat selama 15-30 menit yang
sebelumnya telah dielusi (Djide, 2008). Ciri khas dari prosedur bioautografi
adalah didasarkan atas teknik difusi agar, dimana senyawa antimikrobanya
dipindahkan dari lapisan KLT ke medium agar yang telah diinokulasikan dengan
merata bakteri uji yang peka. Dari hasil inkubasi pada suhu dan waktu tertentu
akan terlihat zona hambatan di sekeliling spot dari KLT yang telah ditempelkan
pada media agar (Akhyar, 2010).
1.7 Bakteri Uji
1.7.1 Staphylococcus aureus

Gambar 1.2 Bakteri Staphylococcus aureus (Todar, 2008)


a. Klasifikasi
Klasifikasi bakteri Staphylococcus aureus menurut Breed, et al (1957)
adalah sebagai berikut:
Kingdom : Bacteria
Divisi : Firmicutes
Kelas : Bacilli
Orde : Bacillales
Famili : Staphylococcaceae
Genus : Staphylococcus
Spesies : Staphylococcus aureus
b. Morfologi
Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram positif berbentuk bulat,
berdiameter 0,7-1,2 m, tersusun dalam kelompok-kelompok yang tidak teratur
seperti buah anggur, fakultatif anaerob, tidak membentuk spora, dan tidak
bergerak. Bakteri ini tumbuh pada suhu optimum 37C, tetapi membentuk pigmen
paling baik pada suhu kamar (20-25C). Koloni pada perbenihan padatberwarna
abu-abu sampai kuning keemasan, berbentuk bulat, halus, menonjol, dan berkilau.
Lebih dari 90% isolat klinik menghasilkan S. Aureus yang mempunyai kapsul
polisakarida, atau selaput tipis yang berperan dalam virulensi bakteri (Jawetz et al,
1995; Novick et al, 2000).
c. Patogenisitas
Sebagian bakteri Stafilokokus merupakan flora normal pada kulit, saluran
pernafasan, dan saluran percernaan pada manusia. Bakteri ini juga ditemukan di
udara dan lingkungan sekitar. Staphylococcus aureus yang patogen bersifat
invasif, menyebabkan hemolisis, membentuk koagulase dan mampu meragikan
manitol (Warsa, 1994).
Infeksi oleh Staphylococcus aureus ditandai dengan kerusakan jaringan
yang disertai abses bernanah. Beberapa penyakit infeksi yang disebabkan
Staphylococcus aureus adalah bisul, jerawat, impetigo, dan infeksi luka. Infeksi
yang lebih berat diantaranya pneumonia, mastitis, plebitis, meningitis, infeksi
saluran kemih, osteomielitis, dan endokarditis. Staphylococcus juga merupakan
penyebab utama infeksi nosokomial, keracunan makanan, dan sindroma syok
toksik (Warsa, 1994).

1.7.2 Escherichia coli

Gambar 1.3 Bakteri Escherichia coli (Michael, 2011)


a. Klasifikasi
Klasifikasi bakteri Escherichia coli menurut Songer dan Post (2005) adalah
sebagai berikut:
Kingdom : Bacteria
Filum: Proteobacteria
Kelas: Gamma Proteobacteria
Ordo: Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia coli
b. Morfologi
Secara morfologi E.coli berbentuk batang pendek, gemuk, berukuran 2,4 ,
gram negatif, tidak bersimpai, bergerak aktif dan tidak berspora. E.coli dapat
bertahan hingga suhu 60C selama 15 menit atau pada 55C selama 60 menit
(Anggraeni, 2012). Struktur sel E.coli dikelilingi oleh membran sel, terdiri dari
sitoplasma yang mengandung nukleoprotein. Membran sel E.coli ditutupi oleh
dinding sel berlapis kapsul. Flagela dan pili E.coli menjulur dari permukaan sel
(Tizard, 2004).
c. Patogenesitas
Beberapa strain dari E.coli selama proses evolusi mendapat kemampuan
virulensi yang membantu mereka menginfeksi host. Jenis E.coli yang patogen
tersebut dapat mengakibatkan gangguan intestinal dan infeksi saluran kemih.
Sekarang ditemukan 2 grup yang diketahui pula sebagai penyebab diare yaitu;
EHEC dan EAEC (Prescott, 2008). EHEC menyebabkan haemorrrhagic colitis
(radang usus besar). Gejala karakteristik yang timbul ditandai dengan diare akut,
kejang, panas, dan dalam waktu relatif singkat diare menjadi berdarah.
Patogenitas EAEC terjadi karena kuman melekat rapat-rapat pada bagian mukosa
intestinal sehingga menimbulkan gangguan. EAEC menyebabkan diare berair
pada anak-anak dan berlanjut menjadi diare persisten (Karch, et al, 2001).

1.8 Sabun Cair


Sabun adalah suatu sediaan yang digunakan oleh masyarakat sebagai
pencuci pakaian dan pembersih kulit. Berbagai jenis sabun yang beredar di
pasaran dalam bentuki yang bervariasi, mulai dari sabun cuci, sabun mandi, sabun
tangan, sabun pembersih peralatan rumah tangga dalam bentuk krim, padatan atau
batangan, bubuk dan bentuk cair. Sabun cair saat ini banyak diproduksi karena
penggunaanya lebih praktis dan bentuk yang menarik dibanding bentuk sabun
lain. Disamping itu sabun dapat digunakan untuk mengobati penyakit, seperti
mengobati kulit yang disebabkan bakteri dan jamur. Dengan kata lain sabun dapat
digunakan sebagai obat yakni dengan membersihkan tubuh dan lingkungan
sehingga kemungkinan terserang penyakit akan berkurang (Anggraini, 2012).
Pencucian adalah proses membersihkan suatu permukaan benda padat
dengan bantuan larutan pencuci melalui suatu proses kimia-fisika yang disebut
deterjensi. Sifat utama dari kerja deterjensi adalah membasahi permukaan yang
kotor kemudian melepaskan kotoran. Pembasahan berarti penurunan tegangan
muka padatan-cair. Pencucian atau pelepasan kotoran berlangsung dengan jalan
mendispersikan dan mengemulsi kotoran, lalu dengan bantuan aksi mekanik
kotoran menjadi terlepas dari permukaan benda padat (Amato, 2007).
Menurut Aisyah (2011) menyatakan bahwa berdasarkan dari jenis bahan
bakunya, sabun dapat digolongkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu:
1. Sabun yang dibuat dari asam lemak dan logam yang digaramkan. Logam
yang digunakan biasanya dari jenis logam alkali, misalnya natrium dan
kalium. Jenis sabun yang dihasilkan diantaranya adalah sabun mandi padat
dan sabun mandi krim.
2. Sabun yang dibuat dari bahanh dasar zat aktif permukaan (ZAP). Pada
umumnya, sabun dengan bahan dasar ZAP menghasilkan produk cair. Salah
satu contoh zat aktif permukaan adalah alkil poliglikosida (APG).
Pada pembuatan sabun, peran bahan penolong dan pengisi sangat besar
karena akan sangat menentukan mutu dan kenampakan sabun yang dihasilkan.
Zat-zat yang biasa digunakan sebagai bahan penolong adalah: (1) Garam,
berfungsi sebagai pengental. Semakin banyak jumlah garam yang dimasukkan,
maka sabun yang dihasilkan akan semakin kental. (2) Alkali, pengatur pH larutan
sabun dan menambah daya deterjensi. (3) Zat penberi busa, untuk meningkatkan
pencucian yang bersih. Jika sabun tanpa busa, maka kemungkinan sabun telah
mengendap sebagai sabun kalsium atau sabun tidak larut lainnya. (4) EDTA,
sebagai pengikat logam sadah dan pengawet. (5) Pewangi, untuk memberikan
aroma tertentu sesuai selera dan meningkatkan daya tarik dari sabun yang
dihasilkan. (6) Zat warna, memberi warna pada sabun agar mempunyai
penampilan menarik (Perdana dan Hakim, 2001).
Sesuai dengan SNI (1996), sabun cair yang baik harus memenuhi standar
mutu yang telah ditetapkan. Syarat mutu sabun cair dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2 Standar mutu sabun cair menurut Standar Nasional Indonesia (SNI)
No. Jenis Uji Satuan Persyaratan Mutu
1. Organoleptik
Bentuk Cairan Homogen
Bau Khas
Warna Khas
2. pH 68
3. Bobot Jenis Relatif 25C g/mL 1,01 1,10
4. Cemaran Mikroba Koloni/g 5
1x10
5. Viskositas cp 500-20.000

1.9 Uraian Komposisi Sabun Cair


1.9.1 Aquadest
Aquadest memiliki rumus kimia yakni H2O. Sinonim dengan: Aqua, Aqua
purificata, hydrogen oxide. Pemerian bahan berupa air tidak berwarna, jernih,
tidak berbau dan tidak berasa. Stabilitas dan kondisi penyimpanan air secara kimia
dapat stabil dapat berbagai wujud padatan, cair, dan uap air). Untuk
penyimpanannya, air dismpan dalam tempat yang tepat. Air dapat bereaksi dengan
bahan obat dan bahan tambahan yang rentan terhidrolisisn dapat berdekomposisi
dalam air atau uap) dalam lingkungan yang suhu tunggi. Air bereaksi ekstrim
dengan bahan alkali dan dengan cepat dengan bahan alkaline dan bahan
pengoksidasi termasuk kalsium oksida dan magnesium klorida. Metode produksi,
yakni umumnya dengan proses pemurnian airminum, termasuk destilasi,
deionisasi atau RO (Rowe, 2009).
1.9.2 Sodium Lauril Sulfat (SLS)
Pemerian SLS yakni hablur, kecil, berwarna putih atau kuning muda , agak
berbau khas. SLS mudah larut dalam air, membentuk larutan opalesen (DepKes
RI, 1995). Menurut Rowe, 2009, fungsi SLS dalam bidang industri sangat
beragam, tergantung pada konsentrasi penggunaan. Konsentrasi SLS dapat dilihat
pada Tabel 1.3 Penggunaan SLS
Tabel 1.3 Penggunaan SLS
Penggunaan Konsentrasi (%)
Agent pengemulsi ananionik, bahan pembusa 0,5 2,5
dan pengemulsi basis sabun

Detergent dalam shampo kesehatan 10


Pembersih tangan (Penggunaan Topikal) 1
Pelarut dalam konsentrasi kritikal missel >0,0025
Lubrikan tablet 1,0-2,0
Pembasah 1,0-2,0

1.9.3 Polisorbate 20 (Tween 20)


Pemerian Tween 20 yakni, cairan, kuning muda hingga coklat muda, bau
khas lemah. Kelarutan Tween 20 yakni dapat larut dalam air, dalam etanol, dalam
etil asetat, dalam metanol dan dalam dioksan, tidak larut dalam minyak mineral
(Depkes RI, 1995). Menurut Rowe (2009), fungsi Tween 20 dalam bidang industri
sangat beragam, tergantung pada konsentrasi penggunaan. Konsentrasi Tween 20
dapat dilihat pada Tabel 1.4 Penggunaan Tween Tabel 1.4 Penggunaan Tween

Kegunaan Konsentrsi %
Agent Pengemulsi
Penggunaan tunggal dalam emulsi tipe m/a 1 - 15
Penggunaan kombinasi dengan pengemulsi 1 10
hidrofilik dalam emulsi tipe m/a

Peningkat kelarutan air dalam salep 1 - 10


Pelarut dalam larutan yang kelarutannya rendah 1 - 15
Pembasah dalam komponen yang tidak dapat larut 0,1 - 3

1.9.4Natrium Chloride (NaCl)


Pemerian NaCl yakni, hablur bentuk kubus tidak berwarna atau serbuk
hablur putih, rasa asin. Kelarutan NaCl yakni dapat mudah larut dalam air, sedikit
lebih mudah larut dalam air mendidih, larut dalam gliserin, sukar larut dalam
etanol (Depkes RI, 1995). Menurut Rowe (2009), fungsi NaCl dalam bidang
industri sangat beragam, tergantung pada konsentrasi penggunaan. Konsentrasi
Tween 20 dapat dilihat pada Tabel 1.5 Penggunaan NaCl Tabel 1.5 Penggunaan
NaCl
Penggunaan Konsentrasi
Diluent kapsul 10 80 %
Pengontrol flokulasi pada suspensi 1
Diluen tablet kempa langsung 10 80
Larutan pengisotonis (IV, opthalmic) 0,9
Lubricant tablet larut air 5 - 20
1.9.5Propilen Glikol
Pemerian propilen glikol yakni, cairan kental jernih, tidak berwarna, rasa khas, praktis tidak
berbau, menyerap air pada udara lembab. Kelarutan propilen glikol yakni dapat bercampur
dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform, larut dalam eter dan dalam beberapa minyak
essensial, tetapi tidak dapat bercampur dalam minyak lemak (DepKes RI, 1995). Menurut Rowe
(2009), fungsi propilen glikol dalam bidang industri sangat beragam, tergantung pada konsentrasi
penggunaan. Konsentrasi Propilen Glikol dapat dilihat pada Tabel 1.6 Tabel 1.6 Penggunaan
Propilen Glikol
Fungsi Penggunaan Konsentrasi (%)
Humektan Topikal 15
Pengawet Larutan, semi solid 15 30
Solven atau ko-solven Larutan aerosol 10 30
Larutan oral 10 25
Parenteral 10 60
Topikal 5 -80
BAB II
TUJUAN PENELITIAN DAN MANFAAT

2.1 Tujuan Umum


Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi ekstrak buah
Libo (F. variegata, Blume) sebagai sediaan sabun cair yang bersifat antibakteri
terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan karakteristik
sabun cair tersebut.

2.2 Tujuan Khusus


Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
a. Mengetahui konsentrasi optimum dalam membunuh bakteri Staphylococcus
aureus dan Escherichia coli
b. Mengetahui formulasi terbaik sabun cair dari ekstrak buah Libo (F.
variegata, Blume)
c. Mengetahui karakteristik sediaan sabun cair (F. variegata, Blume)

2.3 Manfaat Terhadap Ilmu Pengetahuan


Hasil penelitian ini diharapkan yakni didapatkan sediaan sabun cair yang
baik yang dapat memberikan manfaat sebagai antibakteri untuk menghambat
pertumbuhan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

2.4 Manfaat Terhadap Terapan Keilmuan


Manfaat penelitian yang berguna dalam terapan keilmuannya yaitu
terungkapnya potensi dan inventaris tumbuhan obat Indonesia bahwa buah Libo
(F. variegata, Blume) dapat bermanfaat sebagai antibakteri, dengan kata lain dapat
menghambat pertumbuhan bakteri sehingga dapat diaplikasikan dalam bentuk
sediaan sabun cair. Berdasarkan informasi tersebut maka kemanfaatan tumbuhan
Libo (F. variegata, Blume) dapat menjadi lebih luas, sehingga nilai ekonomi
tumbuhan tersebut meningkat. Peningkatan nilai ekonomi dapat menimbulkan
gairah masyarakat untuk membudidayakan sehingga tumbuhan
Libo (F. variegata, Blume) menjadi terpelihara dan asri. Kegiatan budidaya
tumbuhan Libo (F. variegata, Blume) adalah memberikan manfaat dalam aspek
lingkungan yaitu pelestarian lingkungan. Selain itu, sediaan yang telah dibuat
diharapkan dapat digunakan pada masyarakat luas dengan harga yang terjangkau,
karena bahan aktif yang digunakan adalah bahan aktif alami, murah dan ramah
lingkungan
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Adapun metode penelitian ini, yaitu terbagi menjadi 3 tahap yakni: pertama,
mengambil ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume). Awal dari tahap pertama
yaitu pembuatan simplisia buah Libo (F. variegata, Blume). Tahap ini dilakukan
dengan cara mengambil buah Libo (F. variegata, Blume) berlokasikan di daerah
Samarinda, dibersihkan dan dirajang tipis. Dikeringkan dengan menggunakan
oven pada suhu tertentu. Dimaserasi dengan pelarut etanol dalam toples kaca.
Disaring filtrat dan dipekatkan dengan rotary evaporator. Diuapkan sisa pelarut
yang tertinggal dengan water bath dan dimasukkan dalam desikator yang berisi
silica gel untuk menghilangkan kelembapan ekstrak, hingga didapatkan ekstrak
yang baik. Kedua, membuat formulasi sediaan sabun cair dengan bahan aktif
ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) dengan konsentrasi terbaik yakni 10%.
Ketiga, mengevaluasi sediaan sabun cair, meliputi uji kesukaan, pH, bobot jenis,
viskositas, dan aktivitas mikrobiologinya.

3.2 Jenis penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan, dimana
mengembangkan ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) yang telah diketahui
aktivitasnya sebagai antibakteri untuk selanjutnya dikembangkan dalam bentuk
sediaan sabun yang sesuai mutu SNI (1996). Jenis penelitian yang akan dilakukan
adalah penelitian kuantitatif, dengan bentuk penelitian eksperimen dengan
menggunakan peralatan di Laboratorium Fakultas Farmasi, Universitas
Mulawarman.

3.3 Bahan yang diteliti dan Teknik Penentuan Sampel


Bahan utama yang diteliti adalah tumbuhan Libo (Ficus variegate, Blume),
yakni bagian buahnya. Sampel buah Libo (F. variegata, Blume) diperoleh dari
halaman depan Gedung Fakultas Farmasi, Kampus Universitas Mulawarman
Gunung Kelua, Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Teknik pengambilan
dilakukan dengan cara mengambil buah Libo (F. variegata, Blume) yang
berukuran 1,5 3 cm, berwarna hijau muda hingga kemerahan dari beberapa
pohon secara acak.
Komposisi bahan sabun, yakni SLS, NaCl, Tween 20, dan aquadest
diperoleh dari Laboratorium Farmasetika dan Laboratrium Kimia Fakultas
Farmasi Universitas Mulawarman.

3.4 Variabel dan Definisi Operasional


3.4.1 Variabel Penelitian
a. Variabel Bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah sediaan sabun cair dengan
konsentrasi ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) yang sama pada setiap
formula dan variasi konsentrasi SLS yang berbeda pada setiap formula.
b. Variabel Terikat
Variabel terikat pada percobaan ini adalah karakteristik sediaan sabun cair.
3.4.2 Definisi Operasional
a. Ekstraksi adalah suatu kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut
sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan
pelarut atau cairan penyari.
b. Ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) adalah ekstrak yang diperoleh dari
proses ekstraksi buah Libo menggunakan pelarut etanol.
c. Antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau bahkan
membunuh bakteri dengan cara mengganggu metabolisme mikroba yang
merugikan.
d. Aktivitas antibakteri adalah kemampuan ekstrak buah Libo (F. variegata,
Blume) dalam membunuh bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia
coli.
e. Variasi konsentrasi ekstrak adalah kadar ekstrak buah Libo (F. variegata,
Blume) yang terlarut dalam pelarutnya dengan satuan persen (%) dengan
berbagai variasi konsentrasi.
f. Zona bunuh adalah daerah atau zona bening dimana daerah tersebut tidak
ditumbuhi oleh mikroba.
g. Uji hedonik sediaan adalah pengujiaan kesukaan yang dilakukan terhadap
sejumlah panelis dengan menyatakan tingkat kesukaan terhadap sediaan
dengan menggunakan indera manusia sebagai alat pengukuran daya
penerimaan.
h. Uji kelarutan sediaan adalah pengujian untuk mengetahui kemampuan
melarutnya semua bahan dalam pelarutnya.
i. Uji pH adalah pengujiaan untuk menyatakan tingkat keasamaan yang
dimiliki sediaan sabun cair.
j. Uji viskositas adalah pengujian kekentalan (hambatan aliran cairan) sediaan
sabun cair.
k. Uji bobot jenis adalah pengujian untuk melihat kerapatan suatu sediaan
sabun cair.
l. Uji aktivitas antibakteri adalah pengujian sediaan sabun cair dalam
membunuh bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

3.5 Data dan Sumber Data Penelitian


Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil penelitian eksperimen
di laboratorium berdasarkan aspek yang diteliti yaitu konsentrasi efektif ekstrak
buah Libo (F. variegata, Blume) sebagai antibakteri, karakteristik sabun cair
meliputi uji hedonik sediaan, kelarutan sediaan, pH sediaan, viskositas sediaan,
bobot jenis sediaan, aktivitas antibakteri sediaan sabun cair dengan menggunakan
metode difusi agar, terhadap ketiga formula.
3.5 Rancangan Penelitian
3.6.1 Pengambilan Ekstrak Buah Libo (Ficus variegata, Blume)
Buah Libo segar, dicuci bersih

Disortasi basah

Dirajang kecil-kecil

Dikeringkan dengan oven

Suhu 60C, selama 20


jam

Dimasukkan dalam toples kaca,


direndam dengan pelarut etanol
Didiamkan 3 24 jam
Diaduk

Dipekatkan dengan rotary evaporator Dilakukan berulang


hingga pelarut bening

Ekstrak buah Libo Disimpan dalam


desikator

Gambar 3.1 Skema pengambilan ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume)
3.6.2 Uji Pendahuluan Aktivitas Antibakteri Metode Difusi Agar

Ekstrak buah Libo

5% 7% 10 % 13 % 15 %

Direndam paper disk


dalam tiap konsentrasi

Diaplikasikan paper disk dalam


cawan petri berisi NA padat dan
suspensi bakteri
Diinkubasi 1 24

jam, 38C
Diamati zona bunuh

Konsentrasi optimum

Gambar 3.2 Skema uji pendahuluan aktivitas antibakteri ekstrak

3.6.4 Pembuatan Sabun Cair

Pembuatan sabun cair dibuat dengan bahan aktif ekstrak buah Libo (F.
variegata, Blume) sebagai antibakteri dan bahan lain sebagai bahan tambahan.
Konsentrasi ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) sebagai antibakteri
didapatkan dari konsentrasi optimum dari uji pendahuluan sebelumnya, sehingga
ketiga formulasi yang dibuat mengandung konsentrasi ekstrak buah Libo (F.
variegata, Blume) yang sama. Hal yang membedakan formula sabun cair yakni
dengan variasi konsentrasi SLS sebagai peningkat kelarutan dan pembusa, dimulai
dari 5%; 7,5%, 10%. Bahan lain yakni Tween 20 sebagai pelarut ekstrak, NaCl
sebagai pengental, PG sebagai humektan. Ekstrak dilarutkan dengan Tween 20, di
wadah lain SLS dilarutkan dengan aquadest, kemudian dicampurkan
larutan SLS dalam larutan ekstrak tersebut. Ditambahkan NaCl, kemudian
ditambahkan PG. Kemudian, dilarutkan dengan bantuan magnetic stirer hingga
larut secara visual.

3.6.5Uji Hedonik Sediaan

Sediaan sabun cair

Diujikan ke panelis

Diisi kuisioner

Gambar 3.3 Skema Uji Organoleptis Sediaan

3.6.6 Uji Kelarutan Sediaan


Sediaan sabun cair yang belum dihomogenkan

Dihomogenkan dengan magnetic stirer

Dihitung waktu hingga larut secara visual

Gambar 3.4 Skema Uji Kelarutan Sediaan

3.6.7 Uji pH Sediaan

Sediaan sabun cair

Diukur pH sediaan dengan


pH meter

Gambar 3.5 Skema Uji pH Sediaan


3.6.8 Uji Viskositas Sediaan

Sediaan sebanyak 10 mL

10 rpm, 25C

Diukur viskositas dengan


viskometer

Dicatat data viskositas

Gambar 3.6 Skema Uji Viskositas Sediaan

3.6.9 Uji Bobot Jenis Sediaan

Piknometer volume 5 mL yang bersih


dan kering, ditimbang berat kosongnya

Diisi sediaan kedalam piknometer,


hingga meruah

Ditimbang berat piknometer berisi


sediaan

Dihitung bobot jenis sediaan

Gambar 3.7 Skema uji bobot jenis sediaan


3.6.10Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan
Sediaan Sediaan Sediaan
Formula A Formula B Formula C

Direndam paper disk


dalam sediaan

Diaplikasikan paper disk dalam


cawan petri berisi NA padat dan
suspensi bakteri
Diinkubasi 1 24

jam, 38C

Diamati dan diukur zona bening


Gambar 3.8 Skema Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan

3.7 Teknik Pengambilan Data


3.7.1 Aktivitas Antibakteri
Data diambil dengan cara, yakni dilakukan uji aktivitas antibakteri. Pada uji
praformulasi aktivitas antibakteri diperoleh data dari nilai zona bening yang
terdapat dalam cawan petri yang diperoleh dengan pengukurang dengan
menggunakan mikrometer sekrup.
3.7.2 Formulasi Sabun cair
Diperoleh dengan cara membuat 3 formula yang berbeda dari konsentrasi
SLS, sebagai pembantu kelarutan dan pembusa. Variasi konsentrasi SLS yang
digunakan 5%; 7,5%; 10%.
3.7.3 Karakteristik Sediaan
Diperoleh dari mengevaluasi sediaan dengan berbagai aspek, yakni: uji
kesukaan, kelarutan, pH, viskositas, bobot jenis, dan aktivitas antibakteri.
Organoleptis diperoleh dari penilaian skala pada kuisioner. Data kelarutan
diperoleh dari dari pengamatan waktu kelarutan sediaan secara visual. Data pH
didapatkan dari pengukuran dengan pH meter. Data bobot jenis diperoleh dari
penimbangan bobot cairan dengan menggunakan piknometer kemudian dibagi
dengan volume piknometer. Data aktivitas antibakteri diperoleh dari pengukuran
diameter zona bening pada cawan petri dengan menggunakan mikrometer sekrup.
3.8 Teknik Analisis Data
Data penelitian yang diperoleh uji aktivitas antibakteri yakni berupa
konsentrasi optimum sebagai antibakteri. Data lain yang diperoleh formulasi yang
optimum dari 3 formula yang bervariasi. Kemudian didapatkan data karakteristik
sediaan sabun cair berupa data uji hedonik, kelarutan, pH, viskositas, bobot jenis,
dan aktivitas antibakteri.
3.8.1 Uji Aktivitas Antibakteri
Data aktivitas antibakteri pada ekstrak buah Libo diperoleh dengan cara
mengamati ada atau tidaknya zona bunuh di sekitar paper disc terhadap kedua
bakteri uji yaitu Staphylococcus aureus dan Escherichia coli pada konsentrasi 5%,
7%, 10%, 13%, 15%. Data yang diperoleh kemudian ditabulasikan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Konsentrasi Rerata Diameter Zona Bunuh (mm)
Staphylococcus aureus Escherichia coli
5%
7%
10 %
13 %
15 %

3.8.2 Formulasi
Formulasi sabun cair yang optimum didapatkan dari formula terbaik yang
diperoleh dari ketiga formula sediaan yang dapat dilihat dari Tabel 3.2.
Tabel 3.2 Formula Sabun Cair
Komposisi F1 F2 F3
Ekstrak Buah Libo 10% 10% 10%
SLS 5% 7,5% 10%
Tween 20 10% 10% 10%
NaCl 10% 10% 10%
Propilenglikol 5% 5% 5%
Aquadest ad 100% ad 100% ad 100%
Keterangan Fn : Formula ke-n
3.8.3Karakteristik Sediaan
Data karakteristik sediaan didapatkan dari uji berbagai aspek, yakni: uji
hedonik, kelarutan, pH, viskositas, bobot jenis, aktivitas antibakteri, yang diujikan
pada ketiga formula untuk mendapatkan formula yang optimum.
a. Uji Hedonik
Data uji hedonik sediaan diperoleh dari hasil persentasi kesukaan. Persentasi
diperoleh dari kuisioner yang diujikan pada 20 orang dengan cara pengaplikasian
langsung ke tiga formula sabun cair berbeda. Kuisioner dapat dilihat pada
Lampiran.

% kesukaan = x 100%

b. Kelarutan Sediaan
Data kelarutan sediaan diperoleh dari hasil pengamatan pada saat formulasi,
dihitung dari waktu belum belum terlarut hingga telah terlarut (homegen) secara
visual. Hasil pengamatan kelarutan sediaan ditabulasikan dalam Tabel 3.3.
Tabel 3.3 Uji Kelarutan Sediaan
Formula Waktu Larut
R1 R2 R3
F1
F2
F3
Keterangan: Fn : Formula ke-n; Rn: Replikasi ke-n
c. pH Sediaan
Data pH sediaan diperoleh dari pengukuran pH sediaan sabun cair dengan
menggunakan alat pH meter yang telah dikalibrasi. Hasil pengukuran pH sediaan
ditabulasikan dalam Tabel 3.4.

Formula pH
R1 R2 R3

d. Viskositas Sediaan
Data viskositas sediaan diperoleh dari pengukuran viskositas sediaan sabun
cair dengan menggunakan viskometer Rheoys, menggunakan metode silinder,
dengan kecepatan 10 rpm, pada suhu 25C. Hasil pengukuran viskositas sediaan
ditabulasikan dalam Tabel 3.5.

Formula Viskositas (cp)


R1 R2 R3
F1
F2
F3

e. Bobot Jenis Sediaan


Data bobot jenis sediaan diperoleh dari penimbangan bobot piknometer yang berisi seiaan
sabun cair dikurangi dengan bobot piknometer kosong, hasilnya, dibagi dengan volume
piknometer yang digunakan, yakni 5 mL. Maka persamaannya yakni:
Bobot jenis (g/mL) = () ()

( )

Hasil perhitungan bobot jenis tersebut ditabulasikan dalam Tabel 3.6


Tabel 3.6 Uji Bobot Jenis Sediaan
Volme Pikno Pikno Berisi Bobot
Formula Replikasi Jenis
(mL) Kosong (g) (g)
(g/mL)
1 5
F1 2 5
3 5
1 5
F2 2 5
3 5
1 5
F3 2 5
3 5
R1 5
Aquadest R2 5
R3 5
Keterangan: Fn : Formula ke-n
f. Aktivitas Antibakteri Sediaan
Data aktivitas anttibakteri sediaann, diperoleh dari pengukuran diameter
zona bening, yang menunjukkan zona bunuh di sekitar papar disk terhadap kedua
bakteri uji, yakni: Staphylococcus aureus dan Escherhia coli, yang dibandingkan
dengan basis saja tanpa ekstrak. Hal ini dilakukan pada ketiga formula dan ketiga basis. Data
pengukuran diameter zona bunuh ditabulasikan dalam Tabel 3.7. Tabel 3.7 Uji Aktivitas
Antibakteri
Formula Rerata Diameter Zona Bunuh (mm)
R1 R2
F1
F2
F3
K1
K2
K3
Keterangan: Fn : Formula ke-n; Kn: Basis Formula ke-n
3.9 Waktu dan Tempat Penelitian
3.9.1 Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan Februari hingga bulan Juli 2016.
3.9.2 Tempat Penelitian
Penelitian telah dilakukan di Laboratorium Penelitian Farmaka Tropis
Fakultas Farmasi Universitas Mulawarman.
BAB IV
BAHAN DAN PERALATAN PENELITIAN

4.1 Bahan Penelitian

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


Tabel 4.1. Bahan penelitian
No. Nama bahan Kegunaan/fungsi
1. Etanol Pelarut ekstrak
2. Buah Libo (Ficus variegata, Sebagai sampel uji
Blume)
5. Medium NA (Nutrient Agar) Sebagai media padat pertumbuhan
bakteri
6. Larutan NaCl fisiologis 0,9% Untuk membuat suspensi bakteri
7. Biakan bakteri Escherichia coli dan Sebagai bakteri uji
Staphylococcus aureus
8. Aquadest Solvent
9. Tween 20 Pelarut ekstrak
10. SLS Surfaktan dan agen pembusa
11. NaCl Pengental
12. Propilen Glikol Pelembab

4.2 Peralatan penelitian

Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


Tabel 4.2. Peralatan penelitian
No. Nama alat Kegunaan/fungsi
1. Seperangkat alat Alat maserasi ekstrak buah Libo (Ficus
maserasi variegata, Blume)
2. Rotary evaporatorUntuk memekatkan ekstrak cair
3. Oven Untu mengeringkan sampel, untuk mengeringkan
kertas saring
4. Hot plate Alat untuk memanaskan medium
5. Autoclave Alat sterilisasi alat dan medium
6. Inkubator Alat inkubasi bakteri
7. Timbangan analitik Untuk menimbang sampel
8. Timbangan digital Untuk menimbang bahan
9. Magnetic sttirer Untuk menghomogenkan sediaan
10. Stop watch Untuk mengukur waktu melarut sediaan
11. Mikrometer sekrup Alat untuk mengukur diameter zona bening
12. pH meter Alat untuk mengukur pH sediaan
13. Viskometer Rheoys Alat untuk mengukur viskositas sediaan
14. Piknometer Alat untuk mengukur bobot jenis sediaan
15. Lampu spiritus dan Alat yang digunakan untuk meminimalkan
Bunsen kontaminasi disekitar bahan uji (cara aseptik)
16. Laminar Air Flow Alat yang diguanakan sebagai tempat pengerjaan
(LAF) aseptis
17. Rak Tabung Reaksi Sebagai tempat penyimpanan tabung reaksi
18. Tabung Reaksi Wadah untuk membuat biakan suspensi bakteri
19. Botol Pengencer Wadah untuk mengencerkan biakan bakkteri
20. Kertas saring Untuk menyaring larutan ekstrak pada uji
kelarutan
21. Cawan petri Wadah perkembangbiakan bakteri
22. Paper disc Kertas yang digunakan untuk menyerap bahan uji
yang akan di letakkan di permukaan lempeng
agar
23. Vial Wadah untuk merendam paper disc sebelum
diujikan
24. Pinset Untuk mengambil kertas saring pada uji
kelarutan, untuk meletakkan paper disc
25. Labu Erlenmayer Untuk wadah pembuatan medium
26. Spoit Untuk mengambil medium NA cair
27. Pipet tetes Untuk mengambil cairan
28. Mikropipet Untuk mengambil cairan suspensi bakteri
29. Jarum ose Untuk menanam bakteri pada permukaan
lempeng agar
30. Gelas kimia Sebagai wadah penampung sediaan pada proses
pencampuran
31. Batang pengaduk Untuk mengaduk cairan
32. Sendok tanduk Untuk mengambil bahan padatan
33. Botol timbang Untuk menimbang bahan higroskopis (NaCl)
34. Pot salep Sebagai wadah penampung sediaan
35. Label Untuk memberi penandaan
BAB V
PROSEDUR PENELITIAN

5.1. Fokus Penelitian


5.1.1 Fokus Umum Penelitian
Fokus dari penelitian ini secara umum adalah untuk mendapatkan data
mengenai aktivitas antibakteri ekstrak buah Libo (Ficus variegata Blume), yang
kemudian diformulasikan ke dalam formula sabun cair. Penentuan formula terbaik
didapatkan dari karakteristik sediaan sabun cair tersebut.

5.1.2 Fokus Khusus Penelitian

a. Menentukan konsentrasi aktivitas antibakteri ekstrak, terhadap bakteri


Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
b. Membuat sediaan sabun cair dari 3 formulasi yang variasi konsentrasi
SLS.
c. Meguji tingkat kesukaan sediaan sabun cair.
d. Menentukan kelarutan sediaan sabun cair yang telah dibuat
e. Menentukan pH sediaan sabun cair yang telah dibuat.
f. Menentukan viskositas sediaan sabun cair yang telah dibuat.
g. Menghitung bobot jenis sediaan sabun cair yang telah dibuat dengan
membandingkan pada nilai bobot jenis air.
h. Menentukan aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus
dan Escherichia coli pada sediaan sabun cair yang telah dibuat dan
dibandingkan dengan basis sediaan saja

5.2. Prosedur Pengumpulan Data


5.2.1. Prosedur Umum Pengumpulan Data Penelitian
a. Pengumpulan Bahan Tumbuhan
Buah Libo yang digunakan sebagai sampel diperoleh dari lingkungan
Universitas Mulawarman. Sampel yang telah dikumpulkan kemudian disortasi
basah lalu dicuci dengan air mengalir dan diiris tipis. Kemudian sampel basah
tersebut, dikeringkan dengan cara panas kering menggunakan oven pada suhu
60C, hingga didapatkan simplisia kering buah Libo (F. variegata, Blume),
sebelum dilakukan ekstraksi maka simplisia buah Libo tersebut diserbukkan
dengan menggunakan blender, dan siap untuk diekstraksi.
b. Proses Ekstraksi
Simplisia buah Libo diekstraksi dengan menggunakan metode maserasi,
yaitu dengan cara merendam seluruh bagian simplisia dengan pelarut tertentu
pada suatu wadah inert yang tertutup rapat. Proses perendaman menggunakan
pelarut etanol, yang bersifat semi-polar, tujuannya adalah agar baik senyawa polar
maupun non-polar dapat larut dalam pelarut etanol. Proses maserasi simplisia
buah Libo dilakukan selama + 3 hari, hingga diperoleh residu simplisia buah libo
dan larutan ekstrak buah Libo berwarna hijau kekuningan. Hal tersebut dilakukan
berulang kali hingga didapatkan pelarut menjadi kembali berwarna bening.
Larutan ekstrak dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator hingga
diperoleh ekstrak buah Libo berwarna hijau tua. Selanjutnya, sisa pelarut
diuapkan di atas waterbath, Kemudian disimpan di dalam desikator yang berisi
silica gel berwarna biru untuk menghindari tumbuhnya jamur dan membuat
ekstrak tetap kering.

5.2.2. Prosedur Khusus Pengumpulan Data Penelitian


a. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Sebelum menentukan formula sabun cair yang tepat, maka perlu dilakukan
uji aktivitas ekstrak.. Uji aktivitas antibakteri yang akan dilakukan yakni
menentukan konsentrasi optimum ekstrak buah Libo (F. variegata, Blume) yang
beraktivitas sebagai antibakteri. Hasil dari praformulasi ini akan diteruskan untuk
membuat formulasi sabun cair.
1) Uji Aktivitas Antibakteri
a) Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat yang digunakan dicuci bersih terlebih dahulu dan dibungkus
rapi. Seluruh alat dan bahan seperti cawan petri, botol pengencer, paper disc,
tabung reaksi, labu erlenmeyer, media Nutrient agar (NA) disterilisasi di dalam
autoklaf dengan suhu sebesar 121C selama 15 menit dengan tekanan 2 atm.
b) Pembuatan Medium NA (Nutrient Agar)
Medium NA sintetik ditimbang sebanyak 5 gram untuk membuat medium
NA sejumlah 250 mL. Kemudian dilarutkan dengan aquadest dalam gelas kimia
dan dimasukkan dalam labu erlenmeyer. Lalu dipanaskan diatas hot plate sambil
diaduk dengan batang pengaduk hingga larut dan mendidih, kemudian
didinginkan dan ditutup dengan kapas dan alumunium foil lalu disterilkan di
dalam autoklaf pada suhu 121 C dengan tekanan 2 atm selama 15 menit.
2) Penyiapan Bakteri Uji
Peremajaan bakteri uji dilakukan dengan menginokulasikan 1 ose bakteri ke
dalam medium NA dengan menggunakan metode agar miring dan diinkubasi selama
o
1 24 jam di dalam inkubator dengan suhu 37 C. Mikroba uji Escherichia coli dan
Staphylococcus aureus hasil inokulasi disuspensikan dengan menambahkan NaCl
8
0,9% sehingga menghasilkan suspensi bakteri dengan standar Mc. Farland 1 (3 10
CFU/mL) yang siap untuk digunakan dalam pengujian.
3) Pembuatan Variasi Konsentrasi Uji
Dibuat berbagai variasi konsentrasi ekstrak buah Libo 5%, 7%, 10%, 13%,
15% dalam 5 mL dengan pelarut aquadest.
4) Pengujian Aktivitas Antibakteri
Pengujian dengan metode difusi agar dilakukan dengan memasukkan
medium NA steril sebanyak 10 mL ke dalam botol pengencer berbeda kemudian
diinokulasi suspensi bakteri 0,02 mL dan dihomogenkan lalu dituang ke dalam
cawan petri, selanjutnya dibiarkan medium hingga memadat. Kemudian paper
disc yang telah dicelupkan ke dalam larutan uji diletakkan di atas medium sesuai
dengan pola yang telah dibuat pada masing-masing konsentrasi. Diinkubasi pada
suhu 37 C selama 24 jam. Selanjutnya diamati zona bening yang terbentuk dan
dilakukan pengukuran dengan menggunakan mikrometer sekrup.
b) Formulasi Sabun Cair
Sediaan sabun cair berbahan dasar ekstrak buah Libo (F. variegata,
Blume) dibuat dalam 3 formulasi. Perbedaannya terletak pada variasi konsentrasi
SLS yang digunakan yakni 5%; 7,5%; 10%. Berikut merupakan gambar skema
dari pembuatan sabun cair ekstrak buah Libo.

Ekstrak 2,5 gram + Tween 20 2,5 gram

Formula A Formula B Formula C


SLS 1,25 gram+ SLS 1,875 gram+ SLS 2,5 gram+
aquadest 10 mL aquadest 10 mL aquadest 10 mL

Dilarutkan hingga larut

NaCl 2,5 gram + aquadest 7 mL

Ditambahkan PG 1,25 gram

Ditambahkan sisa aquadest ad 25 mL

Diaduk dengan magnetic stirer hingga


larut
Gambar 5.1 Skema Pembuatan Sabun Cair
c) Karakteristik Sediaan Sabun Cair
Evaluasi karakteristik sediaan sabun cair dari ketiga formula dilakukan

bertujuan untuk melihat formula yang terbaik dari ketiganya. Dari hal itu, maka

perlu dilakukan evaluasi sediaan, meliputi uji organoleptis sediaan, uji kelarutan
sediaan, uji pH sediaan, uji viskositas sediaan, uji bobot jenis sediaan, dan uji
aktivitas antibakteri sediaan.

1) Uji Hedonik Sediaan

Uji hedonik sediaan dilakukan untuk mengetahui kualitas dari ketiga


sediaan sabun cair dari berbagai aspek, yakni: bentuk, warna, bau, homogenitas,
banyak busa,dan kenyamanan di kulit. Aspek tersebut diambil dari 20 orang
panelis yang bersedia mengisi kuisioner. Adapun tingkatan tingkat kesukaan,
dimulai dari sangat tidak suka, tidak suka, netral, agak suka, suka, sangat suka.

2) Uji Kelarutan Sediaan

Uji kelarutan sediaan diamati dari waktu melarutnya seluruh bahan,

hingga didapatkan sediaan sabun cair yang homogen secara visual. Kemudian
ditabulasikan waktu melarut ketiga sediaan sabun cair tersebut tersebut.

3) Uji pH Sediaan

Uji pH sediaan dilakukan dengan cara mengukur pH ketiga sediaan


sabun cair dengan menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi terlebih dahulu.
Nilai pH yang tertera pada pH meter adalah nilai sediaan yang diuji, kemudian
ditabulasikan nilai pH ketiga sediaan sabun cair tersebut tersebut.

4) Uji Viskositas

Uji viskositas sediaan dilakukan dengan menggunakan alat viskometer

rheoys, type silinder. Pengaturan pada viskometer diatur pada putaran 10 rpm, dan
suhu 25C. Masing-masing sediaan diambil 15 mL, kemudian dimasukkan dalam
wadah silinder, dan dilakukan pengujian viskositasnya. Nilai viskositas sediaan
tertera pada layar monitor komputer, kemudian ditabulasikan data nilai viskositas
ketiga sediaan sabun cair tersebut.

5) Uji Bobot Jenis Sediaan

Uji bobot jenis sediaan dilakukan dengan menggunakan piknometer.


Dilakukan penimbangan piknometer yang bersih dan kering. Diisi sedian sabun
cair dan ditutup hingga cairan meruah, kemudian ditimbang piknometer berisi
tersebut. Nilai piknometer berisi dikurangi dengan nilai piknometer kosong,
dibagi dengan volume piknometer, yakni 5mL. Hal serupa dilakukan juga pada
aquadest, sebagai pembanding. Kemudian ditabulasikan data nilai bobot jenis
(g/mL) ketiga sediaan sabun cair dan aquadest.

6) Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan

a) Sterilisasi Alat dan Bahan

Seluruh alat dan bahan seperti cawan petri, botol pengencer, paper disc,
tabung reaksi, labu erlenmeyer, media Nutrient agar (NA) disterilisasi di dalam
autoklaf dengan suhu sebesar 121C selama 15 menit dimana sebelumnya alat
telah dicuci bersih, dikeringkan, dan dibungkus dengan kertas.
b) Pembuatan Medium NA (Nutrient Agar)
Medium NA sintetik ditimbang sebanyak 5 gram untuk membuat medium
NA sejumlah 250 mL. Kemudian dilarutkan dengan aquadest dan dimasukkan
dalam labu erlenmeyer. Lalu dipanaskan diatas hot plate sambil diaduk dengan
batang pengaduk hingga larut dan mendidih, kemudian didinginkan dan ditutup
dengan kapas dan alumunium foil lalu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121
C dengan tekanan 2 atm selama 15 menit.
c) Penyiapan Bakteri Uji
Peremajaan bakteri uji dilakukan dengan menginokulasikan 1 ose bakteri
ke dalam medium NA dengan menggunakan metode agar miring dan diinkubasi selama 1 24
o
jam di dalam inkubator dengan suhu 37 C. Mikroba uji Escherichia coli dan Staphylococcus
aureus hasil inokulasi disuspensikan dengan menambahkan NaCl fisiologis 0,9% sehingga
8
menghasilkan suspensi bakteri dengan standar Mc. Farland 1 (3 10 CFU/mL) yang siap untuk
digunakan dalam pengujian.

d) Pembuatan Variasi Formula


Masing-masing sediaan sabun cair, dimasukkan dalam vial sebanyak 5mL,
kemudian direndam paper disc sebelum dilakukan uji antibakteri. Sebagai
pembanding yakni basis tiap formula sebanyak 5 mL. Maka diketahui ada 3
variasi formula dan 3 basis sebagai pembanding.
e) Pengujian Aktivitas Antibakteri
Pengujian dengan metode difusi agar dilakukan dengan memasukkan
medium NA steril sebanyak 10 mL ke dalam botol pengencer berbeda kemudian
diinokulasi suspensi bakteri 0,02 mL dan dihomogenkan lalu dituang ke dalam
cawan petri, selanjutnya dibiarkan medium hingga memadat. Kemudian paper
disc yang telah dicelupkan ke dalam larutan uji diletakkan di atas medium sesuai
dengan pola yang telah dibuat pada masing-masing konsentrasi. Diinkubasi pada
suhu 37 C selama 24 jam. Selanjutnya diamati zona bunuh yang terbentuk dan
dilakukan pengukuran dengan menggunakan mikrometer sekrup.

5.3. Prosedur Analisis Data

Prosedur analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini, adalah sebagai
berikut:
a. Data praformulasi aktivitas antibakteri didapatkan dari mengukur diameter
zona bening di sekitar paper disc
b. Data formulasi didapatkan dengan cara pembuatan langsung formula
sediaan sabun cair.
c. Data organoleptis sediaan diperoleh dari penghitungan hasil kuisioner
yang ditujukan pada 20 panelis, kemudian dianalisis dengan metode
Friedman Test dimana semua data diolah menggunakan program SPSS
(Statistical Product of Service Solution) for Windows versi 21.0.
d. Data kelarutan sediaan diperoleh dari waktu melarutnya sediaan yang
ditandai dengan sediaan homogen secara visual dan dinalisis dengan
menggunakan uji Anava satu arah serta uji lanjutan BNJD (Beda Nyata
Jujur Duncan) dimana semua data diolah menggunakan program SPSS
(Statistical Product of Service Solution) for Windows versi 21.0.
e. Data pH sediaan diperoleh dari nilai pada pH meter dan dinalisis dengan
menggunakan uji Anava satu arah serta uji lanjutan BNJD (Beda Nyata
Jujur Duncan) dimana semua data diolah menggunakan program SPSS
(Statistical Product of Service Solution) for Windows versi 21.0.
f. Data viskositas sediaan diperoleh dari nilai pada viskometer rheoys dan
dinalisis dengan menggunakan uji Anava satu arah serta uji lanjutan BNJD
(Beda Nyata Jujur Duncan) dimana semua data diolah menggunakan
program SPSS (Statistical Product of Service Solution) for Windows versi
21.0.
g. Data viskositas sediaan diperoleh dari penghitungan rumus bobot jenis dan
dinalisis dengan menggunakan uji Anava satu arah serta uji lanjutan BNJD
(Beda Nyata Jujur Duncan) dimana semua data diolah menggunakan
program SPSS (Statistical Product of Service Solution) for Windows versi
21.0.
h. Data aktivitas antibakteri didapatkan dari selisih pengukuran diameter
zona bening di sekitar paper disc pada sediaan dan zona bening pada basis
saja kemudian dianalisis dengan uji Anava satu arah serta uji lanjutan
BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) dimana semua data diolah
menggunakan program SPSS (Statistical Product of Service Solution) for
Windows versi 21.0.
BAB VI

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

6.1. Uraian Umum Hasil Penelitian

Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa ekstrak buah libo beraktivitas


sebagai antibakteri dan dapat digunakan sebagai bahan aktif pada sediaan sabun
cair untuk membunuh bakteri.
Konsentrasi ekstrak buah Libo yang beraktivitas antibakteri yang
diperoleh dijadikan sebagai bahan aktif dalam pembuatan sabun cair dengan
berbagai bahan tambahan untuk mendukung formula sabun cair yang baik
menurut standar SNI. Aktivitas antibakteri terhadap bakteri Escherichis coli dan
Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi agar, memberikan respon
hambat pertumbuhan bakteri dalam kategori kuat, yakni diameter zona bening
pada konsentrasi optimum masuk dalam rentang 10 20 mm. Berdasarkan hal
tersebut, maka konsentrasi optimum tersebut digunakan sebagai bahan aktif sabun
cair.
Sabun cair dengan variasi konsentrasi SLS yakni 5%, 7,5%, 10%,
memberikan karakteristik yang tidak jauh berbeda, dari berbagai aspek yang
diujikan, yakni uji hedonik, kelarutan, viskositas, bobot jenis, dan aktivitas
antibakterinya.
6.2. Uraian Khusus Hasil Penelitian

6.2.1. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Buah Libo (Ficus variegata, Blume)

1. Pendahuluan
Daerah hutan Kalimantan Timur memiliki potensi yang sangat besar
menghasilkan sumber daya alam yang besar, termasuk tumbuhan khas Kalimantan
Timur. Tumbuhan Libo termasuk tanaman khas yang banyak terdapat di hutan
Kalimantan Timur. Tumbuhan Libo ini memiliki buah Libo yang sangat banyak
dan jika telah matang akan jatuh berguguran, sehingga sangat disayangkan jika
tidak dimanfaatkan. Oleh sebab itu, harus diketahui terlebih dahulu kandungan
kimia yang terdapat di buah Libo. Menurut Rijai, 2013 Buah Libo memiliki
kandungan kimia golongan senyawa alkaloid (sangat dominan) dan golongan
senyawa saponin. Kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam buah
sangat berpotensi untuk dimanfaatkan. Oleh sebab itu perlu dilakukan pembuatan
poduk farmasi yang bermanfaat sebagai antibakteri, salah satunya yakni produk
sabun. Sabun yang akan diformulasikan yakni sabun cair, karena pada masa
sekarang sabun cair memiliki beragam keunggulan, yakni lebih diminati
masyarakat daripada sabun padat karena dianggap lebih efektif jika digunakan dan
dari segi estetika lebih menarik. Sebelum dimanfaatkan pada masyarakat luas,
maka perlu di buat dalam bentuk sediaan terlebih dahulu. Agar maksimal
penggunaannya maka dilakukan uji aktivitas antibakteri untuk mengetahui
konsentrasi optimum ekstrak buah Libo dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.
2. Gambaran Umum Pengambilan Data Penelitian
Praformulasi yang dilakukakan dengan menentukan konsentrasi optimum
sebagai antibakteri, dengan metode difusi agar menggunakan paper disc yang
dilakukakan terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichis coli.
3. Hasil Penelitian yang Ditemukan
a) Aktivitas Antibakteri Ekstrak
Data mengenai aktivitas antibakteri ekstrak buah libo dilihat pada Tabel di
bawah ini.
Tabel 6.1 Tabel Hasil Uji Aktivitas Antibakteri
Konsentrasi Rerata Diameter Zona Hambat (mm)
Staphylococcus aureus Escherichia coli
5% 9,2978 8,3199
7% 10,2757 9,9209
10 % 10,8654 10,9061
13 % 8,5735 8,8312
15 % 8,2425 8,1075

4. Proses Analisis Data Penelitian


Data praformulasi aktivitas antibakteri ekstrak diperoleh berdasarkan
Tabel 6.1 yang merupakan rerata diameter zona bening terhadap variasi
konsentrasi ekstrak. Kemudian disimpulkan berdasarkan konsentrasi optimum
yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri yaitu 10%, karena memiliki diamter
10 mm yang termasuk dalam rentang kuat. Konsentrasi yang didapat kemudian
diteruskan ke dalam sediaan.
5. Pembahasan Hasil Penelitian
Aktivitas antibakteri perlu dilakukan untuk mengetahui konsentrasi yang
akan digunakan dalam formulasi sabun cair. Hasil Konsentrasi yang diambil
adalah konsentrasi tertinggi karena hasil yang didapatkan merupakan zona
hambat, bukan merupakan zona bunuh terhadap bakteri Staphylococcus aureus
dan Escheerichia coli, agar aktivitas yang dihasilkan saat telah diaplikasikan
dalam bentuk sediaan lebih maksimal aktivitas nya.
Metode yang digunakan adalah metode difusi agar, yakni menggunakan
paper disc. Paper disc yang telah berisi ektrak buah Libo (Ficus variegata,
Blume) dalam beberapa konsentrasi, akan berdifusi pada media agar yang telah
ditanami bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Area jernih apada
permukaan media agar dan sekitar paper disc mengindikasikan adanya hambatan
pertumbuhan bakteri oleh ekstrak. Diameter zona bunuh yang terbentuk diukur
menggunakan mikrometer sekrup tanpa mengurangi luas diameter paper disc. Hal
ini dilakukan karena zona bening yang terbentuk tidak terhambat oleh adanya
paper disc. Diameter zona hambatan pertumbuhan bakteri menunjukkan
sensitivitas bakteri terhadap zat antibakteri. Pemilihan metode ini didasarkan pada
hasil yang didapatkan bersifat kuantitatif, yaitu nilai diameter zona bening (mm),
sampel uji yang diserap dapat diatur homogen sesuai dengan kapasitas dan daya
serap kertas, selain itu dalam skala laboratorium, metode ini cukup mudah dan
efisien dalam pengerjaannya, artinya tidak memerlukan alat dan bahan yang
banyak.
Dalam pengujian ini digunakan bakteri Eschericia coli dan
Staphylococcus aureus dimana penggunaan kedua bakteri tersebut untuk mewakili
golongan bakteri gram positif dan gram negatif sehingga dapat diketahui
efektivitas dari ekstrak buah libo terhadap golongan bakteri tertentu. Selain itu
kedua bakteri ini juga merupakan flora normal pada tubuh yaitu mikroorganisme
yang menempati suatu daerah tanpa menimbulkan penyakit pada inangnya
(Trampuz & Widmer, 2004). Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram
positif dan merupakan
flora normal pada kulit sehat, tetapi dapat menjadi patogen pada jaringan kulit
yang terbuka. Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit jika jumlahnya telah
mencapai 1.000.000 atau 106 per gram, suatu jumlah yang cukup untuk
memproduksi toksin (Snyder, 2001). Sedangkan Eschericia coli merupakan
bakteri gram negatif dan merupakan flora normal pada saluran pencernaan. Flora
saluran pencernaan berperan dalam sintesis vitamin K, konversi pigmen empedu
dan asam empedu, absorpsi zat makanan serta antagonis mikroba patogen. Namun
E.coli jika berada pada uretra dapat menyebabkan terjadinya infeksi saluran
kemih.
Namun, karena akan diaplikasikan pada sediaan, maka diambil konsentrasi
optimum (tertinggi) dalam menghambat bakteri E. coli dan S. aureus , yakni
konsentrasi 10%. Maka diambil konsentrasi optimum (tertinggi) dalam
menghambat bakteri S. aureus, yakni konsentrasi 10%. Pada konsentrasi 10 %
memiliki diameter zona hambat 10 mm, dengan kata lain memiliki respon
penghambatan bakteri dalam kategori kuat, sehingga dipilh konsentrasi 10%.
Menurut Rijai (2013), metabolit sekunder yang bersifat antibakteri, yang
terdapat dalam ekstrak buah Libo yakni golongan senyawa saponin dan alkaloid.
Mekanisme kerja saponin sebagai antibakteri yakni menurunkan tegangan
permukaan sehingga mengakibatkan naiknya permeabilitas atau kebocoran sel
kemudian gugus lipofilik akan mengikat dinding sel sehingga mengakibatkan
cairan intraseluler akan keluar (Nuria, et al, 2009). Menurut Cavalieri et al,
(2005), senyawa ini berdifusi melalui membran luar dan dinding sel yang rentan,
lalu mengikat membran sitoplasma yang mengganggu dan mengurangi kestabilan
itu. Hal ini menyebabkan sitoplasma bocor dan keluar dari sel yang
mengakibatkan kematian sel. Mekanisme kerja alkaloid sebagai antibakteri yakni
dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri,
sehingga lapisan dinding sel pada bakteri tidak terbentuk secara utuh dan
menyebabkan kematian sel (Wayan, 2015).
6. Kesimpulan Hasil Penelitian dan Saran
Konsentrasi terbesar dalam menghambat bakteri dari ekstrak buah Libo
terhadap bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus yakni pada
konsentrasi 10%. Konsentrasi yang didapatkan maka akan diaplikasikan pada
sediaan sabun cair. Sebaiknya perlu dilakukan variasi konsentrasi lainnya untuk
mengetahui konsentrasi terbaik dari ekstrak buah Libo (Ficus variegata, Blume).

6.2.2 Formulasi Sediaan Sabun Cair


1. Pendahuluan
Sabun adalah suatu sediaan yang digunakan oleh masyarakat sebagai
pembersih baik untuk pencuci pakaian dan pembersih kulit. Disamping itu sabun
dapat digunakan untuk mengobati penyakit, seperti mengobati kulit yang
disebabkan bakteri. Dengan kata lain sabun dapat digunakan sebagai bahan
pencegah penyakit dengan jalan membersihkan tubuh dan lingkungan sehingga
kemungkinan terserang penyakit akan berkurang (Anggraini, 2012). Sabun cair
yang akan dibuat dari bahan dasar zat aktif permukaan (ZAP). Pada umumnya,
sabun dengan bahan dasar ZAP menghasilkan produk cair. (Aisyah, 2011). Sabun
cair saat ini banyak diproduksi karena penggunaanya lebih praktis dan bentuk
yang menarik dibanding bentuk sabun lain, oleh sebab itu dibuat formulasi sabun
cair dengan bahan aktif ekstrak buah Libo yang berfungsi sebagai antibakteri.
Menurut Nugraha (2014) menyatakan bahwa bahwa sabun yang disukai adalah
sabun yang mempunyai tekstur yang tidak terlalu lunak dan menghasilkan banyak
busa. Busa menjadi bagian yang terpenting dari sabun karerna masyarakat
beranggapan bahwa sabun yang sedikit busa atau tidak memiliki busa tidak dapat
membersihkan saat digunakan. Sehingga perlu dlkakukan pemberiarian variasi
konsentrasi SLS pada sediaan, sebagai bahan pembusa pada konsentrasi 5%,
7,5%, 10%.
2. Gambaran Umum Pengambilan Data Penelitian
Formulasi sediaan sabun cair dibuat dengan bahan aktif ekstrak buah Libo
dengan konsentrasi optimum sebagai antibakteri dan bahan-bahan lainnya sesuai
dengan fungsinya masing-masing. Adapun bahan-bahan yang digunakan sebagai
bahan tambahan yakni Tween 20, SLS, NaCl, Propilen Glikol, aquadest, dengan
jumlah tertentu.
3. Hasil Penelitian yang Ditemukan
Hasil penelitian yang didapatkan, yakni komponen bahan dan jumlahnya
yang dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Komposisi F1 FF2 F3
Ekstrak Buah Libo 10% 10% 10%
SLS 5% 7,5% 10%
Tween 20 10% 10% 10%
NaCl 10% 10% 10%
Propilenglikol 5% 5% 5%
Aquadest ad 100% ad 100% ad 100%
Keterangan Fn : Formula ke-n
4. Proses Analisis Data Penelitian
Proses analisis data diperoleh dari eksperimen di laboratorium saat
pembuatan sediaan sabun cair.
5. Pembahasan Hasil Penelitian
Komponen penyusun sediaan sabun cair yang dibuat, menunjkkan sediaan
ini termasuk kedalam sediaan emulsi. Menurut Ansel (1989), emulsi merupakan
suatu sistem dispersi dimana fase terdispers terdiri dari bulatan-bulatan kecil zat
cair yang terdistribusi ke seluruh pembawa (fase terdispers) yang tidak saling
bercampur. Emulsi yang dibuat pada sediaan sabun cair ini merupakan tipe
minyak dalam air (M/A). Fase minyak yakni ekstrak buah Libo (Ficus variegata,
Blume) dan Tween 20, sedangkan fase air yakni SLS dan air.
Ekstrak buah Libo (Ficus variegata, Blume) dengan konsentrasi sebesar
10% sebagai konsentrasi optimum sebagai antibakteri. Hal tersebut diperoleh dari
data aktivitas antibakteri yang telah diujikan bahwa pada konsentrasi 10%,
memiliki diameter zona hambat paling tinggi yakni dalam rentang 10mm-20mm,
sehingga dapat dikategorikan dalam kategori beraktivitas antibakteri kuat.
Sedangkan untuk konsentrasi lainnya, memiliki kategori sedang. Sehingga
konsentrasi yang digunakan yakni konsentrasi ekstrak 10%.
Tween 20 merupakan surfaktan nonionik yang digunakan secara luas
sebagai pengemulsi dalam emulsi farmasetik tipe minyak dalam air. Umumnya
digunakan sebagai pelarut untuk bermacam-macam zat termasuk minyak esensial
dan minyak pelarut vitamin. Tween 20 juga dinilai lebih stabil dalam elektrilot
dan asam. Oleh sebab itu, dipilih Tween 20 untuk melarutkan ekstrak. Konsentrasi
yang digunakan yakni 10%, yang bertujuan agar ekstrak dapat larut. Penentuan
konsentrasi didasarkan pada literatur yang menyatakan konsentrasi Tween 20
sebagai solubilizing agent berkisar 1-15%. Pemakaian Tween 20 sedapat mungkin
digunakan pada konsentrasi seminimal mungkin untuk melarutkan ekstrak karena
penggunaan yang berlebihan juga apabila dikombinasikan dengan surfaktan lain,
maka akan menyebabkan denaturasi protein dan menghambat proses biologis pada
sel kulit.
SLS (Sodium Lauril Sulfat) termasuk salah satu jenis surfaktan anionik
yang merupakan suatu molekul sekaligus memiliki gugus hidrofilik dan gugus
lipofilik sehingga dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan
minyak. Pada proses pembuatan sediaan sabun air, SLS berada pada fase air,
dikarenakan SLS lebih hidrofilik dibandingkan Tween 20, sehngga lebih mudah
larut dalam fase air. Menurut Rieger (2000) pada proses pembuatan emulsi sabun
cair diperlukan dua jenis surfaktan, yakni surfaktan primer dan surfaktan
sekunder. Surfaktan primer umumnya digunakan untuk agen pembusa. Surfaktan
anionik atau kationik banyak digunakan sebagai surfaktan primer karena sifat
pembusaannya sangat baik dan harganya relatif murah. Namun surfaktan jenis ini
rentan menimbulkan iritasi, sehngga perlu dikombinasi dengan surfaktan nonionik
atau surfaktan amfoter. Surfaktan sekunder berja untuk memperbaiki pembusaan
dengan cara menjaga kestabilan busa, dalam sediaan ini yang berperan sebagai
surfaktan sekunder yakni Tween 20, karena merupakan jenis surfaktan nonionik.
Suatu cairan murni tidak akan berbusa kecuali diberi surfaktan, adanya surfaktan
akan mengurangi tegangan antar muka gas/cairan sehingga mempermudah
dispersi gas dalam cairan. Busa itu sendiri ialah suatu dispersi koloid di mana gas
terdispersi dalam fase kontinyu yang berupa cairan. Mekanisme pembentukan
busa dimulai ketika gelembung gas masuk ke dalam larutan surfaktan, kemudian
surfaktan akan terabsorpsi pada antar muka gas/cairan dan terbentuk gelembung
gas yang terbungkus oleh lapsan film atau disebut busa. Busa ini akan cenderung
naik ke permukaan karena berat jenis gas lebih kecil daripada air. Namun, pada
permukaan cairan juga terdapat surfaktan yang duduk pada lapisan batas air dan
udara. Sehingga busa terbentuk tidak bisa lepas keluar ke udara, melainkan tetap
tertahan pada batas permukaan cairan. Jika busa-busa di permukaan semakin
banyak maka akan saling mendekat, sehingga akhirnya dapat kontak satu sama
lain atau bahkan saling bergabung membentuk busa yang lebih besar. SLS
berperan untuk menurunkan tegangan permukaan larutan sehingga dapat
melarutkan minyak serta membentuk emulsi dan menyebabkan busa terbentuk
saat dalam sediaan sabun cair. Busa berperan mengurangi interaksi permukaan
(tegangan antarmuka) dan memungkinkan zat aktif menembus ke dalam ruang-
ruang kecil pada kulit. Menurut Rowe (2003), konsentrasi SLS yang digunakan
untuk pembusa maksimum pada konsentrasi 10%, sehingga dibuat variasi SLS
pada sediaan, maka dibuat variasi konsentarsi meningkat secara berurut yakni,
5%, 7,5%, 10%. Menurut Robinson, dkk (2010) aplikasi konsentrasi SLS diatas
10% akan melebihi batas yang dianjurkan dan apabila dilakuan pemakaian
berulang-ulang akan menyebabkan korosi kulit dan iritasi hebat, yang ditandai
dengan kekeringan, dan pecah-pecah pada kulit. Mekanisme iritasi epidermis
yakni denaturasi rantai polipeptida suatu molekul protein sehingga mengubah
struktur protein. Oleh sebab itu penggunaan SLS sebaiknya tidak lebih dari
konsentrasi 10%.
NaCl (Natrium Chloride) merupakan bahan yang pada sediaan sabun cair
bersifat sebagai peningkat viskoistas. Adanya peningkatan viskositas, akan
membuat busa lebih stabil, karena busa sifatnya yang mudah hilang dan pecah
sehingga perlu dilakukan penambahan bahan peningkat viskositas untuk menjaga
kestabilan busa. Manfaat sabun cair yang lebih kental, yakni lebih mudah saat
dituang dari dalam kemasan, namun tidak mudah mengalir tumpah ditangan.
Sehingga dapat dikatakan bahwa pengatur viskositas memiliki peranan yang
penting dalam formulasi sediaan sabun cair. Menurut Karolina (2011), NaCl
sebagai pengental terdapat pada konsentrasi 10%. Mekanisme NaCl sebagai
pengental yakni, NaCl yang bersifat higroskopis yang terdiri dari ion akan
menarik komponen air di sekitarnya, sehingga akan mengakibatkan viskositas
sediaan akan meningkat.
Propilen glikol berperan sebagai humektan pada kosentrasi 5%. Humektan
atau pelembab berfungsi untuk mencegah atau memperbaiki kulit kering.
Pelembab menbantu kulit menjaga kelembabannya dari luar tubuh. Kulit
merupakan organ tubuh yang paling cepat kekurangan kekurangan cairan, karena
penguapan akibat paparan sinar matahari, serangan polusi atau radikal bebas. Jadi
pelebab bekerja menjaga kandungan air di lapisan kulit paling luar agar tidak
kering. Pemilihan propilen glikol dikarenakan memiliki nilai viskositas yang
cukup tinggi dapat mencegah terjadinya pemecahan emulsi, juga merupakan salah
satu humektan yang larut air sehingga cocok untuk semua jenis kulit, sehingga
propilen glikol lebih unggul dari bahan lainnya. Humektan adalah bahan yang
mampu menyerap dan menangkap air dari udara. Humektan tidak menyebabkan
kulit berminyak dan lebih larut air, sehingga cocok untuk semua jenis kulit.
Mekanisme propilen glikol sebagai humektan yakni dengan meningkatkan
kapasitas penyimpanan air (water holding capasity) dengan pemakaian bahan
yang berisifat higroskopis (sesuatu yang mampu menarik air dari lingkungannya).
Tujuan menyebabkan rasa nyaman di kulit setelah penggunaan sabun cair ini.
6. Kesimpulan Hasil Penelitian dan Saran
Komposisi sabun cair dari ekstrak buah Libo (Ficus variegata, Blume)
terdiri dari ekstak buah Libo (Ficus variegata, Blume), Tween 20, SLS, NaCl,
Propilen Glikol, aquadest. Disarankan untuk dilakukan penambahan bahan-bahan
tambahan lainnya untuk memperbaiki aroma dan warna.

6.2.3 Karakteristik Sediaan Sabun Cair


1. Pendahuluan
Sediaan sabun cair yang telah dibuat kemudian perlu diketahui
karakteristik sediaan untuk melihat apakah kualitas sediaan sabun tersebut sudah
memenuhi standar sesuai yang berlaku di Indonesia. Standar yang digunakan
yakni Standar Nasional Indonesia (1996), oleh Badan Standarisasi Nasional.
2. Gambaran Umum Pengambilan Data Penelitian
Data evaluasi sediaan sabun cair didapatkan dari evaluasi sediaan sabun
cair, meliputi aspek organoleptis, kelarutan, pH, viskositas, bobot jenis, aktivitas
antibakteri.
3. Hasil Penelitian yang Ditemukan
Berdasarkan uji hedonik (kesukaan), kelarutan, viskositas, aktivitas
antibakteri, diperoleh sediaan terbaik yakni sediaan F3, sedangkan untuk uji pH
dan bobot jenis tidak berbeda nyata antar sediaan.
4. Proses Analisis Data Penelitian
Data uji hedonik dianalisis menggunakan perhitungan persentase kesukaan
yang kemudian digambarkan melalui diagram tiap aspek, yaitu: bentuk (Gambar
6.1), warna (Gambar 6.2), bau (Gambar 6.3), hogenitas (Gambar 6.4), banyak
busa (Gambar 6.5), kenyamanan di kulit (Gambar 6.6). Data kelarutan (Tabel 6.8,
6.9), data pH (Tabel 6.11. 6.12), data viskositas (Tabel 6.14, 6.15), data bobot
jenis (Tabel 6.17, 6.18), menggunakan program SPSS (Statistical Product of
Service Solution) for Windows versi 21.0. Data aktivitas antibakteri dianalisis
mengguanakan diagram perbandingan tiap formula.
5. Hasil dan Pembahasan
Sabun cuci tangan cair yang dihasilkan, dilakukan uji hedonik (kesukaan)
pada 20 orang. Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaaan
konsumenterhadap sabun cair yang dihasilkan. Pada uji hedonik ini, panelis
diminta untuk mengungkapkan tanggapan tentang tingkat kesukaannya terhadap
produk sabun cair yang dihasilkan. Pengujian yang dilakukan berupa uji kesukaan
terhadap bentuk, warna, bau, homogenitas, banyak busa, dan kenyamanan di kulit
a. Uji Hedonik
1) Bentuk Sediaan

45%
40% sangat tidak suka
35% tidak suka
30% agak tidak suka
25% netral
20%
agak suka
15%
suka
10%
sangat suka
5%
0%
F1 F2 F3
Gambar 6.1 Diagram Uji Hedonik Aspek Bentuk Sediaan
Data Gambar 6.1 menunjukkan uji hedonik terhadap bentuk sabun cair,
didapatkan bahwa dari 20 panelis yang melakukan uji ini 35% menunjukkan
respon netral terhadap sediaan F1, 35% menunjukkan respon netral dan agak suka
terhadap sediaan F2, 45% menunjukkan respon agak suka terhadap F3.
Berdasarkan uji Friedman, maka diperoleh nilai Asymp. Sig 0,000 (p <
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan nyata tiap sediaan. Nilai
rata-rata yang diperoleh menunjukkan bahwa kesukaan panelis terhadap bentuk
sediaan yakni secara berurut F3, F2, F1. Maka, dari ketiga formula yang dibuat,
maka didapatkan bahwa sediaan F3 lebih unggul dari sediaan lainnya.
2) Warna Sediaan

50%
45% sangat tidak suka
40% tidak suka
35%
30% agak tidak suka
25% netral
20% agak suka
15%
10% suka
5% sangat suka
0%
F1 F2 F3

Gambar 6.2 Diagram Uji Hedonik Aspek Warna Sediaan


Data Gambar 6.2 menunjukkan uji hedonik terhadap warna sabun cair,
didapatkan bahwa dari 20 panelis yang melakukan uji ini 50% menunjukkan
respon tidak suka terhadap sediaan F1, 35% menunjukkan respon tidak suka
terhadap sediaan F2, 35% menunjukkan respon agak tidak suka terhadap F3.
Berdasarkan uji Friedman, maka diperoleh nilai Asymp. Sig 0,018 (p <
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan nyata tiap sediaan. Nilai
rata-rata yang diperoleh menunjukkan bahwa kesukaan panelis terhadap warna
sediaan yakni secara berurut F3, F2, F1. Maka, dari ketiga formula yang dibuat,
maka didapatkan bahwa sediaan F3 lebih unggul dari sediaan lainnya.
3) Bau Sediaan

45% sangat tidak suka


40%
35% tidak suka
30% agak tidak suka
25% netral
20%
15% agak suka
10% suka
5%
0% sangat suka
F1 F2 F3

Gambar 6.3 Diagram Uji Hedonik Aspek Bau Sediaan


Data Gambar 6.3 menunjukkan uji hedonik terhadap bau sabun cair,
didapatkan bahwa dari 20 panelis yang melakukan uji ini 30% menunjukkan
respon agak tidak suka dan netral terhadap sediaan F1, 45% menunjukkan respon
agak tidak suka terhadap sediaan F2, 35% menunjukkan respon agak tidak suka
terhadap F3.
Berdasarkan uji Friedman, maka diperoleh nilai Asymp. Sig 0,041 (p <
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan nyata tiap sediaan. Nilai
rata-rata yang diperoleh menunjukkan bahwa kesukaan panelis terhadap bau
sediaan yakni secara berurut F3dan F1 memiliki nilai mean yang sama, kemudian
nilai mean F2. Maka, dari ketiga formula yang dibuat, maka didapatkan bahwa
sediaan F3dan F1 lebih unggul dari sediaan lainnya.
4) Homogenitas Sediaan
45% sangat tidak suka
40%
35% tidak suka
30% agak tidak suka
25%
netral
20%
15% agak suka
10% suka
5% sangat suka
0%
F1 F2 F3

Gambar 6.4 Diagram Uji Hedonik Aspek Homogenitas Sediaan


Data Gambar 6.4 menunjukkan uji hedonik terhadap homogenitas sabun
cair, didapatkan bahwa dari 20 panelis yang melakukan uji ini 35% menunjukkan
respon tidak suka terhadap sediaan F1, 35% menunjukkan respon agak suka
terhadap sediaan F2, 45% menunjukkan respon suka terhadap F3.
Berdasarkan uji Friedman, maka diperoleh nilai Asymp. Sig 0,000 (p <
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan nyata tiap sediaan. Nilai
rata-rata yang diperoleh menunjukkan bahwa kesukaan panelis terhadap
homogenitas sediaan yakni secara berurut F3, F1, F2.. Maka, dari ketiga formula
yang dibuat, maka didapatkan bahwa sediaan F3 lebih unggul dari sediaan
lainnya.
5) Banyak Busa Sediaan
40% sangat tidak suka
35%
30% tidak suka
25% agak tidak suka
20% netral
15% agak suka
10% suka
5%
sangat suka
0%
F1 F2 F3

Gambar 6.5 Diagram Uji Hedonik Aspek Banyak Busa Sediaan


Data Gambar 6.5 menunjukkan uji hedonik terhadap banyak busa sabun
cair, didapatkan bahwa dari 20 panelis yang melakukan uji ini 35% menunjukkan
respon netral terhadap sediaan F1, 25% menunjukkan respon tidak suka dan netral
terhadap sediaan F2, 40% menunjukkan respon suka terhadap F3.
Berdasarkan uji Friedman, maka diperoleh nilai Asymp. Sig 0,000 (p <
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan nyata tiap sediaan. Nilai
rata-rata yang diperoleh menunjukkan bahwa kesukaan panelis terhadap banyak
busa sediaan yakni secara berurut F3, F2, F1. Maka, dari ketiga formula yang
dibuat, maka didapatkan bahwa sediaan F3 lebih unggul dari sediaan lainnya.
6) Kenyamanan di Kulit

35%
sangat tidak suka
30%
25% tidak suka
20% agak tidak suka
15% netral
10% agak suka
5% suka
0% sangat suka
F1 F2 F3

Gambar 6.6 Diagram Uji Hedonik Aspek Kenyamanan di Kulit


Data Gambar 6.6 menunjukkan uji hedonik terhadap kenyamanan di kulit
konsumen, didapatkan bahwa dari 20 panelis yang melakukan uji ini 25%
menunjukkan respon agak suka terhadap sediaan F1, 25% menunjukkan respon
suka terhadap sediaan F2, 35% menunjukkan respon suka terhadap F3.
Berdasarkan uji Friedman, maka diperoleh nilai Asymp. Sig 0,000 (p <
0,05), maka dapat disimpulkan bahwa adanya perbedaan nyata tiap sediaan. Nilai
rata-rata yang diperoleh menunjukkan bahwa kesukaan panelis terhadap
kenyamanan di kulit yakni secara berurut F3, F1, F2. Maka, dari ketiga formula
yang dibuat, maka didapatkan bahwa sediaan F3 lebih unggul dari sediaan
lainnya.
b. Uji Kelarutan
Tabel 6.3 Tabel Hasil Uji Kelarutan Sediaan
Formula Waktu Larut
R1 R2 R3
F1 4 jam 4 jam 3 jam
F2 3 jam 2 jam 2 jam
F3 1 jam 1 jam 1 jam
Tabel 6.4 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk Kelarutan Sediaan

Sum of Squares df Mean Square F Siq.


Between Groups 13,556 2 6,778 15,250 ,004
Within Groups 2,667 6 ,444
Total 16,222 8
Tabel 6.5 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk Kelarutan
Sediaan
Kelarutan N Subset for Alpha = 0.05
1 2 3
F1 3 1,0000
F2 3 2,3333
F3 3 4.0000
Sig. 1,000 1,000 1,000
Uji kelarutan yang dimaksud adalah kemampuan melarutnya seluruh
bahan. Pengujian karakteristik kelarutan sediaan bertujuan untuk melihat
kemampuan seluruh bahan dapat terlarut secara visual. Dari hasil data statistika
(Tabel 6.8) menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) dengan nilai
signifikasi adalah 0,004. Kemudian dilanjutkan dengan uji Lanjutan BNJD dengan
hasil yang didapatkan ketiga formula menempati subset yang berbeda-beda. Data
Tabel 6.9 menunjukkan bahwa secara berurut tingkat kelarutan paling rendah
hingga paling tinggi adalah sediaan F1, F2, F3. Maka, didapatkan bahwa adanya
pengaruh kelarutan sediaan dengan peningkatan konsentrasi surfaktan SLS.
Semakin tinggi konsentrasi SLS maka semakin cepat melarutnya seluruh bahan
tersebut. Hal ini dikarenakan SLS memiliki gugus lipofilik dan hidrofilik sehingga
dapat mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak. Semakin banyak
SLS yang ditambahkan, maka semakin banyak pula gugus lipofilik dan gugus
hidrofilik dalam sediaan, sehingga akan semakin mudah melarutnya sediaan
tersebut.
c. Uji pH Sediaan

Formula pH
R1 R2 R3
F1 4,71 4,85 4,96
F2 4,57 4,46 4,91
F3 4,64 4,48 4,80
Tabel 6.7 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk pH Sediaan

Sum of Squares df Mean Square F Siq.


Between Groups 0,77 2 0,39 1,206 ,363
Within Groups ,193 6 0,32
Total ,270 8

Tabel 6.8 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk pH Sediaan
Formula N Subset for Alpha = 0.05
1
F1 3 4,6400
F2 3 4,6467
F3 3 4,8400
Sig. ,234
Uji pH sediaan adalah pengujiaan untuk menyatakan tingkat keasamaan
yang dimiliki sediaan sabun cair. Dari hasil data statistika Tabel 6.11
menunjukkan adanya perbedaan yang tidak signifikan (p>0,05) dengan nilai
signifikasi adalah 0,363. Pembuktian dengan uji Lanjutan BNJD dengan hasil
yang didapatkan ketiga formula menempati satu subset yang sama. Data Tabel
6.12 menunjukkan bahwa pH sediaan yang dihasilkan tidak berbeda signifikan
antar sediaan, maka adanya peningkatan konsentrasi SLS tidak mempengaruhi pH
sediaan. Menurut SNI (1996) persyaratan mutu sabun cair yang baik memiliki pH
6-8, sedangkan hasil sediaan sabun cair yang dibuat memiliki rentang pH 4,5-4,9,
sehingga dapat disimpulkan bahwa pH sediaan berada di bawah standar SNI.
d. Uji Viskositas Sediaan
Tabel 6.9 Tabel Hasil Uji Viskositas Sediaan
Formula Viskositas Sediaan
R1 R2 R3
F1 3.637 cp 2.960 cp 3.097 cp
F2 6.935 cp 8.652 cp 7.200 cp
F3 9.593 cp 11.074 cp 25.025 cp
Tabel 6.10 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk Viskositas Sediaan
Sum of Squares df Mean Square F Siq.
Between Groups 221,325 2 110,662 4,518 ,064
Within Groups 146,955 6 24,493
Total 368,280 8
Tabel 6.11 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk Viskositas
Sediaan
Formula N Subset for Alpha = 0.05
1 2
F1 3 3,2313
F2 3 7,5957 7,5957
F3 3 15,2307
Sig. ,322 ,108
Uji viskositas sediaan adalah pengujian kekentalan (hambatan aliran cairan)
sediaan sabun cair. Dari hasil data statistika Tabel 6.11 menunjukkan adanya
perbedaan yang tidak signifikan (p>0,05) dengan nilai signifikasi adalah 0,064.
Pembuktian dengan uji Lanjutan BNJD dengan hasil yang didapatkan F1 dan F2
memiliki nilai tengah yang sama, F2 dan F3 memiliki nilai tengah yang sama.
Rata-rata viskositas sedian secara berurut dari F1, F2, F3, yakni 3231,3cp,
7595,6cp, 15230,6cp. Maka dengan peningkatan SLS akan menyebabkan
peningkatan viskositasnya, semakin tinggi konsentrasi SLS yang ditambahkan
maka nsemakin tinggi pula viskositas yang dihasilkan. Menurut SNI (1996)
viskositas sabun cair berkisar antara 500-20.000 cp, sehingga sabun cair yang
dihasilkan sesuai dengan persyaratan SNI.
e. Uji Bobot Jenis Sediaan
Tabel 6.12 Tabel Hasil Uji Bobot jenis Sediaan
Volme Pikno Kosong Pikno Berisi Bobot
Formula Replikasi Jenis
(mL) (g) (g)
(g/mL)
R1 5 12,8187 19,5860 1,3534
F1 R2 5 12,8187 19,5479 1,3458
R3 5 12,8187 19,5130 1,3388
R1 5 12,8187 19,4706 1,3303
F2 R2 5 12,8187 19,5846 1,3531
R3 5 12,8187 19,5691 1,3500
R1 5 12,8187 19,5436 1,3449
F3 R2 5 12,8187 19,6568 1,3676
R3 5 12,8187 19,6803 1,3723
R1 5 12,8187 18,6627 1,1688
Aquadest R2 5 12,8187 18,5968 1,1556
R3 5 12,8187 18,6169 1,1596

Tabel 6.13 Tabel Hasil Analisis Anava Satu Arah untuk Bobot Jenis Sediaan
Sum of Squares df Mean Square F Siq.
Between Groups ,001 2 ,000 1,922 ,226
Within Groups ,001 6 ,000
Total ,001 8

Tabel 6.14 Hasil Uji Lanjutan BNJD (Beda Nyata Jujur Duncan) untuk Bobot
Jenis Sediaan
Formula N Subset for Alpha = 0.05
1
F1 3 1,3445
F2 3 1,3450
F3 3 1,3616
Sig. ,138
Uji bobot jenis sediaan adalah pengujiaan untuk melihat kerapatan suatu
sediaan sabun cair.Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah suatu zat telah
bercampur dengan zat lainnya atau tidak, dengan kata lain, untuk mengetahui
kemurnian suatu zat. Dari hasil data statistika Tabel 6.17 menunjukkan adanya
perbedaan yang tidak signifikan (p>0,05) dengan nilai signifikasi adalah 0,226.
Pembuktian dengan uji Lanjutan BNJD dengan hasil yang didapatkan ketiga
formula menempati satu subset yang sama. Data Tabel 6.18 menunjukkan bahwa
bobot sediaan yang dihasilkan tidak berbeda signifikan antar sediaan, maka
adanya peningkatan konsentrasi SLS tidak mempengaruhi bobot jenis sediaan.
Menurut SNI (1996) persyaratan mutu sabun cair yang baik memiliki bobot jenis
1,01 g/mL - 1,10 g/mL sedangkan hasil sediaan sabun cair yang dibuat memiliki
bobot jenis 1,3 g/mL sehingga dapat disimpulkan bahwa bobot jenis sediaan
berada di atas standar SNI.

f. Evaluasi Aktivitas Antibakteri Sediaan


Tabel 6.15 Tabel Hasil Evaluasi Aktivitas Antibakteri Sediaan Sabun Cair
Diametr Zona Bening (mm)
Formula Staphylococcus aureus Escherichia coli
R1 R2 R3 R1 R2 R3
F1 1,6765 1,9430 1,2035 0,6380 0,3067 0,3448
F2 2,4300 2,7560 2,4320 1,5125 0,9100 0,9125
F3 3,7941 3,7488 3,3702 1,3200 1,2858 1,0540

Gambar 6.7 Grafik Aktivitas Antibakteri Sediaan Terhadap Bakteri


Staphylococcus aureus
Gambar 6.8 Grafik Aktivitas Antibakteri Sediaan Terhadap Bakteri
Escherichia coli
Uji aktivitas antibakteri adalah pengujian sediaan sabun cair dalam
membunuh bakteri, dalam penelitian ini terhadap bakteri Staphylococcus aureus
dan Escherichia coli. Pengujian ini dilakukan terhadap basis saja dan basis dengan
ekstrak, sehingga diperoleh zona bunuh pada basis tiap formulasi dan sediaan tiap
fomulasi. Nilai pengukuran diamater zona bunuh diperoleh dari selisih diameter
zona bunuh sediaan dengan diameter zona bunuh basis saja. Uji aktivitas
antibakteri sediaan sabun cair menunjukkan bahwa adanya daya bunuh pada
setiap formulasi sediaan akan meningkat dengan penambahan konsentrasi SLS
pada sediaan. Zona bening tertinggi terdapat pada F3. Hal ini menunjukkan bahwa
adnya pengaruh dari penambahan SLS. SLS dapat meningkatkan daya bunuh dari
sediaan, namun jika ditingkatkan terus menerus maka SLS dapat menimbulkan
iritasi. Oleh sebab itu, SLS yang diperbolehkan hanya yang maksimal
diperbolehkan saja.
6. Kesimpulan Hasil Penelitian dan Saran
Berdasarkan uji hedonik (kesukaan), kelarutan, viskositas, aktivitas
antibakteri, diperoleh sediaan terbaik yakni sediaan F3, sedangkan untuk uji pH
dan bobot jenis tidak berbeda nyata antar sediaan. Saran untuk penelitian
selanjutnya diberikan bahan tambahan untuk memperbaiki estetika sediaan, dan
penambahan bahan untuk peningkatan pH dan viskositas sediaan agar sesuai SNI.
BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN PENELITIAN

7.1. Kesimpulan Penelitian

7.1.1. Kesimpulan Umum

Ekstrak buah Libo (Ficus variegata, Blume) memiliki aktivitas sebagai


antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dan dapat
diaplikasikan pada sediaan sabun cair bahan alam.

7.1.2. Kesimpulan Khusus

a. Konsentrasi daya hambat ekstrak buah Libo terhadap bakteri Escherichia


coli dan Staphylococcus aureus terbesar yakni pada konsentrasi 10%.
b. Komposisi sabun cair dari ekstrak buah Libo, yakni ekstrak buah Libo (F.
variegata, Blume), Tween 20, SLS, NaCl, propilenglikol dan aquadest.
c. Karakteristik sabun cair berdasarkan aspek kesukaan, kelarutan, viskositas,
aktivitas antibakteri, diperoleh sediaan terbaik yakni sediaan F3,
sedangkan untuk evaluasi pH dan bobot jenis tidak berbeda nyata antar
sediaan.
7.1.3. Saran Penelitian

a. Perlu dilakukan variasi konsentrasi lainnya untuk mengetahui konsentrasi


terbaik dari ekstrak buah Libo (Ficus variegata, Blume).
b. Perlu dilakukan penambahan bahan-bahan tambahan lainnya agar
dihasilkan sediaan yang baik secara visual.
c. Perlu diberikan bahan tambahan untuk memperbaiki estetika sediaan, dan
penambahan bahan untuk peningkatan pH dan viskositas sediaan agar
sesuai SNI sabun cair.
BAB VIII
IMPLIKASI HASIL PENELITIAN

Implikasi dari hasil penelitian ini yakni ekstrak buah Libo (Ficus
variegata, Blume) dapat digunakan sebagai bahan aktif yang bersifat antibakteri
terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli sehingga dapat
diaplikasikan sebagai bahan aktif sediaan sabun cair bahan alam. Oleh sebab itu,
potensi buah Libo (F. variegata, Blume) dinilai sangat besar karena memiliki
kegunaan yang besar, sehingga perlu pembudidayaan tanaman buah Libo (F.
variegata, Blume), sehingga bahan baku buah Libo (F. variegata, Blume) dapat
tersedia secara luas dan dapat dimanfaatkan secara luas pula.
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, Siti. 2011. Produksi Surfaktan Alkil Poliglikosida (APG) Dan Aplikasinya
Pada Sabun Cuci Tangan Cair. Tesis Sekolah Pasca Sarjana Institut
Pertanian Bogor.

Akhyar, 2010. Uji Daya Hambat dan Analisis KLT Bioautografi Ekstrak Akar
dan Buah Bakau (Rhizophora stylosa Griff.) terhadap Vibrio harveyi.
Skripsi. Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin. Makasar.

Amato, S.W. 2007. Surfactants for Nail Care. Surfactant in Personal Care
Products and Decorative Cosmetics. Third Editions. New York: CRC
Press.

Anggraeni, Merry Dwi. 2012. Uji Disinfeksi Bakteri Escherichia coli


Menggunakan Kavitasi Water Jet. Skripsi Fakultas Teknik.
Universitas Indonesia.

Anggraini, Deni, Wiwik S.R, Masril M. 2012. Formulasi Sabun Cair dari Ekstrak
Batang Nanas (Ananas comosus, L) untuk Mengatasi Jamur Candida
albicans. Jurnal Penelitian Farmasi Indonesia 1 (1). ISSN: 2302-187X.

Badan Standarisasi Nasional. 1996. Standar Sabun Mandi Cair. SNI 06-
4085-1996. Dewan Standarisasi Nasional. Jakarta.

Breed, R.S. Murray E.G.D dan Smith N.R. 1957. Bergeys Manual of
Determinative Bacteriology. Seventh Edition. USA: The Williams
and Wil Kins Company.

Cavalieri, S.J, I.D Ranklin, R.J Harbeck, R.S Sautter, Y.S McCarter, S.E
Sharp, J.H Ortez dan C.A Spiegel. 2005. Manual of Antimicrobial
Susceptibility Testing. American Society for Microbiology, USA.

Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen


Kesehatan RI. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 1985. Cara Pembuatan Simplisia. Departemen


Kesehatan RI: Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi VI. Departemen Kesehatan RI:
Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 1986. Sediaan Galenik. Departemen Kesehatan RI : Jakarta.


Departemen Kesehatan RI, 2000. Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat
Tradisional, Cetakan I. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat & Makanan.
Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Djide, N., dan Sartini, 2008, Analisis Mikrobiologi Farmasi. Fakultas Farmasi
Universitas Hasanuddin. Makassar.

Ganiswara, 1995. Farmakologi dan Terapi Edisi IV. Universitas Indonesia.


Jakarta.

Gibson, J.M. 1996. Mikrobiologi dan Patologi untuk Perawat. EGC: Jakarta.

Haryjanto, Liliek dan Yayan Hadiyan. 2014. Eksplorasi Benih Nyawai (Ficus
variegata, Blume) di Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Kutai Barat,
Kalimantan Timur. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan
Tanaman Vol. 15 No 2, Yogyakarta.

Hyland, B. P. M.; Whiffin, T.; Zich, F. A. et al. (Dec 2010). "Factsheet Ficus
variegata". Australian Tropical Rainforest Plants. Edition 6.1, online
version [RFK 6.1]. Cairns, Australia: Commonwealth Scientific and
Industrial Research Organisation (CSIRO), through its Division of Plant
Industry; the Centre for Australian National Biodiversity Research; the
Australian Tropical Herbarium, James Cook University.

Karch H. 2001. The Role of VirulanceFactors in Enterohemorrhagic Escherichia


Coli (EHEC) Associated HemolyticUremic Syndrome. Semin. Thromb.
Hemost.

Kusmayati dan Agustini, N.W.R. 2007. Uji Aktivitas Senyawa Antibakteri dari
Mikroalga (Porphyridium cruentum). Biodiversitas. 8(1).

Jawets, Melnick & Adelberg. 2000. Mikrobiologi Kedokteran Edisi 20.


Universitas Indonesia: Jakarta.

Madigan M.T, Martinko J.M, Parker J. 2000. Brock Biology of Mircoorganisms


th
9 Edition. Prentice-Hall Inc, New Jersey.
Martin,A. Bustamante, P. Chun, A.H.C. 1993. Physical Pharmacy: Physical
Chemical Principles in the Pharmaceutical Science, Fourth Edition. Lea &
Febiger. Philadelphia.

Michael I.M dan Ann Reid. 2011. Faq: E.Coli: Good, Bad, Deadly. American
Academy of Microbiology: Washington DC.
Mukhriani. 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa dan Identifikasi Senyawa Aktif.
Jurnal Kesehatan Vol. VII No. 2 : Makassar.

Mulyadi, Wuryanti, Purbowatiningrum Ria S. 2013. Konsentrasi Hambat


Minimum (KHM) Kadar Sampel Alang-Alang (Imperata cylindrica) Dalam
Etanol Melalui Metode Difusi Cakram. Chem Info. Volume 1 No.1,
Universitas Diponegoro Semarang.

Nuria, M.C, Faizatun A, Sumantri. 2009. Uji Antibakteri Ekstrak EtanolDaun


Jarak Pagar (Jatropha cuircas, L) Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus
ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 25922, dan Salmonella typhi ATCC
1408. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian, 5:26-37.

Perdana F.K dan Hakim I. 2001. Pembuatan Sabun Cair dari Minyak Jarak dan
Soda Q Sebagai Upaya Meningkatkan Pangsa Pasar Soda Q. Jurnal
Pengolahan Hasil Pertanian 11:77-82.

Pratiwi, T. S., 2008. Mikrobiologi Farmasi, 18, 154-160. Penerbit Erlangga:


Jakarta.
th
Prescott, et al. 2008. Microbiology 7 edition. USA: McGraw-Hill Book
Company.

th
Rieger, M.M. 2000. Harrys Cosmetology 8 ed, 431-432, 446-448, Chemical
Publishing Co. Inc, New York.

Rijai, Laode. 2013. Potensi Tumbuhan Libo (Ficus variegata Blume) Sebagai
Sumber Bahan Farmasi Potensial. J. Trop. Pharm. Chem. 2.

Rowe, raymond C, dkk. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipient Sixth


Edition. American Pharmacists Association.

Santosa, Christin Marganingsih dan Triani Hertiani. 2005. Kandungan Senyawa


Kimia dan Efek Ekstrak Air Daun Bangun-Bangun (Coleus amboinicus,
L.) Pada Aktivitas Fagositosis Netrofil Tikus Putih (Rattus novergicus).
Majalah Farmasi Indonesia 16 (3).

Sirait, M. 2007. Penuntun Fitokimia Dalam Farmasi. Bandung: Penerbit ITB.

Songer J.G dan Post K.W. 2005. Veterinary Microbiology: Bacterial and Fungal
Agent of Animal Disease. USA: Elsevier Ssunders.

Sulistyo. 1971. Farmakologi dan Terapi. EKG: Jakarta.


Sumardjo, D. 2009. Pengantar Kimia. Cetakan I. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta.

Syarif, Amir, Purwantyastuti Ascobat, Ari Estuningtyas, Rianto Setiabudy, Arini


Setiawati, Armen Muchtar, et al. 2007. Farmakologi dan terapi. Edisi 5.
Gaya Baru: Jakarta.
th
Tizard I.R. 2004. Veterinary Immunology an Introduction. 7 Ed. USA: Saunders.

Todar, K. 2008. Staphylococcus aureus and Staphylococal Disease. USA:


Wisconsin, Madison.

Trisnayanti, K.A. 2003. Daya Hambat Ekstrak Temu Putri (Curcuma petiola
Roxb.) pada Beberapa Bakteri Gram Negatif. Skripsi Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana.

Voight, R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi 5. Gajah Mada


University Press: Yogyakarta.

Warsa, U.C. 1994. Staphylococcus dalam Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran.


Edisi Revisi. Jakarta : Penerbit Binarupa Aksara.

Wayan FA, Betta K. 2015. Binahong (Cassia alata, L) As Inhibitor of Escherichia


coli Growth. J Majority. Vol. 4 No. 4.

Wildan Nur Fadlila, et al, 2015. Identifikasi Senyawa Aktif Antibakteri dengan
Metode Biautografi KLT Terhadap Ekstrak Etanol Tangkai Daun Talas
(Colocasia Esculenta (L) Schott). Prosiding Penelitian Spesia UNISBA.
ISSN 2460-6472.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Data Hasil Uji Praformulasi
1. Aktivitas Antibakteri Ekstrak

Konsentrasi Replikasi Rata Rata Jumlah


1 2 3
Escherichia coli
5% 9,4317 8,8650 6,6632 8,3199 24,9599
7% 11,6275 8,9247 9,2107 9,9209 29,7629
10 % 10,2557 13,2687 9,1940 10,9061 32,7184
13 % 9,4667 9,0010 8,0260 8,8312 24,4937
15 % 8,7775 7,8667 7,6785 8,1075 24,3227
Staphylococcus aureus
5% 8,1440 10,1700 9,5795 9,2978 27,8935
7% 9,5645 11,4750 9,7877 10,2757 30,8272
10 % 10,2537 12,1237 10,2190 10,8654 32,5964
13 % 9,5325 8,6805 7,5077 8,5735 25,7207
15 % 8,7885 8,5532 7,3860 8,2425 24,7277

Lampiran 2. Formulasi Sabun Cair


a. Formula Sabun Cair

Komposisi F1 F2 F3
Ekstrak Buah Libo 10% 10% 10%
SLS 5% 7,5% 10%
Tween 20 10% 10% 10%
NaCl 10% 10% 10%
Propilenglikol 5% 5% 5%
Aquadest ad 100% ad 100% ad 100%

b. Perhitungan Bahan
1) Formula 1
Ekstrak = 25 mL = 2,5 g

Tween 20 =
25 mL = 2,5 g

SLS =
25 mL = 1,25 g

PG =
25 mL = 1,25 g

NaCl =
25 mL = 2,5 g

Aquadest ad 25 mL.
2) Formula 2
Ekstrak = 25 mL = 2,5 g

Tween 20 =
25 mL = 2,5 g

SLS =
25 mL = 1,875 g

PG =
25 mL = 1,25 g

NaCl =
25 mL = 2,5 g

Aquadest ad 25 mL.
3) Formula 3
Ekstrak = 25 mL = 2,5 g

Tween 20 =
25 mL = 2,5 g

SLS =
25 mL = 2,5 g

PG =
25 mL = 1,25 g

NaCl =
25 mL = 2,5 g

Aquadest ad 25 mL
Lampiran 3 Evaluasi Sediaan Sabun Cair

1. Uji Hedonik
a. Uji Hedonik
Skala:
1 = sangat tidak suka
2 = tidak suka
3 = agak tidak suka
4 = netral
5 = agak suka
6 = suka
7 = sangat suka
1) Bentuk
Panelis Formula
1 2 3
1 4 4 5
2 4 3 4
3 4 3 5
4 5 5 6
5 4 4 5
6 4 4 5
7 5 5 6
8 5 5 5
9 4 4 4
10 4 4 4
11 5 5 5
12 5 5 5
13 3 4 5
14 5 4 2
15 3 3 6
16 6 6 6
17 3 5 5
18 3 5 6
19 2 2 2
20 1 1 2
Perhitungan:
a) Formula A
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 5 %

(2) Tidak suka =


100 % = 5 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 20 %

(4) Netral =
100 % = 35 %
(5) Agak suka = 100 % = 30 %

(6) Suka =
100 % = 5 %

b) Formula B

(1) Sangat tidak suka = 100 % = 5 %

(2) Tidak suka =


100 % = 5 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 15 %

(4) Netral =
100 % = 35 %

(5) Agak suka =


100 % = 35 %

(6) Suka =
100 % = 5 %

c) Formula C
(2) Tidak suka = 100 % = 15 %

(4) Netral =
100 % = 15 %

(5) Agak suka =


100 % =45 %

(6) Suka =
100 % = 25 %

Uji Statistika (Friedman Test):

Test Statistics
Ranks a
Mean Rank N 20
F1 1,60 Chi-Square 21,500
F2 1,75 df 2
F3 2,65 Asymp. Sig. ,000
2) Warna a. Friedman Test

Panelis Formula
1 2 3
1 3 3 4
2 2 2 2
3 3 3 3
4 2 2 2
5 3 3 4
6 3 3 4
7 3 3 3
8 2 2 3
9 2 2 2
10 2 2 2
11 3 3 3
12 2 2 2
13 2 2 2
14 3 3 3
15 4 6 2
16 5 5 5
17 3 3 3
18 2 2 2
19 2 2 5
20 2 2 3

Perhitungan :
a) Formula A
(2) Tidak suka = 100 % = 50 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 40 %

(4) Netral =
100 % = 5 %

(5) Agak suka =


100 % = 5 %

b) Formula B
(2) Tidak suka = 100 % = 50 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 40 %

(5) Agak suka =


100 % = 5 %

(6) Suka =
100 % = 5 %

c) Formula C
(2) Tidak suka = 100 % = 40 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 35 %

(4) Netral =
100 % = 15 %

(5) Agak suka =


100 % = 10 %
Uji Statistika (Friedman Test):

Test Statistics
Ranks a
Mean Rank N 20
F1 1,80 Chi-Square 8,000
F2 1,95 df 2
F3 2,25 Asymp. Sig. ,018
3) Bau a. Friedman Test

Panelis Formula
1 2 3
1 2 3 3
2 1 1 2
3 2 2 5
4 3 3 3
5 3 3 3
6 2 2 2
7 3 3 3
8 3 3 3
9 3 3 3
10 4 3 3
11 4 4 4
12 4 4 4
13 4 4 4
14 4 3 4
15 4 1 1
16 6 6 6
17 5 5 5
18 1 1 1
19 1 1 1
20 3 3 2

Perhitungan
a) Formula A
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 15 %

(2) Tidak suka =


100 % = 15 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 30 %

(4) Netral =
100 % = 30 %
(5) Agak suka = 100 % = 5 %

(6) Suka =
100 % = 5 %

b) Formula B
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 20 %

(2) Tidak suka =


100 % = 10 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 45 %

(4) Netral =
100 % = 15 %

(5) Agak suka =


100 % = 5 %

(6) Suka =
100 % = 5 %

c) Formula C
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 15 %

(2) Tidak suka =


100 % = 15 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 35 %

(4) Netral =
100 % = 20 %

(5) Agak suka =


100 % = 10 %

(6) Suka =
100 % = 5 %

Uji Statistika (Friedman Test):

Test Statistics
Ranks a
Mean Rank N 20
F1 2,10 Chi-Square 6,400
F2 1,80 df 2
F3 2,10 Asymp. Sig. ,041
a. Friedman Test

3) Homogenitas
Panelis Formula
1 2 3
1 2 3 4
2 4 4 4
3 4 5 6
4 4 4 5
5 2 2 5
6 2 2 5
7 5 5 6
8 5 5 5
9 5 5 6
10 5 5 6
11 5 5 6
12 2 2 2
13 2 2 6
14 6 5 5
15 2 2 6
16 6 6 6
17 4 3 4
18 7 7 7
19 2 2 6
20 1 1 2

Perhitungan
b) Formula A
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 5 %

(2) Tidak suka =


100 % = 35 %

(4) Netral =
100 % = 20 %

(5) Agak suka =


100 % = 25 %

(6) Suka =
100 % = 10 %

(7) Sangat suka =


100 % = 5 %

b) Formula B
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 5 %

(2) Tidak suka =


100 % = 30 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 10 %

(4) Netral =
100 % = 10 %

(5) Agak suka =


100 % = 35 %

(6) Suka =
100 % = 5 %

(7) Sangat suka =


100 % = 5 %

c) Formula C
(2) Tidak suka = 100 % = 10 %

(4) Netral =
100 % = 15 %

(5) Agak suka =


100 % = 25 %
(6) Suka = 100 % = 45 %

(7) Sangat suka =


100 % = 5 %

Uji Statistika (Friedman Test):

a Ranks
Test Statistics
N 20 Mean Rank
Chi-Square 30,259 F1 1,60
df 2 F2 1,58
Asymp. Sig. ,000 F3 2,83
a. Friedman Test

4) Banyak busa
Panelis Formula
1 2 3
1 5 4 5
2 1 2 5
3 1 2 5
4 4 4 4
5 4 4 4
6 2 2 4
7 4 4 6
8 5 6 6
9 4 2 7
10 4 2 5
11 5 6 6
12 3 3 4
13 4 5 6
14 3 6 7
15 3 5 6
16 3 6 6
17 3 5 6
18 1 5 6
19 1 1 3
20 4 4 4
Perhitungan
a) Formula A
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 20 %

(2) Tidak suka =


100 % = 5 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 25 %
(4) Netral = 100 % = 35 %

(5) Agak suka =


100 % = 15 %

b) Formula B
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 5 %

(2) Tidak suka =


100 % = 25 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 5 %

(4) Netral =
100 % = 25 %

(5) Agak suka =


100 % = 20 %

(6) Suka =
100 % = 20 %

c) Formula C
(3) Agak tidak suka = 100 % = 5 %

(4) Netral =
100 % = 25 %

(5) Agak suka =


100 % = 20 %

(6) Suka =
100 % = 40 %

(7) Sangat suka =


100 % = 10 %

Uji Statistika (Friedman Test):

Test Statistics
Ranks a

Mean Rank N 20
F1 1,18 Chi-Square 35,041
F2 1,88 df 2
F3 2,95 Asymp. Sig. ,000
a. Friedman Test

5) Kenyamanan di kulit
Panelis Formula
1 2 3
1 2 2 2
2 4 4 4
3 5 6 6
4 4 4 4
5 2 2 2
6 2 2 4
7 5 5 6
8 5 3 4
9 6 6 6
10 4 2 6
11 3 3 3
12 4 3 4
13 6 6 6
14 3 6 7
15 3 3 3
16 6 6 6
17 3 5 6
18 2 1 5
19 1 1 1
20 5 5 5
Perhitungan
a) Formula A
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 5 %

(2) Tidak suka =


100 % = 15 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 20 %

(4) Netral =
100 % = 20 %

(5) Agak suka =


100 % = 25 %

(6) Suka =
100 % = 15 %

b) Formula B
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 10 %

(2) Tidak suka =


100 % = 20 %

(3) Agak tidak suka =


100 % = 20 %

(4) Netral =
100 % = 10 %

(5) Agak suka =


100 % = 15 %

(6) Suka =
100 % = 25 %

c) Formula C
(1) Sangat tidak suka = 100 % = 5 %

(2) Tidak suka =


100 % = 10 %
(3) Agak tidak suka = 100 % = 10 %

(4) Netral =
100 % = 25 %

(5) Agak suka =


100 % = 10 %

(6) Suka =
100 % = 35 %

(7) Sangat suka =


100 % = 5 %

Uji Statistika (Friedman Test):

Test Statistics
Ranks a
Mean Rank N 20
F1 1,78 Chi-Square 21,347
F2 1,58 df 2
F3 2,65 Asymp. Sig. ,000
a. Friedman Test

2. Uji Kelarutan Sediaan

a. Data Replikasi

Formula Replikasi
1 2 3
F1 4 jam 4 jam 3 jam
F2 3 jam 2 jam 2 jam
F3 1 jam 1 jam 1 jam
b. Data Statistika

ANOVA

Waktu
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups 13,556 2 6,778 15,250 ,004
Within Groups 2,667 6 ,444
Total 16,222 8
Waktu
a
Duncan
Formula N Subset for alpha = 0.05
1 2 3
Formula C 3 1,0000
Formula B 3 2,3333
Formula A 3 4,0000
Sig. 1,000 1,000 1,000
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.
2. Uji pH Sediaan

a. Data Replikasi
Formula Replikasi
1 2 3
F1 4,71 4,85 4,96
F2 4,57 4,46 4,91
F3 4,64 4,48 4,80
b. Uji Statistika

ANOVA

pH sediaan
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups ,077 2 ,039 1,206 ,363
Within Groups ,193 6 ,032
Total ,270 8
a
Duncan

Formula Uji N Subset for alpha = 0.05


1
Formula C 3 4,6400
Formula B 3 4,6467
Formula A 3 4,8400
Sig. ,234
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.
3. Uji Bobot Jenis a.
Data Replikasi
Volme Pikno Pkno Bobot
Formula Replikasi Jenis
(mL) Kosong (g) Berisi (g)
(g/mL)
R1 5 12,8187 19,5860 1,3534
F1 R2 5 12,8187 19,5479 1,3458
R3 5 12,8187 19,5130 1,3388
R1 5 12,8187 19,4706 1,3303
F2 R2 5 12,8187 19,5846 1,3531
R3 5 12,8187 19,5691 1,3500
R1 5 12,8187 19,5436 1,3449
F3 R2 5 12,8187 19,6568 1,3676
R3 5 12,8187 19,6803 1,3723
R1 5 12,8187 18,6627 1,1688
Aquadest R2 5 12,8187 18,5968 1,1556
R3 5 12,8187 18,6169 1,1596
b. Uji Statistika

ANOVA

BobotJenis
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Between Groups ,001 2 ,000 1,922 ,226
Within Groups ,001 6 ,000
Total ,001 8
BobotJenis Duncan
a
Formula N Subset for alpha = 0.05
1
Formula B 3 1,3445
Formula A 3 1,3460
Formula C 3 1,3616
Sig. ,138
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 3,000.

c.. Perhitungan
Bobot jenis (g/mL) =
( ) ()

( )

1. Formula A
a) Replikasi 1 : = 1,35346 g/mL
b) Replikasi 2 : = 1,3458 g/mL

c) Replikasi 3 : = 1,3388 g/mL

2. Formula 2

a) Replikasi 1 : = 1,3303 g/mL


b) Replikasi 2 : = 1,3531 g/mL

c) Replikasi 3 : = 1,3500 g/mL

3. Formula 3

a) Replikasi 1 : = 1,3449 g/mL


b) Replikasi 2 : = 1,3676 g/mL

c) Replikasi 3 : = 1,3723 g/mL


4. Evaluasi Viskositas
a. Data Replikasi
Formula Viskositas Sediaan
R1 R2 R3
F1 3.637 cp 2.960 cp 3.097 cp
F2 6.935 cp 8.652 cp 7.200 cp
F3 9.593 cp 11.074 cp 25.025 cp
b. Uji Statistika

Sum of Squares df Mean Square F Siq.


Between Groups 221,325 2 110,662 4,518 ,064
Within Groups 146,955 6 24,493
Total 368,280 8

Formula N Subset for Alpha = 0.05


1 2
F1 3 3,2313
F2 3 7,5957 7,5957
F3 3 15,2307
Sig. ,322 ,108

5. Aktivitas Antibakteri
a. Data
Diametr Zona Bening (mm)
Formula Staphylococcus aureus Escherichia coli
R1 R2 R3 R1 R2 R3
F1 1,6765 1,9430 1,2035 0,6380 0,3067 0,3448
F2 2,4300 2,7560 2,4320 1,5125 0,9100 0,9125
F3 3,7941 3,7488 3,3702 1,3200 1,2858 1,0540
b. Grafik zona bunuh pada Staphylococcus aureus

Grafik Aktivitas Antibakteri Sediaan Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus


4
d em o d em o d em o d em o
d em o
d em o d em o d em o d em o d em o

d em o d em o d em o d em o d em o
3
Diameter Zona Bening

(mm) 2 d em o d em o d em o d em o d em o

d em o d em o d em o d em o d em o

R1
d em o d em o d em o d em o d em o
R2
1 R3

F1 F2 F3
Formula

c. Grafik zona bunuh pada Escherichia coli

Grafik Aktivitas Antibakteri Sediaan Terhadap Bakteri Escherichia coli


1,6
d em o d em o d em o d em o d em o

1,4

Diameter Zona d em o d em o d em o d em o d em o

Bening (mm) 1,2 d em o d em o d em o d em o d em o

d em o d em o d em o d em o d em o
1,0
0,8

d em o d em o d em o d em o d em o
0,6 R1
R2
d em o d em o d em o d em o
d em o R3
0,4
0,2

F1 F2 F3
Formula
Lampiran 4. Gambar Penelitian

1. Praformulasi

Buah Libo (Ficus variegata, Blume) Ekstrak Buah Libo

7% 10%
kontrol

5% 13%
15%
5%

15%
7% kontrol
13%
10%

Uji aktivitas antibakteri terhadap Uji aktivitas


antibakteri terhadap
bakteri Staphylococcus aureus bakteri Escherichia
coli

Uji Pendahuluan kons. 1%, 2%,


3%, 4% Bakteri S. Aureus
Uji Pendahuluan kons. 1%,
2%, 3%, 4%
Bakteri E.coli
2. Formulasi Sabun Cair

Sabun Cair tanpa ekstrak Sabun Cair F1 Sabun Cair F2

Sabun Cair F3 Ketiga Sediaan Sabun Cair

3. Uji Hedonik Sabun Cair


a. Hedonik

b. Uji Kelarutan Sediaan


c. Uji pH

d. Uji Viskositas

e. Uji Bobot Jenis


f. Uji Aktivitas Antibakteri

Uji AB terhadap S. aureus Uji AB terhadap E. coli


UJI HEDONIK

FORMULASI SABUN CAIR DARI EKSTRAK BUAH LIBO (Ficus


variegata, Blume)

NAMA : ...............................................................

NIM : ...............................................................

Petunjuk : Nyatakanlah penilaian anda terhadap bentuk, warna, bau, homogenitas,


busa dan kenyamanan di kulit, pada setiap sampel tanpa membandingkan sampel
yang satu dengan yang lainnya. Berilah tanda checklist () pada pernyataan yang sesuai
dengan penilaian saudara dan sesuai dengan kode sampel.

Skala Penilaian Bentuk Warna Bau


01 02 03 01 02 03 01 02 03
1 Sangat tidak suka
2 Tidak suka
3 Agak tidak suka
4 Netral
5 Agak suka
6 Suka
7 Sangat suka

Homogenitas Banyak busa Kenyamanan di


Skala Penilaian kulit
01 02 03 01 02 03 01 02 03
1 Sangat tidak suka
2 Tidak suka
3 Agak tidak suka
4 Netral
5 Agak suka
6 Suka
7 Sangat suka
Kode Sampel

Kode Sampel Formula


01 Formula 1
02 Formula 2
03 Formula 3

Samarinda, ..............................

(..............................................)