Anda di halaman 1dari 12

Seminar Nasional Limnologi 2006

Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006

DAMPAK POLUTAN TIMBAL PADA IKAN DAN MANUSIA


Indriani Musthapia 1 dan Mas Tri Djoko Sunarno 2

PENDAHULUAN

Air dari wilayah pegunungan mengalir kebagian bawah hingga mencapai


wilayah yang berbatasan dengan laut. Dalam perjalanannya, air tersebut ada yang
tertampung secara permanen dan atau sementara dalam suatu badan air. Proses
perjalanan ini menggerus dan membawa berbagai macam bahan yang berasal dari
alam ataupun buangan kegiatan manusia. Jenis dan kualitas bahan yang larut maupun
yang tidak larut akan mempengaruhi kualitas air tersebut.

Ketergantungan manusia terhadap air sangat tinggi. Tidaklah heran jika


hampir seluruh kegiatan manusia tidak jauh dari air, terutama sungai. Dari mulai
kegiatan rumah tangga hingga sampai industri. Tujuannya yang sederhana adalah
untuk kemudahan transportasi dan lainnya adalah kemudahan membuang limbah.
Pertumbuhan manusia selalu diiringi dengan peningkatan kegiatannya. Hal ini
cenderung meningkat sesuai dengan pertambahan waktu. Intervensi IPTEK terhadap
kegiatan manusia dalam menghasilkan barang menjadi ciri dari proses perkembangan
negara agraris menjadi industri. Hal ini menyebabkan beban sungai cenderung
meningkat dan kualitas airnya pun cenderung menurun. Contoh yang nyata perubahan
kualitas air sungai dapat dilihat di sungai-sungai di Jawa.

Ikan sebagai organisme yang hidup disungai membutuhkan kualitas dan


kuantitas air tertentu agar bisa mempertahankan kehidupannya. Perubahan kualitas
dan kuantitas air akan mengganggu ikan dalam menyelesaikan siklus hidupnya. Ciri
khas akibat gangguan perubahan kualitas dan kuantitas air adalah pengurangan
populasi dan jenis ikan. Perubahan kualitas air secara mendadak akan menyebabkan
kematian ikan secara masal. Contohnya adalah kematian ikan pada wadah budidaya di
waduk di Jawa Barat (Saguling, Cirata dan Ir. Juanda).

Yang patut kita waspadai saat mengkonsumsi ikan adalah tempat pengambilan
ikan yang berasal dari suatu perairan yang tercemar. Karena hal ini dapat
menimbulkan efek toksik terhadap organisme yang mengkonsumsinya khususnya
manusia. Contohnya adalah penyakit minamata yang terjadi pada masyarakat di
1. Peneliti non kelas pada Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang,
2. Peneliti pada Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang,
brppu_palembang@yahoo.com
1
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
Jepang yang mempunyai kegemaran makan ikan mentah. Manusia yang terjangkit
penyakit minamata adalah mereka yang memakan ikan yang ditangkap dari perairan
yang tercemar logam berat. Dalam tulisan ini dikemukakan mengenai toksisitas
logam berat, khususnya timbal, serta efek yang ditimbulkannya terhadap ikan dan
manusia.

TIMBAL DAN PEREDARANNYA DALAM TUBUH IKAN

Timbal digolongkan kedalam kelompok logam berat karena memiliki berat


atom lebih dari 20 (Philips, 1981). Sifat dan kegunaan timbal seperti yang
dikemukakan oleh Johnston dan Shapiro (1993) adalah sebagai berikut :

Memiliki nomor atom 82 dan mempunyai simbol Pb;

Merupakan logam lunak sehingga dapat dipotong dengan menggunakan pisau


atau dengan tangan dan dapat dibentuk dengan mudah;

Merupakan logam yang tahan terhadap proses korosi atau karat, sehingga
logam tersebut sering digunakan sebagai bahan pelapis;

Mempunyai titik lebur yang rendah, yaitu hanya 327,5 0C;

Mempunyai titik didih tinggi , yaitu 17.400 0C;

Mempunyai kerapatan yang lebih besar dibandingkan dengan logam biasa,


kecuali bila dibandingkan dengan emas dan merkuri;

Merupakan penghantar listrik yang tidak baik.

Timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan dalam industri pipa,
lempeng logam, cat, aki, industri mobil, peralatan radio, patri, dan bahan campuran
pada mainan anak-anak (Ruslijanto,1984). Berbagai peralatan yang mengandung
timbal ditemukan pada pabrik baterai, pabrik cat dan percetakan (Rabinowitz et al.,
1976). Selain itu timbal digunakan pula sebagai bahan campuran pada bahan bakar
bensin yang berfungsi untuk meningkatkan angka oktan sehingga dapat mengurangi
letupan pada kendaraan bermotor (Anonim, 1983).

Timbal masuk ke dalam tubuh ikan melalui saluran pernapasan, saluran


pencernaan dan sedikit lewat kulit yang kemudian akan didistribusikan ke dalam
berbagai jaringan tubuh. Kandungan timbal dalam darah menggambarkan

2
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
keseimbangan antara banyaknya timbal yang masuk kedalam tubuh dengan timbal
yang diekskresikan dari tubuh, yang juga dapat menggambarkan keberadaan timbal di
dalam jaringan lunak dan jaringan keras. Diketahui pula bahwa kandungan timbal
yang terdapat dalam darah dan komponen jaringan lunak adalah sebesar 1% dari total
timbal yang masuk ke dalam tubuh, dan sekitar 90-99% timbal dalam darah tersebut
terdapat pada eritrosit (Rabinowitz et al., 1976; Rabinowitz et al., 1977).

Menurut Klaassen (2001) timbal dapat menimbulkan efek negatif terhadap


hematologi, yaitu menyebabkan terjadinya anemia mikrocitic dan hypocromic
(Gambar 1). Anemia mikrocitic adalah anemia yang ditandai dengan ukuran sel darah
merah yang lebih kecil dibandingkan dengan ukuran sel darah merah yang normal,
sedangkan anemia hypocromic adalah anemia yang ditandai dengan menurunnya nilai
Mean Corpuscular Haemoglobin Concentration (Anonim, 2004). Anemia mikrocitic
dan hypocromic ini terjadi pada sel darah merah yang mengalami kekurangan zat
besi yang dapat menyebabkan meningkatnya reticulosit (Klaassen, 2001).

Timbal mempengaruhi fungsi enzim coproporfirinogen oksidase dalam


sintesis Hemoglobin (Palar, 1994). Timbal dapat meningkatkan aktivitas enzim
coproporfirinogen oksidase dan menurunkan aktivitas ferochetalase yang mengkatalis
besi (Fe) ke dalam protoporphyrin (Klaassen, 2001). Protoporphyrin merupakan
senyawa organik untuk pembentukan heme yang akan berikatan dengan Fe dan
memiliki kemampuan untuk mengikat O2 (Burden, et al.,1998).

Timbal akan meningkatkan kadar Asam Amino levulinat (ALA) yang


diperlukan dalam proses sintesis heme untuk membentuk porphobilinogen sebagai
prekursor hemoglobin (Bhavagan, 1992). Peningkatan kadar ALA akan
mempengaruhi pembentukan porphobilinogen serta protoforfirin-9. Protoporpyrin-9
yang terakumulasi dalam sel darah merah dapat menyebabkan penurunan jumlah sel
darah merah dan pengurangan umur sel darah merah. Seiring dengan fenomena
tersebut maka sintesis Hb akan terhambat (Palar, 1994). Peningkatan protophorfirin
pada anak-anak terjadi apabila terdapat kandungan timbal dalam darah sebesar 14-
17g/dL (Piomelli , 1990).

3
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006

Konsentrasi timbal dalam darah sebesar 50-80g/dL akan mengakibatkan


jumlah sel darah merah berkurang yang akan mempengaruhi pembentukan sel darah
merah baru (reticulosit) (Rober, 2000). Penelitian lain menunjukkan bahwa apabila
kadar timbal dalam darah lebih besar dari 40 g/dL dapat menyebabkan nilai
hemoglobin lebih kecil dari 13g% (Ruslijanto, 1986).

Jumlah sel darah merah pada ikan semakin berkurang seiring dengan semakin
tingginya kandungan timbal dalam darah. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah sel
darah merah matang semakin berkurang seiring dengan peningkatan konsentrasi
timbal dalam darah sehingga sel darah merah yang beredar merupakan sel darah
merah yang masih muda yang ukurannya lebih besar daripada sel darah merah yang
sudah matang (Anonim, 2003). Tingginya kandungan timbal dalam sel darah merah
sangat tinggi diketahui karena lebih dari 90% timbal yang terkandung dalam darah
telah berikatan dengan sel darah merah sehingga sel darah merah menjadi mudah
pecah selain itu terjadi pula penghambatan proses eritropoiesis dalam sumsum tulang
(Albahary, 1972). Kondisi seperti ini mengakibatkan umur sel darah merah menjadi
pendek, menurunnya jumlah sel darah merah dan retikulosit sehingga jumlah sel
darah merah semakin rendah.

Selain jumlah sel darah merah yang semakin berkurang, timbal juga dapat
menyebabkan kandungan Hb dalam darah ikan yang semakin menurun, hal ini terjadi
akibat adanya penghambatan fungsi enzim sufhidril oleh timbal untuk mengikat
Amino Levulinic Acid (ALA) menjadi porpoblinogen, serta protoporfirin menjadi Hb.
Menurut Rober (2000), timbal akan menghambat enzim ALA-D, ferrochetalase dan
corpoporphyrinogen decarboxylase dalam biosintesis heme. Timbal akan
meningkatkan (1) ALA pada urin dan plasma, (2) corpoporphyrinogen III pada urin,
dan (3) protoporphyrin-9 yang terakumulasi pada sel darah merah. Ketiga hal tersebut
akan menyebabkan penurunan kandungan hemoglobin.

Menurut Rober (2000), timbal akan menghambat sintesis Hb dalam 3 tahap


seperti yang tercantum pada Gambar 2, yaitu:

1. Timbal menghambat aktivitas delta Amino Levulinic Acid Dehidratase (ALA-D)


pada reaksi perubahan ALA menjadi porpobilinogen sehingga protoporfirin-9 yang
terbentuk menjadi sedikit, akibatnya Hb yang terbentuk juga menjadi sedikit.

4
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
2. Timbal menghambat penyerapan Fe oleh protoporfirin-9.

3. Timbal menghambat pengikatan heme dan globin.

DAMPAK NEGATIF TIMBAL TERHADAP IKAN DAN MANUSIA

Sektor industri di Indonesia terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun


seiring dengan meningkatnya teknologi. Hal ini tentu saja memberikan dampak positif
kepada masyarakat karena sektor industri mampu meningkatkan perekonomian dan
membuka banyak lapangan pekerjaan. Akan tetapi, perkembangan sektor industri ini
banyak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat dan lingkungan, karena dapat
menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang membahayakan kesehatan
manusia. Salah satu bahan pencemar berbahaya yang dihasilkan dari sektor industri
adalah timbal. Timbal banyak digunakan sebagai bahan bakar, pipa, cat, aki, industri
mobil, peralatan radio, patri dan bahan campuran pada mainan anak-anak (Cullen et
al., 2003). Tingginya tingkat pencemaran timbal di lingkungan menimbulkan
dampak yang merugikan bagi manusia dewasa dan terutama bagi anak-anak (Goyer
dan Mehlman, 1977). Senyawa timbal bersifat racun dan berbahaya bagi kesehatan
tubuh, senyawa ini masuk kedalam tubuh makhluk hidup melalui saluran pernapasan,
saluran pencernaan dan sedikit lewat kulit (Palar, 1994).

Timbal dapat menimbulkan efek toksik pada ikan baik secara kronis maupun
akut. Efek secara kronis ditandai dengan menurunnya berat badan yang disertai
gangguan pada sistem pencernaan, sedangkan efek akut ditandai dengan kerusakan sel
darah merah, penurunan kandungan hemoglobin, serta gangguan pada sistem saraf
pusat dan tepi (Anonim, 2003). Timbal terikat pada berbagai macam jaringan seperti
hati, limpa, otak, dan sumsum tulang (Riyadina, 1997).

Pengaruh negatif timbal di dalam ikan antara lain dapat menyebabkam


terjadinya penurunan fungsi hematologi, sistem saraf pusat, dan ginjal (Ruslijanto,
1984). Gejala awal yang muncul akibat keracunan timbal dalam tubuh adalah
berkurangnya jumlah eritrosit dalam darah atau anemia (Goodman dan Gilman,
1955). Menurut Albahary (1972) anemia terjadi karena (1) berkurangnya jumlah
eritrosit yang merupakan akibat langsung dari pengaruh timbal pada membran sel, (2)
terjadinya peningkatan aktivitas enzim coproporfirinogen oksidase di dalam eritrosit
yang menimbulkan efek mudah pecahnya eritrosit, dan (3) penghambatan proses

5
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
eritropoisis dalam sumsum tulang, metabolisme zat besi (Fe) dan sintesis globin
dalam eritrosit.

Timbal organik seperti tetraetil-Pb memiliki daya toksik 10 sampai 100 kali
lebih tinggi dibandingkan dengan timbal anorganik (Pb2+). Hal ini disebabkan karena
timbal organik lebih bersifat lipofilik (mudah larut dalam lemak) sehingga lebih
mudah menembus membran sel. Keracunan yang disebabkan oleh timbal organik
lebih sering menimbulkan kelainan pada sistem saraf pusat, sedangkan keracunan
timbal anorganik lebih cenderung menimbulkan kelainan pada sel darah merah
(Anonim, 1983).

Ciri-ciri ikan yang terkena racun timbal menurut Metelev et al, (1983) adalah
sebagai berikut:

1. Gerakan sangat aktif

2. Aktivitas respirasi meningkat

3. Kehilangan keseimbangan

4. Kerusakan pada saluran pernapasan (bronchi)

5. Insang dan kulit tertutup oleh membran mucus yang mengalami pembekuan

6. Terjadinya hemolisis dan kerusakan pada eritrosit.

Apabila ikan terpapar oleh timbal dalam waktu yang lama, maka kandungan
timbal tidak hanya ditemukan pada insang tetapi ditemukan pula pada saluran
pencernaan, liver dan otot. Timbal dapat menimbulkan efek keracunan pada ikan
rainbow trout setelah ikan tersebut terpapar timbal selama 2 jam dengan konsentrasi
7,7 mg/L Pb sedangkan pada ikan cyprinidonts efek tersebut terlihat setelah terpapar
selama 12 jam pada konsentrasi 3,0 mg/L Pb. Ikan mas lebih resistant terhadap timbal
organik hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa ikan
tersebut mengalami kematian setelah terpapar timbal dengan konsentrasi 1 mg/L Pb
selama 60 sampai 114 jam. Sedangkan belut mengalami kematian setelah terpapar
timbal selama 21 hari pada konsentrasi 3,0 mg/L Pb (Metelev et al, 1983).

Pada perairan yang mengandung timbal dengan konsentrasi 0,2 0,5 mg/L Pb
biasanya sudah jarang ditemukan organisme yang mampu bertahan hidup kecuali dari
Chironomus dan larva capung yang masih ditemukan dalam keadaan hidup. Namun

6
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
demikian kematian masal ikan akibat keracunan timbal jarang terjadi karena ikan
memiliki kemampuan untuk menghindari perairan yang terpapar timbal.

Seperti halnya pada ikan, timbal dapat masuk ke dalam tubuh manusia melalui
saluran pernapasan, saluran pencernaan dan sedikit lewat kulit yang kemudian akan
didistribusikan ke dalam berbagai jaringan tubuh. Timbal yang diabsorpsi melalui
saluran pencernaan didistribusikan ke dalam jaringan tubuh melalui darah. Timbal
yang terikat dalam sel darah merah memiliki waktu paruh antara 25-30 hari
(Darmono,1995). Manusia mengekskresikan timbal yang masuk kedalam tubuhnya
melalui ginjal (76%), saluran pencernaan (16%) dan melalui keringat, empedu,
rambut, kuku sebesar 8% (Anonim, 1977). Waktu pemaparan timbal dalam tubuh
berpengaruh terhadap lamanya timbal berada dalam tubuh (Hammond, 1971).
Penelitian yang dilakukan pada tikus memperlihatkan pengaruh negatif (Rice
dan Gilbert, 1985; Siberged dan Lamon, 1980) timbal yaitu : (1) menghambat sintesis
heme saat kandungan timbal dalam darah sebesar 20-30 g/dL, (2) mempengaruhi
biosintesis heme intraneuronal serta (3) mengganggu sistem saraf terutama pada
pelepasan neurotransmitter seperti : acetilkolin, catecolamin dan GABA.
Menurut Anonim (2002), besarnya kandungan timbal dalam darah dapat
menimbulkan pengaruh yang berbeda pula terhadap kesehatan manusia seperti yang
tercantum dalam Tabel 1.
Konsentrasi timbal dalam darah manusia sebesar 50-80g/dL akan
mengakibatkan jumlah sel darah merah berkurang yang akan mempengaruhi
pembentukan sel darah merah baru (reticulosit) (Rober, 2000). Penelitian lain
menunjukkan bahwa apabila kadar timbal dalam darah lebih besar dari 40 g/dL
dapat menyebabkan nilai hemoglobin lebih kecil dari 13g% (Ruslijanto, 1986).

PENUTUP
Timbal merupakan logam berat yang membahayakan baik pada ikan maupun
manusia. Timbal dapat menimbulkan gangguan pada system pernapasan maupun pada
sel darah merah yang menyebabkan jumlah sel darah merah mengalami penurunan.
Hal tesebut dapat menyebabkan oksigen yang bisa diterima oleh tubuh menjadi
berkurang karena sel darah merah yang mengandung hemoglobin (unsur utama
pengikat oksigen dalam darah) mengalami penurunan.

7
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
DAFTAR PUSTAKA
Albahary , C. 1972. Lead and hemopoesis. Amsterdan Jurnal Medical. 52, 367-377.

Anonim. 1983. Health and Enviromnetal Lead in Australia. First Edition. Canberra
Reprographic Printers. Canberra.

Anonim, 2002. Occupational Lead Exposure. The City of New York. Departement of
Health and Mental Hygiene. New York.
http://www.nyc.gov/health

Anonim. 2003. Material Safety Data Sheet : Lead Nitrate. PO BOX 111. Thuringowa
Central, Qld. Australia.

Anonim. 2004. Anemia adverse health effect organo fluorine and fluorine pesticides.
http:// www.fluoridealert. org/ pesticides/effect anemia f-perticides.html.

Bhavagan, N.V. 1992. Medical Biochemistry. Jones and Bartlett. Boston.

Burden, V. M., Sandheunrich, M.B., & Caldwell, C. A.1998. Effect of Lead on the
Growth and -Aminolevulinic acid Dehydratase Activity of juvenile Rainbow
Trout, Oncorhynchus mykiss. Environmental Polution 101, 285-289.

Cullen, G., Dines, A., & Kolev, S. 2003. Monograph for UKPID : lead. National
Poisons Information Service. London.

Darmono,1995. Logam dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Penerbit Universitas


Indonesia (UI-Press) Jakarta. Pp 95-101

Goodman, L.S., Gilman, A. 1955. The Pharmacologycal of Theraphetic. Second Ed.


The Mac Millan Company. New York. Pp 1002-1015

Goyer, R. A. & Mehlman, M. A.1977. Advances in Modern Toxicology : Toxicology


of Trace Element. Hemisphere Publishing Corporation. London. Pp 41-70

8
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
Johnston, J.D., & Shapiro, H. 1993. Lead Encyclopedia of Chemistry. Second Ed. Mc
Grawwwhill, Inc. New York. Pp 585-587.

Klaassen, C.D. 2001. Toxicology The Basic Science of Poisons. Sixth Edition.
Medical Publishing Division, New York. Pp 827-834.

Metelev, V.V., Kanaev, A.I., & Dzasokhova, N.G. 1983. Water Toxicology. Amerid
Publishing Co.PVT.Ltd. New Delhi, India. Pp 93-94.

Palar, H. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Penerbit Rineka Cipta.
Jakarta. Pp 74 93.

Philips, L.W. 1981. Industrial Toxicology : Safety and Health Aplication in the
Workplace. Lifetime Learning Publications. Van Norstrand Reinhold Company.
New York. Pp 197-203.

Piomelli, S. 1990. The Effects of Low-Level Lead Exposure on Heme Metabolism. In:
Needleman, H.L. (Eds.). Low Level Lead Exposure: The Clinical Implications of
Current Research. Raven Press. Pp 67-74.

Rabinowitz, M.B., Wetherill, G.W., & Kopple, J.D. 1976. Kinetic analysis of lead
metabolism in healthy humans. J. Clin. Invest. 58, 260-270.

Rabinowitz, M.B., Wetherill, G.W., & Kopple, J.D. 1977. Magnitude of lead intake
from respiration by normal men. J. Lab. Clin. Med. 90, 238-248.

Rice, D.C. & Gilbert. 1985. Low lead exposure from birth produces behavioural
toxicity (DRL) in monkeys. Toxicol. Applied Pharmacol. 80, 421-426.

Riyadina, W. 1997. Pengaruh Pencemaran Pb (Plumbum) terhadap Kesehatan. Media


Litbangkes. 7 , 29-32.

9
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
Ruslijanto, H. 1984. Keracunan timah Hitam, sumber-Sumber, Bahaya-Bahayanya
dan Penanggulanannya. Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi. Universitas Trisakti.
Jakarta.

Ruslijanto, H. 1986. Mengenal Sumber-Sumber dan Bahaya Keracunan Logam


plumbum Dalam Bidang Kedokteran Gigi. Majalah Ilmiah Kedokteran Gigi.
Universitas Trisakti. Jakarta.

Silbergeld, E.K. & Lamon, J.M. 1980. Role of altered heme synthesis in lead
neurotoxicity, J. Occup. Med. 22, 680-684.

10
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
LAMPIRAN

(a) (b)

Gambar 1. (a) Bentuk sel darah merah normal dan (b) Bentuk sel darah merah
yang mengalami Anemia Microcitic Hipocromic (Sumber: Robert et al., 2004)

Succinil Co-A + Glysin ALA-SYNTETASE

Mitokondria

Meningkat pada :
-Amino Levulinic Acid Urin dan plasma

Porphobilinogen ALA-DEHYDRATASE *

Mitokondria

Uroporphyrinogen
CORPOPHORPHYRINOGEN
OXYDASE

Corpophorphyrinogen-3
Meningkat pada :
Urin

Mitokondria Protoporphyrin-9 + Fe Akumulasi pada :


SEL DARAH
MERAH

FEROKHETALASE *
Heme + Globin

HEME SINTETASE *
Pb + Hemoglobin

Keterangan : * Enzim yang dihambat oleh timbal


Gambar 2. Gangguan timbal pada biosintesis Hb (Rober, 2000)

11
Seminar Nasional Limnologi 2006
Widya Graha LIPI Jakarta, 5 September 2006
Tabel 1. Hubungan antara kandungan timbal dalam darah dengan gangguan
kesehatan pada manusia (Anonim, 2002)

Timbal dalam
Efek yang timbul
darah
Penghambatan pembentukan eritrosit dan ALA-D sebesar 40%
5-10 g/dL
Peningkatan pembentukan protoporfirin
10-25 g/dL
Penghambatan ALA-D sebesar 70%
25-30g/dL
Peningkatan ekskresi ALA-D sebesar 70%
30-40 g/dL

40-50 g/dL Penurunan nilai Hemoglobin

12