Anda di halaman 1dari 1

Pada percobaan kali ini teknik kromatografi lapis tipis yang digunakan adalah suatu

plat tipis (aluminium) yang berfungsi untuk tempat jalannya adsorben sehingga proses
perpindahan analit oleh solventnya dapat berjalan. Hal inilah yang membedakan antara
kromatografi kertas dengan kromatografi lapis tipis. Pada KLT menggunakan plat tipis
sedangkan pada kromatografi kertas menggunakan kertas (lapisan selulosa) sehingga proses
elusinya lebih lama kira-kira 10-20 menit lebih lama dari KK untuk bahan yang sama.
Perbedaan lainnya dari kedua kromatografi tersebut adalah pembentukan noda pada
adsorbennya dimana pada KLT noda yang dihasilkan lebih tajam dibandingkan noda yang
Nampak dalam KK. Hal ini disebabkan pada KK penyusun dari adsorbennya berupa selulosa
yang dapat mengikat air sehingga ketika dielusi dengan suatu pelarut atau fase gerak maka
noda yang dihasilkan mengalami penyebaran akibat terdapatnya gugus OH dalam adsorben
yang masih tertinggal dalam fase diamnya sehingga penampakan nodanya terlihat lebih pudar
dan bentuk nodanya tidak bulat. Sedangkan dalam KLT adsorben yang digunakan berupa
silica gel (SiO2) yang tidak mengikat air, sehingga noda yang tercipta lebih terfokus dan
tajam. Tetapi pada percobaan kali ini spot nod terlihat jelas saat noda terlihat dalam sinar UV.
Fase gerak yang digunakan yakni etil asetat dan methanol dengan perbandingan 3:1
mula-mula pembuatan plat KLT gagal dibuat karena silica gel yang dituang ke kaca tidak
mendapat hasil yang baik dikarenakan silica gel yang digunakan bukan silica gel yang halus.
Sehingga percobaan kali ini menggunakan plat KLT yang sudah jadi.
Penotolan sampel pada plat KLT dandielusikan di dalam chamber berisi fase gerak.
Sebelumnya plat KLT diberi tanda terlebih dahulu, yait tanda batas bawah dan batas atas
dengan pensil bukan menggunakan tinta karena pewarna dari tinta akan bergerak atau ikut
terelusi. Hal ini dapat mempengaruhi proses pengelusian senyawa sampel. Di dalam chamber
yang telah diisi eluen yang merupakan campuran antara etil asetat dan methanol. Dengan
perbandingan 3:1. Eluen tersebut terlebih dahulu dijenuhkan disini chamber ditutup rapat
dengan tujuan agar meyakinkan bahwa atmosfer dalam gelas kimia jenuh dengan uap pelarut.
Penjenuhan udara dalam gelas kimia dengan uap menghentikan penguapan pelarut sama
halnya dengan pergerakan pelarut dalam KLT. Setelah chamber jenuh maka plat KLT
dimasukkan ke dalam chamber. Ketika pelarut mulai membasahi plat/lempengan pelarut akan
melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan pada batas bawah.
Senyawa akan bergerak pada plat sperti bergeraknya pelarut. Setelah itu terbentuk beberapa
spot noda karena sampel akan ikut berinteraksi dengan silica yang ada pada lempengan,
senyawa yang terelusi menunjukkan bahwa senyawa tersebut paling tinggi kepolarannya,
disini noda belum tampak, setelah gambar noda terlihat dalam sinar uv hasilnya diperoleh
jarak yang ditempuh pelarut (dR) 3,2 cm dan jarak yang ditempuh fase geraknya (dm) 5 cm.
sehingga nilai Rf dari kafein diperoleh 0,64, sedangkan harga Rf kafein murni/standar adalah
0,52. Perbedaan ini dikarenakan kurang telitinya praktikan saat menjalankan praktikum

Kesimpulan
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa cara pembuatan plat KLT yaitu dengan
silica gel yang diencerkan dengan akuades yang kemudian dituangkan dalam kaca holder
penebar, dan diratakan satu arah, kemudian dikeringkan dalam oven. Pemisahan campuran
menjadi komponen-komponennya dapat dilakukan dengan kromatografi lapis tipis
menggunakan plat KLT.

Daftar Pustaka
Underwood. 2011. Amalisa Kimia Kuantitatif edisi Keenam. Jakarta. Erlangga