Anda di halaman 1dari 219
UNIVERSITAS INDONESIA PENGARUH INTERVENSI “ MaSa INDAH” DALAM PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS TERHADAP

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH INTERVENSI “ MaSa INDAH” DALAM PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS TERHADAP PENURUNAN TINGKAT DEPRESI PADA AGGREGATE LANSIA DI KELURAHAN CURUG, KECAMATAN CIMANGGIS, KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

AGNES DEWI ASTUTI

1106042555

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS DEPOK JUNI 2014

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

UNIVERSITAS INDONESIA PENGARUH INTERVENSI “ MaSa INDAH” DALAM PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS TERHADAP

UNIVERSITAS INDONESIA

PENGARUH INTERVENSI “ MaSa INDAH” DALAM PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS TERHADAP PENURUNAN TINGKAT DEPRESI PADA AGGREGATE LANSIA DI KELURAHAN CURUG, KECAMATAN CIMANGGIS, KOTA DEPOK

KARYA ILMIAH AKHIR

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan Komunitas

AGNES DEWI ASTUTI

1106042555

Pembimbing I

: Dra. Junaiti Sahar, SKp.,M.App.Sc.,PhD

Pembimbing II

: Widyatuti, SKp.,M.Kep.,Sp.Kom

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN PROGRAM STUDI NERS SPESIALIS KEPERAWATAN KOMUNITAS DEPOK JUNI 2014

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Pengaruh intervensi , Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Pengaruh intervensi , Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan atas segala berkat kasih karunia Tuhan Yang Maha Esa, sehingga penulis dapat menyelesaikan karya ilmiah akhir yang

berjudul “Pengaruh Intervensi “MaSa INDAH” dalam Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas Terhadap Penurunan Tingkat Depresi pada Aggregate Lansia di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok. Karya Ilmiah Akhir ini

1. 2. 3. 4. 5. Segenap karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. 6.
1.
2.
3.
4.
5.
Segenap karyawan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
6.

disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Ners Spesialis Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam memberikan masukan, bimbingan, semangat serta dukungan yang sangat besar dalam menyelesaikan karya ilmiah akhir ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada :

Dra. Junaiti Sahar, SKp.,M.App., PhD., selaku Dekan Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia sekaligus sebagai pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini.

Ns. Henny Permatasari, SKp.,M.Kep.,Sp.Kom., selaku Ketua Program Pasca Sarjana Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Ns. Widyatuti, S,Kp.,M.Kep.,Sp.Kom selaku pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini. Segenap dosen Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Depok yang telah memberikan ijin praktik residensi keperawatan komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

7. Kepala Puskesmas Cimanggis Kota Depok yang telah memberikan ijin praktik residensi keperawatan komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

8. Suami tercinta Vinsensius Goda Lengu, anak-anak kesayangan Alberto Alessandro Senada Putra dan Rafael Senada Putra, mamah tercinta dan kakak

Pengaruh intervensi

v

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Dodi, Maria, keponakan Anto serta seluruh keluarga yang telah mendukung melalui doa dan semangat yang sangat besar. 9. Seluruh rekan-rekan residen Program Spesialis Keperawatan Komunitas angkatan 2013 (13 Pejuang’13) dan rekan-rekan Program Magister angkatan 2011 di Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia yang telah memberikan masukan serta motivasi yang begitu besar.

Semoga seluruh kebaikan serta dukungan yang diberikan mendapatkan berkat dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis
Penulis

Depok, Juni 2014

Penulis sadar bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan karya ilmiah akhir ini, maka kritik dan saran yang membangun untuk melengkapi karya ilmiah akhir ini sangat penulis hargai agar dapat bermanfaat bagi kita semua.

Pengaruh intervensi

vi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Pengaruh intervensi , Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

ABSTRAK

Agnes Dewi Astuti Spesialis Keperawatan Komunitas Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia Pengaruh Intervensi “MaSa INDAH” dalam Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas Terhadap Penurunan Tingkat Depresi pada Aggregate Lansia di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok

MaSa INDAH merupakan bentuk intervensi keperawatan komunitas untuk menurunkan tingkat depresi pada lansia. Penulisan bertujuan untuk memberikan gambaran pengaruh intervensi “MaSa INDAH” dalam pelayanan dan asuhan keperawatan komunitas terhadap penurunan tingkat depresi lansia. Hasil menunjukkan terjadi penurunan tingkat depresi pada lansia sebesar 31,58% dengan peningkatan pengetahuan 25,01 %; sikap 35 %; keterampilan lansia melakukan intervensi MaSa INDAHdengan presentasi paling besar yaitu meningkatkan harga diri positif sebesar 52,9%. Kesimpulan peningkatan harga diri lansia dapat menurunkan tingkat depresi. Direkomendasikan pengambil keputusan program kesehatan lansia meningkatkan pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan yang melibatkan lansia sebagai bentuk penghargaan, agar lansia tetap sehat dan bahagia.

Kata kunci : MaSa INDAH, intervensi keperawatan komunitas, lansia, depresi. ABSTRACT
Kata kunci : MaSa INDAH, intervensi keperawatan komunitas, lansia, depresi.
ABSTRACT

Agnes Dewi Astuti Specialist Community Nursing, Faculty of Nursing, University Indonesia Effect of Intervention "MaSa INDAH" in the Services and Community Nursing Care to Decreased Elderly’s Depression Level in Curug Sub Distric, Cimanggis, Depok

MaSA INDAH is a form of community nursing intervention to decrease the level of depression in the elderly. The aims of this paper was to provide an overview of the effect of the intervention "MaSa INDAH" in the community nursing service and to decrease the level of depression. The results showed that there was a decrease in the level of depression in the elderly by 31.58% with an increase knowledge of 25.01%; attitudes 35%; the skills of the elderly in giving MaSa INDAHintervention was the greatest presentation of improving positive self-esteem by 52.9%. Conclusion improved positive self-esteem in the elderly has been decreased the level of depression. The decision makers is recommended to improve community empowerment through activities involving the elderly as a form of appreciation, so that the elderly remain healthy and happy.

Keywords:

MaSa

INDAH,

community

nursing

intervention,

the

elderly,

depression.

Pengaruh intervensi

viii

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL HALAMAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME HALAMAN ORISINALITAS HALAMAN PENGESAHAN KATA PENGANTAR HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1.2 Tujuan Penulisan 1.2.1 Tujuan Umum 1.2.2 Tujuan Khusus
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan
1.2.1 Tujuan Umum
1.2.2 Tujuan Khusus
1.3 Manfaat Penulisan
1.3.1 Pengelola Program Kesehatan
1.3.2 Kader Kesehatan
1.3.3 Masyarakat, Keluarga dan Lansia
1.3.4 Pengembangan Ilmu Keperawatan
BAB 2 TINJAUAN TEORITIS
2.1 Lansia sebagai Populasi Rentan (Vulnerable Population)
2.1.1 Definini Populasi Rentan
2.1.2 Karakteristik Lansia sebagai Populasi Rentan
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kerentanan
2.1.4 Konsekuensi Fungsional pada Kelompok Lansia
2.2 Lansia dengan Depresi
2.2.1 Perubahan akibat Proses Penuaan pada Lansia
2.2.2 Depresi pada Lansia
2.3 Keperawatan Komunitas
2.3.1 Unsur-unsur Penting dalam Kesehatan Komunitas
2.3.2 Karakteristik keperawatan Komunitas

2.3.3

2.3.4 Prinsip Keperawatan Komunitas

2.3.5 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas

2.3.6 Asuhan Keperawatan

Strategi Keperawatan Komunitas

2.4 Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Lansia dengan Depresi

2.4.1 Peran sebagai Pemberi Pelayanan Keperawatan atau provider

2.4.2 Peran sebagai Pendidik atau edukator

2.4.3 Peran sebagai advocator

2.4.4 Peran sebagai Manajer

2.4.5 Peran sebagai Kolaborator

Pengaruh intervensi

ix

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

i

ii

iii

iv

v

vii

viii

ix

xii

xiii

xiv

1

1

12

12

12

13

13

13

14

14

15

15

16

18

20

21

21

23

26

26

26

27

31

33

42

60

60

60

61

61

62

2.4.6

Peran sebagai leader

62

2.4.7 Peran sebagai Peneliti

BAB 3 KERANGKA KONSEP PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS

3.1 Kerangka Konsep Praktik Keperawatan Komunitas

3.2 Pelaksanaan Intervensi MaSa INDAH dalam menurunkan Depresi pada Lansia

3.3 Profil Wilayah Kelurahan Curug Kota Depok

BAB 4 PELAKSANAA INTERVENSI “MaSa INDAH” DALAM PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS UNTUK MENURUNKAN TINGKAT
BAB 4 PELAKSANAA INTERVENSI “MaSa INDAH” DALAM
PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS
UNTUK MENURUNKAN TINGKAT DEPRESI PADA AGGREGAT E
LANSIA
4.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas dalam Mencegah
Depresi pada Aggregate Lansia
4.1.1 Analisis Situasi
4.1.2 Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas
4.1.3 Rencana Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas
4.1.4 Pelaksanaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas
4.1.5 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut
4.2 Asuhan Keperawatan Komunitas
4.2.1 Pengumpulan Data
4.2.2 Analisis Situasi
4.2.3 Masalah Keperawatan Komunitas
4.2.4 Rencana Tindakan Keperawatan Komunitas
4.2.5 Pelaksanaan Keperawatan Komunitas
4.2.6 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut
4.3 Asuhan Keperawatan Keluarga
4.3.1 Analisis Situasi
4.3.2 Masalah Keperawatan Keluarga
4.3.3 Rencana Tindakan Keperawatan Keluarga
4.3.4 Pelaksanaan Keperawatan Keluarga
4.3.5 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1 Analisis Pencapaian Kesenjangan
5.1.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Kesehatan

5.1.2

5.1.3 Asuhan Keperawatan Keluarga

Asuhan Keperawatan Komunitas

5.2

5.3 Implikasi keperawatan

Keterbatasan

5.3.1 Implikasi Pelayanan Keperawatan Komunitas

5.3.2 Perkembangan Ilmu Keperawatan

Pengaruh intervensi

x

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

62

64

67

69

73

73

93

93

100

104

109

109

111

115

117

121

123

129

129

132

134

139

140

145

145

148

153

155

155

155

156

BAB 6 SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

158

6.2 Saran

158

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

6.1 Simpulan 158 6.2 Saran 158 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Pengaruh intervensi xi , Agnes Dewi Astuti,

Pengaruh intervensi

xi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Gambar 2.2 Gambar 3.1 Model Community As Partner Modifikasi Langkah-langkah dalam Proses Keperawatan
Gambar 2.1
Gambar 2.2
Gambar 3.1
Model Community As Partner
Modifikasi Langkah-langkah dalam Proses
Keperawatan Individu dan Keluarga Lansia
dengan Depresi
Kerangka Konsep Praktik Keperawatan
Komunitas pada Aggregate Lansia dengan
Depresi
Kerangka Modifikasi Pelaksanaan Intervensi
43
58
66
Gambar 3.2
MaSa INDAH
Gambar 4.1 Fish Bone Analisis Manajemen Pelayanan
Kesehatan pada Aggregate Lansia dengan
Depresi
69
92
Gambar 4.2
Gambar 4.3
WOC (Web of Causation) Asuhan Keperawatan
Komunitas pada Aggregat Lansia dengan
Depresi
WOC (Web of Causation) Asuhan Keperawatan
Keluarga pada Aggregate Lansia dengan
Depresi
116
133

Pengaruh intervensi

xii

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1

Distribusi frekuensi karakteristik lansia depresi yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan usia, masalah kesehatan dan tingkat ketergantungan di Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19) Distribusi frekuensi karakteristik lansia depresi yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan jenis kelamin, status perkawinan pendidikan, pekerjaan dan penghasilan di Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19) Distribusi frekuensi karakteristik lansia depresi

111

Tabel 4.2

112 Tabel 4.3 yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH berdasarkan jaminan kesehatan di Kelurahan Curug tahun
112
Tabel 4.3
yang mendapatkan intervensi MaSa INDAH
berdasarkan jaminan kesehatan di Kelurahan
Curug tahun 2013 (n=19)
Tabel 4.4 Distribusi frekuensi lansia depresi sebelum
mendapatkan intervensi MaSa INDAH
berdasarkan skore pengetahuan tentang
113
113
Tabel 4.5
perawatan kesehatan lansia dengan depresi di
Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19)
Distribusi frekuensi lansia depresi sebelum
mendapatkan intervensi MaSa INDAH
berdasarkan skore depresi dan tingkat depresi di
Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19)
Tabel 4.6 Distribusi frekuensi lansia depresi setelah
mendapatkan intervensi MaSa INDAH
berdasarkan skore pengetahuan tentang
perawatan kesehatan lansia dengan depresi di
Kelurahan Curug tahun 2013 (n=19)
114
124
Tabel 4.7
124
Tabel 4.8

Distribusi rata-rata skor pengetahuan kelompok lansia sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug Kota Depok tahun 2014 (n=19) Distribusi Perubahan Kemampuan Lansia dalam Memilih Cara untuk Mengatasi Depresi Pre dan Post intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug, Cimanggis Kota Depok, 2014 (n=19) Distribusi rata-rata skor depresi kelompok lansia

sebelum dan sesudah mendapatkan intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug Kota Depok tahun 2014 (n=19) Tabel 4.10 Distribusi Perubahan Tingkat Depresi Lansia Sebelum dan Sesudah intervensi MaSa INDAH di Kelurahan Curug, Cimanggis Kota Depok, 2014 (n=19)

Tabel 4.9

125

126

126

Pengaruh intervensi

xiii

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1: Penapisan Masalah Pelayanan dan Asuhan Keperawatan Komunitas Lampiran 2: Kuesioner Lampiran 3: Leaflet Lampiran 4: Kartu Tilik Diri (KTD)

Kuesioner Lampiran 3: Leaflet Lampiran 4: Kartu Tilik Diri (KTD) Pengaruh intervensi xiv , Agnes Dewi

Pengaruh intervensi

xiv

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

1

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab ini menguraikan latar belakang, tujuan dan manfaat dari penerapan model asuhan keperawatan pada komunitas dan keluarga lansia dengan depresi di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis Kota Depok, Jawa Barat.

Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis Kota Depok, Jawa Barat. 1.1 LATAR BELAKANG Seiring dengan peningkatan derajat

1.1 LATAR BELAKANG Seiring dengan peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk, maka akan berpengaruh pada peningkatan Usia Harapan Hidup (UHH) di Indonesia. Berdasarkan laporan dari World Health Organization (WHO) dalam Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2013) dan Komisi Nasional Lanjut Usia (2010), peningkatan UHH terjadi dari tahun 1980 adalah 55,7 tahun, angka ini kemudian meningkat pada tahun 1990 menjadi 59,5 tahun, pada tahun 2009 mencapai 70,6 tahun dan pada tahun 2020 diperkirakan UHH menjadi 71,7 tahun. Hal ini menyebabkan pertumbuhan penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia semakin meningkat.

Lansia mengalami suatu proses dalam kehidupan yang alami dan pasti akan dihadapi oleh setiap manusia dan tidak dapat dihindari yaitu penuaan. Perubahan yang terjadi pada proses penuaan ditandai dengan hilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan organ tubuh memperbaiki diri dan bersifat irreversibel. Perubahan yang terjadi yaitu pada aspek fisik atau fisiologi, psikologi, dan sosial (Miller, 2012).

Perubahan kondisi fisik mengakibatkan lansia tidak mampu beraktifitas secara optimal (Stanhope & Lancaster, 2010). Lansia menjadi kurang aktif dan akhirnya mengalami keterbatasan pergerakan, kekakuan otot dan tulang. Hal ini menyebabkan lansia lebih banyak melakukan aktifitas hanya di dalam rumah. Lansia yang lebih banyak melakukan aktifitas sendiri di dalam rumah akan merasakan kondisi kesepian dan jauh dari pengaruh sosial di dalam masyarakat.

Pengaruh intervensi

1

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

2

Perubahan psikologis, sosial dan ekonomi juga dapat dialami oleh lansia terutama yang memasuki masa pensiun atau penurunan peran dalam masyarakat (Stanhope & Lancaster, 2010; Miller, 2012). Demikian pula dengan lansia yang mengalami proses kehilangan pasangan hidup atau orang-orang yang dicintainya, ia akan merasakan kesedihan dan kesepian (Stanhope & Lancaster, 2010; Friedman, Bowden & Jones, 2010). Penurunan produktivitas dan ekonomi lansia berdampak pada penurunan pendapatan, sehingga lansia mengalami pemenuhan nutrisi yang kurang baik, terjadinya penelantaran, hingga kondisi sulitnya mendapatkan pelayanan kesehatan. (Stanhope & Lancaster, 2010; Miller, 2012). Kondisi tersebut dapat menimbulkan masalah kesehatan pada lansia yaitu depresi.

menimbulkan masalah kesehatan pada lansia yaitu depresi. Depresi merupakan salah satu gangguan mental emosional yang

Depresi merupakan salah satu gangguan mental emosional yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya (Sadock & Sadock, 2010). Kurangnya motivasi dan gangguan dalam alam perasaan menyebabkan penurunan semangat hidup, sehingga jika depresi terjadi pada kondisi lansia yang sudah mengalami penurunan kesehatan, maka akan memperberat kondisi kesehatannnya.

Menurut ahli, faktor yang dapat menyebabkan depresi pada lansia adalah karena hilangnya harga diri, hilangnya peran yang berarti, hilangnya orang tertentu, dan kontak sosial yang kurang (Reker, 1997 dalam Miller, 2012). Faktor lain yang berkontribusi dalam munculnya masalah depresi pada lansia adalah meliputi: usia; jenis kelamin, kurangnya peran sosial dan rendahnya status sosial ekonomi; pengalaman masa lalu seperti trauma pada masa kecil; stres sosial yang berulang termasuk dalam kejadian hidup yang membuat stress; jaringan sosial yang tidak adekuat; kurangnya interaksi sosial; rendahnya intergrasi sosial misalnya ketidakmampuan lingkungan dan terbatasnya kekuatan keagamaan; serta kombinasi beberapa faktor-faktor (Miller, 2012; Cole & Dendukuri, 2003).

Depresi diawali dengan gejala ringan seperti merasa sedih, kurang bersemangat dan malas beraktifitas. Manifestasi depresi akan meningkat ke depresi sedang dan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

3

berat, jika lansia tidak memiliki koping yang adekuat. Kondisi tersebut membuat lansia atau aggregate (kelompok khusus) lansia menjadi bagian dalam populasi rentan meliputi rentan secara fisiologis yaitu berupa proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri, sehingga masalah kesehatan lansia banyak yang bersifat kronik; rentan secara psikologis yaitu lansia akan dihadapkan oleh berbagai peristiwa dan kejadian kehidupan yang mengakibatkan perubahan-perubahan yang berpotensi menimbulkan stres; rentan secara sosial yaitu stres sosial dapat disebabkan oleh diskriminan baik ras, budaya, atau yang lainnya; dan rentan secara ekonomi yaitu lansia mengalami keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan kesehatannya (Miller, 2012; Swanson & Nies, 1993; Stanhope & Lancaster, 2010; Ruof, 2004).

Nies, 1993; Stanhope & Lancaster, 2010; Ruof, 2004). Kondisi keterasingan, kemiskinan dan kurangnya dukungan

Kondisi keterasingan, kemiskinan dan kurangnya dukungan sosial membuat lansia semakin tidak diperhatikan. Moccia dan Mason (1986, dalam Stanhope & Lancaster, 2010) menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah utama karena melibatkan kontrol atas sumber daya yang diperlukan, sehingga dapat berfungsi efektif di dalam masyarakat. Kondisi tersebut mengakibatkan lansia semakin berisiko besar mengalami masalah kesehatan dengan depresi.

Angka kejadian depresi pada lansia semakin meningkat. Kejadian depresi secara klinis pada lansia di dunia cukup signifikan yaitu 8-16%. Menurut Back dalam Tamber & Kookasiani (2009), prevalensi depresi pada lansia yang menjalani perawatan di institusi seperti rumah sakit dan panti perawatan adalah sebesar 50- 75%. Sedangkan di komunitas, prevalensi depresi yang dialami oleh lansia adalah 1-35% (Frazer, Christense & Griffith, 2005). Di Indonesia dilaporkan bahwa 74% lansia berusia 60 tahun ke atas menderita penyakit kronis seperti diabetes mellitus, hipertensi, stroke, rematik, asma dan jantung. Angka tersebut mengindikasikan bahwa ada kemungkinan sebanyak 74% lansia di Indonesia akan berisiko mengalami depresi, karena kondisi lansia dengan proses penuaan disertai penyakit kronik akan berdampak pada ekspresi putus asa pada keadaan dan tidak memiliki harapan kesembuhan.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

4

Hasil dari Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk Indonesia adalah sebesar 6%. Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang memiliki prevalensi gangguan mental emosional yang lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional yaitu 9,3% (Kemenkes RI, 2013a). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa depresi bukan merupakan masalah yang berisiko akan terjadi dalam masyarakat, namun sudah memang menjadi masalah kesehatan yang aktual dan perlu diperhatikan.

masalah kesehatan yang aktual dan perlu diperhatikan. Pentingnya masalah depresi pada lansia didasarkan pula dari

Pentingnya masalah depresi pada lansia didasarkan pula dari fenomena yang ditemukan di lapangan. Hasil survei di Kelurahan Curug Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat pada bulan September-Oktober 2013 dengan menggunakan kuesioner depresi yaitu GDS (Geriatric Depression Scale) ditemukan 38 lansia yang ada di masyarakat mengalami depresi, dimana 12 lansia (31,5%) dengan risiko depresi dan 16 lansia (42,1%) mengalami depresi ringan dan 10 lansia (26,3%) mengalami depresi sedang. Data tersebut menunjukkan bahwa prevelensi lansia yang mengalami depresi di Kelurahan Curug (risiko depresi, ringan hingga sedang) adalah 7,5 % atau lebih tinggi dari prevalensi nasional maupun provinsi (Survey Mahasiswa Program Spesialis Keperawatan Komunitas FIK-UI, 2013).

Sejumlah 38 lansia yang mengalami depresi di Kelurahan Curug, memiliki pola komunikasi lansia yang tidak terbuka, banyak berdiam diri dan duduk sendiri di dalam rumah. Hal tersebut disebabkan pula karena kondisi fisik yang tidak memungkinkan untuk melakukan kegiatan di luar rumah, ada juga yang disebabkan karena lansia merasakan malu dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Beberapa lansia jarang berkomunikasi dengan anggota keluarganya, karena kesibukan anggota keluarga yang lain dan lansia juga merasakan kerinduannya untuk dikunjungi oleh anggota keluarga yang lain. Kondisi tersebut tidak dikomunikasikan oleh lansia dengan baik kepada keluarga atau orang lain, sehingga lansia memendam keinginan dan perasaannya sendiri dengan mengekpresikannya melalui tangisan maupun sikap berdiam diri.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

5

Dukungan bagi kesehatan lansia depresi masih kurang optimal dan sering diabaikan. Banyak keluarga yang masih belum mengetahui perawatan bagi lansia depresi di rumah, sehingga dapat memperburuk kondisi lansia dan akhirnya akan menambah beban bagi keluarga yang merawatnya. Selain itu, dukungan dari masyarakat yang masih kurang memperhatikan kondisi psikososial lansia dalam kegiatan bermasyarakat serta persepsi keluarga dan masyarakat yang masih kurang tepat tentang depresi pada lansia dengan menyatakan bahwa kesedihan di masa tua adalah hal yang biasa dan tidak perlu dipersoalkan. Hasil pengamatan pada kegiatan posbindu, lansia hanya mendapatkan pelayanan kesehatan minimal berupa pengukuran tekanan darah dana belum adanya kegiatan lansia sebagai upaya promotif dan preventif khususnya untuk masalah depresi.

promotif dan preventif khususnya untuk masalah depresi. Masalah kesehatan depresi pada lansia sering diabaikan bukan

Masalah kesehatan depresi pada lansia sering diabaikan bukan hanya oleh masyarakat, namun juga oleh tenaga kesehatan. Menurut Conner (2010), persepsi negatif terhadap masalah lansia depresi dapat mempengaruhi perilaku kesehatan dan perhatian dalam memperoleh dan memberikan pelayanan kesehatan yang optimal bagi lansia depresi. Sejumlah faktor yang menyebabkan keadaan ini adalah karena adanya fakta bahwa lansia mengalami kondisi gangguan fisik saja, sehingga depresi menjadi tersamarkan. Selain itu, isolasi sosial, sikap orang tua, penyangkalan, pengabaian terhadap proses penuaan normal menyebabkan tidak terdeteksi dan tidak tertanganinya depresi pada lansia (Love, 1991 dalam Stanley & Beare, 2007).

Lansia yang mengalami kesedihan hingga depresi dan tidak segera ditangani dengan baik akan berdampak negatif bagi kondisi kesehatan lansia. Kondisi depresi dapat memperpendek harapan hidup dan memperburuk kemunduran fisik lansia. Dampak terbesar sering terjadi pada penurunan kepuasan dan kualitas hidup lansia serta menghambat pemenuhan tugas perkembangan lansia (Stanley, & Beare, 2007; Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Depresi juga akan menguras habis emosi dan finansial lansia dan keluarga lansia serta sistem pendukung sosial informal dan formal yang dimilikinya. Akhirnya, angka bunuh diri yang tinggi menjadi konsekuensi yang serius dari kondisi depresi tersebut (Stanley & Beare,

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

6

2007). Kondisi lansia dengan depresi, membutuhkan dukungan seoptimal mungkin, sehingga lansia dapat menikmati masa tuanya dengan sehat, bahagia, produktif dan berkualitas secara sosial maupun ekonomis sesuai dengan martabat kemanusiaan.

Kualitas hidup lansia dapat dicapai dengan kondisi peningkatan kesehatan fisik dan mental lansia dalam mewujudkan proses menua secara aktif dan sehat bagi lansia. Dukungan, bantuan dan perlindungan lansia diperlukan diberbagai bidang seperti kesehatan, pendidikan dan pelatihan, kemudahan dalam menggunakan fasilitas, sarana dan prasarana umum serta pelayanan dengan memperhatikan kemauan lansia untuk berpartisipasi dalam kegiatan di masyarakat (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010). Dukungan tersebut dapat diberikan oleh pemerintah, masyarakat, keluarga dan petugas atau pemberi pelayanan kesehatan.

keluarga dan petugas atau pemberi pelayanan kesehatan. Perawat merupakan salah satu petugas kesehatan yang

Perawat merupakan salah satu petugas kesehatan yang memberikan asuhan keperawatan secara holistik dan komprehensif terhadap masalah kesehatan yang terjadi pada lansia (Roger dalam Ruof, 2004). Hal ini juga seiring dengan perkembangan keperawatan di masyarakat terutama di bidang spesialistik yaitu spesialisasi keperawatan komunitas, dimana peran perawat spesialis keperawatan komunitas antara lain sebagai manajer dan pemberi asuhan keperawatan dengan manajemen kasus (Allender, Rector, & Warner, 2014).

Peran perawat sebagai manajer yaitu dalam pengelolaan pelayanan kesehatan secara langsung untuk kebutuhan masyarakat dengan menjalankan fungsi manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan evaluasi kemajuan dari tujuan yang ingin dicapai untuk meningkatkan kesehatan lansia (Allender, Rector, & Warner, 2014; Marquis & Huston, 2012). Salah satunya adalah masalah lansia dengan depresi. Sedangkan peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dengan manajemen kasus adalah memberikan pelayanan keperawatan secara sistematis dengan mengkaji kebutuhan klien, merencanakan dan mengkoordinasikan pelayanan, rujukan pada pemberi pelayanan kesehatan yang lain, dan monitoring serta evaluasi dengan

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

7

menggunakan biaya yang efektif (Allender, Rector, & Warner, 2014; Stuart & Laraia, 2005). Tindakan keperawatan diharapkan bertujuan untuk mencegah atau menurunkan tanda dan gejala depresi melalui penguatan sumber koping dan kemampuan personal lansia serta dukungan sosial dari keluarga maupun masyarakat Perawat juga berperan sebagai edukator, advokator, kolaborator, leadership, dan peneliti (Allender, Rector, & Warner, 2014).

, dan peneliti (Allender, Rector, & Warner, 2014). Seorang perawat komunitas harus mampu mengkaji dan

Seorang perawat komunitas harus mampu mengkaji dan menganalisis masalah yang terjadi pada aggregat lansia depresi dengan membuat rencana pemecahan masalah dengan pendekatan asuhan keperawatan komunitas. Peran perawat komunitas diharapkan dapat melakukan proses pengkajian komunitas berdasarkan perspektif manajemen/pengorganisasian masyarakat dan manajemen asuhan keperawatan di komunitas. Salah satunya dengan penerapan model konseptual Betty Neuman yaitu Community As Partner sebagai framework pengkajian terhadap sistem klien dengan memperhatikan aspek biopsikososiospiritual dan kultural yang meliputi lingkungan fisik, pendidikan, sistem keamanan dan transportasi, politik dan pemerintahan, pelayanan kesehatan, komunikasi, ekonomi dan rekreasi (Anderson & McFarlene, 2011). Komponen tersebut sangat diperlukan lansia dalam upayanya untuk mencegah depresi melalui kegiatan- kegiatan yang ada di dalam masyarakat atau dalam kelompok.

Model Betty Neuman yang diterapkan dalam Community As Partner memandang manusia sebagai makhluk holistik meliputi aspek fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan dan spiritual. Kelima aspek tersebut saling berhubungan secara dinamis seiring dengan adanya respon-respon sistem terhadap stressor baik dari internal maupun eksternal yang dapat mengakibatkan lansia mengalami depresi. Model Community As Partner juga menekankan pengertian komunitas sebagai mitra untuk menekankan filosofi pelayanan kesehatan primer yang menjadi landasannya (Anderson & McFarlene, 2011). Pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan komunits diberikan untuk menurunkan tingkat depresi pada lansia. Hal ini sesuai dengan prinsip dalam keperawatan komunitas yang ditetapkan oleh ANA (2007 dalam Allender, Rector & Warner, 2014) yaitu

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

8

perawat bekerja sama dengan komunitas (komunitas sebagai rekan kerja) dalam mencapai tujuan intervensi keperawatan kesehatan komunitas yang berfokus pada upaya pencegahan primer. Intervensi keperawatan yaitu dengan mempertimbangkan kondisi lansia dengan masalah depresi.

Lansia dengan kondisi penuaannya dan mengalami depresi merupakan salah satu bentuk stress, sehingga lansia berada pada kondisi risiko terhadap masalah kesehatan. Hal ini sesuai dengan teori konsekuensi fungsional yang menyatakan bahwa perubahan yang berkaitan dengan usia dapat mempengaruhi kualitas hidup (Miller, 2012). Respon konsekuensi fungsional baik secara positif maupun negatif, tergantung dari faktor-faktor risiko serta koping yang dilakukan dalam mengatasi masalahnya. Konsekuensi fungsional negatif terjadi bila tidak dapat memkompensasikan perubahan yang terjadi, baik secara fisik maupun psikologis, sedangkan konsekuensi fungsional positif terjadi bila lansia dapat memkompensasikan perubahan yang terjadi dengan koping yang baik.

perubahan yang terjadi dengan koping yang baik. Salah satu sumber koping yang dapat digunakan oleh lansia

Salah satu sumber koping yang dapat digunakan oleh lansia adalah dari keluarga. Sebuah keluarga terdiri dari beberapa anggota keluarga yang saling berinteraksi, sehingga dapat memberikan dukungan yang mempengaruhi kesehatan seseorang (Pender, 2002). Dukungan yang dapat diberikan oleh keluarga (dukungan keluarga) adalah suatu sistem pendukung keluarga bagi anggota keluarganya yang mengalami situasi stres, sehingga dapat memberikan kenyamanan fisik dan psikologis (Taylor, 2006). Hal ini sesuai dengan model proses keperawatan keluarga menurut Friedman yaitu Family Centered Nursing yang menyatakan bahwa perawat mengonseptualisasikan keluarga sebagai unit pelayanan yang memiliki kekuatan dalam memberikan dukungan bagi anggota keluarga yang mengalami masalah kesehatan, serta menjadi sumber kekuatan dalam intervensi asuhan keperawatan (Friedman, Bowden & Jones, 2010). Salah satunya untuk pengelolaan asuhan keperawatan keluarga lansia dengan risiko depresi.

Pengelolaan pelayanan dan asuhan keperawatan yang diberikan dalam menurunkan tingkat depresi lansia menggunakan teori manajemen keperawatan,

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

9

sedangkan asuhan keperawatan komunitas menggunakan community as partner, konsekuensi fungsional dan family center nursing (Anderson & McFarlene, 2011; Miller, 2012; Friedman, Bowden & Jones, 2003; Marquis & Huston, 2012). Integrasi teori dan model tersebut digunakan dalam melakukan proses asuhan keperawatan yaitu pengkajian faktor risiko, sumber koping, mekanisme koping dan manajemen keperawatan, mengidentifikasi diagnosis keperawatan, membuat rencana untuk mencapai hasil yang diharapkan, serta implementasi keperawatan dan evaluasi terhadap keefektifan dari intervensi yang diberikan kepada lansia dengan depresi sebagai individu, kelompok dan komunitas serta keluarga sebagai bagian masyarakat dan menjadi rekan kerja petugas kesehatan dalam bentuk program intervensi keperawatan (Anderson & McFarlene, 2011; Stanhope & Lancaster, 2010; Miller, 2012).

2011; Stanhope & Lancaster, 2010; Miller, 2012). Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak hal yang

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak hal yang perlu diperhatikan dan dapat dilakukan oleh perawat dalam menangani masalah lansia dengan depresi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa 70% dari lansia di atas 60 tahun mengalami ketergantungan dengan orang lain. Banyaknya lansia yang depresi merasa tidak bahagia, karena bergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari sebagai akibat dari penurunan kesehatan fisik dan mental (Palestin, 2006). Aktivitas pekerjaan dan rekreasi sangat membantu dalam meningkatkan kondisi fisik lansia, menurunkan emosi dan tekanan serta berdampak pada antidepresan. Aktifitas yang dapat dilakukan adalah seperti jogging, berjalan, berenang, bersepeda dan berolahraga (Trivedi, 2006). Aktivitas kegiatan lansia dapat dilakukan secara rutin di dalam rumah bersama-sama keluarga seperti kegiatan yang membersihkan rumah, memasak berbagai menu yang disesuaikan dengan tingkat kemampuan lansia.

Kegiatan di luar rumah juga dapat membantu lansia mengatasi depresi. Perawat dapat membantu lansia dengan meningkatkan kemampuan sosial lansia melalui identifikasi perilaku interaksi sosial dan kemampuan sosial yang positif lansia serta mencoba melakukan kemampuan sosialnya. Faktor sosial dapat memberikan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

10

pengalaman yang positif pada kondisi depresi, meningkatkan harga diri dan kepuasan diri karena adanya dukungan sosial dan penerimaan pribadi (Cutler, 2005). Hasil penelitian yang dipresentasikan pada konferensi dari British Nutrition Foundation (2008) juga menyatakan bahwa individu dengan aktifitas fisik yang rendah memiliki risiko depresi dua kali dibanding individu yang memiliki aktivitas teratur (David, 2008), sehingga lansia diharapkan dapat melakukan aktivitas secara teratur di rumah maupun di masyarakat. Hal ini sangat penting bagi lansia dengan proses penuaan, sehingga lansia bisa menerima kondisinya dengan baik.

sehingga lansia bisa menerima kondisinya dengan baik. Proses penerimaan diri pada lansia yaitu kondisi lansia

Proses penerimaan diri pada lansia yaitu kondisi lansia dapat menerima dirinya dengan segala kekurangannya untuk dapat tetap merasa bahagia, hal ini didasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri (2012) menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara penerimaan diri dengan depresi pada wanita perimenopuase. Berdasarkan perubahan tersebut, diharapkan perawat dapat berperan membantu lansia untuk mampu menerima proses penuaan secara baik, karena salah satu faktor yang dapat menyebabkan lansia bisa merasa tetap berguna di masa tuanya adalah kemampuan lansia dalam menyesuaikan diri dan menerima segala perubahan dan kemunduran yang dialaminya (Miller, 2012).

Kemampuan lansia dalam penerimaan diri penting dalam meningkatkan harga diri lansia. Peningkatan harga diri lansia diidentifikasikan juga secara verbal dan non verbal yang menunjukkan nilai-nilai positif dan penerimaan diri lansia. Hal tersebut dapat dilihat dalam partisipasi aktif lansia pada terapi kelompok, kemampuan meditasi dan relakasasi, sehingga dapat meningkatkan kemampuan koping dalam diri lansia untuk menghadapi ketegangan hidup sehari-hari dan mendukung gaya hidup yang sehat (Copel, 2007).

Proses penerimaan kondisi lansia juga dilihat dari kemampuan lansia untuk mengenal masalah depresinya. Kemampuan lansia tersebut adalah kesadaran akan diri sendiri. Kesadaran diri merupakan proses mengembangkan pemahaman tentang perasaan yang dapat menggunakan kemampuan lansia. Ketika lansia

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

11

memahami dan memadukan individu, maka lansia akan belajar memperbaiki diri, berubah untuk hidup lebih baik lagi dengan harga diri yang tinggi. Harga diri berhubungan dengan afek lansia. Jika lansia dengan harga diri tinggi, maka akan menurunkan tingkat depresi (MacInnes, 2006).

Pendekatan perawat dalam pencapaian kesehatan lansia bukan hanya kondisi fisik, namun juga membantu lansia dalam memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan dengan Tuhan atau agama yang dianutnya karena agama dan kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan lansia yang disebut dalam kebutuhan spiritual (Maslow, 1980 dalam Keliat, 2011). Spiritual adalah suatu aktivitas untuk mencari arti dan tujuan hidup yang berhubungan dengan kegiatan spiritual keagamaan (Keliat, 2011). Aktivitas-aktivitas spiritual akan memberikan nilai tertinggi bagi lansia untuk menemukan kebermaknaan, harapan dan rasa harga dirinya dengan banyak berdzikir dan melaksanakan ibadah sehari-hari, lansia akan menjadi lebih tenang dalam hidupnya, menurunkan gejala depresi dan kecemasan akan kematian serta meningkatkan kesehatan mental lansia (Kemensos, 2008; Bjorklop, 2013; Hill, 2006; Meisenhelder, 2002).

2008; Bjorklop, 2013; Hill, 2006; Meisenhelder, 2002). Berdasarkan hasil penelitian tentang intervensi yang dapat

Berdasarkan hasil penelitian tentang intervensi yang dapat diberikan bagi lansia dengan depresi, maka penulis memadukan beberapa intervensi keperawatan ke dalam sebuah program yang bernama “MaSa INDAH” yaitu MAri berSAma melakukan “I “adalah ikut dalam kegiatan keluarga dan masyarakat, “N” adalah meNerima kondisi penuaan dengan tulus dan ikhlas, “D” adalah doa dan diskusi bersama orang lain, “A” adalah atasi segala macam stres dengan baik, dan “H” adalah harga diri yang tinggi. Program ini diharapkan lansia akan merasakan masa-masa tua dengan indah tanpa ada kesedihan dan merasakan kebermaknaan hidup bersama orang lain disekitarnya. Kegiatan dilakukan dalam intervensi untuk petugas kesehatan dan kelompok di masyarakat yaitu kelompok pendukung MaSa INDAH dan kelompok lansia depresi, serta intervensi individu dalam keluarga. Selain itu lansia juga dikenalkan dengan kartu tilik diri (KTD) yang membantu lansia dalam menilai perasaanya. Lansia dapat berusaha belajar untuk menurunkan kondisi depresi atau kesedihan yang dirasakannya dengan cara yang baik dan

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

12

efektif dengan adanya panduan dalam membantu diri sendiri, sehingga dapat

meningkatakan kebahagiaan lansia dengan depresi McCann, 2012).

(Songprakum, Wallapa &

Pelaksanaan intervensi “MaSa INDAH” pada kelompok lansia dengan depresi menggunakan strategi pemberdayaan kemampuan lansia sebagai klien dan dukungan sosialnya. Hasil dari intervensi selama 9 bulan waktu efektif praktik residensi spesialis keperawatan kesehatan komunitas, dapat tergambarkan keefektifan intervensi “MaSa INDAH” dalam penurunan tingkat depresi yang signifikan pada aggregat lansia yang mendapatkan intervensi yaitu sebesar 31,58%. Berdasarkan hal tersebut, maka penulis tertarik untuk menyampaikan inti dari hasil praktik residensi spesialis keperawatan kesehatan komunitas melalui intervensi “MaSa INDAH” untuk menurunkan tingkat depresi pada aggregate lansia dengan depresi di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok dalam Karya Ilmiah Akhir ini.

1.2 TUJUAN PENULISAN 1.2.1 Tujuan Umum 1.2.2 Tujuan Khusus Tujuan khusus adalah teridentifikasi:
1.2 TUJUAN PENULISAN
1.2.1 Tujuan Umum
1.2.2 Tujuan Khusus
Tujuan khusus adalah teridentifikasi:

Memberikan gambaran pengaruh intervensi “MaSa INDAH” dalam pelayanan dan

asuhan keperawatan komunitas terhadap penurunan tingkat depresi pada aggregate lansia di Kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok.

1.2.2.1 Peningkatan perilaku kesehatan tenaga kesehatan yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug. 1.2.2.2 Peningkatan perilaku kesehatan kelompok pendukung yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

13

1.2.2.3 Peningkatan perilaku keluarga yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug. 1.2.2.4 Peningkatan kemandirian keluarga dalam melakukan perawatan lansia dengan depresi. 1.2.2.5 Peningkatan perilaku lansia dengan depresi yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam melaksanakan intervensi “MaSa INDAH” di Kelurahan Curug. Penurunan tingkat depresi setelah pelaksanaan intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia di Kelurahan Curug.

1.2.2.6 1.3 Manfaat Penulisan Manfaat penulisan mencakup: 1.3.1 Pengelola Program Kesehatan 1.3.1.1 Dinas Kesehatan
1.2.2.6
1.3 Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan mencakup:
1.3.1 Pengelola Program Kesehatan
1.3.1.1 Dinas Kesehatan
1.3.1.2 Puskesmas
1.3.1.3 Perawat Kesehatan Masyarakat (Perawat Komunitas)

Sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan program dan sebagai masukan untuk

pengembangan program promosi kesehatan terkait dengan masalah kesehatan depresi pada aggregate lansia melalui intevensi “MaSa INDAH”.

Sebagai masukan dalam pengembangan program inovasi tambahan pada pelayanan kesehatan di dalam gedung dan di luar gedung pada aggregate lansia melalui intevensi “MaSa INDAH”.

Sebagai gambaran pelaksanaan intervensi pada aggregate lansia dengan depresi atau keluarga serta yang melibatkan kader dalam kelompok pendukung melalui intevensi “MaSa INDAH”.

1.3.2 Kader Kesehatan

Sebagai gambaran pelaksanaan kegiatan oleh kader kesehatan atau kelompok pendukung kesehatan lansia dengan depresi serta memberikan umpan balik pada aggregate lansia maupun pada keluarga melalui intevensi “MaSa INDAH”.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

14

1.3.3 Masyarakat, Keluarga dan Lansia

Sebagai gambaran upaya peningkatan perilaku kesehatan (pengetahuan, sikap,

keterampilan) dan tingkat kemandirian keluarga serta masyarakat dalam meningkatkan kesehatan keluarga melalui perawatan lansia dengan depresi melalui intervensi “MaSa INDAH”.

1.3.4 Pengembangan Ilmu Keperawatan

dengan depresi.
dengan depresi.

Pengembangan asuhan keperawatan komunitas, kelompok dan keluarga melalui intervensi “MaSa INDAH” pada aggregate lansia dengan depresi, serta pengembangan penelitian yang terkait tentang keperawatan kesehatan lansia

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

15

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS

Bab ini menguraikan tentang tinjauan teroritis yang menjadi sumber referensi atau landasan dalam menulis karya ilmuah akhir yaitu lanjut usia sebagai populasi rentan, konsekuensi fungsional, lansia dengan depresi, dan keperawatan komunitas yang mencakup manajemen pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan komunitas dan keluarga sebagai integrasi model Community as Partner, Family Centered Nursing pada aggregat lansia dengan depresi.

Centered Nursing pada aggregat lansia dengan depresi. 2.1 Lansia sebagai Populasi Rentan ( Vulnerable Population)

2.1 Lansia sebagai Populasi Rentan (Vulnerable Population) 2.1.1 Definisi populasi rentan Flaskerud dan Winslow (1998, dalam Stanhope & Lancaster, 2010) mengatakan bahwa kerentanan merupakan hasil gabungan efek dari keterbatasan sumber keadaan tidak sehat dan tingginya faktor risiko. Kerentanan juga menunjukkan interaksi antara keterbatasan fisik dan sumber lingkungan, sumber personal (human capital), dan sumber biopsikososial (adanya penyakit dan kecenderungan genetik) (Aday, 2001 dalam Stanhope & Lancaster, 2010). Populasi rentan adalah populasi yang lebih besar kemungkinannya untuk mengalami masalah kesehatan akibat paparan berbagai risiko daripada populasi yang lainnya (Stanhope & Lancaster, 2010). Vulnerable population ialah suatu kelompok yang mempunyai karakteristik lebih memungkinkan berkembangnya masalah kesehatan dan lebih mengalami kesulitan dalam mengakses pelayanan kesehatan serta kemungkinan besar penghasilannya kurang atau masa hidup lebih singkat akibat kondisi kesehatan (Maurer & Smith, 2005).

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi rentan adalah populasi atau sekelompok orang yang memiliki karakteristik tertentu sebagai akibat dari hasil interaksi keterbatasan fisik dan sumber lingkungan, personal dan biopsikososial sehingga mudah mengalami masalah kesehatan, kesulitan dalam mengakses kesehatan, berpenghasilan rendah dan memiliki masa hidup yang lebih singkat. Lansia yang mengalami depresi adalah

Pengaruh intervensi

15

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

16

karena kondisi penuaan yang menyebabkan adanya perubahan-perubahan yang terjadi dan kadang berbeda dengan harapan lansia sebelumnya. Perubahan kondisi yang tidak sesuai harapan, membuat lansia terpukul, kecewa hingga putus ada dan pada kondisi ketidakberdayaan. Koping pemecahan masalah yang tidak efektif, membuat kondisi lansia menjadi lebih berat lagi misalnya dengan risiko terjadinya bunuh diri pada lansia.

misalnya dengan risiko terjadinya bunuh diri pada lansia. 2.1.2 Karakteristik Lansia sebagai Populasi Rentan Lansia

2.1.2 Karakteristik Lansia sebagai Populasi Rentan Lansia dengan depresi merupakan bagian dari populasi rentan. Karakteristik lansia sebagai populasi rentan mencakup rentan secara fisiologis, psikologis, sosial dan ekonomi dalam mengatasi masalah kesehatannya.

2.1.2.1 Rentan Secara Fisiologis Rentan secara fisiologis pada lansia semakin meningkat sesuai dengan usia kronologis (Miller, 2012). Seseorang individu yang disebut lansia menurut umur kronologis meliputi young old yaitu kelompok lansia yang berusia 65 sampai 74 tahun; middle old yaitu kelompok lansia yang berusia 75 tahun sampai 85 tahun; dan old old atau very old yaitu kelompok lansia yang telah berusia berusia 85 tahun atau lebih (Mauk, 2006; Miller 2012; Swanson & Nies, 1993). Lansia sebagai individu yang sangat tua atau lebih dari 65 tahun dikategorikan termasuk dalam populasi rentan (Maurer & Smith, 2005). Menurut UU No. 13 tahun 1998 dan PP RI No. 43 tahun 2004, lansia ialah individu yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Biro Hukum & Humas BPKP, 1998, 2004).

Lansia mengalami proses menua atau aging. Proses menua yaitu terjadinya suatu proses perubahan fisiologis sebagai konsekuensi fungsional berupa proses menghilangnya secara perlahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri atau mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang diderita, sehingga masalah kesehatan pada lansia banyak yang bersifat kronik yang berhubungan dengan genetik dan gaya hidup (Miller, 2012; Stanhope & Lancaster, 2010).

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

17

2.1.2.2 Rentan Secara Psikologis

Lansia mengalami kemunduran fungsi psikologis berupa perubahan fungsi psikososial. Lansia dihadapkan pada berbagai peristiwa dan kejadian kehidupan yang mengakibatkan perubahan-perubahan yang berpotensi menimbulkan stres (Miller, 2012; Swanson & Nies, 1993). Stres yang berkepanjangan dapat berpengaruh pada kondisi kesehatan lansia.

2012). 2.1.2.3 Rentan Secara Sosial
2012).
2.1.2.3
Rentan Secara Sosial

Peristiwa kehidupan yang terjadi pada lansia antara lain peristiwa kehilangan pasangan hidup atau orang yang dicintai; kehilangan pekerjaaan atau masa pensiun yang berdampak pada berkurangnya pendapatan, identitas dan peran; gangguan dalam kesehatan atau akibat menderita penyakit kronik; maupun persepsi atau pendapat negatif tentang lansia. Peristiwa tersebut menimbulkan reaksi tubuh lansia terhadap stres dan berdampak pada fungsi psikologis yang berhubungan dengan koping individu misalnya menjadi menolak kondisi saat ini, menjadi pendiam, pemarah, pemurung, pencemas sampai kondisi depresi (Miller,

Menurut teori Cumning dan Henry (1961 dalam Miller, 2012) menyatakan bahwa semakin tua seseorang akan semakin tidak terlibat secara emosional dengan dunia sekitar, sehingga lansia akan melepaskan diri dari berbagai ikatan. Lansia juga menjadi rentan secara sosial karena dapat mengalami stress sosial dan hal ini akan mempengaruhi kesehatan lansia. Stres sosial dapat disebabkan oleh adanya diskriminasi ras, budaya, atau yang lainnya (Stanhope & Lancaster, 2010; Swanson & Nies, 1993).

2.1.2.4.Rentan Secara Ekonomi Proses penuaan atau kondisi kesehatan yang kurang baik pada lansia, menimbulkan lansia tidak dapat beraktifitas secara optimal, sehingga bagi lansia yang semula bekerja harus berhenti bekerja atau lansia yang harus memasuki masa pensiun. Kondisi tersebut membuat lansia mengalami penurunan penghasilan (Miller, 2012). Keterbatasan dana berdampak pada ketidakmampuan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

18

lansia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, termasuk untuk kesehatannya karena mengalami keterbatasan dalam mendapatkan pelayanan perawatan kesehatan yang optimal (Ski & Stevens; 2004 dalam Allender, 2014; Swanson & Nies, 1993).

Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik lansia yang merupakan bagian dari populasi rentan. Karakteristik lansia sebagai populasi rentan dapat secara fisiologis, psikologis, sosial dan ekonomi yang mempengaruhi status kesehatan lansia. Kerentanan tersebut juga dipengaruhi oleh banyak faktor.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerentanan
2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kerentanan

Menurut Stanhope dan Lancaster (2010), lansia masuk dalam populasi rentan dan

sering memiliki faktor risiko yang lebih banyak dari pada populasi yang lain. Kerentanan bersifat multidimensi yaitu dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berkontribusi.

2.1.3.1 Faktor Keterbatasan Sumber Daya Kurangnya sumber daya sosial, pendidikan dan ekonomi yang memadai merupakan faktor seseorang menjadi rentan. Kemiskinan adalah penyebab utama terhadap kerentanan. Kemiskinan menyebabkan kerentanan karena membuat seseorang sulit berfungsi atau mengakses sumber daya untuk hidup atau untuk perawatan kesehatan. Kondisi lansia tidak memiliki penghasilan atau pensiun dengan penghasilan kecil berkontribusi besar pada kondisi kerentanan pada masalah kesehatan karena pensiun sering diartikan sebagai kehilangan penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan harga diri.

Perubahan-perubahan yang terjadi lansia akan berpengaruh pada aktivitas ekonomi dan sosial mereka. Berdasarkan hasil Sakernas Agustus 2009, hampir separuh (47,44%) lansia di Indonesia memiliki kegiatan utama bekerja dan sebesar 0,41% termasuk menganggur/ mencari kerja, 27,88% mengurusi rumah tangga dan kegiatan lain sekitar 24,27%. Tingginya persentase lansia yang bekerja dapat dimaknai bahwa sebenarnya lansia masih mampu bekerja secara produktif

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

19

untuk membiayai kehidupan rumah tangganya, namun disisi lain mengindikasikan bahwa tingkat kesejahteraan lansia masih rendah, sehingga meskipun usia sudah lanjut, lansia terpaksa bekerja untuk membiayai kehidupan rumah tangganya (Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010).

2.1.3.2 Faktor Perubahan Status Kesehatan

Perubahan status fisiologi mempengaruhi individu untuk menjadi rentan akibat dari proses penyakit seperti individu dengan satu atau lebih penyakit kronis. Menurut Allender (2014), populasi yang dipertimbangkan masuk dalam populasi rentan adalah populasi yang mengalami kecacatan, penyakit kronik (misalnya hipertensi, kanker, diabetes mellitus, dll), penyakit mental dan penyalahgunaan obat terlarang.

2.1.3.3 Faktor Risiko Kesehatan
2.1.3.3 Faktor Risiko Kesehatan

Menurut teori konsekuensi fungsional, kesehatan lansia adalah kemampuan lansia untuk berfungsi secara optimal meskipun dalam situasi perubahan yang berkaitan dengan penuaan dan faktor risiko (Miller, 2012). Proses penuaan yang terjadi pada lansia tersebut dapat mempengaruhi status kesehatannya karena memiliki keterbatasan akibat kemunduran berbagai sistem dalam tubuh. Lansia yang disertai dengan penyakit kronik dan kurangnya dukungan mengakibatkan lansia dengan depresi masuk dalam kelompok rentan.

Populasi rentan tidak hanya mengalami beberapa risiko kumulatif, tetapi populasi tersebut juga sangat sensitif terhadap efek dari risiko tersebut. Risiko yang berasal dari bahaya lingkungan (paparan zat adatif) atau bahaya sosial (kejahatan,

kekerasaan dan pengabaian/penyalahgunaan), dalam perilaku pribadi (diet dan kebiasaan olahraga) atau susunan biologis atau genetik (bawaan atau status kesehatan). Populasi rentan sering memiliki komorbiditas atau penyakit multiple dengan masing-masing mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Lansia juga merupakan individu yang mempunyai kondisi fisik, psikologi, dan sosial yang lemah, sehingga mudah berkembangnya masalah kesehatan dan mengalami kondisi kesehatan yang buruk (Pender, Murdaugh, & Parsons, 2002).

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

20

2.1.3.4 Faktor Marjinalisasi Populasi rentan terpinggirkan (marginalisasi) dengan populasi secara keseluruhan yaitu karena masalah yang dihadapi oleh populasi rentan merupakan masalah yang tidak terlihat oleh penduduk yang lebih besar serta populasi rentan tersebut memiliki keterbatasan dalam memperoleh sumber daya yang mereka butuhkan. Moccia dan Mason (1986, dalam Stanhope & Lancaster, 2010) menyatakan bahwa kemiskinan adalah masalah utama karena melibatkan kontrol atas sumber daya yang diperlukan sehingga dapat berfungsi efektif di dalam masyarakat.

sehingga dapat berfungsi efektif di dalam masyarakat. Marjinalisasi merupakan pencabutan hak, ini mengacu pada

Marjinalisasi merupakan pencabutan hak, ini mengacu pada perasaan terpisah dari masyarakat dimana tidak memiliki hubungan emosional dengan kelompok tertentu atau dengan tatanan sosial yang lebih besar, seperti kelompok orang miskin, tunawisma dan imigran yang pada dasarnya terlihat oleh masyarakat secara keseluruhan dan dilupakan dalam perencanaan kesehatan dan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa populasi rentan tidak memiliki dukungan sosial yang diperlukan untuk mengelola hidup sehat secara emosional dan fisik, sehingga rawan terhadap keterlantaran.

Berdasarkan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kerentangan populasi, maka populasi lansia yang rentan sangat memerlukan dukungan untuk dapat hidup tua, aktif dan produktif. Hal tersebut dapat didukung dengan pendekatan teori yang berhubungan dengan kesehatan lansia. Rose and Killien (1983 dalam Miller, 2012) menganalisis bahwa konsep risiko maupun rentan dapat diaplikasikan ke dalam teori konsekuensi fungsional yang terjadi pada lansia.

2.1.4 Konsekuensi Fungsional pada Aggregate Lansia Konsekuensi fungsional adalah berbagai faktor perubahan yang berkaitan dengan usia, yang dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia, dimana tingkat ketergantungan semakin tinggi (Miller, 2012). Menurut teori konsekuensi fungsional, kesehatan lansia adalah kemampuan lansia untuk berfungsi secara optimal meskipun dalam situasi perubahan yang berkaitan dengan penuaan dan faktor risiko. Proses penuaan yang terjadi pada lansia dapat mempengaruhi status

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

21

kesehatannya karena memiliki keterbatasan akibat kemunduran berbagai sistem dalam tubuh. (Miller, 2012).

Konsekuensi fungsional dapat bersifat positif maupun negatif, berdasarkan hasil observasi efek dari tindakan, faktor risiko, perubahan akibat penuaan yang mempengaruhi kualitas hidup lansia dan aktifitas lansia sehari-hari. Fokus pengkajian perawat adalah mengkaji perubahan lansia yang disebabkan oleh usia, konsekuensi fungsional negatif dan faktor risiko tambahan yang lain. Selanjutnya perawat melakukan intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mencapai konsekuensi fungsional positif bagi lansia (Miller, 2012).

konsekuensi fungsional positif bagi lansia (Miller, 2012). Lansia yang mengalami depresi adalah salah satu bentuk

Lansia yang mengalami depresi adalah salah satu bentuk konsekuensi fungsional negatif yaitu apabila lansia tidak dapat memkompensasikan perubahan yang terjadi akibat proses penuaan, baik secara fisik maupun psikologis. Selain itu dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kesehatan lansia berupa ekonomi yang kurang, ketidakmampuan bergerak, kurangnya dukungan sosial, dan kesalahpahaman tentang penuaan. Hal tersebut perlu diperhatikan untuk mencapai konsekuensi fungsional positif, terutama bagi lansia dengan depresi.

2.2 Lansia dengan Depresi 2.2.1 Perubahan akibat Proses Penuaan pada Lansia 2.2.1.1 Teori Psikososial Teori perkembangan psikososial menurut Erikson adalah seseorang yang berusia lebih dari 65 tahun berada pada fase integrity vs despair yaitu seseorang akan melihat kembali (flash back) kehidupan yang telah mereka jalani dan berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang belum terselesaikan. Penerimaan terhadap prestasi, kegagalan dan keterbatasan adalah hal utaman yang membawa dalam sebuah kesadaran bahwa hidup seseorang adalah tanggung jawabnya sendiri. Orang yang berhasil melewati tahapan ini berarti ia dapat mencerminkan keberhasilan dan kegagalan yang pernah dialami. Individu ini akan mencapai kebijaksanaan meskipun saat menghadapi kematian. Keputusasaan dapat terjadi

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

22

pada orang-orang yang menyesali cara mereka dalam menjalani hidup atau bagaimana kehidupan mereka telah berubah (Shaffer, 2005)

Teori psikososial berasumsi bahwa munculnya masalah depresi pada masa tua adalah karena hilangnya harga diri, hilangnya peran yang berarti, hilangnya orang tertentu, dan kontal sosial yang kurang (Reker, 1997 dalam Miller, 2012). Faktor yang berkontribusi dalam munculnya masalah depresi pada lansia adalah meliputi: usia; kurangnya peran sosial dan rendahnya status sosial ekonomi; pengalaman masa lalu seperti trauma pada masa kecil; stres sosial yang berulang termasuk dalam kejadian hidup yang membuat stress; jaringan sosial yang tidak adekuat; kurangnya interaksi sosial; rendahnya intergrasi sosial misalnya ketidakmampuan lingkungan dan terbatasnya kekuatan keagamaan; serta kombinasi beberapa faktor-faktor.

kekuatan keagamaan; serta kombinasi beberapa faktor-faktor. Teori psikososial menggambarkan tentang masalah depresi

Teori psikososial menggambarkan tentang masalah depresi sebagai suatu kondisi, dimana individu mengalami penurunan pada kognitif, motivasi, harga diri dan afektif-somatik (Seligman, 1981 dalam Miller, 2012). Blazer (2003) menyarankan bahwa strategi untuk meningkatkan kepuasan diri pada lansia akan mencegah depresi. Jika lansia terus menerus melakukan berbagai aktivitas, maka lansia akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan (Hikmawati & Purnama, 2008). Hal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan dalam perumusan tujuan intervensi keperawatan mencegah depresi terutama pada lansia.

2.2.1.2 Teori Gangguan Kognitif Kognitif adalah kemampuan berpikir dan memberikan rasional termasuk proses mengingat, menilai, orientasi, persepsi dan memperhatikan (Stuart & Sundeen, 2009). Gangguan kognitif akan mempengaruhi gambaran diri lansia, lingkungan dan pengalamannya serta pandangannya untuk masa depan. Orang dengan depresi kurang memikirkan masa depan yang dapat membuatnya bahagia. Lansia dengan depresi biasanya memiliki penilaian negatif terhadap kehidupannya dengan adanya perasaan tidak berharga, menganggap kejadian kehidupan adalah suatu hal

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

23

yang buruk, berpikir tidak realistis terhadap kondisi ketidakberdayaannya (Miller,

2012).

2.2.1.3

Teori Biologis

Teori biologi berhubungan dengan proses penuaan, depresi dan perubahan pada otak, sistem saraf dan neurotransmitter. Neurotransmitter seperti serotonin, dopamin, asetilkolin dan norefinephrin yang berkontribusi pada kondisi depresi pada lansia (Miller, 2012). Teori menunjukkan bahwa penyebab depresi sebenarnya tidak datang dari luar, melainkan dari dalam diri. Jika lansia dihadapkan pada suatu masalah, ia akan mudah menyerah dan terjadi penurunan kemampuan dalam memecahkan masalah, sehingga lansia akan cenderung mengalami keputuasaan. Penelitian membuktikan bahwa perubahan neuroendokrin seperti penurunan kadar serotonin berkontribusi terhadap peningkatan risiko bunuh diri (Mann, 2002 dalam Miller, 2012).

2.2.2 Depresi pada Lansia 2.2.2.1 Pengertian Depresi
2.2.2 Depresi pada Lansia
2.2.2.1 Pengertian Depresi

Depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional yang mewarnai seluruh proses mental baik pikiran, perasaan dan aktivitasnya (Keliat dkk, 2011). Depresi merupakan respon emosional yang paling maladaptif yaitu dengan perubahan afektif, fisiologi, kognitif dan perilaku misalnya kesedihan, gelisah dan lambat dalam beraktifitas (Stuart, 2009). Depresi juga diartikan sebagai salah satu diagnosis mood (afektif) dengan kriteria terdapat 2 dari 3 gejala inti depresi ditemukan hampir setiap hari minimal 2 minggu yaitu penurunan mood (sedih, tertekan dan merasa tidak bahagia) atau afek depresif, kelelahan (merasa kelelahan atau energi berkurang) dan anhendonia atau tidak berminat dan kegembiraan berkurang untuk melakukan aktivitas (Townsend, 2009).

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa depresi adalah adanya gangguan kondisi emosional yang maladaptif baik pikiran, perasaan dan aktivitasnya yang ditandai dengan kesedihan, gelisah, kelelahan dan lambat dalam beraktifitas yang ditemukan hampir setiap hari minimal 2 minggu.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

24

2.2.2.2 Penyebab Depresi

Penyebab depresi menurut Stuart (2009) adalah akumulasi ketidakpuasan, frustasi,

kritikan pada diri sendiri tentang kejadian hidup sehari-hari tanpa adanya dukungan hal positif, stres dalam pekerjaan dan keluarga serta kehilangan. Depresi terjadi pada lansia tergantung banyaknya jumlah stressor (sumber stres) kehilangan yang dialami seperti pasangan, penghasilan, peran, kesehatan, fungsi seperti masih muda (Carson, 2010; Townsend, 2009). Penyebab depresi tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, akan tetapi dapat saling berinteraksi dengan faktor yang lain, sehingga munculnya depresi (Townsend, 2009). Selain itu ditambah dengan perubahan-perubahan akibat proses penuaan yang terjadi pada lansia.

2.2.2.3 Faktor risiko terjadinya depresi 2.2.2.4 Gejala Umum
2.2.2.3 Faktor risiko terjadinya depresi
2.2.2.4 Gejala Umum

Faktor risiko terjadinya depresi adalah sebagai berikut (Miller, 2012; WHO, 2009), meliputi : genetik atau keturunan; jenis kelamin wanita dua kali lebih besar berisiko menderita depresi dibandingkan laki-laki; lama tinggal di tempat khusus; dukungan sosial terbatas; kontrol tubuh yang kurang; kualitas tidur yang rendah; kejadian hidup yang membuat stres dan berulang; merasa tidak berdaya dan tidak ada harapan; merasa tidak ada alasan untuk melanjutkan hidup; gangguan fungsional menetap (misalnya: gangguan penglihatan); menderita penyakit serius (misalnya: kanker, kerusakan persyarafan).

Afek depresif, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi, mudah lelah dan menurunnya aktivitas dan lamanya episode depresif yaitu selama 2 minggu (Kemenkes RI, 2012). Depresi pada lansia dengan usia lebih 65 tahun atau lebih sering terjadi karena efek dari masalah penyakit kronik, kerusakan kognitif dan kemampuan yang menurun (Alexopoulus, 2005; Carson, 2010).

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

25

Gejala umum yang terjadi pada lansia depresi (Miller, 2012; Stuart & Sundeen, 2009; Carson, 2010; Townsend, 2009, Keliat, 2011; Kemenkes RI, 2012) meliputi :

a. Gejala fisik berupa: gangguan pola tidur (sulit tidur, terlalu banyak atau terlalu sedikit), menurunnya tingkat aktifitas, efisiensi kerja, produktifitas kerja dan mudah merasa letih atau sakit. b. Gejala psikis berupa: kehilangan kepercayaan diri, sering memandang peristiwa netral dipandang dari sudut pandang yang berbeda, bahkan disalah artikan akibatnya sehingga lansia mudah tersinggung, mudah marah, perasa, curiga, mudah sedih, murung dan lebih suka menyendiri, merasa dirinya tidak berguna, selalu gagal, merasa bersalah, merasa kehidupan ini sebagai hukuman, memiliki perasaan terbebani, dan menyalahkan orang lain. c. Gejala Sosial berupa: adanya masalah interaksi sosial, konflik, minder, malu, cemas jika berada diantara kelompok dan merasa tidak nyaman untuk berkomunikasi secara normal, merasa tidak mampu untuk bersikap terbuka dan secara aktif menjalani hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan.

hubungan dengan lingkungan sekalipun ada kesempatan. Tanda dan gejala depresi setiap lansia bervariasi. Penilaian

Tanda dan gejala depresi setiap lansia bervariasi. Penilaian tingkat depresi dapat diidentifikasi dengan penilaian menggunakan alat ukur yang tepat. Penilaian dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat, sehingga dapat menentukan intervensi yang tepat.

2.2.2.5 Pengukuran tingkat depresi pada lansia Pengukuran kondisi depresi pada lansia menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS) dengan 15 item pertanyaan yang sudah valid secara internasional (Sheikh, J. & Yesavage. JA, 1986 dalam Landefeld et al, 2004 & Ham et al, 2008). Penilaian depresi dengan menghitung total skor seluruh jawaban, kemudian diklasifikasikan dalam 4 kategori yaitu jika skor penilaian 04 maka kategori lansia normal (tidak depresi), skor 58 kategori lansia depresi ringan, skor 910 kategori lansia depresi sedang dan skor 1215 kategori lansia depresi berat.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

26

Lansia depresi memerlukan perhatian yang serius dengan pendekatan asuhan keperawatan untuk menurunkan faktor risiko, meningkatkan fungsi psikososial, memberikan latihan-latihan serta konseling oleh tenaga kesehatan yang didukung oleh lansia itu sendiri, keluarga maupun masyarakat di sekitarnya.

2.3 Keperawatan Komunitas Praktik keperawatan kesehatan komunitas menurut WHO (1974) dalam Stanhope dan Lancaster (2010) adalah mencakup perawatan kesehatan keluarga dan juga meliputi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang luas dan membantu masyarakat mengidentifikasi masalah kesehatan sendiri serta memecahkan masalah kesehatan tersebut sesuai dengan kemampuan dan sumber daya yang ada pada komunitas sebelum mereka meminta bantuan kepada orang lain. Keperawatan kesehatan komunitas merupakan keperawatan yang berfokus pada perawatan kesehatan komunitas atau populasi dari individu, keluarga dan kelompok (Stanhope dan Lancaster, 2010).

2.3.1 Unsur-unsur Penting dalam Kesehatan Komunitas
2.3.1 Unsur-unsur Penting dalam Kesehatan Komunitas

Unsur penting dalam kesehatan masyarakat menurut Allender, Rector dan Warner (2014) adalah memprioritaskan upaya pencegahan, proteksi dan promosi kesehatan tanpa mengesampingkan upaya kuratif sebagai bentuk praktik profesional; mengukur dan menganalisis masalah kesehatan komunitas dengan konsep epidemiologi dan biostatistik; mempengaruhi faktor dari lingkungan untuk kesehatan aggregate atau kelompok; prinsip yang menjadi dasar dalam kesehatan masyarakat adalah manajemen dan pengorganisasian kesehatan komunitas melalui pengorganisasian masyarakat; analisis kebijakan dan pengembangan publik; advokasi kesehatan serta pemahaman terhadap proses politik. Unsur-unsur penting tersebut adalah sebagai upaya dalam mencapai kesehatan yang optimal khususnya bagi keperawatan kesehatan komunitas lansia depresi.

2.3.2 Karakteristik Keperawatan Komunitas

Menurut Clark, 2008 dalam Maglaya et.al.,(2009), karakteristik keperawatan

komunitas meliputi promosi kesehatan dan pencegahan penyakit atau masalah

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

27

kesehatan sebagai bentuk praktik profesional yang dilakukan secara komprehensif, general dan berkelanjutan pada tiga level atau tingkatan klien yaitu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat (populasi). Selain itu, perawat juga mengenal dampak dari faktor yang berbeda pada kesehatan dan mempunyai kesadaran yang lebih besar terhadap situasi dan kehidupan klien dengan menggunakan strategi keperawatan komunitas yang tepat.

menggunakan strategi keperawatan komunitas yang tepat. 2.3.3 Strategi Keperawatan Komunitas 2.3.3.1 Proses

2.3.3 Strategi Keperawatan Komunitas 2.3.3.1 Proses Kelompok (Group Process). Proses kelompok merupakan proses pembentukan suatu kelompok untuk mencapai suatu tujuan bersama. Kelompok ini dapat membantu dalam program promosi kesehatan keperawatan komunitas dan dapat diwujudkan dalam kelompok lansia sebaya. Pengorganisasian masyarakat ini merupakan suatu proses perubahan komunitas yang memberdayakan individu dan kelompok berisiko dalam menyelesaikan masalah komunitas dan mencapai tujuan yang diinginkan bersama. Individu-individu dalam suatu kelompok dapat mempengaruhi pemikiran, perilaku, nilai dan interaksi sosial di masyarakat, maka diperlukan kekompakkan di dalam suatu kelompok (Stanhope & Lancaster, 2010).

Proses kelompok dilakukan dengan proses pembentukan kelompok khusus bagi lansia yang mengalami depresi yaitu kelompok lansia MaSa INDAH. Kelompok lansia merupakan salah satu sarana bentuk dukungan sosial yang dapat berkontribusi dalam promosi kesehatan. Kelompok swabantu adalah kumpulan dua orang atau lebih yang datang bersama untuk membuat kesepakatan saling berbagi masalah yang mereka hadapi, kadang disebut juga kelompok pemberi semangat (Pistrang, 2008).

Perawat dapat melibatkan lansia dalam kegiatan kelompok di masyarakat. Kegiatan kelompok dapat dilakukan dengan kegiatan yang dipadukan dengan kegiatan keagamaan. Kelompok dapat membantu lansia membangun integritas dan penghargaan atas diri sendiri. Situasi kelompok juga akan membimbing lansia keluar dari keterisolasian dan lansia akan menemukan makna dalam kehidupan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

28

mereka, sehingga mereka dapat hidup sepenuhnya dengan fungsi sosial dan physiologis yang tinggi. Perawat sebagai pemberi pelayanan kesehatan memiliki kesempatan dalam memfasilitasi kelompok dalam meningkatkan perawatan therapeutik bagi lansia dengan masalah depresi (Pistrang, 2008)

2.3.3.2 Pendidikan Kesehatan (Health Promotion). Pendidikan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan, mengurangi ketidakmampuan dan mengoptimalkan potensi kesehatan yang dimiliki oleh individu, kelompok dan masyarakat. Pendidikan kesehatan juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, perbaikan sikap dan peningkatan keterampilan, sehingga diharapkan ada perubahan gaya hidup yang lebih baik. Perubahan perilaku sehat masyarakat dapat mengubah penerimaan yang kondusif terhadap program promosi kesehatan yang dilakukan. Strategi pendidikan kesehatan merupakan suatu proses yang memfasilitasi pembelajaran yang mendukung perilaku sehat dan mengubah perilaku tidak sehat (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).

perilaku tidak sehat (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Pendidikan kesehatan dilakukan untuk lansia yang mengalami

Pendidikan kesehatan dilakukan untuk lansia yang mengalami depresi maupun lansia yang mengalami risiko depresi. Selain itu pendidikan kesehatan juga dilakukan dalam kegiatan-kegiatan di masyarakat seperti kegiatan keagamaan. Pendidikan kesehatan adalah memberikan informasi kesehatan tentang masalah kesehatan lansia, depresi pada lansia, komunikasi yang efektif bagi lansia dan keluarga, harga diri rendah dan cara meningkatkannya.

Intervensi promosi kesehatan juga diberikan tentang faktor risiko yang mengkibatkan depresi dapat dilakukan melalui intervensi keperawatan. Diskusi tentang perubahan fungsional yang terjadi pada lansia yang merupakan konsekuensi proses penuaan dengan faktor risiko pada lansia. Diskusi tentang hubungan potensial dan identifikasi pemecahan masalah bersama dengan pemberi pelayanan keperawatan (Miller, 2012).

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

29

2.3.3.3 Pemberdayaan Masyarakat (empowerment)

Pemberdayaan (empowerment) merupakan proses pemberian kekuatan atau motivasi sehingga membentuk interaksi transformasi kepada masyarakat antara lain dengan adanya dukungan, pemberdayaan, kekuatan ide baru dan kekuatan mandiri untuk membentuk pengetahuan baru (Hitchock, Scubert, & Thomas, 1999). Perawat komunitas mendorong masyarakat untuk dapat berbuat mandiri dan berpartisipasi aktif dalam upaya kesehatannya. Kerjasama ini dilakukan untuk mencapai tujuan bersama dalam upaya meningkatkan kesehatan lansia depresi yaitu dengan melibatkan masyarakat dan keluarga.

2.3.3.4 Kemitraan (partnership)
2.3.3.4 Kemitraan (partnership)

Pemberdayaan juga merupakan proses pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang meningkatkan kemampuan seseorang atas keputusan- keputusan mempengaruhi orang lain (Helvie, 1998). Pemberdayaan juga merupakan proses yang memungkinkan orang untuk memilih, mengendalikan, dan membuat keputusan tentang kehidupannya dengan rasa saling menghargai terhadap semua yang terlibat (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Pemberdayaan masyarakat dan keluarga dilakukan untuk mendukung lansia dalam intervensi keperawatan “MaSa INDAH” sebagai upaya mencegah dan menurunkan tingkat depresi pada lansia.

Kemitraan dilakukan untuk upaya kesehatan lansia dengan depresi yaitu menjalin kemitraan dengan lintas program dan lintas sektoral. Kemitraan dilakukan agar mengoptimalkan kegiatan program yang direncanakan, karena suatu program berkaitan langsung dengan sektor kehidupan yang lain. Misalnya upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak hanya dipengaruhi oleh fasilitas pelayanan kesehatan saja, namun juga dapat dipengaruhi oleh politik, ekonomi, budaya dan sektor yang lainnya.

Partnership juga merupakan suatu strategi negosiasi membagi kekuasaan antara tenaga kesehatan profesional dengan individu, keluarga, dan/atau rekan komunitas yang mempunyai tujuan saling menguntungkan untuk meningkatkan kemampuan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

30

individu, keluarga dan mitra masyarakat untuk melakukan kepentingan sendiri secara efektif (Helvie, 1998).

2.3.3.5 Intervensi Keperawatan Langsung. Perawatan yang dapat dilakukan secara langsung bagi keluarga dan lansia depresi adalah melalui terapi interpersonal (TI), terapi kognitif perilaku (CBT), terapi relakasasi untuk manajemen nyeri, konseling kelompok. Blazer (2003) menyatakan bahwa hal yang sangat penting dalam pencegahan primer dari depresi adalah melalui intervensi keperawatan yang meningkatkan kepuasan hidup lansia dan menurunkan kesedihan dan kesendirian. Perawat dapat mengidentifikasi intervensi yang dapat meningkatkan dukungan sosial.

1) Promosi kesehatan dalam latihan dan intervensi nutrisi
1)
Promosi kesehatan dalam latihan dan intervensi nutrisi

Menurut Miller (2012) tindakan keperawatan yang juga dapat dilakukan pada lansia dengan depresi antara lain:

Penelitian yang dilakukan oleh Blazer (2003) menyatakan bahwa latihan fisik dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia. Jika lansia memhami pentingnya latihan fisik untuk kesehatan fisik dan mentalnya, maka lansia akan merasakan manfaat langsung dari program latihan tersebut. Demikian pula dengan nutrisi yang merupakan suatu hal yang penting dalam mencegah dan menurunkan depresi karena status nutrisi merupakan efek dari depresi dan dapat menjadi konsekuensi negatif. Status nutrisi yang baik pada lansia adalah merupakan efek positif dari kesehatan mental dan fungsi kognitif. Ketika depresi terjadi, lansia cenderung mengalami malnutrisi dan dehidrasi serta mengalami gangguan pencernaan.

2) Pelaksanan konseling Perawat berperan dalam memberikan konseling dan dukungan emosional untuk lansia dan pada situasi yang sama, lansia berpartisipasi dalam terapi psikososial. Konseling didefinisikan proses yang menggunakan bantuan secara interaktif yang berfokus pada kebutuhan, masalah atau perasaan pasien dan menggambarkan dukungan koping, proses pemecahan masalah dan hubungan interpersonal (Iowa

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

31

Intervention Project, 2000 dalam Miller, 2012) dapat efektif untuk menurunkan depresi.

Kegiatan intervensi yang lain dan dapat digunakan untuk mengatasi masalah depresi pada lansia meliputi: meningkatkan hubungan terapeutik; memfasilitasi dalam mengungkapkan perasaan; mendemonstrasikan empaty, kehangatan dan perhatian; meningkatkan kemampuan keterampilan baru jika dibutuhkan; penyediaan informasi yang tepat dan baru jika dibutuhkan; membimbing lansia dalam mengidentifikasi kekuatan dan memberikan dukungan bagi lansia (Piven & Buckwalter, 2001 dalam Miller, 2012). Dukungan emosional didefinisikan sebagai dukungan dalam mencari sumber, penerimaan dan dukungan selama mengalami stres (Iowa Intervention Project, 2000 dalam Miller, 2012).

stres (Iowa Intervention Project, 2000 dalam Miller, 2012). Terapi yang juga dapat diberikan kepada lansia yang

Terapi yang juga dapat diberikan kepada lansia yang mengalami depresi (Miller, 2012) antara lain: terapi perilaku (misalnya pemecahan masalah, praktik asertif dan pengaturan jadwal kegiatan harian); terapi kognitif (misalnya rekonstruksi kecemasan); terapi interpersonal (misalnya dengan modifikasi hubungan atau ekspektasi tentang hubungan); terapi dukungan (misalnya evaluasi kekuatan dan kelemahan individu serta memfasilitasi dalam memilih untuk dapat meningkatkan kemampuan koping).

Strategi keperawatan komunitas digunakan untuk mencapai tujuan perawatan komunitas yaitu mempromosikan dan menjaga kesehatan komunitas. Tujuan keperawatan akan tercapai jika dilakukan dengan strategi keperawatan yang tepat. Strategi keperawatan komunitas harus tetap memperhatikan prinsip-prinsip dari keperawatan komunitas (Allender, Rector & Warner, 2014).

2.3.4 Prinsip Keperawatan Komunitas Prinsip-prinsip ditetapkan oleh ANA (2007, dalam Allender, Rector & Warner,, 2014) untuk praktik keperawatan kesehatan komunitas adalah sebagai berikut:

2.3.4.1 Fokus pada komunitas Prinsip pertama adalah tanggungjawab perawatan kesehatan komunitas adalah

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

32

pelayanan langsung. Selain itu, perawat kesehatan komunitas dapat memberikan intervensi untuk individu, keluarga atau kelompok yang membutuhkan dan menjadi bagian dalam komunitas (komunitas sebagai klien).

2.3.4.2 Memprioritaskan untuk kebutuhan komunitas

Prinsip kedua adalah perawat kesehatan komunitas memprioritaskan kebutuhan

komunitas. Perawat harus berusaha untuk mempertimbangkan intervensi yang terbaik dan yang akan diberikan kepada komunitas.

2.3.4.3 Bekerja bersama anggota masyarakat 2.3.4.4 Fokus pada pencegahan primer 2.3.4.5 Promosi lingkungan yang
2.3.4.3 Bekerja bersama anggota masyarakat
2.3.4.4 Fokus pada pencegahan primer
2.3.4.5 Promosi lingkungan yang menyehatkan

Prinsip ketiga adalah perawat bekerja bersama-sama dengan komunitas (komunitas sebagai rekan kerja) dalam mencapai tujuan intervensi keperawatan kesehatan komunitas. Perawat dan anggota komunitas masing-masing memiliki sistem nilai, kepercayaan dan keahlian masig-masing dalam hubungan kerjanya.

Perkembangan kebijakan dan jaminan lebih memungkinkan untuk bisa diterima dan diterapkan sebagai dasar pertimbangan saling menghormati satu sama lain.

Prinsip keempat adalah keperawatan kesehatan komunitas menekankan pada pentingnya tindakan pencegahan primer dalam promosi kesehatan masyarakat. Perawat kesehatan komunitas berinisiatif untuk menemukan kelompok berisiko tinggi, potensial masalah-masalah kesehatan, dan situasi yang berkontribusi dalam masalah kesehatan. Kemudian perawat membuat suatu program pencegahan masalah kesehatan.

Prinsip kelima adalah merupakan hal yang penting untuk memastikan bahwa masyarakat hidup dalam kondisi yang mendukung kesehatan. Masyarakat akan memiliki tingkat kesehatanyang rendah jika hidup dalam lingkungan yang tinggi

pengangguran, perumahan yang padat, tidak memiliki sumber air bersih, serta pola hidup merokok, minum minuman keras, penggunaan obat-obatan terlarang. Untuk mengubah kondisi tersebut membutuhkan komitmen, ketekunan,

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

33

kesabaran,

akal

dan

pandangan

yang

jangka

panjang

dari

semua

lapisan

masyarakat.

2.3.4.6 Target intervensi untuk semua yang membutuhkan manfaat intervensi

Prinsip keenam adalah perawat kesehatan komunitas memeriksa kebijakan atau program untuk menentukan apakah kebijakan atau program tersebut dapat diakses dan dapat diterima oleh seluruh lapisan masyarakat yang membutuhkan dan advokasi untuk perubahan jika diperlukan.

2.3.4.7 Promosi alokasi sumber daya yang optimal 2.3.4.8 Kolaborasi dengan semua pihak yang ada di
2.3.4.7 Promosi alokasi sumber daya yang optimal
2.3.4.8 Kolaborasi dengan semua pihak yang ada di komunitas

Prinsip ketujuh adalah perawat kesehatan komunitas mengetahui hasil penelitian yang efektif dari berbagai program. Perawat juga mengumpulkan informasi tentang biaya jangka pendek dan jangka panjang dari program.

Prinsip kedelapan adalah perawat kesehatan komunitas menekankan pada pentingnya kolaborasi dengan perawat yang lain, pemberi pelayanan kesehatan, pekerja sosial, guru, pemimpin agama, pengusaha dan pegawai pemerintahan di masyarakat. Kolaborasi interdisiplin tersebut sangat penting dalam pelaksanaan dan keefektifan program. Program tersebut direncanakan dan dilaksanakan tanpa ada kesenjangan dan tumpang tindih dalam pelayanan kesehatan.

Praktik keperawatan komunitas mencakup pelayanan keperawatan komunitas dan asuhan keperawatan komunitas. Pelayanan keperawatan komunitas perlu dikelola dan ditata dengan fungsi-fungsi manajemen. Hal tersebut bertujuan agar pencapaian kesehatan masyarakat menjadi lebih optimal.

2.3.5 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas Manajemen pelayanan keperawatan komunitas adalah suatu penyelenggaraan salah satu inti program spesialis keperawatan dengan aplikasi ilmu keperawatan komunitas yang mengintegrasikan fungsi manajemen pelayanan kesehatan dengan asuhan keperawatan komunitas dan keluarga.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

34

2.3.5.1 Pengertian Manajemen

Manajemen merupakan bagian dari kepemimpinan yang menekankan pada pengendalian (Marquis & Huston, 2012). Manajemen keperawatan memiliki fungsi yaitu: mencakup fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan

pengawasan. Fungsi tersebut dioptimalkan dalam upaya pencapaian tujuan bersama yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menggunakan sumber daya secara efektif, efisien dan rasional (Swansburg, 2000).

2.3.5.2 Fungsi Manajemen a.
2.3.5.2 Fungsi Manajemen
a.

Fungsi Perencanaan Perencanaan adalah pandangan ke depan dan merupakan fungsi yang paling penting tentang suatu rencana kegiatan yang berisikan tujuan yang harus dicapai, bagaimana cara mencapainya, tempat kegiatan tersebut dilaksanakan, bagaimana indikator atau tolak ukur untuk mencapai tujuan, serta kegiatan

apa yang harus dilakukan selanjutnya dan berkelanjutan (Asmuji, 2012). Selian itu, Ervin (2002) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu rangkaian kegiatan yang terperinci dilakukan untuk menyelesaikan masalah yang membutuhkan solusi melalui intervensi yang terstruktur.

Perencanaan organisasi merupakan suatu bentuk pembentukan keputusan manajerial. Perencanaan meliputi pengkajian lingkungan, gambaran sistem organisasi menyeluruh termasuk seluruh bagian-bagian sistem, memberikan kejelasan filosofi dan misi organisasi, prediksi sumber-sumber dan kemampuan organisasi, identifikasi langkah-langkah yang dapat dilakukan, prediksi efektifitas dari berbagai alternatif tindakan yang ditentukan, pilihan tindakan yang akan dilakukan, dan menyiapkan staf atau karyawan untuk melaksanakan berbagai tindakan yang perlu dilakukan (Gillies, 1994).

Berdasarkan teori yang telah disampaikan oleh para ahli, menunjukkan teori tentang perencanaan yang bervariasi, maka dapat disimpulkan bahwa perencanaan adalah suatu rangkaian rencana kegiatan yang terperinci, terstruktur dalam menyelesaikan masalah dengan menggunakan langkah-

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

35

langkah yang sistematis. Perencanaan juga menyiapkan staf atau karyawan untuk melaksanakan rencana kegiatan, sehingga dapat mencapai tujuan organisasi khususnya dalam mengatasi masalah kesehatan lansia dengan depresi.

Tahapan perencanaan sebuah organisasi mencakup memformulasikan perencanaan organisasi, menentukan visi, menentukan misi, menggali berbagai sumber dan kendala, mengidentifikasi metode dan aktivitas yang dilakukan untuk mencapai tujuan (Ervin, 2002). Perencanaan merupakan hal yang penting dan merupakan proses yang pertama dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan yang adekuat, maka proses manajemen akan menjadi gagal dan koordinasi serta tujuan tidak akan tercapai (Marquis & Huston, 2012).

tujuan tidak akan tercapai (Marquis & Huston, 2012). Visi menggambarkan tujuan organisasi di masa yang akan

Visi menggambarkan tujuan organisasi di masa yang akan datang atau tujuan jangka panjang organisasi dan menjadi bagian dari visi lembaga secara keseluruhan (Gillies, 1994; Marquis & Huston, 2012). Visi merupakan dasar untuk membuat suatu perencanaan dan merupakan nilai, aspirasi, dan tujuan yang mendasar yang digunakan dengan jelas untuk mengetahui arah sebuah organisasi yang bersifat terbuka serta menjadi motivasi dan stimulasi organisasi dalam menjalankan aktivitas di dalam organisasi atau instansi (Asmuji, 2012; Wijono, 1999).

Misi merupakan suatu strategi untuk mencapai visi yang telah ditetapkan (Wijono, 1999). Tujuan atau pernyataan misi adalah pernyataan singkat yang mengidentifikasi alasan keberadaan oraganisasi dan tujuan serta fungsi organisasi di masa depan. Pernyataan misi merupakan prioritas tertinggi dalam hierarki perencanaan karena hal tersebut mempengaruhi pembuatan filosofi, tujuan umum, tujuan khusus, kebijakan, prosedur dan ketentuan organisasi (Marquis & Huston, 2012). Misi berisikan pernyataan-pernyataan yang menunjukkan posisi etik, prinsip, dan standar praktik atau pelayanan yang diberikan kepada masyarakat atau konsumen (Marquis & Huston,

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

36

2012). Misi juga tentu memberikan kejelasan kepada staf dalam uraian tugas dari masing-masing instansi untuk menjalankan aktivitas sesuai dengan yang telah ditetapkan, karena jika terjadi masalah seperti kurang kejelasan dalam misi, sasaran, atau tujuan-tujuan menyebabkan kebingungan terhadap staf dan menjadi tidak teratur terhadap usaha atau upaya yang dilakukan untuk melayani konsumen yaitu masyarakat (Gillies, 1994).

untuk melayani konsumen yaitu masyarakat (Gillies, 1994). Tujuan umum dan khusus adalah hasil dari perjalanan suatu

Tujuan umum dan khusus adalah hasil dari perjalanan suatu organisasi. Tujuan umum diartikan sebagai hasil yang diharapkan melalui usaha terarah. Tujuan khusus lebih berfokus pada proses yang diharapkan, memiliki kerangka waktu pencapaian yang spesifik dan dinyatakan dalam istilah perilaku, dapat dievaluasi secara objektif dan mengidentifikasi hasil yang positif, bukan negatif (Marquis & Huston, 2012). Undang-Undang Nomor 36 tentang kesehatan pasal 138 menyatakan bahwa (1) upaya pemeliharaan kesehatan bagi usia lanjut ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial dan ekonomi sesuai dengan martabat kemanusiaan; (2) pemerintah wajib menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok usia lanjut untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomi. Tujuan organisasi termasuk dalam rencana strategi, dimana menurut Martin (1998 dalam Marquis & Huston, 2012) menyatakan bahwa dalam rencana strategi dapat meramalkan keberhasilan pencapaian organisasi di masa depan dengan menyesuaikan dan menyelaraskan kapabilitas dengan kesempatan yang eksternal.

Perencanaan dalam suatu organisasi memerlukan sumber daya yang memadai dalam menunjang kegiatan, salah satunya adalah pengelolaan keuangan. Perencanaan anggaran membutuhkan visi, kreativitas dan seluruh pengetahuan politik, sosial, dan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat (Marquis & Huston, 2012). Kesejahteraan suatu instansi tergantung pada pengelolaan keuangan yang efektif (Gillies, 1994).

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

37

Langkah-langkah dalam perencanaan anggaran meliputi (Marquis & Huston, 2012) : langkah pertama yaitu mengkaji kebutuhan apa yang harus dipenuhi dalam penganggaran. Manajer membuat tujuan umum, tujuan khusus dan estimasi anggaran berdasarkan masukan dari rekan kerja dan bawahan. Penganggaran akan lebih efektif bila semua personil pengguna sumber daya dapat terlibat dalam proses tersebut. Langkah kedua yaitu membuat perencanaan. Siklus penganggaran sebagian besar disusun untuk dua belas bulan disebut anggaran fiskal tahunan, tetapi penganggaran berkelanjutan dapat dilakukan secara kontinu setiap bulan sehingga data anggaran 12 bulan ke depan selalui tersedia. Langkah ketiga adalah implementasi yaitu pemantauan berkelanjutan dan analisis dilakukan untuk mencegah pembiayaan yang tidak adekuat atau berlebihan pada akhir tahun pembukuan. Setiap manajer unit bertanggung gugat terhadap penyimpangan.

b.
b.

Fungsi Pengorganisasian Pengorganisasian adalah pengelompokan aktivitas-aktivitas untuk mencapai tujuan objektif, penugasan suatu kelompok manajer dengan otoritas pengawasan setiap kelompok dan menentukan cara pengoordinasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal yang bertanggungjawab mencapai tujuan organisasi (Swansburg, 1993). Pengorganisasian juga merupakan fase yang kedua setelah perencanaan dalam proses manajemen dan dalam tahap pengorganisasian menjelaskan tentang hubungan, prosedur pelaksanaan, perlengkapan, dan pembagian tugas (Marquis & Huston, 2012). Struktur organisasi menentukan tingkah laku staf pegawai sebagai akibat dari peran, kekuatan, tanggung jawab, kekuasaan, pemusatan, dan komunikasi (Gillies, 1994).

Aktivitas dalam upaya kesehatan lansia terutama untuk lansia dengan depresi, dapat dilakukan dengan pembentukan dan pembinaan puskesmas santun lansia dimana puskesmas santun lansia adalah puskesmas yang melakukan pelayanan kepada lansia mengutamakan aspek promotif dan preventif disamping aspek kuratif dan rehabilitatif secara proaktif, baik dan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

38

sopan serta memberikan kemudahan dan dukungan bagi lansia (Depkes RI,

2003).

Pembinaan kesehatan lansia dengan depresi diperlukan garis komando yang jelas, sehingga program kesehatan lansia dapat dilaksanakan dengan baik. Garis komando merupakan garis utuh vertikal antara posisi sebagai jalur formal komunikasi dan kewenangan, sehingga menyebabkan pegawai memiliki satu manajer tempat mereka memberikan laporan dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya (Marquis & Huston, 2012).

c.
c.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi yang berkaitan pengorganisasian terutama pengorganisasian sumber daya manusia (SDM) perkesmas di Puskesmas Wilayah Jakarta Barat sebanyak 50,7% termasuk dalam kategori baik (Ratnasari, Setyowati & Kuntarti, 2012).

Fungsi Ketenagaan (Staffing) Ketenagaan merupakan proses manajemen yang berkaitan dengan perekrutan, pemilihan, pemberian orientasi, dan peningkatan perkembangan individu untuk mencapai tujuan organisasi khususnya pelayanan kesehatan (Marquis & Huston, 2012). Salah satunya adalah pelayanan kesehatan lansia dengan depresi.

Perekrutan merupakan proses mencari atau menarik tenaga atau staf secara aktif untuk menempati posisi yang tersedia di dalam sebuah organisasi atau pelayanan kesehatan dengan cara wawancara; setelah dilakukan perekrutan maka selanjutnyan melakukan pemilihan atau seleksi yang merupakan proses pemilihan individu atau tenaga kesehatan untuk pekerjaan atau menempati posisi tertentu dari banyak pelamar (Marquis & Huston, 2012). Proses pemilihan staf memerlukan perhatian yang penuh untuk mendapatkan karyawan yang mempunyai kemampuan yang berkompeten dalam bidang pelayanan kesehatan (Gillies, 1994). Tahap selanjutnya setelah staf melewati proses seleksi yaitu orientasi (Marquis & Huston, 2012).

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

39

Orientasi merupakan proses penyesuaian seorang karyawan baru dengan lingkungan pekerjaan, sehingga karyawan tersebut dapat berinteraksi dengan cepat dan efektif dengan lingkungan baru tepat bekerja atau memberikan pelayanan kesehatan (Gillies, 1994). Proses orientasi yang adekuat akan meminimalkan kecenderungan pelanggaran peraturan, keluhan, dan kesalahpahaman; serta lebih menumbuhkan perasaan memiliki dan menerima serta meningkatkan antusiasme dalam bekerja pada institusi dan memberikan pelayanan kesehatan kepada klien atau masyarakat (Marquis & Huston, 2012).

kepada klien atau masyarakat (Marquis & Huston, 2012). Tahap selanjutnya setelah staf melalui proses orientasi maka

Tahap selanjutnya setelah staf melalui proses orientasi maka dilanjutkan dengan melakukan pembinaan atau pengembangan staf. Pembinaan atau pengembangan staf merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan produktivitas. Pembinaan atau pengembangan staf dapat dilakukan dengan pendidikan dan pelatihan. Proses pendidikan dan pelatihan bagi staf dapat meningkatkan produktifitas yang lebih baik dalam menjalankan suatu organisasi atau program (Marquis & Huston, 2003, 2012). Pelatihan merupakan suatu proses seorang individu disediakan dengan berbagai interaksi yang baik ditujukan untuk mengembangkan isu dan menerima umpan balik terhadap kekuatan dan kesempatan untuk terlibat atau menerima dukungan dan bimbingan selama transisi peran di dalam sebuah instansi (Karten & Baggot dalam (Marquis & Huston, 2012). Kurangnya pelatihan merupakan suatu kelemahan dalam sebuah manajemen, sehingga dapat berdampak pada kinerja staf pegawai kurang memuaskan (Swanburg, 2000).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanan dan pengaturan sumber daya manusia (SDM) perawatan kesehatan masyarakat (perkesmas) di Puskesmas Wilayah Jakarta Barat secara berurutan sebanyak 54% dan 52,1% baik dan juga ada hubungan perencanaan, pengorganisasian SDM dengan pelaksanaan perkesmas (Ratnasari, Setyowati, & Kuntarti, 2012).

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

40

d.

Fungsi Pengarahan Pengarahan merupakan hubungan manusia dalam kepemimpinan yang mengikat para bawahan agar bersedia mengerti dan menyumbangkan tenaganya secara efektif serta efisien dalam pencapaian tujuan suatu organisasi (Asmuji, 2012). Pengarahan yaitu proses interpersonal yang ditunjukkan dengan staf pegawai atau karyawan mencapai objektifitas dan merupakan proses penerapan rencana manajemen untuk mencapai visi dan misi (Swanburg, 2000). Fungsi pengarahan mencakup kegiatan motivasi, komunikasi organisasi, supervisi, pendelegasian dan manajemen konflik (Marquis & Huston, 2012).

dan manajemen konflik (Marquis & Huston, 2012). Motivasi adalah merupakan tenaga dalam diri individu yang

Motivasi adalah merupakan tenaga dalam diri individu yang mempengaruhi kekuatan atau mengarah perilaku. Salah satu motivator terkuat yang dapat digunakan oleh manajer untuk menciptakan suasana memotivasi adalah penguatan atau reinforcement positif (Marquis & Huston, 2012). Motivasi merupakan proses emosional yang lebih cenderung bersifat psikologis daripada logika, terfokus pada kebutuhan di dalam diri individu yang kuat, langsung, terus-menerus, dan menghentikan perilaku (Swanburg, 2000).

Pengarahan harus menggunakan komunikasi yang efektif karena komunikasi yang efektif dapat mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian yang disampaikan (Swanburg, 2000). Komunikasi dalam organisasi membentuk inti dan masuk di semua proses manajemen, dimana komunikasi adalah pertukaran pikiran, pesan, gagasan atau informasi melalui pembicaraan, tanda, tulisan dan perilaku (Marquis & Huston, 2012). Jadi komunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam pertukaran informasi oleh dua atau lebih orang dalam sebuah organisasi.

Supervisi merupakan suatu bentuk pengawasan pekerjaan atau kinerja orang lain secara langsung (Whitehead, Weiss & Tappen, 2010). Supervisi merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memastikan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dengan cara melakukan pengawasan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

41

terhadap pelaksanaan kegiatan. Supervisi dilakukan untuk memastikan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan memungkinkan terjadinya pemberian penghargaan, diskusi dan juga bimbingan yang bertujuan untuk mencari jalan keluar jika terjadi kesulitan dalam tindakan (Asmuji, 2012).

Pendelegasian mengandung makna bahwa seseorang memberikan kepercayaan kepada orang lain untuk melakukan tugas yang sangat penting (Marquis & Huston, 2012). Pimpinan pun dalam menentukan wewenang yang didelegasikan melalui komunikasi dengan bawahan (Swanburg, 2000). Pendelegasian yang diberikan berupa kewajiban, tugas-tugas, dan tanggung jawab sehingga yang menerima delegasi harus dapat melaksanakannya dengan baik (Swanburg, 2000).

e.
e.

Elemen selanjutnya adalah manajemen konflik. Konflik adalah perselisihan internal dan eksternal yang disebabkan oleh perbedaan nilai, pendapat, atau perasaan antara dua orang atau lebih berupa konflik interpersonal, intra personal dan interkelompok (Marquis & Huston, 2012). Tujuan terbaik dalam menyelesaikan konflik adalah menciptakan penyelesaian menang- menang (win-win solution) untuk semua pihak yang terkait.

Fungsi Pengendalian Pengendalian dalam manajemen adalah usaha sistematis untuk menetapkan standar prestasi kerja dengan tujuan perencanan, untuk mendesain sistem umpan balik informasi untuk membandingkan prestasi yang sesungguhnya dengan standar yang telah ditetapkan (Mockler, 1984 dalam Keliat, 2006). Pengawasan atau pengendalian mempunyai fungsi yang sangat besar dalam mempunyai manajemen pelayanan. Pengawasan atau pengendalian merupakan suatu bentuk koordinasi dalam mengidentifikasi berbagai kegiatan organisasi mulai dari perencanaan sampai dengan pengarahan berupa catatan, pelaporan, penggunaan berbagai sumber-sumber yang digunakan untuk mengamati tercapainya visi atau misi sebuah instansi (Swanburg, 2000).

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

42

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian atau pengawasan sumber daya manusia (SDM) perkesmas di Puskesmas Wilayah Jakarta Barat sebanyak 52,1% baik dan juga menunjukkan ada hubungan pengendalian atau pengawasan SDM dengan pelaksanaan perkesmas (Ratnasari, Setyowati, & Kuntarti, 2012).

2.3.6 Asuhan Keperawatan 2.3.6.1 Asuhan Keperawatan Komunitas Ervin (2002), menjabarkan bahwa Community as partner ini mendefinisikan partner sebagai gambaran hubungan antara keperawatan dan kelompok/komunitas sebagai klien. Komunitas didefinisikan oleh Higgs & Gustafson yang dikutip oleh Ervin (2002), adalah merupakan sebagai suatu kelompok atau agregat dari berbagai orang yang memiliki batasan geopolitikal dan mereka dianggap sebagai unit praktek pelayanan. Anderson dan McFarlene mengembangkan teory Community As Partner ini berdasarkan model konseptual keperawatan yang dikembangkan oleh Betty Neuman dalam Neuman’s Health Care System Model dan dalam keluarga yang ada di komunitas dengan sisitem pengkajian dari Family Center Nursing oleh Friedman. Konsep-konsep teori ini kemudian diaplikasikan saat praktik keperawatan komunitas pada kelompok lansia dan pada keluarga dengan lansia depresi di wilayah kerja kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat

kelurahan Curug, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat Asuhan Keperawatan Komunitas mulai pengkajian, analisis

Asuhan Keperawatan Komunitas mulai pengkajian, analisis data, diagnosa keperawatan, rencana keperawatan, implementasi, dan evaluasi keperawatan.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

43

43 Gambar 2.1 Model Community As Partner (Sumber: Anderson & McFarlane, 2011). a. Pengkajian Keperawatan Komunitas
Gambar 2.1 Model Community As Partner (Sumber: Anderson & McFarlane, 2011). a. Pengkajian Keperawatan Komunitas
Gambar 2.1 Model Community As Partner
(Sumber: Anderson & McFarlane, 2011).
a. Pengkajian Keperawatan Komunitas
1)
Inti Komunitas (Core)
perkawinan)

a) Demografi (karakteristik lansia meliputi: usia, jenis kelamin, status

Penduduk lanjut usia adalah penduduk berumur 60 tahun ke atas

(Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010). Sedangkan definisi lain

tentang lanjut usia adalah individu yang berusia lebih dari 65 tahun

(Mauk, 2006). Berdasarkan pendapat tersebut, maka lansia adalah

individu yang berumur lebih atau sama dengan 60 tahun.

Menurut Miller (2012), faktor resiko depresi adalah jenis kelamin

(wanita lebih cepat depresi dibandingkan laki-laki), selain itu faktor

resiko depresi adalah lansia dengan status perkawinan terutama yang

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

44

bercerai atau berpisah yang dituangkan dalam riwayat keluarga lansia (dalam genogram tiga generasi).

b)

Vital Statistik Vital statistik adalah angka kejadian kesakitan lansia yang disebabkan oleh depresi. Skrining pada lansia dilakukan dengan menggunakan GDS (Geriatric Deppresion Scale), serta gambaran angka kematian akibat bunuh diri atau akibat menarik diri dan atau diabaikan oleh keluarga.

c) d) e)
c)
d)
e)

Riwayat kesehatan lansia Riwayat kesehatan lansia yang menjadi faktor risiko, pendukung dan pencetus masalah kesehatan lansia dengan depresi. Selain itu, penyakit degenerative juga mempengaruhi riwayat kesehatan lansia dengan depresi.

Etnis dan Kebiasaan hidup Budaya di masyarakat dan yang dianut yang berpengaruh terhadap permasalahan kesehatan depresi pada lansia. Selain itu juga gaya hidup masyarakat terutama yang berpengaruh kesehatan lansia terhadap masalah depresi. Gaya hidup kelompok masyarakat terutama dalam pola komunikasi hubungan antar individu, bentuk keluarga, dukungan antar keluarga.

Nilai dan keyakinan Agama, nilai dan keyakinan yang dianut oleh keluarga terkait makna hidup, dukungan keluarga terhadap lanjut usia., warisan budaya/ pola kebiasaan serta stigma masyarakat/keluarga terhadap pengabaian orang tua. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap terjadinya masalah kesehatan lansia dengan depresi.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

45

2)

SUBSISTEM Lingkungan Fisik Lokasi tempat tinggal lansia dan tetangga serta komunitas. Lingkungan rumah yang dihuni oleh lansia dan lingkungan yang ada di sekitar tempat tinggal meliputi kondisi rumah, sumber polusi, cuaca. Rancangan pengkajian yang akan diidentifikasi ialah situasi tempat tinggal lansia yang dapat mempengaruhi masalah depresi seperti tingkat kenyamanan, kebisingan di sekitar rumah, suasana rumah yang kondusif.

a)

b)
b)

Hal-hal yang dikaji meliputi status rumah, type rumah, keadaan atau kondisi rumah termasuk kepadatan, ventilasi, pencahayaan, dan kebersihan, keamanan, kesesuaian dengan kondisi lansia. Kondisi lingkungan, terutama sosial yang tidak baik dapat menjadi pemicu timbulnya depresi.

Pelayanan Kesehatan dan Sosial Fasilitas kesehatan yang dapat mengakomodasi masalah kesehatan pada lansia khususnya depresi pada tingkat wilayah atau RW dan puskesmas, rumah sakit atau klinik swasta. Posbindu merupakan bagian dalam sarana pelayanan kesehatan dan sosial bagi lansia yang ada di masyarakat. Dukungan pelayanan sosial seperti tunjangan khusus untuk lanjut usia, kepemilikan kartu jaminan kesehatan atau asuransi kesehatan. Data yang berhubungan dengan dengan fasilitas pelayanan kesehatan antara lain: sumber daya kesehatan di wilayah kerja puskesmas serta pelayanan kesehatan serta pengobatan yang diberikan bagi lansia untuk mengatasi masalah depresi dan untuk mengurangi risiko depresi baik yang ada di masyarakat maupun di layanan kesehatan.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

46

c)

Ekonomi Meliputi pekerjaan yang dilakukan lansia, pendapatan dan pengeluaran, status ekonomi serta potensi sumber daya yang tersedia disekitar lansia. Karakteristik ratarata pendapatan lansia secara khusus dan keluarga serta karakteristik pekerjaan baik lansia maupun keluarga. Alokasi penggunaan pendapatan, pendapatan yang rendah, tidak bekerja terutama lansia yang tidak mempunyai pekerjaan atau menganggur merupakan faktor yang dapat menyebabkan terjadinya depresi.

d) e) f)
d)
e)
f)

Transportasi dan keamanan/keselamatan Hal yang dikaji meliputi transportasi mencapai fasilitas kesehatan dan sosial. Kemudahan mencapai akses kesehatan, dan kemudahan mendapat sumber makanan. Keamanan dan keselamatan lansia dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya juga mempengaruhi dalam menentukan risiko depresi pada lansia karena dengan perasaan aman dan nyaman dapat membuat lansia merasa lebih baik.

Politik dan Pemerintahan Kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah kesehatan lansia khususnya dengan depresi. Ketersediaan bantuan dari pemerintah atau swasta juga sangat diperlukan dalam mendukung program kesehatan dalam mengatasi masalah penanggulangan depresi pada lansia.

Komunikasi Sumber informasi kesehatan yang digunakan dalam pencapaian kesehatan lansia. Pola komunikasi antar pengurus RT/RW dengan warga khususnya lanjut usia. Media komunikasi apa yang digunakan keluarga dalam memperoleh informasi tentang depresi pada lanjut usia. Pola komunikasi merupakan hal yang sangat penting, karena komunikasi dapat menjadi penyebab dan sekaligus solusi dari masalah depresi.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

47

g) Edukasi Tingkat pendidikan pada lansia yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan lansia dalam mengatasi masalah kesehatan khususnya dengan depresi. Tingkat pendidikan kelompok lansia, sangat mempengaruhi dalam tranformasi perilaku mengatasi masalah kesehatan depresi.

h) i) b.
h)
i)
b.

Rekreasi Kegiatan yang dilakukan oleh kelompok dan keluarga dengan lansia pada waktu senggang untuk meningkatkan status kesehatan berkaitan dengan masalah depresi serta sarana rekreasi yang tersedia bagi lansia, tempat warga bermain, ketersediaan tempat bermain untuk para lanjut usia, bentuk rekreasi utama, fasilitas untuk rekreasi yang terlihat, kecukupan hal tersebut dalam membantu memenuhi kebutuhan rekreasi lansia dengan depresi.

Persepsi masyarakat Persepsi dari tenaga kesehatan, masyarakat, keluarga maupun lansia tentang masalah depresi pada lansia. Persepsi bisa berbeda-beda karena bersifat subjektif tergantung dari individu masing-masing.

Diagnosis Keperawatan Komunitas Diagnosa keperawatan dibuat setelah dilakukan pengkajian dan analisis data yang mengancam masyarakat dan reaksi yang timbul pada masyarakat. Hasil akhir analisis adalah mensintesis pernyataan simpulan menjadi diagnosis keperawatan komunitas. Diagnosis keperawatan membatasi proses diagnostik pada berbagai diagnosis yang ditegakkan untuk menunjukkan respon manusia terhadap masalah kesehatan baik aktual maupun potensial, yang dapat secara legal ditangani oleh perawat (Anderson & McFarlane, 2011). Label diagnosis keperawatan menurut NANDA 2012-2014 yaitu diagnosis aktual; promosi kesehatan (termasuk sejahtera atau wellness) dan risiko. Berdasarkan hasil Konas Ikatan Perawat Kesehatan Komunitas (IPPKI, 2013), disepakati bahwa

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

48

diagnosis keperawatan komunitas dituliskan tanpa menuliskan etiologi (single diagnosis).

c.

Perencanaan Keperawatan Komunitas Tahap ketiga dari proses keperawatan merupakan tindakan menetapkan rencana tindakan untuk membantu masyarakat dalam upaya promotif, preventif, primer, sekunder, dan tersier. Langkah pertama dalam tahap perencanaan adalah menetapkan tujuan dan sasaran kegiatan untuk mengatasi masalah yang telah ditetapkan sesuai dengan diagnosa keperawatan. Dalam menentukan tahap berikutnya yaitu rencana pelaksanaan kegiatan, maka ada dua faktor yang mempengaruhi dan dipertimbangkan dalam menyusun rencana tersebut yaitu sifat masalah dan sumber/potensi masyarakat seperti dana, sarana, tenaga yang tersedia (Anderson & McFarlane, 2011).

tenaga yang tersedia (Anderson & McFarlane, 2011). Strategi yang digunakan mencakup proses kelompok, pendidikan

Strategi yang digunakan mencakup proses kelompok, pendidikan kesehatan dan kerjasama, serta mendemontrasikan keterlibatan dalam asuhan keperawatan. Strategi tersebut untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam memecahkan masalah kesehatan yang dihadapi dan diperlukan pengorganisasian komunitas yang dirancang untuk mengembangkan masyarakat berdasarkan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki, serta mampu mengurangi hambatan yang ada. Selain itu, untuk menumbuhkan kondisi, kemajuan sosial dan ekonomi masyarakat dengan partisipasi aktif masyarakat dan dengan penuh percaya diri dalam memecahkan masalah- masalah kesehatan yang dihadapi terutama dalam mengatasi masalah depresi pada lansia.

Intervensi keperawatan untuk mengatasi masalah kesehatan lansia dengan depresi dilatarbelakangi dari kesehatan fisik dan mental lansia dalam mewujudkan proses menua secara aktif, sehat dam bahagia bagi lansia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa 70% dari lansia diatas 60 tahun mengalami ketergantungan dengan orang lain. Banyaknya lansia yang

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

49

depresi dan tidak bahagia adalah karena bergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dikarenakan kesehatan fisik dan mental lansia yang menurun (Palestin, 2006). Aktivitas pekerjaan dan kegiatan rekreasi sangat membantu dalam meningkatkan kondisi fisik lansia, menurunkan emosi dan tekanan serta berdampak pada antidepresan. Aktifitas yang dapat dilakukan adalah seperti jogging, berjalan, berenang, bersepeda dan berolahraga (Trivedi, et al, 2006). Aktivitas kegiatan lansia dapat dilakukan secara rutin di dalam rumah bersama-sama keluarga seperti kegiatan membersihkan rumah, memasak berbagai menu. Kegiatan disesuaikan dengan tingkat kemampuan lansia.

menu. Kegiatan disesuaikan dengan tingkat kemampuan lansia. Kegiatan di luar rumah juga dapat membantu lansia yang

Kegiatan di luar rumah juga dapat membantu lansia yang mengalami depresi. Faktor sosial dapat memberikan pengalaman yang positif pada kondisi depresi, meningkatkan harga diri dan kepuasan diri karena adanya dukungan sosial dan penerimaan pribadi (Cutler, 2005). Hasil penelitian yang dipresentasikan pada konferensi dari British Nutrition Foundation (2008) juga menyatakan bahwa individu dengan aktifitas fisik yang rendah memiliki risiko depresi dua kali dibanding individu yang memiliki aktivitas teratur (David, 2008), sehingga lansia diharapkan dapat melakukan aktivitas secara teratur di rumah maupun di masyarakat. Hal ini sangat penting bagi lansia dengan proses penuaan, sehingga lansia bisa menerima kondisinya dengan baik.

Proses penerimaan diri pada lansia yaitu kondisi lansia dapat menerima dirinya dengan segala kekurangannya untuk dapat tetap merasa bahagia, hal ini didasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Putri (2012) menunjukkan bahwa ada hubungan negatif antara penerimaan diri dengan depresi pada wanita perimenopuase. Berdasarkan perubahan tersebut, diharapkan perawat dapat berperan membantu lansia untuk mampu menerima proses penuaan secara baik, karena salah satu faktor yang dapat menyebabkan lansia bisa merasa tetap berguna di masa tuanya adalah kemampuan lansia

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

50

dalam menyesuaikan diri dan menerima segala perubahan dan kemunduran yang dialaminya (Miller, 2012).

Kemampuan lansia dalam penerimaan diri penting dalam meningkatkan harga diri lansia. Peningkatan harga diri lansia diidentifikasikan juga secara verbal dan non verbal yang menunjukkan nilai-nilai positif dan penerimaan diri lansia. Hal tersebut dapat dilihat dalam partisipasi aktif lansia pada terapi kelompok, kemampuan meditasi dan relaksasi, sehingga dapat meningkatkan kemampuan koping dalam diri lansia untuk menghadapi ketegangan hidup sehari-hari dan mendukung gaya hidup yang sehat (Copel, 2007).

dan mendukung gaya hidup yang sehat (Copel, 2007). Proses penerimaan kondisi lansia juga dilihat dari kemampuan

Proses penerimaan kondisi lansia juga dilihat dari kemampuan lansia untuk mengenal masalah depresinya. Kemampuan lansia tersebut adalah kesadaran akan diri sendiri. Kesadaran diri merupakan proses mengembangkan pemahaman tentang perasaan yang dapat menggunakan kemampuan lansia. Ketika lansia memahami dan memadukan individu, maka lansia akan belajar memperbaiki diri, berubah untuk hidup lebih baik lagi dengan harga diri yang tinggi. Harga diri berhubungan dengan afek lansia. Jika lansia dengan harga diri tinggi, maka akan menurunkan tingkat depresi (MacInnes, 2006).

Pendekatan perawat dalam pencapaian kesehatan lansia bukan hanya kondisi fisik, namun juga membantu lansia dalam memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungan dengan Tuhan atau agama yang dianutnya karena agama dan kepercayaan semakin terintegrasi dalam kehidupan lansia yang disebut dalam kebutuhan spiritual (Maslow, 1980 dalam Keliat, 2011). Spiritual adalah suatu aktivitas untuk mencari arti dan tujuan hidup yang berhubungan dengan kegiatan spiritual keagamaan (Keliat, 2011). Aktivitas- aktivitas spiritual akan memberikan nilai tertinggi bagi lansia untuk menemukan kebermaknaan, harapan dan rasa harga dirinya dengan banyak berdzikir dan melaksanakan ibadah sehari-hari, lansia akan menjadi lebih tenang dalam hidupnya, menurunkan gejala depresi dan kecemasan akan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

51

kematian serta meningkatkan kesehatan mental lansia (Kemensos, 2008; Bjorklop, 2013; Hill, 2006; Meisenhelder, 2002).

Intervensi-intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah depresi dipadukan dalam sebuah intervensi yang bernama “ MaSa INDAH” yaitu Mari berSama untuk “I “adalah Ikut dalam kegiatan keluarga dan masyarakat, “N” adalah meNerima kondisi penuaan dengan tulus dan ikhlas, “D” adalah Doa dan Diskusi bersama orang lain, “A” adalah Atasi segala macam stres dengan baik, dan “H” adalah Harga diri yang tinggi. Intervensi ini diharapkan lansia akan merasakan masa-masa tua dengan indah tanpa ada kesedihan dan merasakan kebermaknaan hidup bersama orang lain disekitarnya. Kegiatan dilakukan dalam intervensi kelompok di masyarakat dan individu dalam keluarga.

kelompok di masyarakat dan individu dalam keluarga. Selain itu lansia juga dikenalkan dengan kartu tilik diri

Selain itu lansia juga dikenalkan dengan kartu tilik diri (KTD) yang menilai atau mengevaluasi perasaaan lansia sendiri setiap hari, agar lansia dapat berusaha belajar untuk bisa mencapai kebahagiaannya dan menurunkan kondisi depresi atau kesedihan yang dirasakannya dengan koping yang efektif (Songprakum, Wallapa & McCann, 2012). Lansia dengan depresi sebaiknya mengenali masalah yang dialaminya dan lansia memahami bahwa hal tersebut dapat berpengaruh pada perasaan dan perilakunya. Hanya dengan keaktifan dan berusaha menerima tantangan secara sistematis, maka keyakinan dan persepsi akan harapannya berubah menjadi lebih baik. Perasaan negatif akan menurunkan kemampuan dalam mencegah depresi (Peden, 2005).

Kartu Tilik Diri (KTD) berisikan identitas lansia yaitu tentang nama, usia, alamat, tinggal bersama siapa, hobby atau kegemaran dan cita-cita yang ingin di capai. Lansia diminta untuk mengevaluasi perasaannya pada pagi hari saat bangun tidur dan pada malam hari sebelum tidur dengan memberikan tanda (simbol yang sudah ditentukan) pada kolom yang tersedia. Untuk kegiatan atau koping yang dilakukan selama 1 hari, lansia diminta untuk memberikan tanda (√) pada kolom sudah disediakan. Kegiatan atau koping lansia adalah

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

52

item intervensi MaSa INDAH yang telah diajarkan pada lansia dan keluarga sebelumnya. Kartu dievaluasi setiap hari oleh anggota keluarga yang sudah disepakati untuk membantu lansia dalam pengisian kartu. Keluarga juga dapat membantu lansia dalam pengisian kartu khusus bagi lansia yang tidak mampu untuk melakukan pengisian misalnya lansia dengan kebutaan, kelumpuhan atau tidak bisa membaca. Kartu juga memberikan informasi nomor telepon kader kesehatan lansia yang dapat dihubungi, jika lansia teridentifikasi merasakan kesedihan dalam beberapa hari (lebih dari 3 hari), sehingga lansia segera mendapatkan dukungan yang optimal dalam mengatasi masalahnya.

d.
d.

Implementasi Keperawatan Komunitas Perawat bertanggung jawab untuk melaksanakan tindakan yang telah direncanakan dalam mengatasi masalah kesehatan lansia dengan depresi yang sifatnya yaitu: 1) bantuan dalam upaya mengatasi masalah fisik dan psikologis, mempertahankan kondisi seimbang atau sehat dan meningkatkan kesehatan lansia; 2) mendidik komunitas tentang perilaku sehat untuk mencegah terjadinya depresi pada lansia; 3) sebagai advokat komunitas untuk sekaligus memfasilitasi kebutuhan komunitas.

Kegiatan praktik keperawatan komunitas berfokus pada tingkat pencegahan yaitu :

1) Pencegahan primer yaitu pencegahan sebelum sakit dan difokuskan pada populasi sehat, mencakup pada kegiatan kesehatan secara umum serta perlindungan khusus terhadap penyakit, misalnya dengan imunisasi, penyuluhan, simulasi dan dukungan dalam kesehatan keluarga bagi lansia depresi. 2) Pencegahan sekunder yaitu kegiatan yang dilakukan pada saat terjadinya perubahan derajat kesehatan masyarakat dan ditemukan masalah kesehatan depresi pada lansia. Pencegahan sekunder ini menekankan pada diagnosa dini dan tindakan untuk menghambat proses penyakit, misalnya dengan mengkaji masalah kesehatan fisik dan psikologis lansia,

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

53

memotivasi keluarga untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi lansia. 3) Pencegahan tertier yaitu kegiatan yang menekankan pengembalian individu pada tingkat berfungsinya secara optimal dari ketidakmampuan keluarga, misalnya dengan membantu keluarga yang mempunyai lansia dengan depresi untuk melakukan pemeriksaan secara teratur ke posbindu.

e.
e.

Evaluasi Keperawatan Komunitas Evaluasi merupakan peralatan terhadap program yang telah dilaksanakan dibandingkan dengan tujuan semula dan dijadikan dasar untuk memodifikasi rencana berikutnya. Evaluasi yang dilakukan dengan menggunakan konsep evaluasi struktur, evaluasi proses dan evaluasi hasil. Sedangkan fokus dari evaluasi hasil sedangkan fokus dari evaluasi pelaksanaan asuhan keperawatan komunitas adalah:

1) Relevansi atau hubungan antara kenyataan yang ada dengan target pelaksanaan. 2) Perkembangan atau kemajuan proses kesesuaian dengan perencanaan, peran staf atau pelaksanaan, peran alat atau pelaksana tindakan, fasilitas dan jumlah peserta. 3) Efesiensi biaya yaitu dalam pencarian sumber dana dan penggunaaannya serta keuntungan program. 4) Efektifitas kerja yaitu tujuan tercatat dan kepuasan klien atau masyarakat terhadap tindakan yang dilaksanakan. 5) Dampak yaitu status kesehatan yang meningkat setelah dilaksanakan tindakan dan perubahan yang terjadi dalam 6 bulan atau 1 tahun.

2.3.6.2 Asuhan Keperawatan Keluarga Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh kebersamaan dan kedekatan emosional satu sama lain (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Selain itu ada pendapat lain yang menunjukkan bahwa keluarga adalah keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi yang saling berinteraksi satu

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

54

dengan lainnya, mempunyai peranan masing-masing, menciptakan serta mempertahankan kebudayaannya (Maglaya et al., 2009). Berdasarkan pendapat- pendapat tersebut, maka disimpulkan bahwa keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang bersatu dalam kebersamaan atau mempunyai ikatan biologis, sosial, ekonomi maupun psikososial.

Pelaksanaan asuhan keperawatan keluarga pada keluarga lansia dengan depresi menggunakan family center nursing adalah sebagai berikut :

a. Pengkajian 1) 2) Lingkungan
a.
Pengkajian
1)
2) Lingkungan

3)

Model pengkajian keluarga menggunakan Friedman yang merupakan pendekatan terpadu dengan teori sistem secara umum, riwayat dan tahap perkembangan keluarga (tipe keluarga, riwayat perkembangan keluarga, tahap perkembangan keluarga, tugas perkembangan keluarga), lingkungan tempat tinggal, struktur keluarga, fungsi keluarga, serta stres dan mekanisme koping keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).

Riwayat dan tahap perkembangan keluarga Meliputi tahap perkembangan keluarga saat ini yang ditentukan berdasarkan usia anak tertua, tugas perkembangan keluarga yang belum terpenuhi yang dapat menjadi sumber stres bagi lansia dan keluarga, riwayat kesehatan keluarga inti, riwayat kesehatan sebelumnya termasuk riwayat kesehatan masing masing anggota keluarga.

Ditujukan pada lingkungan rumah dan lingkungan sekitar. Dilakukan untuk mengidentifikasi keadaan lingkungan yang dapat menimbulkan masalah kesehatan baik fisik maupun emosional yang dapat mempengaruhi masalah hipertensi antara lain meliputi kebisingan, keamanan dan lain lain. Struktur Keluarga Meliputi pola komunikasi keluarga yaitu bagaimana cara berkomunikasi antar anggota keluarga, peran dari masing masing anggota keluarga, struktur kekuatan keluarga yang dapat mempengaruhi anggota keluarga untuk merubah perilaku yang berhubungan dengan pencegahan depresi

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

55

pada lansia. Fungsi Keluarga Meliputi fungsi afektif yang memberikan gambaran hubungan psikososial dalam keluarga dan dukungan anggota keluarga pada lansia dengan depresi; dan fungsi perawatan kesehatan keluarga praktik diet keluarga, kebiasaan tidur dan istirahat keluarga, praktik aktivitas fisik dan rekreasi, praktik penggunaan obat, penggunaan terapi komplementer. Stres dan mekanisme koping Meliputi stresor jangka pendek dan jangka panjang yang dialami lansia depresi dan keluarga, kemampuan lansia dan keluarga berespon terhadap stresor, strategi koping yang digunakan ketika menghadapi masalah. Koping yang dilakukan lansia dan keluarga merupakan upaya untuk beradaptasi terhadap stimulus yang mengharuskan sistem keluarga merubah perilakunya. Pelaksanaan adaptasi, keluarga dan unsur-unsur didalamnya akan menerapkan koping individu dan koping keluarga yang saling mempengaruhi satu sama lain untuk mencapai keseimbangan keluarga.

4)

5) b.
5)
b.

Diagnosis Keperawatan Keluarga Diagnosis keperawatan keluarga merupakan pengembangan dari diagnosis keperawatan ke sistem dan subsistem keluarga serta merupakan hasil pengkajian keperawatan. Diagnosis keperawatan keluarga mencakup masalah kesehatan aktual, risiko atau ancaman kesehatan, dan sejahtera (Friedman, Bowden, & Jones, 2010; Maglaya et al., 2009). Diagnosis keperawatan yang telah didapat dilanjutkan dengan membuat prioritas dan proses pembuatan prioritas menggunakan perhitungan tertentu.

c. Rencana Keperawatan Keluarga Rencana keperawatan keluarga merupakan bentuk asuhan keperawatan yang dirancang secara sistematis untuk meningkatkan kemampuan keluarga untuk memelihara kesehatan dan atau mengelola masalah kesehatan melalui tujuan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

56

umum dan khusus keperawatan, kriteria evaluasi, dan standar (Maglaya et al., 2009). Penentuan rencana keperawatan keluarga dilakukan dengan melibatkan keluarga lansia dengan depresi (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Pembuatan rencana dengan menetapkan tujuan bersama dengan keluarga. Penyusunan tujuan yang jelas, spesifik dan dapat diterima oleh keluarga dalam mengatasi masalah depresi.

2009). d.
2009).
d.

Pembuatan tujuan mencakup jangka panjang dan jangka pendek. Tujuan panjang dan jangka pendek diperlukan agar lebih spesifik, langsung dan terukur. Tujuan jangka pendek dibuat untuk motivasi dan memberikan keyakinan kepada keluarga dan individu lansia dengan depresi telah membuat kemajuan dan untuk menuntun keluarga ke tujuan yang lebih luas dan lebih komprehensif (Friedman, Bowden, & Jones, 2010; Maglaya et al.,

Tujuan jangka pendek mencakup peningkatan kemampuan keluarga dalam mengenal masalah depresi pada lansia, membuat keputusan untuk mengatasi masalah depresi, melakukan tindakan perawatan pada lansia dengan depresi, memodifikasi lingkungan terhadap lansia dengan depresi, dan menggunakan fasilitas kesehatan bagi lansia dengan depresi. Penentuan evaluasi terhadap rencana keperawatan dengan kriteria atau indikator yang pengetahuan (kognitif), psikomotor (keterampilan), dan afektif (sikap) yang terdiri dari emosi, perasaan, dan nilai (Maglaya et al., 2009).

Implementasi Keperawatan Keluarga Implementasi keperawatan didefinisikan sebagai tindakan yang dilakukan perawat untuk pasien dan keluarga dengan tujuan membantu pasien dan keluarga meningkatkan, mengoreksi, dan menyesuaikan kondisi fisik, emosi, psikososial, spiritual, dan lingkungan sebagai alasan mencari bantuan (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

57

Implementasi keperawatan keluarga dibuat berdasarkan hasil pengkajian, diagnosis keperawatan, dan perencanaan keluarga dengan memperhatikan prioritas. Implementasi yang diberikan kepada keluarga mencakup tiga domain yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Strategi intervensi dalam keperawatan keluarga mencakup pendidikan kesehatan, konseling, melakukan kontrak, manajemen kasus, kolaborasi, dan konsultasi (Friedman, Bowden, & Jones, 2010).

e.
e.

Evaluasi Keperawatan Keluarga Evaluasi merupakan proses keperawatan yang tidak dapat dipisahkan dari proses lainnya. Evaluasi keperawatan berdasarkan seberapa besar efektifitas intervensi yang dilakukan oleh keluarga dan perawat dan intervensi yang diberikan telah sesuai dengan tujuan yang diharapkan (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Apabila tujuan tidak tercapai maka perlu dilakukan analisa alasan yang dapat diidentifikasi seperti keadekuatan hasil pengkajian, tujuan umum dan tujuan khusus yang tidak realistik, sumber yang dimiliki keluarga tidak fokus pada kebutuhan yang menjadi prioritas; atau keluarga kehilangan dukungan baik internal maupun eksternal (Maglaya et al., 2009), sehingga evaluasi keperawatan keluarga dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan, sehingga dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di dalam keluarga (Friedman, Bowden, & Jones, 2010). Evaluasi asuhan keperawatan keluarga dapat dinilai dari perubahan tingkat kemandirian keluarga dalam perawatan kesehatan.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

58

Pengkajian dalam keluarga : - Mengidentifikasi data sosial budaya Pengkajian individu anggota keluarga : -
Pengkajian dalam keluarga :
-
Mengidentifikasi data sosial budaya
Pengkajian individu
anggota keluarga :
-
Data lingkungan
-
Mental
-
Struktur
-
Fisik
-
Fungsi
-
Emosi
-
Stres dan strategi koping keluarga
-
Sosial
-
Spiritual
Identifikasi keluarga, subsistem
keluarga, masalah kesehatan individu:
(Diagnosa Keperawatan)
Rencana Keperawatan :
-
Kemampuan keluarga mengenal masalah
kesehatan pada lansia dengan depresi
-
Kemampuan keluarga membuat keputusan untuk
mengatasi masalah lansia dengan depresi
-
Kemampuan keluarga melakukan tindakan
perawatan pada lansia dengan depresi
-
Kemampuan kleuarga memodifikasi lingkungan
terhdapat lansia dengan depresi
-
Kemampua keluarga menggunakan fasilitas
kesehatan bagi lansia dengan depresi
Implementasi:
Implementasi rencana keperawatan
Evaluasi Keperawatan
Gambar 2.2 Modifikasi Langkah-langkah dalam Proses Keperawatan
Individu dan Keluarga Lansia dengan Depresi (Sumber: Friedman,
Bowden, & Jones, 2003; Maglaya et al., 2009)

f. Tingkat Kemandirian Keluarga

Kemandirian keluarga dalam program perawatan kesehatan masyarakat

dibagi dalam empat tingkatan (Kemenkes, 2006) yaitu:

1)

Keluarga mandiri tingkat pertama (KM-I) mempunyai kriteria:

a) Menerima petugas perawatan kesehatan masyarakat

b) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

59

2)

rencana keperawatan. Keluarga mandiri tingkat kedua (KM-II) mempunyai kriteria:

a) Menerima petugas perawatan kesehatan masyarakat
b) Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana keperawatan.
c) Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar
d) Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai anjuran Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran.

e) 3) Keluarga mandiri tingkat ketiga (KM-III) mempunyai kriteria: a) b) c) d) e) Menerima
e)
3)
Keluarga mandiri tingkat ketiga (KM-III) mempunyai kriteria:
a)
b)
c)
d)
e)
Menerima petugas perawatan kesehatan masyarakat
Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan.
Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar
Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai anjuran
Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran
f)
Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran.
4)
Keluarga mandiri tingkat keempat (KM-IV) mempunyai kriteria:
a)
b)
c)
d)
e)
Menerima petugas perawatan kesehatan masyarakat
Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan
rencana keperawatan.
Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatan secara benar
Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan sesuai anjuran
Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran
f)
g)
Melakukan tindakan keperawatan sederhana sesuai anjuran.
Melakukan tindakan promotif secara aktif.

g. Tugas Perawatan Kesehatan Keluarga Tugas perawatan kesehatan keluarga meliputi (Friedman, Bowden, & Jones, 2010; Maglaya et al., 2009; Miller, 2012):

1) Kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan pada lansia dengan depresi.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

60

2) Kemampuan keluarga membuat keputusan untuk mengatasi masalah masalah kesehatan pada lansia dengan depresi. 3) Kemampuan keluarga melakukan tindakan keperawatan pada masalah kesehatan lansia dengan depresi. 4) Kemampuan keluarga memodifikasi lingkungan terhadap lansia dengan depresi. 5) Kemampuan keluarga menggunakan saran fasilitas kesehatan dalam mengatasi masalah kesehatan pada lansia dengan depresi.

2.4 Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Lansia dengan Depresi
2.4 Peran Perawat Komunitas pada Kelompok Lansia dengan Depresi

Peran perawat komunitas terdiri dari pemberi pelayanan keperawatan atau provider, edukator, advokasi, manajer, kolaborator, leader atau pemimpin, dan peneliti (Allender, Rector, & Warner, 2014; Friedman, Bowden, & Jones, 2010) yang dijabarkan sebagai berikut :

2.4.1 Peran sebagai Pemberi Pelayanan Keperawatan atau provider Peran perawat komunitas secara klinis adalah memberikan pelayanan keperawatan dalam bentuk asuhan keperawatan tidak hanya individu dan keluarga tetapi juga kelompok dan populasi lansia (Allender, Rector, & Warner, 2014). Perawat melakukan pengkajian secara kolektif

dan memberikan pelayanan keperawatan sesuai dengan kebutuhan kelompok (Allender, Rector, & Warner, 2014). Perawat melakukan penilaian depresi dan melakukan kunjungan terhadap kelompok lansia dengan depresi di wilayah masing-masing, serta memberikan pelayanan keperawatan di puskesmas dan posbindu yang terdapat pada wilayah setempat.

2.4.2 Peran sebagai pendidik atau edukator

Peran perawat komunitas sebagai edukator juga yaitu memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga maupun kelompok atau masyarakat atau kelompok pendukung (Allender, Rector, & Warner, 2014). Perawat memberikan informasi kesehatan tentang masalah depresi, perubahan kesehatan lansia, pencegahan dan penanganan depresi

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

61

mencakup, intervensi MaSa INDAH. Selain itu perawat bertindak sebagai konsultan masalah depresi dan penanganannya bagi individu, keluarga, maupun kelompok atau masyarakat.

2.4.3

Peran sebagai advocator Peran perawat komunitas sebagai advocator yaitu menjamin individu, keluarga, kelompok atau masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan sumber-sumber komunitas yang sesuai dengan kebutuhan serta meningkatkan kemandirian dalam perilaku kesehatan (Allender, Rector, & Warner, 2014; Friedman, Bowden, & Jones, 2003; Maglaya et al., 2009). Perawat mengikutsertakan lansia dalam kegiatan posbindu, mengikutsertakan lansia dalam kegiatan kelompok lansia seperti penyuluhan kesehatan tentang depresi, perubahan kesehatan lansia, pencegahan dan penanganan depresi mencakup, intervensi MaSa INDAH serta menganjurkan atau merunjuk lansia untuk melakukan pemeriksaan kesehatan ke puskesmas atau rumah sakit yang tersedia. Selain itu, perawat juga memfasilitasi keluarga untuk mendapatkan sumber-sumber komunitas yang sesuai yang dapat memberikan keluarga informasi kesehatan yang sesuai, mengoptimalkan kemandirian lansia dalam mengatasi masalah depresi dan kelompok pendukung untuk memberikan dukungan bagi lansia dengan depresi untuk mengatasi masalahnya dengan melakukan kegiatan dalam intervensi MaSa INDAH.

2.4.4
2.4.4

Peran sebagai Manajer Peran perawat komunitas sebagai manajer menilai secara langsung kebutuhan masyarakat untuk mencapai kesehatan yang optimal dengan menjalankan fungsi manajemen yaitu perencanaan dan pengorganisasian, pengarahan, pengawasan dan evaluasi kemajuan dari tujuan yang ingin dicapai untuk meningkatkan kesehatan (Allender, Rector, & Warner, 2014; Marquis & Huston, 2012). Sistem manajemen berfokus pada upaya meningkatkan kesehatan lansia dan mencegah depresi. Perawat komunitas mengelola perawatan kesehatan klien dalam hal ini

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

62

pada lansia dengan depresi, melakukan supervisi penambahan staf, mengatur beban kasus dan melakukan pengkajian kebutuhan kesehatan komunitas. Peran sebagai manajer melibatkan klien, tenaga profesional yang lain dalam perencanaan dan pelaksanaan pelayanan kesehatan.

2.4.5 Peran sebagai Kolaborator

Peran perawat komunitas sebagai kolaborator adalah melakukan kerja sama dengan berbagai pihak termasuk klien, perawat lain, tenaga kesehatan lain, aparat setempat mencakup ketua RW dan RT, kader (Allender, Rector, & Warner, 2014). Kerja sama yang terjalin dalam tim sebagai kerja sama yang bersifat kemitraan. Perawat dalam menjalankan peran sebagai kolaborator perlu menyiapkan kemampuan diri dalam berkomunikasi, melakukan interpretasi, dan bertindak secara asertif dengan mitra kerja untuk bersama-sama melakukan penanganan masalah depresi pada lansia (Allender, Rector, & Warner, 2014).

2.4.6
2.4.6

Peran sebagai leader Peran perawat komunitas sebagai leader berfokus pada kemampuan mempengaruhi masyarakat untuk berubah dan menjadi agen pembawa perubahan bagi lansia dengan depresi ke arah hidup yang lebih sehat (Allender, Rector, & Warner, 2014). Perawat mengamati hal positif yang dapat mempengaruhi dan berkontribusi terhadap kesehatan lansia dengan depresi, seperti melakukan intervensi MaSa INDAH, membentuk kelompok lansia MaSa INDAH, membentuk kelompok pendukung MaSa INDAH bagi lansia. Perawat komunitas juga mempengaruhi anggota dan keluarga dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada lansia dengan depresi dengan menciptakan lingkungan yang kondusif di dalam keluarga agar tercapai rasa nyaman bagi lansia dengan depresi (Allender, Rector, & Warner, 2014).

2.4.7 Peran sebagai Peneliti Peran perawat komunitas sebagai peneliti adalah melakukan identifikasi,

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

63

mengumpulkan dan menganalisis data masalah depresi secara sistematis unutk mencari solusi dan meningkatkan praktik keperawatan komunitas dalam penanganan masalah kesehatan misalnya pada lansia dengan depresi (Allender, Rector & Warner, 2014). Perawat komunitas melakukan praktik keperawatan berdasarkan evidence base dari literature dan hasil penelitian keperawatan komunitas yang sesuai untuk mengatasi masalah depresi pada lansia (Allender, Rector, & Warner, 2014).

depresi pada lansia (Allender, Rector, & Warner, 2014). Pengaruh intervensi Universitas Indonesia , Agnes Dewi

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

64

BAB 3 KERANGKA KONSEP PRAKTIK KEPERAWATAN KOMUNITAS DI WILAYAH KELURAHAN CURUG

Kerangka konsep menguraikan dan menjelaskan keterkaitan antar konsep yang mendasari praktik keperawatan komunitas pada aggregat lansia dengan depresi. Kerangka konsep residensi dalam pengelolaan aggregat lansia menggunakan integrasi teori manajemen keperawatan, Community As Partner Model, Family Center Nursing Model (FCN), dan Functional Consequences Theory.

Nursing Model (FCN), dan Functional Consequences Theory . 3.1 Kerangka Konsep Praktik Keperawatan Komunitas Praktik

3.1 Kerangka Konsep Praktik Keperawatan Komunitas Praktik keperawatan komunitas yang dilakukan di Kelurahan Curug Kecamatan Cimanggis, Depok, Jawa Barat berfokus pada aggregate dan keluarga lansia dengan depresi. Praktik tersebut merupakan integrasi dari praktik manajemen pelayanan keperawatan, asuhan keperawatan komunitas dan keluarga pada aggregate lansia dengan depresi.

Model pengkajian yang akan dikembangkan pada aggregate lansia dengan depresi adalah aplikasi dari bentuk community as partner yang dikembangkan dari teori Betty Neuman oleh Anderson dan McFarlane (Anderson & McFarlane, 2011). Fokus dari praktik keperawatan komunitas adalah populasi dengan melibatkan elemen-elemen yang terdapat di dalam masyarakat.

Variabel yang diidentifikasi dalam penulisan yang dilakukan mencakup manajemen pelayanan, Community As Partner, Family Center Nursing, Teori Konsekuensi Fungsional. Manajemen pelayanan mencakup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, personalia dan pengawasan (Gillies, 1994; Marquis & Huston, 2012). Family Center Nursing mencakup tugas perawatan kesehatan dan tingkat kemandirian keluarga, teori konsekuensi fungsional yang terkait dengan depresi (Friedman, Bowden, & Jones, 2003; Miller, 2012).

Kondisi depresi yang terjadi pada lansia membutuhkan intervensi dari perawat

Pengaruh intervensi

64

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

65

komunitas. Intervensi yang paling utama dalam program MaSa INDAH yang telah dimodifikasi yaitu dengan cara meningkatkan perilaku kesehatan (pengetahum, keterampilan dan sikap) bagi tenaga kesehatan, kader posbindu, komunitas, keluarga dan kelompok lansia dengan depresi, sehingga dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia. intervensi dilakukan melalui pelatihan tenaga kesehatan, pelatihan kader, pembentukan dan pembinaan kelompok pendukung lansia INDAH dan kelompok lansia sebaya di Kelurahan Curug.

lansia INDAH dan kelompok lansia sebaya di Kelurahan Curug. Pengaruh intervensi Universitas Indonesia , Agnes Dewi

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

66

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Karya Ilmiah Akhir

Input Proses Output Pelayanan Keperawatan Komunitas Manajemen Perencanaan Pengorganisasian Personalia Pengarahan
Input
Proses
Output
Pelayanan Keperawatan
Komunitas
Manajemen
Perencanaan
Pengorganisasian
Personalia
Pengarahan
Pengawasan
Manajemen
Manajemen :
Pelatihan tenaga kesehatan
Pelatihan kader posbindu
Pembentukan dan pembinaan
kelompok pendukung lansia
MaSa INDAH.
 Peningkatan
pengetahuan,
keterampilan dan sikap
tenaga kesehatan
MaSa
 Peningkatan perilaku
kesehatan anggota
kelompok pendukung
lansia MaSa INDAH
INDAH
Komunitas :
Asuhan Keperawatam
Komunitas :
Komunitas :
Inti komunitas : lansia
Yankes dan yansos
Ekonomi
Keamanan dan
Keselamatan
Politik dan pemerintahan
Komunikasi
Pendidikan
Rekreasi
Persepsi
Masalah
Keperawatan:
Strategi Praktik
Pembentukan dan pembinaan
kelompok lansia dalam upaya
menurunkan dan mencegah
depresi dengan Masa INDAH
Penilaian kemampuan lansia
melalui KTD (Kartu tilik diri)
Keperawatan Komunitas
Manajemen
 Proses kelompok
Penilaian tingkat depresi lansia
Komunitas
 Pendidikan kesehatan
Keluarga
Peningkatan
pengetahuan, sikap dan
keterampilan
komunitas lansia dalam
mengatasi depresi
Penurunan tingkat
depresi.
 Pemberdayaan
Lansia
 Kemitraan
Keluarga :
 Tindakan keperawatan
langsung
Keluarga :
Pendidikan kesehatan dan
pemberdayaan keluarga
Keluarga:
Perilaku kesehatan
terhadap depresi
pada lansia
Penilaian perilaku kesehatan
tentang MaSa INDAH bagi
lansia depresi
 Peningkatan
pengetahuan, sikap dan
keterampilan keluarga
dalam perawatan lansia
dengan depresi
Penilaian tingkat kemandirian
Tingkat kemandirian
keluarga.
Lansia :
 Peningkatan tingkat
kemandirian keluarga
pada perawatan pada
lansia depresi.
Lansia :
Perilaku Kesehatan lansia
Tingkat depresi lansia
Pendidikan kesehatan pada
lansia
Lansia :
Tindakan keperawatan
langsung
 Peningkatan perilaku
kesehatan lansia
Penilaian tingkat depresi
 Penurunan tingkat
depresi

Sumber: Swanburg, 2000; Marquis & Huston, 2012; Gillies, 1994; Friedman, Bowden & Jones, 2010; Anderson & McFarlene, 2011; Stanhope & Lancaster, 2010; Allender, Rector & Warner, 2104; Swanson & Nies, 1993; Ervin, 2002; Judith, 2011; Miller,2012; Landefeld et al, 2004; Ham et al, 2008, Maglaya et al, 2009; Wilkinson, 2011; Kemenkes, 2006.

66

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

Universitas Indonesia

67

3.2 Pelaksanaan Intervensi MaSa INDAH dalam Menurunkan Depresi

pada Lansia Modifikasi intervensi MaSa INDAH adalah perpaduan intervensi yang berdasarkan hasil penelitian dapat menurunkan tingkat depresi pada lansia.

Intervensi MaSa INDAH terdiri dari :

Lansia ikut dalam kegiatan di dalam rumah maupun di masyarakat Teori psikososial menggambarkan tentang masalah depresi sebagai suatu kondisi, dimana individu mengalami penurunan pada kognitif, motivasi, harga diri dan afektif-somatik (Seligman, 1981 dalam Miller, 2012). Blazer (2002) menyarankan bahwa strategi untuk meningkatkan kepuasan diri pada lansia akan mencegah depresi. Jika lansia terus menerus melakukan berbagai aktivitas, maka lansia akan memperoleh kepuasan dan kebahagiaan (Hikmawati & Purnama, 2008).

a.

b.
b.

Lansia aktif dan ikut serta dalam aktivitas atau kegiatan di dalam rumah. Kegiatan tersebut adalah segala aktivitas yang bisa dilakukan sesuai dengan kemampuan lansia, misalnya membersihkan rumah dengan menyapu atau mencuci piring; memasak masakan sesuai hobbinya; membantu menyiapkan bahan masakan yang akan di masak seperti menyiapkan sayuran. Lansia juga melakukan kegiatan di luar rumah yaitu kegiatan kemasyarakatan terutama berhubungan dengan sesama lansia.

Lansia menerima kondisi penuaan dengan tulus dan ikhlas Menurut teori psikososial, lansia berada pada fase integrity vs despair yaitu lansia akan melihat kembali kehidupan yang telah dijalani hingga saat ini. Lansia berusaha untuk menyelesaikan permasalahan yang belum terselesaikan. Penerimaan terhadap apa yang sudah dicapai maupun kegagalan adalah hal utama yang bisa membawa lansia dalam sebuah kesadaran akan hidup adalah tanggungjawab pribadi. Lansia belajar menerima kondisinya dengan cara melakukan kegiatan perawatan dirinya seperti mandi, menghias, membersihkan atau merapikan diri, serta tampil

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

68

sesuai dengan situasi dan kondisi. Lansia juga menyatakan penerimaannya secara verbal terhadap kondisinya saat ini.

c.

Lansia melakukan doa dan diskusi bersama anggota keluarga yang lain. Menurut teori Maslow (1980), menyatakan bahwa kebutuhan manusia yang penting adalah kebutuhan akan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan, karena akan semakin terintegrasi pada kehidupan lansia (Keliat, 2011). Lansia melakukan kegiatan keagamaannya berupa doa sesuai dengan agama dan kepercayaannnya masing-masing secara rutin dan teratur yang dilakukan sendiri maupun bersama orang lain. Lansia juga melakukan diskusi atau komunikasi yang baik secara verbal dan non verbal dengan orang lain atau anggota keluarganya untuk menyampaikan perasaan, keluhan atau keinginannya.

d. 1) 2) Posisikan tubuh secara nyaman. Pilih dan dengarkan musik santai, tenang dan teratur.
d.
1)
2)
Posisikan tubuh secara nyaman.
Pilih dan dengarkan musik santai, tenang dan teratur.

Lansia mengatasi stres atau masalahnya dengan baik Lansia melakukan tindakan manajemen stres yang dapat dilakukannya jika merasa ada masalah. Tindakan yang dilakukan yaitu berupa teknik relaksasi nafas dalam yang bisa diiringi dengan musik lembut. Tahapannya adalah sebagai berikut :

3) Pejamkan mata dan konsentrasi penuh dengan pernafasan sesuai suara musik. 4) Bernafas dengan santai sebanyak 3-4 kali sampai merasa nyaman dalam bernafas.

5) Tarik nafas melalui hidung secara perlahan, mendalam, santai dan rasakan naiknya perut dan tahan sampai 35 hitungan.

6)

Keluarkan nafas secara perlahan lewat mulut dengan bentuk huruf “O” dan

7)

rasakan turunnya perut. Selingi nafas seperti biasa 4-5 kali dengan tarikan nafas dalam.

8)

Ulangi pernafasan secara berulang kali hingga merasa nyaman santai.

9)

Dengarkan musik sambil memikirkan hal-hal yang positif.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

69

e. Lansia memiliki harga diri yang positif.

Lansia melakukan kegiatan yang positif dan disukainya bersama orang lain

tanpa ada perasaan malu, minder maupun terpaksa, sehingga lansia

menunjukkan kepuasaan terhadap apa yang sudah dilakukannya. Lansia juga

menyatakan secara verbal tentang perasaaanya yaitu dihargai oleh orang lain,

sehingga lansiapun juga menghargai dirinya sendiri dengan baik.

Intervensi MaSa INDAH dapat digambarkan dalam gambar berikut :

Gambar 3.2 Kerangka Modifikasi Pelaksanaan Intervensi “MaSa INDAH” Ikut kegiatan di dalam rumah maupun di
Gambar 3.2
Kerangka Modifikasi Pelaksanaan Intervensi “MaSa INDAH”
Ikut kegiatan di dalam rumah
maupun di masyarakat
meNerima kondisi penuaan dengan
tulus dan ikhlas
MAri berSAma
(MaSa INDAH)
Lansia
Doa dan diskusi bersama anggota
keluarga
Depresi
Atasi stres dengan baik
Harga diri yang positif
3.3 Profil Wilayah Kelurahan Curug Kota Depok

Pemerintah Kota Depok dengan visi yang dimiliki untuk periode 2011-2016 yaitu

“Terwujudnya Kota Depok yang maju dan sejahtera” sedangkan misi Pemerintah

Kota Depok “Mewujudkan pelayanan publik yang profesional, berbasis teknologi

informasi; Mewujudkan kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal;

Mewujudkan infrastruktur dan lingkungan yang nyaman; Mewujudkan sumber

daya manusia yang unggul, kreatif dan religius” dan dalam misi ini tertuang

tujuan Meningkatkan kualitas kesehatan dan kesejahteraan sosial masyarakat”

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

70

dengan sasaran “Meningkatnya kualitas kesehatan masyarakat dan kesejahteraan sosial masyarakat” (Pemerintah Kota Depok, 2012). Kota Depok sebagai salah satu wilayah di Propinsi Jawa Barat mempunyai Komisi Daerah Lanjut Usia sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan Propinsi Jawa Barat untuk membentuk Komisi Daerah Lanjut Usia yang mempunyai visi yaitu “Tercapainya lansia Jawa Barat yang mandiri, produktif, dan menjadi tauladan generasi penerus” (Komisi Daerah Lanjut Usia Propinsi Jawa Barat, 2010). Keberadaan Komda Lansia di Kota Depok mempunyai tugas menyusun, merumuskan, dan mengkoordinasikan kebijakan, strategi, program, kegiatan, dan langkah-langkah yang diperlukan dalam penanganan lanjut usia di Kota Depok (Wali Kota Depok, 2011).

lanjut usia di Kota Depok (Wali Kota Depok, 2011). Visi dan misi Dinas Kesehatan Kota Depok

Visi dan misi Dinas Kesehatan Kota Depok sejalan dengan visi Pemerintah Kota Depok yaitu “Terwujudnya kota Depok sehat dengan layanan kesehatan merata dan berkualitas” dengan misinya mencakup 1) meningkatkan pemerataan layanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan ketersediaan puskesmas pada setiap kelurahan, meningkatkan kerjasama dengan swasta dan masyarakat dalam penyediaan dan pengelolaan layanan kesehatan dan pengembangan obat tradisional, meningkatkan pengelolaan jaminan pemeliharaan kesehatan agar menjangkau seluruh masyarakat miskin, meningkatkan upaya kewaspadaan pangan dan gizi; 2) meningkatkan kualitas layanan kesehatan untuk semua puskesmas; yang bertujuan meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan di seluruh puskesmas, meningkatkan kualitas layanan kesehatan keluarga yang komprehensif mulai dari layanan KIA, KB hingga lansia, meningkatkan upaya penjaminan mutu untuk kesehatan di puskesmas, klinik dan rumah sakit, meningkatkan kerjasama dan koordinasi dengan pihak swasta dan masyarakat yang menyediakan layanan kesehatan, meningkatkan sistem manajemen, kebijakan, dan peraturan daerah untuk menjamin kualitas layanan kesehatan yang merata.

Misi Dinas Kesehatan Kota Depok juga meningkatkan kualitas sumber daya termasuk sumber daya manusia dan pembiayaan kesehatan yang bertujuan

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

71

meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan, pendidikan, evaluasi kinerja SDM, meningkatkan efektivitas biaya kesehatan dan kualitas jaminan pemeliharaan kesehatan. Selain itu juga misinya adalah meningkatkan promosi kesehatan dan kualitas lingkungan untuk mendukung pencegahan penyakit yang bertujuan membuat kebijakan dan peraturan untuk mendukung peningkatan kesehatan lingkungan, meningkatkan upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular dan tidak menular, meningkatkan upaya promosi kesehatan melalui kerjasama lintas sektoral, dunia usaha dan masyarakat (Dinas Kesehatan Kota Depok,

2012b).
2012b).

Puskesmas Cimanggis juga mempunyai visi dan misi dalam penyelenggarakan pelayanan kesehatannya. Misinya yaitu “Mewujudkan puskesmas yang mampu memberikan layanan prima dan menjadi pilihan utama bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa melupakan tugas pokoknya sebagai pembina kesehatan di wilayahnya“, sedangkan misi Puskesmas Cimanggis mencakup: 1) Meningkatkan dan mengembangkan mutu pelayanan; 2) Meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia; 3) Meningkatkan dan mengembangkan sumber daya umum; 4) Meningkatkan jumlah kunjungan; 5) Meningkatkan dan mengembangkan jumlah sarana dan prasarana; 6) Meningkatkan dan mengembangkan sistem pemasaran; 7) Meningkatkan dan mengembangkan sistem informasi manajemen; 8) Meningkatkan kemitraan; 9) Melaksanakan program pokok; 10) Menjadi pusat pembangunan kesehatan di wilayahnya.

Kelurahan Curug merupakan salah satu kelurahan yang berada pada wilayah kerja Puskesmas Cimanggis Kota Depok yang memiliki batas wilayah Utara adalah Kelurahan Cisalak Pasar, wilayah Timur adalah Kelurahan Sukatani, wilayah Selatan adalah Kelurahan Sukamaju dan wilayah Barat adalah Kelurahan Cisalak (Kelurahan Curug, 2013). Kelurahan Curug memiliki 11 RW (rukun warga),dengan jumlah penduduk 15.025 jiwa, dimana jumlah lansia yang berusia ≥60 tahun sebanyak 505 jiwa.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

72

Kelurahan Curug terdapat fasilitas kesehatan dan pelayanan sosial. Sarana kesehatan dan upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang memberikan pelayanan kesehatan bagi lansia berupa: rumah sakit 1 buah, puskesmas 1 buah, adanya fasilitas bidang praktek, posbindu untuk setiap RW. Belum adanya kelompok masyarakat sebagai pemerhati kesehatan lansia dengan depresi dan masih belum adanya kelompok yang memfasilitasi kegiatan bagi lansia dengan depresi, karena kegiatan dalam masyarakat masih bersifat umum. Wilayah Kelurahan Curug, tidak ada sarana atau fasilitas rekreasi khusus bagi lansia.

tidak ada sarana atau fasilitas rekreasi khusus bagi lansia. Pengaruh intervensi Universitas Indonesia , Agnes Dewi

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

73

BAB 4 PELAKSANAAN INTERVENSI “MaSa INDAH” DALAM PELAYANAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS UNTUK MENURUNKAN TINGKAT DEPRESI PADA AGGREGAT E LANSIA

4.1 Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas dalam Mencegah Depresi pada Aggregat e Lansia 4.1.1 Analisis Situasi 4.1.1.1 Perencanaan Visi dan misi yang dibuat oleh Puskesmas Cimanggis, Dinas Kesehatan, dan Pemerintahan Kota Depok menunjukkan kesinergisan strategi dari instansinya masing-masing. Namun, dalam kesinergisannya, program kesehatan lansia terutama yang mengalami depresi belum menjadi prioritas arah kebijakan kesehatan dalam rencana strategi tahun 2011-2016 (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, September 2013). Sedangkan kondisi kesehatan lansia saat ini semakin kompleks dan dapat berakibat pada kondisi depresi yang telah menjadi masalah aktual dan perlu diperhatikan.

yang telah menjadi masalah aktual dan perlu diperhatikan. Tujuan program kesehatan masih disampaikan secara umum,

Tujuan program kesehatan masih disampaikan secara umum, tidak spesifik pada setiap tingkat usia. Program kesehatan lansia di Puskesmas lebih banyak pada upaya kuratif dibandingkan upaya promotif dan preventif. Program promotif dan preventif untuk lansia di masyarakatpun belum optimal karena keterbatasan kemampuan kader dalam melaksanakan proses kegiatan di posbindu (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Puskesmas Cimanggis, September 2013). Sedangkan dalam Undang-Undang Nomor 36 tentang kesehatan pasal 138 diyatakan bahwa 1) upaya pemeliharaan kesehatan bagi usia lanjut ditujukan untuk menjaga agar tetap hidup sehat dan produktif secara sosial dan ekonomi sesuai dengan martabat kemanusiaan; 2) pemerintah wajib menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan dan memfasilitasi kelompok usia lanjut untuk dapat tetap hidup mandiri dan produktif secara sosial dan ekonomi.

Pengaruh intervensi

73

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

74

Rencana Strategi dalam program pembinaan terhadap lansia yang mengalami depresi belum menjadi prioritas arah kebijakan bidang kesehatan dalam rencana strategi tahun 20112016, karena masalah kesehatan jiwa (depresi) lebih banyak diprogramkan pada bagian pelayanan kesehatan dasar (Yandas) (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinas Kesehatan Kota Depok, Oktober 2013). Masing-masing seksi program (lansia dan jiwa) memiliki program sendiri-sendiri, sehingga penanganan masalah lansia dengan depresi menjadi tidak optimal.

masalah lansia dengan depresi menjadi tidak optimal. Kegiatan pelayanan kesehatan jiwa diprogramkan oleh pihak

Kegiatan pelayanan kesehatan jiwa diprogramkan oleh pihak Dinas Kesehatan Kota Depok dengan sasaran masyarakat secara umum pada semua tingkat usia dan tidak spesifik pada kelompok masyarakat khususnya lansia (Interview dengan Penanggungjawab Program Kesehatan Jiwa Dinas Kesehatan Kota Depok, Oktober 2013). Rencana program lansia di Dinas Kesehatan untuk kegiatan 1 tahun (2013) berdasarkan desiminasi informasi adalah berupa pelatihan kesehatan lanjut usia terutama untuk mengatasi Penyakit Tidak Menular (PTM), seminar usia lanjut, seminar diabetes mellitus, pengadaan sarana cetak, pengadaan alat kesehatan serta monev program lansia di puskesmas (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, Oktober 2013). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa rencana kegiatan yang ditetapkan oleh pemegang program lansia masih bersifat umum dan belum ada program atau kegiatan khusus untuk lansia dengan depresi. Kondisi tersebut pun terjadi karena anggaran yang dikeluarkan juga masih terbatas dan tidak mempertimbangkan kegiatan yang spesifik bagi aggregate lansia dengan masalah tertentu seperti masalah depresi. Kegiatan pun belum terfokus pada masalah yang dialami lansia, sehingga berdampak pada kurang optimalnya penyelesaian masalah kesehatan yang terjadi pada aggregate lansia dan salah satunya adalah lansia dengan depresi.

Indikator kerja dalam perencanaan program lansia di Dinas Kesehatan Kota Depok adalah: 1) terlaksananya pertemuan desiminasi dan informasi program lansia setiap tahun; 2) terlatihnya 200 kader posbindu; 3) terdistribusinya sarana cetak dan alat kesehatan ke puskesmas dan posbindu; 4) terbentuknya 2 puskesmas santun lansia sehingga total menjadi 5 puskesmas; 5) peningkatan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

75

strata posbindu. Belum adanya indikator pencapaian khusus kesehatan lansia khususnya depresi, karena program kesehatan lansia masih bersifat umum (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, Oktober 2013). Sedangkan perencanaan kegiatan di wilayah kelurahan Curug yaitu dalam kegiatan posbindu dilakukan setiap bulan dalam rapat koordinasi di kantor kelurahan (Interview dengan Penanggung jawab Program Lansia Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Kegiatan hanya lebih banyak mendiskusikan dan menentukan waktu pelaksanaan kegiatan posbindu. Martin (1998 dalam Marquis & Huston, 2012) menyatakan bahwa dalam rencana strategi sebuah organisasi dapat meramalkan keberhasilan pencapaian organisasi sesuai dengan harapan pencapaian di masa depan dengan menyesuaikan dan menyelaraskan kapabilitas dengan kesempatan eksternal.

dan menyelaraskan kapabilitas dengan kesempatan eksternal. Perencanaan pelatihan juga dilakukan oleh pihak Dinas

Perencanaan pelatihan juga dilakukan oleh pihak Dinas Kesehatan Kota Depok adalah untuk kesehatan jiwa yaitu berupa pelatihan tim ACT (Assertive Community Treatment) Kesehatan Jiwa bagi tenaga kesehatan dan kader posbindu. Kegiatan ini merupakan kegiatan penyelenggaraan pelayanan kesehatan khusus untuk setiap tingkat usia dan tidak spesifik untuk lansia depresi, sehingga kader atau tenaga kesehatan yang dilatih memahami tentang masalah kesehatan jiwa adalah secara umum.

Kegiatan program lansia di dalam gedung puskesmas Cimanggis sudah menerapkan pelayanan khusus lansia, karena puskesmas Cimanggis merupakan salah satu puskesmas santun lansia. Berdasarkan hasil pengamatan dalam pelayanan kesehatan bagi lansia, pelayanan santun lansia masih belum optimal, karena lansia antri pelayanan di poliklinik lansia, namun lebih banyak untuk pelayanan pengobatan dan rujukan. Belum adanya kegiatan pelayanan keperawatan yang lebih pada aspek promotif dan preventif seperti penyuluhan kesehatan dan konseling jiwa (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Puskesmas Cimanggis, Kota Depok, Oktober 2013). Hal ini menunjukkan bahwa belum optimalnya pelaksanaan atau pelayanan santun lansia di tingkat puskesmas, karena puskesmas santun lansia adalah puskesmas yang melakukan

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

76

pelayanan kepada lansia mengutamakan aspek promotif dan preventif disamping aspek kuratif dan rehabilitatif secara proaktif, baik dan sopan serta memberikan kemudahan dan dukungan bagi lansia (Depkes RI, 2003).

Pemegang program lansia menyusun anggaran tahunan untuk seluruh kebutuhan yang mendukung kegiatan pada kelompok lansia terutama lansia dengan depresi. Anggaran program kesehatan lansia di Dinas Kesehatan Kota Depok sebesar 200 juta dan dengan program PTM hanya 14 juta dalam satu tahun. Dana tersebut didistribusikan untuk pelatihan kader, pengadaan sarana dan kit lansia (Hasil interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, September 2013). Penerimaan bantuan pembinaan lansia di tingkat puskesmas dari Dinas Kesehatan Kota Depok tidak berupa uang, namun berupa materi kit posbindu antara lain snelen chart, timbangan, metlin, alat pemeriksaan gula darah dan kolesterol. Anggaran yang digunakan lebih banyak berasal dari biaya operasional kesehatan (BOK) Puskesmas untuk kegiatan program lansia di dalam dan di luar gedung puskesmas. (Interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013).

Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Bantuan dari pemerintah kota untuk pembinaan kesehatan

Bantuan dari pemerintah kota untuk pembinaan kesehatan lansia di kelurahan Curug yaitu melalui PMKS (Pemberdayaan Masyarakat Keluarga Sejahtera) berupa uang sebesar 2,5 juta untuk kegiatan posbindu lansia yang diberikan secara bertahap. Dana diperoleh berdasarkan proposal yang dibuat oleh kader sekelurahan karena untuk kegiatan posbindu tidak ada memiliki dana khusus, sehingga semua kegiatan dilaksanakan dengan swadaya dan swadana dari masyarakat. Dana digunakan untuk pemberian makanan tambahan, pembelian alat-alat berupa timbangan, tensimeter dan ATK. Dana juga akan diturunkan jika posbindu yang telah terdaftar melalui proses pelaporan setiap bulan. Anggaran yang diajukan program lansia pun tidak semuanya dapat diterima oleh pengelola anggaran karena dari pengelola anggaran pun membatasi pengeluaran anggaran karena sesuai dengan APBD yang tersedia (Interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Namun kondisi anggaran tersebut

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

77

masih dalam kondisi kurang untuk mengakomodasi kebutuhan masyarakat khususnya kelompok lansia dengan masalah depresi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dukungan pemerintah dalam hal dana pada pelayanan kesehatan lansia belum memadai, sehingga pelayanan terhadap kesehatan lansia pun kurang optimal yang berdampak lebih lanjut yaitu kesehatan lansia di masyarakat khususnya di wilayah Kelurahan Curug yang merupakan area binaan menjadi kurang optimal, sehingga status kesehatan lansianya pun kurang.

optimal, sehingga status kesehatan lansianya pun kurang. Anggaran adalah rencana keuangan yang mencakup perkiraan

Anggaran adalah rencana keuangan yang mencakup perkiraan biaya yang dikeluarkan sekaligus yang diterima aktivitas suatu program dalam periode tertentu (Marquis & Huston, 2012). Kesejahteraan suatu instansi tergantung pada pengelolaan keuangan yang efektif untuk mencapai tujuan organisasi (Gillies, 1994). Berdasarkan Undang-undang Kesehatan Nomor 36 tahun 2009 tentang pembiayaan kesehatan BAB XV menyatakan bahwa pasal 171(2) besar anggaran kesehatan pemerintah provinsi, kabupaten/kota dialokasikan minimal 10%; pasal 171(3) sebanyak 2/3 anggaran untuk kesehatan pelayanan publik; pasal 172(1) alokasi 2/3 anggaran kesehatan di bidang pelayanan publik terutama bagi penduduk miskin, kelompok usia lanjut dan anak terlantar.

4.1.1.2 Pengorganisasian Struktur organisasi yang berkaitan dengan program kesehatan lanjut usia di Dinkes Kota Depok tahun 2013 meliputi Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat membawahi Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi, dan Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi membawahi tiga program dan salah satunya adalah Program Kesehatan Lanjut Usia (Hasil interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, September 2013). Program Kesehatan Lansia memiliki satu orang penanggungjawab dengan kualifikasi akademik S1 kedokteran gigi. Demikian pula lingkup puskesmas Cimanggis, program lansia dipegang oleh seorang tenaga kesehatan dengan kualifikasi S1 kedokteran dan dengan pembina wilayah Kelurahan Curug yaitu seorang tenaga kesehatan dengan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

78

kualifikasi D3 kebidanan (Hasil interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Puskesmas Cimanggis Kota Depok, Oktober 2013).

Program penatalaksanaan depresi pada lansia di posbindu wilayah kelurahan Curug juga masih belum optimal. Kegiatan posbindu lebih banyak berupa pemeriksaan tekanan darah dan penyuluhan singkat kepada lansia. Belum adanya kegiatan dalam bentuk kelompok peduli secara khusus untuk program penatalaksanaan keperawatan kesehatan lansia dengan depresi serta belum adanya kegiatan-kegiatan pemantauan kasus depresi pada lansia di dalam masyarakat, karena kelompok kerja dapat digunakan untuk meningkatkan produktifitas yang didukung oleh klarifikasi peran dan dinamika kelompok yang produktif (Marquis & Huston, 2012)

kelompok yang produktif (Marquis & Huston, 2012) Pemegang program kesehatan lansia masih belum bisa optimal

Pemegang program kesehatan lansia masih belum bisa optimal dalam melakukan upaya kesehatan khususnya keperawatan kesehatan lansia, karena dengan kualifikasi bukan dari perawat dan kurang memahami tentang program kesehatan keperawatan lansia. Struktur organisasi akan menentukan tingkah laku staf pegawai sebagai akibat dari peran, kekuatan, tanggung jawab, kekuasaan, pemusatan, dan komunikasi (Gillies, 1994).

Informasi atau data di Dinas Kesehatan Kota Depok tentang status kesehatan lansia terutama dengan masalah kesehatan dengan depresi (gangguan mental emosional) untuk wilayah Puskesmas Cimanggis tidak ada dilaporkan baik dari program kesehatan lansia maupun program jiwa. Hal ini dikarenakan pihak puskesmas Cimanggis tidak ada memberikan laporan resmi tentang kesehatan lansia (khususnya tentang gangguan mental emosional) kepada pihak Dinas Kesehatan Depok bagian program lansia. Sistem pelaporan khusus untuk kasus lansia dengan depresi tidak dilakukan oleh pembina kelurahan Curug, karena program kesehatan jiwa tidak ada penanggungjawabnya, sehingga data di Dinas Kesehatan Kota Depok tidak ditemukan laporan jumlah kasus depresi atau lansia dengan gangguan mental emosional.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

79

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kurang jelasnya garis komando dalam pencatatan dana pelaporan status kesehatan lansia dengan masalah depresi, karena garis komando merupakan garis utuh vertikal antara posisi sebagai jalur formal komunikasi dan kewenangan, sehingga menyebabkan pegawai memiliki satu manajer tempat mereka memberikan laporan dan mempertanggungjawabkan pekerjaannya (Marquis & Huston, 2012).

pekerjaannya (Marquis & Huston, 2012). Program kesehatan lansia di Dinas Kesehatan di pegang hanya

Program kesehatan lansia di Dinas Kesehatan di pegang hanya oleh 1 orang pegawai. Sedangkan untuk program kesehatan lansia di Puskesmas Cimanggis, dipegang oleh seorang 1 pegawai yang bertanggungjawab dalam pelaporan pembinaan kesehatan lansia di dalam gedung dan 1 pegawai pembina wilayah kelurahan yang bertanggunjawan dalam pelaporan pembinaan kesehatan lansia di luar gedung yaitu untuk 11 RW (sekelurahan Curug). Kondisi di puskesmas Cimanggis, pembina wilayah tidak saling bekerjasama dengan pemegang program lansia dalam sistem pelaporan kesehatan lansia.

Pemegang program lansia di Puskesmas Cimanggis melakukan tugas dalam memberikan pelayanan kesehatan lansia di dalam gedung yaitu di poliklinik lansia dan lebih banyak berupa pelayanan pengobatan dan rujukan. Pembinaan kesehatan lansia di luar gedung khusus di wilayah kelurahan Curug dilaksanakan dalam kegiatan posbindu setiap bulan 1 kali untuk 11 RW yang dikoordinasikan dengan pihak kader dan tim penggerak PKK untuk kegiatan posbindu setiap bulannya. Berdasarkan hasil observasi pada kegiatan posbindu di seluruh RW kelurahan Curug, tidak ada pencatatan status kesehatan mental emosional lansia pada KMS lansia serta belum adanya pengorganisasian atau wadah pembinaan bagi kelompok lansia yang mengalami depresi. Pemegang program lansia masih belum optimal dalam menegaskan tugas dan fungsi stafnya dalam pembinaan kesehatan lansia, karena secara tidak langsung struktur organisasi mempengaruhi bagaimana seseorang mempersepsikan peran mereka dan status yang diberikan kepada mereka pimpinan dalam sebuah organisasi (Marquis & Huston, 2012).

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

80

Program kegiatan untuk kesehatan lansia dari Dinkes Kota Depok ditujukan langsung kepada masyarakat, sedangkan pihak Puskesmas Cimanggis hanya bersifat koordinasi saja dalam hal mengundang lansia, misalnya kegiatan lomba lansia sehat, pemeriksaan kesehatan lansia (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, Oktober 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa pihak Puskesmas adalah sebagai bentuk perpanjangan tangan dari Dinkes dan tidak dilibatkan secara langsung dalam melaksanakan program dari Dinkes Kota Depok. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pihak Program Lansia Dinkes Kota Depok masih kurang melakukan kerja sama yang baik antar lintas program (pihak Puskesmas Cimanggis), sehingga cenderung terjadi kurang optimalnya pelayanan terhadap lansia khususnya juga pada lansia yang mengalami depresi.

lansia khususnya juga pada lansia yang mengalami depresi. Seksi pelayanan dasar meliputi salah satunya adalah

Seksi pelayanan dasar meliputi salah satunya adalah kesehatan jiwa. Program kesehatan jiwa belum berkoordinasi secara optimal dengan program kesehatan lansia untuk menangani masalah kesehatan lansia dengan depresi (Interview dengan Penanggungjawab Program kesehatan jiwa Dinkes Kota Depok, Oktober 2013). Hal ini menimbulkan program yang seharusnya bisa dipadukan tapi dalam kenyataannya adalah terpisah. Program Kesehatan keluarga yang meliputi kesehatan lansia tidak berhubungan dengan kesehatan jiwa lansia dan kegiatan perkesmas, padahal kegiatan kesehatan jiwa keluarga, perkesmas dan posbindu termasuk dalam kegiatan di bawah kesehatan keluarga.

Pelayanan kesehatan bagi lansia di wilayah puskesmas Cimanggis kelurahan Curug dibina oleh salah satu bidan. Bidan tersebut membina 11 RW tanpa adanya keterlibatan tenaga kesehatan lainnya, karena belum pernah ada perawat yang terlibat dalam pelaksanaan Posbindu di masing-masing RW di Kelurahan Curug, sedangkan dokter biasanya hanya sekali dalam setahun melakukan kunjungan ke Posbindu, namun tidak rutin (Hasil interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Peran perawat komunitas pun belum optimal dalam pelaksanaan pembinaan program kesehatan lansia, sehingga kegiatan yang bersifat advokasi program kesehatan lansia terutama untuk

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

81

intervensi keperawatan kesehatan lansia depresi belum bisa dilaksanakan secara optimal.

Pemberdayaan adalah proses interaktif yang membentuk, membangun dan meningkatkan kekuasaan melalui bekerjasama, berbagi dan saling membantu. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memberdayakan pekerja saat mereka mendelegasikan tugas untuk memberikan kesempatan belajar dan memungkinkan pekerja untuk berbagi kepuasan yang didapatkan dari pencapaian (Marquis & Huston, 2012).

didapatkan dari pencapaian (Marquis & Huston, 2012). 4.1.1.3 Personalia Pengangkatan perawat kesehatan sebagai

4.1.1.3 Personalia Pengangkatan perawat kesehatan sebagai pegawai negeri sipil yang bekerja di Dinas Kesehatan Kota Depok berdasarkan formasi dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD). Hal ini tidak di dasarkan pada perencanaan kebutuhan pegawai, sehingga pengangkatan pegawai yang diangkat tidak memiliki kualifikasi khusus untuk memegang suatu program kesehatan. Perencaanaan adalah salah satu peran kepemimpinan utama dalam kepersonaliaan dan sering diabaikan dalam proses kepersonaliaan. Karena keberhasilan dalam keputusan kepersonaliaan sangat bergantung pada keputusan yang diambil sebelumnya dalam fase perencanaan dan pengorganisasian. Perekrutan adalah proses mencari atau menarik pelamar secara aktif untuk mengisi posisi yang tersedia (Marquis & Huston, 2012).

Seleksi pegawai yang diangkat untuk menjadi staf di Dinas Kesehatan Kota Depok dan di Puskesmas Cimanggis dilakukan berdasarkan test PNS yang diselenggarakan oleh pihak BKD dan tidak ada keterlibatan pihak Dinas Kesehatan dan pihak Puskesmas, sehingga kualitas pegawai yang diterima hanya diseleksi melalui test tertulis saja. Seleksi adalah proses pemilihan individu yang memiliki kualitas terbaik atau individu untuk pekerjaan atau posisi tertentu dari banyak pelamar. (Marquis & Huston, 2012).

Orientasi dilakukan kepada staf baru secara bertahap. Staf baru langsung ditempatkan dan diorientasikan langsung oleh pimpinan yang ada di tempat sraf

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

82

baru ditempatkan. Hal ini menunjukkan bahwa tahapan orientasi staf baru masih belum dioptimalkan. Orientasi staf baru sangat penting. Tujuan dari orientasi adalah untuk membantu pegawai dengan menyediakan informasi yang akan memperlancar transisi mereka ke lingkungan kerja baru. Kurangnya orientasi lengkap bagi staf baru akan menimbulkan frustasi pada pegawai baru, meskipun ia sudah mendapatkan sedikit orientasi pada unit tertentu. Orientasi yang memadai meminimalkan kecenderungan pelanggaran peraturan, keluhan, dan kesalahpahaman, menumbuhkan perasaan memiliki dan menerima serta meningkatkan antusiasme dan moral bagi staf baru (Marquis & Huston, 2012).

dan moral bagi staf baru (Marquis & Huston, 2012). Pelatihan atau sosialisasi di dalam institusi baik

Pelatihan atau sosialisasi di dalam institusi baik di Dinas Kesehatan Kota Depok maupun di Puskesmas Cimanggis masih belum pernah dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa belum optimalnya job training di dalam institusi untuk meningkatkan kualitas pegawai. Salah satu prosesnya disebut sebagai proses interaksi dan melibatkan kelompok dan orang terdekat dalam konteks sosial. Proses lainnya adalah proses belajar dan meliputi mekanisme, misalnya bermain peran, identifikasi, demonstrasi, belajar operan, instruksi, pengamatan, meniru, trial and error, dan negosisasi peran (Hardy & Conway, 1988 dalam Marquis & Huston, 2012).

Kegiatan pelatihan di luar institusi bagi petugas di Dinkes Kota Depok yang berkaitan dengan kesehatan lansia jarang dilakukan apalagi pelatihan yang ditujukan untuk masalah depresi pada lansia belum pernah dilakukan (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, September 2013). Perawat yang memegang program lansia dan program jiwa di puskesmas belum pernah mendapatkan pelatihan tentang pembinaan kesehatan lansia dengan masalah psikososial lansia khususnya dengan depresi, hal ini membuat petugas puskesmas kurang mendapat isu-isu terbaru dalam pelayanan terhadap kesehatan lansia.

Kader posbindu di setiap RW di kelurahan Curug, masing-masing terdapat antara 315 kader posbindu. Kader bertugas merangkap sebagai kader posyandu. Jumlah

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

83

kader Posbindu untuk Kelurahan Curug sebanyak 54 kader namun yang sudah mengikuti pelatihan Posbindu hanya 3 kader (Hasil interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Jumlah kader posbindu yang kurang tersebut disertai juga dengan kurangnya pemahaman kader tentang penatalaksanaan masalah depresi pada lansia di rumah sehingga dapat berdampak pada kurang optimalnya pelaksanaan posbindu dalam membina kesehatan lansia terutama masalah depresi.

dalam membina kesehatan lansia terutama masalah depresi. Pelaksanaan kegiatan posbindu meliputi kegiatan penimbangan

Pelaksanaan kegiatan posbindu meliputi kegiatan penimbangan berat badan, pengukuran tekanan darah dan pengobatan yang dilakukan oleh bidan dengan memberikan pengobatan sederhana. Kegiatan promosi kesehatan biasanya dilakukan oleh petugas kesehatan (bidan pembina). Namun jika pada kegiatan posbindu, bidan tidak bisa hadir, maka pelayanan kesehatan lansia tidak bisa dilakukan, walaupun di beberapa posbindu, kegiatan pengukuran tekanan darah lansia dilakukan oleh kader (Hasil interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kader sebagai salah satu petugas kesehatan yang dekat dengan masyarakat belum optimal menjalankan fungsinya sebagai seorang kader kesehatan dalam pelayanan lansia di posbindu, sehingga materi pelatihan yang telah didapatkan selama pelatihan tidak diaplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat

Kegiatan Bina Keluarga Lansia (BKL) yang merupakan paket BKKBN dalam upaya kesejahteraan lanjut usia melalui pemberdayaan keluarga yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan lansia melalui kepedulian dan peran serta keluarga dalam mewujudkan lansia yang sehat, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, mandiri, produktif dan bermartabat bagi keluarga dan masyarakat. Program pokok BLK berkaitan pula dengan upaya kesehatan bagi lansia depresi yaitu: 1) pelaksanaan usaha ekonomi produktif keluarga lansia dalam memanfaatkan waktu luang dan memberdayakan kemampuan anggota keluarga dan lansia; 2) membudayakan tingkah laku anggota keluarga dalam memberikan pelayanan, penghormatan dan penghargaan kepada anggota keluarga lansia; 3) pemberdayaan peran serta lansia sesuai dengan pengalaman, keahlian dan kearifannya dalam

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

84

pembangunan keluarga sejahtera atau meningkatkan mutu kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (BKKBN, 2012). Namun program BKL di Kelurahan Curug masih belum optimal dilaksanakan, karean masih kurangnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan lansia terutama tentang depresi (Hasil interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober

2013).

Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Pembinaan dan pelatihan bagi kader selama ini juga masih

Pembinaan dan pelatihan bagi kader selama ini juga masih bersifat secara umum dan terbatas jumlahnya. Data menunjukkan bahwa kader yang mengikuti pelatihan terkait posbindu hanya tiga orang kader (Puskesmas Cimanggis, 2013). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jumlah kader posbindu yang dilatih hanya sedikit dari jumlah kader yang terdapat di suatu kelurahan sehingga kader kurang optimal dalam memberikan pelayanan kepada lansia yang dapat berdampak pada menurunnya status kesehatan pada aggregate lansia salah satunya adalah lansia dengan masalah depresi .

Pelatihan merupakan suatu proses seorang individu disediakan dengan berbagai interaksi yang baik ditujukan untuk mengembangkan isu dan menerima umpan balik terhadap kekuatan dan kesempatan untuk terlibat atau menerima dukungan dan bimbingan selama transisi peran di dalam sebuah instansi (Karten & Baggot dalam Marquis & Huston, 2012). Kurangnya pelatihan merupakan suatu kelemahan dalam sebuah manajemen sehingga dapat berdampak pada kinerja staf pegawai kurang memuaskan (Swanburg, 2000).

Tenaga kesehatan yang saat ini memegang program lansia dan kesehatan jiwa masih memiliki kualifikasi pendidikan DIII, dan masaih belum diberikan kesempatan dalam mengikuti pendidikan formal (jenjang pendidikan S1), karena sulitnya birokrasi dan perijinan untuk pengajuan ijin maupun untuk tugas belajar yang didapat dari BKD. Hal itu menghambat semangat staf dalam pengembangan diri melalui pendidikan formal. Namun beberapa staf di Puskesmas yang berniat sekolah lagi, tetap melanjutkan niatnya untuk sekolah lagi dengan modal dispensasi dari kepala puskesmas dan dengan biaya sendiri.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

85

Jenjang karir staf keperawatan adalah sebagai pegawai fungsional yang berperan dalam pelayanan. Berbeda dengan staf yang bekerja sebagai pegawai struktural. Depkes RI pada Tahun 2006 menyusun pedoman jenjang karir bagi perawat, yang

didalamnya dijelaskan penjenjangan karir perawat profesional yang meliputi perawat klinik, perawat manajer, perawat pendidik dan perawat peneliti, sebagai berikut :

a) b) c) d)
a)
b)
c)
d)

Perawat Klinik (PK), yaitu perawat yang memberikan asuhan keperawatan langsung kepada pasien/klien sebagai individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Perawat Manajer (PM) yaitu perawat yang mengelola pelayanan keperawatan di sarana kesehatan, baik sebagai pengelola tingkat bawah (front line manager), tingkat menengah (middle management) maupun tingkat atas (top manager) Perawat Pendidik (PP) yaitu perawat yang memberikan pendidikan kepada peserta didik di institusi pendidikan keperawatan. Perawat Peneliti/Riset (PR) yaitu perawat yang bekerja dibidang penelitian keperawatan/kesehatan

Sistem saat ini masih belum tampak adanya unsur kompetensi yang menjadi pembeda tiap level dalam penjenjangan tersebut, area karir perawat juga terbatas pada fungsional klinik. Sistem ini belum mampu menciptakan kondisi yang ideal pada saat profesi keperawatan tengah berkembang.

SK Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (Menpan) Nomor :

94/KEP/M.PAN/11/2001 Tanggal 07 Nopember 2001 mengatur tentang jabatan fungsional perawat termasuk angka kreditnya. SK ini kemudian diperkuat dengan SKB antara Menpan dan Menkes dengan nomor SK 733/MENKES/SKB/VI/2002 dan Nomor 10 Tahun 2002 Tanggal 14 Juni 2002; Nomor 47 Tahun 2006 Tanggal 26 Mei 2006. Sistem karir yang diatur dalam SK Menpan menggolongkan perawat kedalam dua jabatan, yaitu ketrampilan dan keahlian. Model penjejangan berdasarkan tingkat keahlian yang didasarkan pada tingkat pendidikan dan

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

86

golongan/jabatan. Sistem imbalan yang diberikan berdasarkan level karir yang ada. Penerapan sistem jenjang karir merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk menghindari kebosanan (Marquis & Huston, 2012). Selain itu, berdasarkan hasil penelitian dari Ratanto (2013) ditemukan bahwa salah satu faktor yang sangat berhubungan dengan kinerja perawat adalah pengembangan karir, sehingga peningkatan kinerja perawat pelaksana harus memperhatikan aspek pendidikan, motivasi, persepsi, kepemimpinan dan pengembangan karir.

motivasi, persepsi, kepemimpinan dan pengembangan karir. 4.1.1.4 Pengarahan Dinas Kesehatan Kota Depok membawahi

4.1.1.4 Pengarahan Dinas Kesehatan Kota Depok membawahi sarana pelayanan kesehatan di wilayah kecamatan Cimanggis. Kegiatan supervisi dilakukan oleh pemegang program lansia setiap 3-6 bulan sekali secara bergantian di puskesmas induk (UPT) se-Kecamatan (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, September 2013). Pembinaan di wilayah kelurahan Curug dilakukan oleh seorang bidan dan kegiatan evaluasi kegiatan pembinaan kesehatan lansia di lakukan langsung oleh pembina wilayah dan bukan dilakukan oleh pemegang program lansia puskesmas. Kondisi tersebut mengakibatkan pemegang program lansia puskesmas Cimanggis, kurang memahami kondisi di lapangan dalam upaya pembinaan kesehatan lansia.

Supervisi merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan untuk memastikan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dengan cara melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut yang dapat dilakukan setiap bulan pada kegiatan posbindu. Supervisi tersebut dilakukan untuk memastikan kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan dan memungkinkan terjadinya pemberian penghargaan, diskusi dan juga bimbingan yang bertujuan untuk mencari jalan keluar jika terjadi kesulitan dalam tindakan (Asmuji, 2012).

Komunikasi dalam rangka penyampaian program kesehatan lansia dilakukan setahun sekali dalam kegiatan sosialisasi tentang program kesehatan lansia dalam 1 tahun di Dinas Kesehatan Kota Depok yang dihadiri oleh pemegang program

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

87

lansia tiap puskesmas (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, September 2013). Komunikasi biasanya dilakukan satu arah karena puskesmas hanya sebagai perpanjangan tangan pelaksanaan program yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan, sehingga sering pemegang program lansia tidak mengetahui secara jelas tentang apa saja impelementasi program kesehatan lansia yang akan dilaksanakan.

program kesehatan lansia yang akan dilaksanakan. Kader posbindu dalam melaksanakan perannya, telah memberikan

Kader posbindu dalam melaksanakan perannya, telah memberikan masukan kepada masyarakat khususnya lansia yang mengalami masalah kesehatan, tetapi materi yang diberikan sangat terbatas, karena kader tidak menggunakan media memberikan masukan atau penyuluhan kesehatan kepada lansia (Interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kader lansia tidak mampu memberikan penyuluhan secara optimal kepada lansia, karena keterbatasan media untuk melakukan penyuluhan, sehingga lansia tidak mendapatkan informasi yang adekuat dari kader posbindu. Selain itu beban kerja kader yang diamanahkan dari berbagai sektor kehidupan membuat kader tidak mampu melaksanakan semuanya secara maksimal. Sedangkan dalam kenyataan di lapangan, petugas kesehatan lebih banyak memberikan pengarahan berupa informasi sebatas teknis pelaksanaan adminisrasi dan proses kegiatan posbindu, belum terkait dengan pembinaan kesehatan lansia tentang pola hidup sehat dan penyuluhan kesehatan khususnya dengan masalah kesehatan depresi pada lansia.

Pelaksanaan kegiatan pembinaan kesehatan lansia khususnya dengan depresi juga masih belum optimal, hal ini dapat dilihat dari kemampuan tenaga kesehatan dan kader dalam melakukan pengkajian status mental emosional lansia berdasarkan kartu menuju sehat (KMS) lansia. Tenaga kesehatan dan kader belum mampu membangun kepercayaan dalam berkomunikasi dengan lansia saat berkunjung di sarana pelayanan kesehatan puskesmas maupun di posbindu. Tenaga kesehatan dan kader melakukan komunikasi dengan lansia tanap memperhatikan privasi atau kerahasiaan, hal ini membuat lansia enggan mengungkapkan masalahnya dengan jujur, sehingga lansia yang datang belum sepenuhnya terkaji masalah mental

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

88

emosionalnya secara mendalam. Lansia langsung pulang ke rumah setelah kader melakukan aktifitas pelayanan di posbindu secara umum seperti menimbang berat badan, pencatatan tekanan darah, tanpa ada kegiatan khusus untuk pembinaan kesehatan lansia.

Pengarahan harus menggunakan komunikasi yang efektif karena komunikasi yang efektif dapat mengurangi kesalahpahaman dan memberikan persamaan pandangan, arah dan pengertian yang disampaikan (Swanburg, 2000). Kepekaan terhadap komunikasi verbal dan non verbal; pengakuan terhadap status, kekuasaan dan kewenangan serta kemampuan dalam teknik asertif adalah keterampilan kepemimpinan. Pemimpin menggunakan kelompok untuk memfasilitasi komunikasi.

menggunakan kelompok untuk memfasilitasi komunikasi. Kegiatan motivasi juga sering dilakukan terhadap petugas di

Kegiatan motivasi juga sering dilakukan terhadap petugas di Dinkes Kota Depok saat upacara yang dilakukan setiap hari sebelum memulai aktivitas. Hal ini dilakukan oleh Kepala Dinkes Kota Depok yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja staf pegawai Dinkes Kota Depok agar dapat bekerja secara efektif dan efisien demi meningkatkan kualitas kerja dan pelayanan secara umum terhadap masyarakat dan terhadap secara khusus lansia. Sedangkan pelaksanaan motivasi bagi petugas di Puskemas jarang dilakukan. Kegiatan motivasi dilakukan oleh pihak Dinkes Kota Depok untuk menarik minat lansia dalam mengikuti Posbindu dengan melakukan lomba seperti lomba senam jantung sehat. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa motivasi yang diberikan kepada lansia untuk dapat meningkatkan status kesehatannya dengan cara mengadakan berbagai kegiatan yang dapat mengundang minat masyarakat khususnya lansia dalam melakukan berbagai aktivitas untuk meningkatkan kesehatannya (Interview dengan Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, September 2013).

Pendelegasian di Dinkes Kota Depok pada Program Lansia dilakukan jika pemegang program berhalangan hadir yaitu dengan berkoordinasi dengan petugas lain dalam satu seksi, namun pendelegasian yang dilakukan hanya secara lisan tanpa ada format pendelegasian secara tertulis (Interview dengan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

89

Penanggungjawab Program Lansia Dinkes Kota Depok, Oktober 2013). Demikian pula sistem pendelegasian di tingkat Puskesmas yaitu dalam melakukan pendelegasian hanya dengan penyampaian lisan tanpa ada format tertulis tergantung dari puskesmas yang dilakukan dari pimpinan Puskesmas kepada bawahan dan sesama rekan kerja (Interview dengan Pembina Kelurahan Curug Puskesmas Cimanggis, Oktober 2013). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses pendelegasian yang dilakukan di tingkat dinas dan puskesmas berjalan secara baik tanpa ada masalah, namun untuk sistem pendelegasian yang baik adalah dengan adanya pernyataan tertulis dalam melakukan pendelegasian tugas kepada rekan atau tim dan penerima delegasi juga harus mempunyai kompetensi dalam melakukan kewajiban, tugas-tugas, dan tanggung jawab yang diberikan oleh pemberi delegasi sebab pendelegasian yang diberikan berupa kewajiban, tugas-tugas, dan tanggung jawab, sehingga yang menerima delegasi harus dapat melaksanakannya dengan baik (Swanburg, 2000).

harus dapat melaksanakannya dengan baik (Swanburg, 2000). 4.1.1.5 Pengawasan Berdasarkan hasil pengkajian ditemukan

4.1.1.5 Pengawasan Berdasarkan hasil pengkajian ditemukan belum adanya penilaian kinerja kader dalam kegiatan posbindu termasuk pengelolaan depresi pada lansia, selain itu juga belum adanya sistem pemantauan atau pencatatan kasus depresi pada lansia, belum ada evalusi dari kepala puskesmas terhadap penanggujawab program tingkat puskesmas tentang program lansia termasuk lansia depresi hanya berupa penilaian kinerja pemegang program berupa DP3, sedangkan alat penilaian kinerja tiap program kegiatan lansia khususnya dengan masalah depresi masih belum ada.

Penilaian kinerja adalah penilaian seberapa baik pegawai melakukan pekerjaan mereka yang diuraikan dalam deskripsi pekerjaan mereka. Hal ini dapat memotivasi pegawai (Marquis & Huston, 2012). Alat penilaian kinerja untuk program kesehatan lansia khususnya dengan depresi diperlukan karena menurut Decter dab Strader 1998 dalam Marquis dan Huston, 2012 menyatakan bahwa alat pengkajian kompetensi yang efektif harus memungkinkan manajer untuk berfokus pada tindakan prioritas dan kompetensi yang didefinisikan secara

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

90

spesifik, sehingga pelatihan dan pemberian umpan balik kinerja menjadi hal yang lebih mudah.

Sistem pemantauan dan penilaian penanganan perawatan kesehatan pada kasus depresi pada lansia masih belum ada di dalam gedung maupun di luar gedung. Selain itu, belum adanya evaluasi dari kepala puskesmas terhadap penangunjawab program tingkat puskesmas tentang program kesehatan lansia termasuk dengan masalah depresi. Menurut Ervin (2002), kegiatan evaluasi bertujuan untuk melihat efektifitas dan efisiensi program yang sedang dan telah dilakukan, sehingga dapat mengidentifikasi masalah atau hambatan yang muncul selama pelaksanaan program.

atau hambatan yang muncul selama pelaksanaan program. Pelayanan keperawatan kesehatan khususnya untuk di puskesmas

Pelayanan keperawatan kesehatan khususnya untuk di puskesmas Cimanggis maupun di posbindu khusus program lansia tidak pernah melakukan penyebaran lembar evaluasi asuhan/pemberian pelayanan sebagai upaya kendali mutu bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan lansia. Kendali mutu memberikan umpan balik kepada karyawan tentang mutu asuhan mereka saat ini dan bagaimana asuhan yang mereka berikan dapat diperbaiki. Kendali mutu membutuhkan evaluasi penampilan semua anggota tim multidisiplin (Marquis & Huston, 2012).

Program kesehatan lansia yang dicanangkan dan dilakukan ternyata belum optimal apalagi yang berkaitan dengan masalah yang spesifik pada lansia seperti masalah depresi. Kegiatan yang dilakukan hanya bersifat umum tidak terfokus pada masalah kesehatan yang dialami lansia. Program kegiatan terus dijalankan tetapi karena tidak spesifik berdampak pada kurang efektif penyelesaian masalah kesehatan pada lansia, sehingga lansia masih banyak yang mengalami berbagai masalah kesehatan salah satunya adalah masalah depresi.

Berdasarkan analisis situasi manajemen kesehatan keperawatan komunitas, maka dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan program kesehatan lansia dengan depresi yang dikoordinasikan dari pihak Dinas Kesehatan Kota Depok kepada

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

91

pihak puskesmas Cimanggis, teridentifikasi beberapa masalah yaitu koordinasi dan kerjasama lintas program dalam pengembangan program kesehatan lansia depresi belum optimal dilaksanakan; pengembangan staf (tenaga kesehatan dan kader kesehatan) untuk meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan lansia depresi belum optimal, khususnya dalam meningkatkan kualitas kemampuan pelaksanaan program kesehatan lansia; kegiatan supervisi pembinaan kesehatan lansia depresi oleh pemegang program lansia belum terlaksana dengan baik; wadah yang mendukung masyarakat dalam pembinaan lansia depresi belum tersedia; monitor evaluasi tentang pelaksanaan program kesehatan lansia depresi belum terlaksana; serta masih kurang jelasnya jenjang karier bagi tenaga kesehatan dalam pelaksanaan perannya sebagai pemberi pelayanan kesehatan masyarakat khususnya bagi lansia denga depresi. Masalah manajemen kesehatan keperawatan tersebut digambarkan dalam fish bone berikut ini :

tersebut digambarkan dalam fish bone berikut ini : Pengaruh intervensi Universitas Indonesia , Agnes Dewi

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

92

Gambar 4.1 Fish Bone Hasil Analisis Manajemen Pelayanan Kesehatan pada Aggregat Lansia dengan Depresi

PENGAWASAN PERSONALIA PERENCAANAAN Belum ada perencanaan untuk program penatalaksanaan depresi secara berkelompok
PENGAWASAN
PERSONALIA
PERENCAANAAN
Belum ada perencanaan
untuk program
penatalaksanaan depresi
secara berkelompok pada
lansia dengan depresi
Pelayanan kesehatan
khusus dalam upaya
promotif dan preventif bagi
lansia depresi belum
optimal
Belum optimalnya
rekruitmen SDM nakes
dalam memenuhi kebutuhan
tenaga yang kompeten dlm
yankes lansia dengan depresi
Kurangnya SDM yang dapat
mengembangkan program
kesehatan keperawatan lansia
sesuai dengan keilmuan yang
tepat
Belum ada penilaian
kinerja kader dalam
kegiatan posbindu
termasuk pengelolaan
depresi pada lansia
Kurang optimal dalam
mengevaluasi kinerja
kader kesehatan
Program lansia bukan
merupakan program
yang menjadi prioritas
termasuk lansia dengan
depresi
Penanganan masalah
lansia dengan depresi
tidak optimal
Masih rendahnya kesempatan nakes untuk
mendapatkan pendidikan formal maupun
nonformal dari institusi khususnya dalam
peningkatan kemampuan pelaksanaan
program kesehatan lansia dengan depresi
Kurangnya pengetahuan
SDM nakes tentang isu-isu
terbaru dalam program
kesehatan lansia depresi;
pembinaan kes.lansia
menjadi tidak optimal.
Belum adanya
sistem pemantauan
kasus depresi pada
lansia
Kondisi lansia tidak
terpantau secara efektif
terkait perubahan tingkat
depresi dan tindakan yang
perlu dilakukan
Anggaran yang
tersedia belum ada
untuk kegiatan
pembinaan program
lansia depresi.
Pembinaan terhadap
kesehatan lansia depresi
kurang optimal di
masyarakat
Kurang jelasnya jenjang
karir bagi tenaga
kesehatan dalam
pelaksanaan perannya.
Rendahnya motivasi
nakes dalam
pelaksanaan program
kesehatan lansia dan
pembinaan kader
kurang.
Belum ada evalusi dari
kepala puskesmas
terhadap penanggujawab
program tingkat
puskesmas tentang
program lansia termasuk
lansia depresi
Penanggungjawab
program kurang
mengetahui kelemahan
dan kelebihan yankes.
yang telah dilakukan
terhadap lansia dengan
depresi
Pembagian tugas dalam penyelenggaraan posbindu
dilakukan oleh 1 orang bidan dibantu oleh kader posbindu
atau posyandu.
Penanganan dan yankes utk
lansia depresi kurang optimal
Tidak ada pelatihan bagi petugas
Dinkes dan Puskesmas khusus untuk
penatalaksanaan lansia dengan depresi
Kegiatan program lansia dari Dinkes langsung
dijalankan oleh Dinas, puskesmas tidak dilibatkan
secara langsung. Belum jelasnya pemegang program
untuk masalah lansia dengan depresi. Program
kesehatan lansia dan jiwa berjalan sendiri-sendiri
dalam pembinaan kesehatan lansia dengan depresi.
Pihak puskesmas kurang
mengetahui materi pelaksanaan
kegiatan, shg follow up
menjadi terhambat
Petugas puskesmas belum
mempuyai petunjuk khusus dalam
penatalaksanaan lansia dengan
depresi
Pelaporan pertanggunjawaban
kegiatan program kesehatan
lansia dengan depresi menjadi
tidak maksimal.
Kader Posbindu yang baru
mengikuti pelatihan hanya 3
orang dari 54 kader Posbindu dan
jarang melakukan sosialisasi hasil
pelatihan
Sedikit kader yang mempunyai
kemampuan yang optimal dari hasil
pelatihan sehingga pelayanan kurang
optimal di posbindu
Pengaturan tugas dan tanggungjawab dalam
penyelenggaranan program kesehatan lansia
depresi masih belum optimal
Pemegang program lansia kurang memahami
kondisi di lapangan secara langsung dalam
upaya pembinaan kes.lansia
Belum adanya wadah yang mendukung
untuk masyarakat dalam pembinaan
khusus lansia dengan depresi
Pembinaan dan cakupan
pelayanan kesehatan lansia
dengan depresi menjadi tidak
optimal
Penilaian dan observasi langsung
terhadap kegiatan pembinaan
lansia jarang dilakukan oleh
pemegang program lansia
PENGARAHAN
PENGORGANISASIAN

Koordinasi dan kerjasama lintas program dalam pengembangan program kes.lansia dengan depresi belum optimal

Pengembangan staf

untuk meningkatkan

kemampuan yankes

lansia dengan

depresi belum

optimal

 

Kegiatan

supervisi

pembinaan

kesehatan

lansia

dengan

depresi

oleh

pemegang

program

lansia

belum

terlaksana

dengan baik

Wadah yang

mendukung

mayarakat

dalam

pembinaan

lansia depresi

belum tersedia

Monitor evaluasi

tentang

pelaksanaan

program

kesehatan lansia

dengan depresi

belum terlaksana

Sumber : Swanburg, 2000; Marquis & Huston, 2012; Gillies, 1994; Ervin, 2002; Ratanto, 2013; Fatmah, 2003; Ratnasari, 2012.

Universitas Indonesia

92

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

93

4.1.2 Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas Analisis dengan menggunakan diagram fish bone terhadap manajemen pelayanan keperawatan pada aggregate lansia dengan depresi teridentifikasi masalah manajemen pelayanan keperawatan komunitas pada aggregate lansia dengan depresi yang mencakup:

Koordinasi dan kerjasama lintas program dalam pengembangan program kesehatan lansia dengan depresi belum optimal. Pengembangan staf untuk meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan bagi lansia dengan depresi belum optimal.

a.

b. c. d. e. Hasil prioritas masalah manajemen pelayanan keperawatan komunitas adalah : a. b.
b.
c.
d.
e.
Hasil prioritas masalah manajemen pelayanan keperawatan komunitas adalah :
a.
b.
4.1.3 Rencana Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas
4.1.3.1 Masalah Keperawatan Manajemen (1):

Kegiatan supervisi pembinaan kesehatan lansia dengan depresi oleh pemegang program lansia belum terlaksana.

Wadah yang mendukung untuk masyarakat dalam pembinaan khusus lansia dengan depresi belum tersedia.

Monitor evaluasi tentang pelaksanaan program kesehatan lansia dengan depresi belum terlaksana.

Pengembangan staf tenaga kesehatan dan kader kesehatan untuk meningkatkan kemampuan pelayanan kesehatan bagi lansia dengan depresi belum optimal. Wadah yang mendukung masyarakat dalam pembinaan khusus lansia dengan depresi belum tersedia.

Pengembangan staf tenaga kesehatan dan kader kesehatan untuk meningkatkan kemampuan pemberian pelayanan kesehatan bagi lansia depresi belum optimal. a. Tujuan Umum :

Setelah dilakukan upaya pengembangan staf yaitu bagi tenaga kesehatan dan kader posbindu selama 9 bulan diharapkan dapat meningkatkan perilaku kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan bagi lansia depresi.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

94

b. Tujuan Khusus :

1) Terjadi peningkatan pengetahuan perawat atau tenaga kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH pada kelompok lansia depresi 2) Terjadi peningkatan sikap perawat atau tenaga kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH pada kelompok lansia depresi 3) Peningkatan keterampilan perawat atau tenaga kesehatan minimal sebesar 20% dalam melakukan tindakan asuhan keperawatan lansia dalam teknik meningkatkan harga diri, manajemen stres, senam kaki DM, latihan ROM pada lansia depresi. 4) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan minimal sebesar 20% dalam melakukan pencatatan dan pelaporan tentang pelayanan kesehatan bagi lansia serta status mental emosional lansia pada KMS lansia dalam laporan ke tingkat puskesmas dan dinas kesehatan. 5) Terjadinya peningkatan pengetahuan kader kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH minimal 20% 6) Terjadinya peningkatan sikap kader kesehatan tentang intervensi MaSa INDAH kader kesehatan minimal 20%. 7) 70% kader kesehatan memiliki kemampuan dengan kategori baik memberikan intervensi MaSa INDAH untuk masalah kesehatan lansia dengan depresi. 8) 70% kader kesehatan melakukan pendataan dan pencatatan tentang status emosional lansia dalam KMS lansia.

pencatatan tentang status emosional lansia dalam KMS lansia. Tenaga kesehatan yang akan dilatih adalah dengan kriteria

Tenaga kesehatan yang akan dilatih adalah dengan kriteria sebagai penanggungjawab atau perawat pelaksana program kesehatan lansia atau perkesmas atau program kesehatan jiwa yang bekerja di wilayah kerja Puskesmas Cimanggis, Kota Depok.

Kader kesehatan yang akan dilatih adalah kader posbindu di wilayah Kelurahan Curug, bisa membaca dan menulis, serta bersedia untuk berperan dalam kegiatan pembinaan kesehatan lansia khususnya dengan masalah depresi.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

95

c. Alternatif Penyelesaian Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan

Komunitas 1) Pelatihan bagi tenaga kesehatan tentang asuhan keperawatan psikososial (khususnya dengan depresi ) bagi lansia dengan intervensi MaSa INDAH.

Pelatihan tentang proses asuhan keperawatan (pengkajian, perencanaan, implementasi dan evaluasi) pada lansia dengan depresi dengan intervensi MaSa INDAH Pelatihan tentang tindakan keperawatan bagi kesehatan lansia berupa latihan meningkatkan harga diri lansia, manajemen stres dengan teknik nafas dalam, latihan ROM dan senam kaki DM. Evaluasi tenaga kesehatan dalam pencatatan dan pelaporan asuhan keperawatan lansia serta kegiatan pembinaan kesehatan lansia di puskesmas dan di masyarakat.

a)

b) c) 2) Penyegaran bagi kader posbindu : a) b) c) d) e)
b)
c)
2) Penyegaran bagi kader posbindu :
a)
b)
c)
d)
e)

Pendidikan kesehatan bagi kader tentang depresi pada lansia dan cara

pencegahannya melalui intervensi MaSa INDAH Melatih kader dalam melakukan pendidikan kesehatan bagi lansia dan keluarga lansia Melatih kader untuk melakukan komunikasi efektif, meningkatkan harga diri lansia, teknik relaksasi: meditasi untuk manajemen stres pada lansia depresi Melatih kader dalam pengisian KMS dan mengevaluasi pengisian Kartu Tilik Diri (KTD) lansia INDAH untuk hasil pengkajian status emosional lansia. Evaluasi kader dalam melakukan intervensi MaSa INDAH yaitu

melakukan komunikasi efektif, meningkatkan harga diri lansia, teknik relaksasi nafas dalam untuk manajemen stress pada lansia depresi. d. Pembenaran :

Pelatihan merupakan suatu proses seorang individu disediakan dengan berbagai interaksi yang baik ditujukan untuk mengembangkan isu dan menerima umpan balik terhadap kekuatan dan kesempatan untuk terlibat atau menerima

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

96

dukungan dan bimbingan selama transisi peran di dalam sebuah instansi (Karten & Baggot dalam (Marquis & Huston, 2012). Kurangnya pelatihan merupakan suatu kelemahan dalam sebuah manajemen sehingga dapat berdampak pada kinerja staf pegawai kurang memuaskan (Swanburg, 2000). Kurang adanya pelatihan bagi staf pegawai Dinkes Kota Depok serta petugas kesehatan di puskesmas khususnya staf Program Lansia terhadap berbagai aspek yang berkaitan dengan lansia dapat berdampak pada kurang optimalnya kinerja staf pegawai Dinkes Kota Depok untuk meningkatkan status kesehatan bagi lansia serta membuat petugas puskesmas kurang mendapat isu-isu terbaru dalam pelayanan terhadap kesehatan lansia.

4.1.3.2 Masalah Keperawatan Manajemen (2):
4.1.3.2 Masalah Keperawatan Manajemen (2):

Kader posbindu yang terdapat di Kelurahan Curug memerlukan suatu kegiatan untuk mengembangkan pengetahuan dan kemampuannya dalam perannya sebagai kader melalui pelatihan bagi kader. Kegiatan posbindu di kelurahan Curug memfasilitasi petugas kesehatan untuk lebih banyak memberikan informasi program-program sebatas teknis pelaksanaan administrasi dan proses kegiatan posbindu, pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan lansia. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan Fatmah (2013) menunjukkan bahwa ada pengaruh pelatihan kader kesehatan (posbindu) dalam peningkatan pengetahuan dan keterampilan teknis bagi kader posbindu di kota Depok.

Wadah yang mendukung masyarakat dalam pembinaan khusus lansia dengan depresi belum tersedia. a. Tujuan Umum Setelah dilakukan pengelolaan fungsi manajemen : tersedianya wadah yang mendukung masyarakat program kesehatan lansia dengan depresi selama 9 bulan diharapkan program MaSa INDAH dapat diaplikasikan langsung dalam upaya peningkatan status kesehatan lansia dengan depresi.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

97

b. Tujuan Khusus 1) Tersosialisasinya tentang program MaSa INDAH bagi dinas kesehatan kota Depok dan Puskesmas Cimanggis serta kelompok pendukung/ masyarakat. 2) Terbentuknya struktur organisasi kelompok pendukung MaSa INDAH bebas depresi. 3) Dibuatnya rencana program kegiatan kelompok pendukung MaSa INDAH bebas depresi.

4) Terbinanya kelompok pendukung MaSa INDAH bebas depresi. kali pertemuan untuk kegiatan : a)
4)
Terbinanya kelompok pendukung MaSa INDAH bebas depresi.
kali pertemuan untuk kegiatan :
a)

c. Alternatif Penyelesaian Masalah Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas :

1) Sosialisasi program lansia INDAH bebas depresi bagi dinas kesehatan kota Depok dan Puskesmas Cimanggis serta kelompok pendukung atau masyarakat. 2) Pembentukan kelompok pendukung (support group) yaitu membuat struktur organisasi kelompok pendukung dan pembagian kerja masing- masing anggota kelompok pendukung. 3) Pembinaan kelompok pendukung lansia INDAH bebas depresi dalam 9

Pertemuan 1 yaitu: pembentukan kelompok pendukung lansia INDAH bebas depresi di RW 11, identifikasi pengetahuan, sikap dan keterampilan kelompok pendukung, identifikasi masalah kesehatan lansia yang dihubungkan dengan masalah depresi, pembagian buku kerja dan cara penggunaannya, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu : mengidentifikasi masalah kesehatan lansia di wilayah RW

b) Pertemuan 2 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi masalah kesehatan pada lansia di wilayah RW, pemberian materi kesehatan tentang masalah kesehatan dan depresi lansia, identifikasi lansia depresi dan faktor risiko depresi pada lansia, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu: identifikasi faktor risiko dan

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

98

tanda-tanda depresi pada minimal satu (1) lansia dengan kunjungan ke rumah lansia oleh masing-masing kader. Pertemuan 3 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi faktor risiko dan tanda-tanda depresi pada minimal satu (1) lansia dengan kunjungan ke rumah lansia oleh masing-masing kader, pembinaan kader dalam melakukan kegiatan pendidikan kesehatan tentang kesehatan lansia dan risiko depresi lansia oleh kader, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu mengeksplorasi kemampuan diri oleh kader masing-masing untuk persiapan memberikan pendidikan kesehatan. Pertemuan 4 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu ekplorasi kemampuan diri kader untuk memberikan pendidikan kesehatan dan memberikan umpan balik dan motivasi, praktik melakukan pendidikan kesehatan oleh kader, evaluasi kegiatan penkes oleh kader, penyusunan rencana kegiatan kelompok selanjutnya yaitu identifikasi cara keluarga berkomunikasi dengan lansia melalui kunjungan rumah Pertemuan 5 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi cara keluarga berkomunikasi dengan lansia melalui kunjungan rumah, pembinaan melalui pendidikan kesehatan tentang komunikasi efektif dan latihan dalam berkomunikasi efektif, penyusunan rencana kegiatan selanjutnya yaitu identifikasi stress dan cara mengatasi stress pada diri sendiri oleh kader.

c)

d) e) f)
d)
e)
f)

Pertemuan 6 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu identifikasi stress dan cara mengatasi stress oleh kader, latihan manajemen stres dengan teknik relaksasi, penyusunan rencana kegiatan selanjutnya yaitu eksplorasi perasaan malu pada individu atau harga diri rendah.

g) Pertemuan 7 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu eksplorasi perasaan malu pada individu atau harga diri rendah, pembinaan dengan pendidikan kesehatan tentang harga diri rendah pada lansia dan cara meningkatkannya, penyusunan rencana kegiatan selanjutnya yaitu persiapan untuk evaluasi keluarga binaan dengan melakukan kunjungan rumah.

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

99

h) Pertemuan 8 yaitu: Review kegiatan-kegiatan sebelumnya dan pembinaan ulang untuk topik yang masih kurang dipahami. i) Pertemuan 9 yaitu: evaluasi kegiatan sebelumnya yaitu persiapan untuk evaluasi keluarga binaan dengan melakukan kunjungan rumah dan evaluasi perilaku kesehatan kelompok pendukung (post test).

d. Pembenaran :

kesehatan kelompok pendukung (post test). d. Pembenaran : Penugasan suatu kelompok manajer dengan otoritas pengawasan

Penugasan suatu kelompok manajer dengan otoritas pengawasan setiap kelompok dan menentukan cara pengoordinasian aktivitas yang tepat dengan unit lainnya, baik secara vertikal maupun horizontal yang bertanggungjawab mencapai tujuan organisasi (Swansburg, 1993). Pengorganisasian juga merupakan fase yang kedua setelah perencanaan dalam proses manajemen dan dalam tahap pengorganisasian menjelaskan tentang hubungan, prosedur pelaksanaan, perlengkapan, dan pembagian tugas (Marquis & Huston, 2012). Struktur organisasi menentukan tingkah laku staf pegawai sebagai akibat dari peran, kekuatan, tanggung jawab, kekuasaan, pemusatan, dan komunikasi (Gillies, 1994). Faktor tersebut berkontribusi terhadap efektifitas kerja dari masing-masing staf pegawai atau anggota organisasi dan sebagai bentuk dukungan antara sesama dalam pelaksanaan kegiatan program lansia.

Upaya pencapaian suatu tujuan program lansia dapat dengan memberdayakan masyarakat juga diperlukan. Huber (2006) menyatakan bahwa pengorganisasian berarti memobilisasi sumber daya material dan manusia untuk mencapai apa yang dibutuhkan. Selain itu melalui pendidikan kesehatan adalah suatu kegiatan dalam rangka upaya promotif dan preventif dengan melakukan penyebaran informasi dan meningkatkan motivasi bagi masyarakat untuk berperilaku sehat termasuk dalam pelayanan kesehatan bagi lansia (Stanhope & Lancaster, 2004).

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

100

4.1.4 Pelaksanaan Manajemen Pelayanan Keperawatan Komunitas 4.1.4.1 Masalah Keperawatan Manajemen (1) a. Penyegaran Kader Posbindu Kegiatan dilaksanakan di kantor Kelurahan Curug pada tanggal 12-13 Nopember 2013 pukul 13.0017.00 WIB. Kegiatan ini dilakukan bersama mahasiswa residensi/ spesialis keperawatan komunitas yang berfokus pada tujuan revitalisasi posbindu di kelurahan Curug. Kegiatan yang dihadiri oleh kader 37 orang (hari pertama) dan 33 orang (hari kedua). Undangan hadir 100% dari 33 undangan yang disebarkan. Kegiatan ini meliputi kegiatan penyuluhan kesehatan bagi kader tentang masalah-masalah kesehatan lansia dan penanganannya serta cara mencegahnya sehingga diharapkan bagi kader nantinya bisa melaksanakan pendidikan kesehatan sedehana bagi lansia dan keluarga lansia dalam upaya pencegahan depresi lansia. Kegiatan penyuluhan diawali dengan memberikan soal sebelum pelatihan untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan kader terkait masalah depresi pada lansia kemudian dengan kegiatan penyuluhan kesehatan. Soal dipadukan dengan soal tentang masalah kesehatan yang lainnya.

dengan soal tentang masalah kesehatan yang lainnya. Kegiatan penyegaran kader yang dilaksanakan selama 2 hari

Kegiatan penyegaran kader yang dilaksanakan selama 2 hari ini merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan dengan persiapan undangan, sarana prasarana, materi dan media pelatihan penyegaran kader sudah dipersipakan sebelumnya. Selama kegiatan, kader disampaikan materi tentang kesehatan lansia, depresi serta cara memberikan pendidikan kesehatan dan keluarga lansia sekaligus latihan cara berkomunikasi yang baik dengan lansia. Setelah sesi penyuluhan berakhir, kader diberikan kesempatan untuk melakukan latihan penyuluhan kesehatan kepada kelompok yang lain sehingga memberikan pengalaman yang nyata dalam memberikan penyuluhan kesehatan. Kegiatan ini juga disertakan untuk penyegaran kader dalam pengisian KMS lansia terutama pada status emosional lansia yang sering tidak diisi oleh kader pada kegiatan posbindu.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

101

Selama kegiatan, terjadi diskusi yang interaktif karena sebagian besar kader belum pernah mengikuti pelatihan yang sifatnya untuk masalah psikologis seperti depresi lansia dan karena kader memiliki minat dan semangat yang tinggi mengikuti kegiatan hingga berakhir. Penyegaran dan pelatihan kader diakhir dengan proses evaluasi mengenai masing-masing komponen yang telah disampaikan dan pemberian wacana dan kesepakatan tentang pentingnya pencegahan risiko depresi lansia dan mahasiswa akan melakukan supervisi ke rumah keluarga lansia bersama kader untuk melihat kemampuan kader dalam memberikan penyuluhan kesehatan kepada lansia dan keluarga tentang risiko depresi dan pencegahannya. Kader juga diberikan 1 paket materi berupa buklet dan media penyuluhan dalam bentuk leaflet dan lembar balik. Evaluasi juga dilakukan di akhir kegiatan pelatihan, kemudian kegiatan ditutup.

b.
b.

Pelatihan tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Cimanggis Pelatihan bagi tenaga kesehatan dilaksanakan di aula Puskesmas Cimanggis selama 2 hari yaitu tanggal 29-30 April 2014. Pelatihan asuhan keperawatan psikososial (terutama dengan depresi pada lansia) bagi tenaga kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Cimanggis. Pelatihan direncanakan bersama dengan pihak puskesmas dan berkoordinasi dalam rencana penentuan peserta yang akan di undangan dalam pelatihan. Pihak puskesmas membuat undangan resmi untuk tenaga kesehatan penanggungjawab perkesmas atau jiwa dan pemegang program lansia di UPT (unit pelaksana teknis) dan UPF (unit pelaksana fungsional) yang ada di wilayah kerja Puskesmas Cimanggis yaitu UPF Puskesmas Mekar Sari, UPF Puskesmas Cisalak Pasar, UPF Puskesmas Tugu, UPF Puskesmas Pair Gunung Selatan, UPF Puskesmas Harja Mukti dan UPT Puskesmas Cimanggis. Kegiatan pelatihan juga mengundang petugas kesehatan dari Dinas Kesehatan Kota Depok.

Judul materi yang diberikan yaitu :

1)

Konsep kesehatan lansia an peran perawat kesehatan lansia selama 30

Menit.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

102

2) Pengkajian fisik dan psikologis pada lansia dengan masalah psikososial (khususnya depresi) selama 45 menit. 3) Komunikasi dan pendidikan kesehatan oleh tenaga kesehatan selama 30 menit.

4)

5) Pemberdayaan kelompok dan masyarakat bagi kesehatan lansia untuk cegah depresi selama 45 menit.

Konsep dan manajemen puskesmas santun lansia selama 30 menit.

6) Praktik Tindakan keperawatan bagi lansia selama 180 menit. a) b) c) d) e)
6)
Praktik Tindakan keperawatan bagi lansia selama 180 menit.
a)
b)
c)
d)
e)

Manajemen stress dengan meditasi nafas dalam dan musik Senam kaki bagi lansia DM Latihan rentang gerak bagi lansia stroke Peningkatan harga diri bagi lansia Evaluasi keperawatan dan Pencatatan pelaporan hasil pembinaan kesehatan lansia selama 30 menit.

Kegiatan juga dilaksanakan di dalam di luar gedung (120 menit) untuk mengevaluasi kegiatan pembinaan kesehatan lansia di puskesmas maupun di posbindu yaitu bimbingan kemampuan tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan dan pembinaan kesehatan lansia depresi melalui intervensi MaSa INDAH.

Acara dimulai dari pukul 08.00 WIB sampai pukul 16.00 WIB. Acara langsung dibuka oleh Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan Dasar Dinas Kesehatan Kota Depok dan dihadiri oleh kepala Puskesmas Cimanggis Kota Depok. Narasumber dalam pelatihan ini adalah dari mahasiswa residensi keperawatan komunitas FIK UI yaitu Agnes, Rizky, Hera dan Ani. Metode pelatihan dengan diskusi ceramah tanya jawab, studi dokumentasi dan praktik/role play. Evaluasi kegiatan dilaksanakan dengan pre dan post test, serta dengan observasi kegiatan supervisi di lapangan. Peserta yang hadir sejak hari pertama sampai hari kedua sebanyak 10 orang yang terdiri dari 1 orang perawat dengan pendidikan S1 keperawatan, 3 orang perawat dengan

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

103

pendidikan D3 keperawatan, 2 orang perawat dengan pendidikan SPK, 3 bidan dengan pendidikan D3 kebidanan, 1 orang dokter umum.

4.1.4.2 Masalah Keperawatan Manajemen (2)

a.

Sosialisasi intervensi MaSa INDAH bagi Pihak Dinas kesehatan kota Depok dan Puskesmas Cimanggis. Kegiatan diawali dengan persiapan dalam penyajian hasil dari analisis situasi manajemen kesehatan di Dinas Kesehatan Kota Depok dan Puskesmas Cimanggis selama 1 bulan.

b. c. d. e. f.
b.
c.
d.
e.
f.

Sosialisasi intervensi MaSa INDAH bagi Kelompok atau masyarakat diawali dengan persiapan undangan yang disebarkan kepada masyarakat terutama kader dan tokoh masyarakat di RW.

Pembentukan Kelompok pendukung lansia depresi dan membuat struktur organisasi kelompok pendukung serta pembagian kerja masing-masing anggota kelompok pendukung di RW 11 dilaksanakan pada tanggal 02 Desember 2013 dan di RW 05 dilaksanakan tanggal 18 Pebruari 2014. Kegiatan diawali dengan pemaparan tentang kelompok pendukung lansia dengan depresi dan pembentukan struktur organisasi kelompok dengan nama “Kelompok Pendukung MaSa INDAH” sebanyak 15 orang.

Evaluasi awal dilakukan dengan memberikan soal pre test yang pengetahuan, dan sikap anggota kelompok tentang perawatan lansia depresi yang diintergrasikan dalam intervensi MaSa INDAH.

Anggota diberikan buku kerja untuk kelompok pendukung yang berisikan uraian kegiatan yang akan dilakukan selama menjadi anggota kelompok pendukung. Buku diharapkan diisi selama mengikuti kegiatan dan menjadi bahan evaluasi diri bagi kemampuan anggota kelompok.

Pembinaan Kelompok pendukung lansia depresi MaSa INDAH di RW 11 dan 05 dengan topik: kesehatan lansia, deteksi dini depresi dan cara pencegahannya, teknik pendidikan kesehatan, komunikasi efektif, manajemen stres dan cara meningkatkan harga diri rendah. Pembinaan dilakukan dalam 9 kali pertemuan.

g. Evaluasi kelompok pendukung dilakukan dengan memberikan soal post test.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

104

4.1.5 Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut

4.1.5.1 Hasil Evaluasi Masalah Manajemen Keperawatan (1)

a. Hasil Evaluasi Kegiatan penyegaran kader :

1) Jumlah kader yang hadir 100% (sesuai dengan jumlah undangan yang diberikan yaitu 37 orang hari 1 dan 3)

Pengetahuan kader posbindu tentang intervensi MaSa INDAH meningkat

25% dari nilai rata-rata sebelum dan sesudah test. 3) Sikap kader posbindu tentang intervensi MaSa INDAH bagi lansia depresi meningkat 32%% dari nilai rata-rata sebelum dan sesudah test. 4) 28 dari 33 kader posbindu (85%) memiliki kemampuan dengan kategori baik dalam melakukan intervensi MaSa INDAH. 5) 100% status emosional lansia yang datang ke posbindu tercatat pada KMS pada kegiatan posbindu di RW 11.

2)

b.
b.

Hasil Evaluasi Pelatihan Tenaga Kesehatan 1) Peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan tentang depresi pada lansia sebesar 19,28 % (n= 10) 2) Peningkatan sikap tenaga kesehatan tentang kesehatan lansia dengan depresi sebesar 26,45% (n=10) 3) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam memberikan penyuluhan kesehatan kepada lansia depresi di dalam gedung atau di luar gedung sebesar 20,63% (n=10) 4) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi keperawatan meningkatkan harga diri sebesar 29,03% (n=10) 5) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi keperawatan manajemen stres sebesar 9,07% (n=10) 6) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi keperawatan latihan ROM sebesar 29,5% (n=10) 7) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan intervensi keperawatan senam kaki sebesar 21,99% (n=10). 8) Peningkatan pengetahuan dalam pencatatan dan pelaporan status kesehatan dan status mental emosioonal lansia sebesar

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

105

9) Peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan dalam melakukan supervisi kader dalam melakukan pendataan dan pencatatan status mental emosional lansia sebesar 26,67% (n=2) 10) Peningkatan keterampilan tenaga kesehatan dalam melakukan supervisi kader dalam melakukan pendataan dan pencatatan status mental emosional lansia sebesar 15,15% (n=2)

c. Hambatan : d. Rencana Tindak Lanjut 1) 2)
c. Hambatan :
d. Rencana Tindak Lanjut
1)
2)

1) Terbatasnya dana program bagi pembinaan kesehatan lansia yang diberikan oleh pemerintah. 2) Terbatasnya dana untuk pengembangan staf melalui pendidikan formal dan non formal khususnya keperawatan oleh institusi maupun pemerintah.

Dinas Kesehatan Kota Depok Dinas Kesehatan mengganggarankan program kesehatan lansia dengan optimal serta memperhatikan sumber daya manusianya. Dinas Kesehatan meningkatkan peluang dan kesempatan bagi tenaga kesehatan khususnya keperawatan yang ingin mengembangkan diri dengan mengajukan usulan kepada pihak pemerintah tentang kebutuhan tenaga kesehatan terutama perawat dalam mengembangkan program kesehatan lansia khususnya untuk lansia dengan depresi.

Pihak Puskesmas Cimanggis Pihak Puskesmas memberikan dukungan kesempatan bagi tenaga kesehatan yang memiliki keinginan dalam pengembangan diri di dalam gedung maupun di luar gedung yaitu melalui pelatihan atau seminar bidang keperawatan kesehatan masyarakat terutama untuk kesehatan lansia. Kelurahan Curug Pihak kelurahan juga bekerja sama dengan pihak puskesmas dalam pembinaan kesehatan lansia dan pembinaan kader kesehatannya, serta merencanakan anggaran untuk kesejahteraan kader kesehatan.

3)

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

106

4)

Kader Kesehatan Kader atau anggota kelompok pendukung tetap meningkatkan kemampuan diri dalam melakukan intervensi MaSa INDAH dengan banyak berlatih serta berbagi pengalaman dengan sesama kader.

4.1.5.2 Hasil Evaluasi Masalah Manajemen Keperawatan (2) a. Hasil evaluasi 1) Undangan yang hadir dalam kegiatan sosialisasi sebanyak 70% dari 20 undangan dan 100% peserta yang hadir menyatakan mendukung dalam program lansia MaSa INDAH dan Kartu Tilik Diri (KTD).

2) a) b) Penasihat : Penanggungjawab :
2)
a)
b)
Penasihat
:
Penanggungjawab
:

Ketua

:

Sekretaris

:

Bendahara

:

Anggota

:

Bapak Lurah Ketua RW 11 Neni Susanti Umi Khasanah Nuraeni Dwi Kurniati, Sumini, Rahayuk, Hj. Fatimah, dan Ratnasari.

Sosialisasi bagi masyarakat Kegiatan di RW 11 dihadiri 15 orang (75% dari 20 undangan), 100% peserta yang hadir menyatakan mendukung dalam program lansia INDAH dan Kartu Tilik Diri (KTD). Kegiatan di RW 05 dihadiri 12 orang (60% dari 20 undangan), 100%

peserta yang hadir menyatakan mendukung dalam program lansia INDAH dan Kartu Tilik Diri (KTD). 3) Pembentukan kelompok pendukung program MaSa INDAH di RW 11 dilaksanakan tanggal dan di RW 05 dilaksanakan tanggal 18 Februari 2014 sebanyak 15 orang. 4) Tersusunnya rencana dan komitmen kegiatan di RW 11, dan tersusunnya

Struktur organisasi kelompok pendukung MaSa INDAH Lansia Cegah Depresi yaitu :

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

107

Anggota kelompok sepakat untuk waktu dan rencana serta komitmen kegiatan adalah setiap hari Jumat pada minggu 1 dan 3 setiap bulannya, tempatnya di balai RW dan konsumsi disediakan oleh anggota secara bergantian. Pembuatan SK masih dalam proses di kantor kelurahan. 5) Tersusunnya rencana dan komitmen kegiatan di RW 05, dan tersusunnya struktur organisasi kelompok pendukung MaSa INDAH Lansia Cegah Depresi yaitu :

Penasihat : Penanggungjawab : Ketua : Sekretaris : Bendahara : Anggota : Bapak Lurah Ketua
Penasihat
:
Penanggungjawab
:
Ketua
:
Sekretaris
:
Bendahara
:
Anggota
:
Bapak Lurah
Ketua RW 11
Mariah
Eviana
Hikmawati
Hj. Aminah, Sulastri, Sugiarti, Hj.Asroah.
Anggota kelompok sepakat untuk waktu dan rencana serta komitmen
kegiatan adalah setiap hari Selasa pada minggu 2 dan 4 setiap bulannya,
tempatnya di rumah Ibu H. Aminah dan konsumsi disediakan oleh anggota
secara bergantian. Pembuatan SK masih dalam proses di kantor kelurahan.
6) Pembinaan kelompok pendukung MaSa INDAH Lansia Cegah Depresi
dengan 6 (enam) topik yaitu :
a)
Kesehatan lansia :
i. Terdistribusinya buku kerja KP sebanyak 15 buah (n=15)
ii. Peserta yang hadir sebanyak 12 orang (80% dari anggota kelompok)
iii.
iv.
100% anggota aktif dalam proses tanya jawab pada kegiatan KP
Peningkatan pengetahuan dari hasil pre dan post test sebesar
28,24%.
b)
Deteksi Dini depresi dan cara pencegahannya
i. Peserta yang hadir sebanyak 10 orang (67%)
ii. Peningkatan pengetahuan dari hasil pre dan post test sebesar 25%.

iii. Keterampilan anggota dalam melakukan deteksi dini depresi pada lansia dengan hasil baik sebanyak 60%.

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

108

iv. Anggota berperan serta dalam kunjungan ke rumah lansia dengan depresi untuk identifikasi masalah kesehatan dan faktor risiko pada lansia depresi dengan penggunaan KTD (kartu tilik diri) bagi lansia.

c) Teknik pendidikan kesehatan

i. Peserta yang hadir sebanyak 12 orang (80%)

ii. Peningkatan pengetahuan dari hasil pre dan post test sebesar

34,12%. iii. d) Keterampilan anggota dalam melakukan pendidikan kesehatan dengan hasil baik sebanyak 67% Komunikasi
34,12%.
iii.
d)
Keterampilan anggota dalam melakukan pendidikan kesehatan
dengan hasil baik sebanyak 67%
Komunikasi efektif
i.
ii.
Peserta yang hadir sebanyak 10 orang (67%)
Peningkatan pengetahuan dari hasil pre dan post test sebesar
33,9%.
iii.
Keterampilan anggota dalam melakukan komunikasi yang efektif
dengan hasil baik sebanyak 70%
e)
Manajemen stres
i.
ii.
Peserta yang hadir sebanyak 12 orang (80%)
Peningkatan pengetahuan dari hasil pre dan post test sebesar
35,29%.
iii.
Keterampilan anggota dalam melakukan manajemen stres dengan
hasil baik sebanyak 58,3%
f)
Cara meningkatkan harga diri rendah.
i.
ii.
iii.

Peserta yang hadir sebanyak 13 orang (87%) Peningkatan pengetahuan dari hasil pre dan post test sebesar 25%. Keterampilan anggota dalam meningkatkan harga diri orang lain dengan hasil baik sebanyak 69,25%.

b. Hambatan Hambatan yang dialami dalam pelaksanaan kegiatan yaitu :1) padatnya kegiatan kader, sehingga kesulitan dalam pengaturan jadwal kegiatan; 2) kemampuan kader bervariasi, sehingga beberapa kader dilakukan pembinaan secara bertahap;

Pengaruh intervensi

Universitas Indonesia

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

109

3) Masih kurangnya inisiatif dalam kegiatan; 4) keterbatasan ketersediaan KMS lansia untuk pendokumentasian status kesehatan lansia; 5) keterbatasan alat pemeriksaan kesehatan fisik dan media pendidikan kesehatan bagi lansia; 6) Terbatasnya kesempatan untuk mendapatkan pelatihan bagi kader atau anggota kelompok pendukung.

c. Rencana Tindak Lanjut

1) 2) 3) 4)
1)
2)
3)
4)

Dinas Kesehatan Kota Depok Dinas Kesehatan khususnya penangungjawab program lansia dan program jiwa berkoordinasi dalam perencanaan operasional program kesehatan lansia depresi dengan intervensi MaSa INDAH yaitu memberdayakan masyarakat yang ada dengan pengorganisasian pelaksanaan program bersama tenaga kesehatan di puskesmas. Pihak Puskesmas Cimanggis Pihak Puskesmas menindakklanjuti rencana operasional dinas kesehatan dengan menerima delegasi dari Dinas Kesehatan untuk melakukan pembinaan kesehatan lansia dengan depresi dengan intervensi MaSa INDAH di dalam dan di luar gedung serta melakukan supervisi dan pemantauan pencapaian tujuan dalam program kesehatan lansia. Kelurahan Curug Pihak kelurahan diikutsertakan dalam membantu pelaksanaan pembinaan kesehatan lansia dan menghimbau kepada masyarakat untuk turut serta

memperhatikan kesehatan lansia sebagai bagian dalam pelayanan kepada masyarakat. Kader Kesehatan Kader kesehatan dan atau anggota kelompok pendukung intervensi MaSa INDAH tetap meningkatkan kemampuan dalam memberikan dukungan bagi lansia dengan depresi yaitu melalui intervensi MaSa INDAH baik dalam keluarga sendiri maupun dalam masyarakat.

4.2 Asuhan Keperawatan Komunitas 4.2.1. Pengumpulan Data

Universitas Indonesia

Pengaruh intervensi

, Agnes Dewi Astuti, FIK UI, 2014

110

Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam asuhan keperawatan komunitas

mencakup winshield survey, studi literatur, wawancara, dan angket/kuesioner.

Proses pengumpulan data dilakukan dengan mengidentifikasi jumlah responden

atau lansia dengan penentuan populasi dan sampel. Populasi adalah kelompok

orang yang diteliti secara statistik yang mempunyai karakteristik yang

umum (Hastono, 2007; Polit & Beck, 2012). Populasi dalam asuhan

keperawatan komunitas ini yaitu lanjut usia (usia ≥60 tahun) yang mengalami

Cimanggis Kota Depok. menulis; 4) Keluarga bersedia menjadi sampel dalam pengkajian. Perhitungan jumlah sampel
Cimanggis Kota Depok.
menulis; 4) Keluarga bersedia menjadi sampel dalam pengkajian.
Perhitungan jumlah sampel menggunakan formula sebagai berikut:
n =
n
=((1,65*1,65)*(0,093*0,907))/0,01
n
= 22,9

n: Besar sampel α: Derajat kepercayaan (0,05) : 1,65 2 = 2,7225