Anda di halaman 1dari 6

Keekonomian Kilang (Refinery Economics)

(May 2007)

Benny Lubiantara

Sebagai komoditi, minyak mentah (crude oil) berharga karena dapat diubah menjadi produk
produk hasil kilang (refined products) yang bisa digunakan langsung oleh para konsumer
termasuk kita kita ini. Harga suatu jenis minyak mentah pada dasarnya dipengaruhi oleh jenis
atau komposisi produk hasil kilang yang akan diperoleh. Masing masing produk hasil kilang
mempunyai pasar sendiri sendiri, sementara masing masing jenis crude menghasilkan bermacam
macam jenis produk.

Supaya mempunyai gambaran lebih jauh, kita perlu sedikit memahami bagaimana prinsip kerja
refinery. Pada dasarnya refinery ada 2 jenis, pertama yang sederhana (simple refinery) kadang
disebut juga “distillation”. Prosesnya sederhana sesuai dengan namanya, crude oil (minyak
mentah) dipanaskan sampai 300 - 400 derajat Celcius, kemudian minyak mentah yang sudah
dipanaskan tadi akan terpisah sesuai dengan “boiling point ranges”, mulai dari yang paling atas,
produk dengan “boiling point” paling rendah (Gas, LPG) kemudian diikuti produk lain sesuai
dengan kenaikan boiling point range-nya (lihat gambar berikut).

1
Jenis yang kedua adalah yang kompleks (complex refinery), pada dasarnya model komplek ini
mempunyai “secondary process”, melanjutkan produk yang dihasilkan (upgrade) dari proses
yang simple sebelumnya, dengan demikian ada “conversion unit”. Metodanya bisa bermacam
macam, ada hidrotreating, reforming, cracking (catalityc atau hydrocracking) dan yang paling
canggih, yaitu: coking. Disini kita tidak membahas detail dari prinsip kerja kilang, bagi yang
ingin memahami lebih jauh dapat membaca buku, antara lain: Handbook of Petroleum Refining
Processes by: Robert Meyers.

2
Penggolongan simple dan kompleks dalam perjalanannya tidaklah eksak, distillation ditambah
dengan secondary process, seperti reforming dan hydrotreating, sebagian menggolongkannya
sebagai simple refinery juga. Simple refinery menghasilkan residu dalam jumlah besar,
khususnya bila yang diproses itu jenis minyak berat (heavy crude). Sementara complex refinery,
menghasilkan produk yang lebih ringan (light products) seperti gasoline dalam kuantitas yang
lebih besar.

Supaya ada gambaran lebih jelas, bayangkan minyak mentah katakanlah jenis ringan, masuk ke
refinery (simple dan complex), maka variasi produk hasil kilangnya kira kira seperti gambar
dibawah. Jelas terlihat bahwa complex refinery akan menghasilkan light products yang lebih
besar kuantitasnya.

3
Secara geographi, sebagian besar simple refinery berada di negara berkembang dan negara
negara bekas uni soviet (FSU), hal ini karena permintaan terhadap light products relatif tidak
besar dan residual fuel kebanyakan masih dapat dipakai untuk power generation. Sedangkan
complext refinery kabanyakan berada di negara industri, sementara refinery yang paling
kompleks alias canggih berada di US. Hal ini tidak lain disebabkan permintaan light products
(dalam hal ini gasoline) di US sangat tinggi dibanding negara lain. Pada saat ini beberapa negara
berkembang khususnya negara penghasil minyak (Kuwait, Saudi Arabia, Venezuela), telah dan
sedang melakukan investasi besar besaran untuk pembangunan complex refinery dalam rangka
memberikan nilai tambah terhadap crude mereka.

Untuk memahami aspek keekonomian kilang (refinery economics), seperti diuraikan


sebelumnya, indutri kilang ini cukup “complicated”, hal ini disebabkan antara lain: feedstock-
nya bermacam macam, jenis prosesnya bervariasin, output atau produknya juga bermacam
macam, kualitas produknyapun demikian pula, dan (jangan dilupakan) bahwa industri ini sangat
berorientasi ke pasar (market oriented). Salah satu aspek dalam refinery economics itu adalah

4
istilah yang umum dipakai dan sangat dikenal, yaitu: Refining Margin (RM). RM ini mewakili
monetary gain atau loss yang diakibatkan pilihan untuk memproses marginal atau incremental
barrel dari minyak mentah yang dipilih oleh kilang tersebut untuk di proses. Definisi dari
International Energy Agency (IEA) aslinya sebagai berikut: RM represent the monetary gain
or loss associated with processing a marginal or incremental barrel of crude oil that a
refiner might choose to process.

Maksudnya kira kira begini, misalnya untuk kilang di Singapore, RM untuk minyak mentah yang
akan di proses beda beda, apakah itu minyak mentah: Minas, Tapis atau Dubai. Minas misalnya
RM-nya lebih tinggi dibanding Tapis dan Dubai tersebut.

Untuk memahami bagaimana menghitung RM, lihat gambar berikut:

Sebelum menghitung RM, terlebih dahulu dihitung dulu apa yang disebut dengan Gross Product
Worth (GPW), GPW ini tidak lain adalah rata rata tertimbang dari produk produk yang

5
dihasilkan dari 1 barrel minyak mentah dikalikan dengan products spot price dari masing masing
produk tersebut.

GPW = Yield(%) x Products Price Spot Market ($/bbl)

Netback = GPW – Refining Cost – Transportation Cost

Refining Margin = Netback – Crude Oil Price

RM merupakan indikator yang berguna bagi kilang untuk menaikkan atau menurunkan tingkat
produksinya, atau dengan kata lain merupakan indikasi insentif bagi kilang untuk memproses
lebih banyak crude (tertentu) menjadi produk, selain itu juga merupakan marketing tool bagi
yang punya kilang dan pemilik crude.