Anda di halaman 1dari 9

EVALUASI GARIS SEMPADAN PANTAI UNTUK

MANAJEMEN PANTAI DELI SERDANG


DAN SERDANG BEDAGAI

Ahmad Perwira Mulia Tarigan*), Ahmad Bima Nusa **)


1)
Staf pengajar Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil USU
2)
Megister Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik Sipil USU

Abstrak
Wilayah pantai Deli Serdang dan Serdang Bedagai menyimpan potensi sumber kakayaan yang besar sekaligus
potensi bahaya (coastal hazard). Studi garis sempadan pantai bertujuan untuk melindungi pantai dari serangan
gelombang badai dan tekanan laut yang mengakibatkan rusaknya lahan pantai dan infrastuktur pantai yang ada
di sekitarnya. Sempadan pantai untuk menetapkan batas jarak aman dari garis pantai yang dalam hal ini diambil
dari bibir pantai, karena mudah mengenalinya di lapangan. Dari hasil hitungan dengan menggunakan data yang
dapat diestimasi untuk 3 lokasi pantai di 3 kecamatan yang berbeda di Deli Serdang dan Serdang Bedagai,
diperoleh indikasi bahwa sempadan pantai sepatutnya memiliki lebar dengan rentang 197,5 m sampai dengan
275,8 m. Berdasarkan analisa sistem informasi geografi (SIG) terdapat 2 kecamatan yang dapat dianggap paling
berpotensi mendapat ancaman erosi (yang merusak sempadan pantai). Dua kecamatan tersebut adalah
Kecamatan Percut Sei Tuan dan Kecamatan Perbaungan. Perlu dicatat bahwa analisa SIG didasarkan pada
kriteria panjang garis pantai, kepadatan penduduk, luas hutan dan luas tambak. Melihat kondisi nyata yang ada di
lapangan, tidaklah mudah melaksanakan sempadan pantai dengan lebar lebih dari 200 m. Untuk itu Keppres No.
32 tahun 1990 yang menyatakan lebar sempadan pantai adalah 100 m dapat dijadikan lebar minimal sempadan
pantai. Sementara itu manjemen zona pantai sepatutnya dilakukan secara terpadu melibatkan berbagai pihak
seperti pemerintah, masyarakat pesisir dan akademisi. Dengan demikian kesadaran dan partisipasi dari berbagai
pemangku kepentingan dapat sinergi dalam program untuk mengindahkan sempadan pantai dan mengurangi
faktor-faktor yang merusaknya. Bila hal ini terwujud, maka sempadan pantai dapat diperluas ke arah zona
penyangga (buffer zone) yang menurut perhitungan memiliki lebar 325 m dari bibir pantai.

Kata-kata kunci: sempadan pantai, SIG

1. Pendahuluan fungsinya sebagai habitat maupun sebagai benteng


Indonesia merupakan negara kepulauan perlindungan infrastruktur yang ada di darat
terbesar di dunia dan memiliki panjang pantai Secara garis besar, permasalahan fisik di
mencapai + 81.000 km. Menurut data terakhir kawasan pantai, termasuk di kawasan pantai Deli
jumlah pulau di Indonesia mencapai 17.508 buah Serdang dan Serdang Bedagai, adalah sebagai
(Dahuri, dkk., 2004). Panjang garis pantai Sumatera berikut:
Utara sendiri mencapai 1.308 km dan mencakup 6 1. Permasalahan erosi dan sedimentasi. Erosi
kabupaten/kota untuk wilayah pesisir timur pantai yang merusak kawasan pemukiman
Sumatera Utara dan 5 kabupaten/kota untuk dan prasarana kota karena mundurnya garis
wilayah pesisir barat Sumatera Utara. Garis dan pantai terjadi di banyak tempat. Selain itu
kawasan pantai yang panjang dan luas ini pembelokan maupun pendangkalan muara
menyimpan potensi kekayaan yang besar. Potensi sungai yang dapat mengakibatkan
itu dapat dibagi menjadi potensi hayati dan non tersumbatnya aliran sungai sering
hayati. Potensi hayati misalnya perikanan, hutan menimbulkan banjir di daerah hilir.
mangrove, dan terumbu karang, sedangkan potensi 2. Permasalahan pencemaran dan perusakan
nonhayati misalnya mineral dan bahan tambang lingkungan alam (habitat). Kerusakan
serta pariwisata. terumbu karang sering disebabkan oleh
Aktivitas manusia dalam memanfaatkan penggunaan racun potassium dan bom dalam
sumber kekayaan di kawasan pantai sering tumpang penangkapan ikan. Penambangan pasir
tindih, sehingga tidak jarang kesehatan ekosistem pantai untuk bahan bangunan berpotensi
pantai menjadi turun. Pantai yang menjadi daerah memacu kerusakan ekosistem kawasan
pertemuan antara laut dan darat menjadi terancam pesisir. Pembuangan limbah domestik
(rumah-tangga) dan sisa olahan ikan yang
langsung dibuang ke laut dapat Konstruksi rumah, hotel dan berbagai infrastuktur
menimbulkan pencemaran dan menurunnya haruslah mampu bertahan bila bencana tersebut
kualitas perairan (laut). datang. Salah satu tujuan dari manajemen zona
3. Permasalahan pemanfaatan lahan yang tidak pantai adalah untuk memperkecil resiko dan
tepat dan tumpang tindih. Konflik pemakaian mengurangi kerugian bila bencana datang
lahan untuk parawisata, pertambakan dan menghantam pantai. Hal ini sangat penting
konservasi sering terjadi di dalam satu terutama di kawasan yang memang rawan bencana.
kawasan pantai. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan
Sebagai konsekuensi permasalahan di atas, hak tentang proses pantai dalam dekade belakangan
masyarakat (publik) untuk dapat mengakses dan memberikan manfaat yang besar bagi pengelolaan
menikmati keindahan pantai menjadi tidak pantai. Termasuk di dalamnya adalah pemahaman
terlindungi. Sedangkan infrastruktur yang terletak kuantitatif tentang prediksi gelombang badai,
tidak jauh dari bibir pantai tidak terjamin fluktuasi elevasi muka air, dan proses perpindahan
keberlangsungannya. Karena itu pantai perlu sediment secara cross shore dan longshore. Semua
mendapat pengelolaan (manajemen) yang baik, pemahaman di atas dapat diintegrasi dalam suatu
dengan salah satunya membuat zona-zona yang model komputer yang mampu meramalkan
diatur dan dipelihara sehingga ekosistem dan hak perubahan morpologi pantai. Dengan demikian
publik untuk menikmati pantai dan memanfaatkan pemakai model dapat memperkirakan besarnya
infrastrukturnya dapat terjamin. erosi akibat dari peristiwa badai yang besar.
Salah satu kebijakan yang harus diambil dalam Salah satu manfaat dalam pemodelan seperti
pemanfaatan kawasan pantai adalah dengan ini adalah untuk memperhitungkan lebarnya garis
membuat sempadan pantai (coastal setback) yaitu sempadan. Ada tujuh pertimbangan yang harus
menentukan zona aman antara bangunan dipikirkan dalam pemodelan garis sempadan pantai
(infrastruktur) dan garis pantai yang selalu berubah. (Purpura,1974):
Zona ini ditetapkan untuk memberikan ruang 1. Pergerakan garis pantai yang dikaitan
kepada pantai untuk bergerak dinamik secara dengan sejarah badai dan angin ribut.
alamiah. 2. Gelombang maksimum yang mungkin
Penentuan sempadan pantai (coastal setback) terjadi.
adalah untuk melindungi zona yang berbatasan 3. Kontur kedalaman di daerah dekat pantai
dengan air yang merupakan tindakan mitigasi untuk dan jauh pantai (offshore).
mengurangi kerugian jangka pendek dan jangka 4. Daerah kawasan hijau (vegetasi/green belt).
panjang. Oleh karenanya penentuan sempadan 5. Bukit berpasir (dune) dan bibir pantai
pantai harus mempertimbangkan jangka waktu (berm).
infrastruktur yang akan dibangun di kawasan pantai 6. Keadaan existing pembangunan daerah
Lebar sempadan pantai pada umumnya pantai.
tergantung pada morpologi dan kondisi perairan 7. Kecenderungan akan terjadinya erosi.
pantai tersebut. Kebanyakan penentuan lebar Sementara itu, menurut Cambers (1998),
sempadan pantai yang dipakai adalah untuk pengembangan sempadan pantai mempunyai
mengusahakan keutuhan dan fungsi alami pantai beberapa fungsi sebagai berikut:
dengan mempertahankan sistem bukit berpasir 1. Sempadan pantai berfungsi sebagai zona
(dune system). Keutuhan dan fungsi pantai di sini penyangga diantara lautan dan infrastruktur.
terkait dengan tujuan dari manajemen garis pantai Pada zona penyangga ini, pantai mungkin
yaitu (Dean dan Dalrymple, 2002): dikembangkan secara alami tanpa
1. Pengurangan kerugian secara struktur dan menggunakan struktur (beton ataupun baja)
ekonomi akibat badai ekstrim ataupun yang dapat membahayakan sistem pantai.
bahaya jangka panjang. 2. Sempadan pantai mengurangi kerusakan lahan
2. Melindungi pantai untuk dapat dinikmati oleh pantai dari gelombang yang tinggi.
masyarakat sekarang dan generasi yang akan 3. Sempadan pantai memberikan kebebasan
datang. kepada publik untuk menikmati (rekreasi) di
3. Melindungi satwa yang hidup di sekitar pantai pantai.
dan habitatnya.
2.1 Faktor-Faktor Lebar Sempadan Pantai
2. Sempadan Pantai (Setback) Dua faktor utama yang harus dipertimbangkan
Kita dihadapkan dengan banyak bencana alam. dalam penetapan garis sempadan pantai adalah
Zona pantai mendapat kemungkinan ancaman stabilitas garis pantai dan topografi yang
bencana badai, longsor yang disebabkan erosi, dan berhubungan dengan gelombang badai. Dari ke dua
tsunami yang dibangkitkan oleh gempa bumi. faktor tersebut yang terpenting adalah besar
perubahan garis pantai dan kecenderungan erosinya
yang membutuhkan data sejarah dalam kurun D = faktor stabilitas topografi dune
waktu yang cukup lama. NR = angka rata-rata erosi garis pantai
Di bawah ini diterangkan beberapa faktor (meter/tahun)
penting dalam menginvestigasi garis sempadan di Tp = waktu perencanaan untuk analisis
Florida, (Purpura, 1974): sempadan
1. Profil pantai: Ukuran dan bentuk pantai serta Xs = kemunduran garis pantai akibat
dune sangat penting dalam memprediksi kenaikan muka air laut
pengaruh gelombang badai. FS = angka keamanan dengan interval 1,0
2. Data historis: Idealnya, data perubahan posisi sampai dengan 2,0
garis pantai per tahun selama 100 tahun akan
sangat membantu untuk melihat Gambar 1 merupakan sebuah model yang
kecenderungan pergerakan garis pantai. disajikan oleh Komar et al., (1999) untuk pantai
Namun demikian, sering sekali data seperti Oregon. Untuk menghitung DEmax dengan rumus
ini tidak tersedia. Meskipun ada, biasanya sebagai berikut:
hanya untuk selang beberapa tahun saja.
3. Pasang surut: Data pasang surut seperti jarak
vertical dan horizontal pasang surut, MHWL
DE max
WL Hj BL
(mean high water lavel), dan sebagainya yang tan
dapat diperoleh dari BMG (Badan
Meteorologi Geofisika). Dari data ini dapat (2)
dipelajari sejauh mana air dapat masuk ke
darat pada saat pasang tertinggi dan daya dimana WL = tinggi muka air maksimum, Hj =
rusaknya. batas kaki dune, BL = batas erosi yang terjadi
4. Data angin: Data arah, kecepatan dan waktu dan tan = slope profil.
terjadinya angin biasanya dikeluarkan oleh Secara prinsip, model ini sama dengan metode
badan meteorologi yang bertanggung jawab Bruun yang merupakan proses erosi jangka panjang
atas pengelolaan stasiun pengukur angin. akibat kenaikan permukaan laut.
5. Data gelombang: Bila data gelombang tidak
pernah diukur langsung di lapangan, maka
besar dan arah gelombang dapat diprediksi 2.3 Prinsip Lebar Sempadan
berdasarkan data angin di atas. Parameter Cambers (1998) menghitung sempadan pantai
gelombang yang diperoleh kemudian dipakai untuk Pantai Barabuda di Pulau Karibia dengan
untuk memprediksi daya rusak dalam menggunakan rumus :
mengerosi pantai.

2.2 Model Geometrik Erosi Foredune Lsp = ( a + b + c ) d (3)


Dalam tulisan ini, formulasi dasar untuk dimana
menghitung lebar sempadan pada sebuah area bukit Lsp = lebar sempadan
berpasir (foredune) yang menjaga pantai adalah a = proyeksi posisi garis pantai pada 30
sama dengan yang dikembangkan Jeremy Gibb tahun mendatang
yang diaplikasikan untuk pantai di New Zealand b = proyeksi perubahan garis pantai akibat
(Komar et al., 1999). Gibb mendefinisikan sebuah badai besar
zona bencana pantai (coastal hazard zone) adalah c = prediksi kemunduran garis pantai akibat
sebuah kawasan bahaya dimana bencana yang kenaikan muka air selama 30 tahun
berasal dari laut mungkin terjadi. Menurut Gibb, kedepan
perhitungan dari coastal hazard zone (CHZ) untuk d = faktor lain yang mungkin mempengaruhi
area foredune adalah sebagai berikut:
Dalam menganalisa tingkat kemunduran garis
CHZ = [(DEmax+D)+(NRxTp)+(XsxTp)]xFS (1) pantai dapat digunakan 2 buah peta, yang mana
dimana kedua peta tersebut menjelaskan posisi garis pantai
pada saat tahun pembuatan peta. Peta yang
CHZ = jarak horizontal sempadan ke arah darat digunakan biasanya peta kondisi pantai pada masa
dari sebuah titik referensi, umumnya yang lalu dan peta pada saat diadakannya
diambil dari dasar terdepan dune penelitian. Di samping itu perlu diadakan survei
DEmax = erosi maksimum dune yang mungkin lapangan untuk mencocokkan data yang ada pada
terjadi peta.
Gambar 1: Model Geometrik Erosi Foredune (Komar et al., 1999

Pantai mengalami proses erosi paling sering,


disebabkan oleh badai. Data tentang mundurnya garis dimana
pantai akibat suatu badai dapat dievaluasi dengan z = tingkat kenaikan muka air laut per tahun
melakukan peninjauan lapangan. Di lapangan, bekas- (m/tahun)
bekas erosi dapat diobservasi dengan melihat yo = jarak dari garis pantai ke titik kedalaman
misalnya, bekas mundurnya bukit berpasir atau bekas terakhir ho di laut (m)
longsornya sedimen pembentuk pantai. Wawancara B = tinggi bibir pantai
dengan para penduduk (nelayan) setempat mungkin tan = kemiringan (slope) profil pantai
dapat membantu dalam menunjukkan jejak-jejak erosi
akibat badai di laut. Nilai b di Persamaan 3 diperoleh dengan dasar
Persamaan 4 dan di tuliskan di sini sebagai berikut.
Xs
B
b
tan
z B
(5)

Volume erosi dimana B = tinggi berm dan tan = slope profil


pantai = Yb/B, dengan Yb = jarak berm.
Volume tersimpan h0
2.4 Zona Erosi Puluh Tahunan
Konsep yang ditunjukkan oleh Gambar 3
menggambarkan konsep zona sempadan untuk
z periode 10, 20 dan 30 tahunan yang digunakan di
North Carolina dan Florida (Dean dan Dalryumple,
y0
1998). Setiap zona mempunyai peraturan yang
Gambar 2: Skematik Bruun berbeda untuk menentukan jenis bangunan maupun
infrastruktur yang dibangun di atasnya. Sampai batas
zona 10 tahun (E-10) tidak diijinkan sama sekali
Untuk menghitung nilai c pada Persamaan 3 untuk membuat struktur bangunan sebab zona ini
dapat dipakai rumus Bruun. Gambar 2 menunjukkan merupakan area yang sangat beresiko terhadap
agar kita lebih mudah untuk memahami rumus yang serangan badai.
dipakai untuk menghitung nilai c pada Persamaan 4. Untuk zona 30 tahun (E-10 sampai dengan E-
Adapun rumus yang dipakai untuk menghitung laju 30), pembangunan sudah dapat diijinkan, tetapi hanya
erosi adalah : untuk rumah tinggal sederhana yang dengan mudah
dapat dipindahkan. Sedangkan untuk pembangunan
z yo z fasilitas besar seperti hotel ataupun gedung bertingkat
Xs
h o B tan lokasinya dapat diletakkan di zona lebih besar dari
(4) periode 60 tahunan (E-60).
apabila pesawat di arahkan pada reflektor tersebut.
Gambar 4 sampai dengan Gambar 6 menunjukkan
profil pantai hasil pengukuran di lapangan.

Tinggi di atas datum


0.5
Tinggi muka air pasang maksimum
0

daerah
-0.5
vegetasi berm

-1

-1.5

-2
-60 -40 -20 0 20 40 60 80 100
Jarak dari bibir pantai (m)

Gambar 4: Profil Pantai Kecamatan Pantai


Pantai Labu

Gambar 3: Zona Erosi Puluh Tahun Pada pantai jenis berlumpur (Gambar 4) tinggi
(National Research Council, 1990) berm adalah 1,5 meter. Pada jarak 95 m dari bibir
pantai, pantai sudah terlihat landai (mud flat). Pada
pantai ini vegetasi berada mulai dari bibir pantai.
Secara keseluruhan bila dilihat dari bentuk profilnya,
2.5 Penambahan Suplai Pasir (Sand Nourishment)
pantai ini cukup landai terutama jika dibandingkan
Erosi pantai terjadi apabila di suatu pantai yang
dengan profil pantai tipe berpasir.
ditinjau terdapat kekurangan suplai pasir. Stabilisasi
Untuk pantai berpasir dapat dilihat pada Gambar
pantai dapat dilakukan dengan penambahan suplai
5 dan 6 dimana tinggi berm 3 meter. Jika
pasir pantai pada daerah tersebut. Sumber dari suplai
dibandingkan dengan Gambar 4, bentuk profil pantai
pasir biasanya diambil dari tumpukan pasir yang
berpasir pada kedua gambar terakhir lebih curam bila
tersedia di laut lepas (offshore). Apabila pantai
dibandingkan dengan profil pantai jenis berlumpur.
mengalami erosi terus menerus, maka penambahan
pasir tersebut perlu dilakukan secara berkala, dengan
laju dan jumlah yang sama dengan atau lebih dari laju
dan jumlah kehilangan pasir yang disebabkan oleh
erosi. Penambahan pasir tersebut bertujuan
memelihara garis pantai pada posisi yang ditetapkan,
misalnya mengembalikan posisi pantai ke posisi
sebelum terjadinya erosi.

3. Profil Pantai
Dalam tulisan ini, profil pantai diukur di
lapangan dengan menggunakan alat yaitu :
1. Total Station merk Sokkia Type SET 4 C
2. Reflektor merk Sokkia Type APS
Alat tersebut di atas berfungsi sama dengan theodolit,
tetapi yang membedakannya adalah total station telah
memiliki perangkat komputer pada pesawatnya. Data Gambar 5: Profil Pantai Kecamatan
pengukuran dapat dilakukan secara manual ataupun Pantai Cermin
langsung tersimpan pada memorinya alat tersebut.
Reflektor berfungsi memantulkan singal yang dikirim
oleh total station. Jarak maupun tinggi relatif
terhadap total station dapat langsung diketahui
jarak 30 m dari bibir pantai, tinggi muka air
maksimum sudah mencapai 3 m.
Bila dikaitkan dengan kecepatan angin, tinggi
gelombang dan pasang surut yang hampir sama, maka
pesisir Kecamatan Pantai Cermin relatif lebih rentan
terhadap erosi dibandingkan dengan Kecamatan
Pantai Labu. Hal ini disebabkan karena pesisir
Kecamatan Pantai Cermin tidak mempunyai sistem
pertahanan pantai alami.
Daerah vegetasi baru ditemukan di Pantai
Cermin pada jarak 40 m dari bibir pantai menuju ke
daratan. Oleh karenanya, perhitungan garis sempadan
pantai pada pantai cermin dihitung mulai dari batas
Gambar 6: Profil Pantai Kecamatan daerah vegetasi.
Pantai Cermin
4.2 Perhitungan Sempadan Pantai
Persamaan yang digunakan dalam penentuan
4. Pembahasan lebar sempadan pantai pada tesis ini di dasarkan pada
Untuk mengetahui erosi yang terjadi di satu Persamaan 1. Rumus tersebut dapat dimodifikasi
lokasi garis pantai, tulisan ini menggunakan peta menjadi:
topografi yang dikeluarkan oleh BAKOSURTANAL
pada tahun 1977 dan peta topografi yang berasal dari Lsp = ( a + b + c + d) FS (6)
Belanda pada tahun 1915 dengan masing-masing
peta berskala 1: 50.000. dimana
Untuk dapat melihat maju ataupun mundurnya Lsp = Coastal Hazard Zone (CHZ)
garis pantai, peta - peta tersebut ditimpa satu dengan a = proyeksi posisi garis pantai pada n tahun
yang lain seperti dalam bentuk layer dengan mendatang = (NR x Tp)
mencocokkan titik acuan pada gambar peta sehingga b = proyeksi perubahan garis pantai akibat
bersatu. Titik acuan yang diambil yaitu 9900 BT - badai besar = (DEmax)
340 LU dan 9900 BT - 338 LU, serta sebuah c = prediksi kemunduran garis pantai akibat
titik triangulasi yang terdapat pada Kecamatan Pantai kenaikan muka air selama Tp tahun
Cermin. kedepan = (Xs x Tp)
Mengingat cakupan daerah studi yang luas, d = faktor lain yang mungkin mempengaruhi.
maka dalam analisa dilakukan simplikasi, khususnya FS = angka keamanan dengan interval 1,0
dalam karakteristik tipe pantai. Dalam hal ini, sesuai sampai dengan 2,0
dengan kondisi yang ada di lapangan, hanya ada 2 Perlu dicatat bahwa NR = angka rata-rata erosi per
jenis pantai, yaitu pantai berlumpur dan pantai tahun dan Xs = angka kemunduran kemunduran garis
berpasir. pantai akibat kenaikan muka air laut per tahun.
Dalam perhitungan lebar sempadan, Persamaan
4.1 Analisa Profil Pantai yang digunakan untuk semua Kecamatan adalah
Kecamatan Pantai Labu, merupakan tipe profil sama. Tetapi perlu diingat bahwa jenis pantai di
pantai yang berlumpur (Gambar 4). Untuk pantai ini Labuhan Deli dan Pantai Labu berbeda yaitu
pada jarak 100 m dari bibir pantai, tinggi muka air berlumpur. Kondisi pantainya tidak jauh berbeda,
maksimum adalah 1,5 m. Meskipun profil pantainya dimana di sepanjang garis pantai masih ditumbuhi
tergolong landai, Pantai Labu relatif mempunyai oleh tanaman mangrove. Namun demikian karena
sistem pertahanan pantai, seperti tanaman mangrove profil pantainya yang landai, maka nilai prediksi
dan tumbuhan semak lainnya. Daerah vegetasi sudah kemunduran garis pantai akibat serangan badai
ditemukan di sepanjang bibir pantai, sehingga menjadi lebih besar.
perhitungan sempadan sudah dapat dilakukan mulai Nilai a diperoleh dengan menggunakan peta
dari bibir pantai menuju ke darat. sehingga kemunduran garis pantai masing-masing
Gambar 5 dan Gambar 6 adalah tipe profil pantai Kecamatan diestimasikan rata-rata 2,5 meter/tahun
berpasir pada Kecamatan Pantai Cermin. Pada pantai (Gambar 7).
ini profil pantainya berbeda dengan pantai yang
berlumpur. Bila pada pantai tipe berlumpur kondisi
pantainya relatif landai, pada pantai berpasir dalam
a=0.005 m
Garis pantai
tahun 1915
h0 = 4 m
Rata-rata kemunduran
2,5 m/tahun h0 = 10 m

Garis pantai
tahun 1977
y0 = 4600 m (Kec. Labuhan Deli)

y0 = 2400 m (Kec. Pantai Cermin)

y0 = 4400 m (Kec. Teluk Mengkudu

Gambar 7: Kemunduran Garis Pantai Rata-


Rata/Tahun Kecamatan Deli Serdang dan Gambar 9: Kemunduran Garis Pantai Akibat
Serdang Bedagai Kenaikan Muka Air Laut
(proses jangka panjang)

Nilai b di diperoleh berdasarkan Persamaan 5.


Angka masing-masing pantai dapat dilihat di Gambar 4.3 Analisa SIG pada Pantai Kecamatan Deli
8. Serdang dan Serdang Bedagai
Dengan analisa SIG kita dapat mengetahui
Tinggi muka air pasang maksimum kecamatan mana saja yang perlu mendapatkan
perhatian yang serius akibat erosi. Ada beberapa
B = 3,0 m B = 3,0 m faktor penyebabnya, misalnya antara lain luas hutan,
luas tambak, pemukiman (parawisata), panjang garis
pantai.
Yb =33 m Gambar 10 merupakan hasil analisa kepadatan
Yb = 28 m penduduk. Analisa ini didasarkan pada asumsi bahwa
Yb = 100 m semakin padat penduduk maka lahan sebagai tempat
Kecamatan Pantai Labu tinggal semakin dibutuhkan. Pada gilirannya hal ini
Kecamatan Pantai Cermin menyebabkan pantai tertekan dan mengakibatkan
Kecamatan Pantai Cermin erosi.
Gambar 8: Kemunduran Garis Pantai Akibat Dari tampilan, dapat dilihat bahwa Kecamatan
Badai (proses jangka pendek) Percut Sei Tuan mempunyai warna yang paling pekat
diantara beberapa Kecamatan lain. Artinya adalah
Nilai c (Gambar 9) diperoleh dengan Kecamatan Percut Sei Tuan adalah yang paling padat
memasukkan prediksi kenaikan muka air laut dibagi penduduknya.
(a) dengan jarak (y0) pada saat gelombang mulai
pecah (dengan menggunakan peta batimetri)
dibagikan dengan tinggi (h0) permukaan permukaan
laut (untuk pantai berpasir tingginya 4 m, sedangkan
pantai berlumpur 10 m). Dengan menggunakan nilai-
nilai tersebut, maka hasil dapat ditampilkan pada
tabel 1.

Tabel 5.1: Rekapitulasi Hasil Perhitungan Garis


Sempadan untuk Seluruh Pantai

Jenis a b c d Lsp
Kecamatan Fs
Pantai (m) (m) (m) (m) (m)
Pantai berpasir
75 33,3 88,2 - 1 196,5
Cermin
Teluk berpasir
75 33,3 166,5 - 1 274,8
Mengkudu
Labuhan berlumpur
75 100 68.1 - 1 243,1 Gambar 10: Analisa Kepadatan Penduduk
Deli
Beberapa kriteria dapat ditentukan untuk
menentukan potensi terjadinya erosi. Kriteria tersebut
misalnya adalah luas areal hutan 0 ha, tambak 100 1. Dari hasil perhitungan lebar sempadan
ha, kepadatan penduduk 500 jiwa/km 2, serta pantai dengan menggunakan teori dan
panjang garis pantai 8 km. Seluruh parameter persamaan yang ada, dapat dilihat bahwa
tersebut dimasukkan ke dalam analisa SIG, maka lebar sempadan pada umumnya lebih dari
dapat diketahui Kecamatan yang sangat berpotensi 200 m. Namun demikian tidak dapat
mengalami erosi dan perlu mendapatkan perhatian dipastikan angka yang harus dipenuhi untuk
khusus dari pemerintah setempat. suatu pantai sebab beberapa faktor yang
Gambar 11 menggambarkan kecamatan yang mempengaruhi kondisi pantai itu datanya
berpotensi mengalami erosi setelah dilakukan analisa tidak dapat diperoleh dengan pasti. Tetapi,
SIG. Dari 9 kecamatan pesisir di Kabupaten Deli bila kita merujuk kepada ketentuan Keppres
Serdang dan Serdang Bedagai, ada 2 kecamatan yang No. 32 tahun 1990 yang menyatakan bahwa
seharusnya paling serius untuk ditangani oleh lebar sempadan pantai 100 m, maka Keppres
pemerintah setempat, dengan 2 hasil yang tertinggi tersebut terasa sangat kurang dan perlu dikaji
yang dikeluarkan oleh Gambar 12. ulang.. Dengan kata lain, perlu perhitungan
dan penataan kawasan sempadan pantai
secara lebih bijak dan serius.

2. Sebagai pedoman umum, maka perlu


disosialisasikan suatu zona larangan (coastal
hazard zone) berdasarkan perhitungan
dimana bentuk dan kondisi fisik pantai
minimal 196 meter, 275 meter dan 243 meter
dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Bila
dirata-ratakan kondisi fisik pantai minimal
238 meter dari titik pasang tertinggi ke arah
darat. Sedangkan untuk zona penyangga
yang tertuang pada Keppres no. 32 tahun
1990 pasal 27 menyebutkan bahwa kawasan
pantai berhutan bakau adalah minimal 130
kali nilai rata-rata perbedaan air pasang
Gambar 11: Hasil Analisa Kecamatan yang
tertinggi dan terendah tahunan, sehingga
Berpotensi Mengalami Erosi pada Pantai
menghasilkan angka 325 m. Pasal 27 ini
dapat dianggap sebagai zona penyangga.
Gambar 12 menjelaskan bahwa untuk
Kecamatan Perbaungan garis pantainya adalah 2,38
3. Sebab-sebab tidak terpeliharanya kawasan
km, luas areal tambak yang ada dipesisir adalah 644,9
sempadan pantai di Deli Serdang dan
ha dan kepadatan penduduknya adalah 538 jiwa/km2.
Serdang Bedagai lebih banyak dikarenakan
Sedangkan Kecamatan Percut Sei Tuan memiliki
faktor anthropogenik (ulah manusia). Dalam
panjang garis pantai 7,41 km, luas areal pertambakan
hal ini aktifitas yang paling dominan adalah:
883 ha dan kepadatan penduduknya adalah 1560
a. Penggunaan lahan untuk penambakan
jiwa/km2
udang.
b. Penggunaan lahan untuk wisata bahari.
7.41 883
c. Penebangan tanaman mangrove sebagai
2.38 644.9 komoditi.
d. Tradisi nelayan membangun pemukiman
Panjang garis Luas
pantai (km) Tambak (ha)
Perbaungan di atas garis pantai.
Percut Sei
Tuan 4. Manajemen pantai yang cukup penting untuk
1560

538
Kepadatan
segera diperbaiki antara lain menyangkut
Penduduk (jiwa/km) jumlah penduduk, luas area pertambakan,
dan pemukiman. Untuk mengatasi
permasalahan tersebut perlu sosialisasi,
Gambar 12: Grafik Hasil Analisa Kecamatan edukasi dan penuangan dalam peraturan
Perbaungan dan Percut Sei Tuan daerah sehingga memiliki payung hukum
5. Kesimpulan yang jelas.
Daftar Pustaka
Cambers, G. (1998) Planning For Coastline Change. Sugiharto, B. (1998) Perkembangan Sistem Informasi
Universty of Puerto Rico Sea Grant College Geografis. Journal Fakultas Geografi, Universitas
Program . Muhammadiyah Surakarta.
Charter dan Irma (2003) Desain dan Aplikasi GIS. Subandono, D. (2005) Tsunami. Buku Ilmiah Populer.
Elex Media Komputindo , Jakarta. Bogor.
Charter, D. (2004) MapInfo Professional. Tarigan, A. P. M. (2002) Modeling of Shoreline
Informatika, Bandung. Evolution at an Open Mud Coast. Ph.D. Thesis,
Dahuri, R., Rais, J., Ginting, S. P. dan Sitepu, M. J Universiti Teknologi Malaysia, Johor.
(1996) Pengelolaan Sumber Daya Wilayah Turban, Efraim dan Aronson, J. E. (1998) Decision
Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. PT. Pradnya Support Systems And Intellegent System.
Paramita, Jakarta. Prentice Hall, New Jersey.
Dean, R. G. dan Dalrymple, R. A. (2002) Coastal Triatmodjo, B. (1999) Teknik Pantai. Beta Offset,
Processes with Engineering Applications. Yokyakarta.
Cambridge University Press, Australia. Wolfe, R. S., Cooper, G. dan Eshaghi, K. (1977)
Dinas Hidro-Oseonografi (2003) Daftar Pasang Surut, Guidelines For Beachfront Construction With
Jakarta. Special Referent To The Coastal Construction
Djoko Setiono (2001) Kebijakan Pembangunan Setback Line (Report). Universty of Florida Sea
Wilayah Pesisir Terpadu (Paper Kelompok III Grant Program
Mata Kuliah Falsafah Sain, IPB).
Hwang, D. J. (2005) Hawaii Coastal Hazard
Mitigation Guidebook. University of Hawaii Sea
Grant College , State of Hawaii
Komar, P. D., McDougal, G. W., Marra, J. J. dan
Ruggiero, P. (1999) The Rational Analysis of
Setback Distance: Applications to the Oregon
Coast. Journal of Shore & Beach Vol 69(1) 41-49
Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
10/MEN/2002. Pedoman Umum Perencanaan
Pengelolaan Pesisr Terpadu. Jakarta.
Keputusan Presiden Indonesia Nomor 32 Tahun 1990.
Pengelolaan Kawasan Lindung. Jakarta.
Laudon, K. C., dan Laudon, J. P. (2000) Management
Information Systems. Prentice Hall, New Jersey.
Manurung, H. (2002) Perubahan Penggunaan Lahan
Kawasan Pesisir dan Pengaruhnya terhadap
Sosial Ekonomi Masyarakat Di Kabupaten Deli
Serdang. Tesis S2 Program Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, Medan.
Purpura, J. A. dan Sensabaugh, W. M. (1914) Coastal
Construction Setback Line (Paper), University of
Florida, USA
Prahasta, E. (2002) Kosep-Konsep Dasar Sistem
Informasi Geografis. Informatika, Bandung.
Pratikno, A. W. (1997) Perencanaan Fasilitas Pantai
dan Laut. BPFE, Yokyakarta.
PKSPL-IPB (2002) Penyusunan Master Plan
(Penyusunan Zonasi Pengelolaan Sumberdaya
Pesisir dan Laut Kabupaten Asahan, Deli
Serdang dan Langkat). Draf Laporan Akhir
Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah Sumatera Utara dan Pusat Kajian
Sumberdaya Pesisir dan Lautan Institut Pertanian
Bogor.
Shore Protection Manual (1984). Coastal Engineering
Research Center, Washington D.C.