Anda di halaman 1dari 26

1

PENDAHULUAN

Vitamin adalah sekelompok senyawa organik amina berbobot molekul kecil yang
memiliki fungsi vital dalam metabolisme setiap organisme, yang tidak dapat dihasilkan oleh
tubuh. Diketahui bahwa banyak vitamin yang sama sekali tidak memiliki atom N.
Dipandang dari sisi enzimologi (ilmu tentang enzim), vitamin adalah kofaktor dalam reaksi
kimia yang dikatalisasi oleh enzim. Pada dasarnya, senyawa vitamin ini digunakan ternak
untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.

Vitamin adalah senyawa organik yang secara keseluruhan dibedakan struktur dan
fungsinya dengan protein, lemak, dan karbohidrat. Vitamin dibutuhkan dalam jumlah
sedikit, namun sangat penting dalam berbagai fungsi tubuh ternak. Tanpa vitamin, ternak
tidak dapat tumbuh dan bereproduksi, kerja, memproduksi hasil ternak, sehingga vitamin
harus menjadi bagian dari pakan atau ransum. Maka dari itu, kami akan membahas lebih
lanjut mengenai penggolongan vitamin dan penentuan vitamin dalam bahan pakan agar
vitamin dapat digunakan dalam bahan pakan dengan semestinya.
2

II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penggolongan Vitamin

Vitamin digolongkan dalam vitamin yang larut dalam lemak dan vitamin yang larut
dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak termasuk vitamin A, D, E, dan K dan
mengandung hanya karbon, hidrogen dan oksigen. Yang larut dalam air terdiri dari asam
askorbat (C) dan B-kompleks (B1 sampai B12).

2.1.1 Vitamin Larut dalam Lemak


Vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K ) dengan sifat-sifat umum sebagai
berikut :
1. Tidak terdapat disemua jaringan
2. Terdiri dari C, H dan O
3. Mempunyai bentuk precursor dan provitamin
4. Menyusun struktur jaringan tubuh
5. Diserap bersama lemak
6. Disimpan bersama lemak dalam tubuh
7. Diekskresi melalui feses
8. Kurang stabil disbanding dengan vitamin B, dapat dipengaruhi oleh cahaya,
oksidasi dan sebagainya.
A. Vitamin A
Semua ternak memerlukan vitamin A, vitamin tersebut tidak terdapat dalam bahan
makanan nabati secara aktif akan tetapi dalam bentuk provitamin (karoten) yang dapat
dirubah menjadi bentuk aktif di dalam tubuh. Dikenal dalam kimia sebagai retinol. Vitamin
A berwarna kuning pucat, Kristal padat, tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak.
Vitamin ini segera teroksidasi bila kena cahaya dan udara maka aktivitasnya rusak.senyawa
yang berupa vitamin A yang terdapat dalam ikan disebut vitamin A2.
Provitamin- provitamin A, tumbuhan tidak mengandung vitamin A namun mengandung
zat-zat pembentuk vitamin A atau pro vitamin A yang dirubah dalam tubuh ternak menjadi
vitamin A. ada 10 provitamin-provitamin A yang diantaranya adalah alfa, beta dan gamma
karoten, kriptoxantin dan miksoxantin dari ganggang biru hijau. Karoten yang mengalami
3

hidrolisa seperti xantofil-xantofil adalah inaktif sebagai provitamin. Sedang beta karoten
adalah yang paling aktif dan paling banyak di alam.
Nilai vitamin A dalam makanan dinyatakan dengan IU dan satuan IU adalah aktivitas
biologic dari 0,3 mikrogram dari krital vitamin A alcohol atau 0,344 mkg vitamin A asetat.
Takaran karoten dinyatakan dengan mg/kg atau ekuivalen dengan parts per million (PPM7).
1. Fungsi Vitamin A
Fungsi-fungsi dari vitamin A antara lain:
a. Fungsi biokimia
Suatu fungsi spesifik vitamin A dalam ko-enzim belum diketemukan dan beberapa
sarjana menganggap viamin A sebagai suatu hormone, meskipun hormone ini
datangnya dari makanan.
b. Fungsi fisiologi
Fungsi fisiologi vitamin A telah diketahui selama bertahun-bertahun. Vitamin A
dibutuhkan untuk pertumbuhan, reproduksi, dan menjaga kelangsungan hidup
selaput epitalia pada jaringan, dan normalnya penglihatan. Peranannya dalam
pertumbuhan adalah yang paling tidak diketahui, sedang peranan vitamin A dalam
reproduksi dan jaringan epitalia meskipun juga masih kabur, dapat diketahui rantai
hubungannya satu sama lain.
2. Penyerapan Vitamin A
Penyerapan vitamin A, vitamin A dalam makanan terutama dalam bentuk esterpalmitat.
Bentuk ini dihidrolisa dalam usus kecil oleh retinil ester hidrolisa dari pancreas. Garam
empedu dibutuhkan untuk mengaktifkan enzim tadi dan untuk pembentukan miselle
yang membawa vitamin A diserap dalam bentuk alcohol, retinol.
3. Sumber Vitamin A
Sumber vitamin A antara lain jagung kuning (karoten), alfalfa dan rumput, kuning telur,
hati, minyak ikan, hijauan
4. Defisiensi Vitamin A
Buta malam, pertanduksn epitel, pertumbuhan terganggu, xerophtalmia, tak ada
koordinasi urat daging, rambut atau bulu kasar, fertilitas menurun.
B. Vitamin D
Vitamin ini termasuk dalam grup sterol. Nama vitamin D adalah nama umum dari semua
steroid yang secara kualitatif memperlihatkan aktivitas kholekalsiferol. Beberapa bentuk
vitamin D terdapat pada alam dan berasal dari penyinaran sterol yang merupakan sumber/
4

provitamin atau bahan aal vitamin D. dua bentuk vitamin yang penting dalam makanan
ternak adalah ergokalsiferol yang berasal dari ergosterol tanaman yang bila disinari
membentuk vitamin D-2. yang lain kolekalsiferol yang berasal dari 7-dehidrokolesterolyang
bila disinari akan membentuk vitamin D-3.
1. Fungsi Vitamin D
Fungsi-fungsi dari vitamin D antara lain:
a. Fungsi Biokimia
Vitamin D harus mengalami metabolisme untuk dapat berfungsi
Metabolit-metabolit yang berfungsi dari vitamin D dihasilkan dilain organ bukan
diorgan dimana zat ini akan berfungsi.
Kecepatan sintesis dan sekresi dari metabolit yang berfungsi diatur dengan system
mekanisme siklus saling mempengaruhi (feed Back) yang dipengaruhi leh zat-zat
homoralyang kemungknan mengikutsertakan hormone paratiroid dan kalsitonin.
bentuk akhir vitamin D yang berfungsi mengendalikan gerak calsium dari usus ke
tulang adalah subtansi humoral yang bertanggung jawab dalam takaran kalsium
plasma.
b. Fungsi Fisiologi
Efek vitamin D secara umum adalah mineralisasi tulang. Istilah dari rakitis dipakai
pada peristiwa kegagalan tulang untuk bertumbuh dalam bentuk normal pada hewan
muda. Sedangkan osteomalasia dipakai pada peristiwa reabsorbsi dari tulang yang
telah terbentuk pada hewan tua.
2. Defisiensi Vitamin D
Ada empat kejadian kekurangan vitamin D atau kondisi yang disebabkan makanan
sehingga timbul atau oteomalasia, antara lain:
Defisiensi kalsium
Defisiensi fosfor
Defisiensi vitamin D
Keseimbangan nyata dari kalsium terhadap fosfor.
3. Metabolisme vitamin D
Mekanisme pengaruh vitamin d terhadap mineralisasi tulang adalah merangsang
absorpsi Ca dan P dari usus halus, sehingga menaikan kadar unsure ini dalam darah dan
cairan ekstraselulair tulang yang siap untuk mengalami klasifikasi. Vitamin D
merangsang mobilisasi Ca dari tulang ke darah.
5

4. Kebutuhan vitamin D
Beberapa factor yang mempengaruhi kebutuhan vitamin D :
Spesies
Bentuk vitamin D
Sumber posfat : kebanyakan atau kurang dari kebutuhan normal akan meningkatkan
tingkat kebutuhan normal akan meningkatkan tingkat kebutuhan terhadap vitamin D
Kalsium dan makanan kebanyakan atau kurang dari kebutuhan normal akan
meningkatkan kebutuhan akan vitamin D.
Perbandingan Ca : P : perbandingan yang lebih dari 2:1 akan menigkatkan kebutuhan
akan vitamin D
Cahaya matahari : mungkin dinegara seperti di Indonesia ini tidak banyak kebutuhan
vitamin D aktif dalam makanan apabila ternak cukup mendapatkan cahaya matahari
dan bila dalam makanan yang dikonsumsinya cukup mengandung provitamin D
Oksidasi atau radiasi yang terlampau banyak
5. Toksitas vitamin D
Perbedaan takaran kebutuhan vitamin D dan keracunan vitamin D juga jauh sehingga
keracunan vitamin d pada hewan jarang terjadi. Pada babi dibutuhkan 1000 kali
kebutuhan untuk dapat meracuni. Pada manusia tanda-tanda keracunan sering terjadi
pada bayi dan anak-anak yang diberi suplemen vitamin D dari minyak hati ikan kod atau
bentuk sintesanya. Tanda-tanda keracunan yang penting adalah hiperkalsemia.
6. Sumber-sumber Vitamin D
Beberapa minyak ikan, terutama minyak ikan hati kod adalah sumber vitamin D, juga
bahan- bahan sintesa. Tumbuh-tumbuhan yang sedang tumbuh tidak mengandung
vitamin D, tetapi setelah tumbuh-tumbuhan tersebut dipotong dan disinari matahari
maka egosterol berkaitan dengan adanya vitamin D. air susu yang disinari merupakan
sumber vitamin yang baik. Hewan yang disinari matahari selama beberapa jam setiap
hari tidak membutuhkan suplemen vitamin D, karena terjadi konversi 7-
dehidrokolesterol kulit menjadi vitamin d.
C. Vitamin E
Vitamin E disebut juga vitamin antisterilisasi, semenjak diketemukannya dalam tahun
1922sebagai factor yang larut dalam lemak yang mencegah resorsi faetus dalam tikus betina
dan mencegah degenerasi testiculat vitamin E adalah tokoferol.
6

1. Fungsi Biokimia vitamin E


Vitamin E dengan fungsi sebagai koenzim belum diketahui dan peranan biokimianya
belum pasti. Juga belum didemonstrasikan bahwa tiap reaksi enzim membutuhkan
vitamin E spesifik.
Fungsi vitamin E antara lain:
a. Sebagai antioksidan
b. Meningkatkan imunitas tubuh
c. Sehubungan dengan fungsi selenium
d. Fungsi lain yang belum jelas mekanismenya :
cytochrome-c-reduktase
proses reaksi posphorilase
metabolisme asam nukleat
pembentukan asam askorbik
sintesa ubiquinon atau co-enzim
metabolisme asam-asam amino yang mengandung S
berkurangnya kemungkinan insiden MMa disamping bertambahnya kemungkinan
hidupnya anak-anak babi.
2. Sumber vitamin E
Vitamin E banyak terdapat dalam seluruh biji sereal, terutama pada bagian benihnya,
dan hasil sisa pengolahan biji yang mengandung benih. Hijauan makanan ternakdan
daun daunan merupakan sumber vitamin E yang baik. Hasil sisa hewan mengandung
sedikit vitamin misalnya air susu dan hasil sampingannya. Kuning telur adalah sumber
vitamin E yang baik. Bungkil yang banyak mengadung minyak seperti bungkil kedelai,
biji kapas, adalah sumber vitamin E yang baik. Tetapa kadarnya akan berkurang bila
minyaknya diekstraksi lebih lanjut.
3. Defisiensi Vitamin E
Kemandulan pada tikus, marmot, dan kemungkinan babi; gangguan urat daging
kerangka, diathesis veksudatif, encefalomalasi, nekrosis hati, abnormalitas urat daging,
jantung, dan depigmentasi gigi.
D. Vitamin K
Vitamin K ditemukan pada tahun 1934ketika para sarjana denmark memberikan
makanan yang telah diekstrasi dengan eter kepada anak-anak ayam menyebabkan anak-anak
7

ayam tersebut menderita hemorrhagi sarjana-sarjana menamakan zat yang larut dalam lemak
yang telah diekstraksi tersebut sebagai factor koagulasi yang kemudian disebut vitamin K.

1. Sifat sifat Kimia Vitamin K


Ada beberapa senyawa yang mempunyai aktivitas vitamin K dan yang paling penting
yang terdapat dalam alam adalah vitamin , dalam jaringan tanaman. Vitamin K2 tedapat
dalam bacteria. Vitamin K1 dan K2 tidak larut dalam air tetapi larut dalam lemak,
namun bentuk sintesanya agak larut dalam air. Vitamin K relative stabil dalam keadan
beberapa penyimpanan, kecuali sangat cepat rusak oleh sinar matahari.
2. Fungsi Biokimia
Vitamin K berperanan sebagai kofaktor yang menentukan pada tahap karbosilasi pada
pembentukan protrombin tetapi jalannya reaksi pada karbosilasi ini tidak dapat
diketahui.
Fungsi fisiologi vitamin K penting untuk sintesis protrombin dan beberapa faktor-faktor
pembekuan darah yang penting untuk pembekuan darah. Pada keadaan pemberian
makanan yang normal ternak ruminansia, babi dan kuda tidak akan menunjukan tanda-
tanda defisiensi vitamin Kkarena bakteri saluran pencernaan makanan mampu
mensintesa cukup vitamin K untuk memenuhi kebutuhan hewan akan vitamin K
tersebut.
3. Defisiensi Vitamin K
Anak ayam paling peka terhadap defisiensi vitamin K disbanding ternak lain, terutama
bila obat sulfat diberikan kepadanya. Unggas yang terkena defisiensi vitamin K mudah
terluka dan pendarahan parah. Pemecahan pembuluh darah kapiler juga banyak terjadi
pada unggas yang menderita defisiensi marginal vitamin K. sehingga berakibat pada
ditolaknya karkas broiler. Unggas dewasa jarang menunjukan tanda-tanda defisiensi
vitamin K.
Pendarahan subkutan dan intramuskular, terutama pada unggas.
4. Sumber Vitamin K
Terpenting untuk makanan unggas adalah hijauan atau produk-produk sintesis. Vitamin
K terdapat dalam semua hijauan. Tepung ikan juga merupakan sumber vitamin K yang
baik.
8

2.1.2 Vitamin Larut dalam Air


Vitamin yang larut di dalam air kelompok dari vitamin B kompleks merupakan
kofaktor dalam berbagai reaksi enzimatik yang terdapat di dalam tubuh kita. Vitamin B yang
penting bagi nutrisi manusia adalah :
Tiamin (vitamin B 1)
Riboflavin (vitamin B2)
Niasin (asam nikotinat ,nikotinamida, vitamin B3)
Asam pantotenat (vitamin B5)
Vitamin B6 (piridoksin,pridoksal,piridoksamin)
Biotin
Vitamin B12 (kobalamin)
Asam folat
Karena kelarutannya dalam air ,kelebihan vitamin ini akan diekskresikan ke dalam
urin dan dengan demikian jarang tertimbun dalam konsentrasi yang toksik.
A. Tiamin
Tiamin tersusun dari pirimidin tersubsitusi yang dihubungkan oleh jembatan metilen
dengan tiazol tersubsitusi, rumus kimianya adalah C12H18ON4SCl2. Bentuk aktif dari tiamin
adalah tiamin difosfat, di mana reaksi konversi tiamin menjadi tiamin difosfat tergantung
oleh enzim tiamin difosfotransferase dan ATP yang terdapat di dalam otak dan hati.Tiamin
difosfat berfungsi sebagai koenzim dalam sejumlah reaksi enzimatik dengan mengalihkan
unit aldehid yang telah diaktifkan yaitu pada reaksi :
1. Dekarboksilasi oksidatif asam-asam - keto ( misalnya - ketoglutarat, piruvat, dan
analog - keto dari leusin isoleusin serta valin).
2. Reaksi transketolase (misalnya dalam lintasan pentosa fosfat).
Semua reaksi ini dihambat pada defisiensi tiamin. Dalam setiap keadaan tiamin.
Difosfat menghasilkan karbon reaktif pada tiazol yang membentuk karbanion, yang
kemudian ditambahkan dengan bebas kepada gugus karbonil, misalnya piruvat. Senyawa
adisi kemudian mengalami dekarboksilasi dengan membebaskan CO2. Reaksi ini terjadi
dalam suatu kompleks multienzim yang dikenal sebagai kompleks piruvat dehidrogenase.
Dekarboksilasi oksidatif - ketoglutarat menjadi suksinil ko-A dan CO2 dikatalisis oleh
suatu kompleks enzim yang strukturnya sangat serupa dengan struktur kompleks piruvat
dehydrogenase (Stryer, 1995).
9

B. Riboflavin (B2)
Riboflavin terdiri atas sebuah cincin isoaloksazin heterosiklik yang terikat dengan gula
alcoholribitol, rumus kimianya C17H2ON4O6.Jenis vitamin ini berupa pigmen fluoresen
berwarnayang relatif stabil terhadap panas tetapi terurai dengan cahaya yang visible. Bentuk
aktif riboflavin adalah flavin mononukleatida (FMN) dan flavin adenin dinukleotida ( FAD
). FMN dibentuk oleh reaksi fosforilasi riboflavin yang tergantung pada ATP sedangkan
FAD disintesis oleh reaksi selanjutnya dengan ATP dimana bagian AMP dalam ATP
dialihkan kepada FMN.

FMN dan FAD berfungsi sebagai gugus prostetik enzim oksidoreduktase,di mana
gugus prostetiknya terikat erat tetapi nonkovalen dengan apoproteinnya. Enzim-enzim ini
dikenal sebagai flavoprotein. Banyak enzim flavoprotein mengandung satu atau lebih unsur
metal seperti molibneum serta besi sebagai kofaktor esensial dan dikenal sebagai
metaloflavoprotein.
Enzim-enzim flavoprotein tersebar luas dan diwakili oleh beberapa enzim
oksidoreduktase yang penting dalam metabolisma mamalia,misalnya oksidase asam amino
dalam reaksi deaminasi asam amino, santin oksidase dalam penguraian purin, aldehid
dehidrogenase, gliserol 3 fosfat dehidrogenase mitokondria dalam proses pengangkutan
sejumlah ekuivalen pereduksi dari sitosol ke dalam mitokondria, suksinat dehidrogenase
dalam siklus asam sitrat, Asil ko A dehidrogenase, serta flavoprotein pengalih electron
dalam oksidsi asam lemak dan dihidrolipoil dehidrogenase dalam reaksi dekarboksilasi
oksidatif piruvat serta - ketoglutarat, NADH dehidrogenase merupakan komponen utama
rantai respiratorikdalam mitokondria. Semua system enzim ini akan terganggu pada
defisiensi riboflavin. Dalam peranannya sebagai koenzim, flavoprotein mengalami reduksi
reversible cincin isoaloksazin hingga menghasilkan bentuk FMNH2 dan FADH2 (Lehninger
et all, 1993).
Gejala defisiensi riboflavin pada unggas ditujukan dengan adanya gejala kelumpuhan
pada ayam, ayam akan berjalan dengan siku-siku kaki dan jari membengkok kedalam (curled
toe paralysis).
C. Niasin
Niasin merupakan nama generik untuk asam nikotinat dan nikotinamida yang
berfungsi sebagai sumber vitamin tersebut dalam makanan, rumus kimianya C6H5O2N.Asam
nikotinat merupakan derivat asam monokarboksilat dari piridin. Bentuk aktif sari niasin
10

adalah Nikotinamida Adenin Dinukleotida (NAD+) dan Nikotinamida Adenin Dinukleotida


Fosfat ( NADP+).
Nikotinat merupakan bentuk niasin yang diperlukan untuk sintesis NAD+ dan NADP+
oleh enzim-enzim yang terdapat pada sitosol sebagian besar sel. Karena itu,setiap
nikotinamida dalam makanan, mula-mula mengalami deamidasi menjadi nikotinat. Dalam
sitosol nikotinat diubah menjadidesamido NAD+ melalui reaksi yang mula-mula dengan 5-
fosforibosil 1-pirofosfat ( PRPP ) dan kemudian melalui adenilasi dengan ATP.Gugus
amido pada glutamin akan turut membentuk koenzim NAD +. Koenzim ini bisa mengalami
fosforilasi lebih lanjut sehingga terbentuk NADP+ (Murray, 2000).
Fungsi Niasin dari Nukleotida nikotinamida mempunyai peranan yang luas sebagai
koenzim pada banyak enzim dehidrogenase yang terdapat di dalam sitosol ataupun
mitokondria. Dengan demikian vitamin niasin merupakan komponen kunci pada banyak
lintasan metabolic yang mengenai metabolisme karbohidrat, lipid serta asam amino. NAD+
dan NADP+ merupakan koenzim pada banyak enzim oksidorduktase. Enzim-enzim
dehidrogenase yang terikat dengan NAD mengkatalisis reaksi oksidoreduksi dalam lintasan
oksidatif misalnya siklus asam sitrat,sedangkan enzim-enzim dehidrogenase yang terikat
dengan NADP ditemukan dalam lintasan yang berhubungan dengan sintesis reduktif
misalnya lintasan pentosa fosfat (Lehninger et all, 1993). Pada ternak defisiensi niasin
ditujukan dengan gejala seperti gangguan pencernaan, dermatitis, dan gangguan
pertumbuhan.
D. Asam Pantotenat
Asam pantotenat dibentuk melalui penggabungan asam pantoat dengan alanin.Asam
pantoneat aktif adalah Koenzim A (Ko A) dan Protein Pembawa Asil (ACP), rumus
kimianya C9H17O5N. Asam pantoneat dapat diabsorbsi dengan mudah dalam intestinum dan
selanjutnya mengalami fosforilasi oleh ATP hingga terbentuk 4'- fosfopantoneat.
penambahan sistein dan pengeluaran gugus karboksilnya mengakibatkan penambahan netto
tiotanolamina sehingga menghasilkan 4' fosfopantein, yakni gugus prostetik pada ko A dan
ACP. Ko A mengandung nukleotida adenin. Dengan demikian 4' fosfopantein akan
mengalami adenilasi oleh ATP hingga terbentuk defosfo koA. Fosforilasi akhir terjadi pada
ATP dengan menambahkan gugus fosfat pada gugus 3 hidroksil dalam moitas ribose untuk
menghasilkan ko A (Murray, 2000).
Gejala defisiensi asam pantotenat ditandai dengan Pertumbuhan terganggu,
degenarisasi testis, dan featus abnormal. Pada permukaan tubuh bagian luar ternak terdapat
11

dermatistis, pertumbuhan bulu terganggu, dan bentuknya kasar. Serta pada unggas dapat
menyebabkan daya tetas menurun.
E. Piridoxin / Vitamin B6
Vitamin B6 terdiri atas derivat piridin yang berhubungan erat yaitu piridoksin
(C8H11O3N), piridoksal(C8H9NO2), serta piridoksamin (C8H11N2O)dan derivat fosfatnya
yang bersesuaian. Bentuk aktif dari vitamin B6 adalah piridoksal fosfat, di mana semua
bentuk vitamin B6 diabsorbsi dari dalam intestinum, tetapi hidrolisis tertentu senyawa-
senyawa ester fosfat terjadi selama proses pencernaan. Piridksal fosfat merupakan bentuk
utama yang diangkut dalam plasma. Sebagian besar jaringan mengandung piridoksal kinase
yang dapat mengkatalisis reaksi fosforilasi oleh ATP terhadap bentuk vitamin yang belum
terfosforilasi menjadi masing-masing derivat ester fosfatnya. Piridoksal fosfat merupakan
koenzim pada beberapa enzim dalam metabolisme asam amino pada proses transaminasi,
dekarboksilasi atau aktivitas aldolase. Piridoksal fosfat juga terlibat dalam proses
glikogenolisis yaitu pada enzim yang memperantarai proses pemecahan glikogen (Stryer,
1995).
F. Biotin
Biotin merupakan derivat imidazol yang tersebar luas dalam berbagai makanan alami,
rumus kimianya C10H16O3N2S.Gejala defisiensi berupa dermatitis, rontok rambut, dan
gangguan pertumbuhan. Karena sebagian besar kebutuhan manusia akan biotin dipenuhi
oleh sintesis dari bakteri intestinal, defisiensi biotin tidak disebabkan oleh defisiensi dietarik
biasa tetapi oleh cacat dalam penggunaan. Biotin merupakan koenzim pada berbagai enzim
karboksilase (Lehninger et all, 1993).

Beberapa enzim hewan yang membutuhkan Biotin :


12

G. Vitamin B12
Vitamin B12 (kobalamin) mempunyai struktur cincin yang kompleks (cincin corrin) dan
serupa dengan cincin porfirin, yang pada cincin ini ditambahkan ion kobalt di bagian
tengahnya. Vitamin B12 disintesis secara eksklusif oleh mikroorganisme. Dengan demikian,
vitamin B12 tidak terdapat dalam tanaman kecuali bila tanaman tersebut terkontaminasi
vitamin B12 tetapi tersimpan pada binatang di dalam hati temapat vitamin B12 ditemukan
dalam bentuk metilkobalamin, adenosilkobalamin, dan hidroksikobalamin. Defisiensi
vitamin B12 ditandai dengan pertumbuhan yang lambat, inkoordinasi sistem syaraf, dan
reproduksi yang kurang baik.
Absorbsi intestinal vitamin B12 terjadi dengan perantaraan tempat-tempat reseptor
dalam ileum yang memerlukan pengikatan vitamin B12, suatu glikoprotein yang sangat
spesifik yaitu faktor intrinsik yang disekresi sel-sel parietal pada mukosa lambung. Setelah
diserap vitamin B12 terikat dengan protein plasma, transkobalamin II untuk pengangkutan
ke dalam jaringan. Vitamin B12 disimpan dalam hati terikat dengan transkobalamin I.
Koenzim vitamin B12 yang aktif adalah metilkobalamin dan deoksiadenosilkobalamin.
Metilkobalamin merupakan koenzim dalam konversi Homosistein menjadi metionin dan
juga konversi Metiltetrahidrofolat menjadi tetrafidrofolat. Deoksiadenosilkobalamin adalah
koenzim untuk konversi metilmalonil Ko A menjadi suksinil Ko A (Murray, 2000).
13

H. Asam Folat
Nama generiknya adalah folasin. Asam folat ini terdiri dari basa pteridin yang terikat
dengan satu molekul masing-masing asam P- aminobenzoat acid (PABA ) dan asam
glutamat. Tetrahidrofolat merupakan bentuk asam folat yang aktif. Makanan yang
mengandung asam folat akan dipecah oleh enzim-enzim usus spesifik menjadi monoglutamil
folat agar bisa diabsorbsi. kemudian oleh adanya enzim folat reduktase sebagian besar
derivat folat akan direduksi menjadi tetrahidrofolat dala sel intestinal yang menggunakan
NADPH sebagai donor ekuivalen pereduksi.
Tetrahidrofolat ini merupakan pembawa unit-unit satu karbon yang aktif dalam berbagai
reaksi oksidasi yaitu metil, metilen, metenil, formil dan formimino.Semuanya bisa
dikonversikan.
Serin merupakan sumber utama unit satu karbon dalam bentuk gugus metilen yang
secara reversible beralih kepada tetrahidrofolat hingga terbentuk glisin dan N5, N10
metilen H4folat yang mempunyai peranan sentral dalam metabolisme unit satu karbon.
Senyawa di atas dapat direduksi menjadi N5 metil H4folat yang memiliki peranan
penting dalam metilasi homosistein menjadi metionin dengan melibatkan metilkobalamin
sebagai kofaktor (Champe dan Harvey, 1994).
I. Asam Askorbat
Bentuk aktif vitamin C adalah asam askorbat itu sendiri dimana fungsinya sebagai
donor ekuivalen pereduksi dalam sejumlah reaksi penting tertentu. Asam askorbat dioksidasi
menjadi asam dehidroaskorbat ,yang dengan sendirinya dapat bertindak sebagai sumber
vitamin tersebut. Asam askorbat merupakan zat pereduksi dengan potensial hydrogen
sebesar +0,008 V, sehingga membuatnya mampu untuk mereduksi senyawa-senyawa seperti
oksigen molekuler, nitrat, dan sitokrom a serta c. Mekanisme kerja asam askorbat dalam
banyak aktivitasnya masih belum jelas, tetapi proses di bawah ini membutuhkan asam
askorbat (Lehninger et all, 1993) :
1. Hidroksilasi prolin dalam sintesis kolagen.
2. Proses penguraian tirosin, oksodasi P-hidroksi fenilpiruvat menjadi homogentisat
memerlukan vitamin C yang bisa mempertahankan keadaan tereduksi pada ion
tembaga yang diperlukan untuk memberikan aktivitas maksimal.
3. Sintesis epinefrin dari tirosin pada tahap dopamine-hidroksilase.
4. Pembentukan asam empedu pada tahap awal 7 alfa hidroksilase.
14

5. Korteks adrenal mengandung sejumlah besar vitamin C yang dengan cepat akan
terpakai habis kalau kelenja tersebut dirrangsang ole hormon adrenokortikotropik.
6. Penyerapan besi digalakkan secara bermakna oleh adanya vitamin C.

Asam askorbat dapat bertindak sebagai antioksidan umum yang larut dalam air dan
dapat menghambat pembentukan nitrosamin dalam proses pencernaan.

2.2. Penentuan Vitamin dalam Bahan Pakan

Beberapa metode pengukur vitamin secara langsung dan memberikan pengukuran


kuantitatif. Ini direkomendasikan untuk digunakan terutama untuk vitamin yang berguna
secara klinis. Namun ini mahal dan tidak semua laboratorium dapat memberikan tes
tersebut. Metode ini meliputi:
HPLC (metode referensi)
Immunoassays (ELISA, RIA, FIA)
Colorimetric dan Spektrofotometri tes
Fluorometric assay & Chemiluminescence assay
amperometri assay
Karena vitamin berfungsi sebagai ko-faktor dan substrat dalam berbagai reaksi
tubuh, beberapa metode memanfaatkan properti ini dan secara tidak langsung mengukur
vitamin dengan mengukur aktivitas enzim di bawah pengaruh. Metode ini relatif lebih murah
dan bisa menjadi semi-kuantitatif atau kualitatif. Namun beberapa metode ini digunakan saat
ini untuk penelitian saja dan ini termasuk:
Tes Metabolit pemuatan
enzim aktivasi eritrosit assay
Tes kerapuhan Eryhtrocyte
Waktu Prothrombin
metode mikrobiologi
Bioassay (in-vivo & in-vitro)
Metode Langsung untuk Penentuan Vitamin
A. High Performance Liquid Chromatography (HPLC)

Kromatografi adalah metode suatu proses fisik yang digunakan untuk memisahkan
komponen-komponen dari suatu campuran senyawa kimia. Dalam kromatografi, campuran
tersebut dibuat sebagi zona yang sempit (kecil) pada salah satu ujung media porus seperti
15

adsorben, yang disebut alas atau landasan kromatografi. Zona campuran kemudian
digerakan dengan larutan suatu cairan atau gas yang bergerak sebagai pembawa, melaui
media porus tersebut, yang berupa partikel-partikel yang diam (tidak bergerak,
statisiones). Sehingga akibatnya masing-masing komponen dari campuran tersebut akan
terbagi (terdistribusi) secara tidak merata antara alas yang diam dan cairan atau gas yang
membawanya. Akibat selanjutnya, masing-masing komponen akan bergerak (bermigrasi)
pada kecepatan yang berbeda (differential migration) dan dengan demikian, akan sampai
pada ujung lain dari alas tersebut pada waktu yang berlainan, dan dengan demikian terjadilah
pemisahan diantara komponen-komponen yang ada.
Kromatografi merupakan salah satu metode pemisahan komponen-komponen
campuran yang berdasarkan distribusi diferensial dari komponen-komponen sampel diantara
dua fasa, yaitu fasa gerak dan fasa diam. Salah satu teknik kromatografi yang dimana fasa
gerak dan fasa diamnya menggunakan zat cair adalah HPLC (High Performance Liquid
Chromatography) atau didalam bahasa Indonesia disebut KCKT (Kromatografi Cair Kinerja
Tinggi).
Teknik HPLC merupakan suatu metode kromatografi cair-cair, yang dapat
digunakan baik untuk keperluan pemisahan maupun analisis kuantitatif. Analisis kualitatif
dengan teknik HPLC didasarkan pada pengukuran luas area standar. Pada prakteknya,
metode pembandingan area standar dan sampel kurang menghasilkan data yang akurat bila
hanya melibatkan suatu konsentrasi standar. Oleh karena itu, dilakukan
dengan menggunakan teknik kurva kalibrasi.
HPLC yang modern telah mucul akibat pertemuan dari kebutuhan, keinginan
manusia untuk meminimalis pekerjaan, kemampuan teknologi, dan teori untuk memandu
pengembangan pada jalur yang rasional. Jelas sebelum era peralatan yang modern bahwa
LC (Liquid Chromatography) memiliki kekuatan pemisahan yang sangat ampuh, bahkan
untuk komponen-komponen yang berhubungan sangat erat. LC harus ditingkatkan
kecepatannya, diotomasasi, dan harus disesuaikan dengan sampel-sampel yang lebih kecil,
waktu elusi yang beberapa jam (Underwood, Day. 2002 : 553).
HPLC berbeda dari kromatografi kolom cairan konvensional dalam hal digunakan
bahan pengisi kolom berupa partikel yang sangat kecil berukuran sampai 3-5 m (1m = 10-
6
m). Sehingga mengharuskan digunakannya tekanan tinggi sampai 20.000 Kpa ( 200
atmosfir) untuk mengalirkan fasa gerak melalui kolom tersebut.
16

Ternyata, penggunaan bahan pengisi kolom yang lebih kecil ini bukan saja telah
memperbaiki kecepatan analisis, tapi (dari ini yang lebih penting) ialah telah menghasilkan
suatu teknik dengan daya pisah yang tinggi. HPLC mempunyai kelemahan- kelemahan yang
diantaranya, peralatannya lebih rumit, tidak murah, dan perlu pengalaman. Untuk beberapa
jenis zat, metode ini kurang sensitif. Selain itu sampel disyaratkan harus stabil dalam
larutan.
Berdasarkan kepolaran fasa geraknya, HPLC dibagi menjadi 2 macam yaitu :
a) Fase Normal HPLC
HPLC jenis ini secara esensial sama dengan kromatografi kolom. Meskipun disebut
normal, ini bukan bentuk biasa dari HPLC. Kolom ini diisi dengan partikel silika yang sangat
kecil dan pelarut nonpolar seperti heksan sebuah kolom sederhana memiliki diameter
internal 4,6 mm (dan kemungkinan kurang dari nilai ini) dengan panjang 120 nm-250 nm.
Senyawa-senyawa polar dalam campuran melalui kolom akan melekat lebih lama pada silika
yang polar dibanding dengan senyawa-senyawa non polar. Oleh karena itu, senyawa yang
non polar kemudian akan lebih cepat melewati kolom. Apabila pasangan fasa diam lebih
polar daripada fasa geraknya maka sistem ini disebut HPLC fase normal.
b) Fase Balik HPLC
Pada HPLC jenis ini, ukuran kolomnya sama, tetapi silika dimodifikasi menjadi non
polar melalui pelekatan hidrokarbon dengna rantai panjang pada permukaannya secara
sederhana baik berupa atom karbon 8 atau 18. Dalam kasus ini, akan terdapat interaksi yang
kuat antara pelarut polar dan molekul polar dalam campuran yang melalui kolom. Interaksi
yang terjadi tidak sekuat interaksi antara rantai-rantai hidrokarbon yang berlekatan pada
silika (fasa diam) dan molekul-molekul polar dalam larutan. Oleh karena itu molekul-
molekul polar akan lebih cepat bergerak melalui kolom. Sedangkan molekul-molekul non
polar akan bergerak lambat karena interaksi dengan gugus hidrokarbon.
Prinsip kerja instumentasi HPLC
HPLC menggunakan fasa gerak untuk memisahkan komponen dari sebuah
campuran komponen (analit). Prinsip keja HPLC adalah pemisahan setiaap komponen dalam
sampel berdasarkan kepolarannya. Yang paling membedakan HPLC dengan kromatografi
lainnya adalah pada HPLC digunakan tekanan tinggi untuk mendorong fasa gerak. Fasa diam
yang biasa digunakan (pada kolom) HPLC jenis fasa terbalik adalah RMe 2SiCl, dimana R
adalah rantai alkana C-18 atau C8. Sementara fasa geraknya berupa larutan yang diatur
komposisinya (gradien elusi), misalnya : air:asetonitril (80:20), hal ini bergantung pada
17

kepolaran analit yang akan dipisahkan. Campuran analit akan terpisah berdasarkan
kepolarannya, dan waktu retensinya akan berbeda, hal ini akan teramati pada spektrum yang
punsak-puncaknya terpisah.
Prinsip dasar HPLC adalah pemisahan komponen-komponen terjadi karena
perbedaan kekuatan interaksi antara solut-solut terhadap fasa diam. Keunggulan
menggunakan HPLC dibandingkan kromatografi gas yaitu terletak pada kemampuannya
untuk menganalisis cuplikan yang tidak menguap dan labil pada suhu tinggi. HPLC tidak
terbatas pada senyawa organik tapi mampu menganalisis senyawa anorganik, mampu
menganalisis cuplikan yang mempunyai molekul tinggi (beratnya), mampu menganalisis
cuplik yang mempunyai titik didih yang sangat tinggi seperti polimer.
Cara kerja instumentasi HPLC
Prinsip kerja alat HPLC adalah pertama fasa gerak dialirkan melalui kolom
kedetektor dengan bantuan pompa. Kemudian cuplikan dimasukan ke dalam aliran fasa
gerak dengan cara penyuntikan. Didalam kolom terjadi pemisahan komponen-komponen
campuran karena perbedan kekuatan interaksi antara solut-solut terhadap fasa diam. Solut-
solut yang kurang kuat interaksinya dengan fasa diam akan keluar dari kolom terlebih
dahulu. Sebaliknya solut-solut yang interaksinya kuat dengan fasa diam akan keluar dari
kolom lebih lama. Setiap komponen yang campuran yang keluar kolom dideteksi oleh
detektor kemudian direkam dalam bentuk kromatogram.
Keuntungan menggunakan metode HPLC
- Langsung
- kuantitatif
- Precise & akurat
- Sensitif dan spesifik
- Otomatis
- Tinggi melalui put
Kerugian dalam menggunakan metode ini adalah
- Membutuhkan pretreatment sampel seperti ekstraksi & filtrasi
- Membutuhkan perhatian untuk memilih fase gerak & sampel laju pemompaan
- Awalnya membutuhkan optimasi. Dalam rangka untuk mendapatkan resolusi tinggi dasar
rendah dan kembali ketingkat noise yang rendah harus dipertahankan
- Membutuhkan standar internal, kalibrator dan reagen HPLC kelas
- Mahal untuk membeli dan biaya pemeliharaan yang tinggi.
18

B. Immunoassays
Ada beberapa jenis immunoassays seperti:
- Enzim Linked Sorbant Immuno Assay yang memanfaatkan antibodi terkait dengan enzim.
- Radio-immunoassay bukannya memanfaatkan radio-isotop dan karena pelepasan radioaktif
menyangkut ini sekarang keluar tanggal.
- Immunoassays Fluorescent menggunakan antibodi berlabel dengan fluorophore tetapi tidak
memiliki kepekaan dibandingkan dengan dua sebelumnya.
Vitamin B12 dan Vitamin-D-dapat dianalisis dengan immunoassay. Tes ini
tergantung pada ketersediaan antibodi monoklonal yang menentukan spesifisitas dan
sensitivitasnya. Untuk beberapa sampel immunoassays dianggap mahal tetapi biaya dapat
dikurangi jika sampel yang cukup adalah 'batch' dianalisis pada 96 format yang baik.
Immunoassays adalah metode kedua yang paling dapat diandalkan untuk pengukuran
vitamin setelah HPLC.
C. Kolorimetri dan Spektrofotometri tes

Kolorimetri merupakan suatu metoda analisa kimia yang didasarkan pada


tercapainya kesamaan besaran warna antara larutan sampel dengan larutan standar dengan
menggunakan sumber cahaya polikromatis dan detektor mata. Metoda ini didasarkan pada
penyerapan cahaya tampak dan energi radiasi lainnya oleh suatu larutan.
Metoda ini dapat diterapkan untuk penentuan komponen zat warna ataupun
komponen yang belum bewarna, namun dengan menggunakan reagen pewarna yang sesuai
dapat menghasilkan senyawa bewarna yang merupakan fungsi dari kandungan
komponennya. Jika telah tercapai kesamaan warna berarti jumlah molekul zat penyerap yang
dilewati sinar pada kedua sisi tersebut telah sama dan ini dijadikan dasar perhitungan.
kolorimetri terbagi atas 2 metoda, yaitu :
a. Kolorimetri visual, menggunakan mata sebagai detektor.
b. Fotometri, menggunakan fotosel sebagai detektornya.
Metoda kolorimetri visual merupakan metoda yang konvensional dan sudah jarang
digunakan karena tidak akurat. Hal ini disebabkan karena mata hanya sebagai detektor untuk
melihat kesamaan warna, bukan sebagai alat ukur intensitas absorbsi.
Metoda kolorimetri visual adalah sebagai berikut :
a. Tinggi larutan konstan (Constant Depht Methods), terbagi menjadi dua metoda.
19

1. Tabung Nessler
Pada metoda ini digunakan beberapa tabung reaksi berbentuk silinder.
Masing-masing tabung diisi dengan larutan standar dengan konsentrasi terukur dan
bervariasi dengan tinggi larutan yang sama. Tabung ini disusun pada rak tabung
bercat hitam yang tidak mengkilat, agar tidak memantulkan sinar yang datang pada
tabung. Kemudian larutan sampel dengan tinggi yang sama diletakkan di sela tabung-
tabung tersebut dan bandingkan warna larutan standar dan sampel dengan melihat
dari atas tabung (vertikal). Jika ada warna larutan standar yang sama dengan sampel,
berarti konsentrasi sampel sama dengan larutan standar tersebut. Atau jika warnanya
berada diantara 2 warna larutan standar yang berdekatan, berarti konsentrasi sampel
berada dalam range dari konsentrasi kedua larutan tersebut.
2. Bajerum Comparator
Pada alat ini, untuk mencapai kesamaan warna antara larutan sampel dengan
larutan standar dilakukan dengan cara menggeser larutan sampel disepanjang skala
yang berada di atas bajerum. Bajerum comparator ini merupakan suatu kotak
transparan persegi panjang yang dibagi dua menurut diagonal bidangnya. Bagian
depan dimana skala tertera, diisi dengan larutan standard an bagian lainnya diisi
dengan blanko. Pengamatan dialakukan dari bagian depan (horizontal).
b. Tinggi larutan berbeda (Variable Depth Methods), terbagi menjadi dua metoda
1. Tabung Herner
Tabung Herner berupa sepasang silinder dengan keran untuk mengeluarkan
larutan dari dalam silinder yang warna larutannya lebih pekat sehingga tingginya
berubah, agar didapatkan warna yang sama pada kedua silinder.
2. Kolorimeter Dubosq
Pada alat ini kesamaan warna didapatkan dengan cara mengatur tinggi
rendahnya pemberat (plunger), agar tinggi larutan dalam bejana berubah sehingga
didapatkan intensitas warna yang sama pada spiltfield.
Syarat-syarat warna pada metoda kolorimetri antara lain :
a. Warna yang terbentuk harus stabil dan merupakan fungsi dari konsentrasi.
b. Reaksi pewarnaan harus selektif.
c. Larutan harus transparan.
d. Reproducibilty (ketepatan ulang yang tinggi).
20

Reaksi kimia antara chromogen dan vitamin menyebabkan perubahan


warna. Perkembangan warna menunjukkan adanya vitamin, analisis kualitatif.
Untuk mengukur metode ini, spektrofotometer digunakan untuk mengukur intensitas
warna 'end point', di mana intensitas warna sebanding dengan konsentrasi vitamin.
Terutama digunakan untuk penentuan vit-C (asam askorbat).
Keuntungan dalam menggunakan metode calorimeter adalah
- Sebuah uji kuantitatif langsung
- Membutuhkan volume sampel kecil
- Otomatis
- Cepat turn-sekitar waktu
- Bisa diterapkan untuk sampel tunggal atau beberapa pada satu waktu Kerugian
- Sensitivitas dan spesifisitas rendah maka beberapa zat lainnya dapat mengganggu
chromogen atau enzim yang digunakan.
- Tidak bisa digunakan untuk semua jenis vitamin
- Kontrol yang tepat dan kalibrator harus digunakan

D. Fluorometric assay & Chemiluminescence assay

Vitamin tertentu memiliki kemampuan untuk menghasilkan fluoresensi ketika


direaksikan dengan fluorophore a. Fluoresensi ini berbanding lurus dengan konsentrasi
vitamin. Dalam tes Chemiluminescence, luminol digunakan untuk bereaksi dengan vitamin
bunga. Campuran disuntikkan pada tingkat dikontrol melalui kapiler di mana 'reaksi kinetik'
diukur dan diberikan pengukuran kuantitatif. Keuntungan dan kerugian yang mirip dengan
tes kolorimetri dan Spektrofotometri.
E. Tes amperometri
Beberapa vitamin dapat mengalami oksidasi elektro-kimia. Reaksi ini pada penyebab
elektroda perubahan potensial listrik yang berbanding lurus dengan konsentrasi vitamin
dalam sampel. Kerugian utama dari metode ini adalah kurangnya spesifisitas dan jarang
digunakan, kadang-kadang secara paralel dengan HPLC untuk konfirmasi hasil tertentu.
Metode tidak langsung untuk penentuan vitamin
A. Metabolit pemuatan uji
Tes ini telah sangat populer di masa lalu. Ini adalah sebuah assay tidak langsung
yang menentukan aktivitas vitamin digunakan sebagai kofaktor untuk metabolit tertentu.
Langkah-langkah yang terlibat adalah sebagai berikut :
21

- Pasien diberikan secara oral besar, diukur dosis metabolit tertentu yang digunakan oleh
vitamin menarik untuk konversi.
- Darah atau urin sampel diperoleh dari pasien setelah ~ 6 jam menelan.
- Metabolit yang sama diukur dalam sampel ini: Peningkatan metabolit di atas kisaran
normal menunjukkan kekurangan vitamin
Secara signifikan mengurangi metabolit menunjukkan aktivitas vitamin yang normal Misal
: Tryptophan adalah metabolit pemuatan untuk vit B6-dan Histidin adalah untuk folat.
Keuntungan menggunakan metode metabolit pemuatan uji adalah
- Metode Murah
- Efek samping Minimum
Kerugian menggunakan metode metabolit pemuatan uji adalah

- Metode tidak langsung


- In-vivo karena itu tidak dapat diandalkan karena gangguan oleh faktor-faktor lain
- Tidak berlaku untuk semua vitamin
- Invasif
B. Uji aktivasi enzim eritrosit
- Hemolysates seluruh darah atau RBC disiapkan
- Aktivitas enzim di bawah pengaruh langsung dari vitamin bunga diukur. Aktivitas enzim
ini dikenal sebagai Activity Koefisien (AC).
- Sejumlah vitamin jenuh tertentu ditambahkan.
- Aktivitas enzim ini diukur kembali dan dibandingkan dengan aktivitas enzim sebelum
penambahan.
- Peningkatan AC menunjukkan kekurangan vitamin. Dalam kasus vitamin normal atau
bahkan vitamin jenuh, AC tidak akan berubah.
- Misal : Kegiatan transketolase diukur untuk mengevaluasi tingkat tiamin, Glutathione
reduktase diukur untuk mengevaluasi riboflavin status dan aspartat transaminase (AST)
aktivitas diukur untuk analisis vit B6-
C. Uji fragilitas eritrosit
Digunakan khusus untuk penilaian tingkat vitamin-E. Vitamin ini bertanggung jawab
untuk stabilitas membran RBC.
Langkah-langkah yang terlibat:
- Sampel Pasien dibagi menjadi dua aliquot.
22

- Sel darah merah dalam satu aliquot dicuci dengan 2% H2O2 (membran racun radikal bebas),
sedangkan sel darah merah dari 2 aliquot dicuci dengan dist. H2O.
- Setelah 3 jam inkubasi, hemoglobin diukur di kedua aliquot.
- Jika hemolisis sel darah merah dalam aliquot 1 (dicuci dengan H2O2) adalah 20% lebih dari
hemolisis dalam 2 aliquot (sel darah merah dicuci dengan dist.H2O), ini akan menunjukkan
kekurangan vitamin-E.

D. Prothrombin Waktu

Metode Ini adalah metode spesifik, namun tidak langsung assay untuk penilaian
kegiatan vit-K. Sejak vit-K bertanggung jawab untuk aktivasi faktor pembekuan (II, VII, IX,
X, protein C, S & Z) meningkat PT> 2 min menunjukkan defisiensi vit-K. Hal ini dianggap
sebagai tes skrining, namun untuk mengkonfirmasi HPLC atau analisis spektrofotometri
dianjurkan.
E. Metode Mikrobiologi (digunakan penelitian saja)

Beberapa mikro-organisme misalnya Lactobacillus Casel dan Lactobacillus


Plantoides tergantung pada vitamin tertentu untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme ini
tumbuh dalam kaldu atau kultur agar yang mengandung sampel dengan konsentrasi yang
tidak diketahui dari vitamin. Sebuah kontrol negatif yang tidak memiliki vitamin sama
sekali juga digunakan. Inkubasi selama beberapa hari Kepadatan pertumbuhan diukur
dengan turbidimetri Pembentukan asam laktat juga dapat dikuantifikasi yang berbanding
lurus dengan konsentrasi vitamin dalam sampel
F. Bioassay untuk vitamin
Adalah alat penelitian saja dan jarang digunakan secara klinis untuk analisis vitamin.
Untuk mengukur enzim dibawah pengaruh vitamin dan efek kekurangan fenotipik. Ada dua
jenis bio-tes:
1. In-vivo Bioassays
Membutuhkan hewan hidup lebih kecil dalam ukuran seperti tikus atau ayam
sifat fisik hewan seperti berat, perilaku, laju respirasi, denyut nadi, anggota tubuh dan
gerakan mata dan pengamatan fisik lainnya dicatat.
Aktivitas enzim di bawah pengaruh langsung dari vitamin yang akan dianalisis ditentukan
dalam sampel darah spektrofotometri (nilai puncak).
hewan tersebut kemudian kekurangan diet yang mengandung vitamin tertentu untuk jangka
waktu tertentu.
23

Saat hewan ini mulai mengembangkan penyakit yang terkait dengan kekurangan vitamin,
sampel darah yang lain diambil dan aktivitas enzim diukur ulang. Ini adalah nilai dasar.
Gejala fisik lainnya yang direkam selama keadaan penyakit.

Kemudian dosis dihitung dan secara bertahap meningkatkan vitamin diumpankan ke hewan
pada titik waktu tertentu.
Aktivitas enzim yang kembali dan gejala fisik mulai membaik.
Sampel darah diambil pada interval waktu tertentu dan aktivitas enzim diukur sampai
puncak (optimal) aktivitas kembali dan gejala penting hewan ini telah sepenuhnya pulih.
Uji ini memungkinkan konsentrasi vitamin vs aktivitas enzim kurva standar.
Kurva standar yang sama sekarang dapat digunakan untuk menganalisis vitamin yang sama
dalam berbagai model binatang karena aktivitas enzim dapat diukur dan menggunakan
kurva, konsentrasi vitamin yang diharapkan dapat diperoleh. misalnya tikus ketika
kekurangan vit-D untuk beberapa waktu, akan mengembangkan rakhitis. Vit-D aktivitas
enzim 25-hidroksilase dipengaruhi, yang memanfaatkan vit-D sebagai substrat. Hal ini
memicu kaskade kejadian yang menyebabkan cacat tulang pada tikus ini. Namun ketika
dosis dihitung tertentu vit-D diumpankan gejala sembuh. Aktivitas enzim diukur pada setiap
titik waktu dosis dan kurva standar dirumuskan.
Keuntungan menggunakan metode ini adalah
- Dekat dengan realitas
- Bisa menyebabkan menerobos dalam penelitian
Kerugian
- Metode tidak langsung
- Membutuhkan pemantauan yang cermat
- Sulit untuk mempertahankan data yang konsisten karena gangguan oleh faktor-faktor lain
- Tidak berlaku untuk semua vitamin
- Mahal karena manajemen hewan
- Memakan Waktu
- Tidak memiliki aplikasi klinis

2. In-vitro Bioassays

Tes ini melibatkan menargetkan jalur sel tertentu atau jaringan dalam media kultur.
Mempengaruhi vitamin dipelajari pada pertumbuhan, proliferasi dan diferensiasi sel.
24

Faktor-faktor lain atau bahan kimia seperti: protein, imunoglobulin, kalsium, fosfor yang
diproduksi oleh sel-sel & jaringan setelah terpapar vitamin juga diukur. Misalnya efek anti-
oksidatif vit-C dan E yang didirikan oleh tes ini
Keuntungan dalam menggunakan metode ini adalah
- Lebih mudah dari in-vivo
- Lebih baik monitoring & control kondisi
- Kurang memakan waktu & murah
- Dapat digunakan untuk menganalisis efek dari beberapa vitamin
Kerugian dalam menggunakan metode ini adalah
- Tidak Langsung
- Tidak dekat dengan realitas

- Jaringan dan sel kultur beresiko kontaminasi


25

III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

Bedasarkan kelarutannya vitamin dibagi menjadi dua kelompok, yaitu vitamin yang
larut dalam air dan yang larut dalam lemak. Vitamin yang larut dalam lemak adalah vitamin
A, D, E dan K. Metode penentuan vitamin ada yang langsung dan tidak langsung, dipakai
sesuai kebutuhan.

3.2. Saran

Untuk itu, dalam bahan pakan harus ditentukan kandungan vitaminnya agar kita dapat
mengetahui hal tersebut dan memanfaatkannya dengan tepat dan maksimal.
26

DAFTAR PUSTAKA

Agrinak. 2015. Penentuan Kebutuhan Nutrisi Ternak.


http://www.agrinak.com/2015/12/penentuan-kebutuhan-nutrisi-ternak.html (diakses
10 Oktober 2016 13:59).

Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Bassett, J., R.C. Denney, G.H. Jeffery, dan J. Mendham, 1994, Kimia Analisis Kuantitatif
Anorganik, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Champe P C PhD , Harvey R A PhD. 1994. Lippincotts Illustrated Reviews: Biochemistry


2nd. page 171-186.

Day, R.A dan Underwood, A.L., 1986, Analisis Kimia Kuantitatif, Erlangga, Jakarta.

Khopkar, S.M., 2003, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta.

Lehninger A, Nelson D, Cox M M. 1993. Principles of Biochemistry 2nd.

Murray, R K. 2000. Harpers Biochemistry 25th ed. Appleton & Lange. America.

Prawirokusumo, Soeharto, Prof. Dr. M.Sc., 1991, Biokimia Nutrisi dan Vitamin, BPFE,
Yogyakarta.

Stryer L. 1995. Biochemistry 4th. page 603-623.

Underwood, A.L. dan R.A. Day. 1999. Analisa kimia kuantitatif. Edisi ke-5. Erlangga
:Jakarta. Hal 490 542.

Vogel. 1994. Kimia analisis kuantitatif anorganik. Edisi ke-4. Penerbit EGC :Jakarta. Hal.
243 253.