Anda di halaman 1dari 30

Mata Kuliah

PELAPORAN KORPORAT

Materi:

PROPERTI INVESTASI, SEWA, DAN PENURUNAN NILAI

Dosen :

Prof. Dr. Wiwik Utami, Ak, MS, CA

Fakultas/Jurusan

MAGISTER AKUNTANSI

Disusun Oleh :

Anita (55516110042)
Winda Kurnia (55516110046)

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahi RabbiAalamiin, Puji dan syukur kami panjatkan atas

kekhadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehinnga

kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah Pelaporan Korporat ini sebagai salah

satu syarat tugas dalam menempuh semester ini.

Dalam menyusun dan menyelesaikan tugas ini, kami mengucapkan banyak terima

kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah yang

berjudul Properti Investasi, Sewa dan Penurunan Nilai hingga dapat terselesaikan.

Kami menyadari bahwa hasil tugas makalah ini masih jauh dari kesempurnaan.

Oleh karena itu, saran dan kritik yang disampaikan kepada kami sangat berarti sebagai

dorongan semangat dan pembelajaran yang membangun kami untuk lebih baik lagi di

masa depan. Semoga tugas makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca

dan semua pihak yang membutuhkannya. Terima Kasih.

Jakarta, 08 November 2017


Tim Penyusun,

Kelompok 7

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................... 2


DAFTAR ISI .................................................................................................................. 3

1. Properti Investasi (PSAK 13) ....................................................................................... 4

2. Sewa Properti Investasi (PSAK 30) ............................................................................. 9

3. Penurunan Nilai Aset (PSAK 48). .............................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 30

3
PROPERTI INVESTASI, SEWA, DAN PENURUNAN NILAI

1. Properti Investasi (PSAK 13)

1.1 Definisi Properti Investasi

Properti Investasi (investment property) dalam PSAK 13 adalah properti (yaitu,


tanah atau bangunan atau bagian dari bangunan atau keduanya) yang dikuasai untuk
menghasilkan rental atau untuk kenaikan nilai atau keduanya, dan tidak digunakan
dalam bisnis atau untuk dijual dalam kegiatan usaha sehari-hari.

Kriteria properti investasi :

1. Tujuan kepemilikan untuk menghasilkan rental/ atau kenaikan nilai.


2. Status kepemilikan :
a. Properti dimiliki oleh entitas, dan
b. Properti dikuasai oleh penyewa melalui sewa pembiayaan.

Contoh properti investasi :

1. Tanah yang dimiliki untuk kenaikan nilai jangka panjang.


2. Tanah yang dimiliki namun belum belum diputuskan tujuan penggunaannaya di
masa depan.
3. Gedung yang dimiliki dan disewakan ke pihak lain melalui sewa operasi.
4. Gedung yang saat ini kosong namun akan disewakan pada pihak lain.
5. Properti dalam proses konstruksi/ pembangunan atau pengembangan yang
digunakan sebagai properti investasi.

Contoh aset yang bukan properti investasi menurut PSAK 13 :

1. Properti yang digunakan sendiri, termasuk diantaranya properti yang dikuasai untuk
digunakan di masa depan sebagai properti yang digunakan sendiri dan properti
yang digunakan oleh karyawan pemilik properti tersebut.
2. Properti dalam proses konstruksi/ pembangunan atau pengembangan atas nama
pihak ketiga.

4
1.2 Perbedaan Properti Investasi dan Aset tetap

Aset tetap menurut PSAK 16 adalah aset berwujud yang :

1) Dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyedia barang atau jasa, untuk
direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif; dan
2) Diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode.

Perbedaan properti investasi dan aset tetap yaitu :

Properti Investasi Aset Tetap

Tujuan Untuk menghasilkan rental dan/ Digunakan dalam produksi atau


kepemilikan atau kenaikan nilai penyedia barang atau jasa, untuk
direntalkan kepada pihak lain atau
untuk administrasi
Kas yang Menghasilkan kas tidak Menghasilkan kas bergantung pada
dihasilkan bergantung pada aset-aset lain aset yang digunakan dalam
yang dimiliki entitas produksi atau proses penyedia
barang atau jasa
Kas yang dihasilkan dapat
bervariasi jumlahnya
Jasa Pemilik tidak menyediakan Pemilik menyediakan jasa
pendukung jasa pendukung dalam pendukung dalam jumlah
yang jumlah signifikan signifikan
tersedia Pemilik adalah investor pasif Pemilik adalah investor aktif

1.3 Kas yang Dihasilkan dari Pendapat Rental

Properti investasi adalah aset yang mandiri dan dapat menghasilkan rental sendiri
tanpa memerlukan bantuan dari aset-aset lainnya. Berbeda dengan properti yang dicatat
sebagai aset tetap, properti ini dapat menghasilkan pendapatan jika didukung dengan
penggunaan aset-aset lainnya. Contoh :

PT A adalah pemilik dua gedung yang dijadikan hotel. Hotel pertama dikelola
sendiri oleh PT A, sedangkan hotel kedua disewakan kepada PT B yang mengelola
hotel sepenuhnya melalui perjanjian sewa operasi dengan PT A. PT B menyediakan
sendiri perabotan dan peralatan yang dibutuhkan untuk menjalankan hotel ersebut.

5
Kesimpulan :

Gedung yang dimilik dan dikelola sendiri sebagai hotel oleh PT A merupakan aset
tetap karena pendapatan menginap.
Gedung yang disewakan kepada PT B merupaka properti investasi karena aliran kas
yang dihasilkan dari rental gedung

1.4 Nilai Jasa Pendukung yang Disediakan

Jika nilai jasa pendukung signifikan terhadap paket rental secara keseluruhan, maka
properti dicatat sebagai properti investasi. Contoh :

PT C adalah pemilik dari dua gedung kembar yang digunakan untuk menghasilkan
rental. Gedung pertama berfungsi sebagai perkantoran sedangkan gedung kedua sebagai
hotel bintang tiga. PT C menyediakan jasa keamanan dan perawatan/kebersihan untuk
area umum lantai perkantoran. Para penyewa umumnya menyewa untuk periode 1-3
tahun. Lessee menyediakan sendiri perabotan dan interior kantornya namun saat kontrak
sewa habis, kantor harus dikembalikan ke PT C dalam kondisi kosong dan bersih seperti
semula. Gedung yang digunakan sebagai hotel bintang tiga dikelola sendiri oleh PT C.
PT C menyediakan semua perobatan dan peralatan kamar berikut jasa pendukung yang
diperlukan. Kesimpulan:

1. Gedung yang digunakan sebagai perkantoran merupakan properti investasi karena


jasa pendukung yang disediakan nilainya tidak signifikan terhadap paket rental
keseluruhan.
2. Gedung yang digunakan sebagai hotel merupakan aset tetap karena jasa pendukung
yang disediakan nilainya signifikan terhadap paket rental keseluruhan.

Jika suatu properti terdiri atas bagian yang memiliki karakteristik properti investasi
dan bagian lain yang memiliki karakteristik aset tetap maka :

a. Jika dijual terpisah, maka entitas harus mencatatnya masing-masing sebagai


properti investasi dan aset tetap secra terpisah.
b. Jika tidak dijual terpisah, maka properti diklasifikasikan sesuai bagian yang
memiliki proporsi paling besar di antara keduanya

6
1.5 Pengakuan dan Dasar Pengukuran Properti Investasi

PSAK 13 menetapkan properti investasi pada awalnya diukur sebesar biaya


perolehan. Setelah pengakuan awal, entitas harus memilih salah satu dari dua model: (1)
model biaya; atau (2) model nilai wajar sebagai kebijakan akuntansinya dan harus
menetapkan kebijakan tersebut untuk seluruh properti investasi yang dimiliki, kecuali:

1. Property held under operating lease classified as investment properties, entitas


harus menggunakan model nilai wajar.
2. Investment property backing liabilities that pay a returt linked derectly to the fair
value of, or returns from specific assets including that investment property, entitas
dapat memilih model biaya atau model nilai wajar.
3. Investment property with a fair value that cannot be reabily determinable on a
continuing basis, entitas harus menggunkan model biaya

Entitas tidak diperkenankan untuk berganti dari model wajar ke model biaya.

1.6 Penentuan Biaya Perolehan Awal

Biaya perolehan awal dari properti investasi yang dibeli meliputi harga pembelian
dan pengeluaran secara langsung
Ketika harga tidak diketahui atau tidak dibayar tunai, harga pembelian ditentukan
setara harga tunai.
Biaya perolehan awal dari properti investasi dibangun sendiri ,eliputi bahan
mentah, biaya buruh dan overhead pabrik yang dialokasikan untuk aset tertentu.
Biaya pinjaman selama pembangunan dicata sebagai beban atau biaya perolehan
aset.
Biaya perintisan, biaya pra-produksi, beban administrasi, dan beban overhead
umumnya tidak dimasukkan dalam biaya properti investasi.
Ketika properti investasi diperoleh dalam pertukaran aset lainnya, biaya perolehan
diukur pada nilai wajar.

7
1.7 Model Biaya

Jika setelah pengakuan awal entitas memilih model biaya, maka seluruh properti
investasi harus diukur dengan biaya perolehan sesuai dengan PSAK 16: Aset Tetap.
Dengan demikian, properti investasi akan disusutkan dan menjadi subjek uji penurunan
nilai (impairment test) sesuai dengan ketentuan PSAK 48: Penurunan Nilai Aset.
Sebagai tambahan dari pengungkapan yang disyaratkan, entitas yang menerapkan
model biaya mengungkapkan :
a. Metode penyusutan yang digunakan;
b. Umur manfaat atau tarif penyusutan yang digunakan;
c. Jumlah tercatat bruto dan akumulasi penyusutan (agregat dengan akumulasi rugi
penurunan nilai) pada awal dan akhir periode;
d. Rekonsiliasi jumlah tercatat properti investasi pada awal dan akhir periode, yang
menunjukkan :
- Penambahan, pengungkapan terpisah untuk penambahan yang dihasilkan dari
akuisisi dan penambahan pengeluaran setelah perolehan yang diakui sebagai
aset.
- Penambahan yang dihasilkan dari akuisisi melalui penggabungan usaha; - Aset
yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual atau masuk dalam kelompok
lepasan yang diklasifikasi sebagai dimiliki untuk dijual.
- Penyusutan.
- Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui, dan jumlah pemulihan rugi penurunan
nilai, selama satu periode.
- Perbedaan nilai tukar neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan dari
mata uang fungsional menjadi mata uang penyajian yang berbeda, termasuk
penjabaran dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang penyajian dari
entitas pelapor.
- Transfer ke dan dari persediaan dan properti yang digunakan sendiri.
- Perubahan lain.
e. Nilai wajar properti investasi. Dalam kasus yang dikecualikan, jika entitas tidak
dapat menentukan nilai wajar properti investasi secara andal, entitas
mengungkapkan:
- Uraian properti investasi;

8
- Penjelasan mengapa nilai wajar tidak dapat ditentukan secara andal; dan
- Apabila mungkin, rentang estimasi di mana nilai wajar kemungkinan besar
berada.

1.8 Model Nilai Wajar

Entitas yang menerapkan model nilai wajar mengungkapkan rekonsiliasi antara


jumlah tercatat properti investasi pada awal dan akhir periode, yang menunjukkan hal-
hal berikut:
a. Penambahan, pengungkapan terpisah untuk penambahan yang dihasilkan dari
akuisisi dan penambahan yang dihasilkan dari pengeluaran setelah perolehan yang
diakui dalam jumlah tercatat aset.
b. Penambahan yang dihasilkan dari akuisisi melalui penggabungan usaha.
c. Aset yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual atau masuk dalam
kelompok aset lepasan yang diklasifikasikan sebagai dimiliki untuk dijual.
d. Keuntungan atau kerugian neto dari penyesuaian terhadap nilai wajar.
e. Perbedaan nilai tukar neto yang timbul pada penjabaran laporan keuangan dari mata
uang fungsional menjadi mata uang penyajian yang berbeda, termasuk penjabaran
dari kegiatan usaha luar negeri menjadi mata uang penyajian dari entitas pelapor.
f. Transfer ke dan dari persediaan dan properti yang digunakan sendiri.
g. Perubahan lain

2. Sewa Properti Investasi (PSAK 30)


2.1 Definisi Sewa Properti Investasi
Sewa adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan kepada lessee hak untuk
menggunakan suatu aset selama periode waktu yang disepakati. Sebagai imbalannya,
lessee melakukan pembayaran atau serangkaian pembayaran kepada lessor.
Awal Sewa (Inception of the lease) adalah tanggal yang lebih awal antara tanggal
perjanjian sewa dan tanggal pihak-pihak menyatakan komitmen terhadap ketentuan-
ketentuan pokok sewa. Pada tanggal ini:
a. Sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi atau sewa pembiayaan
b. Untuk sewa pembiayaan , jumlah yang diakui pada awal masa sewa ditentukan.

9
Awal Masa Sewa (commencement of the lease term) adalah tanggal saat lessee
mulai berhak untuk menggunakan aset sewaan. Tanggal ini merupakan tanggal pertama
kali sewa diakui (yaitu pengakuan aset, kewajiban, penghasilan atau beban sewa).
Sewa pembiayaan adalah sewa yang mengalihkan secara substansial seluruh resiko
dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan suatu aset. Hak milik pada akhirnya dapat
dialihkan, dapat juga tidak dialihkan. Sedangkan sewa operasi adalah sewa yang tidak
mengalihkan secara substansial seluruh resiko dan manfaat yang terkait dengan
kepemilikan suatu aset.
Klasifikasi sewa sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi didasarkan
substansial transaksi bukan pada bentuk kontraknya. Contohnya dari situasi yang secara
individual atau gabungan pada umumnya mengarah pada sewa yang diklasifikasikan
sebagai sewa pembiayaan adalah :
a. Sewa mengalihkan kepemilikan aset kepada lessee pada akhir masa sewa.
b. Lessee memiliki cukup opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup rendah
dibandingkan nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan, sehingga
pada awal sewa dapat dipastikan bahwa opsi dilaksanakan.
c. Masa sewa adalah untuk sebagian besar umur ekonomik aset meskipun hak milik
tidak dialihkan.
d. Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara
substansial mendekati nilai wajar aset sewaan.
e. Aset sewaaan bersifat khusus dan hanya lessee yang dapat menggunakannya tanpa
perlu modifikasi secara material.

Contoh :

1. PT XYZ menyewa mobil selama 5 tahun. Masa manfaat mobil tersebut adalah 7
tahun. PT XYZ diberikan opsi untuk membeli mobil tersebut pada akhir masa sewa
seharga 50% dari nilai pasar mobil ditambah 0.5% dari nilai pasar mobil pada
tanggal opsi dilaksanakan. Nilai pembayaran tersebut adalah untuk menutup biaya
penjualan mobil.
Kesimpulan:
Sewa Pembiayaan, karena terdapat opsi untuk membeli aset tersebut pada harga
yang cukup rendah dibandingkan nilai wajar.

10
2. Pada tanggal 1 Januari 2009, PT ABC menyewakan sebuah peralatan kepada PT
XYZ. Peralatan tersebut dibeli seharga $ 20,000 (Nilai wajar peralatan).
Perjanjian sewa mengandung klausul klausul berikut ini:
- Masa Sewa 8 tahun
- Pembayaran tahunan setiap tanggal 1/1 setiap tahunnya sebesar $ 4,500
- Masa manfaat peralatan adalah 10 tahun
- Estimasi nilai sisa pada akhir masa sewa adalah $ 3,000
Sewa ini bisa dibatalkan, dan PT XYZ akan dikenakan penalti yang tidak
signifikan. PT XYZ akan mengembalikan peralatan kepada PT ABC pada akhir
masa sewa. PV dari pembayaran sewa minimum (dihitung dengan
menggunakan tingkat bunga implisit 11.65%) adalah sebesar $ 18,271.
Kesimpulan:
Sewa diklasifikasikan sebagai Sewa Operasi.

2.2. Sewa Tanah dan Bangunan


Dalam perjanjian sewa mengandung elemen tanah dan bangunan diklasifikasikan
sebagai sewa pembiayaan atau sewa operasi yang diatur tersendiri. Dalam menentukan
klasifikasi pada umumnya tanah memiliki umur ekonomik yang tidak
terbatas.Pembayaran sewa dialokasikan antara elemen tanah dan bangunan secara
proporsional sesuai nilai wajar relatif bagian perjanjian sewa pada awal kontrak.
Apabila tidak dapat dialokasikan, seluruh sewa diklasifikasikan sebagai sewa
pembiayaan kecuali sangat jelas bahwa kedua elemen tersebut adalah sewa operasi. Bila
demikian maka seluruh sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi.
Tanah dianggap tidak material, maka tanah dan bangunan dapat diakui sebagai unit
tunggal untuk tujuan klasifikasi sewa dan diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan
atau sewa operasi. Umur ekonomik bangunan dianggap sebagai umur ekonomik seluruh
aset sewaan. Pengukuran elemen tanah dan bangunan secara terpisah tidak diperlukan
apabila bagian lessee atas tanah dan bangunan diklasifikasikan sebagai properti
investasi PSAK 13 dan metode nilai wajar diadopsi. Apabila pengklasifikasian tidak
jelas, maka perlu dibuat suatu perhitungan secara rinci untuk penilaian ini.

11
2.3 Sewa Pembiayaan
Dalam sewa pembiayaan properti investasi, prosedur akuntansi adalah sebagai
berikut:
1. Aset sewaan diperlakukan seolah-olah aset itu telah dijual kepada lessee. Aset
tersebut dicatat sebagai aset di pembukuaan lessee.
2. Fasilitas pembiayaan terkait dicatat sebagai liabilitas (utang sewa) di pembukuan
leesee dan sebagai aset (piutang sewa) di pembukuan lessor.

Sewa Pembiayaan dalam Laporan Keuangan Lessee


1. Pengakuan Awal
Pada awal masa sewa, lesse mengakui sewa pembiayaan sebagai aset dan liabilitas
dalam lapora posisi keuangan sebesar nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari
pembayaran sewa minimum, jika nilai kini lebih rendah dari nilai wajar. Penilaian
ditentukan pada awal kontrak sewa. Tingkat diskonto yang digunakan dalam
perhitungan nilai kini dari pembayaran sewa minimun adalah tingkat suku bunga
implisit dalam sewa. Jika tidak, digunakan tingkat suku bunga pinjaman inkremental
lessee. Biaya langsung awal yang dikeluarkan lessee ditambahkan ke dalam jumlah
yang diakui sebagai aset.
2. Pengukuran setelah Pengakuan Awal
Pembayaran sewa minimun dipisahkan antara bagian yang merupakan beban
keuangan dan bagian yang merupakan pelunasan liabilitas. Beban keuangan
dialokasikan ke setiap periode selama masa sewa sedemikian rupa sehingga
menghasilkan suatu tingkat suku bunga periodik konstan atas saldo liabilitas. Rental
kontijen dibebankan pada periode terjadinya. Suatu sewa pembiayaan menimbulkan
beban penyusutan untuk aset yang dapat disusutkan dan beban keuangan disetiap
periode akuntansi. Kebijakan penyusutan untuk aset sewaan konsisten dengan aset yang
dimiliki sendiri, dan perhitungan penyusutan yang diakui dalam PSAK 16 Aset Tetap
dan PSAK 19 Aset Tak Berwujud. Jika tidak ada kepastian yang memadai bahwa lessee
akan mendapatkan hak kepemilikan pada akhir masa sewa, aset sewaan disusutkan
secara penuh selama jangka waktu yang lebih pendek antara periode masa sewa dan
umur manfaatnya.
3. Pengungkapan

12
Dalam laporan keuangan lesse harus mengungkapkan hal-hal yang berkaitan
dengan sewa pembiayaan:
a. Jumlah neto tercatat untuk setiap kelompok aset pada tanggal pelaporan.
b. Rekonsiliasi antara total pembayaran sewa minimum di masa depan pada tanggal
pelaporan, dengan nilai kininya. Selain itu, entitas mengungkapkan total pembayaran
sewa minimum di masa depan pada tanggal pelaporan, dan nilai kininya, untuk setiap
periode berikut;
- Sampai dengan satu tahun.
- Lebih dari satu tahun sampai lima tahun.
- Lebih dari lima tahun
c. Rental kontijen yang diakui sebagai beban pada periode tersebut.
d. Total perkiraan penerimaan pembayaran minimum sewa lanjut di masa depan dari
kontrak sewa lanjut yang tidak dapat dibatalkan.
e. Penjelasan umum isi perjanjian sewa yang material yang meliputi, tetapi tidak
terbatas pada, hal berikut ;
- Dasar penentuan utang rental kontijen.
- Ada tidaknya klausul-klausul yang berkaitan dengan opsi perpanjangan atau
pembelian dan ekskalasi beserta syarat-syaratnya.
- Pembatasan-pembatasan yang ditetapkan dalam perjanjian sewa, misalnya yang
terkait dengan deviden, tambahan hutang dan sewa-lanjut.

Sewa Pembiayaan dalam Laporan Keuangan Lessor


1. Pengakuan Awal
Dalam sewa pembiayaan, lessor mengakui aset berupa piutang sewa pembiayaan di
laporan posisi keuangan sebesar jumlah yang sama dengan investasi sewa neto tersebut.
Pada hakikatnya dalam sewa pembiayaan semua resiko dan manfaat yang terkait dengan
kepemilikan legal dialihkan dari lessor ke lessee, dan dengan demikian penerimaan
piutang sewa diperlakukan oleh lessor sebagai pembayaran pokok dan penghasilan dan
penghasilan pembiayaan yang diterima lessor sebagai penggantian dan imbalan atas
investasi dan jasanya.
Lessor sering mengeluarkan biaya langsung awal meliputi antara lain komisi, biaya
legal dan biaya internal yang inkremental dan dapat diatribusikan langsung dengan

13
proses negosiasi dan pengaturan suatu sewa. Biaya langsung awal tidak termasuk biaya
umum seperti lazimnya dikeluarkan oleh tim penjualan dan pemasaran. Untuk sewa
pembiayaan, selain melibatkan lessor pabrikan atau dealer, biaya langsung awal
diperhitungkan sebagai bagian dari pengukuran awal piutang sewa pembiayaan dan
mengurangi penghasilan yang diakui selama masa sewa. Tingkat bunga implisit dalam
masa sewa ditentukan sedemikian rupa sehingga biaya langsung awal secara otomatis
sudah termasuk di dalam piutang sewa pembiayaan, sehingga tidak diperlukan
penjumlahan terpisah. Biaya yang dikeluarkan oleh lessor pabrikan atau dealer yang
terkait dengan negoisasi dan pengaturan suatu sewa tidak termasuk biaya awal. Dengan
demikian, biaya tersebut tidak termasuk dalam investasi sewa neto dan diakui sebagai
beban ketika laba penjualan diakui, dimana sewa untuk sewa pembiayaan umumnya
diakui pada awal masa sewa.
2. Pengukuran setelah Pengakuan Awal
Pengakuan penghasilan pembiayaan diakui berdasarkan suatu pola yang
mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang konstan atas investasi bersih
lessor dalam sewa pembiayaan. Lessor mengalokasikan penghasilan pembiayaan
selama masa sewa dengan dasar sistematis dan rasional. Alokasi penghasilan ini
didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik
yang konstan atas investasi bersih lessor dalam sewa pembiayaan. Pembayaaran sewa
dalam suatu periode, diluar biaya jasa, diterapkan atas investasi sewa bruto untuk
mengurangi pokok dan penghasilan pembiayaan tangguhan.
Lessor pabrikan dan dealer mengakui laba atau rugi atas penjualan pada periode
sesuai kebijakan entitas atas penjualan biasa. Jika tingkat bunga ditentukan secara
artifisial terlalu rendah, laba penjualan dibatasi sebesar laba apabila menggunakan
tingkat bunga pasar. Biaya yang dikeluarkan oleh lessor pabrikan atau dealer
sehubungan dengan negosiasi dan pengaturan sewa diakui sebagai beban ketika laba
penjualan diakui.
3. Pengungkapan
Dalam sewa pembiayaan selain PSAK 60 Instrumen Keuangan:Pengungkapan
lessor mengungkapkan hal-hal berikut :
a. Rekonsiliasi antara investasi sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa
minimum pada tanggal pelaporan. Disamping itu, lessor mengungkapkan investasi

14
sewa bruto dan nilai kini piutang pembayaran sewa minimum pada tanggal
pelaporan, untuk setiap periode berikut :
- Kurang dari satu tahun.
- Lebih dari satu tahun sampai lima tahun.
- Lebih dari lima tahun.
b. Penghasilan pembiayaan tangguhan. c. Nilai residu tidak dijamin yang diakui
sebagai manfaat lessor.
c. Akumulasi penyisihan piutang tidak tertagih atas pembayaran sewa minimum.
d. Rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan.
e. Penjelasan umum isi perjanjian sewa lessor yang material.

2.4 Sewa Operasi


Sewa Operasi adalah sewa selain sewa pembiayaan. Perusahaan harus mencatat
suatu sewa sebagai sewa operasi apabila sewa tersebut tidak memenuhi klasifikasi
sebagai sewa pembiayaan.
Sewa Operasi dalam Laporan Keungan Lessee
1. Pengakuan
Pembayaran dalam sewa operasi diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus
selama masa sewa kecuali terdapat dasar sistematis lain yang dapat lebih mencermin
pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati pengguna. Dalam sewa operasi,
pembayaran sewa (tidak termasuk biaya jasa seperti biaya asuransi dan pemeliharaan)
diakui sebagai beban dengan dasar garis lurus kecuali terdapat dasar sistematis lain yang
lebih mencerminkan pola waktu dari manfaat yang dinikmati pengguna, walaupun
pembayaran dilakukan tidak atas dasar tersebut.
2. Pengungkapan
Untuk sewa operasi dalam laporan keuangan lessee mengungkapkan selain yang
disyaratkan dalam PSAK 60 Instrumen Keuangan:Pengungkapan;
a. Total pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi yang tidak
dapat dibatalkan untuk setiap periode berikut:
- Sampai dengan satu tahun.
- Lebih dari satu tahun sampai dengan lima tahun.
- Lebih dari lima tahun.

15
b. Total perkiraan penerimaan pembayaran minimum sewa-lanjut di masa depan dari
kontrak sewa-lanjut yang tidak dapat dibatalkan pada tanggal pelaporan.
c. Pembayaran sewa dan sewa-lanjut yang diakui sebagai beban periode berjalan,
dengan pengungkapan terpisah untuk masing-masing jumlah pembayaran minimum
sewa, rental kontijen dan pembayaran sewa-lanjut.
d. Penjelasan umum perjanjian sewa lessee yang signifikan, yang meliputi, namun
tidak terbatas pada :
- Dasar penentuan utang rental kontijen.
- Eksistensi dan persyaratan untuk memperbarui kembali perjanjian sewa atau
adanya opsi pembelian dan klausul eskalasi, dan
- Pembatasan yang ada dalam perjanjian sewa, seperti pembatasan dividen, utang
tambahan dan sewa lanjutan.
Sewa Operasi dalam Laporan Keuangan Lessor
1. Pengakuan
Lessor menyajikan aset untuk sewa operasi di laporan posisi keuangan sesuai sifat
aset tersebut. Pendapatan sewa dari sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan
dasar garis lurus selama masa sewa, kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih
mencerminkan pola waktu dimana manfaat penggunaan aset sewaan menurun.
Biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor dalam proses negoisasi dan
pengaturan sewa operasi ditambahkan ke jumlah tercatat aset sewaan dan diakui sebagai
beban selama masa sewa dengan dasar yang sama dengan pendapatan sewa. Kebijakan
penyusutan untuk aset sewaan harus konsisten dengan kebijakan penyusutan normal
untuk aset sejenis, dan penyusutan dihitung sesuai PSAK 16:Aset Tetap dan PSAK
19:Aset Tak Berwujud.
2. Pengungkapan
Selain mengungkapkan hal yang dipersyaratkan dalam PSAK 60 Instrumen
Keuangan:Pengungkapan, lessor mengungkapkan hal berikut untuk sewa operasi:
a. Jumlah agregat pembayaran sewa minimum di masa depan dalam sewa operasi
yang tidak dapat dibatalkan untuk setiap periode berikut:
- Sampai dengan satu tahun.
- Lebih dari satu tahun sampai lima tahun.
- Lebih dari lima tahun.

16
- Total rental kontijen yang diakui sebagai penghasilan dalam periode berjalan.
- Penjelasan umum isi perjanjian lessor.
-

2.5 Transaksi Jual dan Sewa Balik

Transaksi jual dan sewa balik meliputi penjualan suatu aset dan penyewaan kembali
aset yang sama. Pembayaran sewa dan harga jual biasanya saling terkait karena
keduanya dinegosiasikan sebagai satu paket. Perlakuan akuntansi untuk transaksi jual
dan sewa balik tergantung pada jenis sewanya. Jika suatu transaksi jual dan sewa balik
merupakan sewa pembiayaan, selisih antara lebih hasil penjualan dari jumlah tercatat
tidak dapat diakui segera sebagai pendapatan oleh penjual-lessee, tetapi ditangguhkan
dan diamortisasi selama masa sewa.

Jika sewa balik adalah sewa pembiayaan, transaksi tersebut merupakan suatu cara
dimana lessor memberikan pembiayaan pada lessee dengan aset sebagai jaminan.
Karenanya tidak tepat jika selisih lebih hasil penjualan lebih tercatat diakui sebagai
penghasilan. Selisih lebih tersebut ditangguhkan dan diamortasasi selama sewa. Jika
transaksi jual dan sewa balik merupakan sewa operasi dan jelas bahwa transaksi tersebut
terjadi pada nilai wajar, maka laba rugi diakui segera, kecuali rugi tersebut
dikompensasikan dengan pembayaran sewa dimasa depan yang lebih rendah dari harga
pasar, maka rugi tersebut harus ditangguhkan dan diamortisasi secara proporsional
dengan pembayaran sewa selama periode penggunaan aset. Jika harga jual di atas nilai
wajar, selisih lebih dari nilai wajar tersebut ditangguhkan dan diamortisasi selama
periode penggunaan aset.

Untuk sewa operasi, jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa balik
lebih rendah dari pada jumlah tercatatnya, rugi sebesar selisih antara jumlah tercatat dan
nilai wajar diakui segera. Sedangkan untuk sewa pembiayaan, penyesuaian seperti
diatas tidak diperlukan kecuali jika terjadi penurunan nilai. Dalam hal tersebut, jumlah
tercatat berkurang menjadi jumlah terpulihkan sesuai dengan PSAK 48 : Penurunan
Nilai Aset.

17
3. Penurunan Nilai Aset (PSAK 48)

3.1 Definis Penurunan Nilai Aset

Penurunan nilai aset adalah suatu kondisi dimana nilai tercatat dari aset melebihi
jumlah terpulihkan. Nilai terpulihkan adalah nilai yang lebih tinggi antara nilai wajar
dikurangi dengan biaya penjualan dan nilai pakai. Kerugian penurunan nilai merupakan
selisih antara nilai tercatat dikurangi dengan nilai terpulihkan. Kerugian tersebut diakui
dalam laporan laba rugi pada saat terjadinya. Aset dikatakan melebihi jumlah
terpulihkan jika jumlah tercatat aset melebihi jumlah yang akan dipulihkan melalui:

- penggunaan atau
- penjualan aset.
Dalam penurunan nilai, yang dipilih adalah nilai tertinggi antara nilai yang dapat
diperoleh kembali dengan nilai yang digunakan. Sebagai ilustrasi suatu kendaraan nilai
tercatatnya 400 juta, nilai jual dikurangi biaya penjualan 350 juta dan nilai pakainya 300
juta. Manajer akan memilih menjual aset tersebut dengan harga 350 juta daripada terus
memakainya, karena nilai pakai aset tersebut hanya 300 juta. Namun jika nilai pakainya
370 juta dan nilai jual dikurangi biaya penjualan 310 juta, maka manajer akan memilih
terus menggunakan aset tersebut sampai akhir masa manfaatnya.
Secara periodik perusahaan perusahaan harus mereview ada atau tidaknya indikasi
penurunan nilai pada akhir periode. Jika terdapat indikasi, maka perusahaan harus
menaksir jumlah terpulihkan dari aset tersebut. Terlepas apakah terdapat indikasi
penurunan nilai entitas harus minimal setahun sekalimelakukan pengujian penurunan
nilai (impairment test) pada aset tidak berwujud dengan masa manfaat tidak terbatas,
aset tidak berwujud yang belum digunakan dan goodwill yang diperoleh dalam
kombinasi bisnis. Ada beberapa indikasi penurunan nilai dari dalam maupun luar
perusahaan, yaitu:
1. Informasi dari luar perusahaan
- Selama periode tertentu, nilai pasar aset telah menurun secara signifikan
melebihi pemakaian normal.
- Selama periode tertentu telah atau akan terjadi perubahan memburuk dalam hal
teknologi, pasar, kondisi ekonomi, hukum atau dalam pasar produk atau jasa
yang dihasilkan oleh aset tersebut.

18
- Selama periode tertentu, suku bunga pasar dari investasi telah meningkat
sehingga akan menurunkan jumlah terpulihkan dari aset secara material.
- Jumlah tercatat aset neto entitas melebihi kapitalisasi pasarnya.
2. Informasi dari dalam perusahaan
- Keusangan atau kerusakan.
- Perubahan signifikan dengan cara penggunaan aset.
- Kinerja ekonomi suatu aset memburuk.
- Untuk suatu investasi dalam entitas anak, entitas asosiasi dan pengendalian
bersama entitas yang disajikan dalam laporan keuangan terpisah berdasarkan
metode biaya, investor mengakui deviden dari investasi dan terdapat bukti
bahwa deviden melebihi total laba komprehensif entitas anak dan entitas yang
dikendalikan bersama dalam periode deviden diumumkan.

3.2 Penurunan Nilai Properti Investasi yang Menggunakan Model Biaya


Uji penurunan nilai aset untuk properti investasi yang diukur menggunakan model
baiaya mengikuti PSAK 48: Penurunan Nilai Aset dengan ketentuan umum sebagai
berikut:
1. Jika jumlah terpulihkan (recoverable amount) aset lebih kecil dari nilai tercatat
(carrying amount)-nya, maka nilai tercata aset harus diturunkan menjadi sebesar
nilai terpulihkan, dan kerugian penurunan nilai harus segera diakui (paragraf 59).
2. Jumlah terpulihkan adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar dikurangi
biaya pelepasan (fair value less cost of disposal dengan nilai pakai (value in use).
Jumlah terpulihkan dari setiap aset harus ditaksir secara individual atau sebagai unit
penghasil kas (cash generating unit) di mana aset tersebut berada atau tercakup di
dalamnya.
3. Nilai wajar dikurangi biaya pelepasan adalah harga yang akan diterima untuk
menjual aset atau harga yang akan dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas
dalam transaksi teratur antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran, dikurangi
biaya pelepasan aset.
4. Nilai pakai adalah nilai kini dari taksiran arus kas yang diharapkan akan diterima
dari aset atau unit penghasil kas. Estimasi arus kas masa depan mencakup:
a. Proyeksi arus kas masuk dari penggunaan aset,

19
b. Proyeksi arus kas keluar yang diperlukan untuk menghasilkan arus kas masuk,
dan
c. Arus kas bersih, jika ada, yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk
menghentikan penggunaan aset pada akhir masa manfaatnya.
5. Setelah kerugian penurunan nilai diakui, beban penyusutan aset untuk periode yang
akan datang dihitung berdasarkan nilai tercatat yang telah direvisi.

3.3 Prosedur Penurunan

Nilai Pengujian adanya indikasi penurunan nilai merupakan tahapan awal dalam
menentukan penurunan nilai. Jika tidak ada indikasi, maka aset tidak mengalami
penurunan nilai sehingga tidak perlu melakukan pengukuran penurunan nilai. Namun
jika aset tersebut memiliki indikasi penurunan nilai, maka dalam pengukuran penurunan
nilai dapat dipastikan bahwa nilai tercatat lebih tinggi dari pada nilai terpulihkan.

Langkah kedua setelah ditemukan indikasi penurunan nilai adalah menentukan nilai
terpulihkan. Entitas harus menghitung nilai wajar aset dan biaya penjualan aset dan nilai
pakai aset. Kedua nilai tersebut tidak harus tersedia semuanya. Jika salah satu nilai
tersebut lebih besar dari nilai tercatat, maka tidak perlu dilakukan proses penurunan
nilai berikutnya. Artinya nilai terpulihkan akan menghasilkan nilai yang lebih tinggi
dari nilai tercatat sehingga tidak terjadi penurunan nilai. Dalam kondisi lain, nilai pasar
aset sulit dilakukan karena tidak ada dasar untuk menentukan nilai pasar. Entitas dapat
menggunakan pakai sebagai nilai terpulihkan. Namun sebaliknya jika entitas tidak
meyakini nilai pakai aset, maka nilai wajar dikurangi biaya penjualan digunakan sebagai
nilai terpulihkan.

Langkah ketiga adalah menentukan apakah aset mengalami penurunan nilai atau
tidak dengan membandingkan nilai tercatat dengan nilai terpulihkan. Jika nilai tercatat
lebih rendah dari nilai terpulihkan, aset tidak mengalami penurunan nilai. Entitas akan
mengakui penurunan nilai sebesar selisih nilai tercatat dengan nilai pakai. Aset akan
disesuaikan/diturunkan nilainya sebesar nilai pakai. Kerugian penurunan nilai disajikan
dalam laporan laba rugi periode berjalan. Entitas harus mengungkapkan aset yang
mengalami penurunan nilai dalam catatan atas laporan keuangan.

20
3.4 Pengukuran Jumlah Terpulihkan

Jumlah terpulihkan suatu aset adalah jumlah yang lebih tinggi antara Fair Value
Less Costs to Sell dan nilai pakai (Value in Use). Nilai pakai (Value in Use) adalah nilai
sekarang dari taksiran arus kas yang diharapkan akan diterima atau unit penghasil kas
sedangkan Fair Value Less Costs to Sell adalah jumlah yang dapat dihasilkan dari
penjualan suatu aset atau unit penghasil kas dalam transaksi antara pihak-pihak yang
mengerti dan berkehendak bebas tanpa tekanan, dikurangi biaya pelepasan aset.

1. Nilai wajar dikurangi biaya pelepasan

a. Bukti terbaik. Harga dalam suatu perjanjian penjualan yang mengikat yang
dibuat dalam suatu transaksi antara pihak-pihak yang independen, disesuaikan
dengan biaya tambahan yang dapat dikaitkan secara langsung dengan pelepasan
aset.
b. Apabila tidak terdapat perjanjian penjualan yang mengikat namun aset
diperdagangkan di pasar aktif. Berdasarkan harga pasar aset dikurangi biaya
pelepasan aset tersebut.
c. Apabila tidak terdapat perjanjian penjualan yang mengikat dan tidak ada pasar
aktif untuk aset. Berdasarkan pada informasi terbaik yang ada untuk
menggambarkan jumlah yang dapat diperoleh entitas, pada akhir periode
pelaporan, dari pelepasan aset pada nilai wajar dikurangi biaya pelepasan.
2. Nilai pakai Hal-hal yang dipertimbangkan dalam penghitungan nilai pakai aset:
a. Estimasi arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan diperoleh dari aset.
b. Ekspektasi mengenai kemungkinan variasi dari jumlah atau waktu arus kas masa
depan tersebut.
c. Nilai waktu uang, diwakili oleh suku bunga pasar bebas risiko yang berlaku.
d. Harga untuk menanggung ketidakpastian yang melekat pada aset.
e. Faktor-faktor lain, seperti likuiditas, yang akan dipertimbangkan oleh pelaku
pasar dalam menilai arus kas masa depan yang diharapkan entitas akan diperoleh
dari aset tersebut.

21
Pengestimasian nilai pakai meliputi langkah-langkah berikut :
1. Mengestimasi arus kas masuk dan arus kas keluar di masa depan dari pemakaian
aset tersebut dan pelepasannya pada akhirnya. Dalam mengukur nilai pakai, suatu
entitas harus yaitu:
a. Mendasarkan proyeksi arus kas pada asumsi-asumsi yang memadai dan
terdukungkan yang mencerminkan estimasi terbaik manajeman mengenai
rentang kemungkinan-kemungkinan kondisi ekonomi yang akan terjadi selama
masa manfaat aset. Bukti eksternal diberi bobot yang lebih tinggi.
b. Mendasarkan proyeksi arus kas pada anggaran atau prakiraan keuangan terkini
yang disetujui manajemen, tetapi harus mengeluarkan unsur estimasi arus kas
masuk atau arus kas keluar yang berkaitan dengan restrukturisasi masa depan
atau perbaikan maupun peningkatan kinerja aset. Proyeksi berdasarkan anggaran
atau prakiraan keuangan tersebut harus meliputi jangka waktu maksimum lima
tahun, kecuali jika penggunaan waktu yang lebih panjang dapat dijustifikasi.
c. Mengestimasi proyeksi arus kas yang melewati periode yang tercakup dalam
anggaran atau prakiraan terkini dengan mengekstrapolasi proyeksi yang
didasarkan pada anggaran atau prakiraan tersebut dengan menggunakan tingkat
pertumbuhan tetap atau menurun untuk tahun-tahun berikutnya, kecuali jika
peningkatan tingkat pertumbuhan dapat dijustifikasi. Tingkat pertumbuhan ini
tidak boleh melebihi tingkat pertumbuhan rata-rata jangka panjang suatu produk,
industri, negara atau negara-negara tempat entitas beroperasi, atau untuk pasar
tempat aset digunakan, kecuali tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi dapat
dijustifikasi.

Estimasi arus kas di masa depan meliputi:


a. Proyeksi arus kas masuk dari penggunaan aset.
b. Proyeksi arus kas keluar yang diperlukan untuk menghasilkan arus kas masuk
dari penggunaan aset (termasuk arus kas keluar untuk menyiapkan aset agar
dapat digunakan) dan dapat dikaitkan secara langsung, atau dialokasikan dengan
dasar yang layak dan konsisten pada aset.
c. Arus kas neto, jika ada, yang akan diterima (atau dibayarkan) untuk pelepasan
aset pada akhir masa manfaatnya.

22
Hambatan dalam memproyeksi arus kas:

- Didasarkan pada asumsi yang masuk akal dan didukung oleh fakta atau teori.
- Didasarkan pada anggaran keuangan yang terbaru dan telah disahkan oleh
manajemen.
- Tidak memasukkan komponen arus kas masa depan yang berasal dari
restrukturisasi.
- Pendasaran kepada anggaran hanya meliputi periode 5 tahun, kecuali jika
periode yang lebih lama dapat dijustifikasi.
- Periode setelah anggaran hanya dapat menggunakan tingkat yang tetap atau
menurun, kecuali jika tingkat yang naik dapat dijustifikasi.
- Tingkat pertumbuhan yang digunakan dalam proyeksi ekstrapolasi tidak dapat
melebihi rata-rata jangka panjang pertumbuhan untuk produk, industri, atau
negara tempat entitas beroperasi atau pasar dimana aset tersebut digunakan,
kecuali jika tingkat yang lebih tinggi dapat dijustifikasi.

Untuk estimasi arus kas depan valuta asing, arus kas masa depan diestimasi dalam
satuan mata uang ketika akan dihasilkan dan kemudian didiskonto menggunakan suatu
tingkat diskonto yang tepat untuk satuan mata uang tersebut. Entitas mentranslasikan
nilai sekarang dengan menggunakan tingkat pertukaran spot pada tanggal penghitungan
nilai pakai.

2. Menerapkan tingkat diskonto yang tepat atas arus kas masa depan tersebut. Dasar
penetapan tingkat diskonto adalah tingkat diskonto sebelum pajak yang
menggambarkan penilaian pasar kini dari nilai waktu uang dan risiko spesifik atas
aset dimana estimasi arus kas masa depan belum disesuaikan. Tingkat diskon ini
adalah tingkat pengembalian yang disyaratkan investor jika seandainya mereka
hendak memilih suatu investasi yang menghasilkan arus kas dengan jumlah, waktu
dan profil risiko yang sama dengan yang entitas harapkan akan dihasilkan dari aset
tersebut. Tingkat diskonto ini diestimasi dari salah satu:

23
Tingkat diskonto implisit pada transaksi pasar kini terhadap aset sejenis atau,
Rata-rata tertimbang biaya modal entitas yang tercatat di bursa efek yang
memiliki aset sejenis.

3.5 Pengakuan

Rugi penurunan nilai diakui jika, dan hanya jika, nilai terpulihkan aset lebih kecil
dari nilai tercatatnya, nilai tecatat aset diturunkan menjadi sebesar nilai terpulihkan.
Penurunan tersebut adalah rugi penurunan nilai. Rugi penurunan nilai segera diakui
dalam laporan laba rugi, kecuali aset disajikan pada jumlah direvaluasi sesuai dengan
Pernyataan lain seperti model revaluasi pada PSAK 16 Aset Tetap.

Setiap rugi penurunan nilai aset revaluasian diperlakukan sebagai penurunan


revaluasi sesuai diakui dalam pendapatan komprehensif lain, sepanjang kerugian
penurunan nilai tidak melebihi jumlah surplus revaluasi untuk aset yang sama dan rugi
penurunan nilai atas aset revaluasian mengurangi surplus revaluasi untuk aset tersebut.

Unit Penghasil Kas (UPK)

Unit penghasil kas adalah adalah kelompok terkecil aset teridentifikasikan yang
menghasilkan arus kas masuk yang sebagian besar independen dari arus kas masuk dari
aset atau kelompok aset lain. Jumlah terpulihkan dari aset individual tidak dapat
ditentukan jika:

(a) nilai pakai aset tidak dapat diestimasi mendekati nilai wajarnya dikurangi biaya
pelepasan; dan

(b) aset tidak menghasilkan arus kas masuk yang independen dari kelompok aset lain.

Dalam kasus ini, nilai pakai dan, jumlah terpulihkan, dapat ditentukan hanya untuk
Unit Penghasil Kas Aset. Contohnya suatu entitas pertambangan memiliki jalur kereta
api pribadi untuk mendukung aktivitas pertambangannya. Jalur kereta api pribadi dapat
dijual hanya untuk nilai sisanya dan itu tidak menghasilkan arus kas masuk yang
independen dari arus kas masuk dari aset lain pertambangan itu. Tidak dimungkinkan
mengestimasi jumlah terpulihkan dari jalur kereta pribadi itu karena nilai pakainya tidak
dapat ditentukan dan kemungkinan berbeda dari nilai sisanya. Oleh karena itu, entitas

24
mengestimasi jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas dimana jalur kereta pribadi
tersebut tercakup, yaitu pertambangan itu secara keseluruhan.

Jumlah terpulihkan dari UPK adalah jumlah yang lebih tinggi antara nilai wajar unit
penghasil kas dikurangi biaya pelepasan dengan nilai pakainya. Jumlah tercatat dari
UPK:

(a) Mencakup hanya jumlah tercatat dari aset-aset yang dapat diatribusikan langsung,
atau dialoksikan dengan dasar yang layak dan konsisten, ke UPK dan akan
menghasilkan arus kas masuk yang digunakan dalam menentukan nilai pakai unit
penghasil kas; dan

(b) Tidak mencakup jumlah tercatat dari setiap liabilitas yang diakui, kecuali jumlah
terpulihkan dari unit penghasil kas tidak dapat ditentukan tanpa mempertimbangkan
liabilitas tersebut.

Rugi penurunan nilai diakui untuk unit penghasil kas jika, dan hanya jika, jumlah
terpulihkan dari unit tersebut (kelompok dari unit) lebih kecil dari jumlah tercatatnya.
Rugi penurunan nilai dialokasikan untuk mengurangi jumlah tercatat aset dari unit
tersebut (kelompok dari unit) dengan urutan sebagai berikut:

a. pertama, untuk mengurangi jumlah tercatat atas setiap goodwill yang


dialokasikan ke unit penghasil kas tersebut (kelompok dari unit).
b. selanjutnya, ke aset lain dari unit tersebut (kelompok dari unit) dibagi pro rata
atas dasar jumlah tercatat setiap aset di dalam unit tersebut (kelompok dari
unit).

Dalam mengalokasikan rugi penurunan nilai sesuai, entitas tidak harus


mengurangi jumlah tercatat aset dengan jumlah yang tertinggi dari:

(a) nilai wajarnya dikurangi biaya untuk menjual (jika ditentukan).

(b) nilai pakainya (jika dapat ditentukan)

25
(c) nol. Jumlah rugi penurunan nilai yang semestinya dialokasikan ke aset tersebut
menjadi harus dialokasikan pro rata ke aset lain dari unit (kelompok dari
unit).

3.5 Pembalikan Rugi Penurunan Nilai

Dalam menilai apakah terdapat indikasi bahwa rugi penurunan nilai yang telah
diakui pada periode-periode sebelumnya untuk aset (selain goodwill) mungkin tidak ada
lagi atau mungkin telah menurun, entitas mempertimbangkan, minimal, indikasi berikut
ini:

1. Infomasi yang bersumber dari luar.


- Nilai wajar aset telah meningkat secara signifikan selama periode tersebut.
- Perubahan signifikan dengan dampak menguntungkan untuk entitas telah terjadi
selama periode tersebut, atau akan terjadi dalam waktu dekat, dalam hal
teknologi, pasar, kondisi ekonomi maupun legal tempat entitas beroperasi atau di
pasar tempat aset itu didedikasikan.
- Suku bunga pasar atau tingkat pengembalian investasi pasar yang lain telah
turun selama periode itu, dan penurunan itu sepertinya akan mempengaruhi
tingkat diskonto yang digunakan dalam menghitung nilai pakai aset sehingga
meningkatkan jumlah terpulihkan secara material.
2. Informasi yang bersumber dari dalam.
- Perubahan signifikan dengan dampak menguntungkan bagi entitas telah terjadi
selama periode tersebut, atau diharapkan akan terjadi dalam waktu dekat,
seberapa jauh dan cara, aset tersebut digunakan atau diharapkan untuk
digunakan. Perubahan ini termasuk biaya-biaya yang timbul selama periode
tersebut untuk memperbaiki atau meningkatkan kinerja aset atau
merestrukturisasi operasi di tempat aset tersebut tercakup.
- Bukti tersedia dari pelaporan internal yang mengindikasikan bahwa kinerja
ekonomi aset lebih baik atau akan lebih baik dari yang diharapkan.

26
Rugi penurunan nilai yang telah diakui dalam periode-periode sebelumnya untuk
aset selain goodwill harus dibalik jika, dan hanya jika, terdapat perubahan estimasi
yang digunakan untuk menentukan jumlah terpulihkan atas aset tersebut sejak rugi
penurunan nilai terakhir diakui. Jika kasusnya seperti ini, jumlah tercatat aset, (ada
pengecualian) dinaikkan ke jumlah terpulihkannya. Kenaikan ini merupakan suatu
pembalikan rugi penurunan nilai.

1. Pembalikan Rugi Penurunan Nilai Aset Individu


- Jumlah tercatat aset yang meningkat (selain goodwill), yang disebabkan
pembalikan rugi penurunan nilai, tidak boleh melebihi jumlah tercatat (neto
setelah amortisasi atau depresiasi) seandainya aset tidak mengalami rugi
penurunan nilai di tahun-tahun sebelumnya.
- Pembalikan rugi penurunan nilai untuk aset (selain goodwill) diakui segera
dalam laba rugi, kecuali aset disajikan pada jumlah direvaluasi sesuai dengan
Pernyataan lain (contohnya, model revaluasi di PSAK 16).
- Setiap pemulihan rugi penurunan nilai aset revaluasian harus diperlakukan
sebagai kenaikan penilaian kembali sesuai dengan PSAK terkait.
2. Pembalikan Rugi Penurunan Nilai UPK
- Dialokasikan kepada aset-aset dari unit (kecuali untuk goodwill) pro rata dengan
jumlah tercatat dari asetnya.
- Diperlakukan sebagai pembalikan rugi penurunan nilai untuk aset individual dan
diakui sesuai dengan PSAK ini.

Alokasi pembalikan rugi penurunan nilai UPK, jumlah tercatat aset tidak boleh
dinaikkan diatas nilai yang terendah dari:
a. Jumlah terpulihkan (jika ditentukan); dan
b. b. Jumlah tercatat yang telah ditentukan (amortisasi atau depresiasi neto)
seandainya tidak ada rugi penurunan nilai yang telah diakui untuk aset tersebut
dalam periode sebelumnya.
Jumlah pemulihan rugi penurunan nilai yang sebaliknya telah dialokasikan untuk
aset tersebut harus dialokasikan pro rata ke aset lain dari unit itu, kecuali untuk
goodwill.

27
3.6 Pengungkapan
Untuk setiap kelompok aset, entitas mengungkapkan hal berikut ini:
a. Jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi selama periode
tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya tercakup rugi
penurunan nilai.
b. Jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi
selama periode tersebut dan unsur laporan laba rugi komprehensif yang didalamnya
tercakup rugi penurunan nilai yang dibalik.
c. Jumlah rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam laporan laba
rugi komprehensif lainnya selama periode itu.
d. Jumlah pembalikan rugi penurunan nilai atas aset revaluasian yang diakui dalam
laporan laba rugi komprehensif lainnya selama periode tersebut.

Entitas yang melaporkan informasi segmen sesuai dengan PSAK 5 mengungkapkan


hal-hal berikut ini untuk setiap segmen:
(a) jumlah rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi dan dalam laporan
laba rugi komprehensif lainnya selama periode.
(b) jumlah pembalikan rugi penurunan nilai yang diakui dalam laporan laba rugi dan
dalam laporan laba rugi komprehensif lainnya selama periode.
Entitas mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap rugi penurunan nilai material
yang diakui atau dibalik selama periode tertentu untuk suatu aset individual, termasuk
goodwill atau suatu unit penghasil kas:
(a) peristiwa dan kondisi yang mengarah pada pengakuan atau pembalikan rugi
penurunan nilai.
(b) jumlah rugi penurunan nilai yang diakui atau dibalik.
(c) untuk aset individual.
(i) sifat dari aset.
(ii) jika entitas melaporkan informasi segmen sesuai dengan PSAK 5, segmen
terlaporkan yang mencakup aset tersebut.
(d) untuk unit penghasil kas;

28
(i) deskripsi unit penghasil kas (seperti apakah unit penghasil kas merupakan
suatu lini produksi, suatu pabrik, suatu operasi bisnis, suatu wilayah geografi ,
atau suatu segmen yang dapat dilaporkan seperti dijelaskan dalam PSAK 5).
(ii) jumlah rugi penurunan nilai yang diakui atau dibalik oleh kelompok aset dan,
jika entitas melaporkan informasi segmen sesuai dengan PSAK 5, disajikan
berdasarkan segmen terlaporkan.
(iii) jika agregasi dari aset untuk mengindentifikasi unit penghasil kas telah berubah
sejak estimasi sebelumnya dari jumlah terpulihkan dari unit penghasil kas (jika
ada), suatu uraian dari cara agregasi aset saat ini dan sebelumnya serta alasan
perubahan cara unit penghasil kas diidentifikasi.
(e) apakah jumlah terpulihkan aset (unit penghasil kas) adalah nilai wajarnya dikurangi
biaya untuk menjual atau nilai pakainya.
(f) jika jumlah terpulihkan adalah nilai wajarnya dikurangi biaya untuk menjual, dasar
yang digunakan untuk menentukan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual
(seperti apakah nilai wajar ditentukan dengan mengacu kepada suatu pasar aktif).
(g) jika jumlah terpulihkan adalah nilai pakai, tingkat diskonto yang digunakan pada
estimasi saat ini dan estimasi sebelumnya (jika ada) dari nilai pakai.

Entitas mengungkapkan informasi berikut untuk rugi penurunan nilai agregat dan
pembalikan rugi penurunan nilai agregat yang diakui selama periode tertentu dalam hal
tidak diungkapkannya informasi yaitu:
(a) kelompok utama aset yang mengalami rugi penurunan nilai dan kelompok utama
aset yang mengalami pemulihan rugi penurunan nilai.
(b) peristiwa dan keadaan utama yang menyebabkan pengakuan rugi penurunan nilai
dan pemulihan rugi penurunan nilai tersebut.

29
DAFTAR PUSTAKA

1. Ikatan Akuntan Indonesia . (2015). Pelporan Korporat. Jakarta: IAI


2. https://www.staff.blog.ui.ac.id.martani2011PSAK-13-Properti-Investasi-IAS-
40120112.pptx&usg=AFQjCNHpfU320KOFywzzCgdjt0pnrrdijw&sig2=TgloXz9n
8bQ35i5FUz3Yg&bvm=bv.104226188,d.c2E

30