Anda di halaman 1dari 15

Corporate Governance

SAP 9
Peran Audit Internal dan Manajemen Risiko
Serta Kasus Bank Mega

Oleh:

I Gusti Ayu Dwi Cahya Dewanti 1515351046/07


Putu Nadira Ari Pramesti 1515351053/10

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI NON REGULER


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2017

1.1 Audit internal


Menurut Ikatan Auditor Internal (Institute of Internal Auditors-IIA), Audit Internal
adalah aktivitas independen, keyakinan objektif, dan konsultasi yang dirancang untuk
menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Audit internal membantu organisasi
dalam upayanya mencapai tujuan dengan berbagai cara seperti melakukan pendekatan
sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen.
Definisi lain menurut Agoes (2004:221) mengenai audit internal yakni internal
audit adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik
terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap
kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan
pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.
Definisi di atas menunjukkan bahwa audit intern telah mengalami perkembangan.
Lingkup audit intern tidak lagi hanya terbatas melakukan pemeriksaan di bidang keuangan
saja, tetapi juga melakukan pemeriksaan di bidang lainnya seperti pengendalian,
kepatuhan, operasional dan lain-lain, manajemen risiko, pengendalian, dan proses tata
kelola organisasi.

1.2 Peran Audit Internal


Peranan auditor internal yakni menemukan indikasi terjadinya kecurangan dan
melakukan investigasi terhadap kecurangan. Jika auditor internal menemukan indikasi dan
mencurigai terjadinya kecurangan di perusahaan, maka ia harus memberitahukan hal
tersebut kepada top management. Jika indikasi tersebut cukup kuat, manajemen akan
menugaskan suatu tim untuk melakukan investigasi. Tim tersebut biasanya terdiri dari
internal auditor, lawyer, investigator, security dan spesialis dari luar atau dalam perusahaan
(misalkan ahli komputer, ahli perbankan dan lain-lain). Hasil investigasi tim harus
dilaporkan secara tertulis kepada top management yang mencakup fakta, temuan,
kesimpulan, saran dan tindakan perbaikan yang perlu dilaporkan. Terdapat 4 pilar utama
dalam memerangi kecurangan, yaitu:
a. Pencegahan kecurangan (fraud prevention)
b. Pendeteksian dini kecurangan (early fraud detection)
c. Investigasi kecurangan (fraud investigation)
d. Penegakan hukum atau penjatuhan sanksi (follow-up legal action)
Peran internal auditor dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan diatur secara
jelas dalam kewenangan pelaporan dan standar profesi. Komisi Treadway
merekomendasikan bahwa internal auditor harus berperan aktif dalam mencegah dan
mendeteksi kecurangan. Demikian pula dalam Pernyataan Standar Internal Audit
mensyaratkan bahwa internal auditor harus berperan aktif dalam mencegah dan mendetesi
kecurangan dengan mengidentifikasi tanda-tanda kemungkinan terjadinya kecurangan,
menginvestigasi gejala kecurangan dan melaporkan temuannya pada komite audit atau
kepada tingkat manajemen yang tepat.
Namun dalam perkembangannya peranan audit internal yang sebelumnya hanya
sebatas sebagai pengawas di dalam perusahaan yang kerjanya hanya mencari kesalahan,
pada saat ini audit internal dapat memberikan saran dan masukan berupa tindakan
perbaikan atas sistem yang telah ada. Oleh karena itu, saat ini audit internal dapat juga
dikatakan sebagai konsultan perusahaan dalam mencapai tujuannya di masa yang akan
datang. Internal auditor harus selalu meningkatkan pengetahuan baik di bidang auditing
sendiri maupun pengetahuan di bidang bisnis perusahaan agar dapat memberikan saran dan
masukan berupa tindakan perbaikan tersebut.
Menurut Diaz (2002), peran yang dapat dilakukan oleh auditor internal selaku
akuntan perusahaan yang menjalankan internal audit adalah sebagai berikut:
1. Membantu direksi dan dewan komisaris dalam menyusun dan
mengimplementasikan kriteria GCG sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
2. Membantu direksi dan dewan komisaris dalam menyediakan data keuangan dan
operasi serta data lain yang dapat dipercaya, accountable, akurat, tepat waktu,
obyektif, mudah dimengerti dan relevan bagi para stakeholder untuk mengambil
keputusan.
3. Membantu direksi dan dewan komisaris mematuhi dan mengawasi penerapan atas
seluruh ketentuan yang berlaku dan auditor intern harus memastikan bahwa seluruh
elemen perusahaan dan dalam setiap aktivitas perusahaan, mereka telah mengikuti
ketentuan secara konsisten.
4. Membantu direksi menyusun dan mengimplimentasikan struktur pengendalian
intern yang andal dan memadai. Auditor intern dalam konteks ini harus
memastikan bahwa struktur tersebut telah tersedia dengan memadai dan telah
berfungsi atau diikuti oleh setiap elemen perusahaan.
5. Menstimulasi direksi dan dewan komisaris untuk mengembangkan dan
mengimplementasikan sistem audit yang baik, khususnya mendororng
pembentukan komite audit yang ideal, merancang pedoman audit intern, serta
menumbuhkan efektifitas penggunaan dan pemanfaatan hasil kerja auditor.

1.3 Manajemen Risiko


1.3.1 Pengertian Tentang Manajemen Risiko
Manajemen risiko adalah kegiatan pimpinan puncak mengedintifikasi,
mengevaluasi, menangani dan memonitor risiko bisnis yang dihadapi perusahaan
mereka di masa yang akan datang. Apabila dampak risiko itu terhadap operasi bisnis
diperkirakan cukup signifikan, pimpinan perusahaan yang profesional akan menyusun
rencana mengatasi atau meredusir dampak negatif risiko tersebut. Manajemen risiko
adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari good corporate governance.
Manajemen risiko dapat diterapkan untuk menanggulangi dampak negatif rencana
bisnis perusahaan secara keseluruhan. Dapat pula dilakukan secara terbatas pada
rencana kegiatan tiap bagian atau divisi. Hal itu disebabkan karena risiko bisnis yang
dihadapi perusahaan tiap masa tertentu dapat meliputi seluruh rencana kegiatan, dapat
pula hanya pada rencana operasi bisnis tiap bagian atau divisi tertentu saja. Perusahaan
yang tidak mengindahkan manajemen risiko dapat mengalami kerugian.
- Deskripsi Risiko
Penulis buku Capital Budgeting, Long Term Assets Selection,Jerome
Ostryoung menyatakan masih banyak anggota masyarakat bisnis menganggap
risiko (risk) sinonim dengan ketidak pastian (uncertainty). Padahal menurut Jerome
risiko tidak sama dengan ketidak pastian. Ketidak pastian dapat menimbulkan
risiko. Beliau menyatakan risiko adalah hasil keputusan yang dapat diperhitungkan
sebelumnya. Dalam kehidupan bisnis dapat diberikan contoh seperti berikut.
Seorang pengusaha memutuskan menerjunkan produk baru tanpa mengidentifikasi
dan menganalisis risiko keputusan itu sebelumnya. dapat mengalami kesulitan
mendapatkan konsumen produk itu. Akibatnya produk itu tidak laku dan pengusaha
yang bersangkutan menderita kerugian. Risiko produk baru tidak disukai konsumen
dapat diterka sebelumnya. Adapun ketidak pastian menurut Jerome adalah hasil
suatu keputusan yang sulit diterka sebelumnya.

1.3.2 Implementasi Manajemen Risiko di Dunia Internasional


Jennifer Parker op cit menyatakan walaupun telah banyak perusahaan di dunia
yang menerapkan program manajemen risiko, namun kebanyakan mereka belum
mempergunakan prosedur yang komprehensif dan efektif. Jennifer mengatakan pada
tahun 2002 perusahaan konsultan manajemen internasional, Ernst & Young
menyelenggarakan survei perusahaan di berbagai belahan dunia untuk mempelajari
penyelenggaraan risiko manajemen di berbagai sektor usaha. Ringkasan hasil survei
tersebut adalah sebagai berikut:
Lembaga keuangan, termasuk bank merupakan sektor usaha yang mempunyai cara
pendekatan manajemen risiko paling komprehensif. Sekitar 75% responden survai
menyatakan menerapkan manajemen risiko dalam penyusunan rencana jangka
menengah/panjang perusahaan secara keseluruhan,
Kebanyakan perusahaan besar telah menerapkan program manajemen risiko,
perusahaan menengah dan kecil belum menyelenggarakannya,
Ada kecenderungan Board of Directors dan Komite Audit mulai ikut terlibat dalam
kegiatan manajemen risiko. Sekitar 86 % responden menyatakan Komite Audit
mereka menerima informasi tentang risiko utama yang dihadapi perusahaan dari
manajemen perusahaan. Sekitar 74% responden menyatakan Komite Audit ikut
meninjau kembali secara rutin perkembangan risiko yang dihadapi perusahaan.
1.3.3 Jenis Risiko Bisnis
Risiko bisnis terdiri dari berbagai macam jenis. Dari berbagai macam jenis itu
empat di antaranya perlu mendapat perhatian secara lebih cermat dan kontinyu dari
pimpinan perusahaan. Adapun keempat jenis risiko bisnis tadi adalah sebagai berikut:
Risiko citra atau reputasi perusahaan (reputation risk)
Risiko pasar (market risk),
Risiko kredit (credit risk), dan
Risiko operasional (operational risk).
a. Risiko Citra Perusahaan
Selama ratusan tahun tidak sedikit jumlah perusahaan yang tergila- gila
pada citra besar yang "berhasil". Mereka mencoba memperkecil risiko bisnis
yang dihadapi dengan jalan memfokuskan transaksi bisnisnya dengan
perusahaan- perusahaan bercitra bagus. Mereka meminjamkan kredit kepada
perusahaan-perusahaan itu, membeli surat berharga yang diterbitkan
perusahaan itu, memesan produk, mesin dan peralatan dari perusahaan itu',
membeli premi asuransi dari mereka dan sebagainya.
Fakta kehidupan sehari-hari mengajari para pimpinan perusahaan,
bertransaksi bisnis dengan perusahaan-perusahaan bercitra baik, berarti bebas
dari risiko. Bayangan bertransaksi bisnis dengan perusahaan-perusahaan besar
yang nampak dari luar serba cemerlang berisiko sangat kecil, mulai pudar
sejak tumbangnya perusahaan-perusahaan raksasa dunia.
b. Risiko Kredit
Sejak berabad-abad yang lalu risiko kredit dihadapi para kreditur yang
meminjamkan dananya atau menjual produk dengan pembayaran di belakang.
Akibat fatal yang dapat mereka derita adalah debitur tidak menepati janjinya
membayar kembali utang atau bunga pinjaman. Termasuk dalam risiko kredit
adalah country risk, yaitu risiko kredit yang diberikan kepada debitur yang
berdomisili di negara-negara tertentu. Semakin tinggi country risk suatu negara
semakin tinggi pula risiko kredit yang diberikan kepada debitur di negara itu.
Dalam artikelnya yang berjudul Managing Risk In An Unstable World
(Harvard Business Review, June 2005) Ian Bremer menyebutkan dua jenis
risiko yang dapat dihadapi investor dan kreditur manca negara apabila mereka
memberikan kredit (obligasi, kredit bank dan asuransi dsb), yaitu risiko
ekonomis dan risiko politik. Kehidupan ekonomi dan politik setiap negara
dipengaruhi oleh berbagai macam faktor yang dapat mengganggu stabilitas
kehidupan ekonomi dan politik. Kehidupan ekonomi dan politik negara yang
tidak stabil dapat mengganggu kemampuan debitur di negara yang
bersangkutan mengembalikan pinjaman mereka.
Contoh faktor yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi adalah
tingkat inflasi yang tinggi, depresiasi nilai tukar mata uang nasional, bencana
alam dan korupsi yang kronis dan merata di seluruh negeri. Sedangkan contoh
faktor yang mengganggu stabilitas kehidupan politik adalah perang saudara,
pemberontakan, gerakan separatisme dan terorisme.
c. Risiko Operasional
Dampak risiko operasional timbul karena munculnya gangguan
operasional dari dalam atau dari luar perusahaan. Gangguan operasional dari
dalam perusahaan dapat berupa kerusakan mesin atau peralatan produksi yang
lain, kesalahan manusia dan kesalahan sistem dan prosedur operasi. Sedangkan
contoh gangguan dari luar perusahaan dapat berupa krisis moneter, krisis
politik, faktor persaingan pasar, keterlambatan pasokan bahan dari perusahaan
pemasok dan bencana alam. Dalam tabel nomor 1.1 disajikan contoh risiko
operasional, penyebab potensial risiko dan potensi kerugian yang dapat diderita
perusahaan.

Tabel 1.1.
Contoh risiko Operasional

1.3.4 Proses Manajemen Risiko


Manajemen risiko merupakan satu proses kegiatan manajemen yang mengikuti
urutan langkah tertentu. Kegiatan ini menjadi tanggung jawab sebuah tim yang
anggotanya terdiri dari para eksekutif senior. Kebanyakan perusahaan publik di
berbagai negara industri maju menyerahkan tugas penting ini kepada Komite Audit
Dan Manajemen Risiko. Urutan langkah proses manajemen risiko adalah sebagai
berikut:
- Mengidentifikasi risiko potensial (risk identification),
- Menganalisis risiko (risk analysis),
- Mengaksep risiko (accept risks)
- Menangani risiko (risk treatment), dan
- Memonitor perkembangan risiko (risk monitoring and review)

Dalam gambar 1.1. disajikan bagan urutan langkah manajemen resiko di atas.
a. Mengidentifikasi Risiko Potensial
Banyak jenis risiko bisnis erat hubungannya dengan pelaksanaan rencana
jangka menengah/panjang. Sebagai contoh perusahaan yang merencanakan
menerjunkan produk baru ke pasar, menghadapi risiko perusahaan-perusahaan
saingannya akan melakukan hal yang serupa. Akibatnya produk baru tersebut
nantinya harus bersaing ketat di pasar dengan produk-produk baru yang serupa dan
setingkat. Risiko yang lain adalah konsumen sasaran tidak menyukai produk.
Akibatnya target penjualan dan keuntungan yang disusun dalam rencana launching
produk baru tidak tercapai.
Sebelum memutuskan bagaimana mengelola risiko yang akan dihadapi
pada saat melaksanakan rencana strategik perusahaan mereka, sudah barang tentu
pimpinan puncak perusahaan perlu mengetahui dengan jelas apa dan bagai mana
risiko-risiko tersebut. Untuk melaksanakan hal itu perlu disusun daftar
komprehensif risiko potensial yang mungkin muncul. Komite Audit dan
Manajemen Risiko hendaknya mengumpulkan pendapat dari para pimpinan puncak
dan eksekutif senior tentang berbagai risiko yang menurut mereka dapat dihadapi
perusahaan dalam pelaksanaan rencana jangka menengah/panjang.
Potensi kerugian. Dalam mengidentifikasi risiko perusahaan
memperkirakan potensi kerugian yang dapat ditimbulkan tiap jenis risiko. Dalam
terbitan mereka Risk Management, The Joint Australian/ New Zealand Technical
Committee on, Risk Management menyajikan daftar potensi 'kerugian , yang dapat
ditimbulkan berbagai jenis risiko bisnis.
Daftar kuesioner risiko. Seperti diutarakan di atas agar dapat
mengidentifikasi risiko dan potensi kerugian yang dapat ditimbulkannya, Komite
Audit atau eksekutif lain yang diserahi tugas itu mengumpulkan pendapat pimpinan
puncak. Untuk mengumpulkan pendapat tersebut the Joint Australian/ NewZealand
Tecmical Committee on Risk Management mengajukan daftar kuesioner yang
dapat dipergunakan sebagai bahan acuan atau contoh
b. Menganalisis Risiko.
Tujuan utama analisis risiko adalah memisahkan risiko yang potensi
kerugiannya diperkirakan kecil dari yang derajad kerugiannya cukup signifikan.
Dengan perkataan lain menyusun daftar kategori risiko. Sudah barang tentu daftar
kategori risiko satu perusahaan tidak sama dengan yang lain, walaupun mereka
bergerak dalam sektor usaha yang sama. Hal itu disebabkan karena adanya
perbedaan tingkat kekuatan dan kelemahan masing-masing perusahaan dalam
menangani dan memonitor risiko. Secara umum dapat diutarakan apabila dampak
negatif risiko kecil saja, risiko tersebut dapat ditolerir.
Sebagai contoh risiko penurunan hasil penjualan tahunan produk sebesar
lima persen sebagai akibat munculnya teknologi baru atau perusahaan saingan baru
yang kuat, masih dapat ditolerir oleh sebuah perusahaan yang menduduki peringkat
follow the market leader.
Batas toleransi. Untuk menentukan dapat atau tidaknya dampak risiko
ditolerir, perusahaan perlu menyusun kriteria tentang hal itu. Kriteria toleransi
terhadap dampak risiko dapat diambil dari aspek operasional, teknis, finansial,
legal, sosial atau kriteria yang lain. Contoh kriteria aspek keuangan, misalnya
risiko yang bersangkutan tidak akan menurunkan keuntungan total perusahaan
sampai maksimal dua setengah persen. Sedangkan contoh kriteria aspek teknis
adalah, risiko yang bersangkutan tidak akan menyebabkan sarana produksi tidak
dapat lagi beroperasi tiga shifts tiap hari. Apabila dimungkinkan pada akhir tahap
analisis risiko dapat disimpulkan derajad toleransi yang dapat diberikan pada tiap
jenis risiko.
c. Mengaksep Risiko
Dari hasil tahap-tahap manajemen risiko terdahulu perusahaan dapat
memutuskan risiko bisnis mana dapat diterima, karena dampak negatifnya
diperkirakan masih dapat ditolerir. Di lain pihak mereka juga dapat menentukan
jenis-jenis risiko mana yang membutuhkan penanganan dan monitoring secara
khusus, karena dampaknya diperkirakan signifikan.
d. Penanganan Risiko
Penanganan risiko lebih lanjut meliputi aktifitas yang berikut:
- Menentukan pilihan penanganan risiko,
- Mengevaluasi tiap jenis pilihan penanganan,
- Menyiapkan rencana penanganan tiap jenis risiko,
- Pelaksanaan penanganan
e. Memonitor risiko
Kebanyakan resiko tidak bersifat statis. la dapat berubah sesuai dengan
perubahan faktor-faktor yang menimbulkannya. Oleh karena itu secara reguler
perusahaan wajib memonitor perkembangan resiko yang mereka hadapi dan
efektifitas upaya mereka menangani masing-masing resiko.

KASUS BANK MEGA

Permasalahan pada Bank Mega


Bank Mega Tbk. (MEGA) beroperasi pada aktivitas perbankan. MEGA mulai
beroperasi komersial pada tahun 1969 di Surabaya, Jawa Timur. MEGA memindahkan
kantor pusatnya ke Jakarta pada tahun 1992. MEGA menyediakan produk tabungan seperti
Mega Dana, Mega Taxi, Mega Proteksi; produk giro seperti Mega Pro dan Mega Business;
Produk Deposito Berjangka seperti Mega Depo, Mega Deposito On Call and Mega
Sertifikat.
Pada pertengahan April 2011, terjadi kasus pada Bank Mega. Secara garis besar
kasus ini dimulai dengan adanya pencairan dana deposito milik PT Elnusa dengan dalih
investasi, dana tersebut dapat cair karena terdapat pemalsuan tanda tangan. Kronologi
kasus tersebut digambarkan sebagai berikut:
1. 7 September 2009
Elnusa mulai menempatkan dana di Bank Mega cabang Jababeka, Cikarang
sejak 7 September 2009 sebesar Rp161 miliar. Dana ini disimpan dalam bentuk
rekening deposito berjangka dengan bunga 7%. Total deposito terbagi menjadi lima
bilyet, dengan jangka waktu beragam satu hingga tiga bulan. Seluruh dana telah
ditransfer Elnusa dan diterima oleh Bank Mega.
2. 5 Maret 2010
Pada tanggal 5 Maret 2010 Elnusa mencairkan deposito senilai Rp50 miliar
dan dananya telah diterima dengan baik di rekening sesuai perintah Elnusa.
Sehingga dana Elnusa pada bank mega tersisa sebesar Rp111 miliar dalam bentuk
deposito.

3. 19 April 2011
Permasalahan tentang dana deposito Elnusa baru muncul ketika Elnusa
akan mencairkan deposito tersebut pada 19 April 2011. Menurut kepala cabang
Bank Mega Jababeka Cikarang, penempatan dana itu sudah tidak ada karena telah
dicairkan. Elnusa mempertanyakan sistem dan prosedur yang ada di Bank Mega.
Karena pihak Elnusa merasa belum pernah mencairkan dana mereka, mereka
menyatakan baru satu kali melakukan pencairan dana deposito yaitu sejumlah
Rp50 miliar dari total penempatan dana sebesar Rp161 miliar pada tanggal 5 Maret
2010.
Setelah dilakukan penyidikan, pembobolan dana PT Elnusa dilakukan melalui kerja
sama antara pihak dalam PT Elnusa yakni Direktur Keuangan Elnusa, Kepala Cabang
Bank Mega Jababeka, pihak perusahaan investasi (Discovery dan Harvest), dan pihak lain,
seorang makelar bisnis yang mempertemukan kedua pihak. Dimana salah satu pelaku
tersebut terkait dengan kasus pembobolan dana Pemkab Aceh di Bank Mandiri cabang
Jalembar, Jakarta Barat.
Para pelaku memanfaatkan dana cadangan PT Elnusa yang dianggap menganggur
dan sering tidak digubris perusahaan. Dana ini disimpan dalam bentuk rekening deposito
berjangka dengan bunga 7%. Cara yang dilakukan pelaku cukup sederhana, yaitu
memalsukan akta dan tanda tangan pada blangko pencairan deposito. Dana PT Elnusa
seolah-olah beralih dari deposito berjangka menjadi Deposito harian.
Kemudian para tersangka bahu-membahu menggelapkan uang cadangan dari
rekening resmi ke rekening asli tapi palsu atas nama PT Elnusa di Bank Mega Cabang
Bekasi. Setelah jatuh masanya, deposit on call itu mereka cairkan dan mengalir ke
rekening PT Discovery dan PT Harvest. Uang itu kemudian digunakan untuk bisnis
investasi para tersangka, dan sisanya dialirkan ke rekening pribadi-pribadi para pelaku.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) menyimpulkan kasus
pembobolan dana PT Elnusa Tbk merupakan tindak pidana pencucian uang. Bank
Indonesia menyatakan kasus ini terjadi karena kelemahan pelaksanaan manajemen risiko
di Bank Mega. kelemahan tersebut antara lain direksi belum memiliki sarana pengendalian
yang memadai untuk memastikan bahwa seluruh aktifitas operasional Bank telah didukung
oleh SOP yang memadai.
Selain itu masih lemahnya kebijakan dan prosedur, seperti belum adanya kebijakan
yang mengatur prosedur pelayanan pembukaan rekening tanpa kehadiran calon nasabah
dan tata cara pemberian data nasabah kepada pihak ketiga termaksud kantor Akuntan
publik dan belum dilakukan peninjauan kembali terhadap penetapan limit di KCP (kantor
cabang pemantau).
BI juga menemukan adanya perangkapan fungsi marketing dan otorisasi nasabah
baru oleh pemimpin KCP dan dalam pengendalian internal ditemukan kelemahan
pengawasan KC dan Kanwil terhadap KCP, kelemahan atas pemantauan kewajaran
transaksi nasabah serta lemahnya pemantauan terhadap perubahan gaya hidup pegawai
dikaitkan dengan posisi jabatannya.

Penyelesaian Kasus Bank Mega


Kasus Bank Mega dibawa ke jalur hijau oleh PT. Elnusa. Pegadilan Tinggi Jakarta
memutuskan bahwa pencairan deposito oleh Bank Mega kepada PT Discovery Indonesia
dan Harvestindo Asset Management tanpa sepengetahuan dan seizin Elnusa selaku
Terbanding semula Penggugat, adalah perbuatan yang melanggar hukum. Adapun hasil
putusan Pengadilan Tinggi Jakarta ini menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan tanggal 22 Maret 2012 Nomor: 284/PDT.G/2011/PN.JKT.SEL sebelumnya dan
mengharuskan Bank Mega untuk segera melakukan pencairan dana deposito milik Elnusa
senilai Rp111 miliar beserta bunganya sebesar 7% persen per tahun dari jumlah dana
Rp111 miliar tersebut terhitung sejak gugatan didaftarkan di Pengadilan Negeri Jakarta
Selatan sampai dilunasinya deposito tersebut.
Bank Indonesia juga memberikan sejumlah sanksi kepada Bank Mega sebagai tindak
lanjut permasalahan dana PT Elnusa yang terjadi di PT Bank Mega Tbk, Kantor Cabang
Pembantu (KCP) Bekasi Jababeka. Sanksi dan instruksi yang diberikan kepada Bank Mega
yakni:
1. Menghentikan penambahan nasabah DoC baru dan perpanjangan DoC lama,
termasuk untuk produk sejenis seperti Negotiable Certificate of Deposit (NCD),
selama satu tahun, menghentikan pembukaan jaringan kantor baru selama satu
tahun. Sanksi tersebut berlaku sejak 24 Mei 2011.
2. BI akan melakukan fit and proper test terhadap manajemen dan pejabat eksekutif
Bank Mega.
3. BI menginstruksikan Bank Mega untuk :
mereview seluruh kebijakan dan prosedur, khususnya aktivitas pendanaan
termasuk penetapan target, limit dan kewenangan untuk kantor cabang, kantor
cabang pembantu, kantor kas dan individu, baik nominal maupun suku bunga,
pengaturan wilayah kerja kantor serta mekanisme inisiasi nasabah baru.
memperbaiki fungsi internal control dan risk management, termasuk
kecukupan jumlah auditor di setiap kantor, proses check and balance baik
melalui tahapan kewenangan maupun sistem, fungsi pengawasan kantor pusat
terhadap kantor-kantor di bawahnya dan prinsip know your employee.
memberhentikan pegawai di bawah pejabat eksekutif yang terlibat dalam
kasus dana nasabah atas nama PT Elnusa dan dana Pemkab Batubara,
Sumatera Utara di KCP Bekasi Jababeka.
segera membentuk escrow account senilai dana PT. Elnusa dan Pemkab
Batubara, Sumatera Utara di KCP Bekasi Jababeka. Pencairan escrow account
tersebut hanya dapat dilakukan dengan persetujuan Bank Indonesia dalam hal
sudah tidak terdapat sengketa antara bank dengan nasabah, baik yang
diselesaikan melalui keputusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap atau
melalui kesepakatan para pihak.
Rekomendasi agar kasus serupa tidak terjadi yakni sebagai berikut:
1. Membenahi elemen-elemen utama sistem pengendalian intern bank
Tertuang dalam Pedoman Standar Sistem Pengendalian Intern bagi Bank
Umum yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Elemen-elemen utama sistem
pengendalian intern bank meliputi Manajemen dan Kultur Pengendalian,
identifikasi dan Penilaian Resiko, kegiatan pengendalian dan pemisahan fungsi
sistem akuntansi, informasi dan komunikasi serta kegiatan pemantauan dan
tindakan koreksi penyimpangan atau kelemahan.
2. Semua lembaga keuangan pasti mempunyai pengendalian internal (audit internal)
tapi tidak semua internal kontrol ini dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan
yang ada, dalam sebuah lembaga pengendalian internal adalah ujung tombak agar
tidak terjadi suatu kecurangan dalam lembaga tersebut, pengendalian yang perlu
dikakukan oleh Bank Mega yaitu dari aspek SDM. Dalam merekrut harus
dilakukan seleksi yang serius memang banyak orang yang mempunyai kompetensi
yang baik tetapi belum tentu semua orang yang berkompetensi itu mempunyai
perilaku baik. Sebagus apapun pengendalian iternal suatu perusahaan kalau SDM
nya sendiri tidak mampu menjaga komitmen perusahaan maka sia-sia adanya
pengendalian internal tersebut.
3. Peningkatan pengawasan dan memperketat prosedur pengambilan dana yang ada.
Juga di dalamnya termasuk peningkatan komunikasi antar nasabah dan pihak bank
agar tidak terdapat miss komunikasi dan tidak terdapat penyelewengan yang
dilakukan oleh pihak diluar wilayah nasabah.

DAFTAR PUSTAKA

Aldridge, John.E Siswanto Sutojo. 2008. Good Corporate Governance. Jakarta: PT Damar
Mulia Pustaka.

Gumilang, Gita. 2009. Skripsi: Pengaruh Peranan Audit Internal Terhadap Penerapan Good
Corporate Governance pada PT. Perkebunan Nusantara III. Medan: Universitas
Sumatera Utara.
Jayanegara, Lulu Luftia. 2014. Skripsi: Peranan Audit Internal dalam Penerapan Good
Corporate Governance (GCG). Bandung: Universitas Widyatama.