Anda di halaman 1dari 5

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

INFEKSI VIRUS DENGUE


(ICD 10: A 91)
RSUD No. Dokumen No. Revisi Halaman
1/5
PROV.SULAWESI BARAT
Ditetapkan
PANDUAN PRAKTIK Tanggal terbit
KLINIS
dr.H. Andi MunasirM, M.Kes
Nip. 19601010 198910 1 003
PENGERTIAN Suatu penyakit demam akut yang di sebabkan oleh
virus genus flavivirus, famili flaviviridae, mempunyai 4
jenis serotipe yaitu DEN-1,DEN-2,DEN-3,dan DEN-4,
melalui perantara nyamuk aedes aegypti atau aedes
albopictus. Spektrum klinis infeksi dengue dapat
dibagi menjadi (1) gejala klinis paling ringan tanpa
gejala (silent dengue infection),(2) demam dengue
(DD),(3) demam berdarah dengue (DBD) dan (4)
demam berdarah dengue disertai syok (sindrom syok
dengue/DSS)

ANAMNESIS Demam merupakan tanda utama, terjadi mendadak


tinggi, selama 2-7 hari
Disertai lesu, tidak mau makan dan muntah
Pada anak besar dapat mengeluh nyeri kelapa, nyeri
otot, dan nyeri perut
Diare kadang-kadang dapat ditemukan
Perdarahan paling sering dijumpai adalah
perdarahan kulit dan mimisan.

PEMERIKSAAN Gejala klinis DBD diawali demam mendadak tinggi,


FISIS facial flush, muntah, nyeri kepala, nyeri otot, dan
sendi, nyeri tenggorok dengan faring hiperemis,
nyeri dibawah lengkung iga kanan. Gejala penyerta
tersebut lebih mencolok pada DD daripada DBD
Sedangkan hepatomegali dan kelainan fungsi hati
lebih sering ditemukan pada DBD
Perbedaan antara DD dan DBD adalah pada DBD
terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga
menyebabkan perembesan plasma, hipovolemia
dan syok.
Perembesan plasma mengakibatkan ekstravasasi
cairan ke dalam rongga pleura dan rongga
peritoneal selama 24-48 jam.
Fase kritis sekitar hari ke-3 hingga ke-5 perjalanan
penyakit. Pada saat ini suhu turun yang dapat
merupakan awal penyembuhan pada infeksi ringan
namun pada DBD berat merupakan tanda awal
syok
Perdarahan dapat berupa petekie, epistaksis,
melena ataupun hamaturia.
KRITERIA A. Kriteria Klinis
DIAGNOSIS 1. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang
jelas, berlangsung terus menerus selama 2-7
hari
2. Terdapat manifestasi perdarahan, termasuk uji
bendung positif, petekie, ekimosis, epistaksis,
perdarahan gusi, hematemesis, dan/melena.
3. Pembesaran hati
4. Syok, ditandai nadi cepat dan lemah serta
penurunan tekanan nadi, hipotensi, kaki dan
tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak
gelisah.
B. Kiriteria Laboratorium
1. Trombositopenia (100.000/ul atau kurang)
2. Hemokonsentrasi, dilihat dari peningkatan
hematokrit 20% menurut standar umur dan
jenis kelamin
3. Dua kriteria klinis pertama disertai
trombositopenia dan hemokonsentrasi, serta
dikonfirmasi secara uji serologik hemaglutinasi.
PEMERIKSAAN 1. Darah perifer, kadar hemoglobin, leukosit dan
PENUNJANG hitung jenis, hematokrit, trombosit, pada apusan
darah perifer juga dinilai limfosit plasma biru,
peningkatan 15% menunjang diagnosis DBD
2. Uji serologis, uji hemaglutinasi inhibisi dilakukan
saat fase akut dan fase konvalesens
a. Infeksi primer, serum akut <1:20, serum
konvalesens naik 4x atau lebih namun tidak
melebihi 1:1280
b. Infeksi sekunder, serum akut < 1:20,
konvalesens naik 4x atau lebih
c. Persangkaan infeksi sekunder yang baru
terjadi (Presumptive secondary infection):
serum akut 1:1280, serum konvalesens dapat
lebih besar atau sama
3. Pemeriksaan radiologis (urutan pemeriksaan
sesuai indikasi klinis )
a. Pemeriksaan foto dada, dilakukan atas
indikasi (1) dalam keadaan klinis ragu-ragu
namun perlu diingat bahwa terdapat kelainan
radiologis pada perembesan plasma 20-40%,
(2) pemantauan klinis, sebagai pedoman
pemberian cairan.
b. Kelainan radiologi, dilatasi pembuluh darah
paru terutama daerah hilus kanan,
hemotoraks kanan lebih radio opak
dibandingkan kiri, kubah diafragma kanan
lebih tinggi daripada kanan, dan efusi pleura
c. USG: efusi pleura, ascites, kelainan
(penebalan) dinding vesica felea san vesica
urinaria.
1. DBD tanpa syok (Derajat I dan II)
TERAPI a. Medikamentosa
Antipiretik dapat diberikan, dianjurkan
pemberian parasetamol bukan aspirin
Diusahakan tidak memberikan obat-obat
yang tidak diperlukan (misalnya antasid,
antiemetik) untuk mengurangi beban
detoksifikasi obat dalam hati
Kortikosteroid diberikan pada DBD
ensefalopati, apabila terdapat perdarahan
saluran cerna kortikosteroid tidak
diberikan
Antibiotik diberikan untuk DBD
ensefalopati
b. Suportif
Mengatasi kehilangan cairan plasma
sebagai akibat peningkatan permeabilitas
kapiler dan perdarahan
Kunci keberhasilan terletak pada
kemampuan untuk mengatasi masalah
peralihan dari fase demam ke fase syok
disebut time of fever differvesence
dengan baik
Cairan intravena diperlukan, apabila (1)
anak terus- menerus muntah, tidak mau
minum, demam tinggi, dehidrasi dapat
mempercepat terjadinya syok, (2) nilai
hematokrit cenderung meningkat pada
pemeriksaan berkala
2. DBD disertai syok (Sindrome Syok Dengue,
derajat III dan IV)
a. Penggantian voleme plasma segera, cairan
intravena larutan ringer laktat 10 ml/kgbb
secara bolus diberikan dalam waktu 30
menit. Apabila syok belum teratasi tetap
berikan ringer laktat 20 ml/kgbb ditambah
koloid 20-30 ml/kgbb/jam, maksimal 1500
ml/hari.
b. Pemberian cairan 10 ml/kgbb/jam tetap
diberikan 1-4 jam pasca syok. Volume cairan
diturunkan menjadi 7 ml/kgbb/jam,
selanjutnya 5 ml, dan 3 ml apabila tanda
vital dan diuresis baik
c. Jumlah urin 1 ml/kgbb/jam merupakan
indikasi bahwa sirkulasi membaik
d. Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan
lagi 48 jam setelah syok teratasi
e. Oksigen 2-4 l/menit pada DBD syok
f. Koreksi asidosis metabolik dan elektrolit pada
DBD syok
g. Indikasi pemberian darah :
Terdapat perdarahan secara klinis
Setelah pemberian cairan kristaloid dan
koloid, syok menetap, hematokrit turun,
diduga telah terjadi perdarahan, berikan
darah segar 10 ml/kgbb
Apabila kadar hematokrit tetap > 40 vol%,
maka berikan darah dalam volume kecil
Plasma segar beku dan suspensi trombosit
berguna untuk koreksi gangguan
koagulapati dan koagulasi intavaskular
desiminata (KID) pada syok berat yang
menimbulkan perdarahan masif
Pemberian transfusi suspensi trombosit
pada KID harus selalu disertai plasma
segar (berisi faktor koagulasi yang
diperlukan), untuk mencegah perdarahan
lebih hebat
3. DBD Ensefalopati
Pada ensefalopati cenderung terjadi edema otak
dan alkalosis, maka bila syok telah teratasi,
cairan diganti dengan cairan yang mengandung
HCO3 dan jumlah cairan segera dikurangi.
Larutan ringer laktat segera ditukar dengan
larutan NaCl (0,9%): glukosa (5%)= 3:1.

PROGNOSIS Quo ad vitam : Bonam


Quo ad Sanationem : Bonam
KEPUSTAKAAN 1. Hadinegoro SRH, Soegijanto S, wuryadi S,
Suroso T. Tatalaksana demam dengue/ demam
berdarah dengue pada anak. Dalam :Hadinegoro
SRH, Satari Hl, penyunting.Demam berdarah
dengue. Edisi ke-2. Jakarta:Balai Penerbit FKUI;
2002, h. 80-132
2. Halstead, SB. Dengue fever and dengue
haemorrhagic fever. Dalam:Behrman RE,
Kliegman RM, Jenson HB, Penyunting. Nelson
textbook of pediatrics. Edisinke-17.
Philadelphia; 2004, h.1092-4
3. Kanesa-Thassan N, Vaughn DW, Shope RE.
Dengue and dengue haemorrhagic fever.
Dalam:Anne AG, Peter JH, Samuel LK,
Penyunting. Krugmans infectious diseases of
children. Edisi ke-11. Philadelphia;2004.h.73-81
4. Thongcharoen P, Jatanasen S. Epidemology of
dengue haemmorrhagic fever. Dalam:Monograph
on dengue/dengue haemmorrhagic fever. World
Health Organization, SEARO, New Delhi;
1993.h. 1-8
5. Tsai TF,Khan AS, Mcjunkin JE. Togaviridae,
flaviviridae, and bunyaviridae. Dalam:Long SS,
Pickering LK, Prober CG, Penyunting. Principles
and practice of pediatric infectious diseases.
Edisi ke-2. Philadelphia, PA:Elsevier
Science;2002,h.1109-16
6. Wills B. Management of dengue. Dalam:Halstead
SB, Penyunting. Dengue:tropical medicine
science and practice. Selton Street, London:
Imperial College Press; 2008, h. 193-217
7. World Health Organization. Dengue
haemorrhagic fever. Diagnosis, treatment,
prevention, and control. Edisi ke-2. WHO; 1997