Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH EKONOMI PANGAN

PERMASALAHAN DAN INTERVENSI KONSUMSI PANGAN DAN GIZI

Dosen Pembimbing : Rahmani, STP., MP

Disusun Oleh :

Kelompok 2

Dian Afridha Pramestri P07131215090

Dwi Amalia Lestari P07131215094

Haifatul Alimah P07131215100

M. Mustapa Kamal P07131215103

Zainab P07131215125

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANJARMASIN

JURUSAN GIZI

PROGRAM STUDI DIPLOMA IV

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keadaan gizi dan kesehatan masyarakat tergantung pada tingkat konsumsi,
Dewasa ini Indonesia menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah gizi kurang
dan masalah gizi lebih. Masalah gizi kurang umumnya disebabkan oleh
kemiskinan, kurangnya persediaan pangan, kurang baiknya kualitas lingkungan
(sanitasi), kurangnya pengetahuan masyarakat tentang gizi, menu seimbang dan
kesehatan, dan adanya daerah miskin gizi (iodium). Sebaliknya masalah gizi lebih
disebabkan oleh kemajuan ekonomi pada lapisan masyarakat tertentu yang disertai
dengan minimnya pengetahuan tentang gizi, menu seimbang, dan kesehatan.
Dengan demikian, sebaiknya masyarakat meningkatkan perhatian terhadap
kesehatan guna mencegah terjadinya gizi salah (malnutrisi) dan risiko untuk
menjadi kurang gizi.
Tingginya angka kematian ini juga dampak dari kekurangan gizi pada
penduduk. Mulai dari bayi dilahirkan, masalahnya sudah mulai muncul, yaitu
dengan banyaknya bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR<2.5 Kg). Masalah
ini berlanjut dengan tingginya masalah gizi kurang pada balita, anak usia sekolah,
remaja, dewasa sampai dengan usia lanjut.
Masalah gizi pada hakikatnya adalah masalah kesehatan masyarakat, namun
penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan
kesehatan saja. Penyebab timbulnya masalah gizi adalah multifaktor, oleh karena
itu pendekatan penanggulangannya harus melibatkan berbagai sektor yang terkait.
Suatu penyakit timbul karena tidak seimbangnya berbagai faktor, baik dari
sumber penyakit (agens), pejamu (host) dan lingkungan (environment). Hal itu
disebut juga dengan istilah penyebab majemuk (multiple causation of diseases)
sebagai lawan dari peiiyebab tunggal (single causation).
Berlandaskan oleh latar belakang di atas maka di dalam makalah ini akan
dibahas mengenai permasalahan di bidang gizi dan intervensinya.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa tujuan intervensi gizi dan penyebab masalah gizi?
2. Apa sajakah masalah gizi di Indonesia?
3. Bagaimana intervensi masalah gizi?
4. Apa saja hambatan dan kendala dalam intervensi gizi tersebut ?

1.3 Tujuan
1. Agar mahasiswa mengetahui tujuan dari intervensi gizi dan penyebab masalah
gizi.
2. Agar mahasiswa mengetahui apa saja masalah gizi yang ada di Indonesia.
3. Agar mahasiswa mengetahui intervensi untuk masalah gizi.
4. Agar mahasiswa mengetahui hambatan dan kendala dalam melakukan
intervensi masalah gizi.

2
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Tujuan Intervensi Gizi dan Penyebab Masalah Gizi


Tujuan dari intervensi gizi yaitu mengatasi atau memperbaiki masalah gizi
dengan perencanaan dan implementasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi yang dihadapi. Adapun faktor-faktor yang dapat menyebabkan seseorang
mengalami masalah gizi :
1. Faktor Lingkungan
Lingkungan yang buruk seperti air minum yang tidak bersih, tidak
adanya saluran penampung air limbah, tidak menggunakan kloset yang baik,
juga kepadatan penduduk yang tinggi dapat menyebabkan penyebaran kuman
pathogen. Lingkungan yang mempunyai iklim tertentu berhubungan dengan
jenis tumbuhan yang dapat hidup sehingga berhubungan produksi tanaman.

2. Faktor Ekonomi
Di banyak negara yang secara ekonomis kurang berkembang, sebagian
besar penduduknya berukuran lebih pendek karena gizi yang tidak
mencukupi dan pada umunya masyarakat yang berpenghasilan rendah
mempunyai ukuran badan yang lebih kecil.
Masalah gizi di negara-negara miskin yang berhubungan dengan
pangan adalah mengenai kuantitas dan kualitas. Kuantitas menunjukkan
penyediaan pangan yang tidak mencukupi kebutuhan energi bagi tubuh.
Kualitas berhubungan dengan kebutuhan tubuh akan zat gizi khusus yang
diperlukan untuk petumbuhan, perbaikan jaringan, dan pemeliharaan tubuh
dengan segala fungsinya.

3. Faktor Sosial-Budaya
Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir yang dapat
dicapai oleh anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan

3
untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh pewarisan sifat tersebut. Di
negara-negara berkembang memperlihatkan perbaikan gizi pada tahun-tahun
terakhir mengakibatkan perubahan tinggi badan yang jelas.

4. Faktor Biologis atau Keturunan


Sifat yang diwariskan memegang kunci bagi ukuran akhir yang dapat
dicapai oleh anak. Keadaan gizi sebagian besar menentukan kesanggupan
untuk mencapai ukuran yang ditentukan oleh pewarisan sifat tersebut. Di
negara-negara berkembang memperlihatkan perbaikan gizi pada tahun-tahun
terakhir mengakibatkan perubahan tinggi badan yang jelas.

5. Pendapatan per Kapita yang Rendah


Ciri utama negara berkembang adalah rendahnya pendapatan per kapita
penduduknya. Menurut Bank Dunia, negara berkembang yang berpendapatan
menengah ke bawah yaitu antara US$8763,465. Negara berkembang yang
berpendapatan menengah tinggi, yaitu antara US$3,46610,275. Berikut ini
daftar pendapatan per kapita beberapa negara berkembang, termasuk
Indonesia.

6. Rendahnya Akumulasi Modal


Rendahnya tingkat pendapatan di negara berkembang menyebabkan
masyarakat sulit mengumpulkan tabungan. Padahal, akumulasi tabungan
masyarakat merupakan sumber modal bagi kegiatan investasi. Tidak
mengherankan apabila kurangnya modal sering menjadi hambatan bagi
proses pembangunan di negara-negara berkembang. Sebagai jalan keluarnya,
negara berkembang meminjam modal dari negara maju. Hal ini berakibat
tingginya ketergantungan ekonomi terhadap negara maju.

7. Perekonomian Mengandalkan Sektor Primer


Perekonomian di negara berkembang masih mengandalkan sektor-
sektor primer seperti pertanian, kehutanan, pertambangan, dan perikanan.

4
Sektor ini masih mengandalkan kekayaan alam. Kegiatan di sektor industri
pengolahan dan jasa masih sangat kurang. Hal ini karena teknologi produksi
yang dikuasai masih rendah dan hanya mengandalkan caracara tradisional
untuk mengolah sumber daya yang ada.

8. Masih Tingginya Tingkat Pengangguran


Kondisi perekonomian yang belum berkembang menyebabkan
sempitnya lapangan kerja sehingga tingkat pengangguran di negara
berkembang cukup tinggi. Jenis pengangguran yang ditemui di negara
berkembang adalah setengah pengangguran dan pengangguran terselubung.

9. Tingginya Laju Pertumbuhan Penduduk


Kondisi kependudukan di negara berkembang ditandai dengan tingkat
kelahiran dan tingkat kematian bayi yang tinggi. Tingginya tingkat kelahiran
di negara-negara berkembang mempengaruhi komposisi penduduk.
Komposisi penduduk yang berusia kurang dari 15 tahun relatif besar
sehingga menjadi beban bagi penduduk produktif.
10. Rendahnya Tingkat Kesehatan dan Pendidikan
Tingkat kesehatan dan pendidikan di negara berkembang masih sangat
rendah. Hal ini terlihat dari terbatasnya fasilitas kesehatan dan pendidikan
bagi pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah belum mampu
menyediakan fasilitas pendidikan dan kesehatan secara merata bagi seluruh
masyarakat. Rendahnya tingkat pendapatan masyarakat dan tingginya biaya
pendidikan menyebabkan keluarga tidak mampu menyekolahkan anak-anak
mereka. Fasilitas kesehatan yang memadai baru bisa dirasakan oleh
masyarakat yang berpendapatan tinggi.

11. Budaya Masyarakat yang Belum Mendukung Kemajuan


Kualitas sumber daya manusia suatu negara tidak terbatas pada tingkat
pendidikan saja, tetapi juga meliputi kebudayaan mereka, sikap terhadap
pekerjaan, dan keinginan untuk memperbaiki diri. Budaya masyarakat di

5
negara berkembang masih belum menunjang ke arah kemajuan
pembangunan. Misalnya, kurang profesional dalam bekerja, kurang
berdisiplin, korupsi dan senang mencari jalan termudah untuk meraih
keinginan.

12. Rendahnya Penguasaan Teknologi


Tingkat penguasaan teknologi di negara berkembang masih rendah
sehingga output produk yang dihasilkan juga lebih rendah dibandingkan
negara maju. Cara-cara atau metode produksi masih bersifat tradisional.
Teknologi pertanian merupakan warisan dari nenek moyang. Misalnya, tanah
dibajak dengan tenaga hewan, penanaman bibit dan pemanenannya masih
menggunakan tangan.

2.2 Masalah Gizi Di Indonesia


Data riskesdas menghasilkan berbagai peta masalah kesehatan dan
kecenderungannya, dari bayi lahir sampai dewasa. Misalnya, prevalensi gizi
kurang pada balita (BB/U<-2SD) memberikan gambaran yang fluktuatif dari 18,4
persen (2007) menurun menjadi 17,9 persen (2010) kemudian meningkat lagi
menjadi 19,6 persen (tahun 2013). Beberapa provinsi, seperti Bangka Belitung,
Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah menunjukkan
kecenderungan menurun. Dua provinsi yang prevalensinya sangat tinggi (>30%)
adalah NTT diikuti Papua Barat, dan dua provinsi yang prevalensinya <15 persen
terjadi di Bali, dan DKI Jakarta. Tidak berubahnya prevalensi status gizi,
kemungkinan besar belum meratanya pemantauan pertumbuhan, dan terlihat
kecenderungan proporsi balita yang tidak pernah ditimbang enam bulan terakhir
semakin meningkat dari 25,5 persen (2007) menjadi 34,3 persen (2013).
Jika diamati dari bayi lahir, prevalensi bayi dengan berat badan lahir rendah
(BBLR) berkurang dari 11,1 persen tahun 2010 menjadi 10,2 persen tahun 2013.
Variasi antar provinsi sangat mencolok dari terendah di Sumatera Utara (7,2%)
sampai yang tertinggi di Sulawesi Tengah (16,9%). Untuk pertama kali tahun

6
2013 dilakukan juga pengumpulan data panjang bayi lahir, dengan angka nasional
bayi lahir pendek <48 cm adalah 20,2 persen, bervariasi dari yang tertinggi di
Nusa Tenggara Timur (28,7%) dan terendah di Bali (9,6%).
Ada perbaikan untuk cakupan imunisasi lengkap yang angkanya meningkat
dari 41,6 persen (2007) menjadi 59,2 persen (2013), akan tetapi masih dijumpai
32,1 persen yang diimunisasi tapi tidak lengkap, serta 8,7 persen yang tidak
pernah diimunisasi, dengan alasan takut panas, sering sakit, keluarga tidak
mengizinkan, tempat imunisasi jauh, tidak tahu tempat imunisasi, serta
sibuk/repot. Program pelayanan kesehatan anak yang juga membaik adalah
kunjungan neonatus (KN) lengkap meningkat dari 31,8 persen (2007) menjadi
39,3 persen (2013), cakupan pemberian kapsul vitamin A (dari 71,5% tahun 2007
menjadi 75,5% tahun 2013).
Menyusui hanya ASI saja dalam 24 jam terakhir pada bayi umur 6 bulan
meningkat dari 15,3 persen (2010) menjadi 30,2 persen (2013), demikian juga
inisiasi menyusui dini <1 jam meningkat dari 29,3 persen (2010) menjadi 34,5
persen (2013).

1. Gizi Kurang
Apabila tubuh kekurangan zat gizi, khususnya energy dan protein, pada
tahap awal akan menyebabkan rasa lapar kemudian dalam jangka waktu
tertentu berat badan akan menurun disertai dengan menurunnya produktivitas
kerja.
Kekurangan zat gizi yang berlanjut akan menyebabkan status gizi kurang
dan gizi buruk. Apabila tidak ada perbaikan konsumsi energi dan protein
yang mencukupi, tubuh akan mudah terserang penyakit infeksi yang dapat
menyebabkan kematian.
Kekurangan gizi secara umum baik kurang secara kualitas dan kuatitas
menyebabkan gangguan pada proses-proses tubuh seperti gangguan
pertumbuhan, gangguan produksi krja, gangguan pertahanan tubuh dan
gangguan struktur dan fungsi otak. Ada empat masalah gizi kurang yang
dikenal di Indonesia antara lain :

7
A. KEP (Kurang Energi Protein/protein energy malnutrition (PEM)/ protein
calorie malnutrition (PCM)
KEP suatu penyakit kurang gizi karena tubuh kurang memperoleh
makanan berupa sumber zat tenaga (energi) dan sumber zat pembangun
(protein) dalam waktu yang lama. Bila ditimbang, titik berat badan anak
pada KMS terletak dibawah garis merah atau kurang 60% dari berat anak
yang seharusnya. Prevalensi tinggi terjadi pada balita, ibu hamil da nib u
menyusui. KEP berat dibedakan menjadi tiga tipe yaitu, tipe kwarshiorkor
dan tipe marasmus atau tipe marasmik-washiorkor. Gejala klinis KEP
ringan diantaranya pertumbuhan berkurang atau bahkan berhenti; berat
badan berkurang, terhenti bahkan turun; ukuran lingkar lengan menurun;
maturasi tulang terhambat; rasio berat terhadap tinggi normal atau
menurun; tebal lipat kulit normal atau menurun; aktifitas dan perhatian
kurang; kelainan kulit dan rambut jarang ditemukan. Adapun penyebab
KEP ringan yaitu masukan makanan baik kuantitas dan kualitas yang
rendah, gangguan atau system pencernaan atau penyerapan makanan,
pengetahuan yang kurang tentang gizi.

Kwarshiorkor
Kwarshiorkor adalah penyakit yang disebabkan oleh kekurangan
protein dan sering timbul pada usia 1-3 tahun karena pada usia ini
kebutuhan protein tinggi. Penyakit ini disebabkan oleh kekurangan
protein dalam makanan, gangguan penyerapan protein, kehilangan
protein secara tidak normal, infeksi kronis ataupun karena pendarahan.
Berikut adalah gejala kwarshorkor :
Wajah seperti bulan moon face
Sinar mata sayu
Pertumbuhan terganggu
Berat dan tinggi badan lebih rendah dibandingkan dengan berat
badan normal

8
Perubahan mental (sering menangis, pada stadium lanjut menjadi
apatis)
Rambut merah, jarang, mudah dicabut
Jaringan lemak masih ada
Perubahan warna kulit (terdapat titik merah kemudian
menghitam, kulit tidak keriput)
Terkadang terjadi pembengkakan tubuh (oedema) sehingga
menyamarkan penurunan berat badan
Jaringan otot mengecil

Marasmus
Marasmus adalah kekurangan energi pada makanan yang
menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai sehingga anak menjadi
kurus dan emosional. Sering terjadi pada bayi yang tidak cukup
mendapatkan asi serta tidak dibri makanan penggantinya, atau terjadi
pada bayi yang sering diare.
Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan konsumsi zat gizi
atau kalori di dalam makanan, kebiasaan makanan yang tidak layak dan
penyakit-penyakit infeksi saluran-saluran pencernaan. Berikut adalah
gejala penderita marasmus :
Wajah seperti orang tua
Terlihat sangat kurus
Mata besar dan dalam
Sinar mata sayu
Mental cengeng
Feses lunak atau diare
Rambut hitam, tidak mudah dicabut
Jaringan lemak sedikit atau bahkan tidak ada, lemak sub kutan
menghilang hingga turgor kulit menghilang
Kulit keriput, dingin, kering, dan mengendur

9
Perut buncit

Kwashiorkor-marasmus
Kwashiorkor-marasmik memperlihatkan gejala campuran antara
marasmus dan kwarshiorkor.
Program pemerintah untuk menanggulangi KEP diprioritaskan
pada daerah-daerah miskin dengan sasaran utama ibu hamil, bayi, balita
dan anak sekolah dasar.Program tersebut mencakup berbagai kegiatan
seperti penyuluhan gizi, peningkatan pendapatan keluarga, penigkatan
pelayanan kesehatan, KB- keluarag Berencana.Adapaun pemantauan
tumbbuh kembang anak diupayakan melalui keluarga, dasawisma dan
posyandu.

B. KVA (Kurang Vitamin A)


Vitamin A merupakan nutrient essensial, yang hanya dapat dipenuhi
dari luar tubuh, dimana jika asupannya berlebihan bisa menyebabkan
keracunan karena tidak larut dalam air.Keurangan asupan vitamin A bisa
menyebabkan diare yang bisa be3rujung pada kematian dan pneumonia.
Prevalensi tertinggi terjadi pada balita. Hal ini disebabkan oleh
intake makanan yang mengandung vitamin A kurang atau rendah,
rendahnya konsumsi vitamin A dan pro vitamin A pada ibu hamil sampai
melahirkan sehingga mempengaruhi kadar vitamin A yang terkandung
dalam ASI. Selain itu dapat disebabkan oleh MP-ASI yang kurang
kandungan vitamin A, gangguan absorbs vitamin A dan pro vitamin A (
penyakit pancreas, diare kronik, KEP ), gangguan konversi pro vitamin A
menjadi vitamin A.

Akibat kekurangan vitamin A :


Menurunnya daya tahan tubuh sehingga mudah terserang infeksi (
misalnya sakit batuk, diare dan campak ).

10
Rabun senja ( anak dapat melihat suatu benda , jika ia tiba-tiba berjalan
dari tempat yang terang ke tempat yang gelap ). Rabun senja dapat
berakhir pada kebutaan.

Cara mencegah dan mengatasi kekurangan vitamin A :


Setiap hari anak diberi makanan yang mengandung vitamin A, seperti
hati ayam.
Setiap hari anak dianjurkan makan sayuran hijau dan buah-buahan
berwarna.
Sebaiknya sayuran ditumis menggunakan minyak atau dimasak dengan
santan, sebab vitamin A larut dalam minyak santan
Kapsul vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak setiap 6 bulan di
Posyandu

Kapsul vitamin A dosis tinggi diberikan pada ibu segera setelah


melahirkan. Pemerintah terusa berupayah menanggulangi penyakit gizi
ini hingga sejak tahun 2006 telah dapat ditangani, namun karena
kekurangan vitamin A (KVA) pada balita dapat menurunkan daya tahan
tubuh. Maka, suplementasi vitamin A tetap harus diberika pada balita.
Berikut upaya yang telah dilakukan pemerintah :
a. Penyuluhan agar meningkatakan konsumsi vitamin A dan pro vitamin
A
b. Fortifikasi vitamin A (susu, MSG, tepung terigu, mie instan).
c. Distribusi kapsul vitamin A dosis tinggi pada balita 1-5 tahun (200.000
IU pada bulan februari dan agustus), ibu nifas (200.000 IU), anak usia
6-12 bulan (100.000 IU).

C. GAKY (Gangguan Akibat Kekurangan Yodium)


Gaky tidak berhubungan dengan tingkat sosial ekonomi suatu
masyarakat melainkan dengam geografis.Penyakit ini merupakan masalah
dunia yang terjadi pada kawasan pegunugan dan perbukitan yang tanahnya

11
tidak cukup mengandung yodium. Kekurangan yodium saat janin berlanjut
dengan gagal dalam pertumbuhan anak usia 2 tahun dpat berdampak buruk
pada kecerdasan secara permanen.
Defisiensi yang berlangsung lama akan mengganggu fungsi kelenjar
tiroid yang secara perlahan menyebabkan pembesaran kelenjar gondok.
Berikut spektrum gangguan akibat kekurangan yodium.
Pada fetus ( janin ): abortus, lahir mati, kematian perinatal, kematian
bayi, kretinisme nervosa ( bisu tuli, defisiensi mental, mata juling ),
cacat bawaan, kretinisme, kerusakan psikomotor.
Anak dan remaja: gondok, gangguan fungsi mental ( IQ rendah ),
gangguan perkembangan.
Dewasa: gondok, hipotirod gangguan fungsi mental.

Gangguan akibat kekurangan yodium ( GAKY ) dapat diatasi


melalui garam yang telah difortifikasi ypdium sesuai standar berikut
adalah pencegahan/penanggulangan GAKY :
Setiap kali memasak, selalu gunakan garam beryodium dirumah tangga.
Untuk daerah gondok endemic, anak-anak 1-5 tahun diberi kapsul
yodium selama 1 tahun
Bila ada anak dengan gejala pembesaran kelenjar gondok atau kerdil
harus segera melaporkannya pada petugas kesehatan di Puskesmas.

D. Anemia Gizi Besi ( AGB )


Anemia defisiensi adalah anemia yang disebabkan oleh kekurangan
satu atau beberapa bahan yang diperlukan untuk pematangan eritrosit.
Anemia gizi besi adalah anemia karena kekurangan zat besi atau sintesa
hemoglobin. Prevalensi tertinggi terjadi di daerah miskin, gizi buruk dan
penderita infeksi.
Hasil studi menunjukkan bahwa anemia pada masa bayi menjadi
salah satu penyebab terjadinya disfungsi otak permanen.Defisiensi zat besi

12
menurunkan jumlah oksigen untuk jaringan, otot kerangka, menurunnya
kemampuan berfikir serta perubahan tingkah laku.
Penderita anemia gizi besi akan mengalami gejala seperti berikut :
pucat, lemah, lesu, sering berdebar, sakit kepala, dan jantung membesar.
Hal ini akan mengakibatkan produktivitas rendah.
AGB dpat disebabkan oleh kurangnya asupan makanan yang
mengandung zat besi: konsumsi makanan penghambat penyerapan zat
besi, infeksi penyakit. Selai itu dapat juga disebabkan oleh distribusi
makanan yang tidak merata ke selurug daerah.
Anemia, gizi kurang zat besi (AGB) masih ditemukan pada 26,3%
balita Indonesia tahun 2006. Anemia (kurang zat besi) pada ibu hamil
dapat meningkatkan resiko risiko bayi yang dilahirkan menderita kurang
zat besi juga yang berdampak pada penurunan kecerdasan anak. Oleh
karena itu berbagai upayah dilakukan pemerintah untuk menanganinya,
diantaranya :
Pemberian komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) serta suplemen
tambahan pada ibu hamil maupun menyusui.
Pembekalan KIE kepada kader dan orang tua serta pemberian
suplemen dalam bentuk multivitamin kepada balita.
Pembekalan KIE kepada guru dan kepala sekolah agar lebih
memperhatikan keadaan anak usia sekolah serta pemberian suplemen
tambahan kepada anak sekolah.
Pembekalan KIE pada perusahaan dan tenaga kerja serta pemberian
nsuplemen kepada tenaga kerja wanita
Peberian KIE dan suplemen dalam bentuk pil KB kepada wanita usia
subur (WUS)

2. Gizi lebih
Seiring dengan perkembangan teknologi, termasuk teknologi pertanian,
transportasi, dan informasi, terjadi juga perubahan aktivitas fisi dari pola
aktivitas aktif menjadi pola aktivitas kurang aktif.Hal ini diikuti pula oleh

13
transisi gizi yang ditandai dengan perubahan pola makan, taraf aktivitas fisik,
dan komposisi tubuh.
Pola makan berubah menjadi fastfood atau junkfood.Aktivitas fisik
berubah dari aktivitas fisik aktif menjadi kurang aktif akibat perubahan
struktur pekerjaan dan waktu luang untuk menonton televisi.Dengan pola
aktivitas yang semakin rendah mengakibatkan peningkatan jumlah penduduk
yang mengalami kelebihan gizi berupa overweight dan obesistas.
Obesitas adalah penyakit gizi berupa akumulasi jaringan lemak secara
berlebihan diseluruh tubuh. Hal ini disebabkan oleh perilaku makan yang
berhubungan dengan faktor keluargadan lingkungan, aktivitas fisik yang
rendah , gangguan psikologis, laju pertumbuhan yang sangat cepat, genetic
atau faktor keturunan juga gangguan hormon.
Obesitas biasanya disebabkan oleh masukan energiyang melebihi
kebutuhan dan biasanya disertai kurangnya aktivitas jasmani. Ciri-ciri
obesitas adalah sebagai berikut : lebih berat dan lebih tinggi dari anak
seusianya: hidung dan mulut relative kecil dengan dagu yang berbentuk
ganda: perut cenderung membuncit: karena malu, sering malas untuk bergaul
dan bermain dengan temanya.
a. Kegemukan menurut distribusi lemak
Tipe andarioid (banyak pada pria/wanita menopause)
Tipe genoid (banyak pada wanita (beresiko lebih kecil, sukar turun BB)
b. Kegemukan menurut kondisi sel
Tipe hiperlastik (jml.sel lemak >)
Tipe hipertropik ( ukuran sel > ) pada dewasa
Tipe hiperlastik-hipertropik
c. Kegemukan menurut umur
Saat bayi, anak-anak, dewasa
d. Kegemukan menurit tingkatan
Simple obesity (>20% BB ideal)
Mild Obesity (>20-30% BB ideal)
Moderat obesity (>30-60% BB ideal)

14
Morbid obesity (>60%)

2.3 Intervensi Masalah Gizi


Suplementasi makanan dan fortifikasi
Suplementasi makanan adalah produk yang digunakan untuk melengkapi
makanan, mengandung satu atau lebih bahan berikut antara lain vitamin,
mineral, tumbuhan, atau bahan yang digunakan untuk meningkatkan Angka
Kecukupan Gizi (AKG) atau konsentrat, metabolit, konstituent, ekstrak atau
kombinasi dari beberapa bahan tersebut. Suplementasi makanan dapat berupa
padat meliputi tablet, tablet hisap, tablet evervesen, tablet kunyah, serbuk,
kapsul, kapsul lunak, granula, pastiles atau produk cair berupa tetes, sirup, atau
larutan.
Fortifikasi pangan adalah penambahan satu atau lebih zat gizi (nutrien)
kepangan. Tujuan utama adalah untuk meningkatkan tingkat konsumsi dari zat
gizi yang ditambahkan untuk meningkatkan status gizi populasi. harus
diperhatikan bahwa peran pokok dari fortifikasi pangan adalah pencegahan
detisiensi: dengan demikian menghindari terjadinya gangguan yang membawa
kepada penderitaan manusia dan kerugian sosio ekonomis. Namun demikian,
fortitkasi pangan juga digunakan untuk menghapus dan mengendalikan
defisiensi zat gizi dan gangguan yang diakibatkannya.

Pendidikan gizi
Pendidikan adalah segala tindakan dan usaha dengan maksud untuk
merubah pikiran serta sikap manusia sesuai dengan tujuan pendidikan tersebut.
Usaha pendidikan gizi menjadi lebih efisien dan efektif bila mengikuti langkah
yang tertib dan tersusun. Tujuan pendidikan gizi yaitu menanamkan pengertian
kepada seseorang (=sasaran pendidikan), sehingga pengertian terwujud
dalam sikap serta perbuatan dan kemudian menjadi kebiasaan yang baik dalam
hal makanan, dalam arti : dapat memilih makanan yang sebaliknya di makan
sehari-hari, demi untuk kesehatannya sesuai dengan tingkat sosial

15
ekonominya. Dalam proses pendidikan yaitu membangun perhatian sasaran
pendidikan dengan mengetahui kebutuhannya sehingga lebih mudah
pendekatan terhadap sasaran pendidikan sebagai batu loncatan untuk menarik
perhatian.

Dalam lapangan Ilmu gizi yang bertindak untuk pendidikan, adalah:


1. Petugas dalam Lapangan Kesehatan, Misalnya dokter, perawat, dan
sebagainya.
2. Petugas dalam lapangan pengajaran/pendidikan, guru, dosen dan
sebagainya.
3. Orang yang populer, seperti pejabat pemerintah, tokoh masyarakat dan
sebagainya.

Sasaran Pendidikan dalam lapangan ilmu gizi, dapat bersifat:


1. Perorangan, Misalnya pasien, ibu hamil, dan sebagainya.
2. Kelompok, Misalnya murid dalam kelas, mahasiswa dalam ruang kuliah,
dan sebagainya.
3. Umum, Misalnya pengunjung pameran, hadirin dalam suatu pertemuan dan
sebagainya.

Daftar lingkungan untuk melakukan pendidikan gizi :


1. Tempat, misalnya poliklinik, RS, pratek dokter, dan sebagainya.
2. Waktu, bersifat 1 kali penerangan/ceramah, dan sebagainya.
3. Media Pendidikan, dapat dilakukan secara lisan atau menggunakan alat -
alat.
4. Jarak dapat bersifat dekat ( berhadapan muka) atau jauh.
5. Keuangan, dapat bersifat sangat terbatas, mencukupi atau berlimpah-limpah
dan sebagainya.

16
Persiapan usaha pendidikan dimulai dari penyelidikan terhadap faktor
pendidikan, sasaran pendidikan serta faktor lingkungan; kemudian melakukan
perencanaan, pelaksanaan, penilaian dan terakhirnya perencanaan kembali.

Sasaran pendidikan Gizi yang pokok di antaranya :


1. Para Ibu RT sebagai titik pusat dari segala kegiatan kehidupan keluarga
2. Para Remaja sebagai masa depan bangsa
3. Para (calon) dokter, pejabat penting, tokoh masyarakat dan sebagainya yang
merupakan titik tolak yang potensial besar.

Makanan formulasi
Makanan formulasi adalah proses untuk mengembangkan gizi makanan
untuk kelompok yang berisiko terkena masalah gizi.

Adapun manfaar dari makanan formulasi yaitu :


1. Untuk meningkatkan kandungan gizi mikro
2. Meningkatkan kebutuhan energi
3. Memberikan protein secara adekuat
4. Tersedianya dan tinnginya kualitas protein
5. Adekuat kebutuhan lemak
6. Mudah disiapkan
7. Terjangkau
8. Risiko kontaminasi rendah

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam food formulasi:


1. Kandungan gizi, kandungan makro dan mikro nutrient harus tercukupi
2. Bahan baku murah, tersedia di pasaran, perhatikan asek tradisi masyarakat
tentang makanan
3. Proses, extracting and mixing
4. Daya terima konsumen,

17
5. Distribusi, promosi, harga
6. Efektifitas dan pembelian

Contoh formulasi makanan :


1. Blended foods
Pencampuran antara serealdan bahan-bahan lain yg ditambahkan
seperti : kacang, susu, gula, minyak, vitamin atau premix. Namun, untuk
premix ini cenderung berharga mahal.
Kriteria blended food yang baik adalah :
a. Rasanya lezat
b. Shelflife
c. Persiapannya mudah , dimasak mencakup waktu 5-10 menit
d. Have moisture content <10% dan serat <5%

nilai nutrisi :
Per 100 gram energy 400 kkal, protein 15%, fat 6%

Contoh produk blended food adalah


a. Corn-soya blend (CSB), maize, soya flour, soya oil, vitamin/premix
b. Indiamix , 75% wheat and 25% soya , 55% wheat 25% soya 20%
sugar
c. Famix (ethiopia)
d. Tenamix (tanzania)

Untuk kelompok balita, dibuat formulasi makanan yang TETP, contoh


produknya adalah
a. Rice-mongo Blend (RMB)
b. Banana-peanut
c. Soy-sesame nutrient cube
d. Squash nutient cube

18
Makanan formulasi untuk yang undernourished, mempunyai minimal
energi dan kandungan zat gizi sbb:
a. Energy 350 kkal
b. Protein 14% dari energi
c. Lemak 22% dari energi
d. KH 64% dari energi

Syarat :
a. Minimum Bulk
b. Penampilannya menarik
c. Rasa yang lezat
d. Berasal dari makanan lokal
e. Ketersediaan bahan
f. Biaya pembuatan rendah
g. Mudah untuk para ibu membuatnya sendiri

Subsidi Harga Pangan


Subsidi pangan adalah subsidi dari pemerintah yang dibayarkan kepada
masyarakat agar dapat memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa,
sehingga harga jualnya dapat dijangkau masyarakat.
Selain itu, subsidi pertanian tetap menjadi topik yang kontroversial dari
sisi asal muasalnya maupun kompleksitasnya karena seringkali melibatkan
perusahaan agribisnis besar yang memiliki kepentingan secara politik dan
ekonomi.
Terdapat beberapa dampak nyata dari subsidi pertanian di negara maju
terhadap negara berkembang. Subsidi pertanian menurunkan harga pangan,
yang berarti petani yang tidak disubsidi di negara berkembang tidak dapat
bersaing, dan efeknya adalah bertambahnya jumlah kemiskinan di kalangan
petani yang tidak mampu bersaing dengan harga pangan yang murah.
Diperkirakan dampak subsidi ini terhadap negara berkembang setara dengan

19
kehilangan pendapatan sebesar US$ 24 miliar yang bisa didapatkan negara
berkembang dari sektor pertanian dan industri pengolahan hasil pertanian. Dan
lebih dari US$ 40 miliar gagal didapatkan karena berkurangnya ekspor hasil
pertanian. Subsidi pertanian di negara maju memiliki dampak buruk bagi
pertumbuhan ekonomi sektor pertanian dan perdagangan di negara miskin dan
berkembang dan memiliki dampak yang tidak langsung terhadap berkurangnya
investasi di pedesaan.
Haiti adalah contoh nyata negara berkembang yang terpengaruh secara
negatif dari keberadaan subsidi pertanian di negara maju. Haiti memiliki
kemampuan memproduksi beras dan pernah swasembada. Namun kini Haiti
tidak memproduksi cukup beras untuk penduduknya. 60 persen bahan pangan
di negara tersebut adalah hasil impor. Setelah liberalisasi ekonomi dan
turunnya tarif impor, beras yang diproduksi di dalam negeri tidak mampu
bersaing dengan beras murah bersubsidi dan diproduksi secara efisien karena
mekanisasi pertanian, yang diimpor dari Amerika Serikat. Sedangkan petani
Haiti tidak menerima subsidi sama sekali. Tarif impor turun sebanyak 50%
sejak 1995 dan negara ini mengimpor 80 persen beras yang dikonsumsinya.
USDA mencatat bahwa sejak tahun 1980, produksi beras Haiti tidak
berubah, sedangkan konsumsi meningkat 8 kali lipat sejak tahun tersebut. Haiti
merupakan salah satu importir beras terbesar dari Amerika Serikat. Dengan
ketidakmampuan bersaing, para petani Haiti menyerah dan banyak yang
bermigrasi ke perkotaan untuk mencari pekerjaan lain.
Hal tersebut berdampak pada asupan nutrisi masyarakat. Sebagai contoh
harga bahan pangan berkalori tinggi yang disubsidi seperti serealia dan
kentang diperkirakan menjadi penyebab obesitas di Amerika Serikat karena
harganya yang murah. Gula dari tebu dan bit gula telah diganti dengan
pemanis yang lebih murah seperti sirup jagung sehingga makanan yang manis
pun menjadi lebih murah. Bahkan 63% subsidi yang dikeluarkan oleh Amerika
Serikat dinikmati oleh industri daging dan peternakan susu. Harga jagung yang
rendah membuat sapi pedaging diberikan pakan berbahan dasar jagung. Sapi

20
yang diberikan pakan jagung akan memiliki daging dengan kandungan lemak
yang lebih tinggi.

Integrated program
1. Penyediaan air bersih
Air merupakan zat yang memiliki peranan sangat penting bagi
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Manusia akan
lebih cepat meninggal karena kekurangan air daripada kekurangan
makanan. Di dalam tubuh manusia itu sendiri sebagian besar terdiri dari
air. Tubuh orang dewasa, sekitar 55-60 % berat badan terdiri dari air, untuk
anak-anak sekitar 65 % dan untuk bayi sekitar 80%. Air dibutuhkan oleh
manusia untuk memenuhi berbagai kepentingan antara lain: diminum,
masak, mandi, mencuci dan pertanian.
Menurut perhitungan WHO, di negara-negara maju tiap orang
memerlukan air antara 60-120 liter per hari. Sedangkan di negara-negara
berkembang termasuk Indonesia, tiap orang memerlukan air 30-60 liter per
hari. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah
kebutuhan untuk minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum air harus
mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan
penyakit bagi manusia.
Air minum harus steril (steril = tidak mengandung hama penyakit
apapun). Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah
pedesaan khususnya tidak terlindung sehingga air tersebut tidak atau
kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan
terlebih dahulu.
Pengolahan air untuk diminum dapat dikerjakan dengan 2 cara,
berikut:
a. Menggodok atau mendidihkan air, sehingga semua kumankuman
mati. Cara ini membutuhkan waktu yang lama dan tidak dapat
dilakukan secara besar-besaran.

21
b. Dengan menggunakan zat-zat kimia seperti gas chloor, kaporit, dan
lain-lain. Cara ini dapat dilakukan secara besar-besaran, cepat dan
murah.

Agar air minum tidak menyebabkan penyakit, maka air tersebut


hendaknya diusahakan memenuhi persyaratan-persyaratan kesehatan,
setidaknya diusahakan mendekati persyaratan tersebut. Air yang sehat
harus mempunyai persyaratan sebagai berikut:

Syarat fisik
Persyaratan fisik untuk air minum yang sehat adalah bening (tak
berwarna), tidak berasa, suhu dibawah suhu udara diluarnya
sehingga dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengenal air yang
memenuhi persyaratan fisik ini tidak sukar.
Syarat bakteriologis
Air untuk keperluan minum yang sehat harus bebas dari segala
bakteri, terutama bakteri patogen. Cara untuk mengetahui apakah air
minum terkontaminasi oleh bakteri patogen adalah dengan
memeriksa sampel (contoh) air tersebut. Dan bila dari pemeriksaan
100 cc air terdapat kurang dari 4 bakteri E. coli maka air tersebut
sudah memenuhi syarat kesehatan.
Syarat kimia
Air minum yang sehat harus mengandung zat-zat tertentu
didalam jumlah yang tertentu pula. Kekurangan atau kelebihan salah
satu zat kimia didalam air akan menyebabkan gangguan fisiologis
pada manusia. Sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna di
pedesaan maka air minum yang berasal dari mata air dan sumur
dalam adalah dapat diterima sebagai air yang sehat dan memenuhi
ketiga persyaratan tersebut diatas asalkan tidak tercemar oleh
kotoran-kotoran terutama kotoran manusia dan binatang. Oleh
karena itu mata air atau sumur yang ada di pedesaan harus

22
mendapatkan pengawasan dan perlindungan agar tidak dicemari oleh
penduduk yang menggunakan air tersebut.

2. Penyetaraan Gender
Kesetaraan gender, dikenal juga sebagai keadilan gender, adalah
pandangan bahwa semua orang harus menerima perlakuan yang setara dan
tidak didiskriminasi berdasarkan identitas gender mereka. Ini adalah salah
satu tujuan dari Deklarasi Universal Hak asasi Manusia, PBB yang
berusaha untuk menciptakan kesetaraan dalam bidang sosial dan hukum,
seperti dalam aktivitas demokrasi dan memastikan akses pekerjaan yang
setara dan upah yang sama. Dalam prakteknya, tujuan dari kesetaraan
gender adalah agar tiap orang memperoleh perlakuan yang sama dan adil
dalam masyarakat, tidak hanya dalam bidang politik, di tempat kerja, atau
bidang yang terkait dengan kebijakan tertentu.

3. Penanggulangan Kemiskinan
Salah satu penghambat pembangaunan ekonomi adalah kemiskinan.
Ia merupakan tolak ukur bagi sebuah negara apakah pembangunan yang
tengah berlangsung dapat di nikmati oleh segenap warga negaranya tanpa
memandang hal-hal yang bersifat atributif. Dengan kata lain,
pembangunan yang berlangsung benar-benar merata dalam masyarakat.
Kemiskinan bukan merupakan sesuatu yang berdiri sendiri, sebab ia
merupakan akibat dari tidak tercapainya pembangunan ekonomi yang
berlangsung. Dalam hal ini, kemiskinan akan makin bertambah seiring
tidak terjadinya pemerataan pembangunan.
Di Indonesia beberapa program yang tengah digalakkan oleh
pemerintah dalam menanggulangi kemiskinan antara lain dengan
memfokuskan arah pembangunan pada tahun 2008 pada pengentasan
kemiskinan. Fokus program tersebut meliputi 5 hal antara lain pertama
menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok; kedua mendorong
pertumbuhan yang berpihak pada rakyat miskin; ketiga menyempurnakan

23
dan memperluas cakupan program pembangunan berbasis masyarakat;
keempat meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan dasar;
dan kelima membangun dan menyempurnakan sistem perlindungan sosial
bagi masyarakat miskin. Dari 5 fokus program pemerintah tersebut,
diharapkan jumlah rakyat miskin yang ada dapat tertanggulangi sedikit
demi sedikit.
Salah satu program untuk menanggulangi masalah tersebut adalah
menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok. Fokus program ini
bertujuan menjamin daya beli masyarakat miskin/keluarga miskin untuk
memenuhi kebutuhan pokok terutama beras dan kebutuhan pokok utama
selain beras. Program yang berkaitan dengan fokus ini seperti :
a. Penyediaan cadangan beras pemerintah 1 juta ton
b. Stabilisasi/kepastian harga komoditas primer

Indonesia telah melaksanakan upaya perbaikan gizi sejak tiga puluh tahun
yang lalu. Upaya yang dilakukan di fokuskan untuk mengatasi masalah gizi utama
yaitu: Kurang Energi Protein (KEP), Kurang Vitamin A (KVA), Anemia Gizi Besi
(AGB) dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY) melalui intervensi
yang mencakup penyuluhan gizi di Posyandu, pemantauan pertumbuhan,
pemberian suplemen gizi (melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi dan
tablet besi), fortifikasi garam beryodium, pemberian makanan tambahan termasuk
Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI), pemantauan dan penanganan gizi
buruk (Depkes RI, 2010).
Penanggulangan masalah gizi kurang
Penanggulangan masalah gizi kurang perlu dilakukan secara terpadu
antardepartemen dan kelompok profesi, melalui upaya-upaya peningkatan
pengadaan pangan, penganekaragaman produksi dan konsumsi pangan,
peningkatan status social ekonomi, pendidikan dan kesehatan masyarakat,
serta peningkatan teknologi hasil pertanian dan teknologi pangan, semua
upaya ini bertujuan untuk memperoleh perbaikan pola konsumsi pangan
masyarakat yang beraneka-ragam, dan seimbang dalam mutu gizi.

24
Upaya penanggulangan masalah gizi kurang yang dilakukan secara
terpadu antara lain:
1. upaya pemenuhan persediaan pangan nasional terutama melalui
peningkatan produksi beraneka ragam pangan
2. peningkatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang diarahkan
pada pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan
pangan tingkat rumah tangga
3. peningkatan upaya pelayanan gizi terpadu dan system rujukan
dimulai dari tingkat pos pelayanan terpadu (Posyandu), hingga
puskesmas dan rumah sakit
4. peningkatan upaya keamanan pangan dan gizi melalui sistem
kewaspadaan pangan dan Gizi (SKPG)
5. peningkatan komunikasi, informasi dan edukasi di bidang pangan
dan gizi masyarakat
6. peningkatan teknologi pangan untuk mengembangkan berbagai
produk pangan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat luas
7. intervensi langsung kepada sasaran melalui pemberian makanan
tambahan (PMT), distribusi kapsul viatamin A dosis tinggi, tablet
dan sirop besi serta kapsul minyak beriodium
8. peningkatan kesehatan lingkungan
9. upaya fortifikasi bahan pangan dengan vitamin A, iodium dan zat
besi
10. upaya pengawasan makanan dan minuman
11. upaya penelitian dan pengembangan pangan dan gizi.

Melalui Intruksi Presiden No. 8 tahun 1999 telah dicanangkan gerakan


nasional penanggulangan masalah pangan dan gizi, yang diarahkan :

1. pemberdayaan keluarga untuk meningkatkan ketahanan pangan


tingkat rumah tangga

25
2. pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan cakupan, kualitas
pencegahan dan penanggulangn masalah pangan dan gizi di
masyarakat
3. pemantapan kerja sama lintas sektor dalam pemantauan dan
penanggulangan masalah gizi melalui SKPG
4. peningkatan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan
(Azwar, A. 2000).

Penanggulangan Masalah Gizi Lebih


Masalah gizi lebih disebabkan oleh kebanyakan masukan energi
dibandingkan dengan keluaran energi.Penanggulangannya adalah dengan
menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makan
dan penambahan latihan fisik atau olahraga serta meghindari tekanan
hidup/stress.P menyeimbangan masukan energi dilakukan dengan membatasi
konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi alkohol. Untuk
itu diperlukan upaya penyuluhan ke masyarakat luas. Disamping itu,
diperlukan peningkatan teknologi pengolahan makanan tradisional Indonesia
siap santap, sehingga makanan tradisional yang lebih sehat ini disajikan
dengan cara-cara dan kemasan yang dapat menyaingi cara penyajian dan
kemasan makanan barat.

2.4 Hambatan dan Kendala Intervensi Gizi


Untuk mengatasi masalah gizi, diperlukan aksi lintas sektoral Asupan
makanan yang tidak memadai dan penyakit yang merupakan penyebab langsung
masalah gizi ibu dan anak adalah karena praktek pemberian makan bayi dan
anak yang tidak tepat dan, penyakit dan infeksi yang berulang terjadi, perilaku
kebersihan dan pengasuhan yang buruk. Pada gilirannya, semua ini disebabkan
oleh faktor-faktor seperti kurangnya pendidikan dan pengetahuan pengasuh anak,

26
penggunaan air yang tidak bersih, lingkungan yang tidak sehat, keterbatasan akses
ke pangan dan pendapatan yang rendah.
Intervensi gizi merupakan bagian dari program terpadu pengembangan anak
usia dini Misalnya, penambahan zat gizi mikro pada makanan anak-anak atau
pemberian makanan yang diperkaya dengan vitamin dan mineral, dan pemberian
konseling kepada ibu dan bapak tentang praktek pemberian makan harus berjalan
seiring dengan pengajaran orang tua tentang perilaku kesehatan dan kebersihan
secara optimal, kegiatan untuk meningkatkan keterampilan orangtua, dan
intervensi psikososial untuk mempromosikan perkembangan psikologis anak.
Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 menunjukan angka nasional 37,2 persen,
bervariasi dari yang terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan
Kalimantan Timur (<30%) sampai yang tertinggi (>50%) di Nusa Tenggara
Timur. Tidak berubahnya prevalensi status gizi, kemungkinan besar belum
meratanya pemantauan pertumbuhan, dan terlihat kecenderungan proporsi balita
yang tidak pernah ditimbang enam bulan terakhir semakin meningkat dari 25,5
persen (2007) menjadi 34,3 persen (2013).
Intervensi yang terkait dengan praktek- praktek pemberian makanan anak dan
gizi ibu merupakan kunci untuk menangani gizi kurang pada anak-anak adalah
1000 hari pertumbuhan yang menentukan (Bhutta,2013): konseling gizi bagi ibu
hamil dan ibu anak-anak muda, praktek pemberian makan bayi dan anak yang
tepat: inisiasi pemberian ASI dalam jam pertama kelahiran, pemberian ASI
eksklusif kepada bayi usia kurang dari enam bulan, dan pengenalan makanan
pendamping ASI sesuai dengan praktek-praktek yang direkomendasikan pada usia
6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian ASI sampai usia minimal dua tahun Gizi
mikro bagi perempuan hamil dan bagi anak,perilaku kebersihan yang baik dalam
kehamilan, masa bayi and usia dini pemberantasan penyakit cacingan bagi ibu dan
anak-anak usia 1-5 tahun, pengobatan anak yang sangat kurus, dengan
menggunakan makanan terapetik siap pakai, pemberian makanan tambahan bagi
ibu hamil yang kekurangan energi dan protein bagi ibu hamil kurang makan. oleh
karena itu diperlukan bantuan dari pihak-pihak pemerintah terutaa petugas
kesehatan gizi.

27
Ada tiga hambatan utama terhadap peningkatan gizi dan perkembangan anak.
Pertama, masalah air bersih yang masih belum teratasi sampai sekarang. Kedua,
banyak pihak menghubungkan gizi kurang dengan kurangnya pangan dan percaya
bahwa penyediaan pangan merupakan jawabannya. Ketersediaan pangan bukan
penyebab utama gizi kurang di Indonesia, meskipun kurangnya akses ke pangan
karena kemiskinan merupakan salah satu penyebab. Ketiga, pengetahuan yang
tidak memadai dan praktek-praktek yang tidak tepat merupakan hambatan
signifikan terhadap peningkatan gizi. Pada umumnya, orang tidak menyadari
pentingnya gizi selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan sebagia
contoh: perempuan tidak menyadari pentingnya gizi mereka sendiri, masyarakat
dan petugas kesehatan perlu memahami pentingnya ASI eksklusif dan praktek-
praktek pemberian makan bayi dan anak yang tepat, dan memberikan dukungan
kepada para ibu, keluarga seringkali tidak memiliki pengetahuan tentang gizi dan
perilaku kesehatan, penyedia layanan kesehatan dan petugas masyarakat tidak
memberikan konseling gizi yang memadai, pengambil keputusan lokal seringkali
tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang apa yang dapat dan tidak dapat
dilakukan untuk meningkatkan gizi.

28
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Tujuan dari intervensi gizi yaitu mengatasi atau memperbaiki masalah gizi
dengan perencanaan dan implementasi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan
kondisi yang dihadapi. Adapun di Indonesia terdapat lima masalah gizi utama yaitu
KEP, AGB, KVA, GAKY, dan gizi lebih. Cara intervensinya adalah dengan
suplementasi dan fortifikasi pangan, pendidikan gizi, makanan formulasi, subsidi
harga pangan, dan integrated program. Terdapat pula hambatan dalam intervensi
gizi yaitu masalah air bersih yang masih belum teratasi sampai sekarang, banyak
pihak menghubungkan gizi kurang dengan kurangnya pangan dan percaya bahwa
penyediaan pangan merupakan jawabannya, pengetahuan yang tidak memadai dan
praktek-praktek yang tidak tepat merupakan hambatan signifikan terhadap
peningkatan gizi.

29
DAFTAR PUSTAKA

Saisab, Jacklin. 2016. Masalah Gizi di Indonesia.


http://jacklinsaisab.blogspot.co.id/2016/11/makalah-masalah-gizi-di-
indonesia.html?m=1. Diakses pada 12 November 2017.

Zerzawa, Aking. 2012. Makalah Gizi Masyarakat.


https://hakimkep.wordpress.com/2012/06/08/makalah-gizi-masyarakat/. Diakses
pada 12 November 2017.

30