Anda di halaman 1dari 12

ATOM DAN ION, MUATAN LISTRIK, POTENSIAL, ARUS DAN HAMBATAN

LISTRIK

OLEH
KELOMPOK 9 :

1. MEIWAN PASRAH CHRISTIAN HULU


2. UBAY ANWAIRI
3. AYU MEWATI WARUWU
4. RICA CIBRO

DOSEN PENGAJAR :

Ns. Johansen Hutanjulu, AP, S.kep, M. Kep, Cand. Ph.D

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
TAHUN AJARAN 2017/2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan atas kehadiran Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat dan
kasih karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul Ilmu
DasarKeperawatan, Atom dan ion, muatan listrik, potensial, arus dan hambatan listrik

Dalam penulisan makalah ini penulis tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan arahan
dari semua pihak, baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu kami berterimakasih
kepada dosen sebagai pembimbing kami dan teman-teman semua yang selalu mendukung
dalam penyelesaian makalah ini.

Akhir kata penulis ucapkan terimakasih kepada pihak yang terkait dalam pemberian
bantuan kepada penulis. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi setiap pembaca.

Medan, 02 Oktober 2017

Penulis

Kelompok 9

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................... i

DAFTAR ISI................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ................................................................................. 1
B. TUJUAN ...................................................................................................... 1

BAB II TINJAUAN TEORI


A. ATOM DAN ION, MUATAN LISTRIK, POTENSIAL LISTRIK, ARUS
DAN HAMBATAN LISTRIK.................................................................... 2
B. POTENSIAL LISTRIK PADA BERBAGAI KEADAAN SEL ................. 5

BAB III PENUTUP


A. KESIMPULAN ............................................................................................ 10
B. SARAN ........................................................................................................ 10

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Lisrik adalah sumber energy yang di salurkan melalui kabel. Tetapi dalam tubuh
manusia juga terdapat gelombang arus listrik yang disebut Biolistrik. Tegangan listrik pada
tubuh kita berbeda dengan apa yang kita bayangkan. Seperti listrik dirumah tangga.
Kelistrikan pada tubuh berkaitan dengan komposisi ion yang terdapat dalam tubuh.
Komposisi ion ekstra sel berbeda dengan komposisi ion intra sel. Pada ekstra sel lebih banyak
ion Na dan CI2, sedangkan intra sel terdapat ion H dan Anion protein. Tubuh kita boleh
disebut sebagai system elekrtomagnetik. Sebab, kelistrikan sangat erat kaitannya dengan
kemagnetan. Otak kita memiliki medan kemagnetan. Sebagaimana jantung ataupun bagian-
bagian lain di tubuh kita.

B. TUJUAN

1. Dapat mengetahui pengertian serta fungsi dari : atom dan ion, muatan listrik, potensial
listrik, arus dan hambatan listrik.
2. Dapat mengetahui manfaat potensial listrik pada berbagai keadaan sel.

iv
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Atom Dan Ion, Muatan Listrik, Potensial Listrik, Arus Dan Hambatan Listrik
1. Atom dan ion

a) Atom

Tubuh, layaknya semua materi lain terdiri dari atom. Atom merupakan
susunan materi pembangun. Walaupun awalnya kata atom berarti suatu partikel
yang tidak dapat dipotong-potong lagi menjadi partikel yang lebih kecil, dalam
terminologi ilmu pengetahuan modern, atom tersusun atas berbagaipartikel
subatom. Partikel-partikel penyusun atom ini adalah elektron, proton,
dan neutron. Namun hidrogen-1 tidak mempunyai neutron. Demikian pula halnya
pada ion hidrogen positif H+.

Dari kesemua partikel subatom ini, elektron adalah yang paling ringan,
dengan massa elektron sebesar 9,11 1031 kg dan mempunyai muatan negatif.
Ukuran elektron sangatlah kecil sedemikiannya tiada teknik pengukuran yang
dapat digunakan untuk mengukur ukurannya. Proton memiliki muatan positif dan
massa 1.836 kali lebih berat daripada elektron (1,6726 1027 kg). Neutron tidak
bermuatan listrik dan bermassa bebas 1.839 kali massa elektron atau
(1,6929 1027 kg).

Atom dari unsur kimia yang sama memiliki jumlah proton yang sama,
disebut nomor atom. Suatu unsur dapat memiliki jumlah neutron yang bervariasi.
Variasi ini disebut sebagai isotop.

b) Ion

Ion adalah atom atau sekumpulan atom yang bermuatan listrik. Ion
bermuatan negatif, yang menangkap satu atau lebih elektron, disebut anion,
karena dia tertarik menuju anoda. Ion bermuatan positif, yang kehilangan satu
atau lebih elektron, disebut kation, karena tertarik ke katoda. Proses pembentukan
ion disebut ionisasi. Atom atau kelompok atom yang terionisasi ditandai dengan
tikatas n+ atau n-, di mana n adalah jumlah elektron yang hilang atau diperoleh. Ion

v
juga merupakan pembawa muatan sehingga mampu menghantarkan arus listrik
yang merupakan salah satu alasan mengapa kita mudah sekali
tersetrum,dikarenakan arus listrik yang dihantarkan oleh tubuh jauh lebih besar
daripada arus listrik yang kita perlukan untuk melaksanakan fungsei normal tubuh
di jantung. Akibatnya impuls listrik tersebut mengalahkan impuls listrik normal
yaang menyebabkan jantung berdetak sehingga jantung sama sekali berhenti
berdetak atau mungkin berdetak secara abnormal.

Ion pertama kali disajikan dalam bentuk teori oleh Michael Faraday pada
sekitar tahun 1830, untuk menggambarkan mengenai bagian melekul yang
bergerak ke arah anoda atau katoda dalam suatu tabung hampa udara.

2. Muatan Listrik

Muatan listrik, Q, adalah muatan dasar yang dimiliki suatu benda. Satuan Q
adalah coulomb, yang merupakan 6.24 x 1018 muatan dasar. Q adalah sifat dasar yang
dimiliki oleh materi baik itu berupa proton (muatan positif) maupun elektron (muatan
negatif). Muatan listrik total suatu atom atau materi ini bisa positif, jika atomnya
kekurangan elektron. Sementara atom yang kelebihan elektron akan bermuatan negatif.
Besarnya muatan tergantung dari kelebihan atau kekurangan elektron ini, oleh karena itu
muatan materi/atom merupakan kelipatan dari satuan Q dasar. Dalam atom yang netral,
jumlah proton akan sama dengan jumlah elektron yang mengelilinginya (membentuk
muatan total yang netral atau tak bermuatan).

Muatan listrik dalam tubuh dibagi menjadi 2 :

1) Muatan listrik negatif terdapat di permukaan dalam membran.

2) Muatan listrik positif terdapat di permukaan luar membran.

3. Arus Listrik

Arus listrik adalah banyaknya muatan listrik yang mengalir melalui suatu titik
dalam sirkuit listrik tiap satuan waktu. Arus listrik dapat diukur dalam satuan Coulomb /
detik atau Ampere. Contoh arus listrik dalam kehidupan sehari-hari berkisar dari yang
sangat lemah dalam satuan mikroAmpere (A) seperti di dalam jaringan tubuh hingga

vi
arus yang sangat kuat 1-200 kiloAmpere (kA) seperti yang terjadi pada petir. Dalam
kebanyakan sirkuit arus searah dapat diasumsikan resistansi terhadap arus listrik adalah
konstan sehingga besar arus yang mengalir dalam sirkuit bergantung pada voltase dan
resistansi sesuai dengan hukum Ohm.

Arus listrik merupakan satu dari tujuh besaran pokok dalam satuan
internasional. Satuan internasional untuk arus listrik adalah Ampere (A). Secara formal
satuan Ampere didefinisikan sebagai arus konstan yang, bila dipertahankan, akan
menghasilkan gaya sebesar 2 x 10-7 Newton/meter di antara dua penghantar lurus sejajar,
dengan luas penampang yang dapat diabaikan, berjarak 1 meter satu sama lain dalam
ruang hampa udara.

4. Hambatan Listrik

Hambatan listrik suatu objek tindakan oposisi terhadap bagian dari sebuah arus
listrik .Sebuah objek penampang seragam memiliki resistensi yang proporsional kepada
paratahanan dan panjang dan berbanding terbalik dengan cross-sectional
daerahnya. Semua bahan menunjukkan perlawanan beberapa, kecuali
untuk superkonduktor , yang memiliki ketahanan dari nol.

Hambatan listrik adalah perbandingan antara tegangan listrik dari suatu komponen
elektronik (misalnya resistor) dengan arus listrik yang melewatinya. Hambatan listrik
yang mempunyai satuan Ohm dapat dirumuskan sebagai berikut:

R=V/I

di mana V adalah tegangan dan I adalah arus listrik.

Alat untuk mengukur resistensi disebut ohmmeter . Ohmmeter tidak bisa mengukur
resistensi rendah akurat karena hambatan lead mengukur, menyebabkan penurunan
tegangan yang mengganggu pengukuran. Untuk lebih akurat menggunakan perangkat
empat-terminal penginderaan.

5. Potensial Listrik

Potensial listrik dalam tubuh sering disebut sebagai potensial saraf. Di permukaan
(atau membran) setiap neuron, terdapat beda potensial listrik (voltase) akibat muatan

vii
negatif neto di permukaan dalam membran dan muatan positif neto di permukaan luar.
Muatan neto adalah hasil dari interaksi rumit antara ion-ion negatif dan positif. Neuron
di katakan mengalami polarisasi. Bagian dalam sel biasanya lebih negatif 60 sampai
90mV daripada bagian luar.

B. Potensial Listrik Pada Berbagai Keadaan Sel


a. Transduksi sinyal.
Transduksi sinyal merupakan proses penyampaian pesan. Jadi ada pesan dari luar sel
terus di membran sel ia ketemu reseptornya dan mengakibatkan ada suatu tanggapan dari
dalam sel.

Kalo digambar di atas itu stimulus dari luar sel berupa ligand. kemudian terjadi ikatan
antara ligan tersebut dengan reseptor yang ada di membran sel.

menurut sifat stimulator / ligandnya, transduksi signal dapat dibagi menjadi 2:

1) Reseptor Intraselular

Ligandnya merupakan senyawa yang dapat larut dalam lipid. karenanya ia bisa
langsung nembus membran sel trus masuk ke dalam sel menuju reseptornya yg ada
di dalam sel.

2) Reseptor di Membran sel

Ada juga ligand yang tidak bisa larut dalam lipid, jadi tidak bisa nembus
membran sel. Terus gimana? Tenang! ada reseptornya di membran sel. jadi ia cuman
perlu nempel di reseptor di membran sel tersebut.

viii
b. Sel Saraf dalam Keadaaan Istirahat
Dalam suatu sel saraf maupun sel sel hidup lainnya membran sel mempertahankan
kondiisi intraseluler yang berbeda dengan lingkungan ekstraselulernya. Setiap sel saraf
menghasilkan sedikit ion negatif yang berada di dalam sel dan ion positif yang berada di
luar membran sel. Sel mempunyai lapisan yang disebut membran sel dan di dalam sel ini
terdapat ion Na+, Ion K+, Ion Cl-.
Sel saraf menggunakan difusi pasif dan membran sel nya. Suatu sel saraf berada
dalam keadaan istirahat, saluran Na+ yang bergantung pada tegangan tertutup sehingga
menjadi ketidaksamaan distribusi Na+. Membran sel saraf yang berada dalam keadaan
istirahat (tidak adanya proses konduksi implus listrik), konsentrasi ion Na+ lebih banyak
di luar sel daripada di dalam sel, di dalam sel akan lebih negatif dibandingkan dengan di
luar sel.
Dalam keadaan istirahat membran sel tidak pemiabel terhadap anion yang besar.
Dengan demikian kelebihan muatan negatif terbentuk tepat di bagian dalam permukaaan
membran sel. Beda potensial pada membran sel sekitar 70mV dan potensial listrik adalah
nol. Dengan demikian beda potensial di dalam mebran sel 70mV. Membrane sel ini
disebut dalam keadaan polirisasi. Ini adalah potensial sel saraf dalam keadaan istrirahat.

1) Rangsangan sel saraf


Potensial sel saraf dalam keadaan istirahat dapat diganggu oleh rangsangan
listrik, kimia maupun fisis. Butir butir membrane sel akan berubah dan beberapa
ion Na+ akan masuk dari luar ke dalam sel. Di dalam sel akan menjadi kurang
negatif (lebih positif) dari pada di luar sel dan potensial membran ini disebut dalam
keadaan depolarisasi. Gangtguan ini mungkin hanya sedikit mempengaruhi
potensial membran pada titik ransangan. Potensial membran dengan cepat kembali
pada noilai istirahatnya yaitu -70Mv. Jika ransangan cukup kuat hingga
menyebabkan depolarisasi dari piotensial istirahat. Saluran membran karena adanya
perubahan potensial akan terbuka. Karena ada gradien konsentrasi dan gradien
listrik, ion Na+ mengalir melalui sel dalam waktu yangbcepat dan jumlahyang
banyak serta m3enimbulkan arus listrik. Pada bagian dalam membran menghasilkan
perubahan polaritas membran danmenyebabkan potensial listrik. Setelah depolarisasi
saluran Na+ tertutup untuk waktu yang cukup singkat sampai membran sel sarap

ix
tidakl dapat diransang lagi. Periode ini dinamakan dengan periode pemulihan.
Perubahan transien pada potensial ;listrik diantara membran dinyatakan sebagai
potensial aksi. Potensial aksi merupakan penomena keseluruhan yang berarti bahwa
begitu nilai ambang tercapai, peningkatan waktu dan amplitudo dari potensial aksi
akan selalu sama tidak perduli macam apapun intensitas dari ransangan.

2) Perambatan infuls saraf

Depolarisasi lokal pada titik mula ransangan menyebabkan gerakan difusi pasif
ion yang berada pada daerah ransangan. Karna adanya potensial aksi sebagian kecil
membran mengalami depolarisasi akibat adantya aliran ion dalam membran. Saat
poroses depolarisasi ini mencapai batas ambang potensial aksi dihasilkan kembli
pada bagian akson. Adanya periode pemulihan yaitu selama sebagian membran
mengalami depolarisasi dan tidak dapat diransang lagi. Implus saraf hanya dapat
merambat pada satu arah tertentu saja danmenjauhi tubuh sel saraf. Impuls akan
terus bergerak hingga mencapai terminal.Dan menyebabkan dilepaskannya
neurottransmiter dari membran sel saraf. Proses penghantaran implus saraf aliran
listrik mengalir kedalam dan keluar melalui membran serta tegak lurus searah
perhambatan impuls. Perambatan impuls melalui akson yang diselimuti lapisan
mylin sedikit berbeda dengan perambatan melalui akson tanpa myelin. Aktivitas
listrik pada sel saraf yang dilapisi myelin hanya terbatas pada node ranvier karna
adanya konsentrasi yang cukup besar dari saluran ion yang bergantung pada
tegangan. Kecepatan rambat pada akson saraf dengan lapisan myelin adalah 12m/s.
Kecepatan rambat ini juga bergantung pada hambatan dari akso plasma dan
kapasitas membran. Akson dengan lapisan myelin memiliki kapasitansi yang lebih
rendah dibandingkan akson tanpa lapisan myelin. Semakin rendah kapasitansi
membran semakin kecil muatannya, dan waktu depolarisasinya semakin singkat.

c. Depolaris
Depolaris adalah keadaan dimana saraf sedang menjalankan rangsang. Pada keadaan
ini muatan yang lebih negatif berada di sisi luar membrane sedangkan muatan yang lebih
positif berada di sisi dalam memberan. Membrane sel saraf bersifat impermeable
terhadap ion kalium dan p permeable terhadap ion natrium sehingga ion (Na) berdifusi
dan ion (K) ditahan. Dalam keadaan ini pula dikenal potensial aksi, yaitu potensial

x
membrane yang diukur pada saat sel terdepolarisasi. Proses ini terjadi jika terdapat
rangsangan yang akan menjadi impuls bagi saraf.

d. Hiperpolarisasi
Hiperpolarisasi adalah peningkatan besar potensial membrane negatif, membrane
memjadi lebih terpolarisasi dibandingkan pada potensial istrahat. Selam heperpolarisasi
potensial membrane semakin menjauhi, menjadi lebih negative lebih banyak muatan
yang dipisahkan dibandingkan dengan potensial istrahat.

e. Potensial aksi
Potensial aksi adalah peristiwa elektris (listrik) yang terlokalisir, yaitu depolarisasi
membrane pada titik perangsangan yang spesifik. Neuron umumnya dirangsang pada
dendritnya atau badan selnya, supaya potensial aksi yang dihasilkan itu berfungsi sebagai
suatu sinyal, potensial aksi itu dengan suatu cara halus berjalan di sepanjang akson ke
ujung lain sel itu.

xi
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Atom merupakan susunan materi pembangun. Walaupun awalnya kata atom berarti
suatu partikel yang tidak dapat dipotong-potong lagi menjadi partikel yang lebih kecil,
dalam terminologi ilmu pengetahuan modern, atom tersusun atas berbagaipartikel
subatom.

Depolarisasi lokal pada titik mula ransangan menyebabkan gerakan difusi pasif ion
yang berada pada daerah ransangan. Karna adanya potensial aksi sebagian kecil
membran mengalami depolarisasi akibat adantya aliran ion dalam membran. Saat
poroses depolarisasi ini mencapai batas ambang potensial aksi dihasilkan kembli pada
bagian akson.

B. SARAN
Dengan adanya makalah ini diharapkan pembaca dapat memahami defenisi dari atom
dan ion, muatan listrik, potensial listrik, arus dan hambatan listrik. Serta potensial listrik
pada berbagai keadaan sel, dan mampu megetahui apa aja yang menjadi motivasi dalam
penerapannya agar dapat mengetahui peranannya dalam keperawatan yang profesional.

xii

Anda mungkin juga menyukai