Anda di halaman 1dari 16

BELT CONVEYOR

Disusun Oleh:

Alif Dzaki Wicaksono 21030116140172


Ariel Siregar 21030116120051
Atikah Destya Candra Pratiwi 21030116120017
Irfan Dwi Laksana 21030116130140
Muhammad Alim Abbid F. 21030116140108
Nazma Afiati Sholiha 21030116130085

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017

1
BAB I
PENDAHULUAN

Di dalam industri, bahan-bahan yang digunakan kadangkala merupakan


bahan yang berat maupun berbahaya bagi manusia. Untuk itu diperlukan alat
transportasi untuk mengangkut bahan-bahan tersebut mengingat keterbatasan
kemampuan tenaga manusia baik itu berupa kapasitas bahan yang akan diangkut
maupun keselamatan kerja dari karyawan.
Pemindah material berfungsi untuk memindahkan material pada area
tertentu, pada suatu departemen, pabrik dan pembangkit, lokasi konstruksi, tempat
penyimpanan dan pemuatan. Pengelompokan peralatan pemindah material
berdasarkan bentuk desainnya adalah hoisting equipment, conveying equipment
dan surface and overhead equipment. Conveying equipment terdiri dari banyak
macam peralatan pemindah, dimana dalam pemilihan conveyor atau peralatan
pemindah lainnya dipengaruhi oleh jenis material yang akan diangkut, kapasitas
yang dibutuhkan dalam waktu tertentu, arah dan panjang pemindahan, sehingga
selain faktor engineering, faktor nilai ekonomis juga perlu diperhatikan dalam
pemilihan peralatan pemindah material.

Transportasi padatan terbagi menjadi dua macam, yaitu:


1. Batch
Transportasi padatan secara batch ditujukan untuk memindahkan
material dalam satu batch, seperti menggunakan container, mesin
pengangkat seperti reach stacker, atau berbagai jenis crane.
2. Continue
1. Conveyor
Conveyor merupakan alat pemindahan yang terdiri dari beberapa
macam jenis antara lain: scrapper, belt, srew. Alat ini digunakan untuk
memindahkan bahan dengan prinsip daerah lintasannya yaitu berupa
lintasan horizontal, inklinasi, maupun kombinasi.
2. Elevator
Elevator merupakan suatu alat pemindah atau transportasi
bahan yang dilengkapi dengan bucket dan penggunaan nya untuk
memindahkan bahan yang letak pemindahan nya memerlukan arah
vertical (atas ke bawah atau sebaliknya).

2
Salah satu jenis alat pengangkut yang sering digunakan adalah Conveyor
yang berfungsi untuk mengangkut bahan -bahan industri yang berbentuk padat.
Pemilihan alat transportasi (conveying equipment) material padatan antara lain
tergantung pada :
1. Kapasitas material yang ditangani
2. Jarak perpindahan material
3. Kondisi pengangkutan : horizontal, vertikal atau inklinasi
4. Ukuran (size), bentuk (shape) dan sifat material (properties)
5. Harga peralatan tersebut.

Secara umum jenis/type Konveyor yang sering digunakan dapat


diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Belt Conveyor
2. Chain Conveyor : a. Scraper Conveyor
b. Apron Conveyor
c. Bucket Conveyor
d. Bucket Elevator
3. Screw Conveyor
4. Pneumatic Conveyor

Salah satu alat transportasi zat padat adalah belt conveyor. Tujuan dari
penggunaan alat ini adalah mentransport material mulai dari raw material hingga
hasil produksi, termasuk memindahkan material antar work station. Belt
conveyor banyak digunakan dalam metallury, pertambangan batubara, bahan
bangunan, dan industri lainnya.

Karakteristik dan performance dari belt conveyor yaitu :


1. Dapat beroperasi secara mendatar maupun miring dengan sudut
maksimum sampai dengan 18.
2. Sabuk disanggah oleh plat roller untuk membawa bahan.

3
3. Kapasitas tinggi.
4. Serba guna.
5. Dapat beroperasi secara continue.
6. Kapasitas dapat diatur.
7. Kecepatannya sampai dengan 600 ft/m.
8. Dapat naik turun.
9. Perawatan mudah.

4
BAB II
BELT CONVEYOR

2.1. Belt Conveyor


Belt Conveyor pada dasarnya mernpakan peralatan yang cukup sederhana.
Alat tersebut terdiri dari sabuk yang tahan terhadap pengangkutan benda padat.
Sabuk yang digunakan pada belt conveyor ini dapat dibuat dari berbagai jenis bahan
misalnya dari karet, plastik, kulit ataupun logam yang tergantung dari jenis dan sifat
bahan yang akan diangkut. Untuk mengangkut bahan-bahan yang panas, sabuk yang
digunakan terbuat dari logam yang tahan terhadap panas.
Belt conveyor dapat digunakan untuk memindahkan muatan satuan (unit
load) maupun muatan curah (bulk load) sepanjang garis lurus atau sudut inkliinasi
terbatas. Belt conveyor secara intensif digunakan di setiap cabang industri. Pada
industri pupuk digunakan untuk membawa dan mendistribusikan pupuk. Dipilihnya
belt conveyor sistem sebagai sarana transportasi pupuk adalah karena tuntutan untuk
meningkatkan produktivitas, menurunkan biaya produksi dan juga kebutuhan
optimasi dalam rangka mempertinggi efisiensi kerja.

2.2. Gambar Belt Conveyor

Gambar 2.1 Konstruksi konveyor sabuk

Konveyor sabuk yang sederhana terdiri dari :


1) Rangka (Frame)
5
2) Pulli penggerak (Drive pulley)
3) Pulli yang digerakkan (Tail pulley)
4) Pulli Pengencang (Snub pulley)
5) Sabuk (Belt)
6) Rol pembawa (Carrying roller idler)
7) Rol Kembali (Return roller idler)
8) Rol pemuat
9) Motor penggerak
10) Unit pemuat (Chutes)
11) Unit pengeluar (Discharge spout)
12) Pembersih sabuk (Belt cleaner)
13) Pengetat sabuk (Belt take-up)
a. Rubber belt
Rubber belt adalah komponen utama untuk membawa material, dimana
kekuatannya tergantung kepada kapasitas material yang ditransportnya. Rubber
belt terbuat dari karet yang direinforcment (diperkuat) oleh carcass, yaitu rajutan
dari benang nilon atau lainnya yang sangat kuat, sedang untuk belt dengan lintasan
yang cukup jauh dibutuhkan belt dengan kekuatan tarik yang cukup besar,
sehingga belt ini direinforcement dengan anyaman kawat baja atau steel cord.
Rubber belt ini dibuat dengan panjang tertentu, sehingga diperlukan sambungan,
baik dengan sistem mechanical atau pun vulcanized (dingin atau
pemanasan). Secara umum persyaratan belt adalah sebagai berikut :
Tahan beban tarik
Tahan beban kejut
Perpanjangan spesifik yang rendah
Fleksibel
Tidak menyerap air

Belt terdiri dari beberapa lapis :


Top cover (rubber)
Breaker ply (pelindung carcass)
Fabrik carcass (canvas atau ply)
Bottom cover
b. Carrying idler
6
Berfungsi untuk menjaga belt pada bagian yang berbeban atau sebagai roll
penunjang ban bermuatan material.
c. Return idler
Berada di bawah belt pada sisi balik conveyor. Berfungsi untuk
menyangga belt dengan arah putar balik.
d. Motor
Berfungsi sebagai penggerak utama dari Belt Conveyor. Dalam
pengoperasiannya dihubungkan dengan gearbox dan fluid coupling.
Menggerakkan belt kosong dan mengatasi gesekan-gesekan antara idler
dengan komponen lain.
Menggerakkan muatan secara mendatar.
Mengangkut muatan secara tegak (vertikal).
Menggerakkan tripper dan perlengkapan lain.
Memberikan percepatan pada belt yang bermuatan bila sewaktu-waktu
diperlukan.
e. Drive pulley
Merupakan pulley yang secara langsung atau tidak langsung
terhubung dengan motor listrik dan dikopling dengan gearbox. Fungsinya
untuk memutar belt menuju ke depan.

Bentuk-bentuk Pulley :

7
Gambar 2.2 Bentuk-bentuk Pulley

f. Belt Take Up
Pulley yang berfungsi untuk menjaga ketegangan belt.
Take up pulley terhubung dengan counter weight.
g. Frame atau Kerangka
Merupakan konstruksi baja yang menyangga seluruh
susunan belt conveyor dan harus ditempatkan sedemikian
rupa sehingga jalannya belt yang berada diatasnya tidak
terganggu.

2.3. Cara Kerja


Belt Conveyor (konveyor sabuk) memiliki komponen utama berupa sabuk yang
berada diatas roller-roller penumpu. Sabuk digerakkan oleh motor penggerak melalui
suatu pulley, sabuk bergerak secara translasi dengan melintas datar atau miring
tergantung kepada kebutuhan dan perencanaan. Material diletakkan diatas sabuk dan
bersama sabuk bergerak kesatu arah. Pada pengoperasiannya konveyor sabuk
menggunakan tenaga penggerak berupa motor listrik dengan perantara roda gigi yang
dikopel langsung ke puli penggerak. Sabuk yang berada diatas roller-roller akan bergerak
melintasi roller-roller dengan kecepatan sesuai putaran dan puli penggerak.

2.4 Kelebihan dan Kelemahan


2.4.1 Kelebihan Belt Conveyor
1. Mampu membawa beban berkapasitas besar.
2. Kecepatan sabuk dapat diatur untuk menetapkan jumlah material yang
dipindahkan persatuan waktu

8
3. Dapat bekerja dalam arah yang miring tanpa membahayakan operator
yang mengoperasikannya
4. Memerlukan daya yang lebih kecil, sehingga menekan biaya operasinya
5. Tidak mengganggu lingkungan karena tingkat kebisingan dan polusi
yang rendah.
6. Lebih ringan dari pada konveyor rantai maupun bucket conveyor.
7. Aliran pengangkutan berlansung secara terus menerus/kontinu

Belt conveyor adalah mesin pemindah yang paling universal karena


3
kapasitas cukup besar (500 s.d 5000 m /jam atau lebih), sanggup memindahkan
material pada jarak relatif besar (500 s/d 1000 m atau lebih), desain yang sangat
sederhana dan pengoperasian yang baik. Belt conveyor dapat digunakan untuk
memindahkan berbagai unit material sepanjang arah horizontal atau pada suatu
kemiringan tertentu pada berbagai industri. Contohnya pada industri pengecoran
logam, tambang batubara, produksi beton, industri makanan dan lain-lain.

2.4.2 Kelemahan Belt Conveyor


1. Sabuk sangat peka terhadap pengaruh luar, misalnya timbul kerusakan
pada pinggir dan permukaan belt, sabuk bisa robek karena batuan yang
keras dan tajam atau lepasnya sambungan sabuk.
2. Biaya perawatannya sangat mahal.
3. Jalur pemindahan (transfer line). Karena untuk satu unit belt conveyor
hanya bisa dipasang untuk jalur lurus.
4. Kemiringan/sudut inklinasi yang terbatas.

2.5 Penerapan dalam Industri

Belt conveyor merupakan alat yang sudah banyak digunakan dalam industri. Belt
conveyor banyak digunakan dalam metallury, pertambangan batubara, bahan bangunan, bahan
kimia, listrik, pabrik semen, dan industri lainnya. Salah satu penggunaannya dalam industri
semen adalah sebagai pengangkut zat padat seperti batu kapur yang keluar dari crusher. Bahan
yang diangkut belt conveyor dari jaw crusher berupa bahan yang telah mengalami size reduction.
Bahan tersebut diangkut oleh belt conveyor menuju hammer mill untuk dikecilkan lagi
ukurannya. Disinilah peran belt conveyor dalam industri pembuatan semen, yaitu mengangkut

9
bahan baku semen yaitu batu kapur dari jaw crusher ke hammer mill.

Gambar Bagan Pembuatan Semen

Keterangan :
1. JAW CRUSHER (B) 6. STORAGE SILO
2. BELT CONVEYOR 7. BALL MILL
3. HAMMER MILL (B) 8. BLENDING SILO
4. BUCKET ELEVATOR 9. VERTICAL SHAFT KILN
5. RAW MATERIAL SILO 10. TRUCK LODING

2.6 Daftar Perhitungan Perancangan Belt Conveyor

a. Rumus Kapasitas

Q = A. V. . 60 (Horizontal)
Q = k. A. V. . 60 (Inklinasi)
Keterangan :
A : Total cross sectional area yang terbentuk pada belt akibat penopangan idler dan
angle of surcharge (m)
V : Kecepatan belt (m/min)
: Densitas material (t/m3)
k : Faktor pengurangan inklinasi
Q : Kapasitas angkut (tph)

b. Tegangan dan Daya Belt


1. Tegangan Efektif , Te
Komponen rumus tegangan efektif belt :
Tx : Tahanan akibat gesekan pada idler (lbs) = L . Kx . Kt
Tyc : Tahanan belt flexure pada carrying idler (lbs) = L . Ky . Wb . Kt
Tyr : Tahanan belt flexture pada return idler (lbs) = L . 0,015 . Wb . Kt
Tym : Tahanan material flexture (lbs) = L . Ky . Wm
Tm : Tahanan material lift (+) atau lower (-) (lbs) = H . Wm
Tp : Tahanan Pulley (lbs) = ((Nts . Pt) + (Nss . Pt)) . 0,045
Tam : Tahanan percepatan material (lbs) = 2,8755x10-4 . Q . (v v0)
Tac : Tahanan dari aksesoris (lbs) = Tbc + Tpc

Rumus Tegangan Efektif adalah :


10
Te = Tx + Tyc + Tyr + Tym + Tm + Tp + Tam + Tac (lbs)
Keterangan :
L : Panjang conveyor (ft)
K : Faktor koreksi ambient temperature
Kt : Faktor gesekan idler (lbs/ft)
Ky : Faktor untuk menghitung gaya belt dan beban flexture pada idler
Wb : Berat belt (lbs/ft)
Wm : Berat material = (33,33 x Q) / v (lbs/ft)
Q : Kapasitas Conveyor
v : kecepatan belt (fpm)
v0 : Kecepatan initial material saat penjatuhan di daerah loading (fpm)
H : Jarak vertical material lift atau tower (ft)

c. Faktor Gesekan Idler , Kt


Rumus Kx dapat dihitung dengan :
Kx = 0,00068 (Wb + Wm) + (lbs/ft)
Dimana ;
Ai = 1,5 untuk 6-inchi dia. Idler roll
Ai = 1,8 untuk 5- inchi dia. Idler roll
Ai = 2,3 untuk 4- inchi dia. Idler roll
Ai = 2,4 untuk 7- inchi dia. Idler roll
Ai = 2,8 untuk 8-inchi dia. Idler roll

d. Tahanan aksesoris, Tac


Ttr : Tahanan Tripper berasal dari pulley tripper
Ttr = Tpr + H. Wb
Tbc : Tahanan plows dapat dilihat pada tabel

Tabel 2.1 Discharge Plow Allowance


Tpl : Tahanan dari peralatan belt-cleaning / scraper
Tpl = n . 3 . b (lbs)
Keterangan :
b : Lebar belt (inchi)
Tsb : Tahanan gesek pada karet skirtboard
Tsb = (2 . Cs . Lb . hs) + (6 . Lb) (lbs)
Keterangan :
Cs : Faktor dari beberapa material
Lb : Panjang skirtboard (ft)
11
Hs : Kedalaman material mengenai skirtboard = 0,1 x lebar belt

Tabel 2.2 Skirtboard Friction Factor, Cs


Sehingga rumus Tahanan aksesoris :
Tac = Ttr + Tpl Tbc + Tsb

e. Daya Belt
Daya yang dibutuhkan adalah conveyor yang memiliki tegangan efektif, Te pada drive
pulley :
P= (lbs)
Keterangan :
P : Daya belt (hp)
Tc : Tencion belt (lbs)
V : kecepatan belt (fpm)

f. Wrap Factor, Cw
Merupakan nilai yang digunakan untuk perhitungan efektif belt, Tc, yang dapat
tergantung dari penempatan drive pulley, Tc yang dipengaruhi oelh koefisien gesekan yang
terjadi antara pulley dan belt, wrap, dan nilai T1 dan T2

Gambar 1 Incline or Horizontal Gambar 2 Decline Conveyor, Lowering


Conveyor,Pulley driving belt load with regeneration, Belt Driving Pulley

Keterangan :
Tc : T1 T2
T1 : Tegangan maksimum / tight side pada pulley (lbs)

12
T2 : tegangan slack-side pada pulley (lbs)
e : Dasar logaritma naperian = 2, 718
f : Koefisien gesekan antara permukaaan pulley dan permukaan belt (0,25 untuk bare
pulley dan 0,35 untuk lagged pulley

: faktor wrap (lihat pada tabel) = =

Tabel 2.3 . Wrap factors, Cw

g. Belt Sag antar Idler


Sag = =

Tegangan minimum yang digunakan untuk menghasilkan presentase sag adalah ;


Untuk 3% Sag T0 = 4,2 Si (Wb + Wm)
Untuk 2% Sag T0 = 6,25 Si (Wb + Wm)
Untuk % Sag T0 = 8,4 Si (Wb+Wm)

h. Tegangan Belt pada titik X sepanjang conveyor

Gambar 3 Horizontal Belt Conveyor with Vertical Curve and Head Pulley Drive
Keterangan :
Lx : Jarak titik X dari tali Pulley
13
Hx : Jarak vertikal titik X pada sisi carrying
Tex : Tegangan belt titik X pada sisi carrying
Trr : Tegangan belt titik X pada sisi return
Tyr : Tegangan belt pada sisi return akibat gesekan
Tp : Tegangan Pulley
Tt : Tegangan belt pada tail pulley
Tb : Tegangan berat sisi carrying atau return pada belt untuk kemiringan conveyor
Thp : Tegangan belt pada head pulley
Twcx : Tegangan titik x pada sisi carrying hasil dari berat belt dan material yang dibawa
Tfcx : Tegangan titik X pada sisi carrying hasil dari gesekan
Twrx : Tegangan titik X pada sisi return hasil dari berat kosong belt
Tfrx : Tegangan titik X pada sisi return hasil dari gesekan

Tyr = 0,015L . Wb . Kt
Tt = T2 + Tyr + Tp Tb
Tb = H . Wb
Twcx = Hx . Wb
Tfcx = Lx {Kt (Kx + Ky)} + Lx . Ky . Wm
Twrx = Hx . Wb
Tfrx = 0,015Lx . Wb . Kt
Tex = Tt + Twcx + Tfcx
Trx = Tt + Twrx + frx

i. Berat Take Up Gravity, Ttu


Ttu = (T2 Tyr + Tp Tb)
Keterangan :
T2 = T1 T2
Tyr = 0,015L . Wb
Tp = dapat dilihat pada tabel
Tb = H . Wb

Tabel 2.4 Belt Tension to Rotate Pilleys

14
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
1. Belt conveyor dapat digunakan untuk memindahkan muatan satuan (unit load)
maupun muatan curah (bulk load) sepanjang garis lurus atau sudut inkliinasi
terbatas.
2. Pengoperasian belt conveyor menggunakan tenaga penggerak berupa motor listrik
dengan perantara roda gigi yang dikopel langsung ke puli penggerak lalu sabuk
yang berada diatas roller-roller akan bergerak melintasi roller-roller tersebut.
3. Kelebihan Belt Conveyor yaitu mampu membawa beban berkapasitas besar,
kecepatan sabuk dapat diatur untuk menetapkan jumlah material yang
dipindahkan persatuan waktu, dan tidak mengganggu lingkungan karena tingkat
kebisingan dan polusi yang rendah.
4. Kelemahan belt conveyor yaitu biaya perawatannya sangat mahal, jalur
pemindahan (transfer line). Karena untuk satu unit belt conveyor hanya bisa
dipasang untuk jalur lurus, dan kemiringan/sudut inklinasi yang terbatas.

15
DAFTAR PUSTAKA

Brown, GG, et all. 1978. Unit Operations. Tokyo : Charles e tuttle co


Perry, Robert, dkk. 1934. PERRYS CHEMICAL ENGINEERS HANDBOOK. New
York. Mc Graw Hill

16