Anda di halaman 1dari 29

Pengauditan Internal

Pekerjaan Lapangan II
Modul Pengauditan Internal

Disusun oleh :
Ridah Alawiah Rahman
A31114315

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017

0
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
dengan ini kita panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat-
Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan modul untuk mata kuliah Pengauditan Internal
ini.
Tidak lupa penyusun juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak-
pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian modul ini. Harapan penyusun semoga
modul ini dapat menambah pengetahuan dan berguna bagi pembaca.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penyusun, maka disadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam modul ini, Oleh karena itu penyusun mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan modul ini.

Makassar, Oktober 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.0

KATA PENGANTAR...1

DAFTAR ISI.2

BAGIAN I - TINJAUAN MATA KULIAH .3

BAGIAN II PENDAHULUAN5

BAGIAN III MATERI PEMBELAJARAN..6

BAGIAN IV - LATIHAN...21

BAGIAN V RANGKUMAN...22

BAGIAN VI TES FORMATIF..23

BAGIAN VII UMPAN BALIK ..24

BAGIAN VIII KUNCI TES FORMATIF.....25

BAGIAN IX DAFTAR PUSTAKA28

2
BAGIAN I

TINJAUAN MATA KULIAH

A. DESKRIPSI MATA KULIAH

Matakuliah ini dirancang untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang


konsep dan pelaksanaan pengauditan internal perusahaan serta pentingnya pengendalian
internal (Internal Control/ICOFR) dan hubungannya dengan manajemen risiko
perusahaan.

A. KEGUNAAN MATA KULIAH


1. Mampu melaksanakan proses pengauditan internal dan penyusunan laporan audit
internal secara professional
2. Mampu membuat prosedur pemeriksaan internal
3. Mampu memahami struktur pengendalian intern perusahaan
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi
5. Mampu untuk bekerjasama, baik sebagai pimpinan maupun sebagai anggota kelompok
(tim audit)

C. SASARAN BELAJAR :
Dapat memahami materi berikut:
1. Gambaran Umum Audit Internal
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit

3
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

D. URUTAN PENYAJIAN :
1. Gambaran Umum Audit Internal
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

4
BAGIAN II
PENDAHULUAN

A. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai


Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1. Memahami teknik-teknik audit internal
2. Memahami audit fungsional
3. Memahami audit operasional
4. Memahami audit terintegrasi (keuangan, kinerja, dan system informasi)
5. Memahami bukti audit (bukti fisik pengakuan, dokumentasi, dan hasil analitis)

B. Ruang lingkup bahan modul


Modul ini disusun berdasarkan Garis Besar Rencana Pembelajaran (GBRP) mata
kuliah Pengauditan Internal. Penyusunan modul ini merujuk pada berbagai referensi
yang relevan. Modul ini diharapkan mampu menambah pengetahuan terkait dengan
Audit Internal terkait pembahasan Pekerjaan Lapangan II

C. Manfaat mempelajari modul


Setelah mempelajari modul ini, pembaca diharapkan mampu untuk memahami materi
terkait Pekerjaan Lapangan II dengan pembahasan berbagai subpokok bahasan yang
lebih ringkas dan padat dari berbagai referensi yang digunakan sehingga memudahkan
dalam memahami materi tersebut.

D. Urutan pembahasan
1. Teknik-teknik audit internal
2. Audit fungsional
3. Audit operasional
4. Audit terintegrasi (keuangan, kinerja, dan system informasi)
5. Bukti audit (bukti fisik pengakuan, dokumentasi, dan hasil analitis)

5
BAGIAN III

MATERI PEMBELAJARAN

1. TEKNIK AUDIT INTERNAL


Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan,
menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan pada
beragam kondisi dalam mengumpulkan bahan bukti audit.

Teknik teknik tersebut dapat digunakan sendiri sendiri maupun gabungan,


namun diterapkan dalam kerangka tertentu tergantung pada subjek yang diaudit
dimana hasil akhirnya adalah rekomendasi dan opini audit.

2. JENIS PENUGASAN AUDIT


Berikut jenis penugasan audit:

a. Audit Fungsional
Audit fungsional (functional audit) adalah audit yang mengikuti proses dari
awal hingga akhir, melintasi lini organisai. Audit ini bertujuan untuk menentukan
seberapa baik fungsi-fungsi dalam organisasi akan saling berinteraksi dan bekerja
sama.

Audit fungsional memiliki kesulitan khusus karena luas dan cakupannya. Audit
fungsional yang bernilai bagi sebuah organisasi mencakup audit atas:

Pemesanan, penerimaan, pembayaran bahan baku dan perlengkapan.

Pengiriman langsung perlengkapan atau jasa ke departemen pengguna.

Penerapan perubahan pada produk.

Pengumpulan, pemisahan, dan penjualan barang sisa.

Pengendalian dan praktik keselamatan.

Program untuk mendeteksi konflik kepentingan.

Pengelolaan asset asset modal.

6
Formulasi anggaran.

Fungsi fungsi pemasaran.

Dalam melakukan audit fungsional, dan audit jenis lainnya, auditor internal
harus selalu menyadari apa yang diharapkan oleh manajemen senior dari auditor
internal. Setiap organisasi diarahkan dan dipimpin oleh keputusan manajemen.
Keputusan yang baik tergantung keputusan yang tepat.

Dalam semua auditnya, auditor internal, sebagai konsultan sekaligus mitra bagi
manajemen, harus mengevaluasi informasi yang menjadi pengambilan dasar
pengambilan keputusan oleh manajemen dan memastikan bahwa sistem kontrol
berfungsi seperti yang diinginkan.

Manajemen puncak mengharapkan auditor internal mempraktikan indra keenam


untuk menemukan kemungkinan masalah tetapi sebelum solusi diberikan, auditor
harus didukung oleh fakta dan angka angka yang tak terbantahkan. Karena itu
manajemen senior mengharapkan auditor memiliki karakteristik berikut dalam
penugasannya:

Menguasai teknik teknik audit internal.

Mampu menetapkan sumber sumber informasi faktual.

Memiliki kapasitas untuk secara mendalam menganalisis informasi yang


diterima.

Memiliki kemampuan untuk membuat rekomendasi berdasarkan bukti bukti


yang kuat.

Memiliki sifat bersungguh sungguh, penuh intgegritas, dan rendah hati dalam
melakukan semua penugasan audit.

b. Audit Organisasional (dan Evaluasi Produktivitas)


Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memperhatikan
aktifitas yang dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan kontrol administratif
yang digunakan untuk memastikan bahwa aktifitas-aktifitas tersebut dilaksanakan.

7
Oleh karena itu auditor tertarik pada seberapa baik manajer organisasi memenuhi
tujuan organisasi dengan sumber daya yang ada.

Khususnya dalam organisasi yang besar dengan berbagai operasi dan fungsi,
auditor disarankan untuk menetukan seberapa baik manajemen melakukan
pengelolaan, seberapa baik transaksi yang mengalir atau mengucur melalui saluran
pipa organisasi. Tolak ukur audit atau standar yang diterapkan pada operasi
organisasi dibangun dari elemen elemen yang membentuk kontrol adiministratif
yang dapat diterima.

Auditor internal harus mengetahui prinsip - prinsip perencanaan yaitu


menetapkan tujuan, membuat kebijakan dan prosedur, mempertahankan kontinuitas,
dan menilai ulang rencana dan sasaran dalam kondisi yang berubah. Mereka harus
mengenal prinsip - prinsip pengorganisasian yaitu pemberian tanggung jawab,
pendelegasian wewenang, dan pengembangan staf.

Auditor internal harus mengetahui prinsip - prinsip pengarahan yaitu


kepemimpinan, motivasi, dan komunikasi. Mereka harus mengenal prinsip - prinsip
kontrol yaitu menetapkan standar, mempertahankan standar, melatih karyawan agar
mematuhi standar, menerapkan sistem persetujuan dan penelaahan, memastikan
kepatuhan terhadap standar, merencanakan sistem pencatatan, pelaporan, dan
kontrol induk, serta mengawasi keseluruhan proses yang sedang berjalan.

Setiap organisasi harus ditelaah produktivitasnya yaitu efisiensi dan efektivitas


pengguna sumber daya yang dipercayakan kepada manajer. Meningkatkan
produktivitas merupakan kunci bertahannya organisasi dalam lingkungan yang
kompetetif.

c. Studi dan Konsultasi Manajemen


Audit fungsional dan organisasional membentuk kerangka kerja program audit
jangka panjang. Setiap jenis audit, yang umurnya diulang pada jangka waktu tertentu,
mencerminkan santapan yang harus dimakan seorang auditor. Aspek lain dari audit
bisa jadi bagaikan kaviar dan sampanye, audit diarahkan menuju penyesuaian masalah
bagi manajemen (biasanya bukan menyelesaikan masalah manejemen).

8
Setiap organisasi membutuhkan konsultan luar untuk melakukan studi
manajemen, membuat evaluasi, dan menawarkan rekomendasi untuk memperbaiki
masalah organisasi. Organisasi - organisasi ini telah mendapatkan manfaat dari
pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki para konsultan. Organisasi - organisasi
yang lain munkin tidak merasakan hal yang sama. Kekecewaan ini bisa bersumber dari
berbagai penyebab. Beberapa diantaranya adalah:

Para karyawan mungkin menganggap para konsultan tersebut sebagai orang


asing yang tidak terlibat dalam gaya hidup dan pergaulan organisasi.

Konsultan telah mengikuti pelatihan dalam jangka waktu yang lama dan
berbiaya tinggi.

Rekomendasi konsultan luar, yang biasanya dikomunikasikan dalam pertemuan


terakhir atau dalam laporan rinci, bisa memancing reaksi defensive dari klien.

Konsultan luar biasanya mengenakan tarif yang sangat mahal, yang dalam
banyak kasus, akan melebihi biaya memberdayakan orang - orang berbakat yang
telah dimiliki organisasi

Auditor harus menerapkan semua teknik mempengaruhi yang mereka miliki


sejak permulaan dan disepanjang penugasan. mereka harus membuat manajemen tetap
mengetahui informasi dan memperoleh rekomendasi pada tingkat akar rumput
sebelum menyajikannya ke manajemen.

Setelah mengenali situasi tersebut internal auditor membuat persentasi formal


ke manajemen mengenai pandangan mereka terhadap masalah tersebut dan
memberikan usulan untuk mengatasinya. Studi ini dilaksanakan secara mendalam,
studi harus menghasilkan jawaban yang kuat atas pertanyaan relevan yang diajukan
manajemen dan bisa memberikan dukungan yang kuat atas rekomendasi yang
diajukan.

Studi harus didasarkan pada pemahaman mendalam atas masalah masalah


berikut, diantaranya :

Apa saja masalah yang mendasar? (masalah apa yang sebenarnya).

9
Apa saja fakta-fakta yang relevan? (data, proses, sistem, kebijakan, organisasi,
orang-orang yang ada, masa lalu, masa kini, kemungkinan di masa datang).

Apa penyebabnya? (jumlah, variasi penyebab, akar masalah dan penyebab di


permukaan, kapan penyebab tersebut mulai mempengaruhi masalah).

Apa solusi yang mungkin? (alternatif yang ada, biaya, jawaban atas masalah
lokal organisasi yang terpengaruh).

Setiap bulan audit bisa memberikan laporan kemajuan ke manajemen eksekutif


mengenai status studi tersebut. Laporan tersebut bisa berisi:

Identifikasi studi manajemen utama yang sedang dilakukan.

Ringkasan sejumlah memorandum studi manajemen yang dikeluarkan dan


statusnya.

Identifikasi masalah-masalah yang penting yang telah diselesaikan maupun yang


belum terpecahkan.

Diskusi secara umum mengenai kemajuan pekerjaan.

Estimasi waktu yang di butuhkan untuk meyelesaikan studi. Tunjukkan jumlah


orang, baik auditor maupun teknisi, yang terlibat dalam studi dan jumlah tim
yang di tugaskan (hanya jika diminta).

d. Audit atas Program


Program merupakan istilah umum yang mencakup setiap upaya yang didanai
yang seiring dengan aktivitas normal organisasi yang sedang berlangsung progam
ekspansi, program baru untuk manfaat karyawan, kontrak baru, program kesehatan
pemerintah atau program pelatihan yang berhubungan erat dengan tujuan organisasi.

Tujuan auditnya adalah memberikan manajemen informasi mengenai biaya,


pelaksanaan, dan hasil - hasil program dan membuat evaluasi yang informatif,
bermanfaat, dan objektif. Dalam penelaahan ini akan membantu semua pihak terkait
bila mereka memiliki pemahaman yang sama atas istilah - istilah yang digunakan.
Berikut beberapa diantaranya:

10
Evaluasi - memastikan nilai sesuatu dengan membandingkan antara pencapaian
dengan standar atas tujuan.

Evaluasi program - secara umum, mengevaluasi apa yang telah dicapai, terkait
dengan sumber daya yang digunakan, dan atas itu, apakah tujuan-tujuan program
telah layak dan sesuai.

Study biaya manfaat - mempertimbangkan hubungan antara sumber daya yang


digunakan dan biaya (masukan) dan manfaat (keluaran atau hasil).

Study efektitas biaya - mempertimbangkan manfaat (hasil) yang tidak dapat


diukur dalam nilai uang (Dollar-Rupiah), manfaat-manfaat program magang
yang baru, misalnya, atau pengajaran siswa-siswi yang cacat.

Intinya, auditor internal ingin menetukan tiga hal dalam audit atas program.
Dalam sektor swasta pencapaian umumnya diukur dalam pendapatan dan
keuntungan. Dalam sektor publik auditor internal memperhatikan:

Keluaran

Keluaran mencakup hal-hal seperti jasa yang diberikan, barang yang diproduksi,
dan biaya, dan bantuan yang diberikan. Misalnya siswa siswa yang diajar,
kasus kasus yang diproses.

Manfaat atau Hasil

Manfaat mencerminkan dampak dari keluaran . misalnya, jumlah siswa yang


diajar merupakan pengeluaran. Tetapi, peningkatan tingkat pengetahuan,
keahlian, motivasi, dan aspirasi dari para siswa merupakan manfaat. Manfaat
atau hasil lebih sulit diukur dibandingkeluaran namun jelas manfaat lebih relevan
dalam mengevaluasi suatu program.

Dampak

Adalah efek dari suatu program terhadap suatu komunitas.masyarakat, atau


bahkan dunia.

Jelaslah bahwa tujuan, sasaran dan standar harus diidentifikasi cukup spesifik
dalam penelaahan program jika tidak auditor tidak memiliki alat untuk mengukur

11
dan hasil audit berupa opini akan dipertentangkan. Tujuan, sasaran dan standar tidak
mudah diidentifikasi bila:

Manajemen, dewan komisaris atau badan pembuat UU tidak dengan jelas


mendefinisikan tujuannya.

Tujuan tujuan saling tumpah tindih atau saling tergantung satu sama lain.

Orang yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan sasaran, atau standar
tidak benar benar memahaminya.

Maksud yang tampak dari manajemen, dewan komisaris atau badan pembuat UU
tidak diikuti.

Tujuan program yang sebenarnya tidak diidentifikasi atau telah berubah


meskipun tujuan dinyatakan tetap sama.

3. AUDIT TERINTEGRASI
Konsep integrasi bisa luas dan mencakup aspek-aspek seperti penyediaan audit
yang berlaku sebagai:

Audit berkelanjutan atas elemen-elemen neraca dan operasional dalam audit


kinerja.

Pelaksanaan audit tetap tahap varians dari koperasi klien yang biasanya akan
diaudit secara terpisah.

Sebuah latihan dalam audit partisipasif yang klien:

- Membantu perencanan audit, dan/atau

- Berpartisipasi dengan staf dalam pelaksanaan audit.

Sebuah audit yang sebenarnya menggabungkan berbagai tahap audit internal


yang berbeda seperti:

- Audit keuangan.

- Audit kinerja.

12
- Audit sistem informasi.

Jelasnya tingkat integritas tergantung pada:

Ukuran staf audit.

Keahlian yang dimiliki staf atau yang tersedia melalui sumber-sumber luar.

Filosofi audit yang dipegang manajemen organisasi dan organisasi audit.

Tingkat aktivitas teknologi di klien dan organisasi audit.

Biaya manfaat dari pengoperasian audit semacam itu.

4. AUDIT KONTRAK

Kontrak kontruksi atau operasi sering melibatkan uang dalam jumlah besar. Kontrak
kontruksi biasanya bukan merupakan bagian dari bisnis rutin organisasi. Kontrak operasi bisa
memberikan jasa ataupun operasi terprogram.

Kontrak umumnya terdiri atas tiga kategori:

Biaya Sekaligus (Lump-Sump)

Pada kontrak lump sum (harga tetap) kontraktor setuju melaksanakan pekerjaan
dengan harga tetap. Kadang kontrak mengandung klausul kenaikan, kemajuan
pembayaran, ketentuan insentif, dan penyesuaian atas biaya pekerjaan
alapangan, jika biaya melebihi yang disepakati biaya tambahan akan ditanggung
oleh organisasi.

Biaya Tambahan (Cost-Plus)

Merupakan cara paling ekonomis untuk proyek kontruksi atau operasi, karena
banyaknya ketidakpastian dalam proyek-proyek ini. Kontrak-kontrak cost-plus
tidak membutuhkan perlindungan atas ketidakpastian. Biaya-biaya tak terduga
bisa dimintakan penggantian sejumlah biaya ditambah tarif tetap atau biaya
ditambah tarif berdasarkan persentase biaya. Jenis penggantian banyak dihindari
organisasi karena adanya motivasi untuk menaikkan biaya sehingga

13
meningkatkan tarif. Beberapa kontrak cost-plus memberikan baiaya maksimum
dan memisahkan setiap penghematan yang bisa dilakukan.

Harga Per Unit (Unit-Price).

Berguna jika suatu proyek membutuhkan pekejaan yang seragam dalam jumlah
yang besar.

Semua bentuk kontrak ini, khususnya jenis cost-plus bisa memperoleh manfaat
dari pengawasan audit. Audit internal seharusnya tidak menungu sampai proyek
dijalankan untuk melindungi kepentingan organisasi mereka.

Berikut beberapa risiko dan bidang risiko dalam perjanjian kontrak yang harus
diperhatikan auditor internal:

a. Dalam Kontrak Lump-Sum


Persaingan yang tidak memadai.
Perlindungan asuransi dan utang yang tidak memadai.
Sertifikasi penyelesaian pekerjaan padahal sebenarnya belum selesai.
Pengenaan biaya atas perlatan atau aktifitas yang tidak diterima.
Ketentuan kenaikan.
Perubahan spesifikasi atau harga.
Otorisasi ata pekerjaan ekstra dan revisi pekerjaan.
Pekerjaan tambahan, perubahan dan revisi yang sebenarnya sudah tercakup
dalam kontrak awal.
Biaya-biaya tidak langsung termasuk biaya-biaya tambahan.
Isi perubahan pesanan termasuk tarif yang tidak sesuai.
Inspeksi yang tidak memadai dibandingkan spesifikasi.

b. Dalam Kontrak Cost-Plus


Biaya-biaya overhead ditagih secara langsung.
Kontrol internal yang tidak memadai oleh kontraktor atas pengenaan biaya
orang-orang yang sedang dipekerjakan, bahan baku dan jasa.
Pengenaan biaya yang tidak wajar untuk penggunaan peralatan yang dimiliki
kontraktor.

14
Penggunaan buruh yang berlebihan.
Tidak ada upaya untuk mendapatkan harga terbaik untuk bahan baku dan
peralatan.
Tagihan di atas jumlah yang dibayar kontraktor untuk pekerja dan bahan baku.
Kegagalan untuk mengkreditkan proyek atas diskon, tarif, restitusi, asuransi,
bahan baku sisa atau yang dikembalikan.
Duplikasi usaha atau biaya antara kantor pusat dan kantor cabang.
Pengawasan lapangan atau inspeksi yang tidak memadai oleh kontraktor atau
oleh insinyur arsitek.
Komunikasi dan tindak lanjut yang tidak memadai dari kantor pusat.
Akuntansi biaya dan prosedur pelaporan oleh kontraktor yang tidak dapat
diandalkan.
Pengawasan tagihan karena adanya pelanggaran tenaga kerja langsung dari
ketentuan dalam kontrak.
Perlatan yang disewa tidak dapat digunakan.
Praktik kerja yng tidak bagus.
Kualitas yang buruk.
Penggunaan bahan baku dan perlengkapan yang boros atau tiba lebih awal.
Standar yang terlalu tinggi untuk bahan baku dan perlengkapan.
Proteksi fisik bahan baku dan perlatan yang buruk.
Kurangnya kontrol atas ketidakhadiran pegawai kontraktor.
Pekerjaan jenis cost-plus dilakukan secara bersamaan dengan pekerjaan fixed
type.
Berlebihannya biaya yang terjadi akibat kelalaian kontraktor.
Waktu lembur yang tidak terkendali.

c. Dalam Kontrak Unit-Plus


Pembayaran berkala yang berlebihan.
Pelaporan yang tidak layak atas unit yang disediakan.
Harga yang tidak berkaitan dengan biaya.
Perubahan yang tidak layak atas kontrak awal.
Penyesuaian kenaikan yang tidak diotorisasi.

15
Catatan lapangan yang tidak akurat.
Perluasan harga per unit yang tidak akurat.

5. BUKTI HUKUM DAN BUKTI AUDIT

a. Hubungan dengan Bukti Audit

Bukti audit memiliki banyak kesamaan. Keduanya memiliki tujuan yang sama untuk
memberikan bukti, untuk mendorong keyakinan tentang kebenaran atau kesalahan setiap
pernyataan atau suatu masalah. Keyakinan dibangun dari pertimbangan atas informasi.

Fokus bukti audit sedikit berbeda dengan bukti hukum. Bukti-bukti hukum (legal
evidence) sangat mengandalkan pengakuan lisan, sedangkan Bukti-bukti audit (audit
evidence) lebih mengandalkan bukti-bukti dokumen.

b. Bentuk Bukti Hukum

Berikut beberapa bentuk bukti hukum :

Bukti Terbaik

Bukti terbaik (best evidence), sering disebut bukti primer, merupakan bukti yang
paling alami, bukti yang paling memuaskan mengenai fakta-fakta yang sedang
diselidiki. Bukti tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan keandalan. Bukti
tersebut terbatas pada bukti dokumen dan kebanyakkan diterapkan untuk
membuktikan isi pernyataan tertulis.

Bukti Sekunder

Bukti sekunder (secondary evidence) berada dibawah bukti primer dan tidak dapat
disamakan keandalannya. Bukti sekunder mencangkup salinan bukti tertulis atau lisan.

Bukti tidak Langsung

Bukti tidak langsung (circumstantial evidence) membuktikan fakta sementara, atau


sekumpulan fakta. Yang dapat dirujuk seseorang untuk mengetahui keberadaan
beberapa fakta primer yang signifikan atas masalah yang sedang dipertimbangkan.

16
Bukti ini tidak langsung membuktikan keberadaan fakta-fakta primer tetapi hanya
meningkatkan penggunaan pemikiran logis yang ada.

Bukti yang Meyakinkan

Bukti yang meyakinkan (consuve evidence) merupakan bukti yang tak terbantahkan,
apa pun bentuknya. Bukti ini sangat kuat sehingga mengalahkan semua bukti lainnya
dan merupakan sumber diambilnya kesimpulan. Bukti ini tidak dapat dipertentangkan
dan tidak membutuhkan bukti-bukti yang menguatkan.

Bukti yang Menguatkan

Bukti yang menguatkan (corroborative evidence) merupakan bukti tambahan dari


karakter yang berbeda menyangkut hal yang sama. Bukti ini mendukung bukti yang
telah diberikan dan cenderung menguatkan atau menginformasikannya

Bukti Opini

Berdasarkan aturan opini (opinion rule), saksi-saksi harus memberikan kesaksian


hanya terhadap fakta yang ada pada apa yang benar-benar mereka lihat atau dengar,
sebaliknya audior harus menyaring opini dan mengumpulkan serta mengevaluasi fakta
fakta untuk membuktikan kebenaran atau kesalahannya.

Untuk pengakuan berupa opini dibuat pengaman dengan mensyaratkan dua elemen:

- Subyek yang dinyatakan opininya harus jelas terkait dengan pengetahuan,


profesi, bisnis, atau jabatan yang berada diluar pemahaman orang awam.

- Saksi ahli harus memiliki keahlian, pengetahuan, atau pengalaman dibidang


tersebut hingga bisa membantu anggota juri.

Bukti Kabar Angin

Aturan bukti kabar angin memberikan pernyataan yang tidak dapat diterima yang
dibuat seseorang, selain saksi ahli, untuk membuktikan kebenaran suatu masalah.
Bukti ini berupa bukti lisan atau tertulis yang dibawa kepengadilan dan menjadi bukti
atas pernyataan yang dikatakan dipengadilan, jadi bahan bukti ini merupakan bukti
angina (hearsay evidence).

17
c. Bentuk Bukti Audit

Sifat Bukti Audit

Bukti audit (audit evidence) adalah informasi yang diperoleh auditor internal melalui
pengamatan suatu kondisi, wawancara, dan pemeriksaan catatan. Bukti audit harus
mempunyai dasar nyata untuk opini, kesimpulan, dan rekomendasi audit. Bukti audit
terdiri dari :

Bukti fisik

Bukti fisik (physical evidence) diperoleh dengan orang, property, dan kejadian.
Bukti ini dapat berbentuk pernyataan observasi oleh pengamat atau oleh foto, bagan,
peta, grafik (bukti grafik bersifat persuasive), atau gambar lainnya.

Bukti Pengakuan

Bukti pengakuan (testimonial evidence) berbentuk surat atau pernyataan sebagai


jawaban atas pertanyaan. Bukti ini tidak bersifat menyimpulkan, jika dimungkinkan
masih harus didukung oleh dokumentasi.

Bukti Dokumen

Bukti dokumen (documentary evidence) merupakan bentuk bukti audit yang paling
biasa. Dokumen bisa eksternal (mencakup surat atau memorandum yang diterima
pleh klien, faktur dari pemasok, dan lembar pengemasan) maupun internal
(dokumen yang dibuat dalam organisasi klien mencakup catatan akuntansi, salinan
korespondensi ke pihak luar, laporan penerimaan melalui email, dll).

Sumber bukti dokumen mempengaruhi keandalannya, sebuah dokumen eksternal


yang diperoleh langsung dari sumbernya lebih andal dibandingkan dokumen yang
didapatdari klien.

Bukti Analitis

Bukti analitis (analitycal evidence) berasal dari analisis dan verifikasi. Sumber bukti
ini adalah perhitungan, perbandingan dengan standar yang ditetapkan, operasi masa
lalu, operasi yang serupa, dan hukum atau regulasi, pertimbangan kewajaran, dan
informasi yang telah dipecah ke dalam bagian-bagian kecil

18
Standar-standar Bukti Audit

Semua bukti audit harus memenuhi 3 uji yaitu :

Kecukupan

Bukti dianggap memadai jika bersifat faktual, memadai dan meyakinkan sehingga
bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati hati untuk mengambil kesimpulan
yang sama dengan auditor.

Kompetensi

Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal, bukti tersebut haruslah yang terbaik
yang dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan salinannya,
pernyataan lisan yang menguatkan adalah lebih kompeten dari pernyataan biasa,
bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.

Relevansi

Mengacu pada hubungan antara informasi dengan penggunaannya. Fakta dan opini
yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu masalah harus
memiliki hubungan logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.

Penanganan Bukti yang Sensitif

Harus terdapat rencana yang dibuat untuk menangani dan mengamankan bahan-bahan
yang sensitif, rencana ini harus mencakup metode untuk menjaga integritas dokumen yang
harus dipisahkan dari dokumen kertas kerja biasa dan harus disimpan dalama lemari terkunci
atau kotak penympanan yang aman, penyimpanan juga dapat dilakukan di lokasi luar.

Selain itu perlu mengamankan infoemasi bukti terkomputerisasi untuk menghindari


akses ke bentuk aslinya. Metode penyajian tambahan adalah mengembangkan dokumen-
dokumen pendukung yang disimpan pada lokasi selain lokasi penyimpanan catatan atau
dokumen asli.

19
Kertas Kerja

Kertas kerja merupakan dasar pengembangan bukti. Ada beberapa jenis kertas kerja
yang semuanya penting, yaitu mencakup:

Kutipan dari sumber berwenang tentang kriteria dan standar.

Ringkasan wawancara, pertemuan, dan percakapan.

Subtansi verifikasi dan pemeriksaan dokumen.

Analisis temuan dari kertas kerja atau pengamatan lainnya.

Perhitungan analitis terkait dengan audit.

Kertas kerja merupakan substansi audit yang harus diberikan pengawasan dan
pemeriksaan seksama untuk menentukan keabsahannya dan tidak meninggalkan pertanyaan
yang tersisa juga bahwa materi di beberapa kertas kerja tidak bertentangan dengan yang
terdapat dalam kertas kerja yang lain.

20
BAGIAN IV

LATIHAN

1. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis penugasan audit!


2. Jelaskan perbedaan antara audit fungsional dan audit operasional!
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan audit terintegrasi!
4. Bukti audit terdiri dari 4 jenis. Sebutkan dan jelaskan!
5. Apa yang dimaksud dengan audit kontrak? Jelaskan!

21
BAGIAN V

RANGKUMAN

Teknik-teknik audit seperti melakukan pengamatan, mengajukan pertanyaan,


menganalisis, memverifikasi, menginvestigasi, dan mengevaluasi diterapkan pada beragam
kondisi dalam mengumpulkan bahan bukti audit.

Teknik teknik tersebut dapat digunakan sendiri sendiri maupun gabungan, namun
diterapkan dalam kerangka tertentu tergantung pada subjek yang diaudit dimana hasil
akhirnya adalah rekomendasi dan opini audit.

Jenis penugasan audit yaitu:

- Audit Fungsional
- Audit Organisasional (dan Evaluasi Produktivitas)
- Studi dan Konsultasi Manajemen
- Audit Atas Program

Audit Terintegrasi adalah audit yang mengkombinasikan aspek-aspek audit keuangan


dengan audit kinerja, sebuah prosedur yang mengahasilkan sebagian audit keuangan akhir
tahun diselesaikan sebelum audit operasional.

Bukti Hukum & Bukti Audit, keduanya memiliki tujuan sama memberikan bukti,
untuk mendorong keyakinan tentang kebenaran atau kesalahan setiap pernyataan atas suatu
masalah. Fokus keduanya yang sedikit berbeda.

- Bukti Hukum (legal evidence) sangat mengandalkan pengakuan lisan


- Bukti Audit (audit evidence) lebih mengandalkan bukti-bukti dokumen

22
BAGIAN VI

TES FORMATIF

1. Audit fungsional yang bernilai bagi sebuah organisasi mencakup audit apa saja? Sebutkan
dan jelaskan!
2. Apa yang dimaksud dengan audit organisasional? Jelaskan!
3. Semua bukti audit harus memenuhi 3 uji. Jelaskan!
4. Ada beberapa bentuk bukti hukum dalam audit. Sebutkan dan jelaskan!

23
BAB VII

UMPAN BALIK

Setelah mahasiswa mempelajari seluruh materi dalam modul ini, maka terdapat
beberapa instrumen latihan untuk menguji kemampuan pemahaman kalian. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui tingkat kesulitan materi dalam modul ini, sehingga dapat dilakukan
perbaikan dan langkah penyesuaian dimasa yang akan datang.

Kegiatan umpan balik diberikan dalam bentuk pengujian tertulis melalui instrument
dalam bentuk essay, dimana pertanyaan essay ini berjumlah 4 nomor yang mana tiap nomor
mempunyai skor 25, sehingga total skor adalah 100. Kemudian, skor tersebut diolah dalam
bentuk nilai 1 sampai 100. Tingkat keberhasilan pemahaman anda terhadap materi dalam
modul ini, akan ditentukan atas jumlah skor yang anda peroleh dengan kriteria pembobotan
seperti dibawah ini:

Nilai Predikat
90-100% Baik sekali
80-89% Baik
70-79% Cukup
60-69% Kurang

Bagi mahasiswa yang belum mencapai nilai 80%, dapat mengulangi belajar dengan
memilih materi-materi yang masih dianggap sulit secara lebih teliti atau melakukan kegiatan
diskusi bersama teman maupun dosen pembimbing dalam mata kuliah ini.

24
BAGIAN VIII

KUNCI TES FORMATIF

1. Audit fungsional yang bernilai bagi sebuah organisasi mencakup audit atas:

a. Pemesanan, penerimaan, pembayaran bahan baku dan perlengkapan.

b. Pengiriman langsung perlengkapan atau jasa ke departemen pengguna.

c. Penerapan perubahan pada produk.

d. Pengumpulan, pemisahan, dan penjualan barang sisa.

e. Pengendalian dan praktik keselamatan.

f. Program untuk mendeteksi konflik kepentingan.

g. Pengelolaan asset asset modal.

h. Formulasi anggaran.

i. Fungsi fungsi pemasaran.

2. Audit organisasional (organizational audit) tidak hanya memperhatikan aktifitas yang


dilakukan dalam organisasi tetapi juga dengan kontrol administratif yang digunakan
untuk memastikan bahwa aktifitas-aktifitas tersebut dilaksanakan. Oleh karena itu
auditor tertarik pada seberapa baik manajer organisasi memenuhi tujuan organisasi
dengan sumber daya yang ada.

Khususnya dalam organisasi yang besar dengan berbagai operasi dan fungsi, auditor
disarankan untuk menetukan seberapa baik manajemen melakukan pengelolaan,
seberapa baik transaksi yang mengalir atau mengucur melalui saluran pipa organisasi.
Tolak ukur audit atau standar yang diterapkan pada operasi organisasi dibangun dari
elemen elemen yang membentuk kontrol adiministratif yang dapat diterima.

3. Semua bukti audit harus memenuhi 3 uji yaitu :


Kecukupan

25
Bukti dianggap memadai jika bersifat faktual, memadai dan meyakinkan sehingga
bisa menuntun orang yang memiliki sifat hati hati untuk mengambil kesimpulan
yang sama dengan auditor.

Kompetensi

Bukti yang kompeten adalah bukti yang andal, bukti tersebut haruslah yang terbaik
yang dapat diperoleh. Dokumen asli lebih kompeten dibandingkan salinannya,
pernyataan lisan yang menguatkan adalah lebih kompeten dari pernyataan biasa,
bukti langsung lebih andal dibandingkan bukti kabar angin.

Relevansi

Mengacu pada hubungan antara informasi dengan penggunaannya. Fakta dan opini
yang digunakan untuk membuktikan atau menyangkal suatu masalah harus
memiliki hubungan logis dan masuk akal dengan masalah tersebut.

4. Berikut beberapa bentuk bukti hukum :

Bukti Terbaik

Bukti terbaik (best evidence), sering disebut bukti primer, merupakan bukti yang
paling alami, bukti yang paling memuaskan mengenai fakta-fakta yang sedang
diselidiki. Bukti tersebut memiliki hubungan yang kuat dengan keandalan. Bukti
tersebut terbatas pada bukti dokumen dan kebanyakkan diterapkan untuk
membuktikan isi pernyataan tertulis.

Bukti Sekunder

Bukti sekunder (secondary evidence) berada dibawah bukti primer dan tidak dapat
disamakan keandalannya. Bukti sekunder mencangkup salinan bukti tertulis atau lisan.

Bukti tidak Langsung

Bukti tidak langsung (circumstantial evidence) membuktikan fakta sementara, atau


sekumpulan fakta. Yang dapat dirujuk seseorang untuk mengetahui keberadaan
beberapa fakta primer yang signifikan atas masalah yang sedang dipertimbangkan.

26
Bukti ini tidak langsung membuktikan keberadaan fakta-fakta primer tetapi hanya
meningkatkan penggunaan pemikiran logis yang ada.

Bukti yang Meyakinkan

Bukti yang meyakinkan (consuve evidence) merupakan bukti yang tak terbantahkan,
apa pun bentuknya. Bukti ini sangat kuat sehingga mengalahkan semua bukti lainnya
dan merupakan sumber diambilnya kesimpulan. Bukti ini tidak dapat dipertentangkan
dan tidak membutuhkan bukti-bukti yang menguatkan.

Bukti yang Menguatkan

Bukti yang menguatkan (corroborative evidence) merupakan bukti tambahan dari


karakter yang berbeda menyangkut hal yang sama. Bukti ini mendukung bukti yang
telah diberikan dan cenderung menguatkan atau menginformasikannya

Bukti Opini

Berdasarkan aturan opini (opinion rule), saksi-saksi harus memberikan kesaksian


hanya terhadap fakta yang ada pada apa yang benar-benar mereka lihat atau dengar,
sebaliknya audior harus menyaring opini dan mengumpulkan serta mengevaluasi fakta
fakta untuk membuktikan kebenaran atau kesalahannya.

Untuk pengakuan berupa opini dibuat pengaman dengan mensyaratkan dua elemen:

- Subyek yang dinyatakan opininya harus jelas terkait dengan pengetahuan,


profesi, bisnis, atau jabatan yang berada diluar pemahaman orang awam.

- Saksi ahli harus memiliki keahlian, pengetahuan, atau pengalaman dibidang


tersebut hingga bisa membantu anggota juri.

Bukti Kabar Angin

Aturan bukti kabar angin memberikan pernyataan yang tidak dapat diterima yang
dibuat seseorang, selain saksi ahli, untuk membuktikan kebenaran suatu masalah.
Bukti ini berupa bukti lisan atau tertulis yang dibawa kepengadilan dan menjadi bukti
atas pernyataan yang dikatakan dipengadilan, jadi bahan bukti ini merupakan bukti
angina (hearsay evidence).

27
BAGIAN IX

DAFTAR PUSTAKA

Sawyer. Lawrence B, Mortimer A. Dittenhofer, dkk. 2006. Internal Auditing Buku 1


Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
Handiyanti, Subekti. 2014. Pekerjaan Lapangan (Field Work). (online)
http://subektihandiyati.blogspot.co.id/2014/09/pekerjaan-lapangan-field-work.html diakses
pada 28 Oktober 2017
Ijang. 2012. Pekerjaan Lapangan. (online)
https://bangijang.blogspot.co.id/2012/05/pekerjaan-lapangan.html diakses pada 28 Oktober
2017

28