Anda di halaman 1dari 32

Pengauditan Internal

Modul Pembelajaran

TEMUAN AUDIT

Disusun oleh :
Ridah Alawiah Rahman
A31114315

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017

1|Pa ge
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
dengan ini kita panjatkan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat-
Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan modul untuk mata kuliah Pengauditan Internal
ini.
Tidak lupa penyusun juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak-
pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian modul ini. Harapan penyusun semoga
modul ini dapat menambah pengetahuan dan berguna bagi pembaca.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman penyusun, maka disadari
bahwa masih banyak kekurangan dalam modul ini, Oleh karena itu penyusun mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan modul ini.

Makassar, Oktober 2017

Penyusun

2|Pa ge
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.1

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI. 3

BAGIAN I - TINJAUAN MATA KULIAH ..4

BAGIAN II PENDAHULUAN.6

BAGIAN III MATERI PEMBELAJARAN8

BAGIAN IV - LATIHAN..27

BAGIAN V RANGKUMAN..28

BAGIAN VI TES FORMATIF.29

BAGIAN VII KUNCI TES FORMATIF. 30

BAGIAN VIII DAFTAR PUSTAKA32

3|Pa ge
BAGIAN I

TINJAUAN MATA KULIAH

A. DESKRIPSI MATA KULIAH


Sebagaimana tercantum dalam GBRP, mata kuliah ini mempelajari tentang Gambaran
Umum Audit Internal, Model-Model Internal Control, Strategi Penentuan Risiko, Survey
Pendahuluan, Program Audit, Pekerjaan Lapangan I, Pekerjaan Lapangan II, Temuan Audit,
Kertas Kerja Audit, Sampling Audit, Metode Analisis, Audit System Informasi, Laporan Audit
Internal, dan Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

B. KEGUNAAN MATA KULIAH


1. Mampu melaksanakan proses pengauditan internal dan penyusunan laporan audit
internal secara professional
2. Mampu membuat prosedur pemeriksaan internal
3. Mampu memahami struktur pengendalian intern perusahaan
4. Mampu menggunakan pengetahuan akuntansi dan komputerisasi
5. Mampu untuk bekerjasama, baik sebagai pimpinan maupun sebagai anggota kelompok
(tim audit)

C. SASARAN BELAJAR :
Dapat memahami materi berikut:
1. Gambaran Umum Audit Internal
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

D. URUTAN PENYAJIAN :
1. Gambaran Umum Audit Internal

4|Pa ge
2. Model-Model Internal Control
3. Strategi Penentuan Risiko
4. Survey Pendahuluan
5. Program Audit
6. Pekerjaan Lapangan I
7. Pekerjaan Lapangan II
8. Temuan Audit
9. Kertas Kerja Audit
10. Sampling Audit
11. Metode Analisis
12. Audit System Informasi
13. Laporan Audit Internal
14. Laporan Untuk Manajemen Eksekutif dan Dewan Komisaris.

BAGIAN II - PENDAHULUAN
AUDITING DAN PROFESI AKUNTAN PUBLIK
A. Sasaran pembelajaran yang ingin dicapai
Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan mampu untuk :
1. Memahami sifat temuan audit
2. Memahami cara mengonstruksi temuan
3. Memahami tingkat signifikansi temuan
4. Memahami elemen-elemen temuan audit
5. Memahami pembahasan temuan
6. Memahami pencatatan temuan
7. Memahami pengkomunikasian temuan

B. Ruang lingkup bahan modul

5|Pa ge
Modul ini membahas terkait sifat temuan audit, cara mengonstruksi temuan,
tingkat signifikansi temuan, elemen-elemen temuan audit, pembahasan temuan,
pencatatan temuan, dan pengkomunikasian temuan.

C. Manfaat mempelajari modul


1. Mampu menjelaskan sifat temuan audit
2. Mampu menjelaskan cara mengonstruksi temuan
3. Mampu menjelaskan tingkat signifikansi temuan
4. Mampu menjelaskan elemen-elemen temuan audit
5. Mampu menjelaskan pembahasan temuan
6. Mampu menjelaskan pencatatan temuan
7. Mampu menjelaskan pengkomunikasian temuan

D. Urutan pembahasan
1. Sifat temuan audit
2. Mengonstruksi temuan
3. Tingkat signifikansi temuan
4. Elemen-elemen temuan audit
5. Pembahasan temuan
6. Pencatatan temuan
7. Pengkomunikasian temuan

6|Pa ge
BAGIAN III

MATERI PEMBELAJARAN

A. Definisi Temuan Audit

Temuan audit adalah himpunan data dan informasi yang dikumpulkan, diolah dan
diuji selama melaksanakan tugas audit atas kegiatan instansi tertentu yang disajikan
secara analitis menurut unsur- unsurnya yang dianggap bermanfaat bagi pihak-pihak yang
berkepentingan.

Temuan audit merupakan bagian dari suatu proses audit kinerja dimana bagian ini
memuat pesan pokok yang ingin disampaikan auditor ke pembaca laporan, dan merupakan
alasan utama dibuatnya laporan tersebut. Temuan audit adalah kesimpulan akhir dari
kegiatan pemeriksaan, yaitu auditor melakukan pemeriksaan dengan mengumpulkan
bahan bukti audit (audit evidence collection) kemudian melakukan analisis/evaluasi
terhadap bahan bukti audit (audit evidence evaluation).
Dalam tulisan ini akan dibahas mengenai definisi temuan audit, sifat temuan audit, standar

7|Pa ge
audit, saran-saran perbaikan, temuan audit yang dapat dilaporkan, pendekatan untuk
mengonstruksi temuan, dan lain-lain.

Menurut ahli:

Temuan audit (audit findings) menurut Sawyer adalah penyimpangan dari norma-
norma atau kriteria yang dapat diterima.

Temuan audit menurut I Gusti Agung Ra dalam buku Audit kinerja pada sektor
publik: konsep, praktik, studi kasus ialah masalah-masalah penting (material) yang
ditemukan selama audit berlangsung dan masalah tersebut pantas untuk dikemukakan dan
dikomunikasikan dengan entitas yang diaudit karena mempunyai dampak terhadap
perbaikan dan peningkatan kinerja; ekonomi, efisiensi dan efektivitas yang diaudit.

Jadi temuan audit adalah himpunan data dan informasi yang dikumpulkan, diolah
dan diuji selama melaksanakan tugas audit atas kegiatan instansi tertentu yang disajikan
secara analitis menurut unsur- unsurnya yang dianggap bermanfaat bagi pihak-pihak
yang berkepentingan.

B. Sifat Temuan Audit

Temuan audit dapat memiliki berbagai bentuk & ukuran misalnya:


- Tindakan-tindakan yang seharusnya diambil tetapi tidak dilakukan, seperti
pengiriman yang dilakukan tetapi tidak ditagih.
- Tindakan-tindakan yang dilarang, seperti pegawai yang mengalihkan sewa dari
perlengkapan perusahaan ke perusahaan kontrak pribadi untuk kepentingannya
sendiri.
- Tindakan-tindakan tercela, seperti membayar barang dan perlengkapan pada
tarif yang telah diganti dengan tarif yang lebih rendah pada kontrak yang lebih
menguntungkan.
- Sistem yang tidak memuaskan, seperti diterimanya tindak lanjut yang seragan
untuk klaim asuransi yang belum diterima padahal klaim tersebut bervariasi
dalam jumlah dan signifikansinya.
- Eksposur-eskposur risiko yang harus dipertimbangkan.
Temuan audit sering disebut kekurangan (deficiencies).

8|Pa ge
Istilah temuancenderung terlalu negatif, sedang kondisi relatif lebih tepat dan
dianggap lebih nyaman, tidak memberi ancaman, dan tidak menimbulkan tanggapan
defensif bagi auditee.
Temuan audit menjelaskan bahwa sesuatu yang baik saat sekarang (current) atau masa
lalu ( histories ) serta yang mungkin terjadi dimasa yang akan dating (future) terdapat
kesalahan.
Meskipun temuan-temuan audit seringkali disebut sebagai kekurangan
(deficiency), banyak organisasi audit internal merasa bahwa istilah tersebut terlalu
negatif; dan standar awal kelihatannya setuju dengan hal ini. Dalam kenyataannya,
bahkan istilah temuan dianggap terlalu negatif di beberapa tempat. Kata-kata seperti
kondisi dianggap lebih nyaman dan tidak memberikan ancaman, serta tidak
menimbulkan tanggapan defensif di pihak klien.

Walaupun sebutannya bisa bervariasi dari satu organisasi ke organisasi lain,


konsep dasarnya bersifat universal. Apapun nama yang diberikan, suatu temuan audit
menjelaskan sesuatu yang saat ini atau pada masa lalu mengandung kesalahan, atau
sesuatu yang kemungkinan akan terjadi kesalahan.

Ciri-ciri Temuan Audit yang Baik

Terdapat tida ciri temuan audit yang dikatakan baik, yaitu temuan audit harus
didukung oleh biktu yang memadai, temuan audit harus penting (material), serta temuan
audit harus mengandung unsur temuan (kondisi, kriteria, dan sebab akibat).

1. Temuan audit harus didukung oleh bukti yang memadai


Ciri pertama adalah temuan audit seharusnya didukung oleh bukti yang mencukupi
agar pihak yang diaudit oleh pembaca temuan audit menjadi yakin tentang kebenaran
isi temuan audit. semua unsur temuan harus didukung oleh bukti yang cukup.
Pengembangan temuan audit dengan dukungan bukti yang kuat akan mempermudah
penyusunan laporan sekaligus mempermudah menyiapan rekomendasi untuk
mengatasi permasalah entitas yang diaudit.

2. Temuan audit harus penting (material)


Ciri kedua adalah temuan audit harus penting atau material. Penting dan tidaknya
suatu temuan diindikasikan apabila pengguna laporan pengambil tindakan atau
kebijakannya berdasarkan informasi yang ada dalam laporan atau temuan tersebut.

9|Pa ge
Auditor judgment yang merupakan pertimbangan profesional auditor, juga merupakan
faktor yang dominan dalam meningkatkan tingkat materialitas atau tingkat pentingnya
suatu permasalahan.

3. Temuan audit harus mengandung unsur temuan (kondisi, kriteria, dan sebab-akibat)
Ciri ketiga adalah temuan audit harus menguraikan secara jelas kondisi, kriteria, dan
sebab akibat. Pengalaman dilapangan menunjukan bahwa kesulitan dalam pembuatan
laporan audit yang cepat dan mudah dipahami sering kali berkaitan dengan
pengembangan dan pengorganisasian pengembangan tersebut dalam laporan.
Sering kali sulit membedakan secara jelas penyebab yang paling dominan terhadap
suatu kondisi, mengingat demikian banyak variabel penyebab. Akibat yang
ditimbulkan oleh penyebab tersebut dapat bervariasi. Untuk itu auditor dituntut untuk
cermat dalam menentukan hubungan sebab-akibat dalam suatu temuan audit serta
menentukan penyebab yang paling dominan. Mengenai unsur temuan akan dijelaskan
lebih lanjut pada bagian kriteria temuan audit.

Standar

Standards for the Professional Practice of Internal Auditing (SPPIA) dalam


Standar 2310 menyatakan:

Auditor internal harus mengidentifikasi informasi yang memadai, andal, relevan, dan
untuk mencapai tujuan penugasan.

Practice Advisory 2410-1 dari Standar, "Kriteria Komunikasi," memperluas


arahan menjadi:

1. Komunikasi akhir penugasan bisa mencakup informasi latar belakang dan


ringkasan. Inf latar belakang bisa mengidentifikasi unit-unit organisasional dan
aktivitas-aktivitas yang serta memberikan informasi penjelasan yang relevan.
Informasi ini juga bisa mencakup pengamatan, kesimpulan, dan rekomendasi dari
laporan-laporan sebelumnya. Juga bisa terdapat indikasi mengenai apakah laporan
tersebut mencakup penugasan yang dijadwalkan atau tanggapan atas suatu
permintaan. Ringkasan, jika tercakup, harus menjadi representasi penyeimbang dari isi
komunikasi penugasan.

10 | P a g e
2. Hasil-hasil harus mencakup observasi, kesimpulan (opini), rekomendasi, dan
rencana-rencana tindakan.

3. Observasi adalah pernyataan fakta yang berkaitan. Observasi-observasi yang penting


mendukung atau mencegah kesalah pahaman pada kesimpulan dan rekomendasi
auditor internal harus tercakup dalam komunikasi penugasan akhir. Observasi atau
rekomendasi yang kurang signifikan bisa dikomunikasikan secara informal.

4. Observasi dan rekomendasi penugasan timbul dari proses perbandingan apa yang
seharusnya dengan apa yang terjadi. Ada atau tidak ada perbedaan, auditor internal
memiliki fondasi untuk membangun laporan. jika kondisi memenuhi kriteria,
pengakuan atas kinerja yang memuaskan ini bisa dimasukan dalam komunikasi
penugasan. Observasi dan rekomendasi harus didasarkan pada atribut-atribut berikut
ini:

Kriteria: Standar, ukuran, atau ekspektasi yang digunakan dalam


melakukan evaluasi atau verifikasi (apa yang seharusnya ada).

Kondisi: Bukti faktual yang ditemukan auditor internal pada saat


pengujian (apa yang ada).

Penyebab: Alasan perbedaan antara apa yang diharapkan dan kondisi


aktual (mengapa ada perbedaan).

Dampak: Risiko atau eksposur yang dihadapi organisasi dan/atau yang


lainnya karena kondisi tidak sama dengan kriteria (dampak perbedaan).
Dalam menentukan tingkat risiko atau eksposur, auditor internal harus
mempertimbangkan dampak observasi dan rekomendasi penugasan
mereka terhadap laporan keuangan organisasi.

Observasi dan rekomendasi juga bisa mencakup penyelesaian penugasan


klien, hal-hal terkait, dan informasi pendukung jika tidak terkandung di
laporan manapun.

Sehubungan dengan pelaporan aktual, Practice Advisory 2420-1 dari


Standar, "Kualitas Kriteria Komunikasi menyatakan:
Komunikasi objektif bersifat faktual, tidak bias, dan bebas dari distorsi.

11 | P a g e
Observasi, kesimpulan, dan rekomendasi harus dimasukkan tanpa
prasangka.

Komunikasi yang jelas mudah dipahami dan bersifat logis. Kejelasan bisa
ditingkatkan dengan menghindari bahasa teknis yang tidak perlu dan
memberikan informasi pendukung yang memadai.

Komunikasi ringkas langsung ke sasaran dan menghindari rincian yang


tidak perlu. Komunikasi seperti ini mengemukakan pikiran secara
lengkap dalam kata-kata yang sesedikit mungkin.

Komunikasi konstruktif adalah komunikasi yang isi dan nadanya


membantu klien dan organisasi menuju perbaikan jika diperlukan.

Komunikasi tepat waktu adalah komunikasi yang dikeluarkan tanpa


penundaan dan memungkinkan efektif segera.

Saran-saran Perbaikan
Auditor juga menghadapi transaksi atau kondisi yang mungkin secara intrinsik
tidak salah, tetapi bisa ditingkatkan.Misalnya membayar produk yang tidak pernah
diterima jelas adalah kesalahan. Jika cukup uang banyak uang yang terlibat, maka jelas
hal ini merupakan temuan audit yang dapat dilaporkan.

Manajer operasi akan merasa sulit untuk menentang pendapat auditor bahwa
pembayaran atas barang diterima merupakan temuan audit yang valid. Namun akan
tidak adil untuk menerapkan label yang sama ke saran-saran untuk menyederhanakan
memo penerimaan yang tidak menyebabkan kesalahan. Perbaikan-perbaikan untuk
hal-hal seperti ini harus dipisahkan.

Di beberapa organisasi hal ini dilaporkan sebagai saran-saran untuk


perbaikan (suggestions for impropvement). Saran-saran ini tidak memerlukan
rekomendasi perbaikan kesalahan dan tidak mengandung konotasi temuan kesalahan
dari temuan-temuan audit.

Temuan-temuan Audit yang Dapat Dilaporkan

12 | P a g e
Tidak setiap kelemahaan yang ditemukan auditor internal harus dilaporkan.
Beberapa bersifat kecil dan tidak membutuhkan perhatian manajemen. Semua temuan
audit haruslah:

Cukup signifikan agar layak dilaporkan ke manajemen.


Didokumentasikan dengan fakta, bukan opini, dan dengan bukti yang memadai,
kompeten, dan relevan.

Secara objektif dibuat tanpa bias atau prasangka


Relevan dengan masalah-masalah yang ada.
Cukup meyakinkan untuk memaksa dilakukannya tindakan untuk memperbaiki
kondisi-kondisi yang mengandung kelemahan.

Jelaslah karakteristik-karakteristik ini akan diinterpretasikan secara subjektif.


Apa yan sebagai kelemahan signifikan bagi satu individu bisa jadi dianggap tidak
signifikan bagi yang kata seperti objektif, meyakinkan, wajar, dan logis memiliki
konotasi yang berbeda bagi berbeda

Pengujiannya adalah untuk memproyeksikan bagaimana kelemahan-


kelemahan tersebut akan diperhatikan oleh orang-orang yang memiliki sifat wajar dan
berhati-hati pada kondisi-kondisi, karena auditor internal menilai kondisi yang serupa.
Karena auditor internal menilai kondisi kelemahan, maka mereka harus bertanya kepada
diri mereka sendiri. "Seandainya ini adalah organisasi atau lembaga saya, dan
seandainya saja saya ada atau komisaris yang menilai kondisi ini, apa yang akan saya
lakukan?'

C. Pendekatan untuk Mengonstruksi Temuan

Mengembangkan fakta-fakta dan rincian menjadi temuan audit yang signifikan dan
dapat dilaporkan membutuhkan keahlian. Hal ini membutuhkan perbedaan berdasarkan
pengalaman. Apa yang dianggap kelemahan serius bagi orang awam bisa jadi merupakan
hal sepele bagi seorang auditor internal yang professional.

Menemukan penyimpangan-penyimpangan kecil pada proses yang sedang berjalan


relatif mudah. Kesempurnaan jarang diupayakan dan harga yang yang harus dibayar untuk
13 | P a g e
itu juga terlalu mahal. Upaya yang dibutuhkan untuk mencapai lima persen terakhir
kemurnian bisa melebih biaya yang diperlukan untuk mencapai 95 persen yang pertama.
Auditor internal harus realistis dan adil dalam pertimbangan dan kesimpulan mereka.
Mereka harus memiliki naluri bisnis yang baik untuk mengembangkan temuan-temuan
mereka. Karena mereka membuat dan melaporkan temuan audit, auditor internal harus
mempertimbangkan faktor-faktor ini :

Meninjau keputusan manajemen bisa jadi tidak adil dan realistis. Auditor internal
harus rnempertimbangkan keadaan-keadaan yang ada pada saat kelemahan terjadi.
Keputusan nanajemen didasarkan pada fakta-fakta yang tersedia saat ini. Auditor internal
seharusnya tidak mengkritik suatu kebijakan hanya karena mereka tidak setuju atau
karena mereka memilik informasi baru yang tidak tersedia bagi pengambil keputusan.
Auditor internal seharusnya tidak mengganti pertimbangan audit dengan pertimbangan
manajemen.

Auditor, bukan klien, harus bertanggung jawab untuk memberikan bukti. Jika sebuah
temuan audit belum dibuktikan secara mendalam untuk memuaskan seseorang yang
objektif dan wajar maka temuan ini tidak bisa dilaporkan.

Auditor internal harus tertarik pada perbaikan kinerja tetapi kinerja tersebut tidak
mutlak harus dikritik hanya karena kurang dari 100 persen.

Auditor internal harus meninjau temuan-temuan audit. Mereka harus memeriksa


dengan teliti untuk menemukan alasan-alasan yang mengandung kesalahan. Auditor
internal, seperti halnya pendukung pernyataan lainnya, akan tergoda untuk
merasionalkan interpretasi untuk mendukung temuan mereka. Setelah menghabiskan
banyak waktu dan tenaga, auditor cenderung melindungi & dan mempertahankan
temuan mereka menghadapi pertanyaan-pertanyaan sempurna yang logis. Akan tetapi,
temuan-temuan tersebut mungkin tidak dapat dipertahankan dengan berjalannya waktu
atau bila dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang lengkap.

Menambah Logis

Dalam setiap aspek usaha, konsep menambah nilai (adding value) memiliki
makna baru dan lebih jelas. Definisi terbaru mengenai audit internal secara khusus
menyebutkan penambahan nilai. Fungsi-fungsi yang dianggap tidak menambah nilai

14 | P a g e
berisiko untuk dirampingkan, atau bahkan dihilangkan. Salah satu cara auditor
internal menambah nilai adalah dengan meyakinkan bahwa temuan dan rekomendasi
yang mereka berikan jelas berdampak positif bagi organisasi. Auditor internal tidak
hanya harus yakin bahwa pekerjaan mereka memberikan kontribusi yang berarti bagi
tujuan dan kesuksesan organisasi, mereka juga harus yakin bahwa kontribusi tersebut
dipahami dan dinilai oleh yang lain.

Temuan-temuan yang dihasilkan dari penelaahan awal-akhir cenderung


sangat bermanfaat. Jika auditor internal mampu mendeteksi masalah-masalah kontrol
potensial dalam sistem penelusuran persediaan terkomputerisasi yang baru
diterapkan sebelum bukan sesudah dirancang dan diimplementasikan, organisasi
bisa mendapatkan keuntungan besar. Temuan-temuan yang menghasilkan nilai
terbesar seringkali mengalahkan kekuatan teknologi, memberikan perubahan yang
positif, dan berorientasi ke depan. Temuan-temuan ini membantu organisasi bergerak
maju dan mencapai sasaran-sasaran mereka.

Temuan audit yang wajar dapat menghasilkan perbaikan dalam jumlah dolar
atau rupiah yang besar, atau meningkatkan jasa, atau memperbaiki struktur dan
proses organisasi. Auditor internal akan meningkatkan citra mereka sebagai
penambah nilai, bukan sebagai pemakan sumber daya. Di sepanjang tahapan temuan-
temuan audit, penting bagi auditor internal untuk tetap fokus menyediakan aktivitas-
aktivitas dan jasa-jasa bernilai tinggi.

D. Tingkat Signifikansi Temuan

Tidak ada dua temuan yang benar-benar sama. Setiap temuan mencerminkan
tingkat kerugin risiko aktual atau potensialnya masing-masing. Jadi auditor harus
mempertimbangkan tingkat kerusakan yang bisa atau telah disebabkan oleh suatu
kelemahan sebelum mengomunikasikannya dengan manajemen. Untuk kebanyakan tujuan,
temuan-temuan audit bisa diklasifikasikan menjadi temuan tidak signifikan, temuan kecil,
dan temuan besar.

1. Temuan-temuan Tidak Signifikan

Temuan yang tidak signifikan (insignificant findings)semacam kesalahan


klerikal yang semua organisasitidak memerlukan tindakan formal. Dalam
kenyataannya, memasukkan temuan seperti ini ke dalam laporan audit formal akan
menjadi tidak produktif karena akan mengaburkan temuan signifikan yang sebenarnya
pada laporan, yang mengimplikasikan bahwa auditor internal dapat melihat perbedaan

15 | P a g e
antara setitik noda dengan noda yang menyebar. Hal ini juga akan semakin mengukuhkan
citra auditor internal sebagai seorang yang hanya memerhatikan hal-hal kecil.

Masalah-masalah yang tidak signifikan seharusnya tidak disembunyikan atau


dilewatkan. Tindakan yang dapat dilakukan adalah :
o Mendiskusikan masalah tersebut dengan orang yang bertaanggung jawab.
o Melihat apakah situasi tersebut telah diperbaiki.
o Mencatat hal tersebut dalam kertas kerja.
o Tidak memasukkan penyimpangan kecil tersebut ke dalam laporan audit internal
resmi. Tidak diambilnya beberapa diskon pembelian acak oleh pegawai utang
usaha dapat dianggap kesalat tidak signifikan.

Misalnya, tidak diambilnya beberapa diskon pembelian acak oleh pegawai utang
usaha dapat dianggap kesalahan yang tidak signifikan.

Tetapi tidak berarti kesalahan yang klerikal yang bersifat acak tidak pernah
dilaporkan. Jika kesalahan-kesalahan tersebut merupakan gejala-gejala dari masalah
yang lebih besar, mungkin harus ada pelaporan. Kesalah tersebut mungkin
mengidentifikasikan pelatihan karyawan yang kurang, pengawasan yang lemah, atau
instruksi tertulis yang tidak jelas. Pada kasus-kasus ini kelemahan kontrol lah yang
menjadi temuan audit. kesalah acak adalah murni membuktikan adanya kelemahan
dan membutuhkan perhatian manajemen.

2. Temuan-temuan Kecil
Temuan-temuan kecil (minor findings) perlu dilaporkan karena bukan semata-
mata kesalahan manusiawi yang bersifat acak. Jika tidak diperbaiki, maka akan berlanjut,
sehingga merugikan, dan walaupun tidak mengganggu tujuan operasi organisasi, namun
cukup signifikan untuk diperhatikan oleh manajemen.
Seorang pegawai yang telah mencampuradukan kas kecil pribadi dengan milik
organisasi melanggar aturan organisasi dan pihak praktik bisnis yang baik. Tentu hal ini
harus dilaporkan dan diperbaiki, kalau tidak, maka akan terus berlanjut atau menyebar.
3. Temuan-temuan Besar
Temuan-temuan besar (mayor findings) adalah temuan yang akan menghalangi

16 | P a g e
pencapain tujuan utama suatu organisasi atau suatu unit dalam organisasi. Misalnya salah
satu tujuan utama departemen utang usaha adalah hanya membayar utang-utang yang
benar-benar syah.
Sistem control yang lemah mengakibatkan kesalahan pembayaran sebesar $
500.000 mencerminkan kelemahan yang bisa menghalangi departemen mencapai tujuan
utama. Oleh karena itu, hal ini merupakan temuan audit yang besar dan harus dilaporkan.
Memisahkan temuan audit yang besar dan kecil tidaklah mudah. Dibutuhkan
pertimbangan audit yang baik untuk mebedakan keduanya. Namun jika tolok ukur
yang baru saja dijabarkan bisa diterapkan secara wajar, maka ausitor internalharus
mampu mengklasifikasi temuan-temuannya. Dan karen amelibatkan pertimbangan
audit, keputusan akhir mengenai apakah sebuah temuan harus diklasifikasikan sebagai
temuan besar atau kecil merupakan tanggung jawab auditor internal, bukan
manajemen.

E. Elemen- elemen Temuan Audit (Elements Of Audit Findings)

Auditor internal bukanlah orang yang maha tahu dan mereka tidak bisa
diharapkan untuk mengetahui semua hal tentang operasi yang sedang diaudit.
Pengetahuan tentang temuan audit yang dapat dilaporkan merupakan masalah lain, karena
auditor internal mempertentangkan kelayakan status quo. Mereka mencari sistem atau
transaksi yang tidak memenuhi standar operasi yang berlaku. Tetapi auditor internal bisa
mengharapkan adanya tantangan dan mereka harus mengetahui lebih banyak tentang
temuan-temuan audit mereka. Fakta-fakta yang ditemukan auditor internal haruslah
meyakinkan, kriterianya harus dapat diterima, dan logika yang digunakan juga harus
meyakinkan.

Kelayakan tindakan yang mereka lakukan paling baik diukur dengan


membandingkannya dengan beberapa kriteria. Sama halnya dengan pengembangan
temuan audit. Jika temuan yang dikembangkan memenuhi semua standar audit dapat
diterima, maka temuan tersebut akan menjadi logis, wajar, dan meyakinkan. Temuan
tersebut akan memberi stimulus untuk memotivasi tindakan perbaikan. Jika ada yang
hilang dari temuan yang dilaporkan, maka temuan tersebut bisa dipertentangkan dan
berakibat pada tindakan yang tidak menyenangkan atau bahkan tidak ada tindakan sama
sekali.

17 | P a g e
Kebanyakan temuan audit harus mencakup elemen-elemen tertentu, termasuk di
dalamnya latar belakang, kriteria, kondisi, penyebab, dampak, kesimpulan, dan
rekomendasi. Setiap temuan audit yang mencakup elemen-elemen ini, baik eksplisit
maupun implisit, akan menjadi argumen yang kuat untuk dilakukannya tindakan
perbaikan. Temuan tersebut akan menunjukkan bahwa tidak ada rintangan yang dibiarkan
dalam menyajikan masalah dan solusinya. Pada beberapa kasus yang unik, elemen
penyebab mungkin tidak tepat. Suatu masalah mungkin diakibatkan oleh kondisi tertentu.

Pembaca laporan harus diberikan informasi umum yang memadai agar dapat
memahami sepenuhnya alasan-alasan mengapa auditor yakin bahwa temuan-temuan
tersebut harus dilaporkan. Latar belakang juga dapat mengidentifikasi orang-orang yang
berperan, hubungan organisasi, bahkan tujuan dan sasaran yang menjadi perhatian. Hal
tersebut harus bisa menjelaskan secara umum lingkungan yang melingkupi operasi dan
situasi yang menyebabkan auditor melaporkan temuan tersebut.

Elemen-elemen temuan adalah sebagai berikut.

Kriteria

Pengembangan temuan audit harus mencakup dua elemen penting dalam


konsep kriteria:

a. Tujuan dan sasaran, dapat mencakup standar-standar operasi yang mencerminkan


apa yang diinginkan manajemen untuk dicapai oleh operasi yang diaudit.
b. Kualitas pencapaian.

Tidak memahami saran atau tujuan operasi bagaikan menilai patung dengan
matu tertutup. Mungkin saja dilakukan penilaian atas bagian yang dipegang, namun
konteksnya tidak tepat. Dalam mengembangkan temuan audit, auditor internal harus
dengan jelas melihat dan memahami gambaran keseluruhan, serta bagian lainnya.

Dalam setiap audit atas aktivitas, sasaran-sasaran kelayakan, efisiensi,


ekonomis, dan efektivitas harus tercakup. Semua sumber daya harus digunakan tanpa
terbuang percuma. Untuk menentukan seberapa layak efisien, ekonomis, dan
efektifnya suatu operasi, auditor internal harus memiliki tolok ukur. Mereka harus
mengidentifikasi standar atau kriteria kinerja yang valid. Sebelum mereka mengkritik
apa yang terjadi, mereka harus tahu apa yang seharusnya.

18 | P a g e
Standar-standar operasi mungkin sudah ada di beberapa bidang organisasi.
Misalnya manajemen bisa menyatakan bahwa tingkat penolakan produk-produk
tertentu tidak boleh melebihi 2%. Tetapi sebelum menerima standar ini, auditor
internal harus menilai validitasnya. Dasar penentuan standar mungkin harus diteliti
ulang dan auditor mungkin ingin membandingkan standar dengan organisasi-
organisasi srupa dan memeriksa kewajarannya dalam memenuhi sasaran-sasaran
perusahaan.

Di sisi lain, manajemen mungkin belum memiliki standar yang teah ditetapkan.
Dalam kasus ini, auditor internal dapat berpegang pada standara sebelumnya yang
menyarankan:

Kecermatan profesional mencakup pengevaluasian standar operasi yang ditetapkan


dan menentukan apakah standar-standar tersebut dapat diterima dan telah tercapai.
Jika standar-standar tersebut tidak jelas, interpretasi yang berwenang harus
didapatkan. Jika auditor internal diminta mengintrepretasikan atau memilih standar-
standar operasi, mereka harus mencari kesepakatan dengan klien mengenai standar
yang diperlukan untuk mengukur kinerja operasi.

Standar terkait erat dengan prosedur dan praktik. Prosedur merupakan intruksi
manajemen yang umumnya tertulis, sementara praktik merupakan cara segala
sesuatunya dilakukan, baik benar maupun salah. Prosedur yang lemah dapat
mengakibatkan kondisi yang tidak memuaskan atau praktik-praktik yang lemah dapat
melanggar prosedur yang memadai. Dalam membuat temuan-temuan audit, auditor
internal harus berupaya ntuk menentukan praktik dan prosedur apa saja yang
diterapkan atau yang seharusnya.

Adanya prosedur yang salah atau tidak adanya prosedur yang layak bisa
menjadi alasan mengapa dibutuhkan tindak perbaikan. Dibutuhkan keahlian yang
memadai untuk menulis hal ini tanpa menimbulkan kesalahpahaman bagi pembaca.
Hanya hal-hal penting yang seharusnya dilaporkan, hindari rincian-rincian yang tidak
perlu. Misalnya saja auditor tidak menemukan adanya prosedur operasi tertulis sebagai
perbandingan kondisi yang terjadi, tetapi praktik operasi melanggar praktik bisnis
yang baik. Karyawan hanya menghabiskan setengah hari untuk pekerjaan mereka.
Pengawasan lemah dan penggunaan meteran tidak diperiksa. Auditor membuat standar
mereka sendiri berdasarkan prosedur administratif yang dapat diterima dan informasi

19 | P a g e
yang dikumpulkan dari organisasi lain pada bidang yang sama. Audit yang mereka
lakukan kemudian didedikasikan untuk menunjukkan akibat-akibat prosedur yang
tidak memadai dan merekomendasikan cara-cara untuk memperbaikinya.

Kondisi

Istilah kondisi mengacu pada fakta-fakta yang dikumpulakn melalui observasi,


pengajuan pertanyaan, analisis, verifikasi, dan investigasi yang dilakukan auditor
internal. Kondisi merupakan ktaKondisi harus mampu menghadapi serangan apapun.
Kondisi juga harus mencerminkan total populasi atau sistem yang ditelaah, atau dalam
kasus terpisah, harus merupakan kelemahan yang signifikan. Klien harus menyepakati
fakta-fakta yang disajikan meskipun mereka bisa saja memperselisihkan signifikansi
yang dilekatkan auditor pada temuan-temuan tersebut.

Klien bisa saja tidak menyetujui kesimpulan dan interpretasi audit, namun
jangan pernah ada perbedaan dengan fakta-fakta yang mendasari kesimpulan. Suatu
temuan bisa dianggap tidak layak apabila klien dengan valid menyatakan bahwa
auditor internal tidak mendapatkan fakta dengan benar. Hal ini menjadi tidak relevan.
Jadi, kondisi-kondisi tersebut harus dibahasa di awal dengan orang-orang yang
mengetahui fakta-fakta tersebut. Setiap pertentangan tentang fakta-fakta harus
dipecahkan sebelum temuan-temuan dilaporkan. Auditor internal harus
mempertahankan reputasinya dalam hal akurasi dan berbuat sesuai pengamatannya
sehingga jika auditor berpendapat seperti ini atau itu, maka hal tersebut pasti benar.

Sebagai contoh penggambaran kondisi yang dilaporkan, auditor internal


menggunakan pengambilan sampel secara acak dalam memilih meteran untuk
pengujian. Meteran yang dipilih dilepas kemudian diperiksa di laboratorium.
Pengujian menunjukkan bahwa 17% dari meteran yang diuji tidak berfungsi sama
sekali dan tambahan 23% berjalan lebih lambat dibandingkan standar yang ditentukan
dalam ketentuan hukum.

Penyebab

Penyebab menjelaskan mengapa terjadi deviasi dari kriteria yang ada, mengapa
sasaran tercapai, dan mengapa tujuan tidak terpenuhi. Identifikasi penyebab
merupakan hal penting untuk memperbaikinya. Setiap temuan audit dapat ditelusuri

20 | P a g e
penyimpangannya dari apa yang diharapkan. Masalah dapat diatasi hanya jika
penyimpangan ini diidentifikasi dan penyebabnya diketahui.

Menentukan penyebab merupakan latihan pemecahan masalah dan prosesnya


mengikuti langkah-langkah klasik berikut:

a. Kumpulkan fakta-fakta.
b. Identifikasi masalah.
c. Jelaskan hal-hal utama dari masalah.
d. Uji penyebab-penyebab yang mungkin.
e. Tetapkan tujuan-tujuan potensi tindakan perbaikan.
f. Bandingkan tindakan-tindakan alternatif dengan tujuan dan secara tentatif pilih
yang terbaik.
g. Pikirkan keadaan-keadaan buruk yang dipicu oleh tindakan perbaikan yang telah
dipilih.
h. Pertimbangan bagaimana seandainya.
i. Apakah terdapat kondisi-kondisimitigasi.
j. Rekomendasikan kontrol untuk memastikan bahwa tindakan terbaik benar-benar
telah dilakukan.

Contoh berikut menggambarkan penyebab kondisi yang tidak layak:

Dengan menggunakan analisisi regresi berganda, auditor menetapkan korelasi


tertentu antara kondisi-kondisi operasi meteran dan usianya. Bila meteran tersebut
telah beroperasi selama beberapa tahun, maka ada kecenderungan untuk melambat dan
perlahan-lahan tidak berfungsi. Setelah berbicara dengan manajer dari organisasi
utilitas lainnya, auditor menyatakan bahwa praktik-praktik yang diterapkan di
organisasi mereka tidak berfokus pada meteran yang telah tua, tidak memberdayakan
sepenuhnya pengawas meteran, tidak membuat pengawas menyadari adanya meteran
yang tidak berfungsi, atau tidak memberikan pengawasan yang dibutuhkan.

Dampak

Dampak menjawab pertanyaan lalu kenapa. Anggaplah semua fakta telah


disajikan, lalu kenapa/ siapa atau apa yang dirugikan, seberapa buruk? Apa
konsekuensinya? Akibat-akibat yang merugikan haruslah signifikan, bukan hanya
penyimpangan dari prosedur. Dampak merupakan elemen yang dibutuhkan untuk
meyakinkan klien dan manajemen pada tingkat lebih tinggi bahwa kondisi yang tidak
diinginkan jika dibiarkan terus terjadi akan berakibat buruk dan memamakan biaya

21 | P a g e
yang lebih besar daripada tindakan yang dibutuhkan untuk memeprbaiki masalah
tersebut.

Untuk temuan-temuan keekonomisan dan efisiensi, dampak biasanya diukur


dalam dolar atau rupiah. Dalam temuan-temuan efektivitas, dampak biasanya
meupakan ketidakmampuan untuk menyelesaikan hasil akhir yang diinginkan atau
diwajibkan. Dampak adalah hal yang membuat yakin dan sangat diperlukan untuk
suatu temuan audit. Jika tidak disajikan ke manajemen dengan memadai maka kecil
kemungkinannya akan diambil indak perbaikan.

Sebagai contoh dampak yang signifikan, auditor internal dapat menunjukkan


melalui sampel mereka bahwa telah terjadi kehilangan pendapatan sebesar $2 juta per
tahun. Mereka juga menunjukkan bahwa tarif air sangat tinggi secara tidak beralasan
sehingga terjadi kelebihan pendapatan setidaknya $1.5 juta setiap tahun.

Kesimpulan

Kesimpulan (conclusion) harus ditunjang oleh fakta-fakta; namun harus


merupakan pertimbangan professional, bukan berisi rincian yang tidak perlu. Dalam
membuat kesimpulan, auditor internal jelas memiliki peluang untuk memberikan
kontribusi kepada organisasi. Jika auditor internal secara konsisten menyajikan
kesimpulan yang bisa menghasilkan kinerja yang baru dan tingkatan kinerja yang
lebih tinggi, menguranggi biaya dan meningkatkan kualitas ptroduksi, menghilangkam
[ekerjaan yang tidak dibutuhkan, mendayagunakan kekuatan teknologi, meningkatkan
kepuasan pelanggan, merningkatkan jasa, dan meningkatkan posisi kompetitif
organisasi, maka audit internal jelas bernilai. Kesimpulan dapat menekankan
pemahaman auditor atas usaha organisasi dan hibungan fungsi yang diaudit terhadap
perusahaan secara keseluruhan.

Kesimpulan dapat dan seharusnya menyajikan tindakan potensial dan


menunjukan bahwa manfaat memperbaiki kesalahaaan akan melebihi biayanya.
Besarnya kerugian yang ditunjukan pada bagian dampak merupakan dasar
dibutuhkannya tindakan perbaikan. Misalnya temuan menuntun auditor untuk
menyimpulkan bahwa prosedur-prosedur harus diperbaiki. Meteran di atas usia
tertentu harus diawasi, dan yang tidak memenuhi standar harus diganti Instruksi dan

22 | P a g e
pengawasan harus diberikan kepada pengawas sehingga kinerja mereka bisa
ditingkatkan.

Rekomendasi

Rekomendasi (recommendation) menggambarkan tindakan yang mungkin


dipertimbangkan manajemen untuk memperbaiki kondisi-kondisi yang salah dan
untuk memperkuat kelemahan dalam sistem kontrol. Rekomendasi harus positif dan
bersifat spesifik. Rekomendasi juga harus mengidentifikasi siapa yang akan terbaik.

Akan tetapi rekomendasi audit membawa bibit-bibit bahaya. Jika manajemen


diberi tahu mengenai tindakan yang direkomendasikan auditor, maka tindakan tersebut
bisa berbalik merugikan auditor. Mengidentifikasi kondisi yang tidak memuaskan
adalah tanggung jawab audit. Memperbaikinya merupakan tanggung jawab
manajemen.

Lebih disukai bila auditor internal mengusulkan metode tindakan perbaikan


untuk pertimbangan manajemen. Rekomendasi audit seharusnya tidak dilakukan
secara membabi buta, tetapi dipertimbangkan bersama-sama dengan tindakan-tindakan
lain yang mungkin dilakukan. Auditor internal tidak mendikte manajemen: dan pada
akhirnya, manajemenlah, bukan auditor internal yang harus melakukan tindakan
perbaikan.

Saran yang paling memuaskan untuk menyelesaikan temuan audit adalah


membahsnya dengan manajemen operasional sebelum laporan audit tertulis
diterbitkan. Pada saat itu harus dicapai kesepakatan mengenai fakta-fakta dan
beberapa tindakan perbaikan untuk memperbaiki kekurangan. Kemudian, laporan
formal bisa berisi pernyataan ini: kami membahas temuan-temuan kami dengan
manajemen; dan sebgai hasilnya, tindakan telah diambil yang kami yakin telah
diperhitungkan untuk memperbaiki kondisi yang telah dijelaskan). Pendekatan ini
mengambil apa pun dari auditor, dan membangun hubungan dalam pemecahan
masalah antara auditor dan lien.

Kami yakin bahwa bentuk laporan ini lebih disukai untuk seperangkat
rekomendasi audit yang kelihatanya menekankan klien dan meempatkan auditor
sebagai atasan, makhluk maha tahu yang mengeluarkan pernyataan yang di[ahat di
batu granit. Misalnya:

23 | P a g e
Kami telah mebahas temuan dan kesimpulan kami dengan manajemen.
Sebagai hasilnya. Manajemen mengambil tindakan untuk mengganti 25.000 meteran
lama atau yang tidak beroprasi dengan biaya $1 juta. Manajemen puas dengan
tindakan ini karena akan menghasilkan tambahan pendapatan $2 juta setahun dan pada
saat yang sama, mengurangi pendapatan tarif air sebesar $1,5 juta setiap tahun.

Juga, manajemen mengambil langkah untuk mengutus sebuah tim ke beberapa


organisasi utilitas, untuk memepelajari metode yang diterapkan dalam memeriksa
meteran, mengawasi pemeriksaan meteran, dan mengawasi meteran untuk medeteksi
meteran yang mulai rusak.

F. Pencatatan Temuan Audit

Auditor internal yang ingin memastikan bahwa mereka telah sepenuhnya


mempertin elemen-elemen temuan audit bisa mengandalkan pada suatu bentuk laporan
atau sarana agar mereka tetap bisa menelusurinya. Laporan tersebut juga bisa menjadi sarana
bagi penyelia guna menentukan apakah semua langkah yang diperlukan untuk menghasilkan
temuan audit dikembangkan dengan baik telah diambil.

Aktivitas Pencatatan Temuan Audit Internal (Internal Audit Activity Record of Audit
Findings) ditunjukkan pada form catatan audit internal sebagai suatu contoh laporan tersebut.
Laporan tersebut dengan tujuan yang telah dijelaskan dan memberi ruang untuk:

Mengidentifikasi organisasi yang bertanggung jawab.


Memberi nomor identifikasi untuk temuan tertentu dan suatu rujukan untuk kerja
pendukung.
Memberi pernyataan singkat mengenai kondisi.
Mengidentifikasi kreteria standar yang diterapkan untuk menilai kondisi.
Menunjukkan apakah temuan tersebut merupakan pengulangan dari sesuatu yang
ditemukan audit sebelumnya.
Menyatakan arah, prosedur, atau instruksi kerja yang berkaitan dengan temuan tersebut.
Meringkas pengujian audit dan jumlah kelemahan yang ditemukan.
Menunjukkan penyebabmengapa penyimpangan terjadi.
Menjelaskan dampak, aktual maupun potensial, dari kondisi tersebut.
Menyatakan tindakan perbaikan yang diusulkan dan/atau yang diambil.

24 | P a g e
Mencatat pembahasan dengan karyawan klien dan mencatat tanggapan-tanggapan
mereka(setuju, tidak setuju), dan sifat tindakan, jika ada, yang mereka usulkan untuk
diambil.

Laporan Pencatatan Temuan Audit (Record of Audit FindingsRAF) memberikan


fleksibiliti RAF bisa diurutkan atau diurut ulang untuk memfasilitasi pelaporan formal.
Laporan tersebut memberikan acuan untuk pembahasan, karena mencakup kebanyakan
informasi yang dil dalam satu lembar untuk menjelaskan masalah.

Laporan tersebut juga berfungsi sebagai untuk mengingatkan auditor semua yang
diperlukan untuk memperoleh informasi untuk tern dibuat secara mendalam. RAF juga
harus diselesaikan di lapangan sehingga setiap elemen ya atau tidak lengkap bisa
diperbaiki tanpa membutuhkan kunjungan ulang ke tempat yang diaudit.

G. Melaporkan Temuan Audit

Record of Audit Findings-RAF, dan abstraksi telah digunakan lebih dari sekadar
sebagai pencatatan temuan atau klien. Laporan tersebut telah diakumulasikan berurutan
secara logis berdasarkan pengelompokan menurut subjek, lokasi, atau unit yang diaudit
dan kemudian diserahkan manajemen melalui ringkasan eksekutif satu halaman.
Ringkasan ini menjelaskan lingkup audit, menyajikan opini audit secara keseluruhan, dan
menyajikan penilaian auditor atas operasi yang diaudit.
Format pelaporan ini menekankan pada kelemahan-kelemahan. Pelaporan ini
menawarkan dari pelaporan segera setelah pekerjaan lapangan diselesaikan, tetapi apa yang
diperoleh clan yang cepat bisa jadi sia-sia bila hubungan auditor-klien tidak menguntungkan.
Auditor bisa posisi memberikan kritik atau celaan, bukan sebagai pengamat objektif yang
memerha maupun sisi buruk. Dampak yang tidak menguntungkan ini dapat diseimbangkan
oleh tanggapan yang objektif pada ringkasan eksekutif. Hal tersebut juga dapat
dinetralkan pembahasan interim mengenai RAF dengan klien.

25 | P a g e
BAGIAN IV

LATIHAN

1. Jelaskan sifat temuan audit dalam audit internal!


2. Apa sajakah temuan-temuan audit yang dapat dilaporkan? Jelaskan!
3. Bagaimana pendekatan untuk mengonstruksi temuan?
4. Jelaskan 3 klasifikasi temuan audit berdasarkan tingkat signifikansinya!
5. Jelaskan elemen-elemen temuan audit!
6. Jelaskan bagaimana pencatatan temuan audit!
7. Bagaimanakah temuan audit dikomunikasikan?

26 | P a g e
BAGIAN V

RANGKUMAN

Temuan audit adalah himpunan data dan informasi yang dikumpulkan, diolah dan
diuji selama melaksanakan tugas audit atas kegiatan instansi tertentu yang disajikan
secara analitis menurut unsur- unsurnya yang dianggap bermanfaat bagi pihak-pihak yang
berkepentingan.

Dan untuk memahami lebih lanjut mengenai temuan audit, maka auditor harus
mengetahui terlebih dahulu sifat temuan audit, temuan audit yang dapat dilaporkan,
pendekatan untuk mengkronstruksi temuan, tingkat signifikan dari temuan audit, elemen-
elemen temuan audit serta pencatatan dan pelaporan temuan audit.

27 | P a g e
Jadi, dalam mengolah hasil temuan diawali dengan memahami definisi dari temuan
audit dan sifat temuan audit, kemudian melakukan pendekatan untuk mengonstruksi temuan,
setelah itu menilai tingkat signifikansi temuan audit berdasarkan elemen-elemen audit.
Setelah itu hasil temuan dicatat dan dilaporkan setelah auditor memahami kriteria temuan
audit apa saja yang dapat dilaporkan. Temuan audit dilaporkan kepada pihak yang
berkepentingan agar dijadikan evaluasi terhadap pengendalian organisasi dalam
mengidentifikasi kelemahan organisasi yang kemudian dari hasil laporan audit tersebut
dijadikan acuan dari tindak lanjut yaitu tindakan perbaikan untuk memperbaiki kelemahan
organisasi.

BAGIAN VI

TES FORMATIF

1. Jelaskan 3 ciri-ciri temuan audit yang baik!


2. Apakah tindakan yang harus diambil ketika menemukan masalah yang tidak
signifikan?
3. Jelaskan elemen-elemen yang terkandung dalam temuan audit!

28 | P a g e
BAGIAN VII

KUNCI TES FORMATIF

1. Terdapat tiga ciri temuan audit yang dikatakan baik, yaitu temuan audit harus
didukung oleh biktu yang memadai, temuan audit harus penting (material), serta
temuan audit harus mengandung unsur temuan (kondisi, kriteria, dan sebab akibat).
a. Temuan audit harus didukung oleh bukti yang memadai. Ciri pertama adalah
temuan audit seharusnya didukung oleh bukti yang mencukupi agar pihak yang
diaudit oleh pembaca temuan audit menjadi yakin tentang kebenaran isi
temuan audit. semua unsur temuan harus didukung oleh bukti yang cukup.
Pengembangan temuan audit dengan dukungan bukti yang kuat akan

29 | P a g e
mempermudah penyusunan laporan sekaligus mempermudah menyiapan
rekomendasi untuk mengatasi permasalah entitas yang diaudit.
b. Temuan audit harus penting (material). Ciri kedua adalah temuan audit harus
penting atau material. Penting dan tidaknya suatu temuan diindikasikan apabila
pengguna laporan pengambil tindakan atau kebijakannya berdasarkan
informasi yang ada dalam laporan atau temuan tersebut. Auditor judgment
yang merupakan pertimbangan profesional auditor, juga merupakan faktor
yang dominan dalam meningkatkan tingkat materialitas atau tingkat
pentingnya suatu permasalahan.
c. Temuan audit harus mengandung unsur temuan (kondisi, kriteria, dan sebab-
akibat). Ciri ketiga adalah temuan audit harus menguraikan secara jelas
kondisi, kriteria, dan sebab akibat. Pengalaman dilapangan menunjukan bahwa
kesulitan dalam pembuatan laporan audit yang cepat dan mudah dipahami
sering kali berkaitan dengan pengembangan dan pengorganisasian
pengembangan tersebut dalam laporan.

2. Masalah-masalah yang tidak signifikan seharusnya tidak disembunyikan atau


dilewatkan. Tindakan yang dapat dilakukan adalah :

a) Mendiskusikan masalah tersebut dengan orang yang bertaanggung jawab.


b) Melihat apakah situasi tersebut telah diperbaiki.
c) Mencatat hal tersebut dalam kertas kerja.
d) Tidak memasukkan penyimpangan kecil tersebut ke dalam laporan audit internal
resmi. Tidak diambilnya beberapa diskon pembelian acak oleh pegawai utang
usaha dapat dianggap kesalat tidak signifikan.

3. Elemen-elemen dalam temuan audit yaitu:

a) Latar belakang (background): Identifikasi orang-orang yang berperan,


hubungan organisasi, dan memperhatikan tujuan serta sasaran.

b) Kriteria (criteria) : tujuan & sasaran serta kualitas pencapaian.

c) Kondisi (condition) : merupakan jantungnya temuan.

d) Penyebab (cause) : memerlukan latihan pemecahan masalah (problem solving).

30 | P a g e
e) Dampak (effect):

a. Temuan tentang keenomisan & efisiensi : diukur dalam $ atau Rp.

b. Temuan tentang keefektivan : ketidakmampuan untuk menyelesaikan


hasil akhir.

f) Kesimpulan (conclusion) : harus ditunjang oleh fakta-fakta; namun harus


merupakan pertimbangam profesional, bukan berisi rincian yang tidak perlu.

g) Rekomendasi (recommendation) : tindakan yang dapat dipertimbangkan oleh


manajemen untuk memperbaiki kondisi yang salah atau memperkuat sistem
pengendalian intern.

BAGIAN VIII

DAFTAR PUSTAKA

Sawyer. Lawrence B, Mortimer A. Dittenhofer, dkk. 2006. Internal Auditing Buku 1


Edisi 5. Jakarta: Salemba Empat.
I Gusti Agung Rai. 2008. Audit Kinerja pada Sektor Publik: Konsep, Praktik, dan
Studi Kasus. Jakarta: Salemba Empat.

31 | P a g e
Firman. 2010. Temuan Audit. (online)
http://ffirmann.wordpress.com/2010/01/09/temuan-audit/ diakses pada 25 Oktober 2017

32 | P a g e