Anda di halaman 1dari 3

LAPORAN KEGIATAN FOCUS-PDCA, JUDUL: INSIDEN VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP)

UNIT/INSTALASI/RUANGAN/BIDANG/BAGIAN : KOMITE PPI


BULAN-TAHUN : JANUARI - JUNI 2013

F
Angka insiden VAP meningkat dan melebihi target yang ditetapkan. Dari hasil
pemantauan petugas IPCN meningkatnya insiden VAP disebabkan oleh beberapa factor
antara lain:
o Kepatuhan petugas untuk melakukan kebersihan tangan belum optimal (masih
ada petugas dokter/perawat/petugas kesehatan lain) tidak melakukan kebersihan
tangan sesuai standar yang diharapkan
o Pemakaian APD yang tidak rasional misalnya handscoen, ditemukan masih ada
petugas yang tidak memakai sarung tangan steril saat melakukan tindakan suction
karena alasan kurangnya persediaan terutama pada pasien-pasien non umum
(jamkesmas/jkbm), atau masih ada petugas yang tidak mengganti sarung tangan
ketika berpindah ke pasien lainnya.
o Tekhnik aseptic pada tindakan suction belum optimal yaitu ditemukan sebagian
besar pasien masih menggunakan kateter open suction.
o Oral hygiene yang belum maksimal yaitu hanya sebagian besar dilakukan pada
pagi hari saat mandi besar, tidak dilakukan secara kontinyu/periodic.
o Mesin ventilator tidak dilakukan dekontaminasi dengan maksimal secara kontinyu
ketika tidak digunakan, karena kebutuhan tidak sesuai dengan persediaan,
sehingga ventilator tidak pernah berhenti digunakan (tidak pernah istirahat).
o Sirkuit ventilator yang digunakan pasien tidak pernah diganti sesuai standar (72
Jam) karena persediaan yang tidak sesuai standar (tidak ada cadangan) dan pada
pasien-pasien non umum sirkuit ventilator tidak mendapat tanggungan.

Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium mikrobiologi, kuman penyebab infeksi


adalah Pseudomonas Auriginosa, Satphylococcus Epidermidis, Acinetobacter Baumanii
dan Clebsiela Pneumoniae yang merupakan jenis kuman yang diperoleh melalui kontak
dengan tangan petugas, alat dan lingkungan. Hal ini berarti ada kontribusi yang cukup
kuat dari petugas/alat/lingkungan terhadap terjadinya infeksi.

O
1. Melaksanakan koordinasi dengan bagian Intenif untuk membuat tim kerja/grup diskusi
yang terdiri dari intensivist, staf perawat intensive, lab mikro dan PPI untuk membahas
kondisi ini.

C
Ventilator associated pneumonia (VAP) adalah bentuk infeksi nosokomial yang paling
sering ditemui di unit perawatan intensif (UPI), khususnya pada penderita yang
menggunakan ventilasi mekanik. Meskipun belum ada penelitian mengenai jumlah
kejadian VAP di Indonesia, namun berdasarkan kepustakaan luar negeri diperoleh data
bahwa kejadian VAP cukup tinggi, bervariasi antara 9 27% dan angka kematiannya
bisa melebihi 50%. Faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan VAP seperti usia,
jenis kelamin, trauma, penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) dan lama pemakaian
ventilator telah banyak diteliti. Sebagian besar faktor risiko tersebut merupakan
predisposisi kolonisasi mikroorganisme patogen saluran cerna maupun aspirasi
(Wiryana, 2007).

Mikroorganisme yang berperan terhadap VAP adalah Staphylococcus aureus,


Pseudomonas aeruginosa dan Enterobacteriacea, dimana hal ini dipengaruhi oleh
populasi penderita, lama perawatan dan pemberian antibiotika (Wiryana, 2007).
Kuman ini tergolong kuman gram negative yang merupakan kuman yang diperoleh
melalui kontak dengan lingkungan hal ini berarti ada kontribusi yang cukup kuat dari
petugas/alat/lingkungan terhadap terjadinya infeksi.

Pencegahan VAP dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu secara non farmakologi dan
memakai farmakologi. Cara non farmakologi merupakan cara rutin dan baku dilakukan
di UPI meliputi kebiasaan cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien,
intubasi per oral, posisi kepala lebih tinggi 30 45, dan menghindari volume lambung
yang besar. Pencegahan non farmakologi ini belum mampu menurunkan insiden VAP,
maka kemudian ditambahkan dengan pencegahan secara farmakologi yang lebih efektif.
Pencegahan secara farmakologi dilakukan dengan cara dekontaminasi selektif
menggunakan antibiotika pada saluran cerna (selective decontamination of the
digestive tract/SDD) dan dekontaminasi orofaring (oropharyngeal
decontamination/OD) menggunakan antiseptic. DeRiso menyatakan dalam
penelitiannya bahwa chlorhexidine yang digunakan dalam dekontaminasi orofaring
dapat menurunkan kejadian infeksi nosokomial saluran napas di UPI sampai dengan
69% (Wiryana, 2007).

Sesuai dengan Buku Pedoman PPI RSUP Sanglah Denpasar, sirkuit ventilator harus
diganti dalam waktu tidak lebih dari 72 jam. Hasil pengamatan Komite PPI didapatkan
bahwa sirkuit ventilator tidak diganti sesuai standar waktu yang ditetapkan terutama
pada pasien-pasien non umum (ASKES, jamkesmas, JKBM) karena alat tersebut tidak
mendapatkan tanggungan sedangkan persediaan sirkuit reuse tidak sesuai dengan
kebutuhan (Standar sirkuit yang dianjurkan adalah 1 ventilator memiliki 3 sirkuit).

CDC menganjurkan untuk pencegahan terkolonisasinya kuman di oropharyng atau


saluran gastrointestinal bagian atas adalah dengan menggunakan kateter closed suction
tetapi alat ini belum bisa digunakan untuk seluruh pasien yang terpasang ventilator
khususnya pada pasien non umum karena tidak mendapat tanggungan.

WHO menganjurkan dan sesuai Pedoman PPI RSUP Sanglah, kebersihan tangan harus
dilakukan di 5 momen yaitu sebelum kontak dengan pasien, setelah terpapar cairan
tubuh pasien, sebelum melakukan tindakan invasive, setelah kontak dengan pasien dan
setelah kontak dengan lingkungan pasien. Kenyataan yang ditemukan di lapangan,
masih ada petugas yang tidak melakukan kebersihan tangan sebelum kontak dengan
pasien.

U
o Kepatuhan petugas untuk melakukan kebersihan tangan belum optimal (masih ada
petugas dokter/perawat/petugas kesehatan lain) tidak melakukan kebersihan tangan
sesuai standar yang diharapkan.
o Pemakaian APD yang tidak rasional misalnya handscoen, ditemukan masih ada petugas
yang tidak memakai sarung tangan steril saat melakukan tindakan suction karena alasan
kurangnya persediaan terutama pada pasien-pasien non umum (jamkesmas/jkbm), atau
masih ada petugas yang tidak mengganti sarung tangan ketika berpindah ke pasien
lainnya.
o Tekhnik aseptic pada tindakan suction belum optimal yaitu ditemukan sebagian besar
pasien non umum masih menggunakan kateter open suction yang kemungkinan besar
dapat berisiko terkontaminasi.
o Oral hygiene yang belum maksimal yaitu hanya sebagian besar dilakukan pada pagi hari
saat mandi besar, tidak dilakukan secara kontinyu/periodic. Pengadaan Chlorhexidine
sebagai antiseptic oral belum sesuai kebutuhan.
o Mesin ventilator tidak dilakukan pembersihan dengan maksimal secara kontinyu ketika
tidak digunakan, karena kebutuhan tidak sesuai dengan persediaan, sehingga ventilator
tidak pernah berhenti digunakan (tidak pernah istirahat).
o Sirkuit ventilator yang digunakan pasien tidak pernah diganti sesuai standar (72 Jam)
karena persediaan yang tidak sesuai standar (tidak ada cadangan) dan pada pasien-
pasien non umum sirkuit ventilator tidak mendapat tanggungan

S
Melaksanakan perbaikan system audit kepatuhan cuci tangan.
Melaksanakan uji sterilitas ruangan dan alat ventilator.
Melaksanakan perbaikan dalam pengelolaan ventilator.

P
Melaksanakan system audit cuci tangan:
o Membuat format audit yang baru (1-7 juli 2013)
o Mengadakan sosialisasi system audit ke semua unit pelayanan (8-13 Juli 2013)

Melaksanakan uji sterilitas ruangan dan alat ventilator (8-13 Juli 2013)

Melaksanakan perbaikan dalam pengelolaan ventilator:


o Membuat proposal tentang kajian dan usulan pengadaan sirkuit ventilator single use
dan kateter closed suction untuk semua pasien yang terpasang ventilator (8-20 Juli
2013).
o Membuat proposal tentang kajian dan usulan pengadaan sarung tangan steril single
use di ruang intensif (8-13 Juli 2013).

D
Format audit kepatuhan cuci tangan yang baru sudah dibuat, sosialisasi dan edukasi
sedang dalam proses kordinasi.
Kajian dan usulan sedang dalam tahap penyusunan.

C
Monitoring dan evaluasi dilaksanakan pada bulan Juli,

A
Berkoordinasi dengan tim kerja untuk membuat Pedoman pencegahan VAP (VAP
Bundle).
Merevisi dan membuat standar/SPO yang ada (penggunaan sirkuit ventilator,
penggunaan chlorhexidine oral hygiene)

Keterangan : Denpasar, 4 Juli 2013


1. Format ini agar dilengkapi setiap ditemukan suatu permasalahan disetiap unit Ketua Komite PPI RSUP Sanglah
kerja dan ditembuskan Unit Penjaminan Mutu (UPM, ext .266) setiap bulan
selambat-lambatnya minggu pertama bulan berikutnya
2. Setiap kegiatan yang dilaksanakan perbaikan agar dibuat laporan tertulis
lengkap dengan format Gugus Kendali Mutu setiap tahunnya minimal 1 laporan
yang secara langsung akan diregistrasi sebagai peserta konvensi GKM RSUP dr. I Wayan Suryanto Dusak,Sp.OT.(K)
Sanglah Denpasar setiap bulanAgustus. Laporan GKM selambat-lambatnya
diterima UPM 2 minggu sebelum konvensi.
NIP :196108031988031002