Anda di halaman 1dari 24

2017

Laporan Kawasan Minapolitan


Kabupaten Banyumas

Disusun Oleh:
Dhea Adventia (D109116008)
Fikri Fahru (D109116011)
Ari Jufriansyah (D109116011)
Silvi (D109116011)
Emiliana (D109116011)
Ade Yuniar (D109116011)
Digna Setyana Hayu P (D109116011)
Meithree Rury Vanesa (D109116031)

Fakultas Teknik
Universitas Tanjungpura
Kata Pengantar

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena laporan ini dapat selesai
sebagai tugas mata kuliah Perencanaan Wilayah dengan tema Kawasan
Minapolitan Studi Kasus Kabupaten Banyumas. Selama penyusunan laporan ini,
penulis telah memperoleh bantuan, bimbingan, petunjuk serta saran-saran dari
berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan rasa
syukur dan terima kasih kepada :
1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesempatan bagi kami untuk
menyelesaikan makalah ini dengan keadaan sehat walafiat.
2. Orang tua kami yang telah memberi doa dan dukungan baik moril maupun
materil yang tak terhingga kepada orang tua kami, sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini.
4. Ibu. selaku dosen pembimbing Mata kuliah Ekonomi Perencanaan Wilayah
yang telah banyak memberikan bantuan dan arahan kepada kami dalam
proses belajar mengajar hingga tersusunnya laporan ini.
5. Teman-teman Perencanaan Wilayah Kota Universitan Tanjungpura yang
telah memberikan motivasi dalam penyelesaian laporan ini.
Kami sangat menyadari bahwa penulisan ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang bersifat
membangun sebagai bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi kami dalam
menyelesaikan tugas-tugas berikutnya.

Pontianak, Oktober 2017

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perikanan merupakan salah satu subsektor pertanian dan kelautan
yang memiliki peran penting sebagai penggerak kemajuan perekonomian
nasional di Indonesia. Selain menjadi penyokong dalam perwujudan
ketahanan pangan seperti yang termaktub pada Undang-Undang No.18
Tahun 2012 tentang pangan. Subsector perikanan memiliki tujuan
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup nelayan/pembudidaya,
menghasilkan protein hewani dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan
dan gizi, meningkatkan ekspor, menyediakan bahan baku industry,
memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha serta meningkatkan
pembangunan wilayah dengan tetap memperhatikan kelestarian dan fungsi
lingkungan hidup (Gofar Ismail et al, 2008).
Dewasa ini kebutuhan ikan bagi masyarakat semakin penting,
maka sangat wajar jika usaha perikanan air tawar harus dipacu untuk
dikembangkan. Usaha tani dibidang perikanan air tawar memiliki prospek
yang sangat baik karena sampai sekarang ikan konsumsi, baik berupa ikan
segar maupun bentuk olahan, masih belum mencukupi kebutuhan
konsumen (Murtidjo Bambang A, 2001). Hal ini dibuktikan seperti yang
dipaparkan Pujiastuti (2012) bahwa sepanjang periode tahun 1997 sampai
dengan 2001 peningkatan konsumsi ikan meningkat yaitu dari 19,05 kg
per kapita pertahun menjadi 22,27 kg per kapita per tahun. Kemudian pada
Kemudian pada tahun 2002 sampai 2005 peningkatan setiap tahunnya
mencapai 2,67%. Konsumsi ikan tahun 2008 hingga 2013.
Secara global menurut Kurniawan (2010) mengatakan
pembangunan di sektor kelautan dan perikanan, tidak boleh dipandang
hanya sebagai cara untuk menghilangkan kemiskinan dan pengangguran.
Namun, lebih dari itu, karena sektor kelautan dan perikanan merupakan
basis perekonomian nasional, maka sudah sewajarnya jika sektor
perikanan dan kelautan ini dikembangkan menjadi sektor unggulan dalam
kancah perdagangan internasional. Dengan demikian, dukungan sektor
industri terhadap pembangunan di sektor perikanan dan kelautan menjadi
suatu hal yang bersifat keharusan. Karena itu, pembangunan perikanan dan
kelautan dan industri bukanlah alternatif yang dipilih, namun adalah
komplementer dan saling mendukung baik bagi input maupun output.
Seiring dengan hal tersebut Provinsi Jawa Tengah sebagai salah
satu provinsi yang memiliki potensi dalam mengembangkan subsektor
perikanan memiliki visi Terwujudnya sumberdaya kelautan dan
perikanan sebagai sumber utama penghidupan dan kesejahteraan yang
berkelanjutan. Menurut Tono Kuswoyo (2011) Provinsi Provinsi Jawa
Tengah merupakan provinsi yang memiliki potensi perikanan budidaya
yang besar dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Potensi
sumber mata air sangat potensial untuk pengembangan kawasan budidaya
ikan dan kegiatan lain yang mendukung beserta sarana dan prasarana
lainnya atau yang lebih dikenal.
Konsep minapolitan adalah pengembangan wilayah yang menitik
beratkan pada pengembangan komoditas-komoditas unggulan pada sektor
perikanan di suatu wilayah. Tujuan pengembangan kawasan minapolitan
adalah untuk mendorong percepatan pengembangan wilayah dengan
kegiatan perikanan sebagai kegiatan utama dalam meningkatkan
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat dengan mendorong keterkaitan
desa dan kota dan berkembangnya sistem dan usaha minabisnis yang
berdaya saing berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi di
kawasan minapolitan (PERMEN No. 12 Tahun 2010). Berdasarkan
potensi perikanan budidaya kolam yang dimiliki Jawa Tengah,
pengembangan kawasan minapolitan difokuskan pada 3 komoditas utama,
yaitu nila, lele, dan gurame yang terbagi ke beberapa daerah
pengembangan kawasan minapolitan (Toni Kuswoyo. 2011). Salah satu
wilayah di Jawa Tengah yang ditetakan menjadi kawasan Minapolitan
adalah Kabupaten Banyumas.
Kabupaten Banyumas telah memulai pelaksanaan program
Minapolitan sejak Tahun 2009 hingga sampai periode sekarang.
Perkembangan produksi budidaya pembesaran ikan cukup pesat dari tahun
2009-2011. Produksinya terus mengalami kenaikan walaupun belum
mampu memenuhi target produksi pada tahun 2010 dan 2011 (Rudiono et
all, 2013). Penetapan lokasi minapolitan di Kabupaten Banyumas
berdasarkan Keputusan Bupati Banyumas Nomor: 523/673/2008.
Kabupaten Banyumas memiliki komoditas unggulan yang dikenal bernilai
ekonomi penting dan harganya di pasar cukup tinggi (Effendi, 2006) serta
sudah banyak dibudidayakan secara intensif (Hastuti, 2003) yaitu ikan
gurami.
Menurut data dari Dinas Perikanan Kabupaten Banyumas, pada
tahun 2014 produksi benih ikan gurami mencapai 140.596.591 ekor dan
ikan gurami konsumsi mencapai 4.060.089 ekor. Produksi ini adalah
produksi tertinggi diantara budidaya komoditas ikan lainnya. Hal tersebut
mensiratkan bahwa kegiatan agribisnis ikan gurami di Kabupaten
Banyumas merupakan salah satu sumber pendapatan pembudidaya selain
dari usaha lainnya. Lebih jauh lagi sesuai dengan dicanangkannya program
minapolitan sesuai keputusan Bupati Banyumas Nomor: 523/673/2008
pembudidayan ikan gurami ini memiliki sentra di beberapa wilayah
tertentu termasuk sentra pembesaran ikan gurami konsumsi. Walaupun
terdapat kendala akan pertumbuhannya yang lambat, pada umumnya para
pembudidaya ikan tidak terlalu mempermasalahkan dikarenakan harganya
yang dapat dikatakan masih mendominasi pasaran dibandingkan dengan
jenis ikan tawar lain (Susanto, 2002).
Di sisi lain, meski produksi melimpah hasil usaha pembesaran
gurami juga tidak terlepas dari berbagai permasalahan. Seperti komoditas
pertanian maupun perikanan lainnya, struktur pasar yang terbentuk pada
tingkat pedesaan menghadapi permasalahan seperti masalah permodalan,
sarana prasarana, lemahnya posisi tawar petani/pembudidaya, harga selalu
ditekan, kualitas rendah, dan rantai distribusi panjang sehingga terjadi
penyusutan yang cukup signifikan. Sehingga salah satu cara yang dapat
dilakukan adalah dengan memanfaatkan wadah yang dapat memperkuat
posisi tawar yaitu dengan melalui Kelompok Pembudidaya Ikan
(POKDAKAN) sebagai sarana untuk memfasilitasi transfer ilmu dalam hal
budidaya dan berbagai program serta penguatan dari aspek manajemen
khususnya pemasaran. POKDAKAN ini juga termasuk tangan panjang
dari kebijakan Minapolitan dari pemerintah agar tujuan yang ingin dicapai
dapat tepat.
Kabupaten Banyumas telah ditetapkan sebagai kawasan
minapolitan yang harus dikembangkan kembali agar nantinya kawasan
minapolitan di Kabupaten Banyumas dapat meningkatkan kualitas ikan
dan perekonomian di Indonesia. Berdasarkan potensi yang dimiliki
kawasan minapolitan Kabupaten Banyumas maka penulis menjadikan
kawasan ini sebagai wilayah kajian dalam laporan ini.

1.2 Tujuan
Tujuan dari laporan ini adalah:
1. Mengetahui pengertian serta kriteria kawasan Minapolitan
2. Mengetahui mekanisme pengelolaan komuditas utama kawasan
minapolitan Kabupaten Banyumas
3. Mengetahui hambatan dalam pengembangan kawasan minapolitan
Kabupaten Banyumas
4. Mengetahui kontribusi kawasan minapolitan bagi sektor
perekonomian di Provinsi Jawa Tengah
BAB II

PEMBAHASAN UMUM

2.1 Pengertian dan Dasar Hukum Kawasan Minapolitan


Minapolitan terdiri dari kata mina dan kata politan (polis). Mina
berarti perikanan dan politan berarti kota, sehingga Minapolitan dapat
diartikan sebagai kota perikanan atau kota di daerah lahan perikanan atau
perikanan di daerah kota. Secara definitif Minapolitan adalah kota
perikanan yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan
usaha perikanan serta mampu melayani dan mendorong kegiatan
pembangunan perikanan di wilayah sekitarnya, dengan ciri utama kegiatan
perikanan dan pengolahan hasil perikanan.
Sesuai Peraturan Menteri No 12 tahun 2010 tentang Minapolitan,
Minapolitan didefinisikan sebagai konsepsi pembangunan ekonomi
kelautan dan perikanan berbasiskawasan berdasarkan prinsip-prinsip
terintegrasi, efisiensi, berkualitas dan percepatan. Kawasan Minapolitan
adalah suatu bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama ekonomi yang
terdiri dari sentra produksi, pengolahan, pemasaran komoditas perikanan,
pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung lainnya. Sesuai dengan
KEP.39/MEN/2011 tentang Perubahan atas Keputusan MKP No.
KEP.32/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, telah
ditetapkan 223 Kabupaten/Kota di wilayah Indonesia sebagai Kawasan
Minapolitan yang sebelumnya berjumlah 197 Kawasan Minapolitan.
Kawasan yang telah diprioritaskan akan dibagi dalam jangka waktu 2010-
2014 dengan Minapolitan Berbasis Perikanan Budidaya dan Perikanan
Tangkap. Tahun 2011 ditetapkan 9 kawasan Minapolitan Berbasis
Perikanan Tangkap dan 24 kawasan Minapolitan Berbasis Perikanan
Budidaya.
Untuk mendukung program tersebut Pemerintah pusat dalam hal
ini KKP telah menganggarkan beberapa kegiatan serta melakukan
serangkaian koordinasi sebagai bentuk komitmen KKP untuk mendukung
kawasan Minapolitan.
Koordinasi ini dimaksudkan untuk mensinkronkan kebijakan
antara pusat (K/L terkait) dan daerah terutama kesiapan daerah untuk
mensukseskan Minapolitan. Dalam perkembangannya, telah ditetapkan
Kepmen KP Nomor 35 Tahun 2013 tentang Penetapan Kawasan
Minapolitan menjadi 179 Kabupaten Kota dengan 202 lokasi yang dibagi
menjadi 145 Kawasan Minapolitan berbasis Perikanan Budidaya dan 57
Kawasan Minapolitan berbasis Perikanan Tangkap.
Dalam RPJMN 2010-2014 terkait Pengembangan Ekonomi Lokal
dan Daerah tertuang dalam Arah Kebijakan, prinsip dan strategi dalam
Pengembangan Ekonomi Lokal dan Daerah. Arah Kebijakan terpusat pada
pusat pertumbuhan kota dan pasar yang sangat erat hubungannya sebagai
tempat wilayah produksi barang dan jasa. Hal ini sangat diperlukan
sebagai modal pemenuhan bahan baku untuk industri serta pemenuhan
kebutuhan masyarakat. Untuk memperkuat arah kebijakan tersebut
diperlukan beberapa prinsip yang harus dipenuhi diantaranya, fokus pada
keunggulan komparatif/ kompetitif daerah, konsep pengembangan hulu ke
hilir dan fokus kepada pengembangan sistem pasar. Ketiga hal tersebut
saling terkait antara satu dengan yang lain. Pemilihan komoditas unggulan
yang akan dikembangkan harus mempertimbangkan berbagai hal
diantaranya kualitas dan kuantitas produk, penerimaan pasar, sarana dan
prasarana pengembangan serta kebijakan pendukung. Setelah ditetapkan
komoditas unggulan diperlukan konsep pengembangan dari hulu ke hilir
sehingga proses pengembangan tidak akan terhambat dari mulai produksi,
pasca produksi, pengangkutan, sampai pengolahan. Selanjutnya diperlukan
komitmen bersama pada pengembangan sistem pasar. Untuk menerapkan
kebijakan tersebut dibutuhkan strategi pengembangan keterkaitan antar
kawasan yang meliputi tata kelola ekonomi daerah, kualitas/kompetensi
SDM, infrastruktur, public private partnership, serta fasilitasi
pengembangan ekonomi lokal daerah. Hal ini diperlukan sebagai syarat
untuk fokus pada lokasi untuk pengembangan kawasan andalan, pusat-
pusat pertumbuhan wilayah seperti kawasan industri berbasis kompetensi
inti industri daerah berbentuk kluster kawasan sentra produksi, kawasan
perkotaan baru, pengembangan kawasan agropolitan maupun kawasan
Minapolitan. Kawasan-kawasan tersebut diharapkan dapat memicu
peningkatan kesejahteraan masyarakat dan meningkatkan PAD melalui
pengembangan produk unggulan dengan disertai jaminan pasar.
2.2 Kebijakan Minapolitan
Minapolitan merupakan konsep pengembangan ekonomi berbasis
kawasan berbasis komoditas unggulan dari hulu ke hilir dimana diperlukan
sinergi lintas sektor baik dari K/L, swasta maupun masyarakat. Konsep
minapolitan pada pertengahan tahun 1970an Friedmann dalam Wiadnya
(2011) mencetuskan konsep pengembangan kota kecil sebagai pusat dan
ditunjang oleh beberapa wilayah desa di sekitarnya dengan sektor penggerak
ekonomi dari pertanian. Teori ini dipandang sebagai solusi untuk menarik
aglomerasi urban dari wilayah metropolitan. Menurut Wiadnya (2011)
menyatakan minapolitan adalah proses yang dinamis dengan karakteristik
dasar multi-sektor secara terpadu. Setiap tahapan rencana aksi dibuat melekat
dengan rencana yang ada saat ini. Implementasi dari minapolitan harus selalu
di evaluasi (melalui alat monitoring) untuk mengukur setiap keberhasilan atau
bahkan kegagalan program. Pada proses minapolitan dibedakan menjadi dua
bagian, yaitu minapolitan perikanan tangkap dan minapolitan perikanan
budidaya. Kedua jenis aktifitas ekonomi ini memiliki dimensi keruangaan
yang berbeda. Berdasarkan amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 1, 2, dan 3 maka
pemerintah melalui Kementrian Kelautan dan Perikanan mengeluarkan
kebijakan yang berupa Peraturan Menteri dalam rangka optimalisasi
pemanfaatan sumberdaya perikanan laut maupun air tawar dengan
menggunakan konsep minapolitan. Regulasi tersebut kemudian dijadikan
sebagai pedoman atau landasan dalam melaksanakan program yakni Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomer 12 tahun 2010
tentang Minapolitan dan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
Republik Indonesia Nomor 18 tahun 2011 tentang Pedoman Umum,
diperlukan beberapa persyaratan dalam penetapan kawasan Minapolitan
diantaranya, komoditas unggulan, masterplan, fasilitas pendukung, letak
geografis, komitmen Pemerintah Daerah dan lainlain. Hal tersebut
dibutuhkan untuk meningkatkan produksi dan nilai tambah produk serta
pengembangan kawasan ekonomi kelautan dan perikanan untuk
menggerakkan ekonomi di daerah. Tujuan akhir dari pengembangan
kawasan Minapolitan tentunya untuk peningkatan kesejahteraan
masyarakat nelayan, pembudidaya dan pengolah ikan dengan parameter
peningkatan pendapatan.
2.2.1 Persyaratan Penetapan Kawasan Minapolitan
Berikut ini merupakan persyaratan penepatan kawasan minapolitan
sesuai Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
No.KEP.12/MEN/2010 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan :
1. Kesesuaian dengan Rencana Strategis, Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) dan/atau Rencana Zonasi Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP-3-K) kabupaten/kota, serta
Rencana Pengembangan Investasi Jangka Menengah Daerah
(RPIJMD) yang telah ditetapkan;
2. Memiliki komoditas unggulan di bidang kelautan dan perikanan
dengan nilai ekonomi tinggi;
3. Letak geografi kawasan yang strategis dan secara alami memenuhi
persyaratan untuk pengembangan produk unggulan kelautan dan
perikanan;
4. Terdapat unit produksi, pengolahan, dan/atau pemasaran dan
jaringan usaha yang aktif berproduksi, mengolah dan/atau
memasarkan yang terkonsentrasi di suatu lokasi dan mempunyai
mata rantai produksi pengolahan, dan/atau pemasaran yang saling
terkait;
5. Tersedianya fasilitas pendukung berupa aksebilitas terhadap pasar,
permodalan, sarana dan prasarana produksi, pengolahan, dan/atau
pemasaran, keberadaan lembaga-lembaga usaha, dan fasilitas
penyuluhan dan pelatihan;
6. Kelayakan lingkungan diukur berdasarkan daya dukung dan daya
tampung lingkungan, potensi dampak negatif, dan potensi
terjadinya kerusakan di lokasi di masa depan;
7. Komitmen daerah, berupa kontribusi pembiayaan, personil, dan
fasilitas pengelolaan dan pengembangan Minapolitan;
8. Keberadaan kelembagaan pemerintah daerah yang bertanggung
jawab di bidang kelautan dan perikanan; dan
9. Ketersediaan data dan informasi tentang kondisi dan potensi
kawasan.
2.2.2 Ciri-ciri Kawasan Minapolitan
Kawasan minapolitan memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sebagian besar masyarakat di kawasan minapolitan
memperoleh pendapatan dari kegiatan yang berkaitan
dengan agribisnis perikanan
2. Sebagian besar kegiatan di kawasan minapolitan
didominasi oleh kegiatan agribisnis perikanan.
3. Hubungan antar kota dan daerah-daerah sekitarnya
(hinterland) adalah hubungan timbal-balik yang harmonis
dan saling membutuhkan, dimana kawasan hinterland
perikanan mengembangkan produk primer dan produk
olahan skala rumah tangga, sebaliknya pusat kawasan
menyediakan fasilitas-fasilitas yang mendukung
pengembangan usaha budidaya, penangkapan dan usaha-
usaha lain yang berkaitan.
4. Kehidupan masyarakat di kawasan minapolitan mirip
dengan suasana kota karena keadaan prasarana dan sarana
yang ada di kawasan minapolitan tidak jauh berbeda
dengan di kota.
2.3 Pendekatan dan Tantangan Minapolitan
Berbagai jenis pendekatan yang terdapat pada kawasan minapolitan
adalah:
1. Alternatif dari model/strategi pembangunan perdesaan
berbasis komoditas unggulan perikanan. Komoditas
unggulan merupakan syarat mutlak dalam pengembangan
kawasan, dengan catatan komoditas tersebut dapat
dikembangkan dengan kualitas dan kuantitas yang terjamin
serta pasar yang dapat menampung produk yang dihasilkan.
2. Sebagai alternatif pengembangan dalam mewujudkan
efisiensi dan efektivitas dalam pelaksanaan pembangunan
wilayah. Pembangunan berbasis wilayah diperlukan karena
pemerintah menyadari tidak dapat membangun seluruh
daerah yang ada secara bersamaan. Hal ini disebabkan oleh
keterbatasan kemampuan anggran baik Pemerintah pusat
maupun Pemerintah Daerah. Oleh karena itu diperlukan
prioritas pembangunan kawasan dengan memperhatikan
karakteristik masing-masing kawasan yang akan
dikembangkan.
3. Alat dalam menentukan model pembangunan wilayah yang
mengoptimalkan potensi sumberdaya perikanan sebagai
potensi ekonomi. Potensi pengembangan sumberdaya
perikanan merupakan intidalam pengembangan kawasan
Minapolitan. Pengembangan sektor perikanan merupkana
penggerak ekonomi di daerah dalam kawasan
Minapolitan.
4. Menciptakan cluster/pusat pengembangan ekonomi di
perdesaan sebagai prime mover pembangunan wilayah.
Pengembangan ekonomi berbasis cluster ini diperlukan
sebagai sarana pengintegrasian berbagai potensi yang
tersedia diwilayah tersebut. Dengan sistem cluster
diharapkan konsep pengembangan dari hulu ke hilir dapat
dilaksanakan tanpa membutuhkan biaya yang sangat besar
dikarenakan embrio potensi tersebut sudah ada tinggal
diberikan sedikit stimulus agar semua dapat berjalan
dengan baik.
5. Pembangunan sektoral dengan basis lokus yang
mengintegrasikan seluruh potensi pembangunan
diantaranya Sumber Daya finansial, informasi, teknologi,
dan SDM. Pembangunan berbasis lokus memerlukan
integrasi dari seluruh potensi pembangunan yang ada,
karena tanpa adanya sinergitas tersebut konsep
pengembangan kawasan Minapolitan tidak akan berjalan.
Beberapa tantangan dalam pengembangan Minapolitan
diantaranya :
1. Adanya otonomi daerah berimplikasi pada pembagian
kewenangan yang lebih jelas dalam perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan, dari tingkat propinsi,
kabupaten sampai dengan desa.Selain itu otonomi daerah
juga menimbulkan adanya sistem politik yang tidak stabil
karena kebijakan yang ada sangat dipengaruhi oleh
darimana pemimpin daerah terpilih. Pergantian kepala
daerah akan menyebabkan perubahan arah kebijakan dan
perubahan personel struktural di tingkat daerah. Hal ini
akan mengakibatkan putusnya informasi karena biasanya
tidak terjadi transfer informasi yang baik pada saat
pergantian personel. Hal tersebut akan mengancam
keberlanjutan Minapolitan, karena berhasil tidaknya
Minapolitan sangat ditentukan oleh arah kebijakan dari
Pemerintah Daerah.
2. Kondisi wilayah yang variasinya tinggi diantaranya
Potensi sumberdaya alam, kualitas SDM, kelembagaan,
ketersediaan infrastruktur, kesenjangan antar wilayah. Hal
ini mengakibatkan setiap daerah tidak dapat disamakan
strategi dalam pelaksanaan Minapolitan karena
karakteristik masing-masing daerah yang berbeda.
3. Lemahnya ketersediaan data dan informasi, secara
nasional maupun regional. Minimnya ketersediaan data
dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara
ilmiah terutama di daerah dapat menyebabkan kesalahan
fatal dalam pengambilan kebijakan. Data dan informasi
yang valid sangat dibutuhkan sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan agara dapat implementatif,
efektif, efisien dan tepat sasaran. Penyediaan data dan
informasi yang dapat dipertanggungjawabkan merupakan
tantangan tersendiri dalam pengembangan kawsan
Minapolitan.
4. Penataan ruang yang masih belum memadai
mengakibatkan keberlanjutan usaha kurang terjamin,
resiko pengembangan masih tinggi. Kesesuaian
pengembangan kawasan Minapolitan dengan RTRW
kabupaten/Kota merupkan suatu keharusan. Hal ini terkait
dengan keberlanjutan investasi dan pengembangan usaha.
Ketidakjelasan konsep tata ruang dapat mengakibatkan
kegagalan pengembangan kawasan Minapolitan karena
tanpa adanya kejelasan tata ruang jaminan keamanan dan
keberlanjutan bisnis akan terancam.
5. Kerusakan lingkungan hidup yang semakin masif
sehinggaberpengaruh terhadap daya dukung dan
ketersediaan sumberdaya alam perikanan. Kerusakan
lingkungan juga menjadi tantangan tersendiri dalam
keberhasilan pengembangan kawasan Minapolitan. Tanpa
adanya lingkungan yang mendukung maka sudah dapat
dipastikan pengembangan kawasan Minapolitan tidak
akan berjalan, hal ini dikarenankan komoditas perikanan
sangat bergantung pada lingkungan yang baik sebagai
tempat hidup komoditas perikanan.
BAB III

WILAYAH STUDI

3.1 Gambaran Umum Kabupaten Banyumas


3.1.1 Geografi dan Iklim Kabupaten Banyumas
Secara astronomis, Banyumas terletak antara 70 15 05 - 70 37 10 Lintang
Selatan dan antara 1080 39 17 1090 27 15 Bujur Timur. Berdasarkan posisi
geografisnya, Kabupaten Banyumas memiliki batas-batas: Utara Kabupaten
Tegal dan Kabupaten Pemalang; Selatan Kabupaten Cilacap; Barat Kabupaten
Cilacap dan Kabupaten Brebes; Timur Kabupaten Purbalingga, Kabupaten
Banjarnegara, dan Kabupaten Kebumen.
Kabupaten Banyumas merupakan dataran rendah dengan ketinggian rata- rata +
108 meter diatas permukaan laut, terletak antara 70 15 05 - 70 37 10 Lintang
Selatan dan antara 1080 39 17 1090 27 15 Bujur Timur. Luas wilayah
Kabupaten Banyumas, adalah berupa daratan seluas 1.327,59 km2. Kabupaten
Banyumas terdiri dari 27 kecamatan, dimana kecamatan terluas adalah Kecamatan
Cilongok (105,34 km2) dan Kecamatan Purwokerto Barat sebagai kecamatan
terkecil (7,40 km2).
Berdasarkan elevasi (ketinggian dari permukaan laut), dataran di Kabupaten
Banyumas terdiri dari:
0 m - 100 m = 54,86 %
101 m - 500 m = 45,14 %
Sebagai daerah beriklim tropis, Banyumas hanya mengenal dua musim, yaitu
musim kemarau dan musim penghujan. Sepanjang tahun 2015 terjadi curah hujan
yang fluktuatif selama 166 hari dan beragam menurut bulan. Curah hujan tertinggi
tercatat pada bulan Desember dengan 493,40 mm, sedangkan terendah terjadi
pada bulan Oktober sebesar 0 mm.

3.2 Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas


Kabupaten Banyumas merupakan salah satu kabupaten yang berada di
Provinsi Jawa Tengah penghasil ikan air tawar. Setelah ditetapkan menjadi salah
satu Kabupaten Minapolitan percontohan, dengan ikan Gurami sebagai komoditas
unggulan. Strain gurami yang berasal dari Kabupaten Banyumas diberi nama
Endang Pamularsih. Saat ini Pemerintah Kabupaten Banyumas bekerjasama
dengan UNDIP (Universitas Diponegoro) Semarang sedang meneliti galur murni
untuk strain gurami asli Banyumas dan sedang uji coba hasil hibridisasi jenis
sowang dan bluesafir. Pemkab. Hal ini dilaksanakan dalam rangka menyediakan
benih unggul melalui Broodstock Center memperkuat branding Gurami. Konsep
Citra kawasan telah ditetapkan dengan nama Kebang Cirawas yang merupakan
perpaduan dari nama kecamatan Kedung Banteng, Kemranjen, Kembaran,
Baturaden, Sumbang, Cilongok, Ajibarang, Sokaraja, Karanglewas dan Sumpiuh.
Citra kawasan ini diperlukan sebagai upaya untuk membentuk karakter/identitas
kawasan Minapolitan Banyumas. Dengan Branding ini diharapkan akan
mempermudah mengenalkan Banyumas sebagai sentra perikanan Gurami.
Sebagai pendampingan teknologi di kawasan Minapolitan kabupaten Banyumas
dilaksanakan oleh BBPBAT Sukabumi.
Sentra pengembangan perikanan budidaya di Kabupaten Banyumas di bagi
menjadi 4 yaitu:
1. Kawasan Pembenihan: Pengembangan kawasan pembenihan yang menjadi
pusat pengembangan terdapat di Kecamatan Kedung Banteng dan wilayah
pengembangannya sebagai penyangga yaitu Kecamatan Karang lewas dan
Baturaden.
2. Kawasan Pembesaran: Pengembangan kawasan pembesaran yang menjadi
pusat pengembangan terdapat di Kecamatan Kembaran dan Sukaraja dengan
kawasan penyangga yaitu Kecamatan Sumbang dan Kemranjen.
3. Kawasan Pengolahan: Pengembangan kawasan pengolahan yang menjadi pusat
pengembangan terdapat di Kecamatan Sumpiuh dengan sentra pengembangan
mencakup Kecamatan Kemranjen
4. Kawasan Pemasaran: Pengembangan kawasan pemasaran dipusatkan di
Kecamatan Ajibarang dengan wilayah pengembangan di Kecamatan Cilongok.
Keempat kawasan tersebut merupakan kawasan strategis yang
memerlukan penanganan khusus pada kawasan minapolitan.
3.2.1 Sistem Pengelolaan Budidaya Gurami
Ada beberapa aspek dalam membudidayakan gurami itu sendiri, antara lain aspek
produksi, aspek pemasaran, aspek sosial ekonomi dan lingkungan. Aspek
produksi yakni ada tahapan budidaya, teknologi tepat guna, teknis budidaya, hama
dan penyakit, dan kendala produksi. Aspek pemasaran yakni ada demand dan
supply benih ikan gurame, demand dan supply ikan gurame konsumsi, persaingan
dan peluang pasar, jalur pemasaran, harga, dan kendala pemasaran. Aspek sosial
ekonomi dan lingkungan yaitu Aspek ekonomi dan sosial dari usaha budidaya
ikan gurami meliputi pengaruh usaha terhadap pendapatan regional dan nasional,
penambahan lapangan kerja, dan pendapatan pemerintah melalui pajak. Usaha
budidaya ikan gurami dapat menjadi penggerak ekonomi di daerah sentra gurami
dan membawa dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat melalui
peningkatan pendapatan. Dengan penggunaan lahan yang sama, usaha budidaya
ikan gurami juga dapat menghasilkan tingkat pendapatan yang lebih tinggi
terutama apabila dibandingkan dengan usaha tanaman padi. Berdasarkan
pengalaman petani peningkatan penghasilan dapat mencapai 2 kali lipatnya.
Peningkatan pendapatan penduduk yang berusaha di bidang usaha gurami akan
meningkatkan pendapatan regional yang pada akhirnya mampu memberikan
sumbangan yang lebih nyata terhadap pendapatan nasional. Usaha budidaya ikan
gurami juga menumbuhkan lapangan kerja di usaha lain yang terkait langsung
dengan usaha ini baik yang bersifat backward lingkages(hulu) maupun forward
lingkages (hilir). Dalam satu rangkaian budidaya ikan gurami sendiri terdapat
banyak jalur yang membuka peluang usaha sejak pembenihan, pendederan sampai
dengan pembesaran ikan gurami. Sedangkan usaha lain yang timbul sebagai
akibat langsung dari budidaya ikan gurami misalnya usaha jual beli benih ikan,
jual beli ikan konsumsi, pengrajin alat-alat perikanan, jual beli sarana produksi
perikanan seperti pupuk, pakan dan obat-obatan, jual beli alat-alat perikanan
dan rumah makan. Bahkan di Banyumas dengan banyaknya usaha budidaya ikan
gurami yang menggunakan daun sente sebagai pakan mendorong penduduk desa
Banjaranyar di Kecamatan Sokaraja untuk menanam daun sente dan menjualnya
kepada pembudidaya dengan harga Rp 25 per lembar. Sedangkan untuk
lingkungan selama ini, budidaya ikan gurami tidak mendapat protes dari
masyarakat berkaitan dengan pengaruh lingkungan yang ditimbulkannya.
Penggunaan pelet dan pupuk buatan dalam frekuensi yang terus menerus memang
dapat meningkatkan kadar amoniak yang dapat menimbulkan kematian ikan.
Hal ini dapat diatasi dengan mengeringkan dan membersihkan kolam
secara reguler (misalnya setiap 6 bulan ) sehingga peningkatan kadar
amoniak dapat di cegah. Namun demikian untuk mengetahui dampak
terhadap lingkungan misalnya sungai atau sawah di sekitar lokasi kolam
perlu dilakukan penelitian khusus. Sedangkan penggunaan pakan daun-
daunan pada kolam pemeliharaan tidak menghasilkan limbah karena daun habis di
makan ikan.

3.2.2 Sarana dan Prasarana Kawasan Minapolitan Kabupaten Banyumas


a) BBI TAMBAKSOGRA luas 2 Ha,
b) 20 unit kolam
c) BBI SINGASARI luas 2 Ha, 19 unit kolam
d) BBI PANDAK luas 1.7 Ha, 21 unit kolam
e) BBI Sidabowa luas 1.2 Ha
f) 3 pasar ikan
g) 8 pasar tradisonal
h) Saluran induk (primer) 181.030 m
i) Saluran Sekunder 229.772 m
j) Luas areal potensial 15.003,92 Ha
k) Luas areal fungsional 14.678,12 Ha
Setelah penetapan menjadi kawasan Minapolitan dengan dukungan
Pendanaan dari KKP, DKP Provinsi Jawa Tengah, APBD, Perbankan,
Kementerian PU dan lain-lain terdapat kenaikan yang cukup signifikan bahkan
melebihi yang ditargetkan. Terhitung mulai tahun 2011 produksi mencapai
2.543,11 ton dari yang ditargetkan 2500 ton, Tahun 2012 produksi mencapai
3.053, 92 ton dari target 3000 ton dan tahun 2013 mencapai 2. 490,93 (s.d
triwulan III) dari yang ditargetkan sebanyak 3500 ton. Jumlah Kelompok
Pembudidaya Ikan (Pokdakan) juga mengalami kenaikan terutama di kawasan
Minapolitan dari tahun 2011 sejumlah 200 pokdakan, 2012 270 pokdakan, dan
tahun 2013 mencapai 284 pokdakan (s.d triwulan III). Pokdakan tersebut juga
sudah ada yang mengakses kredit dari perbankan walaupun jumlahnya masih
kecil, diantaranya dari Bank Jateng Pokdakan Ulam Sari Tahun 2011 melalui
KKP-E sejumlah Rp 218 juta, Tahun 2012 Pokdakan Mulya Sari melalui BRI
(KKP-E), sejumlah Rp 500 juta dan tahun 2013 Pokdakan Sumba Mas melalui
Bank jateng sejumlah Rp 375 juta. Selain itu, Pokdakan yang menerima sertifikat
CBIB (Cara Budidaya Ikan yang Baik) juga mengalami peningkatan.
3.2.3. Isu pada Kabupaten Bayumas
KKP Menganggarkan dana sebesar Rp 584 miliar untuk
pengembangan minapolitan percontohan yang akan dimulai pada 2011-2014
mendatang" Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad menguraikan,
dana Rp 584 untuk minapolitan akan dialokasikan untuk tiga program.
Pengembangan minapolitan percontohan berbasis perikanan tangkap di sembilan
lokasi senilai Rp 364 miliar, minapolitan percontohan berbasis perikanan
budidaya di 24 lokasi senilai Rp 149 miliar, dan sentra garam rakyat di
delapan lokasi senilai Rp 69 miliar. Namun begitu, program minapolitan ini
sempat dipertanyakan. Bahkan, disanksikan kesuksesannya oleh berbagai pihak.
Pasalnya tahap realisasinya masih belum jelas. Aplikasi dan teknis yang harus
diketahui oleh para nelayan atau pembudi daya ikan sebagai orang lapang belum
faham secara menyeluruh. Seakan-akan program ini masih sebatas wacana.
Berikutnya, PPS Cilacap (Jawa Tengah), Pelabuhan Perikanan Pantai
(PPP) Tamperan (Jawa Timur), PPP Muncar (Jawa Timur), PPS Bitung (Sulawesi
Utara), PPN Ternate (Maluku Utara), dan PPN Ambon (Maluku). Untuk lokasi
minapolitan berbasis perikanan budi daya nantinya dilakukan di 24 wilayah.
Antara lain budi daya ikan patin di Muaro Jambi dan Kampar (Riau), budi daya
lele di Kabupaten Bogor, gurame di Banyumas (Jawa Tengah), dan rumput laut di
Morowali (Sulawesi Tengah).
Di sinilah perlu peran semua pihak terkait untuk merealisasikan serta
membuat program ini berhasil. Dimulai dari pemerintah pusat dan pemerintah
daerah yang harus berada di satu meja agar tak terjadi saling lempar tanggung
jawab. Sosialisasi yang lebih menyeluruh kepada pihak-pihak terkait yang
nantinya terlibat secara langsung mau pun tidak langsung saat berlangsungnya
program ini. Perlu kerja nyata dari semua pihak. Pemerintah sampai orang lapang
seperti nelayan, pembudi daya ikan, atau pun penyuluh yang bisa mensinergiskan
program ini. Sehingga, nantinya hasil nyata bisa dirasa. Tidak hanya sebatas
wacana.

3.3 Dampak Minapolitan di Kabupaten Banyumas


Perkembangan kawasan minapolitan pada Kabupaten Banyumas
memberikan dampak positif baik bagi masyarakat maupun daerah. Pendapatan
anggota kelompok setiap tahunnya mengalami peningkatan dalam kurun waktu
dari tahun 2010 hingga 2012, yaitu sebesar Rp 950.000,- pada tahun 2010 dan
menjadi Rp 1.850.000,- pada tahun 2012. Meningkatnya pendapatan anggota
kelompok berakibat pada penigkatan nilai Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) pada sektor perikanan di Kabupaten Banyumas. Nilai PDRB Banyumas
pada sektor perikanan mengalami peningkatan dari Rp 142.529,80,- pada tahun
2010 menjadi Rp 185.341,83,- pada tahun 2012.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Pada dasarnya minapolitan mempunyai konsep yang hampir sama
dengan agropolitan yang sudah mulai dilaksanakan terlebih dahulu dan
difasilitasi oleh Kementerian Pertanian perbedaan dasar ialah pada
penggerak sektor ekonomi masyarakat. Minapolitan sebaiknya dirancang
untuk menumbuhkan kota-kota kecil secara mandiri dan mengurangi
penumpukan penduduk di wilayah kota-kota besar di Indonesia;
Proses pelaksanaan minapolitan paling tidak, mengikuti 9 (Sembilan)
tahapan saat ini telah sampai pada tahap ke-empat, ialah penetapan
kawasan minapolitan secara nasional. Jumlah total kawasan minapolitan di
Indonesia mencapai 223 kawasan yang tersebar pada 33 propinsi di
Indonesia. Penataan ruang (zonasi) pada kawasan minapolitan
seharusnya dibuat melekat (embedded) dengan sistem penataan ruang
yang telah ada, seperti RDTR wilayah Kecamatan dan RZWP3K (Rencana
Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil).
Minapolitan ialah sebuah proses yang dinamis dan siklik dengan
karakteristik dasar pendekatan multi-sektor secara terintegrasi.
Implementasi dari minapolitan harus selalu dievaluasi (melalui alat
monitoring) untuk mengukur setiap keberhasilan atau bahkan kegagalan
program. Hasil dari monitoring harus bisa digunakan sebagai dasar bagi
pengelola untuk memperbaiki setiap rencana aksi (implementasi)
berikutnya.

4.2 Saran
1. Untuk mendapatkan hasil yang optimal atas produksi ikan gurami perlu
intensifikasi penggunaan teknologi budidaya sehingga kualitas dan
kuantitas produksi dapat ditingkatkan dan masa waktu panen dapat
dipersingkat.
2. Untuk meningkatkan keterampilan pembudidaya, perlu
diberikan bimbingan yang terus menerus dari instansi terkait mengenai
teknis dan teknologi budidaya ikan gurami, terutama dalam
rangka penerapan teknologi budidaya yang dapat meningkatkan produksi
gurami.
3. Pembudidaya sebaiknya bergabung dengan perkumpulan atau
asosiasi pembudidaya ikan gurami. Perkumpulan dan asosiasi ini dapat
menjadi tempat tukar menukar informasi antar pembudidaya dan
diharapkan lebih jauh lagi dapat meningkatkan posisi tawar pembudidaya
sendiri.
4. Bagi bank yang berminat untuk membiayai usaha ini dapat berkonsultasi
dengan Departemen Kelautan dan Perikanan untuk mendapatkan
pendampingan teknologi budidaya.
5. Untuk hasil lebih optimal, pengembangan usaha budidaya ikan
gurami dalam suatu daerah sentra ikan gurami dapat dilakukan
dengan pembagian wilayah antara wilayah pembenihan, pendederan
sampai dengan pembesaran sebagai satu kesatuan sesuai dengan kondisi
daerah. Hal ini diperlukan karena bisa jadi beberapa lokasi lebih cocok
sebagai lokasi pembesaran (misalnya pertumbuhan ikan gurami di daerah
tersebut dapat lebih cepat) sedangkan lokasi lain lebih cocok untuk
pendederan (misalnya benih gurami yang dihasilkan lebih tahan penyakit).
Pembagian wilayah ini tidak harus berada dalam satu daerah tertentu
(misalnya harus dalam 1 Kabupaten), namun bisa lebih luas karena sistem
transportasi memungkinkan perpindahan produk antar daerah. Pembagian
wilayah ini harus didukung oleh keberadaan Dinas terkait dan BBI sebagai
pembina dan pemasok induk dan benih unggul, serta koperasi atau
perkumpulan pengusaha ikan gurami sebagai alat untuk memasarkan ikan.
6. Perlu nya dilakukan industrialisasi
Indonesia memiliki potensi sumberdaya lahan yang sangat besar dengan
tingkat pemanfaatan rendah, Belum terintegrasinya kegiatan usaha dari
hulu ke hilir, Kinerja produksi dan daya saing negara-negara
competitor utama makin pesat, produksi dan daya saing nasional hampir
tidak bergerak, untuk itu diperlukan percepatan pengembangan kawasan
minapolitan melalui industrialisasi. Hal ini dapat meningkatkan
produktivitas, produksi dan nilai tambah produk perikanan budidaya yang
berdaya saing dan berorientasi pasar, Percepatan pengembangan kawasan
ekonomi berbasis kegiatan perikanan budidaya (minapoltian) melalui
manajemen kawasan dan modernisasi sistem produksi, Meningkatkan
kesejahteraan dan pendapatan pembudidaya ikan.
7. perlu adanya regulasi yang kuat untuk kawasannya secara spesifik, dan
diperlukan juga aspek pengolahan limbah perikanan, serta tempat
penyimpanan hasil panen perikanan lingkungan yang bersih, agar
perekonomian tetap berjalan.

4.3 Daftar Pustaka


Bewani, Anggi Misaful, (2011) Arahan Pengembangan Kawasan Minapolitan
Kabupaten Malang (Studi Kasus: Kecamatan Wajak). Sarjana thesis,
Universitas Brawijaya.

Berita pertanian, Admin. kawasan minapolitan di indonesia. 5 Oktober


2017. http://beritapertanian.com/kawasan-minapolitan-di-indonesia/

4.4 Job Desk