Anda di halaman 1dari 5

Mengenal PENYAKIT KAKI GAJAH, antara Kasus dan Penjelasan

JAKARTA--Media Indonseia.com kemarin melaporkan : Pengobatan massal filariasis (kaki


gajah) yang dilakukan di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada 10-16 November lalu terjadi
tindakan di luar prosedur.

Menurut Ketua Komite Ahli Pengobatan Filariasis Indonesia (KAPFI) Purwantyastuti di Jakarta,
kamis (19/11), kendati demikian imbasnya tidak fatal. Ia mencontohkan, pemberian obat pada
ratusan warga di 10 kecamatan yang sebagian besar dilakukan oleh kader dan tanpa disertai
dokter (tenaga medis).

Namun, kendati tenaga kader, mereka telah mendapat pelatihan. Di samping itu, tim dokter dan
perawat tetap berada di puskesmas kecamatan selama tiga hari untuk melakukan pengawasan
dalam operasional pengobatan massal kaki gajah.

"Kami memang menggunakan kader. Alasannya, dengan melalui tokoh setempat warga akan
lebih paham dan percaya akan program pemerintah," kata Purwantyastuti, selaku salah satu
pihak yang melakukan investigasi atas meninggalnya delapan warga seusai pengobatan massal.

Ia juga mengakui, pesan yang disampaikan dalam sosisalisasi tentang efek samping pengobatan
kaki gajah juga kurang dipahami masyarakat. Alhasil, tiga hari pascapengobatan lebih dari 800
warga berbondong-bondong ke rumah sakit lantaran panik menderita mual dan pusing.
Kekhawatiran warga bertambah ketika mendengar isu delapan orang tewas seusai mengkonsumsi
obat antifilariasis.

Purwantyastuti juga tidak membantah obat antifilariasis tidak boleh diberikan kepada ibu hamil
dan penderita cirrhosis hepatis (radang hati). Namun ia berdalih penderita radang hati tidak
mungkin datang ke pusat pengobatan lantaran untuk bangun dari ranjang saja tidak bisa.
Sedangkan ibu hamil, bisa dipantau secara kasat mata oleh kader.

Sebelumnya, KAPFI melaporkan hasil investigasi kepada Departemen Kesehatan. Isi laporan itu
menyatakan, kematian delapan warga Kabupaten Bandung bukan diakibatkan oleh pemberian
obat antifilariasis dalam pengobatan masal filariasis.

Dalam beberapa laporan lain yang terjadi di masayarakat, efek samping dari pengobatan
penyakit Kaki gajah ini adalah menimbulkan mual-mual yang pada beberapa kasus memang
lebih parah, sehingga timbul isu bahwa obat yang diberikan tidak cocok atau malah
membahayakan.

Sebenarnya bagaimana sih penyakit kaki Gajah itu dan


bagaimana pencegahannya ?

Penyakit Kaki Gajah (Filariasis atau Elephantiasis) adalah golongan penyakit menular yang
disebabkan oleh cacing Filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Setelah tergigit
nyamuk, parasit (larva) akan menjalar dan ketika sampai pada jaringan sistem lympa maka
berkembanglah menjadi penyakit tersebut.

Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan, dapat
menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan
maupun laki-laki. Penyakit Kaki Gajah bukanlah penyakit yang mematikan, namun demikian
bagi penderita mungkin menjadi sesuatu yang dirasakan memalukan bahkan dapat mengganggu
aktifitas sehari-hari.

Penularan Penyakit Kaki Gajah

Penyakit ini ditularkan melalui nyamuk yang menghisap darah seseorang yang telah tertular
sebelumnya. Darah yang terinfeksi dan mengandung larva dan akan ditularkan ke orang lain
pada saat nyamuk yang terinfeksi menggigit atau menghisap darah orang tersebut.

Tidak seperti Malaria dan Demam berdarah, Filariasis dapat ditularkan oleh 23 spesies nyamuk
dari genus Anopheles, Culex, Mansonia, Aedes & Armigeres. Karena inilah, Filariasis dapat
menular dengan sangat cepat.

Tanda-tanda Penyakit Kaki Gajah

Seseorang yang terinfeksi penyakit kaki gajah umumnya terjadi pada usia kanak-kanak, dimana
dalam waktu yang cukup lama (bertahun-tahun) mulai dirasakan perkembangannya.

Adapun gejala akut yang dapat terjadi antara lain :

Demam berulang-ulang selama 3-5 hari, demam dapat hilang bila istirahat dan muncul
lagi setelah bekerja berat
Pembengkakan kelenjar getah bening (tanpa ada luka) didaerah lipatan paha, ketiak
(lymphadenitis) yang tampak kemerahan, panas dan sakit
Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa panas dan sakit yang menjalar dari
pangkal kaki atau pangkal lengan kearah ujung (retrograde lymphangitis)
Filarial abses akibat seringnya menderita pembengkakan kelenjar getah bening, dapat
pecah dan mengeluarkan nanah serta darah
Pembesaran tungkai, lengan, buah dada, buah zakar yang terlihat agak kemerahan dan
terasa panas (early lymphodema)

Sedangkan gejala kronis dari penyakit kaki gajah yaitu berupa pembesaran yang menetap
(elephantiasis) pada tungkai, lengan, buah dada, buah zakar (elephantiasis skroti).

Pemeriksaan Diagnostik Penyakit Kaki Gajah

Penyakit kaki gajah ini umumnya terdeteksi melalui pemeriksaan mikroskopis darah, Sampai
saat ini hal tersebut masih dirasakan sulit dilakukan karena microfilaria hanya muncul dan
menampilkan diri dalam darah pada waktu malam hari selama beberapa jam saja (nocturnal
periodicity).

Selain itu, berbagai methode pemeriksaan juga dilakukan untuk mendiagnosa penyakit kaki
gajah. Diantaranya ialah dengan system yang dikenal sebagai Penjaringan membran, Metode
konsentrasi Knott dan Teknik pengendapan.

Metode pemeriksaan yang lebih mendekati kearah diagnosa dan diakui oleh pihak WHO adalah
dengan jalan pemeriksaan sistem "Tes kartu", Hal ini sangatlah sederhana dan peka untuk
mendeteksi penyebaran parasit (larva). Yaitu dengan cara mengambil sample darah sistem
tusukan jari droplets diwaktu kapanpun, tidak harus dimalam hari.

Penanganan dan Pengobatan Penyakit Kaki Gajah

Tujuan utama dalam penanganan dini terhadap penderita penyakit kaki gajah adalah membasmi
parasit atau larva yang berkembang dalam tubuh penderita, sehingga tingkat penularan dapat
ditekan dan dikurangi.

Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} adalah satu-satunya obat filariasis yang


ampuh baik untuk filariasis bancrofti maupun malayi, bersifat makrofilarisidal dan
mikrofilarisidal. Obat ini tergolong murah, aman dan tidak ada resistensi obat. Penderita
yang mendapatkan terapi obat ini mungkin akan memberikan reaksi samping sistemik
(mual-mual ?) dan lokal yang bersifat sementara dan mudah diatasi dengan obat
simtomatik.

Dalam program eliminasi penyakit kaki gajah ini., Setiap orang akan meminum tiga kapsul, yaitu
DEC, parasetamol, dan albendazole. Parasetamol dan albendazole digunakan untuk mengatasi
efek samping yang mungkin timbul akibat meminum DEC.

Namun akibat dari kurangnya informasi kepada masyarakat tentang penggunaan obat
Dietilkarbamasin {diethylcarbamazine (DEC)} maka akhirnya berakibat fatal bahkan berujung
kematian.

Dietilkarbamasin tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis. Pengobatan diberikan oral


sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi puncak dalam darah dalam 3
jam, dan diekskresi melalui air kemih. Dietilkarbamasin tidak diberikanpada anak
berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau dalam
keadaan lemah.

Namun pada kasus penyakit kaki gajah yang cukup parah (sudah membesar) karena tidak
terdeteksi dini, selain pemberian obat-obatan tentunya memerlukan langkah lanjutan seperti
tindakan operasi.

Pencegahan Penyakit Kaki Gajah

Bagi penderita penyakit gajah diharapkan kesadarannya untuk memeriksakan kedokter dan
mendapatkan penanganan obat-obtan sehingga tidak menyebarkan penularan kepada masyarakat
lainnya. Untuk itulah perlu adanya pendidikan dan pengenalan penyakit kepada penderita dan
warga sekitarnya.

Pemberantasan nyamuk diwilayah masing-masing sangatlah penting untuk memutus mata rantai
penularan penyakit ini. Menjaga kebersihan lingkungan merupakan hal terpenting untuk
mencegah terjadinya perkembangan nyamuk diwilayah tersebut.

Efek Samping Dietilkarbamazin

Reaksi samping Dietilkarbamasin sistemik berupa demam, sakit kepala, sakit otot dan
persendian, mual, muntah, menggigil, urtikaria, gejala asma bronkial. Sedangkan gejala lokal
berupa limfadenitis, limfangitis, abses, ulkus, funikulitis, epidimitis, orchitis, dan limfedeme.
Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang spontan setelah 2 - 5
hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. Reaksi samping lokal terjadi
beberapa hari setelah dosis pertama, hilang spontan setelah beberapa hari sampai beberapa
minggu dan sering ditemukan pada penderita dengan gejala klinis. Reaksi samping mudah
diobati dengan obat simptomatik.

Minyak Atsiri Jahe sebagai antifilariasis Malayi

Minyak atsiri jahe mengandung zingiberene, n-desilaldehid, n-nonilaldehid, d-camphene, d-oc


phellandrene, metilheptenon, sineol, borneol, geraniol clan linalool, asetat, kaprilat, sitrat, clan
chavinol, zingiberol. Dari senyawa tersebut yang berfungsi sebagai antifilariasis malayi adalah
zat pedas jahe (ekstrak etilasetat).

Beberapa penelitian yang dilakukan secara in vivo clan in vitro baik pada hewan maupun
manusia menunjukkan bahwa minyak atsiri jahe berkhasiat sebagai antifrlariasis malayi.
Penelitian secara invitro dengan menggunakan minyak atsiri clan zat pedal jahe dengan dosis
10% pada medium biakan yang mengandung larva infektif (L3), memberikan hasil yaitu dapat
membunuh 100% mikrofilaria. Penelitian secara in vivo pada hewan uji felis catus yang
terinfeksi filaria dengan menggunakan sampel isolat 1 clan minyak atsiri jahe dengan dosis
setara dengan 21 gram serbuk jahe menunjukkan terjadinya penurunan kepadatan mikrofilaria
dalam darah. Uji in vivo pada manusia yang menderita filariasis malayi dengan sampel minyak
atsiri jahe clan madu pada kelompok 1, clan madu murni pada kelompok 2. Pada penelitian ini
didapatkan hasil adanya penurunan kepadatan mikrofilaria dari 92,1 t 118,3 menjadi 56,6 77
(Pada kelompok 1) serta peningkatan kepadatan mikrofilaria dari 64,9 96,4 menjadi 90,4 122
(kelompok 2). Dalam Islam penggunaan jahe tercantum dalam surat Al Insaan ayat 17 clan 18.

Kedokteran clan Islam sependapat bahwa minyak atsiri jahe ini dapat dianjurkan sebagai obat ant
filariasis malayi. Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai khasiat minyak
atsiri jahe sebagai antifilariasis.

Deskripsi Alternatif :

Saat ini Filariasis malayi masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia karena
penyakit ini sifatnya menahun clan dapat menyebabkan cacat fisik (elephantiasis), sehigga tidak
dapat bekerja sama sekali, sedangkan pengobatan yang ada adalah dengan menggunakan obat
yaitu Dietilkarbamasin (DEK). Obat ini mempunyai efek samping yang cukup banyak sehingga
penderita menjadi tidak patuh clan enggan meneruskan pengobatan. Oleh karena itu perlu
dicari obat alternatif yang mempunyai efek samping yang sedikit. Beberapa penelitian
melaporkan bahwa minyak atsiri jahe berkhasiat sebagai antifrlariasis malayi. Tulisan ini
bertujuan untuk menggali informasi lebih jauh tentang manfaat minyak atsiri jahe sebagai
antifilariasis malayi ditinjau dari kedokteran clan Islam.

Minyak atsiri jahe mengandung zingiberene, n-desilaldehid, n-nonilaldehid, d-camphene, d-oc


phellandrene, metilheptenon, sineol, borneol, geraniol clan linalool, asetat, kaprilat, sitrat, clan
chavinol, zingiberol. Dari senyawa tersebut yang berfungsi sebagai antifilariasis malayi adalah
zat pedas jahe (ekstrak etilasetat).

Beberapa penelitian yang dilakukan secara in vivo clan in vitro baik pada hewan maupun
manusia menunjukkan bahwa minyak atsiri jahe berkhasiat sebagai antifrlariasis malayi.
Penelitian secara invitro dengan menggunakan minyak atsiri clan zat pedal jahe dengan dosis
10% pada medium biakan yang mengandung larva infektif (L3), memberikan hasil yaitu dapat
membunuh 100% mikrofilaria. Penelitian secara in vivo pada hewan uji felis catus yang
terinfeksi filaria dengan menggunakan sampel isolat 1 clan minyak atsiri jahe dengan dosis
setara dengan 21 gram serbuk jahe menunjukkan terjadinya penurunan kepadatan mikrofilaria
dalam darah. Uji in vivo pada manusia yang menderita filariasis malayi dengan sampel minyak
atsiri jahe clan madu pada kelompok 1, clan madu murni pada kelompok 2. Pada penelitian ini
didapatkan hasil adanya penurunan kepadatan mikrofilaria dari 92,1 t 118,3 menjadi 56,6
77 (Pada kelompok 1) serta peningkatan kepadatan mikrofilaria dari 64,9 96,4 menjadi 90,4
122 (kelompok 2). Dalam Islam penggunaan jahe tercanturn dalam surat Al Insaan ayat 17
clan 18.

Kedokteran clan Islam sependapat bahwa minyak atsiri jahe ini dapat dianjurkan sebagai obat
ant filariasis malayi. Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai khasiat
minyak atsiri jahe sebagai antifilariasis.