Anda di halaman 1dari 3

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sektor perikanan memiliki potensi penggerak perekonomian baik secara
makro atau nasional maupun mikro. Secara makro sektor perikanan menjadi
penyumbang devisa dengan kegiatan ekspor. Secara mikro sektor perikanan
memberi dampak penyediaan tenaga kerja dan meningkatkan daya beli
masyarakat seiring dengan peningkatan pendapatan para pelaku usaha di bidang
perikanan (Nugroho, 2013).

Usaha perikanan mencakup budidaya, penangkapan dan pasca panen. Usaha


perikanan budidaya khususnya air tawar memiliki prospek yang sangat baik
karena sampai sekarang ikan konsumsi, baik berupa ikan segar maupun bentuk
olahan, masih belum mencukupi kebutuhan konsumen. Kebutuhan akan ikan bagi
masyarakat pun semakin meningkat seiring kebutuhan akan pemenuhan gizi.
Maka usaha perikanan termasuk perikanan air tawar harus dipacu oleh berbagai
pihak baik pemerintah maupun swasta untuk terus dikembangkan (Khairuman,
2011).

Potensi perikanan Indonesia sangat besar. Pada tahun 2011 menurut data
statistik Kementrian Kelautan dan Perikanan, total produksi budidaya di Indonesia
mencapai 7.928.963 ton. Budidaya kolam menyumbang produksi sebesar
1.127.127 ton. Produksi budidaya perikanan nasional tersebut mengalami
kenaikan dibanding tahun 2010 yang mencapai 6.277.924 ton atau 26,3%.
Budidaya kolam mengalami kenaikan sebesar 819.809 ton atau 37,9%. Diantara
berbagai komoditas perikanan budidaya di Indonesia, yang memiliki potensi
pengembangan produksi adalah gurami. Total produksi gurami nasional pada
tahun 2011 mencapai 64.525 ton. Jumlah ini mengalami peningkatan sebesar
39,03% dari tahun 2010 yang produksinya mencapai 56.889 ton. Dalam lingkup
Provinsi Jawa Barat, produksi perikanan sektor budidaya pada tahun 2011
mencapai 696.104 ton. Jumlah ini terus meningkat dari jumlah produksi budidaya
pada tahun 2009 sebanyak 442.012 ton dan pada tahun 2010 yang mencapai

1
622.961 ton. Untuk ikan gurami, Provinsi Jawa Barat pada tahun 2011
menyumbang 13.776 ton atau 2,2 persen dari dari total produksi perikanan
budidaya. Komoditas yang menyumbang produksi terbesar di Jawa Barat adalah
ikan mas dengan 164.435 ton atau 23,65% dari total keseluruhan produksi
budidaya (Yulistyo, 2011). Potensi lahan untuk budidaya secara nasional adalah
541.100 Ha dengan pemanfaatan 146.577 Ha. Hal tersebut menunjukkan masih
luasnya potensi lahan kolam untuk meningkatkan produktifitas budidaya.

Salah satu daerah dengan potensi gurami terbesar di Jawa Barat adalah Kota
Tasikmalaya. Potensi sumber daya perikanan di Kota Tasikmalaya berupa kolam
pembenihan 48,62 Ha, kolam pembesaran 755,97 Ha, kolam air deras 0,031 Ha,
mina padi (sawah irigasi teknis) 1.207,17 Ha dan perairan umum seluas 68 Ha
yang terdiri dari 7 danau yang ada di Kecamatan Mangkubumi dan Tamansari.
Selain potensi sumber daya air, terdapat potensi sumber daya manusia sektor
perikanan dengan jumlah kelompok pembudidaya ikan (POKDAKAN) sebanyak
142 kelompok. Komoditas ikan yang menjadi unggulan adalah ikan gurami dan
mas. Ikan gurami di Kota Tasikmalaya merupakan komoditi perikanan air tawar
yang menjadi primadona di antara ikan konsumsi air tawar lainnya.

Pembenihan ikan di Kota Tasikmalaya terbilang unggul. Menurut Bidang


Perikanan Kota Tasikmalaya tahun 2009, total benih ikan semua komoditas dari
semua Kecamatan yang diproduksi berjumlah 607.691.210 ekor. Komoditas
gurami menyumbang 9.793.080 ekor benih (Anonim, 2013). Total produksi
perikanan budidaya untuk semua komoditas di Kota Tasikmalaya pada tahun 2009
mencapai 7.121 ton. Gurami menyumbang 105,87 ton dari total produksi. Untuk
sektor pembenihan, total benih yang dihasikan di Kota Tasikmalaya adalah
607.691.210 ekor dan komoditas gurami menyumbang 9.793.080 ekor. Menurut
data BPS Kota Tasikmalaya, Kecamatan Cibeuereum adalah salah satu daerah di
Kota Tasikmalaya yang memiliki keunggulan dalam sektor perikanan khususnya
pembenihan ikan gurami dengan luas lahan yang digunakan dalam usaha
budidaya gurami mencapai total 148,8 Ha dengan rincian 58 Ha untuk

2
pembenihan dan 90,8 Ha untuk pembesaran. Produksi benih gurami Kecamatan
Cibeureum mencapai 2.542.200 ekor.

Permintaan pasar akan gurami terus meningkat dengan harga yang cukup
tinggi. Permintaan yang tinggi belum diiringi dengan produksi yang tinggi pula.
Di Kota Tasikmalaya menurut data dari Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan
Kota Tasikmalaya, produksi benih gurami masih memenuhi 50% dari keseluruhan
permintaan. Melihat besarnya potensi usaha di bidang pembenihan gurami dan
pengembangan usaha yang sudah ada, perlu adanya analisis usaha pembenihan
gurami untuk mengetahui tingkat pendapatan dan penerimaan serta total produksi
pembenih gurami di Kota Tasikmalaya.

B. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk :
1. Mengetahui biaya dan pendapatan dari tiga segmen usaha pembenih gurami.

2. Menganalisis usaha pembenihan ikan gurami.

C. Kegunaan Penelitian
1. Untuk pembenih gurami sebagai gambaran usaha yang sedang dijalani.
2. Untuk calon pembenih gurami sebagai rujukan informasi dan pertimbangan
sebelum melakukan usaha.
3. Untuk akademisi, sebagai bahan pembelajaran mengenai analisis usaha
pembenihan gurami