Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Teh merupakan salah satu tanaman industriyang sangat penting. Dari tanaman
ini diambil daunnya yang masih muda. Kemudian diolah dan digunakan untuk bahan
minuman yang lezat. Disamping itu, the juga diekspor dan menghasilkan devisa untuk
negara. Kebutuhan akan the di dalam dan di luar negeri terus meningkat. Karena itu,
diusahakan penanaman the diperluas dan diperbaiki. Tanaman teh karena berasal dari
sub tropis, maka cocok ditanam di daerah pegunungan. Garis besar syarat tumbuh
untuk tanaman teh adalah kecocokan iklim dan tanah.
Tanaman teh umumnya mulai dapat dipetik daunnya secara menerus setelah
umur 5 tahun. Dengan pemeliharaan yang baik tanaman teh dapat memberi hasil daun
teh yang cukup besar selama 40 tahun. Kebun-kebun teh karenanya perlu senantiasa
memperoleh pemupukan secara teratur, bebas serangan hama penyakit tanaman,
memperoleh pemangkasan secara baik, memperoleh curah hujan yang cukup. Kebun-
kebun teh perlu diremajakan setelah tanaman tehnya berumur 40 tahun ke atas. Sesudah
abad ke-18, teh dikenal di seluruh dunia. Mula-mula hanya di daratan China dan India.
Pada abad ke-9 teh mulai ditanam di Jepang. Orang Eropa mengenal teh di abad ke-16.
Teh mempunyai 2 varietas, yakni: varietas Sinensis dan varietas Assamica. Teh
assamica-lah yang paling banyak ditanam di Indonesia.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah teh
2. Untuk Mengetahui perkembangan teh di Indonesia
3. Untuk mengetahui pengertian teh
4. Untuk mengetahui morfologi dan klasifikasi tanaman teh
5. Untuk mengetahui kandungan kimia serta manfaat teh
6. Untuk mengetahui kemasan teh
7. Untuk mengetahui jenis-jenis teh berdasarkan pengolahannya
8. Untuk mengetahui bahaya mengkonsumsi teh
6. Untuk mengetahui budidaya tanaman teh dari penanaman hingga proses produksi
pabrik

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. SEJARAH TEH

Negeri Tiongkok menjadi tempat lahirnya teh, disanalah pohon teh Tiongkok
(Camellia sinensis) ditemukan dan berasal. Tepatnya di provisnsi Yunnan, bagian
barat daya Cina. Iklim wilayah itu tropis dan sub-tropis, dimana daerah tersebut
memang secara keseluruhan adalah hutan zaman purba. Daerah demikian, yang
hangat dan lembab menjadi tempat yang sangat cocok bagi tanaman teh, bahkan ada
teh liar yang berumur 2,700 tahun dan selebihnya tanaman teh yang ditanam yang
mencapai usia 800 tahun ditemukan ditempat ini.
Legenda menjadi bentuk dokumentasi yang paling tua, dimana diceritakan bahwa
Shennong yang menjadi cikal bakal pertanian dan ramuan obat - obatan, juga yang
menjadi penemu teh. Dikatakan dalam bukunya bahwa ia secara langsung mencoba
banyak ramuan herbal dan menggunakan teh sebagai obat pemunah bila ia terkena
racun dari ramuan yang dicoba. Hidupnya berakhir karena ia meminum ramuan yang
beracun dan tidak sempat meminum teh pemunah racun menyebabkan organ dalam
tubuhnya meradang.
Teh Cina pada awalnya memang digunakan untuk bahan obat obatan (Abad ke-8
SM), itupun sudah berumur ribuan tahun riwayatnya. Orang orang Cina pada waktu
itu mengunyah teh (770 SM 476 SM) mereka menikmati rasa yang menyenangkan
dari sari daun teh. Teh juga sering kali dipadukan dengan ragam jenis makanan dan
racikan sop.

2
Pada zaman pemerintahan dinasti Han (221 SM 8 M), teh mulai diolah
dengan pemrosesan yang terbilang sederhana, dibentuk membulat, dikeringkan dan
disimpan, teh mulai dijadikan sebagai minuman, teh diseduh dan dikombinasikan
dengan ramuan lain (misalnya : jahe) dan kebiasaan ini melekat kuat dengan
kebudayaan masyarakat Cina. Lebih jauh lagi, teh kemudian digunakan sebagai
tradisi dalam menjamu para tamu. Setelah zaman Dinasti Ming, banyak ragam jenis
teh kemudian ditemukan dan ditambahkan, teh yang populer nantinya ini banyak
dikembangkan di daerah Canton (Guangdong) dan Fukien (Fujian).
Konsumsi budaya Cina akan kebiasaan minum teh pun menyebar, bahkan
melekat erat pada setiap lapisan masyarakat.Pada tahun 800 M., Lu Yu menulis buku
yang mendefiniskan tentang teh, dengan judul Ch'a Ching. Lu Yu adalah seorang
anak yatim yang dibesarkan oleh cendekiawan Pendeta Budha di salah satu Biara
terbaik di Cina. Sebagai seorang pemuda, diapun acap kali melawan disiplin
pendidikan kependetaan yang kemudian membuatnya memiliki daya pengamatan
yang baik, performasinya pun meningkat dari tahun ke tahun, meskipun demikian, ia
merasa hidupnya hampa dan tidak bermakna.
Setelah setengah perjalan hidupnya, ia pensiun selama 5 tahun untuk
mengasingkan diri. Dengan riwayat hidup dan perjalanan yang pernah disinggahinya,
ia mengkondisikan beragam metode dalam bertanam dan mengelola teh zaman Cina
Purba.

1. PERJALANAN TEH KE JEPANG


Ternyata Pengaruh Teh Cina menulari Jepang, konsumsi teh menyebar melalui
kebudayaan Cina yang akhirnya menjangkau setiap aspek masyarakat. Bibit teh
dibawa ke Jepang oleh seorang pendeta Budha bernama Yeisei yang melihat bahwa
teh Cina mampu meningkatkan konsentrasi saat bermeditasi. Ia dikenal sebagai
Bapak Teh di Jepang, karena asal muasal inilah, teh Jepang erat kaitannya dengan
Zen Buddhism. Teh diminati pula dalam kekaisaran Jepang, yang kemudian
menyebar dengan cepat di kalangan istana dam masyarakat Jepang.
Teh bahkan menjadi budaya dan bagian dari seni yang dituangkan dalam Japanese
Tea Ceremony (Cha-no-yu atau air panas untuk teh). Upacara ini membutuhkan
latihan yang panjang, bahkan hingga bertahun tahun. Performasi dari Cha-no-yu
adalah menjungjung tinggi kesempurnaan, kesopanan, pesona dan keanggunan.
2. PERJALANAN TEH KE NEGERI BARAT
Budaya mengkonsumsi teh yang sudah dilakukan di Cina dan Jepang ternyata
menjadi buah bibir di Eropa. Kelompok kafilah bahkan mendengar bagaimana orang
orang mengkonsumsi teh, dan mendapatkan informasi yang samar, lucunya mereka
mendengar bahwa teh di seduh, digarami, diberi mentega dan kemudian dimakan.
Orang Eropa yang secara personal menemukan teh dan kemudian menulis tentangnya
adalah Jesuit Father Jasper de Cruz pada tahun 1560.
Portugis menjalin hubungan dagang dengan Cina, mengembangkan jalur dagang
dengan mengkapalkan teh ke Lisbon dan kemudian kapal kapal Belanda berangkat

3
ke Perancis, Negeri Belanda dan baltik, teh kemudian semakin populer ke belahan
dunia barat.
Teh singgah di Eropa pada zaman Elizabeth I,dan kemudian tren dalam kerajaan
Belanda. Teh menjadi minuman yang mahal pada waktu itu (lebih dari $100 per
pound-nya), sehingga para pedagang teh mendapatkan kemakmuran darinya.
Masyarakat Belanda sangat menggemari teh, dan konsumsi teh pun meningkat pesat,
meskipun demikian banyak yang mempertanyakan manfaat teh,dan berbagai dampak
negatif lainnya. Apapun itu, masyarakat pada umunya tidak lagi
mempermasalahkan/terpengaruh dan kembali menikmati minuman teh ini. Teh
menjadi bagian dari masyarakat di Eropa, dan ragam kombinasi konsumsi teh pun
dicoba, seperti mencampurkan teh dengan susu. Pada masa itupun layanan teh
disajikan pertama kali di restoran. Kedai minuman pun memberikan perkakas teh
portabel lengkap disertai alat pemanasnya.
Teh pun sangat populer di Perancis, tetapi tidak berlangsung lama (kurang lebih lima
belas tahun), dan kemudian digantikan popularitasnya dengan minuman yang
memiliki daya tarik yang lebih kuat seperti anggur, kopi, dan cokelat. (Spillane,
1992) .

B. PERKEMBANGAN TEH DI INDONESIA

Tanaman teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1686, berupa biji teh dari
jepang yang dibawa oleh seorang Belanda bernama Andreas Cleyer, dan ditanam
sebagai
tanaman hias di Jakarta. Pada tahun 1694, seorang pendeta bernama F. Valentijn
melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari China tumbuh di Taman Istana
Gubernur
Jendral Champhuys di Jakarta, setelah pada tahun 1824 Dr.Van Siebold seorang ahli
bedah
tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang
mempromosikan
usaha pembudidayaan dengan bibit teh dari Jepang. Pada tahun 1826 tanaman teh
berhasil
ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor, dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan
Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Usaha perkebunan teh pertama dipelopori oleh Jacobus
Isidorus Loudewijk Levian Jacobson, seorang ahli teh pada tahun 1828, yang
kemudian
digunakan sebagai dasar bagi usaha perkebunan teh di Jawa dan sejak itu menjadi
komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda, sehingga pada masa
pemerintahan Gubernur Van Den Bosh, teh menjadi salah satu tanaman yang harus
ditanam
rakyat melalui politik Tanam Paksa (Culture Stelsel). Pada masa kemerdekaan, usaha
perkebunan dan perdagangan teh diambil alih oleh pemerintah RI. Sekarang,
perkebunan
dan perdagangan teh juga dilakukan oleh pihak swasta.

4
C. PENGERTIAN TANAMAN TEH

Teh (Camelia sinesis) adalah pohon berdaun kecil, dan mempunyai


banyak cabang. Tanaman teh dapat tumbuh hingga mencapai 3 sampai 5 meter, tahan
terhadap suhu dingin dan dapat terus menerus melakukan produksi sampai usia 100
tahun.
Daun teh berwarna hijau tua mengkilat dengan bulu-bulu halus dan bunga berwarna
putih
kecil yang mempunyai lima sampai tujuh kelopak, sedangkan buahnya kecil
menyerupai
buah pala. (Fulder, S., 2004)
Menurut KBBI dalam jaringan Teh adalah "pohon kecil, tumbuh di alam
bebas,
daunnya berbentuk jorong atau bulat telur, pucuknya dilayukan dan dikeringkan
untuk
dibuat minuman (di pabrik dsb); Camellia sinensis" Tanaman teh biasanya tumbuh
pada
daerah tropis, di ketinggian 200-2000 meter dengan suhu 14-25 derajat celcius.
Hingga saat
ini diperkirakan terdapat 1500 jenis teh yang berasal dari 25 negara. Tanaman teh
dapat
mencapai ketinggian 9 meter tetapi biasanya dijaga supaya tidak lebih dari 1 meter
supaya
memudahkan pengambilan pucuknya.
D. KANDUNGAN KIMIA DAN MANFAAT TANAMAN TEH

Daun teh adalah bahan pembuat minuman teh yang populer di seluruh penjuru
dunia. Air teh yang kita minum mengandung kafein, teofilin, vitamin A, B, C, zat yang
tidak larut dalam air seperti serat, protein dan pati serta zat yang larut di dalam air
seperti gula, asam amino dan mineral. Jadi selain sebagai minuman, teh juga
mempunyai nilai gizi. Disamping itu teh juga bisa dijadikan obat yaitu sebagai
antidotum pada keracunan oleh logam-logam berat dan alkaloida.
Daun teh barbau khan aromatik , rasanya agak sepet . Mengenai uraian
makroskopiknya yaitu sebagai berikut:
1. Helai daun dapat dikatakan cukup tebal, kaku berbentuk sudip melebar sampai
sudip memanjang, panjangnya tidak lebih dari 5 cm, bertangkai panjang.
2. Permukaan daun bagian atas mengkilat, pada daun muda permukaan bawahnya
berambut sedang telah tua menjadi licin.
3. Tepi daun bergerigi, agak tergulung ke bawah, berkelenjar yang khas dan
terbenam
Kandungan zat pada daunnya 1%-4% kofeine, 7%-15% tanin dan sedikit
minyak atsiri. Dalam penggunaan sebagai obat antidotum pada keracunan oleh logam-

5
logam berat dan alkaloida, petiklah kuncup daun berikut 2-3 helai dau dibawahnya,
digulung dan difermentasikan untuk kemudian diberikan pada penderita.
(Kartasapoetra, 1992).
Senyawa Jumlah Efek Biologis (Manfaat)
(%)
Polifenol 10 25 Mencegah oksidasi dan mutasi, antikarsinogenik,
menurunkan kolesterol dalam tingkat LDL-nya,
menghambat kenaikan tekanan darah, menghambat
penggumpalan sel darah merah, berkhasiat
antibiotika, mencegah alergi makanan dan
memperbaiki pemusnahan virus dalam usus serta
menghilangkan bau.
Flavonol 0,6 0,7 Meningkatkan kekebalan pembuluh darah,
mencegah oksidasi, merendahkan tekanan darah dan
menghilangkan bau.
Kafein 24% Merangsang sistem syaraf pusat meningkatkan
semangat, memperkuat jantung, bersifat diuretik,
mencegah sma, serta meningkatkan kecepatan
metabolisme.
Glikosida 0,6 % Antidiabetik / mencegah peningkatan gula darah.
Vitamin C 150 250 Mencegah Leukemia, antioksidan serta
mg antikarsinogenik
Vitamin E 25 70 Mencegah oksidasi, antikarsinogenik, mencegah
mg ketidaksuburan.
Karoten 13 20 % Mencegah oksidasi, antikarsinogenik, dan
meningkatkan kekebalan tubuh.
Saponia 0,1 % Antikarsiogenik, dan mencegah radang.
Fluorida 90 350 Mencegah karies gigi dan penyakit periodontal.
ppm
Seng 30 75 Mencegah kehilangan rasa pada kudu rasa,
ppm mencegah radang kulit, dan mempertahankan
tingkat kekebalan.
Selenium 1,0 1,8 Mencegah oksidasi, antikarsionogenik, mencegah
ppm kemerosotan fungsi otot jantung

6
Magnesiu 400 Mencegah oksidasi, meningkatkan kekebalan, dan
m 2.000 ppm membantu proses pencernaan.

Kualitas teh ditentukan oleh mutu daun dan pengolahannya. Bahan bakunya
tidak
boleh dicampur antara peko, tangkai, debu, atau bahan lain. Berdasarkan kandungan
kimia
di dalamnya (lihat tabel) teh merupakan minuman yang tidak diragukan lagi
manfaatnya.
Kandungan polifenol mempunyai sifat anti karsinogenik, ia mampu menjadi
pelindung
terhadap penyakit degeneratif , misalnya kanker dan cardiocasuler.Antikoksidan ini
mengikat
radikan bebas biang penyakit degeneratif.

Teh bukanlah obat, artinya, bila seseorang sudah terserang kanker atau
penyakit jantung, tidak bisa disembuhkan oleh teh. Untuk mempercepat
penyembuhan kedua penyakit
itu, sebaiknya minum obat kimia dikombinasikan dengan teh paling tidak dengan
bantuan teh
kedua penyakit itu tidak berkembang terus.Selain mempunyai senyawa utama
polifenol, teh
juga bersifat diuretik. Bila dikonsumsi secara teratur, yang mengkonsumsi akan
terhindar dari
gangguan ginjal.

Kandungan fluorida dalam teh sangat diperlukan dalam pencegahan penyakit


gigi dan rongga mulut. Bakteri penyebab terbentuknya plak gigi berlubang
adalah Streptococcus mutan. Dengan minum teh secara teratur, berbagai pertumbuhan
penyakit gigi dan rongga
mulut dapat dihambat.
(Kartasapoetra, 1992).

MANFAAT LAIN TEH:

Terdapat banyak manfaat yang didapat setelah mengkonsumsi teh, antara lain:

a. Membantu menurunkan berat badan


Antioksidan dalam teh hijau berupa katekin mampu mengurangi penyerapan
lemak, terutama lemak pada perut (abdominal). Katekin juga akan membantu
merangsang
metabolisme tubuh untuk mengurangi penimbunan lemak. Dengan meminum
empat
cangkir teh disetiap hari, maka akan membakar 70-80 kalori.

7
b. Mencegah kanker
Penelitian menunjukkan bahwa teh hijau melindungi manusia dari berbagai
macam penyakit kanker, termasuk kanker paru-paru, prostat dan payudara.
Antioksidan
dalam teh hijau yang bernama epigallocatechin gallate (EGCG) akan
memperlambat
pertumbuhan sel kanker paru-paru manusia secara signifikan. Orang yang minum
minimal satu cangkir teh hijau setiap hari, berisiko lima kali lebih rendah terserang
kanker
paru-paru. Studi lain menunjukkan bahwa teh hijau yang dikombinasi dengan
tamoxifen
efektif menekan pertumbuhan kanker payudara (Thomas, 2007).

c. Meningkatkan metabolisme
Uji klinis oleh Universitas Jenewa dan Universitas Birmingham
menunjukkan
bahwa teh hijau meningkatkan tingkat metabolisme, kecepatan oksidasi lemak,
sensitivitas insulin dan toleransi glukosa. Polifenol katekin pada teh hijau bersifat
termogenesis atau menghangatkan tubuh.

d. Kewaspadaan mental
Thomas (2007) menyatakan bahwa asam amino L-tehanine yang terdapat
pada
hampir semua jenis teh, secara aktif mempengaruhi neurotransmitter otak dan
meningkatkan aktivitas gelombang alfa. Hasilnya adalah pikiran menjadi lebih
tenang,
namun lebih waspada.

e. Mengatasi bau mulut


Para peneliti Universas Illinois di Chicago menyatakan bahwa
polifenol
membantu menghambat pertumbuhan bakteri yang menyebabkan bau
mulut.

f. Mengatasi kelebihan zat besi


Para peneliti di Jerman menemukan bahwa minum secangkir teh hitam
setiap hari
dapat membantu menghentikan kelebihan zat besi pada pasien hemakromatosis
(kelebihan
zat besi dalam darah) karena gangguan penyerapan zat besi.

g. Artritis Rematik
Teh hijau mengurangi keparahan artritis rematik sebesar 78% pada
peminum

8
berat dan sebesar 40% pada peminum sesekali.

h. Kesehatan Gigi
Plak gigi mengandung lebih dari 300 jenis bakteri yang menempel pada
permukaan gigi dan menyebabkan gigi berlubang. Plak juga merupakan
penyebab
utama penyakit gusi. Polifenol pada teh hitam dapat membunuh atau menekan
pertumbuhan bakteri penyebab plak (Thomas, 2007).

E. MORFOLOGI TANAMAN TEH

1. Daun Teh

Daun teh berbau khas aromatik, rasanya agak sepet. Selain itu daun teh mempunyai
ciriciri ( morfologi ) sebagai berikut:

1. Helaihelai daun yang cukup tebal, kaku, berbentuk sudip melebar sampai sudip
memanjang, panjangnya tidak lebih dari 5 cm, bertangkai pendek.
2. Permukaan daun bagian atas mengkilat, pada daun muda permukaan bawahnya
berambut jika telah tua menjadi licin.
3. Tepi daun bergerigi, agak tergulung ke bawah, berkelenjar yang khas dan terbenam

2. Akar Teh

Pohon teh mempunyai akar tunggang yang panjang, akar tunggang tersebut
masuk ke dalama lapisan tanah yang dalam. Percabangan akarnya pun banyak.
Perakaran pohon ini akan menjadi baik jika mempunyai gerakan yang leluasa, yaitu
dapat menembus tanah dengan mudah dan juga bergerak menyamping. Semua itu akan
dapat dipenuhi jika mempunyai susunan dan fisik tanah yang baik.
Untuk pohon teh perakaran memang sangatlah diperlukan. Sebab ia akan
banyak mengalami gangguan-gangguan dari atas. Yaitu dalam pemetikan daun dan
tunas. Untuk mendapatkan akar yang melebar, maka sewaktu bibit dipindahkan ke
kebub pertanaman, akar tunggang sebaiknya dipotong sedikit.
3.Batang Teh
Batang pohon teh ini tumbuh denga lurus dan banyak, akan tetapi batang ini
mempunyai ukuran yang lebih kecil. Dengan demikian maka pohon teh ini akan
tumbuh dengan bentuk yang mirip pohon cemara. Hal itu terjadi jika pohon teh
dibiarkan tumbuh tanpa adanya pemangkasan. Akan tetapi jika pohon teh dibutuhkan
untuk diambil produksinya, bentuk yang demikian ini tidak menguntungkan.
Sebab akan mengalami kesukaran dalam pemetikannya dan juga pemeliharaannya.
Untuk itu maka dikebun-kebun teh, biasanya pohon teh dibentuk melebar dan
pendek-pendek. Semua itu untuk memudahkan pemeliharaan dan pemetikannya.

9
Sedangkan untuk mendapatkan pohon yang pendek akan tetapi banyak
menghasilkan daun dan tunas yang kita butuhkan, maka perlu sering diadakan
pemangkasan-pemangkasan sehingga tumbuhnya pohon itu akan melebar dan akan
meninggi seperti pohon cemara. (Kartasapoetra, 1992).

F. KLASIFIKASI TANAMAN TEH

Menurut Graham (1984), tanaman teh (Camellia sinensis) diklasifikasikan sebagai


berikut;
Kingdom : Plantae
Sub Divisio : Angiospermae
Class : Dicotyledoneae
Sub Class : Dialypetalae
Ordo : Guttiferales
Famili : Theaceae
Genus : Camellia
Spesies : Camellia sinensis L.
Varietas : Sinensis dan Asamika

Perbedaan varietas Assamica dan sinensis:


Jenis Assamica ini dapat berbatang setinggi 12 meter, tumbuhnya cepat,
mulainya bercabang agak tinggi, ukuran daunnya lebih besar kalau dibandingkan
dengan jenis Sinensis dan ujungnya runcing panjang. Assamica ini dapat menghasilkan
daun banyak sekali, tetapi kulaitas produksinya kurang.

Sedangkan jenis Sinensis, pohonnya rendah hanya sekitar 3 meter, bercabang


banyak dan mulai bercabang di dekat permukaan tanah. Daunnya berukuran kecil bila
dibandingkan dengan jenis Assamica, panjangnya kurang lebih hanya 9 cm. ujung
daunnya runcing pendek. Tumbuhnya lambat dengan produksinya sedikit, akan tetapi
mempunyai kulaitas produksi yang baik.

G. JENIS TEH BERDASARKAN PROSES PENGOLAHAN

Ada 4 (empat) jenis teh yang sudah akrab bagi orang Indonesia: teh oolong
(oolong tea), teh hitam (black tea), teh hijau (green tea), teh putih (white tea).
Keempatnya dibedakan berdasarkan proses pengolahan. Kualitas teh tinggi apabila
dipetik dari lembar pucuk pertama sampai ketiga. Sebab dalam ketiga lembar daun itu
kandungan katekin penambah rasa segar dan kafein tinggi. Katekin sendiri
merupakan senyawa polifenol yang kaya antioksidan (Mulja, 1995).

10
2.3.1 Teh Oolong

Teh oolong adalah teh hasil semioksidasi enzimatis alias tidak bersentuhan lama
dengan udara saat diolah. Teh oolong terletak diantara teh hijau dan teh hitam.
Fermentasi terjadi namun hanya sebagian (30 70 %). Hasilnya, warna teh menjadi
cokelat kemerahan. Teh oolong biasa disajikan dalam upacara pernikahan dan sebagai
teman menyantap hidangan laut. Sebelum menjadi teh oolong yang kering dan dapat
dikonsumsi secara praktis, teh tersebut mengalami beberapa tahapan proses yaitu:

1. Proses Pemetikan

Proses ini dilakukan dengan tangan agar lebih selektif. Kalau dengan alat pemotong,
misalnya ani-ani yang digunakan untuk memanen padi, batang keras pun
kemungkinan besar akan ikut terpotong.

2. Proses Pelayuan

Proses pelayuan ini dilakukan dengan menggunakan sinar matahari selama 90 menit.
Kemudian dipaparkan di dalam ruangan untuk dilakukan kembali proses pelayuan
selama 4-8 jam.

3. Proses Pengeringan

Pada proses pengeringan dilakukan dengan Panning System, hal ini bertujuan untuk
inaktivasi enzim agar fermentasi tidak sempurna atau fermentasinya parsial.

4. Proses Penggulungan

Proses peggulungan ini dilakukan dengan sistem open top roller selama 5- 12 menit.
Tujuannya adalah untuk memecah sel daun sehingga menghasilkan rasa sepat. Tapi
proses penggulungannya tidak sampai hancur seperti pada proses teh hitam (pada
bagian penggilingan) (Sujayanto, 2008).

11
2.3.2 Teh Hijau

Teh hijau diolah tanpa mengalami oksidasi, tidak memberi kesempatan terjadinya
fermentasi. Setelah layu daun teh langsung digulung, dikeringkan, dan siap untuk
dikemas. Biasanya pucuk teh diproses langsung dengan uap panas (steam) atau
digoreng (pan frying) untuk menghentikan aktivitas enzim. Warna hijau tetap
bertahan dan kandungan taninnya relatif tinggi. Teh hijau dipercaya menurunkan
bobot tubuh. Hal ini disebabkan kandungan polifenolnya tinggi. Teh hijau menjadi
favorit masyarakat di Jepang dan Korea. Bahkan di Jepang terdapat beragam teh hijau
seperti gyokuro, sencha, kabusecha dan konacha masing-masing dibedakan
berdasarkan proses pembuatannya. Menurut Bambang Mukhtar, seorang ahli teh dari
Bogor Jawa Barat bahwa gyokuro yang paling istimewa karena diaging selama 5
tahun, rasanya gurih seperti kaldu. Aroma kaldu itu pun menguat tajam. Teh hijau pas
dinikmati saat banyak aktivitas karena dipercaya meningkatkan konsentrasi, jadi tidak
cocok diminum sebelum berangkat tidur (Sujayanto, 2008). Sebelum menjadi teh
hijau yang kering, teh hijau ini juga mengalami beberapa proses yaitu:

1. Proses Pemetikan

Proses ini dilakukan dengan tangan agar lebih selektif. Kalau dengan alat pemotong
misalnya ani-ani yang digunakan untuk memanen padi, batang keras pun
kemungkinan besar akan ikut terpotong.

2. Proses Pelayuan

Proses selanjutnya adalah pelayuan. Proses ini bertujuan untuk inaktivasikan enzim
polifenol oksidase dan mengurangi kadar air hingga 60-70 %. Proses ini dilakukan
dengan system rotary panner dengan panas 80-100o C selama 2-4 menit.

3. Proses Penggulungan

Proses peggulungan ini dilakukan dengan sistem open top roller selama 15-17 menit.
Tujuannya adalah untuk memecah sel daun sehingga menghasilkan rasa sepet. Tapi

12
proses penggulungannya tidak sampai hancur seperti pada proses teh hitam (pada
bagian penggilingan).

4. Proses Pengeringan

Proses selanjutnya adalah pengeringan yang dilakukan dalam dua tahap. Tahap
pertama dilakukan pada suhu 110-135o C selama 30 menit. Tahap berikutnya
pemanasan 70-90o C dalam waktu 60-90 menit, selanjutnya proses sortasi dan
pengemasan (Sujayanto, 2008).

2.3.3 Teh Hitam

Teh hitam didapat dari hasil penggilingan yang menyebabkan daun terluka dan
mengeluarkan getah. Getah itu bersentuhan dengan udara sehingga menghasilkan
senyawa tea flavin dan tearubigin. Artinya, daun teh mengalami perubahan kimiawi
sempurna sehingga hampir semua kandungan katekin terfermentasi menjadi tea flavin
dan tearubugin. Warna hijau bakal berubah menjadi kecoklatan dan selama proses
pengeringan menjadi hitam. Teh hitam paling dikenal luas dan banyak dikonsumsi.
Dadan, periset di pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, menamakan reaksi itu
oksidasi enzimatis. Tea flavin menurunkan warna merah kekuning-kuningan dalam
setiap seduhan, tearubigin memberi kombinasi warna coklat kemerahan dan kuning.
Soal rasa seperti katekin, tea flavin memberi kesegaran (Sujayanto, 2008). Sebelum
menjadi teh hitam yang kering daun-daun teh tersebut telah melewati berbagai proses
yaitu:

1. Proses Pemetikan

Proses ini dilakukan dengan tangan agar lebih selektif. Kalau dengan alat pemotong
misalnya ani-ani yang digunakan untuk memanen padi, batang keras pun
kemungkinan besar akan ikut terpotong.

2. Proses Pelayuan

13
Proses selanjutnya adalah pelayuan. Proses ini bertujuan untuk mengurangi kadar air
sehingga kandungan enzim dalam pucuk teh lebih kental. Proses ini dilakukan pada
tempat pelayuan (withering trough) berupa kotak persegi panjang beralaskan kawat
kasa. Di bawah kawat kasa ini terdapat blower penghembus udara kearah kasa. Pucuk
daun teh dibeberkan di atas withering trough dengan ketebalan 30 cm, bagian
permukaannya harus rata agar pelayuan merata. Hembusan udara tadi dapat
menerbangkan air dalam daun teh. Proses pelayuan berlangsung 7- 24 jam. Untuk
mencapai kadar air yang diinginkan maka dilakukan proes pembalikan. Langkah ini
juga supaya pucuk teh tidak terbang tertiup blower. Kemudian hamparan pucuk teh
dibongkar untuk dimasukkan ke dalam conveyor (semacam corong yang
dihubungkan dengan alat penggiling). Lalu teh dimasukkan ke dalam tong plastik
lantas diletakkan ke ban berjalan untuk masuk ke ruang giling.

3. Proses Penggilingan

Setelah itu daun masuk ke mesin penggilingan. Yaitu Green Leaf Shifter, pada proses
ini pucuk teh masuk ke mesin getar. Dengan demikian pucuk teh terpisahkan dari
ulat, kerikil, pasir dan serpihan lain melalui perbedaan berat jenisnya. Pucuk teh
tersebut masuk ke conveyor untuk mengalami proses penggilingan awal dengan
mesin BLC (Barbora Leaf Conditioner), dimana pucuk teh dipotong menjadi serpihan
kecil-kecil sebagai prakondisi untuk proses penggilingan selanjutnya menggunakan
mesin Crush Tear & Curl (CTC) dan agar fermentasi dapat berlangsung dengan
lancar. Out put yang dihasilkan adalah berupa bubuk teh basah berwarna hijau.

4. Proses Fermentasi

Proses ini lebih tepat disebut oksidasi enzimatik. Mesin bekerja membeber bubuk
daun teh basah hingga terpapar oksigen sehingga terjadi perubahan warna. Pada
ujung fermentasi teh akan berwarna kecoklatan. Selain perubahan warna juga terjadi
perubahan aroma, dari bau daun menjadi harum teh. Proses ini berlangsung selama 1-
5 jam dengan suhu optimal 26 - 27o C .

5. Proses Pengeringan

Tujuan dari proses ini adalah untuk menghentikan reaksi oksidasi enzimatik pada
daun teh. Selain itu juga untuk membunuh mikroorganisme yang beresiko terhadap
kesehatan. Pengeringan ini juga dapat membuat teh tahan lama disimpan karena
kadar air yang rendah dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Pengeringan
dilakukan dengan Utara menggunakan oven besar Fluid Bed Dryer (FBD), dengan
suhu masuk 100 - 120o C dan suhu keluarnya 80 - 105o C selama 15 - 20 menit.
Sehingga kadar airnya hanya 2,5 - 3 % saja di dalam teh, selanjutnya proses sortasi
dan pengemasan (Sujayanto, 2008).

14
2.3.4 White tea

Teh lain yang tak kalah istimewa adalah white tea alias teh putih. Disebut
begitu karena saat diseduh warna air hanya sedikit berubah menjadi kekuningan.
White tea dipercaya memiliki lebih banyak manfaat daripada teh hijau. Dari teh ini
diambil dari pucuk daun yang masih menggulung yang memiliki kandungan katekin
dan kafein paling tinggi. Teh beraroma tajam seperti rempah-rempah ini menjadi
unggulan di cafe tea Addict di bilangan Gunawarman, Jakarta Selatan. white tea
yang dicampur 20% teh hijau dinamakan pure nirvana, kata Priyanto, juru racik teh
disana. Meneguk secangkir pure nirvana langsung menghangatkan tubuh. Yang
menarik sisa daun teh bisa dimakan sambil dicampur madu (Sujayanto, 2008).

Kenikmatan keempat teh itu maksimal jika diseduh dengan benar. Aroma dan
rasa seperti kaldu pada teh hijau dari varietas sinensis keluar saat diseduh air bersuhu
70 atau saat dididihkan bergelembung kecil-kecil. Lebih dari itu daun teh pecah dan
mengeluarkan lendir sehingga rasanya lebih pahit dan warna hijau kecoklatan
(Sujayanto, 2008). Dari 4 macam teh klasik itu kemudian berkembang berbagai
macam variasi dengan penambahan bahan lain seperti bunga melati sebagi penambah
aroma dan cita rasa. Selain bertujuan menambah cita rasa dan aroma, biasanya teh
buah juga diramu untuk kepentingan kesehatan dan pengobatan. Buah umumnya
memang kaya vitamin C dan antioksidan. Pembuatan fruit tea menggunakan buah
yang dikeringkan. Selain bahan teh klasik, ada juga teh herba yang dibuat bukan
dengan bahan Camellia sinensis. Sama seperti teh buah, teh herba juga dibuat untuk
keperluan kesehatan dan pengobatan (Sujayanto, 2008).

15
H. BAHAYA MENGKONSUMSI TEH

1. Nyeri pada tulang dan gigi

Kondisi ini dirasakan betul oleh wanita asal Amerika yang mengalami rasa nyeri di
setiap persendian tulangnya hingga gigi. Dokter mendiagnosa wanita tersebut terlalu
banyak minum teh sehingga membuat darah memiliki kandungan fluoride yang
tinggi. Faktanya wanita tersebut minum teh celup satu pitcher teh setiap harinya.

Konsentrasi fluoride normalnya pada darah adalah tidak lebih dari 0,10 mg/liter,
namun wanita tersebut memiliki kandungan fluoride mencapai 0,43 mg/liter. Setelah
di sarankan oleh dokter untuk mengurangi konsumsi teh, akhirnya membuat kadar
fluoride menurun dan rasa nyeri mulai berkurang.

2. Terkena resiko anemia

Kandungan kafein, fluorin, dan tannin pada teh di ketahui menghambat penyerapan
zat besi yang berasal dari makanan. Zat besi sangat dibutuhkan untuk pembentukan
sel darah merah. Jika kondisi ini terus berlangsung maka bukan tidak mungkin
penderita akan mengalami anemia. Resiko bahaya kafein juga berdampak pada
masalah kesehatan lainnya.

3. Osteoporosis

Selain timbulnya rasa nyeri yang diakibatkan oleh meningkatnya konsentrasi fluoride
dalam darah, konsumsi yang berlebihan hingga 5 cangkir sehari akan membuat proses
reabsorpsi lebih banyak mengikat kalsium yang sejatinya masih di butuhkan tubuh.
Artinya terlalu banyak minum teh akan membuat kalsium yang diserap ikut terbuang
melalui urin. Padahal kita tahu bahwa kalsium menjadi nutrisi utama untuk
memperkuat tulang dan persendian kita.

16
4. Diare

Minum teh saat diare justru akan memperburuk keadaan. Konsumsi teh justru akan
membuat feses menjadi lebih encer. Alih-alih untuk menenangkan perut justru
sebaliknya kita akan di buat menderita dengan penyakit yang di sebabkan
berkembangnya bakteri e.coli ini.

5. Resiko batu ginjal

Teh memiliki kandungan zat oxalate yang merupakan penyebab utama pembentukan
batu ginjal. Resiko batu ginjal tersebut kebanyakan diderita oleh usia diatas 40 tahun,
dan kalangan pria memiliki potensi lebih besar menderita batu ginjal daripada wanita.

Studi di Amerika yang dilakukan Loyola University Medical cneter mengatakan


bahwa minum teh berlebihan dapat menstimulus pembuatan batu dan kristal pada
saluran pembuangan air seni. Di sarankan agar tidak minum teh setelah makan akan
membuat proses pembuatan batu ginjal semakin berpotensi lebih besar, lebih baik
mengganti minum teh dengan air putih atau lemon.

6. Sakit maag

Minum teh di saat perut sedang kosong ternyata membuat asam lambung semakin
meingkat. Asam lambung terus di produksi dalam lambung untuk membantu proses
penyerapan makanan di dalam lambung. Perut kosong dalam waktu lama saja sudah
membuat resiko terkena maag apalagi jika Anda minum teh, justru akan semakin
meningkatkan produksi asam lambung. Akibatnya lambung akan terjadi peradangan
yang merupakan Anda sedang sakit maag. Usahakan untuk jangan minum teh
sebelum anda makan, bahkan minum teh setelah makan pun juga memiliki bahaya
dalam memhambat proses penyerapan zat besi. Oleh karena itu minumah teh di sela-
sela waktu setelah makan sekitar 2 jam setelahnya, dan tentu dengan jumlah teh yang
wajar.

7. Resiko keguguran pada ibu hamil

Untuk ibu hamil sangat di perhatikan untuk tidak mengkonsumsi teh terlalu banyak.
Studi yang baru-baru ini dilakukan menemukan bahwa komposisi teh yang
mengandung kafein dapat merangsang kontraksi pada rahim. Akibatnya, untuk ibu
hamil di usia muda akan membuat kandungannya berpotensi mengalami keguguran.

8. Resiko bayi lahir prematur

Selain itu, kafein yang ada pada teh juga akan membuat bayi lahir prematur karena
kontraksi rahim yang semakin kuat karena kandungan teh tersebut. Bahaya lainnya,
pada seorang ibu yang menyusui jika mengkonsumsi teh terlalu banyak akan
membuat terhabatnya produksi kelenjar ASI.

9. Resiko kanker

17
Pertumbuhan sel kanker ini bisa disebabkan oleh jenis teh tertentu seperti teh celup.
Pembuatan teh celup menggunakan serbuk teh yang dibungkus dalam kertas yang
dibuat dari senyawa chlorine. Proses peneyeduhan kertas chlorine pada air panas akan
membuat senyawa pada kertas ikut larut di dalam air teh yang diseduh. Jika tetap
dibiarkan dalam waktu sampai 5 menit maka akan sangat berbahaya, yang artinya
kandungan klorin tercampur pada air teh. Lalu apa akibatnya? Kandungan klorin
yang terlalu banyak di dalam tubuh di curigai akan menstimulus pertumbuhan sel
kanker di dalam tubuh.

10. Resiko jantung

Kadar kafein dalam teh akan membuat jantung berdetak lebih cepat, dikarenakan
tekanan darah yang meningkat. Selain itu konsumsi konsumis teh pada penderita
penyakit jantung akan menimbulkan perasaan gelisah hingga mengalami arrhytmia
yang artinya detak jantung tidak berirama. Bagi penderita penyakit jantung ini
merupakan kondisi yang berbahaya dan bisa berakibat pada kondisi yang lebih kritis.

11. Demam semakin tinggi

Bagi Anda yang sedang demam dianjurkan untuk tidak minum teh. Minum teh manis
untuk orang sakit biasanya dilakukan oleh sebagia orang, padahal yang diperlukan
untuk orang yang sedang sakit adalah kandungan gula untuk membantu konsentrasi
pada darah, sebenarnya air gula saja sudah cukup tanpa menyeduh teh. Minum teh di
saat sakit apalagi demam justru akan membuat suhu tubuh meningkat. Bukannya
menurunkan demam malah akan membuat demam tinggi.

12. Mengurangi nafsu makan

Bagi anak-anak yang sering mengalami masalah susah makan sebaiknya jangan
diberikan minuman teh. Secara praktis akan membuat anak semakin bersemangat,
namun bahayanya dibaliknya justru membuat anak kehilangan nafsu makan. Hal itu
disebabkan oleh saat teh masuk ke dalam organ pencernaan akan membuat selaput
lendir menurun yang akibatnya akan mengganggu proses penyerapan. Kondisi
tersebut akan membuat rangsangan untuk malas makan.

13. Iritasi pada tenggorokan

Penelitian yang dilakukan di Iran oleh Universitas Teheran menemukan bahwa


minum teh panas bisa menyebabkan iritasi pada tenggorokan bahkan lebih bahaya
lagi bisa menyebabkan kanker tenggorokan. Riset tersebut dilakukan di malekzadeh
yang ditemukan penduduknya banyak menderita kanker tenggorokan. Anehnya,
konsumsi rokok dan alkohol di daerah tersebut sangatlah rendah, dan sebaliknya
hampir keseluruhan dari mereka meminum teh hitam secara teratur sebanyak satu
liter tiap harinya.

18
14. Dehidrasi

Minum teh dingin akan sangat pas di minum di saat merasa dehidrasi. Tenggorokan
akan merasa segar saat minum teh dingin tersebut. Namun tahukah Anda bahwa
minum justru akan membuat Anda dehidrasi setelahnya. Hal itu dikarenakan oleh
sifat diuretik pada daun teh yang sudah dikeringkan yang justru akan menyebabkan
dehidrasi.

15. Sering sakit kepala

Kondisi ini adalah akibat dari konsumsi teh baik manis atau tawar secara berlebihan.
Minum teh seperti yang diulas di awal bisa membuat terhambatnya penyerapan zat
besi oleh tubuh yang akhirnya pembuatan sel darah merah pun semakin menurun.
Kekurangan darah akan mempengaruhi organ tubuh seperti otak. Kita akan mudah
merasa pusing jika kekurangan darah dalam tubuh. Oleh karena itu, mulai kurangi
konsumsi teh untuk menjaga produksi sel darah merah kita.

Saran konsumsi
Sesekali minum teh tidak akan menjadi masalah, yang menjadi bahaya adalah ketika
mengkonsumsinya dengan pola yang salah. Yang perlu di perhatikan dalam minum
teh adalah. Janganlah minum teh lebih dari 5 cangkir dalam sehari. Kemudian jangan
langsung minum teh setelah makan, tunggulah hingga waktu 2 jam agar nutrisi dari
makanan sudah diserap sepenuhnya. Selain itu yang perlu diperhatikan adalah
pastikan meminum teh dalam suhu yang tidak terlalu panas.

(Tambunan,2010)

I. KEMASAN TEH

1. Teh celup
Teh dikemas dalam kantong kecil yang biasanya dibuat dari kertas dengan
tali. Teh celup sangat populer karena praktis untuk membuat teh, tetapi
pencinta teh kelas berat biasanya tidak menyukai rasa teh celup.

19
2. Teh saring
Teh dikemas dalam kantong kecil yang biasanya dibuat dari kertas tanpa tali.
Teh saring sangat populer karena praktis untuk membuat teh dalam kuantitas
banyak dan menghasilkan lebih pekat dibandingkan teh celup.
3. Teh seduh (daun teh)
Teh dikemas dalam kaleng atau dibungkus dengan pembungkus dari plastik
atau kertas. Takaran teh dapat diatur sesuai dengan selera dan sering dianggap
tidak praktis. Saringan teh dipakai agar teh yang mengambang tidak ikut
terminum. Selain itu, teh juga bisa dimasukkan dalam kantong teh sebelum
diseduh. Mangkuk teh bertutup asal Tiongkok yang disebut gaiwan dapat
digunakan untuk menyaring daun teh sewaktu menuang teh ke mangkuk teh
yang lain.
4. Teh yang dipres
Teh dipres agar padat untuk keperluan penyimpanan dan pematangan. Teh pu
erh dijual dalam bentuk padat dan diambil sedikit demi sedikit sewaktu mau
diminum. Teh yang sudah dipres mempunyai masa simpan yang lebih lama
dibandingkan daun teh biasa.
5. Teh stik
Teh dikemas di dalam stik dari lembaran aluminium tipis yang mempunyai
lubang-lubang kecil yang berfungsi sebagai saringan teh.
6. Teh instan
Teh berbentuk bubuk yang tinggal dilarutkan dalam air panas atau air dingin.
Pertama kali diciptakan pada tahun 1930-an tetapi tidak diproduksi hingga
akhir tahun 1950-an. Teh instan ada yang mempunyai
rasa vanila, madu, buah-buahan, atau dicampur susu bubuk.
(Potter,1986)

BUDIDAYA TANAMAN TEH

A. SYARAT PERTUMBUHAN

1. Iklim
- Curah hujan sebaiknya tidak kurang dari 2.000 mm/tahun.
- Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Tanaman teh tidak tahan
kekeringan.
- Suhu udara harian tanaman teh adalah 13-25 derajat C.
- Kelembaban udara kurang dari 70%.
2. Media Tanaman

20
Jenis tanah yang cocok untuk teh adalah Andosol, Regosol dan Latosol. Namun
teh juga dapat dibudidayakan di tanah Podsolik (Ultisol), Gley Humik,
Litosol dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal,
struktur remah, berlempung sampai berdebu, gembur.
- Derajat keasaman tanah (pH) berkisar antara 4,5-6,0.
- Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi 2
daerah yaitu:
(1) dataran rendah: sampai 800 m dpl;
(2) dataran sedang: 800-1.200 m dpl; dan
(3) dataran tinggi: lebih dari 1.200 meter dpl. Perbedaan ketinggian tempat
menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh.
3. Ketinggian Tempat
Tergantung dari klon, teh dapat tumbuh di dataran rendah pada 100 m dpl
sampai di ketinggian lebih dari 1.000 m dpl.
(Surastri, T. Y. 2006)

B. TEKNIK PENGOLAHAN TEH


Meskipun tiap-tiap jenis teh memiliki rasa, aroma, dan wujud yang berbeda-beda,
pengolahan teh untuk semua jenis teh memiliki sekumpulan metode yang serupa
dengan sedikit variasi:

1. Pemetikan

Daun teh, yakni satu kuntum dan dua pucuk, dipetik dari semak Camellia
sinensis dua kali setahun pada permulaan musim semi dan musim panas atau
penghujung musim semi. Pemetikan pada musim gugur atau musim
dingin jarang dilakukan, meskipun bisa saja ketika musim memungkinkan.
Pemetikan dilakukan dengan tangan ketika kualitas teh menjadi prioritas, atau
ketika biaya tenaga pekerja bukan persoalan. Pemetikan dengan tangan
dilakukan dengan cara menggenggam sejajar dengan hentakan pergelangan
tangan dan tanpa pemilinan atau penjepitan, karena jika yang terakhir
dilakukan akan menurunkan mutu daun. Pemetikan juga dapat dilakukan
dengan mesin, meski akan lebih banyak daun yang rusak dan sebagian
terbuang. Adalah juga sulit panen teh dengan mesin di lereng gunung di mana
teh sering ditanam.

21
Pemetikan teh adalah pengambilan pucuk meliputi: 1 kuncup + 2-3 daun muda.
Akibat pucuk dipetik maka pembuatan zat pati berkurang untuk pertumbukan tanaman.
Pemetikan pucuk akan menghilangkan zat pati sekitar 7,5%, semakin kasar pemetikan
semakin tinggi kehilangan zat pati. Kehilangan zat pati akibat pemetikan pucuk tidak
akan mengganggu pertumbuhan tanaman asalkan lapisan daun pemeliharaan cukup
untuk melakukan proses asimilasi. ( Syakir ,2010 ).
A. Macam dan Rumus Pemetikan

Macam petikan didasarkan pada mutu pucuk yang dihasilkan tanpa memperhatikan
bagian yang ditinggalkan, sedangkan rumus digambarkan dengan lambang huruf dan
angka. Macam dan rumus petikan ditentukan berdasarkan:
(1) Petikan imperial, dimana hanya kuncup peko (p) yang dipetik (p+0),
(2) Petikan pucuk pentil, peko+satu daun di bawahnya (p+1m),
(3) Petikan halus, peko+satu/dua lembar daun muda/burung dengan satu lembar daun
muda (p+2m,b+1m),
(4) Petikan medium, (p+2m, p+3m, b+1m, b+2m, b+3m),
(5) Petikan kasar (p+3, p+4, b+1t, b+2t, b+3t)
(6) Petikan kepel, daun yang tinggal pada perdu hanya kepel (p+n/k, b+n/k).

( Syakir ,2010 ).

22
Maksud dari jenis petikan yaitu macam pucuk yang dihasilkan dari pelaksanaan
pemetikan. Berdasarkan jumlah helaian daun, jenis petikan terdiri atas beberapa
kategori,:
(1) Petikan halus, pucuk peko (p) dengan satu daun, atau pucuk burung (b) dengan
satu daun muda (m), rumus p+1 atau b+1m.
(2) Petikan medium, pucuk peko dengan dua atau tiga daun muda, serta pucuk burung
dengan satu, dua atau tiga daun muda (p+2, p+3, b+1m, b+2m, b+3m).
(3) Petikan kasar, pucuk peko dengan lebih empat daun dan pucuk burung dengan
beberapa daun tua (t) { (p+4 atau lebih, b+(1-4t)}.

2. Pelayuan (Withering)

Tujuan pelayuan adalah untuk mengurangi kadar air daun teh hingga 70%
(persentase ini bervariasi dari satu wilayah dengan yang lain).

Daun teh ditempatkan di atas


loyang logam (wire mesh ) dalam ruangan (semacam oven). Kemudian udara
dialirkan untuk mengeringkannya secara keseluruhan.Proses ini memakan
waktu 12 hingga 17 jam,(bisa juga dijemur)Pada akhir pemrosesan daun teh
menjadi layu dan lunak sehingga mudah untuk dipilin.

23
3. Penggilingan (Rolling)

Selanjutnya, daun teh yang telah dilayukan masuk pada tahap penggilingan.
Pada tahap ini, daun teh digiling untuk memecah sel-sel daun. Pemecahan
daun teh disesuaikan dengan kebutuhan atau permintaan pasar. Daun teh ada
yang digiling kasar dan ada yang digiling sampai menjadi serbuk.

24
Tea rolling machine

4. Pememaran

Untuk mengajukan dan mempercepat oksidasi, daun boleh dimemarkan


dengan memberinya sedikit tumbukan pada keranjang atau dengan
digelindingkan dengan roda berat. Ini juga menghasilkan sedikit jus, yang
membantu oksidasi da memperbaiki citarasa teh.

5. Oksidasi (Oxidation)

Daun teh yang telah digiling disimpan pada tempat atau ruangan khusus yang
bersih dan bebas bau. Pada tahap ini, daun teh dibiarkan mengalami oksidasi.
Enzim dalam teh akan bekerja dan membentuk warna, rasa, dan aroma teh.
Untuk teh yang memerlukan oksidasi, daun dibiarkan semula di ruangan
tertutup di mana segera mereka menjadi lebih gelap. DI dalam tahap
ini klorofil pada daun dipecah secara enzimatik, dan tanninnya dikeluarkan
dan dialihbentukkan. Di industri teh, proses ini disebut fermentasi, meski
sebenarnya tidak terjadi fermentasi karena proses oksidatif ini tidak
membangkitkan energi (langkah ini tidak juga dipicu oleh mikroorganisme; di
dalam langkah pengolahan teh lainnya--misalnya penyimpanan--
mikroorganisme dapat digunakan untuk fermentasi). Penghasil teh dapat
memilih ketika oksidasi harus dihentikan. Untuk teh oolong oksidasi harus
terjadi 5-40%, pada teh oolong yang lebih cerah 60-70%, dan pada teh
hitam 100%.

25
6. Pengeringan (Drying)

Untuk menghentikan proses oksidasi, daun teh dilewatkan melalui pengering


udara panas. Proses ini mengurangi total kadar air hingga kira-kira 3% dan
menghentikan enzim. Oksidasi dihentikan pada proses ini, dan sekarang daun
teh yang sudah kering siap untuk disortir berdasarkan penggolongan kelasnya
sebelum pengemasan. Pengeringan ini dapat dilakukan dengan banyak cara,
misalnya dengan menggongseng, menjemur, menghembuskan udara panas,
atau memanggangnya. Namun, pemanggangan adalah yang paling lazim.
Pemeliharaan yang saksama mestilah dilakukan supaya pucuk daun teh tidak
terlampau
kering, atau
bahkan
hangus.

7. Penghilangan-warna-hijau

Istilah lainnya shqng () dilakukan untuk menghentikan oksidasi daun


teh pada jenjang yang diharapkan. Tahapan ini dipunahkan dengan pemanasan
sedang, enzim oksidatif dihambat, tanpa merusak rasa teh. Tradisionalnya,

26
daun teh digongseng atau dikukus, tetapi seiring majunya teknologi, tahapan
ini dilakukan dengan pemanggangan di dalam drum yang diputar. Untuk teh
hitam, tahap ini dilakukan bersama pengeringan.

8. Pembentukan

Tahap berikutnya adalah penggulungan untuk mendapatkan bentuk lajur yang


ergonomik. Biasanya dilakukan dengan menempatkannya di dalam tas
pakaian yang besar, yang kemudian ditekan-tekan oleh tangan atau mesin
untuk membentuk lajur. Tindakan penggulungan ini juga menyebabkan
beberapa pati dan jus dari dalam daun keluar, ini akan memperkaya rasa teh.
Lajur teh dapat dibentuk menjadi bentuk lain, misalnya membentuk pola
keriting, membentuk pelet, atau digulung serupa bola dan bentuk lain yang
diharapkan.

9. Pengemasan (Packaging)

Daun teh pada umumnya dikemas dalam kotak kayu yang besar dan siap
untuk diekspor. Untuk selanjutnya dapat dikemas dalam kemasan lebih kecil,
teh celup, dan lain-lain.

(PPTK, 1997)

27
C. PENANAMAN TANAMAN TEH

Persiapan Lahan
Persiapan lahan dimulai dengan pembongkaran tunggul-tunggul dan pohon
sampai ke akar agar tidak menjadi sumber penyakit akar. Lahan yang digunakan
untuk penanaman baru dapat berupa hutan belantara, semak belukar atau lahan
pertanian lain, yang telah diubah dan dipersiapkan bagi tanaman teh. Secara
umum urutan kerja persiapan lahan bagi penanaman baru adalah sebagai berikut.
1. Survey dan pemetaan tanah
Survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam me-nentukan
sarana dan prasarana yang akan dibangun seperti jalan-jalan kebun untuk transportasi
dan kontrol, pembuatan fasilitas air, serta pembuatan peta kebun dan peta
kemampuan lahan.
2. Pembongkaran pohon dan tunggul
Pelaksanaan Pembongkaran pohon dan tunggul dapat dilakukan dengan tiga
cara berikut.
a. Pohon dan tunggul dibongkar langsung secara tuntas sampai keakar-akarnya, agar
tidak menjadi sumber penyakit akar bagi tanaman teh.
b. Pohon dapat dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar dengan cara pengulitan
pohon (ring barking), mulai dari batas permukaan tanah sampai setinggi 1m. setelah
6-12 bulan, pohon akan kering dan mati.
c. Pohon dimatikan dengan penggunaan racun kimia atau aborosida seperti Natrium
arsenat atau Garlon 480 P. Pada cara ini kulit batang dikupas berkeliling selebar 10-
20cm, pada ketinggian 50-60 cm dari atas tanah, kemudian diberikan racun dengan
dosis 1,5 g/cm lingkaran batang. Pohon akan mati setelah 6-12 bulan, yaitu setelah
cadangan pati dalam akar habis. Batang ditebang pada batang leher akar dan tunggul
ditimbun sedalam 10 cm dengan tanah.
1. Pembersihan semak belukar dan gulma

28
Setelah dilaksanakan pembongkaran dan pembuangan pohon, semak belukar
dibabat, kemudian digulung kemudian dibuang ke jurang yang tidak ditanami teh,
atau ditumpuk di pinggir lahan yang akan ditanami. Sampah tersebut tidak boleh
dibakar karena pembakaran akan merusak keadaan teh, membunuh mikroorganisme
tanah yang berguna, dan akan membakar humus tanah, sehingga akan menyebabkan
tanah menjadi tandus. Pembersihan gulma dapat juga menggunakan bahan kimia
yaitu herbisida dengan dosis yang telah tercantum dalam merk dagang.
2. Pengolahan tanah
Maksud pengolahan tanah adalah mengusahakan tanah menjadi subur, gembur
dan bersih dari sisa-sisa akar dan tunggul, serta mematikan gulma yang masih
tumbuh. Areal yang akan ditanami dicangkul sebanyak dua kali. Pencangkulan
pertama dilakukan sedalam 60 cm untuk menggemburkan tanah, membersihkan sisa-
sisa akar dan gulma. Sedangkan pencangkulan kedua dilakukan setelah 2-3 minggu
pencangkulan pertama, dilakukan sedalam 40 cm untuk maratakan lahan.
3. Pembuatan jalan dan saluran drainase
Setelah pengolahan selesai selanjutnya dilakukan pengukuran dan pematokkan.
Ajir/patok dipasang setiap jarak 20 m, baik kearah panjang maupun kearah lebar.
Dengan demikian akan terbentuk petakan-petakan yang berukuran 20m x 20m atau
seluas 400 m2.
Selesai membuat petakan selanjutnya pembuatan jalan kebun. Dalam
pembuatan jalan kebun ini hendaknya dipertimbangkan faktor kemiringan lahan serta
faktor pekerjaan pemeliharaan dan pengangkutan pucuk. Dengan demikian jalan
kebun dibuat secukupnya, tidak terlalu banyak yang menyebabkan tanah terbuang dan
tidak terlalu sedikit sehingga menyulitkan pelaksanaan pekerjaan di kebun
(Darmawijaya, 1977).
Pembibitan
Tanaman teh dapat diperbanyak secara generative maupun secara vegetative.
Pada perbanyakan secara generative digunakan bahan tanam asal biji, sedangkan
perbanyakan secara vegetative digunakan bahan tanaman asal setek berupa klon.Biji
yang baik ditandai dengan beberapa ciri, antara lain:
a. Kulit biji berwarna hitam dan mengkilap.
b. Berisi penuh, dengan isi biji berwarna putih.
c. Mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada air, sehingga apabila
dimasukkan kedalam air akan tenggelam.
d. Mempunyai bentuk dan ukuran yang normal.
e. Tidak terserang penyakit, cendawan ataupun kepik biji.
Biji yang dipungut untuk dijadikan benih adalah biji yang telah jatuh ke tanah,
dikumpulkan secara teratur setiap hari, benih yang digunakan adalah benih yang baik.

29
Sebaiknya biji segera disemai karena daya kecambah biji teh cepat menurun dan biji
teh mudah menjadi busuk.
1. Penyemaian biji
Persiapan lahan untuk persemaian harus dilaksanakan 6 bulan sebelum
penyemaian benih. Tanah dibersihkan dan dicangkul sedalam 30 cm, ke-mudian
dibuat bedengan. Diantara bedengan dibuat saluran drainase untuk membuang
kelebihan air. Bedengan diberi atap naungan miring timur-barat dengan sudut
kemiringan 300. Pengecambahan biji dimaksudkan untuk memperoleh biji yang
tumbuh seragam dan serempak sehingga memudahkan pemindahannya kepersemaian
bibit atau ke kantong plastik.
2. Pemeliharaan dipersemaian bibit asal biji
Untuk memperoleh bibit yang baik, yang tumbuh subur dan sehat serta
terhindar dari gangguan hama dan penyakit, bibit dipersemaian harus dijaga dengan
baik.
Pemeliharaan bibit terdiri atas:
1. Penyiraman
2. Penyulaman
3. Penyiangan
4. Pemupukan
5. Pengendalian hama dan penyakit
6. Pengaturan naungan

3. Pemindahan bibit ke lapangan


Setelah bibit berumur dua tahun, benih yang mempunyai ukuran lebih besar
dari pensil, dapat dibongkar untuk dipindahkan ke kebun.
Cara pembongkaran bibit adalah sebagai berikut:
a. Dua minggu sebelum bibit dibongkar, batang dipotong setinggi 15-20 cm dari
permukaan tanah.
b. Bibit dibongkar dengan cara mencangkul tanah disekitar bibit sedalam 60 cm,
selanjutnya dicabut dengan hati-hati, akar tunggang dan akar se-rabut yang terlalu
panjang bisa dipotong.
c. Bibit ini disebut bibit stump, yang sebaiknya ditanam segera pada hari itu juga di
kebun yang telah dipersiapkan.
d. Bibit yang ukuran batangnya lebih kecil dari pensil sebaiknya tidak di-gunakan.

30
Pertanaman teh diarahkan pada cara memperoleh produksi yang tinggi dan
mantap, sehingga perusahaan perkebunan teh menjadi lebih efisien. Hal ini sulit
dicapai apabila digunakan bahan tanam asal biji. Karena biji merupakan hasil per-
silangan yang dapat menimbulkan perubahan sifat pada keturunannya.
Pembibitan menggunakan stek merupakan cara yang paling cepat untuk
memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah yang banyak, dan jenis klon yang di-
tentukan dapat dipastikan sifat keunggulannya sama dengan induknya. Untuk
memperoleh hasil pembibitan setek berupa setek bibit yang baik, diperlukan adanya
perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan yang baik dan tepat waktu.
Adapun lokasi untuk pembibitan, diantaranya:
1. Lokasi terbuka, drainase tanah baik dan tidak becek.
2. Dekat dengan sumber air, untuk keperluan penyiraman.
3. Dekat dengan sumber tanah, untuk mengisi polibag.
4. Lebih baik bila lahan melandai kearah timur, agar mendapat sinar matahari pagi.
5. Dekat dengan jalan agar memudahkan dalam pengawasan dan peng-angkutan ke
lokasi yang akan ditanami.
Media tanah untuk setek terdiri dari tanah lapisan atas (topsoil) dan lapisan
bawah (subsoil). Syarat-syarat subsoil yang baik adalah mengandung liat yang
relatiftinggi sehingga dapat menahan ataupun menyerap air lebih lama, kan-dungan
pasir tidak boleh lebih dari 30%, dan bahan organik maksimal 10%. Serta pH ta-nah
4,5 5,6. Mengingat pentingnya penggunaan media yang steril untuk persemaian
guna untuk membantu terciptanya bibit yang sehat dan layak untuk dikem-bangkan.
Karena suatu kondisi media persemaian merupakan salah satu faktor dalam
menentukan keberberhasilan ataupun kegagalan bibit yang dihasilkan.
Tanah disimpan selama 4-6 minggu dalam bangunan penyimpanan, dan tanah
harus tetap dalam keadaan lembab. Setelah disimpan, ayaklah tanah menggunakan
ayakan kawat yang berdiameter 1 cm. sebelum media tanah di-masukkan kedalam
kantong plastik, terlebih dahulu dicampur dulu dengan pupuk, fungisida dan tawas.
Bahan campuran dan dosis untuk media tanah dapat dilihat pada Tabel 1.
Adapun pengambilan ranting stek atau stekres mulai dapat diambil 4 bulan
setelah pemangkasan. Tanda bahwa setekres matang ialah apabila pangkal stekres
sepanjang 10 cm sudah menunjukkan warna coklat. ranting dipotong dengan pisau
tajam. Satu stek terdiri dari satu lembar daun dengan ruas sepanjang 0.5 cm diatas
dan 3-4 cm dibawah buku. Setek ditampung dalam satu tempat yang berisi air bersih.
Stek tidak boleh direndam lebih dari 30 menit. Dari satu ranting stek hanya
digunakan bagian tengahnya saja dan rata-rata diperoleh 3-4 stek yang baik untuk
dijadikan bibit.
Tabel 1. Bahan Campuran untuk Media Tanam

31
Dosis per m3 Tanah
No Bahan Campuran Keterangan
Topsoil Subsoil
1 TSP 500 g -
2 KCl 500 g -
3 Dithane 400 g 300 g
M 45/Manzate/Vandozep
4 Tawas 600 g 1000 g
5 Vapam 250 ml 250 ml Fumigan
6 Basamid 150 g 150 g Fumigan
Sumber: Setyamidjaja (2000).
Penanaman setek:
1. Satu hari sebelum setek ditanam, kantong plastik/polibag yang sudah berisi tanah
disiram dengan air bersih sampai cukup basah.
2. Setek dicelupkan dalam larutan Dithane M 45 0,2% selama 1 menit dan Atonik
0,025% selama 2 menit.
3. Setek ditanam dengan mengarah daun ke tangan si penanam. Arah daun miring
ke atas dan tidak boleh saling menutupi satu sama lain.
4. Setelah itu disiram kembali dengan air bersih secara hati-hati agar setekan tidak
goyah.
5. Bedengan ditutup dengan sungkup plastik
6. Sungkup plastik ditutup selama 3-4 bulan tergantung pertumbuhan bibit, dan hanya
dibuka untuk keperluan pemeliharaan saja setelah itu segera ditutup kembali (setelah
pemeliharaan selesai)
Langkah-langkah penanaman setek sebagai berikut:
1. Siapkan polibag berukuran 12cm x 25cm yang sudah berlubang agar memudahkan
untuk membuang kelebihan air.
2. Isi kantong plastik dengan media tanah yang sudah dibuat lebih awal dan telah
matang. 1/3 bagian diisi dengan tanah bawah dan 2/3 bagian diisi dengan tanah
bagian atas.
3. Ambil setek teh yang sudah dipersiapkan dan memenuhi syarat selanjutnya ditanam
dalam polibag tersebut (Chasandoerjat, 1969).

32
Penanaman
Dalam penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah penentuan jarak
tanam yang tepat, pengajiran, pembuatan lubang tanam, teknik penanaman dan
penanaman tanaman pelindung yang diperlukan.
Menurut Puslitbun Gambung (1992), jarak tanam yang dianjurkan dapat dilihat pada
Tabel 2.
Tabel 2. Jarak Tanam Teh
Kemiringan tanah Jarak tanan Jumlah tanaman Keterangan
per ha
cm x cm x cm
Datar 15% 120 x 90 9.260 Baris tunggal lurus
1530% 120 x 75 11.110 Baris tunggal lurus
> 30% 120 x 60 13.888 Kontur
Batas tertentu 120x60x60 18.500 Baris berganda

Pembuatan lubang tanam dilakukan 1-2 minggu sebelum dilakukan penanaman.


Lubang tanam yang dibuat tepat di tengah-tengah diantara dua ajir. Ukuran lubang
tanamnya adalah:
1. Untuk bibit asal stump biji: 30 cm x 30 cm x 40 cm.
2. Untuk bibit stek dalam kantong plastik: 20 cm x 20 cm x 40 cm.
Ada dua kegiatan dalam proses penanaman, yaitu:
1. Pemberian pupuk dasar
Pupuk dasar yang dianjurkan terdiri atas Urea 12,5 g + TSP 5 g + KCl 5 g per
lubang. Apabila pH tanah diatas 6, maka lubang tanam diberikan belerang murni
(belerang cirrus) sebanyak 10-15 g per lubang.
2. Cara penanaman
a. Menanam bibit stump
Bibit stump biasanya ditanam pada umur 2 tahun. Bibit ditanam dengan cara
dimasukkan ke dalam lubang tanam, persis di tengah-tengah lubang, dengan leher
akar tepat dipermukaan tanah. Selanjutnya lubang tanam ditimbun dan dipadatkan
dengan diinjak. Bibit tidak boleh miring dan tanah di sekitar lubang tanam diratakan.
b. Menanam bibit asal stek
Mula-mula kantong plastik disobek pada bagian bawah dan sampingnya untuk
memudahkan melepaskan bibit dari plastik. Ujung kantong plastik bagian bawah

33
yang telah sobek ditarik keatas sehingga bagian bawah kantong plastik terbuka .
selanjutnya bibit dipegang dengan tangan kiri, disanggga dengan belahan bambu,
kemudian dimasukkan ke dalam lubang, sementara tangan kanan menimbun lubang
dengan tanah yang berada di sekitar lubang dengan menggunakan kored.
Adapun untuk penanaman pohon pelindung atau pohon naungan pertanaman
teh terdiri atas pohon pelindung sementara dan pohon pelindung tetap. Untuk dataran
rendah dan sedang, pohon pelindung sangat diperlukan oleh tanaman teh agar
pertumbuhannya baik. Jenis jenis pohon pelindung, yaitu :
1. Pohon pelindung sementara
Pohon pelindung sementara adalah pupuk hijau
seperti Theprosia sp. Atau Crotalaria sp. Penanaman pohon pelindung sementara
dilakukan setelah penanaman teh selesai. Kebutuhan benih pupuk hijau tersebut
adalah 10 kg-12 kg/ha.
2. Pohon pelindung tetap
Penanaman pohon pelindung tetap diutamakan untuk daerah dengan ketinggian
kurang dari 1.000 m dpl. Penggunaan pohon pelindung tetap bukan
jenis Leguminoceae, ini tidak dianjurkan. Jenis pelindung yang akan ditanam harus
dipilih yang memenuhi persyaratan sebagai pelindung, yaitu memilki mahkota yang
baik, perakarannya dalam dan kuat, dan resistensinya terhadap serangan hama atau
penyakit baik.
Agar pohon pelindung tetap berfungsi baik pada tanaman teh, pohon pelindung
harus sudah dapat melindungi tanaman teh pada saat tanaman teh berumur 2-3 tahun.
Untuk itu, pohon pelindung sebaiknya ditanam satu tahun sebelum dilakukan
penanaman teh.
(Syamsulbahri,1996.)

D. PEMELIHARAAN TANAMAN TEH

34
Penyulaman Teh

Kegiatan penyulaman yaitu menganti tanaman yang mati dilokasi tanam


dengan tanaman yang baru,penyulaman dilakukan tidak lebih 2 minggu setelah tanam
dengan tanaman baru yang memiliki umur yang tidak jauh berbeda dengan tanaman
yang akan kita ganti tersebut.

Penyiangan

Kegiatan penyiangan dilakukan dengan mengurangi sejumlah gulma (rumput


liar) yang bersifat sebagai pesaing dan mengangu pertumbuhan bibit the dengan cara
mengkoret dengan cangkul.

Pemupukan

Merupakan salah satu usaha untuk mendorong peningkatan produksi. Dengan


adanya pemupukan kebutuhan tanaman akan unsur hara dapat dipenuhi dan
umumnya kegiatan pemupukan dilakukan setelah kegiatan penyiagan berlangsung.
Dosis pemupukan pada tanaman teh tergantung berdasarkan umur tanam tanaman teh
tersebut dengan penggunaan pupuk anorganik seperti : Urea, SP-36 dan KCL. Untuk
tanaman umur 1 tahun (dosis/gram/tanaman/hektar) (15 gr/15gr/10gr),umur tanam 2
tahun (22gr/20gr/25gr),umur tanam 3 tahun (44gr/41gr/50gr),umur tanam 4 tahun
(89gr/83gr/100gr) dan umur tanam 5 tahun (150gr/100gr/200gr). Teknis pemberian
pupuk dapat dilakukan dengan cari ditabur atau dibenam.

Pemeliharaan dan pemangkasan


Tanaman teh yang belum menghasilkan mendapat naungan sementara dari
tanaman pupuk hijau seperti Crotalaria sp. atau Theprosia sp. Namun sementara ini
biasa ditanam selang dua baris dari tanaman teh, dan pada umur sekitar enam bulan
tingginya telah mencapai lebih dari satu meter. Agar tanaman pupuk hijau ini tidak
mengganggu pertumbuhan tanaman teh, perlu dilakukan pemangkasan. Pemangkasan
dilakukan pada tinggi 50 cm dan sisa pangkasan dihamparkan sebagai mulsa disekitar
tanaman. Pemangkasan tanaman pupuk hijau dilakukan setiap enam bulan sekali
yaitu pada waktu musim hujan. Jangan melakukan pemangkasan pada musim
kemarau karena pada saat itu tanaman teh muda membutuhkan naungan.
Pengendalian gulma
Pengendalian teh di perkebunan teh merupakan salah satu kegiatan rutin yang
sangat penting dalam pemeliharaan tanaman teh. Populasi gulma yang tumbuh tidak
terkendali, akan merugikan tanaman teh karena terjadinya persaingan di dalam
memperoleh unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang tumbuh. Jenis-jenis gulma
tertentu diduga pula mengeluarkan senyawa racun (allelopati)yang membahayakan
tanaman teh.

35
Gulma akan menimbulkan masalah besar terutama pada areal tanaman teh
muda atau pada areal tanaman teh produktif yang baru dipangkas. Hal ini sebabkan
sebagian besar permukaan tanah terbuka dan secara langsung mendapatkan sinar
matahari, sehingga perkecambahan maupun laju per-tumbuhan berbagai jenis gulma
berlangsung sangat cepat. Pengendalian gulma pada pertanaman teh bertujuan untuk
menekan serendah mungkin kerugian yang ditimbulkan akibat gulma, sehingga
diperoleh laju pertumbuhan tanaman teh dan produksi pucuk yang maksimal.
Pengendalian Hama dan Penyakit
Penyakit cacar yang disebabkan oleh jamur Exobasidium
VexansMassae berasal dari Assam, India. Untuk pertama kalinya penyakit ini
ditemukan di Indonesia pada tahun 1949, yaitu di perkebunan Bah Butong, Sumatera
Utara. Sejak saat ini penyakit cacar meluas ke hampur seluruh perkebunan teh di
Indonesia, dan menjadi penyakit yang paling merugikan, terutama untuk kebun-kebun
teh di dataran tinggi. Penyakit cacar dapat mengakibatkan kehilangan hasil sampai
dengan 40% dan penurunan kuallitas teh jadi, yang ditandai berkurangnya kandungan
theaflavin, thearubigin, kafein, substansi polimer tinggi, dan fenol total pucuk.
Intensitas serangan 28% sudah dapat mengakibatkan penurunan kualitas teh
jadi, sedangkan kehilangan hasil baru dapat terjadi pada intensitas serangan 35%.
Sampai saat ini tindakkan pengendalian penyakit cacar yang paling umum dilakukan
di kebun-kebun teh adalah penggunaan fungisida sintetik, terutama fungisida
tembaga, karena dianggap sebagai suatu teknik pengendalian yang efektif, praktis,
dan ekonomis. Pada umumnya pekebun merasa puas dengan hasil yang diperoleh,
sehingga kurang memperhatikan dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari
penggunaan fungisida tembaga. Kenyataan bahwa penggunaan fungisida tembaga
dapat memacu per-kembangan populasi tungau atau Brevipalpus
phoenicis (Martosupono, 1985).
Walaupun sampai saat ini terbukti bahwa penggunaan fungisida tembaga
merupakan cara yang paling efektif untuk mengendalikan penyakit cacar, namun
mengingat dampak negatif yang ditimbulkannya, maka perlu dipertimbangkan untuk
mulai menerapkan strategi pengendalian penyakit cacar yang meminimalkan
penggunaan fungisida sintetik umumnya, dan fungisida tembaga khususnya, yaitu
suatu strategi pengendalian yang tidak hanya menggantungkan diri pada penerapan
satu teknik pengendalian penyakit saja, tetapi mengkombinasikan berbagai teknik
pengendalian penyakit yang sesuai dan kompatibel berdasarkan pertimbangan ekologi
dan ekonomi, atau yang disebut dengan pengendalian penyakit tanaman terpadu.
(Wibowo, Z. S. 1990)

36
E. PANEN TANAMAN TEH

Pada tanaman teh, panen berarti memetik pucuk/daun teh muda yang
berkualitas dalam jumlah sebesar-besarnya dengan memperhatikan kestabilan produksi
dan kesehatan tanaman. Tanaman memasuki saat dipetik setelah berumur 3
tahun. Daun yang dipetik adalah:
- Peko: Pucuk/tunas yang sedang tumbuh aktif
- Burung: Pucuk/tunas yang sedang istirahat
- Kepel: Daun kecil yang terletak di ketiak daun tempat ranting tumbuh.

Panen teh dilakukan setelah tanaman memasuki umur tanam 2,5-3 tahun
setelah penanam di lapangan. Panen teh yang baik dilakukan diwaktu pagi hari, panen
daun teh umumnya dilakukan secara rotasi tempat pengambilan. Teknis pengembilan
daun teh dengan cara memetik daun teh muda tersebut dan memasukannya kedalam
keranjang dan siap untuk diproses lebih lanjut.

Cara Panen tanaman teh :


Terdapat tiga macam petikan teh, yaitu:
- Petikan jendangan, petikan pertama setelah pangkasan untuk membentuk
bidang petik agar datar dan rata.
- Petikan produksi, dilakukan setelah petikan jendangan:
1. Semua tunas yang melewati bidang petik dan memenuhi rumus petik
harus diambil, tunas yang melewati bidang petik tetapi belum
memenuhi rumus petik dibiarkan.
2. Tunas yang terlalu muda harus diambil.
3. Semua pucuk burung diambil.
4. Tunas cabang yang menyamping dan tingginya tidak lebih dari bidang
pangkas dibiarkan.
5. Petikan gandesan, dilakukan di kebun yang akan dipangkas dengan cara
memetik semua pucuk tanpa melihat rumus petik.

37
Pemetikan dapat dilakukan secara manual (menggunakan tangan) atau pun
mekanik (menggunakan gunting maupun mesin). Teknik pemetikan ini berpengaruh
terhadap daur petik tanaman teh. Dengan menggunakan tangan, gilir petiknya adalah
10-14 hari, dengan menggunakan gunting, gilir petiknya adalah 18-20 hari serta dengan
menggunakan mesin, gilir petiknya adalah 25-30 hari. Manfaat pemetikan
menggunakan gunting diantaranya adalah kapasitas pemetikan yang lebih tinggi dan
dapat menekan dan mengurangi populasi hama dan penyakit pada daun teh. Kelemahan
yaitu mutu petikan cenderung menjadi kasar terutama pada awal-awal pemakaian.
Sedangkan jika menggunakan mesin, kapasitas pemetikan dengan menggunakan mesin
lebih tinggi dari pada pemetikan dengan menggunakan tangan dan gunting. Pemetikan
menggunakan mesin hanya dilakukan jika jumlah pucuk yang harus dipetik melimpah
dan tidak sesuai dengan jumlah tenaga pemetik yang ada.
Pemetikan manual dilakukan oleh para pemetik teh. Pemetik teh tersebut harus
memahami cara pemetikan teh, beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memetik
teh adalah:
a. Berjajar menurut kontur tanaman
b. Mengambil semua pucuk yang posisisnya ada diatas bidang petik
c. Mengambil semua burung yang posisinya ada di atas bidang petik, yang muda
dikumpulkan sebagai hasil petik, yang tua dibuang
d. Tidak melakukan pemetikan yang ada di dalam bidang petik karena akan
mengakibatkan pertumbuhan tanaman tidak sehat
e. Tidak melakukan pemetikan ditepi tanaman yang posisisnya belum melebihi
bidang petik agar bidang petik tidak saling menutup yanh bisa menyebabkan produksi
pucuk menurun
f. Mengambil atau memetik pucuk tanggung yang posisinya sejajar dengan pucuk
yang masuk petik
g. Mengambil pucuk yang pertumbuhanya mengelompok mengarah pada cakar ayam
agar tidak megganggu pertumbuhan pucuk lainnya.
(Ghani, Mohammad A. 2002)

38
F. PASCA PANEN TANAMAN TEH

Dalam rangka menghasilkan teh yang bermutu tinggi, penanganan


pucuk teh
yang dipanen sebagai bahan baku perlu ditangani sebaik mungkin sebelum

diproses dari kebun sampai ke pabrik. Saat ini pucuk teh sesuai dengan
pasaran ada yang dibuat teh hitam, teh hijau, teh oolong dan teh wangi. Selain
itu cita rasa teh juga disajikan dalam berbagai produk kemasan dan minuman
langsung di dalam restauran dengan cara mencampur dengan bahan yang
membuat rasa teh bertambah enak. Kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan
tanaman semuanya bertujuan untuk menghasilkan kualitas catechin dan
caffein yang tinggi karena senyawa ini berperan dalam rasa, warna, dan
aroma.
Pengolahan daun teh dimaksudkan untuk mengubah komposisi kimia
daun teh segar secara terkendali, sehingga menjadi hasil olahan yang
memunculkan sifat-sifat yang dikehendaki pada air seduhannya, seperti
warna, rasa, dan aroma yang baik dan disukai. Bahan kimia yang terkandung
dalam daun teh terdiri dari empat kelompok yaitu subtansi fenol (catechin dan
flavanol), subtansi bukan fenol (pectin, resin. vitamin, dan mineral), subtansi
aromatik dan enzim-enzim.
Daun teh yang dipetik, awal mula melewati proses pelayuan yang
memakan waktu 18 jam disebuah tempat berbentuk persegi panjang bernama
withered trough. Setiap 4 jam daun dibalik secara manual. Masing-masing
withered trough memuat 1 sampai 1,5 ton daun teh. Fungsi dari proses
pelayuan ini adalah untuk menghilangkan kadar air sampai dengan 48%.
Daun-daun teh yang sudah layu kemudian dimasukan kedalam
gentong dan diangkut menggunakan monorel ke tempat proses berikutnya.
Dari monorel daun-daun dimasukan ke mesin penggilingan. 1 mesin memuat
350 kg daun teh dan waktu untuk menggiling adalah 50 menit. Setelah
digiling, daun teh dibawa ketempat untuk mengayak. Proses untuk mengayak
ini terjadi beberapa kali dengan hasil hitungan berdasarkan jumlah mengayak:
bubuk 1, bubuk 2, bubuk 3, bubuk 4, dan badag.

39
Sementara itu hasil ayakan terakhir yaitu badag tidak melewati proses
fermentasi. Badag dan bubuk-bubuk yang telah melewati proses fermentasi
kemudian dibawa ke ruangan berikutnya untuk dikeringkan. Lamanya proses
pengeringan adalah 23 menit dengan suhu 100o C. Bahan bakar untuk proses
pengeringan ini adalah kayu dan batok kelapa untuk rasa yang lebih enak.
(Ditjenbun, 2006)
Usai dikeringkan, daun dibawa ke ruangan sortasi,. Ada 3 jenis
pekerjaan yang dilakukan diruangan sortasi. pertama, memisahkan daun teh
yang berwarna hitam dan yang berwarna merah dengan menggunakan alat
yang disebut Vibro. Kedua, memisahkan ukuran besar dan ukuran kecil.
Setelah semua proses selesai dikerjakan maka teh harus diperiksa dahulu
(quality control). Bila daun tersebut memenuhi standar maka akan dikemas
ditempat penyimpanan sementara (disimpan didalam tong plastik berukuran
besar). Bila sudah siap untuk dipasarkan, contohnya di ekspor maka daun teh
yang siap dipasarkan tersebut akan dikemas kedalam papersack.
Sebagai ilustrasi hasil penelitian PPTK Gambung dalam bagian pucuk
teh
mengandung catechin 11,7 - 26,5 % dan caffein 2,5 - 4,7 % (Tabel 6).

Tabel 6. Persentase kandungan catechin dan caffein pada


pucuk tanaman teh
) Caffein (%)Bagian pucuk Catechin (%) Caffein (%)

Beberapa tahapan yang perlu diperhatikan dalam penanganan dan perawatan


pucuk:
(1) Pemetikan pucuk dilakukan secara taruk
(2) Pucuk di tangan jangan terlalu banyak
(3) Jumlah pucuk usahakan jangan terlalu padat di keranjang
(4) Pucuk jangan disiram air
(5) Pucuk yang telah disimpan dalam keranjang jangan ditumpuk

Perawatan pucuk dalam pengumpulan dan penyimpanan adalah sebagai


berikut::
(1) Isi waring penyimpanan pucuk jangan lebih 20 kg, jika terlalu berat
mudah rusak.
(2) Pengangkutan waring dari kebun ke dalam truk pengang-kut ditaruh di
atas kepala dan saat diturunkanjangan dibanting.
(3) Jika waring banyak, dibuat rak-rak dalam bak angkutanagar tidak tumpang
tindih.

40
(4) Kalau pucuk diangkut dalam waring bambu tidak perludibuat rak.
(5) Penurunan keranjang harus hati-hati jangan terbongkar.
(6) Keranjang dalam truk tidak boleh ditindih dengan barang lain termasuk
orang yang menumpang.
(7) Pucuk yang diangkut setengah dari bak truk dan hatihati menjalankan
truknya.
Setelah melalui perawatan pucuk, pucuk teh kemudian akan diolah menjadi
produk,
(Deddy dkk, 2010)

41
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan

Teh (Camelia sinesis) adalah pohon berdaun kecil, dan mempunyai banyak
cabang.
Teh berdasarkan pengolahanya ada 4, yaitu teh putih, teh hijau, teh oolong,
teh hitam.
Prapanen tanaman teh meliputi :Persiapan lahan ,Pembibitan,Penanaman
Panen teh dilakukan setelah tanaman memasuki umur tanam 2,5-3 tahun
setelah penanam di lapangan. Panen teh yang baik dilakukan diwaktu pagi
hari, panen daun teh umumnya dilakukan secara rotasi tempat pengambilan.
Pasca panen teh :Pelayuan (Withering), Penggilingan (Rolling), Pememaran,
Oksidasi (Oxidation), Pengeringan (Drying), Penghilangan-warna-hijau,
Pembentukan, Pengemasan (Packaging)

42
DAFTAR PUSTAKA

Ditjenbun. 2006. Statistik Perkebunan Indonesia 2003-2005 Teh. Direktorat


Jenderal Perkebunan. Jakarta. 24 hal.
Fulder, S., 2004. Khasiat Teh Hijau. Penerjemah : T.R. Wilujeng. Prestasi Pustaka
Publisher, Jakarta.
Ghani, Mohammad A. 2002. Dasar-dasar Budidaya Teh. Buku Pintar Mandor
Cetakan Pertama. Penebar Swadaya. Jakarta.
Graham, H.N. 1984. Tea the Plant and its Manufacture. J. of Clin Biol. 2974.
Kartasapoetra, G. 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat. Jakarta: Penerbit
Rineka Cipta.
PPTK. 1997. Petunjuk Kultur Teknik Tanaman Teh. Asosiasi Penelitian dan
Pengembangan Perkebunan Indonesia (Eds 2). Gambung. 151 hal
Potter, N, N. 1986. Food Science. Fourth Edition. New York: Van Nostrand
Reinhold.
Setyamidjaja, D.,2000. Teh Budi Daya dan Pengolahan Pasca Panen.Kanisius,
Yogyakarta.
Spillane, J, J. 1992. Komoditi Teh: Peranannya Dalam Perekonomian Indonesia.
Cetakan I. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Sujayanto, G. 2008. Khasiat Teh Untuk Kesehatan dan Kecantikan. Flona Serial
Oktober(I): hal. 34-38.
Surastri, T. Y. 2006. Analisis pemetikan Teh (CameIia sinensis (L.) O. Kuntze) Di
Perkebunan Rumpun Sari Medini PT. Abadi Tirtasentosa, Boja, Kendal, Jawa
Tengah. Skripsi. Program Studi Agronomi. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor.
Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan.
Gajahmada University Press. 318 hal.
Syakir, M., E. Karmawati, N. Bermawie, B. PRastowo, D. Soetopo, D.S. effendi,
E. Hadipoentyanti, Siswanto, Rr. Sri Hartati dan M. Yusron. 2010. Inovasi
Teknologi Perkebunan Indonesia. hlm 43-47.
Tambunan, L, A. 2010. Teh Pemanja Lidah. Trubus Januari(482): hal. 116-118.
Teh. 02 Februari 2010. http://id.wikipedia.org/wiki/Teh
Thomas, A.N.S. 2007. Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta.Kanisus.

XLIII
Wibowo, Z. S. 1990. Rasionalisasi Pemupukan Tanaman Teh Dalam Rangka
Peningkatan Produksi dan Penghapusan Subsidi Pupuk. Pusat Penelitian Teh dan
Kina. Gambung. 23 hal.
Winarno, F, G. 1992. Kimia Pangan Dan Gizi. Cetakan VI. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.

XLIV