Anda di halaman 1dari 47

PENDAHULUAN

Prevalensi anemia di dunia adalah sekitar 51%, dimana penyakit ini


cenderung terjadi lebih banyak pada negara berkembang daripada negara yang
maju. Terdapat 36% dari perkiraan populasi 3.800 juta orang di negara berkembang
menderita anemia. Anemia yang paling umum ditemukan pada masyarakat adalah
anemia defisiensi besi. Diperkirakan 25% dari penduduk dunia atau setara dengan
3.5 milyar orang menderita anemia (Abdulsalam, 2005).
Di Indonesia, anemia defisiensi besi masih menjadi masalah yang sulit
untuk ditanggulangi. Salah satu kelompok yang rentan kekurangan zat besi adalah
anak-anak, khususnya kelompok anak sekolah, dimana angka prevalensi anemia
pada kelompok ini masih tinggi (Notoamodjo, 2003). Penyebab utama anemia
defisiensi besi pada anak adalah akibat asupan zat besi yang kurang dan rendahnya
absorbs zat besi dalam tubuh (Wirakusumah, 1995). Menurut Azwar (2000), asupan
zat besi masyarakat Indonesia berkisar 70% dari Angka Kecukupan Gizi yang
dianjurkan.
Selain anemia defisiensi besi, anemia yang juga sering terjadi pada anak-
anak khususnya di benua Asia adalah anemia aplastik. Peningkatan insiden ini
diperkirakan berhubungan dengan faktor lingkungan seperti peningkatan paparan
dengan bahan kimia toksik, dibandingkan dengan faktor genetik. Penyakit yang
juga menyebabkan anemia dan sering terjadi pada anak-anak adalah Thalasemia.
Sekitar 5% penduduk dunia adalah carrier dari 300-400 ribu bayi
thalassemia yang baru lahir pertahunnya. Frekuensi gen thalassemia di Indonesia
berkisar 3-10%. Berdasarkan angka ini, diperkirakan lebih 2000 penderita baru
dilahirkan setiap tahunnya di Indonesia. Salah satu RS di Jakarta, sampai dengan
akhir tahun 2003 terdapat 1060 pasien thalassemia mayor yang berobat jalan di
Pusat Thalassemia Departemen Anak FKUI-RSCM. Fakta ini mendukung
thalasemia sebagai salah satu penyakit turunan yang terbanyak dan menyerang
hampir semua golongan etnik dan terdapat di seluruh negara di dunia termasuk
Indonesia.
Dampak anemia pada anak menyebabkan anak pucat, lemah, kurang nafsu
makan. Komplikasi ringan antara lain kelainan kuku, atrofi papil lidah, stomatitis,

1
dan komplikasi berat seperti penurunan daya tahan tubuh terhadap penyakit,
gangguan pada pertumbuhan sel tubuh dan sel otak, penurunan fungsi kognitif, anak
apatis, mudah tersinggung, cengeng, rendahnya kemampuan fisik, gangguan
motoric dan koordinasi, pengaruh psikologis dan prilaku, penurunan prestasi
belajar, yang dapat menyebabkan dampak secara luas yaitu menurunnya kualitas,
sumber daya manusia (Almatsier, 2002; Abdusalam, 2005; Wirakusumah, 1998).

2
BAB I
TINJAUAN PUSTAKA

A. Anemia
Anemia didefinisikan sebagai penurunan volume eritrosit atau kadar
Hb sampai di bawah rentang nilai yang berlaku untuk orang sehat. Tabel di
bawah ini menunjukan rata-rata dari rentang nilai Hb dan hematokrit (Ht)
pada berbagai umur anak (Bruce, 2000):
Tabel 1.1 Nilai Hematologi Selama Masa Bayi dan Anak (Bruce, 2000)..

Umur Hemoglobin (g/dL) Hematokrit


Rata-rata Rentang Rata-rata Rentang
Tali pusat 16,8 13,7-20,1 55 45-65
2 minggu 16,5 13-20 50 42-66
3 bulan 12-9 9,5-14,5 36 31-41
6 bl-6 thn 12 10,5-14 37 33-42
7-12 thn 13 11-16 38 34-40
Wanita dewasa 14 12-16 42 37-47
Pria dewasa 16 14-18 47 42-52

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang


berfungsi sebagai media transport oksigen dari paru-paru ke seluruh
jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru
paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat darah
berwarna merah. Kadar hemoglobin menggunakan satuan gram/dl. Yang
artinya banyaknya gram hemoglobin dalam 100 mililiter darah.
Nilai normal hemoglobin tergantung dari umur pasin :
1. Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl
2. Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl
3. Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl
4. Anak anak : 11-13 gram/dl
5. Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl
6. Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl

3
B. Klasifikasi Anemia
Anemia dapat diklasifikasikan menurut morfologi sel darah merah
dan berdasarkan etiologinya. Pada klasifikasi anemia menurut morfologi,
mikro dan makro menunjukan ukuran eritrosit sedangkan kromik
menunjukan warnanya (kandungan Hb) (Hary, 2005).
Pada klasifikasi berdasarkan morfologi dibagi dalam tiga klasifikasi besar:
1. Anemia normositik normokrom, dimana ukuran dan bentuk eritrosit
normal serta mengandung Hemoglobin dalam jumlah normal (MCV dan
MCHC normal atau normal rendah), contohnya pada kehilangan darah
akut, hemolisis, penyakit kronik termasuk infeksi, gangguan endokrin,
gangguan ginjal.
2. Anemia makrosistik normokrom, makrositik berarti ukuran eritrosit
lebih besar dari normal dan normokrom berarti konsentrasi Hb normal
(MCV meningkat; MCHC normal). Hal ini diakibatkan oleh gangguan
atau terhentinya sintesis asam nukleat DNA seperti yang ditemukan
pada defisiensi asam folat, anemia megaloblastik.
3. Anemia mikrositik hipokrom, mikrositik berarti kecil, hipokrom berarti
mengandung jumlah Hb kurang (MCV dan MCHC kurang), seperti pada
anemia defisensi besi, keadaan sideroblastik, kehilangan darah kronik,
dan pada thalasemia.

Gambar 1. Morfologi Sel Darah Merah pada Anemia

4
BAB II
ANEMIA PADA ANAK

A. Anemia Defisiensi Besi


1. Definisi
Anemia defisiensi besi adalah anemia yang terjadi karena
kekurangan zat besi (Fe) yang diperlukan untuk pembentukan sel darah
merah. Defisiensi besi merupakan penyebab terbanyak dari anemia di
seluruh dunia. Diperkirakan 30 % dari populasi dunia mengalami anemia
akibat defisiensi besi (Alton, 2005).
Kekurangan zat besi dapat mengurangi produksi sel darah merah.
Remaja perempuan yang kurang mengkonsumsi zat besi cenderung
mempunyai IQ rendah, demikian hasil riset terbaru yang dilakukan oleh
peneliti dari Kings College, London. Politt melakukan penelitian terhadap
46 anak berusia 3 - 5 tahun. Hasilnya menunjukkan, anak dengan defisiensi
zat besi ternyata memiliki kemampuan mengingat dan memusatkan
perhatian lebih rendah. Penelitian Sulzer dkk juga menunjukkan anak
menderita anemia akibat defisiensi zat besi mempunyai nilai lebih rendah
dalam uji IQ dan kemampuan belajar. Kurangnya zat besi akan mengurangi
jumlah hemoglobin. Otomatis hal ini membuat suplai oksigen terhambat ke
otak dan membuat otak tidak bisa bekerja secara optimal. Bagaimanapun
juga jumlah enzim yang mengatur sinyal transmisi ke otak juga tergantung
pada zat besi (Hoftbrandt et al., 2007) .

2. Epidemiologi
Prevalens ADB tinggi pada bayi, hal yang sama juga dijumpai pada
anak usia sekolah dan anak praremaja. Angka kejadian ADB pada anak usia
sekolah (5-8 tahun) di kota sekitar 5,5%, anak praremaja 2,6% dan gadis
remaja yang hamil 26%. Di Amerika Serikat sekitar 6% anak berusia I-2
tahun diketahui kekurangan besi, 3% menderita anemia. Lebih kurang 9%
gadis remaja di Amerika Serikat kekurangan besi dan 2% menderia anmeia,
sedangkan pada anak laki-laki sekitar 50% cadangan besinya berkurang saat

5
pubertas (Looker, 1997). Prevalens ADB lebih tinggi pada anak kulit hitam
dibanding kulit putih. Keadaan ini mungkin berhubungan dengan status
sosial ekonomi anak kulit hitam yang lebih rendah. Berdasarkan penelitian
yang pernah dilakukan di Indonesia prevalens ADB pada anak balita sekitar
25-35%. Dari hasil SKRT tahun 1992 prevalens ADB pada anak balita di
Indonesia adalah 55,5% (Depkes RI, 1996; Hoftbrandt et al., 2007; Shinton,
2008).

3. Etiologi
Terjadinya ADB sangat ditentukan oleh kemampuan absorpsi besi,
diit yang mengandung besi, kebutuhan besi yang meningkat dan jumlah besi
yang hilang dari tubuh. Beberapa penyebab kekurangan zat besi diantaranya
adalah (Baker, 2010; Killip et al., 2997; WHO, 2001).
a. Kebutuhan yang meningkat secara fisiologis
1) Pertumbuhan
Pada periode pertumbuhan cepat yaitu pada umur 1 tahun
pertama dan masa remaja kebutuhan besi akan meningkat, sehingga
pada periode ini insiden ADB meningkat. Pada bayi umur 1 tahun,
berat badannya meningkat 3 kali dan masa hemoglobin dalam
sirkulasi mencapai 2 kali lipat dibanding saat lahir. Bayi prematur
dengan pertumbuhan sangat cepat, pada umur 1 tahun berat
badannya dapat mencapai 6 kali dan massa hemoglobin dalam
sirkulasi mencapai 3 kali dibanding saat lahir.
2) Menstruasi
Penyebab kurang besi yang sering terjadi pada anak
perempuan adalah kehilangan darah lewat menstruasi.
b. Kurangnya besi yang diserap
1) Masukan besi dari makanan yang tidak adekuat
Seorang bayi pada 1 tahun pertama kehidupannya
membutuhkan makanan yang banyak mengandung besi. Bayi cukup
bulan akan menyerap Iebih kurang 200 mg besi selama 1 tahun
pertama (0,5 mg/hari) yang terutama digunakan untuk

6
pertumbuhannya. Bayi yang mendapat ASI eksklusif jarang
menderita kekurangan besi pada 6 bulan pertama. Hal ini disebabkan
besi yang terkandung di dalam ASI lebih mudah diserap
dibandingkan susu yang terkandung susu formula. Diperkirakan
sekitar 40% besi dalam ASI diabsorpsi bayi, sedangkan clari PASI
hanya 10% besi yang dapat diabsorpsi.
2) Malabsorpsi besi
Keadaan ini sering dijumpai pada anak kurang gizi yang
mulkosa ususnya mengalami perubahan secara histologis dan
fungsional. Pada orang yang telah mengalami gastrektomi parsial
atau total sering disertai ADB walaupun penderita mendapat
makanan yang cukup besi. Hal ini disebabkan berkurangnya jumlah
asam lambung dan makanan lebih cepat melalui bagian atas usus
halus, tempat utama penyerapan besi heme dan non heme.

c. Perdarahan
Kehilangan darah akibat perdarahan merupakan penyebab penting
terjadinya ADB. Kehilangan darah akan mempengaruhi keseimbangan
status besi. Kehilangan darah 1ml akan mengakibatkan kehilangan besi
0,5 mg, sehingga kehilangan darah 3-4 ml/hari (1,5-2 mg besi) dapat
mengakibatkan keseimbangan negatif besi.
Perdarahan dapat berupa perdaraban saluran cerna, milk induced
enteropathy, ulkus peptikum, karena obat-obatan (asam asetil salisilat,
kortikosteroid, indometasin, obat anti inflamasi non steroid) dan
nfestasi cacing (Ancylostoma duodenale dan Necator americanus) yang
menyerang usus balus bagian proksimal dan menghisap darah dari
pembuluh darah submukosa usus.
d. Transfusi feto-maternal
Kebocoran darah yang kronis kedalam sirkulasi ibu akan
menyebabkan ADB pada akhir masa fetus dan pada awal masa neonatus.

7
e. Hemoglobinuria
Keadaan ini biasanya dijumpai pada anak yang memakai katup
jantung buatan. Pada Paroxismal Nocturnal Hemoglobinuria (PNH)
kehilangan besi melalui urin rata-rata 1,8-7,8 mg/hari
f. latrogenic blood loss
Pada anak yang banyak diambil darah vena untuk pemeriksaan
laboratorium berisiko untuk menderita ADB.
g. ldiopathic pulmonary hemosiderosis
Penyakit ini jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan perdaraban
paru yang bebat dan berulang serta adanya infiltrat pada paru yang
bilang timbul. Keadaan ini dapat ` menyebabkan kadar Hb menurun
rastis hingga 1,5-3 g/dl dalam 24 jam.
h. Latihan yang berlebihan
Pada atlit yang berolahraga berat seperti olah raga lintas alam,
sekitar 40% remaja perempuan dan 17% remaja laki-laki kadar feritin
serumnya < 10 ug/dl. Perdarahan saluran cerna yang tidak tampak
sebagai akibat iskemia yang bilang timbul pada usus selama latiban
berat terjadi pada 50% pelari.
4. Patofisiologi
Anemia defisiensi besi merupakan hasil akhir keseimbangan negatif
besi yang berlangsung lama. Bila kemudian keseimbangan besi yang negatif
ini menetap akan menyebabkan cadangan besi terus berkurang. 3 tahap
defisiensi besi, yaitu:
a. Tahap pertama
Tahap ini disebut iron depletion atau storage iron deficiency,
ditandai dengan berkurangnya cadangan besi atau tidak adanya
cadangan besi. Hemoglobin dan fungsi. protein besi lainnya masih
normal. Pada keadaan ini terjadi, peningkatan absorpsi besi non heme.
Feritin serum menurun sedagkan pemeriksaan lain untuk mengetahui
adanya kekurangan besi masih normal.

8
b. Tahap kedua
Pada tingkat ini yang dikenal dengan istilah iron deficient
erythropoietin atau iron limited erythropoiesis didapatkan suplai besi
yang tidak cukup untuk menunjang eritropoisis. Dari basil pemeriksaan
laboratorium diperoleh nilai besi serum menurun dan saturasi transferin
menurun sedangkan total iron binding capacity (TIBC) meningkat dan
free erythrocyte porphyrin (FEP) meningkat.
c. Tahap ketiga
Tahap inilah yang disebut sebagai iron deficiency anemia. Keadaan
ini terjadi bila besi yang menuju eritroid sumsum tulang tidak cukup
sehingga menyebabkan penurunan kadar Hb. Dari gambaran darah tepi
dihaparkan mikrositosis dan hipokromik yang progresif. Pada tahap ini
telah terjadi perubahan epitel terutama pada ADB yang lebih lanjut.
5. Penegakkan Diagnosis
Untuk menegakkan diagnosis ADB dapat dilakukan dengan menggali
anamnesis, melakukan pemeriksaan laboratorium yang meliputi
pemeriksaan darah rutin seperti Hb, PCM leukosit, trombosit ditambah
pemeriksaan indeks eritrosit, retikulosit, morfologi darah tepi dan
pemeriksaan status besi (Fe serum, Total iron binding capacity (TIBC),
saturasi transferin, FEB feritin), dan apus sumsum tulang (Hary, 2005).
a. Menifestasi Klinis
Gejala klinis ADB sering terjadi perubahan dan tidak begitu
diperhatikan oleh penderita dan keluarganya. Pada yang ringan
diagnosis ditegakkan hanya dari temuan laboratorium saja. Gejala yang
umum terjadi adalah pucat. Pada ADB dengan kadar Hb 6-1O g/dl
terjadi mekanisme kompensasi yang efektif sehingga gejala anemia
hanya ringan saja. Bila kadar Hb turun < 5 g/dl gejala iritabel dan
anoreksia akan mulai tampak lebih jelas. Bila anemia terus berlanjut
dapat terjadi takikardi, dilatasi jantung dan murmur sistolik. Narnun
kadang-kaclang pada kadar Hb < 3-4 g/dl pasien tidak mengeluh karena
tubh sudah mengadakan kompensasi, sehingga beratnya gejala ADB
sering ridak sesuai dengan kadar Hb.

9
Gejala lain yang rerjadi adalah kelainan non hematologi akibar
kekurangan besi seperti (Hary, 2005):
1) Perubahan sejumlah epitel yang menimbulkan gejala koilonikia
(bentuk kuku konkaf atau spoowshaped nail), atrofi papila lidah,
posrcricoid oesophageeal webs dan perubahan mukosa lambung dan
usus lialus.
2) lntoleransi terhadap latihan: penurunan aktivitas kerja dan daya
taban tubuh
3) Termogenesis yang tidak normal: terjadi ketidakmampuan untuk
mempertahankan suhu tubuh normal pada saat udara dingin
4) Daya tahan rubuh terhadap infeksi menurun,hal ini terjadi karena
fungsi leukosit yang tidak normal. Pada penderita ADB neutrofil
mempunyai kemampuan untuk fagositosis tetapi kemampuan untuk
membunuh E.coli dan S. aureus menurun.
5) Limpa hanya teraba pada 10-15% pasien dan pada kasus kronis bisa
terjadi pelebaran diploe tengkorak. Perubahan ini dapat diperbaiki
dengan terapi yang adekuat.
b. Pemeriksaan Laboratorium
Hasil pemeriksaan laboratorium yang dapat ditemukan pada anemia
defisiensi besi diantaranya adalah:
1) Apus darah tepi:
Eritrosit : hipokrom mikrositer
Leukosit : jumlahnya normal, granulositopenia ringan dan
terdapat mielosit
Trombosit : biasanya meningkat sampai dua kali trombosit
normal
2) Apusan sumsum tulang : hyperplasia eritropoiesis dengan
kelompok-kelompok normoblas basofil. Bentuk pronormoblas,
normoblas kecil-kecil dengan sitoplasma ireguler, sideroblas
negatif.
3) Nilai absolute menurun
4) Retikulosit menurun

10
5) Fe serum rendah
6) TIBC (Total Iron Binding Capasity) meningkat
7) Feritin menurun
(Hary, 2005).
Kriteria diagnosis ADB menurut WHO dan Lanzkowsky:16
a. Kadar Hb kurang dari normal sesuai usia
b. Konsentrasi Hb eritrosit rata-rata < 31% (Normal : 32 35 %)
c. Kadar Fe serum < 50 Ug/dl ( Normal 80 180 ug/dl)
d. Saturasi transferin < 15% (Normal 20 50 %)
Kriteria diagnosis ADB menurut Cook dan Monsen
a. Anemia mikrositik hipokromik
b. Saturasi transferrin <16%
c. Nilai FEP > 100ug/dl eritrosit
d. Kadar Feritin serum < 12 ug/dl
Minimal 2 dari 3 kriteria (Saturasi transferrin, ferritin serum dan FEP)
Kriteria diagnosis ADB menurut Lanzkowsky
e. Pemeriksaan apus darah tepi hipokrom mikrositik yang dikonfirmasi
dengan kadar MCV, MCH, dan MCHC yang menurun. Red cell
distribution width (RDW) >17%
f. FEP meningkat
g. Feritin serum menurun
h. Fe serum menurun, TIBC meningkat, ST <16%
i. Respon terhadap pemberian preparat besi
1) Retikulositosis mencapai puncak pada hari ke 5-10 setelah
pemberian besi
2) Kadar Hb meningkat rata-rata 0.25-0.4 g/dl/hari atau PCV
meningkat 1%/hari
j. Sumsum tulang
1) Maturasi sitoplasma tertunda
2) Pada perwarnaan sumsum tulang tidak ditemukan besi atau besi
berkurang.

11
6. Penatalaksanaan
Prinsip penatalaksnaan ADB adalah mengetahui faktor penyebab
dan mengatasinya serta rnemberikan terapi penggantian dengan preparat
besi. Sekitar 80-85% penyebab ADB dapat diketahui sehingga
penanganannya dapat dilakukan dengan tepat. Pemberian preparat Fe dapat
secara peroral atau parenteral. Pemberian peroral lebih aman, murah dan
sama efektifnya dengan pemberian secara parenteral. Pemberian secara
parenteral dilakukan pada penderita yang tidak dapat memakan obat peroral
atau kebutuhan besinya tidak dapat terpenuhi secara peroral karena ada
gangguan pencernaan (Adamson, 2004; Bruce, 2000).
a. Pemberian Preparat Besi
1) Pemberian preparat besi peroral
Garam ferous diabsorpsi sekitar 3 kali lebih balk
dibandingkari garam feri. Preparat yang tersedia berupa ferous
glukonat, fumarat dan suksinant. Yang sering dipakai adalah ferrous
sulfat karena harganya yang lebih murah, Ferous glukonat, ferous
fumarat dan ferous suksinat diabsorpsi sama baiknya. Untuk bayi
tersedia preparat besi berupa tetes (drop).
Untuk mendapatkan respons pengobatan dosis besi yang
dipakai 4-6 mg hesi elemental/kgBB/hari. Dosis obat dihitung
berdasarkan kandungan besi elemental yang ada dalam garam
ferous. Garam ferous sulfat mengandung besi elemental sebanyak
20%. Dosis obat yang terlalu besar akan menimhulkan efek samping
pada saluran pencernaan dan tidak memberikan efek penyembuhan
yang lebih cepat. Absorpsi besi yang terbaik adalah pada saat
lambung kosong, diantara dua waktu makan, alkan tetapi dapat
menimbulkan efek samping pada saluran cerna. Untuk mengatasi
hal tersebut pemberian besi dapat dilakukan pada saat makan atau
segera setelah makan meskipun akan mengurangi absorpsi obat
sekitar 40-50%. Obat diberikan dalam 2-3 dosis sehari. Tindakan
tersebut lebih penting karena dapat diterima tubuh dan akan

12
meningkatkan kepatuhan penclerita. Preparat besi ini harus terus
diberikan selama 2 bulan setelah anemia pada penderita teratasi.
Tabel. 2.1 Pemberian dosis besi sesuai usia yg dianjurkan pada anak
Usia Dosis Besi Elemental Lama Pemberian
BBLR (<2500gram) 3mg/kgBB/hari Usia 1 bulan 2 tahun
Cukup bulan 2mg/kgBB/hari Usia 4 bulan 2 tahun
2 5 tahun 1mg/kgBB/hari 2x/minggu selama 3 bulan
berturut turut setiap tahun
>5 12 tahun (usia s 1mg/kgBB/hari 2x/minggu selama 3 bulan
ekolah) berturut turut setiap tahun
12 18 (remaja) 60mg/hari 2x/minggu selama 3 bulan
berturut turut setiap tahun

Respons terapi dari pemberian preparat besi dapat dilihat secara


klinis dan dari pemeriksaan laboratorinm, seperti tampak pada tabel di
bawah ini

Efek samping pemberian preparat besi peroral Iebih sering terjadi


pada orang dewasa dibandingkan bayi dan anak. Pewarnaan gigi yang
bersifat sementara dapat dihindari dengan meletakkan Iarutan tersebut ke
bagian belakang Iidah dengan cara tetesan.

2) Pemberian preparat besi parenteral


Pemberian besi secara intramuskuiar menimbulkan rasa sakit
dan harganya mahal. Dapat menyebabkan limfadenopati regional

13
dan reaksi alergi. Kemampuan untuk menaikkan kadar Hb tidak
Iebih baik ibanding perorai. Preparat yang sering dipakai adalah
dekstran besi. Larutan ini mengandung 5O mg besi/ml. Dosis
dihirung berdasarkan:
Dosis besi (mg) = BB(kg) x kadar Hb yangdiinginkan (g/dl) x 2,5
3) Transfusi darah
Transfusi darah jarang diperlukan. Transfusi darah hanya
diberikan pada keadaan anemia yang sangat erat atau yang disertai
infeksi yang dapat mempengaruhi respons terapi. Koreksi anemia
berat dengan transfusi tidak perlu secepatnya, malah akan
membahayakan karena dapat menyebabkan hipervolemia dan
dilatasi jantung. Pemberian PRC dilakukan secara perlahan dalam
jumlah yang cukup untuk menaikkan kadar Hb sampai tingkat aman
sambil menunggu respon terapi besi. Secara umum, untuk penderira
anemia berat dengan kadar Hb < 4 g/dl hanya diberi PRC dengan
dosis 2-3 ml/kgBB persatu kali pemberian disertai pemberian
diuretik seperti furosemid. Jika terdapat gagal jantung nyata dapat
dipertimbangkan pemberian transfusi tukar menggunakan PRC yang
segar.

B. Anemia Aplastik
1. Definisi
Anemia aplastik adalah kelainan hematologik yang ditandai dengan
penurunan komponen selular pada darah tepi yang diakibatkan oleh
kegagalan produksi di sumsum tulang. Pada keadaan ini jumlah sel-sel
darah yang diproduksi tidak memadai. Penderita mengalami pansitopenia,
yaitu keadaan dimana terjadi kekurangan jumlah sel darah merah, sel darah
putih, dan trombosit (Salonder et al., 1993; Biswajit et al., 2012).
2. Epidemiologi
Insidensi anemia aplastik bervariasi di seluruh dunia, berkisar antara 2
sampai 6 kasus persejuta penduduk pertahun (Salonder et al.,
1993). Insidensi anemia aplastik diperkirakan lebih sering terjadi di negara

14
Timur dibanding negara Barat. Peningkatan insiden mungkin berhubungan
dengan faktor lingkungan seperti peningkatan paparan terhadap bahan
kimia toksik dibandingkan faktor genetik. Hal ini dibuktikan dengan tidak
adanya peningkatan insiden pada penduduk Asia yang tinggal di Amerika
(Biswajit et al., 2012; Niazzi, 2011).

Anemia aplastik jarang ditemukan. Insidensi bervariasi di seluruh dunia,


berkisar antara 2 sampai 6 kasus persejuta penduduk pertahun (Salonder et
al., 1993). Analisis retrospektif di Amerika Serikat memperkirakan insiden
anemia aplastik berkisar antara 2 sampai 5 kasus persejuta penduduk
pertahun (Shadduck, 2007). The Internasional Aplastic Anemia and
Agranulocytosis Study dan French Study memperkirakan ada 2 kasus
persejuta orang pertahun (Salonder et al., 1993; Shadduck, 2007). Frekuensi
tertinggi anemia aplastik terjadi pada orang berusia 15 sampai 25 tahun;
peringkat kedua terjadi pada usia 65 sampai 69 tahun. Anemia aplastik lebih
sering terjadi di Timur Jauh, dimana insiden kira-kira 7 kasus persejuta
penduduk di Cina, 4 kasus persejuta penduduk di Thailand dan 5 kasus
persejuta penduduk di Malaysia. Penjelasan kenapa insiden di Asia Timur
lebih besar daripada di negara Barat belum jelas (Shadduck,
2007). Peningkatan insiden ini diperkirakan berhubungan dengan faktor
lingkungan seperti peningkatan paparan dengan bahan kimia toksik,
dibandingkan dengan faktor genetik. Hal ini terbukti dengan tidak
ditemukan peningkatan insiden pada orang Asia yang tinggal di Amerika
(Niazzi, 2011).

3. Etiologi
Anemia aplastik sering diakibatkan oleh radiasi dan paparan bahan
kimia. Akan tetapi, kebanyakan pasien penyebabnya adalah idiopatik,
yang berarti penyebabnya tidak diketahui (Niazzi, 2011; Shadduck
2007). Anemia aplastik dapat juga terkait dengan radiasi, bahan bahan
kimia, obat obatan, infeksi, dan faktor genetik.

a. Radiasi

15
Aplasia sumsum tulang merupakan akibat akut yang utama dari
radiasi dimana stem sel dan progenitor sel rusak. Radiasi dapat
merusak DNA dimana jaringan-jaringan dengan mitosis yang aktif
seperti jaringan hematopoiesis sangat sensitif (Niazzi, 2011;
Paquette, 2007). Bila stem sel hematopoiesis yang terkena maka
terjadi anemia aplastik. Radiasi dapat berpengaruh pula pada stroma
sumsum tulang dan menyebabkan fibrosis (Salonder, 2001).

Efek radiasi terhadap sumsum tulang tergantung dari jenis


radiasi, dosis dan luasnya paparan sumsum tulang terhadap radiasi.
Radiasi berenergi tinggi dapat digunakan sebagai terapi dengan
dosis tinggi tanpa tanda-tanda kerusakan sumsum tulang asalkan
lapangan penyinaran tidak mengenai sebagian besar sumsum tulang.
Pada pasien yang menerima radiasi seluruh tubuh efek radiasi
tergantung dari dosis yang diterima. Efek pada sumsum tulang akan
sedikit pada dosis kurang dari 1 Sv (ekuivalen dengan 1 Gy atau 100
rads untuk sinar X). Jumlah sel darah dapat berkurang secara
reversibel pada dosis radiasi antara 1 dan 2,5 Sv (100 dan 250 rads).
Kehilangan stem sel yang ireversibel terjadi pada dosis radiasi yang
lebih tinggi. Bahkan pasien dapat meninggal disebabkan kerusakan
sumsum tulang pada dosis radiasi 5 sampai 10 Sv kecuali pasien
menerima transplantasi sumsum tulang. Paparan jangka panjang
dosis rendah radiasi eksterna juga dapat menyebabkan anemia
aplastik (Hilman et al., 2005).

b. Bahan-bahan Kimia

Bahan kimia seperti benzene dan derivat benzene berhubungan


dengan anemia aplastik dan akut myelositik leukemia (AML).
Beberapa bahan kimia yang lain seperti insektisida dan logam berat
juga berhubungan dengan anemia yang berhubungan dengan
kerusakan sumsum tulang dan pansitopenia (Hilman et al., 2005).

16
c. Obat-obatan

Anemia aplastik dapat terjadi atas dasar hipersensitivitas atau


dosis obat berlebihan. Praktis semua obat dapat menyebabkan
anemia aplastik pada seseorang dengan predisposisi genetik. Yang
sering menyebabkan anemia aplastik adalah kloramfenikol. Obat-
obatan lain yang juga sering dilaporkan adalah fenilbutazon,
senyawa sulfur, emas, dan antikonvulsan, obat-obatan sitotoksik
misalnya mieleran atau nitrosourea (Salonder, 2001).

d. Infeksi

Anemia aplastik dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti virus


hepatitis, virus Epstein-Barr, HIV dan rubella. Virus hepatitis
merupakan penyebab yang paling sering. Pansitopenia berat dapat
timbul satu sampai dua bulan setelah terinfeksi hepatitis. Walaupun
anemia aplastik jarang diakibatkan hepatitis akan tetapi terdapat
hubungan antara hepatitis seronegatif fulminan dengan anemia
aplastik.. Parvovirus B19 dapat menyebabkan krisis aplasia
sementara pada penderita anemia hemolitik kongenital (sickle cell
anemia, sferositosis herediter, dan lain-lain). Pada pasien yang
imunokompromise dimana gagal memproduksi neutralizing
antibodi terhadap Parvovirus suatu bentuk kronis red cell aplasia
dapat terjadi (Young & Maciejewski, 1997; Paquette, 2007; Hilman,
2005).

Infeksi virus biasanya berhubungan dengan supresi minimal


pada sumsum tulang, biasanya terlihat neutropenia dan sedikit
jarang trombositopenia. Virus dapat menyebabkan kerusakan
sumsum tulang secara langsung yaitu dengan infeksi dan sitolisis sel
hematopoiesis atau secara tidak langsung melalui induksi imun
sekunder, inisiasi proses autoimun yang menyebabkan
pengurangan stem sel dan progenitor sel atau destruksi jaringan
stroma penunjang (Niazzi, 2011).

17
e. Faktor Genetik

Kelompok ini sering dinamakan anemia aplastik konstitusional


dan sebagian dari padanya diturukan menurut hukum mendell,
contohnya anemia Fanconi. Anemia Fanconi merupakan kelainan
autosomal resesif yang ditandai oleh hipoplasia sumsung tulang
disertai pigmentasi coklat dikulit, hipoplasia ibu jari atau radius,
mikrosefali, retardasi mental dan seksual, kelainan ginjal dan limpa
(Salonder, 2001).

4. Patofisiologi

Penyebab dari anemia aplastik diantaranya adalah genetik,


obat-obatan, infeksi, radiasi, idiopatik yang selanjutnya apabila
pajanan dari factor resiko terus berlanjut setelah tanda hypoplasia
muncul, maka depresi sumsum tulang akan berkembang sampai titik
dimana terjadi kegagalan sempurna dan ireversibel. Karena terjadi
penurunan jumlah sel dalam sumsum tulang, ketika dilakukan
aspirasi sumsum tulang seringnya hanya menghasilkan beberapa
tetes darah. Sehingga, perlu dilakukan biopsy untuk menentukan
beratnya penurunan elemen sumsum normal dan pergantiannya oleh
lemak. Abnormalitas mungkin terjadi pada stem sel, prekusor
granulosit, eritrosit, dan trombosit sehingga berakhir pada
pansitopenia (Brunner & Suddarth, 2002).

Pansitopenia adalah penurunan sel darah merah, sel darah


putih dan trombosit. Penurunan sel darah ditandai dengan
menurunnya kadar haemoglobin dan hematokrit. Penurunan sel
darah merah menyebabkan penurunan terhadap jumlah oksigen
yang dibawa ke jaringan, yang biasanya ditandai dengan kondisi
lemah, lelah, dispneu, takikardi, ekstremitas dingin dan pucat, tanda
tanda anemia (Brunner & Suddarth, 2002).

Kelainan kedua setelah terjadinya anemia yaitu leukopenia


atau menurunnya jumlah sel darah putih (leukosit) kurang dari

18
4500/10000/mm3 penurunan sel darah putih ini akan menyebabkan
agranulositosis dan akhirnya menekan respon inflamasi. Respon
inflamasi yang tertekan akan menyebabkan infeksi dan menurunkan
sistem imunitas tubuh mekanis yang berguna untuk menyerang pada
selaput lender, kulit, silia, saluran nafas sehingga bila selaput lender
terkena maka akan mengakibatkan ulserasi dan nyeri pada mulut
serta faring, sehingga mengalami kesulitan dalam menelan dan
menyebabkan penurunan masukan diet dalam tubuh (Brunner &
Suddarth, 2002).

Kelainan ketiga setelah anemia dan leukopenia yaitu


trombositopenia, trombositopenia didefinisikan sebagai jumlah
trombosit dibawah 100.000/ mm3. Akibat dari trombositopenia
antara lain ekimosis, ptekie, epistaksis, perdarahan saluran kemih,
perdarahan susunan saraf dan perdarahan saluran cerna. Gejala dari
perdarahan saluran cerna adalah anoreksia, nausea, konstipasi, atau
diare, melena dan stomatitis sehingga akan mengakibatkan aliran
darah ke jaringan semakin menurun (Brunner & Suddarth, 2002).

5. Penegakkan Diagnosis

a. Gejala dan Pemeriksaan Fisis Anemia Aplastik

Pada anemia aplastik terdapat pansitopenia sehingga keluhan


dan gejala yang timbul adalah akibat dari pansitopenia tersebut.
Hipoplasia eritropoietik akan menimbulkan anemia dimana timbul
gejala-gejala anemia antara lain lemah, dyspnoe, palpitasi cordis,
takikardi, pucat dan lain-lain. Pengurangan elemen lekopoisis
menyebabkan granulositopenia yang akan menyebabkan penderita
menjadi peka terhadap infeksi sehingga mengakibatkan keluhan dan
gejala infeksi baik bersifat lokal maupun bersifat sistemik.
Trombositopenia tentu dapat mengakibatkan pendarahan di kulit,
selaput lendir atau pendarahan di organ-organ (Young &
Maciejewski, 1997). Pada kebanyakan pasien, gejala awal dari
anemia aplastik yang sering dikeluhkan adalah anemia atau

19
pendarahan, walaupun demam atau infeksi kadang-kadang juga
dikeluhkan (William, 1993).

b. Pemeriksaan laboratorium

1) Pemeriksaan Darah

Pada stadium awal penyakit, pansitopenia tidak selalu


ditemukan. Anemia yang terjadi bersifat normokrom normositer,
tidak disertai dengan tanda-tanda regenerasi. Adanya eritrosit
muda atau leukosit muda dalam darah tepi menandakan bukan
anemia aplastik. Kadang-kadang pula dapat ditemukan
makrositosis, anisositosis, dan poikilositosis (Salonder, 2001).

Jumlah granulosit ditemukan rendah. Pemeriksaan hitung


jenis sel darah putih menunjukkan penurunan jumlah neutrofil
dan monosit. Limfositosis relatif terdapat pada lebih dari 75%
kasus. Jumlah neutrofil kurang dari 500/mm3 dan trombosit
kurang dari 20.000/mm3 menandakan anemia aplastik berat.
Jumlah neutrofil kurang dari 200/mm3 menandakan anemia
aplastik sangat berat (Salonder, 2001).

Jumlah trombosit berkurang secara kuantitias sedang


secara kualitas normal. Perubahan kualitatif morfologi yang
signifikan dari eritrosit, leukosit atau trombosit bukan merupakan
gambaran klasik anemia aplastik yang didapat (acquired aplastic
anemia). Pada beberapa keadaan, pada mulanya hanya produksi
satu jenis sel yang berkurang sehingga diagnosisnya menjadi red
sel aplasia atau amegakariositik trombositopenia. Pada pasien
seperti ini, lini produksi sel darah lain juga akan berkurang dalam
beberapa hari sampai beberapa minggu sehingga diagnosis
anemia aplastik dapat ditegakkan (Shadduck, 2007).

Laju endap darah biasanya meningkat. Waktu pendarahan


biasanya memanjang dan begitu juga dengan waktu pembekuan
akibat adanya trombositopenia. Hemoglobin F meningkat pada

20
anemia aplastik anak dan mungkin ditemukan pada anemia
aplastik konstitusional (Salonder, 2001).

Plasma darah biasanya mengandung growth


factor hematopoiesis, termasuk erittropoietin, trombopoietin, dan
faktor yang menstimulasi koloni myeloid. Kadar Fe serum
biasanya meningkat dan klirens Fe memanjang dengan penurunan
inkorporasi Fe ke eritrosit yang bersirkulasi (Shadduck, 2007).

2) Pemeriksaan sumsum tulang

Aspirasi sumsum tulang biasanya mengandung sejumlah


spikula dengan daerah yang kosong, dipenuhi lemak dan relatif
sedikit sel hematopoiesis. Limfosit, sel plasma, makrofag dan sel
mast mungkin menyolok dan hal ini lebih menunjukkan
kekurangan sel-sel yang lain daripada menunjukkan peningkatan
elemen-elemen ini. Pada kebanyakan kasus gambaran partikel
yang ditemukan sewaktu aspirasi adalah hiposelular. Pada
beberapa keadaan, beberapa spikula dapat ditemukan
normoseluler atau bahkan hiperseluler, akan tetapi megakariosit
rendah (Shadduck, 2007).

Biopsi sumsum tulang dilakukan untuk penilaian selularitas


baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Semua spesimen
anemia aplastik ditemukan gambaran hiposelular. Aspirasi dapat
memberikan kesan hiposelular akibat kesalahan teknis (misalnya
terdilusi dengan darah perifer), atau dapat terlihat hiperseluler
karena area fokal residual hematopoiesis sehingga aspirasi
sumsum tulang ulangan dan biopsi dianjurkan untuk
mengklarifikasi diagnosis (Paquette, 2007; Young &
Maciejewski, 1997).

Suatu spesimen biopsi dianggap hiposeluler jika ditemukan


kurang dari 30% sel pada individu berumur kurang dari 60 tahun
atau jika kurang dari 20% pada individu yang berumur lebih dari

21
60 tahun (Supandiman, 2003). International Aplastic Study
Group mendefinisikan anemia aplastik berat bila selularitas
sumsum tulang kurang dari 25% atau kurang dari 50% dengan
kurang dari 30% sel hematopoiesis terlihat pada sumsum tulang
(Shadduck, 2007).

3) Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan radiologis umumnya tidak dibutuhkan untuk


menegakkan diagnosa anemia aplastik. Survei skletelal khusunya
berguna untuk sindrom kegagalan sumsum tulang yang
diturunkan, karena banyak diantaranya memperlihatkan
abnormalitas skeletal. Pada pemeriksaan MRI (Magnetic
Resonance Imaging) memberikan gambaran yang khas yaitu
ketidakhadiran elemen seluler dan digantikan oleh jaringan lemak
(Shadduck, 2007).

Diagnosa pasti ditegakkan berdasarkan pemeriksaan darah dan


dan pemeriksaan sumsum tulang. Pada anemia aplastik ditemukan
pansitopenia disertai sumsum tulang yang miskin selularitas dan kaya
akan sel lemak sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.
Pansitopenia dan hiposelularitas sumsum tulang tersebut dapat
bervariasi sehingga membuat derajat anemia aplastik (Shadduck, 2007).

f. Penatalaksanaan

Anemia berat, pendarahan akibat trombositopenia dan infeksi akibat


granulositopenia dan monositopenia memerlukan tatalaksana untuk
menghilangkan kondisi yang potensial mengancam nyawa ini dan untuk
memperbaiki keadaan pasien (Shadduck, 2007).

Manajemen Awal Anemia Aplastik

1) Menghentikan semua obat-obat atau penggunaan agen kimia yang


diduga menjadi penyebab anemia aplastik.

22
2) Anemia : transfusi PRC bila terdapat anemia berat sesuai yang
dibutuhkan.
3) Pendarahan hebat akibat trombositopenia : transfusi trombosit sesuai
yang dibutuhkan.
4) Tindakan pencegahan terhadap infeksi bila terdapat neutropenia
berat.
5) Infeksi : kultur mikroorganisme, antibiotik spektrum luas bila
organisme spesifik tidak dapat diidentifikasi, G-CSF pada kasus
yang menakutkan; bila berat badan kurang dan infeksi ada (misalnya
oleh bakteri gram negatif dan jamur) pertimbangkan transfusi
granulosit dari donor yang belum mendapat terapi G-CSF.
6) Assessment untuk transplantasi stem sel allogenik : pemeriksaan
histocompatibilitas pasien, orang tua dan saudara kandung pasien.
(Shadduck, 2007).
C. Thalasemia
1. Definisi
Thalassemia adalah sekelompok anemia hipokromik herediter
dengan berbagai derajat keparahan. Defek genetik yang mendasari
meliputi delesi total atau parsial gen globin dan substitusi, delesi, atau
insersi nukleotida. Akibat dari berbagai perubahan ini adalah penurunan
atau tidak adanya mRNA bagi satu atau lebih rantai globin atau
pembentukan mRNA yang cacat secara fungsional. Akibatnya adalah
penurunan dan supresi total sintesis rantai polipeptida Hb. Thalasemia
merupakan penyakit genetik yang diwariskan dari orang tua kepada
anaknya dimana terjadi kelainan sintesis hemoglobin yang heterogen
akibat pengurangan produksi satu atau lebih rantai globin yang
menyebabkan ketidakseimbangan produksi rantai globin (Bruce, 2000).
2. Epidemiologi
WHO (2006) meneliti kira-kira 5% penduduk dunia adalah carrier
dari 300-400 ribu bayi thalassemia yang baru lahir pertahunnya.
Frekuensi gen thalassemia di Indonesia berkisar 3-10%. Berdasarkan
angka ini, diperkirakan lebih 2000 penderita baru dilahirkan setiap

23
tahunnya di Indonesia. Salah satu RS di Jakarta, sampai dengan akhir
tahun 2003 terdapat 1060 pasien thalassemia mayor yang berobat jalan
di Pusat Thalassemia Departemen Anak FKUI-RSCM yang terdiri dari
52,5 % pasien thalassemia homozigot, 46,2 % pasien thalassemia
HbE, serta thalassemia 1,3%. Sekitar 70-80 pasien baru, datang tiap
tahunnya. Fakta ini mendukung thalasemia sebagai salah satu penyakit
turunan yang terbanyak dan menyerang hampir semua golongan etnik
dan terdapat di seluruh negara di dunia termasuk Indonesia.
3. Patofisiologi
Thalassemia adalah kelainan herediter dari sintesis Hb akibat dari
gangguan produksi rantai globin. Penurunan produksi dari satu atau
lebih rantai globin tertentu (,,,) akan menghentikan sintesis Hb dan
menghasilkan ketidakseimbangan dengan terjadinya produksi rantai
globin lain yang normal (Bruce, 2000).
Karena dua tipe rantai globin ( dan non-) berpasangan antara satu
sama lain dengan rasio hampir 1:1 untuk membentuk Hb normal, maka
akan terjadi produksi berlebihan dari rantai globin yang normal dan
terjadi akumulasi rantai tersebut di dalam sel menyebabkan sel menjadi
tidak stabil dan memudahkan terjadinya destruksi sel.
Ketidakseimbangan ini merupakan suatu tanda khas pada semua bentuk
thalassemia. Karena alasan ini, pada sebagian besar thalassemia kurang
sesuai disebut sebagai hemoglobinopati karena pada tipe-tipe
thalassemia tersebut didapatkan rantai globin normal secara struktural
dan juga karena defeknya terbatas pada menurunnya produksi dari
rantai globin tertentu (Bruce, 2000).
Tipe thalassemia biasanya membawa nama dari rantai yang
tereduksi. Reduksi bervariasi dari mulai sedikit penurunan hingga tidak
diproduksi sama sekali (complete absence). Sebagai contoh, apabila
rantai hanya sedikit diproduksi, tipe thalassemia-nya dinamakan
sebagai thalassemia-+, sedangkan tipe thalassemia- menandakan
bahwa pada tipe tersebut rantai tidak diproduksi sama sekali.
Konsekuensi dari gangguan produksi rantai globin mengakibatkan

24
berkurangnya deposisi Hb pada sel darah merah (hipokromatik).
Defisiensi Hb menyebabkan sel darah merah menjadi lebih kecil, yang
mengarah ke gambaran klasik thalassemia yaitu anemia hipokromik
mikrositik. Hal ini berlaku hampir pada semua bentuk anemia yang
disebabkan oleh adanya gangguan produksi dari salah satu atau kedua
komponen Hb : heme atau globin. Namun hal ini tidak terjadi pada silent
carrier, karena pada penderita ini jumlah Hb dan indeks sel darah merah
berada dalam batas normal (Bruce, 2000).
Pada tipe trait thalassemia- yang paling umum, level Hb A2 (2/2)
biasanya meningkat. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya penggunaan
rantai oleh rantai bebas yang eksesif, yang mengakibatkan terjadinya
kekurangan rantai adekuat untuk dijadikan pasangan. Gen , tidak
seperti gen dan , diketahui memiliki keterbatasan fisiologis dalam
kemampuannya untuk memproduksi rantai yang stabil; dengan
berpasangan dengan rantai , rantai memproduksi Hb A2 (kira-kira
2,5-3% dari total Hb). Sebagian dari rantai yang berlebihan digunakan
untuk membentuk Hb A2, dimana sisanya (rantai ) akan terpresipitasi
di dalam sel, bereaksi dengan membran sel, mengintervensi divisi sel
normal, dan bertindak sebagai benda asing sehingga terjadinya destruksi
dari sel darah merah. Tingkat toksisitas yang disebabkan oleh rantai
yang berlebihan bervariasi berdasarkan tipe dari rantai itu sendiri
(misalnya toksisitas dari rantai pada thalassemia- lebih nyata
dibandingkan toksisitas rantai pada thalassemia-) (Bruce, 2000).
Dalam bentuk yang berat, seperti thalassemia- mayor atau anemia
Cooley, berlaku patofisiologi yang sama dimana terdapat adanya
substansial yang berlebihan. Kelebihan rantai bebas yang signifikan
akibat kurangnya rantai akan menyebabkan terjadinya pemecahan
prekursor sel darah merah di sumsum tulang (eritropoesis inefektif).
Kelainan dasar dari semua tipe thalassemia adalah
ketidakseimbangan sintesis rantai globin. Namun, konsekuensi
akumulasi dari produksi rantai globin yang berlebihan berbeda-beda
pada tiap tipe thalassemia. Pada thalassemia-, rantai yang berlebihan,

25
tidak mampu membentuk Hb tetramer, terpresipitasi di dalam prekursor
sel darah merah dan, dengan berbagai cara, menimbulkan hampir semua
gejala yang bermanifestasi pada sindroma thalassemia-; situasi ini
tidak terjadi pada thalassemia- (Bruce, 2000).
Rantai globin yang berlebihan pada thalassemia- adalah rantai
pada tahun-tahun pertama kehidupan, dan rantai pada usia yang lebih
dewasa. Rantai-rantai tipe ini relatif bersifat larut sehingga mampu
membentuk homotetramer yang, meskipun relatif tidak stabil, mampu
tetap bertahan (viable) dan dapat memproduksi molekul Hb seperti Hb
Bart (4) dan Hb H (4). Perbedaan dasar pada dua tipe utama ini
mempengaruhi perbedaan besar pada manifestasi klinis dan tingkat
keparahan dari penyakit ini (Bruce, 2000).
Rantai yang terakumulasi di dalam prekursor sel darah merah
bersifat tidak larut (insoluble), terpresipitasi di dalam sel, berinteraksi
dengan membran sel (mengakibatkan kerusakan yang signifikan), dan
mengganggu divisi sel. Kondisi ini menyebabkan terjadinya destruksi
intramedular dari prekursor sel darah merah. Sebagai tambahan, sel-sel
yang bertahan yang sampai ke sirkulasi darah perifer dengan
intracellular inclusion bodies (rantai yang berlebih) akan mengalami
hemolisis; hal ini berarti bahwa baik hemolisis maupun eritropoesis
inefektif menyebabkan anemia pada penderita dengan thalassemia-
(Bruce, 2000).
Kemampuan sebagian sel darah merah untuk mempertahankan
produksi dari rantai , yang mampu untuk berpasangan dengan sebagian
rantai yang berlebihan untuk membentuk Hb F, adalah suatu hal yang
menguntungkan. Ikatan dengan sebagian rantai berlebih tidak diragukan
lagi dapat mengurangi gejala dari penyakit dan menghasilkan Hb
tambahan yang memiliki kemampuan untuk membawa oksigen (Bruce,
2000).
Selanjutnya, peningkatan produksi Hb F sebagai respon terhadap
anemia berat, menimbulkan mekanisme lain untuk melindungi sel darah
merah pada penderita dengan thalassemia-. Peningkatan level Hb F

26
akan meningkatkan afinitas oksigen, menyebabkan terjadinya hipoksia,
dimana, bersama-sama dengan anemia berat akan menstimulasi
produksi dari eritropoetin. Akibatnya, ekspansi luas dari massa eritroid
yang inefektif akan menyebabkan ekspansi tulang berat dan deformitas.
Baik penyerapan besi dan laju metabolisme akan meningkat,
berkontribusi untuk menambah gejala klinis dan manifestasi
laboratorium dari penyakit ini. Sel darah merah abnormal dalam jumlah
besar akan diproses di limpa, yang bersama-sama dengan adanya
hematopoesis sebagai respon dari anemia yang tidak diterapi, akan
menyebabkan splenomegali masif yang akhirnya akan menimbulkan
terjadinya hipersplenisme (Bruce, 2000).
Apabila anemia kronik pada penderita dikoreksi dengan transfusi
darah secara teratur, maka ekspansi luas dari sumsum tulang akibat
eritropoesis inefektif dapat dicegah atau dikembalikan seperti semula.
Memberikan sumber besi tambahan secara teori hanya akan lebih
merugikan pasien. Namun, hal ini bukanlah masalah yang sebenarnya,
karena penyerapan besi diregulasi oleh dua faktor utama : eritropoesis
inefektif dan jumlah besi pada penderita yang bersangkutan.
Eritropoesis yang inefektif akan menyebabkan peningkatan absorpsi
besi karena adanya downregulation dari gen HAMP, yang memproduksi
hormon hepar yang dinamakan hepcidin, regulator utama pada absorpsi
besi di usus dan resirkulasi besi oleh makrofag. Hal ini terjadi pada
penderita dengan thalassemia intermedia (Bruce, 2000).
Dengan pemberian transfusi darah, eritropoesis yang inefektif dapat
diperbaiki, dan terjadi peningkatan jumlah hormon hepcidin; sehingga
penyerapan besi akan berkurang dan makrofag akan mempertahankan
kadar besi (Bruce, 2000).
Pada pasien dengan iron overload (misalnya hemokromatosis),
absorpsi besi menurun akibat meningkatnya jumlah hepsidin. Namun,
hal ini tidak terjadi pada penderita thalassemia- berat karena diduga
faktor plasma menggantikan mekanisme tersebut dan mencegah

27
terjadinya produksi hepsidin sehingga absorpsi besi terus berlangsung
meskipun penderita dalam keadaan iron overload (Bruce, 2000).
Efek hepsidin terhadap siklus besi dilakukan melalui kerja hormon
lain bernama ferroportin, yang mentransportasikan besi dari enterosit
dan makrofag menuju plasma dan menghantarkan besi dari plasenta
menuju fetus. Ferroportin diregulasi oleh jumlah penyimpanan besi dan
jumlah hepsidin. Hubungan ini juga menjelaskan mengapa penderita
dengan thalassemia- yang memiliki jumlah besi yang sama memiliki
jumlah ferritin yang berbeda sesuai dengan apakah mereka mendapat
transfusi darah teratur atau tidak. Sebagai contoh, penderita thalassemia-
intermedia yang tidak mendapatkan transfusi darah memiliki jumlah
ferritin yang lebih rendah dibandngkan dengan penderita yang
mendapatkan transfusi darah secara teratur, meskipun keduanya
memiliki jumlah besi yang sama (Bruce, 2000).
Kebanyakan besi non-heme pada individu yang sehat berikatan kuat
dengan protein pembawanya, transferrin. Pada keadaan iron overload,
seperti pada thalassemia berat, transferrin tersaturasi, dan besi bebas
ditemukan di plasma. Besi ini cukup berbahaya karena memiliki
material untuk memproduksi hidroksil radikal dan akhirnya akan
terakumulasi pada organ-organ, seperti jantung, kelenjar endokrin, dan
hati, mengakibatkan terjadinya kerusakan pada organ-organ tersebut
(organ damage) (Bruce, 2000).
4. Stadium Thalasemia
Terdapat suatu sistem pembagian stadium thalassemia berdasarkan
jumlah kumulatif transfusi darah yang diberikan pada penderita untuk
menentukan tingkat gejala yang melibatkan kardiovaskuler dan untuk
memutuskan kapan untuk memulai terapi khelasi pada pasien dengan
thalassemia- mayor atau intermedia. Pada sistem ini, pasien dibagi
menjadi tiga kelompok (Meadow, 2006) yaitu :
a. Stadium I
Merupakan mereka yang mendapat transfusi kurang dari 100 unit
Packed Red Cells (PRC). Penderita biasanya asimtomatik, pada

28
echokardiogram (ECG) hanya ditemukan sedikit penebalan pada
dinding ventrikel kiri, dan elektrokardiogram (EKG) dalam 24 jam
normal.
b. Stadium II
Merupakan mereka yang mendapat transfusi antara 100-400 unit
PRC dan memiliki keluhan lemah-lesu. Pada ECG ditemukan
penebalan dan dilatasi pada dinding ventrikel kiri. Dapat ditemukan
pulsasi atrial dan ventrikular abnormal pada EKG dalam 24 jam.
c. Stadium III
Gejala berkisar dari palpitasi hingga gagal jantung kongestif,
menurunnya fraksi ejeksi pada ECG. Pada EKG dalam 24 jam
ditemukan pulsasi prematur dari atrial dan ventrikular.
5. Klasifikasi Thalassemia dan Manifestasi Klinisnya
Saat ini dikenal sejumlah besar sindrom thalasemia; masing-masing
melibatkan penurunan produksi satu atau lebih rantai globin, yang
membentuk bermacam-macam jenis Hb yang ditemukan pada sel darah
merah. Jenis yang paling penting dalam praktek klinis adalah sindrom
yang mempengaruhi baik atau sintesis rantai maupun (Davey, 2003).

a. Thalassemia-

Anemia mikrositik yang disebabkan oleh defisiensi sintesis globin-


banyak ditemukan di Afrika, negara di daerah Mediterania, dan
sebagian besar Asia. Delesi gen globin- menyebabkan sebagian besar
kelainan ini. Terdapat empat gen globin- pada individu normal, dan
empat bentuk thalassemia- yang berbeda telah diketahui sesuai dengan
delesi satu, dua, tiga, dan semua empat gen ini (Davey, 2003).

29
Tabel 2.3 Thalassemia-

Genotip Jumlah gen Presentasi Hemoglobin Elektroforesis


Klinis Saat Lahir > 6 bulan
/ 4 Normal N N
-/ 3 Silent carrier 0-3 % Hb N
Barts
--/ atau 2 Trait thal- 2-10% Hb N
/- Barts
--/- 1 Penyakit Hb H 15-30% Hb Hb H
Bart
--/-- 0 Hydrops fetalis >75% Hb Bart -
Ket : N = hasil normal, Hb = hemoglobin, Hb Barts = 4, HbH = 4

1) Silent carrier thalassemia-


a) Merupakan tipe thalassemia subklinik yang paling umum, biasanya
ditemukan secara kebetulan diantara populasi, seringnya pada etnik
Afro-Amerika. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, terdapat 2 gen
yang terletak pada kromosom 16 (Davey, 2003).
b) Pada tipe silent carrier, salah satu gen pada kromosom 16
menghilang, menyisakan hanya 3 dari 4 gen tersebut. Penderita sehat
secara hematologis, hanya ditemukan adanya jumlah eritrosit (sel
darah merah) yang rendah dalam beberapa pemeriksaan (Davey,
2003).
c) Pada tipe ini, diagnosis tidak dapat dipastikan dengan pemeriksaan
elektroforesis Hb, sehingga harus dilakukan tes lain yang lebih
canggih. Bisa juga dicari akan adanya kelainan hematologi pada
anggota keluarga ( misalnya orangtua) untuk mendukung diagnosis.
Pemeriksaan darah lengkap pada salah satu orangtua yang
menunjukkan adanya hipokromia dan mikrositosis tanpa penyebab
yang jelas merupakan bukti yang cukup kuat menuju diagnosis
thalassemia (Davey, 2003).

30
2) Trait thalassemia-
a) Trait ini dikarakterisasi dengan anemia ringan dan jumlah sel darah
merah yang rendah. Kondisi ini disebabkan oleh hilangnya 2 gen
pada satu kromosom 16 atau satu gen pada masing-masing
kromosom. Kelainan ini sering ditemukan di Asia Tenggara,
subbenua India, dan Timur Tengah (Davey, 2003).
b) Pada bayi baru lahir yang terkena, sejumlah kecil Hb Barts (4) dapat
ditemukan pada elektroforesis Hb. Lewat umur satu bulan, Hb Barts
tidak terlihat lagi, dan kadar Hb A2 dan HbF secara khas normal
(Davey, 2003).
3) Penyakit Hb H
a) Kelainan disebabkan oleh hilangnya 3 gen globin ,
merepresentasikan thalassemia- intermedia, dengan anemia sedang
sampai berat, splenomegali, ikterus, dan jumlah sel darah merah
yang abnormal. Pada sediaan apus darah tepi yang diwarnai dengan
pewarnaan supravital akan tampak sel-sel darah merah yang
diinklusi oleh rantai tetramer (Hb H) yang tidak stabil dan
terpresipitasi di dalam eritrosit, sehingga menampilkan gambaran
golf ball. Badan inklusi ini dinamakan sebagai Heinz bodies
(Williams & Wilkins, 2003).

Gambar 4. Pewarnaan supravital pada sapuan apus darah tepi Penyakit Hb H


yang menunjukkan Heinz-Bodies

31
4) Thalassemia- mayor (Williams & Wilkins, 2003).
a) Bentuk thalassemia yang paling berat, disebabkan oleh delesi semua
gen globin-, disertai dengan tidak ada sintesis rantai sama sekali.
b) Karena Hb F, Hb A, dan Hb A2 semuanya mengandung rantai ,
maka tidak satupun dari Hb ini terbentuk. Hb Barts (4)
mendominasi pada bayi yang menderita, dan karena 4 memiliki
afinitas oksigen yang tinggi, maka bayi-bayi itu mengalami hipoksia
berat. Eritrositnya juga mengandung sejumlah kecil Hb embrional
normal (Hb Portland = 22), yang berfungsi sebagai pengangkut
oksigen.
c) Kebanyakan dari bayi-bayi ini lahir mati, dan kebanyakan dari bayi
yang lahir hidup meninggal dalam waktu beberapa jam. Bayi ini
sangat hidropik, dengan gagal jantung kongestif dan edema anasarka
berat. Yang dapat hidup dengan manajemen neonatus agresif juga
nantinya akan sangat bergantung dengan transfusi.

32
Gambar
disamping
menunjukkan
bahwa kedua
orang tua yang
pada gen nya
terdapat masing-
masing 2 gen
yang sudah
termutasi. Maka
anaknya :
25% normal, 25%
carrier, 25% 2
Delesi 1 gen : Tidak ada dampak pada
gen delesi, 25%
kesehatan, tetapi orang tersebut mewarisi gen
(Carier/Trait)
menderita
Delesi 2 gen : Hanya berpengaruh sedikit hemoglobin H
pada kelinan fungsi darah disease.
Delesi 3 gen : Anemia berat, disebut juga
Hemoglobin H (Hbh) disease
Delesi 4 gen : Berakibat fatal pada bayi
karena alpha globin tidak dihasilkan sama
sekali

Gambar 3. Thalassemia alpha menurut hukum Mendel

b. Thalassemia-
Sama dengan thalassemia-, dikenal beberapa bentuk klinis
dari thalassemia-; antara lain :
1) Silent carrier thalassemia-
Penderita tipe ini biasanya asimtomatik, hanya ditemukan
nilai eritrosit yang rendah. Mutasi yang terjadi sangat ringan, dan
merepresentasikan suatu thalassemia-+. Bentuk silent carrier
thalassemia- tidak menimbulkan kelainan yang dapat
diidentifikasi pada individu heterozigot, tetapi gen untuk

33
keadaan ini, jika diwariskan bersama-sama dengan gen untuk
thalassemia-, menghasilkan sindrom thalassemia intermedia.

Gambar 5. Thalassemia beta menurut Hukum Mendel

Gambar diatas menunjukkan bahwa kedua orangtua merupakan


carier/trait. Maka anaknya 25% normal, 50% carier/trait, 25%
mewarisi 2 gen yang termutasi (thalasemia mayor).

2) Trait thalassemia-
Penderita mengalami anemia ringan, nilai eritrosit abnormal,
dan elektroforesis Hb abnormal dimana didapatkan peningkatan
jumlah Hb A2, Hb F, atau keduanya

Gambar 6. Gambaran eritrosit pada trait thalasemia

34
Individu dengan ciri (trait) thalassemia sering
didiagnosis salah sebagai anemia defisiensi besi dan mungkin
diberi terapi yang tidak tepat dengan preparat besi selama waktu
yang panjang. Lebih dari 90% individu dengan trait thalassemia-
mempunyai peningkatan Hb-A2 yang berarti (3,4%-7%). Kira-
kira 50% individu ini juga mempunyai sedikit kenaikan HbF,
sekitar 2-6%. Pada sekelompok kecil kasus, yang benar-benar
khas, dijumpai Hb A2 normal dengan kadar HbF berkisar dari
5% sampai 15%, yang mewakili thalassemia tipe (Insley,
2005).
3) Thalassemia- yang terkait dengan variasi struktural rantai
(Insley, 2005).
a) Presentasi klinisnya bervariasi dari seringan thalassemia
media hingga seberat thalassemia- mayor
b) Ekspresi gen homozigot thalassemia (+) menghasilkan
sindrom mirip anemia Cooley yang tidak terlalu berat
(thalassemia intermedia). Deformitas skelet dan
hepatosplenomegali timbul pada penderita ini, tetapi kadar
Hb mereka biasanya bertahan pada 6-8 gr/dL tanpa transfusi.
c) Kebanyakan bentuk thalassemia- heterozigot terkait dengan
anemia ringan. Kadar Hb khas sekitar 2-3 gr/dL lebih rendah
dari nilai normal menurut umur.
d) Eritrosit adalah mikrositik hipokromik dengan poikilositosis,
ovalositosis, dan seringkali bintik-bintik basofil. Sel target
mungkin juga ditemukan tapi biasanya tidak mencolok dan
tidak spesifik untuk thalassemia.
e) MCV rendah, kira-kira 65 fL, dan MCH juga rendah (<26
pg). Penurunan ringan pada ketahanan hidup eritrosit juga
dapat diperlihatkan, tetapi tanda hemolisis biasanya tidak
ada. Kadar besi serum normal atau meningkat.
4) Thalassemia- homozigot (Anemia Cooley, Thalassemia
Mayor)

35
a) bergejala sebagai anemia hemolitik kronis yang progresif
selama 6 bulan kedua kehidupan. Transfusi darah yang
reguler diperlukan pada penderita ini untuk mencegah
kelemahan yang amat sangat dan gagal jantung yang
disebabkan oleh anemia. Tanpa transfusi, 80% penderita
meninggal pada 5 tahun pertama kehidupan.Pada kasus yang
tidak diterapi atau pada penderita yang jarang menerima
transfusi pada waktu anemia berat, terjadi hipertrofi jaringan
eritropoetik disumsum tulang maupun di luar sumsum
tulang. Tulang-tulang menjadi tipis dan fraktur patologis
mungkin terjadi. Ekspansi masif sumsum tulang di wajah dan
tengkorak menghasilkan bentuk wajah yang khas (Meadow,
2006)

Gambar 6. Deformitas tulang pada thalassemia beta mayor (Facies


Cooley)

b) Pucat, hemosiderosis, dan ikterus sama-sama memberi


kesan coklat kekuningan. Limpa dan hati membesar
karena hematopoesis ekstrameduler dan hemosiderosis.
Pada penderita yang lebih tua, limpa mungkin
sedemikian besarnya sehingga menimbulkan
ketidaknyamanan mekanis dan hipersplenisme sekunder
(Meadow, 2006).
c) Pertumbuhan terganggu pada anak yang lebih tua;
pubertas terlambat atau tidak terjadi karena kelainan

36
endokrin sekunder. Diabetes mellitus yang disebabkan
oleh siderosis pankreas mungkin terjadi. Komplikasi
jantung, termasuk aritmia dan gagal jantung kongestif
kronis yang disebabkan oleh siderosis miokardium
sering merupakan kejadian terminal (Meadow, 2006).
d) Kelainan morfologi eritrosit pada penderita thalassemia-
homozigot yang tidak ditransfusi adalah ekstrem.
Disamping hipokromia dan mikrositosis berat, banyak
ditemukan poikilosit yang terfragmentasi, aneh (sel
bizarre) dan sel target. Sejumlah besar eritrosit yang
berinti ada di darah tepi, terutama setelah splenektomi.
Inklusi intraeritrositik, yang merupakan presipitasi
kelebihan rantai , juga terlihat pasca splenektomi.
Kadar Hb turun secara cepat menjadi < 5 gr/dL kecuali
mendapat transfusi. Kadar serum besi tinggi dengan
saturasi kapasitas pengikat besi (iron binding capacity).
Gambaran biokimiawi yang nyata adalah adanya kadar
HbF yang sangat tinggi dalam eritrosit (Meadow, 2006).
6. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium darah lengkap dan pemeriksaan darah
tepi biasanya memberikan hasil yang cukup untuk menegakan
diagnosis. Evaluasi hemoglobin dapat mempertegas diagnosis beta-
talasemia. Pemeriksaan yang perlu dilakukan untuk menegakkan
diagnosis thalasemia diantaranya adalah (Langlois et al, 2008):
a. Darah
Pemeriksaan darah yang dilakukan pada pasien yang dicurigai
menderita thalasemia adalah
1) Darah rutin
Kadar hemoglobin menurun sekitar 2-8 g/dl. Sel darah putih
biasanya meningkat pada thalassemia mayor, pergeseran ke kiri
juga ditemui, mencerminkan proses hemolitik. Trombosit

37
biasanya normal kecuali terdapat pembesaran limpa yang
bermakna.
2) Mean Corluscular Volume (MCV) dan Mean Corpuscular Hb
(MCH) rendah secara signifikan, namun tidak seperti thalassemia
trait, thalassemia mayor dikaitkan dengan RDW nyata ditinggikan,
mencerminkan anisocytosis ekstrim.
3) Gambaran darah tepi
Anemia pada thalassemia mayor mempunyai sifat mikrositik
hipokrom. Pada gambaran sediaan darah tepi akan ditemukan
retikulosit, poikilositosis, tear drops sel basophilic stippling dan
target sel.

Gambar 8. Sediaan darah tepi Thalasemia

Gambar 9. Sediaan darah tepi Hb H disease


Gambar yang menunjukan adanya tampilan Heinz bodies (golf
ball apearanc(golf ball apearanc(golf ball apearance).

38
4) Serum Iron & Total Iron Binding Capacity
Kedua pemeriksaan ini dilakukan untuk menyingkirkan
kemungkinan anemia terjadi karena defisiensi besi. Kadar Fe
dalam serum meningkat, dengan saturasi yang dapat mencapai
80%. Tingkat serum ferritin biasanya sebagai monitor kelebihan
Fe dalam darah juga meningkat (Singer, 2008).
5) LFT
Kadar unconjugated bilirubin akan meningkat sampai 2-4 mg%.
bila angka tersebut sudah terlampaui maka harus dipikir adanya
kemungkinan hepatitis, obstruksi batu empedu dan cholangitis.
Serum SGOT dan SGPT akan meningkat dan menandakan adanya
kerusakan hepar. Akibat dari kerusakan ini akan berakibat juga
terjadi kelainan dalam faktor pembekuan darah.
b. Elektroforesis Hb
Diagnosis definitif ditegakkan dengan pemeriksaan
eleltroforesis hemoglobin. Pemeriksaan ini tidak hanya ditujukan
pada penderita thalassemia saja, namun juga pada orang tua, dan
saudara sekandung jika ada. Pemeriksaan ini untuk melihat jenis
hemoglobin dan kadar Hb A2. petunjuk adanya thalassemia adalah
ditemukannya Hb Barts dan Hb H. Pada thalassemia kadar Hb F
bervariasi antara 10-90%, sedangkan dalam keadaan normal
kadarnya tidak melebihi 1%.

c. Pemeriksaan sumsum tulang


Pada sumsum tulang akan tampak suatu proses eritropoesis
yang sangat aktif sekali. Ratio rata-rata antara myeloid dan eritroid

39
adalah 0,8. pada keadaan normal biasanya nilai perbandingannya
10:3.
d. Pemeriksaan radiologi
Ada hubungan erat antara metabolisme tulang dan
eritropoesis. Pada studi pencitraan mengungkapkan perubahan
klasik tulang yang biasanya ditemui pada pasien yang tidak
mendapat transfusi secara teratur. Bila tidak mendapat tranfusi
dijumpai osteopeni, resorbsi tulang meningkat, mineralisasi
berkurang, dan dapat diperbaiki dengan pemberian tranfusi darah
secara berkala. Apabila tranfusi tidak optimal terjadi ekspansi
rongga sumsum dan penipisan dari korteknya. Trabekulasi memberi
gambaran mozaik pada tulang. Tulang terngkorak memberikan
gambaran yang khas, disebut dengan hair on end yaitu menyerupai
rambut berdiri potongan pendek pada anak besar (Delvecchio,
2010).

Hair on Trabekula
end tulang jelas
Gambar 8. Brush Appearance dan trabekula kurang jelas

e. Pemeriksaan Histologis
Semua bentuk parah dari thalassemia menunjukkan sumsum tulang
yang hiperaktif dengan erythroid hyperplasia dan meningkatkan
simpanan zat besi dalam sumsum, hati, dan organ lainnya. Pasien
dengan penyakit berat yang tidak diobati, salah satu komplikasi yang
tidak biasa adalah hematopoeisis extramedular. Hiperplasia eritroid
diamati pada spesimen sumsum tulang. Peningkatan deposisi besi

40
biasanya hadir dalam sumsum, seperti yang digambarkan pada
gambar di bawah, hati, jantung, dan jaringan lain (Engkakul, 2013).

Gambar 9. Histopatologi penderita Thalasemia


7. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan pada pasien talasemia adalah :
a. terapi tranfusi darah untuk mencegah komplikasi dari anemia kronis
b. pencegahan dari resiko kelebihan besi akibat terapi transfusi
c. penatalaksanaan splenomegali
Pada anak dengan thalassemia mayor beta membutuhkan
pelayanan kesehatan yang terus menerus seumur hidupnya.

a. Tranfusi darah
Pemberian tranfusi darah ditujukan untuk mempertahankan
dan memperpanjang umur atau masa hidup pasien dengan cara
mengatasi komplikasi anemia, memberi kesempatan pada anak
untuk proses tumbuh kembang, memperpanjang umur pasien.
Terapi tranfusi darah dimulai pada usia dini ketika ia mulai
menunjukkan gejala simtomatik. Transfusi darah dilakukan melalui
pembuluh vena dan memberikan sel darah merah dengan
hemoglobin normal. Untuk mempertahankan keadaan tersebut,
transfusi darah harus dilakukan secara rutin karena dalam waktu 120
hari sel darah merah akan mati. Khusus untuk penderita beta
thalassemia intermedia, transfuse darah hanya dilakukan sesekali

41
saja, tidak secara rutin. Sedangkan untuk beta thalssemia mayor
(Cooleys Anemia) harus dilakukan secara teratur (Bruce, 2000).
Tranfusi darah diberikan bila Hb anak < 7 gr/dl dyang
diperiksa 2x berturut dengan jarak 2 minggu dan bila kadar Hb > 7
gr/dl tetapi disertai gejala klinis seperti Facies Cooley, gangguan
tumbuh kembang, fraktur tulang curiga adanya hemopoisis
ekstrameduler. Transfusi dengan dosis 15-20ml/kg PRC biasanya
diperlukan setiap 4-5 minggu (Bruce, 2000).
b. Kelasi Besi
Pasien thalasemia dengan terapi tranfusi biasanya meninggal
bukan karena penyakitnya tapi karena komplikasi dari tranfusi darah
tersebut. Komplikasi tersebut adalah penumpukan besi diberbagai
organ (Bruce, 2000).
Desferoxamine diberikan setelah kadar feritin serum sudah
mencapai 1000 mg/L atau saturasi transferin sudah mencapai 50 %,
atau sekitar setelah 10 -20 kali transfusi. Pemberian dilakukan secara
subkutan melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam dengan dosis
25-35 mg/kg BB/hari, minimal selama 5 hari berturut-turut setiap
selesai transfusi darah. Dosis desferoxamine tidak boleh melebihi 50
mg/kg/hari. Evaluasi teratur terhadap toksisitas desferoxamin
direkomendasikan pada semua pasien yang mendapat terapi ini. Saat
ini sudah tersedia kelasi besi oral, namun penggunaannya di
Indonesia belum dilakukan (Bruce, 2000).
c. Suplemen Asam Folat
Asam folat adalah vitamin B yang dapat membantu
pembangunan sel-sel darah merah yang sehat. Suplemen ini harus
tetap diminum di samping melakukan transfusi darah ataupun terapi
khelasi besi.. Asam Folat 2x1 mg/hari untuk memenuhi
kebutuhan yang meningkat (Bruce, 2000).

42
d. Splenektomi
Indikasi :
1) limpa yang terlalu besar sehingga membatasi gerak pasien,
menimbulkan peningkatan tekanan intra-abdominal dan bahaya
terjadinya rupture (Bruce, 2000).
2) meningkatnya kebutuhan tranfusi yang melebihi 240ml/kgBB
dalam 1 tahun terakhir (Bruce, 2000).
e. Transplantasi sumsum tulang
Transplantasi sumsum tulang adalah kuratif pada thalasemia
dan telah terbukti keberhasilan yang meningkat, meskipun pada
penderita yang telah menerima transfusi sanfat banyak. Namun,
prosedur ini membawa resiko morbiditas dan mortalitas yang cukup
tinggi, dan biasanya hanya dapat digunakan untuk penderita yang
mempunyai saudara kandung yang sehat (Bruce, 2000).

43
BAB III

KESIMPULAN

1. Anemia yang sering terjadi pada anak adalah anemia defisiensi besi, anemia
aplastik, dan thalassemia.
2. Anemia defisiensi adalah anemia yang terjadi karena kekurangan zat besi
(Fe) yang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah.
3. Anemia aplastik merupakan anemia yang mengakibatkan kekurangan
produksi sel darah merah, trombosit, dan leukosit akibat kegagalan produksi
di sumsum tulang.
4. Thalasemia merupakan suatu kondisi yang menyebabkan anemia yang
disebabkan oleh defek genetic, meliputi delesi total atau parsial gen globin
dan substitusi, delesi, atau insersi nukleotida.
5. Urutan anemia yang sering terjadi pada anak adalah anemia defisiensi besi,
thalassemia dan anemia aplastik.
6. Pada pemeriksaan apusan darah tepi anemia defisiensi besi dan thalassemia
menunjukkan gambaran mikrositik hipokrom, sedangkan anemia aplastik
normokromik normositer.
7. Pada penatalaksanaan anemia defisiensi besi, anemia aplastik, dan
thalassemia prinsipnya sama, adalah mengganti sel darah merah yang hilang
sesuai dengan kausanya, sehingga ketiganya memiliki indikasi
penatalaksanaan untuk transfusi darah.

44
DAFTAR PUSTAKA

Abdulsalam, .M. Triasih S. 2005. Anemia Defisiensi Besi: Diagnosis Pengobatan,


Dan Pencegahan. Jakarta: EGC
Adamson, J.W. 2004. Iron deficiency and other hypoproliferative anemia.
Harrisons Principles of Internal Medicine 16th ed. Philadelphia. Mc
Graw Hill.
Allen, L.H. 2000. Anemia and Iron Deficiency: Effects on Pregnancy Outcome.
American Journal Clinical Nutrition. 71(suppl); l 280S4S.
Andrews, N.C.2009. Iron Deficiency and Related Disordersr. Wintrobes Clinical
Hematology. I2"` ed. Philadephia Lippincott.
Almatsier, S. 2002. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Hal 249-276
Alton, I. 2005. Iron Deificiency Anemia. Guidelines for Adolescent Nutrition
Services. Minneapolis, MN: Center for Leadership, Education and
Training in Maternal and Child Nutrition, Division of Epidemiology and-
Community Health, School of Public Health, University of Minnesota.
Azwar A, 2000. Rencana Aksi Pangan Dan Gizi 2000-2005. Jakarta: Pemerintah
RI Bekerjasama Dengan WHO.
Baker, R.D., Greer FR. 2010. Clinical Report Diagnosis and Prevention of lrriii
Deficiency and 1ronDeficiency Anernia in Infants and Young Children
(05 3 Years of Age). Vol.l26: (5):576.
Berhman, R.E., Kliegman, R.M., Arvin. 2005. Nelson Ilmu Kesehatan Anak,
volume 2, edisi 15. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Biswajit, H., Pal, P. P., Sarkar T.K., Goswami, B.K., Aikat, K. 2012. Aplastic
Anemia: A Common Hematological Abnormality Among Peripheral
Pancytopenia. Vol 4 (9): 384-388
Brady, P.G. Iron deficiency anemia: a call for. South. Med. J.2007. 100(10): 966
7.
Bruce M. Camitta. 2005. Nelson texbook of Pediatrik Anemia. 17th edition.
United State of America: Saunders.
Davey, P. 2003.At a glance medicine. Jakarta: Erlangga

45
Delvecchio, M., Cavallo, L. 2010. Growth and endocrine function in thalassemia
major in childhood and adolescence. Croatia. Journal Endocrinol Invest.
h:61-8
Depkes RI (1996) Direktur Jenderal Pembinaan Kesehatan masyarakat, Pedoman
Operasional Penangguklangan Anemia Gizi di Indonesia, Jakarta.
Engkakul P, Mahashoklertwattana P, Jaovisidha S, Chuansumrit A, Poomthavorn
P, et al. 2013.Unrecognized vertebral fractures in adolescents and young
adults with thalassemia syndromes. Beirut Milan. Journal pediatric
Hematology Oncology. h:212.
Hary R. 2005. Buku Ajar Hematologi Onkologi Anak. Anemia. Ikatan Dokter
Anak Indonesia
Hoftbrandt, A.V., Moss, P.A.H., Pettit, J.E. 2006. Essential Haematology. Sm ed.
Chapter 3, Hypochromic anaemia and iron overload. h. 28-43 2.
Hillman, R.S., Ault K.A., Rinder H.M. 2005. Hematology in Clinical Practice
4th ed. New York: Lange McGraw Hill.
Killip S, Bennett IM, Chambers MD. Iron-Deficiency Anemia.Am Fam Physician.
2007 Mar l;75(5):67178.
Looker, A.C, Dallman, P.R., Carroll, M.D., Gunter, E.W., Johnson, C.l. .1997.
Prevalence of iron deficiency in the United States. JAMA .277(12):973-76.
Meadow, R., Newell, S. 2006. Lecture notes pediatrika. Jakarta: Erlangga.
Niazzi M, Rafiq F. 2011. The Incidence of Underlying Pathology in Pancytopenia.
Vol 18 (1): 76-79
Notoatmojo S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta.
Paquette R, Munker R. Aplastic Anemias. In: Munker R, Hiller E, et al (eds). 2007.
Modern Hematology Biology and Clinical Management 2nd ed. New
Jersey: Humana Press.207-16.
Salonder H. Anemia aplastik. In: Suyono S, Waspadji S, et al (eds). 2001. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga. Jakarta. Balai Penerbit
FKUI. hal. 501-8.
Shadduck RK. Aplastic anemia. In: Lichtman MA, Beutler E, et al (eds). 2007.
William Hematology 7th ed. New York : McGraw Hill Medical.

46
Shinton, N.K. Desk Reference for Hematology. 2d ed. 2008. New York: CRC
Press.hal. 11.531
Singer, S.T., Ataga, K.I. 2008. Hypercoagulability in sickle cell disease and beta-
thalassemia. New Zealand: Curr Mol Med. h:39
Supandiman, I. 1997. Hematologi Klinik Edisi kedua. Jakarta: PT Alumni, hal.95-
101
WHO. 2001. Iron Deficiency Anemia. Assessment, Prevention, and Control. A
Guide For Programme Managers.
William, D.M. 1993. Pancytopenia, aplastic anemia, and pure red cell aplasia.
Wintrobes Clinical Hematology 9th ed. Philadelpia-London: Lee&
Febiger. hal. 911-43.
Williams & Wilkins. 2003. Hematologi. Jakarta: EGC.h.20-3
Wirakusumah., Emma, S.1999. Perencanaan Menu Anemia Gizi Besi. Jakarta: PT.
Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara
Young, N.S & Maciejewski J.1997. The Pathophysiology of Acquired Aplastic
Anemia. The New England Journal of Medicine. 336:1365-137

47