Anda di halaman 1dari 19

A.

Judul : Implementasi Program Sekolah Adiwiyata Di SMA Kota Banda


Aceh

B. Latar Belakang Masalah


Ketika mempelajari filsafat pendidikan para calon guru, guru dan para

praktisi pendidikan akan selalu berhadapan dengan pertanyaan pertanyaan besar yang

mendasari makna dan tujuan pendidikan. Beberapa diantara pertanyaan besar

tersebut adalah mengapa masyarakat sampai hari ini mempercayai pendidikan.

Pendidikan yang awalnya penting guna membela kemanusiaan mengapa berimplikasi

terbalik menjadi asal muasal lahirnya ironi. Benarkah pendidikan sungguh-sungguh

sesuatu yang penting sehingga dianggap harus selalu ada. Jenis pendidikan seperti

apa dan mengapa model pendidikan tertentu harus dilaksanakan agar bisa selalu

mengubah manusia menjadi baik. "Untuk mengubah manusia menjadi baik tentunya

sangat tergantung pada bagaimana model pendidikan tersebut dilaksanakan" (Gandhi

2011, hlm 24).

Pendidikan di Indonesia digambarkan agar memberikan dampak yang

konstruktif dan melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, sebagaimana

dirumuskan dalam UU RI No.20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS atau Sistem

Pendidikan Nasional Bab II pasal 3 yang menyebutkan bahwa Pendidikan nasional

berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban

bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan

untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan

bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,

kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung

jawab.

1
2

Adiwiyata merupakan sebuah program yang bertujuan menciptakan kondisi


yang baik bagi sekolah, menjadi tempat pembelajaran dan penyadaran warga
sekolah, serta mendorong upaya-upaya penyelamatan lingkungan dan pembangunan
berkelanjutan. Adiwiyata juga diharapkan dapat mewujudkan kelembagaan sekolah
yang peduli dan berbudaya lingkungan berdasarkan norma kebersamaan,
keterbukaan, kejujuran, keadilan, dan kelestarian lingkungan hidup dan sumber daya
alam. Tujuan program adiwiyata adalah mewujudkan warga sekolah yang
bertanggungjawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup
melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung pembangunan berkelanjutan
(Kementerian Lingkungan Hidup, 2012. Hlm 3)
Pelaksanaan program sekolah Adiwiyata Di SMA Kota Banda Aceh berawal
pada tahun 2010. Diawali kerjasama antara Badan Lingkungan Hidup dan Dinas
Pendidikan Kota Banda Aceh untuk membuka pendaftaran bagi sekolah-sekolah
yang mengikuti seleksi sekolah Adiwiyata. Selain itu, Badan Lingkungan Hidup dan
Dinas Pendidikan kota Banda Aceh memberikan penyuluhan atau sosialisasi kepada
sekolah-sekolah yang ada di Kota Banda Aceh mengenai program Adiwiyata baik
sekolah negeri maupun swasta. Dalam penerapan program sekolah Adiwiyata, SMA
di Kota Banda Aceh tidak pernah mendapatkan predikat sekolah Adiwiyata tingkat
Mandiri ataupun Nasional hal tersebut dilaksanakan sejak tahun 2010 hingga tahun
2015. Dari kondisi inilah yang membuat peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
terkait dengan Implementasi Program Sekolah Adiwiyata di SMA Kota Banda
Aceh.

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka yang menjadi rumusan masalah pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Adakah penerapan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan Di
SMA Kota Banda Aceh?
2. Bagaimanakah kurikulum berbasis lingkungan di SMA Kota Banda Aceh?
3. Adakah kegiatan yang berbasif partisipatif di SMA Kota Banda Aceh?
4. Bagaimanakah pengelolaan sarana dan prasarana pendukung sekolah di SMA
Kota Banda Aceh?
3

D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar masalah dan rumusan masalah yang telah diuraikan
sebelumnya, maka tujuan penelitian ini sebagai berikut:
1. Menganalisis penerapan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan
di SMA Kota Banda Aceh
2. Menganalisis kurikulum berbasis lingkungan di SMA Kota Banda Aceh
3. Mengetahui kegiatan yang berbasif partisipatif di SMA Kota Banda Aceh
4. Mengetahui pengelolaan sarana dan prasarana pendukung sekolah di SMA
Kota Banda Aceh
E. Kajian Teoritis
1. Implementasi Kebijakan
Implementasi adalah perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan proses
interaksi antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya serta memerlukan jaringan
pelaksana, birokrasi yang efektif (Setiawan, 2004, Hlm 39). Fungsi implementasi
adalah membentuk suatu upaya yang memungkinkan tujuan-tujuan atau sasaran
kebijakan publik dapat direalisasikan sebagai hasil dari kegiatan pemerintah.
Implementasi sebenarnya menyangkut kreativitas dari pelaksana kebijakan untuk
merancang dan menemukan alat-alat khusus untuk mencapai tujuan. Hal ini karena
kebijakan negara pada umumnya masih berupa pernyataan-pernyataan umum tentang
tujuan, sasaran, dan berbagai macam sarana yang masih harus dijabarkan ke dalam
program-program yang lebih rasional yang selanjutnya dijabarkan lagi ke dalam
proyek-proyek.
Implementasi kebijakan bisa didefinisikan juga sebagai cara yang dilaksanakan
agar sebuah kebijakan dapat mencapai tujuannya. Untuk mengimplementasikan
kebijakan ada dua pilihan langkah yang memungkinkan, yaitu langsung
mengimplementasikan dalam bentuk program-program, atau dapat melalui kebijakan
turunan (derivat) dari kebijakan publik tersebut (Syafaruddin 2002, hlm 26).
Selanjutnya di dalam proses implementasi, birokrasi pemerintah
menginterpretasikan kebijakan menjadi program, jadi program dapat dipandang
sebagai kebijakan birokrasi, karena dirumuskan oleh birokrasi yang otomatis
membawa kepentingan para birokrat. Selanjutnya kebijakan birokrat ini menjadi
kebijakan politis yang lebih operasional dan siap dilaksanakan. Untuk membuat
4

kebijakan politis lebih operasional lagi agar para pelaksana di lapangan bisa
bertindak program dirumuskan sebagai proyek. Sementara Wibowo (2004, hlm 97)
mengatakan Setiap program yang diturunkan dari sebuah kebijakan mempunyai
beberapa tujuan, dan setiap tujuan dapat dicapai dengan beberapa kegiatan.
Implementasi sebuah kebijakan dapat terkomunikasikan dengan baik dari
pelaksana atau komunikator ke kelompok sasaran atau komunikan apabila
komunikasi berjalan secara efektif. Komunikasi yang efektif dari para pelaksana
program ke komunikan atau antara komunikator yang satu dengan lainnya dapat
meningkatkan kompetensi mereka dalam pelaksanaan sebuah kebijakan.
a. Program Kebijakan
Program Kebijakan menurut Arikunto (2012, hlm 135) jika dikaitkan dengan
implementasi dari sebuah kebijakan adalah suatu unit atau kesatuan kegiatan yang
berlangsung dalam proses yang berkesinambungan, dan terjadi dalam suatu
organisasi yang melibatkan sekelompok orang.
Menurut Suwitri (2011, hlm 295) pengertian program adalah cara yang disahkan
untuk mencapai tujuan, beberapa karakteristik tertentu yang dapat membantu
seseorang untuk mengindentifikasi suatu aktivitas sebagai program atau tidak yaitu:
1) Program cenderung membutuhkan staf, misalnya untuk melaksanakan atau
sebagai pelaku program.
2) Program biasanya memiliki anggaran tersendiri, program kadang biasanya juga
diidentifikasikan melalui anggaran.
3) Program memiliki identitas sendiri, yang bila berjalan secara efektif dapat diakui
oleh publik.
Program juga harus disusun dengan jelas dan jika tetap masih bersifat umum
program harus diterjemahkan secara lebih operasional menjadi proyek. Menurut
Suwitri (2011, hlm 296) Kejelasan program diperlukan untuk memeriksa dan
mengevaluasi tindakan administrasi yang dilakukan birokrasi guna mentransformasi
kebijakan menjadi kegiatan nyata.

2. Sekolah Adiwiyata
Sekolah Adiwiyata adalah salah satu program yang bertujuan terciptanya
pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan
5

hidup. Dalam program ini diharapkan setiap warga sekolah ikut terlibat dalam
kegiatan sekolah menuju lingkungan yang sehat serta menghindari dampak
lingkungan yang negatif (Peraturan Kementerian Lingkungan Hidup No. 02 Tahun
2009).
Menurut Kementerian Lingkungan Hidup (2012, hlm 04) adiwiyata mempunyai
pengertian atau makna sebagai tempat yang baik dan ideal. Di mana dapat diperoleh
segala ilmu pengetahuan dan berbagai norma serta etika yang dapat menjadi dasar
manusia menuju terciptanya kesejahteraan hidup kita dan menuju kepada cita-cita
pembangunan berkelanjutan. Tujuan program adiwiyata adalah mewujudkan warga
sekolah yang bertanggungjawab dalam upaya perlindungan dan pengelolaan
lingkungan hidup melalui tata kelola sekolah yang baik untuk mendukung
pembangunan berkelanjutan. Pelaksanaan program adiwiyata juga diletakkan pada
dua prinsip dasar:
a. Partisipatif: Komunitas sekolah terlibat dalam manajemen sekolah yang meliputi
keseluruhan proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi sesuai tanggung
jawab dan peran.
b. Berkelanjutan: Seluruh kegiatan harus dilakukan secara terencana dan terus
menerus secara komprehensif.
Pelaksanaan program sekolah adiwiyata merupakan amanah Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan
tindak lanjut dari kesepakatan Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri
Pendidikan Nasional No.03/MenLH/02/2010, No.01/II/KB/2010 Tanggal 1 Februari
2010 tentang pendidikan lingkungan hidup melalui program adiwiyata.
Dengan melaksanakan kebijakan pendidikan lingkungan hidup melalui program
Adiwiyata ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh yaitu:
a. Meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan kegiatan operasional sekolah dan
penggunaan berbagai sumber daya
b. Meningkatkan penghematan sumber dana melalui pengurangan konsumsi
berbagai sumber daya dan energi
c. Meningkatkan kondisi belajar mengajar yang lebih nyaman dan kondusif bagi
semua warga sekolah
d. Menciptakan kondisi kebersamaan bagi semua warga sekolah.
e. Meningkatkan upaya menghindari berbagai resiko dampak lingkungan negatif
dimasa yang akan datang
6

f. Menjadi tempat pembelajaran bagi generasi muda tentang nilai-nilai


pemeliharaan dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik dan benar
g. Mendapat penghargaan adiwiyata

Menurut Kementerian Lingkungan Hidup (2012. Hlm 14), Untuk mewujudkan

program adiwiyata sekolah harus berusaha memenuhi empat indikator yaitu:

a. Pengembangan kebijakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan


Menurut panduan Adiwiyata yang dikeluarkan oleh Kementrian Lingkungan

Hidup (2012, hlm 4) Indikator pertama mengandung enam kriteria yang harus

dipenuhi yaitu pengembangan visi misi yang tertuang dalam dokumen kurikulum

tingkat satuan pendidikan yang mencerminkan adanya upaya perlindungan dan

pengelolaan lingkungan hidup. Visi misi tersebut selanjutnya diuraikan dalam

rencana program dan kegiatan sekolah dan diketahui oleh semua warga sekolah.

Kriteria yang kedua adanya kebijakan tentang pengembangan materi pembelajaran

pendidikan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen kurikulum, selain itu

sekolah juga melaksanakan kegiatan rutin bertema lingkungan hidup yang

mendukung pembelajaran lingkungan hidup sekurang-kurangnya sekali sebulan.

Contoh hari-hari peringatan nasional/internasional yang bertema lingkungan hidup

adalah:

Tanggal 10 Januari : Hari Pencanangan Gerakan Satu Juta Pohon

Tanggal 2 Februari : Hari Lahan Basah

Tanggal 21 Februari : Hari Sampah

Tanggal 20 Maret : Hari Kehutanan Sedunia

Tanggal 22 Maret : Hari air

Tanggal 22 April : Hari bumi

Tanggal 22 Mei : Hari keanekaragaman Hayati


7

Tanggal 5 Juni : Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Tanggal 16 September : Hari Ozon Sedunia

Tanggal 5 Oktober : Hari Habitat

Tanggal 5 Nopember : Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

Kriteria yang ketiga adanya program atau kebijakan peningkatan kapasitas

SDM dibidang lingkungan melalui kegiatan seperti seminar, lokakarya, berjumlah

sekurang-kurangnya 50% dari jumlah total tenaga pendidik dan non kependidikan,

baik atas inisiatif sekolah maupun pihak lain selama empat tahun. Peningkatan

kapasitas SDM juga bisa dilakukan melalui kegiatan studi banding, training dan

pendidikan berjenjang berjumlah sekurang-kurangnya 20% dari jumlah tenaga

pendidik dan non kependidikan, baik atas inisiatif sekolah maupun pihak lain selama

empat tahun. Menurut Sugandhy (2007:4) Pembelajaran lingkungan hidup

merupakan upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan serta manusia ke

dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu

hidup generasi masa kini dan generasi mendatang.

Kriteria Keempat adalah adanya kebijakan sekolah dalam upaya efisiensi

penggunaan air, listrik, alat tulis kantor, dan plastik, termasuk petunjuk teknis dan

pelaksanaannya yang didukung oleh komite dan melibatkan seluruh warga sekolah,

serta adanya kegiatan monitoring secara rutin. Kriteria yang kelima adalah adanya

kebijakan, peraturan dan/atau tata tertib sekolah yang mengatur kebersihan dan

kesehatan lingkungan sekolah, seperti pengelolaan kantin, sampah, toilet, ruang

kelas, dan kawasan sekolah yang berwawasan lingkungan melalui ketersediaan ruang

terbuka hijau. Di samping itu peraturan atau tata tertib tersebut harus disosialisasikan
8

melaui rapat, upacara, seminar, serta penyebaran leaflet, spanduk, dan booklet

kepada semua warga sekolah.

Kriteria yang terakhir adalah kebijakan pengalokasian dana sekolah secara

rutin dalam RAPBS untuk kegiatan pengelolaan dan pembelajaran pendidikan

lingkungan hidup misalnya melalui peningkatan kualitas fisik lingkungan,

peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), dan pengembangan materi ajar,

minimal 10 % dari total anggaran. Kebijakan penggalangan dana mandiri untuk

pengelolaan lingkungan hidup, misalnya pengumpulan dana dari penjualan kompos

hasil karya warga sekolah, penjualan hasil tanaman langka yang dipelihara sekolah,

atau penggalangan dana yang berasal dari kerjasama dengan sponsor yang peduli

lingkungan.

b. Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan


Kementerian Lingkungan Hidup (2012, hlm 5) juga menjelaskan mengenai
indikator pengembangan pendidikan lingkungan hidup secara terintegrasi pada mata
pelajaran dan monolitik sebagai mata pelajaran tersendiri atau muatan lokal dengan
menyusun. kurikulum tingkat satuan pendidikan, silabus pendidikan lingkungan
hidup yang monolitik dan terintegrasi. Hal ini bisa dibuktikan dengan jumlah guru
yang mengampu pendidikan lingkungan hidup baik monolitik maupun terintegrasi
dengan memiliki pendidikan lingkungan hidup sesuai beban materi yang diajarkan.
Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan juga ditandai dengan tersedianya
bahan ajar sekurang-kurangnya sepuluh judul yang relevan dengan isu lingkungan,
dan tidak kalah pentingnya adalah adanya dokumentasi hasil belajar pendidikan
lingkungan hidup setiap peserta didik.
Pengembangan kurikulum berbasis lingkungan juga harus ditandai dengan
teridentifikasinya isu lingkungan lokal yang dapat mendukung penerapan Perda,
Renstra, kebijakan lain tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dari
pemda setempat. Dengan terindentifikasinya isu lokal maka pembelajaran pendidikan
9

lingkungan hidup dapat terlaksana melalui kegiatan eksplorasi permasalahan


lingkungan hidup masyarakat setempat yang tertuang dalam dokumen kurikulum
tingkat satuan pendidikan. Dengan dukungan dan keterlibatan komite sekolah dalam
penentuan materi pendidikan lingkungan hidup akan mendukung tersedianya bahan
ajar yang kontekstual dengan potensi dan persoalan lingkungan hidup di masyarakat
sekitar.
Kriteria yang ketiga adalah pengembangan metode belajar berbasis lingkungan
dan budaya ditandai dengan adanya aksi provokatif yang mendorong terciptanya
karakter peduli dan berbudaya lingkungan, dilakukannya pendidikan lingkungan
hidup secara proporsional antara teori dan praktik, penerapan secara variatif metode
pembelajaran yang berfokus pada siswa sesuai dengan kebutuhan antara lain Focus
Group Discussion, penugasan, observasi, project work, dll, pemanfaatan narasumber
antara lain tokoh masyarakat, pakar lingkungan hidup, orang tua peserta didik secara
terencana, dan terkait dengan mata pelajaran, pemanfaatan nilai kearifan dan budaya
lokal dalam pembelajaran lingkungan hidup, pemanfaatan lingkungan sekitar dalam
pengembangan metoda belajar baik biotik maupun abiotik. Menurut Zen (1982, hlm
65) Kelestarian tata lingkungan harus berdasarkan suatu tata nilai, yakni tata nilai
pengetahuan dengan alam lingkungan itu sendiri. Azas ini harus mulai ditumbuhkan
melalui pendidikan sekolah, dari taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi agar
lambat laun tumbuh rasa cinta kasih kepada lingkungan, serta tangung jawab
sepenuhnya setiap manusia untuk memelihara kelestarian tata lingkungan.
Kriteria yang terakhir adalah pengembangan kegiatan kurikuler untuk
meningkatkan pengetahuan dan kesadaran siswa tentang lingkungan hidup yang
ditandai dengan terlaksananya kegiatan perlindungan dan pengelolaan pendidikan
lingkungan hidup yang terkait dengan pelaksanaan kurikulum, dan hasil kegiatannya
yang mendukung peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang pendidikan
lingkungan hidup sesuai dengan 50% dari jumlah mata pelajaran yang diintegrasikan
dan monolitik, mengimplementasikan hasil pembelajaran pendidikan lingkungan
hidup secara terbuka bagi masyarakat melalui pameran, seminar atau workshop
minimal dua kegiatan per tahun.
c. Pengembangan kegiatan berbasis partisipatif
10

Pengembangan kegiatan berbasis partisipatif ditandai dengan menciptakan


berbagai kegiatan ekstrakurikuler dalam pembelajaran persoalan lingkungan hidup.
Bagi warga sekolah minimal 1 kegiatan secara rutin yang bertema lingkungan hidup
pada setiap program ekstrakurikuler atau kokurikuler dan terlaksananya kegiatan
lingkungan berbasis partisipasif yang diprakarsai oleh sekolah dengan melibatkan
masyarakat sekitar lebih dari 4 kegiatan per tahun.
Kedua adalah dengan mengikuti kegiatan aksi lingkungan hidup yang dilakukan
oleh pihak luar, dengan telah mengikuti lebih dari empat kegiatan aksi lingkungan
hidup yang diprakarsai oleh pihak luar sebagai kegiatan ekstrakurikuler siswa. Hal
ini bertujuan untuk mengajak siswa melestarikan lingkungan, seperti yang dikatakan
oleh Supardi (2005, hlm 22) Peduli terhadap lingkungan berarti ikut melestarikan
lingkungan hidup dengan sebaik-baiknya, bisa dengan cara memelihara, mengelola,
memulihkan serta menjaga lingkungan hidup
Kriteria yang terakhir adalah membangun kegiatan kemitraan atau memprakasai
pengembangan pendidikan lingkungan hidup dengan melakukan lebih dari lima
kegiatan kemitraan dan memprakarsai berbagai kegiatan aksi lingkungan hidup dan
senantiasa membangun kerjasama jangka panjang dan berkelanjutan untuk
pengembangan program lingkungan hidup dengan berbagai pihak.
d. Pengembangan dan pengelolaan sarana pendukung sekolah
Sekolah menyediakan pengembangan fungsi pendukung sekolah yang ada untuk
pendidikan lingkungan hidup dengan memanfaatkannya sebagai media pembelajaran
lingkungan hidup, paling tidak ada lima prasarana dan sarana sekolah sebagai media
pembelajaran lingkungan hidup.
Sekolah melakukan peningkatan kualitas pengelolaan lingkungan di dalam dan
di luar kawasan sekolah dengan menyediakan dan memelihara semua sarana dan
prasarana sekolah yang ramah lingkungan yang meliputi:
1) Pengaturan cahaya ruang
2) Ventilasi udara secara alami
3) Pemeliharaan dan pengaturan pohon peneduh atau penghijau, pemanfaatan
sumur resapan dan atau biopori serta pengelolaan dan pemeliharaan fasilitas
sanitasi sekolah
11

Sekolah juga terus berupaya untuk melakukan penghematan terhadap efisiensi


penggunaan air, listrik, alat tulis kantor, plastik, dan bahan lainnya, serta dapat
dibuktikan keberhasilannya selama 3 tahun. Kriteria yang lain adalah adanya
peningkatan kualitas pelayanan makanan sehat ditandai dengan adanya:
1) Lokasi kantin yang memenuhi syarat kebersihan dan ramah lingkungan
2) Pemeriksa berkala minimal 1 kali setahun terhadap kualitas makanan kantin
3) Pemantauan terhadap jenis, kemasan makan dan kebersihan kantin secara rutin
minimal 1 kali sebulan
4) Penggunaan kemasan ramah lingkungan
5) Pemberian penyuluhan secara rutin kepada pedagang minimal 1 kali setahun
6) Guru penanggungjawab kantin atau pengelola makanan sehat.
Sekolah mengembangkan pengelolaan sampah dan bertanggung jawab dalam
peningkatan kualitas pengelolaan sampah dengan cara:
1) Praktek pemilahan sampah
2) Pengelolaan sampah yang memenuhi syarat dengan menyediakan tempat
sampah terpisah minimal dua jenis organik dan anorganik, melakukan kegiatan
3R dan pengomposan, menyediakan jumlah tenaga kebersihan yang mencukupi,
adanya mekanisme keterlibatan peserta didik dan guru
3) Perubahan perilaku warga sekolah dalam memperlakukan sampah

3. Pendidikan Lingkungan Hidup


Pendidikan lingkungan hidup adalah suatu proses yang bertujuan untuk

mengembangkan kesadaran umat manusia akan lingkungan hidup dengan seluruh

permasalahan yang terdapat didalamnya (Soeriatmadja, 1997:24).


Menurut Keraf (2010, hlm 59) Pendidikan lingkungan hidup bisa dirangkum

menjadi sebuah gambaran tentang keadaan pengetahuan dan sikap dari siswa untuk

menghargai dan mengerti konsep kata ekosistem. Pendidikan lingkungan hidup

selanjutnya jika dilihat dari sudut kognitif berarti pengembangan pengertian tentang

biosfer, tentang bumi dan isinya yang didiami oleh makhluk hidup. Kekurangan
12

pengetahuan akan konsep ekologi dalam pendidikan lingkungan hidup akan

berdampak pada kesalahan perilaku manusia terhadap lingkungan.


Erwin (2009, hlm 54) mengarisbawahi tentang peran serta masyarakat dalam

pengelolaan lingkungan yang berwawasan lingkungan tidak bisa dilepaskan dari

pengaruh adanya asas keterbukaan dan pentingnya peran serta mereka dalam

pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan seperti tertuang dalam UU

No.23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, Bab III Pasal 5, Setiap

orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Pasal

ini sekaligus mengisyaratkan kewajiban masyarakat untuk memelihara lingkungan

hidup dan mencegah serta menanggulangi kerusakan dan pencemarannya seperti

yang tertuang pada Pasal 5 ayat 3 Hak dan kewajiban untuk berperan dalam rangka

pengelolaan lingkungan hidup. Sementara itu pada pasal 10 berbunyi Pemerintah

berkewajiban menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran masyarakat akan

tanggung jawabnya dalam pengelolaan lingkungan hidup melalui penyuluhan,

bimbingan, pendidikan, dan penelitian tentang lingkungan hidup.


Erwin (2009, hlm 58-59) menyimpulkan bahwa:
Pendidikan lingkungan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kepedulian
tentang lingkungan dengan segala permasalahannya, dan dengan
pengetahuan, ketrampilan, sikap, motivasi, dan komitmen untuk bekerja
secara individu dan kolektif terhadap pemecahan permasalahan dan
mempertahankan kelestarian lingkungan.

Perkembangan penyelenggaraan pendidikan lingkungan hidup di Indonesia

menurut panduan adiwiyata yang dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup

tahun 2010 pada jalur formal sudah dimulai sejak tahun 1975 oleh Institut Ilmu

Pendidikan (IKIP) Jakarta. Pada tahun 1977/1978 rintisan Garis-garis Besar Program

Pengajaran Lingkungan Hidup diujicobakan di 15 Sekolah Dasar Jakarta. Pada tahun

1979 di bawah koordinasi kantor Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan


13

Lingkungan Hidup (Menteri Pendidikan Lingkungan Hidup) dibentuk Pusat Studi

Lingkungan (PSL) di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta, di mana

pendidikan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL mulai dikembangkan).

Sampai tahun 2010, jumlah Pusat Studi Lingkungan yang menjadi Anggota Badan

Koordinasi Pusat Studi Lingkungan (BKPSL) telah berkembang menjadi 101 Pusat

Studi Lingkungan.

F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pada penelitian ini digunakan metode penelitian bersifat deskriptif dengan


pendekatan Kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang diarahkan untuk
memberikan gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadan-kejadian secara sistematis dan
akurat, mengenai sifat-sifat populasi atau daerah tertentu (Nurul Zuriah, 2006, hlm
47).
Pendekatan Kualitatif merupakan metode-metode untuk mengeksplorasi dan
memahami makna yang oleh sejumlah individu atau sekelompok orang dianggap
berasal dari masalah social atau kemanusiaan. Proses penelitian kualitatif ini
melibatkan upaya- upaya penting, seperti mengajukan pertanyaan- pertanyaan dan
prosedur- prosedur, mengumpulkan data yang spesifik dari para partisipan (Creswell
(2010,hlm 4).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sebab pada penelitian ini menggali
segala informasi mengenai gejala-gejala, fakta-fakta, atau kejadiam-kejadian yang
diamati dan dideskripsikan dalam sebuah narasi mengenai implementasi program
Adiwiyata di SMA Kota Banda Aceh yang mencakup mengenai empat komponen
program Adiwiyata, yaitu: 1) Kebijakan Berwawasan Lingkungan, 2) Kurikulum
Berbasis Lingkungan, 3) Kegiatan Lingkungan Bersifat Partisipasif dan 4)
Pengembangan dan Pengelolaan Sarana dan Prasarana Ramah Lingkungan.

2. Lokasi Penelitian
14

Penelitian ini akan dilaksanakan pada seluruh SMA di Kota Banda Aceh yang
telah menerapkan kebijakan sekolah adiwiyata. Adapun sekolah yang telah
menerapkan adiwiyata di Kota Banda Aceh adalah sebagai Berikut:
a. SMAN 1 Banda Aceh
b. SMAN 2 Banda Aceh
c. SMAN 3 Banda Aceh
d. SMAN 4 Banda Aceh
e. MAN Model Banda Aceh
f. MAN 2 Banda Aceh
g. SMTI Banda Aceh

3. Subjek dan Objek Penelitian


Subyek dalam penelitian ini adalah sebagai sumber informasi untuk memperoleh
data Informan dari penelitian Implementsi Program Adiwiyata di SMA Kota Banda
Aceh ini, yang menjadi key informan adalah Guru dan Siswa SMA di Kota Banda
Aceh, sedangkan yang menjadi informan pendukung diantaranya adalah Kepala
Sekolah,Wakil Kepala Sekolah bidang Sarana dan Prasarana, Humas Sekolah, Guru
Mata Pelajaran, ,Warga Sekolah (misal: tukang kebun, petugas tata usaha, pengelola
kantin)
Dalam penelitian ini yang menjadi objek penelitian terdiri dari empat komponen
program Adiwiyata, yaitu: 1) Kebijakan Berwawasan Lingkungan, 2) Kurikulum
Berbasis Lingkungan, 3) Kegiatan Lingkungan Bersifat Partisipasif dan 4)
Pengembangan dan Pengelolaan Sarana dan Prasarana Ramah Lingkungan.

4. Metode Pengumpulan Data


a. Observasi Parsipatori
Haris Herdiansyah (2013, hlm 131-132) mendefinisikan observasi sebagai suatu
proses melihat, mengamati, serta merekam perilaku secara sistematis untuk suatu
tujuan tertentu. Observasi ialah suatu kegiatan mencari data yang dapat digunakan
untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis. Kegiatan observasi meliputi
melakukan perentatan secara stematik kejadiankejadian, perilaku, obyek-obyek yang
dilihat dan hal-hal lain yang diperlukan dalam mendukung penelitian yang sedang
dilakukan. Pada tahap awal observasi dilakukan secara umum, penelitian
15

mengumpulkan data atau informasi sebanyak mungkin.Tahap selanjutnya peneliti


harus melakukan observasi yang terfokus, yaitu mulai menyempitkan data atau
informasi yang diperlukan sehingga peneliti dapat menemukan pola-pola perilaku
dan hubungan yang terus menerus terjadi. Jika hal itu sudah diketemukan, maka
peneliti dapat menemukan tema-tema yang akan diteliti (Jonathan Sarwono,
2006:224).
Menurut Creswell (2015, hlm 422) observasi adalah proses pengumpulan
informasi open-ended (terbuka) tangan pertama dengan mengobservasi/mengamati
orang dan tempat di suatu lokasi penelitian.
Adapun yang akan diamati saat observasi yaitu:
a. Lokasi dan lingkungan sekitar sekolah
b. Keadaan sekolah SMA N 2 Klaten
c. Kondisi sarana dan prasarana pendukung Program Adiwiyata
d. Kegiatan pendukung Program Adiwiyata
e. Pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan yang diterapkan di sekolah
b. Wawancara Mendalam
Wawancara adalah untuk memahami sesuatu. Memahami adalah tujuan utama
dari proses wawancara. Utuk dapat dikatakan paham dari proses memahami tersebut,
diperlukan banyak hal seperti kemampuan merangkai kata agar kalimat yang
diutarakan mampu memotivasi orang untuk memberikan jawaban, bukan justru
merasa terancam dan menutupi diri (Haris Herdiansyah, 2013: 37-36).
Darmadi (2014, hlm 291) wawancara mendalam adalah proses memperoleh
keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara Tanya jawab sambil bertatap muka
antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau
tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, dimana pewawancara dan
informan terlibat dalam kehidupan social yang relatif lama.

c. Studi Dokumentasi
Bungin (2010, hlm 121) Dokumentasi adalah metode pengumpulan data yang
digunakan dalam metodologi penelitian sosial untuk menulusuri data historis yang
berbentuk surat, catatan harian, laporan dan lain sebagainya. Creswell (2010, hlm
16

270) dokumen ini bias berupa dokumen publik (seperti Koran, makalah, dan laporan
kantor) ataupun dokumen privat (seperti buku harian, diary, surat dan email).
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data yang sudah tersedia dalam
catatan dokumen. Fungsinya sebagai pendukung dan pelengkap dari data primer
yang diperoleh melalui observasi dan wawancara mendalam. Data dari dokumen
akan digunakan sebagai data sekunder dan data pendukung setelah observasi dan
wawancara. Adapun catatan dokumen yang akan dipelajari yaitu:
a. Laporan Evaluasi Program Adiwiyata setiap tahun
b. Piagam Penghargaan Program Adiwiyata
c. Standar Kompetensi Lulusan (SKL) untuk Tingkat SMA
d. RKAS
e. Silabus
f. Dokumen pelaksanaan program Adiwiyata SMAN 2 Klaten
g. Laporan kegiatan bertema Lingkungan Hidup
h. Daftar inventaris Sarana dan Prasarana
5. Teknik Analisis Data
Menurut Sarwono (2006, hlm 239), prinsip pokok analisis kualitatif adalah
mengolah dan menganalisis data-data yang sistematik, teratur, terstruktur dan
mempunyai makna. dalam proses analisis data kualitatif, terdapat beberapa
komponen diantaranyanya sebagai berikut:
a. Data reduction (reduksi data), mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-
hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan
polanya.
b. Data display (penyajian data), penyajian data dalam penelitian kualitatif
berbentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori,flowchart dan
sejenisnya.
c. Conclusion drawing/ verifikasi,kesimpulan dalam penelitia kualitatif adalah
merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.
17

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku

Arikunto, Suharsimi. (2012). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta:


Rineka Cipta.

Bungin, Burhan. (2010). Penelitian Kualitatif. Jakarta: Prenada Media Group

Creswell, W. John. (2010). Research Design: Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif, dan


Mixed. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Creswell, W. John. (2015). Riset Pendidikan: Perencanaan, Pelaksanaan, dan


Evaluasi, Riset Kualitatif dan Kuantitaif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Darmadi, Hamid. (2014). Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial: Teori, Konsep,
Dasar dan Implementasi. Bandung: Alfabeta.

Erwin, Muhamad. (2009). Hukum Lingkungan Dalam Sistem Kebijaksanaan


Pembangunan Lingkungan Hidup. Bandung: PT Refika Aditama.

Gandhi, T.W. (2011). Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Ar Rush Media.


18

Haris Herdiansyah. (2013). Wawancara, Observasi, Focus Group. Jakarta: Rajawali


Pers.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


(2012). Panduan Adiwiyata: Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan.
Jawa Tengah: Badan Lingkungan Hidup.

Keraf, A.S.2010. Etika Lingkungan Hidup. Jakarta: Buku Kompas.

Nurul Zuriah. (2006). Metodologi Penelitian Sosial dan Pendidikan: Teori


Aplikasi. Jakarta: PT Bumi Aksara

Sarwono, Jonathan. (2006). Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif. Yogyakarta:


Graha Ilmu.

Setiawan, Guntur. (2004). Implementasi Dalam Birokrasi Pembangunan. Bandung:


Remaja Rosda karya Offset.

Soeriaatmadja, R.E. (1997). Ilmu Lingkungan. Bandung: ITB

Sugandhy, Aca. (2007). Pembangunan Berkelanjutan Berwawasan Lingkungan.


Jakarta: Bumi Aksara

Supardi, Imam. (2005). Membangun Lingkungan Hidup yang Harmonis dan


Berperadaban. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu.

Suwitri Sri. (2011). Konsep Dasar Kebijakan Publik. Semarang : Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.

Syafaruddin. (2002). Manajemen Mutu Terpadu Dalam Pendidikan. Jakarta:


Grasindo

Wibowo Eddi. (2004). Kebijakan Publik Dan Budaya. Yogyakarta: YPAPI.

Zen, M.T. (1982). Menuju Kelestarian Lingkungan Hidup. Jakarta: PT. Gramedia

Sumber Lain
Peraturan Mentri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 02 Tahun 2009 tentang
Sekolah Adiwiyata.

Undang Undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2013 tentang Sistem


Pendidikan Nasional.

Undang Undang Republik Indonesia No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup.
19