Anda di halaman 1dari 145

Gambaran klinis penyakit demam tifoid sangat bervariasi dari hanya sebagai penyakit ringan

yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan
kematian. Hal ini mungkin menyebabkan seorang ahli yang sudah berpengalamanpun dapat
mengalami kesulitan dalam menegakkan diagnosis demam tifoid apabila hanya berdasarkan
gambaran klinis. Oleh karena itu, pemeriksaan laboratorium mikrobiologi tetap diperlukan
untuk memastikan penyebabnya. Tes ideal untuk suatu pemeriksaan laboratorium seharusnya
bersifat sensitif, spesifik, dan cepat diketahui hasilnya. Pemeriksaan laboratorium untuk
menegakkan diagnosis demam tifoid yang ada sampai saat ini adalah dengan metode
konvensional, yaitu kultur kuman dan uji serologi Widal serta metode non-konvensional, yaitu
antara lain Poly-merase Chain Reaction (PCR), Enzyme Immunoassay Dot (EIA), dan
Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA).

DEFENISI

Widal test merupakan suatu uji serum darah yang memakai prinsip reaksi agglutinasi untuk
mendiagnosa demam typhoid. Dengan kata lain merupakan tes serologi yang digunakan
untuk mendeteksi demam typhoid.

PRINSIP

Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur
dengan suspense antigen Salmonella typhosa. Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi
reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (agglutinin). Antigen yang digunakan pada tes
widal ini berasal dari suspense salmonella yang sudah dimatikan dan diolah dalam
laboratorium. Dengan jalan mengencerkan serum, maka kadar anti dapat ditentukan.
Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi menunjukkan titer antibodi
dalam serum.

Tekhnik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji hapusan/
peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji tabung membutuhkan
waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji widal
peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan dalam
prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji widal peluncuran.
Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan.
Menurut beberapa peneliti uji widal yang menggunakan antigen yang dibuat dari jenis strain
kuman asal daerah endemis (local) memberikan sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi
daripada bila dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis
(import). Walaupun begitu, menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan Uji Tabung
Widal menggunakan antigen import dan antigen local, terdapat korelasi yang bermakna
antara antigen local dengan antigen S.typhi O dan H import, sehingga bisa dipertimbangkan
antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat memproduksi antigen sendiri
untuk membantu menegakkan diagnosis demam typhoid.

Penelitian pada anak oleh Choo dkk (1990) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas masing-
masing sebesar 89% pada titer O atau H >1/40 dengan nilai prediksi positif sebesar 34.2%
dan nilai prediksi negatif sebesar 99.2%. Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid anak
dengan hasil biakan positif, ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar 64-74%
dan spesifisitas sebesar 76-83%.
Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai parameter
penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut :

o Antigen O
Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman.
Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. Antigen ini tahan terhadap
pemanasan 100C selama 25 jam, alkohol dan asam yang encer.

o Antigen H
Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi
dan berstruktur kimia protein. S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal
yang juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Antigen ini tidak aktif pada
pemanasan di atas suhu 60C dan pada pemberian alkohol atau asam.

o Antigen Vi
Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman
dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan
selama 1 jam pada suhu 60C, dengan pemberian asam dan fenol. Antigen ini
digunakan untuk mengetahui adanya karier.

OuterMembrane Protein (OMP)


Antigen OMP S typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran
sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan
sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin. Porin
merupakan komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP D, OMP F dan
merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM < 6000.
Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85100C. Protein
nonporin terdiri atas protein OMP A, protein a dan lipoprotein, bersifat sensitif terhadap
protease, tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan jelas. Beberapa peneliti
menemukan antigen OMP S typhi yang sangat spesifik yaitu antigen protein 50 kDa/52
kDa.

INTERPRETASI HASIL

Interpretasi dari uji widal ini harus memperhatikan beberapa factor antara lain sensitivitas,
spesifitas, stadium penyakit; factor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang
dapat mempengaruhi pembentukan antibodi; saat pengambilan specimen; gambaran
imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non endemis); factor antigen;
teknik serta reagen yang digunakan.
Beberapa factor yang dapat mempengaruhi uji Widal dapat dijelaskan sebagai berikut, antara
lain :

1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.


2. Saat pengambilan specimen : berdasarkan penelitian Senewiratne, dkk. kenaikan titer
antibodi ke level diagnostic pada uji Widal umumnya paling baik pada minggu kedua
atau ketiga, yaitu 95,7%, sedangkan kenaikan titer pada minggu pertama adalah hanya
85,7%.
3. Pengobatan dini dengan antibiotika ; pemberian antibiotika sebelumnya dapat
menghambat pembentukan antibodi.
4. Vaksinasi terhadap salmonella bisa memberikan reaksi positif palsu. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa setelah divaksinasi titer agglutinin O dan H meningkat dan menetap
selama beberapa waktu. Jalan keluarnya adalah dengan melakukan pemeriksaan ulang
tes Widal seminggu kemudian. Infeksi akan menunjukkan peningkatan titer,
sementara pasien yang divaksinasi tidak akan menunjukkan peningkatan titer.
5. Obat-obatan immunosupresif dapat menghambat pembentukan antibodi.
6. Reaksi anamnesa. Pada individu yang terkena infeksi typhoid di masa lalu, kadang-
kadang terjadi peningkatan antibodi salmonella saat ia menderita infeksi yang bukan
typhoid, sehingga diperlukan pemeriksaan Widal ulang seminggu kemudian.
7. Reaksi silang ; Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. paratyphi A,
B, C) memiliki antigen O dan H juga, sehingga menimbulkan reaksi silang dengan
jenis bakteri lainnya, dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive).
Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. typhi (bukan tifoid).
8. Penyakit-penyakit tertentu seperti malaria, tetanus, sirosis dapat menyebabkan positif
palsu.
9. Konsentrasi suspense antigen dan strain salmonella yang digunakan akan
mempengaruhi hasil uji widal.

PENILAIAN

Kegunaan uji Widal untuk diagnosis demam typhoid masih kontroversial diantara para ahli.
Namun hampir semua ahli sepakat bahwa kenaikan titer agglutinin lebih atau sama dengan 4
kali terutama agglutinin O atau agglutinin H bernilai diagnostic yang penting untuk demam
typhoid. Kenaikan titer agglutinin yang tinggi pada specimen tunggal, tidak dapat
membedakan apakah infeksi tersebut merupakan infeksi baru atau lama. Begitu juga kenaikan
titer agglutinin terutama agglutinin H tidak mempunyai arti diagnostic yang penting untuk
demam typhoid, namun masih dapat membantu dan menegakkan diagnosis tersangka demam
typhoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemic atau pada anak umur
kurang dari 10 tahun di daerah endemic, sebab pada kelompok penderita ini kemungkinan
mendapat kontak dengan S. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat kecil. Pada orang
dewasa atau anak di atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah endemic, kemungkinan
untuk menelan S.typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat
memberikan ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemic yang satu
dengan yang lainnya, tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di
bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. Dengan demikian, bila uji Widal masih diperlukan
untuk menunjang diagnosis demam typhoid, maka ambang atas titer rujukan, baik pada anak
dan dewasa perlu ditentukan.o

Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai sarana penunjang
diagnosis demam typhpid yaitu spesifitas yang agak rendah dan kesukaran untuk
menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak factor yang mempengaruhi kenaikan titer.
Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai dengan titer yanglebih
tinggi, yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk
diinterpretasikan. Dengan alas an ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan
pemeriksaan antibodi H S.typhi, cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.

Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.

o Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).


o Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan
titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
o Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada
pasiendengan gejala klinis khas.

REEFEERENSI

o Kemampuan Uji Tabung Widal Menggunakan Antigen Import dan Antigen


Lokal. Puspa Wardhani, Prihatini, Probohoesodo, M.Y. Laboratorium Patologi
Klinik Fakultas Kedokteran Unair/RSU Dr Soetomo Surabaya.
o Metode Diagnostik Demam Tifoid Pada Anak. Risky Vitria Prasetyo,
Ismoedijanto. Divisi Tropik dan Penyakit Infeksi . Bagian/SMF Ilmu Kesehatan
Anak FK UNAIR/RSU Dr. Soetomo Surabaya
Pemeriksaan Widal

a. Prinsip

Antibodi yang terdapat pada serum sampel akan bereaksi dengan antigen pada

reagen membentuk kompleks antigen antibodi yang berupa aglutinasi.

b. Alat - alat

Alat yang digunakan dalam pemeriksaan widal adalah:

1) Spuit

2) Tabung reaksi

3) Centrifuge

4) Pipet

5) Kaca widal

6) Batang pengaduk

7) Kapas alkohol

8) Tourniquet

9) Mikro pipet

10) Yellow tip

11) Rotator

c. Bahan - bahan

Bahan yang digunakan dalam pemeriksaan widal adalah:

1) Serum

2) Reangen typoid O

3) Reagen typoid H

4) Alkohol

5) EDTA
d. Cara kerja

1) Darah vena diambil sebanyak 2 ml dengan menggunakan spuit.

2) Darah dimasukkan dalam tabung reaksi yang telah berisi EDTA.

3) Darah yang telah dicampur EDTA tadi diputar dengan menggunakan centrifuge

selama 10 menit dengan kecepatan 4000 rpm.

4) Serumnya diambil dengan menggunakan mikro pipet sebanyak 20 ul dan diletakkan

pada kaca widal A dan B

5) Pada tetesan pertama ditetesi reagen typoid O sebanyak satu tetes dan pada tetesan

kedua diberi reagen typoid H sebanyak satu tetes.

6) Dihomogenkan dengan batang pengaduk dan di rotaor.

7) Diamati adanya aglutinasi dan dicatat hasilnya.

e. Interprestasi hasil

- Reaktif (+) : terjadi aglutinasi

- Nonreaktif (-) : tidak terjadinya aglutinasi

(Gandasoebrata, 2006).
Latar Belakang
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang masuk melalui saluran cerna
kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui darah. Deman tifoid disebabkan oleh
bakteri yang disebut Salmonella serovarian dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis
bakteri salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang dapat mengakibatkan penyakit demam
tifoid yaitu Salmonella serovarian typhi, paratyphi A, paratyphi B, paratyphi C (Anonim,
2010).
Di Indonesia tifus merupakan penyakit endemis yang berarti kasusnya selalu ada
sepanjang tahun. Umumnya penderita tifus meningkat terutama pada musim kemarau
. pada saat kemarau terjadi kekurangan air bersih dan sumber air yang mudah
tercemar. Setiap tahun penderita tifus di daerah perkotaan di Indonesia mencapai
angka 700-800 kasus per 100.000 penduduk (Anonim, 2010).
Demam tifoid atau yang sering disebut tifus terjadi bila seseorang terinfeksi
kuman Salmonella, yang pada umumnya melalui makanan dan minuman yang
tercemar. Apabila kuman yang masuk kedalam tubuh sangat banyak dan mampu
menembus dinding usus serta dapat masuk kealiran darah hingga menyebar
keseluruh tubuh. Maka hal ini akan dapat menimbulkan infeksi pada organ tubuh lain
diluar saluran cerna. Pada hari pertama, sering kali kesulitan membedakan apakah
demam yang timbul disebabkan oleh tifus atau penyebab demam lain seperti
demam berdarah umumnya meningkat mendadak dengan suhu sangat tinggi, dan
demam akan turun secara cepat dihari ke 5-6. Bila demam sudah berlangsung
lebih dari 7 hari, maka sangat memungkinkan demam tersebut disebabkan oleh tifoid
bukan karena demam berdarah (Anonim, 2010).
Gejala lain yang sering menyertai adalah gejala pada pencernaan seperti mual,
muntah, sembelit atau diare. Salah satu pemeriksaan laboratorium yang sering
dilakukan untuk mendiagnosa penyakit tifus adalah pemeriksaan widal (Anonim,
2010).

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum pemeriksaan widal adalah untuk mengetahui adanya
antibody spesifik terhadap bakteri Salmonella.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi dan Identifikasi


Salmonella sering bersifat pathogen untuk manusia atau hewan jika masuk ke
dalam tubuh melalui mulut. Bakteri ni ditularkan dari hewan atau produk hewan
kepada manusia, dan menyebabkan enteris, infeksi sistemik dan demam enteric.
Salmonella merupakan bakteri Gram (-) batang, tidak berkapsul dan bergerak
dengan flagel peritrich (Soemarno, 2000).
Panjang Salmonella bervariasi, kebanyakan spesies kecuali Salmonella
pullorumgallinarum dapat bergerak dengan flagel peritrich, bakteri ini mudah tumbuh
pada pembenihan biasa, tetapi hampir tidak pernah meragikan laktosa dan sukrosa.
Bakteri ini termasuk asam dan kadang kadang gas dari glukosa dan maltosa, dan
biasanya membentuk H2S. Bakteri ini dapat hidup dalam air beku untuk jangka waktu
yang cukup lama. Salmonella resisten terhadap zat-zat kimia tertentu (misalnya hijau
brilliant, natrium tetratrionat, dan natrium desoksikolat) yang menghambat bakteri
enteric lainnya. Oleh karena itu senyawa ini bermanfaat untuk
dimasukkan dalam pembenihan yang dipakai untuk mengisolasi Salmonella dari
tinja (Jawetz, 1996).
Salmonella tumbuh dengan situasi aerob dengan suhu optimum 36 o C.
- Mac conkey agar, koloni tidak berwarna, jernih, keping, sederhana, bulat, smooth.
- EMB, koloni tidak berwarna, sedang lebih besar dari MC, keping.
- SSA, koloni tidak berwarna, kecil-kecil, smooth, bulat, keeping.
- Desoxycholate Citrate, koloni kecil-kecil, sedang, berwarna, jernih kelabu, smooth,
keeping.
- Endo Agar, koloni kecil, tidak berwarna atau merah muda, kecil-sedang, keeping.
- Hektoen Enteric Agar, koloni kecil sedang, berwarna hijau biru, dengan atau tanpa
warna hitam tengah, koloni bulat, smooth.
- TSI : Lereng = alkali/asam
- Gas = +/- (Soemarno. 2000).

2.2 Struktur Antigen


Meski pada awalnya Salmonella dideteksi berdasarkan sifat sifat biokimianya,
golongan dan spesiesnya harus di identifikasi dengan analisis antigen. Seperti
Enterobacteriacea lain, Salmonella memiliki antigen O (dari keseluruhan berjumlah
lebih dari 60) dan antigen H yang berbeda pada salah satu atau kedua fase. Beberapa
Salmonella mempunyai antigen simpai (K) yang disebut V1 yang dapat menganggu
aglutinasi melalui anti serum O, antigen ini dihubungkan dengan sifat invasif yang
dimilikinya. Tes aglutinasi dengan anti serum serapan untuk antigen O dan H yang
berbeda merupakan dasar untuk klasifikasi Salmonella secara serologi. (Jawetz,
1996).

2.3 Demam Tifoid


Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella typhi yang masih di jumpai secara luas di berbagai negara berkembang
yang terutama terletak di daerah tropis dan subtropics (Anonim, 2010).
Penularannya dapat terjadi melalui kontak antar manusia atau jika makanan dan
minuman yang di konsumsi terkontaminasi di karenakan penanganan yang tidak
bersih. Selang waktu antara infeksi dan permulaan sakit ( masa inkubasi ) tergantung
dari banyaknya bakteri apa yang masuk ke dalam tubuh. Masa inkubasi berkisar
antara 8-14 hari. (Anonim, 2010).
Penyakit demam tifoid ini juga merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting karena penyebarannya berkaitan dengan urbanisasi, kepadatan penduduk,
kesehatan lingkungan, sumber air dan sanitasi yang buruk, serta standar hygiene
industri pengolahan makanan yang masih rendah (Anonim, 2010).

2.4 Gejala Penyakit Tifus


Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala mengenai infeksi akut pada umumnya
seperti demam, sakit kepala, mual, nafsu makan menurun, sakit perut, diare pada
anak-anak atau sulit buang air besar pada orang dewasa. Suhu tubuh meningkat
terutama pada sore hari dan malam hari (Anonim, 2010).
Setelah minggu ke dua gejala menjadi lebih jelas , yaitu demam yang tinggi terus
menerus, nafas berbau tak sedap, kulit kering, rambut keriting, bibir kering dan pecah
pecah, lidah di tutupi oleh selaput putih kotor, pembesaran hati dan limfa, serta
timbul rasa nyeri bila di raba, dan gangguan kesadaran dari yang ringan, apatis,
koma (Anonim, 2010).
Penyakit tifus yang berat menyebabkan komplikasi pendarahan, kebocoran usus,
infeksi selaput, renjatan bronkopnemonia dan kelainan di otak. Jika terdapat gejala
penyakit tifus segera di lakukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan
diagnosa penyakit tifus, koma. Keterlambatan diagnose dapat menyebabkan
komplikasi yang berakibat fatal, sampai pada kematian (Anonim, 2010).
Sebagian besar penderita mengalami penyembuhan sempurna. Tetapi bisa terjadi
komplikasi terutama bila tidak di obati atau pengobatan terlambat berupa:
a. Perdarahan usus (2 % penderita)
Perforasi usus (1-2 % penderita yang menyebabkan nyeri perut karena isi usus
menginfeksi rongga perut).
b. Infeksi kantung kemih dan hati
c. Infeksi darah ( bakterimia) yang kadang menyebabkan infeksi organ tubuh lainnya.

2.5 Identifikasi Kuman Melalui Uji Serologi


Uji serologi di gunakan untuk membantu menegakkan diagnose demam tifoid
dengan mendeteksi anti bodi spesifik terhadap komponen anti gen S. typhi maupun
mendeteksi antigen itu sendiri. Beberapa uji serologi yang dapat digunakan pada
demam tifoid ini meliputi:
a. Uji Widal
Merupakan suatu metode serologi baku dan rutin. Teknis aglutinasi ini dapat
dilakukan dengan uji hapusan atau uji tabung. Uji ini di lakukan dengan mencampur
serum yang sudah di encerkan dengan suspensi Salmonella mati yang mengandung
anti gen O (somatik) dan H (flagel).

b. Test Tubex
Test aglutinasi kompetitif semikuaantitatif yang cepat dan sederhana dengan
menggunakan partikel berwarna untuk meningkatkan sensitifikasi. Spesifikasi di
tingkatkan dengan menggunakan antigen O yang benar benar spesifik yang hanya
di temukan pada Salmonella setogrup D.
c. Metode Enzyme Immunoassay
Didasarkan pada metode untuk melacak antibodi spesifik IgM dan IgM terhadap
antigen OMP 50 kp. S. typhi. Deteksi IgM menunjukkan fase awal infeksi pada
demam tifoid akut, sedangkan IgM dan IgG menunjukkan demam tifoid fase
pertengahan infeksi.
d. ELISA
Dipakai untuk melacak antibody IgG , IgM, IgA terhadap antigen LPS Og, antibody
terhadap antigen d (Hd) flagel dan antibody terhadap antigen S. typhi.
e. Pemeriksaan Dipstik
Dikembangkan di Belanda dalam mendeteksi antibody IgM spesifik terhadap
antigen LPS. S. typhi dengan menggunakan membran nitrose lulosa yang
mengandung antigen S. typhi sebagai pita pendeteksi dan antibodi IgM anti human
immobilized sebagai reagen control.
BAB III

METODE KERJA

3.1 Tempat dan Waktu Praktikum


Praktikum pemeriksaan Widal Slide dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 3
Mei, 2011. Bertempat di Laboratorium STIKES Wiyata Husada Samarinda.

3.2 Prinsip
Uji widal darah adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutin dalam serum
penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda beda terhadap antigen
somatik (O)dan flagel (H) yang ditambahkan dalam jumlaah yang sama sehingga
terjadi aglutinasi.

3.3 Alat dan Bahan


3.3.1 Alat
Alat yang digunakan untuk pemeriksaan Widal Slide yaitu :
- Slide putih/objek glass
- Mikropipet
- Sentrifuge
- Yellow tape
- Batang pengaduk

3.3.2 Bahan
Bahan yang digunakan untuk pemeriksaan Widal Slide yaitu :
- Antigen Salmonella typhi O
- Antigen Salmonella typhi H
- Antigen Salmonella paratyphi AH
- Antigen Salmonella paratyphi OH
-
3.4 Sampel
Sampel yang digunakan untuk pemeriksaan Widal Slide yaitu serum dari
saudari :
Nama :
Umur :
Jenis kelamin :

Nama : Mr.X
Umur : 20 tahun
Jenis kelamin: laki-laki

3.5 Cara Kerja


- Siapkan alat dan bahan yang ingin digunakan.
- Dengan mikropipet masukkan serum sebanyak 20 l ke atas kaca yang telah
disiapkan.
- Kemudian ditambah 1 tetes antigen, dan homogenkan.
- Setelah itu dirotator selama 1 menit.
- Perhatikan aglutinasi yang terjadi.
- Jika positif, maka lakukan pengenceran :
- Serum 10 l di tambah 1 tetes reagen
- Serum 5 l di tambah 1 tetes reagen

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dari praktikum yang dilakukan yaitu pemeriksaan widal cara slide didapat hasil:
1. Nama :
Umur :
Jenis Kelamin :
Hasil pemeriksaan : salmonella thypi 0 =
salmonella thypi H =
salmonella thypi AH =
salmonella thypi OH =

2. Nama :Mr.X
Umur : 20 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Hasil Pemeriksaan : salmonella thypi 0 =
salmonella thypi H =

4.2 Pembahasan
Uji widal adalah suatu pemeriksaan serologi yang berarti bahwa seseorang
pernah terinfeksi kuman Salmonella tipe tertentu. Untuk menentukan seseorang
menderita demam tifoid atau bukan, tetap harus didasarkan atas gejala-gejala yang
sesuai dengan penyakit tifus. Uji widal hanya dapat dikatakan sebagai penunjang
diagnose jika seseorang tanpa gejala dengan uji widal positif tidak dapat dikatakan
menderita tifus.
Beberapa yang sering disalah artikan dari pemeriksaan widal adalah pemeriksaan
widal positif dianggap ada kuman didalam tubuh. Pemeriksaan widal yang diulang
setelah seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan, hasil widal positif untuk
waktu yang lama sehingga uji widal tidak dapat digunakan sebagai acuan untuk
menyatakan kesembuhan seseorang.
Hasil untuk pemeriksaan widal positif telah mendapat pengobatan tifus, bukan
indikasi untuk mengulang pengobatan bila mana tidak didapatkan lagi gejala yang
sesuai. Hasil uji negative dianggap tidak menderita tifus.
Uji widal umumnya menunjukkan hasil positif 5 hari atau lebih setelah infeksi.
Karena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa hari sering kali hasilnya negatif dan
baru akan positif bila mana pemeriksaan diulang. Dengan demikian hasil uji widal
negatif terutama pada beberapa hari pertama demam belum dapat menyingkirkan
kemungkinan tifus.
Widal, seperti semua hasil pemeriksaan laboratorium, harus di interpretasikan
dengan bijak. Tanda-tanda klinis, penderita terus lebih diutamakan daripada reaksi
widal positif. Tifus tidak pernah dimulai dengan demam tinggi pada hri pertama sampai
ketiga. Bila demam terus berlanjut dan pada hari 5-6 menjadi lebih tinggi maka barulah
tiba waktunya untuk memeriksa widal dan melakukan biakan kuman dari darah. Hasil
biakan kuman yang positif merupakan bukti adannya tifus.
Kelemahan dari pemeriksaan widal yaitu sensitifitas yang kurang member hasi
negatif sampai 30% dari sampel biakan positif penyakit tifus, sehingga hasil tes widal
negatif bukan berarti dapat dipastikan tidak terjadi infeksi tifus.
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari praktikum pemeriksaan widal secara rapid slide test. Terhadap serum dari
Dewi yulianti didapatkan bahwa sampel tersebut tidak terdapat antibody
Salmonella. Segangkan pada sampel Mr.X di dapatkan adanya antibody salmonella
thypi O positif 1/160.

5.2 Saran
- Sebaiknya pemeriksaan widal ini saat melaukan pembacaan harus tepat 1 menit.
Karena jika < 1 menit akan didapatkan hasil negatif palsu. Sedangkan jika > 1 menit
maka akan mendapatkan hasil positif palsu.
- Hal yang terpenting dalam pengobatan tifus adalah medeteksi sedini mungkin
sehingga dapat menghindari terjadinya komplikasi.
- Perawatan pada penderita tifus dapat dilakukan dirumah yaitu dengan beristirahat,
cukup minum dan makan makanan dengan gizi dan protein yang cukup.
- Hidari makanan pedas atau asam karena dapat mengiritasi usus dan beresiko
menimbulkan pendarahan.
- Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan pemberian vaksinasi. Carier atau
pembawa kuman dapat dialami pada sebagian kecil penderita yang tidak mendapat
pengobatan secara tuntas.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2010. http://www.prodia.co.id
Anonim.2010. http://www.wido25.blogster.com
Anonim, 2010. http://beingmom.org/2007/10/demam-tifoid
Jawetz, Ernest. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Jakarta : EGC.

Soemarno. 2000. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Klinis. Yogyakarta: Akademi Analis

kesehatan Yogyakarta Departemen Kesehatan Republik Indonesia.


TEST WIDAL
Pemeriksaan widal adalah salah satu pemeriksaan serologi yang bertujuan
untuk menegakan diagnosa demam tipoid. Uji widal positif artinya ada zat anti
(antibodi) terhadap kuman Salmonella, menunjukkan bahwa seseorang pernah
kontak/terinfeksi dengan kuman Salmonella tipe tertentu. Pemeriksaan ini
masih banyak dipakai di negara-negara berkembang dikarenakan biayanya yg
relatif terjangkau dan hasilnyapun dapat diketahui dengan segera.

Pemeriksaan widal bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi (kekebalan


tubuh) terhadap kuman Salmonela dengan cara mengukur kadar aglutinasi
antibodi terhadap antigen O dan H dalam sampel darah. Tubuh kita akan
membentuk antibodi jika terpapar kuman Salmonela typhi, baik kuman yg
masuk secara alamiah dan menyebabkan sakit, kuman yg masuk namun tidak
menunjukan gejala (karier) ataupun melalui vaksinasi.
Pada pasien yg saat ini tidak sedang sakitpun pemeriksaan widal mungkin saja
menunjukan hasil yang positif, pada pasien yang mendapat vaksinasi tipoid
hasil pemeriksaan widalnyapun bisa positif. Perlu diperhatikan sobat analis
semua bahwa pemeriksaan widal yang positif bukan hanya terjadi pada infeksi
kuman Salmonella typhi, namun juga akibat infeksi kuman Salmonella yang
lain, sehingga pada saat ini pemeriksan ini tidak dapat lagi dijadikan acuan
pemeriksaan yg spesifik terhadap penyakit tipoid.

Pengambilan sampel pasien untuk pemeriksaan widal juga kadang kurang tepat
waktunya, karena berdasarkan perjalanan penyakitnya antibodi terbentuk pada
hari ke 5-7 ke atas, sehingga tidak bijak jika pemeriksaan widal dilakukan
sebelum hari ke 5, dan kalaupun pada pemeriksaan wideal didapat hasil yg
positif pada sebelum hari ke 5 maka yg terdeteksi tersebut dimungkinkan
antibodi yg terbentuk tersebut berasal dari infeksi sebelumnya. Mengingat
adanya kelemahan tersebut maka pada saat ini di era kemajuan teknik
pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan tersebut seharusnya tidak lagi menjadi
pilihan, meskipun masih saja dilakukan di laboratorium-laboratorium pratama
atau di daerah-daerah dimana teknik pameriksaan yg lain belum tersedia, namun
tetap memperhatikan hal-hal penting dalam menegakan diagnosa tipoid yaitu
tanda klinis yg menunjang (demam lebih dari 7 hari, anamnesis dan
pemeriksaan fisik) atau dilakukan pemeriksaan widal serial pada minggu ke 1
dan minggu ke 2 dan pada periode convalescence saat demam mulai turun
(pemeriksaan cukup bermakna jika terdapat kenaikan titer 2-4 kali).
Pemeriksaan ini walaupun lebih baru namun pemeriksaannya kurang praktis
dan harganya lebih mahal.
Pemeriksan yang tepat
Dari gejala-gejala klinik yang mengarah ke arah demam tipoid, pemeriksaan
di bawah ini seharusnya direkomendasikan oleh seorang dokter untuk
menegakan diagnosanya :
1. Pemeriksaan laboratorium sederhana, sehingga pada pemeriksaan tersebut
didapatkan leukopenia, aneusinofilia, trombositopenia, dan limpositosos relatif
2. Pemeriksaan IgM Anti Salmonella (Tubex TF)
Pada pemeriksaan ini dapat mendeteksi adanya antigen spesifik dari kuman
salmonella walaupun pemeriksaan dilakukan dalam minggu pertama setelah
demam.
3. Kultur darah
Pemeriksaan ini merupakan gold standar untuk pemeriksaan demam tipoid
4. PCR (polymerase Chain Reaction).

Beberapa hal yang sering disalahartikan :


1. Pemeriksaan widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh, hal ini pengertian
yang salah. Uji widal hanya menunjukkan adanya antibodi terhadap kuman
Salmonella.
2. Pemeriksaan widal yang diulang setelah pengobatan dan menunjukkan hasil
positif dianggap masih menderita tifus, ini juga pengertian yang salah.
Setelah seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan, hasil uji widal
tetap positif untuk waktu yang lama sehingga uji widal tidak dapat digunakan
sebagai acuan untuk menyatakan kesembuhan.

Hasil ulang pemeriksaan widal positif setelah mendapat pengobatan tifus, bukan
indikasi untuk mengulang pengobatan bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang
sesuai.

Hasil uji negatif dianggap tidak menderita tifus :


Uji widal umumnya menunjukkan hasil positif 5 hari atau lebih setelah infeksi.
Karena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa hari, sering kali hasilnya
masih negatif dan baru akan positif bilamana pemeriksaan diulang. Dengan
demikian,hasil uji widal negatif,terutama pada beberapa hari pertama demam
belum dapat menyingkirkan kemungkinan tifus.

Untuk menentukan seseorang menderita demam tifoid :


1. Tetap harus didasarkan adanya gejala yang sesuai dengan penyakit tifus.
2. Uji widal hanya sebagai pemeriksaan yang menunjang diagnosis.
Seorang tanpa gejala,dgn uji widal positif tidak dapat dikatakan menderita
tifus.

Memang terdapat kesulitan dalam interpretasi hasil uji widal karena kita tinggal
di daerah endemik,yang mana sebagian besar populasi sehat juga pernah kontak
atau terinfeksi, sehingga menunjukkan hasil uji widal positif. Hasil survei pada
orang sehat di Jakarta pada 2006 menunjukkan hasil uji widal positif pada 78%
populasi orang dewasa. Untuk itu perlu kecermatan dan kehatihatian dalam
interpretasi hasil pemeriksaan widal.
PENILAIAN

Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.
- Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
- Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada
kenaikan titer. Jika
ada, maka dinyatakan (+).
- Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+)
pada pasien dengan gejala klinis khas.

Uji Widal didasarkan pada :


- Antigen O ( somatic / badan )
- Antigen H ( flagel/semacam ekor sebagai alat gerak )

Jika masuk ke dalam tubuh kita, maka timbul reaksi antigen-antibodi.


ANTIBODI terhadap :
Antigen O : setelah 6 sampai 8 hari dari awal penyakit.
Antigen H : 10-12 hari dari awal penyakit.

Uji ini memiliki tingkat sensitivitas dan spesifitas sedang (moderate).


Pada kultur yang terbukti positif, uji Widal yang menunjukkan nilai negatif bisa
mencapai 30 persen.
Beberapa keterbatasan uji Widal ini adalah:
1. Negatif Palsu

Pemberian antibiotika yang dilakukan sebelumnya (ini kejadian paling


sering di negara kita, demam di beri antibiotika tidak sembuh dalam 5
hari dilakukan test Widal) menghalangi respon antibodi.
Padahal sebenarnya bisa positif jika dilakukan kultur darah.
2. Positif Palsu

Beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. paratyphi A, B, C)


memiliki antigen O dan H juga, sehingga menimbulkan reaksi silang dengan
jenis bakteri lainnya, dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive).
Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. typhi (bukan tifoid).
Beberapa penyakit lainnya : malaria, tetanus, sirosis, dll.

Pada daerah yang endemik seperti Indonesia (apalagi Jakarta, bagi yang hobi
makan gado-gado, ketoprak ) ditentukan nilai batas minimal pada populasi
normal.
Sehingga kemungkinan seseorang menderita demam tifoid sangat besar pada
nilai minimal titer tertentu.
LAPORAN PRAKTIKUM IMUNOLOGI
Praktikum Ke : III (tiga)
Hari, Tanggal : Jumat, 24 Maret 2017
Materi : Pemeriksaan widal cara slide
Tujuan : Untuk mengetahui diagnosa penyakit typus
Metode : Aglutinasi
: Antigen apabila direaksikan dengan antibody spesifik maka akan terjadi
gumpalan.
Alat dan bahan :
1. Slide khusus widal
2. Tangkai pengaduk
3. Clinipet
4. Yellow tip
5. Rotator
6. Tissue
Reagen :
Suspensi kuman yang telah dilemahkan terdiri dari:
H antigen yaitu : Salmonella typhi H
Salmonella paratyphi A-H
Salmonella Paratyphi B-H
Salmonella Paratyphi C-H
O antigen yaitu : Salmonella typhi O
Salmonella paratyphi A-O
Salmonella paratyphi B-O
Salmonella paratyphi C-O
PENDAHULUAN

Tes widal adalah tes serologi anggapan untuk demam atau demam anteric undulant.
Dalam kasus infeksi Salmonella, ini adalah demonstrasi agglutinating antibody
melawan antigen O-somatikdan H-Flageller dalam darah. Untuk brucellosis, hanya
antigen O-somatik yang digunakan.
Prinsip pemeriksaan adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita
dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa. Pemeriksaan yang positif
ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (agglutinin). Antigen
yang digunakan pada tes widal ini berasal dari suspense salmonella yang sudah
dimatikan dan diolah dalam laboratorium. Dengan jalan mengencerkan serum, maka
kadar anti dapat ditentukan. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi
aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum.
Tekhnik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji
hapusan/ peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji
tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang
lebih rumit dan uji widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit
saja yang biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih
banyak digunakan uji widal peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat
dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan. Menurut beberapa peneliti uji widal
yang menggunakan antigen yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis
(local) memberikan sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi daripada bila
dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah enddemis (import).
Walaupun begitu, menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan Uji Tabung
Widal menggunakan antigen import dan antigen local, terdapat korelasi yang
bermakna antara antigen local dengan antigen S.typhi O dan H import, sehingga
bisa dipertimbangkan antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak
dapat memproduksi antigen sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis Demam
tifoid
Pada pemeriksaan uji widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai
parameter penilaian hasil uji Widal. Berikut ini penjelasan macam antigen
tersebut :
Antigen O
Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. Struktur
kimianya terdiri dari lipopolisakarida.
Antigen H
Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela, fimbriae atau fili S. typhi
dan berstruktur kimia protein. S.
Antigen Vi
Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi (kapsul) yang melindungi kuman dari
fagositosis dengan struktur kimia glikolipid, akan rusak bila dipanaskan selama 1
jam pada suhu 60C, dengan pemberian asam dan fenol.
Outer Membrane Protein (OMP)
Antigen OMP S typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran
sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan
sekitarnya. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin.
Porin merupakan komponen utama OMP, terdiri atas protein OMP C, OMP D, OMP
F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM <
6000. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85100C.
Protein nonporin terdiri atas protein OMP A, protein a dan lipoprotein, bersifat
sensitif terhadap protease, tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan jelas.
Salah satu kelemahan yang amat penting dari penggunaan uji widal sebagai sarana
penunjang diagnosis demam typhpid yaitu spesifitas yang agak rendah dan
kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut, sebab banyak factor yang
mempengaruhi kenaikan titer. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan
mungkin dijumpai dengan titer yanglebih tinggi, yang disebabkan adanya
reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan. Dengan alas
an ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S.typhi,
cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.typhi.
Titer widal biasanya angka kelipatan : 1/32 , 1/64 , 1/160 , 1/320 , 1/640.
Peningkatan titer uji Widal 4 x (selama 2-3 minggu) : dinyatakan (+).
Titer 1/160 : masih dilihat dulu dalam 1 minggu kedepan, apakah ada kenaikan
titer. Jika ada, maka dinyatakan (+).
Jika 1 x pemeriksaan langsung 1/320 atau 1/640, langsung dinyatakan (+) pada
pasiendengan gejala klinis khas.
MENENTUKAN HASIL AKHIR TITER
Menentukan hasil akhir titernya adalah sebagai berikut :
Volume Serum Ekuivalen Pengenceran Cara
Tabung
80 mikroliter 1:20
40 mikroliter 1:40
20 mikroliter 1:80
10 mikroliter 1:160
5 mikroliter 1:320

II. TATA CARA PERCOBAAN

1. Siapkan slide khusus widal yang bersiH

2. Pada bagian slide teteskan sebanyak delapan bagian masing-masing serum


sebanyak 20 mikroliter menggunakan clinipet.
3. Teteskan antigen H,A-H, B-H, C-H,dan antigen O,A-O,B-O,C-O pada tiap
bagian slide kemudian homogenkan dan digoyang selama 1-2 menit diatas
rotator.

III. INTERPRETASI HASIL

Positif (+) Bila terjadi aglutinasi


Negatif () Bila tidak terjadi aglutinasi
IV. HASIL PENGAMATAN

Antigen pada Salmonella paratyphi A-H terjadi aglutinasi maka hasil positif (+)
1/80
Antigen pada Salmonella paratyphi B-H tidak terjadi aglutinasi maka hasil
negatif(-)
Antigen pada Salmonella paratyphi C-H tidak terjadi aglutinasi maka hasil
negatif(-)
Antigen pada Salmonella paratyphi A-O terjadi aglutinasi maka hasil positif (+)
1/80
Antigen pada Salmonella paratyphi B-O tidak terjadi aglutinasi maka hasil
negatif (-)
Antigen pada Salmonella paratyphi C-O tidak terjadi aglutinasi maka hasil
negatif (-)
V. PEMBAHASAN
Uji widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunkan sejak tahun
1986. Uji widal adalah prosedur uji serologi untuk nmendeteksi bakteri Salmonella
sp enteric yang mengakibatkan typoid.
Tekhnik pemeriksaan uji widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji
hapusan/ peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). Perbedaannya, uji
tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang
lebih rumit dan uji widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit
saja yang biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Umumnya sekarang lebih
banyak digunakan uji widal peluncuran. Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat
dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan.
Uji ini didasarkan pada reaksi aglutinasi antara antigen dalam reagen terhadap
antibody pada serum penderita demam typoid. Reaksi aglutinasi ini didasarkan
pada kenaikan titer, dimana titer awal atau yang biasa disebut aglutinasi awal yaitu
1/80 yaitu 40ul reagen + 20ul serum penderita. Apabila terjadi aglutinasi (+) maka
dapat dianjutkan dengan pemeriksaan titer berikutnya yaitu 1/160 yaitu 40ul
reagen + 10ul serum penderita, apabila diperoleh hasil positif, dilanjutkan lagi pada
titer berikutnya yaitu 1/320 yatu 40ul reagen +5ul serum penderita, ini adalah
titer tertinggi. Apabila telah mencapai titer 1/320 maka dapat di fonis menderita
demam tifoid. Namun apabila baru mencapai titer 1/80, untuk pasien yang pernah
menderita demam typoid maka ini merupakan titer normal, tetapi untuk pasien
yang belum pernah mengalami demam typoid maka perlu dilakukan pemerikasaan
berikutnya pada 5-7 hari, untuk melihat apakah ada peningkatan titer atau tidak.
Untuk titer 1/160, untuk pasien yang pernah mengalami demam tifoid maka perlu
dilakukan pemeriksaan dalam jangka waktu 5-7 hari untuk meluhat kenaikan
titernya, namun untuk pasien yang belum pernah mengalami demam typoid maka
sudah dapat dikatakan (+) typoid. Lalu berlanjut pada titer 1/320.
Untuk pemeriksan uji widal metode slide, pemeriksaan tidak boleh dilakukan
apabila telah melewati 1 menit setelah pencampura reagen dan serum karena dapta
menghasilkan nilai postif palsu yang dikarenakan apabila lebih dari 1 menit,
antibody yang seharusnya tidak berikatan akan berikatan sehingga terbentuk
aglutinasi.\
Menurut beberapa peneliti uji widal yang menggunakan antigen yang dibuat dari
jenis strain kuman asal daerah endemis (local) memberikan sensitivitas dan
spesifitas yang lebih tinggi daripada bila dipakai antigen yang berasal dari strain
kuman asal luar daerah enddemis (import).
VI. KESIMPULAN

Uji widal adalah prosedur uji serologi untuk nmendeteksi bakteri Salmonella
sp enteric yang mengakibatkan typoid. Uji widal ini tidak boleh dilakukan lebih dari
1 menit karena dapat menyebabkan nilai positif palsu.
Berdasarkan praktek yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa
pemeriksaan widal menunjukkan hasil positif pada Salmonella Paratyphi A-H dan
Salmonella Paratyphi A-O.
Daftar Pustaka :

Dani, Hamril, dkk.2008.Diktat Imunologi dan Serologi.


pebrioktavianti.blogspot.com
Alat dan Bahan:
a. Alat : - tabung reaksi kecil + rak
- spoit - kapas alkohol
- slide - sentrifuge
- inkubator - klinipet + tip
- label - pipet tetes
b. Bahan : - sampel serum
- NaCl
c. Reagen : - antigen O
- antigen H
- antigen OH

D. Cara Kerja :
a. Kualitatif :
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dipipet serum sebanyak 50 ul dan diletakkan pada slide test.
3. Ditambahkan 1 tetes antigen pada slide tersebut.
4. Kemudian goyangkan slide selama 1 menit.
5. Perhatikan adanya reaksi aglutinasi dalam 1 menit.
6. Reaksi positif bila terjadi aglutinasi dalam 1 menit.
b. Semi Kuantitatif :
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dipipiet masing-masing serum 80 ul, 40 ul, 20 ul, 10 ul dan 5 ul dan diletakkan pada slide
test.
3. Ditambahkan masing-masing 1 tetes suspensi antigen (misalnya H antigen dari S. typhi) yang
sebelumnya telah dikocok terlebih dahulu disamping tetesan serum, kemudian diaduk dengan
memakai batang pengaduk (tusuk gigi/lidi) selama beberapa detik.
4. Goyangkan slide selama 1 menit dan perhatikan adanya reaksi aglutinasi dalam 1 menit.
5. Perhatikan adanya reaksi aglutinasi yang terjadi.
6. Serum 80 ul, 40 ul, 20 ul, 10 ul, dan 5 ul setelah penambahan 1 tetes antigen sesuai dengan
pengenceran sebanyak 20, 40, 80, 10 dan 320 kali.
7. Titer antibodi dilaporkan sesuai dengan pengenceran tertinggi yang masih menunjukkan
aglutinasi.
c. Kuantitatif :
1. Disiapkan 8 tabung reaksi dan disimpan dalam rak tabung serta diberi label 1-8.
2. Pada tabung 1 ditambahkan NaCl 1900 ul + serum 100 ul lalu dihomogenkan.
3. Tabung ke 2 sampai tabung ke 8 ditambahkan NaCl 1000 ul.
4. Campuran larutan pada tabung 1 dipipet sebanyak 1000 ul lalu dimasukkan ke dalam tabung 2
kemudian dihomogenkan.
5. Dilakukan hal di atas sampai tabung 7, (tidak dilakukan pada tabung 8 karena tabung 8
dijadikan sebagai kontrol).
6. Kemudian pada tabung 7 dipipet larutan sebanyak 1000 ul lalu dibuang.
7. Pada semua tabung ditambahkan 1 tetes antigen lalu dihomogenkan.
8. Diinkubasi selama 24 jam pada suhu 36C.
9. Perhatikan adanya reaksi aglutinasi yang terjadi pada setiap tabung.
10. Titer antibodi dilaporkan sesuai dengan pengenceran tertinggi yang masih menunjukkan
aglutinasi.
E. Hasil Pengamatan :
Hasil yang didapatkan dari uji ini yaitu negatif
(tidak terjadi aglutinasi).
Metode pemeriksaan antibodi

A. Metode aglutinasi

Reaksi aglutinasi (direk atau pasif) banyak digunakan, sebagai contoh penentuan tipe eritrosit
dalam penggolongan darah, diagnosis imunologi pada penyakit hemolitik seperti anemia
hemolitik yang diinduksi obat, tes rheumatoid faktor (IgM dan IgG), tes untuk syphilis dan
aglutinasi untuk tes kehamilan.

Contoh reaksi aglutinasi pada pemeriksaan Golongan darah

Pada reaksi aglutinasi bakteriologis, dasar pemeriksaan penentuan antibodi adalah


pengukuran antibodi yang terbentuk yang merupakan respon terhadap antigen. Antibodi
spesifik melekat pada permukaan bakteri dalam suspensi yang kental sehingga menyebabkan
bakteri berkumpul membentuk agregat. Antibodi yang demikian disebut dengan aglutinin dan
pemeriksaannya disebut aglutinasi bakteri. Reaksi aglutinasi biasa dilakukan untuk infeksi
bakteri yang sulit dilakukan pembiakan secara in vitro. Bakteri yang menggunakan teknik ini
diantaranya: tetanus, yersiniosis, leptospirosis, brucellosis, dan tularemia. Demam thypoid
agglutinin test (Widal test) sudah jarang digunakan karena biasa bereaksi positif pada pasien
dengan infeksi bakteri lain atau reaksi silang antibodi atau karena pernah imunisasi thypoid.
Pemeriksaan yang paling sesuai untuk pasien tersangka demam thypoid adalah dengan
pembiakan dan identifikasi adanya bakteri Salmonella. Sel parasit Plasmodium, Leismania atau
Toxoplasma gondii, juga telah menggunakan metode aglutinasi langsung untuk deteksi
antibodi. Banyak pasien yang terinfeksi ricketsia memproduksi antibodi yang dapat
menyebabkan aglutinasi non spesifik terhadap bakteri proteus. Tes Weil-Felix dapat digunakan
untuk mendeteksi reaksi silang tersebut, tetapi telah tersedia metode pemeriksaan infeksi
ricketsia yang baru yang lebih spesifik sehingga tes Weil-Felix tidak dipergunakan lagi.

B. Tes Aglutinasi partikel

Teknik pemeriksaan serologis yang mendeteksi antibodi melalui aglutinasi dari partikel
pembawa (carrier) tiruan dimana antigen terikat pada partikel tersebut. Carrier yang biasa
digunakan partikel lateks atau sel darah merah yang telah di olah, atau biologic carrier seperti
sel bakteri yang dapat membawa antigen pada permukaannya dan dapat berikatan dengan
antibodi yang diproduksi sebagai respon dari sel hospes. Ukuran partikel pembawa
memungkinkan reaksi aglutinasi dapat terlihat. Contohnya untuk antigen cryptococcal
digunakan lateks bead yang dilekati antibodi spesifik pada metode lateks agglutination.

Untuk mendeteksi streptococcus grup A dari swab tenggorok , digunakan metode pemeriksaan
aglutinasi partikel untuk grup -hemolitik streptococcus. Hasil aglutinasi dipengaruhi oleh
beberapa faktor diantaranya jumlah dan afinitas konjugat antigen terhadap carrier, waktu
inkubasi dengan serum penderita dan interaksi yang terjadi pada lingkungan mikro (pH dan
konsentrasi protein). Tes komersial telah dikembangkan sebagai satu kesatuan lengkap dengan
pelarut, kontrol dan wadah tersendiri. Untuk hasil yang akurat harus digunakan sebagai
kesatuan tidak bisa dimodifikasi atau digantikan dengan reagen lain. Apabila tes digunakan
untuk specimen LCS misalnya, tidak dapat digunakan untuk pemeriksaan specimen serum
kecuali ada teknik prosedur yang disajikan didalamnya dan telah distandarisasi untuk
digunakan.

Sel darah merah binatang biasa juga digunakan sebagai carrier antigen pada tes aglutinasi, tes
ini disebut dengan haemaglutinasi untuk mendeteksi adanya partikel virus berdasarkan sifat
mengaglutinasikan eritrosit yang terlihat secara makroskopis dan indirect haemaglutinasi atau
haemaglutinasi pasif, karena bukan merupakan antigen sel darah merah itu sendiri, tetapi
sebagai sel pembawa antigen secara pasif, yang akan diikat oleh antibodi. Yang digunakan
secara luas dari metode ini dan telah tersedia secara komersial adalah Mikrohaemaglutinasi
untuk antibodi Treponema pallidum (MHA-TP), Haemaglutinasi treponemal untuk syphilis
(HATTS), haemaglutinasi pasif untuk antibodi terhadap antigen ekstraseluler steptococcus ,
dan tes indirek haemaglutinasi untuk antibodi virus Rubella, eritrosit diolah dengan
penambahan formaldehid-piruvat aldehid sehingga virus rubella dapat terabsorpsi pada
membrane permukaan eritrosit . Pedoman laboratorium terpercaya seperti Center for Disease
Control and Prevention (CDC) juga menyelenggarakan pemeriksaan indirek haemaglutinasi
untuk tes antibodi terhadap beberapa clostridia, Burkholderia psudomallei, Bacillus anthracis,
Corynebacterium diphtheria, Leptospira dan beberapa agen virus dan parasit.

Contoh pemeriksaan aglutinasi partikel:

ASI Color Mono II test merupakan tes aglutinasi untuk pemeriksaan kualitatif dan
semikunatitatif untuk mendeteksi antibodi heteropil serum yang berhubungan dengan
Mononukleus infeksiosa (IM). Tidak diperlukan pengenceran sampel.
Prinsip pemeriksaan:

Tes didasarkan reaksi antara antibodi IM dalam sampel bereaksi dengan antigen yang
dilekatkan pada eritrosit kuda dan diberi indikator warna. Apabila dalam sampel terdapat
antibodi heterofil akan terjadi aglutinasi yang menunjukkan hasil positif apabila tidak ada
antibodi, tidak terjadi aglutinasi (hasil tes negatif)

Gambar contoh reaksi aglutinasi Positif (1) dan negatif (2)

Sumber www.dshs.state.tx.us/LAB/serology_cf.shtm

Tes Haemaglutinasi

Digunakan untuk pemeriksaan

- Virus influenza dan virus lainnya

- Pemeriksaan protein : Neuramidase , Haemaglutinin ( yang secara spesifik terikat pada sel
eritrosit)

Langkah-langkah pemeriksaan:
1. Pemipetan larutan pengencer.
2. Tambahkan eritrosit dan aduk secara perlahan sampai homogen.
3. Biarkan sel eritrosit tenang dan amati pola susunan eritrosit.
4. Amati apakah sel normal mengendap atau ada aglutinasi dengan mengamati apakah
terbentuk seperti kancing pada dasar mikrotiter plate atau terbentuk suspensi eritrosit yang
terlarut .

Haemaglutinasi inhibisi

Pada umumnya virus yang menginfeksi manusia dapat berikatan dengan sel darah merah dari
spesies yang berbeda. Sebagai contoh partikel virus rubella dapat berikatan dengan sel darah
manusia tipe O, angsa atau eritrosit ayam dan menyebabkan aglutinasi sel darah merah. Virus
influenza dan parainfluenza dapat mengaglutinasikan eritrosit babi, ayam dan manusia tipe O,
arbovirus dapat mengaglutinasikan eritrosit angsa, adenovirus dapat mengaglutinasikan
eritrosit tikus atau sel rhesus kera, virus mumps berikatan dengan eritrosit kera, virus herpes
dan cytomegalovirus mengaglutinasikan eritrosit domba.

Tes serologi untuk mendeteksi adanya antibodi berbagai virus tersebut berdasarkan
kemampuan aglutinasi virus. Serum pasien yang telah diolah dengan penambahan kaolin atau
heparin-magnesium chloride (untuk menghilangkan inhibitor nonspesifik dan nonspesifik
agglutinin sel eritrosit) ditambahkan ke dalam system yang mengandung virus tersangka
penyebab penyakit. Apabila serum mengandung antibodi terhadap virus, akan terbentuk
kompleks dan akan menghalangi binding-site permukaaan virus. Ketika sel eritrosit
ditambahkan ke dalam larutan seluruh partikel virus akan terikat pada antibodi, sehingga akan
mencegah virus mengaglutinasikan eritrosit. Sehingga serum pasien dikatakan positif untuk tes
haemaglutination inhibition antibodi

Gambar Reaksi pada tes haemaglutinasi inhibisi

C. Tes flokulasi

Berbeda dengan pembentukkan agregat ketika partikel antigen berikatan dengan antibodi
spesifik, interaksi antara antigen terlarut dengan antibodi akan membentuk presipitat,
pemadatan partikel halus, biasanya terlihat hanya jika presipitat tetap stabil berada pada matrik.

Ada dua jenis tes berdasarkan flokulasi:

1). Tes Presipitin

Metode klasik untuk mendeteksi antigen terlarut yaitu antigen dalam suatu larutan
adalah Outcherlony double immunodiffusion. Pada metode ini sumur dibuat dalam suatu agar,
suatu matrik berbentuk gelatin yang memungkinkan partikel berdifusi dalam cawan petri.
Metode ini biasanya digunakan untuk mendeteksi eksoantigen yang diproduksi oleh jamur
sistemik untuk konfirmasi keberadaannya dalam pembiakan. Akan tetapi teknik ini terlalu
lambat untuk penggunaan secara umum untuk deteksi antigen secara langsung dari specimen
serum pasien.

Contoh hasil double immunodiffusi dan imunopresipitasi

Imunodiffusi
Tes imunodifusi didasarkan pada pembentukkan imunokompleks yang berdasarkan berat
molekul yang tinggi, presipitat dan bentuk garis presipitasi dapat diamati secara makroskopik.
Metode ini untuk mendapatkan hasil diperoleh kurang lebih satu minggu itupun hanya hasil
kualitatif. Teknik imunodifusi dapat dilakukan pada cawan petri yang mengandung agar gelatin
1% dalam suasana buffer posfat atau tris buffer. Sumur-sumur dibuat menggunakan perforator,
untuk menempatkan antigen di sumur dan serum-serum diletakkan mengeliligi antigen.
Antigen dan antibodi dalam serum akan berdifusi dalam agar dan ketika bertemu akan
membentuk garis agak kabur yang akan terlihat pada cahaya langsung dan dengan latar
belakang gelap. Kontrol positif (standar serum) harus disertakan untuk panduan pembacaan
hasil positif dan interpretasi. Teknik imunodifusi selain untuk serum juga dapat digunakan
untuk LCS dan urine. Teknik imunodifusi biasa digunakan pula untuk deteksi antibodi terhadap
jamur pathogen : Histoplasma, Blastomyces, Coccidioides, Paracoccidioides, dan beberapa
jamur opportunistic yang pemeriksaannya memerlukan waktu sekurang-kurangnya 48 jam
bahkan lebih untuk mengembangkan pembentukan pita .

Gambar contoh hasil imunodifusi yang positif untuk paracoccidioidomycosis (a) dan hasil
positif pada reaksi aglutinasi latek pada sumur atas dan hasil negatif pada sumur di bawah (b)

VDRL (Veneral Disease Research Laboratory test)

Merupakan metode yang menggunakan prinsip presipitasi dengan bentuk produk akhir
presipitin berkumpul terlihat secara makroskopis dan mikroskopis. Pasien yang terinfeksi
treponema, pada umumnya Treponema. pallidum, penyebab shypilis membentuk antibodi
seperti protein dinamakan reagin yang akan berikatan dengan antigen cardiolipin-lecithin-
coated cholesterol partikel, menyebabkan partikel berflokulasi. Karena reagin bukan
merupakan antibodi langsung yang spesifik terhadap antigen T. pallidum, tes ini kurang
spesifik tetapi baik digunakan untuk skrining tes. VDRL merupakan satu-satunya tes yang
paling berguna untuk mendeteksi cairan LCS pasien tersangka Neuroshypilis, meskipun
kemungkinan terjadi positif palsu. Pelaksanaan tes VDRL memerlukan ketelitian, alat gelas
yang bersih, dan harus memperhatikan rincian secara tepat, termasuk kontrol kualitas rutin.
Sebagai tambahan, reagen yang akan digunakan harus disiapkan baru setiap pelaksanaan tes,
serum pasien harus diinaktivasi dengan pemanasan selama 30 menit pada 56C sebelum tes,
dan hasilnya dibaca menggunakan mikroskop. Untuk semua alasan tersebut banyak
laboratorium klinik menggunakan tes kualitatif tandingan Rapid Plasma Reagin (RPRtest)
RPR (Rapid Plasma Reagin test)

RPR merupakan tes yang tersedia secara komersial lengkap dengan konrol positif dan negatif,
kartu tempat reaksi, dan reagen untuk persiapan suspensi antigen. Antigen kardiolipin-lecithin-
coated cholesterol dengan cholin klorida dan juga mengandung partikel arang untuk
memperlihatkan flokulasi makroskopis. Serum tanpa pemanasan dan reaksi terjadi pada
permukaan kartu tes yang kemudian dibuang. RPR merupakan tes yang dianjurkan untuk
specimen LCS. Seluruh prosedur distandarisasi dan dijelaskan terperinci dalam kit reagen dan
harus diikuti dengan tepat. Secara keseluruhan RPR merupakan tes skrining yang lebih sensitif
dibandingkan VDRL, dan lebih mudah dalam pengerjaannya. Beberapa modifikasi telah
dibuat, misalnya penggunaan zat warna untuk mempermudah melihat hasil reaksi.

Kondisi dan infeksi lain selain shypilis yang dapat menyebabkan hasil positif pada pemeriksaan
VDRL atau RPR disebut biologic false positive tes. Penyakit autoimun, seperti lupus
erythematosus dan demam reumatik, mononucleosis infeksiosa, hepatitis, kehamilan dan usia
tua,dapat menyebabkan positif palsu sehingga untuk hasil positif dinyatakan sebagai dugaan
dan harus dikonfirmasi dengan tes spesifik treponemal.

Tes RPR

Contoh : BD Macro-Vue RPR Card Test Kits

Sumber : www.cardinalhealth.com/.../images/B/B6940-9.jpg

BD Macro-Vue RPR (rapid plasma reagin) merupakan tes nontreponemal untuk mendeteksi
shypilis, terdiri dari reagen tetes, kartu tes berdiameter 18 mm dan prosedur yang tercantum
dalam A Manual of Tests for Syphilis (Larsen, S., et al., editors, 1990, American Public Health
Association).

Gambar Rotator untuk RPR

Sumber : websites.labx.com/rankin/pics/41747.JPG

BD Macro-Vue Card Test Rotator model 51-II. Merupakan rotator yang digunakan pada
metodeith Macro-Vue circle card tests. Rotator dengan kecepatan rotasi konstan 100 rpm
dengan diameter lingkaran kartu tes 2 cm. waktu yang dibutuhkan selama 8 menit dan akan
terdengar suara bel apabila telah mencukupi waktu yang telah ditentukan. 115V, 60 Hz.
Gambar pengenceran serum RPR kuantitatif

Sumber :student.ccbcmd.edu/.../lab18/images/rprdil.jpg

2). Counterimmunoelectrophoresis

Jenis tes lain yang menggunakan prinsip presipitasi dan penggunaannya secara luas digunakan
untuk mendeteksi antibodi dalam jumlah sedikit. Kelebihan tes ini menggunakan muatan listrik
yang dialirkan pada antigen-antibodi yang dites pada sistem buffer tertentu. Karena antigen
dan antibodi dipertemukan satu sama lainnya dengan bantuan arus listrik pada suatu matriks
semisolid untuk bermigrasi sehingga metode ini disebut Counterimmunoelectrophoresis (CIE).
CIE merupakan modifikasi metode Ouchterlony yang dipercepat migrasi antigen antibodinya
oleh adanya aliran listrik. Dengan pengecualian bakteri Streptococcus pneumonia serotype 7
dan 14, antigen bakteri akan bermuatan negatif pada suasana sedikit basa, sedangkan antibodi
bersifat netral. Sifat antigen bakteri inilah yang digunakan pada prinsip metode CIE, dimana
larutan yang mengandung antibodi dan larutan sampel diletakkan pada lubang sumur agarosa
yang diletakkan pada permukaan kaca. Kertas atau fiber bersumbu digunakan untuk
menjembatani dua agarosa yang bersebrangan untuk dilalui buffer yang sedikit alkali. Ketika
dialiri arus listrik maka akan terjadi migrasi dari Antigen yang bermuatan negatif akan
bermigrasi ke elektoda positif. Antibodi yang bermuatan netral akan terbawa oleh elektroda
negatif . pada perbatasan antara sumur akan terbentuk zona ekuivalen, dan komplek antigen-
antibodi membentuk garis presipitasi yang nampak, proses migrasi ini memerlukan waktu satu
jam. Banyak antigen yang dapat diperiksa oleh metode CIE, mendeteksi hampir 0,01 sampai
0,05 mg/ml antigen yang setara dengan 103 organisme/ml larutan. Perlu disertai control pada
setiap pengerjaan, CIE merupakan metode yang berdasarkan reaksi presipitasi yang cukup
mahal, sehingga tidak banyak digunakan lagi dalam imunodiagnostik.

D. Tes Netralisasi

Tes netralisasi pada kultur sel dan pengujian laboratorik menggunakan hewan coba, antibody
akan mencegah atau menurunkan virulensi virus. Teknik ini sulit dan membutuhkan waktu
pengerjaan yang lama dan sulit untuk dikerjakan, akan tetapi kadangkala diperlukan.

Gambar tahapan tes netralisasi virus


E. Tes Fiksasi komplemen

Tes fiksasi komplemen merupakan teknik imunologi yang digunakan untuk menentukan
antigen spesifik atau antibody apabila ada dalam serum pasien. Metode ini sangat umum
digunakan untuk membedakan dan menemukan penyebab infeksi. Pada umumnya digunakan
untuk pemeriksaan mikroorganisme yang sulit di identifikasi melalui metode pembiakan. Akan
tetapi metode ini telah tergantikan oleh metode serological lainnya dalam dignosa klinik seperti
ELISA dan metoda identifikasi patogen yang didasarkan pada DNA khususnya polymerase
chain reaction (PCR)

Pada teknik fiksasi komplemen, komplemen digunakan ketika antigen bereaksi dengan
antibodi. Komplemen dapat ditemukan pada serum babi Guinea. Ketika sel darah merah
ditambahkan dengan anti-red-cell-antibody, sel darah merah akan lisis ketika ditambahkan
komplemen (hasil tes negatif). Apabila dalam serum mengandung antibodi maka complemen
akan menfiksasi ikatan antigen dan antibodi sehingga ketika ditambahkan anti-red-cell antibodi
tidak menghasilkan hemolisis sehingga tes menunjukkan hasil positif.

Reaksi pada teknik fiksasi komplemen

Contoh pemeriksaan dengan metode fiksasi komplemen

1. Adenovirus
2. Jamur (Blastomyces, Coccicioides, & Histoplasma)
3. Virus Influenza A & B
4. Parainfluenza 1, 2, & 3
5. Poliovirus 1, 2, & 3
6. Respiratory Syncitial Virus (RSV)

F. ELISA (Enzyme Linked Immunoassays)/EIA (Enzym Immunoassays)

ELISA digunakan untuk pengukuran konsentrasi antibody terhadap suatu antigen, biasanya
digunakan antibody monoclonal.

Persiapan tes:

- Antigen dilekatkan pada fase padat misalnya pada permukaan dasar mikroplate
- Persiapan anti-human antibody dilabel enzim (contohnya -galaktosida) yang berfungsi sebagai
indicator warna dari substrat yang jernih.

Prinsip ELISA

Cara kerja :

- Specimen yang akan diperiksa dimasukkan ke dalam sumur biasanya mikroplate, molekul
antibody akan berikatan dengan antigen yang dilekatkan pada fase padat

- Anti-human antibody yang diberi label ditambahkan pada campuran. Antibody berlabel akan
terikat pada ikatan molekul antigen-antibodi yang pertama sehingga terjadi ikatan sandwich
antibody-antigen-antibody berlabel

- Setelah proses pencucian molekul yang tidak berikatan, ditambahkan substrat

- Setelah beberapa waktu sesuai dengan standar prosedur, ditambahkan reagen untuk
menghentikan reaksi (penambahan NaOH 1N). intensitas warna yang terbentuk
proporsional/ sebanding dengan konsentrasi antigen yang terikat.

Contoh teknik ELISA dan imunoblot

G. Indirect Flourescent Antibodi Test (IFA)

Pemeriksaan yang berdasarkan IFA ke dalam analisis serologi dan molekular :

Ehrlichia antibody
Fluorescent Treponemal antibody (FTA)
Legionnella antibody
Mumps IgM antibody
Q Fever antibody
Rocky Mountain Spotted Fever antibody
Toxoplasma IgG antibody
Typhus antibody

Teknik Fluorescent-antibody (FA) masih digunakan untuk mendeteksi antigen dan


antibodi walaupun tidak sebanyak EIA. Teknik fluorescent terdiri dari direct dan indirect,
metode indirek biasanya digunakan untuk mendeteksi antibodi (IFA) seperti pada EIA,
sedangkan untuk pemeriksaan antigen digunakan metode direk.

Indirect Fluorescent Antibody Test (IFA)


1. Antigen mikroba diletakkan dalam kaca objek dan diberi bahan fiksatif

2. Serum pasien yang telah diencerkan diinkubasi bersama antigen pada kaca objek, kemudian
dicuci

3. Antibodi berlabel flouresen (konjugat) ditambahkan

4. Kaca objek dicuci hemudian dikeringkan, kemudian dibaca dibawah mikroskop flouresen

Preparat diamati adanya area terang berfloresensi warna hijau dan dibandingkan dengan
control positif dan negatif. Adanya floresensi hijau menandakan adanya antibodi terhadap
antigen
Contoh teknik IFA untuk antibodi toxoplasma.
Pada lapang pandang kiri hasil positif,
sedangkan kanan hasil negatif
Contoh tes IFA untuk antibodi ehrlichia .
Ehrlichiae adalah obligat intraseluler
rickettsiae, penyebab penyakit seperti Rocky
Mountain Spotted Fever.
H. Immunoprecipitasi
Imunopresipitasi merupakan metode dimana protein antigen dipresipitasikan dalam larutan
menggunakan antibodi spesifik yang berikatan dengan protein antigen tersebut. Metode ini
dapat digunakan ketika isolasi dan pemadatan protein spesifik pada bahan pemeriksaan terdiri
dari berbagai macam protein dan tidak sejenis. Antibodi harus dilekatkan pada fase padat pada
saat yang sama pada teknik pemeriksaan.

J. Immunoblot

Immunoblot disebut juga dengan Western Blot adalah suatu metoda analisa. Mendeteksi
protein tertentu yang terdapat pada sampel ekstrak atau jaringan. Pada teknik imunoblot,
protein didenaturasi, rantai panjang polipeptida atau struktrur tiga dimensi protein dengan
elektroforesis. Setelah protein dipindahkan ke dalam membrane nitroselulosa, protein dideteksi
dengan penambahan antibodi. Setiap protein akan berikatan dengan antibodi yang digunakan
untuk mendeteksi adanya antigen. Sebuah indicator spesifik digunakan untuk melabel antibodi
yang akan menimbulkan warna setelah bereaksi dengan streptavidin.

K. Pemeriksaan biologi molecular

Misalnya : PAGE atau SDS PAGE (sodium dodecyl sulfate poliacrylamide gel
electrophoresis) adalah metode yang biasanya digunakan untuk biokimia, forensik, genetik dan
biologi molekular. Metode ini menggunakan teknik pemisahan protein berdasarkan
kemampuan pergerakan molekul dalam elektroforesis
L. Teknik pemeriksaan lainnya
Protein sequencing dan X-ray crystallography digunakan untuk analisis protein virus.
Sedangkan teknik Agarose gels, restriction analysis, sequencing, southern blot, northern blot,
PCR atau RT-PCR biasanya digunakan untuk analisa genom virus.
Diposting 21st December 2010 oleh Mursalim Achmad

Istilah Reaksi Antigen dengan Antibodi


Antigen Antibodi Reaksi
Aglutinogen Aglutinin Aglutinasi
Precipinogen Precipitin Precipitasi
Sel bakteri Bakteriolysin Bakteriolisis
Toksin Antitoksin Flokulasi
ANTIGEN
A. Pengertian Antigen
Istilah antigen mengandung dua arti, pertama untuk mengambarkan molekul yang memacu
respon imun (juga disebut imunogen) dan kedua untuk menunjukkan molekul yang dapat
bereaksi dengan antibodi atau sel T yang sudah disensitasi (Baratawidjaja, 2006). Antigen
yaitu setiap substansi asing yang dapat menginduksi timbulnya respon imun (Bloom, 2002).
B. Letak Antigen
Antigen ditemukan di permukaan seluruh sel, tetapi dalam keadaan normal, sistem kekebalan
seseorang tidak bereaksi terhadap sel-nya sendiri. Sehingga dapat dikatakan antigen
merupakan sebuah zat yang menstimulasi tanggapan imun, terutama dalam produksi antibodi.
Antigen biasanya protein atau polisakarida, tetapi dapat juga berupa molekul Iainnya.
Permukaan bakteri mengandung banyak protein dan polisakarida yang bersifat antigen,
sehingga antigen bisa merupakan bakteri, virus, protein, karbohidrat, sel-sel kanker, dan
racun.
C. Bagian Antigen
Secara fungsional antigen terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Imunogen, yaitu molekul besar (disebut molekul pembawa). Bagian dari molekul antigen
besar yang dikenali oleh sebuah antibodi (oleh reseptor sel-T) atau bagian antigen yang
dapat membuat kontak fisik dengan reseptor antibodi, menginduksi pembentukan antibodi
yang dapat diikat dengan spesifik oleh bagian dari antibodi atau oleh reseptor antibodi, bisa
juga disebut determinan antigen atau epitop.
2. Hapten, yaitu kompleks yang terdiri atas molekul kecil. Bahan kimia ukuran kecil seperti
dinitrofenol dapat diikat antibodi, tetapi bahan tersebut sendiri tidak dapat mengaktifkan sel
B (tidak imunogenik). Untuk mengacu respon antibodi, bahan kecil tersebut perlu diikat oleh
molekul besar. Hapten merupakan sejumlah molekul kecil yang dapat bereaksi dengan
antibodi namun tidak dapat menginduksi produksi antibodi.
D.Klasifikasi Antigen
1.Pembagian antigen menurut epitop
a.Unideterminan, univalen
Hanya satu jenis determinan/ epitop pada satu molekul.
b. Unideterminan, multivalen
Hanya satu jenis determinan tetapi dua atau lebih determinan tersebut ditemukan pada satu
molekul.
c. Multideterminan, univalen
Banyak epitop yang bermacam-macam tetapi hanya satu dari setiap macamnya (kebanyaan
protein).
d. Multideterminan, multivalen
Banyak macam determinan dan banyak dari setiap macam pada satu molekul
2. Pembagian antigen menurut spesifisitas
a. Heteroantigen, yang dimiliki oleh banyak spesies
b. Xenoantigen, yang hanya dimiliki oleh banyak spesies tertentu
c. Aloantigen (isoantigen), yang spesifik untuk individu dalam satu spesies
d. Atigen organ spesifik, yang hanya dimiliki organ tertentu
e. Autoantigen, yang dimiliki alat tubuh sendiri
3. Pembagian antigen menurut ketergantungan terhadap sel T
a. T dependen, yang memerlukan pengenalan sel T terlebih dahulu untuk dapat menimbulkan
respon antibodi.
b. T independen, yang dapat merangsang sel B tanpa bantuan sel T untuk mebentuk antibodi.
4. Pembagian antigen menurut sifat kimiawi
a. Hidrat arang (polisakarida)
Hidrat arang pada umumnya imunogenik.
b. Lipid
Lipid biasanya tidak imunogenik kecuali bila diikat protein pembawa.
c. Asam nukleat
Asam nukleat tidak imunogenik, tetapi dapat menjadi imunogenik bila diikat protein molekul
pembawa.
d. Protein
Kebanyakan protein adalah imunogenik dan pada umumnya multideterminan dan univalent.
E. Sifat-Sifat Antigen
Antigen memiliki beberapa sifat-sifat yang khas pada antigen tersebut, sifat-sifat tersebut
antaralain:
1. Keasingan
Kebutuhan utama dan pertama suatu molekul untuk memenuhi syarat sebagai imunogen
adalah bahwa zat tersebut secara genetik asing terhadap hospes.
2. Sifat-sifat Fisik
Agar suatu zat dapat menjadi imunogen, ia harus mempunyai ukuran minimum tertentu,
imunogen yang mempunyai berat molekul yang kecil, respon terhadap hospes minimal, dan
fungsi zat tersebut sebagai hapten sesudah bergabung dengan proten-proten jaringan.
3. Kompleksitas
Faktor-faktor yang mempengaruhi kompleksitas imunogen meliputi baik sifat fisik maupun
kimia molekul.
4. Bentuk-bentuk (Conformation)
Tidak adanya bentuk dari molekul tertentu yang imunogen. Polipeptid linear atau bercabang,
karbohidrat linear atau bercabang, serta protein globular, semuanya mampu merangsang
terjadinya respon imun.
5. Muatan (charge)
Imunogenitas tidak terbatas pada molekuler tertentu; tidak terbatas pada molekuler tertentu,
zat-zat yang bermuatan positif, negatif, dan netral dapat imunogen. Namun demikian
imunogen tanpa muatan akan memunculkan antibodi yang tanpa kekuatan.
6. Kemampuan masuk
Kemampuan masuk suatu kelompok determinan pada sistem pengenalan akan menentukan
hasil respon imun.
F. Reaksi Antigen dan Antibodi
Dalam lingkungan sekitar kita terdapat banyak substansi bermolekul kecil yang bisa masuk
ke dalam tubuh. Substansi kecil tersebut bisa menjadi antigen bila dia melekat pada protein
tubuh kita. Substansi kecil yang bisa berubah menjadi antigen tersebut dikenal dengan istilah
hapten. Substansi-substansi tersebut lolos dari barier respon non spesifik (eksternal maupun
internal), kemudian substansi tersebut masuk dan berikatan dengan sel limfosit B yang akan
mensintesis pembentukan antibodi.
Sebelum pertemuan pertamanya dengan sebuah antigen, sel-sel-B menghasilkan molekul
immunoglobulin IgM dan IgD yang tergabung pada membran plasma untuk berfungsi
sebagai reseptor antigen. Jumlahnya mencapai 50.000 sampai 100.000 per sel dan semuanya
spesifik bagi satu determinan antigen. Sebuah antigen merangsang sel untuk membuat dan
menyisipkan dalam membrannya molekul immunoglobulin yang memiliki daerah pengenalan
spesifik untuk antigen itu. Setelah itu, limfosit harus membentuk immunoglobulin untuk
antigen yang sama. Pemaparan kedua kali terhadap antigen yang sama memicu respon imun
sekunder yang segera terjadi dan meningkatkan titer antibodi yang beredar sebanyak 10
sampai 100 kali kadar sebelumnya. Sifat molekul antigen yang memungkinkannya bereaksi
dengan antibodi disebut antigenisitas. Kesanggupan molekul antigen untuk menginduksi
respon imun disebut imunogenitas.
Kespesifikan reaksi antara antigen dan antibodi telah ditunjukkan melalui penelitian-
penelitian yang dilakukan oleh Landsteiner. Ia menggabungkan radikal-radikal organik
kepada protein dan menghasilkan antibodi terhadap antigen-antigen tersebut. Keputusan yang
diperolehi menunjukkan antibodi dapat membedakan antara kelompok berbeda pada protein
ataupun kumpulan kimia yang sama tetapi berbeda kedudukan. Ikatan yang terjadi terdiri dari
ikatan non kovalen (seperti ikatan hidrogen, van der Waals, elektrostatik, hidrofobik),
sehingga reaksi ini dapat kembali ke semula (reversible). Kekuatan ikatan ini bergantung
kepada jarak antara paratop dan bagian-bagian tertentu pada epitop.
Terdapat berbagai kategori Interaksi antigen-antibodi, kategori tersebut antara lain:
1. Primer
Interaksi tingkat primer adalah saat kejadian awal terikatnya antigen dengan antibodi pada
situs identik yang kecil, bernama epitop.
2. Sekunder
Interaksi tingkat sekunder terdiri atas beberapa jenis interaksi, di antaranya:
a. Netralisasi
Adalah jika antibodi secara fisik dapat menghalangi sebagian antigen menimbulkan effect
yang merugikan. Contohnya adalah dengan mengikat toksin bakteri, antibody mencegah zat
kimia ini berinteraksi dengan sel yang rentan.
b. Aglutinasi
Adalah jika sel-sel asing yang masuk, misalnya bakteri atau transfusi darah yang tidak cocok
berikatan bersama-sama membentuk gumpalan
c. Presipitasi
Adalah jika komplek antigen-antibodi yang terbentuk berukuran terlalu besar, sehingga tidak
dapat bertahan untuk terus berada di larutan dan akhirnya mengendap.
d. Fagositosis
Adalah jika bagian ekor antibodi yang berikatan dengan antigen mampu mengikat reseptor
fagosit (sel penghancur) sehingga memudahkan fagositosis korban yang mengandung antigen
tersebut.
e. Sitotoksis
Adalah saat pengikatan antibodi ke antigen juga menginduksi serangan sel pembawa antigen
oleh killer cell (sel K). Sel K serupa dengan natural killer cell kecuali bahwa sel K
mensyaratkan sel sasaran dilapisi oleh antibodi sebelum dapat dihancurkan melalui proses
lisis membran plasmanya.
3. Tersier
Interaksi tingkat tersier adalah munculnya tanda-tanda biologik dari interaksi antigen-
antibodi yang dapat berguna atau merusak bagi penderitanya. Pengaruh menguntungkan
antara lain: aglutinasi bakteri, lisis bakteri, immnunitas mikroba,dan lain-lain. Sedangkan
pengaruh merusak antara lain: edema, reaksi sitolitik berat, dan defisiensi yang menyebabkan
kerentanan terhadap infeksi.
Daftar Pustaka
Baratawidjaja, 2006, Imunologi Dasar, Edisi ke-7, Penerbit FKUII, Jakarta.
Bloom, 2002, Buku Ajar Histologi, Edisi 12, diterjemahkan oleh Jan Tambayong, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Sudiana, 2005, Konsep Dasar Imunologi, Universitas Airlangga, Surabaya available at
http://www.ners.unair.ac.id/materikuliah/DASAR%20IMUNOLOGI.pdf (diakses Oktober
2009).
Arti IgM dengue pada pemeriksaan demam berdarah, adalah Pada saat ini bila positif menunjukkan
bahwa penderita mengidap Demam Berdarah, Bila negatif bahwa penderita tidak ATAU BELUM
terdeteksi demam berdarah (bila terlalu dini mengambil sampel darah, hasilnya bisa negatif padahal
penderita mengidap demam berdarah)

Sedang IgG menunjukkan positif bila penderita pernah menderita demam berdarah sebelum
pemeriksaan saat ini.
Kalau negatif artinya penderita baru pertama kali menderita demam berdarah dengan syarat IgM-
nya positif. bila IgM-nya negatif artinya penderita bukan mengidap demam berdarah dan belum
pernah mengidap Demam berdarah.

IgG dan IgM merupakan parameter yang menunjukkan kekebalan tubuh kita, dari situ dapat dilihat
sudah berapa lama virus DBD menyerang tubuh pasien.

IgM terdeteksi mulai dari hari ke 3-5 masa infeksi dan dapat meningkat hingga minggu ke-3 dan
menghilang setelah 60-90 hari

IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14 pada infeksi primer dan terdeteksi pada hari ke-2 pada infeksi
sekunder.

IgM + namun IgG - : infeksi primer (infeksi karena DBD)


IgM + dan IgG + : infeksi sekunder (infeksi DBD beserta infeksi bakteri/ virus lain)
IgM - dan IgG+ : riwayat terpapar atau dugaan infeksi sekunder
IgM - dan IgG- : bukan infeksi DBD, ulangi 3-5 hari bila curiga

PERBEDAAN IgG DAN IgM

Pendahuluan
Di dalam tubuh manusia terdapat beberapa kelas antibodi (sejenis protein) yang dapat
ditemukan dalam darah dan cairan jaringan, yang disebut Imunoglobulin. Imunoglobulin
tersebut diproduksi oleh sel-sel pada sistem kekebalan yang dikenal sebagai B-limfosit.
Fungsi sel-sel tersebut adalah untuk mengikat zat dalam tubuh yang dikenal sebagai
antigen benda asing (seringkali protein pada permukaan bakteri dan virus). Pengikatan
ini sangat penting dalam penghancuran mikroba yang membawa antigen tersebut.

Macam-macam Imunoglobulin
Imunoglobulin juga memainkan peran sentral dalam alergi dan reaksi hipersensitivitas.
Dalam hal ini, mereka mengikat antigen yang belum tentu ancaman bagi kesehatan,
sehingga dapat menimbulkan reaksi inflamasi.

Ada lima kelas imunoglobulin yang diketahui, dan imunoglobulin G (IgG) merupakan
imunoglobulin utama dalam darah manusia. Molekul IgG terdiri dari dua bagian, salah
satunya mengikat antigen, yang lain mengikat sel-sel lain dari sistem kekebalan tubuh.
Sel-sel lain terutama sel darah putih yang disebut fagosit, yang kemudian menelan
mikroorganisme pembawa antigen.

Situs pengikat-antigen dari molekul IgG mempunyai struktur yang bervariasi, dan
setiap versi yang berbeda mampu mengikat sejumlah hampir tak terbatas dari antigen.

Imunoglobulin dapat diekstraksi dari darah pasien yang pulih dari suatu penyakit dan
digunakan untuk imunisasi pasif terhadap penyakit menular tertentu.

IgG vs IgM
Imunoglobulin atau antibodi mengacu pada protein yang mengikat antigen dalam
kasus-kasus penyakit tertentu. Keduanya, IgM dan IgG merujuk pada kelas
imunoglobulin. Antibodi diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan
antigen seperti bakteri dan virus. Jika IgM mengacu pada antibodi yang dihasilkan
segera setelah terpapar penyakit, IgG mengacu pada respon nanti. IgG umumnya
memberikan kekebalan terhadap pasien hanya terhadap penyakit tertentu yang
spesifik.

Sistem imun memberikan respon yang berbeda terhadap antigen atau 'musuh' yang
mengancam tubuh. Misalnya, antibodi yang dihasilkan oleh tubuh dalam menanggapi
paparan cacar air berbeda dari respon yang dihasilkan dalam kasus mononukleosis.
Pada beberapa kasus, tubuh dapat keliru menghasilkan antibodi atau bahkan dapat
melawan selnya sendiri. Kasus serupa ini disebut penyakit autoimun.
IgG, image provided by Visual Science

Immunoglobulin G atau IgG merupakan antibodi yang ditemukan paling melimpah dalam
tubuh manusia. Ia ditemukan dalam semua cairan tubuh dan melindungi tubuh
manusia terhadap serangan bakteri dan virus.
IgM, image provided by Richard J Pleass

Immunoglobulin M di sisi lain ditemukan paling banyak dalam cairan getah bening dan
darah. Ia merupakan antibodi pertama yang diproduksi oleh janin manusia. IgM juga
merupakan antibodi pertama yang diproduksi dalam kasus eksposur terhadap penyakit
tertentu.

IgG dan IgM biasanya diukur secara bersamaan oleh dokter ketika pasien menjalani tes
untuk diagnosa penyakit. Ketika keduanya dievaluasi bersama-sama, hasilnya dapat
memberikan dokter ide yang lebih baik tentang fungsi sistem kekebalan tubuh.

Perbedaan penting antara kedua antibodi adalah terkait dengan eksposurnya. Antibodi
IgM biasanya ditemukan dalam tubuh manusia setelah sudah terpajan penyakit,
sedangkan IgG merupakan respon jangka panjang dari tubuh terhadap suatu penyakit.
Misalnya, jika seorang anak yang terkena cacar air, ia akan menunjukkan hasil
peningkatan IgM dalam darah pada periode setelah eksposur. Setelah anak mendapat
penyakit, ia memperoleh kekebalan jangka panjang terhadap cacar air dengan
membangun antibodi IgG. Sementara IgM merupakan indikator infeksi saat ini, IgG
dapat menunjukkan paparan baru-baru ini atau masa lalu terhadap penyakit.

Selain itu, IgM adalah antibodi pertama yang diproduksi tubuh dalam fase infeksi akut.
Jumlahnya kira-kira enam kali lebih besar dari IgG dan multivalent.

IgM adalah antibodi sementara yang hilang dalam waktu dua atau tiga minggu, yang
kemudian digantikan oleh IgG yang berlangsung selama hidup dan memberikan
kekebalan abadi kepada orang tersebut.

Ringkasan:

1. IgM merupakan antibodi yang langsung dihasilkan begitu tubuh manusia terkena
virus, bakteri atau racun.
2. IgG ditemukan di seluruh tubuh, terutama di sebagian besar cairan tubuh,
sedangkan IgM adalah ditemukan terutama di darah dan cairan limfatik.
3. IgM lebih besar dalam ukuran dibandingkan dengan IgG.
4. IgM bersifat sementara dan menghilang setelah beberapa minggu yang
kemudian digantikan oleh IgG.
DEMAM TIFOID (TYPHUS ABDOMINALIS)

1. Definisi Typus Abdominalis

Penyakit Typus Abdominalis (typhoid fever) yang biasa disebut tifus merupakan
penyakit yang disebabkan oleh bakteri Salmonella, khususnya turunannya yaitu Salmonella
typhi yang menyerang bagian saluran pencernaan. Selama terjadi infeksi, kuman tersebut
bermultiplikasi dalam sel fagositik mononuklear dan secara berkelanjutan dilepaskan ke aliran
darah (Algerina, 2008; Darmowandowo, 2006).

Demam tifoid termasuk penyakit menular yang tercantum dalam Undang-undang


nomor 6 Tahun 1962 tentang wabah. Kelompok penyakit menular ini merupakan penyakit
yang mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan
wabah (Sudoyo A.W., 2010). Penularan Salmonella typhi sebagian besar melalui
minuman/makanan yang tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita atau pembawa
kuman dan biasanya keluar bersama-sama dengan tinja. Transmisi juga dapat terjadi secara
transplasenta dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakteremia kepada bayinya
(Soedarno et al, 2010).

Penyakit ini dapat menimbulkan gejala demam yang berlangsung lama, perasaan
lemah, sakit kepala, sakit perut, gangguan buang air besar, serta gangguan kesadaran yang
disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi yang berkembang biak di dalam sel-sel darah putih
di berbagai organ tubuh. Demam tifoid dikenal juga dengan sebutan Typhus abdominalis,
Typhoid fever, atau enteric fever. Istilah tifoid ini berasal dari bahasa Yunani yaitu typhos yang
berarti kabut, karena umumnya penderita sering disertai gangguan kesadaran dari yang
ringan sampai yang berat (Rampengan, 1993).

2. Epidemiologi Typus Abdominalis

Typus Abdominalis merupakan penyakit infeksi yang dijumpai di seluruh dunia, secara
luas di daerah tropis dan subtropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak
memadai dengan standar higienis dan sanitasi yang rendah yang mana di Indonesia dijumpai
dalam keadaan endemis (Putra A., 2012).

Dari laporan World Health Organization (WHO) pada tahun 2003 terdapat 17 juta
kasus demam tifoid per tahun di dunia dengan jumlah kematian mencapai 600.000 kematian
dengan Case Fatality Rate (CFR = 3,5%). Insidens rate penyakit demam tifoid di daerah
endemis berkisar antara 45 per 100.000 penduduk per tahun sampai 1.000 per 100.000
penduduk per tahun. Tahun 2003 insidens rate demam tifoid di Bangladesh 2.000 per 100.000
penduduk per tahun. Insidens rate demam tifoid di negara Eropa 3 per 100.000 penduduk, di
Afrika yaitu 50 per 100.000 penduduk, dan di Asia 274 per 100.000 penduduk (Crump, 2004).
Indisens rate di Indonesia masih tinggi yaitu 358 per 100.000 penduduk pedesaan dan 810
per 100.000 penduduk perkotaan per tahun dengan rata-rata kasus per tahun 600.000
1.500.000 penderita. Angka kematian demam tifoid di Indonesia masih tinggi dengan CFR
sebesar 10%. Tingginya insidens rate penyakit demam tifoid di negara berkembang sangat
erat kaitannya dengan status ekonomi serta keadaan sanitasi lingkungan di negara yang
bersangkutan (Nainggolan R., 2009).

3. Etiologi Typhus Abdominalis

Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella paratyphi dari
Genus Salmonella. Bakteri ini berbentuk batang, gram negatif, tidak membentuk spora, motil,
berkapsul dan mempunyai flagela (bergerak dengan rambut getar). Bakteri ini dapat hidup
sampai beberapa minggu di alam bebas seperti di dalam air, es, sampah dan debu. Bakteri
ini dapat mati dengan pemanasan (suhu 60C) selama 15 20 menit, pasteurisasi, pendidihan
dan khlorinisasi (Rahayu E., 2013).

Salmonella typhi adalah bakteri batang gram negatif yang menyebabkan demam tifoid.
Salmonella typhi merupakan salah satu penyebab infeksi tersering di daerah tropis,
khususnya di tempat-tempat dengan higiene yang buruk (Brook, 2001).

Manusia terinfeksi Salmonella typhi secara fekal-oral. Tidak selalu Salmonella typhi
yang masuk ke saluran cerna akan menyebabkan infeksi karena untuk menimbulkan infeksi,
Salmonella typhi harus dapat mencapai usus halus. Salah satu faktor penting yang
menghalangi Salmonella typhi mencapai usus halus adalah keasaman lambung. Bila
keasaman lambung berkurang atau makanan terlalu cepat melewati lambung, maka hal ini
akan memudahkan infeksi Salmonella typhi (Salyers dan Whitt, 2002).

Setelah masuk ke saluran cerna dan mencapai usus halus, Salmonella typhi akan
ditangkap oleh makrofag di usus halus dan memasuki peredaran darah, menimbulkan
bakteremia primer. Selanjutnya, Salmonella typhi akan mengikuti aliran darah hingga sampai
di kandung empedu. Bersama dengan sekresi empedu ke dalam saluran cerna, Salmonella
typhi kembali memasuki saluran cerna dan akan menginfeksi Peyers patches, yaitu jaringan
limfoid yang terdapat di ileum, kemudian kembali memasuki peredaran darah, menimbulkan
bakteremia sekunder. Pada saat terjadi bakteremia sekunder, dapat ditemukan gejala-gejala
klinis dari demam tifoid (Salyers dan Whitt, 2002). Salmonella typhi mempunyai 3 macam
antigen, yaitu:
a. Antigen O (Antigen somatik), yaitu terletak pada lapisan luar dari tubuh kuman. Bagian ini
mempunyai struktur kimia lipopolisakarida atau disebut juga endotoksin. Antigen ini tahan
terhadap panas dan alkohol tetapi tidak tahan terhadap formaldehid.

b. Antigen H (Antigen flagela), yang terletak pada flagela, fimbriae atau pili dari kuman. Antigen
ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid tetapi tidak tahan
terhadap panas dan alkohol yang telah memenuhi kriteria penilaian.

c. Antigen Vi yang terletak pada kapsul (envelope) dari kuman yang dapat melindungi kuman
terhadap fagositosis.

Ketiga macam antigen tersebut di atas di dalam tubuh penderita akan menimbulkan
pula pembentukan 3 macam antibodi yang lazim disebut aglutinin (Sudoyo A.W., 2010).

4. Faktor yang Mempengaruhi Typhus Abdominalis

a. Faktor Host

Manusia adalah sebagai reservoir bagi kuman Salmonella thypi. Terjadinya penularan
Salmonella thypi sebagian besar melalui makanan/minuman yang tercemar oleh kuman yang
berasal dari penderita atau carrier yang biasanya keluar bersama dengan tinja atau urine.
Dapat juga terjadi trasmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam
bakterimia kepada bayinya.

Penelitian yang dilakukan oleh Heru Laksono (2009) dengan desain case control,
mengatakan bahwa kebiasaan jajan di luar mempunyai risiko terkena penyakit demam tifoid
pada anak 3,6 kali lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan tidak jajan diluar (OR=3,65)
dan anak yang mempunyai kebiasaan tidak mencuci tangan sebelum makan berisiko terkena
penyakit demam tifoid 2,7 lebih besar dibandingkan dengan kebiasaan mencuci tangan
sebelum makan (OR=2,7).

b. Faktor Agen
Demam tifoid disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Jumlah kuman yang dapat
menimbulkan infeksi adalah sebanyak 105 109 kuman yang tertelan melalui makanan dan
minuman yang terkontaminasi. Semakin besar jumlah Salmonella thypi yang tertelan, maka
semakin pendek masa inkubasi penyakit demam tifoid.

c. Faktor Environment
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara luas di daerah tropis
terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan standar hygiene
dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat terjadinya penyebaran demam
tifoid adalah urbanisasi, kepadatan penduduk, sumber air minum dan standart hygiene
industri pengolahan makanan yang masih rendah.

Berdasarkan hasil penelitian Lubis, R. di RSUD. Dr. Soetomo (2000) dengan desain
case control , mengatakan bahwa higiene perorangan yang kurang, mempunyai risiko terkena
penyakit demam tifoid 20,8 kali lebih besar dibandingkan dengan yang higiene perorangan
yang baik (OR=20,8) dan kualitas air minum yang tercemar berat coliform berisiko 6,4 kali
lebih besar terkena penyakit demam tifoid dibandingkan dengan yang kualitas air minumnya
tidak tercemar berat coliform (OR=6,4).

5. Sumber Penularan (Reservoir)

Penularan penyakit demam tifoid oleh basil Salmonella typhi ke manusia melalui
makanan dan minuman yang telah tercemar oleh feses atau urin dari penderita tifoid. Ada dua
sumber penularan Salmonella typhi, yaitu:

a. Penderita Demam Tifoid

Yang menjadi sumber utama infeksi adalah manusia yang selalu mengeluarkan
mikroorganisme penyebab penyakit, baik ketika ia sedang menderita sakit maupun yang
sedang dalam penyembuhan. Pada masa penyembuhan penderita pada umumnya masih
mengandung bibit penyakit di dalam kandung empedu dan ginjalnya.

b. Karier Demam Tifoid

Penderita tifoid karier adalah seseorang yang kotorannya (feses atau urin)
mengandung Salmonella typhi setelah satu tahun pasca demam tifoid, tanpa disertai gejala
klinis. Pada penderita demam tifoid yang telah sembuh setelah 2 3 bulan masih dapat
ditemukan kuman Salmonella typhi di feces atau urin. Penderita ini disebut karier pasca
penyembuhan.

Pada demam tifoid sumber infeksi dari karier kronis adalah kandung empedu dan ginjal
(infeksi kronis, batu atau kelainan anatomi). Oleh karena itu apabila terapi medika-mentosa
dengan obat anti tifoid gagal, harus dilakukan operasi untuk menghilangkan batu atau
memperbaiki kelainan anatominya.

Karier dapat dibagi dalam beberapa jenis, yaitu:

1) Healthy carrier (inapparent) adalah mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah
menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung unsur
penyebab yang dapat menular pada orang lain, seperti pada penyakit poliomyelitis, hepatitis
B dan meningococcus.

2) Incubatory carrier (masa tunas) adalah mereka yang masih dalam masa tunas, tetapi telah
mempunyai potensi untuk menularkan penyakit/ sebagai sumber penularan, seperti pada
penyakit cacar air, campak dan pada virus hepatitis.

3) Convalescent carrier (baru sembuh klinis) adalah mereka yang baru sembuh dari penyakit
menulat tertentu, tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit tersebut untuk masa
tertentu, yang masa penularannya kemungkinan hanya sampai tiga bulan umpamanya
kelompok salmonella, hepatitis B dan pada dipteri.

4) Chronis carrier (menahun) merupakan sumber penularan yang cukup lama seperti pada
penyakit tifus abdominalis dan pada hepatitis B.

6. Patogenesis Typhus Abdominalis

Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi masuk kedalam tubuh manusia melalui
makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan berkembang biak. Bila respon imunitas humoral
mukosa IgA usus kurang baik maka kuman akan menembus sel-sel epitel dan selanjutnya ke
lamina propia. Di lamina propia kuman berkembang biak dan difagosit oleh sel-sel fagosit
terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan berkembang biak di dalam makrofag dan
selanjutnya dibawa ke plaque Peyeri ileum distal dan kemudian ke kelenjar getah bening
mesenterika.

Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman yang terdapat di dalam makrofag ini
masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan bakteremia pertama yang asimptomatik) dan
menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-organ
ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang
sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam sirkulasi darah lagi yang mengakibatkan
bakteremia yang kedua kalinya dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi
sistemik, seperti demam, malaise, mialgia, sakit kepala dan sakit perut (Sudoyo A.W., 2010).

Imunitas humoral pada demam tifoid berperan dalam menegakkan diagnosis


berdasarkan kenaikan titer antibodi terhadap antigen kuman S.typhi. Imunitas seluler
berperan dalam penyembuhan penyakit, berdasarkan sifat kuman yang hidup intraselluler.
Adanya rangsangan antigen kuman akan memicu respon imunitas humoral melalui sel limfosit
B, kemudian berdiderensiasi menjadi sel plasma yang akan mensintesis immunoglobulin (Ig).
Yang terbentuk pertama kali pada infeksi primer adalah antibodi O (IgM) yang cepat
menghilang, kemudian disusul antibodi flagela H (IgG). IgM akan muncul 48 jam setelah
terpapar antigen, namun ada pustaka lain yang menyatakan bahwa IgM akan muncul pada
hari ke 3-4 demam (Marleni, 2012; Rustandi 2010).

7. Gejala Klinis Typus Abdominalis

Gejala klinis demam tifoid seringkali tidak khas dan sangat bervariasi yang sesuai
dengan patogenesis demam tifoid. Spektrum klinis demam tifoid tidak khas dan sangat lebar,
dari asimtomatik atau yang ringan berupa panas disertai diare yang mudah disembuhkan
sampai dengan bentuk klinis yang berat baik berupa gejala sistemik panas tinggi, gejala septik
yang lain, ensefalopati atau timbul komplikasi gastrointestinal berupa perforasi usus atau
perdarahan. Hal ini mempersulit penegakan diagnosis berdasarkan gambaran klinisnya saja
(Hoffman, 2002).

Gejala klinis demam tifoid pada anak biasanya lebih ringan jika dibanding dengan
penderita dewasa. Masa inkubasi rata-rata 10 20 hari. Setelah masa inkubasi maka
ditemukan gejala prodromal, yaitu perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan
tidak bersemangat. Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai
dengan berat, dari asimptomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi
hingga kematian (Sudoyo A.W., 2010).

Demam merupakan keluhan dan gejala klinis terpenting yang timbul pada semua
penderita demam tifoid. Demam dapat muncul secara tiba-tiba, dalam 1-2 hari menjadi parah
dengan gejala yang menyerupai septikemia oleh karena Streptococcus atau Pneumococcus
daripada S.typhi. Gejala menggigil tidak biasa didapatkan pada demam tifoid tetapi pada
penderita yang hidup di daerah endemis malaria, menggigil lebih mungkin disebabkan oleh
malaria (Sudoyo A.W., 2010).

Demam tifoid dan malaria dapat timbul secara bersamaan pada satu penderita. Sakit
kepala hebat yang menyertai demam tinggi dapat menyerupai gejala meningitis, di sisi lain
S.typhi juga dapat menembus sawar darah otak dan menyebabkan meningitis. Manifestasi
gejala mental kadang mendominasi gambaran klinis, yaitu konfusi, stupor, psikotik atau koma.
Nyeri perut kadang tak dapat dibedakan dengan apendisitis.

Penderita pada tahap lanjut dapat muncul gambaran peritonitis akibat perforasi usus
(Sudoyo A.W., 2010). Gejala klinis yang biasa ditemukan, yaitu:

a. Demam

Pada kasus-kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu. Bersifat febris remiten
dan suhu tidak berapa tinggi. Selama minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur
meningkat setiap hari, biasanya menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan
malam hari. Dalam minggu kedua, penderita terus berada dalam keadaan demam. Dalam
minggu ketiga suhu tubuh berangsur-angsur turun dan normal kembali pada akhir minggu
ketiga.

b. Gangguan pada saluran pencernaan

Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap. Bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah ditutupi selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya kemerahan,
jarang disertai tremor. Pada abdomen mungkin ditemukan keadaan perut kembung
(meteorismus). Hati dan limpa membesar disertai nyeri pada perabaan. Biasanya didapatkan
konstipasi, akan tetapi mungkin pula normal bahkan dapat terjadi diare.

c. Gangguan kesadaran

Umumnya kesadaran penderita menurun walaupun tidak berapa dalam, yaitu apatis
sampai somnolen. Jarang terjadi sopor, koma atau gelisah (Sudoyo, A. W., 2010).

8. Komplikasi Typus Abdominalis

Menurut Sudoyo (2010), komplikasi demam tifoid dapat dibagi atas dua bagian, yaitu:

a. Komplikasi Intestinal

1) Perdarahan Usus

Sekitar 25% penderita demam tifoid dapat mengalami perdarahan minor yang tidak
membutuhkan tranfusi darah. Perdarahan hebat dapat terjadi hingga penderita mengalami
syok. Secara klinis perdarahan akut darurat bedah ditegakkan bila terdapat perdarahan
sebanyak 5 ml/kgBB/jam.

2) Perforasi Usus

Terjadi pada sekitar 3% dari penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu ketiga
namun dapat pula terjadi pada minggu pertama. Penderita demam tifoid dengan perforasi
mengeluh nyeri perut yang hebat terutama di daerah kuadran kanan bawah yang kemudian
meyebar ke seluruh perut. Tanda perforasi lainnya adalah nadi cepat, tekanan darah turun
dan bahkan sampai syok.

b. Komplikasi Ekstraintestinal

1) Komplikasi kardiovaskuler: kegagalan sirkulasi perifer (syok, sepsis), miokarditis, trombosis


dan tromboflebitis.

2) Komplikasi darah: anemia hemolitik, trombositopenia, koaguolasi intravaskuler diseminata,


dan sindrom uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru: pneumoni, empiema, dan pleuritis.

4) Komplikasi hepar dan kandung kemih: hepatitis dan kolelitiasis.

5) Komplikasi ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis.

6) Komplikasi tulang: osteomielitis, periostitis, spondilitis, dan artritis.

7) Komplikasi neuropsikiatrik: delirium, meningismus, meningitis, polineuritis perifer, psikosis,


dan sindrom katatonia.

9. Pemeriksaan Penunjang Diagnosis Typus Abdominalis

Penegakan diagnosis demam tifoid didasarkan pada manifestasi klinis yang diperkuat
oleh pemeriksaan laboratorium penunjang. Penelitian yang menggunakan berbagai metode
diagnostik untuk mendapatkan metode terbaik dalam usaha penatalaksanaan penderita
demam tifoid secara menyeluruh masih terus dilakukan hingga saat ini (Sudoyo A.W., 2010).

Diagnosis definitif demam tifoid tergantung pada isolasi S.typhi dari darah, sumsum
tulang atau lesi anatomi tertentu. Adanya gejala klinis dari karakteristik demam tifoid atau
deteksi dari respon antibodi spesifik adalah sugestif demam tifoid tetapi tidak definitif. Kultur
darah adalah gold standard dari penyakit ini (WHO, 2004).

Dalam pemeriksaan laboratorium diagnostik, dimana patogen lainnya dicurigai, kultur


darah dapat digunakan. Lebih dari 80% pasien dengan demam tifoid terdapat Salmonella
typhi di dalam darahnya. Kegagalan untuk mengisolasi organisme dapat disebabkan oleh
beberapa faktor: (i) keterbatasan media laboratorium, (ii) penggunaan antibiotik, (iii) volume
spesimen, atau (iv) waktu pengumpulan, pasien dengan riwayat demam selama 7 sampai 10
hari menjadi lebih mungkin dibandingkan dengan pasien yang memiliki kultur darah positif
(WHO, 2004).

Aspirasi sum-sum tulang adalah standar emas untuk diagnosis demam tifoid dan
sangat berguna bagi pasien yang sebelumnya telah diobati, yang memiliki sejarah panjang
penyakit dan pemeriksaan kultur darah yang negatif. Aspirasi duodenum juga telah terbukti
sangat memuaskan sebagai tes diagnostik namun belum diterima secara luas karena
toleransi yang kurang baik pada aspirasi duodenum, terutama pada anak-anak (WHO, 2004).

Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid


dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

a. Pemeriksaan Darah Tepi

Penderita demam tifoid bisa didapatkan anemia, jumlah leukosit normal, bisa menurun
atau meningkat, mungkin didapatkan trombositopenia dan hitung jenis biasanya normal atau
sedikit bergeser ke kiri, mungkin didapatkan aneosinofilia dan limfositosis relatif, terutama
pada fase lanjut.

Penelitian oleh beberapa ilmuwan mendapatkan bahwa hitung jumlah dan jenis
leukosit serta laju endap darah tidak mempunyai nilai sensitivitas, spesifisitas dan nilai ramal
yang cukup tinggi untuk dipakai dalam membedakan antara penderita demam tifoid atau
bukan, akan tetapi adanya leukopenia dan limfositosis relatif menjadi dugaan kuat diagnosis
demam tifoid (Hoffman, 2002).

Penelitian oleh Darmowandowo (1998) di RSU Dr. Soetomo Surabaya mendapatkan


hasil pemeriksaan darah penderita demam tifoid berupa anemia (31%), leukositosis (12.5%)
dan leukosit normal (65.9%) (Darmowandowo, 2006).

b. Pemeriksaan Bakteriologis dengan Isolasi dan Biakan Kuman

Diagnosis pasti demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri Salmonella typhi
dalam biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum. Berkaitan dengan
patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum
tulang pada awal penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urin dan feses (Hardi
et al, 2002).

Kultur organisme penyebab merupakan prosedur yang paling efektif dalam menduga
demam enterik, dimana kultur untuk demam tifoid dapat menjelaskan dua pertiga dari kasus
septikemia yang diperoleh dari komunitas yang dirawat di rumah sakit (Wain dan Hosoglu,
2008).

Kultur darah adalah prosedur untuk mendeteksi infeksi sistemik yang disebabkan oleh
bakteri atau jamur. Tujuannya adalah mencari etiologi bakteremi dan fungemi dengan cara
kultur secara aerob dan anerob, identifikasi bakteri dan tes sensitivitas antibiotik yang
diisolasi. Hal ini dimaksudkan untuk membantu klinisi dalam pemberian terapi antibiotik yang
terarah dan rasiona1 (Provan, 2005). Media pembiakan yang direkomendasikan untuk S.typhi
adalah media empedu (gall) dari sapi dimana dikatakan media Gall ini dapat meningkatkan
positivitas hasil karena hanya S.typhi dan S.paratyphi yang dapat tumbuh pada media
tersebut (Sudoyo A.W., 2010).

Masing-masing koloni terpilih diamati morfologinya, meliputi: warna koloni, bentuk,


diameter 1-2 mm, tepi, elevasi, sifat yaitu berdasarkan kemampuannya untuk
memfermentasikan laktosa, atau kemampuannya untuk menghemolisa sel darah merah
(Bourbeau dan Pohlman, 2001).
Hasil yang menunjukkan ditemukannya bakteri dalam darah dengan cara kultur
disebut bakteremi, dan merupakan penyakit yang mengancam jiwa, maka pendeteksiannya
dengan segera sangat penting. Indikasi kultur darah adalah jika dicurigai terjadi bakteremi
atau septikemi dilihat dari gejala klinik, mungkin akan timbul gejala seperti demam, mual,
muntah, menggigil, denyut jantung cepat (tachycardia), pusing, hipotensi, syok, leukositosis,
serta perubahan lain dalam sistem organ dan atau laboratoris (Provan, 2005).

Biakan darah terhadap Salmonella juga tergantung dari saat pengambilan pada
perjalanan penyakit. Beberapa peneliti melaporkan biakan darah positif 40-80% atau 70-90%
dari penderita pada minggu pertama sakit dan positif 10-50% pada akhir minggu ketiga.
Sensitivitasnya akan menurun pada sampel penderita yang telah mendapatkan antibiotika
dan meningkat sesuai dengan volume darah dan rasio darah dengan media kultur yang
dipakai. Pada keadaan tertentu dapat dilakukan kultur pada spesimen empedu yang diambil
dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik, akan tetapi tidak digunakan secara
luas karena adanya risiko aspirasi terutama pada anak. Salah satu penelitian pada anak
menunjukkan bahwa sensitivitas kombinasi kultur darah dan duodenum hampir sama dengan
kultur sumsum tulang (Wain et al, 2008).

Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif tidak
menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada beberapa faktor. Faktor-faktor
yang mempengaruhi hasil biakan meliputi jumlah darah yang diambil, perbandingan volume
darah dari media empedu dan waktu pengambilan darah (Sudoyo A. W., 2010).

Bakteri dalam feses ditemukan meningkat dari minggu pertama (10-15%) hingga
minggu ketiga (75%) dan turun secara perlahan. Biakan urine positif setelah minggu pertama.
Biakan sumsum tulang merupakan metode baku emas karena mempunyai sensitivitas paling
tinggi dengan hasil positif didapat pada 80-95% kasus dan sering tetap positif selama
perjalanan penyakit dan menghilang pada fase penyembuhan. Metode ini terutama
bermanfaat untuk penderita yang sudah pernah mendapatkan terapi atau dengan kultur darah
negatif sebelumnya. Prosedur terakhir ini sangat invasif sehingga tidak dipakai dalam praktek
sehari-hari. Pemeriksaan pada keadaan tertentu dapat dilakukan kultur pada spesimen
empedu yang diambil dari duodenum dan memberikan hasil yang cukup baik akan tetapi tidak
digunakan secara luas karena adanya risiko aspirasi pada anak. Salah satu penelitian pada
anak menunjukkan bahwa sensitivitas kombinasi kultur darah dan duodenum hampir sama
dengan kultur sumsum tulang (Handoyo, 2004).

Volume 5-10 ml dianjurkan untuk orang dewasa, sedangkan pada anak-anak


dibutuhkan 2-4 ml, sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan untuk kultur hanya
sekitar 0.5-1 ml. Bakteri dalam sumsum tulang juga lebih sedikit dipengaruhi oleh antibiotika
daripada bakteri dalam darah. Hal ini dapat menjelaskan teori bahwa kultur sumsum tulang
lebih tinggi hasil positifnya bila dibandingkan dengan darah walaupun dengan volume sampel
yang lebih sedikit dan sudah mendapatkan terapi antibiotika sebelumnya. Spesifisitasnya
walaupun tinggi, pemeriksaan kultur mempunyai sensitivitas yang rendah dan adanya kendala
berupa lamanya waktu yang dibutuhkan (5-7 hari) serta peralatan yang lebih canggih untuk
identifikasi bakteri sehingga tidak praktis dan tidak tepat untuk dipakai sebagai metode
diagnosis baku dalam pelayanan penderita.

c. Uji Serologis

1) Uji Widal

Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun
1896. Prinsip uji Widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi aglutinin dalam serum
penderita yang telah mengalami pengenceran berbeda-beda terhadap antigen somatik (O)
dan flagela (H) yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi aglutinasi.
Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam
serum. Semakin tinggi titernya, semakin besar kemungkinan infeksi ini. Uji Widal ini dilakukan
untuk deteksi antibodi terhadap kuman Salmonella typhi. Pada uji ini terjadi suatu reaksi
aglutinasi antara antigen kuman Salmonella typhi dengan antibodi yang disebut aglutinin.
Antigen yang digunakan pada uji Widal adalah suspensi Salmonella yang sudah dimatikan
dan diolah di laboratorium. Maksud uji Widal adalah menentukan adanya aglutinin dalam
serum penderita tersangka demam tifoid (Sudoyo A.W., 2010).

Tes aglutinasi Widal dapat dilakukan dengan menggunakan uji hapusan (slide test)
dan uji tabung (tube test). Uji hapusan dapat dilakukan dengan cepat dan digunakan dalam
prosedur penapisan. Uji hapusan dilakukan dengan menggunakan antigen S. typhi komersial
yang tersedia, setetes suspensi antigen ditambahkan pada sejumlah serum pasien yang
diduga terinfeksi Salmonella typhi. Hasil penapisan positif membutuhkan determinasi
kekuatan dari antibodi (Olopienia, 2000).

Di Indonesia pengambilan titer O aglunitin 1/40 dengan memakai slide test (prosedur
pemeriksaan membutuhkan waktu 15 menit) menunjukkan nilai ramal positif 96% (Sudarno et
al, 2008). Campuran suspensi antigen dan antibodi diinkubasi selama 20 jam pada suhu 370
C di dalam air. Tes ini dapat digunakan untuk konfirmasi hasil dari uji hapusan (Olopienia,
2000).

Penelitian pada anak oleh Choo et.al (1990) mendapatkan sensitivitas dan spesifisitas
masing-masing sebesar 89% pada titer O atau H >1/40 dengan nilai prediksi positif sebesar
34.2% dan nilai prediksi negatif sebesar 99.2%. Beberapa penelitian pada kasus demam tifoid
anak dengan hasil biakan positif, ternyata hanya didapatkan sensitivitas uji Widal sebesar 64-
74% dan spesifisitas sebesar 76-83% (Choo et al, 1990). Interpretasi dari uji Widal ini harus
memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas, spesifisitas, stadium penyakit; faktor
penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan
antibodi; gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non-
endemis); faktor antigen; teknik serta reagen yang digunakan (Olopienia, 2000).

Kelemahan uji Widal yaitu rendahnya sensitivitas dan spesifisitas serta sulitnya
melakukan interpretasi hasil membatasi penggunaannya dalam penatalaksanaan penderita
demam tifoid akan tetapi hasil uji Widal yang positif akan memperkuat dugaan pada tersangka
penderita demam tifoid (penanda infeksi). Uji Widal saat ini walaupun telah digunakan secara
luas di seluruh dunia, namun manfaatnya masih diperdebatkan dan sulit dijadikan pegangan
karena belum ada kesepakatan akan nilai standar aglutinasi (cut-off point). Upaya untuk
mencari standar titer uji Widal seharusnya ditentukan titer dasar (baseline titer) pada orang
sehat di populasi dimana pada daerah endemis seperti Indonesia akan didapatkan
peningkatan titer antibodi O dan H pada orang-orang sehat (Hosoglu et al, 2008).

Kelemahan lain adalah banyak terjadi hasil negatif palsu dan positif palsu pada tes ini.
Hasil negatif palsu tes Widal terjadi jika darah diambil terlalu dini dari fase tifoid. Pemberian
antibiotik merupakan salah satu peyebab penting terjadinya negatif palsu. Penyebab hasil
negatif lainnya adalah tidak adanya infeksi S. typhi, status karier, inokulum antigen bakteri
pejamu yang tidak cukup untuk melawan antibodi, kesalahan atau kesulitan dalam melakukan
tes dan variabilitas antigen (Hosoglu et al, 2008).

Hasil positif palsu dapat terjadi apabila sudah pernah melakukan tes demam tifoid
sebelumnya, sudah pernah imunisasi antigen Salmonella sp., ada reaksi silang sebelumnya
dengan antigen selain Salmonella sp., variabilitas dan kurangnya standar pemeriksaan
antigen, infeksi malaria atau bakteri enterobacteriaceae lainnya, serta penyakit lain seperti
dengue (Hosoglu et al, 2008).

2) Uji Tubex

Uji Tubex merupakan uji semi-kuantitatif kolometrik yang cepat (beberapa menit) dan
mudah untuk dikerjakan. Uji ini mendeteksi antibodi anti-S.typhi O9 pada serum pasien,
dengan cara menghambat ikatan antara IgM anti-O9 yang terkonjugasi pada partikel latex
yang berwarna dengan lipopolisakarida S.typhi yang terkonjugasi pada partikel magnetik
latex. Hasil positif uji Tubex ini menunjukkan terdapat infeksi Salmonellae serogroup D walau
tidak secara spesifik menunjuk pada S.typhi. Infeksi oleh S.paratyphi akan memberikan hasil
negatif (Sudoyo A.W., 2010).
Secara imunologi, antigen O9 bersifat imunodominan sehingga dapat merangsang
respon imun secara independen terhadap timus dan merangsang mitosis sel B tanpa bantuan
dari sel T. Karena sifat-sifat tersebut, respon terhadap antigen O9 berlangsung cepat
sehingga deteksi terhadap anti-O9 dapat dilakukan lebih dini, yaitu pada hari ke 4-5 untuk
infeksi primer dan hari ke 2-3 untuk infeksi sekunder. Perlu diketahui bahwa uji Tubex hanya
dapat mendeteksi IgM dan tidak dapat mendeteksi IgG sehingga tidak dapat dipergunakan
sebagai modalitas untuk mendeteksi infeksi lampau (Sudoyo A.W., 2010). Pemeriksaan ini
dilakukan dengan menggunakan 3 macam komponen, meliputi: 1) tabung berbentuk V, yang
juga berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas, 2) Reagen A, yang mengandung partikel
magnetik yang diselubungi dengan antigen S.typhi O9, 3) Reagen B, yang mengandung
partikel lateks berwarna biru yang diselubungi dengan antibodi monoklonal spesifik untuk
antigen O9. Untuk melakukan prosedur pemeriksaan ini, satu tetes serum (25 L)
dicampurkan ke dalam tabung dengan satu tetes (25 L) reagen A. Setelah itu dua tetes
reagen B (50 L) ditambahkan ke dalam tabung. Hal tesebut dilakukan pada kelima tabung
lainnya. Tabung-tabung tersebut kemudian diletakkan pada rak tabung yang mengandung
magnet dan diputar selama 2 menit dengan kecepatan 250 rpm. Interpretasi hasil dilakukan
berdasarkan warna larutan campuran yang dapat bervariasi dari kemerahan hingga kebiruan.
Berdasarkan warna inilah ditentukan skor, yang interpretasinya dapat dilihat pada tabel
berikut.

Tabel 1. Interpretasi Skor Pemeriksaan Tubex

Skor Interpretasi

< 2 Negatif Tidak menunjuk infeksi tifoid aktif


3 Borderline Pengkuran tidak dapat disimpulkan. Ulangi
pengujian, apabila masih meragukan
lakukan pengulangan beberapa hari
kemudian
4-5 Positif Menunjukkan infeksi tiofid aktif
> 6 Positif Indikasi kuat infeksi tifoid
Sumber: Sudoyo A.W., 2010

Jika serum tidak mengandung antibodi terhadap O9, reagen B ini bereaksi dengan
reagen A. Ketika diletakkan pada daerah mengandung medan magnet (magnet rak),
komponen magnet yang dikandung reagen A akan tertarik pada magnet rak, dengan
membawa serta pewarna yang dikandung oleh reagen B. Sebagai akibatnya, terlihat warna
merah pada tabung yang sesungguhnya merupakan gambaran serum yang lisis. Sebaliknya,
bila serum mengandung antibodi terhadap O9, antibodi pasien akan berikatan dengan reagen
A menyebabkan reagen B tidak tertarik pada magnet rak dan memberikan warna biru pada
larutan (Sudoyo A.W., 2010). Berbagai penelitian menunjukkan uji ini memiliki sensitivitas dan
spesifisitas yang baik (berturut-turut 75-80% dan 75-90%). Pada tahun 2006, penelitian Surya
H dkk melakukan penelitian pada 52 sampel darah pasien dengan diagnosis klinis demam
tifoid untuk membandingkan spesifisitas, sensitivitas, positive predictive value (PPV) dan
negative predictive value uji Tubex dengan uji Widal. Pada penelitian tersebut, didapatkan
sensitivitas uji Tubex sebesar 100% (Widal: 53,1%), spesifisitas 90% (Widal: 65%), PPV
94,11% (Widal: 70,8%), NPV 100% (Widal: 46,4%) (Sudoyo A.W., 2010).

3) Uji Typhidot

Uji typhidot dapat mendeteksi antibodi IgM dan IgG yang terdapat pada protein
membran luar Salmonella typhi. Hasil positif pada uji typhidot didapatkan 2-3 hari setelah
infeksi dan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgM dan IgG terhadap antigen
S.typhi seberat 50 kD, yang terdapat pada strip nitroselulosa (Sudoyo A.W., 2010). Pada
penelitian Gopalakhrisnan dkk 2002, didapatkan sensitivitas uji ini sebesar 98%, spesifisitas
sebesar 76,6% dan efisiensi uji sebesar 84%. Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Olsen
dkk, didapatkan sensitifitas dan spesifisitas uji ini hampir sama dengan uji Tubex yaitu 79%
dan 89% dengan 78% dan 89% (Sudoyo A.W., 2010).

Pada kasus reinfeksi, respon imun sekunder (IgG) teraktivasi secara berlebihan
sehingga IgM sulit terdeteksi. IgG dapat bertahan sampai 2 tahun sehingga pendeteksian IgG
saja tidak dapat digunakan untuk membedakan antara infeksi akut dengan kasus reinfeksi
atau konvalesen pada kasus uji primer. Untuk mengatasi masalah tersebut, uji ini kemudian
dimodifikasi dengan menginaktivasi total IgG pada sampel serum. Uji ini, yang dikenal dengan
nama uji Typhidot-M, memungkinkan ikatan antara antigen dengan IgM spesifik yang ada
pada serum pasien. Studi evaluasi yang dilakukan oleh Khoo KE dkk pada tahun 1997 lebih
sensitif (sensitivitas mencapai 100%) dan lebih cepat (3 jam) dilakukan bila dibandingkan
dengan kultur (Sudoyo A.W., 2010).

4) Pemeriksaan kuman secara molekuler


Metode lain untuk identifikasi bakteri S. typhi yang akurat adalah mendeteksi DNA
(asam nukleat) gen flagellin bakteri S. typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi asam
nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara polymerase chain reaction (PCR) melalui
identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S. typhi (Wain dan Hosoglu, 2008).
Penelitian oleh Haque et al. (1999) mendapatkan spesifisitas PCR sebesar 100%
dengan sensitivitas yang 10 kali lebih baik daripada penelitian sebelumnya dimana mampu
mendeteksi 1-5 bakteri/ml darah. Penelitian lain oleh Massi et al. (2003) mendapatkan
sensitivitas sebesar 63% pada tes Tubex bila dibandingkan dengan uji Widal (35.6%).

Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi risiko
kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila prosedur teknis tidak
dilakukan secara cermat, adanya bahan-bahan dalam spesimen yang bisa menghambat
proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam spesimen darah serta bilirubin dan garam
empedu dalam spesimen feses), biaya yang cukup tinggi dan teknis yang relatif rumit. Usaha
untuk melacak DNA dari spesimen klinis masih belum memberikan hasil yang memuaskan
sehingga saat ini penggunaannya masih terbatas dalam laboratorium penelitian (Wain dan
Hosoglu, 2008).

10. Pencegahan Typus Abdominalis

Pencegahan dibagi menjadi beberapa tingkatan sesuai dengan perjalanan penyakit,


yaitu pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier.

a) Pencegahan Primer

Pencegahan primer merupakan upaya untuk mempertahankan orang yang sehat agar
tetap sehat atau mencegah orang yang sehat menjadi sakit. Pencegahan primer dapat
dilakukan dengan cara imunisasi dengan vaksin yang dibuat dari strain Salmonella typhi yang
dilemahkan. Di Indonesia telah ada 3 jenis vaksin tifoid, yaitu:

1) Vaksin oral Ty 21 a Vivotif Berna. Vaksin ini tersedia dalam kapsul yang diminum selang sehari
dalam 1 minggu satu jam sebelum makan. Vaksin ini kontraindikasi pada wanita hamil, ibu
menyusui, demam, sedang mengkonsumsi antibiotik di mana lama proteksi yaitu 5 tahun.

2) Vaksin parenteral sel utuh Typa Bio Farma. Dikenal 2 jenis vaksin yakni, K vaccine (Acetone
in activated) dan L vaccine (Heat in activated-Phenol preserved). Dosis untuk dewasa 0,5 ml,
anak 6 12 tahun 0,25 ml dan anak 1 5 tahun 0,1 ml yang diberikan 2 dosis dengan interval
4 minggu. Efek samping adalah demam, nyeri kepala, lesu, bengkak dan nyeri pada tempat
suntikan. Kontraindikasi demam, hamil dan riwayat demam pada pemberian pertama.

3) Vaksin polisakarida Typhim Vi Aventis Pasteur Merrieux. Vaksin diberikan secara


intramuscular dan booster setiap 3 tahun. Kontraindikasi pada hipersensitif, hamil, menyusui,
sedang demam dan anak umur 2 tahun. Indikasi vaksinasi adalah bila hendak mengunjungi
daerah endemik, orang yang terpapar dengan penderita karier tifoid dan petugas
laboratorium/mikrobiologi kesehatan.
Mengkonsumsi makanan sehat agar meningkatkan daya tahan tubuh, memberikan
pendidikan kesehatan untuk menerapkan prilaku hidup bersih dan sehat dengan cara budaya
cuci tangan yang benar dengan memakai sabun, peningkatan higiene makanan dan minuman
berupa menggunakan cara-cara yang cermat dan bersih dalam pengolahan dan penyajian
makanan, sejak awal pengolahan, pendinginan sampai penyajian untuk dimakan, dan
perbaikan sanitasi lingkungan.

b) Pencegahan Sekunder

Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan cara mendiagnosa penyakit secara


dini dan mengadakan pengobatan yang cepat dan tepat. Untuk mendiagnosis demam tifoid
perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium. Ada tiga metode untuk mendiagnosis penyakit
demam tifoid, yaitu:

1) Diagnosis Klinik

Diagnosis klinis penyakit ini sering tidak tepat, karena gejala kilinis yang khas pada
demam tifoid tidak ditemukan atau gejala yang sama dapat juga ditemukan pada penyakit
lain. Diagnosis klinis demam tifoid sering kali terlewatkan karena pada penyakit dengan
demam beberapa hari tidak diperkirakan kemungkinan diagnosis demam tifoid.

2) Diagnosis Mikrobiologik/Pembiakan Kuman

Metode diagnosis mikrobiologik adalah metode yang paling spesifik dan lebih dari 90%
penderita yang tidak diobati, kultur darahnya positif dalam minggu pertama. Hasil ini menurun
drastis setelah pemakaian obat antibiotika, dimana hasil positip menjadi 40%. Meskipun
demikian kultur sum-sum tulang tetap memperlihatkan hasil yang tinggi yaitu 90% positip.
Pada minggu-minggu selanjutnya hasil kultur darah menurun, tetapi kultur urin meningkat
yaitu 85% dan 25% berturut-turut positip pada minggu ke-3 dan ke-4. Organisme dalam tinja
masih dapat ditemukan selama 3 bulan dari 90% penderita dan kira-kira 3% penderita tetap
mengeluarkan kuman Salmonella typhi dalam tinjanya untuk jangka waktu yang lama.

3) Diagnosis Serologik

a) Uji Widal

Uji Widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin).
Aglutinin yang spesifik terhadap Salmonella typhi terdapat dalam serum penderita demam
tifoid, pada orang yang pernah tertular Salmonella typhi dan pada orang yang pernah
mendapatkan vaksin demam tifoid.
Antigen yang digunakan pada uij Widal adlah suspensi Salmonella typhi yang sudah
dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji Widal adalah untuk menentukan adanya
aglutinin dalam serum penderita yang diduga menderita demam tifoid. Dari ketiga aglutinin
(aglutinin O, H, dan Vi), hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk diagnosis.
Semakin tinggi titer aglutininnya, semakin besar pula kemungkinan didiagnosis sebagai
penderita demam tifoid. Pada infeksi yang aktif, titer aglutinin akan meningkat pada
pemeriksaan ulang yang dilakukan selang waktu paling sedikit 5 hari. Peningkatan titer
aglutinin empat kali lipat selama 2 sampai 3 minggu memastikan diagnosis demam tifoid.

Interpretasi hasil uji Widal adalah sebagai berikut:

1) Titer O yang tinggi (> 160) menunjukkan adanya infeksi akut.

2) Titer H yang tinggi (> 160) menunjukkan telah mendapat imunisasi atau pernah menderita
infeksi.

3) Titer antibodi yang tinggi terhadap antigen Vi terjadi pada carrier.

Beberapa faktor yang mempengaruhi uji Widal antara lain:

1) Faktor-faktor yang berhubungan dengan Penderita

a) Keadaan umum gizi penderita. Gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.

b) Waktu pemeriksaan selama perjalanan penyakit. Aglutinin baru dijumnpai dalam darah setelah
penderita mengalami sakit selama satu minggu dan mencapai puncaknya pada minggu
kelima atau keenam sakit.

c) Pengobatan dini dengan antibiotik. Pemberian antibiotik dengan obat antimikroba dapat
menghambat pembentukan antibodi.

d) Penyakit-penyakit tertentu. Pada beberapa penyakit yang menyertai demam tifoid tidak terjadi
pembentukan antibodi, misalnya pada penderita leukemia dan karsinoma lanjut.

e) Pemakaian obat imunosupresif atau kortikosteroid dapat menghambat pembentukan antibodi.

f) Vaksinasi. Pada orang yang divaksinasi demam tifoid, titer aglutinin O dan H meningkat.
Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H
menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun. Oleh karena itu titer aglutinin H pada
seseorang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai diagnostik.

g) Infeksi klinis atau subklinis oleh Salmonella sebelumnya

Keadaan ini dapat menyebabkan uji Widal positif, walaupun titer aglutininnya rendah. Di
daerah endemik demam tifoid dapat dijumpai aglutinin pada orang-orang yang sehat.
2) Faktor-faktor teknis

a) Aglutinasi silang

Karena beberapa spesies Salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang sama, maka
reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat juga menimbulkan reaksi aglutinasi pada spesies
lain. Oleh karena itu spesies Salmonella penyebab infeksi tidak dapat ditentukan dengan uji
widal.

b) Konsentrasi suspensi antigen

Konsentrasi suspensi antigen yang digunakan pada uji widal akan mempengaruhi hasilnya.

c) Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen

Daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih baik daripada suspensi
antigen dari strain lain.

b) Uji Enzym-Linked Immunosorbent Assay (ELISA)

1) Uji ELISA untuk melacak antibodi terhadap antigen Salmonella typhi belakangan ini mulai
dipakai. Prinsip dasar uji ELISA yang dipakai umumnya uji ELISA tidak langsung. Antibodi
yang dilacak dengan uji ELISA ini tergantung dari jenis antigen yang dipakai.

2) Uji ELISA untuk melacak Salmonella typhi

Deteksi antigen spesifik dari Salmonella typhi dalam spesimen klinik (darah atau urine) secara
teoritis dapat menegakkan diagnosis demam tifoid secara dini dan cepat. Uji ELISA yang
sering dipakai untuk melacak adanya antigen Salmonella typhi dalam spesimen klinis, yaitu
double antibody sandwich ELISA.

Pencegahan sekunder dapat berupa:

1) Penemuan penderita maupun carrier secara dini melalui penigkatan usaha surveilans demam
tifoid.

2) Perawatan umum dan nutrisi

Penderita demam tifoid, dengan gambaran klinis jelas sebaiknya dirawat di rumah
sakit atau sarana kesehatan lain yang ada fasilitas perawatan. Penderita yang dirawat harus
tirah baring dengan sempurna untuk mencegah komplikasi, terutama perdarahan dan
perforasi. Bila klinis berat, penderita harus istirahat total. Bila penyakit membaik, maka
dilakukan mobilisasi secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan penderita.
Nutrisi pada penderita demam tifoid dengan pemberian cairan dan diet. Penderita
harus mendapat cairan yang cukup, baik secara oral maupun parenteral. Cairan parenteral
diindikasikan pada penderita sakit berat, ada komplikasi penurunan kesadaran serta yang sulit
makan. Cairan harus mengandung elektrolit dan kalori yang optimal. Sedangkan diet harus
mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya rendah serat untuk mencegah
perdarahan dan perforasi. Diet untuk penderita tifoid biasanya diklasifikasikan atas : diet cair,
bubur lunak, tim dan nasi biasa.

3) Pemberian anti mikroba (antibiotik)

Anti mikroba (antibiotik) segera diberikan bila diagnosa telah dibuat. Kloramfenikol
masih menjadi pilihan pertama, berdasarkan efikasi dan harga. Kekurangannya adalah jangka
waktu pemberiannya yang lama, serta cukup sering menimbulkan karier dan relaps.

Kloramfenikol tidak boleh diberikan pada wanita hamil, terutama pada trimester III
karena dapat menyebabkan partus prematur, serta janin mati dalam kandungan. Oleh karena
itu obat yang paling aman diberikan pada wanita hamil adalah ampisilin atau amoksilin.

c) Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi keparahan akibat
komplikasi. Apabila telah dinyatakan sembuh dari penyakit demam tifoid sebaiknya tetap
menerapkan pola hidup sehat, sehingga imunitas tubuh tetap terjaga dan dapat terhindar dari
infeksi ulang demam tifoid.

Pada penderita demam tifoid yang carier perlu dilakukan pemerikasaan laboratorium
pasca penyembuhan untuk mengetahui kuman masih ada atau tidak.

11. Pengobatan

Kloramfenikol merupakan salah satu obat pilihan untuk demam tifoid. Obat ini bersifat
bakteriostatik. Dia dapat mengikat 50S subunit dari ribosom dan menghambat sintesa protein
bakteri. Obat ini memiliki spektrum yang luas, dapat menyerang bakteri gram positif dan gram
negatif termasuk bakteri anaerob dan ricketsia. Kloramfenikol baik diabsorbsi secara oral dan
juga tersedia dalam bentuk intravena. Kloramfenikol dimetabolisme didalam hati (Ismail dalam
Zulfadli, 2013).

Kloramfenikol diberikan dengan dosis 100 mg/kg BB/ hari dibagi dalam empat kali
pemberian. Studi yang dilakukan di Malaysia terhadap anak-anak yang menderita demam
tifoid mendapatkan 97% anak tersebut sembuh, setelah diobati dengan kloramfenikol dosis
40.5 mg/kg BB/hari untuk neonatus, dan 75.5 mg/kg BB/hari untuk anak-anak, dosis dibagi
dalam empat kali pemberian selama 14 hari. Saat ini diketahui ada beberapa negara yang
telah mengalami resisten terhadap kloramfenikol untuk pengobatan demam tifoid, diantaranya
adalah Kairo dan India. Alternatif lain untuk pengobatan demam tifoid adalah pemberian
sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson 100 mg/kg/hari dalam 1 atau 2 dosis, atau
sefotaksim 150-200 mg/kg/hr dalam 3-4 dosis. Efikasi kuinolon baik tetapi tidak dianjurkan
untuk anak. Sefiksim oral 10-15 mg/kgBB/hari selama 10 hari dapat diberikan sebagai terapi
untuk demam tifoid. (Soedarmono, dkk, 2012).
DAFTAR ISI

Daftar isi

IMUNOKROMATOGRAFI

A. Pengertian

B. Jenis-jenis Imunokromatografi Assay

C. Kelemahan dan Kekurangan

IMUNOASSAY PADA PENYAKIT INFEKSI BAKTERIAL

A. Imunoassay untuk Demam typoid

A.1. Pemeriksaan widal metode kualitatif

A.2. Pemeriksaan widal metod semikuantitatif

A.3. Pemeriksaan widal metode tubex TF

B. Immunoassay untuk penyakit Sifilis

B.1. Pemeriksaan VDRL metode kualitatif

B.2. Pemeriksaan VDRL metode semikuantitatif

B.3. Pemeriksaan TPHA metode kualittatif diluen

B.4 Pemeriksaan TPHA metode kuantitatif

B.5. Pemeriksaan RPR

IMUNOASSAY UNTUK PENYAKIT INFEKSI JASAD RENIK


A. Imunoassay untuk penyakit Rheumatoid Factor

A.1. Uji ASO metode kualitatif

A.2. Pemeriksaan RF/RA metode kuantitatif

A.3. Pemeriksaan RF metode kualitatif

A.4. Pemeriksaan RF metode semikuantitatif

IMUNOASSAY UNTUK PENYAKIT INFEKSI VIRAL

A. Imunoassay untuk Penyakit Hepatitis

A.1. Tes HBsAg Metode Imunokromatografi

A.2. Tes anti HCV Metode Imunokromatografi

A.3. Tes anti HBS Metode Imunokromatografi

A.4. Tes anti HAV

B. Imunoassay untuk penyakit infeksi HIV/AIDS

B.1. Tes HIV Metode imunokromatografi

B.2. Tes HIV Metode Elisa

C. Imunoassayy untuk Demam Berdarah Dengue

C.1. Tes Dengue Metode Imunokromatografi

IMUNOASSAY UNTUK PENYAKKIT LAINNYA

A. Imunoassay untuk Pemeriksaan Narkoba


A.1. Tes Narkoba Metode Imunokromatografi

B. Imunoassay untuk Tes Kehamilan

B.1. Pemeriksaan Plano Tes Metode Imunikromatografi

B.2. Pemeriksaan HCG Metode langsung

C. Imunoassay untuk Tes Golongan Darah

D. A.1. Tes Golongan Darah Metode Aglutinasi

Daftar Pustaka

IMUNOKROMATOGRAFI

A. Pengertian

Imunokromatografi ASSAY (ICA) atau disebut juga aliran samping (lateral flow test)
atau dengan singkat disebut uji strip (strip test) tergolong dalam kelompok imuno ASSAY
berlabel sampel seperti imunofluerens (IF) dan imuno enzim (EIA).
Imunokromatografi assay (ICA) merupakan perluasan yang logis dari teknologi uji
aglutinasi latex yang berwarna yaitu uji serologi yang telah dikembangkan sejak tahun 1957
singes dan piots untuk penyakit Arthritisrheumatoid.
Disamping itu imunokromatografi assay (ICA) merupakan uji laboratorium yang
handal sehingga amat dibutuhkan dinegara sedang berkembang. Imunokrimatografi assay
tidak membuktikan alat canggih (mikroskop kliorogens dan radio conts) untuk membacanya
cukup hanya dengan melihat adanya perubahan warna memakai mata telanjang sehingga jauh
lebih pratktis.

B. Jejnis-jenis Imunokromatografi ASSAY

HbsAg
Plano test
Narkoba
Pemeriksaan dengue
Pemeriksaan widal
Pemeriksaan HIV
Pemeriksaan HCV
Pemeriksaan Anti HbsAg

C. Kelemahan dan kekurangan

Format yang disukai oleh pemakai (teknisy laboratorium)


Waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan hasil tes amat singkat
Stabil untuk jangka panjang dan dalam tantangan iklim yang luas
Kerjanya amat praktis
Baru dalam pemeriksan kualitatif belum kuantitatif
IMMUNOASSAY TERAPAN

PADA PENYAKIT INFEKSI BAKTERIAL

DEMAM TIPOID

A. IMUNOASSAY UNTUK PENYAKIT DEMAM TIPOID


Demam tifoid (typoid fever) atau yang lebih terkenal dengan penyakit tifus ini
merupakan suatu penyakit pada saluran pencernaan yang sering menyeran anak-anak bahkan
orang dewasa. Penyabab penyakit tersebut adalah bakteri salmonella typhi.
Gejalah-gejalah yang kerap terjadi antara lain seperti nyeri pada perut, mual, muntah,
demam tinggi, sakit kepala dan diare kadang-kadang bercampur darah.
Penularan penyakit tifus ini, pada umumnya itu di sebabkan oleh karena melaui
makanan ataupun minuman yang sudah tercemar oleh agen penyakit tersebut. Biasa juga,
karena penanganan yan kurang begitu higenis ataupun juga disebabkan dari sumber air yang
sering digunakan yang digunakan untuk menggunakan untuk sehari-hari.
Salmonella merupakan kuman berbentuk batang gram negatif yang umumnya bererak
dengan flagel dan bersifat aerobic. Salmonella memiliki sedikitnya 5 macam anti gen, yaitu :

1. Antigen o (antigen somatik), yang terletak pada lapisan luar pada tubuh kuman.
Bagian ini tahan terhadap panas dan alcohol tetapi tidak terhadap formaldehid.

Lipopolisakarida dari antigen O terdiri dari 3 regio sebagai berukut :

a. Region I, mengandung antigen O spesifik atau antigen dinding sel dan merupakan
polimer dari unit oligosakarida yang berulang-ulang. Antigen O ini berguna untuk
pengelompokan serologis.
b. Region II, terikat pada antigen O dan terdiri dari core polysaccharide serta merupakan
sifat yan konstan dalam suatu genus Enterobacteriaceace tetapi berbeda antara genera.
c. Region III, mengandung lipid yang terikat pada core polysaccharide yang merupakan
bagian yang toksik dari molekul. Lipid A menempelkan lipopolisakarida pada
membran permukaan sel.

2. Antigen H (antigen flagela), yang terletak pada flagella, fimbrie atau pili dari kuman.
Antigen ini mempunyai struktur kimia suatu protein dan tahan terhadap formaldehid
tetapi tidak tahan terhadap panas dan alcohol.
3. Antigen Vi, yang terletak pada kapsel (envelope) dari kuman yang dapat melindungi
kuman terhadap fagositosis. Ketiga macam antigen tersebut diatas, didalam tubuh
penderita akan menimbulkan pula pembentukan 3 macam antibody yang lazim
tersebut agglutinin.
4. Outer membrane protein (OMP), antige n OMP S.typhi merupakan bagian dari didin
sel yang terletak di luar membrane sitoplasma lapisan peptidoglikan yang membatasi
sel terhadap lingkungan sekitarnya. OMP berfungsi sebagai barier fisik yang
mengendalikan masuknya zat dan cairan kedalam membrane sitoplasma, dan
berfungsi sebagai reseptor untuk bakteriofag dan bakterisin.
5. Heat hock protein (HSP) atau stress protein

Heat hock protein adalah protein yang memproduksi oleh jasad renik dalam lingkungan yang
terus berubah, terutama yang menimbulkan stress pada jasad renik tersebut dalam usahanya
mempertahankan hidupnya.
Sarana laboratorium untuk membantu menegakan diagnosis demam tifoid dalam garis
besarnya dapat digolongkan dalam tiga komponen, yaitu :

1. Isolasi kuman menyebabkan S. typhi, dari specimen klinis, seperti darah, sum-sum
tulang, urin, tinja dan cairan duodenum.
2. Imunoasay untuk malacak kenaikan kadar antibody terhadap antigen.S typhi
menentukan adanya antigen spesifik dari S. typhi.
3. Uji polymerase chain reaction (pcr) untuk melacak DNA spesifik dari S.typhi.

Pemeriksaan laboratorium meliputi pemeriksaan hematologi,urinalis, kimia klinik .


imunoserologi, dan biologi molekuler. Pemeriksaan m,enunjukan untuk membantu
menegakkan diagnosis (adalkalanya bahkan menjadi penentu diagnosis), menetapkan
prognosis, memantau perjalanan penyakit dan hasi pengobatan serta timbulnya penyulit.
Usaha yang tertua untuk melacak adanya kenaikan titer kadar antibody terhadap S.typi
yaitu dengan cara penentuan titer agglutinii O dan II dengan uji widal yang telah di pakai
sejak tahun 1896. Uji widal yang menggunakan suspensi basil s.typhi atau paratyphi untuk
menentukan titer agglutinin dalam serum penderita demam tifoid atau paratifoid, walaupun
banyak mempunyai kelemahan, sampai sekarang ini masih merupakan imunoasay yang
paling banyak dipakai untuk menunjang diagnosis demam typhoid di klinik.
Antigen dari uji widal :

a. Antigen H (antigen flagella)

Di buat dari S. typhi yang motil dengan permukaan koloni yang licin.
Kuman dimatikan dengan larutan formalin 0,1%

b. Antigen O (antigen somatic)


Di buat dari strain S. typhi yang tidak motil. Untuk membunuh kuman dipakai alkohol
absolute dan sebagai pengawet di pakai larutan phenol 0,5%. Sebelum dipakai konsentrasi
alcohol harus di encerkan sampai menjadi 12%.

c. Antigen PA (S.paratyphi A)

Di buat dari strain S.paratyphi A. untuk membunuh kuman dipakai formalin 0,1%.

d. Antigen PB (S. paratyphi B

Dibuat dari strain S.paratyphi B. untuk membunuh kuman di pakai formalin 0,1%.
Sebelum dipakai, suspense beberapa antigen tersebut diatas harus diencerkan lebih dahulu
dengan larutan salin normal steril sampai mencapai kekeruhan sama dengan tabung nomor 3
dari Mc. Forland (3 unit Mc.farland yang sesuai dengan 9 x 10 kuman/ml).
Dalam memilih antigen untuk uji widal, di anjurkan untuk memakai yang dibuat sendiri dari
beberapa strain atau faga salmonella yang ada didaerah endemis yang bersangkutan daripada
beberapa antigen baku yang dijual dipasaran dan dibuat dari beberapa strain dan faga
salmonella yang berasal dari Negara lain, sebab kurang sensitive dan spesifik serta sering
memberikan hasil negatif maupun positif semu. Sebaiknya untuk satu provinsi dipakai satu
jenis antigen yang dibuat dari beberapa strain salmonella yang ditemukan diprovinsi yang
bersangkutan. Untuk menurangi hasil yang negative semu dipakai anigen yang multistrain
daripada antigen yang monostrain sebab antigen yang multistrain mempunyai spectrum yang
lebih luas.

TES LBORATORIUM

1. Pemeriksaan widal (kualitatif)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan widal


tuk mengetahui ada tidaknya antibody spesifik terhadap antigen salmonella SP dalam serum.

a antibody salmonella typhi dan salmonella paratyphi dalam serum sampel akan bereaksi dengan antigen
yang terdapat dalam reagen widal. Reaksi dengan adanya aglutinasi.
ecara antigenis salmonella typosa di bagi menjadi: antigen somatic atau antigen O, antigen flageller atau
antigen H, dan antigen Vi. Kegunaan pemeriksaan widal adalah mencari ada tidaknya zat anti
dan mengukur titer zat anti trehadap kuman salmonella Sp dalam serum penderita tersangka.
Typus abdominalis, antigen yang digunakan adalah suspense kuman salmonella Sp dan
proteus Sp yang telah dimatikan dan diolah menjadi antigen O (antigen somatik) dan antigen
H (antigen flagella). Jika salmonella masuk kedalam tubuh maka anti O lebih cepat muncul
dan membeeri respon dari pada anti H, dan anti O lebi cepat hilang dari pada anti H.

dan bahan:

1. Serum
2. Reagen Widal
3. Rotator atau batang pengaduk
4. Pipet tetes
5. Slide

ANALITIK

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Pipet satu tets serum (20) keadaan lingkaran yang terdapat dalam slide dengan kode
O,H,HA dan CP dan CN
3. Tambakan masing-masing satu tetes reagen widal sesuia dengan kode slide, begitu
pula pada CN dan Cp
4. Campur antigen dan serum dengan batang pengaduk berbeda dan lebarkan kemudian
goyang-goyangkan selama satu menit
5. Amati reaksi yang terjadi.

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil :bi

Posotif : Bila terjadi aglutinasi


Negative : Bila tidak terjadi aglutinasi
2. Pemeriksaan Widal (Semikuantitaif)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan widalv


Tujuan : Untuk mengetahui ada tidaknya antibody spesoifik terhadap antigen salmonella Sp dalam serum
Metode : Tabung
Prinsip : adanya antibody salmonella typhi dan salmonella paratyphi dalam serum sampel akan bereaksi
dengan antigen yang terdapat dalam reagen widal. Reaksi dilihat dengan adanya aglutinasi

Alat Dan Bahan

1. Sampel serum
2. Reagen widal
3. NaCl 0,9%
4. Tabung Reaksi
5. Klinipet 100 ul + tips
6. Pipet 1 ml
7. Rak tabung

ANALITIK

Cara Kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan di gunakan


2. Susun 8 tabung reaksi di atas tabung untuk satu baris
3. Tabung pertama diisi NaCl 0,9% ml
4. Tabung kedua sampai pada tabung kedelapan diisi masing-masing 1 ml NaCl 0,9%
5. Pipet 100 ul serum masukan kedalam tabung pertama tabung pertama dan
homogenkan
6. Pindahkan 1 ml isi tabung pertama kedalam tabung kedua ke tabung dan seterusnya
sampai tabung ke tujuh
7. Buang 1 ml isi tabung ketujuh
8. Tambahkan 1 tetes reagen widal yang positif pada masing-masing tabung, sedangakan
tabung kedelapan ditambakan 1 tetes control positif
9. Inkubasi selama 24 jam pada suhu kamar
10. Amati hasil reaksi.

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil

Positif : terjadi aglutinasi


Negative : tidak terjadi aglutinasi

3. Pemeriksaan Widal (Tubex TF)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan widal


Tujuan : untuk mendeteksi demam typoid akut yang disebabkan oleh salmonella typhi melalui deteksi
spesifik adanya serum antibody Ig M
Metode : invitro semikuantitatif
Prinsip : Tes diagnosis in-vitro semikuantitatif untuk mendeteksi demam typhoid terhadap antigen S.
typoid og lopopolisakarida denan cara mengukur kemampuan serum antibody IgM tersebut
dalam menghambat reaksi antara antigen berlabel partikel latex magnetic, tingkat inhibisi
yang dihasilkan setara dengan konsentrasi antibody IgM dalam label skala warna
Persiapan

Alat

a. Klinipet / pipet tetes


b. Lempeng sumur
c. Timer
d. Pembanding warna

Bahan
a. Serum
b. Specimen control
c. Reagen coklat
d. Reagen biru

ANALITIK

Cara kerja

1. Masukan 50 ul reagen coklat pada sumur 1 untuk control (-) sumur 2 untuk control
(+) sumusr 3 unutk sampel
2. Tekan control (-) pada sumur 1, control (+) pada sumur 2 dan sampel serum pada
sumur 3
3. Kocok selama 2 menit
4. Tambakan reagen biru pada masing-masing sumur sebanyak 100 ul
5. Homogenkan dengan cara sedot sumur 10 X
6. Kocok dengan rotentor selama 2 menit
7. Tungu selama 2 jam untuk mengendap (bias di bantu dengan menggunakan magnet)
8. Amati warna yang terjadi

PASCA ANALITIK

Iterpretasi Hasil
Warna alkan terbentuk biru, sampel coklat, hasil di bandingkan dengan skala warna yang
tersedia.
Sifiis
B. IMUNOASSAY UNTUK PENYAKIT SIFILIS
Immunoassay untuk sifilis memegang peranan yang penting dalam diagnosis
laboratories dari penyakit sifilis ,sebab perjalanan penyakit lama dan sampai dewasa ini T.
pallidum belum berhasil untuk dibenihkan pada suatu media perbenihan . sedangkan
pemeriksaan secara langsung (mikroskopis) hanya dapat dikerjakan pada bahan yang diambil
dari lesi lues (ulcus durum,condylomata lata,dan reseola) yang seringkali hanya muncul
dalam waktu yang relative singkat dan sering member hasil yang negative semu.
Suatu infeksi dengan suatu kuman,umumnya akan membangkitkan pembentukan
antibody pada tubuh penderita.Demikian juga halnya pada infeksi dengan T.pallidum .
pembentukan antibody pada penderita sifilis baru terjadi setelah agak lama penderita
menderita penyakit tersebut,yaitu dimulai pada akhir stadium pertama atau permulaan
stadium kedua.
Hal ini terutama disebabkan oleh karena kuman ini diliputi oleh suatu selaput mucoid
yang menyebabkan kuman ini menjadi kebal terhadap fagositosis. Baru setelah kuman ini
agak lama berada dalam tubuh atau telah menyebar ke kelenjar lemfe regional(akhir stadium
pertama), pembentukan antibody humoral yang nyata mulai terjadi.
Dari segi imunoassai ,suatu infeksi dengan T .pallida.yang dikenal sebagai penyebab
dari sifilis akan menimbulkan 2 jenis antibody sebagai berikut :

1. Antibody nontreponemal atau regain sebagai akibat dari sifilis atau penyakit infeksi
yang lain. Antibody ini baru terbentuk setelah penyakit menyebar ke kelenjar limfe
regional dan menyebabkan kerusakan jaringan. Antibody ini memberikan reaksi
silang dengan beberapa antigen dari jaringan lain seperti misalnya dengan antigen
lipoid dari ekstrak otot jantung.
2. Antibody treponemal yang bereaksi dengan T.pallida. dan closelyrelatedstrains.
Dalam golongan antibody ini dapat dibedakan 2 jenis antibody,yaitu:

Group treponemal antibody, yaitu antibody terhadap antigen somatic yang dimiliki
oleh semua Treponema.
Antibody treponemal yang spesifik,yaitu antibody terhadap antigen spesifik dari
T.Pallidum.
Macam Imunoassai untuk sifilis
Berdasarkan kenyataan tersebut di atas maka imunoassai untuk sifilis dapat dibagi
menjadi 3 golongan besar,yaitu :

1. USS yang menggunakan regain sebagai antibody dan lipoid sebagai antigen.
Termasuk di sini yaitu:

a. VDRL(Veneraal Disease Research Laboratory);merupakan uji presipitasi.


b. RPR(Rapid Plasma Reagin);merupakan uji flokulasi.
c. CWR(Cardiolipin Wassermann);merupakan uji faksasi komplemen.

2. Imunoassai yang mempergunakan beberapa strain saprofitik dari treponema. Reiter


Protein Complement Fixation(RPCF);merupakan uji fiksasi complement.
3. Imunoassai yang menggunakan T.pallid sebagai antigen. Termasuk disini adalah :

a. Treponema pallidum Complement Fixation


b. Treponema Wasserman (T-WR)
c. Treponama pallidum immobilization (TPI)
d. Treponema pallidum immobilization Lyzozym (TPIL)
e. Treponema pallidum immobilization-Symplification
f. Flurorescence Troponemal antibody-5 (FTA-5)
g. FTA-200
h. FTA-absorption
i. FTAiinhibitori
j. Treponema pallidum Hamagglutination (TPHA);merupakan uji aglutinasi
k. Treponema pallidum immunoaneadhrence (TPIA)
l. ELISA-Treponema pallidum

Sensitifitas dari immunoassai untuk sifilis tidaklah sama dalam setiap stadium dari
sifilis seperti tampak dalam table berikut;
Sensitifitas pelbagai immunoassai untuk sifilis pada pelbagai stadium dari penyakit
sifilis(Olansky,1971)

Uji serologis Uji serelogi


Stadium non
penyakit Treponemal
Treponemal
VDRL CWR TPI FTA- ELISA
Abs

Lues I 76% 65% 53% 86% 1005

Lues II 100% 100% 98% 100% 100%

Laten dini 95% 95% 94% 99% 100%

Laten lanjut 72% 65% 89% 96% 100%

Lanjut (tertiary) 70% 60% 93% 92% 98-100%

TES LABORATORIUM

1. PEMERIKSAAN VDRL

(Veneral Disease Research Laboratory)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan VDRL(Veneral Disease Research Laboratory)


Metode : kualitatif
Tujuan : untuk menentukan ada tidaknya reaksi antara serum penderita dengan
antigen lipoid
Prinsip : adanya antibody regain (antibody non treponema) dalam serum penderita
akan bereaksi dengan antigen lipoid yang terkandung dalam reagen VDRL membentuk
presipitan.
Dasar teori : ada tiga jenis pemeriksaan sipilis yaitu VDRL (Veneral Disease Reseach
Laboratory) , RPR (Rapiud Plasma Reagin) , dan TPHA (Treponema phalid
hemaglutination). Untuk VDRL dan RPR mendeteksi antibody non tropenema,sedangkan
TPHA untuk mendeteksi antibody troponema phalida. Pemeriksaan VDRL , yaitu
pemeriksaan yang di pakai untuk penyakit sifilis.

Alat dan Bahan :

1. Slide
2. Clinipet
3. Batang pengaduk
4. Centrifuge
5. Tips
6. Tissue
7. Reagen VDRL
8. Serum

ANALITIK

Cara kerja:

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Pipet pada tempat berbeda 1 tetes serum sampel , control positif dan control negative
3. Tambahkan masing-masing reagen VDRL lebarkan dan goyang-goyangkan 8 menit

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil

Reaktif (+) : jika terbentuk agregan besar ditengah dengan dipinggirlungkaran


Weak (positif lemah) : jika agregatnya halus pada pinggir lingkaran
Non Reaktif : jika terbentuk agregat

2. PEMERIKSAAN VDRL

(Veneral Disease Reseach Laboratory)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan VDRL (veneral Disease Reseach Laboratory)


Metode : semikuantitatif
Alat dan Bahan :
1. Slide putih dengan 7 lingkaran
2. Tips kuning
3. Clinipet 50 ul
4. Serum sampel
5. NaCl 0,9%

ANALITIK

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Isilah NaCl 0,9% sebanyak 50 ul dari lingkaran 1-6
3. Tambahkan pada lingkaran 1 dan 7 serum sampel sebanyak 50 ul,homogenkan
lingkaran pertama dan pindahkan isi lingkaran pertama ke lingkaran ke-2n sebanyak
50ul,ddan seterusnya sampai pada lingkaran ke-6.
4. Buang isi lingkaran ke-6 sebanyak 50ul
5. Tambahkan masing-masing lingkaran dengan reagen VDRL ,sebanyak 1
tetes,goyang-goyangkan selama 8 menit dan baca hasilnya.

PASCA ANALITIK

Intrepetasi hasil:

Reaktif(+) : jika terbentuk agregan besar ditengah dan dipinggir lingkaran.


Weak (positif lemah) : jika agregatnya halus pada pinggir lingkaran
Non reaktif (-) : jika terbentuk agregat

3. PEMERIKSAAN TPHA

(Treponema phaliuda Hemaglutinasion)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan TPHA(Treponema phaliuda Hemaglutination)


Metode : kualitatif diluen
Tujuan : untuk mengetahui adanya treponema phalidium dalam serum
Prinsip : adanya antibody spesifik dalam serum penderita akan bereaksi dengan antigen
T.palidium yang dilapiskan pada sel darah merah. Reaksi positif(reaktif) ditandai dengan
adanya aglutinasi
Dasar teori : shipilis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh T.palidum dan dapat
menyerang semua organ yang ada dalam tubuh manusia terutama kordiopaskuler,otak dan
susunan saraf. Infeksi pada manusia biasanya disebabkan oleh kontak seksual.
T.Palidum dalam tubuh berkembang dalam 3 tahap:

1. Muncul bintik-bintik jerawat yang tidak sakit(chancer)atau borok,pada laki-laki


dizakar,pada perempuan dileher rahim/payudara,2-6 minggu setelah infeksi
2. Timbul bintik-bintik merah dikulit,telapak kaki,tangan dan selaput membrane,kurang
enak badan,napsu makan berkurang,sakit kepala dan demam.
3. Tahap laten (penyakit menjadi pasif dalam waktu tertentu),menyerang otak dan
jantung menyebabkan kematian,bias ditularkan melalui plasenta.

Alat dan Bahan

1. Tabung reaksi
2. Clinipet 10 ul,50 ul,dan 100 ul
3. Tips kuning
4. Diluents
5. Control cells
6. Control reaktif
7. Control non reaktif
8. Serum sampel

ANALITIK

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Siapkan 3 buah tabung reaksi untuk 1 baris
3. Pipet 190 ul diluent kedalam tabung 1 (baris datar)
4. Tambahkan 10 ul serum sampel/control positif dan control negative
5. Pindahkan 25 ul kedalam tabung 2 dan 3
6. Tambahkan 75 ul control cells pada tabung 2 dan 75 ul tes cells pada tabung 3 dan
campur
7. Diamkan selama 450-600C pada suhu ruangan.

PASCA ANALITIK

Interpretasi hasil :

Reaktif (+) : jika terjadi aglutinasi


Non reaktif (-) : tidak terjadi aglutinasi

catatan jika hasil reaktif maka hasil reaksi dilanjutkan ke kuantitatif

4. PEMERIKSAAN TPHA(Treponema phaliuda Hemaglutinasion)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan TPHA(Treponema phaliuda Hemaglutinatinasion)


Metode : kuantitatif
Alat dan bahan

1. Tabung reaksi 5 buah + rak tabung


2. Klinipet 10 ul,50 ul dan 100 ul
3. Tips kuning
4. Diluents
5. Tes cell
6. Control reaktif

ANALITIK
Cara Kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Siapkan 5 buah tabung dalam rak
3. Ambil tabung serum sampel 10 ul + 190 ul diluents pada kualitatif tadi yang
volumenya tinggal 150 ul (tabung 1)
4. Isi tabung ke-2 dengan 6 sebanyak 25 ul dan campur
5. Transfer dari tabung 1 ke tabung ke 2 sebanyak 25 ul dan campur
6. Transfer lagi dari tabung 2 ke tabung 3 seterusnya hingga tabung ke-5
7. Tambahkan masing-masing 75 ul tes cells dari tabung 1 sampai tabung 5
8. Inkubasi pada suhu ruangan 45-600C

PASCA ANALITIK

Interprestasi Hasil :

Positif (+) : terjadi aglutinasi


Negative (-) : tidak terjadi aglutinasi

5. Pemeriksaan RPR (Rapid Plasma Reagin)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan RPR (Rapid Plasma Reagin)


Metode : semikuantitatif
Prinsip : Adanya antibody Reagin (antibody non troponema)dalam serum penderita akan
bereaksi dengan antigen lipoid terdiri dari mikro partikel charcoal (carbon) membentuk
presipitasi.

Alat dan Bahan :

a. Serum sampel
b. NaCl 0,9%
c. Slide putih dengan 7 lingkaran (pakai 2 slide putih)
d. Klinipet 50ul
e. Tips kuning

ANALITIK

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Siapkan slide putih
3. Pipet NaCl 0,9% sebanyak 50ul dari lingkaran 1-6
4. Tambahkan serum sebanyak 50ul pada lingkaran 1-7
5. Campur isi lingkaran 1a dan pindahkan ke lingkaran ke-2 dan seterusnya sampai
lingkaran ke-6 sebanyak 50ul
6. Tambahkan reagen RPR pada masing-masing lingkaran sebanyak 1 tetes
7. Rotator selama 8 menit,baca hasilnya

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil

Reaktif (positif +) jika terbentuk agregat besar ditengah dan dipinggir lingkaran.
Weak (positif lemah)jika agregatnya halus pada pinggir lingkaran
Non reaktif(negative -)jika tidak terbentuk agregat

Penulisan hasil
Amati lingkaran yang terjadi aglutinasi dengan memperhatikan titernya:

Lingkaran Titer

3 1/
8

4 1/
16
5 1/
32

6 1/
64

7 1/
128

Tulis hasil dengan menentukan lingkaran paling akhir yang menunjukkan adanya aglutinasi.

IMUNOASSAY
UNTUK PENYAKIT YANG BERKAITAN
DENGAN INFEKSI JASAD RENIK

DEMAM REMATIK

A. IMUNOASSAY UNTUK MELACAK RHEUMATOID FACTOR (RF)

Factor rematoid (RF) petama kali ditemukan oleh Wolker (1940), dan Rose et.al
(1948), sebagai immunoglobulin dalam sera penderita dengan arthritis trematoid yang dapat
mengaglutinasi sel darah merah domba yang di lapisi IgG kelinci.
Factor rematoid adalah suatu antibody (IgG,atau IgA) yang ditunjukan terhadap IgG
(anti IgG), dan berbentuk dalam stadia yang agak lanjut daroi penyakit arthritis rematoid;
biasanya setelah penderita penyakit lebih dari stengah tahun.
Pathogenesis dari penyakit arthritis rematoid, dan mekanisme pembentukan factor
rematoid masih belum diketahui dengan tepat (masih merupakan hipotensis).
Arthritis rematoid adalah suatu penyakit radang sendi yang di timbulkan oleh suatu
kelainan pada proses regulasi imun (immune regulation) yang kelainan imunopatologisnya
disebabkan oleh kegagalan dalam koordinasi dari beberapa fungsi imunitas mediasi seluler
(cell mediated immunity) terhadap suatu antigen di dalam sendi(intra-arthicular) yang berasal
dari luar. Antigen penyakit ini sampai sekarang belum diketahui dengan tepat, dan oleh
karena itu sering di sebut antigen x.
Akhir-akhir ini sering-sering dikemukakan bahwa ada hubungan yang positif, antara
arthritis rematoid dan infeksi dengan virus Epstein-Barr(EBV). Antigen x yang masuk
kedalam sendi akan diproses oleh beberapa sel imunokompeten dari sinovia sendi sehingga
merangsang pembentukan anti bodi terhadap antigen x tersebut. Antibody yang dibentuk
dalam beberapa sendi ini terutama dari kelas lgG walaupun kelas dari Ab yang lain juga
terbentuk.
Pada beberapa penderita dengan arthritis rematoid, secara genetic, didapatkan adanya
kelainan dari sel liimfosit T-Suppressor-nya sehingga tidak dapat menekan sel limposit T-
Helper. Dengan akibat timbulnya rangsangan yang berlebihan pada sel plasma sehingga
terjadi pembentukan antibody yang berlebihan pula. Dalam jangkka waktu yang lama hal ini
akan menyebabkan gangguan glikosilsi lgG sehingga terbentuk lgG yang abnormal, dan
menimbulkan pembentukan otoantibodi yang dikenal sebagai factor rematoid (lgG,lgA, lgE,
lgM, dan anti lgG)lgG yang abnormal tersebu akan difagositosis oleh magrofag atau APC
yang lain. Didalam APC ,lgG tersebut akan diproses namun pada orang normal tidak
menimbulkan respon imun sebab bahan yang berasal dari tubuh sendiri tidak dapat
membangkitkan molekul kostimulatoris B7 pada permukaan APC sehingga tidak dapat
terikat pada molekul CD28. Pada penderita rematoid arthritis,oleh karena HLA-nya terjadi
peningkatan kadar molekul kostimulatoris B7-1 dan B7-2, sehingga dapat mengikat molekul
CD-28 dan menimbulkan respon imun CD4 Th 2 yang menghasilkan otoantibodi ,yaitu anti-
lgG atau factor rematoid.
Umumnya factor rematoid baru terbentuk setelah penderita menderita penyakit lebih
dari 6 bulan , tetapi dapat pula terjadi lebih awal atau sesudah waktu yang lama. Dalam tahap
selanjunya antibody tersebut (terutama lgG) akan mengadakan ikatan dengan antigen x dalam
bentuk kompleks imun lgG. Kompleks imun ya ng terjadi akan mengaktifkan komplomen
dan menimbulkan kemotaksin yang menarik leukosit polimorfonukleat (PMN) ke tempat
proses.PMN ini akan menadakan fagositosis kompleks imun tersebut, dan mengalami
kerusakan atau mati dengan akibat pengeluaran enzim lysozim yang dapat merusak tulang
rawan sendi.
Pengendapan kompleks imun disertai komplomen pada dinding sendi juga dapat
menyebabkan kerusakan sendi. Beberapa peneliti melaporkan bahwa jaringan sinovia sendi
(sel dendritik abnormal) yang mengalami artrutis rematoid mengeluarkan enzim collagenase
dalam jumlah yang cukup besar sehingga dapat menyebabkaan kerusakn tulang rawan sendi
yang tak dapat pulih lagi(irreversible).

TES LABORATORIUM

1. UJI ASO (Anti Streptolisin O)

PRA ANALITIK

Judul : UJi ASO (ANti Streptolisin O)


Metode : kualitatif
Tujuan : untuk mengetahui adanya antibody streptolisin dalam serum
Prinsip : partikel latex polystyrene yan dilapisi streptolisin O sebagai antigen akan bereaksi secara
imunologis dengan antibody anti streptolisin O yang terdapat dalam serum sampel. Reaksi ini
ditunjukan dengan adanya aglutinasi dari partikel latex.
Dasar Teori : sterptococus adalah bakteri yang terdiri dari kokus gram positf yang berdiameter 0,5 dalam
bentuk rantai yang khas kokus agak memanjang pada arah sumbu rantai. Streptococcus
bakteri ini menghasilkan zat ekstraseluler dan enzim-enzim. Lebih dari 20 ekstra seluler yang
bersifat antigen dihasilkan oleh streptococcus golongan A (streptococcus pyogenes) yang
berhubungan dengan invasi lokal dan sistemik dan kehilangan pasca sterptococus disebabkan
oleh reaksi-reaksi imunologi.
Zat-zat ekstra seluler terdiri dari streptolisin, hialuronidase streptokinase dan NA dase. Zat-zat yang paling
penting/spesifik adalah streptolisin adalah enzim hemoltik yang dibentuk oleh streptococcus
grup A beta hemolytcus yang terdiri dari O dan streptolisin S, Streptolisin O adalah suatu
toksin yang terdiri protein dengan berat molekul 60.000 dalton aktif dalam suasana anaerob
dan dalam tereduksi melisiskan sel darah merah dan dengan cepat tidak aktif bila teroksidasi.
Toksin ini menyebabkan dibentuknya zat anti streptolisin O (ASO), streptolisin S adalah
suatu toksin yang mempunyai berat molekul 20.000 dalton, bersifat antigen lemah karena
didalamnya hanya mengandung polipaptida dengan berat molekul 2,800 dalton.

Alat dan Bahan

1. Centrifuge
2. Slide test
3. Pipet tetes
4. Batang pengaduk
5. Serum
6. Reagen latex
7. Control positif
8. Control negative

ANALITIK

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Ambil darah vena pasien kemudian buat serum dengan cara putar pada sentrifuge
dengan kecepatan 3000 rpm selama 3 menit
3. Pada slide test yang telah diberi tanda masing-masing, teteskan control posotif,
control negatif dan serum
4. Tanbahkan masing-masing reagen latex
5. Masing-masing dihomogenkan dan ratakan sampai garis tanda seperti pada gambar
dibawah ini

Control (-) serum Control (+)


Latex latex latex
Homogenkan

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil

Positif : terjadi aglutinasi


Negative : tidak terjadi aglutinasi

2. pemeriksaan Rf (Rematoid Factor) / RA (Rheumatoid Arthritis)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan rematoid factor


Metode : untuk mengetahui adanya RF dalam serum yaitu immunoglobulin antibody yang dapat mengikat
antibodi lainnya.
Prinsip : antibody RF (serum) + Reagen latex (anti-antibodi) = aglutinasi
Dasar teori : rematoid factor adalah immunoglobulin antibody yang dapat mengikat antibodi lainnya.
Penyakit ini merupakan penyakit auto imun dan salah satu penyebabnya adalah rematoid
arthritis, dimana sel T supresor tidak menekan pembentukan antibodi dan terjadi glikolisasi
(kerusakan struktur) sehingga terbentuk antigen dan dan merespon antibodi baru sehingga
terjadi pengendapan dan pengaktifan komponen dan kemudian memancing terjadinya enzim
dan merusak tulang. Penyakit ini adalah penyakit auto imun non organ spesifik karena
kegagalan ototoleransi ditunjukan terhadap elemen jaringan tubuh.

Alat dan Bahan


1. Slide
2. Klinipet
3. Tips
4. Sentrifuge
5. Batang pengaduk
6. Serum
7. Reagen latex
8. Control positf
9. Control negatif

ANALITIK

Cara Kerja

1. Siapkan alat dan bahan


2. Dengan menggunakan klinipet pipet 40 ul dari tiap-tiap tabung pengenceran
kemudian teteskan pada slide dengan latar hitam
3. Tambahkan masing-masing reagen latex sama banyak
4. Pada slide yang lain buat control positif dan control negatif sebagai pembanding
dengan cara

Slide 1 control positif + reagen latex


Slide 2 control negatif + reagen latex

Latex latex 2/4 (40 ul) 1/8 (40 ul) latex


1
/16 (40 ul) 1/32 (40 ul)

5. Campur dengan gerakan memurat beberapa detik hingga campuran tersebut menyebar
keseluruh tubuh arah lingkaran
6. Putar perlahan selama 1 menit dan amati aglutinasi yang terjadi

PASC ANALITIK

Interpretasi Hasil

Positif : terjadi aglutinasi


Negatif : tidak terjadi aglutinasi

3. Pemeriksaan RF (Rematoid factor) / RA (Rheumatoid)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan rematoid factor


Metode : kualitatif
Prinsip : adanya reaksi antara rheumatoid factor yang terdapat dalam serum penderita denga II uman
Imunoglobulin G (IgG) yang dilapiskan pada partikel latex polystyrene reaksi positif
dilanjutkan dengan adanya aglutinasi pada partikel latex.

Alat Dan Bahan

1. Slide
2. Pipet tetes
3. RA latex
4. Serum
5. Batang pengaduk
ANALITIK

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan dugunakan


2. Pipet pada tempat berbeda kedalam slide

Sampel serum 1 tetes


Control positif 1 tetes
Control negative 1 tetes

3. Tambahkan masing-masing 1 tetes RA latex


4. Campur menggunakan batang pengaduk dan goyang-goyang selama 2 menit
5. Amati reaksi yang terjadi

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil

Positif : terjadi aglutinasi


Negative : tidak terjadi aglutinasi

4. Pemeriksaan RF (Rematoid Factor)/ RA (Rheumatoid Arthritis)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan rematoid factor


Metode : semikuantitatif

Alat dan Bahan

1. Tabung reaksi
2. Rak tabung
3. Pipet tetes
4. Batang pengaduk
5. Klinipet 100 ul
6. Tips kuning
7. RA latex
8. Buffer Glisine
9. Serum

ANALITIK

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang digunakan


2. Encerkan buffer glisisne dengan aquadest 1 : 9
3. Susun 5 tabung reaksi dan isi masing-masing tabung dengan buffer glisine sebanyak
100 ul
4. Tabung kedua ditambahkan 100 ul, homogenkan lalau pindahkan 100 ul ketabung
kedua homogenkan dan seterusnya sampai pada tabung kelima
5. Amati reaksi yang terjadi

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil
Untuk mendapatkan konsentrasi RF, Kalikan titer dengan factor konfersi yaitu 8 IU/ml.
HEPATITIS
A. IMUNOASSAY UNTUK PENYAKIT INFEKSI HEPATITIS

Hepatitis adalah suatu proses peradangan pada jaringan hati yang memberikan
lemah badan, mual ,kencing, seperti air the disusul dengan mata dan badan menjadi kuning.
Tidak semua penyakit hepatitis mempunyai bentuk yang klasik seperti ini. Ada hepatitis
yang tidak nyata (inapparent hepatitis), ada yang tanpa ikterik,ada bentuk yang
jiank(bening)dan ada yang ganas (fulminan). Hepatitis dapat disebabkan oleh virus
(penyebab terbanyak), bakteri (salmonella typhy), obat-obatan racun(hepatotoksik)dan
alcohol.
Kini telah dikenal beberapa virus penyebab peradangan hati yaitu : virus hepatitis A
(VHA), Virus hepatitis B(VHB),virus hepatitis C(VHC,non A non B),virus hepatitis D(VHD),Virus
hepatitis E(VHE)dan virus hepatitis G(VHG).
Hepatitis virus yang banyak dikenal oleh para klinisi adalah hepatitis A,B,dan C oleh
karena itu akan dibahas lebih rinci dari aspek serologi.

a. Virus hepatitis A(VHA)

Hepatitis A merupakan penyakit hepatitis akut yang sering dijumpai pada beberapa
usia muda. Penularan penyakit ini terjadi secara oral melalui makanan dan minuman yang
tercemar(oral-faecal)
Penyakit ini umumnya member gejala klinis yang akut,dan jelas namun hamper
semuanya akan sembuh tanpa bekas.

Struktur antigen Virus Hepatitis A

Virus hepatitis A merupakan virus RNA yang tergolong dalam virus picorna. Virus
hepatitis A merupakan partikel dengan diameter 27 nm, berbentuk okosahedral dan tidak
berbungkus. RNA dari virus ini diliputi oleh kapsid yang terdiri dari polipeptida virus : VPI
sampai dengan VP4.
Dibawah mikroskop electron tampak penuhatau kosong. Lipid bukan merupakan
komponen integral dari virus Hepatitis A yang stabil dengan pengelohan eter, asam dan
panas (560C selama 30 menit). Infektifitanya dapat dipertahankan selama bertahun-tahun
pada suhu 200C.
HAV mengandung 3 polipeptida utama dengan berat molekul 34.000,25.000 dan
23.000 sama seperti yang dimiliki oleh virus Entero.

Imunopatogenesis

Infeksi dari virus Hepatitis A terjadi secara oral-faecal dengan waktu inkubasi 2-6
minggu. Virus hepatitis A sudah dapat ditemukan dalam tinja penderita yang terinfeksi sejak
masa inkubasi, dan baru menghilang pada minggu ketiga setelah sakit.
Dari mukosa usus virus tersebut masuk ke dalam sirkulasi darah ,namun stadium
viremia ini hanya berlangsung selama kurun waktu yang amat pendek. Selanjutnya virus
tersebut akan menginfeksi sel hepar,dan menyebabkan beberapa gejala klinis dari Hepatitis
A.Hampir semua penderita dengan Hepatitis A akan sembuh sempurna tanpa komplikasi
yang berarti.
Masuknya virus Hepatitis ini kedalam tubuh penderita akan merangsang beberapa
sel imunokompeten dari tubuh untuk membentuk antibody.
Antibody yang pertama dibuat ,dan amat patogmonik untuk Hepatitis A aialah lgM
anti-HAV. Titer dari lgM anti-HAV akan terus meningkat, dan mencapai puncaknya satu
minggu setelah timbulnya gejala penyakit, kemudian titer akan turun secara perlahan-lahan
dan mencapai negative setelah minggu kedelapan ,dan diganti oleh lgG anti-HAV.
LgG anti-HAV mulai timbul setelah fase akut dari Hepatitis A lewat. Titernya
umumnya meningkat dalam 3-6 bulan setelah infeksi, dan mencapai puncaknya 1-2 bulan
setelah timbulnya gejala penyakit. Antibody ini bertahan lama sampai bertahun-tahun,
bahkan sampai seumur hidup.
Dari segi diagnostic adanya lgG anti-HAV tidak memegang peranan yang berartiuntuk
menyatakan adanya penyakit yang akut, namun mempunyai arti yang penting sebagai
petunjuk timbulnya kekebalan.

b. Virus Hepatitis B

Hepatitis virus B merupakan radang hati yang disebabkan oleh infeksi dengan virus
Hepatitis B(VHB atau HBV) , yaitu suatu virus hepadna. Marka serologic pertama ditemukan
pada penduduk asli Australia oleh Blumberg dan kawan-kawan pada tahun 1965 dan disebut
sebagai Australian antigen (Au Ag).
Pada tahun 1968, prince kemudian melaporkan adanya hepatitis B surface antigen
(HBsAg) pada penderita serum hepatitis yang akhirnya dikenal sebagai virus hepatitis B yang
identik dengan Australian antigen. Ada beberapa macam subtype HBsAg yaitu: adw ,ayw,
adr dan ayz yang amat penting untuk epidemologi penyakit. Hepatitis B masih merupakan
masalah kesehatan masyarakat di Indonesia.
Perubahan serologi pada VHB di mulai dengan timbulnya HBsAg / H beAg / HBV-DNA
dalam darah/serum yang sering mendahului peningkatan aktvitas transaminase, kemudian
berturut-turut disusul dengan timbulnya lgM anti HBc dan anti HBs. Perubahan biokimiawi
maupun serologic adanya infeksi VHB, umumnya akan kembali normal dalam 6 bulan.
Dikatakan kronis bila perubahan biokimiawi dan serologic menetap >6 bulan.

Struktur Antigen Virus Hepatitis B

Virus Hepatitis B (VHB) yang dikenal sebagai partikel Dane (diameter 42nm),
termasuk dalam family Hepadana. Virus ini hanya dapat menimbulkan infeksi pada manusia
dan Champanse saja.
Dalam darah individu yang terinfeksi dengan VHB terhadap partikel Dane dan dua
buah partikel berbentuk lain, yang satu berbentuk tubular dan yang lain berbentuk bulat
dengan diameter 22nm.
Partikel Dane terdiri beberapa bagian yang amsing-masing memiliki antigenitas
tersendiri.
Bagian paling luar yang merupakan selubung dikenal sebagai Hepatitis B surface
antigen (HBaAg). Bagian sebelah dalamnya yang merupakan inti atau core dari virus
mengandung hepatitis core antigen (HBcAg), dan Hepatitis Be antigen (HBeAg), partially
double stranded DNA, DNApolimerase (DNA-p) dan suatu aktifitas polymerase.

Imunopatogenesis

Penularan VHB dapat terjadi melalui 2 pola,yaitu pola vertical dan pola horizontal.
Pada pola vertival infeksi terjadi dari ibi hamil dengan HBsAg positif pada anak yang
dilahirkannya pada saat persalinan (penularan perinatal).
Masuknya VHB kedalam tubuh anak biasanya terjadi melalui abrasi kulit bayi akibat
trauma kehamilan atau dapat juga melalui air ketuban yang masuk dalam mulut anak.
Pada pola horizontal infeksi VHB dapat melalui luka dikulit atau selaput lender,
misalnya melalui suntikan, trnsfusi darah, alat operasi ,tusuk jarum, pembuatan
tattoo,tindik,luka pada selaput lender mulut, hidung, saluran pencernaan makanan bagian
bawah ,mata atau genitalia (hubungan intim).
VHB dapat ditemukan pada beberapa cairan tubuh seperti saliva, ASI, cairan amnion,
keringat,secret vagina dan air mata.
Setelah VHB masuk ke dalam tubuh penderita yang tidak memiliki kekebalan
terhadap VHB, poly-human serum albumin receptor (PAR) yang terdapat pada permukaan
HBsAg akan mengikat poly-human serum albumin (poly HSA) yang disebut oleh hepatosit.
Dalam tahap selanjutnya poly-HAS yang sudah diikat oleh PAR dari VHB dari suatu kutubnya
akan diikat oleh PAR yang terdapat dipermukaan hepatosit pada kutubnya yang lain. Setelah
itu VHB masuk ke dalam sitosol dari hepatosit.
Didalam sitosol dari hepatositt ,protein VHB yang diproduksi oleh sel hepatosit yang
terinfeksi akan dipecah menjadi peptide yang akan diambil oleh reticulum endoplasma,
yaitu tempat molekul MHC kelas 1 dibuat, dan mengikat serta mengangkut fragmen peptide
tersebut ke permukaan hepatosit.
Bila ada limposit T CD8 yang lewat maka kompleks antigen-MHC kelas 1 akan
dianggap oleh reseptor yang ada dipermukaan limposit CD8 dan menimbulkan signal pada
sel limposit tersebut sehingga sel tersebut menjadi aktif, dan melepaskan sitokin yang dapat
menghancurkan seluruh sel yang terinfeksi beserta isinya. Beberapa sel hepatosit yang rusak
tersebut akan melepaskan enzimnya sehingga kadar SGOT,SGPT, bilirubin dan gamma-GT
dalam serum meningkat.
Waktu inkubasi VHB terentang antara 6 minggu sampai 6 bulan. Bila seseorang
individu mengalami infeksi VHB maka ada tiga kemungkinan utama yang dapat terjadi, yaitu:

Hepatitis akut (20% dengan gejala hepataitis akut yang nyata dan 80% berjalan
subklinis)
Hepatitis menahun
Pengidap VHB sehat

HBsAg biasanya positif selama beberapa gejala klinis dari penyakit masih ada, dan
baru menghilang beberapa minggu (1-12 minggu) kemudian HBsAg yang menetap lebih dari
6 bulan merupakan petunjuk dari infeksi HBV yang menahun atau penderita akan menjadi
VHB (carrier) yang sehat.
Pada orang dewasa sekitar 10% akan menjadi pengidap menahun,sebaiknya pada
golongan anak,85-95% akan menjadi pengidap menahun. Dari pengidap VHB yang
menahun, 67% akan berrkembang menjadi serosis hati,dan sebagian besar menjadi kanker
hati.

c. Virus Hepatitis C(VHC)

Hepatitis C adalah hepatitis viral yang disebabkan oleh virus Hepatitis C (vhc=hcv),
dan tergolong dalam kelompok hepatitis non-A ,non-B(NANB). Hepatitis viral inoi sering
terjadi setelah transfuse darah atau pemberian komponen darah sehingga pada masa yang
lalu hepatitis C ini disebut sebagai post transfusion NANB hepatitis.
Dibeberapa daerah didapatkan hepatitis non-A non-B yang tidak mempunyai riwayat
transfuse, dan disebut sebagai hepatitis sporadic atauu acquired community. Dari penelitian
selanjutnya ternyata 40-50% dari penderita hepatitis ini menunjukkan antibody anti-HCV
yang positif.
Pada umunya hepatitis C member gejala klinis yang relative ringan bahkan sering
tanpa gejala namun mempunyai kecenderungan untuk menjadi menahun atau serosis hati
yang lebih besar bila dibandingkan dengan hepatitis viral yang lain.

Stuktur Antigen Virus Hepatitis C

Virus hepatitis C merupakan virus RNA dengan genom berantai tunggal, dengan
polaritas positif, diameter 30-60nm, dan panjang sekitar 10kb. VCH merupakan virus yang
peka terhadap pelarut organic seeperti kloroform, terbungkus oleh envelop lipid dan
termasuk dalam family antara flavivirus dan pestivirus. Genom VHC terdiri dari sekitar 9413
nukleotida dan mengkode sekitar 3010 asam amino.
Menurut beberapa peneliti terdapat enam genotip strain VHC. Di Indonesia genotip yang
sering dijumpai adalah subtype 1b, dan subtype 1 baru yang tidak didapatkan di Negara lain.
Genotipe VHC yang sering dijumpai di Surabaya adalah subtype 1b, subtype 1 baru, 2a dan
subtype baru dari tipe 3.
Genom VHC terdiri dari 3 bagian utama sebagai berikut :

1. Region non-coding ,terdiri dari 340 nukleotida dan belum banyak diketahui
funggsinya,
2. Region structural, terdiri dari region nukleokapsid atau core (c), dan region
envelope(surface=s),dan
3. Region non structural (NS), terdiri dari NS 1-NS5 dan sebagian fungsi NS 2-NS5 tiddak
diketahui.

Imunopatogenesis

Masa inkubasi dari Hepatitis C berkisar antara 2-20 minggu dengan puncaknya
antara 6-12 minggu dan rerata sekitar 7-8 minggu.
Respon imun yang terjadi setel;ah masuknya VHC kedalam hepatosit, sama dengan
respons imun penyakit yang lain, yaitu respons imun terhadap jasad renik intraseluler dalam
sitosol dari sel yang terinfeksi. Antigen dari virus yang dibuat di dalam sitosol hepatosit akan
merangsang MHC kelas 1 untuk membuat polipeptida yang mengangkut antigen tersebut ke
permukaan sel untukdiikat oleh reseptor ddari limposit T CD8 sehingga sel ini teraktivasi.
Limposit TCD8 yang teraktivitas tersebut akan mengeluarkan sitokin yang
menghancurkan sel hepar, dan virus yang berada didepannya. Akibatnya akan terjadi
peningkatan kadar ALT dalam serum penderita yang sering kali disertai oleh viremia.
Beberapa menduga bahwa VHC dapat merusak sel hati secara lansung (directly cytopathic)
sebab ada kaitan antara beratnya kerusakan sel hati dengan banyaknya virus.
Pola fluktuasi ALT serum pada hepatitis C khas periode peningkatan ALT di selingi
oleh periode ALT yang normal atau mendekati normal. VHC atau beberapa bagian virus yang
berada ekstraseluler dapat ditangkap oleh beberapa reseptor pada permukaan limfosit B,
dimasukan kedalam vokuol, dan diproses, lalu dipaparkan pada permukaan limfosit B dan
ditangkap oleh reseptor limfosit T CD4 Th2. Sel CD4 Th2 yang teraktivitasi akan mengalami
transformasi blas menjadi sel plasma yang mensekresi antibody spesifik terhadap antigen
VHC. Serenkonversi sel plasma yang mensekresi antibody spesifik terhadap antigen VHC.
Serekonversi biasanya terjadi 11-12 minggu setelah infeksi, behkan dengan uji anti-HCV
generasi II, antibody tersebut dapat dilacak 7-8 minggu setelah infeksi. Namun pada
beberapa kasus, antibody tersebut baru timbul setelah infeksi berjalan setelah 6-12 bulan.
Antibody pertama yang biasa timbul adalah antibody terhadap core, dan biasanya
dapat dilacak sesaat sebelum atau bersamaan dengan peningkatan ALT serum.
Antibody terhadap NS 3 biasanya timbul bersamaan atau sesaat setelah antibodi
terhadap protein core, namun kadang kala (anti-C33c) dapat juga timbul sebelum anti-core,
dapatdideteks.
Anti C 100-3 (NS4) baru timbul 10-15 minggu setelah peninghktan ALT. Hepatitis
Cdikatakan menjadi menahun bila kenaikan kadar ALT serum dan anti-HCV positif terjadi
lebih dari 6 bulan atau 1 tahun
Factor yang berperan dalam perubahan hepatitis C akut menuju menahun yaitu
tingginya kadar ALT, sifat polifaksin, usia lanjut dan gangguan imunologis.

TES LABORATORIUM
1. Pemeriksaan HbsAg

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan HbzAg Rapid test


Metode : imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui adanya virus hepatitis B dalam serum penderita
Prinsip : imunokromatografi dengan prinsip serum yang diteteskan pada bantalan sampel
bereaksi dengan partikel yeng telah dilapisi dengan anti HBs (antibodi). Campuran ini
selanjutnya akan bergerak sepanjang strip membran untuk berikatan dengan antibody
spesifik. Pada daerah tes, sehingga akan menghasilkan garis warna.
Dasar teori : HBsAg merupakan suatu tahap secara kualitatif yang menggunakan serum atau
plasma dimana bertujuan untuk mendeteksi adanya HBsAg dalam serum atau plasma
membrane yang dilapisi dengan anti HBsAg antibody pada daerah garis test selama proses
pemeriksaan, sampel serum atau plasma bereksi dengan partikel yang ditutupi dengan anti
HBsAg antibodi, campuran tersebut akan meresap sepanjang membrane kromatografi
dengan anti HBsAg, anti pada membrane dan menghasilkan suatu hasil posotif pada daerah
test, jika tidak menghasilkan garis yang berwarna pada daerah test menunjukan hasil yang
negatif.

Alat dan Bahan

1. Tabung reaksi
2. Serum
3. Strip HBsAg atau strip ACON

ANALITIK

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Siapkan serum dalam tabung reaksi
3. Keluarkan strip HBsAg dari kemasannya
4. Celupkan kedalam seru, biarkan selama 15 menit
5. Amati hasil test yang terjadi

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil

Positif (+) : terdapat 2 garis pada daerah control dan test


Invalid : tidak terjadi garis merah pada control test
Negatif (-) : terdapat satu garis pada kontrol

Negatif ( -) posotf (+) invalif

H
B
S
A
G

T
2. PEMERIKSAAN ANTI HCV

PRA ANALITIK

Judul : Pemeriksaan anti HCV


Metode : Imunokromatografi
Tujuan : Untuk mengetahui adanya virus hepatitis C dalam serum
Dasar teori : Tes human anti HCV lgG antibody dikembangkan untuk mendeteksi sirkulasi
anti HCV lgG antibody dinyatakan sebagai petunjuk infeksi hepatitis C virus, tes ini
berdasarkan prinsip yang menggunakan rekombinan HCV protein sebagai viral antigen. Pada
langkah pertama anti HCV lgG dalam specimen bila ada akan terikat pada protein
rekombin;an HCV yang dilabel pada permukaan sumur microtitir.
Setelah inkubasi bagian specimen yang tidak terikat akan dipisahkan melalui
pencucian, pada pencucian ke dua anti human lgG konjugat ditambahkan akan mengikat
antibody spesifik manusia anti HCV lgG pada permukaan sumur akan membentuk sandwich
complex.
Alat dan bahan :

1. Pipet tetes
2. Strip Anti HCV
3. Tabung reaksi
4. Serum sampel
5. Reagen HCV / buffer HCV

ANALITIK

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Tempatkan kemasan strip pada temperature ruangan sebelum dibaca
3. Siapkan serum dalam tabung reaksi kemudian diambil kurang lebih satu tetes serum,
lalu masukan strip HCV setelah itu masukan buffer HCV kurang lebih 2 tetes.
4. Tunggu sampai muncul garis merah pada strip
PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil :

(+) : terdapat 2 garis pada daerah control dan tes

(-) : terbentuk satu garis pada daerah control


Invalid : tidak terdapat garis pada daerah control dan tes

3. PEMERIKSAAN ANTI HBs

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan anti HBs


Metode : imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui adanya antibody dalam serum.
Prinsip : serum diteteskan kedalam wadah dan reaksi yang terjadi akan memberikan hasil
dengan tanda garis
Dasar teori : viral hepatitis adalah penyakit infeksi yang umumnya seing disebabkan oleh
virus hepatitis B (HBV) yang menjangkit hampir 5% dari populasi dunia dengan beberapa
variasi setempat, penyakit ini dapat timbul tanpa gejala, akut(dengan kasus berat dan
kematian) atau hepatitis kronik yang akan memburuk ke erisis dan atau hepatocalullar
carcinoma dan kematian. Penyakit ini biasanya ditularkan melalui pertikaran cairan tubuh
antara seseorang yang sehat dengan orang yang sakit.
Alat dan Bahan :

1. Strip anti HBs


2. Tabung reaksi
3. Tips
4. Tissue
5. Serum
ANALITIK

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Darah dicentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit
3. Buka strip anti HBs dari kemasannya
4. Celupka strip tersebut kedalam tabung yang berisi serum
5. Biarkan selama 15 menit , angkat dan baca hasilnya

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil :

(+) : terdapat 2 garis pada daerah control dan tes


(-) : hanya terdapat 1 garis pada daerah control
Invalid : tidak terdapat garis pada daerah control dan tes

4. PEMERIKSAAN ANTI HAV

PRA ANALITIK

Metode : manual / semi autometik dan autometik


Prinsip : enzim immunoassay yang berdasarkan pada prinsip pengikatan antibody untuk
mendeteksi antibody virus hepatitis A
Alat dan Bahan :

Alat

a. Cara manual/ semi autometik


1. Rak dan tabung reaksi yang dilengkapi adhesive foil
2. Instrument cobas EIA : incubato, washer , fotometer ( 450 nm)
3. Pipet volumetric
4. Dispenser manic-manik.

b. Cara autometik

1. Instrument cobas corer


2. Rak dan tabung mikro
3. Tabung volumetric

Bahan

1. Sampel : serum/plasma 500 ul


2. Manik-manik dengan kompleks anti-HAV dan HAV antigen
3. Konyugat anti HAV
4. Control negative
5. Control positif
6. Larutan pengencer
7. Asam sulfat 5%
8. Aquadest

ANALITIK

Cara kerja:

a. Cara manual/semi automatic

1. Siapkan empat tabung reaksi masing-masing reagen blanko (RB),negetif control


(NC),positif control (PC), dan sampel (S).Masing-masing diberi label.
2. Pada tabung NC,PC,dan S masing-masing diisi samel sebanyak 50ul.
3. Kemudian tambahkan konyugat anti HAV sebanyak 25 ul pada ketiga tabung tadi
4. Tambahkan pengencer sebanyak 250 ul pada tabung NC, PC, dan S. serta tambahkan
manik-manik masing-masing 1ul
5. Tutplah tabung dengan seld adhesive foil dan inkubasi selama 15 menit pada suhu
370C dengan pengocokan permanen (hindari dari sinar terang). Kemudian dicuci
dengan aquadest (washer EIA)
6. Kemudian tambahkan konyugat anti HAV sebanyak 250ul kedalam ketiga tabung
tersebut.
7. Tutup kemudian inkubasi selama 30 menit pada suhu 370C kemudian dicuci lagi
dengan washer EIA
8. Tambahkan larutan kerja TBM kedalam tabung RB ,NC, PC, dan S sebanyak 250ul.
9. Tambahkan sebanyak 1ul asam sulfat 5% kedalam masing-masing tabung kemudian
baca fotometer dengan 450 nm.

b. Cara autometik

1. Masukkan 500 ul serum penderita kedalam tabung mikro.


2. Letakkan tabung mikro pada tempatnya di cobas core.
3. Tekan tombol anti HAV Cobas Core (jalankan sesuai prosedur).
4. Hasil secara autometik,berupa lembar print out.

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil
Sampel dengan absorbansi dibawah gray zone (nilai cut off-10%)dinyatakan sebagai
negative. Sampel didaerah gray zone , tes harus diulangi, tanda +/- akan tercetak dikertas.
Hasil diatas gray zone dinyatakan positif
HIV / AIDS

A. IMUNOASSAY UNTUK PENYAKIT INFEKSI / AIDS


HIV adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus yang dapat
penyebab AIDS dengan cara menyerang sel darah putih yang bersama sel CD4
sehingga dapat nerusak system kekebalan tubuh manusia yang pada akhirnya tidak
dapat bertahan dari gangguan penyakit walaupun yang sangat ringan sekalipun.
Virus HIV menyerang sel CD4 dan merubahnya menjadi tempat
berkembang biak virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat
digunakan lagi. Sel darah putih sangat diperlukan untuk system kekebalan tubuh.
Tampa kekebalan tunuh maka ketika diserang penyakit maka tubuh kita tidak
memiliki pelindung. Dampaknya adalah kita dapat meninggal dunia terkena pilek
biasa.
Istilah HIV telah digunakan sejak 1986 (coffin et al.,1986) sebagai nama
untuk retrovirus yan diususlkan pertama kali sebagai penyebab AIDS oleh Luc
Montegnier dari Prancis, yang awalnya menamakannya LAV (Lymphadenopathy
Associated Virus) adan oleh Robert Gallo dari AS, yang awalnya menamakannya
HTLV-III ( Human T Lymphotropic Virus Type III ).
AIDS adalah singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome yang
merupakan dampak atau efek dari perkembangbiakan virus hiv dalam tubuh
mahluk hidup. Virus HIV membuuhkan waktu untuk menyebabkan sindrom AIDS
yang mematikan dan sangat berbahaya. Penyakit AIDS disebabkan oleh melemah
atau menghilangnya system kekebalan tubuh yang tadinya dimiliki karena sel
darah putih yang banyak dirusak oleh Virus HIV.
Ketika kita terkena Virus HIV kita tidak langsung terkena AIDS. Untuk
menjadi AIDS dibutuhkan waktu yang lama, yaitu beberapa tahun untuk dapat
menjadi AIDS yang mematikan. Seseprang dapat menjadi HIV positf. Saat ini
tidak ada obat, serum maupun vaksin yang dpat menyembuhkan manusia dari
Virus HIV penyebab penyakit AIDS.
HIV adalah anggota dari genus Lentivirus, bagian dari keluarga retrovididae yang ditandai
dengan periode latensi yang panjang dan sebuah sampul lipid dari sel host awal yang
mengelilingi sebuah pusat protein/RNA. Dua spesies HIV menginfeksi manusia: HIV-1 dan
HIV-2. HIV-1 adalah yang lebihvirulen dan lebih mudah menular dan merupakan sumber
dari kebanyakan infeksi HIV di seluruh dunia. HIV-1 telah berevolusi dari sebuah simian
immunodeficiency virus (SIVcpz) yang ditemukan dalam sub-spesies simpanse, pan
troglodyte. HIV-1 memiliki 3 kelompok atau grup yang telah berhasil didentifikasi
berdasarkan perbedaan pada envelope-nya yaitu M,N dan O. Kelompok M yang paling besar
prevalensinya dan dibagi ke dalam 8 sub type berdasarkan seluruh genumnya, yang masing-
masing berbeda secara geografis. Sub type yang paling besar prevalensinya adalah sub type B
(banyak ditemukan di Asia dan Afrika), type sub A dan D (banyak di temukan di Afrika) dan
C (banyak ditemukan di Afrika dan Asia). Sub type ini merupakan bagian dari kelompok M
dari HIV-1. Koinfeksi dengan sub type yang berbeda meningkatkan sirkulasi bentuk
rekombinan(CRFs).
Sedangkan HIV-2 kebanyakan masih terkurung di Afrika Barat. Kedua spesies berawal di
Afrika Barat dan Tengah berpindah dari spesies primate ke manusia dalam sebuah proses
yang dikenal sebagai zoonosis.

Aspek Virologi AIDS :

Sifat virus HIV-1

1. RNA VIRUS
2. Termasuk kelompok retroviridae
3. Terdapat 2 jenis : HIV 1 dan HIV II
4. Core berbentuk silindris
5. Memiliki envelop
6. Memiliki enzim reverse Transcriptase, enzim-Integrase, protease dan RNAase.
7. Memiliki Sembilan macam gen dan tiga regulatory gen

Sifat virus HIV-2

1. Peka terhadap jalan lahir atau Luka Lecet.


2. Musnah pada pemaanasan 560C selama 10-20 menit, sedangkan Lyophilized virus
musnah pada 600C (30 menit), musnah dengan cepat pada 1000C.
3. Cepat mati dengan desinfektansia alcohol, fenol, iodium, chlorin.
4. Tidak dapat menembus kulit yang utuh
5. Cepat mati dengan desinfektansia, alcohol, phenol, iodium, chlorin dan lain-lain.
6. Musnah dengan cepat pada 1000C.
7. Tak dapat menembus kulit yang utuh
8. Tahan lama dalam suhu kamar sampai beberapa hari dalam kedalam basah atau kering
9. Masa inkubasi dapat mulai dari 6 bulan sampai lebih 6 tahun.

TES LABORATORIUM

1. Pemeriksaan HIV

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan HIV


Metode : Imunokromatografi
n : Untuk Mengetahui Adanya Human Imuno Defisiensi Virusnpada Serum Pasien
ip : ultra rapid test device (serum/plasma) adalah bersifat kualitatif selaputnya memiliki
kekebalan dengan system antigen ganda untuk mendeteksi antibody terhadap
antibody HIV dalam serum atau plasma
rTeori : HIV adalah agen penyebab acquired immunedefisiency syndrome (AIDS) virus ini
berkembang lewat lapisan luar lipid yang dibawah dari membrane sel inang.
Beberapa virus gliko protein menepati lapisan luar tersebut, setiap virus memiliki 2
salinan anti positif genomic RNA. HIV 1 terisolasi dari pasien denan AIDS dan
AIDS hubungan kompleks dan dari orang sehat potensi resiko yang tinggi untuk
mengembangkan AIDS. HIV 2 terisolasi dari pasien-pasien AIDS di afrika barat
dan dari individu-individu yang tidak memiliki gejala sero positif. Keduanya HIV
1 dan HIV 2 mndatangkan suatu respon kekebalan. Pemeriksaan antibody HIV
dalam serum atau plasma merupakan cara yang umum yang lebih efisien untuk
menentukan apakah seseorang tak terlindungi dari HIV fan melindungi darah dan
elemen-elemen yang dihasilkan darah untuk HIV. Perbedaan dalam sifat-sifat
biologis,aktifitas serologis, dan deretan genom, HIV 1 dan 2 positif sera dapat
diidentifikasi dengan menggunakan tes serologis dasar HIV.
dan Bahan :

1. Pipet tetes
2. Strip HIV
3. Tabung reaksi
4. Serum
5. Reagen HIV/Buffer HIV

ANALITIK

Cara Kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Pindahkan tes device dari kantung pembungkus dan gunakan sesegera mungkin. Hasil
terbaik akan didapatkan jika pengujiannya dikerjakan dalam satu jam
3. Tempatkan tes device pada permukaan yan bersih dan bermutu atau permukaan yang
tinggi
4. Pegeng penetes secara partikel teteskan 1 tetes serum/plasma (sekitar 25 ul),
kemudian tanbahkan satu tetes larutan beffer sekitar 40 ul.
5. Tunggu sampai garis merah terlihat. Hasil akan terbaca dalam 10 menit.

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil
Intesitas dari warna merah garis daerah test (T) akan berubah tergantung dari konsentrasi
antibody HIV yang ada pada sampel. Oleh k]arena itu adanya beberapa bayangan merah
didaerah test dapat diperiksa positif.

2. Pemeriksaan HIV (Human Immunodeficiency Virus)

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan HIV


Metode : ELISA (Enzim-Linked Immunosorbent Assay)
Tujuan : untuk melacak antigen gp 24.
Indikasi pemeriksaan.
a. Diagnosis dini infeksi HIV pada neonates, dan orang yang seronegatif tetapi amat
dicurigai terinfeksi HIV.
b. Menentukan orang yang seropositif tetapi asimptomatik.
c. Memantau hasil pengebotan dengan antivirus.

nsip dasar uji ELISA-Ag HIV adalah double antibody sandwich antiglobulin (indirect sandwich) ELISA.
han

a. Sampel
b. Butiran polisteren yang dilapisi IgG anti-HIV manusia
c. IgG anti-HIV poliklonal dari kelinci
d. Goat antrabbit IgG berlabel horse-radish peroxidase
e. PBS-T
f. O-phenylenediamine dihydrochloride
g. Sulfuric acid
h. Klinipet dan tipsnya
i. Incubator
j. Timer

ANALITIK

Prosedur kerja

1. Sampel (200 ul) dicampur dengan butiran polisteren yang dilapisi IgG anti-HIV
manusia, dan diinkubasikan selama semalam pada suhu ruangan.
2. Setelah tahap pencucian, ditambahkan IgG anti-HIV poliklonal dari kelinci, dan
diinkubasi selama 4 jam pada suhu 40 C.
3. Setelah dicuci, untuk memisahkan bagian yang terikat dari yang bebas, di tambahkan
goat antirabbit IgG berlabel horse-radish peroxidase, dan diinkubasi selama 2 jam
pada suhu 240 C.

Setelah itu, beats dicuci dengan PBS-T


4. Selanjutnya ditambahkan subtract O-phenylenediamine dihydrochloride, dan
diinkubasikan selama 30 menit pada suhu ruangan. Reaksi dihentikan dengan
penambahan 1 M sulfuric acid.
5. Pembacaan dilakukan dengan microELISA reader pada 1.492 nm.

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil
Kadar antigen dalam sampel ditentukan dengan mengeluarkan absorban padakurva baku yang
dibuat dari berbagai serum standar yang mengandung antigen gp 24dengan konsentrasi yang
diketahui

Catatan

Kelemahan tes

Tes ini tidak mampu untuk menentukan antigen bila terdapat titer antibodi terhadap p 24 yang
tinggi sehingga membentuk kompleks imun.

Karakteristik tes

Menurut schochetman (1990), daya lacak uji ELISA-Ag HIV terentang antara 50-100pg/ml
antigen p 24 yang bebas (tak terikat Ab).
DEMAM BERDARAH
DENGUE

C. IMUNOASSAY UNTUK DEMAM BERDARAH DENGUE(DBD)

Demam berdarah dengue masih merupakan masalah kesehatan yang penting di


Indonesia, sebab prevalensinya maupun angka kematiannya tergolong tinggi.
Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue yang termasuk virus Arbo.
Manifestasi klinis dari penyakit in I amat bervariasi, mulai dari penyakit yang paling
ringan , demam dengue (DF) ,demam berdarah dengue (DHF), dan dengue shock syndrome
(DSS).
Beratnya manisfestasi klinis dari penyakit dengue dipengaruhi baik factor hostnya
seperti ras, HLA, usia, dan sekresi sitokin dari monosit, dan sel T, maupun oleh factor variasi.
Peningkatan IL-6 sejalan dengan peningkatan beratnya penyakit pada penderita anak,
dan dewasa, sedangkan peningkatan titer IL-1 sejalan dengan beratnya penyakit pada orang
dewasa saja.
Virus dengue ditularkan melalui gigitan nyamuk A. aegypt atau A. albopictus yang
mengandung virus dengue.
Dalam rangka pemberantasan penyakit, di samping pemberantasan vektornya, perlu
dilakukan pencarian kasus. Untuk keperrluan pencarian kasus ini diperlukan sarana
diagnostic yang andal,dan praktis.
Hasil pemeriksaan laboratorium hematologi klinis walaupun dapat memberi
pengarahan dalam menentukan diagnosis klinis, namun penggunaan sarana
seroimunodiagnostik akan memberikan andil dalam menentukan diagnosis pasti dari
penyakit.
Struktur Antigen Virus Dengue
Virus dengue tergolong virus Arbo,dan termasuk dalam family virus Flavi bersama-
sama dengan virus japanase encephalitis.
Virus dengue terdiri dari 4 serotipe, yaitu DEN-1,DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
Struktur antigen dari ke-4 serotipe ini sangat mirip satu dengan yang lain, namun antibody
terhadap masing-masing serotype tidak dapat saling memberikan perlindungan silang.
Serotype DEN-2 lebih sering menyebabkan DHF, dan DSS sedangkan DEN-3
biasanya memberikan gejL klinis yang ringan (DF) dibeberapa Negara Amerika sebaiknya di
Jakarta diduga serotype DEN-3 lebih berperan dalam terjadinya DHF.
Virus dengue mempunyai ukuran yang amat kecil ,diametnya sekitar 50 nm. Struktur
morfologinya relative sederhana ,terdiri dari beberapa protein E pada selubung luarnya,
protein C, dan M pada selubung dalamnya (kapsid),dan RNA untai tunggal pada genomnya.
Beberapa protein secara biologis penting karena dapat bertindak sebagai hemalugtinin
ataupun dapat juga mengaktifkan sel limposit T sehingga menghasilkan sitokin, dan
menyebabkan sitolisis dari sel target atau merangsang sel limposit B untuk menjadi sel
plasma, dan memproduksi antibody.
RNA genome dikode untuk 3 protein structural ,yaitu :

1. Kapsid (C)
2. Membrane (M),dan
3. 7 protein nonstructural ,yaitu NS 1,NS 2a, NS 2b, NS3, NS 4a, NS 4b, dan NS 5

Immunopatogenesis Demam Dengue


Target utama dari virus dengueadalah beberapa sel monosit atau makrofag. Walaupun
beberapa sel yang lain seperti sel Kupffer dari hepar dapat juga terkena.
Diduga bahwa kebocoran kapiler pada DHF disebabkan oleh pelepasan sitokin (IL-,
dan TNF- ) serta plasminogen activar inhibitor oleh monosit (Chang dan Shaio,1994;
Iyngkaran,1995), dan pelepasan IL-2,IFN- serta TNF- oleh limposit T yang teraktivitas
oleh infeksi virus tersebut (Kurane let al., 1989, dan Rothman et al.,1993).
Infeksi dengan virus dengue akan merangsang beberapa sel imunokompeten untuk
memproduksi antibody.
Antibody terhadap virus dengue dapat dibagi menjadi 2 kelompok:
1. Neutralizing antibody; serotype-specific, dan crossreactive.

Antibody pertama yang dibentuk adalah neutralizing antibody yang dimulai sejak hari
kelima dari penyakit.
Titer antibody ini mengikat amat cepat, lalu menurun secara lambat dalam waktu yang lama,
dan biasanya bertahan seumur hidup.
Neutralizing antibody ini merupakan antibody yang spessifik.

2. Non-neutralizing antibody

Di samping neutralizing antibody dibentuk juga antibody yang tidak dapat


menetralkan atau non-neutralizing antibody.
Anti-NS-1 atau Pre-M pada sel limposit T sitotoksis mengikat antigen dalam sel target, dan
menyebabkan sitolisis sel target yang tergantung pada adanya antibody (ADCC= antibody
dependent cell cytolysis).
Infeksin sekunder pada penderita yang telah mempunyai non-neutralizing antibody akan
membangkitkan iimunisasi booster, dan menyebabkan peningkatan kadar abtibody yang amat
tinggi.

Anti-NS 1(serotype crossreactive)


Antibody ini akan berkaitan dengan virus yang memaparkan antigen dengue pada
permukaannya, dan membentuk kompleks virus-antibody yang akan mengktifkan
komplemen, sehingga menimbulkan sitolisis (CMC= complement mediated cytolysis), dan
mengeluarkan C 3a ,dan C 5a yang mengakibatkan kebocoran vaskuler ,merangsang agregasi
trombosit,dan mengaktivasi proses koagulasi dengan segala akibatnya seperti renjatan(DHF
atau DSS) atau DIC.
Bayi kurang dari satu tahun(neonates) dapat menderita demam berdarah dengue, dan
sindroma renjatan dengue, walaupun infeksi baru pertama kali terjadi. Hal ini disebabkan
oleh karena bayi tersebut telah mempunyai antibody dalam darahnya yang didapatkan secara
pasif dari ibunya melalui plasenta.
Menurut Guzman (1987) infeksi primer dengan virus dengue pada anak usia 1-3 tahun
tidak menimbulkan DHF tau DSS di Cuba. Antibody yang terikat pada partikel virus akan
diikat oleh reseptor Fcy sel target , dan menyebabkan peningkatan infeksi yang tergantung
pada antibody (ADE= antibody dependent enchancement). Akibatnya produksi sitokin dari
sel target meningkat, dan menyebabkan terjadinya DHF dan DSS.
Pada infeksi virus dengue primer, titer antibody meningkat perlahan-lahan, dan
mencapai suatu tingkatan dengan pola tertentu.
Sebaliknya pada infeksi sekunder dengan virus tersebut, antibody meningkat cepat
mencapai suatu titer yang amat tinggi, dan pada kondisi biasanya terjadi reaksi dengan
berbagai antigen virus flavi. Titer antibody yang biasanya hanya dijumpai pada sera penderita
yang mendapat infeksi sekunder.
Seperti halnya pada infeksi jasad renik yang lain, maka pada infeksi primer dengan
virus dengue kadar lgM akan meningkat lebih dahulu, dan mencapai kadar yang lebih tinggi
daripada lgM.
Sebaliknya pada infeksi sekunder, lgG akan timbul lebih cepat, dan dalam kadar yang
lebih tinggi daripada lgG.
Menurut beberapa peneliti,lgM anti-dengue dapat dipakai sebagai tolak ukur untuk
konfirmasi demam berdarah dengue terutama pada beberapa kasus fatal yang hanya mungkin
bias diperoleh serum tunggal untuk pemeriksaan. Menurut Samsi titer lgG anti-dengue>1280
dengan cara emagglutibation inhibition test(HI) timbul lebih cepat dengan kadar yang lebih
tinggi daripada lgM, sesuai dengan reaksi sekunder.sebaiknya titer lgG anti-dengue(tes
HI)<640 timbulnya lebih lambat,dan dalam kadar lebih rendah daripada lgM, lebih sesuai
dengan reaksi primer.

TES LABORATORIUM

1. PEMERIKSAAN DENGUE

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan dengue


Metode : Imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui adanya virus Dengue dalam tubuh
Prinsip : bilas antibody lgM dan lgG dari virus dengue dalam sampel akan ditemukan secara
spesifik oleh antibody anti human lgM dan lgG yang terikat pada membrane netro selulosa
sebagai fase padat, kemudian berikatan dengan anti dengue yang telah membentuk kompleks
dengan gold babelled anti dengue monokorald antibody dan member warba pink pada garis
test.

Alat dan bahan :

1. Tabung reaksi
2. Tees acon
3. Serum

ANALITIK

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


2. Teteskan serum atau plasma pada strip acon sebanyak 10 tetes
3. Tambahkan larutan buffer sebanyak 3 tetes
4. Baca hasil setelah 5-15 menit

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil :

Positif (+) : terrdapat2 garis warna pada daerah control dan test
Negative (-) : hanya terbentuk satu garus pada daerah control
Invalid : tidak terbentuk garis warna

Pembacaan Hasil :
MMMM
GGGG
CCCC

Dengue primer Dengue sekunder Dengue sekunder Negative


(infeksi primer) (infeksi Sekunder) diduga/tersangka

MMMM
GGGG
CCCC

Keterangan :

Garis M = lgM
Garis G = lgG
Garis C = control
Dinyatakan Batal bila tidak tampak garis control
NARKOBA
A. IMUNOASSAY UNTUK PEMERIKSAAN NARKOBA

Narkoba atau Narkotika dan obat terlarang lainnya, saat ini penggunaannya menjadi masalah
medis, hokum, social dan ekonomi di Negara maju maupun Negara berkembang.
Penyalahgunaan narkoba dari tahun ke tahun semakin meningkat Menurut UU RI Nomor 5
Tahun 1997 yang termasuk kelompok Psikotropika adalah Amfetamin dan derivatnya yaitu
MA (Methamfetamin) dan MDMA (Methylene-Dioxyy-Meth-Amvetamin). LSD ( Lysergic
Acid Diethylamide), obat tidur, anti depresi dan anti psikosis.
Dalam UU RI Nomor 22 tahun 1997,Narkotika meliputi golongan Opiat(Morfin,
Heroin),golongan Kanabis(Ganja, Marijuana, Hahis) dan golongan
koka(Kokain/Coke/Crack).
Heroin (Diacetyl Morphine) atau putau adalah analgesic dan narkotik golongan 1, biasanya
digunakan dengan cara suntikan,dihirup atau melalui oral.
Ganja atau Marijuana/Hashis yang metabolitnya dalam urin sebagai THC (Tetra Hidro
Cannabinol) atau 11-nor-- tetrahydrocannabinol-9-carboxylic acid (asam karboksilat yang
berkonjugasi yang berkonjugasi dengan asam Glukoronat), merupakan jenis narkoba dari
kelompok halusinogeen dan narkoba golongan 1. Umumnya ganja digunakan melalui rokok.
Kokain (ecgonine methyl ster-benzoylecgonine) adalah stimulat jenis narkotika golingan 1.
Kokain dikomsumsi melalui suntikan, dihirup dan dimasukkan dalam rokok.
Amfetamin dan derivatnya yaitu MA (dikenal sebagai shabu-shabu)dan MDMA (sebagai
ekstansi/inex) termasuk golongan psiko-stimulansia. MDMA biasanya dikomsumsi melalui
oral sedangkan MA digunakan secara suntikan, dihirup dan dicampur dengan tembakau
rokok kemudian dihisap.
Melalui sirkulasi darah, zat narkoba akan dibawa ke otak, hati, ginjal, dan organ lainnya,
kemudian mengalami metabolism serta melalui ginjal dieksresi dan dikeluarkan melalui urin.
Efek dari zat narkoba dapat mempengaruhi susunan saraf pusat dan merusak organ-organ
dalam tubuh.
Heroin, Ginjal, Kokain, dan A, fetamin tidak digunakan dalam ilmu kedokteran melainkan
sebagai designed substrance yaitu sengaja dibuat untuk tujuan bersenang-senang.
Golongan Opiat dan Amfetamin masih dapat dideteksi dalam urin 1 sampai 4 hari setelah
penggunaan obat. Golongan kokain dalam 1 sampai 3 hati. THC masih dapat dideteksi dalam
urin 2-7 hari setelah penggunaan obat. Bahkan dalam urin pecandu berat, THC masih dapat
dideteksi 46-77 hari setelah penggunaan obat.
Zat narkoba dapat dideteksi dalam darah atau serum,urin dan cairan tubuh.

TES LABORATORIUM

1. PEMERIKSAAN TEST NARKOBA

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan Test Narkoba


Metode : Imunokromatografi
Tujuan : untuk mengetahui ada tidaknya narkoba pada pasien
Prinsip : berdasarkan prinsip pemeriksaan Imunokromatografi methamphetamine akan
terbentuk garis merah jika terdapat narkoba jenis mertham pethamin
Dasar Teori : berdasarkan reaksi imunokromatografi di mana urine yang mengandung
narkoba berkaitan dengan obatconjugate untuk mengikat antibody dalam strip. Urine yang
mengandung obat(narkoba) akan memberikan satu garis warna pada strip, sedangkan urine
yang tidak mengandung narkoba akan memberikan 2 garis warna pada strip.
Alat dan Bahan :

1. Strip test narkoba


2. Pipet tetes
3. Tabung reaksi
4. Timer
5. Urine
ANALITIKC

Cara kerja:

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Pipet sebanyak 100ul dalam tabung reaksi
3. Celupkan strip kedalam tabung tersebut yang berisi urine
4. Keluarkan kemudian baca hasilnya.

PASCA ANALITIK

Interpretasi Hasil :

Positif : jika terbantuk satu garis


Negative : jika terbentuk 2 garis
Invalid : tidak terbentuk garis warna pada control dan test

TES KEHAMILAN

A. IMUNOASSAY UNTUK TES KEHAMILAN


Plasenta memiliki kapasitas besar untuk menhasilkan sejumlah hormone peptide dan steroid
yang esensial untuk memelihara kehamilan. Hormone yang terpenting adalah Human
Chorionic Gonodotropin, estrogen dan progresteron. Plasenta sebagai organ endokrin utama
pada kehamilan, bersifat untuk dibandingkan dengan jaringan endokrin lain dalam dua aspek.
Jenis dan kecepatan sekresi hormon plasenta terutama bergantung pada stadium kehamilan.
Salah satu kejadian pertama setelah implamantasi adalah sekresi (HCG), suatu hormone
peptide yang terjadi yang memperpanjang lama kehidupan korpus luteum oleh krion yang
sedang berkembang. Jika terjadi fertilisasi, blastokista yang tertanam menyelamatkan dirinya
dan tidak tersapu keluar bersama darah haid dengan membuat HCG. stimulasi oleh HCG
diperlukan untuk memelihara korpus luteum selama fase luteal normal pada siklus ovarium,
tertekan akibat umpan balik negative oleh progresteron kadar tinggi. Kelangsungan
kehamilan secara normal bergantung pada kadar estrogen dan progreson yang tinggi. Dengan
demikian pembentukan HCG selama trimester pertama sangat penting unutk
mempertahankan pembentukan hormone-hormon tersebut oleh ovarium. Pada janin laki-laki,
HCG juga merangsang prekursor sel-sel leyding di testis janin untuk mengeluarkan testoteron
yang menyebabkan maskulinisasi saluran reproduksi.
Hormone HCG dapat dideteksi diurin sampai sedini bulan pertama kehamilan, sekitar 2
minggu setelah terlambat haid, karena waktu ini adalah saat keaga mudiga belum dapat
dideteksi dengan pemeriksaan fisik, uji diagnostik ini memungkinkan konfirmasi kehamilan
secara dini.

B. TES LABORATORIUM

PEMERIKSAAN PLANO TES

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan plano test


Metode : imunokromatografi
Tujuan : HCG merupakan suatu tahap tes yang menggunakan urine secara imunokromatografi untuk
mendeteksi adanya human karionik gonadotropin dalam urine dan juga mendeteksi adanya
kehamilan
Dasar teori : HCG (hormone charionoc Gonadotronpin) merupakan hormone yang dihasilkan oleh plasenta
yang mencapai puncaknya pada 8 minggu kehamilan kemudian untuk kembali keminggu-
mingu berikutnya hormone ini adalah hormone yang disekresi oleh sel-sel troboflas kedalam
cairan ibu Negara setelah nidasi terjadi. HCG dalam urin dapat digunakan untuk penentuan
kehamilan dengan cara sederhana penentuan kehamilan dengan menggunkan urin dapat
dilakukan dengan dua cara yaitu cara biologis dan cara immunologic. Percobaan biologic
dengan 3 cara yaitu cara ascheim zondek, cara friendam, dan caragali mainini. Sedangkan
pemeriksaan secara imunologic dapat dilakukan secara langsung dengan cara direct latex
aglutination (DLA) atau cara tidak langsung dengan latex aglutination inhibitor serta dengan
cara hemaglutination inhibitiom (HAI).

Alat dan Bahan

1. Tabung reaksi
2. Test strip
3. Urine

ANALITIK

Cara kerja :

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. celupkan strip kedalam urine selama 10-15 detik
3. keluarkan kemudian baca hasilnya setelah 3 detik

PASCA ANALITIK
Iterpretasi Hasil :

Positif : jika ada dua garis pada daerah control dan test
Negatif : jika terdapat satu garis pada daerah control

Pemeriksaan HCG

PRA ANALITTIK

Metode : langsung
Prinsip : HCG yang terdapat dalam urine bereaksi dengan anti HCG yang terikat pada partikel latex.
Reaksi ini ditunjukan dengan adanya aglutinasi pada partikel latex.
Alat dan Bahan

1. Slide
2. Klinipet
3. Urine
4. kontrol positif
5. kontrol negatif
6. Reagen latex
7. Batang pengaduk

ANALITIK

Cara kerja

1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan


2. Pipet pada tempat berbeda sampel urine sebanyak 1 tetes (3 tempat)
3. Tambahkan masing-masing 1 tetes control positif, control negatif dan reagen latex
4. Campur dengan batang pengaduk yang berbeda
5. Amati reaksi yang terjadi

PASCA ANALITIK
Interpretasi hasil :

Positif : Terjadi aglutinasi


Negatif : Tidak terjadi aglutinasi

TES GOLONGAN DARAH


A. IMUNOASSAY UNTUK TES GOLONGAN DARAH

Darah adalah suatu suspensi yang terdiri atas plasma dan sel-sel darah. Antigen (aglutinogen)
olongan darah rerikat pada sel darah merah sedangkan antibodi (aglutinin) terdapat salam
plasma darah. Sifat golongan drah adalah diturunkan, terikat somatic kromosom dan bersifat
abadi (kebakaan).
Baik antigen maupun antibodi dari golobgab darah terdapat dalam darah kita dalam bentuk
ketidak sesuaian. Pada golongan darah system ABO dibagi menjadi 4 golongan darah yaitu
A, B, AB dan O. golongan A terdapat antigen A dan anti B; golongan B terdapat antigen B
dan anti A; golongan AB terdapat antigen AB dan tidak terdapat antibody ; golongan O tidak
terdapat antigen dan terdapt anti-A dan anti-B.

TES LABORATORIUM

1. PEMERIKSAAN GOLONGAN DARAH

PRA ANALITIK

Judul : pemeriksaan golongan darah


Metode : Aglutinasi
Tujuan : untuk menentukan golongan darah seseorang dengan mereaksikan antibodi yang terdapat
dalam serum dan antigen A,B,AB dan O dalam reagen.
Prinsip : Antigen pada darah akan bereaksi dengan antisera pada reagen yang akan menimbulkan
aglutinasi.

Alat dan Bahan

a. Objek gelas
b. Blood lancet
c. Darah kapiler dan darah vena
d. Serum anti A
e. Serum anti B
f. Serum anti AB
ANALITIK

Prosedur kerja

1. Jari pasien yang akan ditusuk didesinfeksi dengan alcohol 70%


2. Di tusuk denan lancet, tetesan pertama dihapus dengan kapas kering, tetsan kedua
selanjutnya ditaruh diobjek glass dengan 3 bagian.
3. Kemudian ditetesi dengan anti sera A, anti sera B, anti sera AB.
4. Dicampur dengan baik kemudian digoyang-goyangkan.

PASCA ANALITIK

Pembacaan hasil

Apabila terjadi antigulasi pada anti serum A.

---------- golongan darah A

Apalagi terjadi antigulasi pada anti serum B

----------golongan darah B.

Apabila terjadi antigulasi pada anti serum AB.

------------golongan darah AB.

Apabila terjadi antigulasi pada serum A,B,AB.

-------------Golongan darah O.
DAFTAR PUSTAKA
Handojo, Indo. 2004. Imunoassay Terapan Pada Beberapa Penyakit Infeksi. Surabaya:
Airlangga University Press.
Hardjoeno. 2007. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diaggnostik. Cet 5. Makassar :
Hasanuddin University Press.
http://www.indpretest.com/IVD_tests_kits_pic/Medical_diagnostics_samples/IVD_HCT_test
s
Manaba Faizin. 2001. Buku Ajar Patologi Umum. Edisi IV .Makassar
Diposting 5th November 2012 oleh ahmad ihwan
ainyyayyna
Tried to smile despite difficult

Menu
Skip to content

Beranda
About me

SEROLOGI
Posted on Juni 27, 2013 by ainikorotul

Ilmu adalah ilmu yang mempelajari jenis prosedure kerja yang berhubungan dengan
imunologi untuk diagnostik.

Gunanya

1. Untuk diagnostik mikroorganisme bila sulit dicari.


2. Untuk mendeteksi suatu penyakit dengan mengukur titer antibodi dengan membandingkan
titer antibodi serum sikness dengan serum copalencent.

Serum sikness : serum yang bersangkutan yang diambil pada waktu orang tersebut sedang
sakit.
Serum compalencent :Serum yang diambil pada waktu penderita mulai sembuh.
Antibody ; zat yang dihasilkan oleh tubuh sebagai rangsangan aglutinin.
Aglutinin : benda asing yang masuk ke dalam tubuh yang dapat merangsang antibody.
Test serologi tidak bermanfaat bila dilaksanakan terlalu dini karena antibody dalam tubuh
baru terbentuk setelah 10-20 hari.

3. Untuk mengetahui / mengukur keadaan hormon seperti pada kanker rahim kehamilan
hormon HCG meningka.

4. Untuk mendiagnosa penyakit autoimun suatu penyakit

Reaksi antibody dan aglutinin pada serologi

Reaksi aglutinin

Adalah aglutinasinya berupa subsensi. Bereaksi dengan antibody membentuk gumpalan.

Contoh test golongan darah

Eri x + anti sera A


Eri x + anti sera B
Eri x + anti sera AB
Eri x + anti sera D (RH)

Reaksi widal

Untuk menentukan type penyakit typhus aglutinasi berupa suspensi salmonella + serum
penderita S.typhi H2O. H flagell , O badan bakteri. Badan suspensi eritrosit , suspensi kuman
bentuk latek Bontenik dan paliserin.

Reaksi kehamilan

D.L.A (Direk Latek Aglutinasi)


LAI (Latek Aglutinasi Inhibrisi)
Urin + latek aglutinasi (HCG +)
LAI urin + anti HCG + Latek aglutinasi(HCG -)

Reaksi presipitat

Jika antigen dalam keadaan terlarut ( Ig A, M, D, G, dan E) bergabung dengan Ag, Ab


membentuk presipitat, teknik ini biasanya dilakukan pada media agar lembek dan semi solid.

Reaksi flokulasi

Merupakan variasi dan reaksi presipitasi reaksi menunjukkan adanya presipitat dan adanya
endapan. Test ini lazim digunakan untuk mendeteksi kekuatan toksin dan antitoksin.

Penetapan golongan darah

Dibagi 2 cara : cara slide dan cara tabung

Cara slide yang pernah digunakan hanya untuk menetapkan golongan darah dalam jumlah
besar. Cara slide kurang teliti tapi praktis. Cara yang sangat teliti dan akurat cara tabung, cara
ini dilakukan karena faktor eritrosit ditentukan dengan dikontrol serum aglutinogen sebagai
pengontrol ditentukan dengan eritrosit A,B,dan AB yang sudah diketahui. Test tabung hanya
digunakan bila menentukan golongan darah bayi yang baru lahir untuk kepentingan
kehakiman.

Prosedure membuat eritrosit 100%

Darah diputar dengan kecepatan 1000 rpm , lalu pisahkan serum/plasma + NaCl 0,86% sama
banyak , lalu putar lagi dikerjakan 2-3 kali.

Buat darah 2%, 4%, 5%

Cara tetes = 4% = = = 1 tetes darah + 24 tetes NaCl 0,86%

Golongan darah

Metode : slide

Rumus : aglutinin

A:+ + + B

B: + + + A

AB : + O

O:+ + + +

Pemeriksaan widal

Metode : cara slide

Tujuan :

mendeteksi antibody terhadap salmonella typhus , parathyphi A,B,C

Prinsip :

Terjadi reaksi aglutinasi antara antigen salmonella dengan antibody spesifikasi yang terdapat
dalam serum penderita demam thypoid dan parathypoid.

Cara kerja :

O
H

Tiap lubang diisi dengan serum 20ul

Lalu isi dengan antigen 20ul

Goyang selama 1 menit

Baca hasil

Hasil : terjadi aglutinasi +

Tidak terjadi aglutinasi

Bila + kwalitatif

Isi 4 lubang dengan NaCl 0,9% 20ul

Lubang no 1 isi serum lalu pindahkan ke lubang no2 s/d no 4

Lalu masukkan antigen tiap lubang , baca titer1/20, 1/40, 1/80, 1/160, 1/320.

Pemeriksaan RPR

(Rapid Plasma Reagin)

Tujuan :

Mengetahui adanya antibody non Treponema (reagin) dalam serum sampel.

Prinsip :

Antibody reagin dalam serum penderita bereaksi dengan antigen reagin yang mengandung
mikropartikel karbon membentuk komplek yang dapat dilihat berupa flokulasi.

Cara kerja :

1 Tetes reagen antigen pada slide

+ 1 tetes serum penderita

Lalu di rotator selama 5-8

Baca hasil

Hasil :

+ terjadi flokulasi
Tidak terjadi flokulasi

Bila + lanjutkan dengan pengenceran

Tiap lubang (kertas RPL) diisi dengan NaCl 0,9

Tambahkan serum pada lubang 1

Lalu pindahkan ke lubang no2 s/d no 10

Tiap lubang di tambahkan 1 tetes antigen RPR

Lalu rotator selama 4-6

Baca hasil dimana terjadi + yang paling lemah

Pengenceran slide

1/2, , 1/8, 1/16, 1/32, 1/64, dst

Pemeriksaan TPHA

(Treponema Palidum Haem Aglutinasi)

Tujuan :

Mendeteksi adanya antibody terhadap treponema palidum haem aglutinasi.

Prinsip :

Antibody treponema palidum dalam serum penderita bereaksi dengan antigen treponema
palidum yang melapisi sel darah merah membentuk kompleks yang dapat dilihat berupa
adanya haem aglutinasi.

Cara kerja :

1. Siapkan microplate:

A B C

1.

2.

3.

1. Lubang pertama 1, 2, 3 diisi dengan diluent sebanyak 190ml


2. Lubang no 1. Isi serum 10ul

2. isi kontrol + 10ul


3. isi kontrol 10ul

4. tabung no 1. Pindahkan 25ul ke tabung no 2-3

2. pindahkan 25ul ke tabung no 2-3

3. pindahkan 25ul ke tabung no 2-3

5. tambahkan kontrol sel pada tabung B ke bawah 25ul

6. tambahkan test sel pada tabung C ke bawah sebanyak 25ul,

7. kocok, tunggu 1 jam.

Baca hasil

ASTO/ASO, ASL/ ANTI STREPTHOLISIN

Tujuan :

Untuk mendeteksi penyakit streptococcus yang patogen


terutama antibody dalam bentuk streptholisin O.

Prinsip :

Serum penderita + lateks yang sudah dicoated dengan anti streptholisin O yang akan terjadi
aglutinasi.

Cara kerja :

1. Teteskan 50ul serum pada lingkaran slide.


2. Tambahkan 50ul Ag ASO, homogenkan
3. Lalu gayang selama 1-2.
4. Kemudian amati hasil reaksi.

Interprestasi hasil :

+ aglutinasi

Tidak terjadi agutinasi

Hepatitis

Pemeriksaan RPHA (Reserve Passive Haem Aglutinasi)

Tujuan :
Menentukan adanya antigen hepstitis B dalam serum penderita dengan menggunakan
metode reserve passive haem aglutinasi.

Cara keja :

1. Bila jumlah sampel banyak dianjurkan test skrening (kwalitatif)

serum

B kontrol + seluruhnya diisi

C kontrol dengan buffer 25ul

pada A1 tambahkan serum penderita 25ul, lalu pindahkan dari A1 s/d A4 ,begitu juga B dan C.

Lalu tambahkan RPHA sel sebanyak 50 ul pada semua tabung/12 tabung , lalu homogenkan
dan diamkan selama 1 jam pada suhu kamar.

Kalau +

Penilaian hasil hepatitis :

1. HbsAg + hepatitis B akut (kronis)


2. Anti HBsAg kebal (imun terhadap infeksi HBV)
3. TGM anti HBe + hepatitis B akut (titer tinggi)
4. ISG Anti HBe hepatitis kronis / titer rendah
5. ISG Anti HBe + HbsAg /negatif
6. HBe Ag HBs Ag + hepatitis B kronis
7. HBe Anti + hepatitis B akut kompalesen

Pemeriksaan RF (Rheumatoid Faktor)

Tujuan :

Untuk mendeteksi adanya faktor Rheumatoid pada serum penderita.

Prinsip :

Partikel lateks dilapisi dengan gamma globulin manusia, kemudian penambahan serum yang
mengandung RF akan menghasilkan aglutinasi.

Cara kerja :

1. Teteskan 50 ul spesimen/serum pada lingkaran slide.


2. Tambahkan 50 ul Ag RF, homogenkan
3. Lalu goyang selama 2.
4. Kemudian amati hasil reaksi.

Interprestasi hasil :

+ aglutinasi

Tidak terjadi aglutinasi

Iklan

Share this:

Twitter
Facebook
Google

Tinggalkan Balasan

Navigasi pos
HEMATOLOGI

PEMERIKSAAN URIN SECARA MANUAL

Cari

Tulisan Terakhir
Ayat-Ayat Hujan
SUSENSI DAN EMULSI
PEMERIKSAAN URIN SECARA MANUAL
SEROLOGI
HEMATOLOGI

Komentar Terbaru

Arsip
Juni 2013
Kategori
Uncategorized

Meta
Daftar
Masuk
RSS Entri
RSS Komentar
WordPress.com

Blog di WordPress.com.
VDRL
Deskripsi

Venereal Disease Research Laboratory (VDRL) / Serum atau Cerebrospinal Fluid (RPR)
merupakan satu-satunya pemeriksaan laboratorium untuk neunurosipilis yang disetujui oleh
Centers for Disease Control. Pemeriksaan VDRL serum bisa memberikan hasil negatif palsu
pada tahap late sipilis dan kurang sensitif dari RPR. Penyakit Pemeriksaan VDRL merupakan
pemeriksaan penyaring atau Skrining Test, dimana apabila VDRL positif maka akan
dilanjutkan dengan pemeriksaan TPHA (Trophonema Phalidum Heamaglutinasi). Hasil uji
serologi tergantung pada stadium penyakit misalnya pada infeksi primer hasil pemeriksaan
serologi biasanya menunnjukkan hasil non reaktif. Troponema palidum dapan ditemukan pada
chancre. Hasil serologi akan menunjukan positif 1-4 minggu setelah timbulnya chancre. Dan
pada infeksi sekunder hasil serelogi akan selalu pisitif dengan titer yang terus
meningkat. Pasien yang terinfeksi bakteri treponema akan membentuk antibody yang terjadi
sebagai reaksi bahan-bahan yang dilepaskan karena kerusakan sel-sel. Andibody tersebut
disebut regain.

Tujuan
Untuk mendeteksi adanya antibody nontreponema atau Reagin.

Metode
Slide

Prinsip
Adanya antibody pada serum pasien akan bereaksi dengan antigen yang menempel pada
eritrosit ayam kalkun atau domba membentuk flokulasi ( gumpalan) atau aglutinasi.

Sempel
Serum atau cairan otak

Cara Kerja

Kualitatif

1. Siapkan alat dan bahan yad dibutuhkan


2. Ke dalam lingkaran slide dipipet 50 ul serum
3. Tambahkan 50 ul atau 1 tetes antigen (reagen VDRL )
4. Homogenkan dengan batang pengaduk
5. Putar pada rotator kecepatan 100 rpm selama 4-8 menit
6. Amati ada tidaknya flokulasi

Kuantitatif

1. Siapkan alat dan bahan yang dibutuhkan


2. Lakukan pengenceran berseri pada slide dengan cara 50 ul serum + 50 ul saline
dihomogenkan kemudian hari campuran tersebut dipipet 50 ul dan diletakkan pada
lingkaran ke dua pada slide yang sama kemudian tambahkan 50 ul salin dan
homogenkan kembali lalu lakukan hal yang sam seperti pada lingkaran pertama
sampai lingkaran terakhir dima pada pengenceran terakhir hasil pengenceran dibuang
sebanyak 50 ul. Maka hasil pengenceran adalah 1/2 , 1/4 , 1/8, 1/16, 1/32, 1/64, 1/128.
3. Kepada masing-masing pengenceran tambahkan 1 tetes ( 50 ul ) antigen VDRL (
reagen)
4. Kemudian dihomogenkan dan diputar dengan rotator kecepatan 100 rpm selam 5-8
menit
5. Amati ada tidaknya flokulasi setiap pengenceran dan tentukan titer pemeriksaannya (
yaitu pengenceran trerakhir yang masih menunjukkan flokulasi )

Interpretasi
Laporan hasil cukup dengan menyebutkan non-reaktif, reaktif lemah atau reaktif
Reaktif : Bila tampak gumpalan sedang atau besar
Reaktif Lemah : Bila tampak gumpalan kecil-kecil
Non reaktif : Bila tidak tampak flokulasi/gumpalan

Hal-hal yang perlu diperhatikan !!


Apabila specimen yang diterima adalah cairan otak maka specimen tersebut harus disentrifuge
pada kecepatan 3000 rpm salam 5-10 menit
Apabila serumnya lipemik baiknya disentrifuge pada kecepatan tinggi yaitu 10000 rpm selama
10 menit
Serum yang lipemik dan lisis tidak boleh diperiksa

TPHA( Treponema Palidum Hemaglutinasi Assay)

Deskripsi

Treponema Pallidum Hemagglutination (TPHA) merupakan suatu pemeriksaan serologi untuk


sipilis dan kurang sensitif bila digunakan sebagai skrining (tahap awal/primer) sipiliS. Untuk
skirining penyakit sipilis biasanya menggunakan pemeriksaan VDRL atau RPR apabila hasil
reaktif kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan TPHA sebagai konfirmasi

Metode
Hemaaglutinasi tidak langsung (indirek hemaaglutinasi) untuk mendeteksi antibodi spesifik
terhadap T.pallidum.

Prinsip
Adanya antibody Treponema Palidum akan breaksi dengan antigen treponema yang menempel
pada eritrosit ayam kalkun/ domba sehingga terbentuk aglutinasi dari eritrosit-eritrosit tersebut.

Spesimen
Serum atau cairan otak

Langkah Kerja

Prosedur Kualitatif

1. Teteskan masing-masing 1 tetes (25 ul) serum diluent ke lubang 1, 3, 4 dan 5 dan
untuk lubang ke-2 tambahkan r tetes ( 100 ul).
2. Teteskan 25 serum pada lobang 1 dan lakukan pengenceran sampai lubang ke-
5 dengan cara ambil 25 ul dari lobang pertama dan taruh ke lubang kedua.
Dihomogenkan lalu ambil masing-masing 25 ul dan di taroh di lobang ke tiga dank e
empat. Dari lobang ke empat diambil 25 ul dan di taruh ke dalam lobang ke lima.
Paka akan didapat pengenceran 1/2, 1/10, 1/20, 1/20 dan 1/40.
3. Tambahkan 75 ul sel control ke lobang tiga dan 73 un sel tes ke lobang 4 dan 5 ,
maka pengenceran terakhir 1/2 , 1/10,1/80, 1/80,1/160
4. Homogenkan pada mixer dan inkubasi pada suhu kamar selama 45-60 menit
5. Amati aglutinasi pada masing-masing lobang.

Prosedur Kuantitatif
Prosedurnya sama dengan prosedur kualitatif, hanya pada prosedur kuantitatif pada
pengenceran sampel di lobang ke lima dilanjutkan lagi sampai lubang ke Sembilan, sehingga
pengenceran akhir yang didapa setelah masing-masing ditambah 75 ul sel tes menjadi 1/160,
1/1320, 1/640, 1/1280, 1/2560. Hasil dibaca sampai pengenceran tertinggi yang masih
aglutinasi

Uji TPHA menunjukkan hasi rektif setelah 1-4 minggu setelah terbentuknya chancre.