Anda di halaman 1dari 22

TUGAS 1

ADMINISTRASI DAN SUPERVISI PENDIDIKAN

1. Jelaskan pengertian supervisi pendidikan !

Istilah supervisi berasal dari dua kata, yaitu super dan vision. Dalam
Websters New World Dictonary istilah super berarti higher in rank or position
than, superior to (superintendent), a greater or better than others sedangkan
kata vision berarti the ability to perceive something not actuallyvisible, as
through mental acuteness or keen foresight

Supervisi secara etimologi berasal dari kata "super" dan "visi" yang
mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas
yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktifitas, kreativitas, dan kinerja
bawahan. Terdapat beberapa istilah yang hampir sama dengan supervisi, bahkan
dalam pelaksanaannya istilah-istilah tersebut sering digunakan secara bergantian.
Istilah-istilah tersebut antara lain: pengawasan, pemeriksaan, dan inspeksi.
Pengawasan mengandung arti suatu kegiatan untuk melakukan pengamatan agar
pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan. Pemeriksaan dimaksudkan
untuk melihat bagaimana kegiatan yang dilaksanakan telah mencapai tujuan.
Inspeksi dimaksudkan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan atau kesalahan
yang perlu diperbaiki dalam suatu pekerjaan.
Untuk memperoleh pemahaman dan wawasan tentang supervisi, berikut
dikemukakan beberapa pengertian supervisi dari para ahli. Charter Good's
Dictionary of Education (dalam Mulyasa,2002), mendefinisikan supervisi sebagai
segala usaha pejabat sekolah dalam memimpin
guru-guru dan tenaga kependidikan lainnya, untuk memperbaiki pengajaran,
termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan dan perkembangan jabatan
guru-guru, menyeleksi dan merevisi tujuantujuan pendidikan, bahan pengajaran,
dan metode-metode mengajar serta evaluasi pengajaran. Sementara dalam
Petunjuk Pelaksanaan Supervisi Pendidikan di Sekolah, supervisi diartikan
sebagai bantuan yang diberikan kepada seluruh staf sekolah untuk
mengembangkan situasi belajar mengajar yang lebih baik (Depdikbud, 1994).
Sedangkan Pidarta memandang supervisi sebagai kegiatan membina atau
membimbing guru agar bekerja dengan betul dalam mendidik dan mengajar
siswanya ( Pidarta 1992.)
Diantara beberapa definisi supervisi diatas terdapat beberapa kesamaan yaitu:
(1) merupakan suatu proses pemberian bantuan, pengarahan, dan pembinaan, (2)
pengajaran ditujukan kepada guru-guru, (3) bukan mencari kesalahan bawahan,
(4) diberikan untuk membantu meningkatkan dan memperbaiki kemampuan guru
dalam pengajaran, (5) meningkatkan prestasi belajar siswa.

2. Apa yang menjadi tujuan dari supervisi pendidikan?

Berdasarkan beberapa kajian terhadap pengertian supervisi dapat disimpulkan


bahwa supervisi bertujuan mengembangkan iklim yang kondusif dan lebih baik
dalam kegiatan belajar mengajar, melalui pembinaan dan peningkatan profesi
mengajar. Dengan kata lain tujuan supervisi pengajaran adalah membantu dan
memberikan kemudahan kepada para guru untuk belajar bagaimana meningkatkan
kemampuan mereka guna mewujudkan tujuan belajar peserta didik. Secara
khusus, Amatembun (dalam Mulyasa, 2002) mengemukakan bahwa tujuan
supervisi adalah untuk : (1) membina kepala sekolah dan guru-guru untuk lebih
memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya dan peranan sekolah dalam
merealisasikan tujuan tersebut, (2) memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan
guru-guru untuk mempersiapkan peserta didiknva menjadi anggota masyarakat
yang lebih efektif, (3) membantu kepala sekolah dan guru mengadakan diagnosis
secara kritis terhadap aktivitas-aktivitasnya dan kesulitan-kesulitan belajar
mengajar, serta menolong mereka merencanakan perbaikan-perbaikan, (4)
meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru-guru serta warga sekolah lain
terhadap cara kerja yang demokratis dan komprehensif, serta memperbesar
kesediaan untuk tolong-menolong, (5) memperbesar semangat guru-guru
meningkatkan motivasi berprestasi untuk mengoptimalkan kinerja secara
maksimal dalam profesinya, (6) membantu kepala sekolah untuk mempopulerkan
pengembangan program pendidikan di sekolah kepada masyarakat, (7)
melindungi orang-orang yang disupervisi terhadap tuntutan-tuntutan yang tidak
wajar dan kritik-kritik yang tidak sehat dari masyarakat, (8) membantu kepala
sekolah dan guru-guru dalam mengevaluasi aktivitasnya untuk mengembangkan
aktivitas dan kreativitas peserta didik, (9) mengembangkan rasa kesatuan dan
persatuan di antara guru-guru. Sedangkan Sergeovanni (dalam Pidarta, 1992),
menyatakan bahwa sehubungan dengan tujuan supervisi adalah: (1) tujuan akhir
adalah untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan siswa, (2) tujuan kedua
adalah membantu kepala sekolah dalam menyukseskan program pendidikan dari
waktu ke waktu secara kontinu, (3) tujuan dekat adalah bekerja sama
mengembangkan proses belajar mengajar yang tepat, dan (4) tujuan perantara
adalah membina guru-guru agar dapat mendidik para siswa dengan baik atau
menegakkan disiplin secara manusiawi.

3. Apa maksudnya supervisi akademik atau pembelajaran?

Glickman (1981), mendefinisikan supervisi akademik adalah serangkaian


kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses
pembelajaran demi pencapaian tujuan pembelajaran. Supervisi akademik
merupakan upaya membantu guru-guru mengembangkan kemampuannya
mencapai tujuan pembelajaran. (Daresh, 1989). Dengan demikian, berarti, esensi
supervisi akademik itu sama sekali bukan menilai unjuk kerja guru dalam
mengelola proses pembelajaran, melainkan membantu guru mengembangkan
kemampuan profesionalismenya. Meskipun demikian, supervisi akademik tidak
bisa terlepas dari penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola pembelajaran.
Apabila di atas dikatakan, bahwa supervisi akademik merupakan serangkaian
kegiatan membantu guru mengembangkan kemampuannya mengelola proses
pembelajaran, maka menilai unjuk kerja guru dalam mengelola proses
pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa dihindarkan
prosesnya (Sergiovanni,1987). Penilaian unjuk kerja guru dalam mengelola proses
pembelajaran sebagai suatu proses pemberian estimasi kualitas unjuk kerja guru
dalam mengelola proses pembelajaran, merupakan bagian integral dari
serangkaian kegiatan supervisi akademik. Apabila dikatakan bahwa supervisi
akademik merupakan serangkaian kegiatan membantu guru mengembangkan
kemampuannya, maka dalam pelaksanaannya terlebih dahulu perlu diadakan
penilaian kemampuan guru, sehingga bisa ditetapkan aspek yang perlu
dikembangkan dan cara mengembangkannya.
Sergiovanni (1987) menegaskan bahwa refleksi praktis penilaian unjuk
kerja guru dalam supervisi akademik adalah melihat realita kondisi untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan, misalnya: Apa yang sebenarnya terjadi di
dalam kelas?, Apa yang sebenarnya dilakukan oleh guru dan murid-murid
didalam kelas?, Aktivitas-aktivitas mana dari keseluruhan aktivitas didalam kelas
itu yang berarti bagi guru dan murid?, Apa yang telah dilakukan oleh guru dalam
mencapai tujuan akademik?, Apa kelebihan dan kekurangan guru dan bagaimana
cara mengembangkannya?. Berdasarkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan
ini akan diperoleh informasi mengenai kemampuan guru dalam mengelola
kegiatan pembelajaran. Namun satu hal yang perlu ditegaskan di sini, bahwa
setelah melakukan penilaian unjuk kerja guru tidak berarti selesailah tugas atau
kegiatan supervisi akademik, melainkan harus dilanjutkan dengan perancangan
dan pelaksanaan pengembangan kemampuannya. Dengan demikian, melalui
supervisi akademik guru akan semakin mampu memfasilitasi belajar bagi murid-
muridnya. Alfonso, Firth, dan Neville (1981) menegaskan Instructional
supervision is herein defined as: behavior officially designed by the organization
that directly affects teacher behavior in such a way to facilitate pupil learning and
achieve the goals of organization. Menurut Alfonso, Firth, dan Neville, ada tiga
konsep pokok (kunci) dalam pengertian supervisi akademik.

1. Supervisi akademik harus secara langsung mempengaruhi dan mengembangkan


perilaku guru dalam mengelola proses pembelajaran. Inilah karakteristik esensial
supervisi akademik. Sehubungan dengan ini, janganlah diasumsikan secara
sempit, bahwa hanya ada satu cara terbaik yang bisa diaplikasikan dalam semua
kegiatan pengembangan perilaku guru. Tidak ada satupun perilaku supervisi
akademik yang baik dan cocok bagi semua guru (Glickman, 1981). Tegasnya,
tingkat kemampuan, kebutuhan, minat, dan kematangan profesional serta
karakteristik personal guru lainnya harus dijadikan dasar pertimbangan dalam
mengembangkan dan mengimplementasikan program supervisi akademik
(Sergiovanni, 1987 dan Daresh, 1989).
2. Perilaku supervisor dalam membantu guru mengembangkan kemampuannya
harus didesain secara ofisial, sehingga jelas waktu mulai dan berakhirnya program
pengembangan tersebut. Desain tersebut terwujud dalam bentuk program
supervisi akademik yang mengarah pada tujuan tertentu. Oleh karena supervisi
akademik merupakan tanggung jawab bersama antara supervisor dan guru, maka
alangkah baik jika programnya didesain bersama oleh supervisor dan guru.
3. Tujuan akhir supervisi akademik adalah agar guru semakin mampu
memfasilitasi belajar bagi murid-muridnya.

4. Apa saja komponen rancangan pembelajaran (RPP)?

1. Identitas Sekolah yaitu nama satuan pendidikan


2. Identitas Mata Pelajaran atau Tema/Subtema;
3. Kelas/Semester;
4. Materi Pokok;
5. Alokasi Waktu, yang ditentukan sesuai dengan keperluan untuk
pencapaian KD dan beban belajar dengan mempertimbangkan jumlah jam
pelajaran yang tersedia dalam silabus dan KD yang harus dicapai;
6. Tujuan Pembelajaran yang dirumuskan berdasarkan KD, dengan
menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang
mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan;
7. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi;
8. Materi Pembelajaran, memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur
yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan
indikator ketercapaian kompetensi;
9. Metode Pembelajaran, digunakan oleh pendidik untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
mencapai KD yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan KD
yang akan dicapai;
10. Media Pembelajaran, berupa alat bantu proses pembelajaran untuk
menyampaikan materi pelajaran;
11. Sumber Belajar, dapat berupa buku, media cetak dan elektronik,
alam sekitar, atau sumber belajar lain yang relevan;
12. Langkah-Langkah Pembelajaran dilakukan melalui tahapan
pendahuluan, inti, dan penutup; dan
13. Penilaian Hasil Pembelajaran.

5. Sebutkan kemudian jelaskan secukupnya , prinsip-prinsip supervisi


pendidikan !
Prinsip-prinsip supervisi menurut Hariwung (1989), dan Sahertian (1994)
adalah: (1) supervisi hendaknya bersifat ilmiah yang mencakup unsur-unsur (a)
sistematis, berarti dilaksanakan secara teratur, berencana dan kontinu;(b) objektif,
artinya data yang didapat berdasarkan pada observasi nyata, bukan tafsiran
pribadi; (c) menggunakan alat (instrumen) yang dapat memberi informasi sebagai
umpan balik untuk mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar; (d)
supervisi dilakukan berdasarkan prinsip demokratis, bukan karena takut atau
karena intimidasi atasan,tetapi dilakukan atas dasar kekeluargaan, melalui
musyawarah, saling memberi dan menerima; (e) supervisi dilakukan dengan cara
bekerja sama atau kooperatif dan selalu mengarahkan kegiatannya untuk
mencapai tujuan bersama dengan menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih
baik; (f) supervisi dilakukan atas dasar kreativitas dan inisiatif guru sendiri
dimana supervisor hanya memberikan contoh dan dorongan agar tercipta situasi
belajar mengajar yang lebih baik; (g) supervisi dilakukan secara terbuka, tidak
sembunyi-sembunyi, melainkan dengan cara terus-terang melalui pemberitahuan
resmi atau tidak resmi sehingga guru yang akan disupervisi tahu bahwa dirinya
akan disupervisi; (h) supervisi hendaknya dilakukan secara profesional,
berkesinambungan, dan teratur sehingga diharapkan tercipta self supervision.
(2)memperhatikan beberapa prinsip supervisi,sehingga dalam pelaksanaan
supervisi hendaknya menghindari kesan sebagai berikut: (a) mencari-cari
kesalahan dalam melaksanakan supervisi; (b) pelaksanaan supervisi yang sekedar
formalitas; (c) tidak adanya rencana yang rinci secara sistimatis; (d) supervisi
hanya diperuntukkan pada guru-guru tertentu saja (tidak menyeluruh) dan tidak
kontinu; (e) tidak memberikan solusi dan tindak lanjut bila ditemukan
kekurangan-kekurangan atau kesalahan yang dilakukan oleh guru; (f) hubungan
bersifat birokratif atau sebaliknya membebaskan terhadap guru-guru yang
disupervisi; (g)menakut-nakuti dengan memberikan beberapa bentuk sanksi yang
akan diberikan; (h) tidak menghargai dan tidak memahami terhadap kemampuan,
martabat, dan keunikan yang dimiliki tiap-tiap guru; (i) bersifat sombong
menonjolkan diri bahwa dialah yang paling pandai; (j) memberikan nasehat diluar
tugasnya tanpa diminta oleh guru yang disupervisi.

6. Sebutkan kemudian beri penjelasan tehnik-tehnik supervisi


pendidikan !
Teknik-teknik supervisi menurut Pidarta (1992) meliputi: (1) teknik-teknik
yang berhubungan dengan kelas: (a) observasi kelas, (b) kunjungan kelas, (2)
teknik-teknik dengan berdiskusi: (a) pertemuan formal, (b) pertemuan informal,
(c) rapat guru, (3) supervisi yang direncanakan bersama : (a) teknik supervisi
sebaya, (b) teknik yang memakai pendapat siswa dan alat elektronika, (4) teknik
yang mengunjungi sekolah lain, (5) teknik melalui pertemuan pendidikan.
Tujuan dari observasi kelas ialah ingin memperoleh data tentang segala sesuatu
yang terjadi di dalam proses belajar mengajar. Melalui data tersebut, supervisor
dapat melakukan pembinaan terhadap guru yang diobservasi.
Pada teknik kunjungan kelas dalam supervisi, supervisor mengadakan observasi
dalam satu pertemuan yang terdiri dari satu sampai tiga jam. Waktu observasi
tersebut berguna untuk mengamati secara lengkap segala sesuatu yang terjadi
dalam proses belajar mengajar. Tujuan yang diinginkan oleh teknik kunjungan
kelas adalah: (1) membantu guru yang belum berpengalaman, (2) membantu guru
yang telah berpengalaman tentang kekeliruan yang dia lakukan, (3)membantu
guru pindahan yang belum jelas tentang situasi dan kondisi kelas yang dikerjakan,
(4) membantu melaksanakan proyek pendidikan, (5) mengamati perilaku guru
pengganti, (6) mendengarkan nara sumber mengajar, (7) mengamati tim pengajar
melaksanakan tugasnya pada siswa dalam kelompok kecil/ kelompok besar, (8)
mengamati cara mengajar bidang studi yang istimewa, (9)membantu menilai
pemakaian media pendidikan. Neagley (dalam Pidarta,1992).
Pertemuan formal adalah pertemuan yang sengaja diadakan pada waktu tertentu,
yang dihadiri guru dengan supervisornya. Topik yang dibahas berupa hasil
observasi supervisor terhadap aktivitas guru dalam kelas,atau dapat juga berupa
topik yang lain. Sedang pertemuan informal adalah pertemuan-pertemuan yang
tidak direncanakan waktu dan tempatnya. Pertemuan bisa terjadi sewaktu-waktu
dan dimana saja bila diperlukan. Dalam pertemuan informal guru lebih melakukan
ekspresi dibandingkan dengan pertemuan formal. Sedangkan rapat perlu
dibedakan dengan pertemuan formal, ialah karena dalam rapat semua guru ikut
terlibat, sedangkan dalam pertemuan formal belum tentu semua guru terlibat.
Biasanya rapat guru diadakan secara berkala (misal 3 bulan sekali) atau menurut
kebutuhan. Supervisi yang direncanakan bersama adalah supervisi yang telah
direncanakan bersama oleh supervisor dan guru-guru yang dibimbingnya. Dalam
perencanaan itu sudah ditentukan dan dibahas tentang: (1) bidang studi apa/pokok
bahasan apa yang akan dikerjakan; (2) apa yang akan dituju oleh bidang
studi/pokok bahasan tersebut; (3) konsep-konsep yang berhubungan dengan cara-
cara mencapai tujuan; (4) kapan rencana itu akan dilaksanakan; (5) siapa saja
yang akan dilibatkan dalam proses tersebut; (6) bagaimana prosedur supervisi
yang akan dilaksanakan.Prinsip dari teknik supervisi sebaya yaitu guru yang
sukses dalam pekerjaannya diberi kesempatan oleh supervisor membantu guru-
guru yang lain dalam memperbaiki proses belajar mengajar. Guru tersebut
ditunjuk oleh supervisor sebagai partnernya dalam bidang keahlian mereka untuk
membantu guru-guru memajukan proses belajar-mengajar Supervisi yang
memakai pendapat para siswa ialah bila supervisor dalam melaksanakan
supervisor meminta bantuan beberapa siswa untuk menilai gurunya. Supervisi ini
digunakan apabila supervisor merasa kesulitan mendekati guru yang akan
disupervisi, misalnya guru gugup dalam mengajar apabila ditunggu supervisor.
Dalam negara yang sudah maju, supervisi dapat dilakukan dengan menggunakan
alat elektronika yang dipasang dalam kelas. Bila supervisor ingin mengobservasi
kelas, supervisor tinggal mengaktifkan alat yang terpasang di setiap kelas.Teknik
mengunjungi sekolah lain dilakukan ke sekolah yang sudah maju. Sekolah yang
sudah maju biasanya menjadi kebanggaan pengelola sekolah di tempat itu.
Mereka menceritakan kemajuan itu kepada guru sekolah lain atau mereka
mengadakan kunjungan ke sekolah yang lebih maju. Bila kunjungan dilakukan
seperti itu maka supervisi dengan mengunjungi sekolah lain sudah dijalankan.
Supervisor dapat memanfaatkan pertemuan-pertemuan pendidikan untuk
meningkatkan kualifikasi guru-guru yang dibinanya. Pertemuan-pertemuan
pendidikan berupa: diskusi panel, simposium, diskusi formal, dan sebagainya.
Supervisor bekerjasama dengan kepala sekolah dengan mengirim beberapa guru
untuk mengikuti pertemuan itu. Dalam hal ini tugas guru yang dikirim adalah: (1)
menyiapkan diri tentang hal yang akan dibahas dalam pertemuan, (2) menjadi
peserta yang baik dan bertanggung jawab dalam pertemuan, (3) membuat
ringkasan hasil pertemuan, (4) melaporkan hasil pertemuan kepada supervisor, (5)
melaksanakan hasil pertemuan itu di sekolah.
Tugas supervisor adalah mengarahkan dan membimbing para guru dalam
proses belajar mengajar (Pidarta, 1992). Dengan adanya pengarahan dan
pembimbingan dari supervisor, seorang guru diharapkan dapat: (1) membuat
perencanaan mengajar, (2)melaksanakan pembelajaran, (3) menilai proses dan
hasil belajar siswa, (4) mempunyai sikap dan sifat yang baik; ini ditandai dengan:
adil, percaya dan suka kepada siswa, sabar dan rela berkorban, memiliki wibawa
terhadap siswa, penggembira, bersikap baik terhadap guru-guru lainnya, bersikap
baik dengan masyarakat, benar-benar menguasai mata pelajaran, suka kepada
mata pelajaran yang diberikannya,dan berpengetahuan luas ( Purwanto, 2003) (5)
mempunyai peran yang baik,yang bisa dilihat dari penceramah, nara sumber,
fasilitator, konselor, pemimpin kelompok, tutor, manajer, kepala laboratorium,
perancang program, dan manipulator yang dapat mengubah situasi belajar Oliva
(dalam Sahertian, 1994). Agar supervisi yang dilakukan supervisor mencapai hasil
yang baik, hendaknya supervisor:(1) bersikap bersahabat, (2) mendengarkan
pembicaraan dan hati-hati, (3) berusaha meningkatkan partisipasi, (4) ikut
menyumbang teknik menganalisis permasalahan dan mencari sebab-sebabnya, (5)
memberi saran-saran, (6) mencatat rencana dan saran-saran, (7) berusaha agar
sebab-sebab permasalahan diketemukan secara jelas, (8) buat ringkasan tentang
ide-ide, kesimpulan, dan keputusan, (9) buat penilaian tentang pertemuan itu.
Marks (dalam Pidarta,1992).Sesuai dengan pembahasan masalah supervisi dalam
tulisan ini ,maka aspek-aspek yang perlu disupervisi meliputi (1)kurikulum;dalam
kaitannya dengan kurikulum, maka hal-hal yang perlu disupervisi adalah : (a)
pemahaman guru terhadap kurikulum, (b) penjabaran guru terhadap teknik
penilaian, (c) penjabaran dan penyesuaian kurikulum,(2)kegiatan belajar mengajar
yang meliputi : (a) rencana pekan efektif, (b) penyusunan program tahunan oleh
guru, (c) penyusunan program catur wulan oleh guru, (d) membuat satuan
pelajaran, (e) membuat rencana pengajaran, (f) membuat analisis materi pelajaran,
(g) analisis ulangan harian,(h) pelaksanaan program perbaikan dan pengayaan, (i)
program kokurikuler, (j) program bimbingan dan konseling, (k) jurnal kegiatan
belajar mengajar.Supervisor pada lembaga pendidikan sekolah dasar dalam
mengarahkan dan membimbing guru agar mencapai hasil yang baik, supervisor
harus membuat angket penilaian sebagai alat bantu pada saat supervisor
mengadakan supervisi. Angket-angket yang harus dibuat antara lain: (1) lembar
monitoring penerimaan dan orientasi siswa baru, (2) pengendali jadwal pelajaran,
(3)pemantauan pelaksanaan ulangan umum,(4) pemantauan ujian akhir, (5)
lembar supervisi administrasi sekolah , (6) lembar supervisi administrasi kelas ;
(7) lembar observasi kelas.
7. Jelaskan pengertian supervisi managerial pendidikan !
Dalam Panduan Pelaksanaan Tugas Pengawas Sekolah/Madrasah (Direktorat
Tenaga Kependidikan, 2009: 20) dinyatakan bahwa Supervisi Manajerial adalah
supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan Sekolah yang terkait
langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas Sekolah yang mencakup
perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, penilaian, pengembangan ompetensi
sumberdaya manusia (SDM) kependidikan dan sumberdaya lainnya. Dalam
melaksanakan fungsi supervisi manajerial, pengawas Sekolah/madrasah
berperan sebagai: (1) kolaborator dan negosiator dalam proses perencanaan,
koordinasi, pengembangan manajemen Sekolah, (2) asesor dalam
mengidentifikasi kelemahan dan menganalisis potensi Sekolah, (3) pusat
informasi pengembangan mutu Sekolah, dan (4) evaluator terhadap
pemaknaan hasil pengawasan. Supervisi manajerial adalah pemantauan dan
pembinaan terhadap pengelolaan dan administrasi sekolah. Dengan demikian
fokus supervisi ini ditujukan pada pelaksanaan bidang garapan manajemen
sekolah, yang antara lain meliputi: (a) manajemen kurikulum dan pembelajaran,
(b) kesiswaan, (c) sarana dan prasarana, (d) ketenagaan, (e) keuangan, (f)
hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (g) layanan khusus.
Dalam melakukan supervisi terhadap hal-hal di atas, pengawas sekaligus juga
dituntut melakukan pematauan terhadap pelaksanaan standar nasional pendidikan
yang meliputi delapan komponen, yaitu: (a) standar isi, (b) standar kompetensi
lulusan, (c) standar proses, (d) tandar pendidik dan tenaga kependidikan, (e)
standar sarana dan prasarana, (f) standar pengelolaan, (g) standar pembiayaan, dan
(h) standar penilaian. Tujuan supervisi terhadap kedelapan aspek tersebut adalah
agar sekolah terakreditasi dengan baik dan dapat memenuhi standar nasional
pendidikan. Salah satu fokus penting lainnya dalam dalam supervisi manajerial
oleh pengawas terhadap sekolah, adalah berkaitan pengelolaan atau manajemen
sekolah. Sebagaimana diketahui dalam dasa warsa terakhir telah dikembangkan
wacana manajemen berbasis sekolah (MBS), sebagai bentuk paradigma baru
pengelolaan dari sentralisasi ke desentralisasi yang memberikan otonomi kepada
pihak sekolah dan meningkatkan partisipasi masyarakat
(Sudarwan Danim, 2006:4) Pengawas dituntut dapat menjelaskan sekaligus
mengintroduksi model inovasi manajemen ini sesuai dengan konteks sosial
budaya serta kondisi internal masing-masing sekolah.

8. Terdiri dari apa saja bidang pengelolaan pendidikan,


(managementnya) ?
Manajemen pendidikan adalah proses keseluruhan kegiatan bersama dalam
bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan,
pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan pembiayaan, dengan menggunakan
atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personil, materiil, maupun
spirituil untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
1. Manajemen kesiswaan
Ada tiga masalah utama yang perlu mendapat perhatian dalam bidang kesiswaan
yaitu:

a. Masalah penerimaan siswa baru


b. Masalah kemajuan belajar dan evaluasi belajar
c. Masalah bimbingan
2. Manajemen kurikulum
Kurikulum adalah segala pengalaman pendidikan yang diberikan oleh sekolah
kepada seluruh anaknya,baik dilakukan didalam sekolah maupun di luar sekolah.
Pimpinan sekolah harus sadar bahwa kurikulum yang ada perlu dipahami benar-
benar oleh guru-guru, sehingga mereka dapat menjabarkannya secara lebih luas
dan dapat mengembangkan secara kreatif. Kurikulum ini kemudian perlu
dijabarkan dalam kegiatan pengajaran di sekolah seperti perencanaan kegiatan
pengajaran/pembuatan kalender pendidikan, penjadwalan, program pengajaran
catur wulan/semester/tahunan hingga persiapan mengajar serta evaluasinya.

3. Managemen tatalaksana sekolah

Beberapa kegiatan dari tatalaksana sekolah (ketatausahaan sekolah) yang


terpenting adalah:
a. Surat dinas sekolah dan buku agenda
b. Buku ekspedisi
Guna buku ekspedisi ialah untuk pembuktian bahwa suatu surat yang dikirimkan
sudah sampai kepada alamatnya atau orang (petugas) yang diserahi tanggung
jawab.

4. Manajemen organisasi sekolah


Organisasi yaitu aktivitas dalam membagi-bagi kerja,menggolong-golongkan
jenis pekerjaan,memberi wewengan,menetapkan saluran perintah dan tanggung
jawab kepada para pelaksana.

5. Manajemen keuangan
Masalah keuangan adalah masalah yang peka. Oleh karena itu dalam
mengelola bidang ini pimpinan sekolah harus berhati-hati, jujur dan terbuka agar
tidak timbul kecurigaan baik dari staf maupun dari masyarakat atau orang tua
siswa.

6. Manajemen perlengkapan
Gedung sekolah dapat memberi gambaran yang jelas bagi masyarakat tentang
baik buruknya pelayanan pendidikan yang ada didalamnya. Gedung sekolah yang
terawat dengan baik akan memberi gambaran pada masyarakat tentang pelayanan
pendidikan yang tertib dan teratur. Sebaliknya gedung sekolah yang tidak
terawat, rusak, halaman penuh rumput yang tidak teratur akan memberi kesan
bahwa mutu pendidikan yang ada di dalamnya tidak baik.

7. Manajemen hubungan masyarakat


Hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain untuk:

a. Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak.


b. Memperkokoh tujuan serta meningkatkan kualitas hidup dan
penghidupan masyarakat.
c. Menggairahkan untuk menjalin hubungan dengan sekolah.
9. Sebutkan kemudian uraikan beberapa (min 3) pendekatan dalam
supervisi pendidikan !
Pendekatan berasal dari kata approach adalah cara mendekatkan diri kepada
objek atau langkah-langkah menuju objek. Sudjana (2004) membagi pendekatan
supervisi menjadi dua, yaitu: pendekatan langsung (direct contact) dan pendekatan
tidak langsung (indirect contact). Pendekatan pertama dapat disebut dengan
pendekatan tatap muka dan kedua , pendekatan menggunakan perantara, seperti
melalui surat menyurat, media massa, media elekronik, radio, kaset, internet dan
yang sejenis. Sementara dikenal juga pendekatan kolaboratif, yaitu pendekatan
yang menggabungkan kedua pendekatan itu. (Aqib, Zainal dan Rohmanto, Elham
: 2007).Pendekatan yang digunakan dalam menerapkan supervisi modern
didasarkan pada prinsip-prinsip psikologis. Suatu pendekatan atau teknik
pemberian supervisi, sebenarnya juga sangat bergantung kepada prototipe orang
yang disupervisi.
Sahertian(2000) mengemukakan beberapa pendekatan, perilaku supervisor
berikut :
a). Pendekatan langsung (direktif)
Pendekatan direktif adalah cara pendekatan terhadap masalah yang bersifat
langsung. Supervisor memberikan arahan langsung, sudah tentu pengaruh perilaku
supervisor lebih dominan. Pendekatan direktif ini berdasarkan pada pemahaman
terhadap psikologis behaviouristis. Prinsip behaviourisme ialah bahwa segala
perbuatan yang berasal dari refleks, yaitu respons terhadap rangsangan/ stimulus.
Oleh karena dosen memiliki kekurangan, maka perlu diberikan rangsangan agar ia
bisa bereaksi lebih baik. Supervisor dapat menggunakan penguatan
(reinforcement)atau hukuman (punishment). Pendekatan seperti ini dapat
dilakukan dengan perilaku supervisor seperti berikut ini :
1) Menjelaskan,2) Menyajikan,3) Mengarahkan,4) Memberi contoh,5)
Menerapkan tolok ukur, dan 6) Menguatkan.

b). Pendekatan tidak langsung (Non-Direktif)


Pendekatan tidak langsung (non-direktif) adalah cara pendekatan terhadap
permasalahan yang sifatnya tidak langsung.Perilaku supervisor tidak secara
langsung menunjukkan permasalahan,tapi ia terlebih dulu mendengarkan secara
aktif apa yang dikemukakan oleh dosen. Ia memberi kesempatan sebanyak
mungkin kepada yang disupervisi untuk mengemukakan permasalahan yang
mereka alami. Pendekatan non-direktif ini berdasarkan pada pemahaman
psikologis humanistik.Psikologi humanistik sangat menghargai orang yang akan
dibantu. Oleh karena pribadi dosen yang dibina begitu dihormati, maka ia lebih
banyak mendengarkan permasalahan yang dihadapi oleh dosen. Yang disupervisi
mengemukakan masalahnya. Supervisor mencoba mendengarkan, dan memahami
apa yang dialami. Perilaku Ketiga supervisor dalam pendekatan non-direktif
adalah sebagai berikut :Mendengarkan, Memberi penguatan, Menjelaskan,
Menyajikan, dan Memecahkan masalah.

c). Pendekatan kolaboratif


Pendekatan kolaboratif adalah cara pendekatan yang memadukan cara
pendekatan direktif dan non-direktif menjadi suatu cara pendekatan baru. Pada
pendekatan ini, baik supervisor maupun yang disupervisi bersama-sama
bersepakat untuk menetapkan struktur proses dan kriteria dalam melaksanakan
proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi. Pendekatan ini didasarkan
pada psikologi kognitif. Psikologi kognitif beranggapan bahwa belajar adalah
perpaduan antara kegiatan individu dengan lingkungan yang pada gilirannya akan
berpengaruh dalam pembentukan aktivitas individu. Dengan demikian,
pendekatan dalam supervisi berhubungan pada dua arah yakni dari atas ke bawah
dan dari bawah ke atas. Perilaku supervisor dalam pendekatan ini adalah sebagai
berikut , yakni :1) Menyajikan, 2) Menjelaskan, 3) Mendengarkan, 4)
Memecahkan masalah, 5) Negosiasi. Pendekatan itu dilakukan dengan melalui
tahap-tahap kegiatan pemberian supervisi sebagai berikut , yakni : 1) Percakapan
awal (pre-conference), 2) Observasi, 3) Analisis/interpretasi, 4) Percakapan akhir
(past - conference), 5) Analisis akhir, 6) Diskusi.
10. Salah satu pendekatan adalah supervisi klinis dengan tiga tahap a)
tahap pendahuluan; b) tahap pengamatan mengajar (pelaksanaan
pembelajaran); c) tahap pertemuan balikan (refleksi), apa saja
kegiatan-kegiatan dari masing-masing tahap tersebut ?

Menurut Mosher dan Purpel (1972) ada tiga aktivitas dalam proses supervisui
klinik, yaitu (1) tahap perencanaan, (2) tahap observasi, dan (3) tahap evaluasi dan
analisis. Menurut Oliva (1984) ada tiga aktivitas esensial dalam proses supervisi
klinik, yaitu (1) kontak dan komunikasi dengan guru untuk merencanakan
observasi kelas (2) observasi kelas, dan (3) tindak lanjut observasi kelas.
Sedangkan menurut Goldhammer, Anderson, dan Krajewski (1981) ada lima
kegiatan dalam proses supervisi klinik, yang disebutnya dengan sequence of
supervision, yaitu (1) pertemuan sebelum observasi (2) observasi, (3) analisis dan
strategi, (4) pertemuan supervisi, dan (5) analisis sesudah pertemuan supervisi.
Demikianlah, walaupun berbeda deskripsi pada para teriotisi di atas tentang
langkah-langkah proses supervisi klinik, sebenarnya langkah-langkah ini bisa
dikembalikan pada tiga tahap esensial yang berbentuk siklus, yaitu (1) tahap
pertemuan awal, (2) tahap observasi mengajar, dan (3) tahap pertemuan balikan.
Dalam buku ajar sederhana ini penulis lebih cenderung membagi siklus supervisi
klinik menajdi tiga tahap juga sebagaimana tersebut di atas. Deskripsi demikian
juga dikemukakan oleh Acheson dan Gall (1987), Alexander Mackie College of
advanced Education (1981) dan Mantja (1984).
1. Tahap Pertemuan Awal
Tahap pertama dalam proses supervisi klinik adalah tahap pertemuan awal
(preconference). Pertemuan awal ini dilakukan sebelum melaksanakan observasi
kelas sehingga banyak juga para teoritisi supervisi klinik yang menyebutkan
dengan istilah tahap pertemuan sebelum observasi (preobservation Conference).
Menurut Sergiovanni (1987) tidak ada tahap yang lebih penting daripada tahap
pertemuan awal ini. Tujuan utama pertemuan awal ini adalah untuk
mengembangkan, bersama antara supervisor dan guru, kerangka kerja observasi
kelas yang akan dilakukan. Hasil akhir pertemuan awal ini adalah kesepakatan
(contract) kerja antara supervisor dan guru. Tujuan ini bisa dicapai apabila dalam
pertemuan awal ini tercipta kerja sama, hubungan kemanusian dan komunikasi
yang baik antara supervisor dengan guru. Selanjutnya kualitas hubungan yang
baik antara supervisor dan guru memiliki pengaruh signifikan terhadap
kesuksesan tahap berikutnya dalam proses supervisi klinik. Oleh sebab itu para
teoritisi banyak menyarankan agar pertemuan awal ini, dilaksanakan secara rileks
dan terbuka. Perlu sekali diciptakan kepercayaan guru terhadap supervisor, sebab
kepercayaan ini akan mempengaruhi efektivitas pelaksanaan pertemuan awal ini.
Kepercayaan ini berkenaan dengan kenyakinan guru bahwa supervisor
memperhatikan minat atau perhatian guru.
Pertemuan pendahuluan ini tidak membutuhkan waktu yang lama.
Dalam pertemuan awal ini supervisor bisa menggunakan waktu 20 sampai 30
menit, kecuali jika guru mempunyai permasalahan khusus yang membutuhkan
diskusi panjang. Pertemuan ini sebaiknya dilaksanakan di satu ruangan yang
netral, misalnya kafetaria, atau bisa juga di kelas. Pertemuan di ruang kepala
sekolah atau supervisor kemungkinannya akan membuat guru menjadi tidak
bebas. Secara teknis, ada delapan kegiatan yang harus dilaksanakan dalam
pertemuan awal ini, yaitu (1) menciptakan suasana yang akrab dan terbuka, (2)
mengidentifikasi aspek-aspek yang akan dikembangkan guru dalam pengajaran.
(3) menerjemahkan perhatian guru ke dalam tingkah laku yang bisa diamati, (4)
mengidentifikasi prosedur untuk memperbaiki pengajaran guru, (5) membantu
guru memperbaiki tujuannya sendiri (6) menetapkan waktu observasi kelas, (7)
menyeleksi instrumen observasi kelas, dan (8) memperjelas konteks pengajaran
dengan melihat data yang akan direkam. Goldhammer, Anderson, dan Krajewski
(1981) mendeskripsikan satu agenda yag harus dihasilkan pada akhir pertemuan
awal. Agenda tersebut adalah :
a. Menetapkan kontrak atau persetujuan antara supervisor dan guru tentang
apa saja yang akan diobservasi.
1) Tujuan instruksional umum dan khusus pengajaran
2) Hubungan tujuan pengajaran dengan keseluruhan program
pengajaran yang diimplementasikan.
3) Aktivitas yang akan diobservasi
4) Kemungkinan perubahan formal aktivitas, sistem, dan unsur-unsur
lain berdasarkan persetujuan interaktif antara supervisor dan guru.
5) Deskripsi spesifik butir-butir atau masalah-masalah yang balikannya
diinginkan guru.
b. Menetapkan mekanisme atau aturan-aturan observasi meliputi :
1) Waktu (jadwal) observasi
2) Lamanya observasi
3) Tempat observasi
c. Menetapkan rencana spesifik untuk melaksanakan observasi meliputi:
1) Dimana supervisor akan duduk selama observasi
2) Akankah supervisor menjelaskan kepada murid-murid mengenai
tujuan observasinya jika demikian, kapan sebelum ataukah setelah
pelajaran.
3) Akankah supervisor mencari satu tindakan khusus.
4) Akankah supervisor berinteraksi dengan murid-murid
5) Perlukah adanya material atau persiapan khusus
6) Bagaimanakah supervisor akan mengakhiri observasi

2. Tahap Observasi Pembelajaran


Tahap kedua dalam proses supervisi klinik adalah tahap observasi mengajar
secara sistematis dan obyektif. Perhatian observasi ini ditujukan pada guru dalam
bertindak dan kegiatan-kegiatan kelas sebagai hasil tindakan guru. Waktu dan
tempat observasi mengajar ini sesuai dengan kesepakatan bersama antara
supervisor dan guru pada waktu mengadakan pertemuan awal.
Observasi mengajar, mungkin akan terasa sangat kompleks dan sulit, dan tidak
jarang adanya supervisor yang mengalami kesulitan. Dengan demikian supervisor
dituntut untuk menggunakan bermacam-macam ketrampilan. Menurut Daresh
(1989) ada dua aspek yang harus diputuskan dan dilaksanakan oleh supervisor
sebelum dan sesudah melaksanakan observasi mengajar, yaitu menentukan aspek-
aspek yang akan diobservasi mengajar dan bagaimana cara
mengobservasinta.Aspek-aspek yang akan diobservasi harus sesuai dengan hasil
diskusi antara supervisor dan guru pada waktu pertemuan awal. Aliva (1984)
menegaskan sebagai berikut :
If we follow through with the cycle of clinical supervisor the teacher
and supervisor in the preobservation conference have decided on the
specific behaviors of teacher and students which the supervisor will
observe. The supervisor concentrates on the presence or absence of the
spesific behaviors (Oliva : 1984, halaman 502).
Sedangkan mengenai bagaimana mengobservasi juga perlu mendapatkan
perhatian. Maksud baik supervisi akan tidak berarti apabila usaha-usaha observasi
tidak bisa memperoleh data yang seharusnya diperoleh. Tujuan utama
pengumpulan data adalah untuk memperoleh informasi yang nantinya akan
digunakan untuk mengadakan tukar pikiran dengan guru setelah observasi
aktivitas yang telah dilakukan di kelas. Di sinilah letak pentingnya teknik dan
instrumen oberservasi yang bisa digunakan untuk mengobservasi guru mengelola
proses belajar mengajar. Sehubungan dengan teknik dan instrumen ini,
sebenarnya pada peneliti telah banyak yang mengembangkan bermacam-macam
teknik yang bisa digunakan dalam mengobservasi pengajaran. Acheson dan Gall
(1987) mereview beberapa teknik dan mengajurkan kita untuk menggunakannya
dalam proses supervisi klinis beberapa teknik tersebut adalah sebagai berikut:
a. Selective verbatim. Di sini supervisor membuat semacam rekaman tertulis,
yang bisa dibuat dengan a verbatim transcript. Sudah barang tentu tidak semua
kejadian verbal harus direkam dan sesuai dengan kesepakatan bersama antara
supervisor dan guru pada pertemuan awal, hanya kejadian-kejadian tertentu yang
harus direkam secara selektif. Transkrip ini bisa ditulis langsung berdasarkan
pengamatan dan bisa juga menyalin dari apa yang direkam terlebih dahulu melalui
tape recorder.
b. Rekaman observasional berupa a seating chart. Di sini, supervisor
mendokumentasikan perilaku-perilaku murid-murid sebagaimana mereka
berinteraksi dengan seorang guru selama pengajaran berlangsung. Seluruh
kompleksitas perilaku dan interaksi di deskripsikan secara bergambar. Melalui
penggunaan a seating chart ini, supervisor bisa mendokumentasikan secara grafis
interaksi guru dengan murid-murid dengan murid. Sehingga dengan mudah
diketahui apakah guru hanya berinteraksi dengan semua murid atau hanya dengan
sebagian murid, apakah semua murid atau hanya sebagian murid yang terlibat
proses belajar mengajar.
c. Wide-lens techniques. Di sini supervisor membuat catatan yang lengkap
mengenai kejadian-kejadian di kelas dan cerita yang panjang lebar. Teknik ini
bisa juga disebut dengan anecdotal record.
d. Checkliss and timeline coding. Di sini supervisor mengobservasi dan
mengumpulkan data perilaku belajar mengajar.Perilaku pembelajaran ini
sebelumnya telah diklasifikasi atau dikategorikan. Contoh yang paling baik
prosedur ini dalam observasi supervisi klinik adalah skala analisis interaksi
Flanders (Flanders; 1970). Dalam analisis ini, aktivitas kelas diklasifikasikan
menjadi tiga kategori besar, yaitu pembicaraan guru, pembicaraan murid dan tidak
ada pembicaraan (silence).
3. Tahap Pertemuan Balikan
Tahap ketiga dalam proses supervisi klinik adalah tahap pertemuan balikan.
Pertemuan balikan dilakukan segera setelah melaksanakan observasi pengajaran,
dengan terlebih dahulu dilakukan analisis terhadap hasil observasi. Tujuan utama
pertemuan balikan ini adalah ditindaklanjuti apa saja yang dilihat oleh supervisor,
sebagai onserver, terhadap proses belajar mengajar. Pembicaraan dalam
pertemuan balikan ini adalah ditekankan pada identifikasi dan analisis persamaan
dan perbedaan antara perilaku guru dan murid yang direncanakan dan perilaku
aktual guru dan murid, serta membuat keputusan tentang apa dan bagaimana yang
seharusnya akan dilakukan sehubungan dengan perbedaan yang ada. Pertemuan
balikan ini merupakan tahap yang penting untuk mengembangkan perilaku guru
dengan cara memberikan balikan tertentu. Balikan ini harus deskriptif, spesifik,
konkrit, bersifat memotivasi, aktual, dan akurat sehingga betul-betul bermanfaat
bagi guru (Sergiovanni, 1987). Paling tidak ada lima manfaat pertemuan balikan
bagi guru,sebagaimana dikemukakan oleh Goldhammer, Anderson, dan Krajewski
(1981), yaitu , (1) guru bisa diberik penguatan dan kepuasan, sehingga bisa
termotivasi dalam kerjanya, (2) isu-isu dalam pengajaran bisa didefinisikan
bersama supervisor dan guru dengan tepat, (3) supervisor bila mungkin dan perlu,
bisa berupaya mengintervensi secara langsung guru untuk memberikan bantuan
didaktis dan bimbingan, (4) guru bisa dilatih dengan teknik ini untuk melakukan
supervisi terhadap dirinya sendiri, dan (5) guru busa diberi pengetahuan tambahan
untuk meningkatkan tingkat analisis profesional diri pada masa yang akan datang.
Tentunya sebelum mengadakan pertemuan balikan ini supervisor terlebih dahulu
menganalisa hasil observasi dan merencanakan bahan yang akan dibicarakan
dengan guru. Begitu pula diharapkan guru menilai dirinya sendiri. Setelah itu
dilakukan pertemuan balikan ini. Dalam pertemuan balikan ini sangat diperlukan
adanya keterbukaan antara supervisor dan guru. Sebaiknya, pertama-tama
supervisor menanamkan kepercayaan pada diri guru bahwa pertemuan balikan ini
bukan untuk menyalahkan guru melainkan untuk memberikan masukan balikan.
Oleh sebab banyak para teoritisi yang menganjurkan agar pertama-tama yang
harus dilakukan oleh supervisor dalam setiap pertemuan balikan adalah
memberikan penguatan (reinforcement) terhadap guru. Baru setelah melanjutkan
dengan analisis bersama setiap aspek pengajaran yang menjadi perhatian supervisi
klinis. Berikut ini beberapa langkah penting yang harus dilakukan selama
pertemuan balikan :
a. Menanyakan perasaan guru secara umum atau kesannya terhadap pengajaran
yang dilakukan, kemudian supervisor berusaha memberikan penguatan
(reinforcement).
b. Menganalisa pencapaian tujuan pengajaran. Di sini supervisor bersama guru
mengidentifikasi perbedaan antara tujuan pengajaran yang direncanakan dan
tujuan pengajaran yang dicapai.
c. Menganalisa target keterampilan dan perhatian utama guru. Di sini (supervisor
bersama guru mengidentifikasi target ketrampilan dan perhatian utama yang telah
dicapai dan yang belum dicapai. Bisa jadi pada saat ini supervisor menunjukkan
hasil rekaman observasi, sehingga guru mengetahui apa yang telah dilakukan dan
dicapai, dan yang belum sesuai dengan target keterampilan dan perhatian utama
guru sebagaimana disepakati pada tahap pertemuan awal. Apabila dalam kegiatan
observasi supervisor merekam proses belajar mengajar dengan alat elektronik,
misalnya dengan menggunakan alat syuting, maka sebaiknya hasil rekaman ini
dipertontonkan kepada guru sehingga ia dengan bebas melihat dan
menafsirkannya sendiri.
d. Supervisor menanyakan perasaannya setelah enganalisis target keterampilan
dan perhatian utamanya.
e. Menyimpulkan hasil dari apa yang telah diperolehnya selama proses supervisi
klinik. Disini supervisi memberikan kesempatan kepada guru untuk
menyimpulkan target keterampilan dan perhatian utamanya yang telah dicapai
selama proses supervisi klinis.
f. Mendorong guru untuk merencanakan latihan-latihan berikut sekaligus
menetapkan rencana berikutnya.