Anda di halaman 1dari 9

1

BAB IPENDAHULUAN
Sejak jaman dahulu kala nenek moyang kita telah mengenal beraneka ragam makhluk hidup.
Beragamnya makhluk hidup memberikan kemungkinan bagi manusia untuk memilihsesuai
dengan yang dikehendakinya. Para pendahulu kita telah memahami bahwa sifat-sifatorganism
itu diturunkan kepada keturunannya. Adanya keragaman telah memberikan andil baginenek
moyang kita untuk memilih jenis makhluk hidup yang sesuai dengan keinginannya.
Jenisdengan sifat ini yang diinginkan tersebut kemudian dikembangbiakkan atau
dibudidayakan.Perkembangan ilmu pengetahuan terutama ilmu pengetahuan tentang
pewarisan sifat(Ilmu Genetika) yang dipelopori oleh Gregor Mendel telah mendorong
manusia untuk membuatkombinasi baru dalam sifat-sifat yang diinginkan. Upaya untuk
mendapatkan kombinasi berudari sifat yang diinginkan dilakukan dengan membuat
persilangan-persilangan (breeding) antar berbagai tanaman maupun hewan. Persilangan
tersebut menghasilkan organisme hybrid. Jadipersilangan merupakan salah satu cara untuk
merubah genom suatu organisme.Dengan telah ditemukannya DNA sebagai bahan gen,
manusia pun berupaya untuk mendapatkan kombinasi sifat-sifat baru suatu makhluk hidup
dengan cara melakukan perubahanlangsung pada DNA genomnya. Usaha untuk mengubah
DNA genom secara langsung ini disebutdengan istilah Rekayasa Genetika. Dalam upaya
melakukan rekayasa genetika, manusiamenggunakan teknologi DNA Rekombinan. Dalam
teknologi DNA rekombinan sangatberhubungan erat dengan mutasi karena tujuan sebenarnya
teknologi ini adalah memutasikansuatu organisme agar mendapat perubahan sifat baru yang
diinginkan

BAB IIPEMBAHASAN
Teknologi DNA Rekombinan
Secara klasik analisis molekuler protein dan materi lainnya dari kebanyakan
organismeternyata sangat tidak mudah untuk dilakukan karena adanya kesulitan untuk
memurnikannyadalam jumlah besar. Namun, sejak tahun 1970-an berkembang suatu
teknologi yang dapatditerapkan sebagai pendekatan dalam mengatasi masalah tersebut
melalui isolasi dan manipulasiterhadap gen yang bertanggung jawab atas ekspresi protein
tertentu atau pembentukan suatuproduk.Teknologi yang dikenal sebagai
teknologi DNA rekombinan
,

atau

dengan istilah yanglebih populer


rekayasa genetika
, ini melibatkan upaya perbanyakan gen tertentu di dalam suatusel yang bukan sel alaminya
sehingga sering pula dikatakan sebagai
kloning gen
. Banyak definisi telah diberikan untuk mendeskripsikan pengertian teknologi DNA
rekombinan. Salahsatu di antaranya, yang mungkin paling representatif, menyebutkan bahwa
teknologi DNArekombinan adalah pembentukan kombinasi materi genetik yang baru dengan
cara penyisipanmolekul DNA ke dalam suatu vektor sehingga memungkinkannya untuk
terintegrasi danmengalami perbanyakan di dalam suatu sel organisme lain yang berperan
sebagai sel inang.Teknologi DNA rekombinan mempunyai dua segi manfaat. Pertama,
dengan mengisolasidan mempelajari masing-masing gen akan diperoleh pengetahuan tentang
fungsi dan mekanismekontrolnya. Kedua, teknologi ini memungkinkan diperolehnya produk
gen tertentu dalam waktulebih cepat dan jumlah lebih besar daripada produksi secara
konvensional.Pada dasarnya upaya untuk mendapatkan suatu produk yang diinginkan melalui
teknologiDNA rekombinan melibatkan beberapa tahapan tertentu (Gambar 9.1). Tahapan-
tahapan tersebutadalah isolasi DNA genomik/kromosom yang akan diklon, pemotongan
molekul DNA menjadisejumlah fragmen dengan berbagai ukuran, isolasi DNA vektor,
penyisipan fragmen DNA kedalam vektor untuk menghasilkan molekul DNA rekombinan,
transformasi sel inangmenggunakan molekul DNA rekombinan, reisolasi molekul DNA
rekombinan dari sel inang, dananalisis DNA rekombinan
A.

Isolasi DNA
Saat ini kita dapat menemukan berbagai macam metode ektraksi DNA. Para penelitiselalu
berusaha menyederhanakan tahapan yang digunakan atau mengurangi jumlah
perlakukan.Tahapan atau perlakuan yang terlalu panjang dan terlalu kompleks sering
meningkatkan resikokegagalan, terutama bagi pemula. Tahapan atau perlakuan dalam
ekstraksi DNA jugadipengaruhi asal sel atau jaringan target.DNA biasanya diisolasi dari sel
dengan menggunakan metode yang melisiskan sel tetapimencegah fragmentasi DNA.
Langkah ini biasanya melibatkan EDTA(
ethylenediaminetetraacetic acid
) yang dalam proses tersebut akan mengikat ion magnesium(kofaktor yang dibutuhkan oleh
enzim DNase). Idealnya dinding sel (jika ada) didigesti secaraenzimatis (misalnya dengan
enzim lisosim). Selanjutnya membran sel sebaiknya disolubilisasidengan detergen. Jika
disrupsi fisik dibutuhkan sebaiknya dilakukan seminim mungkin. Dalamproses disrupsi ini
enzim nuklease yang terlepas dari komponen selular dapat mencerna asamnukleat secara
efisien, sehingga kerja enzim nuklease harus dihambat. Disrupsi sel dan sebagianbesar
langkah selanjutnya sebaiknya dilakukan pada suhu 4
0
C, menggunakan alat yang terbuatdari gelas dan larutan yang telah di-autoclave (fungsi
autoclave adalah untuk menghancurkanaktivitas DNase pada alat atau larutan
tersebut).Setelah melepaskan asam nukleat dari sel, RNA dapat dihilangkan dengan
penambahanRNase yang telah diterapi panas untuk menginaktivasi DNase kontaminan
(RNase relatif stabilterhadap panas karena adanya ikatan disulfida yang akan menyebabkan
proses renaturasi ketikadidinginkan). Kontaminan mayor lainnya, yaitu protein, dihilangkan
dengan dengan larutan fenolatau campuran fenol-khloroform (keduanya akan mendenaturasi
protein tetapi tidak mendenaturasi asam nukleat). Setelah campuran tersebut dibuat menjadi
emulsi, dilakukanpemusingan. Setelah pemusingan akan terbentuk bagian organik di bagian
bawah dan bagianaqueous di bagian atas dipisahkan lapisan yang terdiri dari protein yang
terdenaturasi. Cairanaqueous diambil dan dideproteinisasi beberapa kali sampai tidak ada lagi
material yang terlihatpada lapisan tengah. Kemudian DNA yang sudah tidak mengandung
protein ini dicampur dengandua bagian etanol. DNA akan menjadi presipitat, terpisah dari
larutan sampel tersebut. Setelahdipusingkan, pelet DNA kemudian dilarutkan kembali.

4
Secara umum mekanisme isolasi total DNA seluler secara konvensional adalah
sebagaiberikut:1)

Homogenisasi sel/jaringan (dalam suhu 4


0
C, semua bahan dan peralatan steril)
2
)

Lisis seluler (dengan detergen atau lisosim)


3
)

Penambahan
chelating agents
: EDTA/sitrat4)

Penambahan proteinase (proteinase K)5)

Ekstraksi fenol (atau fenol-khloroform)6)

Presipitasi alkohol (70% atau 100% etanol)7)

Pelarutan kembali DNA, misalnya dengan bufer TE (Tris-EDTA)Beberapa senyawa


mempunyai fungsi multipel dalam protokol ekstraksi asam nukleat.Agen
chaotropic
seperti GuSCN (
guanidine isothiocyanate
), NaI (
sodium iodide
), dan LiCl(
lithium chloride
) memiliki kemampuan untuk menghancurkan kapsul lemak dan merusak integritas sel,
denaturasi protein dan menginaktivasi nuklease. GuSCN dengan molaritas di atas 4M dapat
mempresipitasi DNA dan RNA berberat molekular tinggi.Dalam lingkungan yang tinggi
garam
chaotropic
ini senyawa silika dapat berikatan secaraspesifik dengan molekul DNA dan RNA, sedangkan
lemak dan protein kontaminan hanyamempunyai afinitas yang moderat terhadap silika
sehingga dapat dicuci bersih darinya. Absorbsiasam nukleat pada matriks silika meningkat
pada pH asam dan konsentrasi garam yang tinggi,sehingga larutan bufer yang mengandung
pH yang tinggi dan konsentrasi garam yang rendahdapat digunakan untuk mencuci-lepaskan
asam nukleat dari matriks silika.Cara lain pemanfaatan silika dalam proses ekstraksi asam
nukleat adalah denganmelakukan perubahan kimia pada matriks silika sehingga akan secara
spesifik berikatan denganprotein atau polisakarida (prosesnya berkebalikan dengan
penjelasan sebelumnya). Ekstraksiasam nukleat berbasis silika ini telah menjadi dasar metode
ekstraksi asam nukleat kit komersial.Matriks silika dalam kit komersial tersebut dapat
ditemukan dalam berbagai bentuk, seperti filter (
spin column
), gel (
glassmilk
,
silica gel
), suspensi (
celite
,
plain-coarse silicate
), bahkan partikelberselubung magnetik (
Dynabeads
). Filtrasi, sentrifugasi, atau penggunaan magnetmemungkinkan pemisahan asam nukleat
yang berikatan dengan silika dari kontaminasi lemak,karbohidrat dan protein melalui langkah
pembilasan yang multipel. Metode ini juga mendasaripembuatan alat ekstraksi asam nukleat
Metode alternatif yang berbasis matriks silika antara lain teknik hibridisasi fragmen
asamnukleat yang menggunakan
probe
yang didesain spesifik yang melekat pada matriks solid atau
bead
magnetik. Kelemahan umum dari teknik penangkapan seperti ini adalah selama
prosespelekatan dan cuci-lepas, dapat terjadi fragmentasi dan hilangnya DNA target.DNA
juga dapat diisolasi dari organela spesifik atau partikel virus. Untuk ekstraksi DNAsemacam
ini sebaiknya dilakukan isolasi organela target atau virus tersebut terlebih dahulusebelum
dilakukan ekstraksi DNA-nya karena isolasi DNA target dari campuran DNA (DNAtotal)
relatif sulit. Jika dibutuhkan isolat DNA dengan kemurnian yang tinggi, DNA
dapatdimurnikan dengan
density gradient centrifugation
menggunakan CsCl (
Caesium chloride
).Untuk memeriksa integritas DNA dapat dilakukan dengan elektroforesis pada gel
agarose.Secara kasar gambaran yang diperoleh dari elektroforesis pada gel agarose tersebut
juga dapatdigunakan untuk menaksir konsentrasi isolat DNA kita. Cara yang lebih akurat
untuk mengetahui konsentrasi dan kemurnian DNA yang diperoleh adalah dengan
menggunakanspektrofotometer UV. DNA untai tunggal mempunyai koefisien absorbsi 0,0
2
7, DNA untaiganda 0,0
2
dan RNA 0,0
2
5 g per-ml per-cm pada panjang gelombang
2
60 nm. Rasio absorbsi
2
60/
28
0 nm dapat digunakan untuk mengetahui adanya kontaminasi protein atau fenol
(proteinmemiliki absorbsi maksimum pada
28
0 nm).Sampel DNA yang murni memiliki rasio
2
60/
28
0 nm sebesar 1,
8
-1,9, sedangkan sampelRNA yang murni 1,9-
2
,0. Jika rasio tersebut di bawah 1,
8
berarti ada ketidakmurnian yangsignifikan yang masih tertinggal di dalam sampel. Saat ini
sudah banyak dijual alatspektrofotometer otomatik yang secara otomatis mengkalkulasi rasio
2
60/
28
0 nm dan kuantitasasam nukleat. Yang perlu diingat dalam penggunaan spektrofotometer
adalah jangan lupa untuk selalu melakukan kalibrasi dengan larutan blank sebelum
memeriksa konsentrasi asam nukleatsampel. Yang digunakan sebagai blank adalah pelarut
yang digunakan untuk melarutkan asamnukleat yang diperiksa.
B.

Enzim Restriksi
`
Enzim restriksi atau disebut juga enzim endonuklease restriksi merupakan bagian darisistem
kekebalan bakteri untuk melindungi bakteri dari infeksi DNA asing. Enzim
endonukleaserestriksi biasanya diberi nama berdasarkan nama bakteri asal enzim tersebut
diisolasi. Saat initelah dikenal lebih dari
2
00 enzim restriksi dengan sekuens tempat pembelahan yang spesifik.

6
Perkembangan teknik pemotongan DNA berawal dari saat ditemukannya sistem restriksi
danmodifikasi DNA pada bakteri
E.
coli,
yang berkaitan dengan infeksi virus atau bakteriofaglambda (l). Virus l digunakan untuk
menginfeksi dua strain
E.
coli
, yakni strain K dan C.Jika l yang telah menginfeksi strain C diisolasi dari strain tersebut dan
kemudiandigunakan untuk mereinfeksi strain C, maka akan diperoleh l progeni (keturunan)
yang lebihkurang sama banyaknya dengan jumlah yang diperoleh dari infeksi pertama.
Dalam hal ini,dikatakan bahwa
efficiency of plating
(EOP) dari strain C ke strain C adalah 1. Namun, jika lyang diisolasi dari strain C digunakan
untuk menginfeksi strain K, maka nilai EOP-nya hanya10
-4
. Artinya, hanya ditemukan l progeni sebanyak 1/10.000 kali jumlah yang
diinfeksikan.Sementara itu, l yang diisolasi dari strain K mempunyai nilai EOP sebesar 1,
baik ketikadireinfeksikan pada strain K maupun pada strain C. Hal ini terjadi karena adanya
sistemrestriksi/modifikasi (r/m) pada strain K.Pada waktu bakteriofag l yang diisolasi dari
strain C diinfeksikan ke strain K, molekulDNAnya dirusak oleh enzim endonuklease restriksi
yang terdapat di dalam strain K. Di sisi lain,untuk mencegah agar enzim ini tidak merusak
DNAnya sendiri, strain K juga mempunyai sistemmodifikasi yang akan menyebabkan
metilasi beberapa basa pada sejumlah urutan tertentu yangmerupakan tempat-tempat
pengenalan
(recognition sites)
bagi enzim restriksi tersebut.DNA bakteriofag l yang mampu bertahan dari perusakan oleh
enzim restriksi pada siklusinfeksi pertama akan mengalami modifikasi dan memperoleh
kekebalan terhadap enzimrestrisksi tersebut. Namun, kekebalan ini tidak diwariskan dan
harus dibuat pada setiap akhir putaran replikasi DNA. Dengan demikian, bakteriofag l yang
diinfeksikan dari strain K ke strainC dan dikembalikan lagi ke strain K akan menjadi rentan
terhadap enzim restriksi.Metilasi hanya terjadi pada salah satu di antara kedua untai molekul
DNA. Berlangsungnyametilasi ini demikian cepatnya pada tiap akhir replikasi hingga
molekul DNA baru hasil replikasitidak akan sempat terpotong oleh enzim restriksi. Enzim
restriksi dari strain K telah diisolasi danbanyak dipelajari. Selanjutnya, enzim ini dimasukkan
ke dalam suatu kelompok enzim yangdinamakan
enzim restriksi tipe I
. Banyak enzim serupa yang ditemukan kemudian padaberbagai spesies bakteri lainnya.
Pada tahun 1970 T.J. Kelly menemukan enzim pertama yang kemudian dimasukkan kedalam
kelompok enzim restriksi lainnya, yaitu
enzim restriksi tipe II
. Ia mengisolasi enzimtersebut dari bakteri
H
aemophilus influenzae
strain Rd, dan sejak saat itu ditemukan lebih dari

7
475 enzim restriksi tipe II dari berbagai spesies dan strain bakteri. Semuanya sekarang
telahmenjadi salah satu komponen utama dalam tata kerja rekayasa genetika.Enzim restriksi
tipe II antara lain mempunyai sifat-sifat umum yang penting sebagaiberikut:1)

Mengenali urutan tertentu sepanjang empat hingga tujuh pasang basa di dalam molekulDNA.
2
)

Memotong kedua untai molekul DNA di tempat tertentu pada atau di dekat
tempatpengenalannya.
3
)

Menghasilkan fragmen-fragmen DNA dengan berbagai ukuran dan urutan basa.Sebagian


besar enzim restriksi tipe II akan mengenali dan memotong urutan pengenal yangmempunyai
sumbu simetri rotasi. Pemberian nama kepada enzim restriksi mengikuti aturansebagai
berikut. Huruf pertama adalah huruf pertama nama genus bakteri sumber isolasi
enzim,sedangkan huruf kedua dan ketiga masing-masing adalah huruf pertama dan kedua
namapetunjuk spesies bakteri sumber tersebut. Huruf-huruf tambahan, jika ada, berasal dari
namastrain bakteri, dan angka romawi digunakan untuk membedakan enzim yang berbeda
tetapidiisolasi dari spesies yang sama.Tempat pemotongan pada kedua untai DNA sering kali
terpisah sejauh beberapa pasangbasa. Pemotongan DNA dengan tempat pemotongan
semacam ini akan menghasilkan fragmen-fragmen dengan ujung 5 yang runcing karena
masing-masing untai tunggalnya menjadi tidak sama panjang. Dua fragmen DNA dengan
ujung yang runcing akan mudah disambungkan satusama lain sehingga ujung runcing sering
pula disebut sebagai
uju
ng lengket
(sticky end)
atau
uju
ng kohesif
.Hal itu berbeda dengan enzim restriksi seperti Hae III, yang mempunyai tempatpemotongan
DNA pada posisi yang sama. Kedua fragmen hasil pemotongannya akanmempunyai ujung 5
yang tumpul karena masing-masing untai tunggalnya sama panjangnya.Fragmen-fragmen
DNA dengan
uju
ng t
u
mp
u
l
(blunt end)
akan sulit untuk disambungkan.Biasanya diperlukan perlakuan tambahan untuk menyatukan
dua fragmen DNA dengan ujungtumpul, misalnya pemberian molekul linker, molekul
adaptor, atau penambahan enzimdeoksinukleotidil transferase untuk menyintesis untai
tunggal homopolimerik
3

Contoh enzim-enzim restriksi:Enzim Organisme Urutan Pengenal Ujung Potongan


GGAMBAR
Pemotongan DNA genomik dan DNA vektor menggunakan enzim restriksi
harusmenghasilkan ujung-ujung potongan yang kompatibel. Artinya, fragmen-fragmen DNA
genomik nantinya harus dapat disambungkan (diligasi) dengan DNA vektor yang sudah
berbentuk linier.Ada tiga cara yang dapat digunakan untuk meligasi fragmen-fragmen DNA
secara
in vitro
.Pertama, ligasi menggunakan enzim DNA ligase dari bakteri. Kedua, ligasi menggunakan
DNAligase dari sel-sel
E.
coli
yang telah diinfeksi dengan bakteriofag T
4
atau lazim disebut sebagaienzim T
4
ligase. Jika cara yang pertama hanya dapat digunakan untuk meligasi ujung-ujunglengket,
cara yang kedua dapat digunakan baik pada ujung lengket maupun pada ujung
tumpul.Sementara itu, cara yang ketiga telah disinggung di atas, yaitu pemberian
enzimdeoksinukleotidil transferase untuk menyintesis untai tunggal homopolimerik
3
. Dengan untaitunggal semacam ini akan diperoleh ujung lengket buatan, yang selanjutnya
dapat diligasimenggunakan DNA ligase.Suhu optimum bagi aktivitas DNA ligase sebenarnya
3
7C. Akan tetapi, pada suhu iniikatan hidrogen yang secara alami terbentuk di antara ujung-
ujung lengket akan menjadi tidak stabil dan kerusakan akibat panas akan terjadi pada tempat
ikatan tersebut. Oleh karena itu,ligasi biasanya dilakukan pada suhu antara 4 dan 15C
dengan waktu inkubasi (reaksi) yangdiperpanjang (sering kali hingga semalam).Pada reaksi
ligasi antara fragmen-fragmen DNA genomik dan DNA vektor, khususnyaplasmid, dapat
terjadi peristiwa religasi atau ligasi sendiri sehingga plasmid yang telah
dilinierkan dengan enzim restriksi akan menjadi plasmid sirkuler kembali. Hal ini jelas
akanmenurunkan efisiensi ligasi. Untuk meningkatkan efisiensi ligasi dapat dilakukan
beberapa cara,antara lain penggunaan DNA dengan konsentrasi tinggi (lebih dari 100g/ml),
perlakuan denganenzim alkalin fosfatase untuk menghilangkan gugus fosfat dari ujung 5
pada molekul DNAyang telah terpotong, serta pemberian molekul linker, molekul adaptor,
atau penambahan enzimdeoksinukleotidil transferase untuk menyintesis untai tunggal
homopolimerik
3
seperti telahdisebutkan di atas.
D.

V
ektor
Vector adalah sebuah agen yang dapat membawa fragmen DNA ke dalam sel inang. Adadua
macam vector yaitu vector cloning yang digunakan untuk memproduksi fragmen DNA
danvector ekspresi yang digunakan untuk mengekspresikan gen tertentu dalam fragmen
DNA. Adabeberapa vector yang sering digunakan dalam teknik DNA rekombinan, antara lain
plasmid,phaga, cosmid, YAC, BAC, dan Ti-Plasmid.1.

PlasmidPlasmid merupakan DNA bakteri yang terpisah dari kromosom bakteri. Plasmid
dapatbereplikasi sendiri. Plasmid juga mengandung berbagai gen. Jenis, jumlah jenis, dan
jumlah tiapjenis (copy) plasmid bervariasi antar sel. Bahkan antar sel dalam satu spesies
bakteri. Ukuranplasmid berkisar antara beberapa kbp hingga mendekati 100kbp. Sebuah
vector plasmid jugaharus mengandung gen resistensi obat untuk amplifikasi selektif

Gambar 1. Teknik menyisipkan DNA target pada Plasmid

10
Plasmid dapat dimodifikasi untuk mampu membawa potongan DNA lain ke dalam selbila
memiliki:a.

Replikator (origin of replication)b.

Penanda (
M
arker
) yang mudah diseleksi (misalnya gen ketahanan terhadap antibiotik)c.

Situs untuk mengklon (potongan DNA yang memiliki urutan basa nukleotida yangmenjadi
sasaran enzim restriksi tetapi tidak terletak di dalam daerah replikator ataupenanda
2
.

PhagaPhaga merupakan virus yang dapat menginfeksi bakteri, tersusun atas molekul DNA
yangmembawa beberapa gen dan kapsid (molekul protein yang membungkus). Keuntungan
utamadari vector phaga adalah efisiensi transformasi yang tinggi, sekitar 1000 kali lebih
efisien daripada vector plasmid.Terdapat dua jenis siklus hidup phaga yaitu:a.

Siklus litik yaitu siklus yang diakhiri degan pelepasan fage baru dari bakteri yangmenjadi sel
inang karena terjadi lisis .b.

Siklus lisogenik yaitu siklus dimana DNA fage tersisip di dalam kromosom bakteri
yangberfungsi sebagai sel inang.

10
Plasmid dapat dimodifikasi untuk mampu membawa potongan DNA lain ke dalam selbila
memiliki:a.

Replikator (origin of replication)b.

Penanda (
M
arker
) yang mudah diseleksi (misalnya gen ketahanan terhadap antibiotik)c.

Situs untuk mengklon (potongan DNA yang memiliki urutan basa nukleotida yangmenjadi
sasaran enzim restriksi tetapi tidak terletak di dalam daerah replikator ataupenanda
2
.

PhagaPhaga merupakan virus yang dapat menginfeksi bakteri, tersusun atas molekul DNA
yangmembawa beberapa gen dan kapsid (molekul protein yang membungkus). Keuntungan
utamadari vector phaga adalah efisiensi transformasi yang tinggi, sekitar 1000 kali lebih
efisien daripada vector plasmid.Terdapat dua jenis siklus hidup phaga yaitu:a.

Siklus litik yaitu siklus yang diakhiri degan pelepasan fage baru dari bakteri yangmenjadi sel
inang karena terjadi lisis .b.

Siklus lisogenik yaitu siklus dimana DNA fage tersisip di dalam kromosom bakteri
yangberfungsi sebagai sel inang.
Gambar
2
. Teknik menyisipkan DNA target dan transduksi DNA dengan menggunakan phaga

11
3
.

CosmidCosmid merupakan vector kombinasi antara vector plasmid dan situs COS
yangmemungkinkan DNA target untuk dimasukkan ke dalam kepala situs COS. Teknik ini
memilikikeuntungan yaitu efisiensi transformasi yang tinggi dan cosmid dapat membawa 45
kbpdibandingkan plasmid dan phaga yang dibatasi hingga
2
5 kbp.