Anda di halaman 1dari 35

LAPORAN PRAKTIKUM SEISMIK REFRAKSI

METODE DELAY TIME HAGIWARA

Disusun Oleh :
JOKO PURWANTO
NIM : 111150052
KELOMPOK 3

LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017

1
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM SEISMIK REFRAKSI

METODE DELAY TIME HAGIWARA

Laporan ini disusun sebagai hasil pembelajaran praktikum geofisika


eksplorasi, tahun ajaran 2016/2017. Program Studi Teknik Geologi, Fakultas
Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.

Disusun Oleh :

Joko Purwanto
111.150.052

Yogyakarta, April 2017

Disahkan Oleh :

Asisten Seismik Refraksi

LABORATORIUM GEOFISIKA EKSPLORASI


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2017

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas berkat
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat meyelesaikan laporan praktikum
ini dalam bentuk maupun isinya yang sederhana. Tidak lupa Sholawat serta
salam kita tujukan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Laporan
praktikum Seismik Refraksi ini disusun berdasarkan hasil pembelajaran ,
pengolahan, serta interpretasi yang dibantu oleh banyak pihak. Sebagai
manusia biasa penulis menyadari bahwa laporan ini jauh dari sempurna. Oleh
karena itu, penulis dengan senang hati menerima kritik dan saran untuk perbaikan
maupun penyempurnaan laporan ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
semua pihak khususnya bagi penulis dan untuk pembaca pada umumnya.

Yogyakarta, 12 April 2017

Joko Purwanto

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i
HALAMAN PENGESAHAN ii
KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR GAMBAR v
DAFTAR TABEL vi

BAB I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .............................................................................. 8
1.2. Maksud dan Tujuan ....................................................................... 9
BAB II.DASAR TEORI
2.1. Seismik Refraksi ........................................................................... 10
2.2. Hukum Dasar................................................................................. 11
2.3. Asumsi-Asumsi Dasar ................................................................... 11
2.2. Metode Delay Time ....................................................................... 13
2.3. Metode Hagiwara........................................................................15
2.3.1 Teori Dasar Metode Hagiwara ........................................ 15
2.3.2 Asumsi-Asumsi Metode Hagiwara...............................15
2.3.3 Rumus Metode Hagiwara.................................................16

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN


3.1. Diagram Alir Pengolahan Data ..................................................... 18
3.2. Pembahasan Diagram Alir ............................................................ 19

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Tabel Pengolahan Data.................................................................. 20
4.1.1 Tabel Pengolahan Data Excel Metode Plus Minus ........ 20
4.1.2 Tabel Koordinat Peta Surfer..........................................21
4.1.3Tabel data penampang Surfer Metode Plus Minus ......... 25

4
4.2 Hasil Dan Pembahasan Pengolahan Data ...................................... 28
4.2.1 Pengolahan Excel Metode Plus Minus .......................... 28
4.2.1.1 Grafik T - X................................................... 28
4.2.1.2 Grafik Analisa Kecepatan ............................. 28
4.2.1.3 Profil Bawah Permukaan .............................. 29
4.3 Hasil Dan Pembahasan Peta dan Penampang
4.3.1 Peta Kecepatan V1......................................................... 30
4.3.2 Peta Kecepatan V2......................................................... 31
4.3.3 Peta Kedalaman Z .......................................................... 32
4.3.4 Penampang Kedalaman Surfer Kelompok 3 ................. 33
BAB V. PENUTUP
5.1. Kesimpulan.................................................................................... 34
5.2. Saran .............................................................................................. 35

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
A. TABEL KECEPATAN BATUAN MENURUT (KOHNEN,1974)
B. TABEL DATA SEMUA KELOMPOK
C. LEMBAR KONSUL

5
DAFTAR GAMBAR

Gambar 5 Proses perjalanan gelombang....................................... .............10

Gambar 2.1 Pemantulan dn pembiasan gelombang........................ .........13

Gambar 1. Ilustrasi metode Hagiwara........................................... ..........13

Gambar 2 Ilustrasi perjalanan gelombang metode Hagiwara...... ............14

Gambar 3 Ilustrasi dua lapisan metode plus minus.......................... ........15

Gambar 2 Analisa Minus Time..................................................................17

Gambar 3.1 Diagram alir metodologi pengolahan data............ ................18

Gambar 4.1 Grafik T-X metode Plus Minus.............................. ...............28

Gambar 4.2 Grafik analisa kecepatan...................................... .. ...... .......28

Gambar 4.3 Profil bawah permukaan.........................................................29

Gambar 4.4 Peta kecepatan V1.......................................................... .......30

Gambar 4.6 Peta kecepatan V2........................................................... .......31

Gambar 4.7 Peta kedalaman............................................................... .......32

Gambar4.8 Penampang kedalaman.................................................... .......33

6
DAFTAR TABEL

Tabel 4.1.1 Pengolahan data excel metode Plus Minus.................. ..........20

Tabel 4.1.2 Koordinat peta surfer.................................................. ............21

Tabel 4.1.3 Data penampang surfer metode Plus Minus............................25

7
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Geofisika merupakan cabang ilmu yang mempelajari mengenai bumi
khususnya bawah permukaan bumi menggunakan metode-metode fisika dengan
memanfaatkan sifat sifat fisik. Beberapa metode fisika yang sering digunakan
antara lain : seismik, gravity, magnetik, dan geolistrik.
Metode seismik yaitu metode yang memanfaatkan respon gelombang
seismik (suara) yang dirambatkan dalam media bumi. Metode seismik dibagi
menjadi 2 yaitu : metode seismik refraksi dan metode seismik refleksi
Metode seismik refraksi merupakan salah satu metode seismik geofisika
yang memanfaatkan sifat pembiasan gelombang, yang digunakan untuk
mengetahui keadaan bawah permukaan tanpa harus melakukan pengeboran.
Penggunaan metode seismik refraksi seperti mengetahui kekuatan batuan,
mengetahui litologi terbatas, mengetahui kedalaman dan ketebalan lapisan batuan
Serta mengetahui kemiringan atau bidang gelincir
Dengan menggunakan seismik refraksi maka dapat dengan mudah dan murah
melakukan investigasi, eksplorasi dan mitigasi contohnya untuk mengetahui
lapisan berundulasi.
Salah satu metode seismik refraksi yang bisa digunakan dalam mencari
bidang gelincir adalah metode Hagiwara. Metode Hagiwara merupakan hasil
pengembangan dari metode Delay Time. Metode ini didasari oleh beberapa
asumsi antara lain kita menganggap bahwa strukturdi bawah permukaaan
memiliki undulasi yang tidak terlalu besar. Selain itu untuk sudut kemiringannya
kita anggap hampir mendekati nol. Selain digunakan untuk mengetahui sruktur
dari bidang perlapisan metode ini juga dapat mengetahui nilai kedalam lapisan
pada titik yang berada dibawah source maupun geophone.

8
1.2 Maksud Dan Tujuan

Maksud Melakukan pengolahan data seismik refraksi dengan Metode Hagiwara


yaitu untuk memahamkan tentang prinsip kerja metode seismik Hagiwara , cara
mengolah data seismik refraksi menggunakan metode Hagiwara serta
menginterpretasi keadaan bawah permukaaan dari data seismik refraksi yang
diolah.

Tujuan Melakukan pengolahan data seismik refraksi dengan Metode Hagiwara


ini untuk memperoleh nilai T AP+T BP-T AB, Tg, T'AP, T'BP, H, ic, cos ic dan
TAB, kemudian akan diolah kembali menjadi grafik T-X, profil bawah
pemukaan, profil penampang kedalaman. Dengan surver membuat peta kecepatan
V1 dan V2 serta peta kedalaman.

9
BAB II
DASAR TEORI

2.1. Seismik Refraksi


Seismik refraksi merupakan salah satu dari metode seismik aktif yang
bekerja berdasarkan gelombang seismik yang direfraksikan mengikuti lapisan-
lapisan bumi di bawah permukaan. Metode ini hanya memanfaatkan gelombang
langsung dan gelombang P refraksi yang menjalar pada bidang batas lapisan
batuan seperti pada gambar 5.

Gambar 5. Proses penjalaran gelombang langsung dan gelombang refraksi

Metode seismik refraksi melakukan pengukuran waktu tempuh gelombang


P (pada setiap titik sepanjang bidang batas lapisan) yang dihasilkan dari sumber
energi impulsif.
Suatu sumber gelombang (palu, drop weight, dinamit, air gun, dll)
dibangkitkan di permukaan bumi. Karena material bumi bersifat elastik maka
gelombang seismik yang terjadi akan menjalar ke dalam bumi dalam berbagai
arah. Pada bidang batas antar lapisan, gelombang ini sebagian dipantulkan dan
sebagian lain dibiaskan. Di permukaan bumi gelombang tersebut diterima oleh
serangkaian detektor (geophone) kemudian dicatat atau direkam oleh suatu alat di
atas permukaan.

10
2.2. Hukum Dasar
Dalam prinsip penjalarannya ke segala arah di bawah permukaan bumi,
gelombang seismik mengikuti azas-azas:
1. Fermat
Sifat penting dari gelombang seismik adalah bahwa dia mengikuti azas
Fermat yaitu lintasan yang dilalui oleh gelombang adalah lintasan yang paling
sedikit memerlukan waktu. Dengan demikian, jika gelombang melewati sebuah
mediumyang memiliki variasi kecepatan gelombang seismik maka gelombang
tersebutakan cenderung melalui zona-zona berkecepatan tinggi dan menghindari
zona-zona berkecepatan rendah.
2. Huygen
Christian Huygen, seorang fisikawan Belanda, sekitar tahun 1680
mengemukakan suatu mekanisme sederhana untuk menelusuri penjalaran
gelombang. Mekanisme tersebut digambarkan bahwa sebuah muka gelombang
dapat dianggap sebagai suatu permukaan dengan fase tetap melewati titik-titik
medium berlapis yang dicapai oleh gerakan gelombang pada waktu yang sama.
Jika gelombang tersebut melewati suatu permukaan (batas perlapisan), maka pada
setiap partikel pada suatu perlapisan ituakan menjadi sumber gelombang yang
baru dan demikian seterusnya. Mekanisme perambatan gelombang ini dikenal
dengan prinsip Huygen.
3. Snellius
Dalam eksplorasi seismik, analisis gelombang akustik didasarkan pada
suatu medium bumi dengan lapisan-lapisan batuan yang berbeda densitas dan
kecepatan gelombangnya. Sehingga dalam perambatan gelombang juga akan
berlaku hukumSnellius yang mengatakan bahwa jika gelombang merambat dari
suatu medium kemedium yang lain yang berbeda sifat fisiknya, maka pada bidang
batas akanterjadi peristiwa pemantulan dan pembiasan.

2.3. Asumsi - Asumsi Dasar


Dalam memahami perambatan gelombang seismik di dalam bumi, perlu
mengambil beberapa asumsi untuk memudahkan penjabaran matematis dan
menyederhanakan pengertian fisisnya. Asumsi-asumsi tersebut antara lain;

11
Medium bumi dianggap berlapis-lapis dan tiap lapisan menjalarkan gelombang
seismik dengan kecepatan yang berbeda-beda.
Makin bertambah kedalamannya, batuan lapisan akan semakin kompak.
Panjang gelombang seismik < ketebalan lapisan bumi. Hal ini memungkinkan
setiap lapisan yang memenuhi syarat tersebut akan dapat terdeteksi.
Perambatan gelombang seismik dapat dipandang sebagai sinar, sehingga
mematuhi hukum-hukum dasar lintasan sinar di atas.
Pada bidang batas antar lapisan, gelombang seismik merambat dengan kecepatan
pada lapisan di bawahnya.
Kecepatan gelombang bertambah dengan bertambahnya kedalaman.
Bila gelombang elastik yang menjalar dalam medium bumi menemui
bidang batas perlapisan dengan elastisitas dan densitas yang berbeda, maka akan
terjadi pemantulan dan pembiasan gelombang tersebut. Bila kasusnya adalah
gelombang kompresi (gelombang P) maka terjadi empat gelombang yang berbeda
yaitu, gelombang P-refleksi (PP1), gelombang S-refleksi (PS1), gelombang P-
refraksi (PP2), gelombang S-refraksi (PS2). Dari hukum Snellius yang diterapkan
pada kasus tersebut diperoleh :

dimana :
VP1 = Kecepatan gelombang-P di medium 1
VP2 = Kecepatan gelombang-P di medium 2
VS1 = Kecepatan gelombang-S di medium 1
VS2 = Kecepatan gelombang-S di medium 2

12
Gambar 2.1 Pemantulan dan Pembiasan Gelombang

2.4 Metode Delay Time


Metode delay time digunakan pada bidang batas lapisan dangkal dengan
kontras kecepatan yang besar (untuk mencari ketebalan lapisan lapuk). Disebut
waktu tunda karena terdapat perbedaan waktu yang diperlukan untuk perambatan
pulsa gelombang ke arah atas (up-ward) atau ke arah bawah (down-ward) yang
melalui lapisan atas terhadap waktu yang digunakan untuk merambat di
permukaan lapisan kedua (pembias) sepanjang proyeksi lintasan normal tersebut
pada bidang batas.

Delay time (waktu tunda) ialah waktu penjalaran gelombang dari AB


padaV1 ke BC pada V2 (waktu tunda pada source) atau dari DE pada V1 ke DF
padaV2(waktu tunda pada Geophone).

Gambar 1. Ilustrasi Metodedelay timepadasingle shot

Dari gambar di atas, maka didapat persamaan delay time;

13
(1) Persamaan di
atas dapat disederhanakan menjadi,

(2) Sehingga
dapat dicari kedalaman di bawah source (hs) dan geophone (hg), yaitu:

(3)
Sedangkan waktu total penjalaran gelombang dari source ke geophone yaitu ;

(4)

Untuk aplikasi pengukuran dengan tembakan bolak-balik, sebagai berikut;

Gambar 2. Ilustrasi penjalaran gelombang metodedelay timepadadouble shot

Persamaan delay time di geophone dapat dicari dengan;

(5) Sedangkan,

(6) Persamaan
kedalaman di bawah source (hs) dan geophone (hg) sama saja dengan yang single
shot !!

14
2.5 Metode Hagiwara
2.5.1 Teori Dasar Metode Hagiwara
Metode Delay Time Hagiwara adalah pengembangan dari metode Delay
Time untuk struktur dua lapis. Metode ini mampu menggambarkan kedalaman
lapian pertama di bawah sumber dan di bawah geophone. Apabila
dibandingkan dengan metode delay time lainnya, metode hagiwara termasuk
yang paling kompleks.

2.5.2 Asumsi-Asumsi Metode Hagiwara


Pada metode Hagiwara, asumsi yang digunakan adalah:
a. Undulasi bawah permukaan tidak terlalu besar (kemiringan mendekati
nol atau < 200).

2.5.3 Rumus Metode Hagiwara

hP

Gambar2.5 Lintasan Gelombang Bias Struktur Dua Lapis (Sismanto, 1999)

Pada gambar diatas, V1 dan V2adalah kecepatan lapisan pertama dan


kecepatan lapisan kedua, i adalah sudut kritis refraksi. Dengan hukum Snellius
diperoleh :

V1
sin i (2.14)
V2

A dan B adalah titik tembak dan P adalah titik penerima (geophone).


Lintasan gelombang bias dari A ke P adalah A A P P dan lintasan dari
B ke P adalah B B P P. Dengan menggambar garis PR yang tegak
lurus dari P ke PP, diperoleh hubungan :

15
RP" RP" P' P"
(2.15)
V1 V 2 sin i V2

Oleh karena itu :

PP" PR RP" h p cos i P' P"


(2.16)
V1 V1 V1 V1 V2

Dengan cara yang sama, dapat diperoleh :

PP" ' h p cos i P' P" '


(2.17)
V1 V1 V2

AA" h A cos i A' A"


(2.18)
V1 V1 V2

BB" hB cos i B' B"


(2.19)
V1 V1 V2

Bila dinotasikan waktu perambatan gelombang bias dari titik tembak A ke


titik penerima P dengan TAP, waktu perambatan dari B ke P dengan TBP dan waktu
perambatan dari A ke B dengan TAB, maka :

AA" A" P" P" P h A cos i hP cos i A' P'


TAP (2.20)
V1 V2 V1 V1 V1 V2

BB" B" P" ' P" ' P hB cos i hP cos i B' P'
TBP (2.21)
V1 V2 V1 V1 V1 V2

AA" A" B" B" B h A cos i h B cos i A' B'


T AB (2.22)
V1 V2 V1 V1 V1 V2

Dari persamaan-persamaan (II.20), (II.21), dan (II.22) diperoleh hubungan


sebagai berikut :

2hP cos i
TAP TBP TAB (2.23)
V1

16
V1
hP TAP TBP TAB (2.24)
2 cos i

Dalam persamaan (II.23), V1 dapat diperoleh dari kurva travel-time


gelombang langsung dekat titik tembak, TAP, TBP, dan TAB diperoleh dengan
cara observasi. Tetapi, cos i tidak dapat dicari, karena V2biasanya tidak
diketahui. Jika harga V2 dapat diketahui, kedalaman hP pada titik penerima P
dapat diperoleh dari persamaan (II.23). Diandaikan besar TAP ditunjukkan
oleh persamaan :

'
TAP TAP
TAP TBP TAB (2.25)
2

Dari persamaan-persamaan (II.19) dan (II.22) dapat dituliskan :

h A cos i A' P'


'
TAP (2.26)
V1 V2

Jarak x diukur ke arah B, dengan mengambil A sebagai titik referensi,


adalah sudut gelombang yang merambat pada lapisan bawah ke garis
horizontal. Kemudian AP dalam pers. (11) ditunjukkan oleh persamaan :

P
dx
A' P' (2.27)
A
cos

Pada dasarnya, harga tidak terlalu besar, maka dapat diambil


pendekatan cos 1 . Oleh karena itu, AP = x merupakan pendekatan yang
sangat dimungkinkan. Sehingga pers. (II.25) dapat ditulis sebagai :

hA cos i x
'
TAP (2.28)
V1 V2

Pers. (II.27) adalah linier terhadap x, jika diambil x sebagai absis dan
TAPsebagai ordinat, kemudian diplot titik-titik yang bersesuaian (lingkaran
hitam). Garis lurus tersebut merupakan suatu sort (bentuk baru yang lebih
pendek) dari travel time curve yang dikandung oleh titik-titik yang
berhubungan. Nilai TAPdengan mudah dihitung dari pers. (II.26), dan

17
kecepatan V2pada lapisan bawah diperoleh dari slope garis lurus, yaitu dengan
menurunkan persamaan (II.27) terhadap x :

d '
dx

TAP
1
V2
(2.29)

TAP diperoleh melalui pers. (II.26) merupakan suatu besaran yang


menunjukkan kecepatan pada lapisan bawah, disebut sebagai velocity-travel-
time. Dengan cara yang sama, dapat diperoleh :

'
TBP TBP
TAP TBP TAB (2.30)
2

Kemudian diukur jarak x ke arah titik penerima, dengan mengambil titik B


sebagai titik asal (referensi), maka diperoleh :

hB cos i x
'
TBP (2.31)
V1 V2

dengan slopenya :

d '
dx

TBP
1
V2
(2.32)

Dengan menggunakan nilai V2 dari pers. (II.32) maka nilai cos i dapat
dihitung menggunakan pers. (1). Untuk x = 0 pada pers. (II.30) dan pers.
(II.33), dinotasikan harga TAP dan TBPdengan A' dan B' , maka didapat :

h A cos i
A'
V1
(2.33)
h cos i
B
'
B
V1

18
Gambar 2.6 Kurva Waktu Rambat dan Kurva Waktu Rambat-Kecepatan.

Dengan hA dan hB adalah kedalaman pada titik A dan B. Dengan kata lain,
dimana perpotongan kurva TAP dengan ordinat pada titik A mengindikasikan A'

dan perpotongan kurva TBP dengan ordinat pada titik B mengindikasikan B' .
Dengan demikian didapat :

V1 ' A
hA
cos i (2.34)
V1 ' B
hB
cos i

Dengan prosedur yang tersebut diatas, kedalaman setiap titik penembakan


dan titik penerima dapat dihitung. Yang perlu dicatat bahwa TAP, TBP, dan TABpada
pers. (II.23) untuk menghitung kedalaman pada titik penerima harus merupakan
waktu tempuh gelombang bias dari permukaan lapisan bawah. Jika waktu tempuh
pada titik dekat titik tembak bukan dari gelombang bias tetapi dari gelombang
langsung, maka kedalaman hP pada titik penerima tidak dapat ditentukan dengan
pers. (II.23).

Pada kasus ini, dapat diatasi dengan menuliskan kembali pers. (II.24) dan pers.
(II.25) yaitu :

T AP TBP T AB
T AP T ' AP TBP T ' BP (2.35
2

Sehingga dari pers. (II.22) dan pers. (II.33) tersebut dapat diperoleh hubungan

V1
hP TAP T ' AP (2.36)
cos i

19
atau

V1
hP TBP T ' BP (2.37)
cos i

Akhirnya, harga dari TAP atau TBP dapat dibaca dari perpanjangan kurva TAP
atau TBP, sehingga harga kedalaman hP dapat dihitung dari pers. (2.32) atau pers.
(2.33).

20
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Diagram Alir

Memulai Pengolahan Data

Pengerjaan Ms. Excel

Grafik dan Profil

Pembuatan Peta dan Penampang

Interpretasi

Kesimpulan

Selesai

Gambar 3.1. Diagram Alir Metodologi Pengolahan Data

21
3.2 Pembahasan Diagram Alir

1. Yang pertama dilakukan setelah mendapatkan data excel maka dilakukan


pengolahan data, yang pertama dibuat yaitu memisahkan antara
gelombang langsung dan gelombang refraksi baik forward meupun
reverse. Selanjutnya melakukan perhitungan dengan menggunakan rumus
yang ada,
2. Setelah perhitungan selesai maka dibuat grafik dan profil bawah
permukaan.
3. Setelah semua data jadi maka dilakukan pembuatan peta dan penampang
menggunakan surfer
4. Melakukan interpretasi berdasarkan hasil kecepatan dan kedalaman yang
diperoleh dari surfer.

22
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tabel Pengolahan Data


4.1.1 Tabel Pengolahan Data Excel Metode Hagiwara

Tabel 4.1. Tabel Pengolahan Data Metode Hagiwara

4.2Hasil dan Pembahasan Pengolahan Data


4.2.1 Pengolahan Excel Metode Hagiwara
4.2.1.1 Grafik T-X

23
Grafik T-X
120
y = 0.8896x + 9.9889
y = -0.9276x + 100.48
100

Gelombang
80
Langsung Forward
Gelombang Refraksi
Waktu (ms)

60 Forward
Gelombang
40 Langsung Reverse
y = -2.08x + 208.5 Gelombang Refraksi
Reverse
20
Linear (Gelombang
y = 2.02x - 0.5333 Langsung Forward)
0 Linear (Gelombang
0 20 40 60 80 100 120 Refraksi Forward)
-20 Linear (Gelombang
Offset (m) Langsung Reverse)
Linear (Gelombang
Refraksi Reverse)
Gambar 4.1 Grafik T-X Metode GRM

Grafik diatas merupakan grafik T-X metode Hagiwara yang


memperlihatkan gelombang langsung (reverse dan forward) serta gelombang
refraksi (reverse dan forward) dimana gelombang langsung forward yang diwakili
warna biru, gelombang langsung reverse diwakili warna hijau, gelombang refraksi
forward diwakili warna merah dan gelombang refraksi reverse diwakili warna
ungu, batas perubahan warna merupakan batas refraksi. Gelombang forward
terefraksi pada offset 20 m dengan waktu 28,5 ms sedang gelombang reverse
terefraksi pada offset 85 m dengan waktu 26,9 ms.

24
4.2.1.2 Grafik Waktu Koreksi

Grafik Waktu Koreksi


120

y = -0.9391x + 95.853 y = 0.9391x + 1.9468


100

80
Waktu (ms)

T'AP
60
T'BP
40 Linear (T'AP)

20 Linear (T'BP)

0
0 20 40 60 80 100 120
-20
Offset (m)

Gambar 4.2 Grafik Waktu Koreksi

Grafik diatas merupakan grafik waktu koreksi dari gelombang reverse dan
forward, gelombang reverse diwakili warna merah dan gelombang forward
diwakili oleh warna biru.

4.2.1.4 Profil Bawah Permukaan

Profil Bawah Permukaan


0
Kedalaman (m))

0 10 20 30
-1 40 50 60 70 80 90 100
-2

-3
-4

Offset (m)

Profil Bawah Permukaan

Gambar 4.3Profil bawah permukaan

25
Gambar diatas merupakan profil bawah permukaan daerah telitian yang
menunjukkan batas antara lapisan atas dengan lapisan bawah didapatkan bahwa
terdapat perbedaan kedalaman tiap offsetnya yang dapat disimpulkan lapisan ini
berundulasi. Undulasi ditempat ini cukup besar yang terlihat dari perbedaan
kedalaman terdangkal dan terdalam yaitu Kedalaman terdangkal 1 m pada offset
100 m dan yang terdalam 4 m pada offset 20 m.

4.3.Hasil dan Pembahasan Pengolahan Data


4.3.1 Pengolahan Surfer Metode Hagiwara
4.3.1.1 Peta Kecepatan V1

Gambar 4.4 Peta Kecepatan V1

Peta diatas menjelaskan kecepatan V1. Dimana terbagi menjadi 3


kelompok kecepatan yaitu kecepatan rendah, sedang, tinggi. Kecepatan rendah
diwakili oleh warna ungu- biru dengan kecepatan antara 440-510 m/s, kecapatan
sedang diwakili oleh warna hijau-kuning dengan kecepatan 520-580 m/s. Dan
kecepatan tinggi diwakili warna merah dengan kecepatan 590-670 m/s.
Kecepatan rendah berada pada bagian pusat peta yang memanjang dengan arah

26
utara-selatan dengan kecepatan sekitar 440-500 m/s yang diinterpretasikan
sebagai sand dry loose Semakin ke arah tepi kanan dan kiri pada peta kecepatan
bertambah yaitu sekitar 530-560 m/s yang diinterpretasikn sand dry loose,semakin
ke pusat peta kecepatan bertambah menjadi 710-740 m/s yang diinterpretasikan
sebagai sand dry loose (mengacu tabel kecepatan Kohnen, 1974).

4.3.1.2Peta Kecepatan V2 (Semua Kelompok)

Gambar 4.6 Peta Kecepatan V2

Peta diatas merupakan peta kecepatan V2. Dimana terbagi menjadi 3


kelompok kecepatan yaitu kecepatan rendah, sedang, tinggi. Kecepatan rendah
diwakili oleh warna ungu- biru dengan kecepatan antara 960-1120 m/s, kecepatan
sedang diwakili oleh warna hijau-kuning dengan kecepatan 1160-1320 m/s. Dan
kecepatan tinggi diwakili warna merah dengan kecepatan 1360-1560 m/s.
Kecepatan rendah berada pada bagian tengah peta pada 443020-443035 m dengan
kecepatan sekitar 960-1080 m/s yang diinterpretasikan sebagai sand pada tepi
kanan kirinya kecepatan bertambah yaitu menjadi 1160-1320 m/s yang

27
diinterpretasikan sand,pada tepi timur dan barat peta yang berwarna merah
kecepatan bertambah menjadi 1360-1560 m/s yang diinterpretasikan sebagai sand
(mengacu tabel kecepatan Kohnen, 1974).

44.3.1.3Peta Kedalaman H (Semua Kelompok)

Gambar 4.7 Peta Kedalaman H

Peta diatas menunjukkan persebaran kedalaman H dalam peta dimana terbagi


menjadi 3 kelompok kedalaman yaitu kedalaman rendah, sedang, tinggi.
Kedalaman rendah diwakili oleh warna merah dengan kedalaman antara +3 - 2 m
kedalaman menengah yaitu diwakili warna hijau-kuning dengan kedalaman 3-7 m
dan kedalaman yang besar diwakili oleh warna biru-ungu dengan kedalaman 8-12
m, seperti yang terlihat pada peta kedalaman dangkal terdapat pada daerah tepi
utara, tepi selatan dan di pusat peta yang berwarna merah, kedalaman menengah
pada bagian ditepi warna orange, sedang kedalaman terbesar pada bagian barat
dan timur peta.

28
4.3.1.4 Penampang Kedalaman Surfer Kelompok

Gambar 4.9 Penampang Kedalaman

Peta diatas menunjukkan penampang kedalaman dalam peta dimana terbagi


menjadi 3 kelompok kedalaman yaitu kedalaman rendah, sedang, tinggi.
Kedalaman rendah diwakili oleh ungu-biru dengan kecepatan 450-700 m/s yang
diinterpretasikan sebagai sand loose kecepatan menengah diwakili warna hijau-
kuning dengan kecepatan 700-950 m/s berlitologi sand loose dan kecepatan
terbesar yang diwakili oleh warna merah dengan kecepatan 1000-1200 m/s yang
diinterpretasikan berlitologi sand.

29
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan analisa data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan
bahwa
1. berdasarkan kecepatan V1 didapatkan kecepatan antara 500-700m/s yang
diinterpretasikan sebagai sand dry loose mengacu tabel kecepatan (Kohnen
1974)
2. Berdasarkan kecepatan V2 dimana kecepatan berkisar 1000-1300 m/s yang
diinterpretasikan sebagai sand (mengacu tabel kecepatan Kohnen, 1974).
3. Dari peta kedalaman H didapatkan kedalaman dangkal terdapat pada
daerah tepi utara, tepi selatan dan di pusat peta yang berwarna merah,
kedalaman menengah pada bagian ditepi warna orange, sedang kedalaman
terbesar pada bagian barat dan timur peta.
4. Dari penampang kedalaman didapatkan bahwa terdapat 2 perbedaan
kecepatan yang mencolok yang diinterpretasikan sebagai sand dry loose
dan sand.

4.2 Saran

Agar lebih memahamkan tentang konsep dari metode yang


dipelajari sehingga praktikan menjadi mudah untuk melakukan
interpretasi, tidak hanya memfokuskan pada pengolahan excel. Karena
konsep lah yang membuat kita paham akan interpretasi metodenya, dan
selalu dijelaskan perbedaan, kelemahan dan kelebihan metode satu
dengan yang lain.

30
DAFTAR PUSTAKA

Laboratorium Geofisika Eksplorasi. 2017 Buku Panduan Praktikum Seismik


Refraksi, Laboratorium Geofisika Eksplorasi, Jurusan Teknik Geologi,
Fakultas Teknologi Mineral, Universitas Pembangunan nasional Veteran
Yogyakarta.

31
LAMPIRAN

A. TABEL DATA SEMUA KELOMPOK


DATA KELOMPOK 1

DATA KELOMPOK 2

32
DATA KELOMPOK 3

DATA KELOMPOK 4

33
DATA KELOMPOK 5

34
B. TABEL KECEPATAN BATUANMENURUT (KOHNEN,1974)

35